Sehubungan dengan berjalannya Bulan Ramadan, salah satu unicorn asal Indonesia, GoJek meluncurkan fitur Go-Give. Ya, sesuai dengan namanya, fitur ini memungkinkan para pengguna aplikasi GoJek untuk berbagi donasi, zakat, infaq, dan sedekah secara online. Anda dapat mulai mengakses fitur ini melalui aplikasi GoJek pada ponsel Anda terhitung sejak pertengahan Mei 2019 mendatang. Sebelumnya, GoJek pernah menghadirkan fitur serupa hanya saja dalam bentuk shuffle card sejak November 2018 kemarin.
Baca Juga: Pasca Pemberlakuan Tarif Baru, Pengemudi Ojek Online Keluhkan Sepinya Order
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman cnbcindonesia.com (8/5/2019), ketika masih berbentuk shuffle card saja, Go-Give telah memfasilitasi 343 kampanye kebaikan dan mengumpulkan dana sejumlah Rp2,3 miliar dari 75.000 donatur dalam rentang waktu enam bulan saja. Luar biasa, bukan?
Menanggapi rencana peluncuran Go-Give dalam versi baru ini, Chief Corporate Affairs GoJek, Nila Marita mengatakan bahwa inovasi ini sejalan dengan misi Gojek untuk menggunakan teknologi dalam memudahkan kehidupan dan memberikan dampak sosial kepada masyarakat luas.
“Kami percaya posisi kami sebagai aplikasi on-demand dengan jumlah pengguna terbanyak di Indonesia akan memperluas jangkauan Go-Give sehingga dapat menginspirasi semakin banyak lagi masyarakat Indonesia untuk berbagi kebaikan dan memberikan dampak sosial,” ungkap Nila, Rabu (8/5/2019).
Senada dengan Nila, Head of Third Party Platform GoJek, Sony Radhityo pun menambahkan bahwa tren donasi online yang ada di Indonesia mengalami pertumbuhan yang sangat pesat pada rentang waktu 2017 hingga 2018.
Terlebih lagi, di Bulan Ramadan seperti ini juga kerap kali dimanfaatkan oleh banyak orang di luar sana untuk berbagi kebaikan, jadi sepertinya GoJek sudah merilis fitu yang tepat di waktu yang pas.
Baca Juga: Tarif Baru Ojol Berlaku 1 Mei di Lima Kota, GoJek dan Grab Ikut Aturan Pemerintah
“Di Indonesia tren donasi online meningkat lebih dari dua kali lipat pada 2017-2018. Ramadhan tahun lalu, jumlah donasi digital yang terhimpun dengan memanfaatkan aplikasi Gojek juga secara signifikan meningkat 12 kali dibandingkan Ramadan tahun sebelumnya,” ungkap Sony.
Ia juga menambahkan bahwa Go-Give melengkapi 22 layanan dan lima fitur yang kini ada dalam ekosistem GoJek. “Yang unik, Go-Give punya kalkulator zakat Jadi, bisa dihitung langsung, apakah mau bayar zakat sendiri atau untuk anak semisal sudah berkeluarga,” tuturnya.
Pesawat dengan empat mesin, Airbus A340 milik Air France dengan nomer penerbangan 218 dari Bandara Charles de Gaulle Paris menuju Mumbai, dilaporkan harus melakukan pendaratan darurat (emergency landing) di Bandara Internasional Shahid Beheshti di Isfahan, Iran. Pesawat yang terbang dari Paris pada pukul 11.00 waktu setempat tersebut bahkan sebelumnya sempat hilang dari pantauan radar.
Baca juga:Awak Kabin Pesawat Berisiko Lebih Tinggi Terkena Kanker Payudara!
Dilansir dari express.co.uk (9/5/2019), pilot Air France memutuskan mendarat darurat setelah menerima adanya laporan malfungsi di bagian sistem ventilasi pesawat. Berdasarkan informasi, Airbus A340 telah muncul kembali di radar dan mendarat di Isfahan pada pukul 17.00 waktu Paris. Setelah dilakukan pemeriksaan, pesawat dengan 267 penumpang dan kru kabin telah bertolak ke Dubai pada pukul 23.00 waktu setempat.
