Terlalu Sesumbar, Peluncuran Taksi Udara eVTOL Skai Bertenaga Hidrogen Akhirnya Molor

Taksi udara all-electric vertical takeoff and landing (eVTOL) besutan Skai awalnya sempat menggemparkan jagat persaingan eVTOL di dunia. Betapa tidak, saat berbagai start-up taksi udara mayoritas fokus mengembangkan produk bertenaga listrik, Skai justru melawan arus dengan melaunching desain taksi udara eVTOL bertenaga hidrogen. Baca juga: Skai – Moda eVTOL Multifungsi yang Punya Cost per Ride Setara Uber Penggunaan hidrogen pada moda transportasi memang dinilai brilian. Selain membuat taksi udara menjadi bebas emisi atau ramah lingkungan, energi yang dihasilkan juga besar dengan tingkat kepadatan jauh lebih baik dibanding baterai lithium. Dengan begitu, taksi udara Skai disebut akan sanggup melayani penerbangan jarak jauh serta pengisian bahan bakar singkat. Namun, mewujudkan taksi udara eVTOL bertenaga hidrogen dalam prosesnya tak semudah yang dibayangkan. Bahkan, bila perusahaan kala itu sesumbar produk mereka dapat segera terbang, sepekan setelah launching dan mendapat sertifikasi setahun setelahnya (tahun 2020), kini, mereka tengah kelimpungan. Dikutip dari newatlas.com, CEO Skai, Steve Hanvey, ketika ditanya soal teknologi tangki bahan bakar, ia pun tak mampu menjawabnya dengan tegas dan berdalih bahwa timnya sangat ahli di bidang tersebut. Itu baru teknologi tangki bahan bakar, belum komponen pendukung lainnya. Atas berbagai ketidakjelasan itu, tak heran bila taksi udara eVTOL bertenaga hidrogen besutan Skai, saat ini progresnya baru sampai tahap uji terbang awal. Jangankan membawa penumpang dan terbang sejauh empat jam, untuk penerbangan tanpa awak saja masih belum bisa bertahan lama.
Melihat realita yang ada, Harvey pun dengan rendah hati mengaku bahwa target pengoperasian untuk penerbangan tak berawak, dengan kapasitas empat penumpang dan satu pilot, serta menggunakan enam rotor atas, diundur jadi awal tahun 2021; tak menutup kemungkinan bakal lebih daripada itu. Namun, taksi udara Skai eVTOL bertenaga hidrogen tetap masih memiliki keunggulan dengan program hidorgennya plus teknologi rotor yang diklaim lebih tenang dibanding helikopter. Atas permasalahan yang dihadapi bersama anak perusahaan Alaka’i Technologies (Skai), ia pun teringat dengan nasihat dari mentornya, Igor Sikorsky, seorang perintis pembuatan helikopter dan pesawat bersayap keturunan Rusia-Amerika. “Igor Sikorsky pernah berkata kepada saya, ketika Anda melakukan proyek teknologi semacam ini, jangan mencoba untuk memprediksi masa depan , karena cenderung berubah,” ujar Harvey. Oleh karenanya, saat ini, ia dan tim hanya fokus untuk terus-menerus mengembangkan target demi target mereka, menerbangkan taksi udara eVTOL bertenaga hidrogen secepat mungkin. Tentu, untuk sampai pada level itu, mereka harus melewati serangkaian proses panjang, termasuk sertifikasi oleh regulator penerbangan sipil AS, FAA. Baca juga: Archer Kembangkan Taksi Udara eVTOL dengan Baling-baling ‘Tersembunyi’ Terkait sertifikasi oleh FAA, ia mengaku tak khawatir. Sebab, baik dirinya maupun tim Skai yang saat ini jumlahnya mencapai 70an orang, naik dari semula 40 orang, seluruhnya memiliki pengalaman dalam proses sertifikasi, baik sebagai administrator maupun kubu pemohon sertifikasi. “Saya sudah mensertifikasi pesawat sejak 1980. Program militer, helikopter, sayap tetap, kecil dan besar, seluruh tim kami membawa pengalaman dari bisnis kedirgantaraan di sekitar apa yang diperlukan untuk mendapatkan sertifikasi pesawat yang berhasil, dan apa yang diperlukan untuk mendukungnya,” tutupnya.

Kejar Target Produksi Pesawat Tanpa Emisi di 2035, Airbus Pertimbangkan Penggunaan Hidrogen

