Airbus Mulai Kerjakan Tangki Bahan Bakar Hidrogen Pesawat, Boeing Panas-Dingin

Airbus serius menggarap pesawat ramah lingkungan bertenaga hidrogen. Karenanya, produsen pesawat asal Eropa itu mulai membangun Pusat Pengembangan Tanpa Emisi (ZDEC) di Bremen, Jerman dan Nantes, Perancis. Itu nantinya akan menjadi pusat pengerjaan pembuatan tangki kriogenik bahan bakar hidrogen ZEROe Airbus.

Baca juga: Boeing Tak Yakin Konsep Pesawat Bertenaga Hidrogen, Sindir Airbus?

Dalam lama resminya, Airbus mengatakan bahwa pembangunan ZDEC memerlukan waktu dan tak secepat kilat, mengingat butuh detail-detail berteknologi tinggi. Diperkirakan, itu baru bisa beroperasi penuh pada 2023 mendatang. Setelah beroperasi penuh, tangki bahan bakar hidrogen cair diproyeksi rampung dan melakukan uji terbang perdana pada 2025.

Menurut Airbus, fasilitas Bremen-nya itu telah memiliki pengalaman luas terhadap sistem hidrogen cair. Pihaknya sudah melalui banyak proyek serupa guna mendukung bisnis Defence and Space business and the Ariane space division. Fasilitas ini akan fokus pada instalasi sistem dan pengujian kriogenik (mempelajari temperatur sangat rendah) tangki.

Adapun fasilitas di Nantes, lanjut Airbus, memfokuskan diri dalam struktur logam yang digunakan di sekitar center wing box pesawat. Mereka akan bertanggung jawab untuk mengembangkan teknologi logam dan komposit untuk diintegrasikan ke dalam tangki hidrogen. Fasilitas ini akan didukung oleh para ahli engineering Nantes Technocentre.

Tangki bahan bakar disebut akan menjadi kompenen penting dalam pengembangan pesawat ramah lingkungan ZEROe Airbus pada 2035 mendatang. Sebab, hidrogen cair wajib dijaga pada suhu minus 214 derajat celcius, sangat rendah. Tak hanya itu, tangki juga wajib mampu menahan panas berulang ekstrem dari pembakaran bahan bakar.

Di awal, Airbus berencana membuat tangki bahan bakar hidrogen menggunakan logam. Tetapi itu berubah menjadi menggunakan komposit polimer yang diperkuat serat karbon. Tak disebutkan dengan jelas perbedaan antar keduanya.

Inovasi dari Airbus ini tentu membuat Boeing panas-dingin. Betapa tidak, di tengah ramainya pengembangan pesawat bertenaga hidrogen dan perbicangan terkait hidrogen sebagai bahan bakar bekerlanjutan di masa depan, Boeing justru bersikap pesimis.

CEO Boeing, David David Calhoun, awal Januari lalu, mengungkapkan bahwa para pelaku bisnis dirgantara merasa bahwa industri masih jauh dari kata siap untuk mengembangkan teknologi ini.

“Saya memiliki cukup banyak pengalaman dengan hidrogen, perusahaan kami memiliki pengalaman yang luar biasa dengan hidrogen. Setidaknya dalam ukuran badan pesawat yang kita semua bicarakan. Kami bereksperimen pada harga rendah, tapi itu tidak akan menjadi pasar yang berarti di sini,” katanya kepada Simple Flying.

Baca juga: Airbus Luncurkan ‘The Pod’ Pesawat Sel Bahan Bakar Hidrogen 6 Baling-baling

Sebelumnya, pada September 2020 lalu, Airbus merilis tiga konsep pesawat hidrogen. Hal tersebut merupakan bagian dari komitmen produsen pesawat asal Eropa itu untuk memproduksi pesawat komersial ramah lingkungan (bebas emisi) bertenaga hidrogen pertama di dunia pada 2035 mendatang.

Dalam laman Twitter resmi perusahaan, ketiga konsep – semua diberi kode nama ZEROe – tersebut antara lain, pertama, desain turboprop, turbofan, dan blended-wing body.

Hitachi dan Arrival Berikan Solusi dan Infrastruktur Baru ke Industri Bus Eropa

Hitachi Europe, anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh Hitachi, dan Arrival, telah bermitra untuk memberikan solusi bus dan infrastruktur baru ke industri bus Eropa. Kemitraan non-eksklusif menggabungkan kemampuan digital dan operasional Hitachi dengan produk-produk Arrival yang dikatakan kompetitif dalam harga dengan alternatif bahan bakar fosil.

Baca juga: Busworld South East Asia 2019 Resmi Dibuka, Unggulkan Solusi Bus Listrik dan Ramah Lingkungan

Keduanya mengatakan akan bekerja dengan operator untuk menyebarkan solusi ujung ke ujung integrasi yang menggabungkan semua aspek memiliki dan mengoperasikan kendaraan kedatangan. KabarPenumpang.com melansir just-auto.com (11/6/2021), hal tersebut juga termasuk item seperti infrastruktur pengisian daya dan alat digital.

