Mulai 1 Desember 2021, Penumpang Kapal Ferry Wajib Gunakan e-Ticket yang Dilengkapi Data STNK

Penyeberangan dari Jawa ke Bali dan Jawa ke Sumatera mulai 1 Desember 2021 mendatang ada kebijakanan pengetatan dalam persyaratan penyeberangan. Di mana setiap pengguna jasa atau penumpang penyeberangan ferry wajib menggunakan tiket elektronik (e-ticket) Ferizy yang diisi lengkap sesuai dengan kartu identitas. Selain itu bagi mereka yang membawa kendaraan wajib menyertakan data Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK).

Baca juga: “Ferizy,” Mudahkan Penumpang Beli Tiket Kapal Ferry Merak-Bakauheni dan Ketapang-Gilimanuk

“Pengguna jasa ferry harus mengisi data penumpang dan kendaraan dengan benar sesuai kartu identitas dan STNK saat melakukan reservasi tiket online melalui Ferizy,” ujar Corporate secretary PT ASDP Indonesia Ferry Shelvy Arifin.

Dia menyebutkan, ketentuan ini berlaku bagi pengguna jasa di Merak, Banten dan Bakauheni, Lampung serta Ketapang, Jawa Timur dan Gilimanuk, Bali. Shelvy mengatakan, untuk proses check in, pengguna jasa diminta untuk menyiapkan dokumen e-ticket berisi data lengkap sesuai kartu identitas setiap penumpang yang nantinya akan dilakukan verifikasi data oleh petugas di pelabuhan.

“Sesuai aturan, penumpang yang berhak atas santunan asuransi adalah penumpang yang terdata sesuai tanda identitas yang sah juga,” kata Shelvy.

Dia juga mengimbau agar pengguna jasa membeli tiket merek secara mandiri melalui www ferizy.com atau aplikasi Ferizy dan agen penjualan resmi lainnya. Shelvy mengingatkan, agar dipastikan seluruh jumlah penumpang dalam kendaraan terdata di dalam tiket.

Hal itu guna memastikan calon penumpang terdata dengan baik dan benar di dalam data manifest kapal. Shelvy mengatakan, jika pengguna jasa hanya melampirkan QR code tanpa data perjalanan, serta e-ticket tidak mencantumkan identitas diri, jumlah penumpang, golongan kendaraan, dan nomor polisi kendaraan sesuai dengan kartu identitas dan STNK, maka tidak akan dilayani di loket.

Sementara itu, selama penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Jawa – Bali hingga 29 November 2021, ASDP tetap mengimbau kepada seluruh pengguna jasa penyeberangan, khususnya di Merak, Bakauheni, Ketapang dan Gilimanuk, agar melakukan reservasi tiket online secara mandiri via Ferizy. Mereka juga dihimbau mematuhi syarat perjalanan yang ditetapkan termasuk menunjukkan data vaksin dan antigen/PCR di Aplikasi PeduliLindungi.

Pelaku perjalanan penyeberangan juga wajib menunjukkan kartu vaksin minimal dosis pertama dan hasil negatif Rapid Test PCR yang berlaku 3×24 jam atau Antigen yang berlaku 1×24 jam. Di masa PPKM saat ini, pengecualian diberikan kepada pengguna jasa 12 tahun ke bawah yang dibebaskan menunjukkan kartu vaksin.

Juga, pengguna jasa dengan kondisi kesehatan khusus ataupun komorbid dengan melampirkan surat keterangan dokter dari rumah sakit pemerintah. Sesuai dengan surat edaran (SE) Menteri Perhubungan No. 94, SE Satgas Covid No 22, dan Imendagri No 57, bagi pengemudi kendaraan logistik juga diberikan pengecualian, jika sudah vaksin dua kali maka syarat hasil negatif antigen berlaku 14×24 jam sebelum masuk pelabuhan.

Baca juga: Tuntas di 2020, PT ASDP Targetkan Digitalisasi di Semua Pelabuhan

Sedangkan, jika sudah vaksin satu kali maka hasil negatif antigen berlaku 7×24 jam sebelum masuk pelabuhan.






















Inilah Alasan Perkeretaapian Jepang Lebih Menggunakan Easy Japanese Ketimbang Bahasa Inggris

Anda pernah mengunjungi Negeri Sakura, Jepang? Bagi yang sudah, mungkin Anda pernah merasakan fase kesulitan komunikasi dengan warga asli sana yang disinyalir tidak banyak yang mahir berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris. Ya, kendati maju di segala aspek, terutama sektor perkeretaapiannya, namun jargon Jepang sebagai “negara sombong” dilatarbelakangi oleh faktor sejarah.

