Pantau Pergerakan Penumpang KRL Jabodetabek, PT KCI Andalkan E-Ticketing Monitoring Center

Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta mengandalakan otomatisasi dalam pengoperasiannya, seperti untuk menjalankan kereta dengan tujuan agar dapat dicapai level on time performance yang tinggi. Pengoperasian MRT Jakarta ditangani dari Operational Command Center (OCC) yang berlokasi di Depo Lebak Bulus. Lantas bagaimana dengan KRL Jabodetabekl yang sudah mengular puluhan tahun? PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) juga sudah menggunakan teknologi sejak 30 September 2013 lalu. Baca juga: Jelang Operasional Headway 5 Menit, Masinis MRT Jakarta Tuntaskan Trial Run Berbeda dengan MRT Jakarta, laju pergerakan kereta dilakukan secara manual oleh masinis, meski pergerakan KRL dapat dipantau secara terpadu. Nah, salah satu keunikan dari KRL Jabodetabek adalah tersedianya fasilitas E-Ticketing Monitoring Center (EMC) yang berlokasi di Stasiun Juanda. EMS dioperasikan PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) sejak 30 September 2013 dan dibangun dengan dukungan dari PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom). Sistem EMC dirancang untuk memantau operasional eticketing di 389 gerbang elektronik di 67 stasiun Jabodetabek. Mengutip dari buku The Untold Story of E-Ticketing – Kisah di Balik Modernisasi KRL Jabodetabek,  bila ada gangguan pada sistem tiket elektronik langsung terpantau di EMC. Menurut Direktur PT KAI pada kala itu yakni Ignasius Jonan, inisiatif membangun EMC sebenarnya datang dari PT Telkom untuk peningkatan pelayanan eticketing KCI. Direktur Enterprise Business PT Telkom Muhammad Awaluddin menjelaskan, EMC mempermudah pengawasan penjualan tiket. Sehingga bila ada masalah akan langsung termonitor di layar komputer untuk diteruskan ke pihak yang bertanggung jawab untuk mengatasinya. EMC juga dapat mengatur pergerakan penumpang dengan hanya memencet tombol. Sehingga bila ada pergerakan masif penumpang untuk keluar dari stasiun, maka semua gerbang elektronik seketika langsung dapat difungsikan hanya untuk akses keluar. Bahkan saat adanya pemadaman listrik pun EMC bisa mendeteksi dan mencarikan solusi yang lebih cepat dari pengamatan serta laporan secara manual di lapangan. EMC yang berada di salah satu ruangan di Stasiun Juanda ini berisikan layar-layar berukuran besar dan komputer disusun menghadap ke layar tersebut. Pada layar monitor akan terlihat kotak-kotak hijau kecil yang merefleksikan titik-titik point of sales (POS) atau loket-loket penjualan tiket KRL. Bila ada masalah pada POS atau gate maka akan tergambar jelas dengan kotak tersebut berubah menjadi warna merah dan petugas EMC langsung mencarikan solusi termasuk menghubungi petugas di lapangan. Kehadiran EMC sendiri untuk operasional eticketing ini membuat KCI bisa disejajarkan dengan komuter di kota-kota dunia lainnya. Sehingga PT KCI terbukti bukan perusahaan transportasi abal-abal. Baca juga: Kontrak Sejak 2018, PT KCI Kembali Datangkan 192 Kereta Bekas dari Jepang Diruang lainnya, yakni disebelah EMC bisa memonitor langsung petugas loket. Selain itu juga ada ruangan yang memonitor pergerakan penumpang naik turun kereta komuter di berbagai stasiun KCI yang telah terpasang CCTV. Kehadiran CCTV juga memudahkan pengaturan pergerakan penumpang kereta terutama bila terjadi kondisi luar biasa.

Airbus A330-900NEO Lion Air Kini Masuki Tahapan Pengecatan di Toulouse

Lion Air menyampaikan bahwa tak lama lagi pihaknya akan menerima kedatangan pesawat wide body modern Airbus A330-900NEO dengan nomer registrasi PK-LEI. Saat ini pesawat yang dimasud sedang dalam pengecatan (painting) dan proses pengerjaan akhir lainnya di pabrikan Airbus yang berlokasi di Toulouse, Perancis. Baca juga: Untuk Direct Flight Umrah, Mei 2019 Airbus A330-900NEO Lion Air Tiba di Indonesia Lion Air pada tahun 2018 telah memesan sepuluh (10) unit Airbus 330-900NEO dan mempunyai opsi memperoleh empat pesawat sejenis. Seluruh pesawat yang dipesan oleh Lion Air merupakan jenis armada berkapasitas lebih besar dan akan melengkapi kekuatan tiga wide body Lion Air Airbus 330-300 sekarang. “Kesepuluh pesawat direncanakan untuk pengiriman bertahap ke Lion Air Group pada 2019 dan 2020. Pada tahun ini, Lion Air akan menerima dua pesawat,” ujar Danang Mandala Prihantoro, Corporate Communications Strategic of Lion Air dalam pernyataan tertulisnya (5/5/2019) Lion Air mengharapkan pengiriman pesawat tersebut dapat berjalan lancar dan akan tiba sesuai waktu yang ditentukan. Kedatangan A330-900NEO di Indonesia dijadwalkan dalam waktu dekat, sehingga akan menempatkan Lion Air sebagai bagian jajaran maskapai pertama yang menggunakan armada ini. Dalam menyambut A330-900NEO, Lion Air sudah mempersiapkan secara optimal sejalan rencana pengoperasian antara lain sumber daya manusia (pilot, awak kabin, teknisi), layanan di darat (ground handling), pusat pelatihan dan hal-hal lain yang terkait.
 
