Antisipasi Covid-19, Awak Kabin AirAsia Punya Seragam Baru Mirip Kostum Hazmat

AirAsia meluncurkan seragam barunya untuk para awak kabin yang meliputi pakaian dengan model kostum hazmat, kaca pelindung muka dan masker. Nantinya para penumpang akan dilayani oleh para awak kabin yang berpakaian dengan perelengkapan perlindungan diri. Baca juga: Antisipasi Covid-19, Semua Awak Kabin di Taiwan Dilengkapi APD Maskapai berbiaya hemat ini, mengatakan dengan kehadiran seragam baru tersebut akan membantu penumpang dan staf tetap aman di udara selama pandemi virus corona atau Covid-19 berlangsung. Untuk seragam baru ini, AirAsia meminta bantuan desainer Puey Quinones yang berbasis di Los Angeles.
Awak kabin AirAsia gunakan seragam baru
Puey kemudian memposting seragam baru tersebut di akun Instagramnya dengan caption, “AirAsia meluncurkan Alat Pellindung Diri (APD) untuk melindungi awak kabinnya. Dirancang oleh saya. Terima kasih.” Dilansir KabarPenumpang.com  dari laman metro.co.uk (27/4/2020), nantinya seragam ini akan digunakan oleh awak kabin diseluruh penerbangan baik rute domestik maupun internasional. Sheila Romero dari AirAsia mengatakan memilih untuk memiliki bahan APD yang disetujui oleh Departemen Kesehatan Filipina untuk melindungi Allstars mereka. “Pada saat yang sama seragam baru dirancang untuk mengumumkan kami bangga dengan AirAsia dan kami akan bangkit dari pandemi ini. Aku ingin meningkatkan moral staf kami ketika mereka menggunakan seragam baru ini,” ujar Sheila. Dia mengatakan APD tersebut nyaman karena desainya chic dan sporty serta tidak begitu tebal dan berat. “Saya suka itu keren dan sporty mirip dengan apa yang dipakai pembalap mobil Formula Satu. Perpaduan mode dan keamanan ini akan menentukan standar baru terbang hari ini,” kata Sheila. Bukan hanya kru yang akan memiliki tampilan baru ketika terbang dengan AirAsia Filipina dalam waktu dekat. Penumpang akan diminta untuk membawa masker mereka sendiri. Mereka harus memakainya saat check in, saat dalam penerbangan, dan saat mengambil bagasi. Ini jauh dari rezim yang lebih santai tentang masker wajah di sebagian besar maskapai penerbangan lainnya. Dengan tidak adanya bukti bahwa masker wajah mencegah penyebaran virus, sebagian besar maskapai penerbangan tidak memerlukan penumpang untuk memakainya. Selanjutnya, semua penumpang dan awak harus menjalani pemeriksaan suhu sebelum naik. Tas tangan juga akan dibatasi hingga lima kilogram sehingga memudahkan menjaga jarak sosial. Apa pun yang Anda pikirkan tentang tampilan baru, awak kabin dengan setelan APD mungkin menjadi semakin umum. Baca juga: 30 Awak Kabin Singapore Airlines Jadi Duta Perawat di Rumah Sakit Ini mungkin terjadi di beberapa bagian dunia, seperti Asia Tenggara, yang padat penduduk dan sering menjadi rumah bagi wabah virus. Itu sesuatu yang biasa mereka lakukan. Bagi semua orang, itu adalah sesuatu yang mungkin harus dibiasakan.

Heboh Pentagon Rilis Video UFO, Penumpang Pesawat Ini Bahkan Pernah Lihat UFO di Siang Bolong

Belum lama ini, Pentagon (kantor utama angkatan bersenjata Amerika Serikat) merilis tiga video rahasia Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) yang diduga banyak pihak merupakan penampakan pesawat alien (UFO/unidentified flying object). Video yang direkam melalui kamera infrared tersebut terlihat menampilkan UFO yang terbang secara cepat. Angkatan Laut sebelumnya mengakui kebenaran video itu pada September 2019. Baca juga: Tunggu Investor, Kendaraan Berbentuk UFO Siap Mengudara Namun, tahun 2019 bukan hanya Pentagon yang berhasil menggemparkan publik dengan pernyataan berkenaan dengan UFO. Dikutip KabarPenumpang.com dari DailyMail, pada pertengahan April di tahun tersebut, seorang penumpang pesawat Jeju Air bernama Lucas Kim, juga berhasil menggemparkan publik karena mengklaim dirinya melihat UFO dari jendela pesawat. Peristiwa penumpang pesawat Jeju Air melihat UFO bermula saat pesawat yang ditumpanginya sedang dalam perjalanan dari Seoul ke Thailand. Mendadak saja, Kim lalu melihat benda berwarna putih terbang di samping pesawatnya. Mengira jika itu adalah pesawat yang lain, Kim pun mengambil inisiatif untuk merekam. Namun, setelah dilihat lagi, Kim justru mendapati benda tersebut tampak seperti cahaya misterius yang berwarna kuning kehijauan. Cahaya tersebut lalu terlihat terpecah menjadi enam bagian dan terbang melayang-layang. “Jarang melihat pesawat lain terbang di sebelah pesawatmu, jadi aku mengeluarkan ponselku dan merekamnya. Ketika saya melihat dari dekat (men-zoom video), itu bukan pesawat, itu adalah enam individual vehicles. Itu seperti cahaya kehijauan-kekuningan berdenyut,” katanya. Meskipun ada ada kemungkinan objek tak dikenal tersebut merupakan sinar matahari yang terpantul dari jendela, tapi Kim meyakini itu adalah sesuatu yang luar biasa. Kim akhirnya harus berpisah dengan objek diduga UFO itu setelah (UFO tersebut) terpendar menjadi enam dengan formasi 2-2-2 dan bermanuver tak seperti bukan sebuah pesawat biasa. Beberapa saat kemudian, mereka berpisah dan menghilang dari pandangan. Pada tahun 2015, DailyMail juga pernah mewartakan peristiwa penumpang pesawat melihat UFO yang juga sempat menggemparkan publik. Saat itu, seorang penumpang maskapai American Airlines dari San Jose, California menuju Houston, Texas, dilaporkan tak sengaja memotret sebuah foto. Kala itu, ia mengaku sedang memotret pemandangan saat sedang bosan. Namun ia tak sadar bahwa ternyata pesawat yang ditumpanginya tersebut berada di sebuah wilayah perbatasan dekat pangkalan militer rahasia, Area 51. Baca juga: Ada Penampakan UFO di Dekat Kereta, Laporan Wanita ini Disangsikan Penumpang pria yang tak disebutkan namanya ini tidak menyadari bahwa wilayah yang dilewatinya merupakan wilayah gurun yang lokasinya berada di Luning and Gabbs, Nevada. Ketika ia sedang memotret, barulah ia sadar ada sebuah cahaya aneh, seakan-akan membentuk pola piringan besar berada di langit. Setelah ia melihat lebih dekat foto yang diambil, ia menyadari terdapat kejanggalan dari foto jepretannya tersebut. Ia langsung melaporkan penampakan yang ia ambil ke organisasi Mutual UFO Network.

