Keren, Denmark Luncurkan Paspor Digital Covid-19, Seperti Apa?

Pemerintah Denmark belum lama ini meluncurkan apa yang disebut ‘paspor virus corona’. Menariknya, untuk mengurangi adanya kontak langsung, otoritas tersebut menawarkan paspor tersebut dalam bentuk digital. Meski demikian, paspor tersebut tetap berkekuatan hukum sama dengan paspor dalam bentuk fisik dan dapat dipakai bepergian ke luar negeri. Baca juga: Kepulauan Canary Wajibkan Penumpang Bawa Paspor Kesehatan Digital Bebas Corona Dilansir thelocal.dk, seluruh warga negara Denmark yang sudah memenuhi syarat, pertama-tama harus mendaftar tes pengajuan paspor di laman coronaprover.dk. Tak disebutkan dengan jelas bagaimana poin-poin tes saat proses pengajuan tersebut. Bila hasil tes negatif, pemohon dapat mengunduh paspor Covid-19 resmi dengan masuk ke web Kementerian Kesehatan Denmark, sundhed.dk, dan login menggunakan nomor induk kependudukan (NIK). “Di banyak tempat Anda mungkin diharuskan untuk mendokumentasikan (dicetak atau dalam bentuk fisik) hasil negatif tes Covid-19, dan dengan paspor Covid-19 yang baru, kami sekarang memiliki penawaran digital untuk (warga) Denmark yang sangat dibutuhkan dalam setiap perjalanan mereka,” kata Menteri Kesehatan Denmark, Magnus Heunicke, dalam sebuah pernyataan. Meskipun tes tak dilakukan secara tatap muka, sistem yang dibuat tetap hanya memungkinkan pemohon untuk mengunduh (paspor Covid-19) jika tesnya negatif dan akan keluar kurang dari tujuh hari. Selain untuk orang-orang dewasa, anak-anak di atas umur 15 tahun juga diperbolehkan memiliki paspor digital Covid-19 Denmark. Tentu dengan mengikuti mekanisme yang ada. Hanya saja, mereka bisa diwakili oleh orang tua atau wali mereka, namun tetap login dengan NIK yang bersangkutan. Atas terobosan dari Kementerian Kesehatan Denmark, CEO Konfederasi Transportasi Denmark sangat mengapresiasi langkah tersebut. Pasalnya, di tengah berbagai kebijakan protokol Covid-19, jaga jarak, menghindari kerumunan, kontak langsung dan sebagainya, mengurus sejenis paspor Covid-19 sangat sulit dilakukan. “Hal itu (kebijakan paspor Covid-19) tentu akan membantu warga Denmark yang harus bepergian, baik sebagai bekerja (dinas) atau secara pribadi (wisata),” ujar Michael Svane. “Kami berada di masa ketika, sebagai seorang musafir, Anda menghadapi banyak kendala. Tetapi paspor covid-19 mudah diakses dan sangat mudah digunakan,” tambahnya. Denmark saat ini memang telah menerapkan aturan ketat terkait hal ini (paspor Covid-19), sekalipun kasus (Covid-19) di sana tak se-menyeramkan di Amerika Serikat (AS), Italia, Rusia, Brasil, dan negara-negara lainnya. Jangankan negara-negara yang disebutkan di atas, Swedia saja, yang notabene berposisi sebagai negara tetangga serta sesama negara utama Skandinavia dan tergolong aman dari corona, harus mempunyai paspor Covid-19 bila ingin melintasi wilayah Denmark. Baca juga: e-Paspor Indonesia Sah Bersertifikat “Public Key Directory” dari ICAO Langkah Pemerintah Denmark ini bisa dibilang adalah implementasi dari rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Bulan April lalu, WHO memperingatkan agar setiap negara memantau seluruh warganya lewat kepemilikan ‘paspor imunitas’ atau bisa dibilang sertifikat kesehatan bebas Covid-19. Dengan begitu, meskipun virus masih mewabah di dunia, mereka tetap bisa bepergian dengan lebih bebas. Untuk diketahui, walaupun ‘paspor Covid-19’ ini seolah adalah paspor sebagai legalitas bepergian keluar masuk negara, namun, apa yang dikeluarkan pemerintah Denmark bukan paspor seperti itu, melainkan sejenis legalitas yang menunjukkan seseorang dalam kondisi sehat.

Eurostar Hadirkan Sistem Pemindaian Wajah, Penumpang Lintas Negara Tak Perlu Perlihatkan Tiket dan Paspor

