Mobil tanpa pengemudi alias mobil otonom generasi ketiga baru saja diumumkan oleh Uber. Mobil ini dikembangkan dalam kemitraan Uber dan Volvo dengan basis tipe SUV XC90. Nantinya mobil tanpa pengemudi versi terbaru ini akan mulai diuji di jalanan umum tahun 2020 mendatang.
Baca juga: Mobil Otonom Uber Tabrak Pejalan Kaki Hingga Tewas di ArizonaKabarPenumpang.com melansir laman theverge.com (12/6/2019), mobil yang dibangun atas kerja sama Uber dan Volvo ini dibuat lebih banyak redundansi yang masih memiliki setir serta pedal. Dikatakan Uber, wahana ini dirancang untuk dioperasikan tanpa manusia yang duduk dibelakang kemudi. Sehingga membuat perusahaan membangun sistem cadangan berlebih kedalam kendaraan khususnya kemudi, pengereman dan daya baterai.
“Jika ada sistem utama yang gagal karena suatu alasan, sistem cadangan dirancang untuk segera bertindak untuk menghentikan mobil,” kata Uber.
Hal ini berarti versi baru dari mobil self-driving Uber harus lebih aman dari versi sebelumnya. Uber mengatakan pembuat mobil asal Swedia tersebut mengungkapkan konsep kendaraan dasar otonom yang serupa untuk teknologi otonom komersialnya sendiri di awal tahun 2020.
Sebelumnya Uber sudah menguji kendaraan self-driving di jalan umum pada Desember 2018, sembilan bulan setelah salah satunya menabrak dan membunuh Elaine Herzberg, yang sedang menyeberang di depan mobil. Mobil otonom Uber saat itu tidak pernah berhenti, atau bahkan melambat, sebelum menabrak Herzberg.
Sistem self-driving melihatnya, meskipun ada laporan yang bertentangan tentang apakah itu menandai dia sebagai “kesalahan yang positif.” Masalah yang lebih besar adalah Uber telah menonaktifkan sistem pengereman darurat otomatis Volvo untuk “mengurangi potensi perilaku kendaraan yang tidak menentu.
”Ada pengemudi keselamatan di belakang kemudi yang seharusnya memantau jalan, tetapi dia tidak mengerem sampai setelah Herzberg tertabrak. Jika sistem pengereman darurat otomatis telah diaktifkan, mobil mungkin berhenti tepat waktu. Uber mengatakan tidak akan mengesampingkan atau menonaktifkan fitur pengereman otomatis Volvo baru,” kata pihak Uber.
Itu tidak dikatakan bahwa Uber akan terus bekerja pada mobil self-driving. Arizona melarang perusahaan melakukan pengujian setelah kematian Herzberg.
CEO Uber Dara Khosrowshahi dilaporkan mempertimbangkan untuk mengakhiri program pada satu titik, tetapi akhirnya menegaskan kembali komitmennya untuk itu selama wawancara dengan acara Today. Sekarang, mobil self-driving adalah bagian dari tujuan akhir Uber untuk menjadi “toko serba ada untuk pergerakan orang dan memperkuat perdagangan lokal di seluruh dunia.
Baca juga: California Hadirkan AutoX, Mobil Otonom Pengantar Barang Pesanan
Kendaraan baru itu diluncurkan pada konferensi tahunan Uber ketiga, di mana perusahaan juga memamerkan pesawat listrik yang seharusnya membuat layanan taksi udara pada tahun 2023, pengiriman drone, dan tentu saja, skuter listrik.
Maskapai asal Negeri Jiran, AirAsia Group Bhd dikabarkan ingin berkembang di luar bisnis maskapai penerbangan ‘tradisional’, dan menurut kabar yang beredar pihak maskapai telah membangun situs web dan aplikasi travel dan lifestyle, layanan keuangan, dan operasi logistik. Chief Executive Group AirAsia, Tan Sri Tony Fernandes mengatakan, maskapai berbiaya rendah ini telah didekati oleh sejumlah perusahaan asing yang tertarik untuk bermitra dengannya dan memanfaatkan database besar milik perusahaan yang mencapai hingga 100 juta penumpang per tahun.
Baca Juga: AirAsia X Genap Berusia 10 Tahun, Mantapkan Identitas Sebagai LCC Jarak Jauh
“Kami berusaha untuk beralih dari sekadar menjadi maskapai penerbangan, dan mulai menggunakan lalu lintas penumpang kami untuk membangun sebuah platform. Kami mungkin memiliki salah satu situs web terbesar di Malaysia – atau bahkan di Asia Tenggara, ”katanya ujar Toni, dikutip KabarPenumpang.com dari laman New Straits Times.
