Sapa Pelanggan di Masa Pandemi, Singapore Airlines Hadirkan e-Library di Aplikasi Seluler

Di tengah pandemi yang melanda dunia saat ini, Singapore Airlines nyatanya tak kehilangan akal untuk terus berinovasi. Mereka kini membuat konten library elektronik atau e-Library yang bisa dinikmati semua pelanggan. e-Library ini tersedia di aplikasi seluler SingaporeAir.

Baca juga: 30 Awak Kabin Singapore Airlines Jadi Duta Perawat di Rumah Sakit

Adanya inisiatif ini sendiri memungkinkan pelanggan untuk mengunduh lebih dari 150 surat kabar internaisonal, majalah dan bahan bacaan lainnya secara gratis ke perangkat seluler di mana pun dan kapan pun mereka mau. KabarPenumpang.com melansir dari laman futuretravelexperience.com (20/5/2020), sebelum dibuka leluasa oleh maskapai asal Singapura ini, e-Library awalnya hanya tersedia untuk pelanggan yang akan berangkat 48 jam sebelumnya atau 30 hari setelah keberangkatan mereka.

Sebenarnya e-Library ini dirancang untuk memenuhi berbagai minat dengan publikasi terkenal yang mencakup berbagai topik seperti olahraga, rekreasi, teknologi dan politik. Pada masa pandemi ini mungkin majalah minat pria dan wanita, berkebun dan publikasi makanan atau resep, serta lebih dari 40 artikel pendek yang berkaitan dengan kesehatan lebih menarik.

Seperti konten kesehatan yang mencakup panduan ahli tentang topik-topik seperti cara untuk menghilangkan stres, meditasi, makanan sehat dan kiat untuk olahraga. Konten e-Library ini juga menampilkan materi khusus bahasa Inggris serta publikasi dari sepuluh bahasa Internasional termasuk Cina, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Rusia dan Spanyol, yang ditargetkan untuk siswa bahasa asing yang ingin meningkatkan atau mempertahankan keterampilan bahasa mereka selama ini.

“Wabah Covid-19 telah menyebabkan gangguan yang belum pernah terjadi sebelumnya di seluruh dunia dan menyentuh hampir setiap aspek kehidupan sehari-hari orang. Kami menyadari bahwa orang-orang saat ini tidak dapat bepergian dengan Singapore Airlines, jadi kami ingin memberikan sedikit pengalaman di atas Singapore Airlines kepada orang-orang di rumah. Kami berharap bahwa bahan bacaan tambahan dapat membantu mengisi waktu luang apa pun di waktu sebelum kami dapat menyambut pelanggan kembali ke langit sekali lagi,” kata Sheldon Hee, General Manager Inggris dan Irlandia, Singapore Airlines.

Pelanggan dapat mengunduh publikasi tanpa batas di e-Library secara gratis hingga 30 Juni 2020, dengan konten yang diperbarui secara berkala untuk memastikan bahwa edisi terbaru terus tersedia. Setelah 30 Juni 2020, pengguna aplikasi seluler SingaporeAir dapat terus menikmati publikasi apa pun yang sudah diunduh.

Baca juga: Sama-sama Cantik! Singapore Airlines Pernah Tugaskan Awak Kabin Kembar Identik Pada Penerbangan yang Sama

Sebelumnya diketahui, awak kabin maskapai Singapore Airlines sebanyak 30 orang menjadi duta perawat di rumah sakit. Mereka ditugaskan di bangsal berisiko rendah dan mendukung tim perawat rumah sakit dengan melakukan pemberian perawatan dasar, gizi dan manajemen layanan pasien. Bahkan mereka juga memiliki pilihan untuk diperpanjang tiga ulan berikutnya.

Covid-19 Paksa Maskapai Terbesar LATAM Bangkrut! Jadi Maskapai Kelima Bangkrut Akibat Corona

Maksapai terbesar di Amerika Selatan LATAM Airlines Group, dilaporkan bangkrut. Maskapai tersebut dilaporkan tengah mengajukan perlindungan sesuai Bab 11 Undang-Undang Kepailitan AS, atau yang dikenal dengan sebutan Chapter 11 dengan menjaminkan aset senilai 21 miliar dollar AS dan lialibilitas sebesar 18 miliar dollar AS untuk perlindungan kebangkrutan tersebut.

Baca juga: Mantan Pemilik Avianca Berencana Beli Alitalia, Sesumbar Bakal Kasih Untung Sejak Enam Bulan Pertama

Kendati demikian, afiliasi atau anak perusahaan LATAM di Argentina, Brasil, dan Paraguay tidak termasuk dalam perlindungan Chapter 11 tersebut. Sisanya, induk perusahaan di Chili dan anak perusahaan di Kolombia, Peru, dan Ekuador termasuk di dalamnya.

Perlindungan Chapter 11 memudahkan perusahaan yang tidak mampu membayar utang, dengan melakukan restrukturisasi tanpa tekanan dari kreditur. Sejauh ini, LATAM per 30 April lalu tengah tersangkut utang sebesar US$2,2 miliar atau Rp32 triliun (kurs 14,892).

