Jepang Buka Pusat Uji Covid-19 di Tiga Bandara untuk Pelancong dari Luar Negeri

Jepang menjadi salah satu negara yang akan mulai melonggarkan pembatasan perjalanannya. Hal ini dikatakan oleh Menteri Kesehatan Katsunobu Kato yang menyebutkan Negeri Sakura tersebut berencana untuk mendirikan pusat pengujian Covid-19 baru di tiga bandara utama di Tokyo, Osaka dan bagian tengah kota. Baca juga: Meski Beda Prosedur, Lufthansa dan Lion Air Hadirkan Layanan Rapid Test Covid-19 KabarPenumpang.com melansir dari laman japantimes.co.jp (2/7/2020), pusat uji Covid-19 ini akan dibangun di bandara Haneda Tokyo, Narita dekat ibukota dan Kansai di Osaka. Targetnya adalah para pelancong yang memasuki Jepang dari luar negeri. Adanya pusat uji Covid-19 di bandara ini untuk meningkatkan jumlah tes polimerase atau PCR yang dilakukan setiap hari menjadi lebih dari empat ribu. Otoritas kesehatan juga berharap kehadiran pusat uji Covid-19 di bandara juga untuk mengurangi pengujian virus menjadi beberapa jam menggunakan metode baru. Apalagi sekarang, stasiun karantina bandara melakukan sekitar seribu tes reaksi rantai polimerase (PCR) per hari, dengan hasil dikonfirmasi dalam sekitar satu atau dua hari. “(Pusat-pusat) mungkin akan dioperasikan oleh lembaga medis swasta dan perusahaan pengujian. Kami, sebagai kementerian kesehatan, akan sepenuhnya mendukung mereka,” kata Kato. Pusat pengujian yang berada di tengah dari dua kota besar ini diharapkan dapat memberikan pengujian bagi pelancong yang akan berangkat keluar negeri. Bahkan pemerintah juga tengah mempertimbangkan untuk menerbitkan sertifikat bagi pelancong yang hasil tesnya negatif. Untuk diketahui, sejak Februari, Jepang telah memperkuat pembatasan perjalanan bagi pengunjung yang datang. Hal ini sebagai bagian dari upaya pengendalian perbatasannya untuk mencegah penyebaran Covid-19. Pada Senin (29/5/2020), ada 18 negara lain termasuk Aljazair, Kuba dan Irak ditambahkan ke daftar larangan masuk Jepang, sehingga meningkatkan jumlah negara dan wilayah yang dilarang mengunjungi Jepang menjadi 129. Menurut data dari pemerintah, kini hanya 1.700 pelancong asing diperkirakan telah tiba di Jepang pada bulan Mei, yang paling sedikit untuk setiap bulan dalam catatan dan penurunan 99,9 persen dari tahun sebelumnya. Namun, Jepang saat ini sedang dalam pembicaraan dengan beberapa negara untuk saling memudahkan pembatasan perjalanan bagi para pebisnis dengan syarat mereka menyerahkan hasil tes negatif dan rencana perjalanan ke mana mereka berencana untuk pergi selama mereka tinggal. Baca juga: Emirates Jadi Maskapai Pertama Lakukan Rapid Test Corona ke Seluruh Penumpang Negara-negara itu termasuk Australia dan Thailand. Jepang juga dapat memulai pembicaraan dengan Taiwan dan Brunei pada awal bulan ini. Perjalanan dari Jepang ke Vietnam sebagian dilanjutkan akhir bulan lalu dengan penerbangan charter yang mengangkut sebagian besar pebisnis.

Tiba di Canberra dari Melbourne, Penumpang Seperti Kena Prank Karena Harus Karantina

