Industri penerbangan luluh lantak diterjang wabah Covid-19. Jutaan pekerja di sektor tersebut merana akibat gelombang PHK. Hal itu (PHK) mungkin bukan yang terbaik bagi mereka, namun, bila tidak dilakukan, akan ada lebih banyak gelombang PHK bersamaan dengan bangkrutnya perusahaan.
Baca juga: Awak Kabin American Airlines Meninggal di Pesawat, Gegara Corona?
Bagi yang tidak terkena PHK, khususnya pramugari, bukan berarti mereka bekerja dengan nyaman dan sejahtera. Sebagai contoh, belum lama ini, enam pramugari dari tiga maskapai besar di Amerika Serikat (AS) curhat kepada wartawan. Tentu saja dengan menyembunyikan identitas keenamnya atau mereka akan menghadapi konsekuensi terburuk. Dilansir Insider, berikut curhatan enam pramugari.
1. Diperlakukan seolah seperti pembuluh penyakit (sumber penyakit)
Banyak orang melihat profesi pramugari dari sisi glomouritasnya saja. Padahal dibalik itu, terutama saat pandemi corona seperti sekarang, mereka diperlakukan dengan tidak proporsional. Bahkan, salah satu dari enam pramugari menyebut mereka diperlakukan seperti pembuluh penyakit, dengan tindakan diskriminasi dari orang sekitar, teman kantor, teman main, bahkan keluarga. Kejadian tersebut mirip-mirip dengan perlakuan warga terhadap petugas medis.
2. Takut terdampar di kota-kota aneh
Dengan banyaknya pembatalan atau cancel flight di sana sini, pramugari (juga para petugas on board lainnya) sangat berisiko tertahan -bila tak ingin disebut telantar- di kota-kota aneh. Aneh dalam artian memiliki angka kasus corona yang tinggi. Tak ayal, sebelum berangkat, mereka selalu menyiapkan pakaian dalam jumlah banyak, serta tentu saja uang, berjaga-jaga bila tidak mendapatkan tunjangan.
3. Gaji tak dibayar
Dalam kondisi serba sulit, perusahaan melakukan langkah strategis, salah satunya PHK. Bila tak cukup, salah satu opsi lain yang diambil adalah menunda gaji karyawan. Pramugari salah satunya. Padahal, sebagai lini serang perusahaan, mereka bekerja bertahur nyawa.
4. Khawatir terpapar corona
Melakukan kontak langsung dengan banyak orang tentu menjadikan mereka (pramugari) rentan terpapar corona. Fakta membuktikan, sudah banyak kasus pramugari positif terpapar corona dan berujung kematian. Meskipun tetap memakai APD, tetap saja ta menghilangkan bahaya. Buktinya, petugas medis yang memakai APD lengkap, tetap banyak yang terpapar corona dan meninggal. Apalagi mereka, yang tidak memakai APD lengkap?
5. APD tak disediakan perusahaan
Sederet peraturan dikeluarkan perusahaan untuk memulihkan kepercayaan publik dalam menggunakan transportasi udara. Salah satunya pramugari dibekali dengan APD, seperti masker, face shield, sarung tangan, dan hand sanitizer; bahkan beberapa perusahaan melengkapinya dengan hazmat dan sepatu boots. Namun, dibalik itu, ternyata, mereka terkadang harus menyiapkannya sendiri tanpa bisa direimburs.
Association of Flight Attendants, salah satu serikat pramugari terbesar di dunia dengan membawahi sebanyak 50 ribu anggota (pramugari) dari 20 maskapai sudah menempuh beberapa langkah untuk mengurai masalah ini.
6. Tak dikarantina
Normalnya, sepulang bepergian dari zona merah, dalam dan luar negeri, mereka diharuskan untuk mengkarantina diri atau dikarantina oleh otoritas. Namun, karena satu dan lain hal, mereka justru dilarang untuk terlibat dalam proses tersebut oleh maskapai masing-masing. Kelonggaran dari pihak otoritas juga berperan dalam hal ini.
Baca juga: Dengan Dalih Risiko Tertular Covid-19! Qatar Airways Hapuskan Hak Layover Pramugari di Penerbangan Jarak Jauh7. Masih banyak penumpang tak patuhi protokol kesehatan
Di tengah tingginya kasus corona di dunia, terutama di AS, pramugari masih saja dihadapi dengan banyaknya penumpang yang tak patuh dengan protokol Covid-19; bukan tak memakai masker -sebab mereka tentu saja tak bisa masuk bandara bila melakukannya- namun melepaskannya selama dalam penerbangan. Padahal itu terlarang. Banyak contoh lainnya dimana mereka melanggar protokol Covid-19.
8. Mengkomparasikan dengan peristiwa 9/11
Peristiwa 9/11 membuat seluruh tindak-tanduk masyarakat diliputi kecemasan. Semua orang tegang dalam menjalani aktivitas. Tak ada senyum dan interaksi. Mereka takut. Tentu semua warga AS tak ingin mengalaminya lagi. Faktanya, mereka mau tak mau harus menjalaninya lagi, termasuk pramugari.
