Di Tahun ini, PT Angkasa Pura I Tuntaskan Pengembangan Empat Bandara, Salah Satunya Tunjang MotoGP 2021

Meski mendapat tantangan pandemi Covid-19, namun PT Angkasa Pura I berkomiten untuk merampungkan proyek pengembangan bandara, setidaknya terdapat empat proyek pengembangan bandara yang tengah dilakukan Angkasa Pura I dan ditargetkan selesai di tahun 2021. Keempat proyek pengembangan ini adalah Proyek Pengembangan Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, Bandara Juanda Surabaya, Bandara Lombok Praya, dan Bandara Sam Ratulangi Manado. Baca juga: Gandeng Gudang Garam, PT Angkasa Pura I Bangun Bandara “Dhoho” di Kediri “Pengembangan empat bandara ini bersifat strategis untuk mendorong konektivitas udara dan meningkatkan kapasitas trafik angkutan dan logistik udara khususnya di wilayah tengah dan timur Indonesia,” ujar Direktur Utama Angkasa Pura I, Faik Fahmi, dalam siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com. Hingga awal Maret 2021, progress pengembangan Bandara Sultan Hasanuddin Makassar telah mencapai 62,28 persen dan ditargetkan dapat selesai pada Mei 2021. Pengembangan bandara meliputi perluasan terminal yang mencapai 166.815 meter persegi sehingga dapat menampung 15 juta penumpang per tahun dari luasan terminal eksisting 51.815 meter persegi dengan kapasitas 7 juta penumpang per tahun. Selain itu, apron juga diperluas menjadi 385.346 meter persegi (kapasitas 53 parking stand) dari luasan eksisting yang hanya 185.500 meter persegi (kapasitas 42 parking stand).
Progress pengembangan Bandara Lombok Praya.
Progres pengembangan Bandara Juanda Surabaya hingga awal Maret 2021 telah mencapai 93 persen. Pengembangan Bandara Juanda Surabaya mencakup perluasan Terminal 1 beserta pembenahan interior dan fasilitas penunjangnya, overlay runway 10-28, rekonstruksi apron B Terminal 2, dan perluasan terminal kargo internasional. Perluasan Terminal 1 menjadi 91.700 meter persegi dari 62.700 meter persegi akan menambah kapasitas Terminal 1 menjadi 13 juta penumpang per tahun dari yang saat ini hanya 7 juta per tahun. Progres pengembangan Bandara Lombok Praya saat ini telah mencapai 96 persen. Pengembangan ini dilakukan untuk mendukung pengembangan kawasan ekonomi khusus (KEK) Mandalika yang menjadi lokasi penyelenggaraan MotoGP 2021. Pengembangan yang dilakukan yaitu perpanjangan landas pacu (runway) dari 2.750 meter menjadi 3.300 meter, dan perluasan terminal menjadi 40 ribu meter persegi yang dapat menampung 7 juta penumpang per tahun atau 2 kali lipat dari kapasitas sebelumnya. Sementara progres pengembangan Bandara Sam Ratulangi Manado saat ini telah mencapai 80 persen. Pengembangan bandara ini memperluas terminal penumpang menjadi 57.296 meter persegi dari 26.481 meter persegi. Perluasan terminal ini membuat Bandara Sam Ratulangi Manado mampu menampung hingga 5,7 juta penumpang per tahun dibanding sebelumnya yang hanya 2,6 juta per tahun. Baca juga: Angkasa Pura I Dukung Rencana Penerapan GeNose di Bandara “Pengembangan bandara-bandara yang kami lakukan ini juga bertujuan untuk mendukung pengembangan destinasi wisata prioritas dan agenda strategis pemerintah khususnya dalam perhelatan MotoGP 2021 di Mandalika,” tambah Faik Fahmi.

Sambut Hari Perempuan Internasional, Dua Stasiun di India Hadirkan Vending Machine “Pembalut”