Kaget dan seperti merasa di prank atau di jahili, mungkin ini yang dirasakan oleh para penumpang pesawat yang baru mendarat di QF2148 di Canberra dari Melbourne. Apalagi ini menjadi penerbangan terakhir yang tiba sebelum penguncian atau lockdown di Victoria berlaku. Baca juga: Melbourne Kembali Lockdown, Penumpang Kereta yang Tiba di Stasiun Central Sydney Kabur Saat Diperiksa Seorang penumpang yang baru tiba di Canberra menggambarkan salah satu situasi saat itu di mana seorang anak kecil yang bepergian tanpa pendamping diamankan oleh pejabat kesehatan ATC dan menangis. Kemudian penumpang lain ada yang menunggu untuk langsung kembali ke Melbourne dan tidak meninggalkan kedatangan karena tidak memiliki tempat tinggal untuk karantina di Canberra. “Aku hanya akan berada satu hari di sini,” kata penumpang tersebut. Penumpang ini bingung ketika berada di area pemeriksaan, petugas melarangnya pergi dari terminal lebih jauh dan saat ke toilet pun dia kembali ke area pengamanan. KabarPenumpang.com merangkum canberratimes.com.au (7/7/2020), diketahui ketika semua penumpang tiba di ujung gang pesawat mereka disambut petugas kesehatan ACT yang mengenakan pakaian alat pelindung diri lengkap. Kemudian penumpang dibawa ke kedatangan dan para petugas mulai memeriksa data-data mereka yang berangkat dari Victoria. Petugas juga bertanya rencana penumpang tinggal untuk karantina saat di Canberra. Beberapa penumpang mengaku ini adalah pertama kali mereka mendengar tentang karantina dan bertanya-tanya mengapa tidak diberitahukan sebelum mereka naik pesawat di Victoria. Beberapa penumpang ada yang diperbolehkan masuk ke ACT tetapi pergi ke tempat isolasi dengan taksi. Penumpang pesawat pun mengaku mereka diberitahu oleh petugas kesehatan ACT untuk duduk di kursi belakang taksi. Sedangkan penumpang lainnya kembali sesuai rencana tetapi banyak yang mengatakan mereka bergegas kembali lebih awal saat pembatasan perjalanan di luar Victoria diberlakukan pada hari Senin. Pengumuman karantina yang bisa dikatakan tiba-tiba ini membuat seorang nenek 63 tahun tidak senang dengan proses di kedatangan Canberra tersebut. “Itu tadi lelucon. Mereka mengada-ada saat mereka pergi,” ujar nenek yang tidak mau disebutkan namanya itu. Pihak Bandara Canberra mengatakan mereka memahami perubahan tersebut akan mengganggu bagi banyak orang di komunitas dan meminta maaf kepada siapa pun yang terganggu perjalanannya. Hal ini dilakukan mereka karena di Victoria perkembangan Covid-19 berkembang dengan cepat dan mengambil langkah-langkah untuk melindungi yang lainnya baik kesehatan maupun keselamatan ACT. Beberapa penumpang yang mencoba mencari tiket kembali mengatakan harga di pagi hari $149 dan setelah pengumuman penutupan pembatasan melonjak hingga $367. Penumpang bahkan menuduh Qantas menaikkan harga karena pembatasan ini. Kemudian hal ini dikatakan Qantas telah menjual tiket seharga $149 tetapi tiket penerbangan di hari Senin (6/7/2020) tidak ada. Qantas juga mengatakan bahwa itu tidak mengatur kontrol kesehatan di bandara. Untuk diketahui, saat penerbangan terakhir tersebut tiba di bandara Canberra, hanya ada satu penumpang yang dizinkan masuk dengan syarat ia langsung berkendara kembali ke Victoria. “Saya sudah membeli mobil di sini sehingga mereka memberi kami pembebasan,” kata Paul Clark. Baca juga: Kabar Sedih, Australia Tutup Akses Masuk Buat Wisatawan Hingga 2021 Dia langsung keluar dari terminal di Canberra untuk mengambil mobil dan kemudian membawanya pulang. Tapi dia kesal bahwa dia harus tinggal di karantina selama 14 hari. “Kami memahami bahwa perubahan ini akan mengganggu bagi banyak orang di komunitas kami dan kami meminta maaf kepada siapa pun yang rencana perjalanannya terganggu. Namun, situasi di Victoria telah berkembang dengan cepat dan kami harus mengambil langkah-langkah untuk melindungi kesehatan dan keselamatan komunitas ACT,” ujar pihak ACT Health.

