Garuda Indonesia Dukung Mobilitas Udara, Terbangkan 2115 Pasukan Perdamaian PBB ke Lebanon dan Kongo

Garuda Indonesia mendukung misi kenegaraan yang salah satunya dilaksanakan melalui penyediaan aksesibilitas transportasi udara bagi sedikitnya 2115 Kontingen Garuda dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang ditugaskan sebagai pasukan perdamaian di Lebanon dan Kongo.

Baca juga: Pernah Jadi Daerah Perangkap Pasukan Jepang, Stasiun Jurnatan Kini Menjadi Pusat Perdagangan

Adapun seluruh pasukan perdamaian tersebut diberangkatkan secara bertahap melalui 8 (delapan) penerbangan Garuda Indonesia dimana 1090 personil pasukan perdamaian akan diberangkatkan menuju Beruit, Lebanon dan 1025 pasukan perdamaian akan diberangkatkan menuju Kongo hingga akhir Maret 2023 mendatang.

Penerbangan pasukan perdamaian tersebut dimulai secara bertahap pada awal pekan ini, Minggu (5/3), dimana Garuda Indonesia telah memberangkatkan sedikitnya 430 orang pasukan perdamaian. Adapun pada Rabu (8/3) Garuda Indonesia kembali mengangkut 330 personil Kotingen Garuda yang diangkut GA 7760.

Seluruh anggota pasukan perdamaian diberangkatkan dengan mengoperasikan mengoperasikan armada A330-900 Neo dan B777-300 ER melalui Jeddah dimana GA 7760 diberangkatkan dari bandara internasional Soekarno Hatta pada Rabu kemarin diberangkatkan pada pukul 09.05 WIB dan tiba di Jeddah pada pukul 15.05 LT untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan menuju Beirut pada pukul 16.35 LT dan tiba pada pukul 18.15 LT.

Baca juga: Dewan Keamanan PBB Beri Lampu Hijau untuk Survei Lapangan Jalur Kereta Korea Utara dan Korea Selatan

Adapun 7 (tujuh) penerbangan lainnya akan diberangkatkan secara bertahap dimana 4 (empat) penerbangan ke Beirut diberangkatkan mulai tanggal 5 – 10 Maret 2023 sementara 4 (empat) penerbangan ke Kongo akan diberangkatkan pada akhir Maret 2023.

Perusahaan Properti Australia Pelligra Bangun Vertiport, Bandara Khusus Taksi Udara

Seperti di belahan dunia lainnya, Australia tengah bersiap untuk menyongsong layanan taksi udara bertenaga listrik di masa depan. Setelah menghadirkan eVTOL (electric vertical take-off and landing) pertama yang dirancang dan dibangun di dalam negeri, sebuah kolaborasi baru kini membuka jalan bagi pembangunan jaringan bandara khusus pertama eVTOL, yang dikenal sebagai vertiport pertama di Negeri Benua tersebut.
Dalam industri, ketika sebuah pintu tertutup, maka yang lain terbuka. Ini bisa menjadi kenyataan, dan bukan hanya angan-angan dalam industri otomotif Australia. Jika membuat mobil tidak lagi berhasil di Australia, mengapa tidak beralih ke membuat mobil terbang?
Umumnya dikenal sebagai taksi udara, pesawat berkapasitas kecil yang sepenuhnya bertenaga listrik ini berada di ambang revolusi mobilitas udara. Dan Australia bebas memanfaatkan kesempatan tersebut.
Dikutip dari autoevolution.com, pengembang properti besar Pelligra, yang kebetulan juga memiliki bekas pabrik manufaktur Ford dan Holden di Australia Selatan dan Victoria, rupanya memiliki rencana besar, yakni mengubah pabrik perakitan otomotif menjadi vertiport.
Pelligra tampaknya percaya bahwa ada peluang besar bagi pemerintah untuk memainkan peran penting dalam sektor eVTOL yang sedang berkembang.
Selain rencana ambisius untuk “mengubah fungsi” pabrik manufakturnya, pengembang properti ini juga telah memulai kerja sama dengan pakar infrastruktur eVTOL domestik, Skyportz. Bersama-sama, mereka berencana untuk membuat seluruh jaringan vertiport, yang akan menjadi yang pertama di negara ini.
Perlombaan UAM (urban air mobility) sedang berjalan lancar – tidak ada vertiport yang diluncurkan secara resmi di mana pun. Namun, tempat-tempat tertentu di AS dan Eropa sudah jauh di depan dibandingkan dengan Australia. Tetapi bahkan jika itu datang terlambat, Australia berpotensi menjadi pusat industri eVTOL untuk seluruh pasar Asia Pasifik.
Jaringan yang akan datang akan dimulai dengan bandara dan helipad yang ada, dan kemudian meluas ke berbagai lokasi di daerah perkotaan, dari pusat perbelanjaan dan taman bisnis hingga lokasi industri. Skyportz bahkan telah bermitra dengan operator seperti Secure Parking, yang akan memberikan akses ke ratusan garasi parkir mobil. Yang terbaik adalah bekerja dengan apa yang sudah ada dan mencoba memberi ruang untuk taksi udara.
Belum ada tanggal yang ditetapkan untuk debut resmi vertiport pertama di Australia, tetapi Vertiia eVTOL pertama diharapkan akan dikirimkan pada tahun 2026. Pada akhir dekade ini, Australia mungkin sedang dalam perjalanan untuk membangun industri UAM yang sukses.