Berbagai teknologi hadir untuk menghindari interaksi penumpang dan para petugas baik di bandara maupun stasiun kereta api di masa pandemi Covid-19. Salah satunya adalah menghadirkan teknologi pemindaian wajah yang mana penumpang ketika tiba di stasiun maupun bandara tak lagi perlu mengeluarkan tiket maupun paspor untuk di cek petugas. Seperti Eurostar, operator kereta cepat yang menghubungkan Londong dan Paris, membuat penumpang mereka nantinya tak lagi menunjukkan paspor dan tiket karena sudah ada pemindai pengenalan wajah dari iProov. Baca juga: Tidak Melulu di Bandara, Osaka Metro Hadirkan Teknologi Face Recognition di Stasiun Bawah Tanah Ini akan memudahkan pelancong yang melakukan perjalan antara Inggris dan negara Eropa lainnya. Dilansir KabarPenumpang.com dari globetrender.com (13/7/2020), inovasi baru dalam keamanan biometrik ini adalah memungkinkan penumpang untuk naik kereta Eurostar menggunakan koridor biometrik wajah agar melakukan perjalanan tanpa kontak. Hal tersebut berarti penumpang tak lagi akan diperiksa tiketnya ketika keluar perbatasan di Stasiun Internasional St Pancras, London. Untuk bisa menggunakan iProov ini, penumpang harus mengunduh aplikasi Eurostar dan memilih opsi sebelum naik yang dipercepat. Nantinya fitur ini akan meminta penumpang mengunggah dokumentasi identifikasi mereka dan kemudian menggunakan pemeriksaan biometrik wajah iProov. Solusi ini bahkan dapat memastikan semua data penumpang asli dan melindungi deepfakes atau media sintetis di mana seseorang dalam gambar atau video diganti dengan wajah orang lain. Dalam pemindaian biometrik tersebut, perusahaan menggunakan proses iluminasi yang memastikan pengguna adalah orang sungguhan dan bukan video, foto atau topeng yang memflash berbagai warna di wajah mereka. “Ini adalah yang pertama di dunia. iProov memungkinkan penumpang kereta untuk memilih untuk bepergian tanpa tiket atau dokumentasi dengan cara yang aman dan terjamin. Apa yang dimulai sebagai proyek untuk mengurangi kemacetan perjalanan dan membuat penumpang terus bergerak sekarang akan membantu menjaga orang-orang aman di dunia pandemi melalui interaksi sosial dan interaksi tanpa kontak,” kata Andrew Bud, pendiri dan CEO, iProov. Dia menambahkan, hal tersebut adalah contoh lain tentang bagaimana verifikasi wajah ikut serta membuat hidup lebih mudah dan aman bagi orang-orang di seluruh dunia. Andrew mengatakan, bahwa tidak ada gerbang dan tidak ada pengecekan tubuh serta potongan kertas dan kode batang. Sehingga penumpang dapat mengurangi interaksi dengan petugas perbatasan serta membantu mengurangi antrian dan menegakkan jarak sosial. Baca juga: Senyum Anda Tak Dibutuhkan Saat Pemindaian Wajah di Bandara Untuk diketahui, inisiatif ini rencana akan dirilis pada Maret 2021 mendatang dan dilakukan dalam kemitraan bersama spesialis solusi perjalanan serta imigrasi Kanada WorldReach Software.

Marcopolo Biosafe, Cegah Covid-19 di Dalam Bus dengan Teknologi “Kabut Kering”

Beragam cara dilakoni untuk membendung penyebaran Covid-19, salah satu solusi yang tengah diuji cobakan pada moda transportasi adalah penggunaan teknologi kabut kering. Seperti belum lama ini, Volgren, operator bus di Australia dan Marcopolo, perusahaan karoeseri asal Brasil dalam mengedepankan solusi keselamatan biologi pada penumpang dan pengemudi bus di Australia. Baca juga: Robot Hidrogen Peroksida Vapourised Bantu Bersihkan Kereta dan Stasiun MTR Hong Kong Langkah ini dikenal dengan Marcopolo Biosafe dan rangkaiannya meliputi Fog In Place (FIP) OnBoard yang merupakan kabut kering untuk mendesinfeksi bagian dalam bus, kereta api atau trem. Bahan yang digunakan pun bukan bahan kimia beracun, selain itu ada kit perlindungan untuk pengemudi dan teknologi cahaya UVC yang digunakan untuk mendesinfeksi toilet.
Fog In Place (FIP) OnBoard (busnews.com.au)
KabarPenumpang.com melansir laman busnews.com.au (7/7/2020), saat ini pabrikan bus Australia yakni Volgren tengah berupaya agar produk ini bisa digunakan di Negeri Kangguru tersebut. CEO Marcopolo James Bellini mengatakan, konsep ini mempromosikan biosafety penumpang sembari tetap mengikuti pedoman kesehatan dari lembaga pemerintah. “Kami hidup dalam masa yang unik di mana inovasi dan teknologi digabungkan untuk melanjutkan kembali mobilitas dengan aman. Dengan Marcopolo BioSafe, tujuan kami adalah menempatkan diri sebagai mitra pelanggan kami baik di Brasil maupun di luar negeri, memberi mereka syarat untuk terus beroperasi dan mendapatkan kembali kepercayaan mereka. dalam menggunakan transportasi umum,” jelasnya. Bellini mengatakan, dirinya ingin menunjukkan teknologi dalam aksi kepada sebanyak mungkin operator dan secepatnya. Dia mengatakan, bahwa perlu bertindak dengan urgensi dan proaktif untuk menyebarkan serta mendorong penerapan solusi penting ini. “Transportasi umum sangat penting untuk memastikan mobilitas orang dan tidak dapat dilihat sebagai hambatan atau batasan,” tambah Bellini. CEO Volgren Thiago Deiro mengatakan bahwa menanamkan langkah-langkah biosafety ke dalam angkutan umum adalah langkah penting menuju pemulihan kepercayaan penumpang dan akan menjaga keselamatan masyarakat yang bepergian. “Covid-19 telah menciptakan tantangan bagi banyak sektor. Transportasi umum dan transportasi pelajar telah sangat terpengaruh. Kami percaya bahwa langkah-langkah yang dikembangkan di bawah Marcopolo BioSafe dapat memainkan peran penting dalam membantu industri bus Australia pulih secara ekonomi dengan membuat komuter dan anak-anak sekolah nyaman kembali ke perjalanan bus,” katanya. Deiro mengatakan kabut kering FIP OnBoard adalah sistem cepat dan andal yang membersihkan melalui nanopartikel, ini menciptakan ‘nanofilm’ pada 100 persen permukaan. Hanya butuh 15 menit rata-rata untuk menutupi dan membersihkan seluruh area penumpang hingga 72 jam. “Solusi ini tidak membasahi atau meredam kursi, atau merusak sistem kelistrikan bus. Sistem ‘kabut di tempat’ Marcopolo juga menarik karena dapat digunakan tidak hanya di bus, tetapi di banyak aplikasi luas mulai dari ruang kelas sekolah, kafe dan restoran hingga perpustakaan umum,” jelas Deiro. Dia mengatakan, sebagai ayah dua orang anak, dirinya sangat suka melihat bus sekolah dan ruang kelas yang didesinfeksi secara rutin. Deiro menambahkan, ini adalah penghargaan bagi Marcopolo yang mana mereka telah menghasilkan solusi inovatif dalam waktu yang relatif singkat. Baca juga: PO Bus di Myanmar Modifikasi Interior untuk Cegah Penularan Covid-19 Deiro mengatakan Volgren telah bekerja sama dengan Marcopolo untuk meluncurkan langkah-langkah BioSafe dengan bus dan kendaraan. Sedangkan rutenya mereka masih dalam diskusi dengan pelanggan dan operator pemerintah untuk mengukur minat.