Seorang wanita yang belum manapouse setiap bulan akan mengalami masa menstruasi. Biasanya ini akan membuat seorang wanita terganggu ketika mereka tidak memiliki pembalut yang dibawa di dalam tas dan bisa saja saat itu mini market atau warung cukup jauh dari jangkauan apalagi ketika menunggu angkutan umum. Baca juga: Tekan Penyebaran Covid-19, Stasiun Kereta di India Terapkan ‘Pembersihan’ Barang Bawaan dengan Sinar Ultra Violet Karena hal tersebut membuat sulit seorang wanita, belum lama ini di dua stasiun di India kehadiran sebuah mesin penjual otomatis atau vending machine yang menjual pembalut. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman sumber orissadiary.com (8/3/2021), vending machine tersebut dihadirkan oleh startup ynag berbasis di Bhubaneswar yakni Swarajya Vending Industries. Mesin tersebut diletakkan di Stasiun Bhubaneswar dan Khurdha dalam rangka peringatan Hari Perempuan Internasional yang diperingati setiap tanggal 8 Maret. Vendhing machine penjual pembalut tersebut diresmikan oleh manajer Stasiun Bhubaneswar, C R Das dan sang istri Lulubala Das. “Ini adalah jenis mesin penjual otomatis yang unik, yang membagikan pembalut wanita dengan merek dan ukuran berbeda. Dan itu juga menerima semua mode pembayaran yaitu uang tunai, koin dan pembayaran UPI,“ ujar Sandipanni Bharadwaj, MD, Swarajya Vending Industries. Bharadwaj menambahkan, untuk menjaga permukaan paket sanitatasi bebas dari Covid-19, pihaknya telah memasang sinar UV di mesin sehingga mendesinfeksi paket agar lebih aman digunakan. “Kami telah merencanakan untuk memasang hampir lebih dari 50 mesin di Odisha di lokasi yang berbeda dalam waktu dekat,” jelasnya. Untuk membeli pembalut dari mesin ini, pengguna memasukkan uang Rs5 atau sekitar Rp981. Kapasitas mesin ini adalah 75 pembalut. Nantinya dalam pemeliharaan dan pengisian ulang, akan dilakukan oleh Organisasi Kesejahteraan Wanita East Coast Railway. Baca juga: “The Giving Machine,”Mesin Penjual Otomatis yang User Friendly “Wanita bisa memasukkan koin lima rupee untuk membeli pembalut hemat yang diberi nama Happy Nari. Mesin seharga Rs16 ribu (Rp3,1 juta) itu dipasang di Platform No-1 dan Second Class Ladies Waiting Hall,” ujar presiden ECoRWWO, Madhulika Singh.

Hari Ini, MD-90 Lion Air Tergelincir Gegara Pilot ‘Berburu’ Bonus dan Paksakan Pendaratan

Pada hari ini, 12 tahun lalu, bertepatan 9 Maret 2009, pesawat Boeing-McDonnell Douglas (MD) 90 Lion Air tergelincir saat mendarat di Bandara Soekarno Hatta. Tak ada kesimpulan spesifik dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) terkait insiden ini. Namun, terdapat dugaan dari sejumlah pihak bahwa pilot termotivasi bonus besar bila berhasil mendarat tepat waktu sehingga memaksakan pendratan sekalipun kecepatan angin mencapai lebih dari 30 knot.

Baca juga: Hari Ini, 23 Tahun Lalu, Pesawat turunan dari Douglas DC-9, MD-95 Muncul Sebagai Boeing 717

Dalam laporan KNTK yang diunggah di knkt.dephub.go.id, disebutkan, MD-90 PK-LIL Lion Air dengan nomor penerbangan LNI-793, berangkat dari Bandara Makassar (Ujung Pandang) atau sekarang dikenal sebagai Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Sulawesi pada pukul 13.36 WIT menuju Bandara Soekarno-Hatta.

Saat itu, pesawat tua yang pertama kali mengudara pada 1 Maret 1997 ini tengah mengangkut 166 penumpang dan enam kru, dua pilot dan empat pramugari. Dalam penerbangan ini, kapten pilot berusia 61 tahun dengan 25.000 jam terbang, hanya menjadi monitoring. Sedangkan kopilot 34 tahun dengan 5.000 jam terbang ditugaskan untuk handling pilot.

Sejak lepas landas sampai menjelang tiba di Bandara Soekarno-Hatta, penerbangan nyaris sempurna tanpa insiden apapun. Pun demikian dengan pesawat, tidak ada kendala apapun, sama seperti laporan inspeksi yang menjamin pesawat dalam keadaan baik dan laik terbang.

Namun, apa mau dikata, pesawat yang dibeli Lion Air pada 13 April 2005 akhirnya tergelincir saat mendarat pada pukul 15:43 WIB. Beruntung, 166 penumpang dilaporkan selamat dan seluruhnya berhasil dievakuasi melalui escape slide atau evacuation slide pesawat di sebelah kiri. Pesawat dengan nomor registrasi N905RA ini diduga tergelincir akibat cuaca buruk.

http://https://www.youtube.com/watch?v=PcW8cG3hfHo&t=29s

Tetapi, mari kita lihat lebih dalam. Sebelum proses pendaratan dengan instrumen landing system (ILS) approach dilakukan, kondisi di sekitar bandara sedang hujan lebat. Angin dari arah 200 derajat dilaporkan berhembus di kecepatan 15-30 knot dengan jarak pandang 1.500 meter. Dalam kondisi ini, pilot memutuskan untuk mengambil alih pesawat dan tetap melanjutkan pendaratan, sebuah keputusan yang tepat namun juga tidak tepat.