Keduanya juga mengklaim bahwa penyebaran solusi ini tidak hanya menyederhanakan transisi ke listrik tetapi saat dikombinasikan dengan total biaya kepemilikan yang lebih rendah yang disediakan oleh kendaraan dan teknologi Arrival.

Di mana ini akan menciptakan model keuangan yang sangat menarik dan mempercepat transisi kendaraan listrik untuk bisnis di seluruh dunia. Perusahaan mengatakan bahwa selain menyediakan pelanggan dengan ekonomi yang luar biasa ketika beralih ke listrik, solusi terintegrasi canggih dari Hitachi juga akan memungkinkan pengumpulan data dari banyak sensor dalam Bus Kedatangan untuk lebih mengoptimalkan operasi pelanggan sebagai bagian dari hubungan.

“Kami senang bergabung dengan Arrival karena kami menjadi mitra pilihan bagi kotamadya dan operator bus untuk menghadirkan kendaraan listrik dan infrastruktur yang terintegrasi di seluruh kawasan. Ketika pemerintah ingin menghapus kendaraan bensin dan diesel dalam dekade berikutnya, menyediakan berbagai solusi dan teknologi yang diperlukan dengan cara yang terintegrasi, efisien, dan dapat dikelola secara operasional akan sangat penting bagi operator bus dan kotamadya di seluruh Eropa,” kata Mike Nugent, Head of EV, di Hitachi Europe.

Hamish Phillips, Kepala Penjualan Arrival di Inggris mengatakan, pihaknya senang bekerja sama dengan hitachi untuk menghadirkan operator bus cara lain untuk mempercepat transisi mereka ke listrik, membawa udara yang lebih bersih ke kota serta pengalaman yang lebih baik bagi penumpang di seluruh Eropa.

“Kendaraan Arrival telah memberikan total biaya kepemilikan yang jauh lebih rendah bagi pelanggan, dan ketika dimasukkan ke dalam model bisnis Hitachi, kami dapat melihat kasus bisnis yang lebih menarik bagi perusahaan untuk mentransisikan armada mereka ke listrik lebih cepat,” ujarnya.

Arrival mengatakan kendaraannya mewakili EV generasi berikutnya yang telah dikembangkan dari bawah ke atas menggunakan metode desain dan produksi baru perusahaan yang radikal. Pendekatan yang terintegrasi secara vertikal ini menggunakan perangkat keras, perangkat lunak, dan robotika yang dikembangkan sendiri memungkinkan produksi di Pabrik Mikro yang terdesentralisasi.

Baca juga: E-paper Bantu Penumpang Dapatkan Berbagai Informasi Secara Real Time di “Bus Stop”

Pabrik Mikro ini dapat digunakan di seluruh dunia untuk melayani permintaan dan meningkatkan biaya komunitas lokal dengan mempekerjakan talenta lokal, memanfaatkan rantai pasokan lokal, dan membayar pajak lokal. Ram Ramachander, Chief Commercial Officer for Social Innovation Business, Hitachi Europe mengatakan, Hitachi menciptakan ekosistem mitra dan solusi di seluruh rantai nilai EV untuk membantu pelanggan kami menavigasi transisi ke mobilitas listrik. Kemitraan kami dengan Arrival adalah langkah penting lainnya dalam mewujudkan strategi ini.

Bus Listrik Besutan Turki Akan Melayani Jerman

Kemajuan teknologi, membuat semua negara di dunia mulai mengubah penggunaan kendaraan mereka dari berbahan bakar minyak menjadi energi terbarukan, hidrogen hingga listrik. Salah satu perusahaan kendaraan Turki belum lama ini mengonfirmasi dalam sebuah pertnyataan pada hari Sabtu (11/6/2021) kemarin, mereka telah memenangkan sebuah tender untuk membangun bus listrik yang akan melayani di Jerman.

Baca juga: Roma Bakal Terima 100 Bus Listrik Hibrida Citaro dari Mercedes-Benz

KabarPenumpang.com melansir laman dailysabah.com (13/6/2021), perusahaan bernama Karsan ini berada di provinsi Burs, barat laut Turki dan menawarkan solusi transportasi yang sesuai dengan kebutuhan mobilitas zaman. Solusi tersebut ialah bus listrik yang akan digunakan sebagai bagian dari jaringan transportasi umum di Weilheim, Jerman.

Lolosnya Karsan karena mengajukan penawaran paling sesuai tender yang diadakan untuk menyediakan transportasi umum kota dengan kendaraan yang lebih modern, ramah lingkungan serta ramah pengguna. Setelah lolos, Karsan kemudian menandatangani kontrak melalui dealer di Jerman yakni Quantron AG.