Hong Kong Persiapkan Lanskap Baru Pasca Pandemi

Berbagai sektor industri dunia saat ini tengah terguncang bahkan ada juga yang tutup karena pandemi Covid-19 yang merebak di seluruh negara. Selain industri penerbangan, nyatanya industri pariwisata pun ikut tumbang karena banyak tempat wisata yang harus tutup demi meminimalisir penyebaran pandemi ini. Baca juga: Dianggap Inti dari Ekosistem Pariwisata, Matta Desak Pemerintah Malaysia Selamatkan Industri Penerbangan Namun meski begitu, Dewan Pariwisata Hong Kong belum lama ini memprediksi lanskap baru pariwisata pasca pandemi. Dr. YK Pang, Ketua Dewan Pariwisata Hong Kong mengatakan, pademi Covid-19 telah menimbulkan tantangan pariwisata yang belum pernah dialami Hong Kong dan juga global. “Secara global setelah masa pandemi ini selesai, industri pariwisata akan menemukan formula barunya. Kita akan melihat akan ada perubahan prefensi dan kebiasaan dari para pelancong ketika mereka ingin berlibur,” kata Pang dikutip dari siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com, Senin (27/4/2020). Pang mengatakan, sebagai prioritas utama, pelancong akan menempatkan kondisi kesehatan publik di negara tujuan. Tak hanya itu, pelancong juga akan memiliki standar tersendiri untuk tingkat kebersihan di toilet, area fasilitas umum untuk turis serta transportasi yang digunakan di negara tujuan. Pang menambahkan, nantinya pelancong akan lebih memilih untuk melakukan perjalanan rencana pendek dan wisata bertema wellness akan menjadi sebuah tren baru. “Ini akan menjadi waktu yang tepat bagi kami untuk melihat dan merancang kembali strategi untuk menempatkan Hong Kong di pasar pariwisata global dan juga meningkatkan standar layanan,” jelas Pang. Dia menyebutkan, perjalanan domestik akan menjadi pilihan utama tidak lama setelah pandemi berakhir dan perjalanan internasional akan mengikuti setelahnya. Bahkan persaingan akan semakin ketat karena semua yang bergerak di industri pariwisata akan melakukan promosi intensif untuk menarik wisatawan. “Kami akan meluncurkan program bertajuk ‘Jelajah Hong Kong’ yang ditujukan untuk pelancong muslim (di Indonesia) bersama dengan program lainnya dalam rencana pemulihan pariwisata Hong Kong,” tambah Pang. Sebelumnya, Dewan Pariwisata Hong Kong telah mengumumkan bahwa mereka akan mengalokasikan HK$400 juta untuk mendukung inisiatif dan promosi wisata. Direktur Eksekutif Dewan Pariwisata Hong Kong Dane Cheng menjelaskan bahwa saat ini telah disusun rencana tiga fase untuk menghidupkan kembali pariwisata Hong Kong. Eksekusi rencana ini akan tergantung pada perkembangan pandemi di Hong Kong dan secara global. Untuk diketahui, Hong Kong tengah membuat tiga fase pemulihan pariwisata mereka. Fase pertama yang saat ini adalah Resilience yakni Dewan Pariwisata Hong Kong mempersiapkan pemulihan pariwisata. Fase kedua Recovery, di mana ketika pandemi mulai menunjukkan tanda-tanda mereka, Dewan Pariwisata hong Kong akan fokus pada pasar lokal untuk mempromosikan suasana positif di Hong Kong dengan mendorong penduduk setempat untuk menata kembali lingkungan dan budaya di masyarakat agar mereka dapat mengirim pesan positif kepada semua pelancong akan keunggulan Hong Kong sebagai destinasi wisata. Baca juga: Hong Kong ‘Lockdown’ Warganya dengan Gelang Canggih Di waktu yang bersamaan, Dewan Pariwisata Hong Kong juga akan meluncurkan promosi dengan perdagangan di pasar pasar-pasar tertentu berdasarkan perkembangan di masing-masing pasar agar wisatawan mancanegara tertarik untuk mengunjungi Hong Kong. Fase ketiga yakni Relaunch adalah Dewan Pariwisata Hong Kong akan meluncurkan acara besar dan program kampanye pariwisata baru untuk membangun kembali citra pariwisata Hong Kong.