Raksasa dirgantara asal Eropa, Airbus, dikabarkan tengah menimbang-nimbang penggunaan hidrogen di masa mendatang. Maklum, perusahaan gabungan beberapa negara Eropa itu sudah sejak beberapa tahun lalu menyatakan komitmennya untuk membuat pesawat lebih hijau atau tanpa emisi pada 2035 mendatang. Baca juga: Lima Alternatif Pengganti Bahan Bakar Fosil Pesawat di Masa Depan, Nomor Dua Aneh! Inisiatif Airbus untuk menggunakan hidrogen sebagai sumber energi terbarukan pada 2035 nanti muncul setelah Komisi Eropa (UE) menerbitkan Hydrogen Strategy and Roadmap pada Rabu lalu. CEO Airbus, Guillaume Faury, menyebut pihaknya sangat antusias atas hal itu. Ia juga percaya, di masa mendatang hidrogen bisa menjadi salah satu solusi terbaik untuk mengembangkan penerbangan yang berkelanjutan. “Hidrogen adalah salah satu teknologi paling menjanjikan yang tersedia untuk membantu kami mencapai penerbangan tanpa emisi pada tahun 2035. Kami menyambut Hydrogen Strategy and Roadmap UE, yang memungkinkan kami memenuhi ambisi itu,” jelasnya. Dikutip dari euractiv.com, tenaga hidrogen pada pesawat memiliki beberapa keunggulan dibandingkan energi listrik, terutama rasio daya terhadap bobot total pesawat. Sebuah studi yang didukung oleh UE menyimpulkan, hidrogen, yang selama ini diragukan, justru dianggap memiliki potensi cukup besar untuk mewujudkan penerbangan bebas polusi atau dekarbonisasi. Meskipun demikian, belum lama ini, studi yang sama memperingatkan bahwa bila pilihan jatuh pada hidrogen (sebagai andalan pesawat tanpa emisi), biayanya akan sangat mahal, mengingat pesawat harus didesain ulang untuk membuat tangki bahan bakar yang lebih besar atau tetap dengan desain yang ada namun terbatas untuk operasional jarak pendek. Belum lagi teknologi lain yang harus menyesuaikan, pasti akan membuat biaya produksi membengkak. Sebelum wacana untuk mengandalkan hidrogen dalam mewujudkan proyek penerbangan tanpa emisi pada 2035 mencuat, ilmuan selama ini fokus pada lima energi dan hidrogen tak masuk di dalamnya. Lima itu adalah, listrik, tembakau, sampah, dan gula, nuklir, black bag waste, serta limbah kayu. Dengan diterbitkannya roadmap hidrogen oleh Komisi Eropa ini, sebetulnya bisa dibilang melengkapi sekaligus meluruskan beberapa langkah yang sudah diambil Airbus dan pemerintah Perancis. Pada pertengahan Juni lalu, Airbus bersama perusahaan dirgantara seperti Dassault Aviation, Thales, dan Safran telah mengucurkan dana masing-masing sebesar 200 juta euro. Begitu juga dengan pemerintah Perancis yang mengucurkan dana sebesar 1,5 miliar euro. Hasil pendanaan itu disebut akan digunakan untuk mengejar target realisasi pesawat netral karbon, A320, pada 2035 mendatang. Pilihan untuk itu ada dua pilihan, biofuel dan hidrogen. Tak hanya itu, pemerintah Perancis juga ingin melihat pesawat-pesawat Airbus sudah ditenagai oleh bahan bakar ramah lingkungan, baik itu listrik maupun hidrogen pada 2030. Pun demikian dengan helikopter yang ditargetkan lebih awal pada 2029. Baca juga: Perangi Polusi, Australia Selatan Manfaatkan Energi Terbarukan dari Hidrogen Sebelum wabah Covid-19 melanda dunia, Airbus sebetulnya telah memulai proyek energi terbarukan pada April lalu, dengan membuat prototipe jet bermesin listrik hybrid. Sayangnya, proyek yang digarap bersama Rolls-Royce itu akhirnya harus kandas sejenak tanpa ada kejelasan kapan akan dimulai kembali. Sebagai informasi, saat ini, perjalanan udara disinyalir menyumbang antara 2-3% dari emisi karbon dunia, tetapi persentase untuk itu setara dengan 4,5 miliar perjalanan penumpang, pergerakan 64 juta metrik ton kargo dan sepertiga dari perdagangan global dunia. Di samping itu, penerbangan juga menopang 65 juta pekerjaan.

