Miris, Boeing dan Airbus Hanya Jual Satu Pesawat di Bulan Juni
Industri penerbangan global tampaknya masih bisa dibilang kirisis. Betapa tidak, dari sebelumnya (dalam keadaan normal), dua pabrikan asal Eropa dan Amerika Serikat (AS) itu bisa mendapat pesanan hingga puluhan pesawat setiap bulan, di bulan Juni lalu, mereka hanya bisa mendapat satu pesanan pesawat. Itupun bukan pesawat penumpang, melainkan pesawat kargo.
Baca juga: 4 Poin Head to Head Boeing vs Airbus, Mana Lebih Unggul?
Raksasa jasa pengiriman asal AS, FedEx, dikabarkan membeli pesawat kargo dari Boeing. Adapun Airbus dikabarkan bukan mendapat satu pesanan baru, melainkan mengeksekusi pesanan lama.
Dilansir euractiv.com, selain mencatat hasil negatif dari segi pesanan pesawat baru, Airbus juga diketahui mengirim pesawat jauh di bawah rata-rata dibanding periode yang sama di tahun lalu. Pada paruh pertama 2020, perusahaan hanya mampu mencetak 196 pengiriman, dengan rincian 14 pada April, 24 pada Mei, dan 36 pesawat komersial pada Juni. Bandingkan dengan paruh pertama 2019, dimana Airbus mampu mengirim hingga 389 pesawat.
Dari catatan di atas, khususnya pesanan baru di bulan Juni, secara substansial, Boeing bisa dibilang unggul dari Airbus. Namun, bila melihat total pesanan pesawat di tahun ini, Airbus masih lebih unggul. Boeing awalnya sempat selangkah di depan dari banyaknya pesanan salah satu pesawat anyar mereka, Boeing 737 MAX.
Akan tetapi, pasca sederet kecelakaan, 60 pesanan 737 MAX terpaksa dibatalkan serta 123 lainnya terpaksa dihapus dari backlog akibat keraguan maskapai terhadap pabrikan. Dengan begitu, Boeing total mendapat 323 pembatalan pesanan dan bertahan di angka 59. Sedangkan Airbus, sejauh ini masih memiliki 298 pesanan.
Boeing sebetulnya memiliki kans untuk balik menyalip Airbus dari segi pesanan bila Boeing 737 MAX mendapat restu kembali terbang secara komersial. Seperti diketahui, belum lama ini, regulator penerbangan sipil Amerika Serikat (FAA) resmi menyudahi proses sertifikasi ulang Boeing 737 MAX, kemarin. Dengan begitu, total Boeing 737 MAX 7, pendahulu MAX 8, sudah menjalani proses sertifikasi ulang -untuk memungkinkannya terbang lagi- selama 3 hari dan total terbang sebanyak 10 jam.
Baca juga: Meski Boeing Keok, Airbus Belum Bisa Salip Boeing dalam Urusan Produksi Pesawat
Saat ini administrator FAA masih mempelajari hasil pengujian. Tetapi, bila pun 737 MAX mampu melewati sertifikasi FAA dengan baik, hal itu tak lantas membawa mereka kembali ke langit dunia. Pasalnya, EASA atau Badan Keselamatan Penerbangan Eropa dikabarkan ngotot untuk melakukan sertifikasi sendiri terhadap Boeing 737 MAX.
Bila tidak, EASA mengancam tak akan mengizinkan MAX memasuki ruang udara mereka, hal yang sangat merugikan tentunya bagi seluruh maskapai jika mengoperasikan pesawat itu. Dengan demikian, mau tak mau Boeing harus mengikuti kemauan EASA, selain lobi-lobi politik tentunya, mengingat kedua perusahaan (Boeing dan Airbus) merupakan representatif dari dua kekuatan dunia, AS dan Eropa.
Xpressair Gebrak Rute Semarang-Sampit Lewat Program “Murah Meriah Untung Melimpah”
Setelah kembali mengudara pada akhir Maret lalu, Xpressair mulai mengisi pos penting di jagat penerbangan dalam negeri. Hal itu bisa dilihat tingginya animo masyarakat terhadap rute-rute yang dijajaki maskapai, seperti Jakarta (CGK) – Pangkalan Bun (PKN) PP, Sampit (SMQ) PP, Muara Bungo (BUU), Pontianak (PNK) PP, dan Padang (PDG).