View this post on Instagram
 

A post shared by KabarPenumpang.com (@kabar.penumpang) on

Momentum terbaik mengoperasikan pesawat baru telah menegaskan bahwa Lion Air mengutamakan program “revitalisasi atau peremajaan armada” dengan tetap mengedepankan faktor keselamatan, keamanan dan kenyamanan penerbangan (safety first). Langkah strategis ini sekaligus menjawab dinamika pasar, permintaan tren millennials traveling serta senantiasa menawarkan pengalaman mengesankan di setiap perjalanan udara supaya lebih maksimal. Lion Air akan memperkuat pengembangan bisnis penerbangan berkonsep low cost carrier (LCC), termasuk menambah layanan penerbangan jarak jauh (long haul). A330-900NEO dinilai tepat menjadi bagian pendukung model bisnis LCC dan mencerminkan keseriusan dalam memperluas jaringan secara efisien dengan tata letak kursi lorong ganda (double aisle) hingga 440 kursi penumpang. Lion Air optimis dapat melayani berbagai sektor pasar perjalanan yang membutuhkan waktu tempuh hingga lebih dari 15 jam. Pengoperasian A330-900NEO di waktu mendatang akan memberikan nilai tambah kepada travelers, antara lain penerbangan ibadah (umrah) non-stop dari Makassar ke Madinah dan Jedddah, Balikpapan ke Jeddah, Surabaya ke Madinah, Solo tujuan Jeddah. Selain itu, Lion Air juga mempersiapkan ekspansi pasar wisata ke Asia Timur dan Asia Selatan ke beberapa kota di India. Lion Air sudah mempertimbangkan bahwa setiap sisi A330-900NEO memiliki kinerja operasional, teknologi modern, tingkat keandalan hingga dilengkapi fitur-fitur yang menawarkan kelebihan bagi wisatawan dan pebisnis (travelers) selama berada di dalam kabin.
 
View this post on Instagram
 

A post shared by KabarPenumpang.com (@kabar.penumpang) on

A330-900NEO menghadirkan tingkat kenyamanan travelers dengan kabin paling senyap di kelasnya, menambah fitur utama dari kabin airspace, desain baru kompartemen bagasi kabin (overhead bin) yang memungkinkan lebih mudah mengatur dan menyimpan banyak barang bawaan di kabin. Baca juga: Terbang 4 Jam 45 Menit Hanya dengan Satu Mesin, Airbus A330-900 Raih Sertifikasi ETOPS Bagi maskapai, akan memperoleh keuntungan 25 persen lebih efisien dalam rasio penggunaan bahan bakar perkursi, menurunkan biaya operasi yang memanfaatkan teknologi generasi baru A350 XWB seperti lekukan ujung sayap (sharklets) rentang hingga 64 meter, penyempurnaan aerodinamis, mesin generasi terbaru, common type rating (lisensi pilot yang sama) dan sistem baru – teknologi kokpit WI-FI Tablet EFB – layar head-up ganda dalam pencegahan runway overrun.

Di Tengah Hembusan Angin Laut Selatan, Proving Flight Berlangsung Sukses di Bandara Internasional Yogyakarta

