Intip Secret Airplane Bedrooms, Tempat Awak Kabin Melepas Penat

Pernahkah terlintas di benak Anda tentang bagaimana kru pesawat, baik pramugari maupun pilot, bisa kuat melaksanakan perjalanan jauh tanpa kelelahan terlihat dari wajah mereka? Apa mereka menggunakan obat? Atau mereka menghabiskan sisa waktunya selama di darat untuk beristirahat? Tentu akan muncul banyak spekulasi mengenai pertanyaan sederhana seperti ini. Pada dasarnya, mereka semua adalah manusia biasa yang bisa saja kelelahan karena tugas, apalagi jika dihadapkan pada penerbangan langsung jarak jauh.

Baca juga: Punya Standar Tinggi, Inilah Rasanya Jadi Awak Kabin Emirates

Sumber: wittyfeed.com
Sumber: wittyfeed.com

Berangkat dari persepsi bahwa performa awak udara harus segar selama penerbangan, maka manufaktur pesawat terbang, atas masukan dari pihak maskapai membuat sebuah ruang tersembunyi tempat flight attendant melepas penat.

Ruang rahasia ini dapat dijumpai di beberapa pesawat badang lebar Boeing 777 dan Boeing 787 Dreamliner dengan rute perjalanan jauh, tentu saja ruangan ini bukan untuk umum, hanya petugas saja yang boleh masuk ke sana. Ruangan tersembunyi ini berada di belakang cockpit dan di atas kelas utama. Terdapat juga tangga rahasia untuk naik ke ruangan ini. Untuk mengakses tangga ini, dibutuhkan kode khusus yang hanya diketahui oleh para kru pesawat. Pintu masuk menuju ruang rahasia ini dapat kita jumpai di belakang bangku paling ujung dari suatu kabin.

Ketika kode tersebut telah dimasukkan, maka pintu menuju tangga rahasia untuk sampai di ruang rahasia pun terbuka. Barisan anak tangga dengan kemiringan lebih dari 45 derajat pun langsung menyambut siapapun yang membukanya. Sesampainya di atas, Anda tidak akan menemukan sesuatu yang mewah, hanyalah sebuah lorong panjang dengan tempat tidur bertirai pada kedua sisinya. Sepintas, tempat ini terlihat seperti tempat penyimpanan barang penumpang.

Sumber: blogcdn.com
Sumber: blogcdn.com

Tidak semua ruangan rahasia ini memiliki lokasi yang sama di setiap pesawat. Contohnya pada Boeing 787 Dreamliner, terdapat 2 ruangan rahasia pada bagian depan dan belakangnya. Ruangan rahasia yang berada di depan diperuntukan untuk pilot dan co-pilot. Terdapat 2 kasur yang bersebelahan dan terpisah oleh tirai dan sebuah kursi santai yang menghadap ke kasur. Ruangan istirahat pilot tidaklah begitu luas, hanya serukuran 2 kasur tersebut, berbeda dengan ruangan istirahat untuk pramugari.

Sumber: Kompas.com
Sumber: Kompas.com

Ruang istirahat untuk pramugari lebih luas daripada ruang istirahat pilot, mengingat jumlah pramugari yang biasanya lebih banyak dari pilot dalam satu penerbangan. Ruang istirahat pramugari yang berada di bagian belakang pesawat ini berisikan 5 buah kasur lengkap dengan perlengkapan istirahat lainnya, seperti bantal dan selimut. Kedua ruang rahasia ini cukup nyaman untuk para kru pesawat yang kelelahan. Mereka bisa beristirahat sambil bercengkrama satu dengan lainnya, dan kalau dihubungkan dengan penyekat antar kasur yang menggunakan tirai, alasan untuk saling bercengkrama cukuplah masuk akal.

Lain halnya dengan Lufthansa A380, pesawat double deck ini memiliki ruang istirahat pada bagian bawah kabin penumpang. Sama seperti ruang rahasia lainnya, butuh kode khusus untuk mengakses ke ruangan ini. Interior di dalamnya pun berbeda dengan Boeing 787 Dreamliner. Ruang istirahat yang dimiliki oleh Lufthansa A380 bisa dibilang cukup besar, mengingat di dalamnya terdapat 12 kasur tumpuk 2 yang tersebar di 2 lorong kecil. Kasur pada Lufthansa A380 mirip sebuah kapsul dengan tirai sebagai penutupnya.

