Setelah mengirim empat pesawat komersial terbesar dunia, Airbus 380, akhir April lalu, flag carrier nasional Singapura, Singapore Airlines (SIA) dikabarkan mengirimkan lagi dua widebody itu ke Alice Springs (ASP), sebuah Gurun Pasir, di antara Darwin dan Adelaide, Australia. Dengan begitu, SIA sudah mengirimkan total enam pesawat A380.
Baca juga: Singapore Airlines Kirim A380 Ke ‘Kuburan’ Pesawat di Gurun Australia
Bila dihitung secara kolektif, SIA Group total sudah mengirim 11 pesawat, dimana lima lainnya terdiri dari tiga Boeing 777-200ER milik Singapore Airlines serta dua Airbus A320 milik Scoot. Tahun lalu, maskapai SIA Group lainnya, SilkAir, juga pernah menitipkan enam unit pesawat Boeing 737 Max 8 di sana selama kurang lebih enam bulan. Jadi, ASP memang sudah menjadi rumah kedua SIA Group sebagai fasilitas penyimpanan jangka pendek atau menengah.
Pasca tambahan dua pesawat itu, SIA masih menyisakan 13 unit A380 dibarisan armada mereka, mengingat maskapai ini masih mengejar target terbang ke 27 kota pada Juni dan Juli, mencakup kota-kota besar di Asia, Eropa, dan Amerika, seperti Jakarta, Sydney,Tokyo, Seoul, Shanghai, Hong Kong, London, Amsterdan, Barcelona, dan Los Angeles.
Simple Flying melaporkan, proses pengiriman dua A380 ke ASP sebetulnya dilakukan sejak akhir Juni lalu, tepatnya pada 26 dan 26 Juni. Di tanggal 26 Juni, A380 dengan kode registrasi 9V-SKQ diketahui berangkat ke ‘kuburan’ pesawat di Australia itu sebagai penerbangan SQ8867. Adapun 9V-SKP diterbangkan selang sehari sebagai penerbangan SQ8865, dengan menempuh total waktu masing-masing selama lima jam.
ASP sendiri menjadi favorit karena dinilai cocok untuk menggrounded pesawat. Terdapat banyak faktor mengapa hal itu terjadi, mulai dari jarak, iklim, hingga ketahanan permukaan terhadap beban pesawat.
Terkait jarak, Alice Springs terletak persis di tengah benua Australia atau beberapa ratus kilometer jauhnya dari ibu kota Sydney atau wilayah terkenal lainnya di Australia, seperti Melbourne, Adelaide, Brisbane, atau bahkan Perth. Namun dari Changi, ASP tergolong tak terlalu jauh bila dibanding tempat ideal lainnya. Wilayah Alice Springs dikelilingi oleh pedalaman gurun yang luas.
Praktis wilayah ini selalu kering dan sedikit hujan, tidak ada badai, angin Timur dengan kecepatan 13 km per jam, tingkat kelembaban relatif rendah, sekitar 25 persen. Kelembaban udara dinilai menjadi poin krusial mengapa ASP menjadi tempat ideal untuk menggrounded pesawat dibanding wilayah lainnya mengingat pesawat bisa saja menjadi korosi atau berkarat dibuatnya.
Suhu di Alice Springs juga tergolong stabil di angka 30 °C. Di musim panas atau gugur, panas ekstrem memang kerap terjadi, namun dalam jangka pendek hal itu tak terlalu berdampak negatif terhadap sistem elektronik pesawat. Ketika memasuki musim dingin suhu tidak terlalu ekstrem dibandingkan daratan Eropa bagian utara sehingga lebih bersahabat untuk pesawat. Aspek ideal lain dari daerah seperti ini adalah permukaannya cukup kokoh untuk menopang bobot pesawat besar.
Pihak SIA sendiri sampai saat ini belum mengkonfirmasi secara pasti, akan berapa lama pesawat-pesawat tersebut bertahan di sana. Hanya saja, biasanya, ASP memang sering kali menjadi favorit untuk dijadikan fasilitas penyimpanan sementara. Sama halnya dengan fasilitas penyimpanan serupa di Teruel, Spanyol, yang umumnya menjadi favorit maskapai-maskapai Eropa.
Berbeda dengan ASP dan Teruel, Spanyol, di bumi bagian lain, Amerika Serikat (AS) mempunyai juga mempunyai fasilitas penyimpanan pesawat yang cukup populer, mulai dari The Mojave Air dan Space Port di Gurun Mojave, Southern California, AS, Victorville, California, AS, dan Pangkalan Udara Davis-Monthana Air Force Boneyard, Tucson, Arizona, AS.
Baca juga: Jangan Kaget, Inilah Jumlah Pesawat yang Di-grounded di Seluruh Dunia
Perbedaan antara antara keduanya (ASP-Teruel) dengan Mojave dan fasilitas penyimpanan lainnya di AS terletak pada lamanya penyimpanan. Meskipun pihak pengelola tidak memberikan syarat khusus berapa lama pesawat dapat bertahan di sana, bak aturan tak tertulis, ASP-Teruel pada umumnya hanya digunakan untuk fasilitas penyimpanan dalam jangka pendek akibat satu dan lain hal, tak terkecuali akibat pandemi Covid-19.
