Irish Rail Larang Gunakan ‘Reusable Cups’ Kembali Demi Kesehatan dan Keselamatan

Menggunakan gelas yang dapat digunakan (reusable cups) lagi sepertinya lebih baik dibandingkan dengan gelas kertas yang sekali pakai buang. Selain lebih hemat ini juga mengurangi limbah sampah. Namun Irish Rail melarang adanya penggunaan gelas yang digunakan kembali demi kesehatan dan keselamat staf serta penumpang. Hal ini kemudian membuat marah para penumpang atas penolakan perusahaan untuk mengizinkan menggunakan gelas yang dapat digunakan kembali pada layanan kereta api mereka.

Baca juga: Virgin Trains Masih Gunakan Gelas kertas Daur Ulang

“Kami saat ini tidak dapat mengakomodasi penumpang untuk menyimpan gelas di layanan kami. ini karena masalah kesehatan dan keselamatan staf serta fakta terbatasnya pasokan air pada layanan kereta api,” kata juru bicara Irsh Rail, Jane Cregan yang dikutip KabarPenumpang.com dari irishtimes.com (16/12/2019).

Seorang penumpang di kereta api dari Cork ke Dublin mengatakan, petugas katering mengukur minuman panas kedalam sekali pakai yang kemudian ditransfer ke gelas sekali pakai milik mereka. Sedangkan penumpang lain mengatakan petugas mengisi gelas mereka yang dapat digunakan kembali tetapi membuang yang sekali pakai.

Irish Rail berkomitmen untuk beroperasi dengan cara yang ramah lingkungan, tapi pengguna kereta api mengatakan contoh seperti ini tidak hanya bertentangan dengan pernyataan tersebut tetapi juga menghilangkan tujuan gelas yang dapat digunakan kembali. Andy Cochrane dari Celbridge, Co Kildare, yang naik kereta InterCity sekitar dua kali sebulan, diberitahu dalam perjalanan baru-baru ini ke Belfast dengan kereta Enterprise bahwa dia tidak bisa minum minuman panas yang dituangkan ke dalam gelas yang dapat digunakan kembali.

Dia mengatakan petugas itu, menggunakan troli katering untuk melayani pelanggan di gerbong, mengatakan kepadanya bahwa itu adalah “masalah kesehatan dan keselamatan jika saya tidak bisa menyeimbangkan gelas Anda dengan benar di bawah cerat. Cochrane mengatakan dia bingung dengan ini, karena dirinya telah menggunakan gelas yang dapat digunakan kembali sebelumnya di kereta.

“Saya berasumsi para troll adalah orang yang banyak. Tetapi [staf katering] berkata, ‘Tidak, tidak, tidak. Saya harus menjual Anda secangkir ’,” ujar dia.

Mengenai masalah kesehatan dan keselamatan, Irish Rail mengatakan bahwa “menguji coba berbagai ukuran gelas di bawah cerat dapat menyebabkan petugas katering terbakar”. Itu menegaskan bahwa staf katering menghitung jumlah penjualan dengan jumlah gelas yang tersisa.

Pada perjalanan selanjutnya di Enterprise, Cochrane melihat iklan yang menampilkan gelas yang dapat digunakan kembali untuk dijual, dengan “diskon 10 persen untuk semua minuman panas saat menggunakan Enterprise Keep Cup”. Irish Rail mengatakan bahwa “sebagai respons terhadap permintaan akan cangkir, katering perusahaan mengambil gelas yang sesuai dengan cerat troli dan juga memiliki mekanisme penutupan yang benar-benar aman”.

Untuk memanfaatkan minuman panas dalam gelas yang dapat digunakan kembali, penumpang harus membeli Enterprise Keep Cup bermerek, dan semua gelas lainnya terlepas dari ukurannya.

Cregan mengkonfirmasi bahwa Irish Rail menganggap masalah ini sebagai masalah kesehatan dan keselamatan. Menghadirkan gelas dalam berbagai ukuran dengan mekanisme penutupan berbeda dan mereka mungkin tidak muat di bawah cerat di troli katering, jelasnya.

Baca juga: Wujudkan Bandara Ramah Lingkungan, Bandara Dubai Kurangi Penggunaan Plastik Sekali Pakai

“Kami bertanggung jawab untuk menyajikan minuman ini, ini adalah sesuatu yang harus kami perhatikan, bukan karena kami tidak dapat mempercayai penumpang untuk mengetahui bahwa gelas mereka aman. Itu adalah sesuatu yang kita cari,” katanya.

Harbour Air Uji Coba Pesawat Terbang Listrik Selama Lima Menit

Sebuah penerbangan uji coba lima menit dari pesawat komersial berbahan bakar listrik milik Harbour Air yang berbasis di Vancouver telah mengambil langkah signifikan dalam upaya untuk mengganti pesawat yang ditenagai bahan bakar fosil. Pesawat amfibi berwarna hijau neon dan biru nila lepas landas dari Sungai Fraser di Richmond, British Columbia, ketika kerumunan orang bersorak dari dermaga pada Selasa pagi.