Berkaca dari kejadian yang menimpa Airbus A340 Air France, titik penting terjadinya masalah ada pada ventilasi. Ventilasi di penerbangan bukan persoalan ringan, ventilasi udara layaknya pelindung bagi para penumpang. Sebagaimana diketahui virus udara seperti campak dan tuberkulosis dapat menggantung di udara selama berjam-jam. Ventilasi udara dapat melindungi penumpang dari virus tersebut.
Mengaktifkan ventilasi udara akan menciptakan penghalang udara yang akan mengakibatkan turbulensi dan memblokir mikroba tersebut serta menumbuknya lebih cepat. Jelas kehadiran ventilasi udara dalam pesawat memiliki banyak manfaat bagi para penumpang.
Lantas bagaimana cara kerja ventilasi udara di pesawat? Udara yang dihirup dan terekspos ketika berada di penerbangan adalah dua hingga lima baris di dekat tempat duduk Anda. Bagian ini disebut zona kontrol suhu. Zona-zona ini menerima udara dari nosel yang berada atas kepala. Nosel ini mengalir melalui seluruh kabin. Udara keluar dari pesawat di mana dinding samping bertemu dengan lantai atau dari celah yang terletak di bawah jendela.
Udara yang mengalir keluar dan bergabung dengan udara luar melewati HEPA (High-Efficiency Particulate Air) yang membersihkan semua partikel debu dan mikroba sebelum udara kembali memasuki pesawat.
Baca juga: Pesawat Boleh Tetap Mengudara di Tengah Kepulan Abu Vulkanik, Asalkan…
Persisnya ventilasi itu dapat memblokir partikel yang tidak diinginkan dari penumpang dengan menciptakan penghalang udara tersendiri. Terutama bagi penyakit yang dapat bertahan hidup di udara selama lima jam, seperti TBC dan meningitis. Caranya adalah dengan menyerap virus dan menyalurkannya ke pembuangan, yang nantinya akan dibuang setelah melakukan pendaratan.
Pesawat penumpang komersial terbesar di dunia, Airbus A380-800 milik Singapore Airlines dikabarkan melakukan emergency landing di New Delhi, India, Rabu (8/5/2019). Pendaratan darurat ini dilakukan setelah pilot melaporkan adanya kesalahan teknis yang terjadi pada roda bagian depan pesawat. Menurut salah satu sumber internal dari pihak maskapai, Singapore Airlines dengan nomor penerbangan SQ406 mengalami masalah pada sistem hidrolik, sesaat sebelum tiba di New Delhi pada Rabu malam.
Baca Juga: Pernah Gagalkan Pembajakan Singapore Airlines, Mantan Anggota Pasukan Khusus Kini Menjadi Biksu
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman straitstimes.com (9/5/2019), SQ406 yang melayani rute penerbangan Singapura – New Delhi ini mendarat sekitar pukul 20.20 waktu setempat, atau mengalami keterlambatan sekitar setengah jam dari jadwal sebelumnya. Adapun Singapore Airlines SQ406 ini melakukan pendaratan darurat di runway 28.
“Setelah dilakukan pemeriksaan, ada indikasi kebocoran hidrolik pada area roda depan,” tutur sumber internal dari Singapore Airlines.
Walhasil, superjumbo jet ini mesti diderek dengan menggunakan towing car menuju parking bay yang sudah disediakan sebelumnya, “dan penumpang dapat keluar secara normal dari pesawat,” ujar sang juru bicara.
Beruntung, keseluruhan penumpang dan awak penerbang yang ada di dalam penerbangan tersebut berada dalam kondisi aman tanpa ada yang mengalami cidera. Kendati tidak ada penumpang atau awak penerbang yang mengalami cidera, namun penumpang di dalam penerbangan tersebut mengaku bahwa pesawat sempat kehilangan kemudi seketika mendarat di India.
