
Di Tahun ini, PT Angkasa Pura I Tuntaskan Pengembangan Empat Bandara, Salah Satunya Tunjang MotoGP 2021

Sambut Hari Perempuan Internasional, Dua Stasiun di India Hadirkan Vending Machine “Pembalut”
Hari Ini, MD-90 Lion Air Tergelincir Gegara Pilot ‘Berburu’ Bonus dan Paksakan Pendaratan
Pada hari ini, 12 tahun lalu, bertepatan 9 Maret 2009, pesawat Boeing-McDonnell Douglas (MD) 90 Lion Air tergelincir saat mendarat di Bandara Soekarno Hatta. Tak ada kesimpulan spesifik dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) terkait insiden ini. Namun, terdapat dugaan dari sejumlah pihak bahwa pilot termotivasi bonus besar bila berhasil mendarat tepat waktu sehingga memaksakan pendratan sekalipun kecepatan angin mencapai lebih dari 30 knot.
Baca juga: Hari Ini, 23 Tahun Lalu, Pesawat turunan dari Douglas DC-9, MD-95 Muncul Sebagai Boeing 717
Dalam laporan KNTK yang diunggah di knkt.dephub.go.id, disebutkan, MD-90 PK-LIL Lion Air dengan nomor penerbangan LNI-793, berangkat dari Bandara Makassar (Ujung Pandang) atau sekarang dikenal sebagai Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Sulawesi pada pukul 13.36 WIT menuju Bandara Soekarno-Hatta.
Saat itu, pesawat tua yang pertama kali mengudara pada 1 Maret 1997 ini tengah mengangkut 166 penumpang dan enam kru, dua pilot dan empat pramugari. Dalam penerbangan ini, kapten pilot berusia 61 tahun dengan 25.000 jam terbang, hanya menjadi monitoring. Sedangkan kopilot 34 tahun dengan 5.000 jam terbang ditugaskan untuk handling pilot.
Sejak lepas landas sampai menjelang tiba di Bandara Soekarno-Hatta, penerbangan nyaris sempurna tanpa insiden apapun. Pun demikian dengan pesawat, tidak ada kendala apapun, sama seperti laporan inspeksi yang menjamin pesawat dalam keadaan baik dan laik terbang.
Namun, apa mau dikata, pesawat yang dibeli Lion Air pada 13 April 2005 akhirnya tergelincir saat mendarat pada pukul 15:43 WIB. Beruntung, 166 penumpang dilaporkan selamat dan seluruhnya berhasil dievakuasi melalui escape slide atau evacuation slide pesawat di sebelah kiri. Pesawat dengan nomor registrasi N905RA ini diduga tergelincir akibat cuaca buruk.
http://https://www.youtube.com/watch?v=PcW8cG3hfHo&t=29s
Tetapi, mari kita lihat lebih dalam. Sebelum proses pendaratan dengan instrumen landing system (ILS) approach dilakukan, kondisi di sekitar bandara sedang hujan lebat. Angin dari arah 200 derajat dilaporkan berhembus di kecepatan 15-30 knot dengan jarak pandang 1.500 meter. Dalam kondisi ini, pilot memutuskan untuk mengambil alih pesawat dan tetap melanjutkan pendaratan, sebuah keputusan yang tepat namun juga tidak tepat.
Tepat karena pilot mengambil kendali pesawat langsung dari tangan kopilot. Tidak tepat karena pendaratan tetap dilanjutkan di tengah kondisi itu. Sekalipun runway25L sudah terlihat jelang mendarat dari ketinggian sekitar 1.000 kaki, namun, itu tetap menjadi pendaratan yang amat berisiko. Pilot sebetulnya bisa saja menunda pendaratan atau mendarat di bandara lain untuk alasan keamanan.
Benar saja, ketika pesawat MD-90 satu-satunya yang masih beroperasi di Indonesia itu dalam posisi landing roll, tiba-tiba angin bertiup kencang sekitar 20 knot dari arah kiri pesawat. Pilot kemudian mengembalikan posisi pesawat ke centerline. Jelang touchdown, buntut pesawat kembali miring ke kanan akibat terpaan angin dari arah sebelah kiri.
