Lion Air Layani “Exemption Flight” untuk Pebisnis
Lion Air group akan melakukan exemption flight untuk para pebisnis yang akan bepergian dengan pesawat. Nah, apa sih exemption flight yang dimaksud oleh maskapai berlambang singa ini? Ternyata ini adalah operasional pesawat dengan perizinan khusus dari regulator.
Baca juga: Mulai 26 Maret, Lion Air Group untuk Sementara Hentikan Penerbangan ke Papua
Jadi bisa dikatakan, Kementerian Perhubungan Indonesia (Kemenhub) memberi izin pada maskapai untuk melayani penerbangan bisnis yang mana bukan dalam rangka mudik serta tujuan operasional angkutan kargo, melakukan perjalanan bagi pimpinan lembaga tinggi Indonesia atau tamu kenegaraan. Selain itu juga operasional untuk kedutaan besar, konsulat jenderal, konsulat asing, perwakilan organisasi internasional yang memeiliki kedudukan di Indonesia, operasional penegakkan hukum, ketertiban dana layanan darurat, layanan penerbangan khusus (repatriasi) untuk pemulangan Warga Negara Indonesia (WNI) atau Warga Negara Asing (WNA) dan lainnya atas izin Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub.
Corporate Communications Strategic Lion Air Group, Danang mandala Prihantoro mengatakan, layanan penerbangan ini sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan No.25/2020 tentang Pengendalian Transportasi selama masa angkutan Idul Fitri 2020 dalam rangka pencegahan Covid-19. Rencana operasional akan melayani rute-rute penerbangan dalam negeri termasuk kota atau destinasi berstatus Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan wilayah dengan transmisi lokal atau daerah terjangkit (Zona Merah).
Sehingga bagi “pebisnis dan calon tamu atau penumpang dengan tujuan pengecualian”, wajib memenuhi protokol penanganan Covid-19 melalui pengisian kelengkapan dokumen dan melampirkan sebelum keberangkatan berdasarkan persyaratan. Danang menyebutkan syaratnya adalah pebisnis harus melampirkan surat keterangan sehat dari rumah sakit setempat, yang menerangkan bebas atau negatif Covid-19 dengan ketentuan maksimum tujuh hari setelah hasil uji keluar, telah melakukan rangkaian pemeriksaan melalui metode tes diagnostik cepat (rapid diagnostic test), Swab Test atau PCR (Polymerase Chain Reaction).
Secara terperinci pebisnis mengisi surat pernyataan di rute PSBB atau Zona Merah yang disediakan oleh Lion Air Group. Melampirkan surat keterangan perjalanan dari instansi/ lembaga/ perusahaan yang menjelaskan bahwa calon tamu atau penumpang bepergian menggunakan pesawat udara bukan untuk “mudik”.
“Bagi pedagang atau pengusaha logistik yang tidak memiliki instansi dapat membuat surat pernyataan untuk berdagang/ transaksi secara benar. Mengikuti ketentuan lain yang ditetapkan Pemerintah,” jelas Danang yang dikuti[ dari siaran pers, Selasa (28/4/2020).
Lion Air Group memfasilitasi kepada seluruh calon penumpang yang akan membeli tiket (issued ticket) menurut ketentuan berlaku melalui Kantor Penjualan Tiket (Ticketing Town Office) Lion Air Group di seluruh kota di Indonesia, layanan kontak pelanggan (call center) (+6221) 6379 8000 dan website resmi www.lionair.co.id, www.batikair.com Lion Air Group tunduk dan melaksanakan seluruh aturan penerbangan internasional, regulator dan ketentuan perusahaan dalam menjalankan operasional sesuai dengan standar operasional prosedur yang memenuhi persyaratan aspek keselamatan, keamanan dan kenyamanan penerbangan (safety first).
Sebelum penerbangan, Lion Air Group bekerjasama dan koordinasi dengan petugas layanan darat (ground handling), petugas keamanan (aviation security) dan pihak lainnya guna memastikan bahwa awak pesawat dan seluruh tamu sudah mengikuti rekomendasi protokol kesehatan, yang meliputi pengecekan suhu badan, mencuci tangan, membersihkan tangan dengan cairan (hand sanitizer) dan penggunaan masker secara tepat. Sebagai langkah antisipasi utama mengenai dampak wabah Covid-19, Lion Air Group telah menjalani dan meningkatkan fase pengerjaan sterilisasi, penyemperotan (disinfektan) pesawat yang meliputi pembersihan badan pesawat, penggantian saringan udara kabin, kebersihan kabin, kokpit dan kompartemen kargo.