Utang sebesar itu, berdasarkan catatan pengajuan di pengadilan, setidaknya melibatkan lima kreditur besar dunia berkenaan dengan 61 pesawat dan 56 mesin, mulai dari Wilmington Trust (US$778 juta), Citibank (US$603 juta), Credit Agricole (US$274 juta), Wells Fargo WFC (US$277 juta), dan Natixis ($ 243 juta). Pesawat dan mesin tersebut saat ini sudah disita pihak bank. 61 pesawat tersebut terdiri dari 20 A321, sembilan 767, empat 787, dua A350 serta 26 pesawat lainnya tak disebutkan.

Selain memiliki utang dengan lima kreditur di atas, LATAM juga tercatat memiliki utang terhadap beberapa perusahaan lainnya, seperti perusahaan bahan bakar BP, Repsol, dan World Fuel, lessor AerCap, Avolon, dan BBAM, pengelola navigasi udara di Argentina dan Chili, aliansi OneWorld, produsen mesin CFM, Collins, dan CAE, dua bank di Chili dan Peru yakni Banco Santander Chile dan Banco de Credito del Perú, juga memiliki utang kepada Boeing, Etihad, dan Gate Gourmet. Total utang kesemuanya disebut mencapai sebesar 7 miliar dollar AS.

Forbes mengabarkan, maskapai yang telah memecat 1.800 karyawannya dari total pekerja lebih dari 40.000 orang di empat negara ini akan terus beroperasi lewat Perlindungan Chapter 11 yang diajukan sembari melakukan restrukturisasi kredit guna membayar utangnya. LATAM masih bisa beroperasi dengan pesawat lainnya yang tak disita bank. pada 31 Desember 2019 lalu, LATAM tercatat memiliki 342 pesawat, dimana dua pertiganya milik sendiri dan sisanya milik lessor.

Maskapai yang bermarkas di Santiago, Chili tersebut akan tetap beroperasi dengan jadwal terbatas dan mengajukan pinjaman sebesar 900 juta dollar AS. Dana pinjaman tersebut berhasil terkumpul dari pemegang saham, Amaro familiy, dan Qatar airways; bukan dari pemerintah.

Baca juga: Avianca, Maskapai Terbesar Ketiga di Amerika Latin Bangkrut Gegara Corona, 21 Ribu Karyawan di 14 Negara Gigit Jari!

Pasalnya, pemerintah Chili memang tak menawarkan dana talangan, sebagaimana negara-negara Amerika Latin pada umumnya, berbeda dengan AS, Eropa, dan Asia yang rela menggelontorkan dana besar untuk menyelamatkan maskapai nasional mereka. Pandemi Covid-19 telah memberikan pukulan terhadap industri penerbangan di seluruh dunia.

“Keadaan luar biasa telah menyebabkan jatuhnya permintaan global dan tidak hanya membawa penerbangan mandek, tetapi juga telah mengubah industri untuk masa yang akan datang,” ujar CEO LATAM, Roberto Alva. Sebelumnya, selain LATAM, beberapa maskapai telah terlebih dahulu bangkrut akibat virus corona atau Covid-19, mulai dari Avianca, Virgin Australia, FlyBe, dan Trans State Airlines.

Walau Masih Bermasalah, Boeing Nekat Lanjutkan Produksi 737 MAX

Boeing dilaporkan nekat melanjutkan produksi 737 MAX yang sudah setahun lebih di-grounded akibat dua kecalakaan fatal melibatkan Ethiopian Airlines dan Lion Air. Dikatakan nekat, sebab MAX belum diizinkan oleh FAA untuk kembali terbang.

Baca juga: Demi Kembali Terbang, Perbaikan Boeing 737 MAX Terus Dikebut di Tengah Corona

“Kami telah melakukan perjalanan berkelanjutan untuk mengembangkan sistem produksi kami dan membuatnya lebih kuat. Inisiatif ini (melanjutkan produksi MAX) adalah langkah selanjutnya dalam menciptakan ekosistem produksi yang optimal untuk 737 MAX,” kata Walt Odisho, wakil presiden dan manajer umum program 737, dalam sebuah pernyataan, sebagaimana ditulis theverge.com.

Keputusan Boeing untuk melanjutkan proses produksi terkesan dipaksakan. Sebelumnya, produsen pesawat yang baru saja memecat sekitar 7.000 karyawan ini memang sudah lebih dahulu berikrar akan memulai kembali layanan Boeing 737 MAX di udara pada pertengahan tahun ini. Namun, dalam perjalanannya, berbagai masalah terus-menerus muncul.

Awal Januari lalu, saat belum tuntas dengan persoalan perizinan, Boeing melaporkan kembali menemukan satu lagi potensi masalah. Masalah tersebut diketahui berasal dari korsleting yang berasal dari salah satu kabel di dalam sistem kendali pesawat.

Tak lama berselang, tepatnya pada akhir Januari, masalah kembali muncul. Kala itu, disebutkan bahwa masalah terjadi pada software yang memverifikasi apakah monitor yang melacak sistem utama pada pesawat, telah berfungsi dengan baik. Pemeriksaan monitor biasanya dilakukan secara otomatis saat pesawat atau sistemnya dinyalakan. Namun dalam pemeriksaan terbaru, salah satu monitor tidak menyala dengan benar.