Baca juga: Mampukah Pesawat Bertenaga Listrik Geser Kedigdayaan Pesawat Komersial?

Pesawat baling-baling, prototipe Beaver de Havilland DHC-2 mampu mengangkut enam penumpang, ditenagai oleh motor listrik magniX magni500 dan dikemudikan oleh Chief Executive Officer Harbour Air Greg McDougall.

“Tes itu jauh lebih banyak daripada latihan laboratorium yang pernah kita lihat di masa lalu. Ini benar-benar tes yang serius dan praktis,” kata Robert Mann, kepala konsultan penerbangan yang berbasis di New York, R.W. Mann & Co yng dikutip KabarPenumpang.com dari japantimes.co.id (12/12/2019).

Harbour berencana untuk menghabiskan dua tahun ke depan untuk mendapatkan pesawat baru yang disetujui untuk penerbangan komersial. Maskapai, yang terbang ke selusin tujuan di Pantai Barat, memiliki 53 pesawat dan 450 karyawan yang tersebar antara British Columbia dan Seattle.

Ada sekitar 170 program pada pesawat bertenaga listrik dalam pengembangan di seluruh dunia, naik 50 persen sejak April 2018, menurut perusahaan konsultan Roland Berger. Sebagian besar pengembangan itu untuk taksi udara perkotaan dan penerbangan umum. Teknologi listrik saat ini mendukung pesawat ini, yang memiliki kebutuhan daya lebih rendah daripada pesawat komersial besar.

Beaver listrik Harbour dapat terbang sekitar 60 menit dengan sekali pengisian. Tetapi regulator memerlukan pesawat yang beroperasi di bawah aturan penerbangan visual pesawat yang lebih kecil, nonkomersial memiliki kemampuan untuk terbang 30 menit tambahan, yang memberi pesawat baru Harbour waktu tempuh hanya 30 menit. Namun, jangka waktu yang relatif singkat bukanlah masalah bagi maskapai, kata CEO magniX Roei Ganzarski.

“Mayoritas penerbangan Harbor Air panjangnya kurang dari 25 menit,” katanya, seraya menambahkan bahwa setelah pesawat disertifikasi, perusahaan akan fokus pada memperpanjang amplop penerbangan.

Mereka mengatakan kendaraan listrik sering menunjukkan penurunan biaya operasi. Berang-berang yang ditenagai bahan bakar fosil membakar bahan bakar bernilai antara $ 300 dan $ 400 selama 100 mil (160 km) penerbangan, kata Ganzarski.

“Perjalanan yang sama di Beaver listrik akan menelan biaya mulai dari $ 4 hingga $ 10 dalam listrik, tergantung pada sumbernya,” katanya.

Motor listrik adalah unit yang disegel, dengan minimum bagian yang bergerak. Tentu saja, karena belum ada program pemeliharaan pesawat listrik komersial, mungkin ada biaya tak terduga.

”Biaya menjadi perintis adalah masalah yang relevan. Kami tidak tahu biaya sebenarnya mengoperasikan pesawat listrik,” kata Mann.

Jangka dekat kemungkinan akan melihat generasi pesawat hibrida, memasangkan sistem tenaga listrik dan konvensional bersama dengan pesawat berbahan bakar listrik yang lebih kecil. Pesawat yang lebih besar, listrik sepenuhnya masih sekitar satu dekade.

Joby Aviation Inc. menargetkan pasar taksi udara dengan pesawat yang dapat mengangkut empat penumpang dan menempuh jarak 150 mil. Uber Technologies Inc. berencana untuk memulai layanan taksi terbang listrik, dengan program percontohan di Dallas, Los Angeles dan Melbourne secepat tahun depan.

Eviation yang berbasis di Israel merencanakan uji terbang Alice all-electric musim panas tahun depan, sebuah pesawat sembilan penumpang yang ditenagai oleh versi yang lebih kecil dari motor magniX di Harbour Beaver.

“Eviation senang untuk memberi selamat kepada mitra kami, magniX atas keberhasilan uji terbang sistem propulsi magni500. Ini adalah tonggak yang bagus untuk penerbangan listrik,” kata CEO Eviation Omer Bar-Yohay pada Selasa dalam sebuah pernyataan.

Siemens AG, Airbus SE dan Rolls-Royce Holdings PLC bekerja pada sistem hybrid, E-Fan X, yang akan memberi daya pada pesawat yang relatif besar. Airbus menargetkan penerbangan awal dari pesawat demonstrasi pada tahun 2021 dan pada akhirnya diharapkan untuk fase dalam teknologi listrik baru sekitar 2030.

“Airbus telah terbang dengan listrik selama beberapa tahun. Tapi itu semua adalah latihan laboratorium, bukan praktik,” kata Mann.

Perusahaan konsultan Roland Berger mengharapkan penerbangan pertama dari pesawat komersial tersebut terjadi pada tahun 2032. Easyjet PLC telah bermitra dengan Wright Electric yang berbasis di A.S. untuk mengembangkan pesawat bertenaga baterai berukuran penuh dalam satu dekade untuk penerbangan kurang dari dua jam.

