Hanya dari Biaya Bagasi, Maskapai Global Raup Untung Hingga Ratusan Triliun Rupiah

Maskapai penerbangan di seluruh dunia memperoleh pendapatan sekitar US$28.1 miliar (Rp402,6 triliun) dari biaya bagasi pada tahun 2018 kemarin. Angka tersebut dikabarkan mengalami peningkatan sebanyak 110 persen dari tahun 2014 lalu, dimana laporan ini disadur dari IdeaWorksCompany dan CarTrawler. Laporan Pendapatan Perkiraan Biaya Bagasi Global CarTrawler menunjukkan bahwa uang yang diperoleh dari biaya bagasi mencapai 3,2 persen dari pendapatan maskapai global dibandingkan dengan angka 2014, di mana biaya tersebut menyumbang 1,8 persen. Baca Juga: Bagasi Cuma-cuma Hilang dari Penerbangan Domestik Lion Air, Bagaimana Reaksi Penumpang? Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman airport-technology.com (2/5/2019), sebuah laporan lebih lanjut mengungkapkan bahwa pendapatan tambahan global untuk maskapai penerbangan meningkat menjadi US$92,9 miliar (Rp1.331,02 triliun) di seluruh dunia untuk tahun 2018. Angka tersebut hanya diambil dari 20 maskapai top yang tersebar di seluruh dunia. Meningkatnya angka pendapatan dari sektor bagasi pesawat ini semakin merangkak manakala terjadi pertumbuhan yang cukup signifikan dari sektor Low Cost Carrier (LCC) atau penerbangan berbiaya rendah. Ya, layanan jenis ini memang sedikit banyaknya memberikan ‘pemasukan’ tambahan bagi pendapatan maskapai dari sektor bagasi. “Nilai pendapatan maskapai (a’la carte revenue) mengalami peningkatan sekitar 128 persen pada rentang tahun 2014 hingga 2018,” ujar kepala komersial CarTrawler, Aileen McCormack. Lebih lanjut, Aileen mengatakan bahwa tidak aneh apabila pendapatan dari segi bagasi juga mengalami pertumbuhan yang cukup pesat. “Jadi tidak mengherankan jika pendapatan biaya bagasi mengalami pertumbuhan dengan margin yang sama besar, baik dalam hal nilai moneter maupun presentase pendapatan maskapai secara keseluruhan,” terangnya. Baca Juga: Kadung Bawa Bagasi ‘Dadakan’ Pasca Penghapusan Free Baggage, Ini Regulasi Ala Citilink! Jika diteliti dengan seksama, peningkatan pendapatan maskapai dari segi bagasi bisa dibilang sejalan dengan peningkatan tarif dasar penerbangan dan juga pemberlakuan bagasi berbayar oleh sejumlah maskapai baik asing maupun domestik. “Tren ini secara keseluruhan mencerminkan strategi maskapai tradisional dalam merangkul pendapatan a la carte bersama dengan penyedia layanan LCC, menawarkan pelanggan solusi bernilai terbaik di pasar yang sudah mengalamai perubahan,” tandas Aileen.

Lebaran 2019, Seluruh Extra Flight ke Bandara Adisutjipto Dialihkan ke Bandara YIA

