Perkenalkan Business Light, Jenis Tiket Baru di Pesawat, Traveler Wajib Coba!

Selama ini, traveler atau penumpang pesawat pada umumnya tahu bahwa hanya ada tiga jenis tiket; kelas ekonomi, bisnis (business class), dan kelas satu (first class); ditambah satu jenis lain yang belakangan menjadi umum, kelas ekonomi premium. Di luar itu tentu banyak ragamnya sekalipun esensinya sama.

Baca juga: Tiket Pesawat Naik Sehari Setelah “Travel Bubble” Singapura-Hong Kong Diumumkan

Qatar Airways, misalnya, pada tiket kelas satu penerbangan internasional Airbus A380 miliknya, tiket termahal disebut sebagai First Class Apartment. Kompetitor Timur Tengah mereka, Etihad, lebih keren lagi, dengan sebutan The Residence Etihad untuk jenis tiket first class.

Akan tetapi, menyesuaikan kebutuhan perjalanan selama pandemi Covid-19 yang cenderung fleksibel, penuh ketidakpastian, dan biasanya tak membutuhkan banyak barang bawaan, belum lama ini jenis tiket baru pun muncul, yaitu business light.

Bukan hanya sekedar penamaan, business light didesain memang benar-benar berbeda dan tepat jika disebut jenis tiket baru. Jenis tiket ini didesain khusus untuk para traveler yang ingin bepergian dengan harga terjangkau, tanpa bagasi kargo dan hanya berupa bagasi jinjing di dalam kabin, sambil merasakan nyamannya duduk di kursi kelas bisnis.

Adapun fasilitas kelas bisnis lainnya, seperti perubahan reservasi, refund, layanan prioritas bandara, akses lounge, dan WiFi on-board atau dalam pesawat tidak termasuk ke dalam layanan tike business light. Kendati demikian, penumpang yang memiliki tiket business light tetap bisa mendapatkan travel ekstra jika dibutuhkan.

Selain tiket business light, jenis tiket lain juga diperbarui, seperti ekonomi light, klasik, dan flex, serta business light, klasik, dan flex. Meski sama-sama berjenis ‘light’, business light dan ekonomi light tentu berbeda. Penumpang kelas ekonomi light dimungkinkan untuk upgrade ke business light dengan tambahan uang ataupun point.

Sedangkan tiket ekonomi/business klasik dan ekonomi/business flex lebih kepada fleksibilitas para penumpang. Ekonomi/business klasik memungkinkan penumpang mengubah tanggal dan nama yang tertera di tiket, termasuk bagasi terdaftar, dengan dikenai sedikit biaya tambahan dan tidak diperbolehkan refund tiket.

Adapun kelas ekonomi/business flex, serupa dengan klasik. Perbedaannya, penumpang di kelas ini dimungkinkan untuk refund tanpa dikenai biaya sepeserpun oleh Finnair, begitu laporan worldairlinenews.com.

Baca juga: Inilah Sebab Harga Tiket Kereta di Eropa Bisa “Bersaing” dengan Tiket Pesawat

Inovasi jenis tiket baru oleh Finnair ini tentu sangat brilian dalam membaca keinginan penumpang dalam bepergian di masa pandemi virus Corona. Jenis tiket ini juga cocok untuk diterapkan di rute internasional maupun domestik.

Di Indonesia, maskapai-maskapai dalam negeri mungkin tak ada salahnya meniru sambil memodifikasinya, mengingat tujuan dari diadakannya jenis tiket baru itu dan perubahan jenis tiket yang ada serupa dengan kondisi yang ada. Apalagi, seluruh maskapai di Indonesia, khususnya Garuda Indonesia -yang tengah terancam bangkrut- bisa dibilang fokus pada penerbangan domestik untuk saat ini.

Keren, Bandara di Italia Pasang CT-Scan dan Face Boarding! Penumpang Bebas Ribet

Bandara Milano Linate di Italia telah meresmikan terminal baru usai direnovasi berkat dukungan operator SEA Group sampai €40 juta atau sekitar Rp690 miliar (kurs 17.228). Terminal baru bandara tersebut menampilkan beberapa hal baru, mulai dari area check-in sampai area skirining.

Baca juga: Gegara Pandemi, Teknologi dan Layanan Penerbangan ini Harus Diadopsi Lebih Cepat

Selain perluasan lounge, area pujasera baru yang lebih fresh, yang paling menarik perhatian dari proyek perluasan terminal 10 ribu meter ini tentu kehadiran teknologi tinggi berupa computed tomography (CT scanner) atau CT-scan; melengkapi face boarding di area check-in.