Keinginan untuk mengebut produksi Boeing 737 MAX kemudian kembali terhambat di akhir Februari. Boeing menyatakan menemukan “Serpihan Obyek Asing” (Foreign Object Debris – FOD) yang tertinggal di dalam tangki bahan bakar yang berada di sayap pada beberapa 737 Max yang belum dikirim ke pembelinya. Padahal, saat itu, MAX tak lama lagi akan dijadwalkan untuk menjalani uji terbang oleh FAA.

Serpihan Obyek Asing (FOD) adalah istilah teknis untuk serpihan atau benda-benda yang bukan merupakan bagian dari pesawat yang menutupi permukaan dan berpotensi menimbulkan kerusakan.

Dalam sebuah catatan dari Wakil Presiden dan Manajer Umum Program 737 dan Pabrik Renton, Washington, Mark Jenks, kepada karyawan, perusahaan berpesan bahwa serpihan benda asing tersebut benar-benar tidak dapat diterima. Sebab, temuan serpihan benda asing dalam tangki bahan bakar itu dinilai terlalu banyak. Oleh karenanya, perusahaan meminta untuk segera menyelesaikan masalah itu dengan se-teliti mungkin.

Setelah serangkaian masalah di bulan Januari dan Februari, pada bulan Maret Boeing 737 MAX memang tidak mengalami masalah kembali. Namun, Jelang satu tahun grounded Boeing 737 MAX pada 14 Maret mendatang dan sehari setelah ‘anniversary’ insiden Ethiopian Airlines yang menewaskan 157 orang, 10 Maret 2019 lalu, Boeing mengumumkan telah menggelontorkan uang sebesar Rp268 triliun.

Baca juga: Masalah Lagi! Boeing Temukan Serpihan di Tangki Bahan Bakar 737 MAX

Jumlah tersebut diperkirakan akan membengkak menjadi sebesar Rp330 triliun sampai pesawat tersebut benar-benar kembali diizinkan terbang. Bila tahun ini tak juga diizinkan terbang, bukan tak mungkin Boeing akan ditinggal investor.

Bulan berikutnya, saat pandemi corona di Amerika tengah mengganas, Boeing justru terus menggenjot produksi MAX demi target kembali ke udara di pertengahan tahun. Boeing dilaporkan masih terus menggenjot proses perbaikan, mulai dari menguji perubahan perangkat lunak terbaru dan menyempurnakannya hingga melakukan pengujian dalam simulator penerbangan yang dikenal sebagai e-cab di tengah pandemi corona, semata untuk menyesuaikan seluruh persyaratan dari regulator penerbangan sipil di Amerika Serikat (FAA).

Bikin Kulit Gatal, Ternyata Baju Seragam Awak Kabin Delta Airlines Mengandung Bahan Kimia Berbahaya

Delta Airlines mengaku pada bulan Januari lalu, bahwa sebanyak dua ribu awak kabin telah mengeluh sakit ekstrem pada kulit mereka setelah mengenakan seragam yang dirancang oleh Zac Posen. Ternyata seragam tersebut setelah dilakukan pengujian mengandung bahan kimia beracun dalam level hampir sepuluh kali lebih tinggi dari yang diizinkan oleh H&M yang pengujiannya dilakukan oleh Association of Flight Attendants (AFA-CWA).

Baca juga: Antisipasi Covid-19, Awak Kabin AirAsia Punya Seragam Baru Mirip Kostum Hazmat

KabarPenumpang.com melansir paddleyourownkanoo.com (22/5/2020), awalnya maskapai ini mengatakan bahwa pengujian laboratorium kimia independen mereka terhadap 628 item seragam menemukan tidak ada risiko kesehatan setelah pertama kali dikenalkan pada tahun 2018 lalu. Namun nyatanya setelah seragam itu diluncurkan, beberapa awak kabin melaporkan sejumlah gejala termasuk ruam gatal yang menyakitkan, sesak napas dan sakit mata.

Adanya skandal “seragam beracun” terbaru dikatakan telah membantu AFA dalam upayanya untuk menyatukan tenaga kerja awak kabin Delta setelah muncul dugaan bahwa maskapai yang bermarkas di Atlanta itu berusaha untuk menutupi masalah sebenarnya. Sejak saat itu maskapai ini telah mengeluarkan sebuah celemek opsional dari koleksi setelah gagal dalam pengujian kimia dan telah mengalokasikan US$10 juta untuk membayar seragam-seragam milik awak kabin yang tidak terkena reaksi.

Menurut Association of Flight Attendants, Delta juga merencanakan program seragam “benar-benar baru” dalam menanggapi skandal yang semula dijadwalkan akan selesai pada akhir 2021. Namun, jadwal waktu itu dapat tak teralisasi karena Covid-19 dan dampak berkelanjutannya pada arus kas Delta.