“Total ada 203 penumpang dan 25 kru penerbang di dalam SQ406 dan mereka semua aman,” tandasnya.
Senada dengan apa yang diutarakan oleh pihak maskapai, Delhi International Airport yang mengoperasikan Indira Gandhi International Airport mengatakan bahwa sebelumnya pilot telah melaporkan masalah yang terjadi pada roda bagian depan.
Baca Juga: Mengenal Ditching, Pendaratan Darurat Pesawat di Atas Permukaan Air
“Sebagai tindak lanjut dari laporan ini, kami langsung menyiagakan beberapa unit mobil pemadam kebakaran dan petugas medis apabila sewaktu-waktu terjadi situasi darurat,” ujar narasumber dari Delhi International Airport.
Adapun dampak lain dari pendaratan darurat Airbus A380 ini adalah penutupan landasan selama kurang lebih 18 menit – dan ini mempengaruhi sejumlah pemberangkatan pesawat lain.
Dewasa ini, penggalakkan moda transportasi ramah lingkungan memang tengah digenjot oleh berbagai instansi. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mengurangi emisi karbon dan menghemat penggunaan bahan bakar fossil. Nah, ternyata penggalakkan evolusi moda transportasi ini juga terjadi di Indonesia, tepatnya dari Tanah Batak dimana PT PLN (Persero) yang bekerja sama dengan Universitas HKBP Nommensen (UHN) Medan menghasilkan becak motor (betor) bertenaga listik. Jika ditanya moda ini ramah lingkungan atau tidak? Jawabannya jelas ramah lingkungan, dong!
Baca Juga: “HAN” Si Becak Listrik, Dibanderol Rp18 Juta, Akankah Ikut Ramaikan Transportasi Jakarta?
Sebagaimana yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, peluncuran becak motor listrik ini bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada tanggal 2 Mei 2019 kemarin. Ketua Tim Inovasi Becak Motor Listrik dari Fakuktas Teknik UHN, Parulian Siagian, mengatakan bahwa becak motor listrik berkapasitas 2.000 watt tersebut mampu merengkuh kecepatan hingga 50 sampai 60 km per jam tanpa penumpang dan 30 sampai 40 km per jam dengan penumpang.
Dengan mengusung tema ramah lingkungan dan menggunakan bahan bakar berkelanjutan, hadir becak motor listrik ini merupakan salah satu bentuk dukungan terhadap program green energi ergonomis yang akan berimplikasi terhadap kesejahteraan lingkungan.
Sumber: okezone.com
Tidak melulu dari segi teknisnya saja, pun dari segi desain yang coba tetap dipertahankan oleh tim yang mengerjakan proyek ini. Tim dari Fakultas Teknik UHN ini memang mengganti sumber tenaga dari becak motor ini, namun tidak dengan ciri khas dari moda khas Sumatera Utara ini.
“Dan hasilnya seperti yang kita saksikan saat ini, dan ini sejarah baru bagi kita karena pertama kali di Sumatera dikembangkan perguruan tinggi,” ujar Rektor UHN, Haposan Siallagan, dikutip dari laman medanbisnisdaily.com (2/5/2019).
Baca Juga: Saatnya Maksimalkan Tenaga Surya untuk Energi Terbarukan di Kereta Api
Guna menunjang pengoperasian dari becak motor listrik ini kelak, pihak PLN sudah memiliki Stasiun Pengisian Listrik Umum (SPLU) di 15 titik yang berada di beberapa kota di Sumut, yang selanjutnya setiap 20 Km di sepanjang jalan lintas utama Provinsi Sumut juga akan didirikan SPLU guna mendukung kebutuhan pengisian ulang kendaraan listrik.
Pernahkah Anda membayangkan mengudara melintasi tiga benua sekaligus dalam sebuah penerbangan jarak jauh? Ya, inilah yang akan Anda rasakan ketika bertolak dari Perth, Australia menuju Los Angeles, Amerika Serikat via Singapura dengan menggunakan maskapai Singapore Airlines. Pada perjalanan pulang pergi Perth – Los Angeles yang membutuhkan waktu empat hari ini, flag carrier Singapura menggunakan pesawat Airbus A350-900ULR (Ultra-Long-Range) yang paling baru. Wah, kira-kira seperti apa ya sensasinya?