Kenapa Penumpang Pesawat ‘Dilarang’ Gunakan Headset Bluetooth Sepanjang Penerbangan?

Setiap sebelum lepas landas, penumpang akan diminta mematikan alat komunikasi (handphone atau ponsel dan sejenisnya) atau membuatnya dalam mode airplane. Tetapi, tidak ada imbauan apapun terkait penggunaan headset bluetooth sepanjang penerbangan. Faktanya, itu tidak diperkanankan sekalipun tidak dijelaskan. Kenapa demikian? Apakah headset bluetooth mengganggu penerbangan?

Baca juga: Tren Main Games di Pesawat: Penumpang Pilih ‘Mabar’ di Ponsel Ketimbang Layar IFE

Sebelum pandemi Covid-19, headset atau headphone bluetooth penggunaannya oleh penumpang sangat terbatas. Pasca datangnya Covid-19 dan dorongan untuk layanan serba touchless, maskapai mulai menghadirkan teknologi yang memungkin penumpang mengakses sistem inflight entertainment (IFE) menggunakan ponsel mereka, termasuk headset atau headphone bluetooth.

Qatar Airways menjadi maskapai pertama di dunia yang menghadirkan konektivitas bluetooth di sistem IFE pesawat. Itu memungkinkan penumpang menggunakan headset bluetooth masing-masing di berbagai armada pesawat Boeing 787-9, Airbus A350, dan lainnya.

Teknisnya, penumpang hanya perlu menghubungkan headphone bluetooth pribadi dengan sistem Oryx One maskapai dan mulai menikmati sistem IFE dengan pengalaman baru.

Terobosan maskapai raksasa asal Timur Tengah ini merupakan kelanjutan dari komitmen Qatar Airways untuk menyediakan pengalaman baru dalam penerbangan. Sebelumnya, maskapai sudah lebih dahulu meluncurkan teknologi Zero-Touch untuk kontrol IFE di setiap pesawat Airbus A350 Qatar Airways. Pada Februari lalu.

Layaknya konektivitas bluetooth, penumpang hanya perlu memindai kode QR menggunakan ponsel pribadi untuk mengontrol IFE tanpa menyentuhnya secara langsung.

Serupa dengan Qatar Airways, United Airlines berhasil menjadi maskapai pertama yang menyediakan konektivitas bluetooth di sistem IFE pesawat. Hanya saja, itu bukan pertama di dunia melainkan pertama di Amerika Serikat (AS).

Dalam gelaran United Next, maskapai tersebut dengan bangga meluncurkan generasi terbaru sistem IFE Panasonic Avionics.

IFE ini juga mengusung layar yang lebih besar, yaitu 10 inci untuk kelas ekonomi dan 13 inci untuk first class. Yang paling menarik tentu konektivitas bluetooth, untuk memungkinkan penumpang menggunakan headphone bluetooth pribadi mereka dalam menikmati film, TV, musik pada sistem IFE.

Untuk sementara waktu, maskapai baru menghadirkan inovasi ini di pesawat-pesawat tertentu. Tetapi pada 2025 mendatang, ditargetkan seluruh armada maskapai sudah dilengkapi dengan layar IFE dan konektivitas bluetooth.

Meski difasilitasi, dalam panduan yang dikeluarkan Administrasi Penerbangan Federal AS (FAA) tentang tentang perangkat nirkabel di pesawat dari tahun 2013, maskapai diizinkan menentukan perangkat apa yang mengganggu jalannya penerbangan. Karena diberi kebebasan, tafsiran dari panduan itu sangat beragam, termasuk meliputi larangan penggunaan headset bluetooth selama penerbangan.