Baca juga: Bandara Dubai Gunakan Bahasa ‘Jawa Halus’ Untuk Pemeberitahuan Penerbangan

Ternyata, keterbatasan warga Jepang dalam berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris terjadi sejak masa isolasi dari dunia luar yang diberlakukan pada periode Edo (tahun 1868). Pada kala itu, orang Jepang dilarang bepergian ke luar negeri, pun dengan orang asing yang juga dilarang untuk masuk ke Jepang. Akhirnya aturan isolasi tersebut dihapuskan saat restorasi Meiji atau yang diketahui sebagai titik tolak modernisasi di Jepang.

Nah, dilandaskan pada kasus tersebut, perkeretaapian Jepang menelurkan sebuah kebijakan yang disebut “Easy Japanese”. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman mainichi.jp (4/6/2018), penggunaan Bahasa Jepang versi mudah ini ditujukan agar operator kereta dapat menyampaikan informasi seputar perjalanan kepada warga asing yang kebetulan menggunakan jasa kereta api di sana.

Karena kebanyakan orang Jepang sendiri sulit untuk berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris, maka mereka menciptakan sebuah rangkaian kosakata dalam bentuk sederhana dan ‘memaksa’ orang asing yang mendengarrnya untuk paham apa yang dimaksud. Tentu saja, apa yang disampaikan dalam pengumuman menggunakan Easy Japanese merupakan informasi dasar tentang perjalanan kereta, seperti “Stasiun selanjutnya adalah stasiun …”, “Pintu yang akan terbuka berada di sebelah kiri arah kereta,”, dan lain sebagainya.

Namun, diantara semua informasi yang disampaikan menggunakan Easy Japanese, satu yang agak sulit dimengerti adalah pengumuman soal insiden. Secara mengejutkan, sebuah survei menyebutkan bahwa hal yang paling ingin didengar oleh wisatawan mancanegara adalah tentang penyebab keterlambatan pemberangkatan kereta, entah itu karena bencana alam atau sebuah kecelakaan.

Dalam sebuah contoh yang dicantumkan di laman sumber, terdapat sebuah pengumuman yang cukup panjang yang didengar oleh tiga wisatawan mancanegara. “Telah terjadi kecelakaan yang mengakibatkan penumpang mengalami cidera di Stasiun A. Jalur Keihin Tohoku telah kembali beroperasi setelah pemeriksaan keamanan, namun pengoperasian masih tertunda,”

Ketiganya mengetahui bahwa ada kecelakaan yang mengakibatkan salah seorang penumpang mengalami cidera, namun hanya dua diantara mereka yang dapat menangkap bahwa pengoperasian keretanya masih mengalami penundaan. Dari sini dapat kita simpulkan bahwa walaupun pengumuman diserukan dalam bahasa Jepang, namun Anda sebagai pendatang tidak perlu takut akan buta informasi. Selain penggunaan Easy Japanese, kecanggihan informasi dapat memudahkan segalanya.

Baca Juga: Operator Taksi Jepang Buka Lowongan Jadi Pengemudi Asing, Tertarik?

Diketahui, konsep Easy Japanese ini dirancang oleh sekelompok peneliti dari Hirosaki University yang dipimpin oleh Kazuyuki Sato. Adapun kesulitan menyampaikan informasi evakuasi kepada wisatawan mancanegara ketika Gempa Bumi Besar Hanshin Awaji di tahun 1995 yang menjadi latar belakang Kazuyuki Sato menciptakan Easy Japanese.

Bagi Anda yang penasaran dengan pengumuman menggunakan Easy Japanese, Anda bisa mendengarkannya di layanan Metro Jepang, salah satunya adalah layanan Kereta Peluru Shinkansen.






















Dekatkan Telinga Ke Rel, Remaja Pakistan Tewas dengan Luka Bakar!

Berita mengejutkan datang dari Tanah Britania dimana seorang remaja meninggal di tengah rel kereta. Bukan tertabrak oleh rangkaian atau salah satu upaya untuk bunuh diri, melainkan remaja 17 tahun yang diketahui bernama Kanwal Butt asal Pakistan meninggal setelah mencoba mencari tahu posisi kereta dengan cara mendekatkan telinga ke rel – sama seperti apa yang ia sering lakukan di kampung halamannya.

Baca Juga: Ketika Mobil Mogok di Atas Rel Kereta, Inilah Solusi Mengatasinya

Dikutip KabarPenumpang.com dari laman dailymail.co.uk, Kanwal pada 2014 silam menderita luka bakar parah setelah menempelkan telinganya di rel kereta listrik. Diketahui, remaja yang bekerja di salah satu restoran ternama di Godstone, Inggris ini hendak melakukan perjalanan menyambangi keluarganya di Aldershot, Hampshire. Mungkin karena tidak sabar ingin bertemu dengan keluarganya, maka Kanwal mengambil inisiatif untuk mencari tahu posisi kereta dengan cara tersebut. Nahas, aksinya tersebut malah mengirimkannya kepangkuan Sang Pencipta.