Meski urung diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 29 April lalu, namun Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) akan memulai operasionalnya pada 6 Mei mendatang, persisnya Citilink akan memulai penerbangan perdana dengan membawa penumpang ke bandara yang berlokasi di wilayah Kulon Progo tersebut. Sebelum meyakinkan penerbangan komersial, serangkaian uji coba pendaratan dan lepas landas telah dilakukan, termasuk penerbangan perdana untuk kalibarasi landasan dengan pesawat Beechcraft 200 pada 20 April kemarin. Baca Juga: NYIA Kulon Progo Beroperasi Pertengahan 2019, Inilah Kesiapan Kereta Bandaranya Rangkaian uji coba pada landasan baru disebut sebagai proving flight, dan untuk Bandara Internasional Yogyakarta uniknya ada beberapa kali pembatalan uji setelah pendaratan Beechcraft. Pembatalan proving flight di bandara berkode ICAO – WAHI ini ini tidak hanya berlangsung satu kali. Pada tanggal 26 April kemarin, flag carrier Garuda Indonesia direncanakan untuk melakukan proving flight, namun gagal. Lalu keesokan harinya, anak perusahaan dari Garuda Indonesia, Citilink juga terpaksa diurungkan. Belum lagi pesawat Boeing 737-400 milik TNI-AU yang dijadwalkan melakukan proving flight dari Bandara Kulon Progo yang juga batal. Alih-alih dikarenakan masalah kelaikan landas pacu atau masalah teknis lainnya, ternyata salah satu sumber internal dari Angkasa Pura II mengatakan bahwa pembatalan sejumlah proving flight di atas merupakan dampak dari batalnya Presiden Joko Widodo yang hendak menjajal bandara baru ini. Sebelumnya, Presiden Joko Widodo dikabarkan akan bertolak menuju Bandara Internasional Yogyakarta pada tanggal 29 April. Namun jadwal tersebut terpaksa diurungkan keesokan harinya setelah mendapat kabar dari pihak Kepresidenan.
Pada akhirnya Kamis, 2 Mei 2019 kemarin, Citilink Indonesia dengan nomor penerbangan QG-3361 berhasil mendaratkan Airbus A320 milik mereka di landas pacu Bandara Internasional Yogyakarta sekira pukul 12.10 WIB setelah melakukan perjalanan dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Menurut Kapten Agus Setiono yang menjadi penanggung jawab penerbangan Citilink tersebut, Bandara Kulon Progo sudah memenuhi syarat, walaupun terpaan angin dari arah laut masih cukup terasa. “Kondisi landasan bagus, permukaannya standar internasional. Semuanya kita coba, pendaratan mulus, dibandingkan Adisutjipto landasan YIA lebih panjang, tadi separuh runway sudah berhenti,” ujar Kapten Agus. “Angin dari arah laut selatan terasa, tapi tidak besar, tidak masalah,” sambungnya. Lokasi runway Bandara YIA memang tak jauh dari bibir pantai laut selatan. Baca Juga: Bandara Internasional Yogyakarta Mulai Beroperasi, Citilink Jadi Maskapai Pertama? Nah, berbicara soal proving flight yang sedari tadi dibicarakan, sebenarnya merupakan proses uji operasional guna memastikan kesiapan maskapai untuk mengoperasikan sebuah rute penerbangan baru – dalam hal ini, berkaitan dengan pengoperasian bandara baru. Uji operasional ini juga mencakup proses kalibrasi yang nantinya akan menunjang proses pengoperasian. Proving flight yang dilakukan oleh Citilink pada tanggal 2 Mei kemarin tidak hanya menjadi sebuah pencapaian besar dari segi kelaikan landas pacu dan sejumlah infrastruktur lainnya saja, melainkan satu hal yang tidak kalah prestisius dari penerbangan ini adalah Citilink dengan Airbus A320-nya ini menjadi pesawat jet pertama yang landing dan take off dari bandara yang punya runway sepanjang 3.250 meter ini.

Setelah Bus Scania, Mural Rangkaian Kereta Api India Sukses Sedot Perhatian Warga

Masih ingatkah Anda dengan mural sebuah bus Scania yang menghiasi salah satu sudut Government Model Boys’ Higher Secondary School di Attingal, Kerala? Ya, karya artistik ini memang bisa saja menipu sejumlah pasang mata yang sekilas melihatnya. Namun, tipuan mata seperti ini tidak hanya dapat Anda temui di Attingal saja. Pasalnya, di salah satu distrik Kerala lainnya, Mele Palangad juga terdapat sebuah mural yang siap menipu visual Anda. Baca Juga: Jangan Salah Naik, Bus Scania ini Hanyalah Sebuah Mural! Mengutip dari laman mathrubhumi.com (6/4/2019), sebuah rangkaian kereta api yang membentang sepanjang tembok dari salah satu rumah warga di sana berhasil membetot perhatian. Adalah Muhammad, seorang warga Mele Palangad yang ‘mengabdi’ kepada perusahaan kereta api di India melukis tembok rumahnya dengan desain kereta api. Ya, Muhammad bisa melihat kereta api tanpa harus pergi ke stasiun.
Sumber: mathrubhumi.com
Alih-alih hanya berupa gambar kereta saja, Muhammad juga mendesain tembok di rumahnya tersebut sehingga mirip dengan body kereta – lengkap dengan lokomotifnya. Desain tembok unik ini merupakan hasil kerja samanya dengan seorang seniman lokal yang bernama Shaji Arambram. Alhasil, bentuk kerja sama antara pegawai kereta api ini dengan sang seniman berbuah karya seni yang memiliki nilai estetik. Tidak hanya membentuk body keretanya saja, Shanji juga menambahkan sejumlah detail penting yang semakin menambah kemiripan tembok rumah Muhammad ini dengan sebuah rangkaian kereta – seperti detail pada bagian mesin dan kaca gerbong penumpang. Setelah mendapatkan bentuk kereta api yang diinginkan, Muhammad beserta Shanji sang seniman lalu mengecat keseluruhan pagar tersebut dengan rincian warna yang sama persis dengan salah satu kereta yang beroperasi di India. Baca Juga: Seni Graffiti di Inggris, Kebanggaan Kaum Bronx yang Sisakan Kesan Kotor dan Tidak Terjaga Ketika proses duplikasi kereta ini rampung, perhatian sejumlah orangpun langsung tertuju pada kereta palsu yang parkir di depan rumah Muhammad. Layaknya di Indonesia, mereka pun tidak lantas melewatkan karya seni ini begitu saja, melainkan mengabadikannya dengan cara selfie. Mungkin cerita dari Muhammad ini dapat dijadikan satu contoh sederhana bahwa kecintaan seseorang terhadap sesuatu dapat ditunjukkan atau bahkan direalisasikan dengan berbagai cara.