Akhir 2022, Operasional Bandara Internasional Edmonton Pakai Tenaga Surya

Komitmen tinggi terhadap energi terbarukan, Bandara Internasional Edmonton (EIA) Selasa lalu mengumumkan akan memasang sekitar 340.000 panel surya atau memakan sekitar 627 hektar area bandara. Bila tak ada halangan berarti, akhir 2020 mendatang, bandara tersibuk kelima di Kanada ini akan mulai beroperasi dengan tenaga surya. Baca juga: Bandara Kempegowda Aplikasikan Panel Surya Guna Operasional Harian Dikutip dari edmontonjournal.com, proyek energi terbarukan raksasa Bandara Internasional Edmonton itu nantinya bakal menyuntik listrik sebesar 120 megawatt atau setara 28 ribu rumah. Selain itu, proyek yang melibatkan perusahaan energi terbarukan asal Eropa, Alpin Sun, ini juga akan membuka ratusan lapangan pekerjaan, baik pra ataupun pasca proyek selesai. “Salah satu prinsip inti kami mendedikasikan diri untuk program keberlanjutan. Dengan (kemitraan bersama) Airport City Solar dan Alpin Sun, kami menciptakan sesuatu yang seluruh dunia akan perhatikan,” kata Tom Ruth, Presiden dan CEO EIA. “Kami adalah bandara terbesar di Kanada berdasarkan luas lahan sehingga kami memiliki ruang untuk melakukan sesuatu yang sangat istimewa. Ini akan menciptakan lapangan kerja, menyediakan tenaga surya berkelanjutan untuk wilayah kami dan menunjukkan dedikasi kami untuk program energi terbarukan,” tambahnya. Saat ini, pihak EIA tengah menunggu izin pengerjaan dari otoritas setempat. Jika disetujui, pengerjaan konstruksi akan dimulai pada awal 2022 dan ladang panel surya akan selesai di akhir tahun. Proyek hijau atau energi terbarukan ini disebut mampu membuat langit lebih aman, dengan mereduksi pelepasan karbon dioksida ke langit hingga 106.000 ton. Sebaliknya, panel surya tetap menghasilkan energi besar mencapai 200.000 MWh per tahun. Mengingat panel surya ini akan menyokong konsumsi energi listrik untuk bandara dan Fortis Alberta, salah satu provider listrik ternama di Kanada, tata letak panel surya harus ditempatkan dengan matang agar distribusi energi efektif. Oleh karenanya, pihak penanggungjawab proyek merancang ladang panel surya dibagi menjadi dua bagian, satu ladang seluas 367 hektar dan ladang lainnya sebesar 259 hektar. Proyek ambisius Bandara Internasional Edmonton diperkirakan mampu mendatangkan $169 juta atau Rp2,4 triliun (kurs 14.440). Meski membangun ladang panel surya sebesar 300 ratusan lapangan football, Bandara Internasional Edmonton Kanada bukanlah yang pertama dalam hal ini. Sebelumnya, Bandara Internasional Dubai bekerja sama dengan Etihad Energy Services Company (Etihad ESCO), lebih dahulu melakukan inovasi serupa dengan membangun lebih dari 15.000 panel surya pada Juli tahun lalu. Proyek pemasangan sistem energi surya ini memiliki kapasitas 5MWp dan dapat menghasilkan lebih dari 7,48 juta kilowatt-jam energi setiap tahun untuk Dubai International Airport. Baca juga: Gaet Etihad ESCO, Bandara Internasional Dubai Pasang Panel Surya di Terminal 2 Diharapkan, pemasangan sistem energi surya ini dapat menghasilkan penghematan senilai AED3.3 juta atau yang berkisar Rp12,6 miliar. Dengan sistem energi surya yang baru, muatan Terminal 2 yang ada di Dubai International Airport akan berkurang sekitar 29 persen. Sistem ini juga akan mengurangi emisi CO2 sebesar 3.243mt per tahun. Bergeser ke Selatan, Bandara Internasional Kempegowda di Bengaluru, India juga telah memulai proyek energi terbarukan (energi surya) sejak November tahun lalu. Pengerjaan proyek pembangkit listrik tenaga surya berdaya 3,35MW ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan energi bandara yang kian meningkat setiap harinya. Adapun operator bandara bekerja sama dengan Sunshot Technologies dalam urusan instalasi pembangkit listrik ini.

Kabar Baik, Boeing Sudah Rampungkan 90 Persen Klaim Korban Kecelakaan Lion Air JT-610

Rakasasa dirgantara asal Amerika Serikat (AS), Boeing, menyebut pihaknya telah merampungkan klaim tuntutan kompensasi atas kecelakaan Boeing 737 Max yang dioperasikan Lion Air. Seperti yang sudah diketahui, pesawat dengan nomor penerbangan JT-610 jatuh di Tanjung Karawang, Jawa Barat pada 29 Oktober 2018 silam. Baca juga: Setelah Jalani Total Terbang 10 Jam, Proses Sertifikasi Ulang Boeing 737 MAX Dihentikan Bloomberg melaporkan, dari total 189 orang yang terlibat dalam penerbangan nahas itu, 171 di antaranya sudah selesai. Dari jumlah itu, lima di antaranya disebut hanya dibayar sebagian karena melibatkan banyak pihak atau bisa dibilang klaim diwakili oleh beberapa firma hukum. Namun demikian, baik terhadap lima perwakilan atau ahli waris tersebut ataupun sisanya, Boeing tak mengungkap dengan jelas berapa mahar yang dibayarkan. Namun, bila dirunut ke belakang, tak lama setelah kejadian, Boeing pernah berujar akan menggelontorkan dana sebesar $100 juta atau sekitar Rp1,4 triliun (kurs 14.337) untuk memberi santunan kepada keluarga korban. Bila benar demikian, maka, masing-masing keluarga korban bisa menerima setidaknya Rp1 miliar. Juru bicara Boeing, Peter Pedraza, menyebut capaian tersebut merupakan hasil dari kerja keras mereka dalam beberapa bulan terakhir. Meskipun dana yang digelontorkan tak diungkap, ia mengklaim bahwa pihaknya telah memberikan santunan atau kompensasi dengan adil. “Boeing telah bekerja keras untuk menyelesaikan kasus-kasus ini melalui proses mediasi. Kami senang telah membuat kemajuan yang signifikan dalam beberapa bulan terakhir guna menyelesaikan kasus-kasus yang dibawa oleh keluarga para korban dengan syarat bahwa kami yakin memberikan kompensasi yang adil bagi mereka,” jelasnya dalam sebuah email. Akan tetapi, klaim Boeing dalam menyelesaikan proses kompensasi kepada keluarga korban kecelakaan Boeing 737 Max yang dioperasikan Lion Air, ditentang oleh seorang pengacara, Sanjiv Singh. Menurut pengacara yang mewakili beberapa keluarga korban itu, Boeing masih belum benar-benar menyelesaikan kasus tersebut dengan baik. Bila tidak kunjung kelar, ia mengaku siap membawa sisa penyelesaian kasus ini ke meja hijau. “Masih ada beberapa kasus dengan kerugian luar biasa, termasuk anak-anak yatim yang kehilangan kedua orang tuanya. Masih harus dilihat apakah kita bisa membawa Boeing ke meja hukum untuk kasus-kasus ini,” tegasnya. Baca juga: Bingung dengan ‘Bahasa Teknis’ di Laporan Akhir KNKT Seputar JT-610? Ini Penjelasannya! Lion Air JT-610 yang jatuh di di Tanjung Karawang, Jawa Barat dikabarkan bermasalah pada sejumlah fitur. Pada Oktober tahun lalu, atau setahun lebih pasca kecelakaan terjadi, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah melaporkan terkait sejumlah penyebab jatuhnya pesawat Lion Air JT-610. Dimulai dari kerusakan pada indikator kecepatan dan ketinggian, masalah pada Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS), hingga kondisi di dalam kokpit yang dikabarkan super hectic pada detik-detik terakhir pesawat terhubung dengan menara pemantau atau ATC.