Baca juga: 10 Kecelakaan di Bandara Sultan Hasanuddin, Lion Air Penyumbang Terbanyak
Pilot kemudian berusaha untuk menghandle itu dengan mengaktifkan thrust reverser. Namun, pesawat malah makin menukik akibat pilot hanya mengaktifkan thrust reverser sebelah kanan bukan keduanya dan tergelincir. Akibat kecelakaan itu, landing gear utama dan sayap patah. Ban nomor tiga meledak. Lambung pesawat juga tergores dan berlubang akibat meluncur di rumput samping runway.
Meski tak ada kesimpulan apapun terkait insiden ini, namun, sejumlah tudingan untuk pilot menyeruak. Pilot disebut terobsesi dengan bonus besar untuk mendaratkan pesawat tepat waktu di bandara yang sudah ditentukan. Itulah mengapa ia tetap memaksa melakukan pendaratan meski bisa dibilang amat berbahaya.
Sebelum Jadi KRL Ciliwung Blue Line, KRL-I Kerap Kali Berganti Warna Livery
Gegara Pipa Toilet Dipasang di Saluran Air Minum, Kepala Stasiun di India Kena Sanksi
Ngeri, di Bandara Dubai, Mata Jadi Paspor Wisatawan!
Bandara tersibuk di dunia untuk perjalanan internasional, Bandara Dubai, sangat familiar dengan pendingin udaranya yang sangat dingin bak kutub utara, air terjun dan pohon palem buatan, hingga desain terminal ciamik. Tak berhenti sampai di situ, baru-baru ini, bandara yang dibangun pada 1960 itu mulai menerapkan iris scanner alias pemindai iris untuk memverifikasi identitas atau pengganti paspor.
Baca juga: Keren, Dubai Gunakan Teknologi Kecerdasan Buatan, Pastikan Sopir dan Penumpang Pakai Masker
Laporan Associated Press menyebut, teknologi biometrik yang menjadi bagian dari program kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan ini tercipta berkat dorongan lebih untuk mengurangi interaksi antar manusia. Itu dilakukan untuk membantu mencegah penularan virus Corona.
Program pemindai selaput pelangi atau iris mata di Bandara Dubai dimulai sejak bulan lalu. Setelah check-in, wisatawan diminta untuk melewati iris scanner dan bila tak ada kendala, pemeriksaan paspor tuntas hanya dalam hitungan detik, tak seperti di bandara lain yang masih mengharuskan wisatawan untuk menunjukkan paspor fisik dan lain sebagainya.
Cara kerjanya, data iris wisatawan mancanegara maupun domestik nantinya akan terhubung langsung dengan database face recognition Uni Emirat Arab tanpa mengharuskan mereka menunjukkan identitas masing-masing. Dengan begitu, check-in dan boarding jauh lebih cepat dibanding sistem face recognition sekalipun.
“Masa depan akan datang. Sekarang, semua prosedur menjadi ‘pintar’ (membutuhkan waktu) sekitar lima hingga enam detik,” kata Mayor Jenderal Obaid Mehayer Bin Suroor, wakil direktur Direktorat Jenderal Karesidenan dan Luar Negeri.
Teknologi biometrik atau iris scan ini belakangan memang menggema di seluruh dunia seiring penilaian buruk tentang keakuratan teknologi face recognition.
Meski dianggap lebih akurat dan cepat, namun, iris scan dinilai sama saja dengan teknologi biometrik lain yang mengancam privasi pengguna. Biometrik iris dinilai menargetkan para jurnalis dan aktivis hak asasi manusia sedunia untuk diawasi tanpa persetujuan yang bersangkutan.
Jonathan Frankle, seorang mahasiswa doktoral dalam kecerdasan buatan di Institut Teknologi Massachusetts, menyebut, “Segala jenis teknologi pengawasan menimbulkan tanda bahaya, terlepas dari negaranya seperti apa. Tapi di negara demokrasi, jika teknologi pengawasan digunakan secara transparan, setidaknya ada peluang untuk melakukan percakapan publik tentang itu.”