Baca Juga: Singapore Airlines Terbangkan Perdana A350-900 ULR ke New York
Seperti yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman airlineratings.com (5/5/2019), perjalanan ini akan Anda mulai dari Perth dengan menggunakan armada Airbus A330 biasa untuk sampai di Singapura. Setelah melakukan perjalanan kurang lebih lima jam menuju Bandara Internasional Changi, penumpang akan dipindahkan menuju pesawat A350-900ULR yang menggunakan serat karbon komposit untuk menunjang tingkat efisiensi bahan bakar.
Sumber: airlineratings.com
Namanya juga layanan full service, maka sudah sewajarnya jika dalam perjalanan puluhan jam ini Anda akan mendapatkan suguhan makanan dari pihak maskapai. Anda dapat memilih menu yang terpampang di katalog makanan – Book the Cook.
Salah satu menu yang ada di dalam penerbangan ini adalah Canape, penganan seperti gabungan sate ayam dan kambing yang dicampur dengan acar dan saus kacang. Sebuah penganan lezat yang siap menggoyang lidah Anda selama perjalanan. Setelah disajikan makanan pembuka, penumpang akan diperkenankan untuk melanjutkan makan malam mereka.
Selain aneka makanan lain yang bisa Anda coba, masing-masing business seat pada Airbus A350-900ULR milik Singapore Airlines ini terbilang cukup sempurna karena mampu menampung seorang traveler dengan tinggi mencapai 194 cm.
Baca Juga: Terima Airbus A350-900ULR, Singapore Airlines Siap Terbang ke New Jersey Non-Stop
Perjalanan antara Perth dan Los Angeles sendiri memakan waktu sekira 16 jam 51 menit – begitupun sebaliknya. Singapore Airlines sendiri memiliki tujuh armada A350-900ULR dengan konfigurasinya adalah 67 seat pada kelas bisnis dan 94 seat pada kelas ekonomi premium dengan tata letak bangku 2-4-2.
Tanpa diragukan lagi, Airbus A350-900ULR merupakan sebuah terobosan yang tidak hanya dapat menguntungkan setiap maskapai yang menggunakannya, melainkan juga penumpang yang akan dimanjakan oleh fitur-fiturnya.
Sejak meluncur komersial pada 1 April 2019, pengguna MRT Jakarta telah menikmati tarif dengan diskon 50 persen. Hal tersebut penting dilakukan dalam upaya untuk memperkenalkan dan mendorong masyarakat untuk menggunakan jasa transportasi massa terbaru di Indonesia ini. Namun sebagai layanan yang bersifat bisnis, periode tarif dengan diskon tentu ada batasnya. Setelah diperpanjang pada 30 April lalu, maka mulai Sabtu 13 Mei, warga yang menggunakan MRT Jakarta akan dikenakan tarif normal.
Baca juga: Animo Pengguna MRT Jakarta Tinggi, TransJakarta Koridor 1 Tidak Mengalami Penurunan Penumpang
“Kami sudah mempertimbangkan dampaknya, kemungkinan ada sekitar 39 persen pengguna yang akan berhenti menggunakan MRT Jakarta saat tarif normal berlaku. Harus diakui ada kelompok pengguna yang price sensitive,” ujar Direktur Utama PT MRT Jakarta dalam acara Forum Jurnalis bebepa hari lalu. Dalam kesempatan terpisah, Direktur Operasional dan
Pemeliharaan PT MRT Jakarta M Effendy menyebutkan pihaknya akan mendorong integrasi dengan moda lainnya.
Sebelumnya PT MRT Jakarta mengusulkan kepada pihak Pemprov DKI untuk terus memperpanjang masa potongan tiket, sembari dilakukan evaluasi pada pricing. Di Mei 2019 MRT Jakarta sudah mengoperasikan 16 set kereta pada weekday, dengan rincian 14 set berjalan dan 2 set standby di depo. Sementara pada weekend aka nada 7 set yang berjalan setiap harinya.