Dilansir futuretravelexperience.com, berkat dua teknologi tersebut, proses skirining di bandara akan lebih cepat dan aman. Teknologi face boarding ini, dimana sidik jari penumpang dihubungkan dengan sidik jari biometrik, ID, dan boarding pass, memungkinkan penumpang melewati berbagai pos pemeriksaan tanpa mengeluarkan kartu identitas.

Mesin EDS-CB (Sistem Deteksi Peledak untuk Bagasi Kabin) baru yang telah dipasang menggunakan teknologi CT-scan kemudian melengkapi proses pemeriksaan menjadi lebih mudah, aman, dan cepat, menggantikan teknologi pemindai dengan sinar-X (X-ray) yang sudah kuno (karena sudah digunakan sejak 1980an di AS) masih masif digunakan sampai saat ini.

Kita tahu, hasil skrining sinar-X tak tak lebih baik ketimbang CT-scan. Hasil pindaian X-ray diketahui berbentuk citra gambar dua dimensi. Petugas yang mencurigai ada barang terlarang untuk dibawa masuk ke dalam pesawat terbang akan meminta calon penumpang untuk membuka tasnya dan melakukan pemeriksaan manual.

Sedangkan dengan CT scanner, petugas keamanan bandara bisa mendapatkan citra tiga dimensi dari tas yang dipindai. Jauh lebih jelas dibanding dua dimensi hasil pemindaian X-ray.

Di AS, hasil penelitian pada 2017 lalu, penggunaan CT –scan atau CT-scanner di bandara dapat mempercepat pergerakan lebih banyak penumpang melewati pos pemeriksaan keamanan, dari 180 menjadi 500 penumpang per jam.

Bagaimana tidak lebih cepat dibanding X-ray, dengan teknologi CT-Scan di bandara, penumpang tak lagi perlu mengeluarkan barang elektronik atau cairan yang disimpan di dalam koper atau tas. Sebab, semuanya sudah jelas terlihat dari hasil CT-scan.

Kendati perusahaan-perusahaan AS, salah satunya Analogic Corp, sudah melakukan penelitian dan pengembangan CT scan terlebih dahulu, namun, penggunaan pemindai CT atau CT-scan di bandara pertama di dunia bukan dari sana, atau dari Italia yang baru mengoperasikan baru-baru ini; melainkan datang dari bandara kebanggaan Belanda, Schiphol Airport, yakni sejak Mei 2021 lalu.

Baca juga: Timeline Teknologi Body Scanner di Bandara, dari Isu Gender Hingga Cegah Corona

“Ini adalah yang pertama di dunia. Kabar baik bagi penumpang karena mereka tidak lagi diharuskan mengeluarkan cairan dan barang elektronik dari tas mereka saat melewati pos keamanan. Ini juga baik untuk staf keamanan. CT scan memungkinkan mereka untuk memeriksa bagasi di layar mereka. dalam 3D dan bahkan memutarnya 360 derajat,” kata Hedzer Komduur, wakil direktur Keselamatan, Keamanan dan Lingkungan Royal Schiphol Group.

Terkait dengan upaya melawan Covid-19, CT-Scan juga ampuh digunakan di bandara-bandara. CT Scan Thoraks Low Dose disebut mampu mendiagnosis penumpang pesawat.

Airbus A350 Cathay Pacific Terbang dengan Satu Pilot Mulai 2025!

Cathay Pacific mulai menerbangkan armada Airbus A350-nya dengan satu pilot mulai 2025 mendatang. Itu dilakoni di hampir seluruh penerbangan jarak jauh A350, dengan catatan proses sertifikasi berjalan lancar sesuai rencana. Dengan begitu, kebutuhan pilot maskapai Hong Kong itu bisa ditekan.

Baca juga: Pertama di Dunia, Airbus A350-1000 Berhasil Lepas Landas, Landing, dan Taxi Otomatis! Pilot Terancam?

Saat ini, Cathay Pacific telah memulai mimpi berbalut Project Connect tersebut bersama Airbus untuk mengembangkan operasi penerbangan jarak jauh A350 dengan hanya satu pilot.

Di bawah Project Connect, A350 hanya membutuhkan satu pilot di kokpit selama cruising di ketinggian. Dengan begitu, maskapai dimungkinkan memangkas pilot dalam penerbangan jarak jauh, dari semula empat atau tiga pilot menjadi hanya dua, dengan skema saling back-up satu sama lain untuk istirahat.

Kendati demikian, Cathay Pacific belum akan meluncurkan penerbangan A350 satu pilot usai mendapat sertifikasi dari regulator. Keamanan akan menjadi proritas utama maskapai dan masih mengkaji pendapat para penumpang terkait itu.

Disebutkan, gagasan terbang satu pilot tentu akan membuat penumpang takut karena menyangkut keamanan dan keselamatan penerbangan. Bukan hanya penumpang, regulator dan pilot sendiri mungkin juga bersikap sama.