Awas, Hindari Keramaian! Studi Terbaru Mendukung Gagasan Virus Corona Menular Lewat Airborne

Virus Cina (menukil perkataan Presiden AS Donald Trump) disebut dapat bertahan 4 jam di bahan tembaga, 24 jam di bahan kardus, 2-4 hari di permukaan plastik dan stainless, 9 hari di permukaan logam dan kaca, serta 3 jam di udara. Baca juga: Para Ahli Sebut Penumpang Lansia Buat Penularan Virus Corona Jadi Lebih Cepat Terkait adanya virus corona di udara, belum lama ini sebuah penelitian menemukan bahwa virus corona dapat bertahan di ruangan penuh sesak atau ruangan yang kurang ventilasi. Para peneliti pun belakangan mulai mendukung gagasan penyebaran Covid-19 dapat menular lewat partikel-partikel udara kecil di udara atau yang biasa dikenal sebagai aerosol. Dikutip dari Bloomberg, studi yang dilakukan di dua rumah sakit di Wuhan, Cina, berhasil menemukan potongan-potongan materi genetik virus bertebaran di udara toilet rumah sakit, ruangan yang memungkinkan adanya kerumunan besar, dan kamar-kamar dimana petugas medis melepas Alat Pelindung Diri (APD). Meski demikian, studi yang dipublikasikan di jurnal Nature Research, Senin lalu tersebut tidak dimaksudkan untuk menunjukkan apakah virus corona dapat tersebar lewat airborne. Para peneliti, yang dipimpin oleh Ke Lan dari Universitas Wuhan, membuat sejenis perangkap aerosol di dan sekitar dua rumah sakit di kota yang diduga menjadi asal mula munculnya virus corona jenis baru. Dari perangkap atau jebakan aerosol itu, hasilnya mereka menemukan beberapa aerosol di ruang perawatan, supermarket, dan bangunan tempat tinggal. Tak hanya itu, virus corona juga terdeteksi di toilet dan dua tempat (di dalam dan sekitar rumah sakit) yang banyak orang lewati, termasuk ruang tertutup di dekat salah satu rumah sakit. Namun, perhatian utama para peniliti adalah ruangan di mana staf medis melepas peralatan pelindung. Diduga, APD petugas medis yang sudah terkontaminasi Covid-19 mungkin tersebar kembali ke udara ketika mereka melepas masker, alat pelindung wajah, sarung tangan, dan hazmat. Temuan itu pun menyoroti pentingnya ventilasi, membatasi keramaian, dan upaya sanitasi yang cermat. Belakangan, narasi, statement, teori, atau gagasan tentang seberapa mudah virus corona menyebar di udara menjadi perdebatan di kalangan para ahli medis dunia, khususnya spesialisasi penyakit menular, menyusul adanya dua hal yang kontradiktif. Di satu sisi, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa virus corona tidak menyebar lewat udara (airborne), merujuk pada analisis ke lebih dari 75 ribu kasus corona di Cina. Baca juga: Peneliti: Virus Corona Bisa Bertahan Selama 7 Hari di Masker Bedah Di sisi lain, ketika sebaran virus Cina semakin meluas, dimana ditemukan hampir 70 ribu kasus baru pada hari ini, menewaskan lebih dari 210 ribu jiwa, dan menginfeksi lebih dari 3 juta orang di seluruh dunia, para ilmuan pun dibuat penasaran dan tertantang untuk lebih memahami dengan tepat bagaimana infeksi bisa begitu masif dan cepat. Umumnya, seseorang menghasilkan dua jenis percikan ketika mereka bernapas, batuk, bersin, atau berbicara. Percikan yang lebih besar disebut akan jatuh ke tanah sebelum memuai dan menyebabkan manusia terinfeksi melalui benda-benda di sekeliling mereka. Adapun yang lebih kecil atau aerosol, disebut bisa bertahan di udara selama berjam-jam.

