Maimaid.id Mudahkan Pelanggan Mencari Pekerja Rumah Tangga

Berbagai aplikasi saat ini hadir untuk memudahkan pelayanan baik layanan rumahan hingga transportasi. Hal ini untuk memudahkan segala urusan, bahkan mengenai pembayaran pun tak perlu lagi dengan segala keribetan karena ada e-wallet.

Baca juga: Hadirkan Pembersih Udara di GoCar, GoJek Beri Kenyamanan Penumpang dan Pengemudi

Sehingga pengguna ataupun mitra lebih dimudahkan untuk permasalahan pembayaran dan berbagai hal lainnya. Belum lama ini Maimaid.id hadir untuk memudahkan para keluarga yang membutuhkan asisten rumah tangga (ART), butler (kepala pelayan), baby sitter hingga driver.

Apalagi pasca Lebaran, banyak para ART yang tidak kembali dan kehadiran Maimaid.id memudahkan untuk mendapatkan para pekerja membantu pekerjaan rumah tangga. Maimaid.id ini pun berbeda dari aplikasi GoJek yang memiliki fitur GoClean dan Grab yakni GrabClean and Fix.

Danniel Siswantno selaku CEO Maimaid.id mengatakan, Maimaid.id bukanlah sebuah yayasan yang memberikan pengarahan atau pendidikan bagi para ART, butle, baby sitter ataupun driver. Tetapi Maimaid.id adalah layanan pemesanan jasa yang sudah memiliki para pekerja dengan kualitas dan kuantitas.

Daniel mengatakan, bahwa Maimaid.id memposisikan diri sebagai mediator antara konsumen dengan partner Pekerja Rumah Tangga (PRT) dan menjadi solusi permasalahan yang ada saat ini, serta menjamin keamanan, kesehatan setiap Asisten Rumah Tangga (ART) yang bergabung dengan Maimaid.id. Melayani dengan hati, Maimaid.id memberikan jaminan garansi tanpa batas sampai dengan perlindungan hukum untuk kedua belah pihak (konsumen dan partner).

Maimaid.id sebagai solusi dalam mencari Pekerja Rumah Tangga (PRT) yang professional dan terpercaya untuk Anda. Selain mendapatkan keuntungan bebas biaya admin, Anda juga akan diberikan benefit lainnya seperti layanan after Maimaid care hingga terjaminnya kesehatan calon Pekerja Rumah Tangga (PRT) dari terinfeksinya virus Covid-19 karena telah menerapkan protokol kesehatan seperti tes swab sesuai dengan anjuran protokol kesehatan dari pemerintah.

Uniknya dikatakan Daniel, baik pekerja rumah tangga maupun pelanggan memiliki aplikasi masing-masing. Sehingga bila pekerja sudah tidak lagi bekerja di sebuah keluarga, otomatis tidak ada lagi gaji atau upah yang akan dibayarkan melalui e-wallet.

Maimadi.id pun ternyata berbeda dari fitur GoClean, GrabClean and Fix yang dimiliki GoJek maupun Grab. Pasalnya fitur dari dua aplikasi decacorn ini hanya untuk sekali pemanggilan ke rumah untuk membersihakan seluruh rumah. Tak hanya itu pembayarannya pun untuk sekali kedatangan

Sedangkan Maimaid.id, para pekerja rumah tangga ini akan melakukan pekerjaan mereka selama sebulan dan bila cocok maka akan diteruskan. Untuk pembayarannya pun perbulan dengan tanpa pemotongan biaya administrasi. Daniel menambahkan, hal ini karena sebelumnya pelanggan sudah melakukan deposit dan pembayaran administrasi sebelum para pekerja bekerja di rumah sebuah keluarga.

Baca juga: Gunakan Kecerdasan Buatan, Grab Bisa Lacak Pengguna Asli dan Palsu

Satu lagi, untuk ART, baby sitter dan butler semuanya akan menetap di dalam rumah. Sedangkan untuk driver bisa memilih tinggal di dalam atau di luar. Saat ini, Maimaid.id sudah hadir di kota Bandung dan melayani lebih dari puluha pelanggan yang ada di Jakarta maupun Bandung.

“Dili Express” – Kenangan Kapal Ferry Katamaran dalam Prahara Lepasnya Timor-Timur

Punya bentuk futuristik, kapal ferry berdesain katamaran ini saban hari melayari Selat Channel yang menghubungkan antara Inggris dan Perancis. Inilah kapal ferry HSC Condor Rapide yang dioperasikan Condor Ferries sejak tahun 2010. Meski saat ini berfungsi sebagai kapal ferry yang menjalani rute reguler, namun siapa sangka, bahwa kapal ferry berbobot 1.250 ton ini, pernah punya kenangan tersendiri di Indonesia.