Tepat karena pilot mengambil kendali pesawat langsung dari tangan kopilot. Tidak tepat karena pendaratan tetap dilanjutkan di tengah kondisi itu. Sekalipun runway25L sudah terlihat jelang mendarat dari ketinggian sekitar 1.000 kaki, namun, itu tetap menjadi pendaratan yang amat berisiko. Pilot sebetulnya bisa saja menunda pendaratan atau mendarat di bandara lain untuk alasan keamanan.

Benar saja, ketika pesawat MD-90 satu-satunya yang masih beroperasi di Indonesia itu dalam posisi landing roll, tiba-tiba angin bertiup kencang sekitar 20 knot dari arah kiri pesawat. Pilot kemudian mengembalikan posisi pesawat ke centerline. Jelang touchdown, buntut pesawat kembali miring ke kanan akibat terpaan angin dari arah sebelah kiri.

Baca juga: 10 Kecelakaan di Bandara Sultan Hasanuddin, Lion Air Penyumbang Terbanyak

Pilot kemudian berusaha untuk menghandle itu dengan mengaktifkan thrust reverser. Namun, pesawat malah makin menukik akibat pilot hanya mengaktifkan thrust reverser sebelah kanan bukan keduanya dan tergelincir. Akibat kecelakaan itu, landing gear utama dan sayap patah. Ban nomor tiga meledak. Lambung pesawat juga tergores dan berlubang akibat meluncur di rumput samping runway.

Meski tak ada kesimpulan apapun terkait insiden ini, namun, sejumlah tudingan untuk pilot menyeruak. Pilot disebut terobsesi dengan bonus besar untuk mendaratkan pesawat tepat waktu di bandara yang sudah ditentukan. Itulah mengapa ia tetap memaksa melakukan pendaratan meski bisa dibilang amat berbahaya.

Sebelum Jadi KRL Ciliwung Blue Line, KRL-I Kerap Kali Berganti Warna Livery

Pernah dengar kereta rel listrik atau KRL Ciliwung? Kereta ini mulai beroperasi pada 30 November 2007 yang melintasi Manggarai-Tanah Abang-Kampung Bandan-Pasarsenen-Jatinegara-Manggarai dan sebaliknya. Tampilan dua rangkaian kereta ini pun memiliki warna biru sehingga kereta ini disebut dengan KRL Ciliwung Blue Line. Baca juga: KRL Pakuan Ekspres – 39 Tahun Mengular Bogor-Jakarta Kini Digantikan Commuter Line KRL Ciliwung Blue Line merupakan program bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan PT Kereta Api Indonesian Daerah Operasional atau Daop 1 Jakarta. Kehadirannya sendiri diharapkan untuk mengurangi kemacetan di Jakarta. KabarPenumpang.com merangkum berbagai laman sumber, KRL Ciliwung Blue Line menggunakan Kereta Rel Listrik Indonesia (KRL-I) buatan PT INKA. Ini adalah produk KRL AC pertama PT INKA yang merupakan rangkaian purwarupa atau prototipe yang menjadi desain acuan produk selanjutnya. Kereta ini dalam satu rangkaian terdiri dari empat gerbong dan dilengkapi dengan pendingin ruangan atau AC. Sekali berjalan kereta ini mampu mengangkut penumpang sebanyak 400 orang. Sebelum menjadi KRL Ciliwung Blue Line, rangkaian ini beroperasi pada 17 Februari 2003. Saat itu rangkaian pertama berwarna jingga dan sering digunakan untuk KRL Serpong Ekspres yang melintasi Serpong-Tanah Abang-Manggarai PP. Sedangkan rangkaian kedua atau KRL AC Prajayana dioperasikan pada tanggal 16 Maret 2003 dengan tampilan warna hijau dan unggu. Kereta ini beroperasi untuk KRL Pakuan Ekspres atau Bogor Ekspres lintas Tanah Abang ke Bogor PP. Hingga akhirnya pada 30 November 2007 menjadi KRL Ekonomi AC Lingkar Ciliwung. Sayangnya pada 2011 mulai berlaku pola operasi loop line Jabodetabek. Ini membuat KRL tak lagi mengelilingi seluruh Jakarta. Baca juga: KRL BN-Holec Pernah Beroperasi Sebagai “Prameks,” Ternyata Sering Bermasalah Yang mana kemudian KRL ini menjadi KRL pengumpan atau feeder lintas Kampung Bandan ke Jakarta Kota dan Manggarai-Tanah Abang-Kampung Bandan-Jakarta Kota PP hingga akhir masa kedinasannya di tahun 2014. Saat ini, kedua set KRL-I tidak ada yang beroperasi karena gangguan teknis yang kerap terjadi, dan sekarang kedua set KRL-I sudah dikirim untuk ditanahkan di Stasiun Cikaum.