Hentikan Sementara Penjualan Tiket Penumpang, ASDP Hanya Layani Logistik

PT ASDP Indonesia Ferry mematuhi kebijakan Pemerintah terkait larangan mudik demi mendukung pencegahan penyebaran Covid-19_dengan hanya menyediakan layanan penyeberangan untuk angkutan logistik dan menghentikan sementara layanan penumpang dan kendaraan golongan I – VI hingga 31 Mei 2020. Baca juga: Tanggapi Larangan Mudik, PT ASDP Akan Fokus Pada Pelayanan Angkutan Logistik Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry Ira Puspadewi menyatakan bahwa di tengah situasi pandemik Covid-19 ini, yang menjadi fokus utama adalah kesehatan dan keselamatan seluruh masyarakat dan karyawan (people first), untuk itu ASDP terus menerapkan protokol preventif di seluruh pelabuhan dan kapal-kapal kami secara ketat. Dan sebagai tindak lanjut dari larangan mudik Pemerintah, ASDP akan mentaati Peraturan Menteri Perhubungan No.25 Tahun 2020 tentang Pengendalian Transportasi selama Masa Mudik Idul Fitri Tahun 1441 H dalam rangka Pencegahan Penyebaran Covid-19 hingga tanggal 31 Mei 2020, ASDP menghentikan sementara seluruh layanan penyeberangan bagi penumpang dan kendaraan, kecuali layanan angkutan logistik, kendaraan pengangkut alat medis dan kendaraan jenazah. “Pada Minggu (26/4) kami juga telah berkoordinasi dengan Kakorlantas Polri bersama jajaran Polda Banten dan telah diputuskan bahwa kapal-kapal angkutan penyeberangan Merak-Bakauheni dilarang mengangkut penumpang pejalan kaki, sepeda motor, kendaraan angkutan orang, baik pribadi maupun umum. Namun, untuk pengecualian bagi mobil angkutan barang/logistik,” ujar Ira yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers yang diterima Selasa (28/4/2020). Pandemik Covid-19 yang mendorong terjadinya physical distancing memang berdampak pada penurunan produksi penumpang dan kendaraan sekitar 40 persen, namun hal ini tidak berlaku pada kendaraan logistik karena tetap dilayani. Fokus ASDP saat ini menjaga agar penyeberangan logistik tetap berjalan lancar sehingga mobilisasi pasokan logistik ke seluruh Indonesia tetap terjaga dengan baik sesuai arahan Presiden untuk tetap menjaga pasokan logistik di daerah. Terkait penghentian sementara layanan penumpang dan kendaraan yang mengangkut penumpang, ASDP juga akan mengikuti arahan dari Badan Pengelola Transportasi Darat Wilayah VIII Provinsi Banten untuk menghentikan sementara pelayanan penjualan tiket online via Ferizy untuk penumpang pejalan kaki, kendaraan golongan I, II, III, IVA, VA dan VIA mulai 27 April hingga periode 31 Mei 2020. “Kami berharap seluruh pengguna jasa dapat mengikuti aturan Pemerintah untuk tidak melakukan perjalanan mudik pada tahun ini, dan tetap berada di rumah demi menekan penyebaran Covid-19 lebih meluas lagi,” ujarnya. Bqca juga: Ini Cara Unik Orang Indonesia Demi Pulang ke Kampung Setelah Pemerintah Larang Mudik Bagi para pengguna jasa yang telah membeli tiket penyeberangan pada periode 27 April – 31 Mei 2020 maka dapat melakukan pengembalian biaya tiket (refund) 100 persen dengan proses pengembalian maksimal 30 hari. Proses refund dapat dilakukan lewat pengajuan melalui www.ferizy.com atau menghubungi contact center ASDP di 08111-021-191 dan cs@indonesiaferry.co.id.

Pesawat Pun Kini Ada Varian Mesin Diesel Berbahan Bakar Bensin, Loh!

Selama ini mungkin kalangan awam umumnya mengetahui kalau pesawat berbahan bakar avtur, baik dengan mesin jet atau mesin propeller. Padahal, pesawat pun ada juga yang berbahan bakar bensin, layaknya mobil. Baca juga: “Bird of Prey” – Desain Mahakarya Airbus yang Terinspirasi dari Burung Elang Masih ingat Haerul, pria 34 tahun asal Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan (Sulsel), yang berhasil membuat pesawat? Kala itu, pesawat buatannya tersebut berhasil terbang salah satunya berkat dukungan mesin motor berbahan bakar bensin bekas pakai. Pada umumnya pesawat berbahan bakar bensin hanya ditemukan di pesawat kecil. Namun demikian, baik pada pesawat besar ataupun kecil, belum ditemukan satupun dengan mesin diesel berbahan bakar bensin. Dilansir dari cordis.europa.eu, terdapat beberapa alasan mengapa pesawat belum menggunakan mesin diesel berbahan bensin, salah satunya berhubungan dengan desain. Namun, bila masalah tersebut berhasil dipecahkan, mungkin pesawat bisa mencapai tingkat efisiensi lebih dari yang sudah dicapai saat ini. Mesin ini (diesel) dinilai lebih efisien berkat proses pengapian melalui kompresi campuran bahan bakar dan udara. Rasio kompresi diesel yang lebih tinggi memungkinkan penggunaan energi yang terkandung dalam bahan bakar secara lebih efisien, yang berarti efisiensi pembakaran yang lebih baik dan konsumsi bahan bakar yang lebih rendah. Kesederhanaan mesin piston dan konsumsi bahan bakar yang rendah memungkinkan bobot yang lebih ringan dan efisiensi yang lebih baik untuk pesawat. Hal ini pun menghasilkan peningkatan kredensial lingkungan dan biaya operasional. Dengan jaminan efisiensi, penggunaan mesin diesel di pesawat dipercaya akan sangat diminat. Namun, sebelum itu, berbagai kekurangan harus terlebih dahulu dipecahkan untuk mendukung mesin diesel dengan bahan bakar jet (bensin) pada pesawat. Hal inilah yang jadi perhatian utama dalam proyek ARGOS yang didanai oleh Uni Eropa. Masalah pertama dengan mesin diesel berbahan bakar jet adalah bahwa mesin tersebut dirasa sangat kasar dibandingkan dengan mesin lama. Distribusi torsi yang tidak merata dinilai menyebabkan getaran yang pada akhirnya membuat baling-baling haus. Ini mengurangi masa pakainya dan meningkatkan risiko kegagalan. Masalah kedua adalah bahwa desain baling-baling harus disesuaikan dengan jenis mesin. Menggunakan desain rancangan lama untuk mesin diesel berbahan bakar bensin hanya menambah masalah kelelahan, selain tidak efisien. Berangkat dari dua masalah tersebut, para ahli pun mulai bereksperimen dengan menetralkan getaran melalui media sebuah perangkat peredam. Di dalam mobil, gearbox mungkin bisa saja memenuhi fungsi ini (menetralkan getaran). Namun, tim menolak opsi itu karena dinilai banyak kelemahan. Selanjutnya, para peneliti yang terdiri dari berbagai ahli pun coba menguji banyak kombinasi bentuk, bahan, dan mesin baling-baling. Setelah lama berproses, hasil pun kemudian didapat dengan membuat prototipe desain baling-baling baru. “Hasil paling penting dari proyek ini adalah data yang diperoleh dari eksperimen ini. Mudah untuk mengatakan bahwa mesin diesel bekerja dengan kasar, tetapi seberapa banyak, dan mengapa?” kata Vilém Pompe, koordinator proyek ARGOS. “Solusi dari kami meliputi pemasangan bantalan retensi dalam bilah baling-baling yang mampu menyerap energi getaran. Kami juga menemukan bahan yang cocok untuk baling-baling dan hub baling-baling yang juga mampu menyerap energi,” tambahnya. Baling-baling baru lebih berat dan lebih kuat dari baling-baling yang dirancang untuk mesin bensin. Selain itu, desain yang dihasilkan juga lebih sederhana daripada desain laternatif untuk mesin berbahan bakar bensin. Padahal ongkos produksinya sebanding. Baca juga: Ini Dia Mesin Jet Terbesar di Dunia, Harganya Bikin Merem Melek! Setelah pengujian desain awal, diikuti oleh pembuatan dan validasi prototipe, pengujian berlanjut pada periode pasca-proyek. Tim pun ditantang untuk mematenkan desain berdasarkan prototipe yang ada dan membawa hasilnya ke pasar. Berdasarkan pengujian yang sedang berlangsung, para peneliti kemudian mengembangkan prototipe yang sedikit dimodifikasi dari yang sudah ada. Mesin diesel berbahan bakar bensin inilah yang kemudian akan digunakan untuk proses sertifikasi. Rencananya, dalam waktu, tim akan mulai mengujicoba mesin tersebut. Bila berhasil, baling-baling proyek ARGOS akan memungkinkan penggunaan mesin diesel yang efisien dalam penerbangan. Tentu saja akan berimbas pada operasional pesawat kecil yang lebih ekonomis dan ramah lingkungan.