Baca juga: Demi Efisiensi, Garuda Indonesia Hapus Jatah Menginap Awak Kabin di Rute Sydney dan Melbourne

Terdapat juga kamar mandi lengkap dengan kloset serta wastafel yang terletak persis di sebelah tangga ruang rahasia ini. Terdapat pula sebuah monitor berukuran mini yang menunjukkan suhu ruangan rahasia tersebut, serta intercom yang menghubungkan satu bagian di pesawat dengan bagian lainnya.

Trans-Siberia, Kereta Yang Mengubah Takdir Cinta

Kereta Api Trans-Siberia menjadi sebuah tanda cinta bagi Ann O’Loughlin, seorang jurnalis dan penulis buku asal Irlandia yang melintasi Uni Soviet pada 30 tahun yang lalu. Sebenarnya, Ann memean tiket kereta Rossiyan untuk melakukan perjalanan dari barat menuju timur melalui zona waktu yang berbeda sekaligus mempraktikkan bahasa Rusianya.

Baca juga: Jalur Kereta Trans-Siberia Capai Usia 100 Tahun

Dirangkum KabarPenumpang.com dari theguardian.com, awalnya Ann hanya berharp dalam perjalanannya menjadi sebuah petualangan karena bertemu dengan orang-orang dari budaya yang berbeda. Saat itu juga dirinya tidak berharap menemukan pasangan dalam perjalanan, tetapi takdir berkata lain, dalam perjalanan selama empat hari yang melalui Rusia menuju Mongolia, Ann bertemu John.

Ann O’Loughlin 30 tahun lalu saat pertama kali merasakan Trans-Siberia dan bertemu John (www.theguardian.com)

Sebenarnya, antara John dan Ann tidak pernah berpikir akan jatuh cinta, tetapi takdir berkata lain, dalam perjalanan sepanjang 7.854 km dan berada di kompartemen dalam kereta yang bersebelahan membuat cinta tumbuh diantara keduaya. Seorang pria Inggris dan wanita Irlandia ini dalam perjalanan ke Irkutsk mulai menikmati perjalanan kereta api dan menuai keindahan pemadangan alamnya.

Baca juga: Gelar Expo Berskala Internasional, Kazakhstan dan Uzbekistan Luncurkan Kereta Lintas Perbatasan

Di kereta api Trans Siberia, kompartemen dalam gerbong tak begitu besar dan akan terasa nyaman untuk merasakan keindahan alam yang dilalui. Dengan duduk berdampingan, Ann dan John saling berkenalan dan membuat mereka mengatakan Trans-Siberia menjadi keret cinta. Menurut Ann, perjalanannya pada 30 tahun lalu, bukan sekedar perjalanan sekali seumur hidup, melainkan perjalanan yang mengubah hidup.

John dan Ann yang menjadikan Kereta Api Transs-Siberia menjadi kereta cinta (The Guardian)

Baca juga: Enam Kereta dengan Perjalanan Paling Romantis Bersama Pasangan

Jalur Trans Siberia sendiri dibangun selama 13 tahun dengan nama awal Jalan Agung Siberia, yang mengitari Danau Baikal dan terbentang dari Moskwa hingga Vladivostok di ujung timur Rusia. Kereta pertama yang beroperasi melalui jalur ini tahun 1893.

Sebenarnya, jalur Trans Siberia sendiri dibuat untuk mengembangkan kekaisaran Rusia. Trans Siberia sendiri bukan hanya untuk penumpang kelas atas, tetapi untuk penumpang kelas bawah atau pada gerbong kelas tiga hanya sesak dengan barang bawaan yang penuh, sedangkan di kelas satu terasa begitu nyaman.

Baca juga: Tengok Kemewahan “Venice Simplon – Orient Express, Kereta dengan Tarif Mulai Rp44 Juta

Jalur ini juga sudah ada selama satu abad lebih dan masih merupakan satu-satunya jalur darat yang bisa menghubungkan seluruh penjuru negeri besar itu. Hingga kini jalur kereta api Trans-Siberia masih menjadi tulang punggung perekonomian dan transportasi di Rusia. Saat ini, kereta api Trans-Siberia digunakan mengangkut lebih dari 200.000 kontainer barang menuju Eropa dan jumlah ini terus bertambah seiring bertambahnya kapasitas pelabuhan.

Serba-Serbi Trem San Francisco yang Melegenda bin Ikonik

Selain Jembatan Golden Gate dan Penjara Alcatraz, apa yang membuat kota San Francisco di Amerika Serikat mendunia? Ya, jaringan tremnya! Jaringan kereta trem di kota ini sudah menjadi salah satu ikon yang melekat dari masa ke masa. Ketika di awal kemunculannya pada tahun 1873 silam, trem San Francisco berfungsi sebagai angkutan penumpang, lalu bagaimana kabarnya kini? Apakah masih menjadi tulang punggung transportasi San Francisco?