Gegara Pipa Toilet Dipasang di Saluran Air Minum, Kepala Stasiun di India Kena Sanksi

Apa jadinya bila pipa toilet digunakan pada saluran air minum? Menjijikkan? Ini sudah barang pasti dan membuat banyak orang menghindari saluran air karena tidak baik untuk kesehatan. Bahkan hal ini membuat seorang kepala stasiun harus ditangguhkan dari pekerjaannya. Baca juga: Manakah yang Bakal Jadi Solusi Toilet di Stasiun Kereta India: Bio-Toilet Atau Toilet Hibrida? KabarPenumpang.com melansir dari laman news18.com (7/3/2021), kepala stasiun ini ditangguhkan setelah seorang pekerja sanitasi outsourcing memasang pipa toilet ke tangki yang berisi air minum. Insiden tersebut terjadi pada 1 Maret kemarin di Stasiun Garoth Mandal yang berada di bawah divisi kereta kota, kata manajer komersial divisi senior Ajay Kumar Pal. “Seorang pekerja sanitasi dari perusahaan swasta memasang pipa toilet ke tangki air minum, yang dibersihkan secara menyeluruh setelah kesalahan dan diuji untuk diminum. Kepala Stasiun Chauthmal Meena ditempatkan di bawah skorsing dan pekerja sanitasi dikeluarkan dari tugas,” ujar Pal. Laporan ini hadir setelah insiden tersebut menjadi viral di media sosial Twitter. Kemudian pada 5 Maret West Central Railways langsung mengambil tindakan dan mengeluarkan pernyataan yang menyebutkan bahwa mereka tengah melakukan penyelidikan pada insiden tersebut. Berita ini mengejutkan ditengah melonjaknya kasus virus corona di beberapa negara bagian termasuk Maharashtra yang baru-baru ini melihat lonjakan kasus varian baru Covid-19. Insiden itu juga terungkap di tengah tur Kereta Api Kota Mandal untuk mencatat fasilitas penumpang. Beberapa penumpang mengeluhkan sikap kereta api yang ceroboh dan ancaman terhadap kesehatan penumpang yang disebabkan oleh kesalahan tersebut. Di mana penumpang diberitahu bahwa di satu sisi kereta api sedang dalam perjalanan keliling kota Mandal untuk mencatat fasilitas penumpang. Baca juga: Tak Dibuang Begitu Saja, India Daur Ulang Air Bekas Cucian Lokomotif Di sisi lain, administrasi perkeretaapian sedang mempermainkan kesehatan para penumpang. Dalam kasus tersebut, para pejabat mengatakan ada pengaturan terpisah untuk air di tangki untuk diminum penumpang. Bagaimana pipa toilet masuk ke tangki sedang diselidiki. Perlu dicatat bahwa wilayah Divisi Kereta Api Kota cukup luas.

Ngeri, di Bandara Dubai, Mata Jadi Paspor Wisatawan!

Bandara tersibuk di dunia untuk perjalanan internasional, Bandara Dubai, sangat familiar dengan pendingin udaranya yang sangat dingin bak kutub utara, air terjun dan pohon palem buatan, hingga desain terminal ciamik. Tak berhenti sampai di situ, baru-baru ini, bandara yang dibangun pada 1960 itu mulai menerapkan iris scanner alias pemindai iris untuk memverifikasi identitas atau pengganti paspor.

Baca juga: Keren, Dubai Gunakan Teknologi Kecerdasan Buatan, Pastikan Sopir dan Penumpang Pakai Masker

Laporan Associated Press menyebut, teknologi biometrik yang menjadi bagian dari program kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan ini tercipta berkat dorongan lebih untuk mengurangi interaksi antar manusia. Itu dilakukan untuk membantu mencegah penularan virus Corona.

Program pemindai selaput pelangi atau iris mata di Bandara Dubai dimulai sejak bulan lalu. Setelah check-in, wisatawan diminta untuk melewati iris scanner dan bila tak ada kendala, pemeriksaan paspor tuntas hanya dalam hitungan detik, tak seperti di bandara lain yang masih mengharuskan wisatawan untuk menunjukkan paspor fisik dan lain sebagainya.

Cara kerjanya, data iris wisatawan mancanegara maupun domestik nantinya akan terhubung langsung dengan database face recognition Uni Emirat Arab tanpa mengharuskan mereka menunjukkan identitas masing-masing. Dengan begitu, check-in dan boarding jauh lebih cepat dibanding sistem face recognition sekalipun.