Oleh karenanya, Airbus memiliki pekerjaan rumah sangat besar untuk membuatnya aman dan zero accident dalam prosesnya. Hanya dengan cara itu yang dinilai bisa membuat penumpang percaya.

Saat ini, regulator Eropa atau Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa (EASA) tengah membahas berbagai persyaratan sistem pilot tunggal (single pilot) A350. Dibutuhkan teknologi tinggi untuk memantau seluruh sistem secara real time. Jika terjadi keadaan darurat, andai kata teknologi tak mampu menanganinya, pilot harus cepat sampai dalam hitungan detik.

Laporan Reuters, serikat pilot tentu saja menolak wacana single pilot A350. Selain mendatangkan PHK massal di seluruh dunia, masalah keamanan juga menjadi dalihnya. Dua kecelakaan Boeing 737 MAX pun disebut menjadi bukti rentannya teknologi baru atau peningkatan otomatisasi terhadap keselamatan.

Kendati diragukan, Airbus mengaku yakin bahwa teknologinya, semisal fitur flight warning seperti emergency descent, bisa menjawab keraguan regulator dan khalayak ramai.

Pada 2020 lalu, pesawat A350-1000 dilaporkan sudah berhasil lepas landas, landing, dan taxi otomatis dalam proyek kemanusiaan, mengangkut peratalan medis dari Beijing ke berbagai rumah sakit di Eropa.

Andai kata proyek single pilot ini berhasil tentu akan sangat menguntungkan maskapai. Bank Swiss UBS pernah memperkirakan bahwa seorang pilot biasanya dalam kendali penuh dari pesawat jet selama rata-rata hanya tujuh menit pada setiap penerbangan. Ia juga mengklaim bahwa pesawat komersial dan kargo satu pilot dapat terwujud dalam lima tahun ke depan.

Baca juga: Hanya Butuh Satu Pilot, Boeing Akan Umumkan Proyek “797” New Midsize Airplane di Paris AirShow 2019

Salah satu bank ternama di dunia karena tingkat keamanannya yang tinggi tersebut juga mengklaim, sistem operasi satu pilot juga akan mengarah pada peluang penghematan biaya untuk industri pesawat komersial yang lebih besar, setidaknya US$15 miliar atau sekitar Rp204 triliun, yang mencakup gaji pilot tahunan, pelatihan, bahan bakar, dan asuransi.

Namun, sepertinya proyek tersebut tak akan berjalan mulus. Survei tahun 2017 yang dilakukan oleh UBS menemukan bahwa 63 persen orang menentang terbang dengan pesawat tanpa pilot.

Tahun 2030, Qatar Siap Terapkan Transportasi Nol Emisi

Pada 2030 mendatang, Qatar akan menerapkan transportasi umum nol emisi. Langkah awal yang dilakukan yakni mulai direncanakannya seperempat angkutan umum Qatar yang akan dialiri listrik pada awal Piala Dunia tahun 2022. Bahkan sudah memesan 741 bus listrik pabrikan China Yutong pada akhir tahun lalu.

Baca juga: Qantas Punya Komitmen Nol Emisi Karbon di 2050

Transisi transportasi tanpa emisi tersebut diumumkan oleh Dewan Bisnis nis AS-Qatar, yang dibentuk untuk mendorong perdagangan antara AS dan Qatar. KabarPenumpang.com melansir electrive.com (15/6/2021), dalam penerapan nol emisi ini, perusahaan angkutan umum di Qatar, Mowasalat memberikan rekor pesanan kepada pabrikan China Yutong untuk 1.002 bus termasuk diantaranya 741 bus listrik.

Pembelian ini karena Mosawat bertanggung jawab untuk mengatur transportasi penumpang selama Piala Dunia 2022 mendatang. Menurut Yutong, pesanan untuk 1.002 bus senilai 1,8 miliar yuan atau setara dengan sekitar 230 juta euro, menjadikannya pesanan terbesar dalam sejarah pabrikan Cina itu.

Kontrak itu diapit oleh kesepakatan kerangka kerja antara Yutong, Otoritas Zona Bebas Qatar dan Mowasalat tentang pembangunan pabrik perakitan bus listrik di Qatar. Mulai akhir 2022, total 1.500 bus listrik akan dirakit di emirat dalam waktu tujuh tahun, yang juga akan diekspor ke negara-negara lain di Timur Tengah, Eropa, Amerika Selatan dan Afrika.

Otoritas emirat juga bekerja untuk membangun jaringan pengisian mobil listrik di negara yang mencakup hampir 12 ribu kilometer persegi. Untuk tujuan ini, pemasok listrik dan air Kahramaa akan membangun hingga 500 titik pengisian untuk mobil listrik pada tahun depan. Hingga saat ini, Qatar hanya memiliki sebelas stasiun pengisian yang beroperasi secara reguler.