Toni mengatakan AirAsia saat ini diperingkatkan sebagai maskapai terbesar ke-13 di dunia dan dalam beberapa tahun diupayakan untuk merangsek naik ke-10 besar.
“Prestasi ini tidak bisa dipandang sebelah mata – mengingat dari tempat kami memulai sebagai maskapai kecil di Malaysia. AirAsia menduduki nomor empat di Asia (maskapai terbesar) setelah tiga maskapai penerbangan Tiongkok, ”kata Toni.
Fernandes berkeinginan untuk mengganti slogan AirAsia dari “Now Everyone Can Fly” menjadi “Now Everyone Can Travel”. Pergantian slogan ini juga tidak lepas dari upaya Toni cs. untuk memperlebar sayap bisnis mereka yang rencananya akan menawarkan pengalaman baru untuk menginap dan melancong.
“Kami melihat banyak peluang untuk memberikan layanan melalui situs web kami,” tandasnya.
Ya, kelak situs web AirAsia mungkin akan mirip dengan Traveloka.com atau situs sejenis yang tidak hanya menjajakan tiket saja, melainkan booking hotel dan lain-lain.
Baca Juga: AirAsia ‘Hilang’ dari Traveloka dan Tiket.com, Alasan Teknis atau Ada Tekanan?
“Kami mulai dengan maskapai asing sesegera mungkin. Kelak, kami dapat bersaing dengan Expedia dan Agoda. Langkah pertama kami adalah membuat perjalanan menjadi lebih terjangkau, misalnya membuat harga tiket kereta api, bus, dan taksi menjadi lebih murah, ”terang Toni.
Tidak menutup kemungkinan, Toni menambahkan, AirAsia.com akan menjadi portal lifestyle dengan menambahkan beberapa kategori baru, seperti destinasi wisata, kuliner, dan konten kecantikan/kesehatan.
Setiap maskapai memiliki seragam yang memiliki ciri khas negara mereka dan warna yang dipilih pun biasanya tak jauh berbeda dari warna pesawat. Seperti baru-baru ini, Oman Air meluncurkan seragam baru untuk awak kabinnya di London Heathrow.
Baca juga: Kerap Alami Pelecehan, Cathay Pacific Bakal Ganti Seragam Awak Kabin
Seragam ini dibuat oleh pengembang produk dan merek in house dari Oman Air sendiri. Desain pakaian awak kabin ini terinspirasi oleh kesultanan Oman yang kaya akan warna, budaya, sejarah dan warisan. Selain itu juga mempertahankan rona warna pirusnya yang dapat dikenali dengan menggambarkan inspirasi dari Laut Oman.
Untuk seragam pramugari adalah gaun one piece berwarna pirus dengan panjang dibawah lutut dan memastikan ini cukup nyaman dan elegan untuk berbagai kebangsaan dan profil. Seragam ini juga dilengkapi dengan jas warna sama yakni biru yang dirancang untuk memperlihatkan menyampaikan bakat dan keanggunan.
Topi untuk melengkapi seragam ini pun dirancang baru dengan tetap menambahkan slayer baik berwaran biru. Sedangkan untuk awak kabin pria menggunakan setelan jas warna gelap dengan model baru ditambah dengan dasi pirus. Sedangkan untuk kepala kabin wanita Oman Air memiliki sedikit perbedaan dimana ada aksen emas di samping palet pirus.
Seragam wanita termasuk gaun yang sama, tetapi dalam warna teal yang lebih gelap, dengan topi dan syal emas. Dalam seragam ini yang ditiadakan adalah setelah naik maka seragam awak kabin akan berubah menjadi jaket makan selama layanan makan.
Dengan jaket ini ada penambahan syal bunga yang dirancang untuk menunjukkan warna musiman Oman yakni warna pirus, emas dan magenta yang diilhami oleh laut, maahari terbenam serta pegunungan yang tertutup mawar di negara itu. Sedangkan untuk kepala kabin pria Oman Air akan mengenakan rompi abu-abu dengan dasi berwarna emas.
“Terinspirasi oleh elemen kaya dari Oman, seragam baru kami adalah kesaksian bahwa gaya dapat berasal dari lanskap dan lingkungan kami yang menginspirasi. Itu adalah pengalaman yang sangat bermanfaat dalam mengerjakan proyek ini dan kami sangat bangga dan bersemangat untuk sekarang memperkenalkan seragam baru pada penerbangan Oman Air kami. Jumlah usaha dan waktu yang luar biasa yang didedikasikan oleh tim kami yang bekerja melalui beberapa perulangan desain, dan modifikasi sebelum penataan yang tepat dan tampilan keseluruhan dicapai di setiap pakaian, sungguh patut dipuji,” ujar CEO Oman Air Abdulaziz Al Raisi yang dikutip KabarPenumpang.com dari businesstraveller.com (13/6/2019).