Sementara pabrikan dan maskapai penerbangan sama-sama merencanakan masa depan listrik, mereka masih berurusan dengan politik saat ini. Maskapai-maskapai top Eropa pada Selasa menyerang rencana Uni Eropa untuk pajak minyak tanah yang direncanakan, bagian dari strategi lingkungan baru blok itu.

Airlines menyebut tugas itu tidak perlu dan tidak adil, dengan alasan bahwa investasi dalam bahan bakar berkelanjutan dan pesawat listrik pada akhirnya akan lebih efektif dalam mengurangi emisi karbon. Untuk bagiannya, Harbor Air kemungkinan akan mengalami beberapa masalah infrastruktur dalam waktu dekat, kata Mann, karena sebagian besar bandara utama tidak memiliki kemampuan pengisian cepat.

Ganzarski mengatakan mereka akan bergantung pada infrastruktur yang ada untuk saat ini tetapi mungkin berusaha untuk membangun infrastruktur terbarukan mereka sendiri di masa depan. Perusahaan melaporkan pendapatan 69,9 juta dolar Kanada ($52,8 juta) pada 2019.

Tetapi ada tantangan lain. Pesawat amfibi beroperasi dari badan air bukan dari darat. Tidak seperti landasan pacu yang diaspal dan dirawat dengan cermat, air terbuka adalah permukaan gesekan tinggi yang membutuhkan jumlah energi yang jauh lebih besar bagi sebuah pesawat untuk mendapatkan momentum yang cukup untuk terbang.

Baca juga: Dari Singapura, Pesawat Bertenaga Hidrogen-Listrik Siap Unjuk Gigi Sebelum 2025

Air asin adalah masalah lain. Secara alami korosif, menggerogoti permukaan dan bagian-bagian pesawat. Akhirnya, Pacific Northwest tidak benar-benar menyenangkan di bulan Desember, dan suhu dingin memiliki efek negatif pada kepadatan daya dan konversi daya pada baterai.

“Jika Anda memikirkan kasus terberat untuk penerbangan listrik, itu mungkin pesawat amfibi di air garam,” kata Mann.

Kisruh Tak Kunjung Reda, Bandara Hong Kong Kehilangan 16,2 Persen Penumpang

Pasca terbelit masalah RUU Ekstradisi yang menyelimuti negara, otoritas Bandara Internasional Hong Kong melaporkan bahwa mereka mengalami penurunan jumlah pelancong di bandara tersebut. Sebelum terkendala polemik RUU Ekstradisi, bandara berkode IATA HKG ini mengakomodasi lebih dari lima juta penumpang, namun setelah dirundung masalah, terjadi penurunan penumpang sebesar 16,2 persen ketimbang tahun 2018 lalu. Dapatkah ini diklasifikasikan sebagai sesuatu yang buruk bagi kawasan otonomi Cina tersebut?

Baca Juga: Singapore Airlines, Cathay dan Qantas Mengaku Terdampak Kerusuhan di Hong Kong

Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman thehindu.com (15/12), pihak otoritas Bandara Internasional Hong Kong menyebutkan bahwa presentase penurunan jumlah pelancong tersebut merupakan yang paling besar dalam satu dekade terakhir (tercatat per bulan November 2019 kemarin).

Menurutnya, angka penurunan terbesar terakhir terjadi pada bulan Juni 2009 silam, dimana angkanya merosot 18,7 persen.

Tentu saja penurunan ini membawa dampak buruk bagi Hong Kong mengingat salah satu sumber devisa terbesar dari suatu negara berasal dari sektor pariwisata. Jika pelancong yang datang ke Hong Kong saja melesu, maka sudah dapat dipastikan pendapatan negara pun berkurang.

Sektor kedirgantaraan Hong Kong juga semakin meradang manakala flag carrier mereka, Cathay Pacific pada bulan November kemarin mencatatkan penurunan load factor sebesar 7,2 persen ketimbang tahun 2018 lalu. Selain load factor, maskapai kenegaraan Hong Kong ini juga mengalami penurunan 38 persen dari segi lalu lintas penumpang masuk atau inbound passenger traffic.

Baca Juga: Diterjang Badai “RUU Ekstradisi,” Sampai Kapan Cathay Pacific dapat Bertahan?

Selain Bandara Internasional Hong Kong dan Cathay, sejumlah maskapai yang membuka rute penerbangan menuju Hong Kong pun juga turut terdampak – sebut saja Singapore Airlines, Qantas Airways, hingga flag carrier Garuda Indonesia pun sempat terdampak kerusuhan menjurus anarkis akibat RUU Ekstradisi ini.

Mengutip dari laman sumber lain, jumlah pelancong yang datang ke Hong Kong mengalami penurunan hingga 40 persen dibandingkan dengan tahun 2018 lalu. Seiring berjalan, pemesanana tiket penerbangan pun lesu 10 persen.