Hingga saat ini Karsan sudah hadir di 30 kota Eropa dengan hampir 200 kendaraan listrik. Untuk kendaraan listrik yang akan digunakan di kota Jerman, itu juga memenuhi standar tender yang diminta untuk penyimpanan dan pengisian, dengan persyaratan jangkauan harian setidaknya 250 kilometer (155 mil) per bus.

Untuk diketahui, Karsan akan mengirimkan lima bus listrik Atak Electric ke kota pada kuartal terakhir tahun ini. Tender dilakukan dalam lingkup “Konsep Bus Kota 2022” Kota Weilheim, yang bertujuan untuk mengganti kendaraan diesel kota dengan yang ramah lingkungan dan listrik.

Karsan akan mengirimkan bus listrik Atak Electric 2022, lima persen ke kota pada kuartal terakhir tahun ini, mengikuti tender, yang diadakan dalam lingkup karya “XNUMX City Bus Concept” Kota Weilheim, dalam lingkup diesel kota kendaraan transportasi untuk diganti dengan yang ramah lingkungan dan listrik.

Atak Electric, yang memiliki garis desain dinamis, menarik perhatian dengan lampu LED daytime running-nya. Motor listrik yang beroperasi di Atak Electric dengan tenaga 230 kW menghasilkan torsi 2.400 Nm, memberikan pengalaman berkendara performa tinggi bagi penggunanya.

Dengan total kapasitas 220 kWh dengan lima baterai 44 kWh yang dikembangkan oleh BMW, Atak Electric di kelas delapan meter (26 kaki) dapat diisi dalam lima jam dengan unit pengisian arus bolak-balik dan dalam tiga jam dengan unit pengisian cepat, sementara tetap di depan para pesaingnya dengan jangkauan 300 km.

Baca juga: VinBus, Inilah Model Bus Listrik Modern Produksi Vietnam

Selain itu, berkat sistem pengereman regeneratif yang menyediakan pemulihan energi, baterai dapat mengisi daya sendiri hingga 25 persen selama pengoperasian. Model yang menawarkan kapasitas penumpang 52 orang ini memiliki dua pilihan penempatan kursi yang berbeda, lipat 18+4 dan 21+4.

Hilangkan Stres Penguncian di Masa Pandemi, Stasiun Phnom Penh Punya Kafe Kereta

Penguncian di masa pandemi Covid-19 membuat banyak sektor industri harus rela tidak bisa beroperasi. Salah satu negara yang mengalaminya ialah Kamboja. Di mana negara yang sering disebut Kampuchea ini menutup layanan kereta api mereka.

Baca juga: Eks Jalur Kereta di Milan Diubah Menjadi Taman dengan Jalan Setapak Bergaya High Line

Hal ini membuat semua layanan kereta di Negeri Kedamaian dan Kemakmuran tersebut berhenti total. Bahkan jalur kereta api bandara baru ditutup tahun lalu dan membuat penumpang yang menuju ke Pelabuhan Sihanoukville ditangguhakan sejak Maret setelah Kamboja dilanda wabah Covid-19 terburuk.

Ketika pihak berwenang melonggarkan pembatasan virus setelah penguncian tiga minggu di ibu kota, pelanggan berbondong-bondong ke kafe untuk pemotretan dadakan dan es kopi (AFP)

Dilansir KabarPenumpang.com dari channelnewsasia.com (11/6/2021), untungnya setelah penguncian tiga minggu di ibukota, sebuah kafe di atas kereta muncul. Di mana kafe kereta ini hadir di Stasiun Phnom Penh.

Kehadiran kafe hipster tersebut, kini menjadi hub bagi para Instagrammer dan Facebooker yang mencari lokasi untuk selfie serta menikmati minuman dingin. Bahkan para kawula muda Kamboja sampai berbondong-bondong mengunjungi kafe kereta untuk melepas kerinduan mereka setelah penguncian di Phnom Penh.

Seorang pengunjung muda mengaku bahwa dirinya dan teman-temannya menjadikan kafe kereta tersebut sebagai tempat yang sering dikunjungi. Chan Thol mengatakan, kafe kereta adalah perubahan pemandangan yang menyenangkan setelah berminggu-minggu terkurung di rumah.

“Saya datang untuk bersantai dan berfoto bersama teman-teman dan menikmati kopi. Ini membantu mengurangi stres saya,” katanya.

Bahkan warga Phnom Penh mengatakan konsep kereta diubah menjadi kafe adalah hal unik. Manajer operasional penumpang Royal Railway Kamboja, Sak Vanny mengatakan, kereta hanya membutuhkan modifikasi kecil termasuk merobek kursi lama yang lengket dan menggantinya dengan kursi yang nyaman.

