Lagi dan lagi, sepinya penumpang pesawat memaksa perusahaan mengubah pesawat menjadi angkutan kargo. Rabu lalu, Administrasi Penerbangan Federal (FAA) mengeluarkan sertifikasi untuk konfigurasi ulang pesawat penumpang Boeing 737-700 menjadi pesawat atau angkutan kargo.
Baca juga: Kabin Penumpang Penuh Kargo Bikin Pilot ‘Nambah Kerjaan’
Dikabarkan, pesawat yang dikonfigurasi ulang oleh Pemco Conversions itu sudah mendapatkan pelanggan pertama di Bahrain, yakni Chisholm Enterprises dan akan dioperasikan oleh anak perusahaan mereka, Texel Air.
Dari data Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA), sebelum Covid-19 mewabah, 40,3 juta penerbangan dijadwalkan lepas landas di seluruh dunia pada tahun 2020, meskipun pada akhirnya harus turun menjadi sekitar 23,1 juta dan diperkirakan akan tetap rendah di 2021.
Berkaca dari agka-angka tersebut, tentu sangat wajar bila banyak perusahaan penerbangan ataupun lessor mengkonfigurasi ulang pesawat penumpang menjadi pesawat kargo. Menariknya, disaat yang bersamaan, kebutuhan dunia akan peralatan dan perlengkapan kesehatan seperti masker, face shield, dan lain sebagainya juga membuat kebutuhan pesawat kargo meningkat.
Dengan konsep Passenger-to-FlexCombi, pesawat tetap bisa membawa penumpang meskipun berstatus sebagai pesawat kargo. Foto: PEMCO via Simple Flying
Hal itu setidaknya bisa dilihat dari penjualan duopoli produsen pesawat di dunia, Boeing dan Airbus. Di bulan Juni lalu, keduanya sama sekali tak mencetak pesanan baru untuk pesawat penumpang. Sebaliknya, Boeing malah mendapat pesanan satu pesawat kargo dari raksasa jasa pengiriman asal AS, FedEx.
Namun demikian, sekalipun angkutan kargo menjadi lebih populer di wabah Covid-19 seperti sekarang ini, dalam kasus konfigurasi ulang Boeing 737-700 yang belum lama ini disetujui FAA, Air Transport Service Group (ATSG), selaku lessor sekaligus perusahaan angkuta kargo sebagai pemilik, tetap menyisakan empat bari kursi dalam konfigurasi 3-3 di bagian belakang. Dalam penerbangan, istilah tersebut dikenal sebagai Passenger-to-FlexCombi.
Pesawat ini nantinya akan ditawarkan dalam tiga skema konfigurasi. Konfigurasi pertama, menawarkan payload atau muatan sebanyak 13,7 ton dengan enam posisi palet. Konfigurasi kedua, menawarkan 15,8 ton muatan dengan tujuh palet. Adapun terakhir, versi full full-freighter pesawat ditawarkan menampung 18,2 ton muatan. Masing-masing konfigurasi tersebut tetap menawarkan kabin penumpang dengan kapasitas 12 dan 24.
Baca juga: Tak Ingin Meratapi Nasib, Hi Fly Ubah Airbus A380 Jadi ‘Varian’ Kargo Pertama di Dunia
“Untuk mencapai momen ini dalam pengembangan program konversi 737-700 penumpang-ke-barang kami memperkuat kehadiran kami sebagai pemimpin global di pasar,” Mike Andrews, direktur program konversi PEMCO, sebagaimana dilansir Simple Flying.
“Kami senang dengan kinerja tim konversi kargo kami dan terus mengembangkan produk-produk inovatif untuk memenuhi peningkatan permintaan pelanggan untuk konversi 737,” lanjutnya. Setelah sukses mendapat sertifikasi dari FAA, ATSG bergerak cepat untuk mendapatkan sertifikasi dari Badan Keselamatan Penerbangan Eropa (EASA) dan Administrasi Penerbangan Sipil Cina.
Terkait pemakaian masker di dalam penerbangan, saat ini tak semua maskapai mengamanatkan tetapi beberapa hanya merekomendasikannya pada penumpang. Hal tersebut kemudian membuat Sara Nelson, Presiden Internasional dari Association of Flight Attendants-CWA angkat bicara dan mengatakan tentang pentingnya pemerintah mengeluarkan kebijakan menggunakan masker secara seragam.
Baca juga: Pengamat Penerbangan: Kalau Sudah Pakai Masker Semua, Kenapa Harus Jaga Jarak?
“Tidak masuk akal Federal Aviation Administration (FAA) belum melakukan ini dan bahwa Departement of Transportation (DOT) belum mengambil peran kepemimpinan di sini. Pada 12 September 2001 (setelah serangan teroris), ada perubahan peraturan keamanan dan kita di sini sudah memasuki penyebaran virus dan masih belum ada mandat dari pemerintah federal. Kami benar-benar butuh dukungan dari pemerintah,” kata Sara.
Sebab menurut Sara, mengharuskan penumpang menggunakan masker dengan aturan yang jelas adalah untuk keselamatan dan kesehatan penumpang maupun awak pesawat.
“Kebijakan masker ini penting. Ini adalah item paling kritis yang akan membantu membatasi risiko penyebaran virus. Kami benar-benar mendorong maskapai untuk melakukan itu ketika pemerintah federal tidak meningkatkannya,” jelas Sara.