Baca juga: Kapal Ferry Cepat Milik Operator Cina Punya Bodi Ramping, Cepat dan Hemat Bahan Bakar

Kilas balik ke zaman jejak pendapat di Timor Leste (d/h Timor Timur) di tahun 1999, terjadi kesibukan luar biasa di Dermaga Pelabuhan Dili. Kala itu terjadi mobilisasi kekuatan besar-besaran dari militer Australia yang menjadi pentolan INTERFET (International Force for East Timor). Dan guna mendukung mobilisasi pasukan dan logistik Australia ke Timor-Timur, selain menggukan jalur udara, rupanya juga dilakoni lewat jalur laut.

Lewat jalur laut, salah satunya menggunakan jasa HMAS Jervis Bay. Di masa penuh ketegangan hubungan antara Indonesia-Australia, kehadiran HMAS Jervis Bay terlihat mencolok, pasalnya kapal ini punya tampilan tidak lazim kala itu. Boleh dikata, tidak ada yang mampu menandingi ‘keunikan’ HMAS Jervis Bay diantara lalu lalang kapal sipil dan militer di Perairan Dili saat itu.

Dikutip dari Indomiliter.com, HMAS Jervis Bay (AKR 45) beberapa kali muncul di layar televisi nasional (TVRI) dan terasa lekat dalam benak ingatan orang-orang saat itu, maklum dua tahun sebelum jejak pendapat di Timor Timur, meluncur film James Bond – Tommorow Never Dies (1997) yang memperlihatkan ikon kapal stealth katamaran milik tokoh antagonis Elliot Carver. Sudah barang tentu HMAS Jerves Bay bukan kapal yang punya kemampan siluman, HMAS Jervis bay juga bukan kapal kombatan, melainkan asasi dari kapal berbobot 1.250 ton ini adalah wahana angkut pasukan dan logistik.

Berbeda dengan status kapal perang Australia pada umumnya, HMAS Jervis Bay memang ‘didatangkan’ khusus untuk menunjang misi militer Australia di Timor Timur. Dari sumber Australian War Memorial, disebutkan HMAS Jervis Bay baru masuk struktur kekuatan AL Australia pada Mei 1999. Karena didatangkan untuk mendukung misi khusus, AL Australia tidak membeli kapal ini, melainkan hanya menyewa dengan nilai Aus$16 juta. Pun setelah operasi lintas laut ke Timor Timur dirasa sukses, kapal ini dikembalikan ke pemiliknya, yaitu manufaktur pembuat kapal asal Hobart, Tasmania – INCAT.

HMAS Jervis Bay punya panjang lambung 88,6 meter, lebar 26 meter dan draught 3,6 meter, kapal ini sanggup membawa 500 pasukan infanteri berikut perlengkapan dan kendaraan tempur ringan. HMAS Jerves Bay ditenagai 4 × Ruston 20RK270 medium-speed diesels dan 4 × Lips waterjets, menjadikan kapal ini dapat melaju dengan kecepatan 48 knots (89 km per jam). Dengan kapasitas bahan bakar penuh, kapal futuristik ini dapat menjelajah sampai 1.900 km.

Selama dua tahun melayani rute Darwin – Dili, HMAS Jervis Bay dengan 20 awaknya telah mencapai 107 trip dan menghantarkan total 20.000 penumpang, 430 kendaraan dan 5.600 ton bahan logistik. Dikenal sebagai kuda beban yang sangat diandalkan pada masa itu, kemudian HMAS Jervis Bay mendapatkan nickname “Dili Express.”

Baca juga: Kapal Ferry Berbahan Aluminium Berkecepatan Tinggi Buatan Filipina Tiba di Norwegia

HSC Condor Rapide.

Pada tahun 2002, kapal ini dilayarkan ke Eropa secara ferry, dan dioperasikan sebagai kapal angkut ferry oleh perushaan Speed Ferries yang melayani rute di Laut Mediterania. Status terakhirnya kini eks HMAS Jervis Bay dioperasikan oleh Condor Ferries dengan menyandang nama HSC Condor Rapide yang melayani rute Channel Islands – Saint-Malo.

Bikin Bangkrut, Garuda Indonesia Kembalikan 50 Pesawat ke Lessor

Garuda Indonesia terus mencari cara agar bisa bertahan hidup. Selain menawarkan program pensiun dini kepada para karyawan, maskapai pelat merah itu memangkas gaji seluruh karyawan, sampai mengembalikan pesawat ke lessor.

Baca juga: Disebut Sudah Bangkrut, Ini 6 ‘Dosa’ Garuda Indonesia dari Masa ke Masa

Terbaru, setelah mengembalikan 12 pesawat CRJ1000 ke lessor atau perusahaan leasing, Garuda Indonesia, laporan Flight Global, disebut bakal terus melanjutkan program pengembalian pesawat ke lessor sampai 50 unit.

Itu berarti, dari total 142 pesawat yang dimiliki Garuda Indonesia saat ini, dengan rincian 10 unit Boeing 777-300ER, tiga Airbus A330-900, 17 Airbus A330-300, tujuh Airbus A330-200, 73 Boeing 737-800, satu Boeing 737-8 Max, 18 CRJ1000, 13 ATR 72-600, praktis maskapai armada maskapai menyusut menyisakan 92 unit saja.