Baca juga: Sebulan Beroperasi Komersial, Rata-Rata Pemumpang MRT Jakarta Per Hari Mencapai 82.615 Orang
Dengan menjual ketepatan waktu yang mencapai level 99,8 persen, MRT Jakarta mulai Mei 2019 akan menerapkan headway per 5 menit pada jam sibuk (07.00 – 09.00 dan 17.00 – 19.00 WIB) dan headway per 10 menit di luar jam sibuk. Pada weekend headway diberlakukan per 10 menit.
Insiden pendaratan darurat yang berujung maut oleh pesawat Sukhoi SJ100 milik Aeoroflot pada Minggu (5/5/2019) menyisakan kesedihan mendalam bagi keluarga korban tewas yang mencapai 41 orang. Lepas dari itu, insiden ini juga menjadi pukulan berat bagi industri dirgantara Rusia yang selama ini mengalami keterpurukan.
Baca Juga: Evakuasi Terhambat Penumpang Egois, Dua Awak Kabin Sukhoi SJ100 Aeroflot Tunjukan Heroisme Sejati
Bagi Rusia, hadirnya Sukhoi Superjet 100 ibarat titik balik kebangkitan industri pesawat terbang komersial pasca jatuhnya Uni Soviet. Terbang perdana pada 19 Mei 2008, dan resmi operasional perdana pada 21 April 2011, sampai Mei 2019 sudah 162 unit Sukhoi SJ100 yang telah diproduksi untuk empat maskapai. Selain kebanggaan bagi Rusia, pesawat regional jet narrow body ini juga banyak menciptakan lapangan pekerjaan. Singkat kata, Sukhoi SJ100 adalah aset strategis bagi denyut industri dirgantara Rusia.
Perjalanan Sukhoi SJ100 juga tidak mudah, musibah crash SJ100 saat menabrak lereng Gunung Salak di 9 Mei 2012, merupakan kemunduran besar dalam pemasaran pesawat twin jet ini. Dan ketika Sukhoi SJ100 kembali mengalami insiden fatal di Bandara Sheremetyevo, Moskow, sontak membuat panik pemerintah Rusia. Meski masih menunggu penyelidikan dan identifikasi data dari black box, otoritas penerbangan Rusia sudah langsung mengeluarkan pernyataan bahwa tidak ada rencana untuk meng-grounded Sukhoi SJ100. Terasa disini pemerintah Rusia mengambil ancang-ancang agar Sukhoi SJ100 tidak dicecar pemberitaan negatif.
Ya, industri di Rusia secara makro memang bisa dibllang sempat mengalami masa terseok-seok – terutama dari sektor kedirgantaraannya. Sukses mengungguli Ilyushin, nama Sukhoi seolah menjadi angin segar bagi sektor industri Rusia untuk membanggakan rakitan dalam negeri mereka. Teknologi yang digunakan Sukhoi dalam Superjet 100-nya pun bisa dikatakan sudah cukup mumpuni untuk bersaing dengan kompetitornyadari berbagai belahan dunia lainnya, seperti Boeing dan Airbus – sebut saja teknologi fly by wire yang juga diaplikasikan Sukhoi dalam Superjet 100-nya.
Nah, guna melindungi sektor industrinya yang sedang berusaha merangkak naik, Menteri Transportasi Rusia Yevgeny Ditrikh langsung menyiarkan keesokan harinya (6 Mei 2019) bahwa tidak ada armada Sukhoi Superjet 100 yang mesti grounded, tidak seperti grounded massal yang dilakukan oleh hampir seluruh maskapai di seluruh dunia terhadap armada Boeing 737 MAX.
Tidak cukup sampai di situ, sebagai usaha lain agar nama Sukhoi tidak tercoreng, juru bicara dari Komite Investigasi, Svetlana Petrenko mengatakan bahwa ada beberapa indikasi awal dari kecelakaan ini; seperti human error yang dilakukan oleh pilot, kesalahan pengendali lalu lintas udara, teknisi yang memeriksa kelaikan pesawat sebelum mengudara, kondisi cuaca yang buruk, hingga kemungkinan terkecilnya adalah kesalahan pada pesawatnya sendiri.