Baca Juga: Ternyata, Trem Listrik di Jakarta Lebih Dulu Ketimbang di Belanda

Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, adalah Andrew Smith Hallidie, orang pertama yang mengagas hadirnya trem sebagai moda transportasi baru di kota San Francisco pada tahun 1869. Ide tersebut dilatarbelakangi oleh kecelakaan trem yang disaksikan langsung oleh Andrew, dimana pada masa itu, trem masih ditarik oleh kuda.

Empat tahun berselang sejak ide tersebut muncul, tepatnya pada 1 September 1873, layanan trem pertama di San Francisco resmi mengular di Clay Street Hill Railroad. Tidak hanya berperan sebagai penggagas, Adam pun mengambil peran sebagai promotor pada jalur perdana trem di kota ini. Walaupun masih terhitung sangat baru kala itu, namun kehadiran trem yang digagas oleh Adam ternyata meraup kesuksesan dan menjadi template untuk cable car system lain yang ada di San Francisco.

Kesuksesan pada jalur perdananya berbuah manis mana kala jalur-jalut trem baru bermunculan. Sebut saja Sutter Street Railway yang dibuka pada tahun 1877, California Street Cable Railroad (Cal Cable) yang mulai beroperasi pada 1878, Geary Street, Park & Ocean Railway yang mulai mengular pada tahun 1880, dan Market Street Cable Railway yang beroperasi sejak 1883.

Trem San Francisco Jaman Doeloe. Sumber: wikipedia

Seiring berjalannya waktu dan perkembangan jaman, sistem trem di San Francisco pun turut terseret arus evolusi. Pergantian moda menjadi lebih modern sudah bukan menjadi pemberitaan aneh kala itu. Pertanyaannya, ketika dulu trem berperan sebagai alat angkut penumpang, lalu bagaimanakah kabar dari kereta yang mengular berdampingan dengan kendaraan lain ini? Jawabannya sederhana, trem kini sudah beralih fungsi menjadi alat angkut wisatawan!

Ya, saking melegendanya kendaraan ini, sampai-sampai dijadikan ikon San Francisco, sangat sayang sekali rasanya jika trem dihapuskan begitu saja dari sistem transportasi di kota ini. Maka dari itu, untuk melestarikan kedigdayaan trem pada masa jayanya dulu, San Francisco Municipal Transportation Agency selaku pemilik layanan trem ini mengabadikannya sebagai kereta wisata.

Trem San Francisco Ketika Menanjak. Sumber: pinterest

Baca Juga: Ternyata, Tidak Hanya Bus yang Bertingkat, Trem Juga!

Patut diketahui, kota San Francisco ini sendiri tidaklah seperti kota-kota lain di Amerika Serikat yang didominasi oleh bidang landai, melainkan dipenuhi oleh tanjakkan dan turunan. Jadi, jangan kaget semisal trem San Francisco yang Anda tumpangi akan menempuh medan curam yang mencapai gradien 30 derajat! Selain unik dan sarat akan nilai sejarah, ternyata trem-trem di San Francisco ini juga terhitung handal dan bandel, ya!

Zagreb Funicular – Kereta yang Hanya Ditempuh Satu Menit

Zagreb merupakan ibukota dari Kroasia yang memiliki penduduk sebanyak 973.667 jiwa pada tahun 2005 lalu. Berada di antara lereng Gunung Medvednica dan Sungai Sava dengan ketinggian 120 meter diatas permukaan laut.

Baca juga: 150 Tahun Trem “Cog” Masih Beroperasi ke Puncak Gunung Washington

Kota ini ternyata memiliki sarana transportasi umum tertua dan pertama di Zagreb. Apa sih transportasi tertuanya? Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, transportasi ini berupa kereta kabel dengan panjang jalur 66 meter. Bisa dikatakan ini adalah kereta kabel terpendek di dunia.

Disebut transportasi tertua dan pertama di Zagreb karena berasal dari tahun 1890-an. Bahkan belum lama ini Zagreb Funicular terpilih menjadi destinasi terbaik di Eropa karena merupakan salah satu yang indah.

Uniknya Zagreb Funicular ini sama sekali tidak pernah mengalami kecelakaan meski sudah ada berabad-abad. Transportasi ini sendiri menghubungkan Jalan Ilica (Donji Grad) dengan Strossmayerovo šetalište (promenade Strossmayer) ke utara (Gornji Grad).