Baca juga: Alasan Berbahaya Mengapa Penumpang Wajib Beritahu Pramugari Saat Kehilangan Ponsel di Pesawat

Dilansir soundguys.com, di beberapa maskapai, pramugari/pramugara akan meminta penumpang melepas headset atau headphone sebelum lepas landas dan mendarat. Bukan karena frekuensi bluetooth mengganggu penerbangan, melainkan untuk memudahkan penumpang yang bersangkutan mendengar arahan kru saat terjadi keadaan darurat.

Dalam beberapa kasus, penumpang yang tak menuruti arahan kru terkait itu bahkan sampai diturunkan paksa dan dianggap sebagai unruly passenger.

Apakah Makanan Tertentu Dilarang di Pesawat? Berikut Jawabannya

Bagi yang sering terbang bersama maskapai, pasti menyadari bahwa pilihan makanan di pesawat tidak sebanyak di darat. Banyak yang berpikir bahwa terdapat larangan di terhadap beberapa makanan tertentu di pesawat. Betulkan demikian?

Baca juga: Ini Kisah Pramugari Tentang Masak Makanan di Pesawat yang Sedang Mengudara

Sudah menjadi rahasia umum bahwa makanan dihidangkan penumpang pesawat dimasak di darat, bukan di pesawat. Berbagai menu makanan beserta boxnya memang didesain untuk dihangatkan kembali di pesawat.

Setelah selesai dimasak (biasanya tak jauh dari bandara), berbagai menu makanan untuk penumpang pesawat akan didinginkan atau dibekukan terlebih dahulu, dikemas, dan didistribusikan ke lokasi tertentu di bandara, sebelum akhirnya dimuat ke dalam pesawat.

Sampai di sini, prosesnya bisa dibilang agak menantang. Sebab, menu makanan di darat cenderung berubah ketika disajikan di udara. Sudah begitu, ketika selesai dimasak dan kemudian didinginkan, biasanya ada perubahan rasa. Apalagi ketika dihangatkan kembali, rasanya sudah hampir pasti berubah. Karenanya, katering pesawat harus bisa mengukur agar makanan tetap memiliki cita rasa kuat saat dihidangkan penumpang di udara.

Tak cukup sampai di situ, saat makanan dimuat di pesawat juga menantang dikarenakan box harus tetap rapat dan tak boleh terbuka untuk mencegah udara masuk. Jika tidak, kualitas makanan akan menurun dan itulah yang terkadang membuat penumpang mengeluh karena hambar.

Dilansir Simple Flying, usai dimuat ke dalam pesawat, masing-masing box berisi makanan dihangatkan selama sekitar 20 menit. Tentu, ini bergantung pada menu makanan yang disajikan. Untuk makanan penumpang first class, biasanya, usai dihangatkan, makanan dipindahkan ke wadah lain sebelum dihidangkan.

Di beberapa kondisi, maskapai bahkan harus benar-benar memasak di dalam pesawat yang tengah mengudara untuk memberikan pelayanan terbaik bagi penumpang first class. Akan tetapi, koki, atau dalam hal ini pramugari yang dilatih khusus untuk memasak, tak mempunyai banyak pilihan memasak melainkan hanya telur. Ya, hanya bisa memasak telur, tidak lebih.

Meski demikian, memasak telur di atas ketinggian tentu tak semudah memasak telur di darat. Tekanan di dalam kabin serta kelembapan rendah membuat berbagai rasa, seperti asin, manis, dan pedas berkurang signifikan. Itulah mengapa makanan di pesawat rata-rata harus ekstra bumbu. Sebab, bila tidak, makanan, baik yang dimasak di darat ataupun di udara, akan tak terasa apapun alias hambar.

Terkadang, karena rasanya yang kurang memuaskan, banyak penumpang memutuskan tak memakan makanan di pesawat. Akibatnya, banyak makanan yang terbuang percuma setiap tahunnya.

Baca juga: Jaga Rasa Masakan Tetap Lezat di Ketinggian 35.000 Kaki, Inilah yang Dilakukan Para Koki

Singkatnya, terbatasnya menu atau varian makanan di pesawat bukan karena makanan tertentu dilarang di pesawat, melainkan karena rasanya cepat berubah sehingga pilihan makanan terbatas.

Akan tetapi, dalam kaitannya dengan makanan yang dibawa penumpang ke pesawat, memang terdapat banyak larangan. Terlebih pada penerbangan internasional. Bagi penumpang yang hendak membawa makanan ke pesawat, sudah pasti akan tertahan di pos pemeriksaan dan membuat repot penumpang, terutama makanan yang berada di dalam wadah atau kemasan kaca seperti botol dan lain sebagainya.