Airbus A320 Qingdao Airlines Dilengkapi Sistem Internet Satelit Berkecepatan Tinggi 100 Mbps

Maskapai dunia mulai meningkatkan pelayanan dalam penerbangan mereka dengan salah satunya adalah akses internet. Sepeeti Cina yang baru-baru ini berhasil menyelesaikan penerbangan perdana dengan pesawat yang dilengkapi dengan sistem internet satelit berkecepatan tinggi buatan dalam negeri pada Selasa (7/7/2020) kemarin. Baca juga: Sering Bepergian Naik Pesawat, Pasti Tahu Aplikasi Pembobol WiFi Bandara Ini, Kan? Pesawat pertama yang dilengkapi sistem ini adalah Airbus A320 milik maskapai Qingdao Airlines QW9771. Pesawat tersebut lepas landas dari bandara internasional Qingdao Liuting pukul 16.46 waktu setempat dan tiba di Bandara Internasional Chengdu Shuangliu pukul 19.21 waktu setempat. KabarPenumpang.com melansir dari laman businesstoday.in (8/7/2020), penerbangan yang mengangkut pejabat pemerintahan, kontraktor dan perwakilan dari perusahaan yang terlibat dalam program ini bisa mengakses layanan internet lebih tinggi dari 100 Mbps pada ketinggian 10 ribu meter. Tak hanya itu, maskapai ini melakukan siaran langsung selama penerbangan dan menandai siaran langsung pertama dalam sejarah penerbangan sipil Cina. Sistem satelit didasarkan pada XstreamSAT, yang dibangun menggunakan satelit throughput (HTS) pertama dan satu-satunya milik Cina di frekuensi band, Zhongxing 16. Sedangkan pada pesawat lainnya internet didukung oleh satelit Ku band dengan kecepatan koneksi jauh lebih lambat. Analis industri mengatakan suatu ekosistem dapat dikembangkan berdasarkan pada internet dalam penerbangan berkecepatan tinggi, dan dapat mencakup e-commerce, ritel baru dan layanan hiburan. Itu dapat membantu membentuk kembali industri penerbangan sipil Cina pada periode pasca-virus. Sumber daya HTS disediakan oleh China Satellite Communication Company. Selain sektor penerbangan, perusahaan juga dapat menyediakan layanan internet berbasis satelit di bidang lain seperti energi, navigasi, dan tanggap darurat. Menurut sebuah pernyataan oleh Qingdao Airlines, modifikasi pada pesawat dimulai pada bulan November, dan penerbangan uji pertama dilakukan pada bulan Januari, sedangkan sertifikasi dan pengujian pesawat dilakukan dari bulan Desember hingga Juni. ChinaSat 16, satelit komunikasi pertama di Cina yang menggunakan teknologi broadband Ka-band, dikembangkan oleh China Academy of Space Technology berdasarkan platform satelit komunikasi DFH-3B. Satelit ini telah mengorbit Bumi hampir 40 ribu km di atas tanah sejak diluncurkan ke luar angkasa di atas roket pembawa Long March 3B dari Pusat Peluncuran Satelit Xichang di provinsi Sichuan pada April 2017. Pesawat ruang angkasa itu telah dijuluki oleh otoritas ruang angkasa sebagai satelit komunikasi paling canggih di Cina sebelum Shijian 20, yang diluncurkan ke luar angkasa Desember lalu. Baca juga: Citra Satelit NASA Temukan Polusi di Cina Berkurang Drastis, Akibat Sepinya Penerbangan? Dengan berat 4,6 metrik ton, satelit ini diharapkan beroperasi dalam orbit geostasioner selama 15 tahun. Ini fitur sistem komunikasi broadband Ka-band yang mampu mentransmisikan 20 gigabit data per detik, melebihi kapasitas total semua satelit komunikasi sebelumnya di negara itu. Ini telah melakukan percobaan pertama di dunia pada komunikasi laser orbit tinggi, teknologi penting untuk memungkinkan pesawat ruang angkasa untuk mengirim, menerima dan mengirimkan sejumlah besar data dengan stasiun darat

Ulang Tahun Ke-50, Korean Air Hadirkan Seragam Vintage Awak Kabin dari Masa ke Masa