Tak lama berselang, sebuah isu yang tersebar mengatakan bahwa Sukhoi Superjet 100 yang dioperasikan oleh Aeroflot tersampar oleh petir ketika tengah mengudara. Sebagai gambaran sederhana untuk mematahkan isu ini adalah, bagaimana mungkin pesawat yang tergolong produksian baru seperti Sukhoi Superjet 100 tidak dilengkapi dengan fitur penangkal petir, padahal pesawat-pesawat lain yang lebih dahulu diproduksi sudah dilengkapi dengan fitur serupa?
Baca juga:Apa Yang Terjadi Jika Pesawat Anda Tersambar Petir?
Tapi apabila dilihat dari runutan laporan yang diterima, kemungkinan pilot kurang terlatih cukup kuat untuk melatarbelakangi insiden mematikan ini. Ya, sebagaimana yang sudah kita ketahui bersama, salah satu prosedur utama pesawat sebelum melakukan pendaratan darurat adalah mengosongkan terlebih dahulu tangki bahan bakar – dikhawatirkan hard landing memicu percikan api yang pada akhirnya menyambar tangki bahan bakar.
Namun kembali lagi, pemberitaan terakhit menyebutkan bahwa pihak investigator sudah berhasil mengumpulkan Cockpit Voice Recorder (CVR) dan Flight Data Recorder (FDR) dari black box Sukhoi Superjet 100 yang jatuh di Bandara Sheremetyevo. Ada baiknya untuk menunggu hasil investigasi yang saat ini tengah dilakukan oleh pihak berwenang di Negeri Beruang Merah.
Penetapan tarif yang diberlakukan oleh salah satu unicorn asal Indonesia, GoJek ternyata berdampak langsung pada turunnya orderan yang didapatkan oleh pengemudi di lapangan. Ya, berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan No. 348/2019 GoJek dan ojek online (ojol) lainnya telah menerapkan tarif yang sudah disesuaikan di lima kota berbeda di seluruh Indonesia. Penetapan tersebut terjadi bertepatan dengan peringatan Hari Buruh yang jatuh pada 1 Mei kemarin.
Baca Juga: Tarif Baru Ojol Berlaku 1 Mei di Lima Kota, GoJek dan Grab Ikut Aturan Pemerintah
Hal tersebut diungkapkan oleh Vice President of Corporate Communication GoJek, Michael Reza Say. Penetapan tarif tersebut diungkapkan Michael berdampak langsung pada sepinya pesanan terhadap fitur terkait (GoRide).
“Pada 1 Mei 2019, GoJek telah menerapkan tarif untuk GoRide di lima kota sebagaimana mengacu pada Keputusan Menteri Perhubungan No. 348/2019. Berdasarkan hasil pemantauan dan evaluasi tiga hari, kami melihat penurunan yang signifikan dari pesanan GoRide, dan itu mempengaruhi mitra pengemudi kami, ”ujar Michael, dikutip KabarPenumpang.com dari laman Tempo.co (7/5/2019).
Kendati menerima kenyataan pahit di lapangan pasca kenaikan tarif tersebut, namun GoJek akan terus berupaya untuk tetap mendukung keberhasilan dan optimalisasi keputusan mengenai pedoman tarif layanan tesebut.
“Kami juga akan terus melaporkan perkembangan terkait uji coba tarif kepada pemerintah, sehingga kami dapat saling memberi dan menerima saran,”tandasnya.
Mengutip dari laman sumber lain, ternyata ada yang dialami oleh pengemudi ojek online di lapangan memang sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Michael tadi. Tidak sedikit dari mereka yang mengeluh baru mendapat tiga penumpang sejak pukul 10.00 WIB hingga 15.00 WIB – padahal normalnya ia bisa mendapat sampai 10 penumpang.