Sebanyak 200 orang awak kabin yang baru-baru ini dilantik berdasarkan kontrak telah diberhentikan oleh Air India. Para awak kabin ini diberhentikan karena Covid-19 yang menyebabkan penangguhan penerbangan domestik dan internasional sejak akhir Maret yang berdampak buruk pada penerbangan sipil.
Baca juga: Berhentikan 400 Pilot dan Ribuan Awak Kabin, Emirates Lakukan PHK Gelombang Kedua
Tak hanya itu, 50 pilot Air India melakukan pengunduran diri tetapi ditolak oleh manajemen maskapai nasional tersebut. KabarPenumpang.com melansir laman hindustantimes.com (11/7/2020), keputusan ditolaknya surat pengunduran diri dari 50 pilot tersebut diambil setelah manajemen Air India bertemu dengan perwakilan serikat pilot pada 8 Juli 2020 kemarin.
Hal ini kemudian membuat seorang pilot senior mengatakan, manajemen perlu melihat karyawan dengan belas kasihan di tengah masa sulit ini. Bahkan Asosiasi Pilot Komersial India (ICPA) juga mempertanyakan otoritas Air India terkait langkah-langkah yang telah mereka ambil itu.
Atas hal ini, pada 6 Juli 2020, serikat pekerja menulis surat kepada Rajiv Bansal yang merupakan direktur sementara dan sekaligus menjabat direktur pelaksana, di mana mereka mendesak manajemen untuk memastikan bahwa presentase tetap dipotong dari gaji karyawan berdasarkan pendapatan serta menerapkan cuti bulanan tanpa gaji untuk semua staf karena operasional terputus akibat Covid-19. Mereka juga menuntut agar 25 persen dari gaji mereka yang tertunda segera dihapus dan mereka diizinkan untuk keluar dari pekerjaan dengan segera jika cuti bulanan tanpa gaji tidak diterapkan untuk semua karyawan.
Menurut salah seorang pejabat senior Air India, pemutusan hak kerja atau PHK merupakan normal baru karena pandemi telah meningkatkan kesengsaraan pada maskapai tersebut. Pejabat tersebut menambahkan, surat dari serikat pekerja itu bahkan menggerakkan berbagai hal di mana para kepala departemen telah gagal mengatasi situasi dan membela para karyawan yang telah dipecat.
“Krisis semakin dalam, karena sejumlah penerbangan beroperasi di tengah pandemi. Manajemen perlu mempelajari departemen-departemen yang tidak beroperasi dan beroperasi serta mengurangi tenaga kerja di tengah-tengah krisis keuangan yang akut,” kata seorang pensiunan pejabat Air India.
Baca juga: Puluhan Ribu Karyawan British Airways Kena PHK Massal, Benarkah?
Karena hal ini, juru bicara Air India menolak untuk mengomentari perselisihan yang terjadi antara karyawan dan manajemen.
“Ini adalah masalah internal yang tidak ingin kami berikan komentar,” katanya
Ilmuan Jepang membeberkan cara mencegah penularan virus corona di kereta. Kita tahu, dalam penelitian ilmuan Jepang lainnya, virus Corona terbukti bisa menyebar di kereta. Tak hanya itu, posisi penumpang kereta yang paling besar kemungkinan tepapar Covid-19 juga diungkap, yakni di bagian pintu kereta komuter dan kereta api.
Baca juga: Area Dekat Pintu Kereta Komuter, Jadi Lokasi Potensi Terbesar Penularan Virus Corona
Kantor berita Japan Times melaporkan, studi baru-baru ini tentang pencegahan penularan virus corona di dalam kereta itu dilakukan oleh raksasa riset Jepang, Riken, dengan bantuan superkomputer tercepat di dunia, Fugaku. Fugaku berperan dalam mensimulasikan penyebaran virus corona di udara di berbagai tempat, termasuk kereta.
Tak hanya itu, Fugaku juga membantu ilmuan dalam memberikan beberapa rekomendasi upaya pencegahan terbaik dalam memutus mata rantai penularan virus corona di dalam kereta.
Makoto Tsubokura, peneliti utama dalam studi tersebut, mengatakan bahwa membuka jendela kereta komuter dinilai menjadi cara terbaik dalam upaya pencegahan penularan corona. Selain dapat meningkatkan aliran udara dua hingga tiga kali lipat, membuka jendela kereta komuter dinilai jadi solusi terbaik karena bisa menurunkan kerumunan mikroba di sekitar kabin.
Guna mendukung hal itu, Makoto meningatkan pentingnya ruang di antara penumpang atau physical distancing atau bisa juga pembatasan penumpang dalam setiap gerbong. Sebab, simulasi superkomputer tercepat di dunia, Fugaku, membuktikan, kondisi aman dengan ventilasi terbuka dan pembatasan penumpang di setiap gerbong berubah drastis Ketika kereta komuter dipadati penumpang.
Tak lama setelah penemuan tersebut, otoritas Jepang langsung menerapkan pembatasan penumpang dengan ketat dan membuka ventilasi atau jendela terbuka, selain protokol Kesehatan lainnya yang sudah lumrah, memakai masker, mencuci tangan, tak berbicara selam di kereta, dan tak menyentuh area wajah dengan tangan sebelum mencucinya.