Kembali ke masa lalu atau mengubah suasana menjadi retro bukanlah hal baru yang dilakukan sebuah maskapai. Biasanya maskapai melakukan hal ini untuk mengenang kejayaan di kala itu dan yang diubah tak hanya logo livery tetapi seragam awak kabin mereka. Seperti Korean Air yang merayakan ulang tahun ke 50 dengan tampilan vintage pada 2019 lalu. Baca juga: Garuda Indonesia Canangkan “Vintage Flight Experience” di Rute Amsterdam dan Tokyo Diperayaan ini, maskapai Korea tersebut mengadirkan sebelas koleksi seragam vintage yang berbeda selama bertahun-tahun. Awak kabin yang menggunakannya adalah kader khusus yang dikenal sebagai “Tim Seragam Sejarah”. KabarPenumpang.com merangkum dari laman paddleyourownkanoo.com, ternyata tim khusus ini mengenakan seragam bersejarah sebagai pakaian kerja mereka yang biasa. Bahkan mereka biasanya hanya dipanggil untuk acara-acara khsusus saja. Meski begitu dalam ulang tahun ke 50 Korean Air pada Oktober 2019 kemarin, mereka tetap bekerja dalam penerbangan dengan tampilan retro. Bahkan maskapai memiliki rencana untuk meningkatkan jumlah penerbangan khusus untuk waktu yang singkat. Pada waktu perayaan ulang tahun ke-50 tersebut, Korean Air menyiapkan jadwal penerbangan awak kabin dengan seragam vintage ini ke beberapa rute seperti Los Angeles, Tokyo, Beijing, Singapura, Paris dan Sydney. Saat itu mereka juga mengadakan peragaan busana di penerbangan terbaru mereka. Ini mengingatkan kepada Catwalk on the sky yang dilakukan maskapai Belanda yakni KLM pada penerbangan mereka dari Amsterdam dan New York. Meski begitu, ada perbedaan dalam peragaan busana tersebut di mana, KLM memiliki seragam yang sudah dikenakan 100 tahun lalu untuk di pamerkan. Sayangnya bagi KLM ini hanya dilakukan sekali saja dan bukan sesuatu yang akan dialami banyak penumpang. Korean Air sendiri berdiri sejak 1969 dan berkembang dari delapan pesawat menjadi 200 armada yang sudah terbang ke seluruh dunia. Selain Korean Air, Garuda Indonesia juga menghadirkan logo livery dan seragam vintage pada awak kabin mereka. Kehadiran ini membuat sebuah tajuk “Garuda Indonesia Vintage Flight Experience” yang dihadirkan pada 7-17 Desember 2018 lalu dalam penerbangan domestik ke Balikpapan dan Surabaya serta penerbangan Internasional tujuan Singapura. Adanya Garuda Indonesia Vintage Flight Experience membuat penumpang merasa nuasan dalam penerbangan di era 1970 dan 1980an. Baca juga: “Garuda Indonesia Vintage Flight Experience” Resmi Diluncurkan, Inilah Paras Ayu Pramugari dengan Seragam Klasik Seragam vintage awak kabin Garuda Indonesia sendiri dirancang oleh desainer Jepang terkenal Hanae Mori. Selain itu atribut klasik diterjemahkan melalui pengoperasian armada Boeing 737-800 NG yang menggunakan classic livery.

Diserang Hujan Es, Hidung Pesawat Airbus A319 Delta Airlines Berubah Jadi Pesek

Pesawat Airbus A319 yang dioperasikan Delta Airlines belum lama ini dikabarkan mendarat darurat. Hal itu dikarenakan pesawat dengan nomor penerbangan 1076 itu mendapat serangan badai yang membawa serta es (hujan es) secara tiba-tiba. Baca juga: Dilanda Hujan Badai, Pesawat British Airways Alami Kebocoran di Ruang Kabin! Padahal, beberapa waktu sebelum insiden itu terjadi, radar cuaca menunjukkan awan di sekitar pesawat dan airways Delta 1076 cukup bersahabat. Washington Post melaporkan, kronologi insiden Delta Airlines itu bermula saat pesawat lepas landas dari Bandara Internasional Palm Beach, Florida, Amerika Serikat (AS) pada pukul 4.03 sore. Pesawat dijadwalkan tiba di Bandara LaGuardia New York pada pukul 6.31 malam. Dalam perjalanan, sebetulnya, radar cuaca telah mendeteksi adanya badai di sekitaran New Jersey yang notabene bertetangga dengan Kota New York. Badai di sekitaran langit New Jersey itu berada di ketinggian 40 ribu kaki dan membentuk seperti sebuah garis panjang yang terputus di tengahnya. Di bagian tengah itulah pesawat Delta melintas. Pada pukul 6 sore lebih sedikit, cuaca secara drastis berubah. Dari semula radar memprediksi A319 Delta Airlines hanya akan menghadapi hujan dan petir dengan internsitas ringan, mendadak mendapat terjangan angin kencang dengan kecepatan 59 mph disertai hujan es sebesar 1,-1,5 inci, lebih dari cukup untuk merusak pesawat. Terjangan angin dari badai Pulse itu awalnya memang berada di langit Kota New York, sebelum akhirnya minggat ke langit Atlantik bagian tengah. Beberapa saat berselang pasca melewati badai, pesawat Delta Airlines sedang berada di ketinggian sekitar 20-21 ribu kaki dan tengah melaju di kecepatan 415 mph melaporkan adanya kerusakan pada nose radome (moncong pesawat), radome seal, flight navigation system, serta airborne weather radar. Lebih lanjut, juru bicara Delta Airlines mengungkap, badai disertai hujan es tambahan dalam perjalanan menuju Bandara Internasional John F. Kennedy (JFK) -untuk melakukan pendaratan darurat- juga telah merusakan komponen lainnya di sepanjang sayap dan ekor. Baca juga: Pernah Dengar “Rain Gutter” di Pesawat? Jika Belum Simak di Sini Pasca insiden tersebut, ia pun memastikan bahwa pesawat akan digrounded dalam beberapa pekan ke depan untuk menjalani reparasi. Meski tak ada korban jiwa maupun luka –karena pesawat mendarat dengan mulus- Administrasi Penerbangan Federal AS (FAA) dikabarkan telah melakukan penyelidikan. Sebetulnya, sebelum mendapat izin produksi, pesawat lebih dahulu melewati serangkaian tes, termasuk test crash, seperti menabrak burung, serta tersambar petir. Dalam model pengetesan di fasilitas test crash, pesawat bisa melalui itu dengan baik. Namun, tidak demikian ketika hujan es sebesar 1-1,5 inci menyerang. Lagi pula, terjangan hujan es disebut sulit ditiru saat pesawat diuji.