Kabin Dipenuhi Asap, Pilot Berteriak Evakuasi Setelah QF575 Kembali ke Bandara Sydney

Pesawat Qantas yang baru lepas landas dari Bandara Sydney terpaksa harus kembali mendarat (return to base) karena pilot berteriak evakuasi sebanyak tiga kali setelah kabin dipenuhi dengan asap. Karena hal ini beberapa penumpang terluka akibat terburu-buru melarikan diri setelah ada teriakan dari kokpit untuk evakuasi.

Baca juga: Kabin Airbus A320 Royal Brunei Dipenuhi Asap Tipis, Pihak Maskapai Sebut “Insiden Power Bank”

KabarPenumpang.com melansir thesun.co.uk (15/12/2019), selain terluka ada pula penumpang yang mata dan tenggorokannya gatal karena cairan hidrolik yang terhirup. Insiden ini terjadi dalam penerbangan dari Sydney menuju ke Perth dengan nomor penerbangan QF575 yang menggunakan Airbus A330.

Saat itu hari Minggu pagi Qantas kembali ke Bandara Sydney karena masalah hidrolik di mana kabin dipenuhi asap dan pilot berteriak untuk evakuasi. Seorang penumpang bernama Rahman Akbari mengatakan, saat insiden pilot terdengar tenang tetapi mulai mencekam ketika awak kabin berteriak untuk evakuasi ke landasan.

“Awalnya hanya bau, kita bisa mencium sesuatu, tetapi setelah beberapa menit asap ini mulai menumpuk di kabin,” katanya.

Sedangkan Ally Kemp yang menulis di Twitter mengatakan hal ini sangat mengerikan. “Hanya harus mengevakuasi penerbangan saya ke Perth setelah masalah teknis. Semua orang harus keluar dari pesawat melalui slide (bantalan evakuasi) ke apron Bandara Sydney setelah kabin dipenuhi dengan asap dan kapten berteriak untuk mengungsi,” tweetnya.

Niamh Champion, penumpang dalam penerbangan itu mengatakan bahwa tak lama setelah tinggal landas, “awalnya semua nampak biasa-biasa saja.”

“Dan selanjutnya dia (pilot) pergi, ‘evakuasi, evakuasi, evakuasi’, seperti dalam suara yang tenang tapi tegas, nyaring. Jadi, seketika semua orang melompat dan mereka berpikir, ‘Ya Tuhan. Kupikir ada asap, atau api, atau, kau tahu, sesuatu sedang terjadi’. Dan saya relatif dekat dengan bagian belakang pesawat. Awak kabin senior membuka pintu, bang, parasutnya turun dan semua orang mulai bergegas ke lorong,” ujar Champion.

Champion mengatakan bahwa dia harus melompat sebelum kedua anaknya yang masih kecil mengikuti jejaknya. Dia menambahkan, “Kalau tidak, kita akan menahan seluruh lini orang di pesawat yang mungkin penuh asap.”

Dua penumpang lainnya dirawat karena luka akibat menggunakan slide, sementara yang lain melaporkan tenggorokan gatal dan mata sakit. Video dramatis menunjukkan para penumpang yang panik menjatuhkan diri mereka ke dalam tiga slide setelah asap memenuhi kabin.

Qantas mengatakan bahwa para insinyur “bekerja untuk menentukan penyebab kebocoran cairan hidrolik di salah satu Airbus A330-nya.

“AF575 berangkat Sydney ke Perth pukul 8.45 pagi ini. Sekitar 20 menit dalam penerbangan, kapten menerima peringatan kokpit untuk salah satu dari tiga sistem hidrolik di pesawat,” kata pihak Qantas.

Maskapai mengatakan bahwa begitu pesawat kembali di gerbang ada laporan asap tebal di kabin, kemungkinan disebabkan oleh cairan hidrolik memasuki unit pendingin udara.

Baca juga: Muncul Asap di Kabin, 129 Penumpang Globus Airlines Turun Lewat Slide Darurat

“Sementara penumpang mungkin mengira itu asap, tidak ada api. Dua penumpang dirawat karena cedera akibat menggunakan slide dan penumpang lain dibawa ke rumah sakit sebagai tindakan pencegahan. Beberapa pelanggan melaporkan sakit mata dan tenggorokan gatal,” tambah pihak maskapai.

“Kami akan menyelidiki dengan tepat apa yang terjadi, termasuk berkomunikasi dengan pihak Airbus, sebelum pesawat ini nantinya kembali operasional setelah perbaikan,” tambah Kapten Keselamatan Armada Qantas Debbie Slade.

Kursi Dekat Jendela Pilihan Aman Terhindar Virus Flu

Negara-negara tropis mulai memasuki musim hujan dan Eropa, Amerika serta negara lainnya mulai memasuki musim dingin. Biasanya di musim-musim ini, banyak yang terjangkit flu. Apalagi di musim seperti ini banyak orang melakukan liburan.