Sekarang, stasiun baru akan didirikan di lokasi strategis seperti pusat perbelanjaan, area perumahan, stadion, taman dan kantor pemerintah, menurut Program Nasional untuk Konservasi dan Efisiensi Energi (Tarsyid). Pihak berwenang Qatar mengatakan mereka juga bertujuan untuk memasangkan stasiun pengisian dengan sistem fotovoltaik.
Satu situs percontohan telah ada sejak 2019, di mana stasiun fotovoltaik Tarsheed memiliki dua titik pengisian daya hingga 100 kW. Untuk diketahui, Qatar ingin memproduksi 700 MW dari panel surya pada tahun 2022.

Pada bulan lalu, Perusahaan AS Avangrid (sebelumnya Energy East dan Iberdrola USA) mengumumkan rencana untuk menjual saham senilai $4000 juta kepada Qatar Investment Authority (QIA) dan Spanish Iberdrola Group, masing-masing seharga $51,4 juta. Otoritas Investasi Qatar membeli sekitar $740 juta saham penyedia gas dan energi terbarukan AS, mengakuisisi hingga 3,7 persen saham biasa.

Baca juga: Jerman Siap Operasikan Kereta Penumpang Tanpa Emisi di 2018

Ini berarti bus listrik hanyalah bagian dari gambaran yang lebih besar yang tentu saja melibatkan infrastruktur pengisian daya tetapi juga produksi energi terbarukan yang signifikan.

Mantap, Penerbangan di Cina Tumbuh 126 Persen! Indonesia Kapan?

Industri penerbangan sangat terpukul akibat pandemi Covid-19. Kendati demikian, di beberapa negara kondisinya sudah berangsur pulih. Salah satunya Cina. Negeri Tirai Bambu, pada Mei lalu mencatat pertumbuhan penumpang ratusan persen. Itu artinya, bukan hanya melampaui angka tahun lalu, melainkan mengejar angka di tahun-tahun normal.

Baca juga: Penerbangan di Cina Mulai Bergairah, Industri Penerbangan Global Perlahan Bangkit

Laporan corong media Komunis Cina, Global Times, menyebut maskapai-maskapai di Cina serempak mengalami pertumbuhan penumpang. Sepanjang bulan Mei kemarin, maskapai Air China mengalami pertumbuhan penumpang mencapai 113 persen dibanding bulan yang sama tahun lalu, sekalipun cenderung menurun dibanding angka bulan-bulan sebelumnya.

China Eastern Airlines yang berbasis di Shanghai mengungkapkan bahwa terjadi lojakan penumpang sampai 126 persen dibanding bulan Mei 2020. Begitu juga dengan Juneyao Airlines yang mengalami pertumbuhan penumpang hingga 126 persen year-on-year.

Pertumbuhan penumpang pesawat di Cina disebut efek dari diadakannya berbagai kegiatan berskala nasional semisal Liburan Festival Perahu Naga selama tiga hari sejak Sabtu sampai Senin lalu. Dalam perhelatan tersebut, Kementerian Perhubungan Cina mencatat, ada sekitar 3,71 juta perjalanan penumpang atau meningkat 40 persen rata-rata harian dibanding periode tahun lalu.

Selain itu, tentu saja karena pandemi Covid-19 di Cina sudah hampir berakhir, dimana kegiatan yang menimbulkan kerumunan mulai terjadi di seantero Cina. Administrasi Penerbangan Sipil China (CAAC) menyebut, pertumbuhan penumpang bulan Mei lalu angkanya sudah 93,6 persen dari periode yang sama pada 2019. Nyaris menuju normal atau bahkan melampauinya.

Diperkirakan, pada kuartal kedua tahun ini, kerugian-kerugian yang sebelumnya diderita akan terus berkurang dan berbalik menjadi keuntungan. Berbeda dengan penerbangan penumpang, penerbangan kargo Cina sejak Maret tahun lalu memang sudah sangat menggeliat. Posisi Cina sebagai penyuplai pasokan medis dan belakangan ditambah dengan vaksin Covid-19 membuat penerbangan kargo melonjak tinggi dari tahun-tahun sebelumnya.

Pertumbuhan penerbangan kargo di Cina juga disokong bisnis e-commerce dan industri pengiriman ekspres.

Baca juga: Cirium Lihat Industri Penerbangan Indonesia Kembali Bergairah, IATA Pesimis

Data Air China menunjukkan bahwa transportasi kargo pada Mei naik hampir 30 persen dari periode yang sama tahun lalu, tren yang dimiliki oleh maskapai lain. China Eastern Airlines melaporkan transportasi kargonya naik 61 persen year-on-year.