Bandara Hong Kong Terapkan Teknologi Disinfeksi Canggih yang Mampu Sterilkan 99 Persen Bakteri

Otoritas Bandara Hong Kong (AA) dilaporkan telah mengujicoba teknologi disinfeksi terbaru di Bandara Internasional Hong Kong (HKIA) untuk menekan risiko penularan Covid-19 yang menyebar di antara penumpang dan staf bandara. Teknologi disinfeksi canggih tersebut diklaim mampu mensterilkan hingga 99,99 persen bakteri. Baca juga: Penerbangan Masih Lesu, Bandara Hong Kong Kehilangan 91 Persen Pengunjung Walaupun mampu mensterilkan bakteri nyaris 100 persen, robot pembersih otonom yang diberi nama CLeanTech tersebut penggunaannya cukup mudah dan cepat. Mula-mula calon pengguna diharuskan men-scan wajah guna mengukur suhu tubuh. Setelah itu pengguna cukup masuk ke dalam dan menjalani proses disinfeksi hanya dalam tempo 40 detik. Hal itu (membunuh bakteri nyaris 100 persen dan dalam tempo yang singkat) dimungkinkan dengan tertanamnya beberapa teknologi di dalam CLeanTech. Mulai dari antimicrobial coating (‘nano needles’ technology), ultraviolet light steriliser, dan air steriliser. Ketiga teknologi tersebut mempunyai peran masing-masing selama proses disinfeksi. Antimicrobial coating disebut mampu menghilangkan seluruh bakteri di lapisan pakaian pengguna. Teknologi tersebut kemudian dilengkapi dengan adanya ultraviolet light steriliser untuk memastikan bahwa tidak ada bakteri yang tersisa di pakaian pengguna. Adapun air steriliser memastikan bahwa udara yang masuk dari luar (saat pintu dibuka) tidak mengkontaminasi udara di dalam CLeanTech. Perlu dicatat, robot disinfeksi canggih Bandara Hong Kong tersebut tidak seperti bilik disifeksi yang pernah marak diterapkan di Indonesia. Robot tersebut sama sekali tidak mengeluarkan air atau sejenisnya selama proses disinfeksi. Jadi, tidak membahayakan permukaan kulit atau bagian-bagian sensitif, seperti mata dan bibir. Saat ini, robot disinfeksi canggih CLeanTech masih akan diujicoba hingga akhir Mei mendatang. Setelah proses ujicoba selesai, rencananya robot otonom CLeanTech akan dioperasikan dalam masa yang cukup panjang, dengan melihat situasi dan kondisi perkembangan virus corona di dunia. Sejauh ini, penggunaannya hanya dikhususkan untuk seluruh staf yang berhadapan langsung dengan para penumpang. Namun demikian, bukan berarti penumpang tidak mendapatkan cipratan teknologi disinfeksi apapun. Untuk penumpang, AA telah mengujicoba antimicrobial coating yang tersebar di seluruh area penumpang, mulai dari lounge, lobby, counter check-in, boarding gate, dan tempat lainnya. “Keselamatan dan keamanan staf serta penumpang bandara selalu menjadi prioritas utama kami. Meskipun lalu lintas udara telah dipengaruhi oleh pandemi, AA berusaha keras untuk memastikan bahwa bandara adalah lingkungan yang aman bagi semua pengguna. Kami akan terus mencari langkah-langkah baru untuk meningkatkan proses pembersihan dan disinfeksi,” kata Wakil Direktur Service Delivery Otoritas Bandara Hong Kong, Steven Yiu, sebagaimana dikutip KabarPenumpang.com dari airport-technology.com. Baca juga: Hong Kong ‘Lockdown’ Warganya dengan Gelang Canggih Penerapan teknologi CLeanTech tentu saja bukan upaya pertama HKIA dalam menekan penyebaran virus Cina di negara mereka. Sebelumnya, salah satu hub internasional utama di Asia Timur tersebut juga telah melakukan rapid tes corona ke seluruh penumpang yang baru tiba mulai 9 April lalu. Hal itu pun menjadikan Bandara Hong Kong menjadi yang pertama di dunia dalam pemeriksaan virus Corona bagi penumpang. Selain itu, Otoritas Hong Kong bekerjsama dengan Otoritas Bandara Hong Kong juga telah menerapkan teknologi gelang elektronik canggih mulai akhir Maret lalu. Gelang tersebut akan diberikan kepada turis maupun masyarakat yang baru pulang bepergian dari luar negeri untuk memantau mereka selama fase karantina mandiri. Guna mendukung kesuksesan kebijakan tersebut, pemerintah Hong Kong mengklaim pihaknya telah memiliki lebih dari 60.000 gelang siap guna.