Sontak, berita kematian Kanwal langsung diinfokan kepada pihak keluarga. Amjad Butt, Ayah Kanwal mengatakan bahwa putranya tersebut, “tidak pernah bepergian naik kereta sendirian,”. “Ketika di Pakistan, semua kereta masih bertenaga diesel dan batu bara. Saya berpikir mungkin Kanwal tidak tahu bahwa relnya penuh dengan aliran listrik,” tandas Sang Ayah.

Berangkat dari sini, pihak keluarga yang didampingi oleh seorang anggota dewan lokal Pakistan memaksa operator perkeretaapian Inggris untuk lebih memaksimalkan pembagian informasi kepada para penumpangnya. Tuntutan tersebut dilandaskan pada tidak semua penumpang layanan kereta mengetahui tentang apa saja yang boleh dan tidak untuk dilakukan, contohnya seperti Kanwal yang meninggal secara mengenaskan karena minimnya papan informasi.

Baca Juga: Lebar Bentang Rel Menjadi Ciri Khas Jalur KRL Jabodetabek

Selain ancaman tersengat aliran listrik seperti yang dialami Kanwal, turun ke rel pun dinilai sangat berbahaya karena sewaktu-waktu kereta bisa saja lewat dan menyambar Anda dengan kecepatan yang cukup untuk menghilangkan nyawa seseorang. Maka dari itu, di Indonesia sendiri, terdapat himbauan yang isinya, “Mintalah tolong kepada petugas jika barang Anda jatuh ke rel,”.

Himbauan atau larangan seperti itulah yang dituntut oleh keluarga Kanwal kepada operator kereta Inggris. “Perlu ada sistem untuk memberi tahu publik bahwa itu berbahaya,” tutur salah seorang keluarga. “Peringatan harus ada di platform, di depan Anda.” Tandasnya.






















Pilihan Pengadaan Pesawat, Mengapa Maskapai Pilih Airbus dan Boeing?

Dalan dua dekade belakangan, jagad penerbangan komersial seolah tertuju pada dua merek besar sebagai manufaktur pesawat jet wide body dan narrow body. Tak lain dan tak bukan, Airbus dan Boeing adalah pilihan utama maskapai dalam tiap program akuisisinya. Merek lain tentu ada, tapi porsi pasarnya terbilang kecil dan tak bisa dibandingkan dengan Airbus dan Boeing. Pertanyaannya kemudian, mengapa daya pikat Airbus dan Boeing sedemikian besar dalam perspektif maskapai?

Baca juga: Masih Bingung Bedakan Boeing 737 dan Airbus A320? Simak Ini

Untuk menjawabnya perlu dipahami bahwa akuisisi jenis pesawat membutuhkan beberapa pertimbangan yang kompleks, tak sebatas urusan spesifikasi teknis dan harga, terlebih bagi maskapai yang menyandang sebagai flag carrier. Berikut adalah poin-poin dari alasan mengapa nama Airbus dan Boeing masih bertengger dalam program akusisi dan pengembangan armada maskapai dunia.

1. Citra Maskapai
Citra maskapai tak melulu berpatok pada senyum ramah awak kabin, menu makanan dan fasilitas hiburan di kursi. Bagi maskapai mengoperasikan pesawat dari merek papan atas (Airbus dan Boeing) adalah citra positif yang dibutuhkan untuk image dan promosi. Tak heran bila antar maskapai besar seolah berlomba dalam mengakuisisi pesawat dengan tipe terbaru dan tercanggih dari Airbus dan Boeing.

2. Kepercayaan dari pengguna jasa
Industri penerbangan komersial erat kaitannya dengan unsur kepercayaan dari pengguna jasa. Dan salah satu kepercayaan yang penting adalah penggunaan jenis pesawat yang dimaksud. Dalam hal kepercayaan, nama Airbus dan Boeing sampai saat ini masih begitu kuat. Meski citra dan kepercayaan pada Boeing runtuh di segmen narrow body di seri 737 MAX, namun Boeing masih sangat dipercaya dalam kelas pesawat wide body untuk penerbangan rute jarak sedang dan jauh (seri 777 dan 787 Dreamliner).

3. Dukungan perbaikan dan pemeliharaan
Program akuisisi pesawat dengan nilai jutaan dollar sudah barang tentu bukan sekedar mendatangkan dan mengoperasikannya semata. Lebih dari itu maskapai perlu mempertimbangkan bagaimana dukungan suku cadang dan sistem perawatan pesawat setelah beroperasi. Kerja sama Airbus dan Boeing dengan pihak Garuda Maintenance Facility bisa menjadi poin contoh disini.