Baca juga: Tuntas Mengabdi di Timur Indonesia, Xpressair Fokus Hubungkan Jawa-Sumatera dan Kalimantan
Merespon hal itu, maskapai yang mulai beroperasi secara komersial pada 23 Juni 2003 ini pun membuka rute baru keberangkatan dari Semarang ke beberapa kota, sperti Palembang, Banjarmasin, dan Sampit. Khusus untuk rute Semarang-Sampit, belum lama ini maskapai yang memiliki motto “Terbanglah Indonesia” itu meluncurkan program “Murah Meriah Untung Melimpah”.
“Dengan adanya program ‘Murah Meriah Untung Melimpah’ Xpressair memberikan potongan harga sampai dengan 600 Ribu Rupiah dengan syarat pembelian tiket pulang pergi,” bunyi rilis Xpressair yang diterima KabarPenumpang.com.
“Promo diskon berlaku mulai tanggal 15 Juli 2020 sampai 25 Juli 2020. Dengan periode terbang mulai tanggal 15 Juli 2020 sampai dengan 30 Juli 2020. Tiket diskon dapat langsung diperoleh saat booking melalui website kami www.xpressair.co.id dan travel agent atau online travel agent,” bunyi keterangan lainnya.
Selain mendapat harga spesial jauh di bawah rata-rata, mengingat harga normal bisa mencapai Rp1,45 juta per orang di setiap keberangkatan, dalam penerbangan yang menggunakan pesawat ATR 42-300 ini, penumpang Xpressair juga diberikan fasilitas gratis bagasi hingga 10Kg. Termasuk juga snack gratis yang akan dibagikan awak kabin sesaat setelah lepas landas. Menarik, bukan?
Untuk penerbangan Semarang-Sampit, Xpressair beroperasi pada setiap Senin, Rabu, dan Jum’at. Pukul 12.00. Sebaliknya, rute Sampit-Semarang beroperasi pada Selasa, Kamis, dan Sabtu pukul 07.00.
Baca juga: Berbasis di Makassar, Xpressair Jadi Raja di Rute Indonesia Timur
Mengantisipasi tingginya animo masyarakat, Xpressair menghimbau agar seluruh calon penumpang membawa kelengkapan dokumen dan datang lima jam sebelum keberangkatan agar tak terjadi antrean panjang saat pemeriksaan kelengkapan dokumen.
Sebagai informasi, saat masih di puncak kejayaan, Xpressair sempat digadang-gadang menjadi salah satu maskapai terbesar untuk wilayah-wilayah Indonesia Timur dengan melayani 33 rute ke berbagai wilayah di Indonesia Timur. Salah satu rute favorit bagi kalangan wisawatan domestik maupun mancanegara yakni penerbangan langsung dari Jakarta ke Sorong, setiap harinya, untuk kemudian wisatawan melanjutkan perjalanan ke destinasi favorit di Raja Ampat.
Airbus Helicopters Siapkan Suksesor Helikopter Terlaris H125, Bertenaga Listrik?
Belum lama ini, pemerintah Perancis meluncurkan “Plan Aero” sebagai roadmap kedirgantaraan negara di masa mendatang. Salah satu target ambisius Plan Aero adalah memulai penerbangan ramah lingkungan sesegera mungkin.
Baca juga: Kejar Target Produksi Pesawat Tanpa Emisi di 2035, Airbus Pertimbangkan Penggunaan Hidrogen
Guna memuluskan langkah tersebut, pemerintah Perancis yang mengucurkan dana sebesar 1,5 miliar euro pada pertengahan Juni lalu. Begitu juga dengan Airbus dan beberapa perusahaan dirgantara seperti Dassault Aviation, Thales, serta Safran yang mengucurkan dana masing-masing sebesar 200 juta euro.
Hasil pendanaan itu disebut akan digunakan untuk mengejar target realisasi pesawat netral karbon, A320, pada 2035 mendatang. Ada dua pilihan bahan bakar ramah lingkungan, biofuel dan hidrogen.
Tak hanya itu, Pemerintah Perancis juga ingin melihat pesawat-pesawat Airbus sudah ditenagai oleh bahan bakar ramah lingkungan, baik itu listrik maupun hidrogen pada 2030 yang didapuk lebih hemat hingga 40 persen. Pun demikian dengan Airbus Helicopters yang ditargetkan lebih awal (memproduksi helikoper ramah lingkungan) pada 2029.