ITA Airways Manfaatkan Satelit untuk Optimalkan Rute Penerbangan, Begini Cara Kerjanya

ITA Airways menggandeng Badan Antariksa Eropa (ESA) dan Inmarsat dalam memanfaatkan satelit untuk optimalisasi rute penerbangan. Dengan teknologi yang disebut sebagai Iris itu pilot akan terhubung secara digital dengan Air Traffic Control (ATC) untuk komunikasi yang lebih intens. Ini pada akhirnya meningkatkan efektivitas rute penerbangan.

Baca juga: Gandeng Internet Satelit Starlink, Maskapai Ini Tawarkan Penumpang Gratis Nonton Netflix Selama Penerbangan

Saat ini, kokpit pesawat sudah dilengkapi dengan teknologi mutakhir termasuk navigasi GPS yang juga berbasis satelit. Melalui GPS, sebetulnya sudah lebih dari cukup dalam menuntun pesawat agar bisa sampai ke bandara tujuan.

Dalam kondisi normal, mungkin memanfaatkan navigasi GPS untuk memanfaatkan rute sudah sangat mumpuni. Tetapi, dalam kondisi traffic tinggi seperti saat peak season dan di tengah cuaca buruk, navigasi GPS saja tidak cukup. Butuh komunikasi lebih antara pilot dan ATC. Hal inilah yang dibutuhkan maskapai sehingga teknolog Iris dari Inmarsat dan didukung ESA.

Lewat teknologi Iris tersebut, pilot dan ATC akan terhubung terus-menerus dan saling bertukar informasi kondisi ter-update menggunakan tautan komunikasi bandwidth tinggi yang aman dan cepat. Dengan begitu, ATC bisa memantau dan memandu lalu lintas udara dengan lebih baik, efektif, dan efisien.

Ketelibatan ATC secara lebih lewat teknologi Iris itu membuat penerbangan lebih efisien seiring berkurangnya kemungkinan pesawat holding untuk bisa masuk bandara. Manfaat lainnya, waktu tunggu takeoff or landing clearance juga lebih sedikit dan extra time yang dihabiskan ATC untuk mengalihkan penerbangan juga lebih sedikit.

Baca juga: Software Network Planner Jadi Andalan Maskapai Sebelum Putuskan Buka Rute Baru

Sebelum ITA Airways, sebelumnya empat maskapai lain, easyJet, Transavia Airlines, Virgin Atlantic, dan Jet2, sudah lebih dahulu memanfaatkan teknologi tersebut. ATC di 14 negara Eropa juga sudah mengadopsi teknologi itu. Itu berarti, ITA Airways dapat memaksimalkan teknologi Iris untuk di banyak rute di Eropa.

Senior Vice President of Aircraft Operations and Safety Inmarsat, Joel Klooster, bergabungnya ITA Airways mendorong penggunaan teknologi Iris yang lebih luas di Eropa, sebelum diluncurkan lebih luas lagi secara global.

“Kami sangat senang menyambut ITA Airways sebagai maskapai kedua yang bergabung dengan Iris, datang hanya beberapa bulan setelah easyJet diumumkan sebagai maskapai pertama. Ini menunjukkan momentum mengesankan yang terus dibangun di sekitar program saat menuju pengenalan layanan komersial di Eropa tahun ini, diikuti dengan peluncuran global penuh,” jelasnya.

“Iris akan menandai perubahan langkah transformasional dalam manajemen lalu lintas udara, memberikan manfaat operasional dan lingkungan bagi maskapai penerbangan dan industri penerbangan secara keseluruhan, sekaligus meningkatkan pengalaman penerbangan bagi penumpang,” tambahnya, seperti dikutip dari Simple Flying.

Baca juga: Mengapa Pesawat Tidak Terlihat di Google Maps Satelit? Ini Jawabannya

Sementara itu, ESA mengklaim teknologi Iris pada akhirnya secara signifikan membantu mengurangi emisi karbon yang dihasilkan maskapai setidaknya sampai 10 persen.

“Kami bangga bergabung dengan program Iris, yang sepenuhnya sejalan dengan strategi pertumbuhan kami karena program ini mencerminkan dua pilar utama ITA Airways: keberlanjutan dan inovasi. ITA Airways adalah maskapai layanan lengkap pertama di Eropa dengan armada baru dilengkapi dengan teknologi mutakhir oleh Inmarsat Aviation, memberikan manfaat operasional dan lingkungan,” tutup Kepala Operasi Camo ITA Airways, Alessio Leone.