Dia menambahkan, dengan aturan jelas menggunakan masker, terlihat ada penurunan kasus terinfeksi pada awak kabin. Meski begitu maskapai harus lebih jelas terkait bagaimana orang seharusnya menggunakan masker dan etiket penggunaan masker seperti apa ketika harus makan atau minum sehingga semuanya membuat aman.
“Kami memang memiliki orang-orang yang menentang hal itu dan tidak ingin memakai masker, dan maskapai mengatakan mereka akan dilarang terbang, tetapi kami membutuhkan lebih banyak dukungan dari pemerintah federal. Kami memiliki pramugari yang baru saja diserang kemarin, dan yang bisa dia lakukan hanyalah mengajukan tuntutan sendiri,” jelasnya.
Selain itu seorang awak kabin Matthew Cook mengatakan bagaimana cara ia berinteraksi dengan penumpang yang menolak untuk memakai masker.
“Kamu sedang mengobrol. Kamu berusaha membuatnya semudah mungkin. Katakan saja, ‘Ini bukan hanya tentang kamu. Ini tentang semua penumpang kami dalam penerbangan kami,” ujar Matthew.
Tindakan lain yang disarankan oleh awak kabin yang harus dilakukan penumpang saat terbang adalah mencuci tangan, menyeka meja nampan, sandaran tangan dan kursi, dan mempersiapkan anak-anak yang bepergian dengan memberi tahu mereka bagaimana penerbangan ini akan berbeda dari biasanya. Beberapa maskapai juga telah mencoba kebijakan seperti memblokir kursi tengah untuk menegakkan jarak sosial, tetapi mengatakan itu tidak berkelanjutan secara finansial.
“Dari sudut pandang bisnis, mereka harus bertahan, dan saya ingin mereka bertahan karena saya ingin dipekerjakan datang pada musim gugur, tetapi dari sudut pandang individu, ya, saya akan senang jika kita membatasi jumlah penumpang saat ini,” pramugari Mitra Amirzadeh memberi tahu Costello.
Baca juga: Serikat Pekerja Awak Kabin di AS Minta Semua Orang Gunakan Masker di Bandara dan Kabin Pesawat
Association of Flight Attendants juga meminta perpanjangan ketentuan dari undang-undang CARES federal yang disahkan pada bulan Maret yang mengalokasikan hibah untuk maskapai komersial untuk tujuan menjaga karyawan dalam daftar gaji dengan upah dan tunjangan selama pandemi. Program ini telah mencegah PHK massal dan cuti, tetapi akan berakhir pada akhir September.
Pandemi Covid-19 bikin industri penerbangan luntang-lantung. Catatan Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA), sebelum Covid-19 mewabah, 40,3 juta penerbangan dijadwalkan lepas landas di seluruh dunia pada tahun 2020, meskipun pada akhirnya harus turun menjadi sekitar 23,1 juta dan diperkirakan akan tetap rendah di 2021.
Baca juga: (2) Hidup Bak ‘Sultan,’ Inilah Rincian Umum Sistem Gaji Pilot! Pantas Saja Bergelimang Harta
Dampaknya, sudah pasti, PHK massal dirasakan oleh maskapai serta industri penerbangan di seluruh dunia. IATA menyebut, sektor penerbangan, yang notabene menopang 65 juta pekerjaan (sebelum dihantam corona) kehilangan 25 juta pekerja, mulai dari karyawan pusat, staf darat, awak kabin, teknisi, hingga pilot.
Khusus untuk pilot, PHK massal yang terjadi mungkin menjadi anomali tersendiri. Betapa tidak, teringat di waktu kecil, dimana seringkali pilot menjadi cita-cita favorit (kalau tidak ingin disebut idaman) oleh mayoritas anak-anak ketika ditanyai orang dewasa, baik guru maupun orang tua. Bahkan, profesi pilot, dengan segudang glamouritas yang ditonjolkan, juga menjadi profesi idaman di kalangan remaja.
Seiring berjalannya waktu, kondisi tersebut mungkin bisa dikatakan berubah, terlebih pasca wabah Covid-19 seperti sekarang ini. Hampir dapat dipastikan profesi pilot sementara waktu atau mungkin sampai lima tahun mendatang sepi peminat. Smartfast, misalnya, salah satu sekolah pilot swasta yang memiliki cabang di Jakarta, Pekanbaru, Jambi, dan Yogyakarta serta memiliki jaringan hingga Negeri Jiran Malaysia, mau tak mau juga ikut terdampak pandemi corona.
Direktur Quality Control Smartfast, Capt. Eko, menyebut, sekalipun pendidikan pilot (pilot preparation) tetap berjalan, namun, ia mengakui bahwa pihaknya juga ikut terdampak.”Terdampak juga walaupun tak begitu signifikan,” jelasnya saat dihubungi KabarPenumpang.com, Jumat (17/7). Diyakni, sekolah pilot lainnya juga ikut terdampak. Adapun besar kecilnya dampak tersebut bergantung pada jejaring masing-masing sekolah dalam menjerat peserta didik baru.
Meskipun kebanyakan sekolah pilot meyakinkan calon peserta didik, dengan menyebut bahwa maskapai penerbangan membutuhkan tenaga mereka saat kondisi normal, sebetulnya hal itu bisa dibilang irasional. Sebab, pilot yang akan sekolah saat ini dan diperkirakan akan lulus 2 tahun 4 bulan mendatang atau sekitar tahun 2023 (CPL-ME-IR), otomatis mereka akan bersaing ketat dengan pilot yang sudah memiliki ribuan jam terbang.