“Workcation,” Pilihan Para Pekerja di Jepang Selama Pandemi

Selama masa pandemi ini cara bekerja orang-orang di seluruh negara berubah yang tadinya ke kantor menjadi bekerja dari rumah. Ini demi mengurangi penyebaran Covid-19 di kantor atau tempat kerja lainnya. Namun ternyata selain bekerja di rumah salah satu kata kunci yang menonjol dan tengah berkembang adalah workcation. Baca juga: Dorong Wisata Pasca Covid-19 , Museum Kereta di York Rilis Poster Bergaya Vintage Workcation adalah gagasan perjalanan seperti ke suatu tujuan wisata yang menggabungkan unsur-unsur pekerjaan dan liburan. Konsep ini pertama kali digunakan oleh perusahaan-perusahaan informasi teknologi di Amerika Serikat pada awal 2000-an. Kemudian secara bertahap membuat Jepang melirik hal ini, apalagi permintaan bekerja jarak jauh menigkat dan memaksa pekerja untuk bekerja secara online. Bahkan pemerintah daerah di seluruh Jepang mencari tempat kerja yang bisa dikunjungi untuk liburan. KabarPenumpang.com merangkum nippon.com (2/7/2020), Pada Mei 2020, Pemerintah Prefektur Mie telah menginstal internet berkecepatan tinggi untuk mendukung infrastruktur lain di kawasn wisata seperti Taman Nasional Ise Shima sebagai lokasi tujuan workcation. Rencana workcation di Prefektur Mie tersedia untuk perusahaan di daerah perkotaan terdekat, mulai musim gugur ini dan prefektur akan memperluas ketersediaan tersebut bagi sekitaran Osaka dan Aichi dengan tujuan mencapai 100 pemesanan setiap tahun. Wayakama yang juga menjadi salah satu prefektur pertama yang mempromosikan dirinya sebagai tujuan workcation ternyata ikut memperluas infrastruktur kerja jarak jauh di daerah seperti Shirahama yang merupakan kota resor indah di pantai selatan Semenanjung Kii. Nyatanya Shirahama sendiri sudah mendapatkan perhatian sebagai hub workcation sebelum Covid-19 di mana tahun 2019, sebanyak tiga perusahaan termasuk NTT Communication telah mengontrak untuk menggunakan fasilitas kerja jarak jauh yang dijalankan oleh pengembang properti Mitsubishi Estate sebagai kantor satelit. Dengan pandemi yang diperkirakan akan terus berlanjut di masa mendatang, permintaan akan ruang kantor teleworking di Shirahama akan tumbuh lebih jauh. Sebelum pandemi Covid-19, perminataan untuk workcation sendiri hanya 18,4 persen pada Januari 2020 dan meningkat menjadi 39,1 persen. Adanya ini pada waktunya akan memberi para pekerja lokal lebih banyak pilihan sehingga mudah untuk mendapat tujuan yang sesuai dengan tuntutan profesi dan minat pribadi mereka. Workcation sendiri memangkas struktur kantor Jepang yang kaku di mana sebagian perusahaan menekankan kolaborasi dan kerja tim sebagai prioritas utama dalam efisiensi bisnis mereka. Sebab perusahaan biasanya mengadopsi format kantor terbuka, memungkinkan untuk kemudahan interaksi antara karyawan dan manajer sebelum Covid-19. Saat ini, pemerintah telah meminta negara untuk menghindari ruang tertutup, keramaian dan kontak dekat. Tak hanya itu, setelah perusahaan beralih ke pekerjaan jarak jauh, mereka menemukan karyawan mencapai tingkat komunikasi yang sama meski dari rumah dan memastikan akan tetap menjadi pilihan menarik bagi banyak perusahaan dunia pasca Covid-19. Penelitian dari Amerika Serikat dan negara-negara lain menunjukkan bahwa pekerja berkinerja lebih baik dan lebih kreatif ketika mereka menemukan lingkungan kerja yang memuaskan. Di Jepang, Hitachi telah menemukan hasil yang serupa ketika melakukan survei telepon terhadap staf di call center perusahaan. Dengan membandingkan tingkat kepuasan staf dengan jumlah pesanan yang mereka ambil, para peneliti menemukan bahwa karyawan paling produktif yaitu, menerima lebih banyak pesanan ketika mereka merasa nyaman di lingkungan kerja mereka. Temuan ini dapat memberikan kunci untuk menyelesaikan teka-teki produktivitas Jepang yang mana sejak 1994, negara ini memiliki produktivitas tenaga kerja kerah putih per jam terendah di antara negara-negara G7. Namun, perusahaan yang memberikan konsep seperti workcations mencoba menyadari bahwa karyawan, bahkan ketika mereka berada di resor wisata di beberapa bagian Jepang yang jauh, menempatkan lebih banyak ke dalam pekerjaan mereka jika mereka disajikan dengan lingkungan kerja yang memuaskan daripada menjadi dirantai ke meja. Sayangnya, workcations bukan satu-satunya cara untuk mencapai hasil seperti itu, dan di dunia pasca Covid-19 mungkin melihat kantor dilengkapi dengan fasilitas olahraga dan rekreasi, bioskop, atau fasilitas budaya. Namun untuk saat ini, tren yang berlaku adalah ke arah pekerjaan jarak jauh. Baca juga: Video Pramugari Bekerja dari Rumah Viral dan Banyak Dikomentari Untuk diketahui, Covid-19 telah memaksa Jepang untuk mulai melepaskan diri dari ketergantungannya pada tenaga kerja di kantor dan menerima pekerjaan rumah. Pemerintah Jepang berharap bahwa dengan mengadopsi inisiatif yang berfokus pada pekerja yang bertujuan untuk meningkatkan kepuasan karyawan, perusahaan dapat mengubah diri mereka sendiri dan mencapai dorongan produktivitas yang sangat dibutuhkan.