Baca juga: Jalur Mau Dihidupkan, Stasiun Demak Justru Sudah Menjadi Kafe

“Kami memiliki ide untuk mengubah gerbong kereta menjadi kafe kereta api untuk menghasilkan pendapatan bagi perusahaan dan membantu anggota staf bekerja selama pandemi. Kami tidak melakukan banyak perubahan agar tampilan aslinya tidak hilang … Ketika tamu datang ke sini mereka dapat memiliki perasaan yang sama seperti sedang naik kereta api,” katanya.

Untuk diketahui, negara ini memiliki lebih dari 600 km jalur yang membentang dari perbatasan utara dengan Thailand ke pantai selatan, tetapi perang dan pengabaian selama beberapa dekade telah menyebabkan kerusakan yang luas dan virus corona telah menutup banyak layanan yang tersisa.

Dear Penumpang Gocar-GrabCar, Boeing Sebut Air Purifier Tak Efektif Lawan Covid-19!

Teknologi ionizer atau air purifying (pembersih udara) belakangan ngehits dan digunakan di berbagai ruangan, mobil, kantor, sekolah, dan sebagainya; termasuk ride hailing semisal GoCar, GrabCar, dan kendaraan umum lainnya.

Baca juga: Hadirkan Pembersih Udara di GoCar, GoJek Beri Kenyamanan Penumpang dan Pengemudi

Perangkat berteknologi itu disebut mampu membunuh bakteri, kuman, serta virus, dalam hal ini virus Corona (patogen SARS-CoV-2). Bahkan, itu juga digunakan di pesawat sebagai pengganti disinfeksi.

Tak percaya begitu saja, Boeing pun menguji dua alat berteknologi ionisasi (ionizer) dan air purifying (pembersih udara) buatan Global Plasma Solutions (GPS). Dua alat buatan GPS itu disebut mengandung teknologi needlepoint bipolar ionization yang diklaim efektif sampai 90 persen lebih membunuh patogen berbahaya, termasuk SARS-CoV-2 atau Covid-19.

Sejak September tahun lalu, Boeing membawa dua teknologi ionisasi itu ke banyak sekolah, yang sudah memanfaatkan perangkat berteknologi tersebut, untuk diuji efektivitasnya sebelum digunakan di pesawat-pesawat Boeing dan melindungi para penumpang.

Pengujian teknologi pembersih udara ini melibatkan virus aktif yang serupa dengan Covid-19 dan disebar ke dalam objek penelitian (ruangan sekolah). Sebelum itu, satu per satu perangkat teknologi ionizer atau air purifying (pembersih udara) GPS diaktifkan.

Perangkat tersebut kemudian memancarkan ion bermuatan oksigen aktif guna mematikan bakteri atau virus di udara. Perlu dicatat, Boeing tidak menguji efektivitas alatnya itu di udara, melainkan di permukaan saja.

Hasilnya, Boeing menemukan bahwa ionizer dan teknologi air purifying atau pembersih udara dengan ion aktif bermuatan oksigen tidak efektif mendisinfeksi ruangan dari kuman, bakteri, virus, dan patogen berbahaya; termasuk Covid-19.

Menurut Boeing, teknologi ionizer dan air purifying (pembersih udara) masih tidak lebih efektif dibanding teknologi disinfeksi lainnya, seperti menggunakan cairan disinfektan, sinar UV, termal, bahkan filter HEPA, yang ke semua itu diandalkan Boeing untuk mendisinfeksi pesawat-pesawatnya, bunyi laporan salon.com.

Kita tahu, dari berbagai penelitian, virus Corona dapat bertahan di udara selama tiga jam, empat jam di bahan tembaga, 24 jam di bahan kardus, 2-4 hari di permukaan plastik dan stainless, serta sembilan hari di permukaan logam dan kaca.

Temuan Boeing itu tentu berbanding terbalik dengan penelitian internal GPS. Disebutkan, dalam beberapa kali penelitian, teknologi ionizer dan pembersih udara miliknya terbukti membunuh 99,68 persen bakteri E. coli hanya dalam tempo 15 menit.

Baca juga: Keren, Boeing Sebar Virus Hidup di Pesawat untuk Uji Efektivitas Disinfeksi, Hasilnya Mencengangkan!

Disebutkan pula, bahwa teknologi tersebut berhasil membunuh patogen berbahaya baik di udara maupun di permukaan.

Atas temuan Boeing itu, seluruh perangkat berteknologi ionizer dan air purifying pun didesak oleh berbagai pihak untuk ditarik dari berbagai tempat, termasuk sekolah. Tak hanya itu, GPS juga dituntut oleh sejumlah pihak. Mereka diklaim telah mengelola ketakutan masyarakat untuk kepentingan bisnis dengan mengembangkan perangkat ionizer dan air purifier.

Ada Istilah Bus Tronton, Maksudnya Apa Yaaa?