Sedangkan fasilitas penyimpanan pesawat di AS, sebagaimana yang telah disebutkan di atas, pada umumnya digunakan untuk menyimpan pesawat dalam jangka waktu lama. Bahkan, bisa dibilang fasilitas penyimpanan abadi alias sebagai ‘kuburan’ pesawat mengingat pesawat-pesawat dibiarkan begitu saja dimakan waktu.
Setelah Qatar Airways yang kembali melayani penerbangan ke Jakarta dan Denpasar, kini ada kabar baik, bahwa maskapai Turkish Airlines kembali akan membuka rute penerbangan ke Indonesia, dimana sudah tiga bulan belakangan sejak pandemi Covid-19 merebak, penerbangan flag carrier asal Negeri Ottoman ini dihentikan. Turkish Airlines pada 20 Maret 2020 menutup sementara penerbangannya ke Indonesia.
Baca juga: Qatar Airways Kembali Layani Penerbangan Setiap Hari ke Denpasar dan Jakarta
Dan setelah Tiga bulan berlalu, akhirnya maskapai asal Turki ini kembali menerbangkan armadanya ke Indonesia. Turkish Airlines akan memulai penerbangan kembali dengan dua kali penerbangan dalam seminggu. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman menafn.com (6/7/2020), Turkish Airlines akan melakukan penerbangan terjadwal pertamanya antara Jakarta dan Istanbul.
Penerbangan ini akan berangkat pukul 10.05 waktu setempat. Meski sudah mulai kembali menerbangkan pesawatnya ke Indonesia, maskapai ini tidak mengumumkan kapan penerbangan ke Bali akan dimulai lagi.
Penumpang Turkish Airlines yang akan bepergian ke Indonesia diharuskan menjalani rapid tes atau tes cepat tiga hari sebelum penerbangan atau melakukan tes PCR tujuh hari sebelum keberangkatan. Adanya tes ini, dikatakan Turkish Airlines adalah pernyataan dari pihak berwenang Indonesia.
Turkish Airlines sendiri sebelum kembali menerbangkan secara penuh armadanya, mereka telah melakukan penerbangan khusus pada 18 Juni kemarin ke Indonesia untuk mengevakuasi warga Turki di tengah pandemi Covid-19. Kembali dibukanya rute ke Jakarta, Turkish Airlines menambah daftar maskapai tujuan ke Indonesia.
Sebelum Turkish Airlines, ada Qatar Airways yang kembali menerbangkan pesawatnya ke Indonesia. Dimana pada 1 Juli 2020 ada penerbangan dari Doha ke Denpasar yang memiliki jadwal tujuh kali dalam seminggu.
Baca juga: Awal Juli 2020, Cathay Pacific Buka Kembali Penerbangan Ke Lima Tujuan Utama
Kemudian Qatar Airways juga menerbangkan dari Doha ke Jakarta mulai 7 Juli 2020 dengan sebelas frekuensi penerbangan dalam seminggu. Cathay Pacific juga kembali membuka layanan penerbangan mereka ke Jakarta pada 1-11 Juli 2020 dengan tiga penerbangan dalam seminggu dan 12-31 Juli 2020 sebanyak tujuh penerbangan dalam seminggu.
Osaka Metro Company pada awal Desember 2019 lalu mulai menguji gerbang tiket otomatis generasi berikutnya. Di mana gerbang otomatis tersebut akan menampilkan wajah penumpang sehingga memungkinkan mereka untuk melewati tanpa perlu membawa tiket kereta lagi.
Baca juga: Gunakan Teknologi Pengenal Wajah, Taksi Jepang Hadirkan Iklan Sesuai Jenis Kelamin dan Usia Penumpang
Untuk pertama kali gerbang pengenalan otomatis di Jepang ini dihadirkan pada Stasiun Dome-mae Chiyozaki di jalur Nagahori Tsurumi-ryokuchi di Nishi Ward Osaka. KabarPenumpang.com melansir dari laman mainichi.jp (9/12/2019), Osaka Metro mengatakan, sistem ini akan memfoto wajah penumpang melalui kamera dan gambarnya dikirimkan ke server di kantor pusat.
Nantinya server pusat akan memeriksa gambar tersebut dan jika muka penumpang sudah didaftarkan pada operator bawah tanah maka gerbang akan terbuka dan penumpang akan bisa melewatinya. Pada awal uji ini, sebanyak 1200 karyawan Osaka Metro ikut ambil bagian.
Sehingga ketika seorang pegawai Osaka Metro yang data wajahnya telah didaftarkan sebelumnya mencoba melewati gerbang, sebuah kamera yang dipasang di fasilitas memeriksa wajah pekerja terhadap data sebelum pintu gerbang dibuka untuk membiarkan orang tersebut lewat.