Menyambut musim mudik Lebaran 2019, pemerintah telah memutuskan bahwa seluruh extra flight (penerbangan tambahan) yang menuju ke Bandara Adisutjipto akan dialihkan seluruhnya ke Bandara International Yogyakarta (YIA) di Kulon Progo. Hal tersebut disampaikan disampaikan Direktur Utama PT Angkasa Pura I (Persero) Faik Fahmi, yang menyebutkan pemindahan ini dilakukan guna membantu untuk mengantisipasi lonjakan penumpang di Bandara Adisutjipto pada musim puncak Lebaran 2019. Baca juga: Pasang Tarif Rp30 Ribu, KA Bandara YIA Resmi Beroperasi Hingga Stasiun Wojo Sebagai informasi, pada masa mudik 2018 terdapat 32 tambahan penerbangan ke Bandara Adisutjipto. Pengalihan penerbangan tambahan ke Bandara YIA didasarkan atas kesiapan operasional bandara ini yang telah memulai layanan penerbangan komersial pada 6 Mei lalu. Saat kunjungan kerja Menteri BUMN Rini Soemarno pada hari ini (7/5), telah dipastikan progress pembangunan yang mencapai 53 persen, dan YIA dinyatakan siap dalam menghadapi arus mudik Lebaran 2019. Selain itu, YIA merupakan salah satu bandara dengan spesifikasi landas pacu terbaik di Indonesia. Bandara ini memiliki fasilitas sisi udara (airside) yang sudah siap 100 persen, dengan panjang landas pacu 3.250 meter, lebar 45 meter, dan shoulder (bahu runway) 15 meter di setiap sisi. Spefisikasi runway ini mampu didarati pesawat berbadan besar seperti Boeing 777-300 dan Airbus A380. Adapun fasilitas Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran (PKP-PK) di YIA masuk ke dalam kategori 8. Di sisi darat (landside), terminal seluas 12.900 meter persegi sudah dapat digunakan, dari total 210.000 meter persegi pada saat beroperasi penuh pada akhir 2019 nanti. Di terminal penumpang tersebut tersedia 12 konter check-in, 2 x-ray, 2 walk through metal detector (WTMD), 400 kursi tunggu, 6 konter imigrasi di kedatangan dan keberangkatan, serta 2 bag conveyor belt. Baca juga: Disambut Water Salute, Citilink QG-132 Lakukan Penerbangan Komersial Perdana ke YIA Adapun fasilitas standar pelayanan bandara lainnya yang sudah tersedia yaitu signage, konter informasi, flight information display system, informasi transportasi lanjutan, customer service dengan tenaga yang berasal dari warga lokal Kulon Progo, pusat pelayanan informasi pariwisata, nursery room, kid zone, reading corner, serta 400 unit troli. Untuk penyandang difabilitas, tersedia lounge, toilet, lift, dropzone khusus difabel. Disiapkan pula 132 tenaga facilities care.

Alihkan Tren Mudik Malam Hari di Merak–Bakauheni, Kemenhub Canangkan Dua Jurus Andalan

Selama ini seolah menjadi tren bagi pemudik Lebaran yang membawa kendaraan pribadi untuk melintasi penyeberangan Merak – Bakauheni pada malam hari. Berdasarkan pantuan dari tahun ke tahun, pilihan untuk menyeberang di malam hari dikarenakan beberapa hal. Diantara yang dominan adalah perjalanan di malam dipilih lantaran saat siang mereka harus berpuasa. Terlebih bagi yang membawa keluarga, pada perjalanan malam bisa lebih tenang, biasanya anak-anak dapat beristirahat di kendaraan. Baca juga: Presiden Jokowi Resmikan Terminal Eksekutif Sosoro-Merak dan Anjungan Agung-Bakauheni Seperti Bayu Laksana (47 tahun), pegawai swasta di Jakarta ini saban tahun memilih menyeberang malam ke Bakauheni (Sumatera) agar dapat tiba di kota tujuannya (Palembang) pada pagi hari. “Mudik malam hari lebih nyaman buat pengemudi yang berpuasa, selain terhindari dari hawa terik, perjalanan bisa digabungkan dengan waktu sahur,” ujar Bayu kepada KabarPenumpang.com. Apa yang dilakukan Bayu rupanya juga menjadi ‘tradisi’ buat ribuan pemudik yang melintasi Merak – Bakauheni. Dan bisa ditebak, pengumpulan jumlah kendaraan dalam sesi waktu tertentu berdampak pada antrean panjang di pelabuhan, bahkan tak jarang ratusan mobil sampai mengular di akses tol Merak. Hal tersebut menjadi momok bagi Kementerian Perhubungan, khususnya Direktorat Perhubungan Darat yang menaungi penyedia jasa dan pengelola pelabuhan, PT ASDP Indonesia Ferry. Dalam sebuah wawancara di MetroTV, Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Budi Setiyadi menyebutkan, bahwa saat musim mudik, penumpukan kendaraan di pelabuhan selalu pada jam-jam dini hari. “Hasil survei kami melihat masyarakat menyeberang jam 12 malam sampai jam 6 pagi, dari Jabodetabek sebagian besar menyebrang ke Sumatera, jadi distribusi pagi dan siang tidak seimbang, itu bisa mengakibatkan 7-9 km antrean di pelabuhan,” ungkap Budi. Dikutip dari detik.com (6/5/2019), Direktorat Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan punya jurus untuk mengatasi masalah yang terjadi setiap tahun tersebut. Jurus pertama yang dicanangkan adalah pemberlakuan ganjil – genap bagi kendaraaan yang akan menyeberang. Jadi nantinya, operasional pelabuhan akan dibagi dua, 12 jam untuk kendaraan yang berpelat ganjil, 12 jam lainnya untuk kendaraan berpelat genap. “Nanti mulai, 31 Mei rencananya jam 6 pagi-6 sore ini diarahkan yang menyeberang kendaraan ganjil, 6 sore-6 pagi genap,” papar Budi. Baca juga: Sebelum Menyebrang ke Bakauheni, Yuk Main di Destinasi Ini! Jurus kedua yang dicanangkan adalah pemberlakuan diskon tiket untuk penyeberangan di waktu tertentu. Diskon misalnya berlaku untuk kendaraan yang menyeberang pada siang hari, sedangkan penumpang yang menyeberang pada malam hari dikenakan harga tiket normal. Hal ini untuk menghindari penumpukan penyeberangan pada malam hari sebagaimana terjadi pada arus mudik Lebaran 2017 dan 2018 lalu.