Kendati itu masih lebih banyak dibanding kebutuhan pesawat saat ini, terlebih manajemen juga sudah berikrar ingin memangkasnya menjadi kurang dari 70 pesawat, namun, memang dibutuhkan spare belasan atau puluhan unit sebagai pengganti pesawat-pesawat yang sedang dalam maintenance.

Dari total 142 armada, 53 pesawat di antaranya sedang dalam perawatan rutin dan 39 lainnya sedang perawatan lanjutan (MRO).

Selama pandemi virus Corona, Garuda Indonesia tercatata hanya mengoperasikan 53 pesawat, dimana 63 persennya adalah armada Boeing 737-800.

Langkah manajemen Garuda Indonesia mengembalikan pesawat ke lessor secepat mungkin dinilai merupakan sebuah langkah tepat. Sebab, dari struktur cost perusahaan yang dibeberkan pengamat BUMN, Toto Pranoto, leasing menempati posisi tertinggi mencapai 75 persen. Adapun sisanya datang dari utang jangka pendek sebesar 21 persen, dan utang jangka panjang sebesar 2,5 persen.

“Mengingat struktur cost leasing menjadi yang tertinggi, saya kira langkah yang dilakukan manejemen sekarang sudah tepat, ya,” katanya saat pemaparan materi diskusi yang digelar Intipesan Institute bertajuk “Dialog Manejemen Garuda Indonesia” beberapa waktu lalu.

Garuda Indonesia belakangan ramai jadi perbincangan publik lantaran nyaris bangkrut. Melihat laporan keuangan perusahaan, Garuda Indonesia sebenarnya berhasil membukukan keuntungan sebesar US$6,98 juta atau Rp99,11 miliar (kurs Rp14.200 per dolar AS) pada 2019. Namun, keuangannya langsung tertekan pada 2020 atau saat pandemi melanda dunia termasuk Indonesia.

Garuda Indonesia menderita kerugian hingga US$1,07 miliar atau Rp24,29 triliun (kurs 14.296) pada kuartal III 2020. Angkanya berbanding terbalik dibandingkan dengan posisi kuartal III 2019 yang membukukan laba bersih sebesar US$122,42 juta atau Rp1,73 triliun.

Pendapatan perusahaan jeblok dari US$3,54 miliar (Rp50,26 triliun) menjadi US$1,13 miliar (Rp16,04 triliun). Rinciannya, pendapatan dari penerbangan tidak berjadwal sebesar US$46,92 juta (Rp666,26 miliar) dan penerbangan berjadwal US$917,28 juta (Rp13,02 triliun).

Baca juga: Ngeri! Sudah 1.300 Pesawat Dikembalikan Maskapai ke Lessor Gegara Kesulitan Keuangan

Bulan Mei lalu, dari rekaman meeting internal yang bocor ke media, posisi utang Garuda Indonesia diungkap Direktur Utamanya, Irfan Setiaputra, berada di posisi Rp70 triliun. Setiap bulan, Garuda rugi hingga US$100 juta atau sekitar Rp1 triliun.

Tak ayal, di tengah sulitnya kondisi keuangan, program pensiun dini pun digalakkan. Mirisnya, bagi mereka yang memutuskan bertahan, tidak akan digaji karena keterbatasan uang cash.

Disebut Sudah Bangkrut, Ini 6 ‘Dosa’ Garuda Indonesia dari Masa ke Masa

Garuda Indonesia disebut sudah bangkrut atau pailit sebagai sebuah korporasi. Saat ini, maskapai pelat merah itu sedang susah sekali. Kendati demikian, Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra, dalam sebuah dialog di stasiun televisi nasional, menjamin bahwa Garuda akan tetap terbang setidaknya sampai tiga bulan ke depan.

Baca juga: Menteri Agama Tiadakan Haji, Garuda Indonesia ‘Paling Kecil’ Rugi Rp3,3 Triliun

Meski demikian, itu mungkin terjadi berkat solusi jangka pendek dari manajemen dan owner dalam hal ini pemerintah. Tetapi, dalam jangka panjang, harus ada langkah-langkah komprehensif yang harus diambil. Terlebih, Garuda Indonesia bak orang yang positif Covid-19 dan diperparah dengan adanya komorbid atau dosa-dosa manajemen sebelumnya.

Untuk itu, disarikan KabarPenumpang.com dari diskusi yang digelar Intipesan Institute bertajuk “Dialog Manejemen Garuda Indonesia”, berikut enam dosa Garuda Indonesia dari masa ke masa.

1. Pengadaan pesawat

Pengadaan pesawat selalu menjadi ‘lahan basah’ bagi petinggi Garuda Indonesia. Sebab, bukan sekali-dua kali indikasi mark up harga terjadi. Pada 1988-1992, maskapai membeli pesawat Airbus A330-300. Ketika itu terjadi mark up harga dari 140 juta dolar AS menjadi 214 juta dolar AS.