Pengujian laboratorium yang dilakukan atas nama serikat pekerja menemukan bahwa mantel merah pakaian luar wanita itu mengandung kromium kimia di tingkat yang hampir sepuluh kali lipat jumlah yang diperbolehkan oleh H&M. Serikat pekerja menggambarkan kromium sebagai bahan kimia beracun dan bahan iritasi yang “tidak boleh ada di pakaian”.

Tes juga menemukan karsinogen heksavalen dalam satu mode seragam dan celana setelan wol-campuran untuk awak kabin ukuran plus. Sementara itu, gaya kemeja ‘merah muda thistle’ berisi formaldehida, meskipun dalam batas yang diizinkan. Tidak seperti tes Delta, analisis laboratorium baru-baru ini yang ditugaskan oleh AFA hanya dilakukan pada sejumlah kecil pakaian yang telah disumbangkan oleh awak kabin.

Serikat pekerja juga mengakui bahwa data dari tes “tidak menceritakan keseluruhan cerita” menambahkan bahwa “ribuan bahan kimia” secara rutin ditambahkan ke kain untuk memberikan sifat-sifat tertentu seperti ketahanan noda dan penyelesaian bebas kerut. Bahan kimia yang sama dikatakan telah menyebabkan reaksi serupa pada awak kabin di American Airlines, Alaska dan Southwest setelah seragam baru diperkenalkan.

American Airlines dan Alaska memperkenalkan koleksi seragam yang sama sekali baru mengikuti skandal mereka sendiri dan mencapai OEKO-TEX Standard 100 untuk memastikan kualitas pakaian. Delta menolak untuk secara khusus mengomentari pengujian lab AFA sendiri tentang seragamnya tetapi seorang juru bicara mengatakan bahwa “prioritas utamanya adalah dan terus menangani masalah karyawan mereka.”

Baca juga: Dirancang Selama 18 Bulan, Inilah Tampilan Seragam Baru Awak Kabin Saudia

“Kami berinvestasi dalam studi toksikologi yang ketat untuk menentukan apakah ada masalah ilmiah universal dengan seragam. Hasil penelitian ini mengkonfirmasi seragam kami memenuhi standar tekstil tertinggi – OEKO-TEX – dengan pengecualian apron opsional, yang kami hapus dari koleksi. Kami telah bekerja secara langsung dengan karyawan kami untuk menawarkan berbagai pilihan garmen alternatif dan menyediakan akses ke pakar medis top negara,” ujar Delta.

AFA terus mendorong penghapusan seragam saat ini secara lengkap dan segera.

Pastikan Keamanan, Boeing dan Airbus Pelajari Risiko Sebaran Virus Corona di Pesawat

Boeing dan Airbus dilaporkan tengah bermitra dengan para ahli medis, insinyur, akademisi, dan otoritas federal dalam sebuah penelitian untuk menyelidiki bagaimana perilaku atau sebaran virus corona di dalam kabin pesawat. Hal ini dilakukan guna meminimalisir risiko paparan Covid-19 di dalam pesawat dan memberikan rasa aman kepada penumpang dan menumbuhkan minat mereka untuk bepergian menggunakan pesawat.

Baca juga: Ahli Virologi Ini Yakin Tertular Corona Lewat Mata dalam Penerbangan yang Penuh Sesak

Diktuip dari fool.com, saat ini Boeing sedang mengerjakan model simulasi komputer untuk mempelajari bagaimana perilaku virus Cina di kabin penumpang. Hal ini tentu sejalan dengan kampanye yang telah digembar-gemborkan maskapai terkait sistem penyaringan udara di pesawat yang menggunakan filter HEPA. Teknologi tersebut diklaim mampu membunuh 99 persen bakteriologis, tak terkecuali dengan virus Cina.

Tak ayal, dengan kemampuan tersebut pesawat diklaim menjadi salah satu moda transportasi teraman untuk diandalkan selama pandemi corona, ditambah dengan beberapa protokol kesehatan dan standar operasional baru atau biasa disebut The New Normal. Dengan begitu diharapkan penumpang akan merasa lebih aman dan nyaman selama dalam perjalanan menggunakan pesawat.

Senada dengan Boeing, Airbus juga dilaporkan tengah menjalin kerjasama dengan beberapa ahli dari berbagai universitas untuk mengurangi sebaran virus corona di dalam kabin pesawat dengan mengembangkan bahan berkemampuan self-cleaning, disinfektan yang mampu bertahan selama beberapa hari serta beberapa perangkat tanpa sentuhan di toilet.

Namun demikian, terlepas dari dasar keduanya dalam melakukan penelitian, faktanya, sebelum adanya virus corona, beberapa ahli dari Purdue University’s School of Mechanical Engineering, Amerika Serikat (AS) sudah lebih dulu melakukan penelitian sebaran virus SARS dan memetakan risiko paparannya di dalam kabin pesawat.

Kala itu, penelitian dilakukan di dalam pesawat 767 dengan konfigurasi 2-3-2. Dari hasil penelitian yang dilakukan, jika seseorang yang duduk di tengah dalam (konfigurasi 2-3-3) batuk, setidaknya ada sekitar 10 orang yang terpapar corona, yakni enam orang di baris yang sama dan masing-masing dua orang di sisi jendela di baris pertama di belakangnya. Kemudian, bila dilihat dari sebaran aerosol di keseluruhan kabin, tampak hanya baris terdepan dan dua kursi paling belakang sebelah kanan di dekat jendela saja yang kemungkinan besar selamat dari paparan virus SARS.