PT KAI Minta Gubernur DKI Jakarta Hapus SIKM untuk KA Relasi dari Bandung

PT Kereta Api Indonesia (KAI) akan mulai mengoperasikan seluruh relasi perjalanan kereta api jarak jauh pada 10 Juli 2020 besok. Kereta yang akan beroperasi termasuk KA Argo Parahyangan dengan relasi Gambir – Bandung, KA Bima relasi Gambir – Malang dan Sembrani dari Gambir menuju ke Surabaya Pasar Turi. Baca juga: Suhu Tubuh Tinggi Saat Dicek Masuk Stasiun? PT KAI Siap Kembalikan Tiket Anda Didiek Hartantyo, Direktur Utama PT KAI mengatakan, pihaknya telah menyurati Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk menghapus Surat Izin Keluar Masuk (SIKM) yang menjadi salah satu syarat memasuki ibukota. Didiek mengatakan, surat tersebut dikirim ke Gubernur DKI Jakarta karena mereka diinstruksikan oleh Menteri Perhubungan untuk mengoperasikan kembali KA Parahyangan. “Kalau itu (KA Parahyangan) kami operasikan dengan SIKM bagaimana keadaannya? Akan sulit bagi kami. Di Stasiun banyak turun, tapi bagaimana kalau SIKM tidak diindahkan?” kata Didiek yang dikutip dari berbagai laman sumber. Apalagi lokasi stasiun berada di Jakarta dan mengharuskan penumpang yang menuju ke stasiun tersebut memiliki SIKM. Didiek mengatakan, mereka sebagai operator tetap berada di tengah-tengah peraturan. “Namun demikian terkait SIKM ini yang mengeluarkan peraturan Gubernur. Jadi kita beroperasi di Jakarta terkena peraturan Gubernur dan kami sangat ketat menetapkan aturan itu karena terkait dengan protokol penanganan Covid juga,” ujar Didiek. Dia menjelaskan, adanya SIKM ini mengharuskan pihak KAI menyeleksi penumpang dan bila tidak memilikinya maka terpaksa penumpang ditolak berangkat atau harus isolasi mandiri selama 14 hari. Didiek menjelaskan, bila pun di stasiun keberangkatan tidak diperiksa dan lolos, tetapi ketika tiba di Jakarta (Gambir) penumpang akan diperiksa dan kemungkinan isolasi mandiri 14 hari harus dilakukan penumpang. Saat ini Didiek berharap diberi keleluasaan bagi calon penumpang khususnya KA Argo Parahyangan untuk dibebaskan dari Syarat SIKM. Dia mengatakan, surat yang dikirimkan, mereka tembuskan kepada Menhub, BUMN dan Kepala Satuan Gugus Tugas Covid-19 Doni Monardo untuk keleluasaan Jakarta – Bandung. Baca juga: Beroperasi dengan Kapasitas Angkut 70 Persen, PT KAI Naikkan Tarif 30-40 Persen Untuk diketahui, SIKM sebagai salah satu syarat bepergian keluar-masuk DKI Jakarta dengan moda transportasi umum dinilai mampu mengontrol mobilitas warga daerah penyangga ke ibukota. Meski dalam pembuatannya masih banyak kekurangan. tetapi proses atau birokrasi yang cukup panjang untuk mendapat SIKM ini cukup menghambat masyarakat dari luar daerah menuju ke dalam ibukota. KabarPenumpang.com yang coba menghubungi pihak KAI terkait pencabutan SIKM karena beroperasinya sejumlah relasi kereta selain Bandung – Jakarta masih belum ada konfirmasi yang lebuh jelas.

Melbourne Kembali Lockdown, Penumpang Kereta yang Tiba di Stasiun Central Sydney Kabur Saat Diperiksa

Seorang penumpang pria yang tiba di Sydney (Negara Bagian New South Wales) dari Melbourne (Negara Bagian Victoria) dengan layanan kereta XPT mencoba melarikan diri dari pihak kepolisian dan keamanan stasiun. Pria ini kemudian diamankan polisi dan kemudian diperiksa suhunya sebelum memberikan data kesehatan miliknya kepada otoritas. Saat diamankan awalnya pria tersebut menolak pemeriksaan suhu tubuh. Baca juga: Kabar Sedih, Australia Tutup Akses Masuk Buat Wisatawan Hingga 2021 Namun setelah dipastikan dia tidak datang dari hotspot yang teridentifikasi pandemi Covid-19, maka diizinkan untuk pergi. Diketahui, semua penumpang yang tiba di stasiun harus diperiksa otoritas transportasi dan kesehatan untuk pemeriksaan suhu tubuh dan dokumen yang dibawa untuk dicatat karena perlu untuk beberapa hari mendatang. Dilansir KabarPenumpang.com dari 9news.com.au (7/7/2020), pria tersebut merupakan salah satu dari 75 penumpang lainnya yang tiba dengan kereta XPT di Stasiun Central. Mereka tiba sebelum pembatasan yang ketat diberlakukan untuk mengentikan penyebaran Covid-19. Bisa dikatakan, kereta XPT tersebut menjadi layanan terakhir sebelum pembatasan baru diberlakukan mulai 9 Juni 2020 dan berlangsung selama enam minggu di Melbourne serta dan Micthell Shire. Seorang penumpang yang tiba dengan layanan XPT terakhir itu mengatakan dirinya beruntung bisa kembali ke Sydney sebelum pembatasan baru diberlakukan. “Kami hanya beruntung karena kami tidak tahu bahwa mereka akan menutup perbatasan hari ini sehingga kami hanya beruntung bahwa kami membeli tiketnya kemarin,” katanya. Penumpang wanita itu mengaku bahwa dirinya terus menggunakan masker diseluruh perjalanan untuk menghindari kemungkinan tertular virus corona tersebut. “Aku sebenarnya sangat khawatir,” katanya. Diperkirakan setidaknya sebulan sebelum layanan dapat berjalan lagi karena penutupan perbatasan yang mengharuskan siapa pun yang memasuki NSW dari Victoria untuk mengajukan izin online sebelum mencoba memasuki negara bagian tersebut. Bahkan warga Victoria hanya akan dapat memasuki NSW karena alasan yang sangat terbatas, seperti mendapatkan perawatan medis atau memenuhi kewajiban hukum. Baca juga: Lockdown Serempak Bikin Travelers Hampir Mustahil Bepergian Lintas Benua Pembatasan baru diumumkan kemarin setelah lonjakan yang mengkhawatirkan dalam kasus Covid-19 baru di Victoria. Dalam pembatasan baru yang kembali diberlakukan ini, militer akan membantu polisi mengamankan puluhan jalan perbatasan, bahkan drone juga akan dikerahkan untuk misi pengawasan.