Baca juga: Inilah Kebijakan Garuda Indonesia, Lion Air dan AirAsia Seputar Tiket di Musim Wabah Corona
“Dalam tindakan pencegahan dimaksud, sebagai maskapai grup swasta terbesar di Indonesia telah merekomendasikan guna menyediakan dan melakukan penyemprotan cairan multiguna pembunuh kuman (disinfectant spray) sesuai prosedur yang berlaku, sarung tangan (hand gloves) dan cairan/ gel pembersih tangan (hand sanitizer) guna tindakan preventif dengan mengutamakan kesehatan awak pesawat dan petugas layanan darat. Seluruh Departemen Keselamatan, Keamanan dan Kualitas (Safety, Security and Quality) Lion Air Group telah mengimplementasikan yang dilakukan oleh seluruh unit terkait guna menjalankan rekomendasi yang disampaikan,” kata Danang.
Hadapi Dampak Covid-19, MRT Jakarta Siapkan Empat Skenario, Dari Moderat Hingga Buruk
Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta yang juga terkena imbas dari pandemi virus corona atau Covid-19 melakukan berbagai antisipasi dalam menangani ini. Pasalnya setelah Pemprov DKI Jakarta meminta kepada Menteri Kesehatan (Menkes) untuk melakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), penumpang MRT Jakarta berkurang drastis, dari yang awalnya perhari sekitar 100 ribu penumpang menyusut hanya 3000-4000 penumpang per hari.
Baca juga: William: Jumlah Penumpang Menurun Drastis, MRT Jakarta Tak PHK Karyawan
Meski begitu, ada beberapa skenario yang telah dibuat manajemen MRT Jakarta dalam menghadapi pandemi Covid-19 yang muncul di Indonesia. Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar mengatakan hal tersebut dibuat agar pihaknya mampu menghadapi pandemi di 2020 ini.
“Kita ada empat skenario di masa pandemi ini agar MRT Jakarta bisa survive. Sebab masa krisis ini, di MRT Jakarta terjadi penurunan pendapatan baik farebox maupun non farebox dan ada kemungkinan pengurangan subsidi dari pemerintah,” kata William di forum jurnalis melalui Zoom Meeting, Rabu (29/4/2020).
William menyebutkan ada empat skenario yang sudah di buat dari yang moderat hingga yang buruk. Dia menjelaskan, skenario moderat ini tidaklah terlalu berat dimana dua bulan sebelum pandemi semua berjalan normal dan dari Maret, April Hingga Mei terhitung sebagai periode pandemi berlangsung maka periode rebound atau masa pemulihan selama empat bulan setelah pandemi dan tiga bulan sisanya MRT Jakarta akan kembali stabil seperti sedia kala.
Skenario berat, di mana dua bulan normal dengan MRT Jakarta berjalan seperti biasa dan periode pandemi berlangsung lima bulan. Pada skenario ini periode rebound akan sama dengan masa moderat yakini empat bulan dan masa stabil satu bulan di Desember. Skenario sangat berat, periode pandemi berlangsung tujuh bulan dan tiga bulan sisa hingga akhir tahun masa rebound MRT Jakarta.
Sedangkan skenario buruk pandemi berlangsung selama sembilan bulan dan Desember menjadi periode rebound. Untuk skenario buruk ini, masa stabil MRT akan sama dengan di skenario sangat berat yakni di tiga bulan awal tahun 2021.
Baca juga: Perilaku Penumpang MRT Jakarta: Umumnya Sudah Order Ojol Sebelum Tiba di Stasiun Tujuan
“Bila masa pandemi terjadi hingga akhir tahun maka, MRT Jakarta baru bisa stabil Maret 2021. Tapi kami berharap hanya di skenario moderat sehingga Juni mulai rebound supaya secara ekeonomi bisa atasi ini,” ungakp William.
Detik-detik Pilot Paralayang Lepas dari Maut Setelah Mendarat Darurat di Jalan Raya
Seorang pilot paralayang dilaporkan selamat dari maut usai mendarat darurat di jalan raya. Ia hampir saja terlindas truk yang tengah melaju dengan kecepatan sedang. Padahal, telat sedikit saja, truk mungkin akan melindas kepalanya dan membuat ruh pilot tersebut terpisah dengan jasadnya.
Baca juga: Misteri Teror Hantu Pesawat Eastern Airlines dengan Nomor Penerbangan 401
Beruntung, melalui keterangan juru bicara kepolisian setempat, pilot paralayang tersebut disebut hanya mengalami cedera ringan di kaki dan langsung dilarikan ke Rumah Sakit Tseung Kwan O untuk mendapatkan perawatan medis.