Perbaikan dan pemeliharaan pesawat merupakan kegiatan yang membutuhkan biaya besar. Dalam beberapa kasus untuk pesawat baru, proses seperti overhaul (pemeliharaan berat) harus dilakukan di luar negeri. Untuk yang satu ini, lagi-lagi Airbus dan Boeing punya jaringan perbaikan bertingkat di setiap regional.

4. Kelancaran ekspansi rute
Harapan akuisisi pesawat baru salah satunya guna menunjang ekspansi pada rute baru, atau bisa juga melayani rute eksisting dengan pesawat yang lebih ekonomis. Untuk membuka layanan penerbangan ke suatu bandara, pesawat yang akan dijalankan oleh maskapai harus mendapat sertifikasi layak pendaratan di bandara tujuan.

Semisal saat Citilink berencana membuka penerbangan ke Frankfurt, maka hal tersebut dilandasi (salah satunya) karena Airbus A330-900NEO telah mendapat sertifikasi dan standar pengoperasian di Frankfurt. Poin kompabilitas pesawat dengan bandara-bandara besar tak pelak menjadi keunggulan dari nama besar Airbus dan Boeing.

Baca juga: Buka Rute Ke Frankfurt, Citilink Datangkan 2 Unit Airbus A330-900NEO di Oktober 2019

5. Dukungan dari leasing
Leasing menjadi salah satu strategi maskapai untuk menambah armadanya. Dan pilihan pada nama besar seperti Airbus dan Boeing lebih disukai oleh pihak leasing internasional.

6. Harga jual kembali
Meski tak ada jaminan harga jual kembali akan baik, namun akuisisi pada beberapa jenis pesawat yang laris di pasaran, kelak akan memudahkan dalam proses penjualan kembali kepada pihak lain.






















Walau Nganggur, Pesawat Tetap ‘Merepotkan’ Petugas, Loh

Virus Cina membuat langit menjadi lebih sepi akibat turunnya frekuensi penerbangan. Menurut Cirium, sebuah perusahaan riset terkait industri di dunia penerbangan, mencatat lebih dari 16 ribu pesawat nganggur di seluruh dunia atau yang terendah sejak 26 tahun.

Baca juga: Bagaimana Load Factor Pengaruhi Profit Maskapai? Berikut Penjelasannya

Mayoritas dari mereka tersebar di banyak tempat di beberapa bandara di negara masing-masing. Bahkan, beberapa maskapai seperti Singapore Airlines dan British Airways, sampai harus menggrounded armada mereka ke bandara di negara lain, mulai dari Australia hingga Perancis, karena di negara mereka bandara yang ada tak lagi menampung saking banyaknya pesawat yang nganggur.

Akan tetapi, ketika pesawat di-grounded, bukan berarti tugas mereka (maskapai) selesai sambil berharap industri penerbangan global kembali pulih. Dalam kondisi menganggur sekalipun, pesawat tetap harus mendapat perawatan agar pesawat siap beroperasi ketika digunakan, seperti pengecekan pada sistem hidrolik, sistem avionik pesawat, sistem pendingin udara, mesin, ban, komponen elektronik yang jumlahnya begitu banyak dalam sebuah pesawat, dan bagian-bagian lainnya.

Tak cukup sampai di situ, untuk mencegah menumpuknya debu serta burung yang bersarang, mesin serta bagian lain pesawat yang terdapat lubang, termasuk ban pesawat pun juga ditutup dengan kain, plastik, atau media lainnya. Interior pesawat juga tak luput dari perhatian. Selama pesawat digrounded, seluruh kaca pesawat ditutup dengan tirai. Fungsinya, akan sinar matahari tak masuk ke dalam dan membuat bagian dalam menjadi lembab. Lantai, in flight entertainmet, sistem penerangan, hingga sarung kursi pun juga tetap rutin dicek.

Kemudian, yang tak kalah pentingnya, bahan bakar pesawat juga harus dalam keadaan terisi penuh. Hal itu untuk mencegah terjadinya karat di bagian dalam tanki bahan bakar. Meski demikian, ketika pesawat hendak kembali dioperasikan, bahan bakar tersebut tetap harus dibuang dan diganti dengan yang baru. Sebab, layaknya bahan makanan, bahan bakar juga bisa ‘basi’ bila terlalu lama disimpan di tangki.