Heboh Pesan Berantai Lion dan Batik Air Tak Lakukan Physical Distancing, Kena Proxy War?

Belum lama ini, beredar pesan berantai berisi video Lion Air dan Batik Air mengangkut penuh penumpang tanpa adanya physical distancing. Dari hasil penelusuran singkat, redaksi KabarPenumpang.com menemukan setidaknya pesan serupa juga didapat oleh rekan media lainnya dan di waktu yang nyaris bersamaan, yakni malam hari, dari orang tak dikenal (OTK) melalui pesan instan WhatsApp. Baca juga: Analis Penerbangan Sebut Kosongkan Kursi Tengah di Pesawat Tak Masuk Akal! Dalam empat video berdurasi masing-masing lebih dari satu menit itu, nampak pesawat penuh sesak meskipun seluruhnya menggunakan APD, seperti masker dan beberapa penumpang menggunakan face shield. Dua video di antaranya bahkan sempat terjadi cekcok dengan petugas on board. Cekcok terjadi akibat penumpang mempertanyakan tidak adanya pengaturan physical distancing. Hal itu pun direspon oleh petugas dengan sedikit ‘represif’. Petugas menghimbau agar penumpang yang merasa tak nyaman dengan kondisi tersebut agar meninggalkan pesawat dan membicarakan lebih lanjut kepada staf darat. Pada akhirnya, cara tersebut berhasil meredam kegelisahan penumpang dan memilih tetap untuk berangkat dengan kondisi yang ada.
Menanggapi video viral melalui pesan berantai oleh OTK tersebut, Corporate Communications Strategic of Lion Air Group, Danang Mandala Prihantoro, tak menampik video tersebut melibatkan pihaknya. Danang menyebut, beberapa kejadian dalam video itu sudah terjadi sejak Maret-April lalu. “Ada beberapa video yang kejadiannya sudah lama (Maret-April),” jelasnya kepada KabarPenumpang.com melalui pesan singkat. Untuk diketahui, video viral Lion Group mengangkut penuh penumpang tanpa adanya physical distancing menjadi perbincangan hangat mengingat, sampai saat ini, pemerintah masih membatasi jumlah kapasitas maksimum di pesawat. Pun demikian, bila benar beberapa video tersebut terjadi pada April lalu, sejak di pertengahan bulan (16 April), pemerintah juga sudah mulai menerapkan aturan pembatasan kapasitas pesawat maksimum 50 persen melalui Permenhub 18 tahun 2020 yang mengatur agar setiap pesawat maksimal hanya mengangkut 50 persen dari kapasitas. Meski begitu, Danang menjelaskan, dalam penerbangan tertentu, Lion Group memang dimungkinkan untuk menerbangkan pesawat tanpa adanya physical distancing alias penuh sesak. “Dalam penerbangan tertentu kemungkinan jumlah tingkat keterisian penumpang (seat load factor) sesuai kapasitas pesawat udara yang dioperasikan, sehingga penerapan physical distancing pada kabin belum maksimal,” ujarnya. Tidak adanya physical distancing, meskipun pemerintah masih menerapkan batas maksimum 70 persen dari kapasitas pesawat, setidaknya terjadi karena enam hal. Mulai dari mengkomodir kebutuhan penumpang, pembelian tiket secara tiba-tiba, reschedule, transfer flight, group booking, hingga pembukuan pada periode pemesanan sebelumnya (terutama dari tamu atau penumpang yang telah membeli tiket jauh hari). Pengamat Kebijakan Publik, Agus Pambagio, menyebut, tidak diterapkannya physical distancing dalam penerbangan Lion Air terjadi akibat ketidakjelasan regulator, dalam hal ini Kementerian Perhubungan. Ketidakjelasan yang dimaksud adalah Surat Edaran (SE) Permenhub 41 tahun 2020. Baca juga: Lion Air Group: Pengaturan Jarak Aman di Kabin Disesuaikan dengan Tipe dan Kapasitas Pesawat “PM 41 itu PM Perhub rasa kesehatan. Jadi kalau dilanggar pantas karena PM-nya tidak jelas,” singkatnya kepada KabarPenumpang.com. Menurutnya, implementasi Permenhub 41 berupa SE hanya akan membuat keadaan makin keruh. Sebab, SE bukan merupakan produk hukum. Mengetahui SE bukan produk hukum, ia yang sempat merasakan langsung kondisi seperti itu, sampai tak bisa berbuat apa-apa dan memilih untuk mengganti pesawat ketimbang memprotes maskapai. Sebagai informasi, belakangan, Lion Group memang menjadi sorotan atas berbagai isu miring, seperti PHK massal hingga stop operasi. Kondisi tersebut nampaknya cukup wajar mengingat Lion Group adalah pemegang market share penumpang pesawat udara domestik terbesar di Indonesia.