Merespon target tersebut, Airbus Helicopters akan mulai melakukan pengembangan lewat salah satu helikopter terlaris mereka, H125 light-single.
Namun, alih-alih mengikuti arahan pemerintah, membuat produk bertenaga listrik ataupun hidrogen, pabrikan itu malah tetap mempertahankan teknologi konvensional. Tetapi, tujuan mencapai tingkat penghematan hingga 40 persen tetap dikejar dengan konsep “techno-bricks” yang sama sekali tak ada hubungannya dengan listrik.
Tomasz Krysinski, kepala inovasi dan riset Airbus Helicopters, mengatakan konsep “techno-bricks” cocok untuk mengantarkan target efisiensi helikopter hingga 40 persen, ketimbang membekalinya (helikopter) dengan tenaga listrik yang dinilainya masih belum mumpuni.
Konsep “techno-bricks” di sini berfokus pada tiga hal, peningkatan aerodinamis -baik rotor dan badan pesawat; pengurangan massa atau bobot helikopter -melalui teknik dan komponen baru helikopter; serta perbaikan pada siklus termodinamika mesin turbin gas.
Baca juga: Airbus Helicopters UK dan Universitas Cranfield Inggris Uji Sistem Pemantau Rotor Real Time
“Kami benar-benar membutuhkan kebutuhan energi (pesawat) serendah mungkin; mengurangi gaya drag hingga 30 persen, misalnya,” kata Tomasz Krysinski, seperti dikutip dari Flight Global.
Krysinski melanjutkan, saat ini proses pengujian “techno-bricks” masih berlangsung. Oleh sebab itu, peluncuran resmi program pengganti atau suksesor helikopter H125 masih menggantung di langit. Sampai proses tersebut mengalami titik terang, suksesor H125 akan terus menjadi rahasia, entah dengan tetap mempertahankan konsep “techno-bricks” atau mau tak mau harus beralih ke listrik ataupun hidrogen, meskipun dengan konsekuensi perubahan total.
25 Juli 2020, Malaysia Airlines dan Japan Airlines Luncurkan Kemitraan Bersama
Dua maskapai dari aliansi Oneworld yakni Malaysia Airlines dan Japan Airlines pada 25 Juli 2020 mendatang akan meluncurkan kemitraan bersama mereka. Nantinya kemitraan ini akan bekerja sama secara komersial dalam penerbangan antara Malaysia dan Jepang. KabarPenumpang.com melansir businesstraveller.com (12/7/2020), dalam kerja sama ini, kedua maskapai tersebut akan mengoperasikan empat penerbangan mingguan antara Tokyo dan Kuala Lumpur.
Baca juga: Tiga Kelas Ekonomi Baru Jadi Pilihan Penumpang Malaysia Airlines
Keduanya berharap operasi ini akan berfungsi sebagai model bisnis yang berkelanjutan antar Malaysia Airlines dan Japan Airlines. Bahkan kedua operator ini bertekad untuk menerapkan standar tertinggi dalam memastikan pengalaman perjalanan penumpang dan staf baik awak darat maupun kabin, di mana mereka terlindung dari paparan virus corona. Group Chief Officer Malaysia Airlines Kapten Izham Ismail mengatakan, dirinya berharap bahwa hubungan antar dua maskapai ini akan memberikan perjalan mulus dan menjadi kontributor positif bagi kedua ekonomi di dua negara selama masa sulit ini.
“Saya senang bahwa Bisnis Bersama akhirnya lepas landas setelah beberapa bulan penundaan karena pembatasan perjalanan antara kedua negara. Kami menantikan diskusi bilateral antara pemerintah Malaysia dan Jepang untuk membangun gelembung perjalanan antara kedua negara, yang akan memudahkan pembatasan untuk perjalanan lintas batas,” kata Ismail.
Dia menambahkan, Malaysia Airlines menjadi maskapai nasional negara itu dan Japan Airlines memainkan peran penting dalam menghidupkan kembali perekonomian dan mereka yakin adanya sinergi ini akan memfasilitasi perdagangan serta meningkatkan pariwisata bagi keduanya. Presiden Japan Airlines, Yuji Akasaka mengatakan, dirinya optimis bahwa adanya kemitraan ini dapat menarik penumpang kembali ketika mereka bersiap untuk melakukan perjalan kembali dan memberikan kualitas layanan yang ditingkatkan.