Kereta kabel yang satu ini mungkin juga yang tercepat dalam perjalanannya, sebab dengan panjang 66 meter, hanya dihubungkan dalam waktu satu menit. Zagreb Funicular sendiri berangkat setiap sepuluh menit yang memulai perjalanannya 06.30 pagi dan terakhir di 22.00 malam waktu setempat.

Waktu pertama beroperasi, kereta ini dioperasikan dengan mesin uap serta memiliki tekanan yang sangat rendah serta sering diperbaiki hingga hampir tidak beroperasi separuh waktu. Kemudian tahun 1934 tenaga uap mulai digantikan dengan mesin listrik dan tahun 1969, pengoperasiannya ditangguhkan sementara waktu karena alasan keamanan di mana sistem sudah usang.

Hingga akhirnya direnovasi selama empat tahun setengah dan kembali dioperasikan pada 26 Juli 1974. Kereta ini memiliki dua dua mobil yang masing-masing bisa berisi 28 penumpang dengan 16 kursi dan 12 tempat untuk berdiri. Dengan menempuh waktu satu menit setiap perjalannya, kecepatan kereta kabel ini 1,5 meter per detik.

Bisa dikatakan, Zagreb Funicular bisa dikatakan museum yang beroperasi karena indah dan terawat dengan baik. Bahkan ini juga menjadi simbol kota Zagreb. Zagreb Funicular dilengkapi dengan platform pengangkat hidrolik dan akses jalan. Ini adalah pilihan bagus bagi pengunjung ke Kota Atas.

Baca juga: Jalur Kereta Terpendek di Dunia, Ternyata ada di Vatikan

Stasiun Kota Bawah terletak di jalan Tomićeva, beberapa langkah dari Alun-alun Jelačić. Stasiun Kota Atas berada di bawah Menara Lotrščak. Tiket dapat dibeli oleh pengemudi atau di kios koran mana pun. Untuk dewasa 4 HRK atau Kroasia Kuna sekitar Rp8400, sedangkan untuk anak-anak hingga usia tujuh tahun gratis alias tidak membayar.

NEC Hadirkan “Waiting Time Forecast System” di Bandara Haneda

Pemeriksaan pada keamanan bandara biasanya cukup mengantri, apalagi ketika bepergian keluar negeri. Penumpang pasti akan melintas alat deteksi dan tas akan masuk dalam mesin pemindai. Biasanya yang membuat lama itu karena penumpang membawa sesuatu yang berbahaya dan isi tas yang tidak sesuai keamanan sehingga harus ada pemeriksaan lebih lanjut.

Baca juga: Manchester, Bandara dengan Waktu Pemeriksaan Keamanan Paling Lama di Inggris

Untuk menghindari antrian yang cukup panjang dalam pemeriksaan keamanan, NEC menyediakan Waiting Time Forecast System di Bandara Internasional Haneda, Tokyo. Penyediaan Waiting Time Forecast System sendiri untuk menganalisis dan memvisualisasikan status antrian dalam inspeksi keamanan bandara di Terminal penumpang Bandara Haneda.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman benzinga.com (12/12/2019), sistem ini ternyata sudah mulai beroperasi sejak Oktober 2019 kemarin dan menyediakan perkiraan waktu tunggu yang sepenuhnya otomatis. Sistem ini juga menggabungkan teknologi analisis perilaku kerumunan di mana mendeteksi kemacetan dalam video dan portofolio melalui teknologi AI terdepan NEC serta sensor stereo visual 3D yang mampu menangkap pergerakan orang pada layar.

Teknologi ini sendiri mengumpulkan dan menganalisis informasi tentang jumlah penumpang serta memvisualisasikan status kemacetan secara real time untuk memperkirakan waktu tunggu. Sehingga kehadiran sistem ini diharapkan mampu meningkatkan kenyamanan bagi penumpang yang berangkat dan untuk meningkatkan kinerja operasi pesawat.

Bahkan di masa depan, NEC bertujuan untuk meningkatkan keakuratan prakiraan yang dimungkinkan oleh AI dan memperluas kemampuan mereka seperti memperkirakan waktu beberapa jam sebelumnya.