Baca juga: Ahli Sebut Kabin Pesawat Tak Aman Cegah Corona! Video Ini Jadi Salah Satu Buktinya

Qingyan Chen, seorang profesor teknik Universitas Purdue yang berkontribusi besar dalam penelitian itu menyebut, sejatinya kabin pesawat memang tak dirancang untuk mencegah penyakit menular. “Sejujurnya, pesawat terbang tidak dirancang untuk mencegah penularan penyakit menular. Mereka tidak dirancang untuk melakukan pekerjaan itu,” ujarnya.

Saat ini, ahli di dunia memang belum bisa menemukan bagaimana sebaran atau perilaku virus corona di dalam kabin secara lebih rinci. Selain itu, para ahli juga belum bisa menyimpulkan apakah perilaku virus corona sama dengan perilaku SARS dan MERS beberapa tahun lalu. Tetapi, dengan daya tular yang disebut empat kali lebih kuat dibanding SARS, bukan tak mungkin, sebaran virus corona di kabin pesawat bisa lebih mematikan dibanding SARS.

Setelah 780.000 Tahun, Ilmuwan Sebut Kutub Utara dan Selatan Akan Pindah Tempat Lagi Akibat Medan Magnet Bumi Melemah

Setelah tahun lalu ilmuan menemukan pergerakan kutub utara yang begitu cepat, kini ilmuan menemukan fakta lainnya yang lebih mengejutkan. Mereka memprediksi, kutub utara dan selatan akan berpindah tempat lagi akibat melemahnya medan magnet bumi. Peristiwa ini terakhir kali terjadi pada 780.000 tahun yang lalu.

Baca juga: Dulu Kirim Kilatan, Kini Alien Makin Agresif Kirim Sinyal Misterius ke Bumi

Dikutip dari independent.co.uk, temuan ini dibuat oleh tim peneliti dari Badan Antariksa Eropa (ESA) yang mengambil data dari konstelasi Swarm (sekelompok satelit). Konstelasi Swarm terdiri dari tiga satelit yang khusus mempelajari medan magnetik bumi. Satelit secara khusus dirancang untuk mengidentifikasi dan mengukur sinyal magnetik berbeda yang membentuk medan magnet bumi, memungkinkan para ahli untuk melihat area yang telah melemah.

Sebagi informasi, medan magnet Bumi adalah fitur penting planet ini yang berfungsi sebagai pelindung dari partikel matahari, memberikan dasar untuk navigasi dan mengetahui evolusi kehidupan di Bumi.

ESA memang telah mempelajari medan magnet sejak akhir tahun 2013. Misi ini terdiri dari tiga satelit identik yang memberikan pengukuran lapangan berkualitas tinggi di tiga bidang orbit yang berbeda. Saat ini, Ilmuwan tengah fokus mengamati wilayah Afrika dan Amerika Selatan, yang notabene menjadi titik berkurangnya medan magnet atau yang biasa dikenal sebagai ‘Anomali Atlantik Selatan’. Daerah ini telah tumbuh dan bergerak ke arah barat dengan kecepatan sekitar 20 km per tahun dan telah membentuk pusat intensitas minimum hanya dalam waktu 5 tahun.

“Minimum baru di timur Anomali Atlantik Selatan telah muncul selama satu dekade terakhir dan dalam beberapa tahun terakhir berkembang dengan cukup dahsyat,” kata Jürgen Matzka, dari Pusat Penelitian Jerman untuk Geosciences.

“Kami sangat beruntung memiliki satelit Swarm di orbit untuk menyelidiki perkembangan Anomali Atlantik Selatan. Tantangannya sekarang adalah memahami proses-proses dalam inti Bumi yang mendorong perubahan-perubahan ini,” tambahnya. Peneliti mengatakan anomali itu bisa mendatangkan malapetaka pada satelit atau pesawat ruang angkasa yang terbang atau mengorbit rendah melalui daerah itu berupa kerusakan teknis.

Selain itu, bila kutub utara dan selatan berpindah tempat akibat medan magnet bumi melemah, di samping pergeseran yang juga begitu cepat, mungkin juga akan mempengaruhi sistem navigasi seperti mengacaukan pelayaran, penerbangan atau aktivitas yang berkaitan dengan navigasi.

Selama ini, posisi magnet kutub yang dipetakan World Magnetic Model (WMM) dijadikan acuan oleh sejumlah instansi pemerintahan seperti Departemen Pertahanan AS, Kementerian Pertahanan Inggris, Organisasi Perjanjian Atlantik Utara (NATO), Organisasi Hidrografi Internasional (IHO), dan berbagai sistem navigasi sipil termasuk Google Maps.