Bus tronton? Bus besar seukuran kontainer atau apa ya? Ternyata bus ini memang memiliki ukuran yang lebih besar dari biasanya. Di mana merujuk pada istilah kendaraan tiga axle atau sumbu. Bahkan ukurannya lebih panjang 1,5 dibanding bus reguler.

Baca juga: Double Decker, Kompetisi Baru di Layanan Bus AKAP

Tak hanya itu, bus tronton juga bisa mengadopsi berbagai jenis bus dari bodi high decker hingga double decker. Dikutip KabarPenumpang.com dari detik.com, bus tronton memiliki sumbu atau gandar yang lebih banyak dan dimensi yang lebih panjang serta bisa dibuat lebih tinggi.

Sasis tronton juga punya keunggulan lain, yakni fleksibilitas dalam mengadopsi berbagai platform bodi, mulai dari bodi high decker seperti XHD (Xtra High Decker) atau UHD (Ultra High Decker), hingga bus double decker alias bus tingkat. Keunggulan lain, bus tronton memiliki performa andal untuk melibas rute tol panjang seperti tol Trans Jawa.

Bus tronton juga bisa menampung penumpang dan barang yang lebih banyak. Bahkan memiliki kapasitas mesin antara 11 ribu cc hingga 13 ribu cc. Memiliki tiga sumbu roda dan jumlah ban delapan dengan konfigurasi 1.1, 2.2, 1.1, ban bus trontong paling belakang berfungsi menopang sasis dan membantu proses manuver.

Jadi ini berfungsi sebagai penopang mesin, karena sasisnya lebih panjang dan (ban) paling belakang ini bisa bergerak untuk menjadi kemudi. Sehingga saat roda depan belok kiri, maka roda belakang akan mengikuti radiusnya bergerak ke kanan dan bisa meminimalisir radius putar.

Ada beberapa operator yang menggunakan bus jenis tronton ini yakni TransJakarta, perusahaan otobus antar kota antar provinsi. Hingga saat ini empat merek bus tronton yang dijual di Indonesia ada Mercedes-Benz OC 500 RF 2542, Scania K410iB, Volvo B11R dan MAN R37. Sedangkan karoseri yang membuat bodi untuk sasis bus tronton salah satunya adalah Laksana.

Dengan bodi yang lebih besar, harga bus tronton tidaklah murah dan bisa mencapai Rp4 miliar tergantung spesifikasi dan jenis bodi yang digunakan. Nyatanya bukan hanya bodi, kursi dan pendinginnya pun tak kalah mahal yang mana jok per buahnya mencapai harga Rp7 juta.

Di Indonesia, bus dengan tiga axle atau sumbu kerap disebut sebagai bus tronton. Padahal istilah tersebut sebenarnya keliru. Bus tiga axle lebih tepat disebut sebagai bus trintin. Istilah internasional bus tronton itu disebut sebagai twin axle karena gandar belakangnya ganda, sumbunya dua di belakang. Namun secara teknis itu adalah triple axle atau bus tiga sumbu.

Kendaraan tronton sendiri sebenarnya juga memiliki tiga sumbu seperti bus trintin. Bedanya, tiga sumbu tronton memiliki total roda 10 buah, dengan konfigurasi 1.1, 2.2, dan 2.2. Ini lazim ditemui pada kendaraan panjang seperti truk kontainer.

Baca juga: Agar Aman dan Nyaman Menggunakan Bus Malam, Tips Ini Layak Jadi Rujukan

Sementara pada bus tiga axle yang beredar di Indonesia, umumnya dibekali roda sebanyak 8 buah, dengan konfigurasi 1.1, 2.2, dan 1.1. Roda paling belakang bisa dibelokkan untuk membantu bus trintin bermanuver, dengan cara meminimalisasi radius putar.

Mengenal Pesawat Test Bed, Cikal Bakal Lahirnya Pesawat Baru

Pesawat uji terbang atau test bed aircraft mungkin keberadaannya tak begitu jelas pasca sebuah pesawat baru lahir. Kendati demikian, pesawat test bed memegang peranan penting selama penelitian dan pengujian konsep pesawat baru.

Baca juga: Gokil, Rolls-Royce Luncurkan Mesin Pesawat Sebesar Pesawat Airbus A220

Dilansir calspan.com, flying test bed (FTB) sendiri merupakan pesawat yang dikonfigurasi khusus untuk penerbangan penelitian atau menguji konsep pesawat serta peralatan on-board.

Pesawat test bed biasanya sudah dimodifikasi dengan ketentuan yang ada, seperti instalasi data kondisi pesawat, instalasi listrik, dan mekanik untuk dukungan sistem pelanggan, uji terbang, komunikasi, dan sistem data penyimpanan saat test bed dilakukan.