Baca juga: Japan Airlines Izinkan Pramugari Gunakan Celana Panjang dan Sepatu Tanpa Hak
Komisi Penerbangan Malaysia dan Kementerian Pertanahan, Transportasi, dan Pariwisata Jepang menyepakati serta memprakarsai kemitraan bisnis bersama awal tahun lalu, dengan memberikan pengecualian individu dan kekebalan antimonopoli, masing-masing. Kemitraan bisnis bersama juga akan memungkinkan kedua operator untuk berkoordinasi dan berkolaborasi di luar pasar penumpang, di area operasional lainnya, seperti kargo dan mengembangkan industri pariwisata di pasar Jepang serta Malaysia.
Kalau ke Jogja, Jangan Lupa Nikmati Perjalanan dan Ngopi di Coffee On The Bus
Pandemi virus corona tak hanya membuat dunia penerbangan sempat terhenti, para pemilik perusahaan otobus atau PO pariwisata harus menghentikan operasinya. Bahkan bisa dikatakan sudah berbulan-bulan mati suri semenjak virus ini masuk ke Indonesia. Namun meski begitu apakah para pemilik PO bus berhenti untuk beroperasi semuanya? Ternyata tidak semuanya seperti itu, salah satunya adalah pemilik PO Rejeki Transport yang menjadikan busnya begitu bermanfaat meski tidak membawa rombongan pelancong untuk berlibur.
Baca juga: Mau Makan di Restoran dengan Sensasi Bandara dan Pesawat? Yuk ke Jogja Airport Resto
KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, pemilik PO Rejeki Transport Wiwit Kurniawan memiliki cara tersendiri agar busnya beroperasi yakni dengan menghadirkan Coffee on The Bus. Coffee on The Bus ini sendiri mulai dioperasikan sejak 27 Juni 2020 kemarin dan memiliki beberapa pilihan jam keberangkatan yakni 09.00, 13.00, 16.00 dan 19.00 WIB.
Perjalanannya dilakukan selama satu jam dengan Jetbus Scania yang akan mengelilingi kota Yogyakarta dengan rute Kotabaru-Tugu-Kiai Mojo- Bugisan-Kotagede-JEC-Janti-Jalan Solo-Kotabaru. Di dalam bus, seluruh penumpang yang naik akan disajikan makanan ringan yang ditempatkan di tempat duduk masing-masing.
Tak hanya itu, barista yang ikut dalam perjalanan tersebut akan menyajikan secangkir kopi Merapi dengan metode manual brewing. Nah, karena tak semua penumpang bisa minum kopi, barista ini akan menyajikan sari kacang hijau ataupun teh tarik yang dibuat langsung di depan meja pelanggan.
“Kami bekerjasama dengan tenant ternama untuk pemilihan Snack. Soalnya kami juga mengutamakan kualitas. Kopi 100 persen asli didatangkan dari Gayo, Solok, Lampung Merapi dan lain-lain. Sebenarnya saya juga ingin memperkenalkan Kopi Merapi agar pariwisata di Yogyakarta bisa bangkit lagi,” kata Wiwit yang dikutip dari jogja.tribunnews.com (1/7/2020).
Wiwit mengatakan kehadiran Coffee on The Bus sendiri bertujuan agar sektor pariwisata Yogyakarta perlahan bisahidup kembali setelah empat bulan terhenti karena virus corona ini.
“Dengan adanya pandemi ini orang ketakutan ke luar tapi kita coba dengan refreshing, orang kan sekarang banyak yang hobi minum kopi sehingga kita ngopi di rumah bisa, ngopi di coffee shop bisa, ngopi di tenant-tenant ternama bisa, tapi kita coba ngopi di dalam bis dulu,” tambah Wiwit.
Dia menjelaskan, selain membangkitkan pariwisata, acara ini juga bertujuan untuk mengedukasi masyarakat tentang kopi. Ini karena di dalam Coffee on The Bus ada brand Kopiku sebagai sister company acara tersebut yang memiliki beragam kopi dari seluruh nusantara yang dikenalkan kepada penumpang. Acara ini sebenarnya juga bertujuan untuk masyarakat yang berasal dari luar kota Yogyakarta agar lebih mengenal budaya Kota Gudeg ini.