9 Tahun Pesawat MH370 Hilang, Netflix Kupas Tiga Teori Hilangnya Pesawat Lewat Film “MH370: The Plane That Disappeared”

Tepat pada hari ini genap sembilan tahun pesawat Boeing 777-200ER Malaysia Airlines MH370 hilang kontak di atas Teluk Thailand. Memperingati itu, Netflix pun meluncurkan serial berjudul “MH370: The Plane That Disappeared” yang fokus membahas tiga teori utama hilangnya pesawat MH370.

Baca juga: Sembilan Tahun Berlalu, Keluarga Korban Malaysia Airlines MH370 Serukan Pencarian Baru dengan Robotic Ships

Dalam sinopsinya, Netflix mengungkapkan bahwa serial dokumenter tersebut menggunakan arsip yang kuat untuk merekonstruksi malam kejadian hilangnya pesawat nahas itu. Diharapkan, film tersebut memberikan kesempatan kepada para penonton Netflix di seluruh dunia untuk menjelajahi tiga teori paling kontroversial tentang hilangnya pesawat.

Lebih lanjut, Netflix menulis, “Ini adalah kisah yang penuh dengan konspirasi dan teka-teki sosok bayangan dan keheningan resmi. Tetapi yang terpenting, ini adalah cerita untuk tetap menghidupkan memori bagi orang-orang yang hilang dalam salah satu misteri terbesar yang belum terpecahkan di zaman kita, dan untuk mendorong pencarian jawaban.”

Serial hilangnya pesawat MH370 ini menguak kesaksian orang-orang yang paling terlibat dengan kejadian tersebut, menampilkan wawancara dengan anggota keluarga, ilmuwan, dan jurnalis, serta banyak orang yang tidak terhubung namun secara obsesif mencari tahu apa yang terjadi pada malam itu.

Seperti diketahui, MH370 adalah penerbangan penumpang internasional terjadwal maskapai Malaysia Airlines yang menghilang pada tanggal 8 Maret 2014 dalam perjalanan dari Bandara Internasional Kuala Lumpur ke Bandara Internasional Ibu Kota Beijing. Pesawat Boeing 777-200ER ini terakhir kali melakukan kontak dengan pengawas lalu lintas udara kurang dari satu jam setelah lepas landas.

Saat itu, pesawat ini mengangkut 12 awak kabin dan 227 penumpang dari 15 negara. Pesawat ini berangkat dari Bandara Internasional Kuala Lumpur pada tanggal 8 Maret pukul 00:41 waktu setempat (16:41 UTC, 7 Maret) dan dijadwalkan mendarat di Bandara Internasional Ibu Kota Beijing pukul 06:30 waktu setempat (22:30 UTC, 7 Maret).

Baca juga: Satelit AS Temukan Pesawat MH370 di Hutan Kamboja! Cina dan Rusia Turun Tangan

Pesawat Malaysia Airlines MH370 sedang naik ke ketinggian jelajah 35.000 kaki (11000 m) dengan kecepatan udara 471 knot (542 mph; 872 km per jam) saat hilang kontak dan sinyal transpondernya hilang.

Saat hilang kontak, posisi terakhir pesawat Malaysia Airlines MH370 per 8 Maret pukul 01:21 waktu setempat (17:21 UTC, 7 Maret) adalah  6°55′15″N 103°34′43″E, sesuai titik jalur navigasi IGARI di atas Teluk Thailand, dan dari situ rencananya pesawat berbelok sedikit ke arah timur. 11 negara lainnya ikut bergabung dalam misi pencarian pada 17 Maret setelah Malaysia meminta lebih banyak bantuan dan total akhirnya mencapai 26 negara.

Hari Ini, 49 Tahun Lalu, Bandara Charles De Gaulle Paris Resmi Beroperasi

Pada hari ini, 49 tahun yang lalu, bertepatan dengan 8 Maret 1974, Bandara Charles De Gaulle Paris resmi beroperasi. Bandara ini dirancang oleh arsitek Perancis, Paul Andreu, arsitek yang juga merancang Bandara Soekarno-Hatta. Usai beroperasi, bandara tersebut dengan cepat menjadi bandara utama di Perancis, menggantikan dua bandara bersejarah di Perancis, dan menjadi salah satu bandara utama di Eropa.

Baca juga: Sejarah Bandara Charles De Gaulle Paris, ‘Saudara Kembar’ Bandara Soekarno-Hatta

Kemunculan Bandara Charles De Gaulle tak lepas dari dua bandara lainnya di Paris, Bandara Le Bourget (mulai beroperasi tahun 1919) dan Bandara Orly atau Orly-Villeneuve (mulai beroperasi tahun 1932).