Baca juga: (Video) Kursi Pesawat Dekat Jendela Paling Kotor Diantara yang Lainnya

Bagaimana mencegah tertular flu ketika dalam perjalanan untuk menikmati liburan dengan pesawat? KabarPenumpang.com melansir laman forbes.com (28/11/2019), ketika bepergian dengan pesawat, kursi dekat jendela adalah pilihan tepat di musim penyakit flu. Selain itu minimalisir untuk keluar dari kursi.

Baru-baru ini sebuah penelitian dan hasil studi tahun 2018 dari Emory University yang melihat 1500 penumpang di sepuluh penerbangan lintas benua Amerika Serikat menunjukkan zona infeksi di pesawat jauh lebih kecil. Hal ini karena virus bersin dan batuk yang tersebar di udara tak jauh dari siempunya. Namun meski begitu, dari hasil penelitian kebanyakan orang di pesawat hanya memiliki peluang tiga persen terinfeksi dari penumpang yang sakit.

Tapi, risiko tersebut meningkat hingga 80 persen jika penumpang duduk dalam jarak tiga kaki dari penumpang sakit atau dua kursi jauhnya di kedua sisi atau di barusan tepat di depan dan dibelakang. Dalam hal ini, ternyata kursi dekat jendela menjadi satu tempat ternyaman karena lebih terisolasi.

Sebab penumpang yang duduk dekat jendela hanya bersebelahan dengan satu penumpang. Dari studi Emory, penumpang yang akan terjangkit lebih mudah adalah yang duduk dekat dengan lorong sekitar 64 persen per penerbangan.

Penumpang yang duduk di kursi tengah rata-rata 58 persen per penerbangan. Sedangkan penumpang yang duduk di dekat jendela 12 persen per penerbangan atau 81 persen lebih sedikit daripada yang ada di lorong.

Diketahui, musim flu menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, yang baru-baru ini melaporkan flu yang menyebar di lima negara bagian yakniAlabama, California, Louisiana, Nevada, dan South Carolina.

Karena hal ini ada beberapa hal yang bisa dilakukan penumpang untuk terbebas dari flu yakni mendapat vaksinasi. Cuci tangan dengan sabun dan air, bila tidak ada bisa menggunakan antiseptik dengan kandungan alkohol.

Hindari menyentuh mata, hidung, dan mulut karena kuman menyebar dengan cara ini. Bersihkan dan disinfeksi permukaan dan benda yang mungkin terkontaminasi oleh kuman seperti flu. Selain itu sebagai penumpang cerdas bawa selalu tisu antibakteri dan pembersih tangan di tas jinjing.

Baca juga: Waspada! Inilah Lokasi Favorit Bakteri di Dalam Kabin Pesawat

Sehingga sebelum duduk di pesawat, bisa bersihkan meja baki di depan kursi dengan tisu anti bakteri. Jangan lupa bawa tisu anti bakteri tersebut ketika ke lavatory atau toilet pesawat.

Meja Baki Ada Darah, Penumpang Diberi Tisu Basah dan Membersihkannya Sendiri

Apa jadinya jika Anda dalam penerbangan dan membuka meja baki (table tray) di depan dan melihat ada bekas kotoran ataupun darah? Pastinya akan ada rasa jijik dan memanggil awak kabin untuk membersihkannya.

Baca juga: Jijay! Ada Penumpang Pesawat Tinggalkan Urin di Kantung Plastik

Tapi, bagaimana kalau harus membersihkannya sendiri karena awak kabin merasa itu bukan tugas mereka? Kabar penumpang.com melansir laman thestar.com (18/11/2019), seorang wanita asal Edmonton harus merasakan pahitnya membersihkan meja baki di kursinya yang terkena bekas darah mimisan.

Jessica Starcheski belum lama merasakan hal tersebut ketika dirinya hendak terbang dari Edmonton ke Vancouver menggunakan Flair Airlines pada Jumat malam (15/11/2019). Saat itu dia tengah membuka meja baki di hadapannya dan menemukan bercak merah bekas darah. Kemudian dia memanggil awak kabin untuk meminta meja tersebut dibersihkan.

“Ketika awak kabin itu datang dia tampak sangat terkejut dan agak jijik,” ujar Jessica.

Karena hal ini dirinya berharap dipindahkan sementara mejanya dibersihkan. Namun dia mendapat hal lainnya yang mana justru diberikan tisu basah.

“Aku mulai membersihkannya dan baunya seperti berkarat. Itu sangat kotor dan wanita yang duduk di sebelahku menyarankan untuk mengambil foto agar bisa ditunjukkan kepala Flair Airlines,” ujarnya.

Dia kemudian memposting foto tersebut ke akun Twitter pada hari Minggu malam dengan caption, “Terbanglah dengan @FlairAirlines dan membersihkan darah orang lain sendiri, gratis!”

Kemudian tweet miliknya ini banyak ditanggapi oleh warganet dan mengungkapkan rasa jijik dan simpati mereka. Bahkan beberapa dari mereka berbagi pengalaman yang sama namun dengan kotoran yang berbed dan diberikan tak lebih dari tisu basah.