Baca juga: Norwegian Airlines Bebaskan Awak Kabin untuk Berdandan Seadanya
Pembawa ini akan memamerkan proses desain seragam di “State of Grace“, yang pertama dari lima video di “State of Wonder” Oman Air, sebuah seri baru yang akan diluncurkan secara progresif di semua saluran media sosial.
Oman Air sendiri diketahui beroperasi di Jakarta sejak Desember 2014 lalu. Penerbangan yang dilakukan secara langsung yakni dari Bandara Internas Muscat menuju ke Bandara Internasional Soerkarno-Hatta.
Pernahkah Anda saat ingin masuk ke sebuah stasiun di sangka mau masuk ke perkantoran atau sebuah bandara karena saking megahnya? Mungkin untuk beberapa bangunan stasiun di Eropa atau Amerika terlihat seperti itu. Tapi bagaimana bila melihat stasiun tersebut di India, negara yang terkenal punya masalah dengan kebersihan di fasilitas umum.
Baca juga: Stasiun Ernakulum India, Hadirkan Fasilitas Komplit Bagi Kaum Difabel
Biasanya pelancong atau pengguna akan terheran-heran. Ya, Stasiun Manduadih yang berada di Uttar Pradesh India dari luar hingga ke dalam tak tampak seperti sebuah stasiun. Malahan banyak yang mengira ini sebuah bandara bila tidak melihat peron dan rel kereta api.
bagian dalam dan peron Stasiun ManduadihKabarPenumpang.com melansir dari laman livemint.com (12/6/2019), meski terlihat seperti bandara, ternyata stasiun ini baru saja diubah menjadi kelas dunia. Bangunan ruang tunggu dan peron pun terpisah dan ini yang membuatnya salah arti seperti bandara.
Bahkan fasilitas yang diberikan Stasiun Manduadih sangat ramah penumpang. Fasilitas yang diberikan menjadikannya stasiun kelas dunia adalah lampu LED, ruang tunggu besar dan ber-AC, bangku stainless steel dan lainnya. Tak hanya itu, di stasiun ini juga ada air mancur yang mempercantik ruang tunggu yang luas.
Stasiun Manduadih juga dilengkapi dengan area sirkulasi, kantor pemesanan atau reservasi tiket, kafetaria, food court, lounge yang dilengkapi pendingin udara, toilet ber-AC dan dormitori. Arsitektur bangunan ini mencerminkan semangat Kashi.
Platform atau peron stasiun selain bersih juga dilengkapi dengan panel layar LCD. Stasiun ini tidak hanya akan menyediakan fasilitas standar internasional kelas dunia bagi para penumpang tetapi, ia juga akan menawarkan pekerjaan bagi warga Varanasi. Stasiun kereta Manduadih memiliki delapan platform dan saat ini, delapan kereta berasal dari stasiun.
Dari kabar yang beredar, Perdana Menteri Narendra Modi berencana untuk mengubah nama stasiun Manduadih yang diubah menjadi stasiun kereta api ‘Banaras’. Mantan Menteri Union untuk perkeretaapian Manoj Sinha telah menulis surat kepada Ketua Menteri Uttar Pradesh Yogi Adityanath memintanya untuk mempertimbangkan penggantian nama stasiun.
“Nama Manduadih tidak terdengar bagus dan tidak terhubung dengan warisan Banaras,” kata seorang pejabat kereta api dari divisi Varanasi.
Masalahnya, bagaimanapun, tidak mencapai kesimpulan logis karena pemilihan diumumkan segera setelah stasiun kereta api baru selesai. Varanasi, juga disebut Banaras dan Kashi, adalah konstituensi parlementer Perdana Menteri Narendra Modi.
Baca juga: Stasiun Habibganj, Sebentar Lagi Menjadi Stasiun Kelas Dunia Pertama di India
Segera setelah Perdana Menteri Narendra Modi yang dipimpin NDA berkuasa, kota bersejarah Varanasi menjadi hidup ketika proyek-proyek pembangunan besar-besaran telah disetujui untuk kota tersebut, salah satu situs religius dan paling dihormati bagi umat Hindu.