Bahkan berhasil menarik pelancong dari Solo dan Magelang. Pertama beroperasi, Coffee on The Bus ini pada semua jam keberangkatan kursi terisi penuh dan begitu juga sebaliknya. Wiwit mengatakan, akan terus mengadakan acara ini tidak hanya di akhir pekan tetapi hari biasa.
“Terus bisa setiap hari, weekday kita coba sudah beberapa weekday coba kita jalankan tapi kita minimal 10 hingga 15 orang ada ya kita jalan,” ungkap Wiwit.
Penasaran bagaimana cara untuk menikmati Coffee on The Bus ini? Caranya cukup mudah, pelancong bisa melakukan reservasi tiketnya melalui Arta Barber and Chill dan mengocek kantong Rp50 ribu. Untuk seat dalam bus sendiri benar-benar dibatasi yakni hanya 28 dan nantinya akan memperpanjang rutenya hingga ke Yogyakarta Internasional Airport.
Baca juga: Restoran dengan Model Replika Airbus A320 Dibangun di Bengaluru
Tak hanya tarif yang murah, di masa pandemi untuk menikmati perjalanan ini, semua protokol kesehatan tetap dilakukan dimana sebelum naik suhu tubuh akan di cek, penumpang wajib menggunakan masker dan membersihkan tangan dengan handsanitizer. Untuk penumpang yang bepergian bukan dengan keluarga akan ada sekat sosial distancing, tetapi jika dengan keluarga sekat tidak digunakan.
Dear Boeing Lovers, Qantas Lakukan Penerbangan Penumpang Terakhir Boeing 747-400 Sebelum Pensiun! Catat Tanggalnya
Qantas belum lama ini berencana melakukan penerbangan terakhir atau penerbangan perpisahan bersama jet ikonik mereka, Boeing 747-400. Penerbangan perpisahan pesawat yang telah hampir 50 tahun menemani Qantas itu akan dilakukan pada pertengahan Juli ini sebelum akhirnya pensiun di akhir bulan.
Baca juga: Sejarah Panjang, 50 Tahun Boeing 747 Bersama Qantas
Dilansir news.com.au, farewell flight Boeing 747-400 Qantas dibanderol dengan harga unik, menyerupai jenis dan seri pesawat. Tiket penerbangan perpisahan Boeing 747-400 Qantas, untuk kelas bisnis, dijual dengan harga $747 atau sekitar Rp10,8 juta (kurs 14.720). Adapun kelas ekonomi dijual $400 atau Rp5,8 juta (kurs 14.720). Dengan begitu, menyerupai jenis dan seri pesawat, 747-400. Unik, bukan?
Akan tetapi, dari banyak kota di Australia, farewell flight Qantas Bersama Boeing 747-400 hanya tersedia di tiga kota, Sydney pada 13 Juli, Brisbane pada 15 Juli, dan Canberra pada 17 Juli. Selain (keberangkatan) terbatas di tiga kota itu saja, Qantas juga membatasi jumlah penumpang di setiap penerbangan. Tujuannya, agar penumpang memiliki ruang dan pemandangan ekstra.
Menariknya, keuntungan dari tiga penerbangan perpisahan itu bukan untuk membiaya operasional Qantas -mengingat perusahaan tengah dalam kesulitan akibat wabah corona- melainkan akan disumbangkan ke museum HARS Aviation dekat Wollongong, New South Wales, dan Qantas Founders Museum di Longreach, Queensland, yang keduanya menyimpan pesawat berjuluk Queen of the Skies tersebut.
Kapten armada Boeing 747 Qantas, Owen Weaver, menyebut farewell flight di tiga kota itu terwujud berkat dorongan serta minat besar masyarakat terhadap pesawat setelah ribuan jam terbang.
“Ketiga penerbangan ini akan menawarkan kesempatan terakhir untuk terbang menggunakan Qantas 747 sebelum pensiun, dengan beberapa dari para penerbang dan penggemar penerbangan kita yang menyukai pesawat, setelah menghabiskan ribuan jam di atas pesawat selama bertahun-tahun,” ujarnya.