Belum lagi mereka (pilot baru lulus di 2023 mendatang, dimana industri penerbangan diperkirakan akan mulai bangkit, tiga tahun pasca pandemi), juga akan bersaing dengan pilot lainnya yang di tahun 2020 atau sebelum itu belum pernah bekerja sama sekali. Tak hanya itu, pilot baru lulus nantinya juga harus menghadapi kenyataan bahwa maskapai tidak hanya melihat dari segi lisensi saja, melainkan jam dan pengalaman terbang pilot.
Lagi pula, sekalipun tak terlalu diekspose, PHK massal pilot pastinya dilakukan dengan beberapa syarat, seperti yang dilakukan British Airways. Belum lama ini, di antara kesepakatan maskapai tersebut terhadap pilot adalah suatu hari nanti, bila kondisi berangsur normal dan mereka membutuhkan pilot, maka eks pilot merekalah yang akan diutamakan terlebih dahulu, bahkan sekalipun dengan gaji yang lebih rendah.
Bayangkan, dengan gaji yang mungkin beda sedikit namun pengalaman beda jauh, mana yang akan maskapai pilih, pilot lama atau pilot baru lulus? Kebijakan serupa diyakini juga terjadi di seluruh negara, tak terkecuali Indonesia.
Perlu dicatat, kebutuhan pilot di dunia memang diproyeksikan meningkat seiring prediksi IATA dimana jumlah penumpang yang bepergian melalui udara akan mencapai 8,2 miliar pada tahun 2037, naik hampir dua kali lipat dari jumlah saat ini.
Baca juga: Ngeri! Ini Efek Alkohol dan Narkoba Terhadap Performa Pilot
Sedangkan tiga tahun mendatang, adalah prediksi dimana industri penerbangan mencapai titik normal seperti pra corona, bukan memasuki tahapan pengembangan menuju 8,2 miliar penumpang. Dengan begitu, diperkirakan, pilot baru lulus akan sulit bersaing di pasar komersial -yang persaingannya ketat- hingga 5-10 tahun mendatang.
Oleh karena itu, Capt. Fadjar Nugroho, Kapten Pilot Airbus A330-A350 Qatar Airways, dalam sebuah diskusi daring, menyarankan agar calon penerbangan muda (pilot baru) tidak berfokus pada airline saja, melainkan ke general aviation, seperti air taxi, parachute jumping, crop dusting (menyemprot tanaman), joy flight (jalan-jalan keliling), dan lain sebagainya.
Menjadi salah satu negara yang terdampak pandemi Covid-19, Hong Kong langsung mengambil tindakan cepat dan berhasil mengendalikan wabah sejak dini. Hal ini terlihat di mana Hong Kong mengambil langkah-langkah kesehatan dan keselamatan yang kuat dengan banyak teknologi buatan sendiri.
Baca juga: Bandara Hong Kong Terapkan Teknologi Disinfeksi Canggih yang Mampu Sterilkan 99 Persen Bakteri
Dilansir KabarPenumpang.com dari euronews.com (14/7/2020), tempat pertama yang menggunakan teknologi ini adalah Bandara Hong Kong, di mana manusia dan robot bekerja untuk menghentikan virus. Bandara dipilih karena menjadi jalur utama akses ke dunia luar, oleh karenanya respon pada bandara adalah yang paling cepat
“Itu adalah tantangan dalam hal tenaga kerja dan sumber daya, tapi kami siap. Saya pikir orang masih ingat kembali ke kasus virus SARS di tahun 2003,” kata Steven Yiu, Deputi Direktur Pengiriman Layanan Otoritas Bandara Hong Kong.
Dia mengatakan, setelah pelajaran dari epidemi SARS, mereka mengambil berbagai langkah dimulai dari pemeriksaan suhu.
“Sebelum penumpang memasuki terminal, kami melakukan penyaringan suhu. Jadi, jika mereka di bawah 37,5 derajat Celcius, kami membiarkan mereka di dalam. Ketika kami kembali normal, kami dapat menjaga beberapa langkah misalnya pemeriksaan suhu keluar,” kata Yiu.
Dia menambahkan, hal tersebut mungkin akan menjadi fitur permanen di dalam bandara. Yiu menyebutkan untuk staf bandara ada pod desinfeksi yang dikembangkan di Hong Kong yang dimulai dengan pemeriksaan suhu dan menggunakan semprotan sanitasi selama 40 detik.
Tak hanya itu, bandara menggunakan robot pembersih yang juga dikembangkan di Hong Kong untuk membersihkan di lorong, lantai dan toilet. Bisa dikatakan, sebelum pemerintah negara lain bertindak, Hong Kong sudah mulai kontrol perbatasan, pengujian dan karantina.
Untuk diketahui, sebenarnya teknologi di bandara hanyalah beberapa contoh dan sebagai pusat regional untuk R&D. Di mana perusahaan teknologi dan bioteknologi Hong Kong bekerja sama dengan akademisi untuk memerangi pandemi.
Politeknik Universitas Hong Kong membuat pelindung wajah menggunakan printer 3D. Profesur Hau-chung, Dekan Teknik di universitas mengatakan, umpan balik pelanggan langsung membantu mereka untuk memodifikasi desain.
“Tidak mungkin pencetakan 3D dapat memberikan nomor yang Anda inginkan. Pencetakan 3D hanya dapat menghasilkan satu dari ini dalam 90 menit. Kami menggunakan mesin kami sendiri, mesin cetak 3D kami di universitas kami sendiri, untuk menghasilkan desain dan mendapatkan produk yang dibuat dalam waktu tujuh hari. Kami kemudian meneruskan ini ke industri dan mereka dapat memproduksinya dalam waktu dua minggu. Jadi keseluruhan masalah terpecahkan dalam waktu satu bulan,” kata Hau-chung.