Dilansir dari Simple Flying, selama tahun 1950-an dan 1960-an, lalu lintas di kedua bandara tersebut meningkat signifikan. Sayangnya, kedua bandara tersebut tak bisa mengikuti peningkatan traffic penumpang lantaran berada di tengah kota. Hanya pesawat-pesawat dengan ukuran kecil dan sedang saja yang bisa mendarat di sini.

Tentu, bila dibandingkan antar kedua bandara tersebut, Bandara Orly mencatat traffic lebih tinggi dibanding Bandara Le Bourget yang lebih tua.

Sadar dua bandara yang ada di pusat kota Paris tersebut tak lagi mampu menampung peningkatan lalu lintas penumpang, otoritas Perancis pun mulai bergerak mencari lokasi bandara baru pada tahun 1957. Setelah melalui berbagai proses, daerah di dekat Kota Roissy pun dipilih sebagai lokasi bandara.

Wilayah ini menjadi lokasi favorit bandara ketiga di Kota Paris lantaran masih agak tertinggal, dimana mayoritas wilayahnya berupa lahan pertanian. Selain itu, belum banyak atau bisa dibilang hampir tak ada bangunan tinggi di sini. Jadi, sangat memudahkan dalam proses pembangunan.

Pembangunan bandara baru yang awalnya dikenal sebagai Paris-Nord Aiport tersebut dimulai pada tahun 1964. Dalam proses pembangunan, nama bandara kemudian diubah menjadi Charles de Gaulle, diambil dari mantan presiden Perancis yang wafat pada tahun 1970.

Sejak awal, Bandara Charles De Gaulle Paris memang didesain untuk menjadi bandara besar di masa mendatang. Karenanya, disiapkan lahan seluas 12,5 mil persegi untuk bandara ini, sangat besar dibanding Bandara London Heathrow yang berdiri di atas lahan seluas 4,7 mil persegi.

Terbukti, ketika kemunculan pesawat besar seperti Boeing 747 dan Airbus A380, Bandara Charles de Gaulle jadi salah satu yang paling siap menerimanya dibanding Bandara London Heathrow.

Bandara Charles De Gaulle resmi beroperasi pada tahun 1974 dengan satu terminal. Bandara yang dirancang oleh arsitek Perancis, Paul Andreu, (arsitek yang juga merancang Bandara Soekarno-Hatta), tersebut berhasil menjalankan fungsinya dengan baik sebagai pengganti dua bandara pendahulunya.

Di tahun pertama beroperasi pada 1970-an, 2,5 juta penumpang hilir-mudik di bandara ini. Pada tahun 1976, jumlahnya meningkat menjadi 7,5 juta penumpang. Di tahun yang sama, pesawat supersonik Concorde hadir dan Bandara Charles De Gaulle jadi yang pertama mengoperasikan penerbangan komersial Concorde bersama Bandara London Heathrow.

Baca juga: Antara Bandara Soekarno-Hatta dan Charles de Gaulle, Dirancang oleh Arsitek yang Sama

Semakin banyak penumpang, terminal 2 pun resmi dibuka pada tahun 1981. Tetapi, desainnya berbeda dengan terminal 1 yang bergaya gurita. Setahun berikutnya sampai tahun 2003 terminal 2B-2E resmi beroperasi. Pada periode itu juga dibangun terminal 3.

Di tahun 2020 lalu, terminal 4 berencana segera dibangun dengan biaya US$10,5 miliar. Tetapi, rencana ini masih tertahan mengingat anjloknya pertumbuhan penumpang udara selama pandemi Covid-19 sampai dengan saat ini.

Tak Indah Sesuai Harapan, Inilah Sebab Seseorang Putuskan Undur Diri Sebagai Pramugari

Dengan beragam benefit yang ditawarkan, pramugari tak pelak menjadi profesi yang banyak diminati oleh kaum hawa. Meski menarik dan terlihat gemerlap, tingkat turnover pramugari terbilang tinggi dibanding profesi lain di dalam maskapai. Tentu ada beberapa sebab yang menjadi alasan mengapa seseorang tidak bisa berlama-lama menjadi pramugari.

Baca juga: Inilah 20 Syarat ‘Tak Resmi’ untuk Jadi Pramugari, Nomor Dua Agak Aneh

Susan Brown, seorang mantan pramugari memberikan ulasannya menarik dalam forum Quora. Ia menyebut ada beberapa alasan utama mengapa seseorang akhirnya memutuskan mengundurkan diri sebagai pramugari, tak terkecuali pada maskapai internasional dengan nama besar sekalipun.