Seperti dikutip dari South China Morning Post, peristiwa bermula saat Ho, pilot paralayang tersebut lepas landas dari Ngong Ping Viewing Point di Ma On Shan Country Park. Namun, karena kecepatan angin yang berubah serta kondisi yang kurang fit membuat pria 51 tahun tersebut gagal menguasai paralayang dengan baik hingga akhirnya mendarat di persimpangan Jalan Tai Mong Tsai dan Jalan Mei Yu di Sai Kung pada 3.12 siang. Tempat itu berjarak sekitar 700 meter dari lapangan sepak bola Sha Kok Mei, yang sebetulnya dapat digunakan para paraglider untuk pendaratan darurat.
Dalam rekaman video viral, Ho secara mengejutkan muncul dari arah sebelah kanan dan menabrakkan diri ke sebuah truk yang tengah melaju sedang. Ho pun sempat terseret beberapa cm di dekat roda depan sebelah kanan sebelum pengemudi truk menghentikan laju.
Menurut otoritas kepolisian Hong Kong, hasil penyelidikan awal mengungkap secara kronologi sebetulnya pilot paralayang berada pada posisi bersalah. Namun, pada akhrinya, kepolisian memutuskan tidak ada penangkapan dari insiden tersebut. Asosiasi Paralayang Hong Kong (HKPA), selaku wadah yang memayungi olahraga paralayang di Hong Kong, menyebut pihaknya sudah mendapat laporan terkait insiden tersebut dan juga masih melakukan penyelidikan internal. Selain itu, mereka juga berjanji akan membantu pihak berwenang untuk melakukan sejumlah langkah agar peristiwa serupa tak terulang. “Kami dapat mengkonfirmasi bahwa pilot itu terbang di luar zona yang ditentukan untuk paralayang dan kami akan menyelidiki mengapa pilot itu mendarat di sana,” kata asosiasi didirikan yang pada 1991 tersebut, dalam sebuah pernyataan. “Ini adalah prosedur kami untuk memberikan panduan kepada para pilot paralayang mengenai prosedur keselamatan hanya setelah kami melakukan penyelidikan menyeluruh.” Salah satu instruktur dari HKPA, Chiu Ho-man, mengatakan bahwa dalam keadaan darurat, pilot paralayang harus menemukan ruang terbuka dan menghindari daerah padat penduduk serta lalu lintas untuk melakukan pendaratan. Sejauh ini, Departemen Penerbangan Sipil telah menunjuk delapan area di sekitar Hong Kong untuk paralayang. Tempat-tempat tersebut mulai dari Long Ke Wan, Pak Tam Au, Pat Sin, Ma On Shan, Sai Wan, Shek O, South Lantau East, hingga South Lantau West. Baca juga: Mungkinkah Seluruh Penerbangan Di Masa Mendatang Gunakan Pesawat Listrik? “Pilot Paraglider disarankan untuk menjaga aktivitas paralayang mereka di dalam area ini untuk memastikan keamanan,” kata departemen itu di situs webnya. Insiden kecelakaan paralayang bukan pertama kalinya terjadi di Hong Kong. Sebelumnya, pada 22 Juli tahun 2018, pilot paralayang, Patrick Chung Yuk-wa, dilaporkan hilang setelah meninggalkan Sunset Peak, di Lantau Country Park pada pukul 2 siang. Menurut hasil penyelidikan, ia berencana mendarat di Cheung Sha. Namun, tiba-tiba angin berhembus kencang dan membawanya keluar jalur. Setelah dilakukan pencarian selama enam hari, ia pun ditemukan tak bernyawa.A video circulating online shows a paraglider escaping serious injury when he comes down in the path of a truck on a busy Hong Kong road, 700 metres from a pitch used for emergency landings pic.twitter.com/RonwUVFBI5
— SCMP Hong Kong (@SCMPHongKong) April 29, 2020
Etihad Mundurkan Semua Penerbangan ke 16 Juni 2020
Etihad Airways yang sebelumnya mengumumkan berencana melanjutkan penerbangan pada Mei 2020, kini harus kembali menundanya. Hal tersebut karena pemerintah Uni Emirat Arab (UEA) belum memberikan keringanan pembatasan perjalanan pada maskapai tersebut.
Baca juga: Dampak Lanjutan Wabah Corona, Arab Saudi Larang Masuk Jamaah Umrah dari Indonesia
Sehingga Etihad mau tak mau menangguhkan semua penjualan online untuk penerbangan sebelum 16 Juni 2020. KabarPenumpang.com melansir dari laman thenational.ae (29/4/2020), maskapai penerbangan Abu Dhabi ini telah menutup pemesanan penerbangan yang berangkat pada bulan Mei dan dua minggu pertama di bulan Juni.