Baca Juga: Jawaban Atas Buruknya Infrastruktur Transportasi, di Mogadishu Kini Meluncur Layanan “Ojek Online”
“Sepi orderan hari ini. Biasanya saya jam segini sudah dapat 10, sekarang cuma 3,” ujar seorang driver Grab Bike, dikutip dari laman detik.com (1/5/2019).
Adapun perubahan tarif pada angkutan online ini mencakup tarif batas bawah yang semula Rp 1.500 menjadi Rp. 2.000. Tarif batas atas yang semula Rp 2.000 menjadi Rp 2.500. Kenaikan tarif tersebut rupanya hanya tarif bersih yang didapat mitra pengemudi, bukan konsumen. Akibatnya, tarif yang dikenakan kepada konsumen jauh lebih mahal karena harus membayar jasa sewa aplikasi.
Terbakarnya pesawat Sukhoi Superjet 100 di Bandara Sheremetyevo, Moskow pada Minggu (5/5/2019) kemarin memang menyisakan duka yang mendalam bagi keluarga korban – baik korban luka maupun jiwa. Namun di balik kisruh isu yang melatarbelakangi terbakarnya pesawat narrow-body ini, ada kisah heroik dari dua korban tewas pada insiden yang menimpa maskapai Aeroflot nahas ini.
Baca Juga: Sukhoi SJ100 Aeroflot Jatuh di Moskow, Akankah Pengaruhi Rencana Akuisisi Merpati Airlines?
Sebelumnya, Aeroflot SSJ100 dengan tujuan Murmansk ini memboyong 78 penumpang dan lima awak kabin. Namun tak berselang lama setelah pesawat mengudara, pilot meminta ijin kepada Bandara Sheremetyevo untuk melakukan pendaratan darurat karena mengalami masalah teknis. Hentakan yang cukup kuat ketika pendaratan darurat tersebut disinyalir sebagai titik dimana bunga api tercipta dan menyambar bahan bakar yang diduga tumpah saat rough landing.
Menteri Transportasi Rusia, Yevgeny Dietrich menyebutkan bahwa petugas darurat di lapangan yang membantu proses evakuasi menemukan 41 jenazah dari dalam tubuh pesawat – dimana kebanyakan dari jenazah ini berada dalam kondisi mengenaskan akibat terbakar. Di antara sejumlah jenazah yang ada, Yevgeny menyebutkan bahwa salah satunya adalah seorang awak kabin yang bernama Maxim Moiseev.
Maxim Moiseev sendiri ditemukan di bagian belakang pesawat dan tetap memilih berada di dalamnya bahkan ketika si jago merah melalap bagian belakang pesawat. Menurut salah satu narasumber yang menjadi saksi dari kejadian nahas ini mengatakan bahwa Maxim tampak berusaha untuk membuka pintu darurat ketika akses menuju bagian depan tersendat – guna mempercepat proses evakuasi.
“Ia mencoba untuk membuka pintu darurat guna mempercepat proses evakuasi, padahal bagian belakang pesawat sudah terbakar,” ujarnya.
Sumber: foxnews.com
Kendati upaya yang dilakukan oleh Maxim ini gagal, namun ia tetap mengupayakan agar setiap penumpang bisa selamat – kendati nyawa Maximlah yang menjadi bayarannya.
“Ia membiarkan tubuhnya terbakar agar penumpang bisa keluar dengan cepat,” tandasnya.
Tidak hanya Maxim saja, sebuah penghormatan juga diberikan kepada awak kabin lainnya, Tatyana Kasatkina. Tatyana lebih mementingkan keselamatan para penumpangnya ketimbang dirinya sendiri. Terbukti saat ia lebih memilih untuk berada di atas pesawat yang terbakar untuk membantu proses evakuasi ketimbang turun ke darat guna menyelamatkan diri. Tatyana dikabarkan membantu proses evakuasi dengan cara meraih kerah dari setiap penumpang dan melemparkannya ke arah perosotan darurat.
Baca Juga: Apa Yang Terjadi Jika Pesawat Anda Tersambar Petir?