Atas upaya tersebut, serta upaya-upaya lainnya mencegah penularan virus corona di moda transportasi umum dan ruang publik, saat ini, Jepang bisa dibilang berhasil menjinakkan wabah yang diduga berasal dari Wuhan itu, dengan 19 ribu kasus positif corona dan 977 kematian.
Baca juga: BlueFilter, Teknologi Penyaring Virus dan Bakteri di Gerbong Kereta Api
“Di Jepang, gugus tugas penanggulangan Covid-19 bersikeras untuk konsisten dengan 3C,” kata Tanabe, seorang profesor di Universitas Waseda di Tokyo, merujuk pada kampanye publik Jepang untuk melakukan 3C, closed spaces atau menghindari ruang tetutup, crowded places atau menghindari keramaian, dan close-contact settings atau menghindari kontak langsung dalam jarak dekat.
Selain menemukan cara pencegahan terbaik di kereta komuter, superkomputer Fugaku juga menemukan upaya pencegahan terbaik di tempat-tempat lainnya, seperti memasang sekat partisi di perkantoran dan ruang kelas, serta memasang tirai hingga menyentuh langit-langit di rumah sakit.
Seorang pramugara American Airlines, Joseph ‘Joe’ Tormes, dikabarkan tewas mendadak saat tengah bertugas. Tak dijelaskan dengan persis bagaimana kronologi dan apa penyebabnya. Namun, sempat beredar kabar bahwa Joe meninggal akibat wabah Corona yang masih menggila di Amerika Serikat (AS).
Baca juga: Ahli Sebut Kabin Pesawat Tak Aman Cegah Corona! Video Ini Jadi Salah Satu BuktinyaFox News melaporkan, pramugara yang telah mengabdi selama 20 tahun di American Airlines tersebut sebelumnya dalam kondisi sehat. Dalam penerbangan sebelum ajal menjemputnya itu, istrinya diketahui juga ikut menemaninya.
Tak ayal, kematian mendadak Joe di pesawat pun menimbulkan pertanyaan besar mengingat angka kasus kematian akibat Covid-19 di dunia masih terus meningkat, tak terkecuali dengan AS. Sudah begitu, peristiwa meninggalnya Joe di pesawat secara tiba-tiba juga tak lama selang Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan penularan virus corona lewat airborne atau melalui udara.
Pasalnya, dalam sebuah penelitian, sistem filter udara di pesawat disebut tak membebaskan kabin penumpang dari ancaman wabah corona. Bahkan, filter HEPA atau High Efficiency Particulate Arresting yang selalu dibanggakan maskapai dalam mencegah penyebaran virus di pesawat terbukti tak sepenuhnya bisa diandalkan.
Boeing dan Airbus sendiri, selaku produsen pesawat terbesar di dunia, sejak akhir Mei lalu tengah bekerjasama mencari tahu tingkat keamanan pesawat dalam mencegah penyebaran virus corona. Sampai saat ini, keduanya belum merilis lebih lanjut perkembangan terakhir. Itu artinya, ancaman virus corona di pesawat belum sepenuhnya hilang.
Seolah membuktikan ancaman langsung wabah corona di pesawat, pada akhir Maret dan akhir Mei lalu kasus penumpang positif terpapar virus corona di pesawat dan sehabis terlibat dalam penerbangan juga terjadi.
Kembali ke kasus kematian pramugari American Airlines, sekalipun pihak perusahaan tak mengabarkan dengan rinci kronologi kematian pramugara berusia 61 tahun tersebut dan apa penyebab kematiannya, namun, sebuah sumber mengatakan bahwa Joe Tormes meninggal akibat serangan jantung.
“Kami tahu, banyak di antara kalian yang pernah bekerja dengan Joe dan pasti akan merindukan Joe. Rasa duka kami begitu mendalam untuk sang istri, Jett dan juga putra mereka Brandon. Rasa cinta kami sampaikan kepada siapapun yang mengenal dan pernah bekerja dengan Joe,” kata juru bicara American Airlines dalam keterangan tertulis.
Pesawat yang mengangkut Joe beserta istrinya itu akhirnya kembali lagi ke Bandara Internasional Lambert di St.Louis pada Minggu (5/7) pagi waktu setempat, untuk menurunkan jenazah Joe.
Pesawat kemudian terbang lagi melanjutkan perjalanan ke Bandara Internasional Dallas Fort Worth pada siang harinya, dengan kru kabin yang baru.
Baca juga: Ahli Virologi Ini Yakin Tertular Corona Lewat Mata dalam Penerbangan yang Penuh Sesak
“Kami akan bekerja dan berhubungan langsung dengan keluarga Joe untuk mendukung apa yang mereka butuhkan,” pungkas pihak American Airlines.
Joe tentu bukan satu-satunya, sebelumnya, pada awal Januari tahun lalu, seorang pramugari juga pernah meninggal saat dalam penerbangan. Sama seperti Joe, pramugari tewas saat pesawat di udara itu dikabarkan meninggal karena serangan jantung.