2. Buruknya strategi bisnis

Menurut Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati, pengadaan ratusan pesawat di masa lalu untuk rute-rute internasional sangat over confidence. Sekalipun marketnya ada, namun, strateginya tentu tak semudah membalikkan telapak tangan mengingat maskapai lain sudah lebih mapan

Selain itu, buruknya strategi bisnis juga mencakup beragamnya penggunaan tipe pesawat, pemilihan rute, harga tiket, dan sebagainya.

3. Nilai tukar mata uang

Nilai tukar selama ini kerap menjadi momok. Bagaimana tidak, pendapatan perusahaan dengan rupiah namun cost menggunakan dolar AS, mulai dari spare part dan sampai utang. Sekalipun ada kemungkinan menguat, yang terjadi sering kali rupiah melemah terhadap dolar AS. Jangankan ratusan, rupiah melemah belasan apalagi sampai puluhan persen saja sudah pasti, kata Enny, membuat Garuda terkapar hebat.

Masalah yang sama juga terjadi pada utang jangka pendek dan panjang maskapai yang cenderung tak memperhatikan nilai tukar, serta penyewaan pesawat ke leasing. Dalam dialog tersebut, pengamat BUMN, Toto Pranoto, membeberkah bahwa cost terbesar perusahaan 75 persennya datang dari leasing.

4. Inefisiensi manajemen

Menurut dosen Institut Transportasi dan Logistik Trisakti, Desmon Ismael, jumlah direksi Garuda Indonesia terlalu banyak. Selain itu, sistem corporate governance juga tidak jelas, entah itu menganut one tier, two tier, atau sistem CEO CFO dan COO.

Menurutnya, direksi seharusnya tiga saja, dimana, sesuai dengan undang-undang, salah satunya ditunjuk sebagai Direktur Utama. Demikian juga dengan komisaris, terutama keberadaan komisaris independen, sangat tidak efisien. Ini pada akhirnya membuat struktur problem semakin parah.

5. Laporan keuangan

Dari laporan keuangan, menurut Enny, jelas dan clear bahwa Garuda Indonesia mengalami problem sistemik yang harus segera diselesaikan.

Baca juga: Bila Garuda Indonesia Sampai Dipailitkan, Berkaca dari Kasus Sabena dan Swissair

6. Salah pilih Dirut dan campur tangan pemerintah

Sebagai sebuah BUMN, Garuda Indonesia selalu mengalami apa yang disebut sebagai principal agency problem. Menurut Meneg BUMN 2004 hingga 2007, Dr. Sugiharto, problem tersebut membuat pemilihan BOD dan komisaris tidak sesuai dengan kapasitasnya dan cenderung politis.

Demikian juga terhadap kebijakan perusahaan, seperti penetuan tarif haji yang tidak seusai dengan hitung-hitungan bisnis dan lain sebagainya.

Ternyata! Pemanasan Global Berpotensi Merugikan Dunia Penerbangan

Tidak bisa dipungkiri, pemanasan global kini menjadi topik perbincangan hangat dari berbagai kalangan, salah satunya adalah dunia aviasi. Mengapa moda transportasi udara ini bisa terkena imbas dari pemanasan global juga? Ternyata pihak maskapai penerbangan terpaksa mengurangi kapasitas penumpang, kargo, dan bahan bakarnya agar mereka bisa lepas landas dengan selamat.

Baca Juga: Terjadi Turbulensi? Tetap Tenang dan Jangan Panik

Dihimpun KabarPenumpang.com dari laman indiatoday.in (13/7/2017),seperti data yang tertera pada laman sumber, peningkatan suhu dan gelombang panas ternyata mempengaruhi kemampuan sayap pesawat untuk menghasilkan daya angkat. Sebuah penelitian menunjukkan, beberapa bandara di New York dan Dubai kemungkinan akan terkena imbas dari peningkatan suhu dalam beberapa dekade ke depan. Dengan begitu, pihak maskapai terpaksa mengurangi sejumlah beban di dalam penerbangannya.

Sebuah riset lain menunjukkan, suhu rata-rata di seluruh dunia diperkirakan akan meningkat sekitar 5,5 derajat Fahrenheit atau setara dengan 3 derajat celcius pada tahun 2100 kelak. Studi lain yang diterbitkan dalam jurnal Climate Change menunjukkan gelombang panas yang meningkat belakangan ini menimbulkan sebuah ancaman besar bagi industri penerbangan. Sementara itu pada 2080 yang akan datang, para peneliti menemukan suhu harian maksimum tahunan di bandara bisa naik 7 hingga 14 derajat Fahrenheit, atau setara dengan 4 hingga 8 derajat celcius.

Dengan adanya riset tersebut, para peneliti menyimpulkan kemungkinan pihak maskapai akan merugi akibat pembatalan penerbangan. Tidak hanya itu, mereka pun menambahkan sekitar 10 hingga 30 persen pesawat dengan kapasitas maksimal terpaksa harus “membongkar muatan” sebelum mengudara. Sudah barang tentu, fenomena seperti ini bisa memaksa industri penerbangan untuk menerima margin keuntungan yang lebih tipis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Baca Juga: Ini Alasan Kenapa Pesawat Dihimbau Tak Mengudara Saat Turun Kabut

Sebagai contoh, sebuah pesawat yang mampu menampung 160 penumpang dalam sekali perjalanan harus “mengorbankan” 13 kursinya kosong dalam upaya mencapai berat ideal untuk mengudara. Walaupun hanya 13 kursi, namun hal seperti ini sangat mempengaruhi neraca keuntungan pihak maskapai.