80 Persen Toko F&B dan Outlet Ritel Kembali Dibuka di Bandara Changi

Singapura mulai masuk tahap atau fase kedua membuka kembali negaranya setelah melakukan pembatasan ketat bagi masyarakat. Hal ini pun diikuti Bandara Internasional Changi Singapura yang sudah membuka 80 persen toko makanan dan minuman atau F&B (Food and Beverage) dan outlet ritel. Baca juga: Sepi Penumpang, Singapura Bekukan Terminal 2 Bandara Changi Selama 18 Bulan Objek-objek wisata di Jewel Changi pun juga mulai kembali beroperasi sejak Jumat (3/7/2020) termasuk Canopy Park dan Changi Experience Studio. Meski dibuka kembali, Changi Airport Group (CAG) mengatakan, tetap menerapkan langkah-langkah kesehatan dan keamanan selama pandemi Covid-19. “Kami melakukan pembersihan yang ketat dengan desinfektan, menerapkan pembayaran tanpa uang cash atau kontak langsung pembeli dan penjual, makanan atau minuman yang dibeli pun harus di takeaway serta self pickup semuanya beroperasi,” ujar CAG. Dibukanya kembali toko-toko di Changi, ada beberapa yang memberikan promosi setelah penutupan terjadi. Salah satunya adalah Extravaganza Belanja Terserap GST dan uang kembali S$10 dengan pembelanjaan minimal S$80 dalam satu struk yang sama di hari yang sama. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman dfnionline.com (6/7/2020), di dalam toko pun ada diskon hoingga 50 persen dari merek-merek seperti OSIM dan Love Moschino. Selain itu pelancong juga bisa mendapat hadiah berlipat dengan poin Changi Rewards dan CapitaStar. Tak hanya itu, toko dan ritel juga memberikan opsi pengiriman dan drive-thru yang tersedia dari tempat makan populer seperti Jumbo Seafood dan kam’s Roast. Dengan memesan lima jenis F&B favorit di bandara Changi biaya pengirimannya pun tetap sebesar S$5. Baca juga: Sambut New Normal, Bandara Changi Kerahkan Robot Pembersih dan Toilet Tanpa Kontak Untuk pelancong yang memiliki kartu anggota Bandara Changi, bisa mendapat reward poin dalam setiap pemesanan. Diketahui, dari 10 Juni hingga 9 Agustus, para tamu dapat melakukan penjemputan di Drop-off Jewel Level 2, Pillar 6 untuk mengambil pesanan, dengan jam operasional dari jam 11 pagi sampai jam 9 malam setiap hari. Pesanan harus dilakukan setidaknya 1 jam sebelumnya dari waktu penjemputan.

Analis Penerbangan Sebut Kosongkan Kursi Tengah di Pesawat Tak Masuk Akal!