Berbeda dengan Cina, penerbangan di Indonesia masih belum move-on ke periode sebelum adanya pandemi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penerbangan domestik hanya 2,64 juta orang pada Maret 2021. Angkanya anjlok 42,3 persen jika dibandingkan dengan posisi Maret 2020 yang mencapai 4,58 juta orang.

Punya Iklim Tropis, Stasiun Tulum Dibangun dengan Atap Berkisi-kisi

Perusahaan arsitektur Aidia Studio mulai merancang stasiun kereta api di Tulum, Meksiko. Stasiun ini nantinya memiliki atap berkisi-kisi yang akan dibangun di jalur kereta api Tren Maya. Pekerjaan konstruksi ini diharapkan akan mulai pada Januari 2022 mendatang.

Baca juga: Hilangkan Stres Penguncian di Masa Pandemi, Stasiun Phnom Penh Punya Kafe Kereta

Dilansir KabarPenumpang.com dari dezeen.com (14/6/2021), kehadiran Stasiun Tulum akan menjadi bagian dari jalur kereta api antar kota sepanjang 1.525 km yang direncanakan untuk Semenanjung Yucatan dalam lingkaran antara Cancn dan Palenque. Nantinya kereta yang akan dilayani Stasiun Tulum yakni dari Cancn ke Tulum.

Desain stasiun ini cukup unik, di mana atap akan dirancang berlubang dan terbuat dari baja struktural serta panel beton bertulang kaca untuk menutupi platform dan concourse. Grid geometris akan diglasir di beberapa tempat untuk mencegah hujan dan dilapisi dengan kayu di bagian dalam.

Karena Stasiun Tulum berada di Semenanjung Yucata dan memiliki iklim tropis membuat Aidia Studio merancang stasiun yang bisa menghadapi iklim di Tulum.

“Untuk menghadapi cuaca ekstrem ini, kami membayangkan atap kisi terbuka yang besar, berlapis kaca di lokasi strategis, memungkinkan ruang semi terbuka publik yang berfungsi tanpa ventilasi mekanis,” kata pendiri studio Rolando Rodriguez-Leal dan Natalia Wrzask.

Dia mengatakan, bukaan yang lebih kecil di area yang menerima sinar matahari tengah hari bekerja ke dalam pola atap, yang dirancang untuk menciptakan tempat teduh dan memungkinkan angin laut berhembus melalui stasiun. Stasiun ini akan mencakup toko-toko dan restoran di lantai mezzanine di atas peron dan jalur kereta api.

Nantinya pintu masuk dan keluar akan ada di kedua sisi stasiun. Aida Studio mengatakan, motif pada sisi luar dan dalam stasiun akan mengingatkan pada pola geometris tradisional suku Maya. Sebab Tulum terkenal dengan reruntuhan Maya dan garis pantai Karibia yang masih asli, yang menjadikannya tujuan wisata yang semakin populer.

“Jejak kaki berbentuk mata, terluas di tengah tempat fungsi utama stasiun bertemu, tampaknya merupakan penggunaan ruang yang paling efisien. Ini ditingkatkan dengan mengambil area seminimal mungkin yang berdekatan dengan rel dan mengimbanginya dengan menumpuk program publik stasiun di atas peron,” jelas mereka.

Baca juga: Eksentrik, Stasiun Nagatoshi Punya “Torii” di Atas Rel

Aidia Studio mengatakan mereka ingin memastikan stasiun mengambil ruang sesedikit mungkin di lanskap. Pekerjaan konstruksi di stasiun diharapkan selesai pada Juni 2023.

Meski Sepi Pengunjung, Konagai Punya Halte Bus Berbentuk Buah

Ketika sebuah ide teralisasi bisa menjadi sebuah kreatifitas yang tinggi dan unik. Bahkan bisa disukai oleh banyak orang dan menjadikannya sebuah karya seni serta mungkin juga sebagai bangunan yang bisa digunakan.

Baca juga: Halte Bus di Yerusalem Diubah Jadi Perpustakaan Tiga Bahasa

Seperti sebuah halte yang dibentuk karena terinspirasi dari buah-buahan. Halte bus ini berada di Konagai, Jepang. Di mana kota tersebut berpenduduk jarang dan selama beberapa dekade sulit untuk menarik pengunjung.

Halte bus berbentuk melon (japanjourneys.jp)

KabarPenumpang.com melansir japanjourneys.jp, tahun 1990 silam, penduduk Konagai mendapatkan ide untuk membangun halte bus besar berbentuk buah yang awalanya untuk pameran bertema perjalanan di Osaka. Ternyata pameran ini terbukti dan menjadi hits di pameran asli sehingga halte bus bertema buah-buahan tersebut menjadi landmark kota hingga hari ini.