Semua penumpang tahu bahwa beberapa tempat di kabin pesawat menjadi sarang virus dan bakteri. Hal tersebut karena kabin pesawat tidak selalu dibersihkan sebab padatnya penerbangan dan waktu yang singkat ketika tiba di tujuan bila awak kabin harus membersihkan secara penuh.
Baca juga: Pakai Kostum Hazmat di Bandara, Naomi Campbell Lagi-lagi Viral di Instagram
Kemudian hal ini membuat banyak penumpang yang melakukan pembersihan kursi mereka sendiri saat tiba di dalam pesawat. Mereka menggunakan tisu antibakteri untuk menyeka meja baki, layar monitor, sandaran kepala dan tangan, sabuk pengaman dan beberapa lainnya. Ini seperti Naomi Campbell yang memvideokan dirinya tengah membersihkan ruang pribadi di dalam kabin pesawat yang ditumpanginya.
Apalagi saat ini pandemi Covid-19 tengah merebak di berbagai belahan dunia dan banyak orang yang berpikir keamanan kesehatan mereka ketika terbang dengan pesawat. Semenjak adanya pandemi ini, maskapai penerbangan mulai melakukan pembersihan disemua bagian pesawat dengan dan beberapa diantaranya melakukan penyemprotan desinfektan.
Meski maskapai melakukan pembersihan, penumpang juga tidak ada salahnya untuk membersihkan ruang pribadi mereka dan mencuci tangan setelahnya. Aaron Milstone, ahli epidemologi di rumah sakit Johns Hopkins mengatakan, pesawat dan kursi didalamnya adalah ruang publik dan kuman dapat hidup dipermukaan dalam waktu lama sehingga tidak ada salahnya untuk dibersihan secara pribadi.
Andrew Mehle, profesor microbiology medis dan imunologi di University of Wisconsin Madison mengatakan, menyeka permukaan kursi di pesawat tidak sakit dan menekankan bahwa ketika penumpang mensanitasi ruang pribadinya di pesawat harus bersamaan dengan mencuci tangan atau pencegahan lainnya. Dirangkum KabarPenumpang.com dari nytimes.com, Milestone mengatakan, ketika tiba di kursi tidak buruk membersihkan area sekitar dan harus hati-hati ketika menyentuh wajah.
Sehingga baiknya tak perlu terlalu sering menyentuh wajah ketika berada di pesawat. Dia mengatakan, tisu dengan desinfektan pun bekerja tidak secara langsung, sehingga penumpang harus melihat pada kemasan waktu yang tepat. Biasanya berkisar 30 detik hingga beberapa menit agar desinfektan pada tisu bisa bekerja.
Vicki Stover Hertzberg, seorang profesor di Sekolah Perawat Universitas Emory mengatakan, jika layar monitor di kursi penumpang merupakan layar sentuh, baiknya gunakan tisu untuk menyentuhnya. Ini agar ada penghalang Anda dengan permukaan yang mungkin terdapat tetesan dari orang terinfeksi Covid-19.
Baca juga:Khawatir Covid-19, Pria Ini dengan ‘PD-nya’ Gunakan Kostum Dinosaurus di Bandara Miami
“Seseorang yang sakit dan batuk mungkin menyentuh pintu dan keran, jadi gunakan tisu di kamar mandi lalu gunakan tisu untuk membuka pintu dan untuk menutup keran kemudian membuang yang ada di tempat sampah saat keluar,” kata Bernard Camins, direktur medis untuk pencegahan infeksi di Sistem Kesehatan Mount Sinai.
Bus double decker atau bus tingkat di era kehidupan baru atau new normal sepertinya bisa menjadi salah satu pilihan untuk bepergian. Meski isi penumpangnya lebih banyak tetapi penumpang bisa memiliki pengalaman baru.
Baca juga: Mau Naik Bus Tingkat AKAP? Inilah Posisi Tempat Duduk yang Nyaman
Tapi saat ini kapasitas bus pun tidak akan seperti biasanya yakni sekitar 70 persen dari ketersediaan. Nah beberapa waktu lalu KabarPenumpang.com menulis tentang spot nyaman di bus double deck, kali ini akan bahas lebih nyaman duduk dikursi bagian atas atau di bawah.
Sebenarnya duduk di kursi bagian atas atau bawah bus pun ada kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Untuk penumpang yang senang dengan pemandangan duduk di kursi atas adalah pilihan yang tepat.
Sebab penumpang yang duduk di atas memiliki posisi yang lebih tinggi sehingga bisa lebih puas melihat pemandangan secara luas. Tapi meski begitu sinar matahari yang masuk melalui jendela membuat silau dan ini menjadi kekurangannya.
Kalau memang mau memilih duduk di atas dan mengurangi silau pilih perjalanan malam. Biasanya perjalanan ini akan sampai di pagi hari dan penumpang bisa melihat pemandangan ketika membuka mata.