Mulai 17 Juli, Scoot Kembali Buka Rute Surabaya-Singapura

Scoot, maskapai penerbangan bertarif rendah atau low-cost carrier (LCC) milik Singapore Airlines Group, diwartakan akan kembali melayani penerbangan antara Surabaya dan Singapura satu kali seminggu mulai 17 Juli 2020. Rute penerbangan Surabaya-Singapura merupakan yang pertama dari lima rute Scoot di Indonesia yang akan kembali beroperasi sejak mayoritas rute tidak beroperasi Maret lalu akibat pendemi Covid-19. Baca juga: Ambil Foto dan Video di Toilet Umum, Awak Kabin Scoot Dipenjara dan Kena Denda Penerbangan Surabaya dan Singapura akan beroperasi satu kali seminggu dengan pesawat narrow body Airbus A320. Dengan semakin banyaknya penerbangan yang beroperasi kembali, Scoot menerapkan sejumlah langkah kesehatan dan keselamatan di seluruh tahap perjalanan penumpang demi menjamin keselamatan penumpang dan kru, mulai dari pra-penerbangan, selama penerbangan, dan pasca-penerbangan. Scoot merupakan salah satu dari sedikit maskapai di dunia dengan kebijakan pembatalan penerbangan yang menawarkan pilihan kepada penumpang untuk mendapatkan pengembalian dalam bentuk uang tunai. Untuk pelanggan yang memilih pengembalian dalam bentuk voucer, Scoot menawarkan tambahan nilai voucer sebesar 20 persen sebagai bentuk apresiasi. Dari lebih dari 6.600 permintaan pengembalian dari Indonesia, sejauh ini Scoot telah memproses sekitar 96 persen. Supaya penumpang dapat memesan tiket mereka dengan percaya diri dan merencanakan perjalanan mereka, Scoot memperpanjang kebijakan perubahan tanggal gratis sebanyak satu kali, untuk semua pemesanan yang dibuat melalui situs web atau aplikasi seluler Scoot mulai saat ini hingga 31 Juli 2020. Baca juga: Scoot Perpanjang Perubahan Tanggal Gratis dengan Perbedaan Tarif Berlaku “Kami senang dapat kembali menerbangi rute antara Surabaya dan Singapura meskipun frekuensinya berkurang, untuk melayani penumpang yang perlu melakukan perjalanan saat ini, terutama mereka yang ingin kembali ke rumah,” ujar Calvin Chan, Scoot Chief Commercial Officer.