Ternyata Boeing Ketahui Masalah Sensor di 737 MAX Sebelum Lion Air Jatuh!

Setelah melakukan pembaruan terhadap sistem yang disinyalir sebagai penyebab kecelakaan dua maskapai beda benua, Ethiopian Airlines dan Lion Air, kini produsen pesawat asal Amerika ini mengaku telah mengetahui perihal masalah terkait dua kecelakaan di atas – jauh sebelum kedua maskapai ini menjadi headline di berbagai media dunia. Namun alih-alih menanggulangi agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, pihak Boeing malah membiarkannya begitu saja. Dan boom! Pihak Boeing kini berada dalam posisi yang sangat tidak diuntungkan. Baca Juga: Ini Dia Daftar Maskapai yang Belum Hentikan Penggunaan Boeing 737 MAX 8 Sebagaimana yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, perusahaan menyatakan secara tidak sengaja membuat fitur sensor alarm pada armadanya dari standar untuk semua unit menjadi opsional. Namun mereka tetap bersikeras hal tersebut tidak membahayakan keselamatan penerbangan. Cerita ini bermula ketika beberapa bulan berselang setelah debut Boeing 737 pada tahun 2017 silam, dimana pihak perusahaan mengatakan bahwa para insinyur menyadari bahwa lampu sensor alarm hanya bekerja ketika maskapai penerbangan juga membeli fitur opsional terpisah. Akibatnya, dua penerbangan yang masing-masing jatuh di perairan Tanjung Karawang (Lion Air) dan Addis Ababa (Ethiopian Airlines) dilatarbelakangi oleh dua fitur keselamatan yang saling terpisah satu sama lain. Absennya sensor alarm pada dua penerbangan di atas menjadikan software yang berada di pesawat ‘menekan’ hidung pesawat ke arah bawah dan memaksa pilot untuk menaikkan sudut kemiringan pesawat hingga akhirnya mengalami stall. Fitur yang dipermasalahkan di sini merupakan alarm yang disebut Angle of Attack (AoA) Disagree, sebuah fitur yang dirancang untuk memberi informasi kepada pilot ketika terdapat dua sensor berbeda yang melaporkan data yang saling bertentangan. Boeing menyebut, fitur ini direncanakan bakal menjadi standar bagi semua unit produksinya. Namun hal itu tidak disadari hingga saat pengiriman pesawat, bahwa ternyata fitur ini tersedia jika maskapai membeli indikator yang bersifat opsional. Baca Juga: Akhirnya! Boeing Akui Adanya Kesalahan Sistem pada Boeing 737 MAX 8 Sekitar sebulan berselang setelah jatuhnya pesawat Lion Air pada bulan Oktober 2018 lalu, Boeing baru mengisyaratkan kekeliruannya ini terhadap Federal Aviation Administration (FAA). Mengutip dari laman BBC (7/5/2019), FAA tidak hanya mengatakan bahwa masalah tersebut (terpisahnya sensor alarm) “berisiko rendah”, namun juga mengatakan Boeing seharusnya bisa memberikan penjelasan untuk menghilangkan kemungkinan kebingungan oleh pilot yang menerbangan armadanya dengan memberi tahu sebelumnya.