Gunakan Aplikasi Cheetah, Pemilik Restoran Independen di AS Kembali Bergeliat

Selama masa pandemi Covid-19 ini sudah melumpuhkan banyak industri restoran. Tak hanya merumahkan para pekerja mereka karena pendapatan yang kurang, tapi juga menutup gerai-gerai yang ada. Ini tidak hanya terjadi pada restoran besar, tetapi restoran independen atau yang berdiri sendiri pun juga sama. Baca juga: 130 Kasus Virus Corona di Perancis, Museum Louvre Ditutup Namun meski begitu, para pemilik restoran independen ini kemudian mencari cara untuk bisa mempertahankan dan menggaji para karyawan serta keberlangsungan hidup mereka. Tak hanya itu, para pemilik layanan antar persediaan restoran pun dihadapkan dengan gudang penuh makanan dan barang yang mudah rusak serta pesanan besar yang tiba-tiba dibatalkan. Kisah demi kisah ini mengungkapkan dampak buruk Covid-19 pada industri restoran. Hal tersebut kemudian membuat mereka semua bekerja sama dengan Kostas Lazanas dari Opa! Travena Yunani di Dallas untuk memfilmkan dan mengedit seri dokumenter video yang akan memprofilkan pemilik restoran industri di seluruh negeri. KabarPenumpang.com merangkum laman modernrestaurantmanagement.com (17/4/2020), nantinya setiap episode yang dipromosikan di jejaring sosial gabungan tersebut akan menggunakan tagar #TooSmallToFail dan #Cheetah4You, dan menyoroti pemilik restoran yang berbeda yang berbagi perjuangan pribadi mereka selama krisis ini. Serial perdana dimulai dari Julian Rodarte dari Beto & Son di Dallas yang merupakan restoran milik keluarga Meksiko yang buka setiap hari. Setelah lumpuh, Julian dan sang ayah tidak dapat mempertahankan karyawan mereka dari yang dulunya 80 orang. Kini restoran tersebut hanya dikelola keduanya dan beberapa orang lain. Masa depan tak terhindarkan dan mereka harus menutup pintu karena pandemi ini. Namun, begitu video Cheetah4You di atas ditayangkan perdana pada tanggal 21 Maret, segalanya mulai berubah untuk Julian. Masyarakat sekarang sadar bagaimana mereka dapat membantu dengan memesan makanan dan membeli kartu hadiah. Pesanan mulai masuk dan tak lama kemudian Beto & Son dapat merekrut kembali 20 anggota staf mereka dan harapan terungkap bagi Julian dan ayahnya. Serial berikutnya kemudian menawarkan makanan dan suplai grosir bagi yang membutuhkan. Seminggu sebelum penutupan, Shelter in place di California memutar bisnis untuk membantu produk lokal dan usaha kecil di Bay Area mendapatkan makanan serta pasokan penting mereka. Menawarkan Makanan dan Suplai Grosir bagi Yang Membutuhkan Mereka kemudian menawarkan pemesanan makanan dan pasokan massal melalui aplikasi seluler Cheetah, yang telah dimodifikasi untuk melayani konsumen maupun bisnis. Ketika pemesanan dilakukan, pelanggan dapat memilih lokasi pengambilan terdekat untuk dipenuhi pada hari berikutnya. Persediaan diperbarui secara waktu nyata sehingga pelanggan tahu bahwa apa yang mereka pesan akan tersedia untuk pengambilan. Dua lokasi pertama adalah markas Cheetah di San Francisco dan gudang Shelter in place di Pleasanton, CA. Hugo Sanchez seorang pemilik kedai es krim di daerah Teluk yang disebut La Michoacana. Dia memiliki dua kembar prematur di rumah dan toko es krimnya ditutup tetapi dia menggunakan Cheetah untuk mendapatkan makanan dan persediaan untuk keluarganya, karena dia “takut pergi ke luar”. Menggunakan layanan pengiriman restoran daripada bepergian ke toko grosir telah membantunya dan keluarganya. Ini adalah pengingat penting untuk melindungi kesehatan dan keselamatan keluarga dan teman-teman terutama mereka yang berisiko tinggi. “Dua minggu ke depan adalah sangat penting … Ini adalah saat untuk tidak pergi ke toko kelontong, tidak pergi ke apotek, tetapi melakukan segala yang Anda bisa untuk menjaga keluarga dan teman-temanmu aman. Kami berharap dapat meredakan ketegangan yang dirasakan orang-orang terhadap COVID-19, itulah sebabnya kami beralih untuk menawarkan pasokan kami ke masyarakat umum juga,” ujar Dr. Deborah Birx. Fred Parker pemilik Costa De Sol mengatakan, semua bisa menjadi kreatif dan margin yang sudah kecil sehingga satu-satunya cara bisnis ini dapat bertahan adalah dari penjualan makanan. Dia saat ini memiliki dua lokasi, satu di San Jose, CA yang dibuka sepuluh tahun yang lalu, dan lainnya di Santa Clara, CA dibuka hanya dua tahun yang lalu. Fred memutuskan untuk menutup lokasi Santa Clara selama beberapa minggu pada awal pandemi karena itu terutama tempat makan siang untuk orang-orang yang bekerja di dekatnya. Apa yang tidak dia antisipasi adalah betapa sulitnya untuk kembali setelah tiga minggu ditutup. “Sebelum krisis, kami berada di peringkat lima besar di DoorDash dan Uber Eats. Ketika kami menutup lokasi Santa Clara, itu menunjukkan kami ditutup dalam aplikasi sehingga kami melewatkan banyak pesanan. Sekarang kami dibuka kembali, kami harus mencoba dan mendapatkan peringkat kembali, jika tidak, tidak ada yang mau. tahu bahwa kami terbuka. Layanan pengiriman telah berlipat dua sejak wabah, tetapi kami melewatkan kesempatan itu selama tiga minggu, jadi sekarang kami bermain mengejar ketinggalan,” kata Fred. Sementara itu keputusan Cheetah untuk langsung menjadi konsumen lepas landas. Sekelompok tetangga, komunitas, rumah pensiun, gereja, dan sinagoge, semuanya memesan makanan dan pasokan melalui Cheetah untuk pikap hari berikutnya. Dia mengatakan, mereka hanya memiliki dua lokasi di wilayah Teluk. Cheetah mengajukan tawaran kepada Fred dengan mengubah tempat parkir Anda menjadi tempat pik-up Santa Clara untuk pelanggan Cheetah. Dengan tidak ada ruginya, Fred ada di kapal. Hanya beberapa hari, tetapi lokasinya di Santa Clara dibuka kembali dengan dua hingga tiga karyawan dipekerjakan kembali dan Fred dapat membantu komunitasnya, serta mempromosikan lokasinya yang kurang dikenal. Baca juga: Dapati 72 Kasus Virus Corona, Kuwait Resmi Tutup Bandara Internasional Utama Beberapa pelanggan Cheetah mendapatkan Salvador Pupusas dari Costa de Sol saat pengambilan, sementara yang lain memesan takeout dari Fred melalui Door Dash dan UberEats. Karena penjualan meningkat dan kehadirannya tumbuh, Fred berharap dapat mempekerjakan kembali lebih banyak karyawan segera untuk kedua lokasi. Jangkauan kami telah mencapai restoran di seluruh negeri dan kami berharap dapat membantu lebih banyak selama krisis ini.