Solusi teknologi 5G dalam platform Long Term Evolution- Railway (LTE-R) merupakan generasi baru untuk memfasilitasi komunikasi rel nirkabel yang baru saja resmi diperkenalkan oleh Huawei. Solusi dari Huawei ini sudah digunakan di Cina dan diluncurkan pada KTT Angkutan umum Global UITP 2019 di Stockholm.
Baca juga: Teknologi 5G, Apakah Aman untuk Perkeretaapian Dunia?
Dilansir KabarPenumpang.com dari laman railway-technology.com (12/6/2019), solusi LTE-R yang dikenalkan Huawei tersebut merupakan rancangan terbaru untuk mendukung solusi 5G dan interkoneksi GSM-R. Solusi baru tersebut akan menggunakan jaringan LTE-R untuk memungkinkan dalam mengontrol kereta api, pengiriman data, sistem informasi penumpang, CCTV dan layanan kereta api lainnya.
Platform ini juga akan mendukung beberapa layanan trunking seperti suara, video dan data Mission Critical Push-to-Talk (MCPTT). Selain solusi LTE-R, Huawei juga menghadirkan solusi Urban Rail Light Cloud dan 5G Digital Indoor System (DIS) untuk membantu operator dalam membangun sistem transportasi keret api yang lebih nyaman dan efisien.
Urban Rail Light Cloud Solution menggunakan teknologi virtualisasi canggih untuk mengubah sumber daya komputasi, penyimpanan, jaringan dan keamanan dari perangkat fisik menjadi sumber daya virtual. Selanjutnya, mereka bisa dialokasikan ke sistem aplikasi melalui host virtual, jaringan atau perangkat keamanan.
Solusi ini memungkinkan integrasi pada perangkat pusat data, mengurangi biaya pengadaan dan penyebaran perangkat. Ini dirancang untuk mendukung jaringan transportasi kereta api dengan kapasitas penumpang rendah dan sedang.
Solusi 5G DIS terbaru, disebut 5G LampSite, memanfaatkan beberapa teknologi canggih untuk mendukung LTE dan 5G. Solusi ini dirancang untuk menawarkan layanan komunikasi cerdas untuk memungkinkan manajemen aliran penumpang yang cepat, pemeriksaan keamanan, dan tiket.
“Untuk lingkungan yang mulus dan saling berhubungan di seluruh sistem ini, operator kereta api memerlukan perangkat komunikasi untuk mengumpulkan data dan platform digital yang mengintegrasikan cloud, IoT, big data, dan AI untuk memastikan keamanan, keandalan, dan keamanan dan operasi yang efisien,” kata Presiden Unit Bisnis Transportasi Global Huawei Enterprise Business Group Eman Liu.
Baca juga: Samsung Pasok Teknologi 5G di Kereta Cepat Jepang
“Huawei bertujuan untuk membantu pelanggan kereta api mencapai transformasi digital dengan menawarkan Urban Rail Cloud dan solusi komunikasi operasi kereta api, serta bekerja sama dengan mitra global untuk memindahkan kereta api ke masa depan.”
Jaringan teknologi telekomunikasi generasi kelima atau yang dikenal dengan sebutan 5G diharapkan menjadi langkah perubahan dalam jaringan seluler untuk konsumen dan industri yang menawarkan kecepatan pengunduhan, latensi yang lebih rendah dan berbagi data secara real time. Salah satunya, jaringan 5G terbaru kini sudah dimanfaatkan oleh penumpang di Stasiun Shanghai Hongqiao di Cina.
Baca juga: Seoul Subway Gunakan Jaringan LTE-R dari SK Telecom
Persisnya pada Februari lalu, China Mobile dan Huawei meluncurkan sistem digital 5G di ruang tunggu stasiun. Peluncuran di Stasiun Hongqqiao sendiri merupakan awal dan nantinya secara luas akan menjadi katalis untuk digitalisasi penuh jaringan kereta api dengan banyak negara termasuk Inggris.
Namun, apakah dengan kehadiran sistem digital 5G ini bisa menjadi ancaman dan membuat risiko tinggi pada jaringan kereta api? Pasalnya pada 2017 ada serangan WannaCry yang melumpuhkan jaringan kereta api di Jerman.
Ternyata meski berisiko, keharusan untuk memodernisasi infrastruktur sektor kereta api yang menua dengan teknologi digital terbaru agar tetap efisien dan kompetitif, harus disikapi secara sadar dengan mempehitungkan potensi risiko yang dibawa oleh digitalisasi tersebut.
Dirangkum KabarPenumpang.com dari ini railway-technology.com (11/6/2019), ternyata saat ini operator kereta api cenderung menggunakan sistem terpisah untuk mengelola operasi harian. Salah satunya adalah Global System for Mobile Communications-Railway (GSM-R).