Baca juga: Skyquake: Misteri Dentuman Si ‘Pembohong’ yang Tak Pernah Terungkap Jelas

Sejak pertama kali ditemukan pada 1 Juni 1831 James Clark Ross, seorang perwira Angkatan Laut Inggris, yang memetakan medan magnet kutub utara di di pulau-pulau yang tersebar di wilayah Nunavut, Kanada, titik kutub magnet utara terus bergerak aktif.

Sementara dalam 200 tahun terakhir medan elektromagnetik di sekitar Bumi telah kehilangan sekitar sembilan persen kekuatannya. Antara 1970 dan 2020, medan magnet Bumi telah sangat melemah di wilayah yang membentang dari Afrika ke Amerika Selatan.

 

American dan United Airlines Rugi Rp59 Triliun, Ratusan Ribu Karyawan Menanti Giliran PHK

American dan United Airlines dilaporkan mengalami kerugian sepanjang kuartal I 2020 sebesar US$4 miliar atau Rp59 triliun (kurs 1 dollar – Rp14.900), masing-masing sebesar US$2,24 miliar dan uS$1,7 miliar. Disebutkan, kedua maskapai tersebut mengalami kerugian akibat penuruan frekuensi perjalanan udara, imbas dari pandemi virus corona di dunia, khususnya di Amerika Serikat (AS). Selain itu, saham keduanya juga menyusut sebesar lima persen.

Baca juga: Bukan Hanya PHK Karyawan, Ini Sejumlah Opsi Maskapai Agar Bisa Tetap ‘Hidup’

Kerugian miliaran dolar yang dicatatkan keduanya membuat mereka menempati posisi pertama dan kedua sebagai maskapai dengan kerudian terbesar di AS sepanjang kuartal I 2020, menggeser Delta Air Lines dengan kerugian US$534 juta dan Southwest Airlines sebesar uS$94 juta. Sebelumnya, kerugian yang dialami Delta dan Southwest Airlines digadang-gadang bakal menjadi yang terbesar di AS.

Dengan kerugian sebesar US$2,24 miliar, American Airlines mencatat kinerja keuangan terburuk sekaligus kerugian terbesar sejak keluar dari kebangkrutan dan mergen dengan US Airways pada tahun 2013 lalu. Diperkirakan, kinerja keuangan maskapai penerbangan yang berbasis di Fort Worth, Texas ini di kuartal II 2020 tak banyak berubah. Sejauh ini, salah satu maskapai terbesar di AS itu telah memangkas jadwal penerbangan sebesar 80 persen pada bulan April dan Mei serta 70 persen pada bulan Juni.

“Belum pernah sebelumnya maskapai kami, atau industri kami, menghadapi tantangan yang sedemikian signifikan (sulit),” kata Chairman sekaligus CEO American Airlines, Doug Parker kepada Associated Press, seperti dikutip dari usnews.com.

“Kita akan menjadi lebih kecil dari yang kita inginkan. Karena kita harus lebih kecil, kita perlu melakukan sesuatu dengan jumlah karyawan yang kita miliki,” lanjutnya.

Sejauh ini, dari 133.000 karyawan, sekitar 4.500 pekerja telah ‘dibujuk’ American Airlines untuk mengambil pensiun dini, dan sekitar 34.000 lainnya telah menerima cuti yang dibayar separuh selama tiga hingga 12 bulan.

Maskapai tersebut memang tak melakukan PHK terhadap ratusan ribu karyawannya. Namun, itu bukan karena keinginan maskapai, melainkan sebagai salah satu syarat maskapai untuk mendapatkan stimulus dari pemerintah AS. Maskapai AS yang mendapatkan paket stimulus dari pemerintah diwajibkan tidak boleh melakukan PHK terhadap karyawan setidaknya sampai Oktober mendatang.

Bila keadaan tak kunjung membaik, sang CEO sudah mewanti-wanti bahwa pihaknya mungkin akan dengan terpaksa mengurangi beban finansial, salah satunya dengan mengurangi karyawan dalam jumlah besar. Dengan cara itu, perusahaan disebut dapat menghemat hingga miliaran dolar.

Baca juga: Bagaimana Load Factor Pengaruhi Profit Maskapai? Berikut Penjelasannya

Senada dengan American Airlines, United Airlines juga membukukan kerugian sebesar US$1,7 miliar sepanjang kuartal I 2020. Kerugian tersebut adalah yang terbesar bagi maskapai yang berbasis di Chicago itu sejak 2008 lalu. Kuartal II 2020 juga diperkirakan tak banyak berubah. Sejauh ini, maskapai telah memangkas jadwal penerbangan sebesar 90 persen di bulan Mei dan mungkin jumlah yang sama juga berlaku di bulan Juni.

CEO United Oscar Munoz mengatakan pemangkasan jadwal besar-besaran dan pinjaman yang tak sedikit dilakukan semata untuk meningkatkan likuiditas dalam membantu perusahaan bangkit kembali saat industri penerbagan perlahan bangkit, sekalipun ia tak bisa memprediksi kapan momentum tersebut datang.