“Selain sistem bandara, NEC akan terus mengembangkan solusi dan layanan berbasis TIK canggih, termasuk teknologi analisis video, untuk pengenalan ke stadion, taman hiburan, dan fasilitas terkemuka lainnya.NEC memposisikan bisnis keselamatannya sebagai mesin untuk pertumbuhan global, dan akan terus mempromosikan inisiatif NEC Safer Cities (3) untuk membangun kota pintar berdasarkan teknologi eksklusif yang mendukung keselamatan, keamanan dan berkontribusi pada penciptaan masyarakat yang makmur,” kata Kazuo Watanabe, General Manager, Smart Infrastructure Division, NEC Corporation.

Baca juga: Ikuti Tahapan Ini, Proses Check In dan Pemeriksaan Keamanan di Bandara Bakal Mulus

Diketahui, NEC Corporation adalah pemimpin dalam integrasi TI dan teknologi jaringan yang menguntungkan bisnis dan orang-orang di seluruh dunia. Grup NEC secara global menyediakan “Solusi untuk Masyarakat” yang mempromosikan keselamatan, efisiensi keamanan, dan keadilan masyarakat. Di bawah pesan perusahaan perusahaan, “Menata dunia yang lebih cerah,” NEC bertujuan untuk membantu memecahkan berbagai masalah yang menantang dan untuk menciptakan nilai sosial baru untuk dunia yang berubah di masa depan.

Tersebut Nama “Tauberes” oleh Menteri BUMN, Bikin Manajemen Garuda Indonesia Beberes

Imbas kasus penyelundupan motor Harley Davidson di pesawat Airbus A330-900NEO Garuda Indonesia tak hanya berimbas pada pergantian pucuk pimpinan di tubuh maskapai plat merah tersebut, rupanya Menteri BUMN Erick Thohir berupaya melakukan upaya penataan manajemen dan struktur usaha di Garuda Indonesia Group. Seperti beberapa hari lalu ada sesuatu yang bikin geger, lantaran diketahui ada nama PT Garuda Tauberes Indonesia.

Baca juga: Gantikan Ari Askhara, Fuad Rizal Resmi Menjabat Plt Direktur Utama Garuda Indonesia

Seperti dikutip dari detik.com (13/12/2019), Menteri BUMN Erick Thohir mengungkapkan ada cucu usaha dari PT Garuda Indonesia yang tak jelas bergerak di bidang apa. Nama cucu usaha itu ialah PT Garuda Tauberes Indonesia (GTI).

“Dan yang menarik kalau di situ ada juga yang mohon maaf menggelitik. Ada cucu dari perusahaan Garuda yang namanya Garuda Tauberes Indonesia. Nggak tahu bergerak di bidang apa,” kata Erick Thohir di kantor pusat Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jakarta, Jumat (13/12/2019). Erick lantas tertawa kencang saat kembali menyebut nama cucu usaha Garuda Indonesia tersebut. “PT GTI,” ulang Erick sambil terbahak kencang.

Setelah ditelusuri lebih lanjut, PT GTI adalah berstatus sebagai cucu perusahaan PT Garuda Indonesia. Garuda Tauberes Indonesia diketahui dirilis pada 11 September 2019. Garuda Tauberes adalah aplikasi logistik digital yang diklaim menjadi yang pertama di Indonesia menghubungkan layanan kargo udara dengan agen pengiriman barang kepada masyarakat (end customers).

Aplikasi Tauberes merupakan platform e-commerce yang menyediakan jasa pemesanan logistik, baik itu untuk kurir, air cargo gateway dan payment yang dikembangkan oleh PT GTI. Di dalam aplikasi ini terdapat tiga fitur utama, yaitu kirim paket, kargo udara, dan belanja online.

Mengutip laman resmi perusahaan, GTI beralamat di Gedung Garuda Indonesia Gunung Sahari Jalan Gunung Sahari Raya No. 52 Jakarta 10610.

Berangkat dari tersebutnya nama PT GTI oleh Menteri BUMN, lewat siaran pers pada 13 Desember lalu, manajemen PT Garuda Indonesia mendukung sepenuhnya Keputusan Menteri BUMN terkait Penataan Anak dan Cucu Perusahaan sesuai Keputusan Menteri BUMN Nomor SK-315/MBU/12/2019 tentang “Penataan Anak Perusahaan atau Perusahaan Patungan di Lingkungan Badan Usaha Milik Negara“ yang ditetapkan tanggal 12 Desember 2019 lalu.

Saat ini PT. Garuda Indonesia memiliki 7 (tujuh) anak perusahaan dan 19 (Sembilan belas) cucu perusahaan dengan berbagai bidang usaha seperti Low Cost Carrier, Ground Handling, Inflight Catering, Maintenance Facility, Jasa Teknologi Informasi, Jasa Reservasi, Perhotelan, Transportasi Darat, E-commerce & Market Place, Jasa Expedisi Cargo, Tour & Travel.