Sehingga saat ini mereka hanya menerima pemesanan baru untuk penerbangan yang dijadwalkan mulai 16 Juni mendatang. Namun, Etihad mengatakan, hal tersebut juga masih bisa berubah jika suspensi penerbangan saat ini diperpanjang.
Awalnya diketahui, Etihad sendiri mengumumkan mereka berencana untuk melanjutkan penerbangan mulai 16 Mei. Tetapi sekali lagi mereka mengaskan, bahwa hal ini bergantung pada suspensi penerbangan yang dicabut oleh otoritas UEA.
Hingga hari ini, para pelancong dapat memesan penerbangan di situs web Etihad untuk perjalanan dalam dua minggu terakhir bulan Mei ke beberapa tujuan. Ini termasuk India, Inggris, Sri Lanka, Pakistan dan Amerika Serikat. Tidak ada pembaruan resmi dari pemerintah UEA terkait pelonggaran pembatasan perjalanan, dan Etihad kini telah mengambil keputusan untuk menangguhkan penjualan penerbangan untuk perjalanan sebelum 16 Juni.
“Untuk meminimalkan potensi gangguan atau ketidaknyamanan kepada pelanggan, hanya tarif fleksibel dan dapat dikembalikan yang akan ditawarkan setelah 29 April 2020, untuk perjalanan antara 16 Juni dan 31 Agustus 2020. Jaringan ini sedang ditinjau terus-menerus, dan Etihad sedang memantau situasi dan mengikuti arahan UEA dan pemerintah internasional dan otoritas pengatur,” kata juru bicara Etihad.
Pelancong yang telah memesan penerbangan dengan Etihad untuk perjalanan di bulan Mei dapat memesan ulang penerbangan untuk tanggal lain atau meminta kredit Etihad atau pengembalian uang. Etihad terus mengoperasikan penerbangan repatriasi khusus dari Abu Dhabi ke beberapa tujuan. Beberapa dari penerbangan ini sekarang dijadwalkan untuk berjalan hingga akhir Mei.
Dublin dan New York adalah tempat terbaru yang ditambahkan ke jadwal penerbangan repatriasi. Sebuah penerbangan akan membawa warga negara Irlandia di negara itu ke Dublin pada hari Jumat, 1 Mei. Bagi warga AS yang berharap untuk kembali ke New York, Eithad akan mengoperasikan penerbangan pada hari Senin, 4 Mei.
Baca juga: Operasional Terganggu Akibat Virus Corona, Ini Strategi Maskapai Dunia Maksimalkan Pesawat Widebody
Etihad juga mengoperasikan penerbangan kargo dan memulangkan warga Emirat dari luar negeri. Warga negara UEA yang ingin pulang ke rumah harus menghubungi kedutaan atau konsulat setempat.
Robotaxi Ford Ditunda Peluncurannya Hingga 2022
Banyak industri otomotif dan robotik harus menunda peluncuran mereka saat ini karena pandemi virus corona atau Covid-19. Hal ini dilakukan para pengusaha otomotif dan robotik karena dampak ekonomi yang cukup besar saat ini dan berpengaruh terhadap produksi atau penjualan. Seperti Ford yang menunda peluncuran robotaxi mereka yang seharusnya pada tahun ini menjadi mundur hingga tahun 2022 mendatang.
Baca juga: Dua Bulan Uji Coba, Waymo Menjadi Pemimpin Perjalanan Kendaraan Otonom di California
“Mengingat tantangan lingkungan bisnis saat ini serta kebutuhan untuk mengevaluasi dampak jangka panjang Covid-19 pada perilaku pelanggan. Ford mebuat keputusan untuk mengalihkan peluncuran self-drivingnya ke 2022,” ujar Ford melalui sebuah pernyataan yang dikutip KabarPenumpang.com dari theverge.com (28/4/2020)
Perusahaan mengatakan akan menggunakan waktu ekstra untuk meneliti perubahan perilaku pelanggan, yang akan memungkinkan perusahaan akan mengevaluasi dan berpotensi mengubah strategi masuk ke pasar kami untuk memenuhi permintaan konsumen baru.
“Kami juga ingin memastikan pengalaman pelanggan yang sedang kami bangun seperti menawarkan ketenangan pikiran bagi orang yang mengetahui bahwa paket mereka berada di lingkungan yang aman dan terlindungi di dalam kendaraan kami,” jelas Ford.
Ford mengatakan juga tetap akan melakukan peluncuran Mustang Mach-E yang direncanakan akhir tahun ini, dan versi baru dari Bronco juga. Diketahui, perusahaan telah menghabiskan beberapa tahun terakhir menguji prototipe mengemudi sendiri di Miami, Austin dan Washington DC ketika mereka bersiap untuk meluncurkan layanan, meskipun belum membuat pengumuman tentang di mana pasar yang direncanakan untuk beroperasi.