Perjalanan udara disinyalir menyumbang antara 2-3 persen dari emisi karbon dunia, tetapi persentase untuk itu setara dengan 4,5 miliar perjalanan penumpang, pergerakan 64 juta metrik ton kargo dan sepertiga dari perdagangan global dunia. Di samping itu, penerbangan juga menopang 65 juta pekerjaan. Baca juga: Pengamat Penerbangan: Kalau Sudah Pakai Masker Semua, Kenapa Harus Jaga Jarak? Namun, pandemi Covid-19 telah membuat industri penerbangan hancur berantakan. Hampir seluruh lini di industri penerbangan mengalami kesulitan keuangan dan berujung pada PHK karyawan. Menurut Cirium, setidaknya ada 18 ribu pesawat di-grounded di seluruh dunia. Data tersebut pun diperkuat oleh FlightRadar24.com yang mencatat bahwa lalu lintas udara total pada bulan April turun 62 persen dan lalu lintas penerbangan komersial turun 73,7 persen dibanding periode yang sama di 2019 . Pada April 2020, hari tersibuk di langit terjadi pada tanggal 28, dengan 80.714 penerbangan. Namun tetap saja jauh tertinggal bila dibandingkan dengan 17 April 2019 dengan 203.239 penerbangan. Akibat dari penurunan frekuensi penerbangan secara drastis, Asosiasi Transportasai Udara Internasional (IATA) memperkirakan maskapai dunia akan kehilangan profit loss sebesar $85 miliar atau Rp1.222 triliun (kurs 1 dollar = Rp14.300) pada tahun 2020. Angka tersebut bisa saja semakin membengkak mengingat industri penerbangan masih belum pulih seutuhnya karena wabah corona masih terus mengintai dan mendorong diterapkannya berbagai peraturan; salah satunya physical distancing. Kebijakan physical distancing dalam setiap perjalanan udara di seluruh dunia dari perspektif kesehatan memang cukup bagus. Kita tahu, salah satu model penularan virus corona terjadi melalui droplet atau percikan. Organisasi Kesahatan Dunia (WHO) berujar, droplet tidak terjadi ketika satu dengan yang lainnya menjaga jarak sosial sekitar enam kaki atau dua meter. Akan tetapi, dari segi bisnis, kebijakan physical distancing di pesawat (serta mungkin di moda transportasi lainnya) kurang begitu efektif. Analis penerbangan yang sudah 20 tahun lebih bersama Northwest dan Republic Airlines, Jay Ratliff, sebagaimana dilansir The Hill, menyebut kebijakan tersebut tak masuk akal. Ia memang tak mempermasalahkan temuan tidak adanya droplet antara dua orang yang berjarak dua meter. Tetapi, yang ia permasalahkan justru ketidakefektifan physical distancing di pesawat. Dalam pengamatannya, mengosongkan kursi tengah sebagai pengaplikasian physical distancing di pesawat hanya membuat airlines terus-menerus berada dalam keadaan terseok-seok sambil tetap tak menjalankan physical distancing dengan baik, dengan jarak tak lebih dari 80cm. Bila benar-benar ingin menjalankan dengan maksimal, dalam satu row, seharusnya maskapai hanya diperbolehkan untuk mengisi dua orang atau sama saja mengosongkan empat kursi tengah dan pinggir dengan hanya menyisakan masing-masing satu kursi di dekat jendela. Formasi tersebut sangat mungkin untuk menciptakan physical distancing sejauh dua meter. Tetapi harga mahal di balik itu adalah pesawat kapasitas semakin menciut. Bila dengan kapasitas maksimum 50-70 persen saja maskapai masih terseok-seok, apalagi di bawah itu? Di era New Normal seperti sekarang ini, perlahan tapi pasti, Jay Ratliff melihat banyak maskapai sudah mulai meninggalkan kebijakan mengosongkan kursi tengah. Pantuan redaksi KabarPenumpang.com, sejak Mei lalu, maskapai-maskapai di AS bahkan beberapa kali kedapatan membawa penumpang dalam kondisi penuh. Dalam catatannya, sebetulnya hal itu tidak masalah. Jay tidak sendirian. Belum lama ini, IATA juga menyerukan hal serupa; bahkan lebih. Menurut mereka, pemerintah negara-negara di dunia tidak menerapkan kebijakan karantina ke wisatawan yang datang. Baca juga: Covid-19 Ubah Enam Hal di Industri Penerbangan, Nomor 4 Bikin Geleng-geleng! Sebab, sebelum naik pesawat, mereka telah melewati serangkaian proses panjang untuk memastikan hanya penumpang sehat yang diizinkan bepergian dengan pesawat. Mulai dari kebijakan rapid test serta test PCR atau uji laboratorium kepada seluruh penumpang, memakai masker, mencuci tangan dengan air mengalir atau hand sanitizer, sarung tangan, face shield dan berbagai kebijakan lainnya. Bila sudah dipastikan hanya penumpang sehat yang naik, jadi, buat apa ada physical distancing? Pada akhirnya, keberlangsungan airlines tetap menjadi hal utama selain tetap memastikan hanya penumpang sehat yang ikut dalam penerbangan dengan sederet peraturan tersebut, tanpa harus menjaga jarak sosial di pesawat.

Waduh, Pilot Ryanair Operasikan Pesawat Sambil Mainin “Ayam-ayaman”