Banyak Calon Penumpang Tak Pahami Ketentuan Terbang di Masa PSBB, Lion Air Group Hentikan Penerbangan Sementara

Penerbangan domestik dengan syarat dan standar pencegahan Covid-19 telah mulai dijalankan maskapai nasional sejak awal Mei lalu. Namun, bukan perkara mudah untuk bisa terbang di masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ini, mulai dari pemeriksaan bebas Covid-19 dan beragam ketentuan serta protokol kekat yang harus dilalalui calon penumpang, membuat banyak pengguna jasa yang akhirnya malah menelan kerugian.

Baca juga: Mau Naik Pesawat Saat PSBB? Kudu Siap Mati-matian Lakukan Hal Ini

Batal terbang yang diikuti dengan biaya yang dikeluarkan (kerugian), rupanya menjadi beban moral tersendiri bagi pihak maskapai. Berdasarkan kondisi di atas, Lion Air Group yang terdiri dari Lion Air, Wings Air dan Batik Air, lewat siaran pers (27/5/2020) telah memutuskan untuk mengentikan sementara seluruh penerbangan.

“Berdasarkan evaluasi atas pelaksanaan operasional penerbangan sebelumnya, banyak calon penumpang yang tidak dapat melanjutkan perjalanan atau tidak bisa terbang dan harus kembali dengan segala biaya yang telah dikeluarkan (kerugian), hanya karena ketidaktahuan atau ketidakpahaman atas ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi untuk dapat melaksanakan perjalanan dengan pesawat udara,” ujar Danang Mandala Prihantoro, Corporate Communications Strategic Lion Air Group.

Lion Air Group beranggapan masih diperlukan sosialisasi yang lebih intensif agar calon penumpang lebih mengetahui dan memahami secara jelas terkait dengan ketentuan-ketentuan dan persyaratan dokumen yang dibutuhkan untuk rencana bepergian menggunakan pesawat udara. Kondisi saat ini, calon penumpang masih belum sepenuhnya mengetahui dan memahami bagaimana dokumen-dokumen perjalanan dipenuhi dan dimana calon penumpang mendapatkannya.

Atas kondisi yang berkembang, Lion Air Group memutuskan untuk melakukan sosialisasi yang lebih intensif melalui website dan kantor-kantor cabang, serta menghentikan sementara operasional penerbangan selama 5 (lima) hari, yaitu mulai 27 Mei sampai dengan 31 Mei 2020.

Lion Air Group menyebut tetap memfasilitasi bagi calon penumpang yang sudah memiliki atau membeli tiket (issued ticket) dapat melakukan proses pengembalian dana tanpa potongan (full refund) atau perubahan jadwal keberangkatan tanpa tambahan biaya (reschedule) melalui Kantor Pusat dan Kantor Cabang Penjualan Tiket (Ticketing Town Office) Lion Air Group di seluruh kota di Indonesia.

Butuh Kabin Mobil Tambahan untuk Piknik? Kabin Pop-Up CARSULE Mungkin Bisa Jadi Solusi

Selama pandemi Covid-19 berlangsung, nyaris seluruh negara di dunia memberlakukan pembatasan perjalanan, baik parsial maupun total. Masyarakat dipaksa untuk tetap di rumah saja agar upaya otoritas mengendalikan virus Cina tersebut bisa dipercepat. Namun, harga mahal dari semua itu tentu saja hak setiap individu untuk berlibur menjadi tertunda.

Baca juga: Tips Ini Bisa Bantu Hilangkan Udara Panas Dalam Kabin Mobil

Pembatasan perjalanan berminggu-minggu atau berbulan-bulan nyatanya memang terbukti membuat masyarakat rindu berlibur. Namun, ketika tiba masanya untuk pergi berlibur, destinasi wisata manakah yang akan Anda tuju? Lalu, liburan seperti apakah yang akan dijajaki? Bila belum mendapat jawaban atas pertanyaan tersebut, mungkin, tak ada salahnya mencoba Kabin Pop-Up CARSULE sebagai salah satu rencana daftar liburan Anda.

Dikutip dari mashable.com, CARSULE pada dasarnya mirip seperti tenda camping. Hanya saja, desain dan segala fiturnya dibuat dengan menyesuaikan desain mobil. Mengingat fungsinya, maka, tak salah bila CARSULE disebut sebagai kabin tambahan atau kabin portabel sebagai pelengkap pengguna saat berlibur di berbagai destinasi, mulai dari pegunungan, pantai, ataupun taman-taman kota.

Sebagai pelengkap berlibur, tentu dimensinya sudah disesuaikan dengan berbagai kebutuhan melalui penelitian panjang. Misalnya, bentuknya berupa kubik atau kubus memungkinkan seseorang setinggi dua meter berdiri di dalamnya. Tak hanya itu, dengan dimensi lebar seluas dua meter, pengguna juga dapat memasukan berbagai furniture sederhana, seperti kursi dan meja lipat dan bersantai di dalamnya tanpa takut kepanasan atau kehujanan.

Cara memasangnya pun juga mudah. Bila ingin digunakan terpisah dengan mobil atau tidak membuatnya berfungsi sebagai kabin tambahan, cara pemasangannya nyaris sama dengan tenda camping. Namun, bila ingin difungsikan sebagai kabin tambahan, mula-mula, pengguna, baik dengan mobil hatchback, station wagon, mid suv, compact SUV, MPV, mini van, cukup membuka kap belakang terlebih dahulu untuk kemudian dikaitkan untuk memperkuat pondasi.