Terpaan angin yang kencang juga menjadi perhatian petugas maintenance. Dalam kondisi normal, mungkin kencangnya terpaan angin terhadap pesawat yang tengah parkir tak terlalu membuat mereka khawatir. Namun tidak dalam kondisi seperti sekarang, dimana pesawat berjajar rapi dalam jarak yang cukup tipis untuk memaksimalkan space. Oleh karenanya, maskapai pun mau tak mau sampai harus menambah kelengkapan wheel chocks semata agar pesawat statis dan tak bergeser sedikitpun.

Dikutip dari bloomberg.com, berbagai pengecekan tersebut dilakukan dalam rentang waktu seminggu atau dua minggu sekali. Namun, akibat banyaknya pesawat yang digrounded, tim maintenance atau teknik disebut bekerja hampir sepanjang hari, dengan hanya sedikit jam istirahat.

Baca juga: Mengapa Perusahaan Leasing ‘Diburu’ Maskapai dan Mengapa Maskapai Menyewa Pesawat? Ini Jawabannya

Menurut OAG, kapasitas maskapai di seluruh dunia, secara keseluruhan, turun lebih dari seperempat. Laporan terbaru untuk minggu ini menunjukkan penurunan di seluruh dunia sebesar 28,7 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Bahkan, beberapa negara lainnya, seperti Italia dan Hong Kong, penurunannya cukup drastis, mencapai lebih dari 80 persen.

Selain itu, Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) belum lama ini juga telah merilis analisis terbaru. Analisis tersebut menunjukkan, lesunya penerbangan akibat pandemi corona akan menyebabkan maskapai kehilangan sekitar $314 miliar pada tahun 2020, atau turun hingga 55 persen jika dibandingkan dengan tahun 2019. Kondisi tersebut pun diklaim akan mengancam 25 juta pekerja aviasi di berbagai penjuru dunia.






















Terowongan Tongguling yang Hubungkan Cina ke Vietnam Akhirnya Selesai

Cina terus melakukan ekspansi perjalanan kereta api baik barang maupun kereta berkecepatan tingginya. Hal ini, dilakukan agar lebih mudah menjangkau negara lain salah satunya yang masuk dalam Asia Tenggara.

Baca juga: Vietnam Buka Rute Kereta Lintas Benua, Hubungkan Hanoi dengan Liege di Belgia

Selain itu, ekspansi ini juga memudahkan perjalanan penumpang menuju ke Cina karena memiliki moda transportasi lain untuk bepergian ke Negeri Tirai Bambu itu. Seperti yang belum lama ini dilakukan adalah membuat terowongan untuk melancarkan ekspansi tersebut. Yang mana dengan hadirnya terowongan kereta ini, pelancong bisa tiba di Cina dari Asia Tenggara tepatnya Vietnam dan Laos.

Kabar terbaru dari ekspansi itu adalah semua terowongan di sepanjang jalur kereta api Fangchenggang menuju ke Dongxing di daerah otonomi Guangxi Zhuang akhirnya bergabung. Ini karena pada Selasa (9/11/2021) kemarin, pengeboran Terowongan Tongguling sudah selesai dilakukan.

Hal tersebut kemudian menandai langkah maju yang signifikan dalam pembangunan kereta api berkecepatan tinggi Cina untuk mencapai perbatasan Cina hingga ke Vietnam. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman sumber ecns.cn (10/11/2021), Fangchenggang-Dongxing Railway atau Fangdong Railway merupakan jalur kereta api pertama Cina ke Dongxing.

Di mana Doxing adalah sebuah kota pelabuhan yang menghubungkan Cina dengan anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa (PBB) di Asia Tenggara (ASEAN). Sehingga kereta api dengan jalur sepanjang 46,9 kilometer ini memiliki delapan terowongan, di antaranya Tongguling adalah yang terpanjang dengan panjang 3.790 meter.

Baca juga: Pengiriman Melalui Laut Alami Penundaan, Kereta Barang Cina-Eropa Jadi Pilihan di Asia Tenggara

Selesainya pengeboran Terowongan Tongguling akan mengakhiri sejarah tidak adanya lalu lintas antara Fangchenggang dan Dongxing telah selesai. Waktu perjalanan antara kedua kota akan dipersingkat dari 90 menjadi 20 menit, sangat meningkatkan transportasi di kota-kota perbatasan.

Volocopter Sukses Terbang Perdana, Jadi Taksi Udara Berawak Pertama di Korea Selatan

Taksi udara Volocopter sukses melalukan penerbangan perdana di Korea Selatan. Ini menjadikannya sebagai penerbangan taksi udara berawak pertama di Negeri Ginseng. Beberapa tahun ke depan, taksi udara electric Vertical Take Off and Landing (eVTOL) akan beroperasi secara komersial saat regulasi dan ekosistemnya rampung dikerjakan pemerintah.