Ngeri! Ini Efek Alkohol dan Narkoba Terhadap Performa Pilot

Kasus pilot terlibat barang haram kembali terjadi. Dua pilot dengan inisial DC dan DSK yang masing-masing berasal dari maskapai Garuda Indonesia dan Citilink Indonesia—anak usaha Garuda Indonesia Group, dibekuk Satuan Narkoba Polres Jakarta Selatan beberapa waktu lalu. Keduanya dikabarkan diringkus polisi karena mengkonsumsi narkotika jenis sabu-sabu. Baca juga: Pilot Kedapatan Konsumsi Alkohol, Penerbangan Singapore Airlines dari Melbourne Terpaksa Batal Selain sudah menjadi barang haram, pengguna narkoba dari kalangan pilot tentu sangat membahayakan. Bisa dibilang, pilot yang mengkonsumsi narkoba mendapat ‘dosa’ berlipat-lipat. Sebab, profesi pilot lekat dengan berbagai tindakan krusial yang menyangkut nyawa orang banyak, mulai dari pra penerbangan sampai pasca penerbangan; seperti interpretasi cuaca, peningkatan bahan bakar, pemilihan rute, hingga aspek navigasi penerbangan. Dengan berada diposisi krusial tersebut, jelas bagi pilot untuk tak boleh terganggu ataupun diganggu oleh berbagai hal yang mampu menurunkan performanya. Jangankan narkoba yang jelas-jelas memiliki efek langsung dalam memengaruhi penggunanya, makanan, minuman, laptop, smartphone, serta barang apapun yang tak berhubungan langsung dengan operasional saja dilarang; di bawah aturan sterile cockpit rule. Dilansir skybrary.aero, alkohol dan narkoba atau obat-obatan terlarang memiliki berbagai efek buruk bagi pilot. Khusus untuk narkoba, dari beragam jenis, setidaknya barang haram tersebut ada enam yang pemakaiannya jelas dilarang karena berdampak terhadap performa pilot. Untuk lebih jelas, berikut dampak alkohol dan narkoba pada performa pilot. 1. Alkohol Pilot memiliki dampak langsung terhadap alkohol dibanding pengguna lainnya. Sebab, pilot bekerja di atas udara, dengan tekanan di dalam kabin yang berbeda dengan profesi lain pada umumnya. Studi menunjukkan, alkohol sangat cepat terserap ke dalam darah. Selain itu, alkohol juga dapat diserap oleh telinga bagian dalam. Karena telinga bagian dalam mempengaruhi keseimbangan, pada akhirnya efek alkohol dapat menyebabkan disorientasi dan vertigo. Alkohol juga disebut dapat mempengaruhi kinerja tubuh dalam menyerap oksigen. Belum lagi tekanan kabin yang rendah di atas ketinggian menyebabkan pilot pengguna alkohol dapat mengalami hypoxic hypoxia atau disfungsi hemoglobin dalam menyerap oksigen. Dengan kondisi tersebut, efek negatif kumulatif alkohol dan ketinggian bisa membuat pilot pengguna alkohol terdampak 2-3 kali lipat dibanding pengguna lainnya. Celakanya lagi, efek negatif alokohol juga lambat hilang. Studi menyebut butuh tiga jam untuk menghilangkan efek 1 ons alkohol. 2. Narkoba Jenis Antihistamines Antihistamin sering digunakan untuk mengurangi pengaruh alergi. Bila disalahgunakan, narkoba jenis ini dapat menyebabkan rasa kantuk berlebih, reaksi lambat, dan gangguan fokus. Bisa dibayangkan bukan, bila pilot mengalami reaksi semacam itu ketika di udara. 3. Narkoba Jenis Sulfa Drugs Sulfa Drugs sebetulnya adalah obat antimikroba yang biasa digunakan untuk menghambat pertumbuhan bakteri. Efek samping dari penyalahgunaan obat jenis ini adalah gangguan pengelihatan, pusing, reaksi lambat, dan depresi. 4. Narkoba Jenis Tranquillisers Jenis ini sebetulnya cukup bermanfaat di dunia medis. Bila digunakan di luar itu, tranquillisers atau obat penenang memiliki efek samping buruk bagi penggunanya, mulai dari reaksi lambat, kantuk, konsentrasi berkurang, dan berbagi fokus ke hal-hal tak penting. 5. Narkoba Jenis Motion Sickness Medications Narkoba jenis ini dapat menyebabkan kantuk dan menekan fungsi otak. Obat tersebut juga dapat mengganggu pengguna dalam proses pengambilan keputusan. Baca juga: Inilah Alasan Awak Kabin Hingga Terjerumus dalam Kecanduan Obat dan Alkohol 6. Weight Loss Drugs Obat ini sebetulnya cukup baik bila digunakan dalam waktu dan tempat yang tepat. Namun bagi pilot, cukup berisiko. Sebab, obat penurun berat badan itu dapat menyebabkan hilangnya nafsu makan serta menyebabkan perasaan sehat berlebih sehingga juga dapat mempengaruhi keputusan berlebih. 7. Barbiturates Barbiturat, termasuk fenobarbital terbukti nyata dapat mengurangi kewaspadaan atau fokus pengguna.

Enak Banget, Penumpang Etihad Bisa Rapid Test dan PCR Test Covid-19 di Rumah! Begini Teknisnya