“Orang-orang tua dan orang-orang dengan kereta dorong, misalnya, akan dapat melewati gerbang tanpa harus meletakkan apa pun. Kami ingin meningkatkan lingkungan stasiun dengan memperkenalkan teknologi baru,” kata seorang pejabat perusahaan.
Tujuan uji ini juga untuk memperkenalkan sistem baru tersebut di 133 stasiun termasuk stasiun kereta bawah tanah di Prefektur Osaka pada tahun fiskal 2024 menjelang World Expo 2025 di Osaka. Bahkan uji coba tersebut dilanjutkan hingga 30 September 2020 dan dilakukan di empat stasiun yakni Dome-mae Chiyozaki, Morinomiya, Dobutsuen-mae dan Daikokucho.
Dengan menggunakan mesin yang diproduksi oleh produsen yang berbeda, perusahaan akan membandingkan dan memverifikasi kecepatan dan ketepatan mereka untuk meningkatkan sistem. Sementara penumpang yang memakai masker mungkin tidak dikenali oleh perangkat saat ini.
“Kami ingin melihat bagaimana menangani data pribadi seperti tembakan di kepala,” kata seorang perwakilan dari Osaka Metro.
Baca juga: Metro Beijing Hadirkan Kamera yang Mampu Identifikasi Penumpang Tanpa Masker
Bahkan setelah gerbang tiket berbasis wajah diperkenalkan di semua stasiun, penumpang masih akan diizinkan untuk menggunakan tiket. Untuk diketahui, gerbang dikembangkan oleh Omron Social Solutions Co., Takamisawa Cybernetics Co., Toshiba Infrastructure Systems & Solutions Corp. dan Nippon Signal Co.
Ingin mengetahui kepadatan bus dan kapan terakhir bus terakhir dibersihkan selama masa pandemi, kini bisa dilakukan oleh para penumpang. Sebab baru-baru ini perusahaan teknologi Bournemouth meluncurkan sebuah aplikasi bernama MyTrip.
Baca juga: National Rail (Inggris) Hadirkan Peringatan Penumpang via Aplikasi Jika Kereta dan Stasiun Penuh
Aplikasi tersebut digunakan untuk memungkinkan penumpang melihat informasi tentang bus yang akan mereka naiki termasuk bus sekolah ataupun shuttle. Dilansir Kabarpenumpang.com dari bournemouthecho.co.uk (2/7/2020), dengan aplikasi ini pengguna juga bisa membeli tiket tanpa harus mengeluarkan uang tunai dan bisa melihat langsung lokasi bus.
Bahkan para pengguna juga bisa menggunakan fitur informasi kendaraan yang disempurnakan dengan aplikasi akan memberitahukan kapan terakhir kali bus dibersihkan. Selain itu pengguna juga akan tahu apakah bus tersebut dalam keadaan sepi, sedang atau ramai penumpang untuk menjaga jarak sosial satu dengan lainnya.
Operator bus Passenger yang berbasis di Westbourne mengatakan ini menjadi salah satu cara yang terjangkau bagi operator bus kecil untuk berbagi pembaruan dan informasi perjalanan langsung. Sarah Bott, direktur pengembangan bisnis di Passenger mengatakan, kehadiran aplikasi ini membuat penumpang sangat bersemangat karena dapat membantu industri bus Inggris kembali melaju dan beroperasi karena membuat tetap aman.
Sarah mengatakan, ada ratusan operator kecil di seluruh negeri yang mungkin berjuang untuk mengkomunikasikan informasi penting tentang kapasitas bus dan kebersihan kepada pengguna mereka. Sehingga ini adalah langkah ke arah yang benar dan membawa operator ini ke platform digital sehingga membuat transportasi publik menjadi lebih merata adalah pilihan yang lebih baik untuk pelancong.
“Secara lokal kami akan sangat terbuka untuk berbicara dengan operator yang lebih kecil di daerah tersebut. Kami akan meluncurkan pada bulan Agustus dan bagi operator mana pun yang membawa siswa atau ID penumpang yang diverifikasi ini akan menjadi cara yang bagus bagi mereka untuk dapat memindahkan layanan verifikasi tersebut menjadi bebas kontak,” kata Sarah.
Pengguna akan dapat memberikan umpan balik untuk membantu menunjukkan kepada orang lain berapa banyak ruang yang tersisa di bus. Informasi ini dianalisis berdasarkan data dari mesin tiket, supir bus, dan sumber lain untuk menghasilkan bacaan yang menunjukkan kapasitas bus.
Baca juga: Cegah Penularan Covid-19, Kapal Ferry di Teluk Bothnia Dilengkapi Aplikasi Khusus untuk Penumpang
Aplikasi ini akan gratis untuk diunduh oleh pelanggan. Majalah Passenger Transport menemukan tahun lalu bahwa Passenger telah menciptakan sebelas aplikasi transportasi berperingkat teratas di Inggris.