Ini adalah teknologi yang sangat sempit yang hanya digunakan untuk mengirim pesan dan balasan serta Sistem Manajemen Lalu Lintas Kereta Api Eropa (ERTMS), atau yang setara, untuk mengendalikan kereta.
“Saat ini semakin banyak, operator kereta api mencari cara untuk menyatukan ketiga layanan jaringan pada infrastruktur yang sama dan sedang mengeksplorasi potensi 5G,” kata Amir Levintal, CEO dan co-founder Cylus.
“Ketika jaringan 5G dikerahkan, penumpang akan menggunakannya tetapi juga perusahaan kereta api (akan menggunakannya) untuk operasi dan untuk sistem lain yang tidak terlalu mudah terhubung ke internet, termasuk komunikasi yang kritis terhadap keselamatan, kereta tak berawak dan CCTV.”
Dia mengatakan, 5G sendiri dapat dibuat mudah dengan mempertimbangkan keamanan. Berbagai teknologi selama bertahun-tahun menjelaskan bahwa peretas akan selalu menemukan tautan terlemah untuk ditembus seperti internet penumpang yang menghadirkan ancaman nyata pada sistem kereta.
Ericsson memperkirakan akan ada sekitar 29 miliar perangkat yang terhubung pada tahun 2022, di mana sekitar 18 miliar akan terkait dengan Internet of Things (IoT). Tetapi dengan begitu banyak yang direncanakan untuk jaringan 5G, apakah lebih atau kurang aman daripada teknologi yang sebelumnya?
Sumber: istimewa
“Saya pikir keamanan dan jaringan nirkabel sangat rumit karena tergantung pada aplikasi dan bagaimana jaringan dikonfigurasikan, WiFi dan 4G bisa sangat aman jika dikonfigurasi dan digunakan dengan benar,” kata kepala analis industri Tutela, Chris Mills.
“Tantangan terbesar akan semakin jauh ketika semuanya terhubung dan data disimpan pada server yang berbeda, ” tambahnya. Ia mencatat bahwa 5G tidak memiliki masalah keamanan yang melekat, ini lebih lanjut tentang memastikan ada protokol, prosedur dan standar untuk memastikan akuntabilitas untuk setiap tautan dalam rantai itu dan bahwa data tidak hanya hilang dari jejak . Vodafone CTO Scott Petty mengatakan 5G sebenarnya jauh lebih aman daripada 4G dan Wi-Fi.
“5G memiliki seluruh rangkaian kemampuan baru, mekanisme enkripsi ujung-ke-ujung yang jauh lebih kuat dan perlindungan informasi pelanggan yang jauh lebih cerdas, serta perangkat yang terhubung ke jaringan itu adalah fitur yang sangat penting,” katanya.
Namun ternyata, tidak ada solusi lengkap untuk keamanan dunia maya untuk kereta api atau perusahaan atau organisasi apa pun, kata Levinthal. Tapi tentu saja ada cara untuk mengurangi risiko.
“Hal pertama yang harus dilakukan adalah memisahkan jaringan menjadi zona yang berbeda dan inilah yang ingin dilakukan oleh operator kereta api, tetapi mereka juga harus menerapkan dan menerapkan langkah-langkah keamanan ke dalam jaringan yang akan mendeteksi seseorang yang mencoba memanfaatkannya untuk membahayakan atau mengenai beberapa layanan,” katanya.
Operator juga harus mengetahui faktor risiko manusia. Semakin banyak teknologi dan layanan, semakin kompleks sistem dan selanjutnya pemeliharaannya, menciptakan lebih banyak ruang bagi seseorang untuk melakukan kesalahan.
Baca juga: Samsung Pasok Teknologi 5G di Kereta Cepat Jepang
“Kesalahan mempertahankan jaringan tidak bisa dihindari karena kita semua manusia, tetapi untuk infrastruktur kritis kesalahan kecil dapat mengakibatkan dampak yang sangat besar pada aplikasi oleh karena itu penting untuk menyadari dan memantau risiko ini,” kata Levinthal.
“Pemisahan dan penetapan wilayah yang baik, tetapi begitu seorang hacker masuk ke jaringan, langkah-langkah keamanan harus ada untuk mendeteksi mereka dan untuk menghentikan mereka melakukan serangan.”