“Lembah Anai,” Jadi Railbus Ketiga yang Dioperasikan PT KAI

Bus rel atau railbus di Indonesia ternyata sudah ada tiga dan semuanya dioperasikan oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI). Railbus pertama ada di Sumatera Selatan bernama Kertalaya dan kedua di Jawa Tengah yakni Bathara Kresna. Hingga akhirnya pada 1 November 2016, railbus Lembah Anai melaju di jalur Sumatera Barat. Baca juga: KA Batara Kresna, Melaju di Rel Bekas Trem Railbus Lembah Anai sendiri menggunakan rail bus Mak Buih besutan PT Industri Kereta Api (INKA) asal Madiun. Awalnya kereta ini hadir sebagai KA perintis dan mampu mengangkut penumpang sebanyak 160 orang dengan bagian 78 duduk dan 82 lainnya berdiri. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, awalnya railbus yang memiliki julukan si Padang Anai dan Mak Buih ini ditujukan untuk layanan KA Bandara Minangkabau. Namun dibatalkan dan akhirnya menjadi layanan kereta perintis. Railbus Lembah Anai berada di Divisi Regional (Divre) II Padang dan memiliki frekuensi rute dua kali sehari. Mengular dari Stasiun Kayu Tanam menuju Stasiun Sicincin dan berakhir di Stasiun Lubuk Alung dengan waktu tempuh sekitar 38 menit serta jarak tempuh 20 km. Pada saat mengular dari Kayu Tanam hingga ke Lubuk Alung, kereta ini beroperasi sebanyak empat kali dalam sehari. Tarif tiket railbus Lembah Anai sendiri hanya Rp3 ribu untuk sekali perjalanan karena statusnya sebagai KA perintis yang dimaksudkan untuk menarik minat masyarakat dalam menggunakan transportasi berbasis rel. Namun, pada 6 Maret 2019 kemarin, relasi railbus Lembah Anai diperpanjang hingga ke Bandara Internasional Minangkabau (BIM). Perpanjangan relasi ini sendiri untuk mempermudah warga Padang Pariaman bepergian menuju bandara serta jadwalnya disesuaikan dengan Minangkabau Ekspres untuk memudahkan transit dari Padang menuju Kayu Tanam dan sebaliknya via Duku. Sayangnya, railbus Lembah Anai harus mengalah dengan Minangkabau Ekspres di Stasiun Duku ketika ada persilangan. Nama Lembah Anai sendiri berasal dari nawa wisata air terjun yang terkenal dan menjadi maskot pariwisata di Sumatera barat yakni Air Terjun Lembah Anai. Air Terjun ini biasa di sebut dengan Aia Tajun atau Aia Mancua Lembah Anai dan merupakan bagian dari Cagar Alam Lembah Anai. Baca juga: Membentang 22 Km, Jokowi Hari Ini Resmikan KA Bandara Internasional Minangkabau Railbus Lembah Anai sendiri menjadi unik ketika relasinya dipanjangkan hingga ke BIM dan satu-satunya railbus yang melaju hingga bandara. Pasalnya railbus Bathara Kresna sendiri hanya digunakan untuk mengakut penumpang biasa dan tidak sampai ke Bandara Solo. Selain itu jarak tempuh railbus Lembah Anai sendiri mencapai 38 km dengan waktu tempuh satu jam 20 menit hingga tiba di BIM dari Kayu Tanam.

Buka Rute Singapura – Busan, SilkAir Tawarkan Penganan Khas Korea Selatan

SilkAir, maskapai full service yang mengoperasikan pesawat narrow body, pada tanggal 2 Mei 2019 kemarin dikabarkan meluncurkan penerbangan langsung yang menghubungkan Singapura dan Busan yang ada di Korea Selatan. Penerbangan yang menggunakan pesawat dengan nomor MI876 ini berangkat dari Bandara Internasional Changi pada tanggal 1 Mei sekira pukul 23.37 waktu setempat dan tiba di Bandara Internasional Gimbae di Korea Selatan pada keesokan harinya sekira pukul 07.07 waktu setempat. Adapun total durasi penerbangan antara dua titik ini adalah enam jam 30 menit. Baca Juga: Demi Efisiensi Grup, SilkAir Besar Kemungkinan Dilebur Ke Singapore Airlines Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman aviation24.be (2/5/2019), anak perusahaan dari Singapore Airlines ini akan melayani penerbangan antara Singapura – Busan empat kali dalam seminggu, dimana SilkAir akan melakukan pemberangkatan dari Singapura setiap hari Senin, Rabu, Jumat, dan Sabtu. Diketahui, SilkAir menjadi satu-satunya maskapai yang melayani rute penerbangan reguler tersebut. Mengingat waktu terbang yang tidak sebentar, nantinya para penumpang bisa menikmati layanan yang sudah disiapkan oleh pihak maskapai – mulai dari makanan di dalam penerbangan, sistem hiburan nirkabel, hingga alokasi bagasi gratis. Adapun jenis pesawat yang digunakan oleh SilkAir dalam melayanai rute penerbangan ini adalah Boeing 737-800. Tidak hanya sebatas mengantarkan penumpang, tapi maksud lain dibalik pembukaan rute penerbangan ini adalah kedua negara bisa saling bertukar kebudayaan dan berusaha untuk menciptakan pengalaman tidak terlupakan bagi para penumpangnya. Ini terlihat dari penganan klasik yang coba dihidangkan oleh pihak maskapai, seperti Bibimbap (nasi campur ala Korea), Beef Japchae (mie goreng dalam kemasan), Chicken Bulgogi, hingga Nasi Goreng Kimchi. Sebagai salah satu bentuk pengenalan dan pengapresiasian penerbangan perdana di rute penerabngan ini, SilkAir memberikan hadiah dan sertifikat kepada penumpang yang ditandatangani oleh Kepala Eksekutif SilkAir, Foo Chai Woo, dan kapten penerbangan, Kapten Sheldon Rasquinha. Baca Juga: Setelah Indonesia, Otoritas Penerbangan Singapura Resmi Temporary Grounded Boeing 737 MAX 8 “Peluncuran penerbangan menuju Busan menandai tonggak penting bagi SilkAir, karena ini adalah salah satu kota Korea Selatan yang pertama di jaringan penerbangan kami,” ungkap Foo Chai Woo. “Kami senang dapat menyediakan konektivitas yang lebih besar bagi para pelancong menuju Korea, dan juga bagi orang Korea yang bepergian ke Singapura, dengan koneksi ke banyak tujuan di jaringan gabungan antara SilkAir dan Singapore Airlines,” tandasnya.  