Alex Wai, Wakil Presiden dan Provost di Universitas Politeknik Hong Kong, mengatakan mereka siap dan menunggu setelah virus terakhir yang menyerang.
“Kami memiliki Sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS), dan kami memiliki rekan kerja baik di universitas kami dan Universitas Hong Kong, yang tahu bahwa hal seperti ini dapat terjadi lagi. Kami benar-benar memiliki dana perwalian, yang terdiri dari sumbangan dari berbagai perusahaan. Itu ada di tempat khusus untuk situasi seperti itu, wabah lain, atau pandemi,” ujar Alex.
Proyek anti Covid-19 jalur cepat lainnya ada di Science Park, rumah bagi ratusan perusahaan teknologi dan ribuan staf, termasuk ImmunoDiagnostics. Dr Kelsey Zhongling, Wakil Direktur Eksekutif, ImmunoDiagnostics mengatakan perusahaannya bekerja siang dan malam untuk menyiapkan proyek mereka.
“Kami secara resmi memulai pekerjaan pada awal Februari, dan dalam dua minggu kami telah menghasilkan tiga kit diagnostik yang berhasil untuk penyakit ini. Salah satunya disebut Elisa, yang memungkinkan lebih dari 90 tes per kit, dalam waktu 2 jam dan 30 menit, sehingga sangat berguna dalam skrining berbasis populasi. Dan yang kedua adalah tes darah Point-of-Care,” kata dia.
Baca juga: Hindari Kontak Langsung, Robot Bantu Layani Pasien Terinfeksi Virus Corona
Di mana ini hanya membutuhkan satu tetes darah dan akan menunjukkan hasilnya dalam sepuluh menit tanpa peralatan apa pun. Ini adalah teknologi yang membantu menyelamatkan hidup di Hong Kong, dan telah di ekspor ke seluruh dunia.
Siapa yang menanti sekuel dari Train To Busan yakni Peninsula? Sepertinya semua menanti film ini tayang di bioskop sejak 2019 lalu. Bahkan saat itu belum dipastikan dengan jelas kapan film ini akan tayang di bioskop seluruh dunia. Tetapi ada kabar dari sutradara Yeon Sang Ho, bahwa Peninsula akan dirilis pada Agustus 2020.
Baca juga: “Peninsula,” Jadi Sekuel Kedua Train to Busan, Tayang Musim Panas 2020
Namun ternyata Peninsula tayang lebih cepat yakni pada 15 Juli 2020 kemarin di Singapura. Sekuel dari Train To Busan ini bahkan membuat rekor di hari pertama pembukaannya yakni meraup $147 ribu. Ini membuat rekor baru dan menjadikan Peninsula sebagai film Korea teratas di Singapura dengan box office hari pembukaan tertinggi.
Dilansir KabarPenumpang.com dari laman tnp.sg (16/7/2020), menurut sebuah pernyataan oleh Golden Village, keberhasilan sekuel blockbuster zombie adalah fenomenal. Sebab bisa dikatakan penayangan perdana di Singapura ini bukanlah dalam keadaan normal seperti sedia kala karena tayang di tengah pandemi Covid-19 yang menyerang seluruh dunia.
Apalagi dalam penayanagnnya di Singapura ini, penonton berada di jarak sosial dengan satu studio dibatasi hanya 50 kursi yang bisa terisi. Peninsula menjadi yang terakhir dari trilogi zombie yang disutradarai oleh Yeon Sang Ho dan ditayangkan empat tahun setelah Train To Busan.
Film yang satu ini dibintangi oleh Gang Dong-won, Lee Jung-hyun dan aktris cilik Lee Re, film ini mengisahkan tentang orang yang selamat dari wabah zombie yang kembali ke semenanjung karantina untuk mengambil truk yang ditinggalkan tetapi menemukan dirinya disergap oleh zombie dan milisi misterius. Pada saat-saat yang paling menyedihkan, seorang wanita dan keluarganya menyelamatkannya dan dia merencanakan pelariannya dari semenanjung untuk selamanya.
Baca juga: Saat Kereta Ikut Kondang Sebagai Latar Film Box Office
Untuk diketahui, sebelum Peninsula, tempat teratas sebelumnya dipegang oleh Along With The Gods 2: The 49 Days Terakhir, yang dibuka pada hari libur umum pada tahun 2018 dan mengumpulkan $119 ribu pada hari pembukaannya. Pada tahun 2016, Train To Busan dibuka menjadi $75 ribu pada hari pertama dan berakhir dengan $5,35 juta, menjadikannya film Korea terlaris di Singapura sepanjang masa.
Pada umumnya, pesawat komersial yang beredar di dunia dilengkapi dengan dua (twin jet), tiga (trijet), dan empat mesin (quad jet). Jarang sekali, sebuah pesawat komersial terbang dengan hanya satu mesin pesawat dedicated atau yang dari segi desain dilengkapi dengan satu mesin saja. Mengapa demikian?
Baca juga: Mengapa Pesawat Tri-Jet Tidak Se-Populer Twin-Jet dan Quad-Jet? Berikut Ulasannya
Faktor keselamatan tentu menjadi alasan utama. Namun, bila dilihat dari sektor lain, seperti militer, penggunaan satu mesin justru cukup populer. Lihat saja pesawat tempur buatan seluruh dunia, Amerika Serikat, Rusia, Perancis, hingga Cina, seluruhnya menggunakan satu mesin jet saja. Tetapi, sebagai bagian dari faktor safety, ketika pesawat mengalami kegagalan mesin, pilot dan kru akan tetap memiliki peluang selamat berkat fitur kursi lontar.