Maskapai dunia berlomba-lomba melakukan inovasi guna memberi kemudahan bagi calon penumpang pada layanan rapid test. Maskapai Emirates jadi yang pertama soal ini. Sejak pertengahan April lalu, maskapai asal Dubai ini sudah menerapkan wajib rapid test sebelum terbang di terminal keberangkatan. Hasilnya keluar dalam tempo 10 menit. Baca juga: Emirates Jadi Maskapai Pertama Lakukan Rapid Test Corona ke Seluruh Penumpang Tak mau kalah, Lufthansa mengeluarkan terobosan baru. Rapid test ala Lufthansa sangat memudahkan penumpang. Bila sebelumnya exclude tiket, maskapai nasional Jerman itu memberi akses layanan rapid test Covid-19 include tiket. Tak lama berselang, langkah tersebut juga diikuti oleh maskapai dunia, termasuk maskapai penerbangan Indonesia, seperti Lion Group, Citilink, dan Garuda Indonesia. Namun, rapid test yang dijalankan maskapai-maskapai di atas masih sedikit merepotkan. Empat atau delapan jam sebelum terbang, penumpang harus mendatangi klinik atau lokasi rapid test Covid-19 yang sudah ditunjuk. Garis bawahi, mendatangi, bukan didatangi. Cukup merepotkan, bukan? Seolah menjawab kebutuhan penumpang, Etihad Airways, pesaing ketat maskapai kelas wahid di Dubai bersama Emirates, belum lama ini melakukan inovasi menarik. Betapa tidak, salah satu dari tiga maskapai terbaik di Timur Tengah itu (The Three Mega Carrier Middle East) menawarkan layanan rapid test dan PCR test (sesuai tujuan masing-masing penumpang) Covid-19 tanpa ribet, yakni di rumah. Tentu, untuk PCR test, sampel tetap dibawa ke laboratorium. Dilansir dari The National, untuk mendapatkan layanan rapid test dan PCR test Covid-19 di rumah, calon penumpang hanya perlu menghubungi mitra kesehatan Etihad, Mediclinic Middle East, via telepon, chat whatsaap, ataupun email di etihad@mediclinic.ae, guna menemukan tanggal dan waktu yang pas. Dikarenakan prosesnya panjang dan butuh waktu, mengingat harus mendatangi satu per satu penumpang di rumah masing-masing, rapid test dan PCR test Covid-19 di rumah ala Etihad harus dilakukan setidaknya 48 jam sebelum keberangkatan. Setelah berjanjian dalam rentang waktu tersebut (48 jam sebelum keberangkatan), petugas medis akan mendatangi calon penumpang dan hasilnya akan keluar 24 jam setelahnya. Akan tetapi, bila calon penumpang tetap ingin mendapat layanan rapid test dan PCR test Covid-19 Etihad di fasilitas kesehatan, mereka bisa mendatangi lokasi-lokasi Mediclinic di tiga kota, Dubai, Abu Dhabi, dan Al Ain. Tidak dijelaskan secara rinci berapa lama hasil rapid test dan PCR test Covid-19 Etihad berlaku. “Menerapkan layanan rapid test (termasuk PCR test) di rumah akan menghilangkan banyak stres yang tidak perlu dari pengalaman perjalanan selama periode yang penuh tantangan ini,” kata Dr Nadia Bastaki, wakil presiden layanan medis Etihad. “Seluruh proses pengujian dilakukan oleh profesional yang terlatih, dan laboratorium pengujian Covid-19 kami yang berada di Abu Dhabi dan Dubai akan menjamin hasil rapid test dan PCR test keluar lebih cepat,” jelas David Hadley, CEO Mediclinic Middle East. Baca juga: Jepang Buka Pusat Uji Covid-19 di Tiga Bandara untuk Pelancong dari Luar Negeri Setelah hasil rapid test Covid-19 dan atau PCR test keluar, bila hasilnya negatif, penumpang bisa melanjutkan perjalanan. Bila positif, penumpang perlu mengatur ulang jadwal dan akan mengikuti program karantina yang dihandle langsung oleh Otoritas Kesehatan Dubai (DHA). Sebagai informasi, sebetulnya, Uni Emirat Arab (UAE) tak mengharuskan wisatawan ikut rapid test dan PCR test Covid-19 sebelum meninggalkan UAE. Namun, beberapa negara mewajibkan seluruh penumpang masuk dibekali dengan hasil rapid test Covid-19. Bahkan, di beberapa negara lainnya mengharuskan penumpang memiliki hasil PCR test.