Secara umum, flying test bed mencakup banyak hal, tak melulu pengembangan pesawat baru, seperti crew development, training, system development (avionik, radar, sistem data penerbangan, dan sistem sensor), pengembangan mesin, dan lain sebagainya.

Terkait pengembangan mesin baru, biasanya pesawat uji atau pesawat test bed ini akan melakukan pengujian terbang menggunakan prototipe mesin sebelum melewati uji sertifikasi.

Sekalipun fasilitas test bed di darat sudah tersedia dan nyaris menyerupai flying test bed di udara, pengujian mesin baru menggunakan pesawat di udara harus tetap dilakukan. Sebab, sertifikasi mesin akan menguji langsung mesin pada pesawat sambil terbang, tidak hanya fasilitas testbed.

Sudah begitu, kendati mesin yang jadi objek pengembangan, pesawat test bed juga dikonfigurasi ulang atau disesuaikan dengan objek tersebut, seperti perkabelan dan peralatan instrumentasi baru, sistem bahan bakar dan perpipaan, serta modifikasi struktur sayap.

Di dunia, ada begitu banyak perusahaan yang menyediakan flying testbed aircraft atau pesawat test bed seperti Boeing, yang pesawat test bed-nya digunakan oleh perusahaan-perusahaan dirgantara AS, seperti AlliedSignal, Honeywell Aerospace, dan Pratt & Whitney, Gromov Flight Research Institute, yang disebut sebagai produsen pesawat test bed terbesar sejak era Uni Soviet pada 1941 sampai era Rusia, dan lain sebagainya.

Baca juga: Lama ‘Nganggur’, Pesawat Uji Terbang Airbus A220 Sekarang Jadi Mockup

Selain produsen pesawat test bed di atas, produsen dirgantara di berbagai belahan bumi juga biasanya memproduski pesawat test bed-nya sendiri dalam pengembangan pesawat baru; seperti yang dilakukan PT Dirgantara Indonesia (PTDI).

Guna memuluskan pengembangan pesawat CN-235 220 Gunship, PTDI terlebih dahulu mengaplikasikan pesawat dalam bentuk prototipe, dan sebelum prototipe dibuat, setiap manufaktur pesawat akan melakukan serangkaian uji coba konfigurasi payload pada testbed aircraft atau flying test bed. Karenanya, dua tahun lalu, flying test bed CN-235 terbaru PTDI, dengan nomer registrasi AX-2301, akhirnya resmi dirilis.

Setelah Taksi Terbang, Bus Terbang Berkapasitas 40 Orang Tengah dalam Rencana Pembuatan

Moda transportasi udara seperti taksi terbang belakangan semakin nyata keberadaannya. Namun taksi tersebut hanya bisa mengangkut satu atau dua penumpang dan tidak lebih. Tetapi bagaimana jika bukan hanya taksi tetapi ada bus terbang? Sebuah startup yang berbasis di New York, Amerika Serikat mulai berpikir ke arah pembuatan bus terbang.

Baca juga: Investasi di Taksi Terbang Joby Aviation, Toyota Gelontorkan Rp5,3 Triliun

Perusahaan bernama Kelekona itu tengah mengembangkan kendaraan lepas landas dan mendarat vertikal listrik atau (eVTOL) yang akan mampu mengangkut 40 orang sekaligus. Dilansir KabarPenumpang.com dari singularityhub.com (10/6/2021), desain kendaraan yang dibuat oleh Kelekona memiliki bentuk ramping dan futuristik dengan bentuk datar seperti UFO. Braeden Kelekona mengatakan, untuk semua suar desain yang tampak sebenarnya memiliki kepraktisan di otak.

“Kami memiliki wilayah udara yang sangat kecil di New York. Tidak pernah masuk akal bagi kami untuk membuat pesawat kecil yang hanya mampu mengangkut hingga enam orang. Anda harus memiliki jenis angkutan massal yang kami andalkan di kota ini. Masuk akal untuk mencoba memindahkan orang sebanyak mungkin dalam satu pesawat, sehingga kita tidak memonopoli wilayah udara,“ ujar Braeden.

Dia menambahkan, ada lebih banyak ruang di langit dibandingkan di darat. Tetapi untuk jalur penerbangan masih perlu direncanakan dengan hati-hati karena berada di area tertentu terutama di dalam serta dekat dengan kota-kota besar. Sehingga nantinya jika taksi terbang menjadi cukup terjangkau bagi orang untuk menggunakannya, akan ada banyak masalah dengan lalu lintas dan kemacetan baik di langit maupun ruang lepas dan mendarat di darat.

Braeden menjelaskan, terkait keterjangkauan menjadi prioritas di mana ini akan berbeda terutama pada tahap awal teknologi. Meski begitu, tujuannya adalah agar tiket bus drone atau bus terbang ini seharga dengan tiket kereta api untuk jarak yang sama.