Dikutip dari Simple Flying, sebetulnya, pesawat jet sipil dengan mesin tunggal pertama di dunia, Cirrus Vision SF5, tidak memiliki fitur kursi lontar. Nyatanya, mereka tetap diizinkan beroperasi dengan jarak terbatas berkat fitur pengganti kursi lontar, berupa parasut yang menopang badan pesawat bila sewaktu-waktu pesawat mengalami kegagalan mesin.
Terlepas dari faktor safety, pesawat yang mulai kembali terbang pada 2016 lalu itu, diklaim mampu mengangkut sebanyak tujuh penumpang hingga 1.100 km dengan kecepatan maksimum mencapai 560 km per jam. Namun, tetap saja, kemampuan tersebut (batas kecepatan maksimum) masih setengah dari kecepatan maksimum pesawat komersial pada umumnya.
Dari segi desain, penggunaan mesin tunggal, dipastikan sangat tidak efisien. Sebab, mau tak mau, mesin harus berada tepat di atas pesawat dan berhimpitan dengan vertical stabilizer. Untuk menjaga jarak aman, pastinya antara posisi mesin dengan kabin dalam pesawat harus dikosongkan atau nyawa penumpang menjadi taruhannya.
Dari sini saja, penggunaan single jet sudah tak menarik maskapai yang menginginkan pemanfaatan ruang kabin secara maksimum. Belum lagi masalah tingkat kebisingan, safety, serta kenyamanan penumpang, tentu di era seperti sekarang ini, single jet atau satu mesin sangat tidak cocok untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan penumpang.
Terakhir, meskipun biaya pengembangan dan operasional pesawat single jet jauh lebih murah ketimbang twin, tri, ataupun quad jet, namun, tetap saja, pesawat tidak akan lolos sertifikasi xtended-range Twin-engine Operational Performance Standards atau yang biasa disingkat ETOPS oleh regulator dunia, utamanya Badan Keselamatan Penerbangan Eropa (EASA) dan Regulator Penerbangan Sipil AS (FAA).
Baca juga: ETOPS – Sertifikasi Darurat Pesawat Twin Engine Agar Layak Mengudara dengan Satu Mesin
ETOPS sendiri adalah kemampuan pesawat untuk beroperasi di luar keadaan normal. Singkatnya, bila pesawat memiliki dua mesin, ia harus diujicoba dalam penerbangan dengan menggunakan satu mesin saja. Hal itu dilakukan agar ketika pesawat mengalami kegagalan mesin di salah satunya, pesawat tetap bisa terbang untuk melakukan pendaratan darurat dengan mesin lainnya.
Dengan kemampuan dan ketangguhan mesin yang semakin berkembang, twin jet masih terbukti mampu melahap penerbangan berjam-jam dengan hanya mengoperasikan satu mesin. Sebagai salh satu bukti, pada Februari tahun lalu, A330-900 pernah menjalani sertifikasi ETOPSdengan mencatat waktu 4 jam 45 menit dengan hanya satu mesin.
Wabah Covid-19 memang merubah banyak hal, tak terkecuali kecenderungan masyarakat dalam memilih moda transportasi. Belum lama ini, hasil jajak pendapat di Inggris menemukan, masyarakat menilai kereta lebih membuat mereka merasa aman dibanding pesawat.
Baca juga: Kejar Target Produksi Pesawat Tanpa Emisi di 2035, Airbus Pertimbangkan Penggunaan Hidrogen
Tak hanya itu, dalam proyek yang digagas Sky News melalui YouGov, sebuah perusahaan riset pasar dan analitik data internasional berbasis internet, sekitar kurang dari tujuh persen warga mengaku nyaman dan percaya diri bepergian dengan pesawat serta 40 persen lainnya mengaku merasa tak aman.
Kondisi tersebut tentu menjadi berkah buat Uni Eropa. Pasalnya, sejak beberapa waktu lalu, Komisi Eropa memang sudah berniat menjadikan tahun 2021 sebagai “Tahun Kereta Eropa”, yakni wujud dari dukungan untuk Kesepatan Hijau Eropa (European Green Deal).
“Tahun Kereta Eropa” nantinya menjadi landasan utama negara-negara Uni Eropa untuk mengembangkan akses jaringan kereta api di seluruh sudut kawasan serta mempromosikan perjalanan dengan menggunakan moda transportasi itu.
Tujuan besar dari langkah-langkah di atas tentu mengarah pada turunnya emisi gas rumah kaca (netralitas iklim) pada 2050 mendatang. Bila berhasil, Uni Eropa akan menjadi benua “blok netral-iklim” pertama di dunia, mengalahkan paket stimulus Green New Deal yang diusulkan Amerika Serikat. Target terdekat dalam Kesepatan Hijau Eropa terjadi pada 2030 mendatang, dimana emisi gas rumah kaca diproyeksikan turun hingga 55 persen.
Uni Eropa saat ini tercatat menyumbang seperempat dari emisi gas rumah kaca dunia dari seluruh jaringan moda transportasi mereka. Tak ayal, dengan catatan tersebut, mereka bertekad untuk mengejar laju dekarbonisasi -salah satunya memasifkan penggunaan kereta api- sambil terus meningkatkan laju pembangunan dan pertumbuhan ekonomi.