Anda semua tentu masih ingat dengan pernyataan dari Presiden Jokowi yang rencananya akan mengijinkan maskapai asing untuk beroperasi di rute domestik. Ya, menurut RI 01, upaya ini ditempuh untuk kembali menyeimbangkan harga tiket pesawat yang belakangan ini sedang tinggi-tingginya. Nah, beberapa waktu yang lalu, beredar sebuah gambar di jejaring media sosial yang menunjukkan maskapai asal Taiwan, China Airlines yang melayani rute penerbangan Jakarta – Makassar. Secepat itukah gagasan dari Presiden Jokowi direalisasikan?
Baca Juga: ‘Impor’ Maskapai Asing untuk Turunkan Harga Tiket, Ini Kemungkinan Terburuknya!
Dalam gambar yang beredar tersebut, tampak China Airlines dengan nomor penerbangan CI9798 jurusan Jakarta – Makassar dibanderol dengan harga Rp5,8 juta untuk kelas bisnis. Tiket tersebut dijual untuk pemberangkatan di akhir Juni (27 Juni – 30 Juni) hingga awal Juli (1 Juli – 3 Juli). Tentu saja, Anda semua bertanya-tanya, “Apakah ini merupakan rangkaian dari berita hoax lagi atau bukan?”
Sumber: bisnis.com
Usut punya usut, ternyata ini bukan berita hoax, dan memang ada penerbangan China Airlines dari Jakarta menuru Makassar. Tapi satu yang patut digarisbawahi adalah ini merupakan penerbangan code sharing, bukan penerbangan biasa. Pernyataan tersebut dilontarkan oleh Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Perhubungan, Hengki Angkasawan.
“Itu penerbangan codeshare. Yang mengoperasikan Garuda Indonesia dan China Airlines hanya marketing artinya yang menjualkan tiket kalau ada turis yang dari Cina mau terbang ke UPG (Bandara Sultan Hasanuddin sementara tidak ada pesawat Cina yang terbang direct),” ujar Hengki, dikutip KabarPenumpang.com dari laman tribunnews.com (13/6/2019).
Penerbangan codeshare adalah penerbangan gabungan antara dua maskapai di mana satu maskapai dapat berbagi untuk menjual dan mengeluarkan tiket untuk rute tertentu, kemudian maskapai lainnya bisa melakukan pengangkutan penumpang.
“Jadi Garuda Indonesia dan China Airlines punya MoU untuk kerja sama. Demikian pula sebaliknya kode penerbangan Garuda juga dipasang di China bila perjanjiannya demikian,” imbuh Hengki.
Baca Juga: Layakkah Full-Service Carrier Layani Penumpang dengan Standar LCC?
Pernyataan serupa juga diutarakan oleh VP Corporate Secretary Garuda Indonesia Ikhsan Rosan. Menurut Ikhsan, rute penerbangan dari Taipei menuju Jakarta dilakoni oleh China Airlines, sedangkan dari Jakarta menuju Makassar dioperasikan oleh Garuda Indonesia.
“Dalam kasus itu, rute lengkapnya adalah Taipei-Makassar. Jadi, Taipei ke Jakarta dioperasikan China Airlines, sedangkan Jakarta-Makassar oleh kami,” ujar Ikhsan.
Jadi, sudah jelas ya bahwa berita yang tersebar di media sosial tersebut tidaklah sepenuhnya benar.
Siapa di antara Anda yang tidak pernah menggunakan layanan ojek online (ojol) sama sekali? Entah untuk kebutuhan mobilitas dari satu titik menuju titik lainnya, memesan makanan, hingga mengirimkan paket, pasti kebanyakan dari Anda pernah mengandalkan salah satu fitur yang disediakan oleh layanan ojol, ya!! Kendati memiliki banyak fungsi yang dapat memudahkan aktivitas sehari-hari – khususnya yang berkaitan dengan mobilitas, namun kehadiran ojol tidak melulu menguntungkan.
Baca Juga: Pasca Pemberlakuan Tarif Baru, Pengemudi Ojek Online Keluhkan Sepinya Order
Coba Anda tengok di setiap stasiun commuter line yang ada di Ibukota dikala peak hours, puluhan driver ojol ‘ngetem’ guna menyambut pelanggannya masing-masing. Seolah tidak mengindahkan marka jalan “S coret”, puluhan driver ini terkesan menantang regulasi yang sudah ditetapkan sebelumnya dan tidak memperdulikan sahut-sahutan klakson dari pengguna jalan lainnya. Suasana crowded seperti ini seyogyanya sudah menjadi satu kewajiban yang terjadi di daerah Jabodetabek.
Itu baru dari stasiun saja, bagaimana dengan infrastuktur transportasi lainnya? Jadi wajar saja apabila dengan ngetemnya oknum ojol di sejumlah fasilitas publik malah semakin memperparah tingkat kemacetan di Ibukota.