Pemenang Sayembara Integrasi MRT Jakarta dan TransJakarta di CSW Lanjutkan Detail Engineering Design

Mengularnya Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta tidak membuatnya berdiri sendirian untuk mengangkut penumpang secara massal. Pasalnya beberapa stasiun MRT Jakarta memiliki akses dengan halte TransJakarta seperti salah satunya yang ada di Stasiun MRT Asean simpang CSW (Centrale Stiching Wederopbouw) menuju Kebayoran Baru. Baca juga: Resmi Ganti Nama dari Sisingamangaraja Menjadi ASEAN, Stasiun MRT Ini Juga Terintegrasi Halte TransJakarta Dirangkum dari berbagai laman sumber, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membuka sayembara dari 6 hingga 14 Februari 2019 kemarin untuk desain prasarana integrasi halte TransJakarta dan Stasiun MRT ASEAN. Dari 25 karya yang masuk Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menetapkan rancangan Cakra Selaras Wahana (CSW) karya Biro Studio Lawang sebagai pemenangnya. Pemenang sayembara sendiri tidak hanya mendapatkan hadiah sebesar Rp160 juta, tetapi juga melanjutkan proyek dengan menyusun Detail Engineering Design (DED). Sebelum menetapkan rancangan CSW sebagai pemenang, semua karya diseleksi ketat hingga mendapatkan lima karya terbaik dan kemudian dinilai oleh pihak pemerintah, swasta, ahli profesional dan akademisi. “Alhamdulillah kita sudah dapat pemenangnya, nanti biar dijelaskan Pak Agung Wicaksono (Dirut Transjakarta) kapan mau dikerjakan, proses, biaya, dan lain-lain. Juga soal filosofi dari rancangannya. Kami senang dan kami selalu mendorong project-project fasilitas publik kita sayembarakan sehingga kita dapat ide terbaik dari masyarakat,” ujar Anies yang dikutip KabarPenumpang.com dari kumparan.com. Direktur Utama PT Transjakarta, Agung Wicaksono, mengatakan pemenang sayembara mempunyai waktu 45 hari untuk menyelesaikan DED. Pasalnya DED tersebut akan dijadikan sebagai desain untuk mencari tender kontraktor oleh Transjakarta. Desain sudah terlihat, namun tak dijelaskan detailnya, hanya tampak berbeda pada jalur melingkar di perempatan CSW yang menghubungkan TransJakarta dengan MRT. Agung memperkirakan estimasi biaya nanti menghabiskan sekitar Rp30 milliar untuk membangun integrasi. “Anggaran sudah kami sampaikan ke para peserta ini kita tetapkan ada di pagu di Rp30 miliar maksimal dan dari langkah ini setelah di tetapkan, teman-teman dengan desain Cakra Selaras Wahana ini bisa harus menghasilkan yang namanya DED dengan target ini adalah 45 hari nanti kita akan mengejar semaksimal mungkin bahwa di akhir bulan Mei,” ujar Agung. Rencana pembangunan akan dilaksanakan setelah DED selesai. Targetnya dalam satu tahun pembangunan selesai. Bahkan diharapkan sudah selesai sebelum 2019. Selain nantinya akan dilengkapi eskalator untuk menuju platform TransJakarta, akan dibuat ruang terbuka publik di sekitaran CSW, yaitu dengan memanfaatkan lahan (halaman) di Gedung Sekretariat ASEAN. Dalam ilustrasi desain, Gedung ASEAN akan terbuka tanpa pagar, dan sebagian areanya akan digunakan untuk kepentingan publik, termasuk akan dibangun air mancur untuk memperindah area tersebut. “Rencananya Mei akhir ini keluar DED, dan itu akan menjadi acuan untuk memilih dan melelang para perusahaan yang akan membangun ini tapi dari situ kita akan bisa tidak sampai satu tahun target kita mungkin nanti teman-teman CSW masih bisa pandangan, kalo bisa di tahun ini selesai,” ujar Agung. Baca juga: Tunjang Integrasi MRT Jakarta, TransJakarta Buka 3 Rute Baru dari Dukuh Atas Adapun rencana anggaran biaya dan rincian fasilitas prasarana berdasarkan estimasi pemenang sayembara sebagai berikut: Fase I Halte Penghubung CSW Total luas 2.145 m2 Total estimasi biaya 21,45 miliar rupiah Rincian: Lantai 1 berfungsi sebagai Halte dengan luas 100 m2 dan biaya 1 miliar rupiah; Lantai 2, 3 dan 4 berfungsi sebagai retail dengan luas masing-masing 480 m2 dan biaya masing-masing 4,8 miliar rupiah; Lantai 5 merupakan atap dan bordes seluas 500 m2 dengan biaya 5 miliar rupiah; Lantai 6 menjadi Halte Existing CSW dengan luas 105 m2 dan memakan estimasi biaya 1,05 miliar rupiah. Fase II-IV Total luas 955 m2 Total estimasi biaya 8,25 miliar rupiah Rincian: Jembatan dengan luas 402 m2 dan biaya 4,02 miliar rupiah; Halte di bangunan penghubung Koridor 1 dengan luas 90 m2 dan biaya 900 juta rupiah; Bangunan penghubung seluas 363 m2 dengan estimasi biaya 3,63 miliar rupiah; Jembatan penghubung dengan JPO seluas 100 m2 dengan biaya 700 juta rupiah