Seorang peneliti dari Columbia University di New York City, Ethan Coffel mengatakan bahwa penelitian mengenai pengaruh kenaikan suhu global terhadap dunia penerbangan merupakan suatu hal yang tidak bisa dipandang sebelah mata. “Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa pembatasan berat (payload) merupakan hal yang tidak sepele dan perlu dipikirkan jalan keluarnya sesegera mungkin,” ujar pria yang juga menjadi penulis dalam studi ini.

Adapun bandara-bandara yang mungkin paling terpengaruh akibat peningkatan suhu global ini adalah New York LaGuardia karena landas pacunya yang pendek, dan Bandara Internasional Dubai di Uni Emirat Arab karena suhunya yang terkenal sangat terik. Sedangkan bandara-bandara yang dinilai tidak terlalu merasakan dampak dari kenaikan suhu ini adalah Bandara Internasional John F. Kennedy di New York, Bandara Heathrow di London, dan Bandara Charles de Gaulle di Paris.

Baca Juga: Bicara Kompensasi Saat Terjadi Delay Ada di Peraturan Menteri Perhubungan

Sebagai contoh kasus nyata, pada bulan lalu, beberapa maskapai kenamaan terpaksa membatalkan sejumlah keberangkatan dari Bandara Las Vegas dan Phoenix akibat terpaan gelombang panas yang membahayakan penerbangan. Para peneliti juga mengatakan kenaikan suhu dapat meningkatkan turbulensi selama penerbangan.

Eropa Punya Berbagai Kereta Malam Romantis, Salah Satunya Bisa Angkut Mobil

Rasanya menggunakan kereta api adalah hal yang paling cocok untuk menikmati keindahan alam sembari mengunjungi beberapa destinasi wisata. Bahkan kereta api bisa dikatakan menjadi salah satu transportasi yang paling romantis. Karena keromantisannya ini, membuat kereta malam menjadi lebih populer di Eropa.

Baca juga: Setelah Vakum Tiga Tahun, Kereta Malam Paris-Nice Kembali Dibuka

Sehingga membuat pelancong bisa mengunjungi beberapa negara di benua yang satu ini menggunakan kereta api. KabarPenumpang.com melansir dailysabah.com (7/6/2021), sebagai seorang pelancong yang baru menggunakan kereta untuk berkeliling negara di Eropa, Anda bisa menggunakan kereta malam klasik.

Kereta ini lebih klasik dibandingkan Nightjet kereta api Austria yang menawarkan gerbong tidur dan gerbong sofa di berbagai jalur di sebagian Eropa Barat. Di mana contohnya Anda tertidur ketika berangkat dari Berlin dan bangun saat tiba di Wina atau di Munich. Yang mana kemudian melakukan perjalanan melalui Pengunungan Alpen menuju Roma dan Milan menuju Venesia.

Bisa dikatakan, jaringan rute Nightjet diperkirakan akan tumbuh pada tahun-tahun mendatang dan meluas lebih jauh ke barat. Salah satu kereta malam lainnya yakni kereta api federal Austria atau OBB yang bekerja sama dengan kereta lain. Sehingga memungkinkan untuk menawarkan kereta EuroNight dalam situs web milik mereka.

oBB sendiri bahkan membantu para pelancong yang ingin mengunjungi negara-negara di sebelah timur Austria seperti Polandia, Hongaria atau Kroasia. Sebenarnya dengan kereta api meski perjalanan menjadi lebih lama dibandingkan dengan pesawat, pelancong bisa mengenal suatu negara lebih baik.

Seperti Alpen-Sylt Nachtexpress yang dikelola secara pribadi, memungkinkan penumpang benar-benar mengenal Jerman. Itu dimulai dari Laut Utara dan lurus ke tengah ke Pegunungan Alpen di selatan, dengan persinggahan di Salzburg Austria. Selain itu, kereta malam juga bisa membuat Anda lebih bahagia lagi.

Pasalnya, Anda bisa membawa kendaraan selama perjalanan, di mana beberapa jalur kereta api seperti Train4you memungkinkannya. Hal tersebut menghemat jarak tempuh dan memberikan kebebasan pada pelancong begitu tiba di tujuan. Train4you ini juga melintasi kota besar termasuk Hamburg, Basel, Wina dan Verona.

Harga tiket keretanya pun berdasarkan pilihan penumpang dan dimulai dari sekitar $120. Untuk menikmati malam di Skandinavia, Snalltaget meluncur melalui Jerman Utara, Denmark dan Swedia yang bepergian hingga ke Stockholm.