Pandemi sejauh ini memiliki dampak beragam pada industri kendaraan self-driving. Beberapa startup, seperti Zoox, telah memotong jumlah pegawai dalam upaya untuk menghemat uang, sementara yang lain, seperti Nuro dan EasyMile, bermitra dengan industri kesehatan untuk mengirimkan barang dan pasokan medis.
Ford mengumumkan penundaan itu karena mengungkapkan hasil keuangannya untuk kuartal pertama 2020, yang secara brutal terkena dampak pandemi. Pembuat mobil mencatat kerugian $2 miliar untuk kuartal tersebut, setelah menghasilkan lebih dari $1 miliar pada kuartal pertama 2019.
Baca juga: Ford Adopsi 5G Pada Teknologi ‘Komunikasi Antar Kendaraan dan Infrastruktur’ di Tahun 2022
Sebelumnya pada hari itu, Ford dan merek mewahnya Lincoln mengumumkan bhwa mereka membatalkan sebuah SUV listrik mendatang yang akan dibangun menggunakan teknologi dari startup EV Rivian dan keputusan lain yang menurut perusahaan dibuat karena pandemi.
Airbus Rugi Rp7,7 Triliun di Kuartal I 2020, CEO: Ini Masih Permulaan
Pada Rabu lalu, Airbus melaporkan hanya membukukan pendapatan sebesar 10,6 miliar euro pada kuartal I 2020. Bila dibandingkan dengan periode yang sama di tahun lalu, pendapatan raksasa produsen pesawat dunia tersebut terkoreksi sebesar 15 persen atau telah merugi sebesar US$515 juta (Rp7,7 triliun – kurs 15,239).
Baca juga: Airbus ‘Berdarah-darah,’ Karyawan Diminta Bersiap Kemungkinan Terburuk
Hal itu pun memaksa perusahaan setidaknya telah mem-PHK sebanyak 3.000 karyawan di Perancis, 3.200 karyawan lainnya di UK dipaksa cuti tanpa dibayar, dan ribuan karyawan lainnya di Jerman menanti giliran untuk di-PHK atau dipaksa cuti tanpa dibayar, serta mencari pinjaman miliaran euro. Celakanya, menurut CEO Airbus, Guillaume Faury, bencana yang belum pernah dialami sebelumnya ini bukanlah akhir, melainkan baru permulaan.
Selain itu, saat virus corona pada akhirnya sirna dari muka bumi, pria 52 tahun yang mulai menjabat sebagai CEO Airbus sejak April 2019 tersebut menegaskan, butuh waktu yang lama untuk membujuk kembali pelanggan agar mau bepergian menggunakan pesawat. Menariknya, berapa lamanya itu ia tidak dapat memprediksi.
“Kami berada dalam krisis paling parah yang pernah dialami industri dirgantara. Sekarang kita perlu bekerja sebagai industri untuk mengembalikan kepercayaan penumpang dalam perjalanan udara saat kita belajar untuk hidup berdampingan dengan wabah ini,” ujarnya, sebagaimana dikutip KabarPenumpang.com dari talkingpointsmemo.com.
CEO berkebangsaan Perancis itu juga menyebut bahwa saham Airbus sejauh ini sudah turun sebesar 60 persen. Faktor terbesar yang melatarbelakangi anjloknya saham adalah kegagalan perusahaan mendapatkan dana talangan dari pemerintah hingga membuat likuiditas melorot. Pada akhirnya, lemahnya likuiditas keuangan dan defisit uang tunai membuat Airbus harus merelakan 60 rencana pengembangan bisnis di kuartal I. Hal itulah yang kemudian mengurangi kepercayaan investor terhadap bisnis Airbus saat ini.
Melihat situasi yang berkembang saat ini, Faury juga menduga, kuartal II 2020 tampaknya tak akan jauh berbeda. Sama- sama suram. Itu berarti, akan ada beberapa langkah efisiensi berkelanjutan yang sudah mulai dilakoni, seperti pengurangan gaji, pengurangan karyawan, memangkas produksi hingga sepertiga, membatalkan rencana menambah jalur perakitan untuk A321 di Toulouse, dan memperlambat proses pengembangan jet terbaru A220. Tak lupa, tentu saja Airbus juga harus mencari pinjaman lain dalam jumlah besar untuk keberlangsungan bisnis.