“Tidak ada keraguan bahwa transportasi kereta api memiliki manfaat besar di sebagian besar wilayah: keberlanjutan, keselamatan, bahkan kecepatan, setelah diorganisasikan dan direkayasa sesuai dengan prinsip-prinsip abad ke-21,” ujar Komisioner untuk Transportasi, Adina Vălean, saat launching proposal “Tahun Kereta Eropa” Maret lalu, sebagaimana dikutip KabarPenumpang.com dari Euronews.
Menariknya, sejumlah pembatasan perjalanan yang masih berlaku di beberapa negara membuat masyarakat dinilai terdorong untuk lebih menggunakan moda transportasi berkelanjutan seperti kereta. Terlebih, perjalanan kereta domestik atau kawasan (kecuali di negara-negara kepulauan) juga lebih meningkat dibanding periode pra lockdown.
Kondisi tersebut diprediksi akan terus berjalan sampai tahun 2021. Survei menemukan, sekalipun perjalanan internasional sudah kembali aman, mereka (masyarakat) tetap ingin travelling tak terlalu jauh.
Ffestoniog Travel, sebuah perusahaan yang menyelenggarakan tur kereta api di seluruh dunia, menemukan bahwa hampir 85 persen pelanggannya merencanakan berlibur di Eropa pada tahun 2021. Perancis, Jerman, Portugal, dan Swiss masih menjadi pilihan berlibur populer di Eropa (dengan kereta api) pasca lockdown.
Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) sendiri belum merespon proposal tersebut. Pada tahun 2018, IATA memprediksi bahwa jumlah penumpang yang bepergian melalui udara akan mencapai 8,2 miliar pada tahun 2037. Sebelum Covid-19 mewabah, 40,3 juta penerbangan dijadwalkan lepas landas di seluruh dunia pada tahun 2020, meskipun pada akhirnya harus turun menjadi sekitar 23,1 juta dan diperkirakan akan tetap rendah di 2021.
Saat ini, perjalanan udara disinyalir menyumbang antara 2-3 persen dari emisi karbon dunia, tetapi persentase untuk itu setara dengan 4,5 miliar perjalanan penumpang, pergerakan 64 juta metrik ton kargo dan sepertiga dari perdagangan global dunia. Di samping itu, penerbangan juga menopang 65 juta pekerjaan.
Baca juga: Lima Alternatif Pengganti Bahan Bakar Fosil Pesawat di Masa Depan, Nomor Dua Aneh!
Upaya untuk memberlakukan transportasi udara ramah lingkungan sebetulnya sudah menggaung di seluruh dunia. Bahkan, Norwegia, negara yang terletak di Semenanjung Skandinavia bagian ujung barat yang berbatasan dengan Swedia, Finlandia, dan Rusia tersebut sudah berikrar akan membuat seluruh penerbangan jarak pendek dalam negeri wajib menggunakan pesawat listrik pada 2040.
Hanya saja, langkah dunia untuk mewujudkan transportasi udara menggunakan bahan bakar berkelanjutan masih terkendala di teknologi dan investasi. Sebab, ekosistem serta mobilitas transportasi udara yang cepat harus didukung dengan infrastruktur yang masif.
Di masa pandemi Covid-19, pengguna sepeda di berbagai dunia bertambah. Bahkan di Indonesia pengguna kendaraan kayuh roda dua ini mengalami lonjakan dari sebelumnya. Pengguna di Indonesia memilih sepeda untuk menjadi transportasi pengganti dalam menghindari berhimpitan di moda transportasi umum.
Baca juga: Masyarakat Wuhan Pilih Gunakan Sepeda Elektrik untuk Moda Transportasi
Namun ternyata lonjakan pembelian sepeda tak hanya terjadi di Indonesia tetapi Italia pun juga mengalaminya. Apalagi setelah pemerintahnya mengakhiri masa lockdown atau penguncian. Adanya hal ini, membuat pemerintah Italia memberikan keringanan pada penduduknya yang ingin membeli sepeda.
KabarPenumpang.com melansir dari reuters.com, tercatat sebanyak 540 ribu sepeda terjual secara nasional setelah toko sepeda kembali dibuka pada awal Mei 2020. Jumlah ini meningkat sebanyak 60 persen dibanding periode sama pada tahun lalu.
Adanya keringanan yang diberikan pemerintah kepada warganya saat membeli sepeda dilakukan tak lain untuk mencegah penumpukan penumpang dalam transportasi umum seperti bus dan kereta komuter, lantaran kedua wahana tersebut disinyalir merupakan potensi terbesar terjadinya penularan Covid-19.
Selain itu, pemerintah juga tak ingin warganya beralih ke kendaraan pribadi yang akan menimbulkan kemacetan lalu lintas. Penasaran berapa subsidi yang diberikan pemerintah Italia untuk warganya yang membeli sepeda? Ternyata subsidi yang diberikan cukup banyak yakni hingga 500 euro atau sekitar Rp8 juta.
Subsidi ini diberikan pada warga yang membeli sepeda konvensional atau yang menggunakan tenaga listrik. Subsidi ini sudah berlaku sejak 4 Mei 2020 dan akan berlangsung hingga akhir tahun.
Untuk diketahui, pemerintah Italia sendiri telah menyiapkan 120 juta euro untuk rencana insentifnya dan akan menyediakan dana lebih banyak lagi jika diperlukan. Ini bisa dikatakan berbanding terbalik dengan Indonesia yang beberapa waktu lalu tersebar bahwa pengguna sepeda akan dikenakan pajak.