Suthida Tidjai – Mantan Pramugari Thai Airways yang Kini Jadi Ratu Thailand

Terbersit dalam benak, apakah mungkin seorang pramugari menjadi ratu kerajaan? Ini sebenarnya bukan hanya mimpi semata para wanita yang menginginkan menjadi ratu, namun kenyataannya didapatkan oleh seorang mantan pramugari Thai Airways. Baca juga: Jóhanna Sigurðardóttir – Mantan Pramugari yang Sukses Menjadi Perdana Menteri Islandia Ya, Suthida Tidjai seorang mantan pramugari yang juga pernah mendapatkan pangkat tinggi di militer, kini menjadi Ratu Thailand. Sebelum menikah pada 1 Mei 2019 kemarin dengan Raja Maha Vajiralongkorn, Suthida sendiri telah lama menjadi pendamping dan bagian dari keamanan kerajaan.
(CNA)
Bahkan dirinya pun kerap kali ikut muncul bersama Raja di acara-acara publik sebagai pendamping dan bagian dari elemen keamanan tersebut. Lahir 40 tahun silam, yakni pada 3 Juni 1987, Suthida dikabarkan bertemu dengan putra mahkota Thailand tersebut dalam sebuah penerbangan. KabarPenumpang.com melansir dari laman channelnewsasia.com (2/5/2019), Suthida memiliki gelar sarjana di bidang komunikasi pada tahun 2000 dan dirinya dianugerahi penghargaan dalam 20 dekrit kerajaan. Pertama kali Suthida mendapatkannya pada 2012 ketika Raja Bhumibol Adulyadej menganugerahinya Ordo Gajah Putih untuk kejujuran, kesetiaan, tanggung jawab, dedikasi dan pengorbanan dalam pelayanan kepada Pangeran Vajiralongkorn. Dekrit tersebut diterimanya saat ia berpangkat Letnan Kolonel Suthilda Vajiralongkorn. Kemudian tahun 2013, mantan pramugari ini menjadi petugas khusus resimen pengawal putra mahkota hingga diangkat sebagai komandan tahun 2014 kemarin. Saat melepas pekerjaan pramugarinya, Suthida dan raja juga terlihat romantis tetapi pihak istana tidak mengakui hubungan itu. Hingga tahun 2016, Suthida diangkat sebagai jenderal penuh di Royal Thai Army dan tahun 2017 diangkat menjadi pengawal pribadi raja dengan gelar kerajaan Thanpuying yang berarti Nyonya. Pernikahan mantan pramugari Thai Airways dengan Raja Maha Vajiralongkorn ternyata mengejutkan banyak pihak. Sebab pernikahan itu terjadi tiga hari sebelum raja secara resmi dimahkotai dalam upacara Buddha dan Brahma pada Sabtu (4/5/2019) mendatang. Pernikahan itu diumumkan dalam Royal Gazette. “Karena itu, dia memberikan (gelar) pada Jenderal Suthida Vajiralongkorn na Ayudhya dari Permaisuri ke Ratu Suthida seperti yang sekarang,” kata pengumuman itu. Pendaftaran pernikahan kerajaan berlangsung di Ampornsathan Throne Hall di Istana Dusit pada jam 04.32 sore waktu setempat. Setelah pengumuman kerajaan dibacakan, Ratu Suthida bersujud dan memberikan bunga kepada raja, yang pada gilirannya menganugerahkan air kerajaannya, daun keberuntungan ditempatkan di atas telinganya dan dekorasi lainnya yang berhubungan dengan kekuatan kerajaan. Selain keduanya yang menandatangani buku akta nikah, yang juga ditandatangani oleh saudara perempuan raja, Putri Sirindhorn, dan ketua Dewan Penasihat Prem Tinsulanonda sebagai saksi. Associated Press melaporkan, diantara orang-orang terkemuka di pernikahan itu adalah Perdana Menteri Thailand Prayut Chan-ocha, pemimpin pemerintah militer yang telah memerintah Thailand sejak kudeta militer 2014, serta anggota keluarga kerajaan dan penasihat istana lainnya. Baca juga: Ellen Church, Pramugari Pertama di Dunia yang Juga Punya Lisensi Pilot Pernikahan itu adalah yang keempat bagi raja, yang memiliki tujuh anak dari hukum lese-majeste Thailand yang melindungi raja, yang telah menghabiskan sebagian besar waktunya di Jerman, dari pengawasan publik atas kehidupan pribadinya. Raja berusia 66 tahun, yang juga dikenal dengan sebutan Raja Rama X, menjadi raja konstitusional setelah kematian ayahnya, Raja Bhumibol, pada Oktober 2016.