Boeing 777X Didapuk Terbang Tahun Depan, Delapan Maskapai Dunia Sudah Tak Sabar

Setelah pesawat pertama terbang perdana pada akhir Januari lalu, disusul pesawat kedua juga sukses terbang perdana pada awal Mei lalu, prospek Boeing 777X semakin menemui titik cerah. Meskipun sempat diterpa isu miring terkait keselamatan dan keamanan pesawat akibat hadirnya fitur baru folding wingtip, di samping isu wabah Covid-19 yang mengganggu proses pengembangan pesawat, Boeing 777X kini disebut akan mulai terbang tahun depan. Baca juga: Ditengah Keraguan Soal “Folding Wingtip,” Boeing 777X Sukses Terbang Perdana Insideflyer.com melaporkan, Lufthansa menjadi pelanggan pertama, tak lama setelah peluncuran pesawat pesaing Airbus A350 XWB pada 2013 lalu. Selang tujuh tahun kemudian, setidaknya tujuh maskapai lainnya menyusul. Mereka adalah, All Nippon Airline (ANA), British Airways, Cathay Pacific, Emirates, Etihad Airways, Qatar Airways, dan Singapore Airlines. Dilihat dari daftar maskapai yang sudah hampir dipastikan bakal mengoperasikan Boeing 777X, dimana mayoritas dari mereka adalah maskapai-maskapai terbaik di dunia dengan reputasi tinggi, baik dari pelayanan maupun keselamatan, hal itu tentu sejalan dengan pandangan positif pengamat tentang kehadiran pesawat ini. Dikutip dari laman simpleflying.com, Jum’at, (31/1), dengan menawarkan kabin yang lebih luas (sekitar 5,97 meter), jendela yang 16 persen lebih besar dari kompetitor, dan desain jendela yang naik delapan persen dari pada umumnya, 777X disebut-sebut layak diperhitungkan dalam merebut hati pengunjung. Tak hanya itu, dengan dukungan mesin baru GE9X GE Aviation, bentang sayap yang lebih luas (71.1 meter), dan dimensi yang lebih panjang (70-76 meter), juga semakin melengkapi tingkat kenyamanan dan pengalaman baru yang ditawarkan oleh interior pesawat. Dengan desain jendela 16 persen lebih lebar, penumpang dimungkinkan untuk dapat lebih leluasa menikmati pemandangan di luar pesawat. Selain itu, desain posisinya yang sedikit lebih ke atas dari biasanya juga membuat penumpang lebih mudah melihat ke luar dan mendapatkan cahaya. Lebar kabin yang mencapai hampir enam meter juga membuat penumpang, bahkan di kelas ekonomi sekalipun, mendapatkan kenyamanan yang cukup dari segi leg room. Hal itu kemudian dilengkapi dengan lebar tempat duduk yang hampir mencapai batas maksimal. Bila pada umumnya lebar tempat duduk 43-47 cm, 777X menawarkan tempat duduk diangka 46 persen, pada kelas ekonomi. Sangat nyaman, bukan? Kalau kelas ekonominya saja sudah nyaman, bagaiaman dengan kelas bisnisnya? Pasti lebih nyaman, bukan? Dari kacamata bisnis atau berkaitan dengan maskapai, dimensi pesawat yang jauh lebih besar dari kompetitornya, baik dari ukuran jendela, panjang pesawat, luas kabin, dan ketinggian pesawat, membuat maskapai mempunyai banyak pilihan untuk berkreasi. Utamanya bagi para maskapai jempolan, seperti Cathay Pacific, Singapore Airlines, British Airways, ANA, Lufthansa, Emirates, dan Qatar Airways. Sebagaimana yang sudah diberitakan sebelumnya, 777X membuat dua tipe atau model, model pertama yakni 777X-8 akan memuat sekitar 384 penumpang dan memiliki jangkauan 16.093 kilometer, dan 777X-9 akan memuat sekitar 426 penumpang, dengan daya jelajah sekitar 13.491 km. Boeing sendiri telah menawarkan desain pesawat dalam konfigurasi 2-3-2, dengan konfigurasi kelas bisnis pada kisaran 10-14 kursi. Adapun 777X-10 masih dirahasiakan dimensi dan kapasitasnya, mengikuti waktu peluncuran di kemudian hari. Baca juga: Boeing 777X Kedua Sukses Terbang Perdana Bagi sebagian pengamat, konfigurasi 2-3-2 kemungkinan kecil akan diterapkan oleh maskapai. Sebaliknya, mereka diprediksi akan menggunakan konfigurasi 2-4-2. Dua bangku di pinggir dan empat bangku di tengah. Sisanya, justru mereka akan lebih meminimalkan konfigurasi pada kelas bisnis sehingga servis ke para penumpang spesialnya tersebut jadi lebih variatif dan lebih menjual serta mampu membawa cita rasa yang berbeda di masing-masing maskapai. Namun demikian, sekalipun pada konfigurasi 2-4-2 pada kelas ekonomi, dimensi pesawat yang lebih luas akan memudahkan maskapai untuk tetap memberikan kenyaman pada pelanggan kelas ekonominya tersebut.

Polemik PHK Pilot Usai! Inilah Delapan Cara British Airways Capai Win-Win Solution