Menurut situs web Snalltaget, ada keberangkatan yang dijadwalkan setiap hari antara 28 Juni dan 5 September, dan keberangkatan tambahan akan sesuai jadwal sepanjang Oktober. Di Prancis dan Italia yakni dari la belle vie hingga la dolce vita, Anda dapat menikmati semua yang ditawarkan di dua kota tersebut dengan kereta malam yang dijalankan oleh Thello.

Dimulai di Paris dan berakhir di Venesia, kereta berhenti di pusat-pusat terkenal seperti Dijon, Milan, Brescia dan Padua, antara lain. Jika Anda lebih suka memilih negara dan mematuhinya, banyak perkeretaapian nasional menawarkan kereta malam di dalam perbatasan mereka sendiri.

Baca juga: Layanan Kereta Malam di Eropa – Mantan Primadona yang Tidak Pernah Kehilangan Penggemar

Di Finlandia, kereta VR milik pemerintah, beroperasi dalam semalam. Salah satu koneksi paling populer adalah hingga Rovaniemi di Lapland. Di mana Lapland mbila menurut legenda adalah lokasi rumah Santa Claus sehingga memiliki jalur Santa Claus Express.

Empat Tahun Beroperasi, Kereta Tanpa Rel di Cina Kini Dibekali Fitur Anti Tabrakan

Setelah empat tahun beroperasi, bagaimana kabar Autonomous Rail Rapid Transit (ART) yang diluncurkan di Zhuzhou, Cina Tengah? Setelah mengular sejak 2017, pada awalnya ART hanya memiliki tiga gerbong dengan total penumpang yang bisa diangkut 300 orang.

Baca juga: Gunakan Rel Virtual, Autonomous Rail Rapid Transit Siap Mengular di Zhuzhou

Kini, ART tersebut memiliki pilihan lain yakni hadir dengan lima gerbong yang mana setiap gerbong berisi 100 penumpang. Dilansir KabarPenumpang.com dari lenguladbible.com (19/6/2021), dalam pengoperasiannya, sebuah sistem sensor membantu pengemudi untuk menjaga kendaraan tetap pada jalurnya.

Namun jika ada penyimpangan jalur atau bermasalah pada perjalanan, akan ada peringatan otomatis yang diberikan sistem. Bahkan ART juga dilengkapi dengan sistem peringatan tabrakan yang berarti pengemudi menjaga jarak aman dari kendaraan lain tetapi jika terlalu dekat maka peringatan akan berbunyi.

Selain itu, bila pengemudi ingin mengubah rute perjalanannya, perangkat navigasi akan melihat lalu lintas di rute alternatif sebelum merekomendasikan jalan memutar untuk menghindari kemacetan selayaknya Google Maps. Kehadiran ART bahkan memiliki banyak manfaat yakni menghindari kemacetan atau pekerjaan fisik sebagaimana pemasangan rel konvensional.

Ini juga menciptakan sistem transportasi yang lebih efisien. Tak hanya itu, ART yang melintas di jalanan juga memiliki izin prioritasi di traffic light yang mendorong pengguna kendaraan pribadi beralih ke transportasi umum. ART juga merupakan sistem transportasi yang terbilang murah untuk dirawat karena tidak adanya trek dan saluran udara.

Sehingga polusi berkurang karena menggunakan baterai lithium yang bisa diisi ulang. Dalam pengisian daya 30 detik bisa digunakan untuk perjalanan yang memakan waktu sejauh 2-3 mil atau 3,2-4,8 km, sedangkan perjalanan sejauh 25,7 km akan memakan waktu selama sepuluh menit pengisian daya.

Kehadiran ART di Cina juga meneruskan sistem ini ke beberapa negara dan baru-baru ini Doha, Qatar emndapatkan lampu hijau untuk bus kereta cepat yang akan diuji coba dan digunakan pada Piala Dunia 2022. Diharapkan bahwa sistem Bus Rapid Transit (BRT) akan memungkinkan kota untuk menjadi tuan rumah pertandingan dengan berkelanjutan, dengan para ahli mengatakan bahwa ‘rekam jejak BRT memberikan kasus yang menarik bagi lebih banyak kota untuk mempertimbangkannya sebagai prioritas transit’.

Untuk diketahui, ART Cina merupakan bus yang mengambil bentuk kereta api dan trem. Uniknya pun tidak menggunakan rel ketika berjalan melainkan dengan ban karet yang mampu melaju hingga 70 km per jam serta menggunakan tenaga listrik.

Baca juga: Cina Luncurkan ART, Kereta Otonom Tanpa Rel Untuk Kota Kecil

Saat mengangkut penumpang dengan kondisi gerbong penuh, ART mampu melaju sejauh 40 km. Dengan panjang sekitar 30 meter, ia memiliki sensor yang membaca dimensi jalan dan dapat merencanakan rutenya sendiri pada apa yang pada dasarnya adalah rel virtual.

Yakinkan Penumpang, Pengemudi Taksi Thailand Tampilkan Tulisan “Sudah Divaksin” di Lampu Atas Mobil

Pandemi membuat banyak orang kesulitan mendapatkan penghasilan di sektor pariwisata dan transportasi. Hal ini pun dirasakan oleh pengemudi taksi di Bangkok Thailand yang memiliki pendapatan menurun ketika Covid-19 menginfeksi banyak orang.