Sedangkan pilihan duduk di bawah yang notabene kelasnya lebih tinggi dari kursi atas, dipilih penumpang untuk beristirahat dan tidur. Selain posisi rendah dan sejajar kendaraan lain, pemandangan terhalang dan penumpang benar-benar bisa istirahat.
Namun semua itu pilihan para penumpang baik duduk di atas maupun duduk di bawah. Kalau sebelumnya yang pernah ditulis pun tak jauh berbeda. Di mana kursi atas paling depan menjadi pilihan untuk penumpang yang suka dengan pemandangan.
Sedangkan kursi lorong bisa menjadi pilihan penumpang yang sering kali ke toilet dan kursi belakang agar penumpang bisa mendapatkan tempat yang nyaman berisitirahat. Kursi sejajar televisi menjadi pilihan untuk penumpang yang suka dengan hiburan yang ditampilkan baik lagu atau film.
Baca juga: Odong-Odong Keren (Oren), Double Decker Khas Depok
Sedangkan kursi bagian bawah yang dikatakan kursi premium, sebab penumpang akan disuguhkan fasilitas yang berbeda dari penumpang atas. Selain itu pilihan kursi di deck bawah dipandang lebih pas bagi Anda yang sering mabuk darat.
Obyek terbang tidak dikenal alias UFO (unidentified flying object) kerap terlihat di berbagai belahan dunia, tak terkecuali Indonesia. Pada pertengahan 2011 lalu, sebuah keluarga di Perumahan Citra Pratama, Kerobokan Kelod, Kuta, Bali, mengaku melihat UFO alias benda terbang misterius. Benda tersebut terlihat sebanyak dua kali.
Baca juga: Heboh Pentagon Rilis Video UFO, Penumpang Pesawat Ini Bahkan Pernah Lihat UFO di Siang Bolong
Sayangnya, karena peristiwa itu terjadi pada malam hari, gambar yang berhasil ditangkap tak mengidentifikasi dengan jelas. Hanya berupa sebuah benda di langit dengan cahaya di bagian bawahnya. Tentu saja ada kemungkinan lain di luar UFO.
Pada 2011 dan 2013, UFO kembali muncul di Bali. Bahkan, kemunculan UFO di Bali pada 2015 terekam jelas di video. Dalam video unggahan YouTube channel thirdphaseofmoon, tampak sebuah objek memancar kilauan cahaya sambil bergerak tak beraturan dalam jarak dekat. Dari gerak-geriknya, hampir dapat dipastikan itu bukan pesawat. Hingga kini, hal itu pun masih misterius.
Di tahun 2018, netizen kembali heboh terkait adanya UFO di Bali. Padahal, kala itu masih siang bolong. Meskipun demikian, fenomena kemunculan UFO di beberapa negara memang tak kenal waktu, termasuk pada siang bolong seperti yang dialami oleh seorang penumpang pesawat Jeju Air bernama Lucas Kim, yang mengklaim dirinya melihat UFO dari jendela pesawat saat sedang dalam perjalanan dari Seoul ke Thailand.
Hanya saja, bila fenomena yang dilihat Kim menyerupai UFO dan memang tak mampu dibuktikan dengan jelas oleh berbagai pihak benda apa kalau bukan UFO, lain halnya dengan ‘UFO’ yang muncul pada 2018 di Bali itu. Alih-alih benar UFO, ternyata itu merupakan fenomena awan topi di atas Gunung Agung. Di beberapa tempat, awan serupa juga kerap muncul, seperti di atas kawah Gunung Rinjani, Gunung Sumbing, dan Gunung Semeru.
Di kalangan pendaki gunung, awan berbentuk topi atau mirip jamur ini dikenal dengan nama awan lenticular. Orang Jawa menyebutnya caping gunung, karena awan lenticularis puncak gunung biasanya berbentuk topi khas petani Jawa yang disebut caping.
Atas fenomena itu, BMKG sendiri menghimbau agar pesawat tak melintas di sekitaran tempat kemunculan awan menyerupai UFO atau awan topi itu. Sebab, dikhawatirkan dapat menyebabkan turbulensi. Apa yang BMKG anjurkan memang benar adanya, karena salah satu dari dua penyebab terjadinya turbulensi pada pesawat diakibatkan oleh awan, yang terbesar (dampak turbulensinya) adalah awan cumulonimbus.
Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman telegraph.co.uk, Kapten British Airways, Steve Allright mengatakan bahwa ada banyak faktor yang dapat menimbulkan turbulensi, namun semua itu sudah dikuasai oleh para pilot, dan mereka mengetahui masing-masing cara untuk mengatasinya.
“Turbulensi memang tidak nyaman, namun tidak berbahaya. Ini adalah bagian dari terbang, dan tidak perlu ditakuti,” ungkap Steve. “Berbagai aspek cuaca menyebabkan berbagai jenis turbulensi, dan yang paling umum dirasakan adalah Clear Air Turbulence (CAT),” imbuhnya.
Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, perkembangan teknologi lambat laun mulai menjawab tantangan pesawat saat dihadapkan dengan awan cumulonimbus, yang notabene kerap menjadi momok bagi pilot dan tentu saja pesawat beserta isinya.