Ini Cara Unik Orang Indonesia Demi Pulang ke Kampung Setelah Pemerintah Larang Mudik

Pemerintah Indonesia mulai memberlakukan larangan mudik pada 24 April sampai 3 Mei 2020 dari daerah zona merah. Adanya pelarangan tersebut guna mencegah meluasnya virus corona atau Covid-19 ke berbagai daerah di Indonesia. Pelarangan mudik ini pun didukung oleh moda transportasi baik kereta, pesawat maupun kapal laut dan kapal ferry untuk penyeberangan. Baca juga: Tanggapi Larangan Mudik, PT ASDP Akan Fokus Pada Pelayanan Angkutan Logistik Moda transportasi ini pun kini hanya mengangkut barang logistik untuk kebutuhan dan angkutan penumpang disetop sementara. Namun meski larangan sudah ada tetap saja banyak yang melakukan kebohongan demi tiba di kampung halaman. Warga +62 (sebutan untuk orang Indonesia saat ini) memiliki ide yang bisa dibilang tidak masuk akal agar bisa mudik dan berlebaran di kampung halaman ditengan pandemi yang meluas ini. Demi mudik ke kampung halaman, mereka bahkan ada yang rela naik truk barang atau mungkin masuk dalam bagasi bus antar kota antar provinsi (AKAP). Mereka melakukan hal tersebut demi menghilangkan jejak dari pihak kepolisian yang menjaga di jalan perbatasan yang menuju ke arah Jawa Tengah maupun Banten. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, dengan adanya larangan mudik ini, masih banyak bus AKAP yang beroperasi membawa pemudik. Bahkan banyak pengemudi bus yang mengaku tidak tahu adanya larangan mudik tersebut. Selain itu karena kurangnya pengawasan di daerah dan perbatasan wilayah. Bahkan ada beberapa gambar beredar di mana para pemudik ini duduk di dalam bagasi bus AKAP untuk bersembunyi. Setelah melewati pos pemeriksaan nantinya para penumpang yang di bagasi akan naik ke dalam dan duduk di kursi setelah menjauh dari pos pemeriksaan. Selain itu, ada pula yang beredar gambar sebuah mobil di angkut dalam truk dan ditutupi dengan terpal diatasnya. Mobil ini layaknya barang yang diangkut dalam truk biasanya. Di dalam truk itu juga ada pemilik mobil yang diangkut tersebut. Namun gambar itu belum jelas diketahui apakah baru-baru ini diambil atau sudah lama. Sebab gambar beredar setelah adanya larangan mudik. Orang Indonesia memang tak habis akal, nah bagaimana dengan orang di luar negeri? Belum lama ini ada video singkat viral yang mengisahkan orang-orang Afrika yang akan bepergian keluar dengan sebuah mobil sedan yang hanya bisa di tumpangi paling banyak lima orang. Tapi ternyata ketika ada pemeriksaan polisi dari jok belakang keluar lebih dari lima orang. Kemudian ketika polisi membuka bagasi mobil, banyak pria yang tiduran berhimpitan dan bertindihan didalamnya ketika di hitung sekitar tujuh sampai delapan orang. Baca juga: Larangan Mudik Berlaku, PT KAI Hentikan Operasional KA Jarak Jauh dan Lokal Sayangnya mereka semua harus ditindak untuk melaporkan data diri mereka. Nah, Indonesia berminat seperti ini? Atau mungkin ada cara lain yang mau di coba seperti naik dalam gerbong kereta barang secara sembunyi-sembunyi? Tapi mungkin lebih baik ikut aturan dari pada merasa sehat dan ternyata bawa virus ke kampung.