“Apakah itu satu-satunya benda sanitasi yang mereka miliki di pesawat untuk membersihkan barang-barang? Itu menjijikkan. Bagaimana mereka membersihkan kamar mandi jika terjadi sesuatu? Bagaimana jika seseorang muntah? Atau apakah mereka memiliki proses dan persediaan untuk ini?” kata dia.

Dalam sebuah pernyataan yang diemail ke Star Edmonton, Flair Airlines mengatakan setelah mengetahui tentang insiden itu, mereka segera menghubungi Jessica ketika dia mendarat di Edmonton untuk “mengakui situasi dan menyampaikan permintaan maaf.”

“Kami meminta maaf atas insiden malang yang dialami oleh salah satu penumpang kami di penerbangan Flair Airlines … karena pengawasan selama prosedur sanitasi khas kami dan miskomunikasi antara pramugari. Kami sedang meninjau prosedur kami untuk mencegah hal ini terjadi lagi,” ujar email yang dikirim ke Jessica tersebut.

Baca juga: Kabin Jetstar JQ284 Kena “Teror” Popok dan Kotoran Balita

Jessica mengonfirmasi bahwa perwakilan Flair telah menunggunya di bandara ketika penerbangannya kembali mendarat di Edmonton pada Senin pagi.

“Saya mengatakan kepadanya kekhawatiran saya untuk posting itu, mengapa pramugari melakukan ini? Apakah tidak ada persediaan atau proses yang tepat? ”

Dia mengatakan dia yakin bahwa mereka memiliki prosedur yang tepat dan bahwa pengalamannya akan digunakan sebagai contoh untuk maju.

Ambil Langkah ‘Terbalik’ dengan Boeing, Airbus Akuisisi MTM Robotics

Mungkin beberapa dari Anda masih ingat dengan kabar yang menyebutkan bahwa manufaktur pesawat kebanggaan Amerika, Boeing telah ‘memberhentikan’ sistem robotika di jalur produksinya, nah kali ini pemberitaan kontradiktif datang dari rival abadinya, Airbus. Diberitakan pabrikan pesawat asal Eropa ini baru saja mengakuisisi MTM Robotics, sebuah perusahaan asal Seattle, AS yang menyediakan sistem otomatis untuk pembuatan si burung besi.

Baca Juga: Boeing ‘Buang’ Teknologi Robotika di Jalur Produksi Varian 777 dan 777X

Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman geekwire.com (12/12), kendati markas dari MTM Robotics berdekatan dengan pabrik Boeing yang ada di Everett sana, namun sejatinya kerja sama yang terjalin antara Airbus dan MTM Robotics sudah cukup lama – kurang lebih satu dekade, MTM Robotics telah menyediakan sistem robotika otomatis ringan untuk fasilitas produksi Airbus.

Kini MTM Robotics secara resmi telah menyandang predikat sebagai anak perusahaan dari Airbus Americas Inc., dan perusahaan dikabarkan akan tetap mempertahankan kepemimpinannya saat ini dan tetap memperkerjakan 40 karyawannya yang bekerja di fasilitas Mukilteo (markas dari MTM Robotics).

“Kami senang bisa bergabung ke dalam keluarga besar dari Airbus, dan kami berharap dapat mengintegrasikan produk kami dan melakukan pendekartan ke dalam rantai industrialisasi Airbus,” ujar pendiri MTM Robotics, Mike Woogerd.

Menurut Airbus, akuisisi ini merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk mengambil keuntungan dari robotika untuk mengurangi waktu dan biaya perakitan pesawat komersial.

“Daya saing masa depan akan ditentukan dari desain pesawat terbang terbaik dan dengan membangun sistem manufaktur paling efisien, secara paralel,” ujar Michael Schoellhorn, Chief Operating Officer Airbus.

“Otomasi dan robotika adalah pusat strategi industri kami. Kami sangat senang menyambut MTM Robotics sebagai anggota keluarga dan bersama-sama melangkah maju,” sambungnya.

Baca Juga: Airbus Berdayakan Teknologi Robotika dalam Perakitan Seri A320

Sebagai informasi tambahan, MTM Robotics didirikan pada tahun 2003 silam dengan nama Mobile Tool Management. Sejak eksis di industri dirgantara, MTM Robotics telah mengerahkan lebih dari 40 sistem manufaktur luar angkasa – termasuk mesin, peralatan, hingga perangkat lunak.

Perusahaan Asal London Perkenalkan Bangku Kelas Ekonomi Baru, Tapi Masih Nihil Pesanan

Penerbangan di kelas ekonomi bisa dibilang merupakan perjalanan yang cukup murah, namun harus dibayar dengan fasilitas ‘seadanya’. Ya, harga tiket yang berada di bawah business class dan first class menjadi daya tarik utama di penerbangan kelas ekonomi – namun harga miring tersebut harus rela ditukar dengan kondisi tempat duduk yang sempit serta pelayanan yang serba standar. Ini sudah menjadi topik hangat perbincangan yang cukup lama di kalangan eksekutif, dimana mereka tidak ingin menggadaikan kenyamanan penumpang yang terbang di kelas ekonomi. Beruntung, perusahaan asal London, New Territory siap mengakhiri masa ‘galau’ para eksekutif tersebut.