Namun menurut sebuah foto yang dipajang pada laman iheartcabincrew.com, tampak beberapa penumpang membawa barang bawaan mereka sembari berjalan meninggalkan pesawat yang terbakar. Diindikasikan para korban yang meninggal ini tidak bisa dievakuasi karena tersendat oleh penumpang yang berada di baris depan yang berusaha untuk menyelamatkan barang bawaannya.
Sumber: iheartcabincrew.com
Hipotesa ini didukung oleh sebuah petisi yang menyerukan hal serupa yang dibuat dilaman Change.org
“Semua penumpang dan awak pesawat yang berada pada bagian belakang pesawat terbakar hidup-hidup. Sejumlah penumpang, termasuk “penumpang berukuran besar”, menghalangi lorong sehingga menyebabkan penundaan proses evakuasi yang substansial ketika mereka berhenti untuk mengambil tas punggung dan tas jinjing dari bagasi kabin.”
Itulah petisi yang tersiar luas di laman change.org yang intinya meminta untuk mengganti prosedur evakuasi.
Berita mengejutkan datang dari Negeri Beruang Merah dimana otoritas setempat berencana untuk memberhentikan layanan sleepers train kelas ekonomi yang legendaris pada tahun 2025 kelak. Ya, sleepers train kelas ekonomi ini tidaklah sama dengan kebanyakan sleepers train di kebanyakan negara, karena The Platzkart – nama dari kereta ini, memiliki kasur yang terbuka pada kedua sisi gerbong, tanpa pintu atau sekat, dan bertumpuk dua ke atas.
Baca Juga: Bersanding Dengan Trans-Siberia, Rusia Siap Bangun Jaringan Kereta Cepat Moskow-Kazan!
The Plazkart sendiri sudah menjadi solusi transportasi yang cukup ramah di dompet dan namanya cukup tersohor seantero Rusia. Dikutip KabarPenumpang.com dari laman themoscowtimes.com, pemberhentian layanan sleepers train ini memang sudah direncanakan oleh Russian Railways sebagai upaya untuk memerangi persaingan dengan pihak maskapai dengan memasang target 1,4 miliar penumpang pada tahun 2025 kelak.
Alih-alih diberhentikan begitu saja, Russian Railways nantinya akan mengganti The Plazkart dengan moda yang lebih anyar dan modern terhitung sejak tahun 2019 ini – bahkan tidak sedikit dari kereta-kereta ini yang menggunakan transmisi otomatis. Tidak hanya itu, seorang juru bicara dari Russian Railways juga mengatakan bahwa kereta hasil pembaruan ini kelak akan menyajikan kenyamanan kepada penumpang – dan tetap menganut konsep sleepers train.
Kepada media setempat, ia membocorkan bahwa kelak, Russian Railways akan menggunakan produksian lokal, Transmashholding.
Tidak hanya itu, salah satu langkah visioner dari Russian Railways adalah mereka bakal melakukan peremajaan terhadap kereta-keretanya yang sudah berumur 12 setengah tahun – seperti ditambahkan colokan USB dan berbagai bentuk kenyamanan lainnya.
Sebagai upayanya untuk meningkatkan kenyamanan bagi penumpang, kelak Russian Railways akan meningkatkan kecepatan keretanya, mereduksi polusi suara yang dihasilkan, pun dengan getaran yang dihasilkan oleh kereta, nantinya akan dihasilkan seminimal mungkin.
Baca Juga: Jepang dan Rusia Sepakat Kembangkan Jalur Kereta Kargo Trans-Siberia
Bagi warga Rusia, tidaklah mudah untuk meninggalkan dan mengganti The Plazkart begitu saja – karena layanan ini sudah cukup lama beroperasi di Rusia. Maka dari itu, otoritas terkait tidak akan mengganti begitu saja The Plazkart, melainkan secara bertahap.
Sebagai informasi tambahan, penggunaan sleepers train di Rusia bukanlah hal aneh, mengingat jarak yang ditempuh untuk kereta antar kota terbilang sangat jauh.