Pasang Tarif Rp30 Ribu, KA Bandara YIA Resmi Beroperasi Hingga Stasiun Wojo

Bandara Internasional Yogyakarta (YIA – Yogyakarta International Airport) telah resmi beroperasi kemarin, 6 April 2019, yang ditandai dengan penerbangan perdana komersial pesawat Airbus A320 dari maskapai Citilink. Dan mendukung moda transportasi dari dan ke bandara yang berdekatan dengan Pantai Selatan Jawa ini, Kereta Api (KA) Bandara YIA juga telah resmi beroperasi per 6 April. Baca juga: Sempat Jadi Tempat Persusulan Kereta, Stasiun Wojo Direaktivasi Untuk Transit Kereta Bandara Namun perlu diketahui, meski namanya adalah kereta bandara, sampai saat ini belum tersedia stasiun kereta di Bandara YIA. Untuk penumpang KA Bandara yang akan menuju YIA, maka akan turun di Stasiun Wojo yang berada di Purworejo. Stasiun inilah yang berlokasi paling dekat dengan bandara. Sementara dari Stasuin Wojo ke lokasi bandara telah disediakan shuttle bus bekerja sama dengan PT Damri. Jarak dari Stasiun Wojo ke lokasi bandara sekitar 6,8 kilometer dan dapat ditempuh selama lebih kurang 15 menit. “Kedepan akan dibangun stasiun di area Bandara YIA yang terletak di Kecamatan Temon, Kulonprogo,” ujar Edi Sukmoro, Direktur Utama PT KAI dikutip dari bisnis.com (5/5). Sesuai rencana, jalur kereta api ke Bandara YIA akan menggunakan jalur utama (eksisting). Nantinya akan dibangun jalur baru dari Stasiun Kedundang ke arah selatan menuju bandara dan terus ke barat bergabung dengan Stasiun Kedundang. Saat ini proses sosialisasi pengadaan lahan sudah dilakukan. PT Angkasa Pura I juga sudah menyiapkan tempat untuk jalur kereta di areal bandara. Operasional KA Bandara disesuaikan dengan jadwal penerbangan yang ada. EVP PT KAI Daop 6 Eko Purwanto mengatakan, untuk saat ini operasional kereta cukup dengan satu trainset. KA Bandara akan tiba di Stasiun Wojo 1,5 jam sebelum jadwal keberangkatan pesawat sehingga masih bisa mengakomodasi waktu penumpang untuk mengikuti penerbangan. Mengenai alur perjalanan KA Bandara, dimulai dari pemberangkatan di Stasiun Maguwo dan akan berhenti di Stasiun Tugu, Stasiun Wates, dan terakhir di Stasiun Wojo. Ada empat gerbong dalam satu rangkaian tersebut seperti Solo Ekspres. KA Bandara ini merupakan KA dedicated khusus untuk penumpang pesawat. Namun, karena berhenti juga di Wates, tidak menutup kemungkinan penumpang reguler bisa memanfaatkan KA tersebut. Adapun waktu tempuh dari Maguwo hingga Wojo sekitar 45 menit, sedangkan dari Tugu ke Wojo sekitar 30 menit. KA Bandara YIA punya kapasitas 196 tempat duduk. Ada juga kapasitas untuk penumpang berdiri sebanyak 50% dari kapasitas tempat duduk. KA ini memang didesain untuk KA Bandara sehingga ada tempat koper. Untuk bisa menikmati fasilitas KA Bandara PT KAI telah menetapkan tarif Rp30 ribu per penumpang. Penumpang umum juga dapat menggunakan KA Bandara, asalnya tetap membayar tarif penuh. Dalam masa promosi ini, PT KAI memberikan potongan tarif hingga 50 persen. Untuk pembelian tiket saat ini masih go show, meski pihak PT KAI kedepan akan memberikan layanan pembelian tiket online seperti KA Bandara Soekarno-Hatta. Baca juga: Sama-Sama Kereta Bandara, Inilah Yang Beda Antara di Soekarno-Hatta dan Kualanamu Shuttle Gratis dari dan Menuju YIA 6-12 Mei 2019 Selain shuttle gratis yang menghubungkan Bandara YIA dan Stasiun Wojo, pihak PT Angkasa Pura I menyediakan fasilitas shuttle bus gratis Damri dan Satelqu di beberapa titik pemberangkatan mulai 6 hingga 12 Mei 2019. Adapun layanan shuttle bus Damri melayani rute pulang-pergi YIA menuju Bandara Adisutjipto, Wojo, Purworejo, dan Magelang. Sedangkan Satelqu melayani rute pulang-pergi YIA menuju Bandara Adisutjipto, Cilacap, Purwokerto.