1. Fatigue (Kelelahan)
Menjadi pramugari identik dengan lelah tingkat tinggi, plus pola tidur yang tidak biasa. Dan tanpa bisa mengelola kelelahan, maka bisa berujung sakit dan mempengaruhi kinerja sehari-hari.

2. Homesickness (Kerinduan)
Mereka jauh dari teman dan keluarga. Tinggal di negara yang bukan negara asalnya. Pada awalnya mungkin terasa menarik bagi sebagian orang, tetapi faktor itu cepat hilang. Bayangkan setiap hari Anda bekerja dan kemudian tidak pulang ke rumah.

Anda berbagi akomodasi dengan teman sekamar tetapi mereka bukan keluarga atau teman Anda seperti di rumah sendiri. Anda berada di negara dan tempat yang tidak biasa Anda kunjungi. Anda mulai merindukan rumah, orang, dan hal-hal yang biasa Anda lakukan.

3. Loneliness (Kesendirian)
Meskipun menjadi awak kabib dikelilingi oleh begitu banyak orang, mereka sering merasa kesepian di tengah keramaian. Bila tidak dikelola dengan baik, perasaan kesepian terkadang bisa berdampak buruk, seperti ada perasaan tertekan dan sedih. Lama merasa seperti ini maka dipastikan sang pramugari mulai berpikir untuk mengundurkan diri.

Sumber: istimewa

4. Rules (Aturan)
Saat Anda menandatangani kontrak sebagai awak kabin maka akan mengikuti 10.000 aturan. Ada berbagai aturan ketat yang harus diikuti kru baik saat bertugas maupun saat tidak bertugas. Misalnya, kru perempuan tidak boleh membiarkan teman laki-lakinya menginap di rumah mereka. Hal yang sama untuk kru laki-laki.

Ajuga jam malam untuk semua kru. Aturan ketat bisa terasa menyesakkan bagi sebagian orang. Misalnya, kru tidak diperbolehkan memiliki alkohol di rumah mereka tanpa lisensi minuman keras. Jika perusahaan mengetahui bahwa kru memiliki alkohol di akomodasi mereka tanpa lisensi minuman keras, maka kru akan dipecat.

5. Working Environment (Lingkungan Kerja)
Sedikit banyak akan berpengaruh, kemampuan seseorang beradaptasi pada lingkungan kerja tidak sama. Tanpa bisa beraptasi, maka siap-siap untuk sang pramugari mengundurkan diri.

Baca juga: Jóhanna Sigurðardóttir – Mantan Pramugari yang Sukses Menjadi Perdana Menteri Islandia

6. Fantasy (Fantasi)
Menjadi pramugari adalah mimpi dan cita-cita bagi kebanyakan wanita. Namun, pada kenyataan, antara fantasi dan realitas bisa berbeda jauh. Tanpa mampu menyesuaikan dengan kondisi, maka akan berat untuk menjalani profesi yang tadinya menjadi impian.

Jet Shark – Wahana Air Hybrid, Bisa Berlayar di Atas dan Bawah Permukaan

Kapal dengan kemampuan untuk melaju di atas dan bawah permukaan air, lazimnya digunakan di lingkup militer, khususnya pasukan amfibi. Namun, keunggulan wahana hybrid tersebut kini juga tengah diadaptasi untuk kebutuhan sipil. Yang dimaksud adalah Jet Shark, kapal semi submersible empat kursi yang diklaim dapat memberikan pengalaman menyelam dan menjelajah lautan dengan cara yang benar-benar berbeda.

Baca juga: Inilah Nautilus, Desain Superyacht Hybrid, Bisa Jadi Kapal Permukaan dan Kapal Selam

Dari laman Interestingengineering.com, Rob Innes, perancang Jet Shark, menyebut bahwa wahana hybrid ini mengusung konfigurasi empat kursi dewasa berukuran penuh dan kokpit kedap air yang dilengkapi pengontrol iklim, plus jendela panorama dengan desain lebar.

Sebagai kapal hybrid, Jet Shark dapat berlayar layaknya kapal konvensional di atas permukaan, dengan dua pintu sayap camar besar yang terbuka penuh.

Jet Shark menyediakan berbagai level trim dan pilihan powertrain. Wahana hybrid ini disokong mesin marinized dari mesin Corvette 6.2l V8 terbaru dan mesin Kodiak Marine dengan kekuatan 420 hp. Iterasi masa depan juga akan mencakup penggunaan mesin diesel dan mesin supercharged dengan kekuatan 600 hp.