Baca juga: Liburan di Bangkok? Ini Tips dari Tourism Authority of Thailand Biar Tak Salah Arah!

Untungnya vaksin sudah mulai dibagikan kepada seluruh masyarakat dan pengemudi taksi di Thailannasid pun sedikit mulai mendapat kepercayaan penumpang. Bahkan agar penumpang tidak meragukan apakah vaksi sudah diterima oleh pengemudi taksi, mereka sampai rela memasang papan nama elektrik yang menyatakan sudah di vaksin.

KabarPenumpang.com melansir laman hindustantimes.com (7/6/2021), seorang pengemudi taksi di Thailand Sombat Subin mengatakan, dirinya memasang papan nama elektrik di atas taksinya untuk mengkonfirmasi kepada penumpang bahwa pengemudi telah divaksin lengkap.

“Dengan adanya ini jadi, penumpang tidak takut,” kata Subin.

Dalam papan nama elektrik itu, ada tiga bahasa yang menyebutkan Subin telah divaksinasi Covid-19.

“Saya pikir tanda yang menyala menciptakan kepercayaan diri bagi penumpang dan saya merasa itu juga membantu meningkatkan pendapatan saya,” kata pria yang berasal dari Nonthaburi, sebuah provinsi di utara Bangkok.

Pengemudi taksi berusia 43 tahun itu mengatakan, tanda yang bertuliskan “Vaksin” dan kemudian “COVID” dengan tanda centang di sebelahnya dan muncul dalam bahasa Thailand, Inggris dan Mandarin, adalah bagian percakapan di taksinya.

“Ini untuk konfirmasi kepada mereka bahwa pengemudi sudah divaksinasi lengkap. Jadi, penumpang tidak takut,” ungkap Subin.

Subin mengatakan dia menjadi pengemudi taksi tiga tahun lalu setelah merasa bekerja di kantor menyesakkan. Sebelum pandemi, ia memperoleh sekitar 60 ribu baht atau sekitar Rp27,4 juta per bulan, tetapi ini telah merosot menjadi 10 ribu baht atau Rp4,5 juta selama gelombang infeksi terbaru.

Untuk diketahui, Thailand telah berhasil menahan sebagian besar kasus virus hampir sepanjang tahun lalu, tetapi sejak April telah berjuang untuk memadamkan wabah paling serius sejauh ini yang mencakup varian yang lebih menular. Hal ini telah meningkatkan tekanan pada pihak berwenang untuk mempercepat vaksinasi dengan peluncuran negara tertinggal banyak tetangga.

Hanya 2,7 juta orang Thailand yang menerima dosis vaksin pertama dan pemerintah berusaha keras untuk mendapatkan lebih banyak. Pihak berwenang telah mencoba memprioritaskan pekerja garis depan termasuk pengemudi taksi dan staf angkutan umum.

Baca juga: Taguig City Hadirkan Bus Vaksin AstraZeneca untuk Jangkau Masyarakat

“Saya merasa lebih percaya diri ketika pengemudi divaksinasi lengkap dan merasa aman menggunakan transportasi umum,” ujar seorang penumpang Kanokwan Sattawong yang dibawa Subin.

Industri Dirgantara dan Pemerintah Perancis Bersatu dalam Riset Bahan Bakar untuk Pesawat Komersial

Betapa indahnya bila kelompok usaha dirgantara bersatu dan mendapat dukungan penuh dari pemerintah dalam mengembangkan suatu proyek. Di Perancis, nama-nama besar dalam industri dirgantara seperti Airbus, Safran, Dassault Aviation, ONERA dan Kementerian Transportasi, bekolaborasi dalam pembuatan studi tentang analisis dan kompatibilitas bahan bakar penerbangan berkelanjutan yang tidak dicampur (unblended sustainable aviation fuel) pada pesawat narrow body dan helikopter.

Baca juga: Minyak Jelantah Bekas Goreng Kentang Sekarang Jadi Bahan Bakar Pesawat

Dikutip dari siaran pers Airbus.com yang diterima KabarPenumpang.com (10/6/2021), disebutkan studi atau riset tentang bahan bakar berkelanjutan akan dimulai pada akhir 2021. Studi ini terbilang serius, pasalnya juga telah mendapat dukungan dari “Plan de relance aéronautique” (rencana pemulihan penerbangan pemerintah Perancis) yang dikelola oleh Jean Baptiste Djebbari, Menteri Transportasi Perancis.

Riset bahan bakar yang terbarukan dikenal juga sebagai proyek VOLCAN (VOL avec Carburants Alternatifs Nouveaux), proyek ini adalah pertama kalinya emisi dalam penerbangan akan diukur menggunakan 100 persen bahan bakar terbarukan yang tidak dicampur di pesawat lorong tunggal (narrow body).