“Masa depan akan datang. Sekarang, semua prosedur menjadi ‘pintar’ (membutuhkan waktu) sekitar lima hingga enam detik,” kata Mayor Jenderal Obaid Mehayer Bin Suroor, wakil direktur Direktorat Jenderal Karesidenan dan Luar Negeri.

Teknologi biometrik atau iris scan ini belakangan memang menggema di seluruh dunia seiring penilaian buruk tentang keakuratan teknologi face recognition.

Meski dianggap lebih akurat dan cepat, namun, iris scan dinilai sama saja dengan teknologi biometrik lain yang mengancam privasi pengguna. Biometrik iris dinilai menargetkan para jurnalis dan aktivis hak asasi manusia sedunia untuk diawasi tanpa persetujuan yang bersangkutan.

Jonathan Frankle, seorang mahasiswa doktoral dalam kecerdasan buatan di Institut Teknologi Massachusetts, menyebut, “Segala jenis teknologi pengawasan menimbulkan tanda bahaya, terlepas dari negaranya seperti apa. Tapi di negara demokrasi, jika teknologi pengawasan digunakan secara transparan, setidaknya ada peluang untuk melakukan percakapan publik tentang itu.”

Terlepas dari kekhawatiran itu, Emirates, salah satu maskapai yang telah mengintegrasikan data pribadi penumpang, seperti paspor dan KTP, data penerbangan, data pengenal wajah atau face recognition, dan lain sebagainya, memastikan bahwa data penumpang digunakan dengan wajar sesuai kebutuhan penerbangan tanpa ada satupun pihak lain yang bisa mengakses.

Baca juga: Dubai Pasang ‘Mata-mata’ Canggih untuk Monitor Suhu dan Physical Distancing

Uni Emirat Arab memang terkenal dengan teknologi kamera canggih yang tersebar di seluruh penjuru kota.

Tak seperti di negara Komunis seperti Cina, negara Islam itu mengklaim menyebar banyak kamera pengawas untuk membuat aman dan nyaman masyarakat, termasuk memantau penggunaan masker, physical distancing, dan lain sebagainya terkait penanganan Covid-19. Saking banyaknya kamera pengawas, negara itu disebut menjadi negara dengan kamera pengawas terbanyak di dunia bila dihitung berdasarkan per kapita.

Terungkap! Airbus A320 Batik Air Mendarat Darurat Gegara Api dan Asap di Nose Gear

Pesawat Airbus A320 Batik Air ID-6803 rute Jambi-Jakarta memutuskan untuk kembali atau return to base (RTB) dan mendarat darurat di Bandara Sultan Thaha Jambi, karena salah satu indikator menyala di ruang kokpit (yang memberitahukan atau menunjukkan) kemungkinan ada kendala teknis (technical reason).

Baca juga: Dengan Mesin Eco-Friendly, Batik Air Datangkan Airbus A320NEO Pertama

Usai mendarat dengan selamat dan seluruh penumpang yang berjumlah 114 dewasa, 2 (dua) tamu anak-anak serta 1 (satu) balita dievakuasi dan diberangkatkan kembali, bahkan sampai saat ini pun, penyebab insiden itu masih misteri. Tetapi, satu yang pasti, nose gear atau roda bagian depan pesawat patah, menunjukkan ada yang salah dengannya.

Dalam keterangan resmi maskapai melalui Corporate Communications Strategic of Batik Air Danang Mandala Prihantoro, pesawat Batik Air lepas landas pada pukul 13.28 WIB.

Namun, setelah lepas landas, pesawat, yang sempat berputar-putar selama beberapa menit untuk mempersiapkan pendaratan dan mengurangi bahan bakar untuk mengurangi risiko, akhirnya landing kembali ke Bandara Sulthan Thaha Jambi pada pukul 13.51 WIB karena salah satu indikator menyala di ruang kokpit (yang memberitahukan atau menunjukkan) kemungkinan ada kendala teknis (technical reason).

Akan tetapi, menurut keterangan Executive General Manager Bandara Sultan Thaha Jambi, Indra Gunawan, pesawat kembali ke bandara lantaran ada kendala pada roda depan. Tak disebutkan dengan jelas kendala apa yang dimaksud.

Usai mendarat, roda bagian depan nampak patah meski proses pendaratan dilaporkan mulus. Lain cerita bila pendaratan hard landing diambil dan pesawat sampai bouncing berkali-kali, mungkin hal itu bisa saja menyebabkan roda depan pesawat patah dan menyebabkan insiden berdarah seperti yang terjadi pada Garuda Indonesia flight 200. Tetapi, nyatanya tidak.

Namun, menurut The Aviation Herald, selama proses lepas landas dan terbang sampai di ketinggian 3.000 kaki, observer bandara melihat ada percikan api dan asap dari nose gear dan dilaporkan ada kendala teknis. Hal itu kemudian diperkuat dengan aktifnya alarm di kokpit.