Seperti dikutip dari laman innovationorigins.com, mencari jalan keluar atas ketakutan berlebih akan turbulensi hebat, Andras Galffy, seorang mahasiswa doktoral dari Technische Universität Wien asal Austria pun menemukan titik terang. Dalam penelitian yang masih menjadi bagian dari disertasinya, ia berhasil menemukan sebuah teknologi sensor yang mampu mengurangi resiko turbulensi hingga 80 persen.
Baca juga: Jangan Lagi Takut Turbulensi, Teknologi ini Bisa Buat Pesawat Nyaris Terbang Mulus
Selain dapat mengurangi kenyamanan dan keamanan akibat turbulensi, teknologi yang sudah mendapat hak paten tersebut dinilai juga dapat menghemat bahan bakar. Pasalnya, ketika turbulensi terjadi, sistem perputaran angin pada sayap pesawat menjadi tak beraturan hingga mengurangi daya angkat pesawat. Akibatnya, pesawat harus mengeluarkan ‘tenaga’ ekstra untuk tetap mempertahankan jalur, ketinggian, serta gaya angkat.
Meskipun teknologi sensor tersebut baru diuji ke pesawat tak berawak, sebagaimana Andras Galffy yang memang ahli di bidang sistem autopilot dan pesawat tak berawak, namun, ia percaya bahwa temuannya ini dapat diaplikasikan ke pesawat berawak atau pesawat komersial. Tak hanya itu, ia juga mengklaim bahwa teknologi tersebut juga dapat diaplikasikan bukan hanya pada pesawat baru, namun juga pada pesawat-pesawat yang sudah ada.
Penerbangan komersial senantiasa bergerak dari waktu ke waktu. Seiring perkembangan zaman, mayoritas orang mulai mengingat kembali berbagai layanan yang disuguhkan pada era awal penerbangan komersial dengan penerbangan saat ini.
Baca juga: Inilah 11 Perbedaan Maskapai Penerbangan Era 70-an dengan Sekarang
Namun, di balik semua itu (perbincangan terkait perbedaan layanan dulu dan kini), terselip satu hal yang sebetulnya juga menarik untuk diperbincangkan, sekalipun sekedar bernostalgia. Satu hal itu adalah peta jangkauan jadul atau vintage airline maps.
Dilihat KabarPenumpang.com dari creativereview.co.uk, tak seperti sekarang, peta jangkauan maskapai-maskapai terdahulu bisa dibilang sangat kreatif, dengan permainan kartografi yang memadukan warna dan karikatur serta berbagai unsur seni lainnya. Agar lebih jelas, berikut daftar lima peta jangkauan jadul maskapai di masa lalu.
1. BOAC (British Overseas Airways Corporation)Peta jangkauan BOAC. Foto: creativereview.co.uk
British Overseas Airways Corporation adalah maskapai penerbangan nasional Britania Raya yang dibentuk tahun 1940 melalui penggabungan atau merger antara Imperial Airways dan British Airways. Maskapai ini bisa dibilang cukup populer di zamannya, mengingat mereka bisa mengoperasikan sampai 200 pesawat saat peak season. Poster di atas adalah keluaran 1947 karya salah satu kartografi atau desain grafis ternama asal Jerman, Frederick Henri Kay Henrion.
2. Airliners DeluxeAirliners Deluxe poster keluaran tahun 1935. Foto: creativereview.co.uk
Poster peta jangkauan maskapai ini keluar pertama kali pada tahun 1935 tanpa diketahui siapa pembuatanya. Mesk demikian, mungkin, pecinta aviasi cukup terhibur dengan kolaborasi warna, pemilihan font, dan karikatur beberapa jaringan maskapai ke negara-negara di Eropa.
3. Imperial AirwaysPoster Imperial Airways karya Henry Beck tahun tahun 1935. Foto: creativereview.co.uk
Imperial Airways sendiri merupakan perusahaan transportasi udara jarak jauh komersial pertama Britania Raya yang beroperasi mulai 1924 sampai 1939. Maskapai ini melayani sejumlah wilayah di Eropa, terutama rute Britania ke Afrika Selatan, India dan Timur Jauh atau Asia Pasifik, termasuk Malaya dan Hong Kong.
Maskapai legendaris ini akhirnya merger dengan BOAC. Sama seperti Airliners Deluxe, peta jangkauan Imperial Airways juga dibuat pada tahun 1935 oleh seorang kartografi kenamaan Inggris, Henry Beck, yang juga merancang peta jaringan bawah tanah London atau biasa juga disebut Peta London Underground (tube map); berisi peta transportasi skematik yang menggambarkan jalur, stasiun, dan fasilitas London Underground.
4. Air FrancePeta jaringan atau jangkauan jadul Air France, yang dirancang pada tahun 1939 oleh Gerard Alexandre. Foto: creativereview.co.uk
Siapa yang tak kenal Air France, maskapai nasional terbesar di Perancis. Sejak awal pendiriannya pada tahun 1933, maskapai ini telah berkembang sebagai maskapai terbesar dunia yang didukung oleh pengembangan ekonomi Perancis yang menghubungkan daerah jajahan di Afrika, Karibia & Kepulauan Polinesia di Pasifik. Peta jaringan atau jangkauan jadul Air France, yang dirancang pada tahun 1939 oleh Gerard Alexandre ini mungkin bisa sedikit menggambarkan eksistensi mereka bahkan sejak awal berdiri.