Baca juga: Tiket Penerbangan eVTOL Penumpang Pertama Volocopter di Singapura Ludes Terjual dalam Sekejap

Dalam tayangan video yang diunggah Volocopter di kanal YouTube resminya, pioneer taksi udara eVTOL asal Jerman itu melakukan uji terbang di Bandara Internasional Gimpo, Seoul, pada hari Kamis lalu, menempuh jarak sekitar 3 km di ketinggian 50 m dan melesat di kecepatan 45 kam per jam.

Penerbangan taksi udara atau demonstrasi taksi udara Volocopter berdurasi lima menit tersebut merupakan bagian dari program “Open the Urban Sky” yang dicanangkan Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, dan Transportasi (MOLIT) Korea Selatan. Ini adalah bentuk keseriusan Korea Selatan dalam menjadi pemimpin industri taksi udara atau taksi terbang dalam negeri dan Asia.

“Dengan roadmap K-UAM (mobilitas udara perkotaan) MOLIT yang komprehensif, Korea Selatan berada di posisi yang baik untuk mencapai tujuan komersialisasi UAM pada tahun 2025,” kata CEO Volocopter, Florian Reuter.

“Uji terbang eVTOL hari ini dan buktikan lagi bahwa masa depan taksi udara ada di sini dan sekarang dengan pesawat Volocopter. Sebagai pelopor industri UAM, kami berharap dapat bekerja sama dengan teman dan mitra baik dari instansi pemerintah maupun sektor swasta untuk mewujudkan UAM di Korea Selatan,” tambahnya.

Sebelum melakukan penerbangan perdana dan menjadi penerbangan taksi udara berawak pertama di Korea Selatan, Volocopter sudah lebih dahulu unjuk gigi di Singapura, Amerika Serikat, Finlandia, Jerman, dan Dubai.

Di Singapura, tiket penerbangan joyflight (joyride) eVTOL penumpang pertama Volocopter ludes terjual dalam sekejap. Sejatinya, penerbangan itu baru akan terwujud sekitar dua hingga tahun mendatang.

Dalam memuluskan cengkeramnya di Singapura, Volocopter secara bertahap bakal mempekerjakan 200 orang hingga tahun 2023 sambil terus menjual tiket penerbangan joyride Volocopter sejak dini.

Putaran pertama tiket penerbangan VoloFirst yang belakangan ludes terjual habis dibanderol seharga US$365 atau Rp5,1 juta (kurs 14.077). Dengan mahar tersebut, penumpang berhak jalan-jalan keliling Singapura menggunakan taksi udara Volocopter selama 10-15 menit, ditemani oleh satu orang pilot.

Harga tersebut diklaim Volocopter cukup terjangkau bila dibandingkan dengan joy flight menggunakan helikopter. Disebutkan, joy flight (penerbangan wisata) menggunakan helikopter berkapasitas empat orang selama 45 menit setidaknya menghabiskan dana sekitar US$2.600 atau sekitar Rp36,7 juta (kurs 14.077). Itupun tidak boleh mengambil satupun gambar.

Baca juga: Volocopter Buat Versi Sayap Tetap untuk Penerbangan Jarak Lebih Jauh dan Lama

Volocopter diketahui sudah mengembangkan taksi udara eVTOL sejak tahun 2011. Lima tahun berselang atau pada tahun 2016, taksi udara Volocopter sukses melakukan uji terbang perdana. Bila tak ada aral melintang, Volocopter bisa terbang secara komersial pada 2022 mendatang setelah lolos uji sertifikasi.

Disebut, spesifikasi taksi udara Volocopter mampu mengangkut beban 160 kg, dua penumpang dan satu pilot, menempuh jarak maksimum sejauh 30 km, dengan kecepatan maksimum 100 km per jam. Ini dilengkapi dengan 18 rotor listrik sehingga diklaim lebih senyap, tenang, dan nyaman dibanding helikopter.

Sepur Badug Adalah Rel Buntu Untuk Cegah Kereta Keluar dari Jalur

Sepur atau yang biasa dikenal dengan rel kereta ternyata memiliki berbagai macam. Salah satunya adalah sepur badug. Sebenarnya ini sepur atau rel kereta yang seperti apa? Penasaran?

Baca juga: Sepur Trutuk, Sejarah Jalur Kediri-Jombang

KabarPenumpang.com merangkum dari wikipedia.org, sepur badug merupakan rel buntu dalam istilah khusus perkeretaapian. Di mana ini adalah alat bantu untuk mencegah sarana perkeretaapian keluar dari ujung rel.

Desainnya sendiri pun bergantung pada jenis alat perangkai yang digunakan pada kereta api. Ini karena ujung alat perangkai adalah bagian pertama dari kendaraan yang menyentuh badug.