Norwegian Airlines Bebaskan Awak Kabin untuk Berdandan Seadanya

Jika selama ini Anda kerap melihat awak kabin maskapai berbalut polesan make-up yang cukup tebal, dan sepatu hak tinggi, maka lain halnya dengan awak kabin dari Norwegian Airlines. Ya, maskapai terbesar di Norwegia ini ternyata tidak terlalu menuntut para awak kabinnya untuk menggunakan sepatu hak tinggi ketika tengah bertugas. Baca Juga: Inilah 14 Tugas Awak Kabin Pesawat Yang Jarang Diketahui Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com (4/5/2019), kebebasan yang coba diterapkan oleh Norwegian Airlines terhadap awak kabinnya ini merupakan salah satu wujud untuk menghargai usaha yang telah mereka lakukan dan ternyata merujuk kepada pernyataan salah satu dokter yang menyebutkan bahwa penggunaan sepatu hak pendek dinilai lebih sehat ketimbang sepatu hak tinggi. Bagi awak kabin perempuan (pramugari), mereka diperkenankan untuk menggunakan make-up seadanya saja – riasan mata, foundation tipis, dan pelembab kulit. Sementara awak kabin yang berjenis kelamin pria (pramugara) tidak diperkenankan untuk menggunakan make-up dalam bentuk apapun. Sudah barang tentu, para awak kabin ini akan berdandan semaksimal mungkin, dengan perlengkapan seadanya. Bukankah mereka juga akan tetap ingin terlihat sempurna di depan ratusan penumpang kendati hanya menggunakan make-up tipis saja? “Kami selalu memperbolehkan awak kabin kami untuk mengenakan flat shoes ketika tengah bekerja – setidaknya dua centimeter yang ditujukan untuk keselamatan dan kenyamanan mereka selama bertugas,” ujar Director of Communication Norwegian Airlines, Anders Lindström. “Tidak hanya sebatas membebaskan awak kabin kami untuk berdandan seadanya, tapi kami juga terus berusaha untuk berkomunikasi dengan mereka perihal seragam yang mereka kenakan, apakah sudah cocok dengan pedoman atau belum,” lanjutnya. Baca Juga: Adakah Yang Berbeda Antara Pramugari dan Awak Kabin? Memang, kedengarannya ini seperti tidak ada aturan baku mengenai cara berdandan bagi awak kabin Norwegian Airlines, namun ternyata ini berdampak pada kepercayaan diri mereka untuk mengekspresikan apa yang mereka rasakan. “Tidak hanya pedoman baru ini menawarkan tingkat kenyamanan yang bertambah, mereka juga memberi tim kami lebih banyak pilihan tentang bagaimana mereka ingin mengekspresikan diri di tempat kerja,” lanjut Anders.    

Animo Pengguna MRT Jakarta Tinggi, TransJakarta Koridor 1 Tidak Mengalami Penurunan Penumpang

Sudah satu bulan berlalu sejak MRT Jakarta beroperasi secara komersial pada 1 April 2019. Dengan rata-rata penumpang 80.550 per hari, animo pengguna MRT Jakarta dapat disebut cukup sukses, bahkan pada akhir pekan pernah menyentuh angka 116.748 penumpang dalam satu hari. Lantas yang menjadi pertanyaan, dengan tingginya antusiasme warga untuk menggunakan MRT Jakarta, apakah berdampak pada penurunan penumpang bus (BRT) TransJakarta, terutama di koridor 1 yang melayani rute Blok M – Stasiun Kota. Baca juga: BYD K9 – Inilah Bus Listrik untuk Koridor 13 TransJakarta Pertanyaan di atas tentu wajar, mengingat ada irisan jalur antara MRT Jakarta dan TransJakarta koridor 1, yaitu di sepanjang kawasan Thamrin hingga Sudirman. Menjawab pertanyaan di atas, Agung Wicaksono selaku Direktur Utama PT TransJakarta dalam acara Forum Jurnalis 29 April lalu menyebutkan, bahwa tingginya pengguna MRT Jakarta nyatanya tidak membuat pelanggan TransJakarta koridor 1 mengalami penurunan. Agung justru menyebut sebaliknya, bahwa pelanggan TransJakarta koridor 1 malahan bertambah. “Seperti pada 29 Maret pengguna TransJakarta koridor 1 mencapai 90.003 dan pada 2 April sampai 89.039 penumpang,” ujar Agung. Ia menambahkan bila dihitung mulai 13 Maret (saat uji coba gratis MRT) hingga 25 April 2019, maka rata-rata penumpang di koridor 1 mencapai 78.010. Dalam kesempatan yang sama, Direktur Operasional TransJakarta Daud Joseph mengatakan, dengan rampungnya pengerjaan proyek MRT Jakarta, laju akses bus di koridor 1 dapat lebih baik. “Bila dahulu semasa pembangunan proyek MRT, bus tidak dapat melaju kencang, maka kini sebaliknya dan on time perfomance semakin baik, setiap dua menit armada kami selalu hadir di setiap halte,” ujar Daud. Baca juga:15 Tahun Beroperasi, TransJakarta Targetkan 236 Rute di Akhir Tahun 2019 Rencananya dalam waktu dekat, koridor 1 TransJakarta akan diujicobakan untuk operasional bus listrik. Selain koridor 1, bus listrik akan dijajal untuk koridor 6 yang melayani Ragunan – Dukuh Atas.