Arab Saudi baru-baru ini memamerkan desain bandara baru yang terinspirasi dari fatamorgana di tengah padang pasir. Bandara baru yang terletak di Provinsi Tabuk, berbatasan dengan Kota Neom (megaproyek ambisius yang dicanangkan putera mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman bin Abdulaziz sejak 2018 lalu) ini ditargetkan mulai dioperasikan pada 2023 dengan daya tampung sebanyak 1 juta pengunjung per tahun.
Baca juga: Bandara Pakyong di Timur Laut India, Tawarkan Eksotisme HimalayaCNN International melaporkan, bandara mewah bagian dari proyek AMAALA, salah satu dari proyek mengubah 50 pulau dan situs lainnya di Laut Merah menjadi resor mewah yang diberi nama The Red Sea, ini digarap bersama oleh berbagai pihak.
Bagian terminal dan menara kontrol dirancang oleh Foster & Partners yang berbasis di Inggris, sementara untuk rencana utama dirancang oleh Egis, yakni kelompok konsultan dan teknik internasional asal Perancis yang menggabungkan praktik-praktik desain unik, menarik dan menginspirasi.
Nantinya, bila sudah resmi beroperasi, bandara tersebut digadang-gadang bisa menjadi salah satu bandara terindah di dunia dengan bangunan terminal dan menara, halaman yang luas, dan interior mewah yang mencerminkan AMAALA. Bangunan terminal akan terdiri dari berbagai fasilitas mewah seperti klub anggota pribadi, hanggar (bangunan dengan lantai luas) yang dikendalikan oleh iklim, dan masih banyak lainnya.
“Mengingat tamu-tamu AMAALA sangat high class bahkan ultra high class, kami memperkirakan lebih dari 80 persen pengunjung yang datang akan masuk melalui bandara,” kata Kepala Pengembangan AMAALA, Carlos Wakim
Selain itu, mengingat latar belakang para pengunjung, tak heran bila fasilitas berupa hanggar pribadi juga dibuat sangat besar dari biasanya. Di samping itu, profil para tamu dengan kepemilikan harta berlimpah juga membuat mereka bertekad menciptakan kesan mewah sejak pertama kali menginjak AMAALA. Singkatnya, Arab Saudi ingin menjadikan bandara tersebut sebagai awal dan akhir dari seluruh hal tentang kemewahan.
Menariknya lagi, latar belakangan para tamu juga mendorong pihak pengembang menjadikan bandara bukan hanya sebagai pintu masuk pariwisata saja, melainkan kolaborasi keduanya, bisnis dan pariwisata.
Dengan konsep seperti itu, tak heran bila bandara dilengkapi dengan fasilitas mewah sebagai sarana pendukung negosiasi bisnis dan lebih menjadi sebagai exclusive private club experience ketimbang menjadi pusat transportasi udara. Itu juga mengapa, bandara baru dengan desain mirip fatamorgana itu hanya diproyeksikan menampung sebanyak satu juta pengunjung per tahun.
AMAALA sendiri adalah proyek pariwisata ultra-mewah di pantai Barat Laut Arab Saudi yang terinspirasi oleh Laut Merah. Proyek tersebut akan berbatasan dengan Kota Neom dan digadang-gadang sebagai tujuan wisata super mewah.
Dijuluki ‘Riviera of the Middle East’, pengembangan ini akan terdiri dari 2.500 kamar hotel dan 700 villa pribadi dengan area ritel yang terdiri dari 200 outlet. AMAALA juga akan menampilkan akademi seni yang bertujuan untuk lebih mengembangkan seniman muda dari Arab Saudi dan wilayah yang lebih luas.
Bila diklasifikasikan, AMAALA terdiri dari tiga bagian, mulai dari Triple Bay yang terdiri dari akademi olahraga dan resor, area dengan fokus pada kesehatan dan pulau yang akan menampilkan vila-vila mewah dan studio seniman, serta The Coastal Development akan menjadi pusat seni dan budaya daerah tersebut.
Baca juga: Changi Airport, Bandara Terbaik di Dunia yang ‘Didirikan’ Para Tawanan Jepang
AMAALA merupakan bagian dari sebuah rencana ‘Visi 2030’ yakni sebuah rencana pembangunan jangka panjang Arab Saudi yang menekankan pada diversifikasi ekonomi agar tak hanya mengandalkan minyak bumi yang harganya terus turun.
Dana untuk proyek ini mencapai USD4 miliar (Rp53,33 triliun), yang diperkirakan bisa meningkatkan ekonomi Saudi dan menciptakan 35.000 lapangan pekerjaan baru. Harapan Arab Saudi adalah dapat menarik 1 juta pengunjung per tahun pada tahun 2035.
Belum lama ini, flag carrier nasional Australia, Qantas, dikabarkan sukses mengirimkan armada Boeing 747-400 kedua terakhir ke kuburan pesawat di Gurun Mojave, Southern California, AS. Dengan begitu, praktis, Qantas hanya menyisakan satu pesawat Queen of the Skies (julukan Boeing 747) di barisan armadanya.