Baca juga: Awas, Hindari Keramaian! Studi Terbaru Mendukung Gagasan Virus Corona Menular Lewat Airborne
Sebelumnya, CEO Airbus, Guillaume Faury juga telah memperingatkan karyawannya bahwa keuangan perusahaan tengah ‘berdarah-darah’. Hal itu disebabkan oleh anjloknya industri penerbangan, dimana, mayoritas keuangan maskapai di seluruh dunia tengah defisit dan hanya memikirkan cara untuk bertahan hidup, tidak untuk membeli pesawat baru. Oleh karenanya, produsen pesawat asal Eropa tersebut harus melakukan upaya efisiensi sambil melakukan sejumlah evaluasi prospek bisnis jangka panjang.
“Kami menggelontorkan uang dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang dapat mengancam keberadaan perusahaan kami. Kami sekarang harus bertindak segera untuk mengurangi arus pengeluaran kas, mengembalikan keseimbangan keuangan, dan pada akhirnya, untuk mendapatkan kembali kendali atas nasib kita,” kata Faury dalam sebuah rilis
JetBlue Jadi Maskapai Besar AS Pertama yang Wajibkan Penumpang Pakai Masker
Mulai 4 Mei mendatang, maskapai JetBlue mewajibkan seluruh penumpang mengenakan masker selama dalam penerbangan. Tak hanya itu, semua penumpang JetBlue juga diharuskan memakai masker selama dalam rangkaian perjalanan, termasuk saat check-in, masuk ke pesawat, selama penerbangan, dan turun dari pesawat. Kebijakan tersebut pun menjadikannya sebagai maskapai besar Amerika Serikat (AS) pertama yang mewajibkan penumpang mengenakan masker.
Baca juga: Seorang Penumpang Pesawat Dinyatakan Positif Virus Corona Saat di Udara
“Mengenakan penutup wajah (masker) bukan soal melindungi diri sendiri, tapi soal melindungi orang-orang di sekitar Anda,” kata Joanna Geraghty, presiden dan chief operating officer JetBlue (JBLU), seperti dikutip KabarPenumpang.com dari CNN Internasional.
“Ini adalah etiket (kebiasaan) terbang yang baru. Di dalam, udara kabin disirkulasikan dengan baik dan dibersihkan melalui filter setiap beberapa menit tetapi ini adalah ruang bersama di mana kita harus mempertimbangkan orang lain. Kami juga meminta pelanggan kami untuk mengikuti pedoman Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) ini (mengenakan masker) di bandara juga,” lanjutnya.
Selain penumpang, maskapai berbiaya hemat (LCC) tersebut terlebih dahulu sudah mulai mewajibkan penggunaan masker untuk para awak, baik awak kabin ataupun awak kokpit serta karyawan di divisi lainnya, termasuk staf darat pada 17 April lalu.
Selama pandemi corona mulai mewabah di AS, JetBlue tercatat pernah ‘kecolongan’ dengan memuat satu orang positif Covid-19 di dalam penerbangan. Peristiwa bermula saat pesawat yang mengangkut 114, termasuk kru kabin dan kru kokpit, berangkat dari Bandara J.F.K, New York ke Bandara West Palm Beach, Florida pada Rabu malam (11/3) waktu setempat. Pihak maskapai melaporkan, penumpang yang tak diungkap identitasnya tersebut sebelumnya sudah melalui beberapa pengecekan. Hasilnya, penumpang tersebut tidak ada tanda-tanda terjangkit Covid-19.
“JetBlue tidak memiliki indikasi sebelumnya bahwa pelanggan ini memiliki atau mungkin terdapat tanda-tanda (terjangkit) virus corona,” kata maskapai , dalam sebuah pernyataan.
Menjelang tiba di Florida, penumpang yang bersangkutan kemudian melapor ke petugas bahwa dirinya dinyatakan positif mengidap virus corona. Hal itu diketahui setelah penumpang tersebut mendapat pesan singkat dari seseorang mengenani hasil tes virus corona yang dilakukan beberapa hari sebelum dirinya terbang bersama JetBlue. Celakanya, penumpang tersebut tidak memberitahukan perihal pengecekan tersebut kepada pihak maskapai sebelum pesawat lepas landas atau saat boarding check.
Baca juga: Emirates Jadi Maskapai Pertama Lakukan Rapid Tes Corona ke Seluruh Penumpang
Keputusan JetBlue mewajibkan penumpang mengenakan masker selama di bandara, penerbangan, hingga turun di bandara tujuan tentu bukan yang pertama di dunia. Sebelumnya, beberapa maskapai dunia terlebih dahulu juga mulai mewajibkan penumpang mengenakan masker, seperti Air Canada, Malaysia Airlines, Citilink, dan Emirates juga terlebih dahulu menerapkan kebijakan tersebut.