5. Air CeylonPeta jangkauan Air Ceylon keluaran tahun 1950. Foto: creativereview.co.uk
Di antara nama besar maskapai Eropa, rupanya terdapat satu maskapai jadul asal Asia yang juga memiliki desain unik peta jangkauan jadul, yakni Air Ceylon. Flag carrier Sri Lanka yang didirikan pada tahun 1947, sebelum stop operasi pada1978 dan kini digantikan dengan Air Lanka, ternyata pernah membuat poster peta jangkauan unik keluaran tahun 1950. Dibanding empat poster peta jadul jangkauan maskapai, mungkin karya Air Ceylon inilah yang paling unik, dengan menyertakan unsur nasionalisme mereka; gajah.
Dikenal sebagai wilayah yang subur akan hasil pertanian dan rempah-rempahnya, nama Pulau Jawa sudah kondang sedari zaman pra kolonial. Saking populernya nama Jawa (Java), menjadikan nama tanah harapan bangsa kulit putih ini diabadikan sebagai nama kapal. Dan untuk pertama kalinya pada tahun 1811, British East India Company (EIC) meluncurkan kapal dagang yang diberi label Java. Kapal ini melakukan pelayaran dan perdagangan migran antara Inggris dan Australia hingga wilayah Timur Jauh.
Baca juga: Filipina Bangun Kapal Penumpang dengan Teknologi Trimaran untuk Kurangi Emisi Karbon
Yang unik, Java menjadi kapal raksasa batubara di Gibraltar sekitar tahun 1859 dan masih terus bertahan hingga era Perang Dunia II berlangsung. KabarPenumpang.com merangkum dari wikipedia.com, Java sendiri awalnya merupakan hadiah untuk petugas EIC dan digunakan sekelompok penumpang yang bepergian dari Cina ke Jawa untuk berlibur.
Suatu ketika, kapal Java ini tiba di Pulau Jawa dan diserang oleh penduduk setempat ketika orang-orang dari kapal tengah piknik dan membawa gadis muda. Kemudian salah satu petugas kapal tersebut memimpin sebuah kelompok bersenjata untuk menyelamatkan gadis tersebut.
Kapal Java sendiri sosoknya pertama kali diketahui publik di Lloyd’s Register, yaitu dua tahun setelah diluncurkan, tepatnya di tahun 1813. Kapal ini kemudian digunakan untuk berdagang di London dan India. Perawatan Java sendiri didaftarkan di Britania Raya pada 7 Oktober 1813.
Di antara tahun 1824 dan 1825, Java melakukan pelayaran berdasarkan hak istimewa ke EIC. Pemilik Java yang sudah membelinya tahun 1825, Joseph Hare menawarkan ke EIC untuk dicarter membawa teh dari Cina kembali ke Bengal. Kapten Thomas Driver berlayar dari Downs pada 26 Juli 1825.
Java sendiri kemudian berada di Sugor pada 3 januari 1826 dan kembali ke Inggris pada 13 Maret 1827. Lalu tahun 1828, Hare menjual Java ke Fairlie & Co. yang memiliki rute Calcutta dan London. Kemudian tahun 1836, Scott & Co. yang berbasis di London membeli Java.
Java kemudian di carter oleh pemerintah Australia Selatan untuk mengangkut migran dengan kapten Alexander Duthie. Java berlayar dari London dan Plymouth, Inggris pada Oktober 1839 dan tiba di Teluk St Vincent di luar Adelaide, Australia Selatan pada 6 Februari 1840.
Dari berbagai laporan Java saat itu mengangkut antara 30 hingga 50 penumpang termasuk 28 anak-anak yang meninggal karena penyakit, kekurangan gizi serta kelaparan selama perjalanan. Hal ini kemudian membuat perjalanan terseut menjadi subjek tinjauan Dewan Medis atas nama Komisaris Australia Selatan yang menemukan bahwa Duffie dan petugas medis telah memperlakukan penumpang dengan buruk dan memerintahkan agar Scott & Co. tidak dibayar.
Tahun 1841, java kembali pindah tangan ke Joseph Somes di London. Dia mencarter ke pemerintah Inggris sebagai transportasi untuk mengangkut pasukan yang mengunjungi Amerika Utara, Hindia Barat, Afrika Selatan dan Selandia Baru.
Baca juga: Sebulan Pasca Musibah KM Sinar Bangun, KNKT Rilis Rekomendasi Keselamatan Pelayaran
Pada tahun 1939 pemiliknya menjual Java seharga £500 kepada ‘pemecah’ kapal Genoa, Giuseppe Riccardi dari Sampierdarena. Dia menariknya ke Genoa pada 26 Juli 1939 karena putus. Pada 20 September 1940, AL Italia menghancurkan kapal ini dengan ranjau limpet dalam latihan. Bisa dikatakan Java adalah satu-satunya kapal yang pernah dipekerjakan oleh EIC sampai era Perang Dunia II.