Belum lagi adanya fitur “grabnow” yang dihadirkan oleh Grab, dimana fitur ini disinyalir membuat para driver ojol ini semakin enggan untuk mencari penumpang. Ya, penumpang bisa langsung memilih driver ojol yang sedang ngetem untuk mengantarkannya sesuai koordinat yang sudah dimasukkan sebelumnya.
Memang, kedengarannya sangat sepele, namun siapa sangka bahwa kemacetan di wilayah Jabodetabek ternyata berimbas pada hilangnya Rp65 triliun setiap tahunnya. Mengutip dari laman kompas.com, apabila angka tersebut dijadikan barang, dalam lima tahun sudah bisa berbentuk Mass Rapid Transit (MRT), dan Light Rail Transit (LRT). Angka tersebut merupakan data yang dipegang oleh Bapennas terkait pelaksanaan sistem transportasi publik terintegrasi.
Sebagai upaya untuk mereduksi kemacetan yang timbul di sekitaran stasiun, PT Kereta Commuter Indonesia (PT KCI) menyatakan bahwa pihaknya telah menyediakan lokasi khusus untuk para driver ojol yang hendak mengantar atau menjemput penumpangnya.
“Stasiun Bekasi, Tangerang, Bogor, Duren Kalibata, Manggarai, dan Gondangdia, namun tidak bisa semua stasiun memungkinkan untuk menyediakan lokasi khusus untuk ojek online,” ujar juru bicara PT KCI Anne Purba (27/3/2019), dikutip dari laman sumber terpisah.
Sementara Direktur Utama PT MRT Jakarta, William Sabandar ternyata telah terlebih dahulu menyadari potensi masalah ini. Untuk mengatasi masalah semacam ini, William mengatakan bahwa pihaknya telah bekerja sama dengan operator layanan tersebut untuk membantu penataan – di antaranya dengan memberikan penalti atau sanksi bagi pengemudi ojek online yang tidak mematuhi aturan seperti mengambil penumpang di luar tempat yang telah ditentukan.
Baca Juga: Jawaban Atas Buruknya Infrastruktur Transportasi, di Mogadishu Kini Meluncur Layanan “Ojek Online”
Pada akhirnya, kesadaran untuk mematuhi marka lalu lintas (seperti mangkal di bawah rambu dilarang berhenti atau parkir) memang perlu ditumbuhkan oleh setiap pengguna jalan – bukan hanya dari kalangan driver ojol saja. Selain itu, sanksi tegas juga perlu diterapkan oleh masing-masing operator ojol agar terciptanya kondisi lalu lintas yang kondusif.
Jadi, yuk kita semua lebih peka terhadap sekitar dan tetap patuhi marka lalu lintas yang sudah ditetapkan sebelumnya, ya!
Dewasa ini, pengembangan moda transportasi udara memang tengah ramai digalakkan oleh sejumlah perusahaan. Tidak melulu mengembangkan pesawat narrow body bertenaga ‘super’ untuk menempuh perjalanan antar benua saja, pun dengan pengembangan taksi udara yang kini tengah diupayakan untuk bisa segera beroperasi secara legal. Diantara sejumlah perusahaan yang ikut berkecimpung di ranah taksi udara, salah satu yang siap untuk mengudara di tahun 2020 dan didaulat sebagai yang paling ramah lingkungan adalah Skai.
Baca Juga: Terima Kucuran Dana Segar, Volocopter Fokus Kembangkan VTOL Andalannya
Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (7/6/2019), Chief Technology Officer (CTO) sekaligus co-founder dari Alaka’i Technologies (induk perusahaan dari Skai), Brian Morrison mengatakan bahwa dirinya sangat percaya diri dengan teknologi yang dikembangkannya – dimana moda electric Vertical Take Off Landing (eVTOL) ini mampu untuk mendarat di berbagai landasan, namun tetap memiliki cost per mile yang sama dengan Uber ride yang ada di darat.
“Selain itu, kami (Skai) juga tidak seperti kebanyakan perusahaan yang mengedepankan penggunaan baterai litium, namun menggunakan bahan bakar hidrogen yang mampu membuat Skai mengudara lebih dari 20 menit,” ujar Brian Morrison.
“Penggunaan bahan bakar hidrogen ini juga berterima dengan uji sertifikasi yang dilayangkan oleh Federal Aviation Administration (FAA), dan kami percaya bahwa Skai dapat memulai operasi komersialnya pada tahun 2020 mendatang,” imbuhnya percaya diri.