Namun isu tersebut telah dibantah oleh Kementerian Perhubungan dan mengaku akan membuat regulasi yang akan mengatur sisi keselamatan pesepeda. Juru bicara Kemnhub Adita Irawati yang mengatakan, Kemenhub membuat aturan tersebut karena banyak masyarakat yang menggunakan sepeda sebagai sarana transportasi di era new normal.
Baca juga: Gangchon Rail Park – Sensasi Berkeliling dengan Sepeda Rel dan Virtual Reality
Beberapa aturan yang dibuat Kemenhub adalah alat pemantul cahaya bagi pesepeda, jalur sepeda dan penggunaan alat keselamatan lainnya.
Beberapa ilmuwan saat ini percaya bahwa semakin banyak bukti penularan Covid-19 di udara. Bahkan menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), penularan melalui udara melibatkan tetesan kecil yang mengandung virus dan melayang di udara (aerosol) serta bertahan selama beberapa waktu yang dibawa menempuh jarak lebih dari satu meter pada arus udara.
Baca juga: Peneliti: Virus Corona Bisa Bertahan Selama 7 Hari di Masker Bedah
Diameter tetesan tersebut kurang dari lima mikron dan mengandung lebih sedikit virus daripada tetesan pada saat pernapasan besar. Namun tetesan tak langsung jatuh ke tanah dengan cepat. KabarPenumpang.com melansir dari theguardian.com (14/7/2020), sayangnya peran transmisi udara dalam penyebaran Covid-19 ini tidak jelas, di mana beberapa percobaan di laboratorium menunjukkan virus corona dapat bertahan di aerosol selama berjam-jam.
Hal ini kemudian membuat WHO mengatakan tidak mungkin untuk mengesampingkan kasus-kasus di antara banyak orang dalam lingkungan ruangan yang padat dan berventilasi buruk seperti restoran, ruang latihan udara serta kelas kebugaran. David Heymann, seorang profesor epidemiologi di London School of Hygiene dan Tropical Medicine mengatakan, tentang bahaya infeksi penularan Covid-19 diketahui kemungkinan oleh paparan tetesan besar.
“Ada bukti terbatas bahwa aerosol yang dihasilkan oleh berbicara, batuk atau bersin dapat menyebar lebih dari 1 meter, sehingga menjadi udara, dan ada bukti terbatas bahwa transmisi udara memainkan peran dalam penyebaran komunitas Covid-19,” katanya.
Tapi ini tidak membuat semua orang setuju, seperti dalam surat terbuka pada WHO pekan lalu di mana 239 ilmuwan mengangkat kekhawatiran tentang transmisi aerosol, termasuk jarak yang lebih jauh.
“Saya tidak berpikir Anda bisa menjelaskan beberapa peristiwa penyebaran super besar seperti wabah paduan suara selain dengan aerosol yang berjalan lebih dari satu meter,” kata Donald Milton, seorang profesor kesehatan lingkungan di University of Maryland.
Namun kemudian muncul pertanyan tentang masker, apakah bisa melindungi seseorang dari tertular Covid-19? Heymann mengatakan, masker penting untuk melindungi diri dari orang lain yang terinfeksi terutama ketika jarak sosial sulit dilakukan. Dia menjelaskan jika masker digunakan maka akan menangkap tetesan dan itu tidak bisa masuk ke aerosol orang lain.
“Untuk mencegah infeksi dari pemakainya, respirator N95 adalah jenis masker terbaik,” kata dia. Selain itu pelindung wajah juga bisa digunakan untuk menghindari tetesan besar serta mencuci tangan dan mengambil jarak sosial penting. Tak hanya itu, ahli juga mengatakan perbaikan ventilasi dalam ruangan serta penggunaan kontrol infeksi di udara seperti filter udara dan lampu UV bisa digunakan.
Catherine Noakes, seorang profesor teknik lingkungan di Universitas Leeds, yang menandatangani surat terbuka, mengatakan ada sedikit bukti penularan Covid-19 oleh aerosol jarak jauh tetapi aerosol masih bisa menimbulkan risiko di seluruh ruangan. Paul Hunter, seorang profesor kedokteran di Universitas East Anglia, mengatakan bukti menunjukkan penyebaran tetesan adalah faktor paling penting untuk dikendalikan. Tetapi jika transmisi udara signifikan, itu bisa memiliki implikasi penting untuk lingkungan dalam ruangan.
“Jika itu masalahnya kita seharusnya tidak memiliki pub terbuka, kita tidak boleh memiliki gym terbuka, bahkan jika orang mengenakan masker wajah,” katanya.
Hunter menambahkan itu juga bisa berarti jarak sosial lebih dari dua meter, dan meluasnya penggunaan masker N95 di rumah sakit. Kepedulian dengan ventilasi ruangan, disebutkan juga bisa lebih rendah untuk penyebaran Covid-19. Hal ini karena virus tersebut tidak akan menyebar dengan cepat ketika berada di luar ruangan bila di bandingankan dengan ruang tertutup.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS merekomendasikan agar jendela tetap terbuka atau menyesuaikan AC. Linda Bauld, seorang profesor kesehatan masyarakat di Universitas Edinburgh, mengatakan ventilasi yang baik akan menjadi lebih penting karena lebih banyak tempat dibuka kembali, dan bisa berarti membiasakan diri membuka jendela bahkan di musim dingin.
Baca juga: Dear Penumpang Kereta Komuter, Ilmuan Jepang Beberkan Cara Cegah Corona di Gerbong Loh
“Saat ini tidak ada bukti infeksi manusia dengan Sars-CoV-2 yang disebabkan oleh aerosol menular yang didistribusikan melalui saluran sistem ventilasi HVAC,” tambah Bauld.