Disambut Water Salute, Citilink QG-132 Lakukan Penerbangan Komersial Perdana ke YIA

Maskapai berbiaya hemat (LCC) Citilink Indonesia melakukan penerbangan komersial perdana ke Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin (6/5/2019). Penerbangan QG-132 menggunakan armada Airbus A320 (PK-GQR) dengan 96 penumpang ini berangkat dari Bandara Halim Perdanakusumah (HLP) pada pukul 11.30 WIB dan tiba di YIA pukul 12.15 WIB. Baca juga: Semburan “Water Salute,” Penanda Tibanya Penerbangan Perdana Setiba di YIA, pesawat disambut water salute oleh 2 armada Satuam Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran (PKP-PK). Kemudian saat masuk terminal kedatangan, penumpang disambut tarian khas Kulon Progo yaitu “Tari Angguk Sigrak” yang dipersembahkan oleh PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko. “Penerbangan komersial perdana Citilink ini merupakan momen bersejarah bagi Angkasa Pura I dan Citilink sebagai maskapai penerbangan Indonesia pertama yang beroperasi di Bandara Internasional Yogyakarta, Kulon Progo,” kata Direktur Utama PT Angkasa Pura I (Persero) Faik Fahmi dalam keterangan tertulis. “Diharapkan dengan dibukanya penerbangan Citilink Indonesia dari dan menuju YIA ini bisa menjadi rute alternatif bagi masyarakat yang ingin bepergian ke Yogyakarta,” imbuh VP Corporate Secretary & CSR Citilink Indonesia Resty Kusandarina. Penerbangan rute HLP-YIA ini menggantikan salah satu jadwal penerbangan Citilink Indonesia rute Bandara Internasional Halim Perdanakusuma (HLP) menuju Bandara Internasional Adisutjipto (JOG). Penerbangan rute HLP-YIA beroperasi setiap hari menggunakan pesawat Airbus A320 dengan kapasitas angkut sebanyak 180 penumpang. Penerbangan ini dijadwalkan berangkat setiap hari dari Bandara Internasional Halim Perdanakusuma (HLP) pukul 11.30 WIB dan tiba di Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) pukul 12.40 WIB dengan nomor penerbangan QG 132. Sedangkan penerbangan sebaliknya akan berangkat dari YIA pukul 13.10 WIB dan tiba di HLP pukul 14.15 WIB dengan nomor penerbangan QG 133. Sebelumnya, Citilink telah melakukan proving flight (penerbangan uji coba) ke Bandara Internasional Yogyakarta pada Kamis (2/5/2019). Resty menambahkan bahwa pembukaan rute baru ini merupakan bentuk komitmen Citilink Indonesia untuk memperluas jaringan penerbangan di Indonesia dan sebagai upaya untuk turut serta mendukung program pemerintah dalam memperluas akses konektivitas antar kota di Indonesia. Baca juga: Di Tengah Hembusan Angin Laut Selatan, Proving Flight Berlangsung Sukses di Bandara Internasional Yogyakarta “Angkasa Pura I berharap dengan dibukanya Bandara Internasional Yogyakarta ini dapat meningkatkan konektivitas ke Yogyakarta dan Jawa Tengah, yang pada akhirnya dapat mengembangkan perekonomian Jawa bagian selatan dan sekitarnya. Kami mempersembahkan bandara ini bagi masyarakat untuk mendapatkan kenyamanan dalam melakukan perjalanan udara dari dan menuju Yogyakarta dan Jawa Tengah bagian selatan,” tambah Faik Fahmi.