Profesi pilot umumnya identik dengan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tingkat tinggi, mengingat sedikit saja kesalahan bisa berakibat fatal. Namun, label seperti itu sepertinya sama sekali tak terlihat sedikit pun ketika melihat pilot Ryanair. Baca juga: Pertama di AS, Pilot Pengidap Diabetes Terbangkan Pesawat Komersial Belum lama ini, dua oknum pilot maskapai berbiaya murah asal Irandia tersebut menjadi sorotan akibat aksi tak terpujinya. Betapa tidak, alih-alih melakukan tugas-tugas mengoperasikan pesawat Boeing 737-800 dengan fokus dan khidmat, oknum tersebut justru menyisipkan sisi humornya di saat yang tepat. Laporan The Sun, sebagaimana dikutip nzherald.co.nz, dua oknum pilot tersebut kedapatan melakukan tindakan tak terpuji saat berusaha mendorong throttle dan menggantungkan manik-manik sebelum mulai lepas landas. “Oknum tersebut menggunakan ayam karet mainan untuk memindahkan instrumen sebelum lepas landas,” kata seorang sumber. “Ini sangat tidak profesional dan membuatku khawatir dengan apa lagi yang terjadi di kokpit. Ini adalah tindakan yang mengerikan untuk Ryanair,” tambahnya.
Manik-manik dan kertas turut menjadi ‘wadah’ hiburan pilot Ryanair. Foto: The Sun
Selain menggunakan ayam mainan untuk mendorong throttle, menggantungkan manik-manik, dan mengganjal throttle dengan kertas, oknum pilot Ryanair itu juga kedapatan berpose dengan mata juling dan lidah menjulur. Atas berbagai tindakan tersebut, juru bicara Ryanair menyebut pihaknya sudah mulai menyelidiki kasus ini. Mereka juga berjanji bahwa kejadian serupa tidak akan pernah terulang kembali di masa mendatang, sekalipun oknum tersebut melakukan tindakan tak profesional itu sebelum penerbangan dimulai atau selagi menunggu seluruh penumpang masuk ke dalam kabin. “Foto-foto ini dan video yang beredar terjadi saat mesin masih dalam keadaan mati dan pesawat masih berada di apron. Namun, foto-foto tersebut tetap tidak profesional. Meski demikian, tindakan seperti itu tetap tidak menimbulkan risiko besar serta gangguan keselamatan,” jelasnya. “Kami mendorong kru kami untuk menikmati pekerjaan mereka. Namun, kami berharap mereka tetap profesional setiap saat dan kami sedang menyelidiki masalah ini lebih lanjut,” ujarnya. Sebagai informasi, dalam menjalani tugas, pilot dibatasi dengan sejumlah peraturan, baik berupa kesehatan sebagai syarat sebelum terbang maupun berupa larangan mengoperasikan pesawat atau biasa dikenal sterile cockpit rule. Sterile cockpit rule merupakan aturan yang wajib ditaati pilot –termasuk oleh awak kabin- selama dalam penerbangan, mulai lepas landas sampai mendarat. Di bawah aturan tersebut, pilot memang tak bisa berbuat banyak kecuali fokus pada hal-hal berkenaan dengan operasional penerbangan. Baca juga: Sterile Cockpit Rule, Inilah Aturan yang Melarang Pilot dan Kopilot ‘Ngobrol’ Selama Penerbangan Pilot dan kopilot baru diizinkan melakukan hal-hal atau membawa sesuatu di luar operasional penerbangan, seperti menggunakan telepon seluler, memfoto panorama sekitar, main laptop, melihat pemandangan di daratan, ngobrol , dan kegiatan lainnya ketika pesawat berada di atas ketinggian 10 ribu kaki. Di bawah itu, mereka sama sekali tak bisa berbuat banyak. Namun perlu diingat, sekalipun pesawat sudah berada pada ketinggian di atas 10 ribu kaki, aturan makan dan minum di kokpit pada umumnya tetap tidak diperbolehkan seiring terjadinya masalah. Di akhir tahun lalu dan awal tahun ini, misalnya, insiden tumpahan kopi atau minuman lainnya telah menyebabkan kerusakan panel center pedestal dan pada akhirnya mempengaruhi kinerja pesawat.

Pertama Kalinya dalam Sejarah, Layanan Kereta di India Mampu ‘On Time’ 100 Persen

Tak hanya maskapai yang memiliki ketepatan waktu atau on time performance dalam penerbangan mereka. Ternyata kereta api juga memiliki hal yang sama dan biasanya ini untuk semua kereta baik jarak jauh, jarak dekat maupun kereta berkecepatan tinggi. Baca juga: Rajdhani Express Kembali Beroperasi, Indian Railways: Tidak Ada Selimut dan Makanan India, sebagai salah satu negara yang memiliki jaringan kereta api terbesar di dunia, kerap kali kereta yang diberangkatkan tidak tepat waktu alias mengalami keterlambatan sehingga membuatnya tiba tidak sesuai jadwal seharusnya. Namun untuk pertama kalinya dalam sejarah kereta api India, pada 1 Juli 2020 kemarin, sebanyak 201 layanan tiba di tempat tujuan dengan tepat waktu. KabarPenumpang.com melansir dari laman financialexpress.com (2/7/2020), operator kereta India yakni Indian Railways yang dipimpin oleh Piyush Goyal selaku Menteri Perkeretaapian India mencatatkan rekor terbaru tersebut. Menurut Indian Railways ini masuk dalam sejarah transpoter nasional mereka dengan 100 persen ketepatan waktu yang dicapai. Menurut perincian yang dibagikan oleh Indian Railways, dari 201 kereta tersebut tidak ada yang tertunda baik keberangkatan maupun jadwal tiba kereta di tujuan. Bahkan pada bulan Juni lalu, empat divisi Indian Railways termasuk divisi Delhi telah mendaftarkan 100 persen ketepatan waktu kereta khusus yang beroperasi selama pandemi Covid-19. Bahkan sebelum penuh 100 persen ketepatan waktu kereta, Indian Railways pernah mencatat 99,54 persen di 23 Juni 2020. Hal ini karena ada satu kereta yang tertunda. Tak hanya itu, ada juga laporan di mana 88 layanan kereta api khusus yang di Delhi berjalan tepat waktu. Sedangkan tiga divisi lainnya yakni Agra, Prayagraj dan Jhansi melaporkan 100 persen ketepatan waktu layanan kereta khusus. Pada 22 Juni 2020, pengangkut nasional ini mencatat tingkat ketepatan waktu 98 persen di seluruh jaringan. Selain itu, bulan lalu Indian Railways juga mencatat peningkatan besar dalam operasi kereta barang mereka. Kementerian Kereta Api India menyatakan pada 21 Juni 2020, kecepatan rata-rata kereta barang selama pandemi Covid-19 di jaringan Indian Railways hampir dua kali lipat dibandingkan kecepatan rata-rata kereta barang pada tahun lalu. Sesuai perincian yang dibagikan oleh Kementerian Kereta Api, selama Juni 2019, kecepatan rata-rata layanan kereta barang Indian Railways adalah 23 km per jam. Baca juga: Lima Fakta Unik Seputar Indian Railways – Namanya Tak Melulu Buruk Sedangkan pada 21 Juni 2020, kecepatan rata-rata layanan kereta barang adalah 42 km per jam. Untuk diketahui, kereta khusus yang digunakan selama masa pandemi Covid-19, Indian Railways telah memasang 15 pendingin udara spesial di seratus kereta khusus yang beroperasi melayani penumpang.