Jewel Changi, Berawal dari Ide Tempat Parkir Kini Menjadi Taman Spektakuler Dalam Ruangan

Jewel di Bandara Changi yang resmi dibuka pada 17 April 2019 kemarin, ternyata sudah ditunggu-tunggu kehadirannya baik warga Singapura sendiri maupun pelancong dari negara lain. Jewel Changi sendiri dirancang untuk menghubungkan Terminal 1, 2 dan 3 Bandara Changi dan bisa kembali menjadi bandara terbaik di dunia. Baca juga: Megah dan Bertabur Hiburan Mewah, Jewel Bandara Changi Siap Dibuka 17 April 2019 Menghabiskan biaya SG$1,7 miliar atau sekitar US$1,25 miliar, Jewel Changi dirancang oleh arsitek Moshe Safdie. Memiliki sepuluh lantai dengan lima diatas tanah dan lima lainnya dibawah tanah. Jewel Changi sendiri menghadirkan HSBC Rain Vortex setinggi 40 meter yang mengalir melalui oculus besar di tengah Jewel dan menjadi air terjun dalam ruangan tertinggi di dunia. Dirangkum KabarPenumpang.com dari cnn.com, Jewel Changi sendiri berisi 280 ritel dan gerai makanan serta minuman. Bisa dikatakan menjadi pusat perbelanjaan yang indah dan dipenuhi dengan ruangan hijau yang terhubung ke bandara. Jewel Changi sendiri tidak ada gerbang keberangkatan atau ruang kedatangan sehingga siapapun bisa mengunjunginya. Selain penghubung tiga terminal Bandara Changi, untuk penumpang yang menuju ke Terminal 4 bisa menggunakan bus antar jemput dan menawarkan layanan check in awal serta fasilitas penyimpanan bagasi serta 130 kabin YOTELAIR Singapore Changi Airport hotel. Ada juga Changi Lounge, yang dirancang untuk melengkapi layanan transfer antar moda baru yang meningkatkan konektivitas udara-laut untuk penumpang kapal pesiar. Di luar fasilitas yang diharapkan seperti WiFi gratis, Jewel menawarkan beberapa sentuhan kecil yang bagus seperti pinjaman bank daya gratis selama 12 jam. Berbagai hiburan bagi pelancong yang terjebak di Changi karena singgah lama, termasuk 11 teater bioskop IMAX. Dalam Jewel Changi sendiri ada Jewel’s Shiseido Forest Valley yang merupakan taman dengan empat lantai yang dilengkapi jalan setapak dan mengelilingi air terjun. “Air hujan dikumpulkan dan itu menjadi bagian dari Vortex juga. Kami benar-benar dapat mengontrol volume aliran. Di bawah Vortex kami memiliki tangki untuk mengumpulkan air hujan sehingga kami dapat mendaur ulangnya. Ketika ada kelebihan air hujan, itu dapat digunakan untuk irigasi tanaman di Lembah Hutan,” Jayson Goh, direktur pelaksana manajemen operasi bandara Grup Bandara Changi. Skytrain, yang menghubungkan terminal 1, 2 dan 3 Bandara Changi, memotong bagian tengah Jewel, melewati Vortex dan menambah pemandangan fotogenik. Di lantai paling atas terdapat Taman Kanopi 14.000 meter persegi, yang memiliki beberapa restoran dan taman bertema. Meskipun beberapa bagian terbuka, pekerjaan masih berlangsung untuk yang satu ini. Canopy Mazes di taman, Sky Nets, Discovery Slides, dan Canopy Bridge 50 meter tidak akan siap hingga pertengahan 2019. Kisah di balik perkembangan Jewel pada dasarnya adalah “Taksi Kuning Besar” karya Joni Mitchell secara terbalik. Changi Airport Group pada dasarnya mengubah tempat parkir menjadi surga dalam ruangan, terinspirasi oleh reputasi Singapura sebagai “kota di taman.” “Kembali pada tahun 2010 kami ingin memperluas kapasitas Terminal 1 dan kami memutuskan bahwa struktur parkir terbuka berpotensi menjadi kompleks terpadu baru,” kata Goh. Parkir mobil itu diubah menjadi ruang menakjubkan yang sekarang berdiri di tempatnya, sebuah keajaiban bagi mereka yang telah mengikuti kemajuan Bandara Jewel Changi sejak 2013, ketika berita tentang perluasan bandara yang kemudian bernama “Project Jewel” dan pertama kali mencuat. Di sebagian besar kota, perjalanan ke bandara bukanlah sesuatu yang dianggap menyenangkan, di luar kegembiraan mengetahui Anda naik pesawat untuk pergi berlibur atau menjemput orang yang dicintai. Namun, di Singapura, bandara hanya berjarak 30 menit atau kurang dari kawasan pusat bisnis, sehingga layak bahwa penduduk setempat akan benar-benar pergi ke sana untuk makan atau menonton film secara teratur. Changi Airport Group mendukung hal ini, dengan beberapa eksekutif mengatakan mereka mengharapkannya menjadi tempat yang populer di kalangan penduduk Singapura. Baca juga: Jewel Changi, Bakal Jadi Destinasi Wisata Gaya Baru via Bandara Changi “Saya pikir pembukaan Jewel memang menciptakan banyak kegembiraan di antara penduduk setempat juga, dan kami akan mencoba yang terbaik untuk memperdalam ini. Singapura adalah tempat kecil dan oleh karena itu kami mendapatkan banyak penduduk lokal yang datang ke bandara untuk menghabiskan akhir pekan mereka di sini. Kami memiliki orang-orang yang datang ke sini untuk belajar, kami memiliki orang-orang yang datang pada tanggal. Bahkan, kami selalu mendapatkan permintaan dari lokal warga yang ingin mengambil foto pernikahan,” kata Goh.