Rute pertama, dari Manhattan ke Hamptons, disebutkan akan memiliki waktu penerbangan 30 menit dan harga tiket $85 atau sekitar Rp1,2 juta. Rute lain yang dituju termasuk Los Angeles ke San Francisco, New York City ke Washington DC dan London ke Paris yang bisa dihubungkan semuanya dalam satu jam.

Di mana waktu tempuhnya sebanding dengan waktu yang dibutuhkan pada penerbangan reguler yang sudah ada. Salah satu perbedaannya, idealnya, adalah bahwa eVTOL akan dapat mendarat dan lepas landas lebih dekat ke pusat kota, mengingat mereka tidak memerlukan landasan pacu yang panjang.

Untuk alasan yang sama, perusahaan juga membayangkan pendekatan yang efisien untuk menghubungkan gudang; pesawatnya akan dapat membawa 12 hingga 24 kontainer pengiriman, atau muatan kargo 10 ribu pon. Memindahkan bobot sebanyak itu, ditambah bobot pesawat itu sendiri, akan membutuhkan banyak daya baterai.

Bodi bus terbang akan terbuat dari komposit cetak 3D dan aluminium dan dilengkapi dengan delapan kipas vektor dorong dengan baling-baling yang pitchnya dapat berubah untuk berbagai tahap penerbangan yakni lepas landas vertikal, terbang ke depan dan mendarat. Semua ini akan dibangun di sekitar paket baterai modular raksasa.

“Alih-alih membangun badan pesawat yang menarik dan kemudian mencoba mencari cara untuk memasukkan baterai ke dalam pesawat itu, kami mulai dengan baterai terlebih dahulu dan meletakkan benda-benda di atasnya,” kata Braeden.

Paket baterai akan memiliki kapasitas 3,6 megawatt jam, dan akan dibuat agar mudah diganti dengan iterasi baru karena teknologi baterai terus meningkat. Kebutuhan energi pesawat kemungkinan akan menjadi tantangan terbesar yang dihadapi Kelkona dalam desain, produksi, dan peluncurannya; Saat ini, pesawat masih dalam tahap simulasi komputer.

Baca juga: Korea Selatan Berencana Luncurkan Taksi Terbang di 2025

Sebuah perusahaan Inggris bernama GKN Aerospace sedang mengembangkan konsep serupa. Diumumkan pada bulan Februari, Skybus akan memuat 30 hingga 50 penumpang, dan dimaksudkan untuk “transit massal melalui rute yang sangat padat.” Meskipun dibuat untuk lepas landas dan mendarat vertikal, desain pesawat memiliki sayap besar di kedua sisi ini akan membuat lebih sulit untuk menemukan ruang yang dapat beradaptasi di daerah perkotaan. Kelekona berencana untuk memulai dengan rute khusus kargo, dengan rute penumpang direncanakan pada tahun 2024, menunggu persetujuan dari FAA.

Jadi Pesawat Terlaris, Ini Alasan Boeing 737 Digandrungi Maskapai LCC

Sudah bukan rahasia bahwa keluarga pesawat Boeing 737 menjadi pilihan favorit maskapai di seluruh dunia, utamanya maskapai berbiaya hemat atau LCC (low cost carrier). Saking banyaknya maskapai yang mengoperasikan Boeing 737, pada 27 Januari 2002 silam, pesawat itu didapuk menjadi pesawat pertama di dunia yang mampu cetak 100 juta lebih jam terbang.

Baca juga: Berapa Banyak Pesawat Boeing 737 All Series yang Masih Terbang dan dalam Pesanan?

Dari puluhan atau mungkin ratusan maskapai LCC yang ketergantungan dengan Boeing 737, Flair Airlines mungkin jadi salah satunya.

Belum lama ini, maskapai asal Kanada tersebut untuk pertama kalinya menerbangkan armada Boeing 737 MAX miliknya. MAX diplot sebagai pengganti saudaranya yang sudah tua, Boeing 737-800. Di sela-sela momen tersebut, presiden maskapai, Charles Duncan, juga membeberkan alasan pihaknya memilih Boeing 737.

Menurutnya, Flair Airlines -mungkin juga maskapai lain- memilih Boeing 737 karena reliability, availability, dan harga. Tiga itu menjadi kunci dan pembeda dibanding pesawat lainnya.

Tak cukup sampai di situ, efisiensi juga menjadi jawaban mengapa pihaknya mendatangkan keluarga Boeing 737 terbaru, Boeing 737 MAX.

Menurut Presiden dan CEO Flair Airlines, Stephen Jones, efisiensi pesawat mendorong turunnya biaya operasional (bisa sampai 10 juta dolar selama masa pakai pesawat) dan pada akhirnya memicu turunnya harga tiket.