British Airways (BA) dikabarkan berhasil meredam gejolak di tubuh internal mereka pasca puncak industri penerbangan hancur akibat Covid-19 pada Maret-April lalu. Diketahui, gejolak tesebut terjadi usai maskapai nasional Inggris itu mengumumkan rencana PHK 12 ribu karyawan, termasuk pilot dan pramugari. Baca juga: Puluhan Ribu Karyawan British Airways Kena PHK Massal, Benarkah? Atas rencana tersebut, BA bukan hanya mendapat kecaman dari karyawan, melainkan juga publik dan pejabat dari partai oposisi. Merespon hal itu, British Airways kemudian merevisi jumlah karyawan yang di PHK menjadi lebih sedikit pada Mei, namun menggantinya dengan rencana kebijakan tak kalah kejam; memotong gaji pramugari senior hingga 50 persen secara permanen, selain PHK dalam jumlah besar. Memasuki bulan Juni, salah satu maskapai terbaik di dunia ini justru mengeluarkan ultimatum kejam, mengancam akan mem-PHK seluruh pilot dan merekrut kembali beberapa di antaranya dengan kontrak jauh di bawah rata-rata. Tentu saja serikat pilot maskapai penerbangan Inggris (BALPA) mengecam upaya tersebut. Pasca rencana ‘jahat’ itu, BALPA dan manajemen BA terus bernegosiasi. Meskipun sempat alot, perlahan titik terang mulai muncul. Dilansir onemileatatime.com, belum lama ini, keduanya (BALPA dan British Airways) sudah bersepakat dengan sejumlah keputusan. Keputusan tersebut pada intinya bisa dibilang dimenangkan oleh BALPA. Sebab, perusahaan akhirnya mengambil langkah 180 derajat berlawanan dari ultimatum sebelumnya (memecat seluruh pilot). Manajemen BA diketahui kalah negosiasi dan berjanji akan mem-PHK lebih sedikit karyawan (itu pun jika terpaksa), termasuk di dalamnya pilot dan pramugari. Agar lebih jelas, berikut berbagai kesepakatan kreatif dan akomodatif atau win-win solution antara BALPA dan manajemen BA. 1. Semua pilot yang masih tersisa hanya akan dikurangi gajinya sebanyak 8 persen mulai September 2020 mendatang. Angka tersebut jauh di atas ultimatum manajemen di angka 50 persen atau lebih. 2. Setelah mendapat potongan gaji selama 8 persen mulai September 2020, semua pilot yang masih tersisa, secara bertahap, juga akan dikurangi gajinya sebanyak 8 persen hingga September 2022. 3. Realisasi kenaikan gaji pilot akan ditunda, dari sebelumnya April 2021 menjadi Januari 2024. 4. Pilot wajib mengambil cuti tanpa dibayar atau sukarela selama dua pekan, antara Agustus 2020 dan April 2021. 5. Pemotongan gaji tidak akan dilakukan secara permanen. 6. Pilot hanya diminta untuk mengundurkan diri secara sukarela. Manajemen menargetkan sebanyak 450 pilot melakukan hal itu, meskipun tak ada unsur paksaan dan perusahaan akan tetap legowo bila seluruh pilot memilih bertahan. Baca juga: Negosiasi ‘Kejam’ ala British Airways, Mulai dari PHK Hingga Turunkan Gaji Pilot 7. Pilot yang secara terpaksa sekali harus terkena PHK, akan dijanjikan menjadi prioritas bila manajemen British Airways membuka keran lowongan karyawan (pilot) tiga tahun mendatang. 8. Manajemen BA tetap akan membayar pilot yang tak terbang, sekalipun hanya setengah gaji. Hal itu dimungkinkan karena mereka hanya menganjurkan pilot untuk mengundurkan diri. Bila tidak, pastinya mereka kelebihan pilot. Untuk mengatasi hal itu, manajemen BA akan memutar uang hasil potongan gaji karyawan untuk membayar gaji pilot tersebut.

Penumpang Tidur di Kereta dan Terkunci? Tak Hanya Indonesia, di Luar Negeri Juga Ada Lho!

Seorang penumpang kereta api listrik (KRL) tujuan Stasiun Bekasi ketiduran di dalam kereta. Penumpang ini juga tak bisa keluar dari gerbong karena pintu tertutup dan kereta saat itu bersiap menuju ke lokasi stabling atau area parkir. VP Corporate Communication PT KCI Anne Purba mengatakan, penumpang tersebut menggunakan KRL KA 1444 dari Jakarta Kota ke Bekasi dan masih berada di dalam rangkaian beberapa menit setelah tiba ditujuan. Baca juga: Bikin Geli, Inilah Kumpulan Gaya Tidur Penumpang di Kereta Komuter Lokal Dia menjelaskan saat itu rangkaian kereta dalam posisi aman berhenti dengan listrik tetap menyala dan pintu tertutup. Kemudian petugas yang sedang menyelesaikan administrasi perjalanan kembali mengecek kereta sebelum dijalankan ke lokasi stabling. “Petugas kemudian membantu pengguna tersebut keluar. Pengguna juga sebelumnya menghubungi Twitter @commuterline yang segera mengkomunikasikan dengan petugas di stasiun. Pengguna kemudian menyelesaikan perjalanan di Stasiun Bekasi dengan keluar/tap out dari gate elektronik stasiun seperti pengguna lainnya,” kata Anne yang dikutip KabarPenumpang.com dari detik.com. Namun nyatanya penumpang ketiduran di kereta tak hanya terjadi di Indonesia, tetapi di berbagai negara pun juga ada. Seperti di Israel, seorang penumpang tertidur dalam kereta Israel Railways. Penumpang ini terkunci semalaman dan tidak ditemukan petugas keamanan hingga esok paginya. Penumpang yang tak disebutkan namanya tersebut tertidur di kereta dari Beersheva menuju ke Ashdod. Pihak Israel Railways mengatakan, petugas keamanan memeriksa secara rutin untuk memeriksa penumpang dan barang-barang tertinggal di akhir setiap perjalanan. Namun nyatanya, saat itu mereka gagal memerhatikan sekeliling sehingga penumpang itu terkunci di dalam kereta. Penumpang tersebut menjelaskan ketika dirinya terbangun ditengah malam, kereta terkunci di Stasiun Ra’anana dan tidak dapat meminta bantuan karena ponselnya kehabisan baterai dan menunggu hingga pagi ketika seorang staf terkejut melihatnya kemudian membantunya keluar dari kereta. Israel Railways mengatakan bahwa insiden itu sedang diselidiki. Sementara itu, staf keamanan diperintahkan untuk meninjau protokol untuk memeriksa kereta setelah mereka mencapai perhentian terakhir. Selain itu Victoria Munroe juga pernah tertidur di dalam kereta Lakeshore East ketika dirinya akan pergi ke Pickering dari Union Station. Saat itu, dirinya tertidur dan terbangun sekitar pukul 01.30 pagi waktu setempat dan ada 16 panggilan tak terjawab dari sang kekasih. Ketika terbangun dirinya kemudian mencoba untuk keluar namun langsung menyadari bahwa pintu kereta terkunci. “Aku duduk di kereta, sebagian ketakutan. Saya tidak punya makanan. Saya tidak tahu di mana saya berada. Saya bisa berada di mana saja di GTA. Saya tidak tahu di mana mereka memarkir kereta, “katanya. Baca juga: Pyka, Aplikasi Unik Untuk Penumpang Yang Sering Ketiduran di Kereta Dengan baterai ponsel terakhirnya, dia dapat menghubungi pacarnya, yang kemudian menghubungi GO Transit. Empat puluh lima menit kemudian seorang karyawan membuka kunci pintu. Monroe mengatakan cobaan itu telah menyebabkan kecemasannya yang abadi.