Baca juga: Makin Strong! Batik Air Terima Kedatangan Airbus A320-200CEO Ke-44

Pesawat Airbus A320-200 PK-LUT diketahui baru berusia 3,9 tahun atau dikirim ke Batik Air pada Mei 2017 silam. Saat ini, maskapai full service bagian dari Lion Group itu mengoperasikan 45 pesawat tersebut.

Meski roda depan patah dan menyulitkan evakuasi, sehari setelah insiden itu, pesawat berhasil dipindahkan atas kerjasama teknisi maskapai, regulator, instansi, dan pihak bandara.

Jalur Kereta Tadami di Jepang, disebut “Kereta Api Paling Romantis di Dunia” oleh Warga Taiwan

Bosan melihat sudut pandang pemandangan dari dalam kereta? Bagaimana bila melihat sudut pandang dari lensa para fotografer? Sepertinya ini akan asyik dan membuat sesuatu menjadi baru. Karena bukan hanya melihat pemandangan dari luar, tetapi bisa melihat kereta secara keseluruhan pemandangan yang ada hingga jalur yang dilintasi. Baca juga: Stasiun Seiryu Miharashi di Jepang, Stasiun Unik Tanpa Pintu Keluar KabarPenumpang.com merangkum asiaone.com (8/2/2021), sejak pukul 06.00 pagi waktu Jepang, sekitar 30 fotografer berada di posisi masing-masing untuk menangkap kereta yang melintas di jembatan lengkung di Oku Aizu prefektur Fukushima, Jepang. Dengan ketepatan waktu hasil gambar yang indah muncul dari hasil jepretan foto sebuah kereta hijau dan putih sepanjang dua gerbong dari hutan jalur Tadami. Jalur kereta Tadami ini memiliki panjang sekitar 135 km yang melintas wilayah Tohoku, bagian paling utara dari pulau utama Honshu. Yang mana jalur ini menghubungkan Oku Aizu Wakamatsu di Fukushima dengan Koide di prefektur Niigata. Bisa dikatakan kereta api paling romantis di dunia yang melintasi jalur tersebut. Sebab Tohoku sendiri merupakan tujuan ideal bagi pelancong yang ingin kembali ke alam dan menikmati kesunyian tanpa keramaian. Pada 2019, sedikitnya dua persen dari pelancong asing bepergian ke daerah ini. Daerah ini juga terhindar dari gempa bumi tetapi tahun 2011 dilanda badai hebat yang memicu banjir dan menghancurkan tiga jembatan di sepanjang jalur Tadami. Sayangnya karena biaya perbaikan tinggi dan populasi yang berkurang di daerah itu, maka pemulihan jembatan tidak dilakukan. Bahkan enam stasiun pun ditutup permanen setelah rusak karena banjir dan mebuat penumpang harus naik bus selama satu jam dari Aizu Kawaguchi dan Tadami. Salah seorang penduduk setempat, Ken Hoshi sudah memotret daerah Oku Aizu selama 25 tahun dan mengabadikan pemandangan kereta Tadami kecil yang melintasi lembah berkabut, hutan ajaib dan pengunungan yang menjulang tinggi dengan latar belakang berbagai musim. Hoshi mulai memposting fotonya di Facebook dan kemudian mengunjungi Taiwan untuk memamerkan fotonya dan mempromosikan tanah airnya. Responnya sangat mengejutkan karena banyak dari pengunjung tersebut berasal dari Taiwan dan merekalah yang menciptakan julukan “kereta api paling romantis di dunia”, yang pertama kali muncul di Weibo. “Saya selamanya berterima kasih kepada orang-orang Taiwan. Banyak dari mereka telah mengunjungi kami lebih dari sepuluh kali,” kata Hoshi. Berkat ledakan minat publik ini, pemerintah daerah telah berbagi visi Hoshi untuk merevitalisasi daerah tersebut melalui pariwisata, dan Japan Railway East telah memutuskan untuk memperbaiki Jalur Tadami. Ini akan beroperasi penuh pada akhir 2022 dan ada juga rencana untuk memasang sudut pandang baru di sepanjang jalur yang membuat pemandangan spektakuler lebih mudah diakses, termasuk di jembatan nomor 5, 6 dan 7, setelah diperbaiki. Inisiatif Hoshi akan ditampilkan dalam film dokumenter tentang Garis Tadami, oleh sutradara Wataru Abiko, yang dijadwalkan rilis musim panas ini di Jepang dan di festival film Taiwan. “Saya memotret Jalur Tadami bukan karena saya suka kereta, tetapi karena saya ingin mempromosikan pemandangan indah Oku Aizu. Daerah itu sangat terpukul oleh reformasi ekonomi di awal tahun 2000-an. Jumlah pekerjaan di sini turun menjadi hampir sepersepuluh dari tingkat sebelumnya. Untuk menyegarkan kembali wilayah ini, kami harus memikat orang ke sini. Saya yakin pemandangan yang indah ini cukup kuat untuk mendatangkan banyak pengunjung ke sini,” katanya. Baca juga: Stasiun Tokyo, Merangkap Jadi Museum dan Saksi Bisu Pembunuhan Dua PM Jepang Setelah berhasil melobi pihak berwenang setempat untuk membangun tangga ke Sudut Pandang Jembatan Sungai Tadami No 1, yang dibangun di sebuah bukit di luar kota Mishima, sekitar 500 meter dari penyeberangan, Hoshi mendesak mereka untuk memasang lift juga, sehingga orang-orang dari segala usia bisa menikmati pemandangan, terutama saat pemandangan tertutup salju.