Baca juga: Sambut New Normal, Qantas Malah Grounded 100 Pesawat dan PHK 6 Ribu Karyawan! 11 Ribu Lainnya Nyusul
Meskipun perusahaan menyebut hal itu (dikirimnya 747 ke Mojave) dilakukan untuk sementara waktu, namun, tetap saja, melihat kondisi dan kebutuhan, banyak pihak menduga Mojave mungkin akan jadi tempat peristirahatan terakhir bagi armada Boeing 747 terakhir kedua Qantas itu.
Dirunut agak ke belakang, sebetulnya, indikasi Qantas ingin mengistirahtkan Queen of the Skies secara permanen sudah dimulai sejak beberapa tahun lalu. Salah satu indikasi terkuat, maskapai yang memiliki nama panjang Queensland and Northern Territory Aerial Services (Qantas) tersebut sudah mulai menurunkan peredaran 747 ke radar Eropa. Sebagai gantinya, A380 dan 787-9 dikerahkan untuk mengisi pos tersebut (rute Eropa).
Dirunut lebih ke belakang lagi, indikasi Qantas untuk mengistirahkan Boeing 747 sepertinya memang tinggal menunggu momen. Sebab, sejak pertama kali berdiri pada 16 November 1920 silam, setidaknya maskapai dengan slogan “The world’s most experienced airline” ini telah memasukan 65 jet 747 ke dalam barisan armadanya.
Simple Flying mencatat, kolaborasi Qantas dan Boeing 747 mulai terjalin apik untuk pertama kali sejak Oktober 1971. Kala itu, maskapai yang berbasis di Mascot, Sydney, Australia ini memesan empat 747 dengan mahar sebesar US$85 juta, angka yang cukup besar di masa itu. Keempat pesawat dengan kode pabrik VH-EBC, VH-EBD, VH-EBE, dan VH-EBF -yang pengirimannya rampung dua tahun berselang- langsung menjadi andalan Qantas untuk rute-rute transpasifik, khususnya rute Singapura-Mumbai-Bahrain-London.
Sukses dengan empat pesawat, Qantas pun semakin bernafsu mengekspansi dunia dengan menambah puluhan armada 747. Ekspansi Qantas bersama Boeing 747 pun juga diikuti dengan inovasi kuliner on board, mulai dari lobster, daging sapi panggang langka, hingga Pavlova (makanan penutup berbasis meringue khas Rusia).
Selain dikerahkan dalam urusan komersial, 747 Qantas juga biasa dilibatkan dalam urusan kemanusiaan, seperti menjemput 674 penumpang setelah Topan Tracy menghancurkan kota pada Malam Natal, hingga yang terbaru, melakukan penerbangan repatriasi warga Australia akibat lockdown negara-negara di dunia.
18 tahun kemudian, Boeing 747-400 pertama bergabung dalam barisan armada Qantas. Setelah lebih dari 30 tahun mengabdi, jaringan 747 Qantas di Eropa lambat laun berkurang drastis, seperti Roma, Athena, Amsterdam, Paris, Frankfurt, bahkan rute gemuk Qantas London dan Manchester.
Boeing 747-400 Qantas dikabarkan menjalani penerbangan transpasifik (Sydney-San Fransisco, jaringan internasional Qantas yang sudah terjalin sampai 50 tahun) terakhir pada akhir Desember tahun lalu dan memulai kehidupan pada rute short haul point-to-point.
Qantas nampaknya lebih mengandalkan beberapa pesawat twin engine long haul terbaru serta Boeing 787-9 Dreamliner sebagai salah satu langkah strategis perusahaan di masa mendatang, salah satunya dalam “Project Sunrise”.
Sebagaimana yang sudah umum diketahui, pada pekan ketiga bulan Oktober tahun lalu, Qantas mulai menguji coba penerbangan Project Sunrise yang menghubungkan Sydney dengan New York. Dengan terpaut jarak sejauh 16.200 km ini, penerbangan transpasifik itu ditempuh dalam waktu 19 jam 16 menit dengan menggunakan Boeing 787-9 Dreamliner.
Baca juga: 3 Desember 2019, Boeing 747-400 Qantas Lakukan Penerbangan Trans Pasifik Terakhir
Penerbangan tersebut pun mematahkan rekor penerbangan langsung terjauh di dunia yang sebelumnya dipegang oleh Singapore Airlines, dengan total durasi perjalanan kurang lebih 18 jam, menghubungkan Newark Liberty International Airport (EWR) New York dan Singapore Changi Airport (SIN).
Selain menghubungkan Sydney dengan New York, Project Sunrise juga akan menghubungkan Melbourne dan Sydney, Australia dengan New York, Amerika Serikat dan London, Inggris.
Turki mulai melakukan uji coba untuk kereta listrik pertama yang diproduksi di dalam negeri pada Senin (29/6/2020) dan uji di jalur rel dijadwalkan pada 30 Agustus 2020 mendatang. Menteri Teknologi dan Industri Turki Mustafa Varank mengatakan, kereta ini kemungkinan akan mulai beroperasi pada akhir tahun 2020.