Tiket murah tentu menjadi strategi bisnis utama maskapai LCC. Harapannya, akan lebih banyak penumpang yang terbang dengan maskapai. Dengan begitu, perputaran bisnisnya menjadi lebih cepat dan menguntungkan.

Tingkat kenyamanan juga menjadi faktor penentu mengapa keluarga Boeing 737 MAX diminati maskapai LCC. Disebutkan, dengan kemampuan memangkas emisi CO2 sebesar 14 persen dan tingkat kebisingan sampai 50 persen, sambil menawarkan tiket murah, praktis itu akan membantu maskapai untuk menjaring lebih banyak penumpang.

“Pertama dan terpenting, harus ada bisnis, dan kita berbicara tentang pesawat yang 15 hingga 20 persen lebih efisien daripada pesawat yang digantikannya, jadi nilai penggantian pesawat yang efisien ini sangat besar,” kata Hulst kepada Simple Flying.

“Ketika Anda melihat sedikit lebih lama, kami berjanji sebagai perusahaan bahwa semua pesawat kami pada tahun 2030 akan mampu 100 persen menggunakan bahan bakar penerbangan berkelanjutan (SAF),” tambahnya.

Baca juga: Air Serbia Operasikan Boeing 737-300 Selama 36 Tahun, Bagaimana Bisa?

“Jadi, itu adalah pilar utama lain dari strategi keberlanjutan kami. Selebihnya, bagaimana kita bisa bekerja sama dengan industri untuk membuat operasi pesawat lebih efisien? Dan akhirnya, pandangan kami adalah inovasi apa, teknologi apa yang bisa kami bawa ke pasar untuk produk masa depan? Jadi semua hal itu bersama-sama akan membantu industri menjadi netral karbon,” lanjutnya.

Kendati begitu, tak sedikit maskapai LCC di dunia yang justru jatuh hati ke pesawat kompetitor Boeing 737, yakni Airbus A320, seperti Wizz Air, easyJet, AirAsia, dan lain sebagainya.

KA Baturraden Ekspres Jadi Alternatif dari Purwokerto Menuju Bandung

Pada 25 Juni 2021, PT Kereta Api Indonesia (KAI) akan meluncurkan kereta api baru yakni KA Baturraden ekspres relasi dari Bandung menuju ke Purwokerto. Kereta ini  melintasi Cikampek dan akan beroperasi pada 25 dan 27 Juni serta 2 dan 4 Juli 2021.

Baca juga: Beberapa Kali Ganti Nama, Kereta Serayu Kembali Beroperasi

Beroperasinya KA Baturraden Ekspres sendiri akan menjadi alternatif bagi calon penumpang yang akan bepergian dari Purwokerto menuju ke Bandung atau sebaliknya. Sebab, sebelumnya relasi Purwokerto menuju ke Bandung hanya dilayani oleh KA Serayu yang melintasi jalur selatan dengan relasi dari Stasiun Purwokerto menuju ke Stasiun Pasar Senen.

Namun KA Baturraden Ekspres akan melintas di jalur utara yang akan melalui Cirebon dan Cikampek, kemudian baru menuju ke Bandung. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, KA Baturraden Ekspres memiliki kelas yang berbeda dengan Serayu.

Di mana KA Serayu hanya melayani kelas ekonomi karena mendapat PSO (Public Service Obligation). Sedangkan KA Baturraden Ekspres memiliki kelas eksekutif dan bisnis dengan tarif yang terbilang murah yakni Rp160 ribu untuk kelas eksekutif dan Rp130 ribu untuk kelas bisnis.

Meski begitu, untuk mengoptimalisasi penumpang, PT KAI akan memanfaatkan kursi kosong pada relasi tertentu dengan memberlakukan tarif khusus. Seperti penumpang dari Purwokerto menuju ke Cirebon, tarifnya hanya Rp65 untuk kelas eksekutif dan Rp45 ribu kelas bisnis.

Peluncuran KA Baturraden Ekspres yang dilaksanakan pada 25 Juni mendatang dari Stasiun Purwokerto. Untuk jadwal perjalanan, KA Baturraden Ekspres akan berangkat dari Stasiun Purwokerto pukul 05.40 WIB dan tiba pukul 12.09 WIB.

Adapun jadwal keberangkatan dari Bandung, pada pukul 16.30 WIB dan tiba di Stasiun Purwokerto pada pukul 22.54 WIB. Meski sudah masuk dalam Gapeka 2021 dan saat ini masih masa pandemi, KA Baturraden Ekspres belum akan dioperasikan setiap hari.

Baca juga: “Nopia.. Nopia..,” Oleh-oleh Khas Tak Terlupakan dari Stasiun Purwokerto

VP Humas PT KAI Joni Martinus mengatakan, KA Baturraden Ekspres akan menggunakan kereta lama yang merupakan kereta eksisting. Namun, Joni tidak menjelaskan menggunakan KA eksisting relasi mana.