Jet Shark juga akan dikembangkan dalam versi listrik di masa depan, sepanjang teknologi ini dipadang aman untuk operasional dalam wahana hybdrid.

Tidak seperti kapal biasa, Jet Shark dikendalikan secara elektro hidraulik saat menjalankan moda selam. Elektro hidraulik juga mengendalikan Jet Shark saat mengapung di bawah air, dengan elevator belakang dan dorongan jet vektor. Pod snorkeling/kamera selalu berada di atas air, untuk itu Jet Shark hanya menyelam hingga kedalaman 1,5 meter. Jika kapal kehilangan tenaga karena alasan apa pun, maka Jet Shark akan segera muncul ke permukaan.

Baca juga: Travelers Penyuka Diving Wajib Tau! U-Boat Worx Luncurkan Kapal Selam Paling Ringan

Keselamatan menjadi fokus utama dalam rancang bangun Jet Shark. Jika seluruh kapal benar-benar terendam air, maka secara otomatis kapal akan mengapung dan berdiri sendiri karena pengapungan statisnya. Saat melakukan penyelaman dangkal, berbagai kamera, sensor, dan Lidar onboard akan memastikan Jet Shark tetap jauh dari kapal lain dan pengguna jalur air.

Bandara Delhi India Maksimalkan Teknologi Facial Recognition, Penumpang Hemat Waktu 25 Menit Saat Lewati Gate

Salah satu bandara tersibuk di India, Bandara New Delhi, makin memassifkan penggunaan teknologi facial recognition yang disebut DigiYatra. Sebelum teknologi tersebut hanya tersedia di beberapa gate saja. Tetapi pada bulan Maret mendatang, sebagian besar gate masuk dan boarding DigiYatra ditargetkan sudah terpasang.

Baca juga: Bergeser ke Era Otomatis, Maskapai Iberia Uji Coba Facial Recognition

DigiYatra pertama kali diluncurkan pada 15 Agustus 2022, tepat pada Hari Kemerdekaan ke-75 India, dalam versi beta dari contactless passenger processing system di Bandara Delhi dan Bengaluru. Sistem ini memungkinkan penumpang melewati pos pemeriksaan tanpa menunjukkan surat apapun.

Agar bisa memanfaatkan fasilitas tersebut, penumpang diharuskan mengunduh aplikasi DigiYatra dan harus mendaftar menggunakan kredensial Kartu Adhaar masing-masing, yaitu nomor identifikasi unik yang menyimpan sidik jari dan pemindaian iris mata seseorang.

Saat memasuki bandara, penumpang diharuskan memindai boarding pass mereka di e-gate. Kamera yang dipasang di sana juga memindai wajah orang tersebut, dan hal ini diulangi di berbagai pos pemeriksaan di seluruh bandara.

Tingginya animo penumpang dan keuntungan dari teknologi DigiYatra membuat operator memperluas jangkauannya. Pada akhir Maret tahun ini, Terminal 2 dan 3 Bandara Internasional Indira Gandhi Delhi ditargetkan juga mulai mengaktifkan teknologi facial recognition.  Di bulan berikutnya, DigiYatra terpasang di Terminal 1 bandara.

Saat ini setiap hari tak kurang dari 2.500 penumpang memanfaatkan teknologi tersebut dan jumlah itu akan meningkat seiring pemasangan di Terminal 2 dan 3 bandara serta Terminal 1.

“Setelah pemasangan semua infrastruktur DigiYatra di Terminal 3 dan Terminal 2, sekitar 40 persen pelancong domestik harian akan dapat masuk tanpa hambatan ke terminal, area pemeriksaan keamanan, dan gerbang keberangkatan,” kata DIAL, operator Bandara Delhi, dalam sebuah pernyataan.

DIAL menambahkan bahwa ini akan membantu penumpang menghemat waktu sekitar 15–25 menit dalam proses mulai dari pemeriksaan masuk hingga pemeriksaan keamanan selama jam sibuk, karena hanya beberapa detik yang diperlukan di setiap titik kontak.

Baca juga: Gandeng Qantas Airways, Bandara Internasional Sydney Operasikan Fitur Face Recognition

Teknologi facial recognition bukan barang baru di dunia. Sudah banyak bandara dan maskapai yang mengimplementasikan teknologi tersebut untuk mengurai antrean saat di pos pemeriksaan ataupun di gate masuk.

Dari segi kesehatan, manfaat contactless dari teknologi tersebut sangat mendorong penggunaannya secara massif di dunia.