Jika dilihat dari bentuknya, Skai memiliki desain yang sangat mirip dengan Volocopter, dimana Skai juga dilengkapi dengan enam baling-baling yang berada di setiap sisi sebelah atas kabin dan mampu mengangkut hingga enam penumpang sekaligus. Menurut Brian Morrison, carian hidrogen yang menjadi bahan bakar dari Skai ini berada di dalam on board.
“Sebenarnya, Skai menggunakan hidrogen dalam bentuk gas, maka dari itu ada proses perubahan senyawa dari cair menjadi gas di dalam Skai dengan cara pemanasan,” terang Brian Morrison.
Baca Juga: Soal Taksi Udara, Inilah Serangkaian ‘PR’ yang Kudu Diselesaikan Volocopter
Sementara untuk tangki penampungan cairan hidrogen ini sendiri, Brian Morrison mengatakan bahwa Skai memiliki beberapa varian volume, mulai dari 110 liter hingga yang paling besar adalah 400 liter. Tentu saja, semakin besar volumenya, maka semakin jauh pula jarak tempuhnya – mulai dari 420 mil (676km) hingga 430 mil (692km), dengan waktu mengudara hingga empat jam lamanya.
Menyinggung soal murahnya tarif yang akan dikenakan untuk Skai di masa yang akan datang (sebanding dengan perjalanan darat menggunakan Uber), Brian Morrison mengatakan bahwa ini dapat tercapai karena harga dari hidrogen yang diperkirakan akan lebih murah dari bahan bakar lainnya. Selain itu, mudahnya Skai untuk dioperasikan dari darat juga akan berperan dalam penentuan tarif pengoperasiannya kelak.
Apakah Anda masih ingat dengan kebijakan yang diberlakukan oleh maskapai asal Negeri Kangguru, Qantas dalam upayanya untuk menekan produksi limbah? Ya, maskapai berjuluk The Flying Kangaroo ini rencananya akan membatasi penggunaan kertas boarding pass dan menggantinya dengan sistem digital di tahun 2019 ini. Tidak hanya itu, Qantas juga berencana untuk menggunakan alternative packaging untuk mengatasi problematika gelas kopi atau bahan plastik lainnya yang bisa didaur ulang.
Baca Juga: Tekan Limbah, Qantas Tahun Ini Stop Penggunaan Boarding Pass Berbahan Kertas
Nah ternyata, dalam hal ini Qantas tidak berjalan sendiri – ada Dubai International Airport yang juga akan menerapkan regulasi serupa dalam upayanya untuk menciptakan bandara yang ramah lingkungan. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman airport-technology.com (12/6/2019), bandara dengan kode IATA DXB ini telah memutuskan keputusannya untuk melarang penggunaan plastik sekali pakai dari ruang konsumennya, terhitung sejak 1 Januari 2020 mendatang.
Sebagai bagian dari janjinya, Dubai International Airport telah melarang penggunaan lebih dari 150.000 sedotan, yang jika digabungkan maka akan menghasilkan panjang 30km. Tercatat bahwa sedotan plastik adalah salah satu bahan plastik sekali pakai yang paling sering digunakan. Kepala Pemasaran dari Emirates Leisure Retail Costa Coffee, Shemine Jones mengatakan, “Kami akan menghentikan penggunaan sedotan plastik dan kami akan menggantinya dengan opsi yang lebih ramah lingkungan,”
“Dan dalam mengeksekusi rencana ini, kami akan bermitra dengan Dubai International Airport dan orang-orang lain yang kompeten di bidang ini,” tandas Shemine.
Baca Juga: Ikuti Jejak Qantas, Singapore Airlines Optimalkan Pengurangan Limbah Penerbangan
Program ini dilakukan dalam kemitraan dengan lebih dari 106 bisnis yang beroperasi di Dubai Internatinal Airport. Menurut operator bandara, berbagai tindakan termasuk pelarangan kantong plastik, peralatan, dan penerimaan kertas telah dilaksanakan sejak beberapa waktu ke belakang. Operator bandara mendaur ulang lebih dari 43.000 ton kertas, gelas, dan limbah lainnya setiap tahun sebagai bagian dari komitmen untuk mengurangi dampak lingkungannya. Dalam enam bulan terakhir, bandara menghilangkan sekitar 16t botol dan tutup plastik sekali pakai.
Wakil presiden eksekutif Dubai Airports Commercial, Eugene Barry mengatakan: “Di bandara yang menampung sekitar 90 juta orang per tahun ini, kami percaya kami dapat membuat perbedaan nyata dengan cara menghilangkan plastik sekali pakai di ruang konsumen,”