Baca juga: Fokus di Wilayah Sulawesi, Maluku dan Papua, Inilah Tantangan Operasional Drone Kargo Garuda Indonesia

Plt. Direktur Utama Fuad Rizal menyampaikan bahwa PT Garuda Indonesia bersama Dewan Komisaris akan melakukan review serta evaluasi secara menyeluruh terhadap keberadaan anak dan cucu Perusahaan tersebut dan akan lebih memfokuskan bisnis anak usaha yang menunjang bisnis utama yaitu penerbangan. Poin lain yang juga menjadi perhatian Menteri Erick adalah soal rangkap jabatan direksi PT Garuda Indonesia sebagai komisaris di anak dan cucu perusahaan.

Ssstt..! Ada Robot Polisi Lalu Lintas di Bandara Changi

Polisi melihat pelanggaran tapi tak memberikan surat tilang pada si pelanggar? Ya, inilah yang dilakukan sebuah robot polisi lalu lintas yang tengah beredar di Bandara Changi Singapura yang sedang dalam masa uji coba. Robot berwarna oranye dan hitam ini adalah milik Certis yang merupakan penyedia layanan keamanan di Bandara Changi.

Baca juga: Setelah X-Ray, Kini Giliran Robot Patroli Hadir di Stasiun MRT Singapura

Robot setinggi satu meter ini terlihat dengan tulisan Traffic Enforcement in Progress. Saat melakukan tugasnya, robot tersebut berhenti dan mengarahkan kameranya ke mobil yang tengah menunggu di area yang tak seharusnya digunakan untuk parkir atau hanya menurunkan dan menaikkan penumpang dan robot itu memflash tanda “Tidak Ada Parkir”.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman straitstimes.com (4/6/2019), robot ini sendiri memiliki tugas melakukan patroli tetapi tidak mengeluarkan surat peringatan atau tilang.

“Sebagai bagian dari upaya berkelanjutan kami untuk menata kembali konsep baru dalam operasi keamanan canggih, Certis telah melakukan uji coba di Bandara Changi dalam dua minggu terakhir,” ujar seorang juru bicara Certis.

Juru bicara itu menambahkan, robot tersebut dijalankan secara otonom dan membantu untuk menghadirkan arus lalu lintas yang lancar. Bahkan jika memungkinkan, robot tersebut akan mengambil beberapa bagian tugas dari petugas Certis sehingga bisa diperbantukan ditugas lainnya.

Wakil presiden senior perencanaan perusahaan, komunikasi kelompok dan pemasaran, Tan Toi Chia mengatakan, di Bandara Changi memiliki empat ribu staf dan pemanfaatan teknologi sangat penting. Di Pusat Operasi Terpadu Certis di Terminal 2, misalnya, jaringan ribuan kamera membantu staf mengawasi 24/7 di terminal penumpang, perimeter bandara dan Airport Boulevard.

“Bahkan ketika teknologi terus berkembang dan robot melakukan beberapa fungsi keamanan, “sentuhan manusia akan selalu diperlukan”, ujar Tan.

“Teknologi akan membantu kita melakukan sesuatu dengan lebih baik, lebih cepat dan lebih efektif, tetapi itu tidak akan pernah menggantikan manusia 100 persen,” katanya.

Uji coba robot adalah inisiatif terbaru di Bandara Changi yang telah beralih ke teknologi untuk beroperasi lebih efisien dan mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja. Di semua operasi, mulai dari check in penumpang hingga penanganan bagasi dan kargo, serta layanan pembersihan, teknologi dan sistem baru telah diluncurkan dalam beberapa tahun terakhir.

Baca juga: Terminal 4 Bandara Changi Kini Dilengkapi 14 Pemindai Tubuh dengan Teknologi X-CT Scan

Misalnya, lebih dari tujuh dari sepuluh penumpang yang berangkat sekarang memiliki akses ke prakarsa Changi’s Fast and Seamless Travel. Ini memungkinkan mereka untuk memilih check in mandiri, penandaan tas, dan naik.