Ada beberapa buah yang menginspirasi pembuatan halte yakni melon, stroberi, jeruk dan semangka. Yang mana hingga saat ini, pelancong masih mengunjungi halte-halte itu untuk melihat struktur yang menggemaskan. Tak hanya itu, para pengunjung juga mengabadikan diri mereka ketika duduk di dalam halte berbentuk buah tersebut.

Sayangnya kota ini tidak memiliki banyak hal lain untuk ditawarkan kepada turis rata-rata selain halte bus berbentuk buah ini dan Laut Ariake yang berada tepat di belakang desa Konagai. Meski sepi pengunjung, halte bus berbentuk buah dan berwarna cerah di Konagai tetap menghiasi jalan raya.

Untuk diketahui, Konagai merupakan kota yang tidak mudah untuk dikunjungi pelancong jika tidak menyewa mobil. Meski sulit tanpa kendaraan pribadi atau sewaan, daerah pedesaan yang satu ini tetap memiliki layanan bus reguler tetapi jarang beroperasi.

Baca juga: Pertama di Dunia! Cina Perkenalkan Halte Bus Cetak 3D dari Bahan Daur Ulang

Namun bila pelancong ingin menikmati pemandangan halte buah dan kesunyian Konagai tanpa kendaraan pribadi bisa menggunakan kereta dari Stasiun Nagasaki menuju ke Stasiun Konagai memakan waktu sekitar satu jam 15 menit dengan kereta lokal yang berjalan di sepanjang Jalur Utama JR Nagasaki. Kemudian berjalan ke Highway 207 dan menuju ke arah timur dan akan menemukan beberapa halte bus yang paling indah berada di sepanjang garis pantai. Bisa dikatakan Konagai adalah kota yang sepi dan sunyi sebab sebagian besar restoran dan pom bensin pun terlihat tutup.

Fukuoka ke Osaka Bisa Naik Kapal Ferry yang Punya Fasilitas Pemandian Air Panas

Menikmati perjalanan di Jepang tak melulu harus menggunakan kereta atau pun pesawat. Sebab, jalur laut dengan kapal ferry pun bisa menjadi pilihan lainnya. Salah satu operator yang mengoperasikan kapal ferry jarak jauh ialah Meimon Taiyo Ferry yang berlayar dari prefektur Osaka menuju ke Fukuoka.

Baca juga: Stena Hollandica, Inilah Kapal Ferry Terbesar dengan Fasilitas ala Kapal Pesiar

Meimo Taiyo mengoperasikan dua kapal ferry setiap harinya dengan keberangkatan pukul 17.00 dan 19.50 waktu setempat. Perjalanan tersebut akan menghabiskan waktu semalaman di mana Anda akan tiba pukul 05.30 atay 08.30 pagi tergantung kapal ferry yang ditumpangi.

KabarPenumpang.com melansir japantoday.com (14/6/2021), perjalanan dengan kapal ferry ini ternyata bisa menghemat biaya pemesanan hotel. Meski hadir dengan kelas ekonomi, tetapi tiketnya lebih murah sepuluh ribu yen dibandingkan dengan tiket shinkansen dengan jarak tempuh yang sama.

Penumpang yang berangkat dari Fukuoka akan naik dari Pelabuhan Shinmoji di kota Kotakyusu dan akan check in di lantai satu. Meski bangunan pelabuhannya tidak mewah, tetapi aula kapal ferry sangat berkelas dan menawarkan beberapa fasilitas yang cukup bagus dan bisa didapatkan dalam waktu beberapa detik.

Penumpang sebelum menikmati fasilitas akan mencari kursi atau ruang tidur sesuai yang tertera pada tiket. Di dalam ruang tidur, akan ada alas tidur, bantal, selimut dan beberapa rak untuk meletakkan barang bawaan Anda. Di dalam kapal ferry tersebut, selain kamar madi juga dilengkapi dengan pemandian umum daiyokujo yang bergaya Jepang dan buka sampai pukul 22.00.

Bahkan ruang pemandiannya pun dilengkapi dengan jendela sehingga penumpang bisa melihat pemandangan sembari berendam. Kapal ferry milik Meimo Taiyo ini akan melintasi ejumlah jembatan indah yang menghubungkan pulau utama Kepang Honshu dan pulau kecil Shikoku. Anda juga dapat melihat beberapa pemandangan indah dari ruang makan, dan jika Anda belum membawa makanan sendiri, paket makan malam/sarapan ditawarkan seharga 1.600 yen.

Makanan yang disiapkan di kapal ferry pun lebih dari 40 pilihan termasuk katsuo tataki (bonito bakar) dan chikuzenni (ayam rebus dan sayuran akar). Minuman beralkohol bahkan tersedia dengan biaya tambahan. Namun untuk sarapan tersedia lebih sedikit menu karena Anda akan makan sebelum pukul 05.00 pagi sebab akan tiba pukul 05.30.