Rapid Test Murah Lion Air Group Diisukan Pakai Cara ‘Nakal’, Sebetulnya Berapa Harga Alat Rapid Test?

Belum lama ini, Lion Air Group, banyak dibicarakan di jejaring media sosial terkait layanan akal-akalan rapid test corona atau Covid-19 murah. Akalan-akalan yang dimaksud, maskapai pemegang market share penumpang udara terbesar di Indonesia ini sama sekali tidak melakukan pengecekan dan pengambilan darah. Hal itu pun sudah dibantah oleh perusahaan. Baca juga: Heboh Pesan Berantai Lion dan Batik Air Tak Lakukan Physical Distancing, Kena Proxy War? Seperti diketahui, maskapai besutan Rusdi Kirana itu sejak Senin, 29 Juni 2020 lalu mulai melayani rapid test Covid-19 kepada penumpang sebagai salah satu persyaratan menikmati layanan transportasi udara. Selain memudahkan penumpang, layanan rapid test ala Lion Air Group juga tergolong murah, hanya sebesar Rp95.000 dengan masa berlaku selama 14 hari. Padahal, harga asli alat rapid test disebut berkisar ratusan ribu. Menurut sumber KabarPenumpang.com, alat rapid test Covid-19 yang kebanyakan beredar di Indonesia berasal dari Cina. Lain dari itu, alat rapid test Covid-19 juga berasal dari banyak negara, mulai dari Eropa, Korea, hingga Amerika Serikat (AS). Meskipun berbeda-beda, namun, harganya berkisar Rp150 – 200 ribu. Di sejumlah marketplace, bahkan harganya jauh di atas itu. Harga tersebut pun baru harga asli alat rapid test Covid-19nya saja, belum termasuk harga layanan, mengingat, petugas yang terlibat dalam layanan tersebut harus dibekali dengan Alat Pelindung Diri (APD), berupa hazmat, hand sanitizer, masker, face shield, dan sepatu boots. Face shield dan sepatu boots mungkin bisa saja dipakai berulang-ulang, namun tidak demikian dengan hazmat dan masker yang hanya bisa sekali pakai. Tentu, bila itu dimasukan ke dalam paket layanan, seharusnya harga layanan rapid test Covid-19 yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta tarifnya bisa lebih di atas harga alat rapid test itu sendiri. Meskipun demikian, perbedaan harga tarif layanan rapid test Covid-19 belakangan sudah bisa diseragamkan oleh pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kesehatan. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dalam Surat Edaran Kementerian Kesehatan RI nomor HK.02.02/I/2875/2020 mengatur tarif maksimal layanan rapid test mandiri Rp150.000. Hal ini disebut untuk mempermudah masyarakat yang membutuhkan. “Harga yang bervariasi untuk pemeriksaan rapid test menimbulkan kebingungan di masyarakat. Untuk itu diperlukan peran serta pemerintah dalam masalah pemeriksaan rapid test antibodi agar masyarakat tidak merasa dimanfaatkan untuk mencari keuntungan,” bunyi surat edaran tersebut. Hanya saja, karena berupa SE atau surat edaran, hal ini tentu menjadi masalah baru, mengingat, dalam perspektif hukum, peraturan dengan dasar SE tidak berkekuatan hukum tetap. Oleh karenanya, bila pun SE tersebut diberlakukan, besar kemungkinan pihak swasta yang menyediakan layanan rapid test Covid-19 masih mengikuti tarif semula, tidak mengikuti anjuran yang dikeluarkan Kemenkes. Baca juga: Meski Beda Prosedur, Lufthansa dan Lion Air Hadirkan Layanan Rapid Test Covid-19 Terkait SE, polemik juga pernah terjadi di sektor layanan udara setelah terjadinya pelanggaran oleh Lion Air Group atas kebijakan masksimum 70 persen penumpang dari kapasitas kursi. Pengamat Kebijakan Publik, Agus Pambagio, menyebut, tidak diterapkannya physical distancing dalam penerbangan Lion Air Group terjadi akibat ketidakjelasan regulator, dalam hal ini Kementerian Perhubungan. Ketidakjelasan yang dimaksud adalah Surat Edaran (SE) Permenhub 41 tahun 2020. “PM 41 itu PM Perhub rasa kesehatan. Jadi kalau dilanggar pantas karena PM-nya tidak jelas,” singkatnya kepada KabarPenumpang.com. Menurutnya, implementasi Permenhub 41 berupa SE hanya akan membuat keadaan makin keruh. Sebab, SE bukan merupakan produk hukum. Mengetahui SE bukan produk hukum, ia yang sempat merasakan langsung kondisi seperti itu, sampai tak bisa berbuat apa-apa dan memilih untuk mengganti pesawat ketimbang memprotes maskapai.