Seiring perkembangan zaman dari masa ke masa, kecenderungan maskapai untuk menggaet penumpang lewat iklan cukup beragam. Beberapa masih menggunakan cara lama dan lainnya menggunakan cara atau paradigma baru, mengikuti perkembangan terkini.
Baca juga: Iklan Pakaian Dalam dengan Model Pramugari Mendapat Kecaman
Namun, tak bisa dipungkiri, baik cara lama maupun baru, pada akhirnya, momentum-lah yang menentukan kesuksesan iklan dan dampaknya terhadap traffic penumpang. Dilansir KabarPenumpang.com dari thepointsguy.co.uk, berikut 13 iklan maskapai terbaik sepanjang masa.
1. Virgin Atlantic: 25 years, Still Red Hot (2009)
Iklan ini dibuat untuk merayakan 25 tahun kiprah Virgin Atlantic di dunia. Iklan ini mengambil latar tahun 1984, saat-saat dimana mereka memulai dan berjuang di tengah kondisi politik dalam negeri yang tak stabil.
2. British Caledonian: Caledonian Girls (1982)
British Caledonian adalah maskapai penerbangan independen swasta Inggris yang beroperasi di Bandara Gatwick di Inggris tenggara selama tahun 1970-an dan 1980-an.
3. Qantas: I Still Call Australia Home (1998)
https://www.youtube.com/watch?v=hbGuqmaDgLA&feature=emb_title
Iklan berlatar kompilasi atau varian lagu-lagu kebangsaan Australia ini disebut sebagai salah satu iklan termahal Qantas, dengan menggelontorkan dana sebesar $3 juta. Angka yang cukup besar kala itu.
4. Braniff Airways: The Air Strip (1965)
https://www.youtube.com/watch?v=7TZXryuhSMg
Iklan ini menampilkan seragam baru pramugari karya desainer kenamaan dunia, Emilio Pucci. Seragam baru tersebut dinilai sebagai revolusi besar maskapai di tahun 60an.
5. British Airways: Bringing People Together (1989)
British Aiways memang sejak lama menjadi salah satu maskapai terbesar di dunia. Setidaknya hal itu bisa dilihat dari cara mereka membuat iklan ini, dengan menampilkan klaim di bagian akhir, “World’s favourite airline”.
6. Emirates: It’s so nice up here with Jennifer Aniston (2016)
Salah satu raksasa maskapai di Timur Tengah ini mungkin benar-benar serius menggarap iklan. Betapa tidak, tak tanggung-tanggung, mereka langsung melibatkan pemenang Emmy dan Golden Globe film Amerika Serikat, Jennifer Aniston, berlatar pesawat andalan mereka, A380.
7. United: Nancy (1982)
Selain membuat decak kagum dan menarik perhatian masyarakat, iklan juga kerap dijadikan alat propaganda, setidaknya propaganda yang baik untuk bisnis mereka, seperti yang dilakukan United Airlines, dengan menyematkan “The free world’s largest airline” pada iklan ini.
8. Lufthansa: Everyone’s Fanhansa (2016)
Menyambut turnamen sepak bola terbesar di Eropa, Euro 2016, Lufthansa mengelurkan iklan unik bertema supporter Inggris yang terus-menerus diledek supporter Jerman.
9. Turkish Airlines: Morgan Freeman “Widen Your World” (2017)
Tak mau kalah dengan Emirates, setahun berselang, salah satu raksasa penerbangan dunia asal Turki ini pun menggaet Morgan Freeman, seorang pemeran dan sutradara film Amerika Serikat pemenang Academy Award untuk mensukseskan iklan promosi mereka.
10. Southern Airways: Nobody’s second class (1970)
Dari berbagai konsep unik iklan, komedi adalah salah-satunya. Dengan kemasan yang baik dan momentum yang pas, iklan ini berhasil menarik perhatian masyarakat kala itu lewat konsep komedi.
11. Virgin Atlantic: Your airline’s either got it or it hasn’t (2010)
Iklan dengan budget sebesar £6 juta ini menampilkan adegan pembuka mirip film mata-mata atau spy terpopuler di dunia, James Bond. Komposisi musik oleh salah satu band ternama dunia, Muse, juga membuat iklan ini jelas bernilai mahal. Belum lagi konsep yang hot yang melibatkan pramugari.
Baca juga: Tampilkan Sepasang Gay, Iklan Cathay Pacific Tuai Kontroversi12. British Airways: Concorde (1989)
Pecinta aviasi pasti sangat lekat dengan nama salah satu legend ini, Aérospatiale-BAC Concorde, pesawat supersonik ikonik asal Inggris. Mengenang kejayaan Concorde, British Airways pun membuat video kompilasi khusus untuknya.
13. TWA: Leading the way (1985)
Iklan ini sebetulnya biasa saja. Namun untuk ukuran kala itu, kolaborasi soundtrack dan video rasanya cukup bernilai tinggi.