Baca juga: Setelah Ditangguhkan, Kereta dari Turki ke Iran Kembali Beroperasi
Dia mengatakan, selama pandemi Covid-19, personel Turkey Wagon Industry Corporation (TÜVASAŞ) terus bekerja keras untuk menyelesaikan proyek tersebut. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman hurriyetdailynews.com (29/6/2020), desain dan kecepatan operasi set kereta pertama yang diproduksi ini direncanakan masing-masing 176 km per jam dan 160 km per jam.
Varank menjelaskan bahwa kereta ini dirancang untuk perjalanan antarkota dan pembuatan dengan manufaktur lokal hanya menelan biaya 20 persen lebih rendah dari model impor yang sebanding. Dia menambahkan, ini juga akan berperan untuk pengembangan industri dalam negeri Turki.
Sebab tim di TÜVASAŞ berhasil memproduksi bodi aluminium, melakukan pengecatan dan tes sandblasting di kereta pada tahun 2019 kemarin. Sedangkan sistem kontrol dan manajemen kereta dikembangkan oleh produsen pertahan Turki ASELSAN. Varank mengatakan untuk komponen lainnya seperti subsistem, perangkat lunak, perangkat keras, iklim dan sistem pencahayaan juga dibeli secara lokal.
“Prototipe adalah 60 persen bersumber dari dalam negeri dan kami berharap untuk meningkatkan tingkat itu menjadi 80 persen setelah memulai produksi massal,” kata Varank.
Varank mencatat bahwa volume tahunan sektor sistem perkeretaapian global sekitar 160 miliar euro ($180 miliar) dan diperkirakan akan meningkat dengan cepat. Dia menambahkan, Turki yang sudah bisa bisa membuat kereta listrik mereka sendiri akan menghabiskan 15 miliar euro untuk sistem kereta api berikutnya.
Menteri Transportasi dan Infrastruktur Adil Karaismailoglu mengatakan TÜVASAŞ, yang didirikan sebagai fasilitas perbaikan kereta api, telah menjadi produsen sistem kereta api terbesar di Timur Tengah. Dia mengatakan akan memperhatikan TÜVASAŞ yang melanjutkan operasinya dengan nama Perusahaan Industri Utilitas Sistem Kereta Turki (TÜRASAŞ). Tak hanya itu, Karaismailoglu menambahkan, kementerian akan memprioritaskan proyek-proyek kereta api di periode mendatang.
Baca juga: Lockdown di Turki, Bikin Beruang Cokelat Cari Makan di Stasiun
“Kami akan berusaha menjadikan Turki sebagai pusat produksi kereta api yang penting,” kata dia.
Negara ini telah menghabiskan 880 miliar lira ($338,46 miliar) dalam infrastruktur transportasi dan komunikasi selama 18 tahun terakhir dan 162 miliar lira ($62,3 miliar) dari jumlah ini untuk sistem kereta api.
Menempuh jarak jauh dengan sebuah kapal ferry rasanya mungkin-mungkin saja dan ini sudah dilakukan oleh PT ASDP Indonesia Ferry dengan KMP Legundi yang berlayar dari Surabaya menuju ke Lombok. Bahkan baru-baru ini tepatnya Sabtu (4/7/2020), PT ASDP Indonesia Ferry kembali mengoperasikan layanan ferry jarak jauh atau long distance ferry (LDF) dari Jakarta menuju Surabaya dengan KMP Ferrindo 5.
Baca juga: KMP Legundi – Long Distance Ferry, Kapal RoRo Terbesar di Indonesia
Sebagai kapal ferry RoRo (Roll on Roll off), KMP Ferrindo 5 ini akan berlayar sejauh 434 nautical mile dengan waktu tempuh sekitar 54 jam. KMP Ferrindo 5 ini memiliki bobot 3605 Gross Tonnage (GT) yang mampu memuat 150 orang dengan 53 unit kendaraan campuran. Kapal ferry ini memiliki panjang total 92,14 meter dengan tangki induk bahan bakar minyak (BBM) yang mampu menampung hingga 109 ton.
KMP Ferrindo 5 mampu berlayar dengan kecepatan hingga 13 knot. PJS Corporate Secretary PT ASDP Indonesia Ferry Shelvy Arifin mengatakan, kehadiran layanan LDF ini sebagai wujud dukungan terhadap program tol laut Pemerintah dalam penyediaan sistem distribusi logistik melalui kapal ferry atau roro serta mengurangi beban lalu lintas angkutan darat, khususnya angkutan logistik yang biasa melewati jalur darat pantura Jawa.
“Pada Sabtu (4/7) dini hari KMP Ferrindo mulai berlayar kembali melayani rute Jakarta-Surabaya. Berangkat dari dermaga kade 107 Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta dan akan sandar di dermaga Zamrud, Tanjung Perak, Surabaya dengan waktu tempuh sekitar 54 jam,” kata Shelvy dalam keterangan persnya, Minggu (5/7/2020).