Filipina Bangun Kapal Penumpang dengan Teknologi Trimaran untuk Kurangi Emisi Karbon

Kapal-kapal yang berusia puluhan tahun di Filipina menjadi moda transportasi penting untuk memindahkan barang atau penumpang. Namun ternyata kapal-kapal tersebut sudah lama dianggap sebagai pencemar utama di wilayah keanekaragaman hayati ini dan menjadi kontributor emisi gas rumah kaca. Baca juga: Pelabuhan Oslo Targetkan Kurangi Emisi Karbon Hingga 85 Persen di 2030 Karena hal ini maka di Filipina saat ini industri kelautan tengah berjuang mengurangi kadar sulfur bahan bakar minyak untuk memenuhi batas baru yang diberlakukan oleh Organisasi Maritim Internasional. Hingga akhrinya ada gagasan teknologi baru yang berupaya mengatasi masalah tersebut yakni trimaran yang merupakan kapal berlayar cepat dan menghasilkan sebagian kekuatannya dari ombak. Dilansir KabarPenumpang.com dari mongabay.com (7/4/2020), transportasi laut dan udara di Filipina pada 2007 lalu menumbang 18 persen emisi gas rumah kaca di negara tersebut. Bisa dikatakan dua moda transportasi ini menjadi kontributor kedua terbesar setelah sektor energi. Jonathan Salvador, insinyur kelautan di belakang Metallica Shipyard mengatakan, di antara semua moda transportasi, pengiriman adalah yang paling ramah lingkungan. “Dalam situasi negara saat ini, ada kebutuhan mendesak untuk perbaikan di industri maritim,” kata Salvador. Setelah bekerja untuk perusahaan pelayaran asing dan melihat secara langsung bagaimana negara-negara Eropa memanfaatkan energi gelombang, Salvador terinspirasi untuk membuat kapal Filipina yang dapat meningkatkan standar pengiriman di negara tersebut. Dia mendapatkan dana dari Departemen Sains dan Teknologi (DOST) Filipina untuk proyeknya dan mulai membangun kapal di provinsi asalnya, Aklan. Keputusan untuk mendanai trimaran 87 juta peso ($1,7 juta) adalah untuk meningkatkan pemberdayaan sains dan ekonomi di wilayah Visayas, kata Enrico Paringit, direktur Dewan Filipina untuk Industri, Energi, dan Penelitian dan Pengembangan Teknologi Industri dan Energi (PCIEERD). “Kapal cepat hibrida ini mengatasi kekhawatiran yang meningkat tentang peningkatan emisi CO2 melalui penggunaan pompa hidrolik yang memanen energi dari gelombang laut,” kata Paringit. Kapal jenis trimaran akan mengubah gelombang menjadi energi melalui pompa hidrolik aksi ganda yang terintegrasi dalam outrigger-nya. Ketika pompa bergerak melalui gelombang, mereka menghasilkan listrik yang memberikan daya tambahan ke kapal, yang digerakkan terutama oleh motor bensin biasa. Parigit mengatakan, semakin kuat ombak yang ditemui kapal, semakin banyak kekuatan yang akan dihasilkan. “Teknologi ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi energi kapal sehingga tidak hanya hemat biaya tetapi juga ramah lingkungan. Teknologi multi-engine independen kapal dengan minimum kelas laut poros penggerak 3000 hp dikombinasikan dengan perangkat energi gelombang yang mampu menghasilkan energi hingga 300 kw per jam,” jelas Salvador. Salvador mengatakan tujuannya adalah untuk membuat kerajinan itu cepat dan sangat efisien, itulah sebabnya mereka memilih desain multi-lambung. Dengan cara ini, ia akan memiliki konsumsi bahan bakar yang lebih baik dan emisi yang lebih rendah, kata Salvador, sementara mampu mengangkut penumpang dalam setengah waktu yang dibutuhkan ferry normal. Setelah beroperasi, trimaran hibrida diharapkan mampu menampung lebih dari 100 penumpang, empat van dan 15 sepeda motor. Perjalanan yang lebih pendek juga berarti lebih sedikit sampah yang terakumulasi oleh penumpang; Filipina adalah salah satu sumber utama sampah plastik di lautan. “Produksi sampah kami sangat buruk. Semuanya mengalir ke laut, ”kata Salvador. Desain trimaran Salvador mengakui masalah pada bingkainya menggabungkan wadah minuman ringan daur ulang untuk membantu daya apung. Tetapi lebih dari menjadi pelopor dalam industri maritim lokal, tujuan proyek ini adalah untuk melatih para ahli lokal tentang desain dan konstruksi kapal, kata Paringit dari DOST, yang dapat memimpin jalan menuju lebih banyak inisiatif berbasis sains di masa depan. Setelah prototipe selesai, Salvador mengatakan akan mengunjungi berbagai pulau di Filipina untuk mempromosikan teknologi hibrida, yang ia lihat sebagai kunci untuk mengakomodasi meningkatnya kebutuhan transportasi negara kepulauan sambil menyeimbangkan kebutuhan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. “Tujuannya adalah menyelesaikan konstruksi tahun ini. Begitu itu terjadi, Filipina akan menjadi “orang pertama yang menggunakan energi gelombang untuk trimaran,” kata Salvador. Baca juga: Melancong Tanpa Emisi Karbon? Ini Bisa Dicoba! Kemudian, ia bertujuan untuk menstandarisasi model, tetapi pertama-tama, ia berencana untuk mengujinya di Boracay, pulau wisata paling populer di Filipina, yang juga di provinsi Aklan. “Ini membawa perubahan signifikan pada industri perkapalan Ro-ro [roll-on, roll-off], mendorong pertumbuhan ekonomi, dan menawarkan alternatif ramah lingkungan di sektor maritim,” kata Paringit.