Terganjal Sanksi Nuklir, Korea Utara Kesulitan Membeli Pesawat Baru untuk Air Koryo

Akibat sanksi nuklir,  Korea Utara terisolir dari sisi industri dan perdagangan dunia, dan karenanya bukan perkara mudah bagi Korea Utara untuik meramajakan armada pesawat pada flag carrier, Air Koryo. Kalau pun ada opsi pengadaan, pembelian pesawat pilihannya sangat terbatas, yakni dari Rusia atau Cina. Dan memang secara fakta, armada Air Koryo memang didominasi pesawat besutan Negeri Tirai Besi yang usianya tergolong uzur. Baca juga: Air Koryo, Flag Carrier Korea Utara dengan Predikat Bintang 1 Versi Skytrax Merespon hal di atas, pada akhir pekan lalu, delegasi anggota parlemen Rusia berkunjung ke Korea Utara untuk membahas penerbangan sipil dengan para pejabat. Dalam pertemuan tersebut terlihat bahwa Korea Utara ada di pasar yang mana harus membeli pesawat baru. KabarPenumpang.com melansir laman simpleflying.com, Sergei Neverov, deputy speaker of the Russian State Duma Lower Parliament House mengatakan, pada pertemuan dengan Kementerian Luar Negeri Korea Utara pihaknya membahas masalah penerbangan sipil dan keselamatannya. “Kami mempertahankan layanan udara antara Pyongyang dan Vladivostok dan, tentu saja, kami ingin melihat pesawat yang lebih maju dan lebih aman melayani rute ini,” ujar Sergei. Sayangnya, saat ini Korea Utara tidak bisa membeli pesawat baru karena berada di bawah sanksi ketat oleh PBB terkait dengan program nuklir milik mereka. Sergei sendiri menyarankan penjualan pesawat oleh Rusia akan dimungkinkan bila mendapat langkah-langkah yang disetujui Dewan Keamanan PBB. Tetapi hal itu masih dilihat apakah memungkinkan untuk pembelian tersebut. Air Koryo sendiri memiliki posisi penting dalam penerbangan Korea Utara dan ada sejak 1950 dengan nama yang berganti hingga akhirnya menggunakan Air Koryo tahun 1992 silam. Awalnya Air Koryo fokus pada daya angkut kargo selama bertahun-tahun sampai pada 2007, mereka membeli Tupolev Tu-204-300. Dengan jangkauan dan kapasitas pesawat ini, Air Koryo berharap mereka akan segera mulai terbang ke Eropa. Namun, karena masalah keselamatan dan pemeliharaan, maskapai ini ditambahkan ke daftar maskapai terlarang di Uni Eropa. Maskapai ini pun fokus pada koneksi Asia, memesan Tu-204-300 dan Tu-204-100 pada 2009. Ini digunakan untuk terbang ke Dalin, Cina dan Shanghai Pudong. Pada tahun 2010, Air Koryo diizinkan untuk melanjutkan operasi di Uni Eropa dengan Tu-204, tetapi hanya dengan pesawat ini saja. Mereka memulai layanan ke Kuala Lumpur pada tahun 2011, tetapi kemudian berhenti pada tahun 2017 setelah keracunan Kim Jong-nam di Bandara Internasional Kuala Lumpur. Saat ini mereka hanya terbang ke Beijing, Shenyang dan Vladivostok. Armada Air Koryo saat ini berasal sepenuhnya dari Rusia, termasuk lima pesawat Antonov, lima Ilyushin, dan enam pesawat Tupolev. Air Koryo belum membeli pesawat baru sejak 2013 dan sangat membutuhkan untuk modernisasi armada mereka. Namun, sejauh ini terbukti mustahil bagi mereka, karena sanksi yang sedang berlangsung, berarti mereka tidak diberi akses ke Boeing dan Airbus. Para Ahli Komite Sanksi 1718, yang dipimpin oleh DK PBB, telah memutuskan bahwa maskapai itu beroperasi di bawah militer Korea Utara. Karena itu, semua negara anggota PBB dilarang menjual kendaraan transportasi apa pun, termasuk pesawat terbang penumpang ke Korea Utara. Baca juga: Lima Maskapai Ini Kondang dengan Sajian Makanan Yang Buruk Korea Utara telah meminta bantuan sanksi dengan berjanji untuk mendenuklirisasi di Semenanjung Korea dan menghentikan provokasi rudal balitik. Namun, pembicaraan baru-baru ini antara Kim Jong-un dan Presiden Donald Trump telah berakhir dengan kegagalan, jadi pada saat ini, penghapusan sanksi tampaknya masih jauh dari harapan.