Dari segi fitur, CARSULE juga tergolong lebih lengkap dari tenda pada umumnya. Misalnya, dari segi desain, selain lebih luas dan fungsional dengan bentuk kubus, tirai empat sisi yang bisa dibuka, dan saringan anti nyamuk di keempat sisi tersebut juga dijamin akan membuat pengguna lebih nyaman untuk mendapatkan semilir angin atau cahaya matahari masuk ke dalam CARSULE tanpa harus menyesuaikan letak atau posisinya ke arah datangnya angin dan cahaya itu sendiri.

Baca juga: Inilah Tips untuk Melarikan Diri Jika Mobil Anda Tenggelam!

Kemudian, dari segi bahan, sekalipun bentuk kubus diragukan dapat menangkal pengguna dari resiko kepanasan atau bahaya ketika hujan, Kabin Pop-Up CARSULE juga tergolong selangkah lebih maju dibanding tenda sejenis lainnya. Dengan fitur UV protective coating dan water resistance, pengguna dijamin tidak akan terganggu dengan derasnya hujan atau teriknya panas matahari.

Setelah selesai digunakan, teknik penyimpanannya pun cukup mudah cengan beberapa kali lipatan saja, tenda seluas 2×2 meter akan berubah dalam sekejap menjadi hanya berukuran 86cm x 86cm x 12cm dan tidak memakan space di dalam bagasi. Dengan berbagai fungsi dan keunggulan tersebut, bagaimana, tertarik mencoba?

Masyarakat Wuhan Pilih Gunakan Sepeda Elektrik untuk Moda Transportasi

Setelah pandemi Covid-19 mereda di Wuhan, bagaimana kehidupan kota itu sekarang? Sepertinya lebih sehat dan masyarakat lebih memilih untuk terus melakukan jarak sosial. Ini terlihat dari melonjaknya pengguna sepeda elektrik sebanyak sepuluh kali lipat dibandingkan sebelum Wuhan dikarantina pada 23 Januari 2020 lalu.

Baca juga: Berjibaku Dua Bulan Lebih, Para Medis Kembali Pulang Setelah Lockdown Wuhan Dicabut

KabarPenumpang.com melansir laman intelligenttransport.com (22/4/2020), melonjaknya jumlah tersebut didapat dari data Hellobike. Hellobike sendiri merupakan layanan share sepeda di Cina yang telah meluncurkan Yungi sebagai model sepeda elektrik baru dan dilengkapi dengan sistem navigasi suara cerdas yang dirancang untuk membantu warga mempertahankan langkah-langkah jarak sosial.

Fitur ini sendiri bisa diaktifkan melalui koneksi Bluetooth dan menawarkan arah rute pengendara sambil tetap fokus di jalan. Bahkan bisa dikatakan sepeda elektrik ini menjadi moda transportasi yang populer dikalangan warga kota sat ini. Model baru ini dilengkapi dengan sistem navigasi satelit Beidou dan chipset yang dirancang untuk memberikan navigasi dan penentuan posisi yang tepat.

Sistem ini bersama dengan GPS dan WiFi bertujuan untuk memungkinkan staf menentukan dengan tepat sepeda elektrik yang rusak melalui peta digital dan secara otomatis menonaktifkan fungsi buka kunci ketika volume baterai di bawah 30 persen. Hal ini bertujuan untuk mengurangi risiko kegagalan atau terjadinya vandalisme.

“Mode perjalanan bersama, bersama dengan kemajuan teknologi dan platform online, telah membentuk kembali kebiasaan bepergian di Cina. Berbagi kendaraan roda dua mengurangi kemacetan lalu lintas dan mengurangi tekanan transportasi umum, memberi pengguna cara yang nyaman untuk pergi dari stasiun kereta bawah tanah ke kantor mereka ”, kata Li Kaizhu, salah satu pendiri dan Presiden Hellobike.

Kaizhu mengatakan, bisnis share sepeda elektrik ini masih menghadapi masalah perawatan sepeda dan parkir terbatas. Menurutnya salah satu tantangan adalah pertukaran baterai sepeda elektrik yang efisien.

Baca juga: Wujudkan SmartCityBike, Slovakia Hadirkan Sepeda Elektrik di Kereta Bawah Tanah

“Dalam menghadapi tantangan industri, kami berusaha untuk meningkatkan teknologi untuk sepeda elektrik, menawarkan model-model baru, baterai yang lebih baik dan fitur yang lebih cerdas untuk masa depan mobilitas bersama. Di Hellobike, kami terus menyelaraskan misi kami untuk memberi manfaat bagi kota kami dan memberi masyarakat kami akses ke transportasi yang efisien dan ramah lingkungan,” jelas Kizhu.

Saat ini, sekitar satu miliar warga Cina melakukan perjalanan dengan kendaraan roda dua setiap hari, 700 juta di antaranya dilakukan dengan sepeda elektrik.