Terlepas dari kekhawatiran itu, Emirates, salah satu maskapai yang telah mengintegrasikan data pribadi penumpang, seperti paspor dan KTP, data penerbangan, data pengenal wajah atau face recognition, dan lain sebagainya, memastikan bahwa data penumpang digunakan dengan wajar sesuai kebutuhan penerbangan tanpa ada satupun pihak lain yang bisa mengakses.
Baca juga: Dubai Pasang ‘Mata-mata’ Canggih untuk Monitor Suhu dan Physical Distancing
Uni Emirat Arab memang terkenal dengan teknologi kamera canggih yang tersebar di seluruh penjuru kota.
Tak seperti di negara Komunis seperti Cina, negara Islam itu mengklaim menyebar banyak kamera pengawas untuk membuat aman dan nyaman masyarakat, termasuk memantau penggunaan masker, physical distancing, dan lain sebagainya terkait penanganan Covid-19. Saking banyaknya kamera pengawas, negara itu disebut menjadi negara dengan kamera pengawas terbanyak di dunia bila dihitung berdasarkan per kapita.
Terungkap! Airbus A320 Batik Air Mendarat Darurat Gegara Api dan Asap di Nose Gear
Pesawat Airbus A320 Batik Air ID-6803 rute Jambi-Jakarta memutuskan untuk kembali atau return to base (RTB) dan mendarat darurat di Bandara Sultan Thaha Jambi, karena salah satu indikator menyala di ruang kokpit (yang memberitahukan atau menunjukkan) kemungkinan ada kendala teknis (technical reason).
Baca juga: Dengan Mesin Eco-Friendly, Batik Air Datangkan Airbus A320NEO Pertama
Usai mendarat dengan selamat dan seluruh penumpang yang berjumlah 114 dewasa, 2 (dua) tamu anak-anak serta 1 (satu) balita dievakuasi dan diberangkatkan kembali, bahkan sampai saat ini pun, penyebab insiden itu masih misteri. Tetapi, satu yang pasti, nose gear atau roda bagian depan pesawat patah, menunjukkan ada yang salah dengannya.
Dalam keterangan resmi maskapai melalui Corporate Communications Strategic of Batik Air Danang Mandala Prihantoro, pesawat Batik Air lepas landas pada pukul 13.28 WIB.
Namun, setelah lepas landas, pesawat, yang sempat berputar-putar selama beberapa menit untuk mempersiapkan pendaratan dan mengurangi bahan bakar untuk mengurangi risiko, akhirnya landing kembali ke Bandara Sulthan Thaha Jambi pada pukul 13.51 WIB karena salah satu indikator menyala di ruang kokpit (yang memberitahukan atau menunjukkan) kemungkinan ada kendala teknis (technical reason).
Akan tetapi, menurut keterangan Executive General Manager Bandara Sultan Thaha Jambi, Indra Gunawan, pesawat kembali ke bandara lantaran ada kendala pada roda depan. Tak disebutkan dengan jelas kendala apa yang dimaksud.
Usai mendarat, roda bagian depan nampak patah meski proses pendaratan dilaporkan mulus. Lain cerita bila pendaratan hard landing diambil dan pesawat sampai bouncing berkali-kali, mungkin hal itu bisa saja menyebabkan roda depan pesawat patah dan menyebabkan insiden berdarah seperti yang terjadi pada Garuda Indonesia flight 200. Tetapi, nyatanya tidak.
Namun, menurut The Aviation Herald, selama proses lepas landas dan terbang sampai di ketinggian 3.000 kaki, observer bandara melihat ada percikan api dan asap dari nose gear dan dilaporkan ada kendala teknis. Hal itu kemudian diperkuat dengan aktifnya alarm di kokpit.
Baca juga: Makin Strong! Batik Air Terima Kedatangan Airbus A320-200CEO Ke-44
Pesawat Airbus A320-200 PK-LUT diketahui baru berusia 3,9 tahun atau dikirim ke Batik Air pada Mei 2017 silam. Saat ini, maskapai full service bagian dari Lion Group itu mengoperasikan 45 pesawat tersebut.
Meski roda depan patah dan menyulitkan evakuasi, sehari setelah insiden itu, pesawat berhasil dipindahkan atas kerjasama teknisi maskapai, regulator, instansi, dan pihak bandara.