Badug memiliki arti dalam bahasa Inggris “buffer stop”, ini karena rel kereta api di Inggris pada prinsipnya menggunakan buffer atau boper untuk menyambung antar rangkaian. Sepur badug memiliki berbagai jenis yang telah dikembangkan yakni badug dengan anticlimber.

Ini penting dalam pengoperasian kereta api penumpang cepat karena anticlimber mencegah efek teleskopik dari gerbong kereta ketika terjadi tabrakan berhadapan. Kemudian ada badug untuk alat perangkai AAR, badug dengan penyangga di kedua sisinya, badug hidraulis dan badug beton dengan pasir.

Biasanya jika ada sedikit ruang tambahan di belakang blok badug, maka ada pasir atau ballast drag yang dirancang untuk mencegah kereta terpeleset saat anjlok. Karena memiliki massa besar, kereta api melepaskan sejumlah energi kinetik saat tabrakan dengan badug.

Dengan badug yang keras, ini hanya bisa mengatasi pengaruh gaya dan kecepatan sangat rendah dengan aman yakni dalam posisi hampir stasioner. Sehingga untuk meningkatkan kinerja penghentian sarana, maka diperlukan kompresi atau gesekan dalam melepas energi.

Saat ini untuk diketahui, badug yang mampu menyerap energi besar tengah dikembangkan. Kecelakaan di sepur badug pun pernah terjadi yakni pada 29 Agustus 2015 lalu, lokomotif CC206 15 07 yang sudah diberi plat nomor menabrak sepur badug dan sebuah warung di dekat Balai Yasa Yogyakarta karena gagal uji rem.

Baca juga: Mengenal Riwayat Kereta Komuter Diesel di Indonesia

Manager corporate communication Daop 6 Jogja, Gatut Sutiyatmoko, meyakini bahwa kejadian tersebut murni disebabkan oleh kegagalan rem. Saat itu Balai Yasa bekerja sama dengan GE Transportation untuk mengujicobakan lokomotif CC206.






















Hari Ini, 61 Tahun Lalu, Pesawat Hipersonik NASA X-15 Melesat 3.675 Km Per Jam

Pada hari ini, 61 tahun lalu, bertepatan dengan 15 November 1960, pesawat hipersonik The North American X-15 NASA berhasil melesat dikecepatan Mach 2,97 atau sekitar 3.675 km per jam menggunakan mesin XLR99. Menariknya, kecepatan itu ditempuh pesawat dengan hanya daya dorong mesin 50 persen.

Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah, Jet NASA X-15 Jadi Pesawat Pertama yang Melesat 4,675 Km Per Jam!

Pesawat yang dibangun oleh North American Aviation (NAA) ini diklaim sebagai inspirasi bagi pesawat luar angkasa yang ada saat ini.

Dilansir afmc.af.mil, program gabungan Angkatan Udara/NASA X-15 dimulai pada Oktober 1958, hanya setahun setelah Sputnik 1 diluncurkan.

Dibangun dari bahan Inconel X -guna menahan suhu tinggi penerbangan hipersonik- pesawat eksperimental X-15 didesain seperti Space Shuttle, dibawa ke ketinggian oleh wahana peluncur Boeing B-52 yang sudah dimodifikasi, sebelum melesat di kecepatan maksimum.

Awalnya, X-15 didukung oleh dua mesin roket XLR11, namun X-15 hanya mampu melesat maksimum di kecepatan Mach 3. Barulah setelah melalui beberapa pengembangan, X-15 dilengkapi mesin terbaru XLR99 yang bisa melesat jauh lebih cepat dari sebelumnya.

Pada 2 September 1959, kepala pilot uji NAA A. Scott Crossfield berhasil menerbangkan X-15 di kecepatan Mach 2 pada ketinggian 52.341 kaki. Perlu dicatat, saat itu, pesawat masih menggunakan mesin lama XLR11. Begitu juga penerbangan X-15 pada 15 Mei 1960. Meski berhasil menyentuh kecepatan Mach 3, pesawat masih menggunakan mesin lama.

Barulah pada 15 November 1960, penerbangan perdana X-15 menggunakan mesin roket baru XLR99 berhasil dilakukan. Ketika itu, pilot uji Scott Crossfield hanya mampu menerbangkan X-15 di kecepatan kurang dari Mach 2,97, turun dari sebelumnya. Namun, kecepatan segitu berhasil ditempuh dengan daya dorong sebesar 50 persen.

Pada 7 Maret 1961, pesawat hipersonik The North American X-15 NASA berhasil menembus kecepatan 4,675 km per jam atau Mach 4,43 untuk pertama kalinya di dunia. Saat itu, penerbangan yang dipiloti Kapten Robert White dari Angkatan Udara AS ini dicapai pada ketinggian 23.605 m, menjadikannya sebagai pilot pertama di dunia yang berhasil menembus kecepatan Mach 4.