Direktur Utama (Dirut) Garuda Indonesia Irfan Setiaputra nampaknya serius menggarap rute internasional mereka di pasar Eropa dan Amerika Serikat (AS), dalam hal ini Perancis (Paris), Amerika (Los Angeles dan atau San Francisco), dan India (Mumbai).
Baca juga: Garuda Indonesia Terbangi Hampir Seluruh Kota di Dunia via Amsterdam dan Tokyo
Menurutnya, penerbangan langsung dari Denpasar, Bali ke tiga rute tersebut berpeluang sangat menguntungkan perekonomian negara, sekalipun maskapai mengalami kerugian dengan nominal tak sedikit.
“Garuda diminta terbang ke kota-kota besar di dunia. Kita berencana terbang ke Amerika, berencana ke Paris, ke India, base on data siapa yang spending-nya banyak dan value position kita ke mereka adalah you fly to Denpasar directly,” kata Irfan saat diskusi virtual MarkPlus Industry Roundtable, Jumat (19/6).
“Karena kalau orang Paris, Perancis menghabiskan uang US$10 ribu dalam liburannya di Bali kan ga ada masalah kalau Garuda rugi US$500 per penumpang, karena kan nett di negara ini kita dapat US$10.500,” lanjutnya.
Ditemui secara eksklusif redaksi KabarPenumpang.com di kantornya, Irfan memang pernah membeberkan rencananya membuka penerbangan codeshare ke beberapa negara, seperti Perancis, Jerman, Mauritius, Amerika, Spanyol, dan Moskow. Namun, kala itu, untuk penerbangan langsung ia masih malu-malu mengakuinya.
Bila pun jadi merealisasikan rencana yang sudah menggaung sejak era Dirut sebelumnya itu, irfan memang mengaku siap rugi, dengan asumsi wisatawan yang berkunjung ke Bali menghabiskan uang sekitar US$10 ribu atau sekitar Rp146 juta (kurs 14.538).
Padahal, dari berbagai kasus yang ada, wisatawan mancanegara tak melulu terbukti membawa banyak uang ke Indonesia. Lagi pula, bicara data, wisatawan yang paling banyak menghabiskan uang bukan dari ketiga negara tersebut.
Dari data Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI, yang paling banyak mengeluarkan uang saat mengunjungi Indonesia justru dari Timur Tengah (Timteng). Pengeluaran turis asing Timteng perorangnya mencapai US$1.918 per kunjungan. Jumlah ini mengalahkan wisatawan dari Eropa sebesar US$1.538 per turis asing per kunjungan. Juga wisatawan dari Cina yang mengeluarkan US$1.019 tiap turis asingnya per kunjungan.
Dari situ saja, pengakuan Irfan bahwa Garuda Indonesia siap rugi demi mendatangkan wisatawan mancanegara, dengan asumsi mereka menghabiskan uang sebesar US$ 10 ribu saja sudah tak masuk akal. Jika demikian, penerbangan langsung Garuda Indonesia rute Amerika Serikat, Paris, dan India hanya akan membunuh perusahaan itu sendiri, dengan benefit tak sebesar yang diasumsikan sebelumnya.
Bayangkan jika maskapai menanggung US$ 500 per orang per penerbangan atau Rp7,3 juta (kurs 14.538), apa tidak akan membunuh maskapai secara perlahan?
Tak ayal, dengan wacana tersebut, sekalipun bertujuan mulia, mendatangkan wisatawan mancanegara (bukan mengantarkan wisatawan dalam negeri ke mancanegara) demi perekonomian nasional, tetap saja banyak pihak yang merasa pesimistis. Bila pun tetap dipaksa berjalan, paling tidak akan bertahan lama.
Nada pesmistis juga datang dari media asing kenamaan dunia, Forbes. Dalam sebuah artikel Forbes yang ditulis Will Horton, pewarta penerbangan senior, jejak penerbangan internasional Garuda Indonesia kerap menimbulkan keragu-raguan.
Di samping itu, kebijakan dalam negeri terhadap maskapai asing dan wisatawan itu sendiri (dalam kaitannya dengan Covid-19) serta kapasitas dan kapabilitas perusahaan, juga dinilai tak relevan dengan rencana rute internasional Garuda. Akhirnya, mereka (Forbes) menilai bahwa rute internasional Garuda, dalam hal ini ke AS, dinilai tak akan menguntungkan.
Baca juga: Garuda Indonesia Canangkan Penerbangan Langsung Denpasar – Moskow
Jangankan pangsa pasar Eropa dan AS yang banyak pemain besar juga dengan reputasi besar, seperti Singapore Airlines (SQ), Cathay Pacific (CX), KLM, pangsa pasar Asia dan Australia saja Garuda Indonesia masih belum sepenuhnya sanggup mengalahkan Turkish Airlines, Qantas, SQ, ANA, Korean Air, dan lain sebagainya, khususnya dari segi harga dan pelayanan.
Lagi pula, untuk pasar Amerika Serikat, kepercayaan masyarakat terhadap maskapai nasional RI itu sempat memudar pasca larangan terbang ke negara tersebut. Sejak tahun 2007 lalu, badan keselamatan penerbangan AS (FAA) melarang Garuda Indonesia masuk AS karena hanya mendapat rating keselamatan dan keamanan penerbangan kategori 2 yang berarti buruk. Setelah pengkajian ulang, Garuda Indonesia dan beberapa maskapai lain akhirnya diizinkan kembali pada tahun 2016.