Jalur Kereta Tadami di Jepang, disebut “Kereta Api Paling Romantis di Dunia” oleh Warga Taiwan
Ternyata Ini Penyebab Mesin Boeing 777 United Airlines Terbakar di Udara
Badan Keselamatan Transportasi Nasional Amerika Serikat (NTSB) akhirnya berhasil mengungkap penyebab mesin Boeing 777-200 United Airlines terbakar. Muara dari temuan itu, Pratt & Whitney, selaku produsen mesin PW4077 yang terbakar, merevisi inspeksi rutin blade kompresor rendah (LPC) menjadi per 1.000 siklus.
Baca juga: NTSB Sebut Metal Fatigue Jadi Penyebab Mesin Boeing 777 United Airlines Terbakar
Menurut data black box cockpit voice recorder (CVR) pesawat yang didapat NTSB, seperti dilansir Simple Flying, pada 20 Februari 2021 lalu, Boeing 777-200 United Airlines dengan nomor penerbangan 328 lepas landas dengan mulus dari Bandara Denver menuju Honolulu, AS.
Empat menit kemudian, ketika mencapai ketinggian 12.500 kaki di kecepakan 280 knot, pilot mendorong tuas throttle ke posisi up untuk meningkatkan tenaga pada mesin. Itu dilakukan guna menghindari turbulensi yang biasanya kerap menghantui penerbangan di sekitar Bandara Denver.
View this post on Instagram
Setelah throttle pada posisi up, beberapa menit berselang terdengar suara ledakan keras di bagian mesin kanan pesawat, diikuti peringatan kebakaran mesin. Beberapa bagian mesin pun jatuh ke daratan dan nyaris menimpa rumah warga.
Sejurus kemudian, pilot dan kopilot menyatakan keadaan darurat dan memutuskan untuk return to base atau go around ke Bandara Denver dan melakukan pendaratan darurat. Pada prosesnya, kru mengecek daftar periksa kebakaran mesin untuk memadamkan api. Sayangnya, api tak kunjung padam dan alarm kebakaran mesin masih terus berbunyi.
Meskipun bahan bakar masih terlalu penuh untuk melakukan pendaratan, pilot memutuskan untuk tidak membuang bahan bakar pesawat untuk alasan waktu dan keamanan. Tak lama kemudian, approach berhasil dilakukan dan pesawat berhasil mendarat darurat bersama 241 orang, termasuk penumpang dan awak.
Laporan awal menyebutkan kebakaran mesin Boeing 777 United Airlines lebih disebabkan oleh metal fatigue atau kelelahan (kehausan) logam. Tetapi, Jumat lalu NTSB menjelaskan dengan lebih detail bahwa kecelakaan disebabkan oleh adanya dua bilah kipas yang patah. Patahan bilah kipas itu disebabkan oleh metal fatigue. Selain itu, ada pula bilah mesin yang bergeser akibat overload failure.
Mengetahui hal itu, Pratt & Whitney pun merevisi ambang pemeriksaan gambar akustik termal (TAI) menjadi 1.000 siklus untuk blade kompresor rendah (LPC). Inspeksi ini kemudian ditindaklanjuti Regulator Penerbangan Sipil AS (FAA) dengan Petunjuk Kelaikan Udara Darurat untuk mengetahui adanya retakan pada bilah mesin.
Baca juga: Berkaca dari Insiden Boeing 777 United Airlines, Inilah Perbedaan Kegagalan Mesin Terkendali dan Tidak?
Keduanya juga memberikan panduan tentang perbaikan yang diperlukan untuk diselesaikan United Airlines, agar 24 pesawat Boeing 777-200 yang digrounded pasca kejadian itu bisa kembali ke udara.
Sebagai informasi, United Airlines adalah satu-satunya maskapai di Amerika Serikat (AS) yang masih menggunakan mesin tipe ini. Pengguna lain mesin PW 4000 adalah Jepang dan Korea. Untuk Jepang, regulator penerbangan baru melarang maskapainya menggunakan Boeing 777 dengan mesin PW 4000 setelah terjadi insiden di AS.