Baca Juga: Dalam Penerbangan, Pilih Kelas Ekonomi Premium Atau Ekonomi Biasa?

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman thepointsguy.com (6/12), perusahaan ini merilis bangku Interspace – sebuah bangku inovatif yang dipercaya dapat meningkatkan kenyamanan para penumpang yang duduk di kelas ekonomi. Tidak seperti bangku ‘tegak lurus’ yang selama ini ada di kelas ekonomi, bangku Interspace rilisan New Territory ini mengedepankan konsep privasi, dimana penumpang bisa mengembangkan flap yang ada di bagian tepi untuk menciptakan ruang privasinya sendiri.

Sumber: thepointsguy.com

Selain itu, satu titik yang kerap menjadi bahan perdebatan adalah sandaran tangan. Melalui bangku Interspace ini, para penumpang bisa menikmati ukuran sandaran tangan yang lebih besar ketimbang yang ada di bangku kelas ekonomi dewasa ini. Tumpukan busa empuk yang menyelimuti bangku Interspace ini akan menunjang waktu beristirahat Anda di udara.

Begitu pula halnya dengan In-Flight Entertainment (IFE), dimana Anda akan mendapati sebuah layar modern yang siap menghibur Anda sepanjang perjalanan.

“Jika Anda tertidur, maka layar hiburan ini akan mati secara otomatis. Fitur ini hadir berkat adanya sensor yang kami pasang,” tutur salah satu juru bicara dari New Territory.

Baca Juga: Biar Nyaman di Penerbangan Kelas Ekonomi Jarak Jauh, Baca Ini!

Hadirnya bangku kelas ekonomi modern ini diharapkan akan meningkatkan kenyamanan para penumpang, seiring dengan meningkatnya permintaan penerbangan dewasa ini. Kendati cukup menjanjikan untuk meningkatkan kenyamanan penumpang, namun menurut laporan dari perusahaan awal Desember kemarin, mereka belum menerima pesanan dari pihak maskapai yang tertarik untuk menggunakan bangku ini.

Sejumlah Fakta dari Proses Emergency di Pesawat Terbang

Apa yang Anda tahu tentang panduan keselamatan dalam penerbangan? Apakah Anda menjadi orang yang selalu mengabaikannya karena sudah merasa sudah ‘paham’ tentang prosedur keselamatan penerbangan?

Mungkin, terlihat biasa dan mudah, tetapi saat terjadi sesuatu insiden di pesawat, kecenderungan yang muncul penumpang akan panik dan lupa tentang metode-metode keselamatan yang telah menjadi standar baku. KabarPenumpang.com merangkum dari telegraph.co.uk (20/7/2017) Otoritas Penerbangan Sipil di Inggris menyebut bahwa rata-rata terjadi satu penumpang meninggal dari 287 juta penumpang yang dibawa dari atau ke bandara di Inggris.

Baca juga: Peragaan Alat Keselamatan Penerbangan, Masih Efektifkah?

Beberapa waktu lalu, awak kabin British Airways melaksananakan pelatihan keselamatan. Dalam pelatihan tersebut para awak kabin harus bisa menyelamatkan semua penumpang secepat mungkin, mengarahkan orang keluar dari pesawat dan tanggap dalam menangani jika terjadi kebakaran.

Sebenarnya tidak ada persyaratan hukum bagi awak kabin untuk ‘mendikte’ penumpang untuk mendengarkan dan memperhatikan peragaan alat-alat keselamatan yang berlangsung sebelum pesawat lepas landas. Sebab, bila penumpang tidak melihat dan mendengar dengan baik cara-cara penggunaan alat-alat keselamatan, nantinya bila terjadi sesuatu pada pesawat, penumpang tersebutlah yang akan menanggung akibatnya sendiri.

Tetapi, para awak kabin memiliki kewajiban untuk turun tangan jika ada penumpang yang gaduh. Dalam penerbangan, pastinya ada jaket keselamataan (pelampung) yang terletak di bawah tempat duduk Anda. Sebaiknya saat ada penjelasan tentang pelampung, Anda bisa mengecek ada tidaknya pelampung di bawah tempat duduk Anda.

Baca juga: Pentingnya Pelampung Untuk Keselamatan Penerbangan

George Hobica, pakar penerbangan dan pendiri airfarewatchdog.com pernah mengatakan banyak penumpang yang membawa pulang pelampung sebagai oleh-oleh. Padahal, hal tersebut merupakan pelanggaran berat dan dapat dihukum pidana. “Beberapa maskapai memeriksa setiap kursi sebelum penumpang masuk dalam pesawat, dan bisa dilakukan beberapa kali dalam sehari bila pesawat tersebut melakukan beberapa kali penerbangan. Sebab salah seorang penumpang bisa saja mencuri pelampung tersebut, jadi saya belajar ada baiknya periksa pelampung ada tidak di tempatnya,” ujar Hobica.