Dalam riset VOLCAN, Airbus bertanggung jawab untuk mengkarakterisasi dan menganalisis dampak bahan bakar terbarukan di darat dan emisi dalam penerbangan menggunakan pesawat uji A320Neo yang ditenagai dua mesin CFM LEAP-1A. Sementara, Safran akan fokus pada studi kompatibilitas yang berkaitan dengan sistem bahan bakar dan adaptasi mesin untuk pesawat komersial dan helikopter serta optimasinya untuk berbagai jenis bahan bakar.

Kemudian ONERA akan mendukung Airbus dan Safran dalam menganalisis kompatibilitas bahan bakar dengan sistem pesawat dan akan bertugas menyiapkan, menganalisis, dan menginterpretasikan hasil pengujian untuk dampak bahan bakar terhadap emisi dan pembentukan contrail. Dan Dassault Aviation akan berkontribusi pada studi kompatibilitas material dan peralatan dan memverifikasi kerentanan biokontaminasi pada bahan bakar terbarukan. Untuk perangkat dalam riset, akan didukung oleh TotalEnergies.

Baca juga: Mengenal Dua Jenis Bahan Bakar Pesawat: Avgas Vs Avtur, Apa Bedanya?

Studi ini akan mendukung upaya yang kini sedang dilakukan di Airbus dan Safran untuk memastikan sektor penerbangan siap untuk penyebaran skala besar dan penggunaan bahan bakar terbarukan sebagai bagian dari inisiatif yang lebih luas untuk menghilangkan emisi karbon di industri penerbangan.

Roma Bakal Terima 100 Bus Listrik Hibrida Citaro dari Mercedes-Benz

Perusahaan transportasi asal Roma, Atac, akan menerima 100 bus unit hybrid Mercedes-Benz Citaro. Bus kota akan dikirim dalam tiga bagian antara Juni dan musim gugur tahun ini. Bus ini adalah bagian dari program investasi ambisius untuk memodernisasi armada bus perusahaan transportasi di ibu kota Italia.

Baca juga: Inilah Citaro, Primadona Bus Listrik Besotan Mercedes Benz

Salah satu tujuan penggunaan bus hybrid adalah mengurangi emisi polutan secara signifikan. Pesanan besar saat ini menandakan kembalinya EvoBus Italia ke ibu kota. Saat ini perusahaan telah memasok bus ke Atac tipe 450 Citaro antara tahun 2001 dan 2005.

KabarPenumpang.com mengutip greencarcongress.com (9/6/2021), bus hibrida Citaro mengurangi konsumsi bahan bakar dan emisi hingga 8,5 persen jika dibandingkan dengan bus kota konvensional dengan bahan bakar minyak. Modul hybrid kompak membantu mesin diesel rendah emisi. Motor listrik mengubah energi menjadi listrik saat kendaraan meluncur atau mengerem yang disimpan dalam supercaps berkinerja tinggi.

Motor listrik membantu mesin pembakaran saat bus menjauh. Hibrida Citaro juga dilengkapi dengan intelligent eco-steering, sistem kemudi elektrohidraulik. Ini beroperasi dengan cara yang dioptimalkan untuk kebutuhan dan juga membantu mengurangi konsumsi bahan bakar dalam transportasi kota setempat.

Kendaraan baru dicat merah dan memiliki tulisan di papan elektrik yang membentang di sekitar bagian atas bus bertuliskan “+ Bus x Rom + Bus x Rom” yang berarti “lebih banyak bus untuk Roma”. Bus solo untuk Atac dilengkapi dengan dua pintu penumpang dan sepenuhnya ber-AC.

Kaca pelindung pintu kabin pengemudi mencegah kontak dekat antara penumpang dan pengemudi yang melindungi pengemudi dari infeksi. Sistem pendingin udara dan rumah pendingin udara dilengkapi dengan filter aktif anti-virus. Sistem CCTV menyediakan keamanan di dalam pesawat dan sistem penghitungan mencatat jumlah penumpang.

Kendaraan ini juga dilengkapi dengan pengawasan GPS dan sistem telematika yang membantu manajemen armada. Atac berencana untuk memodernisasi sepuluh persen armada bus kotanya setiap tahun. Emisi dari 100 bus hibrida Citaro lebih rendah dari yang diizinkan oleh standar emisi Euro VI yang ketat saat ini.

Bus tersebut menggantikan kendaraan Euro-III yang telah beroperasi selama lebih dari sepuluh tahun. Atac (Azienda per i Trasporti Autoferrotranviari del comune di Roma) adalah perusahaan transportasi kota nomor satu Italia dan salah satu perusahaan terbesar dari jenisnya di Eropa.

Baca juga: Penglaris, Hamburger Hochbahn Kedatangan Mercedes-Benz eCitaro Perdana!

Selain jaringan bus yang luas di Roma, Atac mengoperasikan trem, tiga jalur kereta bawah tanah, dan rute kereta api di pinggiran kota. Kendaraan berangkat dari 320 pemberhentian bus terakhir dan stasiun dan mencakup sekitar 8500 pemberhentian. Perusahaan juga mengoperasikan parkir mobil dengan ruang untuk sekitar 70 ribu kendaraan.