Bagi Boeing 747 lovers yang tak kebagian seat, menikmati farewell flight Qantas pertengahan Juli ini, mereka masih bisa menikmati momen terakhir Boeing 747-400 Qantas mengarungi langit Australia pada pukul 14.00, 22 Juli mendatang.
Baca juga: 3 Desember 2019, Boeing 747-400 Qantas Lakukan Penerbangan Trans Pasifik Terakhir
Pesawat 747-400 terakhir Qantas itu akan lepas landas dari Sydney sebagai penerbangan QF7474. Meskipun tak disebutkan rute akhir penerbangan itu, kuat dugaan, pesawat akan menuju Gurun Mojave, Southern California, Amerika Serikat (AS), tempat pesawat kedua terakhir Qantas 747-400 digrounded.
“Ada banyak nostalgia dan kasih sayang yang terkait dengan 747 kami dan bagi mereka yang tak bisa menikmati farewell flight, mereka setidaknya akan dapat melihat sekilas pesawat saat terbang di langit Australia untuk terakhir kalinya,” Owen menambahkan.
Dugaan Suap Jadi Alasan Garuda Indonesia Tunda Kedatangan Empat Pesawat Airbus A330Neo
Dugaan suap menjadi alasan maskapai pelat merah, Garuda Indonesia, menunda kedatangan empat pesawat Airbus. Meski tak menyebutkan dengan jelas empat pesawat yang ditunda, dari catatan backlog Airbus, Garuda Indonesia masih memiliki sembilan A330Neo yang belum dikirim.
Baca juga: Walau Miliki Utang Segunung, Dua Kombinasi Finansial Bikin Garuda Indonesia ‘Bernapas’ Lega Sementara Waktu
Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan dugaan suap yang terjadi bukan hanya menyangkut Indonesia, melainkan ada beberapa negara lainnya. Dirunut ke belakang, pernyataan Irfan memang sangat berdasar.
Pada Jumat, 31 Januari 2020 lalu, Jaksa Penuntut di Perancis, Jean-Francois Bohnert, mengatakan Airbus telah menyerahkan uang gelap melalui dua anak perusahaannya yang dikendalikan secara diam-diam. Uang suap itu digunakan untuk mendorong bisnisnya di 16 negara.
Dari 16 negara itu, tak disebutkan dengan jelas negara mana saja. Namun santer disebut, Airbus memberi suap ke Sri Lanka, Malaysia, Taiwan, Ghana, dan Indonesia; termasuk berbagai persoalan di tiga negara, Inggris, Perancis, dan Amerika Serikat (AS). Dalam catatan Irfan, persoalan di ketiga negara tersebut sudah diselesaikan dimana Airbus membayar total 3,6 miliar Euro.
“Airbus sudah bayar 3,6 miliar Euro ke tiga negara. Amerika Serikat, Perancis, dan Inggris,” ungkapnya dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI, Selasa (14/7).
Terinspirasi dari upaya tuntutan yang dilakukan ketiga negara tersebut, Irfan menyebut pihaknya juga akan menuntut Airbus atas dugaan kasus pengadaan pesawat.
Kasus pengadaan pesawat tersebut diketahui sudah terjadi sejak 2011-2015 lalu, sebagai bagian dari perbuatan melawan hukum Airbus dalam mempertahankan bisnis di 16 negara (seperti yang telah disebutkan di atas), dimana Airbus terlibat memberi suap untuk memuluskan pembelian pesawat.
Suap kepada pejabat di Indonesia diduga diterima oleh mantan Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar. Pada 8 Mei 2020, Emirsyah dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi dan pidana pencucian uang. Untuk itu, GIAA telah menyiapkan beberapa strategi dalam upaya menuntut Airbus secara hukum.
“Kami lagi proses litigasi minta ganti kerugian lewat pemerintah Inggris dengan bantuan Kemenkumham menyampaikan surat. Memang harus diakui Airbus ada proses bribery tidak fair waktu belinya,” jelasnya.
Akan tetapi, terlepas dari dugaan suap dibalik penundaan pesawat Airbus kepada Garuda Indonesia, dari sisi bisnis, perusahaan memang sudah tak lagi menampung datangnya pesawat baru, mengingat Garuda mengalami penurunan volume penumpang hingga 90 persen.