Baca juga: Baru Selesai Dibangun dan Dikirim, Kapal Ferry Terbesar di Cina Mengalami Kebakaran

Di dalam kapal ferry ini juga ada toko yang menjual suvenir dan perlengkapan mandi serta mesin penjual otomatis. Bahkan ada loker koin yang bisa digunakan untuk menyimpan barang pribadi. Setelah 12 jam pelayaran, kapal ferry ini akan tiba di Pelabuhan Nanko Osaka dan operator mengklaim tidak pernah ada keterlambatan selama operasionalnya.

Terungkap! Walau Maskapai Krisis Keuangan, Gaji Pilot Tetap Selangit

Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat (AS), Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS) belum lama ini mengeluarkan Buku Pegangan Outlook Pekerjaan 2020. Dalam outlook tersebut, fakta pilot maskapai penerbangan bergaji tinggi -sekalipun maskapai sedang mengalami krisis keuangan di tengah pandemi virus Corona seperti sekarang ini- pun terungkap.

Baca juga: (1) Hidup Bak ‘Raja’, Inilah Rincian Umum Sistem Gaji Pilot! Pantas Saja Bergelimang Harta

Dalam setahun, rata-rata pilot, termasuk insinyur penerbangan dan kopilot, di AS memperoleh gaji sebesar US$160.970 atau sekitar Rp2,2 miliar (kurs 14.271) sepanjang 2020, atau hampir empat kali lipat gaji atau upah rata-rata semua pekerja di AS, yang hanya membawa pulang rata-rata US$41.950 atau Rp598 juta (kurs 14.271) per tahun.

Perlu di catat, BLS tidak menghitung berbagai tunjangan atau per diem pay airline pilot, kopilot, dan insinyur penerbangan; termasuk tunjangan international flight. Bila digabung dengan itu semua serta potensi pendapatan secara keseluruhan, terbayang bukan berapa gaji atau uang yang dibawa pulang pilot per bulan atau per tahunnya?

Pada Mei 2020, upah tahunan rata-rata untuk pilot maskapai penerbangan, kopilot (first officer), dan insinyur penerbangan (flight engineer) tertinggi di kategori penerbangan atau transportasi udara berjadwal sebesar US$173.780 atau Rp2,4 miliar per tahun.

Sedangkan untuk pilot, kopilot, dan insinyur penerbangan di kategori penerbangan atau transportasi udara tidak berjadwal mendapat gaji tahunan rata-rata sebesar US$117.030 atau Rp1,6 miliar.

Lebih spesifik lagi, data BLS 2020 yang dikutip Flying Mag, menunjukkan gaji rata-rata tahunan di kategori pilot komersial, mulai dari penerbangan tidak berjadwal, berjadwal, charter, joy flight atau tamasya udara, dan aerial application, termasuk pilot helikopter, sebesar US$93.300 atau Rp1,3 miliar.

10 persen terendah dari mereka mendapat gaji US$47.570 ATAU Rp677 juta dan 10 persen tertinggi membawa pulang gaji US$200.920 atau Rp2,8 miliar.

Di AS, pemerintah federal mengatur bahwa pilot maskapai penerbangan rata-rata terbang 75 jam per bulan dan tambahan 150 jam per bulan untuk melakukan berbagai aktivitas pra penerbangan, seperti mengecek kondisi cuaca, menyiapkan rencana penerbangan, dan lain sebagainya.

Di Indonesia, banyak versi berapa gaji pilot per bulan. Ada yang menyebut Rp100 juta per bulan, Rp60 juta, Rp100-150 juta per bulan, bahkan di atas Rp10 juta per bulan.

Adapun pendapatan real dan bersihnya, setelah ditambah tunjangan dan lain-lain memang tak pernah terungkap. Tetapi, itu semua bisa dilihat dengan glamoritas kehidupan pilot yang erat dengan segala hal tentang kemewahan.

Hanya saja, gaji besar pilot menjadi tanda tanya di tengah krisis keuangan berbagai maskapai dalam negeri, khususnya Garuda Indonesia.

Menurut sumber KabarPenumpang.com, di tengah krisis keuangan maskapai, Garuda disebut masih mempertahankan skema minimum guarantee hour (MGH) atau terbang tidak terbang tetap dibayar. Celakanya, MGH itu dipatok terlalu tinggi dan terus memberatkan maskapai.

Baca juga: (2) Hidup Bak ‘Sultan,’ Inilah Rincian Umum Sistem Gaji Pilot! Pantas Saja Bergelimang Harta

Selain itu, MGH juga tak adil mengingat seluruh karyawan, dari yang tertinggi sampai yang paling bawah, dikenai pemotongan gaji untuk menyehatkan keuangan maskapai. Direktur Utama Garuda Indonesia saat ini, Irfan Setiaputra, disebut tak berani melawan posisi strategis pilot yang bila tiba-tiba mogok sudah pasti maskapai bakal kalang kabut.