Hari Ini, Raymonde de Laroche Jadi Pilot Wanita Berlisensi Pertama di Dunia, Terinspirasi Wright Bersaudara
Hari ini, 111 tahun yang lalu, bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional 8 Maret 1910, Raymonde de Laroche resmi menjadi pilot wanita berlisensi pertama di dunia. Menariknya, de la Roche mendapatkan lisensi pilot pertama yang diberikan kepada wanita bukan atas dasar cita-cita yang tertanam sejak kecil, melainkan terinspirasi dari wright bersaudara.
Baca juga: Hari Ini, Lisensi Pilot Sipil Pertama di Dunia Dimulai Atas Perintah Presiden AS Woodrow Wilson
Dilansir aerotime.aero, keberhasilan wanita kelahiran 1882, di Paris, Perancis, ini mendapatkan lisensi pilot pertama untuk wanita dinilai sangat luar biasa. Betapa tidak, di masa itu, wanita sangat dikucilkan.
Di Amerika Serikat (AS), wanita terus-menerus dipandang sebelah mata sampai itu berubah pada 1920. Begitu juga dengan wanita di Kanada, terus-menerus berada di tempat rendah sampai tahun 1929. Di Perancis pun demikian, sekalipun pada akhirnya ia terus melawan dan tercatat abadi dalam sejarah.
Raymonde Elise de Laroche awalnya menjani karir sebagai seorang aktris. Wanita dari kalangan keluarga miskin ini kemudian mendekati Charles Voisin, seorang pilot dan pembuat pesawat, dan memintanya untuk mengajari cara mengemudikan pesawat.

Hasratnya untuk menjadi seorang penerbang atau pilot andal muncul ketika ia menghadiri penerbangan demonstrasi Wright bersaudara di Paris pada tahun 1908. Karenanya, ia tak ragu untuk meminta Voisin mengajarinya menjadi pilot.
Pelatihan pertamanya menjadi pilot dimulai pada Oktober 1909, di Chalons, sekitar 140 kilometer sebelah timur Paris. Sayangnya, pesawat Voisin hanya bisa menampung satu orang. Alhasil, de la Roche hanya belajar kontrol penerbangan di darat tanpa menerbangkan pesawat.
Setelah dirasa menguasai teori, ia pun diizinkan terbang dan berhasil melakoni penerbangan pertamanya meski hanya sejauh 270 meter. Ia berhasil menerbangkan pesawat jauh sebelum pilot wanita yang digadang-gadang sebagai yang pertama di dunia, Amelia Earhart, yang baru mulai belajar terbang pada 3 Januari 1921.

Sampai di sini, sebetulnya ia sempat ditetapkan sebagai pilot wanita pertama di dunia. Meski masih banyak perdebatan, banyak yang percaya bahwa gelar pilot wanita pertama di dunia Therese Peltier, ketika dia melakukan penerbangan solo di Turin, Italia pada tahun 1908.
Terlepas dari hal itu, yang pasti, Raymonde de Laroche berhasil menjadi pilot wanita berlisensi resmi pertama di dunia setelah French Aero-Club secara resmi mengeluarkan lisensi pilot no. 36 untuknya.
Baca juga: Mengenal Yvonne Pope Sintes, Mantan Pramugari yang Jadi Pilot Maskapai Wanita Pertama Inggris
Pasca mendapatkan lisensi pilot resmi, de Laroche menghadiri banyak acara air show atau pertunjukan udara di seluruh dunia. Di Uni Soviet, ia bahkan sampai dipertemukan dengan Tsar Nicholas II, karena kemahirannya dalam menerbangkan pesawat. Ia juga sempat menghadiri pertunjukan udara di Reims, Perancis.
Perjalanan de Laroche sebagai pilot wanita pertama di dunia akhirnya terhenti pada 18 Juli 1919. Ketika itu, ia yang merasa cukup berbakat, ingin menjadi pilot uji untuk membantu produsen pesawat membuat produk-produk yang lebih baik. Sayangnya, pesawat eksperimental yang diuji tiba-tiba menukik dan jatuh. Dua pilot uji dinyatakan tewas, salah satunya de Laroche yang meninggal pada usia 36 tahun.