Tak cukup sampai di situ, pesawat The North American X-15 NASA, bersama mesin baru roket barunya, XLR99, kembali mencatatkan rekor kecepatan tertinggi di dunia pada 23 Juni 1961. Disebutkan, saat itu, penerbangan yang dipiloti Kapten Robert White itu berhasil mencapai kecepatan Mach 5,27 atau 5.597 km per jam dalam tempo 10 menit.

Belum puas, White kembali membawa X-15 NASA melesat lebih cepat lagi. Pesawat hipersonik itu, pada 9 November 1961, berhasil mencapai kecepatan Mach 6 atau 6.373 km per jam.

Baca juga: Ngeri, Teknologi Terbaru Bisa Bikin Pesawat Ngebut 21 Ribu Km Per Jam!

Setelah White, tidak ada pilot uji lain yang bisa menerbangkan X-15 NASA lebih cepat. Tetapi, yang menerbangkan pesawat hipersonik NASA itu jauh lebih tinggi sampai ke tepi luar angkasa ada.

Pada 19 Juni 1963, pilot Joe Walker berhasil mencatat rekor ketinggian terbang bersama X-15 NASA mencapai 354.000 kaki atau sama dengan Garis Karman 62 mil. Itu berarti, pesawat berhasil terbang mencapai tepi ruang angkasa dan pilotnya berhak mendapat penghargaan Astronaut Wings atas keberhasilannya terbang di atas 50 mil.

Empat Kali Lipat dari Harga Rata-rata Global, Biaya Leasing Pesawat Bikin Garuda Indonesia Bangkrut

Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodkjo semakin menegaskan kondisi genting Garuda Indonesia. Ia menyebut bahwa secara teknis maskapai pelat merah itu sudah bangkrut.

Baca juga: Pelita Air Siap Layani Penerbangan Berjadwal, Persiapan Garuda Indonesia Bila Bangkrut?

“Sebenarnya dalam kondisi seperti ini kalau istilah perbankan sudah technically bankrupt, tapi legally belum. Ini yang sekarang sedang berusaha bagaimana kita bisa keluar dari situasi yang sebenarnya secara technically bankrupt,” katanya dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI, Selasa lalu.

Di antara berbagai penyebabnya, biaya leasing pesawat menjadi salah satu yang paling memberatkan Garuda.

Wamen yang akrab disapa Tiko itu mengungkapkan, Garuda Indonesia terlalu banyak berurusan dengan lessor atau leasing pesawat. Umumnya, dalam sebuah maskapai penerbangan terdapat 4-5 lessor saja dan Garuda Indonesia berkali-kali lipat dari itu, mencapai 32 lessor.

Turunan dari itu, Garuda Indonesia jadi secara teknis bangkrut karena berat mengeluarkan biaya maintenance, repair, and overhaul (MRO) lantaran terlalu banyak jenis pesawat. Tiko menyebut, saat ini Garuda Indonesia memiliki 202 armada terdiri dari 13 tipe pesawat.

Biasanya, airlines lain itu hanya 3-4 tipe pesawat saja. Bahkan, beberapa airlines sudah menganut prinsip one-type alias satu tipe pesawat saja, entah itu all Airbus aircraft ataupun all Boeing aircraft.

“Nah di Garuda mulai dari 777, 737, A320, A330, ada CRJ, ATR45, ATR75. Jadi memang pesawatnya banyak sekali dan itu membuat kompleksitas pengelolaan, maintenance-nya sehingga akhirnya cost per seat-nya jadi mahal,” jelas Tiko.

Masih soal leasing pesawat yang membuat Garuda Indonesia bangkrut secara teknis, Eks Komisaris PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk menyebut flag carrier Indonesia itu mendapat harga sewa sangat tinggi dari lessor atau perusahaan leasing pesawat.

Peter Gontha menyebut untuk Boeing 777 harga sewa di pasaran rata-rata US$ 750 ribu per bulan. Tetapi Garuda Indonesia mulai dari hari pertama bayar dua kali lipat yaitu sekitar US$1,4 juta dan diamini oleh Tiko.

Baca juga: Disebut Sudah Bangkrut, Ini 6 ‘Dosa’ Garuda Indonesia dari Masa ke Masa

“Dan ini juga menyebabkan kontrak-kontrak dengan lessor Garuda ini cukup tinggi dibandingkan dengan airline-airline lain. Bahkan, data dari Bloomberg menyampaikan bahwa kalau kita bandingkan rental cost dibandingan revenuenya Garuda masuk yang terbesar. Aircraft rental cost dibagi revenue mencapai 24,7 persen, empat kali lipat dari global average,” terang Tiko.

.