Terkait MGH, redaksi KabarPenumpang.com sendiri sebetulnya sudah menanyakan langsung dengan Irfan Setiaputra dan hanya dijawab, “Kita beresin (dengan) cara lain”.

GE dan Safran Luncurkan Mesin ‘Rotor Terbuka’ Ramah Lingkungan, Ditentang Boeing?

GE dan Safran, perusahaan dirgantara asal Amerika Serikat (AS) dan Perancis, melalui anak perusahan patungan keduanya, CFM International, meluncurkan desain mesin turbin gas baru dengan rotor terbuka (open rotor engine).

Baca juga: Inilah Tiga Konsep Pesawat Bertenaga Hidrogen Airbus, Beroperasi Penuh Mulai 2035

Mesin rotor terbuka disebut sebagai masa depan penerbangan berkelanjutan atau ramah lingkungan. Teknologi mesin rotor terbuka (tanpa ditutup nacelle, layaknya pesawat propeller) dinilai lebih kompatibel dengan bahan bakar dengan biofuel atau hidrogen. Tak hanya itu, mesin ini juga memungkinkan beroperasi dengan listrik hibrida (hybrid).

CEO GE Aviation, John Slattery, mengatakan mesin dengan total 12 bilah kipas berputar dan 12 bilah kipas fixed (stator) tersebut mampu mengurangi pembakaran bahan bakar (lebih efisien) sampai setidaknya 20 persen, menjadi solusi tantangan dekarbonisasi di masa mendatang.

Namun, menurut CEO Safran, Olivier Andries, efisiensi mesin dalam mengurangi bahan bakar sampai 20 persen belumlah cukup.

Disebutkan, di masa mendatang, pesawat generasi berikutnya harus bisa mengurangi emisi sampai 90 persen, dengan rincian 40 persen dari mesin berteknologi mutakhir dan teknologi pada badan pesawat (seperti teknologi kulit ikan hiu Lufthansa), 40 persen dari penggunaan bahan bakar berkelanjutan atau ramah lingkungan, dan 10 persen dari efektivitas arus lalu lintas udara dan bandara.

Bila tak ada aral melintang, laporan Seattle Times, mesin rotor terbuka bisa beroperasi bersama pesawat maskapai tahun 2030 mendatang. Tetapi, itu mungkin akan molor mengingat tarik ulur politik trans-nasional antara AS-Eropa melalui Boeing-Airbus.

Tahun lalu, Airbus menegaskan komitmennya untuk memproduksi pesawat komersial ramah lingkungan (bebas emisi) bertenaga hidrogen pertama di dunia pada 2035 mendatang. Tak tanggung-tanggung, Airbus meluncurkan tiga konsep pesawat ramah lingkungan sekaligus yang diberi kode nama ZEROe, yaitu Turbuprop, Turbofan, dan Blended-Wing Body.

Untuk mewujudkan target pesawat hidrogen Airbus mengudara tahun 2035, Faury melanjutkan, dibutuhkan dukungan dari pemerintah, perusahaan terkait, serta ekosistem industri penerbangan seluruh dunia.

Aliansi Hidrogen Bersih Eropa (ECHA) sendiri dikabarkan bakal menggelontorkan dana sebesar €430 miliar atau setara Rp7.451 triliun (kurs 17.270) untuk membantu meningkatkan rantai pasokan hidrogen di seluruh dunia.

Bila tak ada aral melintang, target Airbus tersebut 15 tahun lebih cepat dari prediksi Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO), dimana industri penerbangan global baru bisa mewujudkan 100 persen penerbangan ramah lingkungan pada 2050 mendatang. Bila hal itu terjadi, emisi yang dihasilkan transportasi udara bakal turun sebesar 63 persen.

Berbeda dengan Airbus, Boeing justru pesimis dengan penerbangan ramah lingkungan berbasis pesawat bertenaga hidrogen.

Boeing mengaku tak yakin bahwa hidrogen akan menjadi bahan bakar pesawat di masa depan. Agar tetap berkontribusi terhadap program keberlanjutan atau sustainability goals, sebagai gantinya, Boeing akan mencari cara lain.

Baca juga: Boeing Tak Yakin Konsep Pesawat Bertenaga Hidrogen, Sindir Airbus?

Pihaknya juga menegaskan komitmen untuk membuat pesawat komersial 100 persen menggunakan berbahan bakar ramah lingkungan pada 2030 mendatang, meski tak disebut detail bahan bakar ramah lingkungan apa yang dimaksud.

CEO Boeing, David David Calhoun, mengungkapkan bahwa para pelaku bisnis dirgantara merasa bahwa industri masih jauh dari kata siap untuk mengembangkan teknologi ini.