Salip Ketertinggalan, Bandara Soekarno-Hatta Pekerjakan Robot Canggih

Jika selama ini Anda hanya membaca berita tentang era robotika dari bandara-bandara di luar negeri saja, kini Indonesia juga telah memiliki salah satu dari tenaga yang diproyeksikan untuk mengganti tenaga manusia ini. Adalah Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang sudah mulai mempekerjakan robot di Terminal 3 miliknya. Tercatat sejak bulan Agustus lalu, Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta sudah mulai mengoperasikan robot pembersih yang bernama Robotic Scrubber Drier (RSD). Namun tidak hanya RSD saja yang dioperasikan oleh Angkasa Pura II, melainkan ada juga Robot Dilo.

Baca Juga: Geser Yang “Manual,” Selamat Datang Era Robotika di Bandara

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Robot Dilo ini lebih menyandang peran sebagai pelayan calon penumpang. Selayaknya berkomunikasi dengan manusia, Robot Dilo ini juga bisa diajak berinteraksi semisal Anda tersesat atau memiliki pertanyaan.

“Robot ini dapat membantu penumpang pesawat memberikan petunjuk atau informasi seputar bandara. Lebih dari itu, Dilo juga memiliki fitur multimedia (musik, video, dokumen) sehingga dapat juga menghibur traveler di terminal,” kata Agus Haryadi, Executive General Manager Bandara Soekarno-Hatta.

Siapa sangka, nama robot ini merupakan singkatan dari Digital Lounge. Digital Lounge sendiri merupakan fasilitas terbaru yang mampu berinterasi dengan penumpang seperti memberikan petunjuk seputar informasi di bandara. Baik tentang jadwal keberangkatan hingga keterlambatan pesawat.

Bagi Anda yang hendak bertemu dengan Robot Dilo ini, Anda cukup bertolak ke area Digital Lounge dan di sana Anda akan melihat sebuah robot mini yang mondar-mandir guna mencari penumpang yang membutuhkan bantuannya. Sudah barang tentu kehadirannya mencuri perhatian banyak orang, terutama bagi anak kecil yang ‘kepo’ dengan teman main barunya itu.

Baca Juga: Ini Dia Troika! Robot Canggih di Bandara Incheon, Korea Selatan

Guna mengobati rasa penasaran, kontributor KabarPenumpang.com mencoba untuk berkeliling di sekitaran Terminal 3 untuk mencari keberadaan dari Robot Dilo ini, namun benar apa yang sudah disebutkan di atas, Robot Dilo hanya ‘patroli’ di sekitaran Digital Lounge saja.

Pilot Salah Pilih Landasan, Tabrakan Maut Nyaris Terjadi di Bandara JFK, New York

Sebuah pesawat narrow body jenis Airbus A320 milik maskapai asal Meksiko, Volaris dilaporkan belum lama ini hampir mengalami insiden maut di Bandara John F Kennedy (JFK), New York. Insiden maut ini terjadi lantaran pesawat yang melayani rute Meksiko – Amerika Serikat tersebut nyaris bertabrakan di landasan dengan pesawat lain milik Delta Airlines.

Peristiwa tersebut terjadi lantaran Airbus A320 Volaris salah memilih landasan untuk mendarat. Kemudian pengendali lalu lintas udara di bandara tersibuk di New York tersebut mencegah sebuah pesawat mendarat di landasan. Saat itu diketahui pesawat Delta dengan nomor penerbangan 4231 bersiap berangkat di landasan pacu 13 JFK International Airport saat Volaris 880 tiba dari Meksiko yang akan mendarat di landasan yang sama.

Baca juga: Lagi, Insiden Drone Tabrak Pesawat Komersial Kembali Terulang

KabarPenumpang.com melansir dari laman telegraph.co.uk (7/12/2017), pilot Delta melihat adanya pesawat yang mendekat dan menginformasikannya kepada kontrol lalu lintas udara bandara JFK. Kemudian, pihak pengendali lalu lintas mengatakan kepada pilot Delta untuk membatalkan rencana lepas landasnya dan segera meninggalkan landasan pacu.

Tak hanya itu pihak pengendali lalu lintas udara bandara JFK juga memberitahu kepada pilot Volaris bahwa mereka berada di landasan pacu yang salah. “Anda berada di landasan yang salah,” ujar pengendali lalu lintas udara tersebut. Volaris 880 kemudian berputar-putar, berbelok ke kiri menuju landasan nomor 100.

Adanya pemberitahuan ini membuat pilot kemudian membatalkan pendaratan awal, berputar dan akhirnya pada usaha pendaratan kedua berhasil mendarat dengan selamat. Selain itu penerbangan Delta Airlines tujuan Washington juga berhasil lepas landas.