Ternyata Ini Penyebab Mesin Boeing 777 United Airlines Terbakar di Udara

Badan Keselamatan Transportasi Nasional Amerika Serikat (NTSB) akhirnya berhasil mengungkap penyebab mesin Boeing 777-200 United Airlines terbakar. Muara dari temuan itu, Pratt & Whitney, selaku produsen mesin PW4077 yang terbakar, merevisi inspeksi rutin blade kompresor rendah (LPC) menjadi per 1.000 siklus.

Baca juga: NTSB Sebut Metal Fatigue Jadi Penyebab Mesin Boeing 777 United Airlines Terbakar

Menurut data black box cockpit voice recorder (CVR) pesawat yang didapat NTSB, seperti dilansir Simple Flying, pada 20 Februari 2021 lalu, Boeing 777-200 United Airlines dengan nomor penerbangan 328 lepas landas dengan mulus dari Bandara Denver menuju Honolulu, AS.

Empat menit kemudian, ketika mencapai ketinggian 12.500 kaki di kecepakan 280 knot, pilot mendorong tuas throttle ke posisi up untuk meningkatkan tenaga pada mesin. Itu dilakukan guna menghindari turbulensi yang biasanya kerap menghantui penerbangan di sekitar Bandara Denver.

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by KabarPenumpang.com (@kabar.penumpang)

Setelah throttle pada posisi up, beberapa menit berselang terdengar suara ledakan keras di bagian mesin kanan pesawat, diikuti peringatan kebakaran mesin. Beberapa bagian mesin pun jatuh ke daratan dan nyaris menimpa rumah warga.

Sejurus kemudian, pilot dan kopilot menyatakan keadaan darurat dan memutuskan untuk return to base atau go around ke Bandara Denver dan melakukan pendaratan darurat. Pada prosesnya, kru mengecek daftar periksa kebakaran mesin untuk memadamkan api. Sayangnya, api tak kunjung padam dan alarm kebakaran mesin masih terus berbunyi.

Meskipun bahan bakar masih terlalu penuh untuk melakukan pendaratan, pilot memutuskan untuk tidak membuang bahan bakar pesawat untuk alasan waktu dan keamanan. Tak lama kemudian, approach berhasil dilakukan dan pesawat berhasil mendarat darurat bersama 241 orang, termasuk penumpang dan awak.

Laporan awal menyebutkan kebakaran mesin Boeing 777 United Airlines lebih disebabkan oleh metal fatigue atau kelelahan (kehausan) logam. Tetapi, Jumat lalu NTSB menjelaskan dengan lebih detail bahwa kecelakaan disebabkan oleh adanya dua bilah kipas yang patah. Patahan bilah kipas itu disebabkan oleh metal fatigue. Selain itu, ada pula bilah mesin yang bergeser akibat overload failure.

Mengetahui hal itu, Pratt & Whitney pun merevisi ambang pemeriksaan gambar akustik termal (TAI) menjadi 1.000 siklus untuk blade kompresor rendah (LPC). Inspeksi ini kemudian ditindaklanjuti Regulator Penerbangan Sipil AS (FAA) dengan Petunjuk Kelaikan Udara Darurat untuk mengetahui adanya retakan pada bilah mesin.

Baca juga: Berkaca dari Insiden Boeing 777 United Airlines, Inilah Perbedaan Kegagalan Mesin Terkendali dan Tidak?

Keduanya juga memberikan panduan tentang perbaikan yang diperlukan untuk diselesaikan United Airlines, agar 24 pesawat Boeing 777-200 yang digrounded pasca kejadian itu bisa kembali ke udara.