BAe-146 200 “Republik Indonesia” – Pesawat Jet Empat Mesin Pertama yang Mendarat di Bandara Internasional Yogyakarta

Pada 4 Mei lalu, atau H-2 sebelum pengoperasian secara komersial Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) pada 6 April 2019, Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla melakukan kunujungan kerja untuk melihat langsung kesiapan bandara yang berlokasi di kawasan Kulon Progo. Bersama rombongan dari Lanud Halim Perdanakusuma, Wapres menggunakan pesawat Kepresidenan BAe-146/RJ85, yang sekaligus menandakan untuk pertama kalinya pesawat jet bermesin empat (four engine) mendarat di bandara yang punya runway sepanjang 3.250 meter. Baca juga: Di Tengah Hembusan Angin Laut Selatan, Proving Flight Berlangsung Sukses di Bandara Internasional Yogyakarta Lepas dari kunjungan Wapres Jusuf Kalla, sosok pesawat BAe-146, persisnya dari seri BAe-146 200 menarik untuk dicermati. Walau menyandang predikat pesawat Kepresidenan dengan livery bertuliskan “Republik Indonesia,” namun pesawat ini masih menggunakan kode pesawat sipil, yaitu PK-PJJ, lantaran secara kepemilikan pesawat ini adalah milik maskapai Pelita Air Service (PAS). BAe-146 yang ditumpangi Wapres Jusuf Kalla jelas bukan pesawat baru, di zaman Presiden Soeharto berkuasa, pesawat narrow body ini kerap digunakan untuk menyambagi wilayah pelosok yang hanya memiliki basis landasan udara sederhana. Berdasarkan catatan dari planespotters.net, disebutkan BAe-146 200 PK-PJJ dengan nama “Wamena” dibuat oleh British Aerospace (Inggris) dan terbang perdana pada 28 Agustus 1993. Setelah melewat tahap uji terbang dan pemasangan interior kabin VVIP (Very Very Important Person), pesawat ini kemudian resmi diserahkan ke PAS pada 20 Desember 1993. Mengutup dari Indomiliter.com, untuk kebutuhan VVIP, BAe-146 200 PAS dilakukan konfigurasi pada sisi interior, dari yang tadinya dapat membawa 109 penumpang, versi BAe-146 200 Soeharto disulap untuk maksimal membawa 30 penumpang saja. Sejak pesawat Kepresidenan ditangani sepenuhnya oleh PAS, maka para awaknya juga adalah orang-orang sipil. Hanya saja setiap kali Presiden pergi selalu ada awak cadangan yang ikut dan seorang perwira penerbang senior TNI AU yang bertindak sebagai liason officer duduk di kokpit. Saat ini operasional pesawat ditangani oleh Sekretariat Negara dan home base berada di Lanud Halim Perdanakusuma.
Foto: Istimewa
Tentu menjadi pertanyaan menarik, mengapa level pesawat Kepresidenan tertarik dengan BAe-146? Ternyata dari sisi performa, pesawat ini sanggup mendarat dan lepas landas dari lapangan terbang yang sederhana, dan tak perlu landasan yang terlalu panjang, pasalnya dengan sokongan empat mesin, dorongan tenaga yang dihasilkan lumayan besar. Sementara dari aspek keamanan, bekal empat unit mesin tentu memberi level safety lebih baik, tatkala ada satu atau dua mesin yang gagal berfungsi. Dengan mesin 4x Honeywell ALF 502R-5, pesawat ini dapat terbang dengan kecepatan maksimum 890 km per jam dan kecepatan jelajah 750 km per jam. Berbekal kapasitas bahan bakar penuh (11.728 liter avtur), pesawat ini dapat terbang sampai 2.365 km. Kapasitas payload yang dapat dibawa mencapai 8.075 kg. Sebagai informasi bobot maksimum saat lepas landas adalah 42.184 kg. Keunggulan BAe-146 diantaranya telah dilengkapi EFIS (Electronic Flight Instument System) yang modern. Adopsi empat mesin ini kabarnya dibuat untuk mengurangi kebisingan, pasalnya jenis mesin yang digunakan berukuran kecil dan di saat yang bersamaan mempunyai tenaga cukup besar untuk lepas landas di landasan pendek, kemampuan ini disebut STOL (Short Take Off and Landing). Pihak pabrikan menggunakan lapisan peredam suara tambahan yang dipasang ke dalam mesin. Baca juga: Jejak Boeing 707 di Indonesia – Pernah Dioperasikan 4 Maskapai Hingga Jadi Pesawat Kepresidenan Untuk kepentingan navigasi ada bekal EGPWS (Enhanced Ground Proximity Warning System). EGPWS adalah alat hasil pengembangan yang lebih canggih dari GPWS, yakni alat untuk memberikan peringatan pada penerbang jika pesawat mendekati/akan menabrak daratan/terrain.