Baca juga: Dirut Garuda Indonesia: “Tidak Ada PHK Massal di Tengah ‘Badai’ Virus Corona”
Di samping itu, lemahnya kinerja keuangan juga membuat Garuda Indonesia terpaksa harus merestrukturisasi leasing pesawat -selain menunda pembayaran hutang jatuh tempo- dengan mencari leasing yang menawarkan harga lebih murah, memperpanjang periode peminjaman, hingga mengakhiri kontra yang tidak cocok.
Saat ini, 12 lessor dikabarkan sudah setuju perihal restrukturisasi, enam menolak, dan 13 lessor lainnya masih dalam proses negosiasi. Selain menunda kedatangan empat pesawat Airbus, Garuda Indonesia juga menunda kedatangan 49 Boeing 737 Max series.
Di 2030, MRT Singapura Perpanjang Jaringan Hingga 360 Km, Bagaimana dengan MRT Jakarta?
Apakah akan ada perluasan jaringan Mass Rapid Transit (MRT)? Sepertinya iya dan virus corona atau Covid-19 yang tengah menjadi pandemi saat ini tak menghalangi rencana tersebut. MRT di Singapura misalnya, mereka akan memperluas jaringannya hingga 360 km pada awal tahun 2030-an.
Baca juga: Di 2030, MRT Jakarta Bakal Mengular Sepanjang 230 KM di Jabodetabek
Hal tersebut bahkan dikatakan langsung oleh Menteri Transportasi Singapura Khaw Boon Wan pada 22 Juni 2020. Dia mengatakan, Singapura tetap berpegang teguh dengan rencana perluasan MRT mereka ke 360 km tersebut. Khaw mengaku, perluasan ini akan ada beberapa penundaan karena pandemi Covid-19 yang mempengaruhi ketersediaan pekerja konstruksi.
“Rencana kami adalah memperluas jaringan MRT menjadi 360 km pada awal 2030-an. Kami berpegang teguh pada rencana ini. Akan ada beberapa penundaan karena dampak yang diinduksi Covid-19 pada ketersediaan pekerja konstruksi. Tetapi niat untuk memperluas jaringan MRT kami secara signifikan tetap tidak berubah,” kata Khaw yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman channelnewsasia.com (22/6/2020).
Khaw mengakui ,meski Covid-19 mengganggu permintaan transportasi umum, namun dampaknya hanya sementara. Dia mengatakan, bila pandemi berlalu maka permintaan untuk angkutan umum akan kembali pulih dan saat ini layanan kereta api di Singapura sendiri sudah pulih sekitar 40 persen.
Nah, jika Singapura akan memperluas jaringan hingga 360 km di tahun 2030, bagaimana dengan Indonesia? Ternyata Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta di tahun 2030 akan melakukan pembangungan jalur sepanjang 230 km.
Perluasan jaringan yang dikembangkan ini akan melingkupi wilayah Jabodetabek. Pada Juli 2019 lalu, Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar menjelaskan, untuk pembangunan jalur MRT sepanjang 230 km akan dilakukan dengan pendekatan paralel atau secara bertahap dan berkelanjutan.
Di mana nantinya jalur sepanjang 230 km ini ada MRT line 1 hingga 10 dan tengah dibantu konsultasinya dengan pihak Jepang. William mengatakan, tujuan dari proyek ini adalah untuk mengembangkan fungsi institusi administratif dari sistem transportasi perkotaan dengan mempromosikan pengembangan kapasitas dan kerjasama antara organisasi terkait transportasi perkotaan di Jabodetabek dalam rangka pengembangan sistem transportasi umum perkotaan.
Baca juga: Manajer Stasiun SMRT Baik Hati, Penumpang Diberi $100
Meski begitu, rute ini masih dalam bentuk kajian dan belum ada dasar hukum yang menetapkan hasil kajian menjadi landasan pembangunan MRT tahap selanjutnya. Untuk diketahui berikut daftar 10 line MRT Jakarta yang mencakup target pembangunan 230 km jalur baru hingga 2030 mendatang, Lebak Bulus-Ancol Barat, Cikarang-Balaraja, Bandara Soetta-Kampung Bandan, Cilincing-Lebak Bulus, Karawaci-Senayan-Cawang-Cikarang, Lebak Bulus-Rawa Buntu-Karawaci, Bekasi Utara-Bekasi Selatan, Pluit-Grogol-Kuningan-Depok, Outer loopline dan Inner loopline.