Sebagai informasi, United Airlines adalah satu-satunya maskapai di Amerika Serikat (AS) yang masih menggunakan mesin tipe ini. Pengguna lain mesin PW 4000 adalah Jepang dan Korea. Untuk Jepang, regulator penerbangan baru melarang maskapainya menggunakan Boeing 777 dengan mesin PW 4000 setelah terjadi insiden di AS.

Hari Ini, Raymonde de Laroche Jadi Pilot Wanita Berlisensi Pertama di Dunia, Terinspirasi Wright Bersaudara

Hari ini, 111 tahun yang lalu, bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional 8 Maret 1910, Raymonde de Laroche resmi menjadi pilot wanita berlisensi pertama di dunia. Menariknya, de la Roche mendapatkan lisensi pilot pertama yang diberikan kepada wanita bukan atas dasar cita-cita yang tertanam sejak kecil, melainkan terinspirasi dari wright bersaudara.

Baca juga: Hari Ini, Lisensi Pilot Sipil Pertama di Dunia Dimulai Atas Perintah Presiden AS Woodrow Wilson

Dilansir aerotime.aero, keberhasilan wanita kelahiran 1882, di Paris, Perancis, ini mendapatkan lisensi pilot pertama untuk wanita dinilai sangat luar biasa. Betapa tidak, di masa itu, wanita sangat dikucilkan.

Di Amerika Serikat (AS), wanita terus-menerus dipandang sebelah mata sampai itu berubah pada 1920. Begitu juga dengan wanita di Kanada, terus-menerus berada di tempat rendah sampai tahun 1929. Di Perancis pun demikian, sekalipun pada akhirnya ia terus melawan dan tercatat abadi dalam sejarah.

Raymonde Elise de Laroche awalnya menjani karir sebagai seorang aktris. Wanita dari kalangan keluarga miskin ini kemudian mendekati Charles Voisin, seorang pilot dan pembuat pesawat, dan memintanya untuk mengajari cara mengemudikan pesawat.

Bukti lisensi yang dikeluarkan French Aero-Club untuk Elise Raymond de Laroche. Foto: aerotime.aero

Hasratnya untuk menjadi seorang penerbang atau pilot andal muncul ketika ia menghadiri penerbangan demonstrasi Wright bersaudara di Paris pada tahun 1908. Karenanya, ia tak ragu untuk meminta Voisin mengajarinya menjadi pilot.

Pelatihan pertamanya menjadi pilot dimulai pada Oktober 1909, di Chalons, sekitar 140 kilometer sebelah timur Paris. Sayangnya, pesawat Voisin hanya bisa menampung satu orang. Alhasil, de la Roche hanya belajar kontrol penerbangan di darat tanpa menerbangkan pesawat.

Setelah dirasa menguasai teori, ia pun diizinkan terbang dan berhasil melakoni penerbangan pertamanya meski hanya sejauh 270 meter. Ia berhasil menerbangkan pesawat jauh sebelum pilot wanita yang digadang-gadang sebagai yang pertama di dunia, Amelia Earhart, yang baru mulai belajar terbang pada 3 Januari 1921.

Pesawat eksperimental yang diuji Elise Raymond de Laroche jatuh dan menewaskannya. Foto: aerotime.aero

Sampai di sini, sebetulnya ia sempat ditetapkan sebagai pilot wanita pertama di dunia. Meski masih banyak perdebatan, banyak yang percaya bahwa gelar pilot wanita pertama di dunia Therese Peltier, ketika dia melakukan penerbangan solo di Turin, Italia pada tahun 1908.

Terlepas dari hal itu, yang pasti, Raymonde de Laroche berhasil menjadi pilot wanita berlisensi resmi pertama di dunia setelah French Aero-Club secara resmi mengeluarkan lisensi pilot no. 36 untuknya.

Baca juga: Mengenal Yvonne Pope Sintes, Mantan Pramugari yang Jadi Pilot Maskapai Wanita Pertama Inggris

Pasca mendapatkan lisensi pilot resmi, de Laroche menghadiri banyak acara air show atau pertunjukan udara di seluruh dunia. Di Uni Soviet, ia bahkan sampai dipertemukan dengan Tsar Nicholas II, karena kemahirannya dalam menerbangkan pesawat. Ia juga sempat menghadiri pertunjukan udara di Reims, Perancis.

Perjalanan de Laroche sebagai pilot wanita pertama di dunia akhirnya terhenti pada 18 Juli 1919. Ketika itu, ia yang merasa cukup berbakat, ingin menjadi pilot uji untuk membantu produsen pesawat membuat produk-produk yang lebih baik. Sayangnya, pesawat eksperimental yang diuji tiba-tiba menukik dan jatuh. Dua pilot uji dinyatakan tewas, salah satunya de Laroche yang meninggal pada usia 36 tahun.