Dia mengatakan, adanya layanan LDF ini sendiri tidak hanya dapat mengurangi kepadatan lalu lintas darat dan biaya logistik, melainkan juga mendukung sektor pariwisata setempat. Tak hanya itu, KMP Ferrindo 5 ini juga ramah lingkungan serta mencapai efisiensi waktu, biaya operasional serta pemeliharaan truk.
Shelvy mengatakan, kehadiran layanan LDF ini ASDP menyediakan fasilitas yang memberikan kenyamanan selama perjalanan bagi para penumpangnya. Dia menambahkan pada bulan Juli, pelayanan KMP Ferrindo 5 dari Jakarta – Surabaya dijadwalkan tanggan 7, 13, 19, 25 dan 31 Juli.
Berikut ini tarif untuk bepergian dengan KMP Ferrindo 5 yakni penumpang dewasa Rp75 ribu, bayi Rp7500, kendaraan golongan I Rp125 ribu, golongan II Rp215 ribu, golongan III Rp425 ribu, golongamn IV penumpang Rp1.495.000. Golongan IV barang Rp1.360.000, golongan V penumpang Rp2.860.000, golongan V barang Rp2.390.000, golongan VI penumpang Rp4.845.000, golongan VI barang Rp3.955.000, golongan VII Rp4.985.000, golongan VIII Rp7.445.000 dan golongan IX Rp11.155.000.
Baca juga: Pelabuhan Lembar, Pintu Masuk Utama Pelancong di Lombok Barat
“Dengan tarif ini, penumpang akan mendapatkan makan selama perjalanan dua kali dalam sehari dan tidak ada pembagian kelas atau bisa dikatakan semua penumpang sama rata statusnya,” tambah Shelvy.
Setelah pra uji coba bus listrik beberapa waktu lalu di Monas, Ancol dan TMII, saat ini PT TransJakarta akhirnya mulai uji coba sebenarnya di jalanan. Uji coba bus listrik tersebut mulai hari ini, Senin (6/7/2020) dengan rute Balai Kota ke Blok M dan sebaliknya.
Baca juga: Natal 2019 dan Tahun Baru 2020 Tak Pergi Keluar Kota? Ayo Jajal Bus Listrik TransJakarta Gratis di Monas
Kepala Divisi Teknik dan Pengembangan Bus Listrik TransJakarta Ery Priwan mengatakan uji coba ini dilakukan tujuannya untuk memastikan unit dapat beroperasi pada standar operasional bus TransJakarta. Selain itu untuk mendapatkan spesifikasi teknik yang sesuai dengan operasional TransJakarta dan sesuai regulasi yang berlaku.
Bagian dalam bus listrik TransJakarta (TransJakarta)
“Bus ini akan beroperasi selama sepuluh jam dalam satu hari yang kemudian akan menjadi 17 jam di rute EV1 yakni Balai Kota – Blok M. Dalam uji coba ini juga kita akan memonitoring perbaikan dan perawatan serta mendapatkan biaya-biaya yang dibutuhkan untuk operasional,” kata Ery melalui zoom meeting, Senin (6/7/2020).
Direktur Utama PT Transportasi Jakarta Sardjono Jhony Tjitrokusumo mengatakan, kehadiran bus listrik ini juga mensosialisasikan program Pemprov DKI Jakarta untuk green city. Apalagi bus listrik ini silent alias senyap sehingga penumpang akan nyaman ketika berada di dalamnya.
Dia menambahkan, selain suara juga membuat udara yang lebih bersih. Jhony mengatakan, kehadiran bus listrik ini memiliki dua nilai yakni kebersihan dan rendahnya desibel atau kebisingan karena menggunakan listrik. “Saat ini kita coba di jalur komersial TransJakarta. Setelah tiga bulan kita sama-sama lihat seperti apa, kalau layak kita perbanyak dan promosikan kepada operator,” ujar Jhony.
Dia menyebutkan dua bus akan dioperasikan sampai akhir tahun dan direksi TransJakarta berencana memiliki 100 bus.
“Saat ini kita gunakan BYD, nanti kalau yang lain mau silahkan saja dan TJ akan pilih bus listrik terbaik dari semua itu. Tarif juga belum ada kajian, YLKI waktu 2010 menghitung tarif kurang lebih Rp5 ribu dan kita nanti pertimbangkan akan naik atau tidak, sekarang masih fokus ke pelayanan,” tambah Jhony.
Untuk diketahui, saat ini dua armada BYD yang diuji coba bertipe K9 untuk bus single low entry dan C6 untuk bus medium. Kapasitas bus single low entry akan menampung 25 orang baik untuk duduk atau berdiri sedangkan bus medium sebanyak 11 orang duduk dan tidak ada yang berdiri.