Khusus Emirates, bahkan maskapai asal Dubai, Uni Emirat Arab tersebut bukan hanya mewajibkan penumpang mengenakan masker, melainkan juga mewajibkan seluruh calon penumpang mengikuti rapid test corona, 10 menit sebelum penerbangan dimulai. Kebijakan tersebut pun menjadikannya sebagai maskapai pertama di dunia yang menerapkan kebijakan itu.
Serikat Pekerja Awak Kabin di AS Minta Semua Orang Gunakan Masker di Bandara dan Kabin Pesawat
Maskapai penerbangan di Amerika Serikat masih menerbangkan pesawat mereka ke berbagai tujuan di tengah pandemi Covid-19. Bahkan beberapa operator besar saat ini memungkinkan penumpang untuk melakukan beberapa pergantian kursi untuk membantu menjaga jarak sosial. Namun meski begitu maskapai tidak mengharuskan penumpang mereka menggunakan masker atau duduk sejauh enam kaki antar satu penumpang dengan yang lainnya.
Baca juga: Virus Corona Merebak, Awak Kabin Cari Perlindungan
Hal ini kemudian membuat beberapa hari terakhir pemandangan kabin pesawat yang penuh dengan penumpang tanpa menggunakan masker menjadi berita hangat di Amerika Serikat. Karena situasi berisiko tersebut, kemudian memicu reaksi keras dari persatuan awak kabin.
Dilansir KabarPenumpang.com dari forbes.com (26/4/2020), Sara Nelson, presiden Association of Flight Attendants-CWA (AFA), kemudian menulis surat terbuka kepada Sekretaris Transportasi Elaine Chao dan Sekretaris Kesehatan Alex Azar yang menyerukan kepada Departemen Perhubungan agar berkoordinasi dengan Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan untuk mengakhiri semua perjalanan santai sampai virus benar-benar hilang. Sara menunjukkan bahwa awak kabin saat ini sudah cukup terpukul dengan pandemi virus yang terjadi.
“Di maskapai yang mempekerjakan awak kabin anggota AFA, setidaknya 250 dari mereka sudah dites dan hasilnya positif Covid-19. Ada pula awak kabin yang meninggal akibat virus ini.” tulis Sara.
Surat terbuka yang ditulis Sara tersebut juga mengatakan bahwa awak kabin mempertanyakan apakah mereka juga membantu menyebarkan virus. Selain menyerukan diakhirinya perjalanan udara santai, surat itu juga membuat permintaan lain salah satu diantaranya adalah mengharuskan penggunaan masker di bandara dan kabin pesawat untuk penumpang, awak kabin serta karyawan.
Serikat pekerja, yang mewakili pekerja di hampir dua lusin maskapai penerbangan, mengatakan pihaknya membayangkan “semua anggota masyarakat yang memasuki gedung bandara” diberi masker. Ia juga meminta agen untuk mempertimbangkan persyaratan bahwa kru maskapai disediakan masker bedah atau respirator N95, begitu produsen dapat memenuhi kebutuhan pekerja perawatan kesehatan. Tak hanya itu, Sara juga menunjukkan bahwa Amerika Serikat harus mengikuti jejak Kanada yang mengambil tindakan pencegahan yang jauh lebih kuat daripada negara ini.
“Kanada menganjurkan penggunaan masker pada semua moda transportasi umum dan mengharuskan semua penumpang udara untuk memakai masker yang ‘menutupi mulut dan hidung mereka … di pos pemeriksaan penyaringan, … ketika mereka tidak dapat secara fisik menjauhi orang lain, atau seperti yang diarahkan oleh karyawan maskapai, ‘tulis Sara.
Baca juga: Tujuh Penerbangan Ini Tak Lazim Akibat Corona, Nomor 6 Paling Aneh!
Diketahui, jumlah penumpang di pesawat telah anjlok ke posisi terendah bersejarah, maskapai penerbangan mengoperasikan jadwal sederhana karena persyaratan terkait dengan bailout pembayaran $25 miliar, serta untuk memindahkan kargo dan wisatawan penting. Jumlah rata-rata penumpang yang membayar pada setiap pesawat meningkat sangat sedikit dari beberapa minggu terakhir, menurut industri – meskipun tidak cukup untuk membuat operasi menguntungkan. Administrasi Keamanan Transportasi menyaring sekitar 95 persen lebih sedikit penumpang daripada saat ini tahun lalu.
William: Jumlah Penumpang Menurun Drastis, MRT Jakarta Tak PHK Karyawan
Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta mengalami penurunan penumpang secara drastis selama periode 1 – 28 April 2020. Direktur Utama PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta William Sabandar mengatakan, pada 6 Maret 2020, penumpang masih berkisar di angka 100 ribu per harinya. Namun ketika adanya sosial distancing penurunan belum signifikan di 13 Maret 2020.