Lewat Mata, ‘Pintu’ Masuk Penyebaran Covid-19 Lebih Cepat

Selain menggunakan masker ternyata face shield juga sangat dibutuhkan ketika seseorang bepergian menggunakan angkutan umum atau bertemu dengan orang lain. Hal ini karena mata menjadi rute penting dalam penyebaran virus corona atau Covid-19 atau SARS-Cov-2 dan bahkan 100 kali lebih cepat dibandingkan virus SARS lainnya. Baca juga: Singapura Bedakan Ketentuan Penggunaan Face Shiled dan Masker KabarPenumpang.com melansir scmp.com (8/5/2020), mata menjadi tempat penularan Covid-19 ini lebih cepat setelah Universitas Hong Kong melakukan studi. Para peneliti menemukan strain tersebut hingga 100 kali lebih cepat menular dibandingkan sindrom pernapasan akut yang parah dan flu burung dalam dua lubang wajah yang diuji oleh para ahli kesehatan masyarakat. Tes laboratorium mengungkapkan tingkat virus SARS-Cov-2 yang menyebabkan penyakit Covid-19 jauh lebih besar dari virus SARS biasa di saluran pernapasan atas dan konjungtiva dalam sel-sel yang melapisi permukaan mata. Dr Michael Chan Chi-wai yang memimpin penelitian ini memberikan bukti bahwa virus ini dapat menginfeksi manusia melalui kedua titik masuk. “Kami membiakkan jaringan dari saluran pernapasan manusia dan mata di laboratorium dan menerapkannya untuk mempelajari SARS-Cov-2, membandingkannya dengan SARS dan H5N1. Kami menemukan bahwa SARS-Cov-2 jauh lebih efisien dalam menginfeksi konjungtiva manusia dan saluran pernapasan bagian atas daripada SARS, dengan tingkat virus sekitar 80 hingga 100 kali lebih tinggi,” kata Dr. Chan. Dia mengatakan, ini menjelaskan transmisibilitas Covid-19 yang lebih tinggi dari SARS dan studi ini juga menyoroti fakta bahwa kemungkinan mata menjadi rute penting infeksi SARS-Cov-2 ke manusia. Adanya studi ini memperkuat saran kepada masyarakat untuk tidak menyentuh mata mereka dan mencuci tangan secara teratur untuk menghindari infeksi setelah para peneliti sebelumnya menemucan Covid-19 bisa bertahan tujuh hari pada permukaan stainless steel dan plastik. “Meskipun ada tanda-tanda bahwa epidemi Covid-19 semakin stabil di Hong Kong, situasi di tempat lain di dunia masih serius. Masih banyak kasus baru dilaporkan setiap hari di, katakanlah, Rusia dan Eropa. Kita seharusnya tidak lengah,” ujar Dr Chan. Temuan-temuan dari tim Dr Chan dan lainnya menantang asumsi yang dipegang secara luas pada tahap paling awal krisis kesehatan bahwa staf medis akan dilindungi secara memadai dengan masker N95 dan pakaian pelindung, tanpa memerlukan kacamata khusus. Pada tahap awal krisis Covid-19 diasumsikan bahwa tenaga medis akan cukup dilindungi dengan mengenakan masker wajah N95 dan pakaian pelindung, dan tidak memerlukan kacamata khusus. Kemudian temuan dari Dr Chan akhirnya menantang asumsi ini. Untuk diketahui, wabah Covid-19 pertama kali terungkap pada akhir Desember setelah kasus terdeteksi di kota Cina, Wuhan. Para ilmuwan yang telah mempelajari sumber virus mengatakan bahwa itu berasal dari hewan, dan mungkin memasuki populasi manusia pada bulan November. Baca juga: Bandara Tianhe Wuhan, Semakin Dikenal Karena Wabah Virus Corona Dilaporkan seorang spesialis pernapasan terkenal di Universitas Peking, Dr Wang Guangfa, diduga telah terinfeksi oleh coronavirus melalui matanya. Dikatakan bahwa pada akhir Januari, Dr Wang menunjukkan gejala demam dan radang selaput jantung sekitar tiga jam setelah ia menderita konjungtivitis di satu mata sekembalinya dari Wuhan. Dia kemudian dikonfirmasi memiliki Covid-19.