Sukhoi SJ100 Aeroflot Jatuh di Moskow, Akankah Pengaruhi Rencana Akuisisi Merpati Airlines?

Pesawat Sukhoi Superjet 100 yang berlapiskan livery dari flag carrier sekaligus maskapai terbesar di Rusia, Aeroflot dikabarkan terbakar di bandara Sheremetyevo, Moskow setelah melakukan pendaratan darurat pada Minggu (5/5/2019) kemarin. Setidaknya, ada 41 korban meninggal dari total 78 penumpang yang turut dalam penerbangan nahas ini. Tidak hanya melakukan pendaratan darurat biasa, namun maskapai ini terpaksa melakukan Return to Base dalam kondisi badan pesawat terbakar. Baca Juga: Aeroflot – Ternyata Jadi Maskapai dengan Jumlah Armada Terbesar di Dunia Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, pesawat dengan nomor penerbangan SU1492 mengudara dari Sheremetyevo sekira pukul 18.03 waktu setempat. Namun tak lama berselang – sekitar delapan menit mengudara, pilot pesawat tersebut melaporkan adanya kegagalan salah satu sistem (radio failure). Kondisi semakin parah ketika pada pukul 18.25 waktu setempat, sang pilot menyatakan kondisi darurat dan meminta akses untuk melakukan Return to Base. Dalam sebuah video yang berhasil diabadikan oleh kamera amatir, tampak separuh badan pesawat sudah dilahap oleh si jago merah yang diikuti oleh kepulan asap hitam pekat. Ya, pesawat ini sudah terbakar bahkan ketika belum melakukan touchdown. Proses Return to Base ini pun tidak berjalan mulus, karena pesawat sempat tergelincir terlebih dahulu sebelum akhirnya bisa berhenti dengan sempurna. https://www.youtube.com/watch?v=hdllJgTdHiA Menurut pengakuan dari salah seorang penumpang yang selamat dalam kejadian ini, ia mengatakan bahwa asal usul api pada penerbangan tersebut berasal dari sambaran petir. “Kami lepas landas dan kemudia kilat menghantam pesawat,” tutur Pyotr Egorov, dikutip dari laman Reuters. Merpati Airlines, Superjet 100, dan Kenangan Buruk Khusus di Indonesia, kabar nahas dari dunia dirgantara internasional ini tentu membuat sebagian kalangan menjadi was-was. Ya, sebagaimana yang sudah diberitakan sebelumnya, maskapai yang hendak melakukan come back di sektor kedirgantaraan nasional, Merpati Airlines digaungkan bakal menggunakan pesawat dari Sukhoi Superjet 100 setelah mendapatkan suntikan dana dari Kim Johanes Mulia – owner dari Kartika Airlines. Tidak menutup kemungkinan kecelakaan di Moskow ini akan menjadi bahan pertimbangan perusahaan sebelum akhirnya ‘mengeksekusi’ tanda tangan kontrak yang sudah dilakukan oleh Kim Johanes Mulia soal pembelian 30 unit pesawat Sukhoi Superjet 100. Baca Juga: Antara Merpati Air, Kim Johanes Mulia dan Sukhoi SJ100 Belum lagi nama Merpati Airlines sendiri yang tidak bisa begitu saja dilepaskan dari berbagai kecelakaan dan insiden – salah satunya yang paling lekang di ingatan adalah jatuhnya pesawat Xian MA60 yang diopeasikan oleh Merpati Airlines pada 7 Mei 2011 lalu di laut dekat Bandar Udara Utarom, Kabupaten Kaimana, Papua Barat. Hingga hari ini, kecelakaan yang menewaskan keseluruhan penumpang dan awak penerbang (total 25 orang) tersebut diyakini dilatarbelakangi oleh tiga faktor: kegagalan dalam penggunakan checklist, kesalahan pada pilot, dan pilot yang dinilai kurang berpengalaman.
Lokasi dimana pesawat Sukhoi Superjet 100 menabrak Gunung Salak. Sumber: BeritaSatu.com
Tidak hanya di Moskow saja, ternyata nama Sukhoi Superjet 100 ini sudah terlebih dahulu menanamkan kenangan buruk di benak masyarakat Indonesia, pasalnya pada 9 Mei 2012 varian pesawat yang tengah melakukan demo terbang (joy flight) ini dikabarkan hilang di sekitaran Gunung Salak, Bogor. Keesokan harinya, puing-puing pesawat ini tampak di salah satu tebing Gunung Salak dengan korban meninggal 45 orang – keseluruhan penumpang dan awak penerbang.