Baca juga: BYD K9 – Inilah Bus Listrik untuk Koridor 13 TransJakarta
Layanan ini akan mulai beroperasi dari pukul 10.00-20.00 WIB dengan headway 45 menit dan berhenti di halte-halte Non-BRT di sepanjang rute Blok M hingga Balai Kota. Pada uji coba ini, penumpang yang akan naik bus rute EV1 tersebut tidak akan dikenakan biaya tetapi tetap diwajibkan untuk tap in dan tap out pada alat tap on bus (TOB) yang tersedia dalam bus.
Perusahaan asal Indonesia, PT Smart Cakrawala Aviation berhasil mencatatkan sejarah menjadi perusahaan pertama di Asia Pasifik yang menerima Helikopter Airbus lewat skema pengiriman e-Delivery.
Baca juga: Wabah Corona Dorong Airbus Kirim Pesawat e-Delivery
Dilansir dari asianaviation.com, sebagaimana namanya, prosesi pengiriman helikopter H130 dengan skema pengiriman e-Delivery tersebut dilakukan secara daring melalui video conference antara pihak Airbus Helicopters dan Smart Cakrawala Aviation selama dua hari.
Dalam dua hari itu, Smart Cakrawala Aviation selaku penerima menyaksikan langsung proses inspeksi helikopter, sebelum serah terima disetujui. Dalam keadaan normal, pihak penerima biasanya akan membawa tim mekanik tersendiri untuk mengecek langsung kondisi helikopter sebelum diterima.
Video conference antara pihak Airbus Helicopters dan Smart Cakrawala Aviation berlangsung selama dua hari. Foto: Airbus Helicopters
Melalui skema pengiriman e-Delivery, pihak penerima, dalam hal ini Smart Cakrawala Aviation tetap akan melakukan proses inspeksi secara langsung, hanya saja, melalui tim ahli atau mekanik Airbus yang sudah ditunjuk oleh perusahaan (Smart Cakrawala Aviation).
Selain itu, melalui sambungan video conference, pihak Smart Cakrawala Aviation juga tetap bisa memonitor kondisi helikopter dengan kiriman video dan foto real time. Foto dan video tersebut berupa banyak hal, mulai dari kondisi helikopter segala sudut sebelum terbang, saat proses inspeksi (pengecekan seluruh fitur fisik maupun non-fisik), uji terbang, loose object check, hingga proses sterilisasi bakteri dengan menyemprotkan cairan disinfektan ke seluruh permukaan helikopter.
Helikopter H130 yang nantinya akan berpindahan tersebut saat ini sudah tersedia di pusat pusat pengiriman regional Airbus Helicopters di Subang, Malaysia. Bila proses inspeksi – termasuk verifikasi dokumen secara daring- berjalan lancar, dalam dua minggu ke depan helikopter H130 akan diterbangkan langsung ke Jakarta.
Proses tersebut sejatinya merupakan terobosan baru di industri penerbangan dalam menyikapi penularan wabah Covid-19. Hanya saja, selain diklaim lebih safety tanpa adanya tatap muka, skema pengiriman e-Delivery juga disebut berbagai pihak membuat proses pengiriman jauh lebih efisien, mengingat calon penerima unit tak perlu melakukan perjalanan dinas ke pabrik.
Proses inspeksi oleh tim ahli resmi dari Airbus selaku perwakilan pihak pembeli. Foto: Airbus Helicopters
Kepala Airbus Helicopters Asia-Pasifik Vincent Dubrule, mengatakan terlepas dari kendala wabah Covid-19, Airbus berkomiten untuk tetap mengirimkan unit sesuai jadwal; meskipun hal itu dilakukan seluruhnya dengan online, tanpa sekalipun tatap muka.
“Terlepas dari tantangan Covid-19 yang terjadi, sangat penting bahwa kami terus mempertahankan pengiriman terjadwal kepada pelanggan. Kami merasa terhormat mendapati Smart Cakrawala Aviation, tidak hanya sebagai pelanggan baru kami, melainkan juga sebagai operator pertama di Asia Pasifik yang menerima helikopter melalui proses e-Delivery yang inovatif ini. Kami berterima kasih atas kepercayaan mereka, dan akan terus mendukung operasi mereka,” jelasnya.
Baca juga: Airbus Helicopters UK dan Universitas Cranfield Inggris Uji Sistem Pemantau Rotor Real Time
Sementara itu, CEO Smart Cakrawala Aviation, Pongky Majaya, mengatakan pihaknya sangat menghargai kapasitas Airbus dalam mengirimkan pesawat lewat skema e-Delivery. Di samping itu, pengiriman unit sesuai jadwal juga telah membantu mereka meningkatkan kesiapan operasional.
“Ini (pengiriman pesawat lewat skema e-Delivery) adalah penerimaan elektronik yang sukses dan kami menghargai kemampuan Airbus untuk melakukan pengiriman helikopter secara online. Proses ini mempercepat kesiapan operasional kami dan H130 meningkatkan kemampuan kami. Kami senang dengan kepastian Airbus dan tetap percaya diri dalam kemitraan baru ini yang kami perjuangkan bersama,” ungkapnya.