Baca juga: Perilaku Penumpang MRT Jakarta: Umumnya Sudah Order Ojol Sebelum Tiba di Stasiun Tujuan
“Tapi pada 16 Maret 2020, penurunan drastis terlihat setelah kami memberlakukan sosial distancing pada penumpang sehingga menjadi 27.269 per harinya. Pada 27 Maret, hanya 8.685 penumpang. Penurunan paling jelas terjadi ketika pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dari 1 – 28 april yang dirata-rata sekitar 4.134 penumpang per harinya,” jelas William melalui Zoom meeting di forum jurnalis, Rabu (29/4/2020).
Adanya penurunan penumpang juga dikarenakan tujuh stasiun MRT tidak beroperasi dan hanya enam sisanya yang beroperasi, yakni Stasiun Lebak Bulus Grab, Fatmawati, Cipete Raya, Blokm M BCA, Dukuh Atas BNI dan Bundaran HI. Hal ini kemudian membuat pendapatan fare box dan non fare box menurun.
William mengatakan untuk para tenant yang saat ini ada di Stasiun dan terkena imbas penutupan diambil dua cara. Untuk tenant middle sepeti UMKM pihaknya tidak akan mengambil biaya sewa selama tiga bulan, sedangkan untuk yang ritel besar seperti Starbucks, A&W, Indomaret dan Alfamart pihaknya masih terus berkomunikasi dan belum ada kebijakan.
“Kita terus berkomunikasi dengan ritel-ritel besar yang terkena imbas penutupan di stasiun-stasiun yang dihentikan operasionalnya,” kata William.
Meski pihaknya menutup tujuh dari 13 stasiun yang ada, William menegaskan tidak akan menghentikan operasi, karena pengguna MRT Jakarta masih ada. Ada pun penurunan penumpang dan kerugian yang didapat, William menegaskan, pihaknya tidak akan melakukan PHK (Pemutusan Hubungan Kerja).
“Kita tidak ada PHK karyawan, kita efisiensi biaya training dan perjalanan dinas. Kita juga menunda untuk pengadaan simulator dan menggunakan alternatif lainnya dengan kereta yang tidak digunakan setelah jam operasional,” jelas William.
Dia menyebutkan, bahwa saat ini mereka hanya akan training internal dan tidak akan ada training di luar negeri. Pembelian simulator pun ditunda karena harga untuk satu unit simulator Rp100 Miliar.
Selain penurunan jumlah penumpang, perjalanan kereta MRT Jakarta pun hanya ada 49 dari jam 06.00-18.00 WIB dan dilayani oleh tiga kereta. William menambahkan, pihaknya juga melakukan sosialisasi melalui layana iklan masyarakat.
Selain membahas penurunan penumpang, MRT Jakarta juga tengah mempersiapkan proses operasi pasca pandemi Covid-19 yang mengangkat tema ‘MRT Bersiap’ yakni bersih, sehat, aman dan prima.
“Kita mulai pendekatan baru untuk pastikan memberi layanan terbaik ketika mobility virtual. Dalam tema Bersiap, MRT akan melakukan pembersihan seluruh fasilitas dan personal hygin untuk penumpang. Terus budayakan penggunaan masker dan pengecekan temperatur penumpang untuk kesehatan mereka,” jelas William.
“Yang jelas kami masih tetap menjaga on time performance (OTP) 100 persen. Dalam masa pandemi ini, MRT Jakarta membuat empat skenario menghadapi krisis untuk 2020 agar bisa survive. Karena krisis ini maka pendapatan turun baik fare box maupun non fare box, mungkin juga ada pengurangan subsidi,” jelas William.
Dia menyebutkan empat skenario itu ada skenario moderat dimana krisis hanya terjadi tiga bulan, empat bulan lainnya masa rebound dan tiga bulan lainnya mulai stasbil. Skenario berat yakni krisis selama lima bulan, empat bulan rebound dan satu bulan rebound, skenario sangat berat krisis terjadi selama tujuh bulan dan masa reboun tiga bulan serta tiga bulan di tahun berikutnya masa stabil.
“Untuk skenario buruk krisis selama sembilan bulan dengan rebound satu bulan di Desember dan tahun 2021 baru stabil. Namun kita berharap hanya di skenario moderat saja, sehingga Juni sudah rebound agar masalah ekonomi teratasi,” kata William.
Baca juga: PT MITJ Benahi Empat Stasiun Integrasi, MRT Jakarta Mulai Fase 2
Dalam masa krisis ini pun MRT Jakarta juga menunda pengerjaan Fase 2A yang harusnya mulai pada Maret ,menjadi bulan Juni. Hal ini dikarenakan bila tetap dilanjutkan maka akan memakan biaya yang lebih besar lagi.