Tak Ingin Ratapi Nasib, Hi Fly Ubah Airbus A380 Jadi ‘Varian’ Kargo Pertama di Dunia

Ketika mayoritas maskapai di dunia meng-grounded pesawat Airbus A380 akibat frekuensi penerbangan anjlok ke titik nadir, Hi Fly justru melawan arus. Alih-alih meng-grounded sambil gigit jari, menunggu kembalinya iklim industri penerbangan sebagaimana mestinya, maskapai penerbangan carter asal Portugal itu malah menjadikan pesawat komersial terbesar di dunia itu sebagai angkutan kargo pertama di dunia. Baca juga: Nasib Malang Airbus A380, Tak Dilirik Jadi Angkutan Kargo Gegara Empat Alasan Ini Keputusan Hi Fly tersebut sempat mengagetkan banyak pihak. Setidaknya ada dua hal yang melatarbelakanginya. Pertama, terkait dengan kemampuan. Dari segi kemampuan, utamanya soal dimensi, A380 mungkin sangat menarik untuk mengangkut 800 penumpang sekaligus dalam sekali jalan. Sayangnya, itu tak berlaku bila A380 dikonfigurasi ulang jadi varian angkutan kargo. Menurut banyak ahli, ada empat alasan utama mengapa Airbus A380 tak cocok menjadi angkutan kargo. Mulai dari maslaah efektivitas, fleksibilitas, dimensi, dan bobot pesawat. Dengan empat alasan tersebut, mengkonfigurasi ulang A380 menjadi angkutan kargo dinilai minim peluang, bila tidak ingin disebut ‘bunuh diri’ andai memaksakan diri melakukannya. Alasan kedua, Lufthansa Technik, sebagaimana dilaporkan Simple Flying, dua bulan lalu, memang sempat menyatakan dukungan kepada seluruh maskapai yang ingin tetap terus memanfaatkan A380 dengan menjadikannya sebagai angkutan kargo. Dari beberapa pihak yang mendaftar, Hi Fly sama sekali tak masuk radar. Meski demikian, faktanya, saat ini, Airbus A380 bekas purna tugas Singapore Airlines milik Hi Fly tersebut sudah benar-benar beralih fungsi, dari semula membawa penumpang menjadi mengangkut muatan kargo sampai ke dek teratas. Namun, tak semua kursi dilepas. Lagi pula, dek teratas kapasitasnya cukup terbatas. Jadi, space yang ada, besar kemungkinan tak mampu dimaksimalkan maskapai dengan baik. Di dek teratas, Hi Fly masih menyisakan sekitar tiga kursi, di belakang, tengah, dan depan. Demikian juga dengan lantai berikutnya. Di lantai kedua atau dek utama, sekitar 2/3 bagian kursi dilepas dan difungsikan sebagai kargo dengan hanya menyisakan kursi business class dan first class. Harga mahal dari itu, dek utama dinilai mampu mengakut sekitar 164,56 meter kubik kargo, dengan rincian 16,25 di overhead cabin dan 148,32 lainnya di lantai. Sedangkan untuk dek paling bawah, Airbus A380 mampu memuat total 133,3 meter kubik kargo, dengan rincian 77 di kompartemen depan, 42 di kompartemen belakang, dan 14,3 di bulk compartement. Baca juga: Isi Rute Kosong, HiFly Tertarik Operasikan Lebih Banyak Airbus A380 Sebetulnya, sebelum benar-benar mulai menjalin kemitraan dengan Lufthansa Technik, mengkonfigurasi ulang A380 menjadi angkutan kargo, Hi Fly dikabarkan sempat mendapat beberapa tawaran kerjasama berupa penerbangan charter dengan skema sewa basah atau wet lease. Namun, perusahaan pada akhirnya tetap memilih mengikuti tantangan zaman, menjadikan pesawat A380 sebagai angkutan kargo, yang saat ini tengah melejit akibat pengiriman APD dan masker dari dan ke berbagai diunia sebagai ‘senjata’ dalam perang melawan pandemi Covid-19.