Slide Darurat
Tak hanya soal pelampung, dalam penerbangan terkadang ada pendaratan yang direncanakan dan tidak terencana. Dimana yang saat terencana para awak kabin mengetahi sesuatu yang buruk akan terjadi sehingga harus melakukan pendaratan darurat seperti kebakaran atau kegagalan mesin. Untuk tidak terencana karena tanpa adanya peringatan atau terjadi serangan teroris.

Dalam pendaratan darurat, emergency slide (slide darurat) juga akan digunakan dalam penyelamatan. Dalam kondisi ini, biasanya ada penumpang yang enggan untuk turun dari slide, sehingga awak kabin dapat memaksa mendorog, menendang dan berteriak agar penumpang tersebut bisa turun. Secara teori dalam waktu 60 detik slide darurat dapat menurunkan hingga 150 orang. Biasanya slide digunakaan juga untuk pendaratan darurat di air. Selain menggunakan slide, penumpang juga diwajibkan untuk menggunakan pelampung saat melakukan pendaratan di air.

Baca juga: 10 Pendaratan Dramatis Sepanjang Sejarah Penerbangan

Kebakaran
Bila masalah yang terjadi adalah kebakaran, para awak kabin bisa memberitahu ataupun tidak pada penumpang tergantung besar api dan lokasi kebakaran tersebut. Jika berada di panel pintu atau tempat duduk maka akan diberitahu. Namun, jika kebakaran terjadi di dapur, tidak akan ada pemberitahuan apapun.

Dengan adanya kebakaran, oksigen dalam kabin akan berkurang dan biasanya masker oksigen akan turun dan bisa digunakan oleh penumpang. Tak hanya itu, masker oksigen juga akan turun bila memang dalam ketinggian tertentu oksigen dirasa kurang. Dalam panduan Telegraph Travel untuk mengatasi kecelakaan pesawat, penumpang disarankan untuk menghitung jumlah baris dari tempat duduk mereka ke pintu keluar terdekat.

Insinyur Aeronautika Sebut Kapten MH370 Sematkan Kode di Foto Keluarga

Salah satu misteri terbesar di jagad dirgantara, yaitu hilangnya pesawat Malaysia Airlines MH370 agaknya tidak akan pernah terungkap penyebabnya – mengingat minimnya bukti yang terkumpul selama ini. Kendati begitu, sejumlah temuan terkait hilangnya pesawat ini telah sukses menggiring opini publik – salah satunya yang paling baru adalah informasi yang diberikan oleh seorang insinyur aeronautika yang mengklaim bahwa pilot MH370 telah memberikan petunjuk via foto keluarga yang diunggah setelah pesawat hilang.

Baca Juga: Hipotesa Baru Misteri MH370: Kopilot Sempat Ambil Kendali Penuh dan Arahkan Pesawat Kembali ke Malaysia

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman freemalaysiatoday.com (15/12), seorang insinyur bernama Ismail Hamad asal Mesir mengklaim bahwa gambar pertama Kapten Zaharie Ahmad Shah (kapten penerbangan MH370) yang diunggah pasca hilangnya pesawat tersebut merupakan sebuah petunjuk tentang dimana pesawat tersebut ‘menghilang’.

Menurutnya, foto yang menunjukkan keluarga Kapten Zaharie yang tengah duduk di sofa mereferensikan sebuah kepulauan di Filipina, dimana mungkin saja sang pilot menerbangkan pesawat ke daerah tersebut.

“Jika sang pilot (Kapten Zaharie) merupakan orang yang merencanakan dan menyembunyikan pesawat MH370 dari radar dan mata manusia seperti yang selama ini diperbincangkan, saya rasa ia telah membocorkan sebuah pesan kode berbentuk foto kepada kita semua yang mengisyaratkan bahwa ia tengah berada di rumah,” terang Ismail.

“Pola yang ada di sofa bergambar sebuah kepulauan … Seolah Kapten Zaharie mengatakan bahwa siapapun yang hendak menemukan saya dan MH370, mereka harus mencarinya di pulau-pulau, bukan di lautan,” sambungnya.

Tentu saja spekulasi ini terbilang cukup jauh dari nalar, dimana tidak ada bukti konkret yang mendukung pernyataan dari Ismail tadi. Namun kembali lagi, inilah yang menjadi bumbu dari hilangnya Boeing 777-200ER milik Malaysia Airlines tersebut.

Baca Juga: (Lagi) Hipotesa Baru Misteri MH370: Pesawat Diduga Kehilangan Tekanan Kabin

Memang, hingga saat ini belum ada spekulasi yang mampu menunjukkan dimana MH370 berada, atau bagaimana pesawat sebesar Boeing 777-200ER yang digunakan Malaysia Airlines untuk penerbangan berjadwal dari Kuala Lumpur menuju Beijing ini hilang bak ditelan bumi.

Akankah MH370 tetap menjadi misteri? Atau apakah spekulasi dari insinyur aeronautika tersebut merupakan benar adanya?