Syarat Rapid Test Covid-19 Gratis Ala Citilink, Begini Ketentuannya

Maskapai berbiaya murah (LCC), Citilink, memberikan layanan rapid test include tiket. Periode layanan rapid test gratis atau include tiket dengan biaya tambahan sebesar Rp280 ribu ini mulai berlaku sejak awal Juli lalu sampai dengan tanggal 7 Juli 2020. Baca juga: Meski Beda Prosedur, Lufthansa dan Lion Air Hadirkan Layanan Rapid Test Covid-19 “Pemberian layanan Rapid Test Covid-19 secara gratis dengan ketentuan penerbangan sebagai berikut: Pemesanan tiket pesawat Date of Issued (DOI) per tanggal 1 -7 Juli 2020. Jadwal penerbangan Date of Travel (DOT) per tanggal 2 – 31 Juli 2020,” bunyi keterangan syarat & ketentuan layanan gratis rapid test Covid-19, sebagaimana dikutip KabarPenumpang.com dari laman resmi perusahaan. Untuk diketahui, layanan rapid test gratis diberikan bagi penumpang yang melakukan pembelian tiket pesawat (fresh booking) melalui website dan mobile apps Citilink. Di luar itu, layanan rapid test gratis Citilink tidak berlaku. Di samping itu, layanan rapid test juga tidak berlaku apabila penumpang yang mendapatkan layanan rapid test Covid-19 secara gratis dan tidak menggunakannya (tidak melakukan klaim). Begitu juga dengan penumpang Citilink yang mendaftar pada layanan rapid test gratis di atas urutan ke 500, mereka tidak akan mendapatkan rapid test gratis dan tidak pula mendapatkan e-Ticket yang didalamnya terdapat unique number sebagai bukti klaim layanan. Bila ingin melakukan klaim layanan rapid rest Covid-19, penumpang dapat langsung mendatangi klinik yang dipilih sesuai dengan daftar mitra klinik Citilink dan klinik pintar (walk-in) dengan membawa serta bukti e-Ticket serta kartu identitas. Penumpang harus mengunjungi mitra klinik maksimal 12 jam sebelum jadwal keberangkatan. Nantinya, bila non-reaktif, sebagaimana Surat Edaran Gugus Tugas Covid-19, surat hasil rapid test hanya berlaku maksimal 14 x 24 jam. Sebaliknya, bila reaktif, petugas akan langsung membawa calon penumpang ke rumah sakit rujukan Covid-19. Citilink mungkin bukan yang pertama, sebelumnya, di Indonesia, Lion Air lebih dahulu mengaplikasikan layanan serupa. Bahkan, pemegang market share terbesar di Indonesia ini menawarkan dengan harga yang lebih kompetitif, yakni hanya Rp95 ribu dan sudah termasuk surat keterangan sesuai hasil yang berlaku selama 14 hari. Corporate Communications Strategic of Lion Air Group, Danang Mandala Prihantoro mengatakan, pelaksanaan rapid test ini terjalin atas kerja sama dengan Klinik Lion Air Medika. Layanan ini dimulai sejak 29 Juni 2020 dan pada tahap awal akan tersedia di empat lokasi yakni kantor pusat Lion Air Tower, kantor Lion Air Group, kantor pusat Lion Parcel dan kantor Lion Operator Center (LOC). Baca juga: Emirates Jadi Maskapai Pertama Lakukan Rapid Test Corona ke Seluruh Penumpang “Pada tahap selanjutanya akan dikembangkan dan dilaksanakan di kota-kota lain, baik di kantor penjualan atau bandara-bandara di wilayah Indonesia. Kehadiran layanan ini memberikan nilai lebih yakni praktis dan memudahkan penumpang dalam merencanakan perjalanan,” kata Danang yang dikutip dari siaran pers. Di Dunia, Lufthansa merupakan maskapai pertama yang menerapkan tiket include rapid test Covid-19, dengan dikenakan biaya tambahan sebesar €59 atau Rp951 ribu. Jadi, esensinya, penumpang tak benar-benar mendapatkan layanan tersebut (rapid test Covid-19) secara gratis.