Untungnya kejadian ini tidak mengakibatkan adanya korban. Atas kejadian tersebut, maskapai penerbangan murah (Low Cost Carrier) asal Meksiko ini mengeluarkan sebuah pernyataan setelah kejadian tersebut. “Volaris akan melakukan penyelidikan untuk menentukan faktor-faktor yang menyebabkan kejadian ini. Keamanan penumpang dan kru kami adalah prioritas tertinggi kami,” ujar pihak Volaris melalui sebuah pernyataan.

Pada bulan Juli lalu, sebuah pesawat Air Canada berbaris mendarat di sebuah taxiway yang sibuk dimana empat pesawat sedang menunggu sebelum pengendali lalu lintas udara memberitahu awak kapal untuk menarik dan berputar. Tak hanya itu, Airbus A320 telah didipindahkan untuk mendarat namun pilot secara tidak sengaja menavigasi ke arah taxiway paralel dan bukan landasan pacu yang seharusnya.

Baca juga: Tingkatkan Efisiensi Penerbangan, Airnav Perkenalkan Aplikasi Oasis

“Jika memang benar, apa yang mungkin terjadi mendekati bencana penerbangan terbesar dalam sejarah,”ujar Ross Aimer, Pensiunan kapten United Airlines yang sekarang menjadi CEO Aero Consulting Experts.

Boeing 737-800 dan Bombardier CRJ-1000 Garuda Indonesia Nyaris Tabrakan di Bandara Soekarno-Hatta

Sebuah kecelakaan besar nyaris saja terjad di Bandara Soekarno-Hatta pada Kamis, 12 Desember 2019, pukuk 10.26 WIB, pangkal musababnya diduga salah satu pilot salah memahami perintah atau petunjuk dari petugas ATC (Air Traffic Control), sehingga dua pesawat Garuda Indonesia yang diketahui dengan nomer penerbangan GA-649 dan GA-264 saling ‘berhadapan’ dalam satu runway.

Baca juga: Tak Hanya Tabrak Tiang, Pesawat Juga Saling Bertabrakan di Apron dan Landas Pacu

Diketahui, kedua pesawat Garuda Indonesia yang saling berhadap-hadapan adalah nomor penerbangan GA649 (PK-GMH) rute Ternate (TTE) – Bandara Soekarno-Hatta (CGK) dengan pesawat GA246 rute Bandara Soekarno-Hatta (CGK) – Banyuwangi (BWX). Persinya pesawat GA649 (PK-GRR) dari Ternate baru saja mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, sementara GA246 hendak menuju landas pacu untuk take off.

Meski tidak mengganggu jadwal penerbangan di bandara tersibuk di Indonesia ini, namun investigasi langsung dijalankan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara. Dalam siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com (13/12/2019), Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Polana B. Pramesti, menjelaskan bahwa insiden salah taxi Pesawat Garuda Indonesia di Bandara Soekarno Hatta akan ditindaklanjuti dengan dilakukan investigasi lanjut dengan memanggil pilot dan petugas ATC yang bertugas.

Bila ditelusuri lewat situs flightradar24.com, diketahui jenis pesawat yang terlibat pada insiden tersebut, GA649 (PK-GMH) merupakan Boeing 737-800, sementara GA649 (PK-GRR) adalah pesawat Bombardier CRJ1000ER, yaitu jenis pesawat yang kabarnya ingin dijual oleh Garuda Indonesia.

Berdasarkan laporan yang diterima, GA-649 landing pada Runway RWY07L dan diarahkan oleh petugas ATC untuk masuk ke NC4 dan NP1, kemudian holdshort pada NC3, namun kemudian pilot masuk ke NP2. Pada saat yang bersamaan, pesawat Garuda Indonesia GA-264 telah berada di Taxiway NP2, sehingga menyebabkan kedua pesawat tersebut berada pada kondisi berhadapan (head on).

Kepala Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah I Soekarno Hatta, Herson, memastikan bahwa operasional penerbangan di Bandar Udara Soekarno Hatta tidak terganggu pasca insiden Taxiway Incursion.

Baca juga: Garuda Indonesia Berencana Jual CRJ1000, Ternyata Ini Alasannya

“Dapat dipastikan, operasional penerbangan, pasca insiden salah taxi atau head on pesawat Garuda Indonesia, tidak terganggu. Saat ini, kami sedang meminta data dan melakukan investigasi lanjut,” jelas Herson.

Pada kejadian tersebut, pesawat terbang GA-649 dilakukan towing keluar dari taxiway hingga operasional bandar udara berjalan normal. Tidak terjadi kerusakan apapun pada kedua pesawat dan seluruh penumpang selamat.