Penumpang Justru Senang Pesawat Delay 2 Jam Gegara Apollo 11 Kembali Ke Bumi

Di berbagai belahan dunia, pada umumnya penumpang protes ke maskapai atas keterlambatan jadwal penerbangan mereka. Namun, lain cerita dengan penerbangan Qantas QF596 dari Brisbane ke San Francisco. Pada penerbangan tersebut, penumpang justru mengaku senang saat pesawat terlambat dua jam akibat peristiwa kembalinya Apollo 11 dari misi pendaratan di bulan untuk pertama kali. Baca juga: Wow, Kaca Film Sekarang Bisa untuk Jendela Pesawat Dikutip dari Simple Flying, Apollo 11 pada 16 Juli 1969 diketahui telah meluncur dari bumi untuk melakukan misi pendaratan di bulan dengan memuat tiga astronot, Neil Armstrong, Buzz Aldrin, dan Michael Collins. Mereka diproyeksikan bakal menghabiskan waktu selama sembilan hari di sana sebelum akhirnya kembali ke bumi. Bila segalanya sesuai rencana, artinya, Apollo 11 akan melintas secara vertikal pada 24 Juli 1969 dan berpotensi menggangu kelancaran penerbangan. Dengan adanya potensi bahaya tersebut, Kapten Frank Brown, selaku kapten pilot pada penerbangan Qantas QF596 dari Brisbane ke San Francisco senantiasa rutin mengecek jalur penerbangannya. Pasalnya, Apollo 11 besar kemungkinan kembali ke bumi dan jatuh di Samudera Pasifik. Tentu saja Boeing 707 yang akan diterbangkannya akan melintas di langit Samudera Pasifik. Namun, Kapten Frank Brown, kala itu sengaja mengecek bukan untuk menghindari pesawat dari jalur jatuhnya Apollo 11, justru sebaliknya, membawa pesawat agar berada sedekat mungkin dengan Apollo 11 agar para penumpang bisa menyaksikan langsung momen langka sekali seumur hidup tersebut. Tak ayal jika ia memutuskan untuk menunda keberangkatan pesawat selama dua jam demi momen tersebut. Hasilnya, jalur sejauh 280 mil dari Brisbane ke ke San Francisco yang dilalui berhasil berada pada posisi sejajar dan mengudara pada posisi serta waktu yang tepat. Sambil menikmati sajian unik dengan tema Apollo 11, seperti ‘Chilled Lunar Lobster’, ‘Loin of Lamb Aldrin with Splashdown Sauce’, dan ‘Duckling a l’Armstrong’, para penumpang kala itu mengaku tak sabar menanti detik-detik Apollo 11 melintas. Pada akhirnya, momen yang ditunggu pun tiba. Apollo 11 melintas tepat di depan Qantas QF596. Selama kurang lebih tiga menit, penumpang disuguhi peristiwa yang mungkin hanya sekali dalam seumur hidup mereka. Baca juga: Pan Am, Maskapai Pelopor Kelas Ekonomi Modern di Penerbangan Jarak Jauh Trevor Hiscock, salah satu penumpang dalam penerbangan tersebut mengaku tak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Mata saya terasa sebesar jendela pesawat. Tiba-tiba bola hijau dan bola merah lainnya (mirip seperti suar) lama kelamaan semakin membesar dan pada akhirnya mereka bergerak menjauh dari jalur penerbangan kami,” katanya. Sama halnya dengan Trevor, Kapten Frank Brown juga melihat dengan jelas peristiwa langka tersebut. Ia pun kemudian menjadi buah bibir di Australia dan dunia hingga mendapat kehormatan sebagai narasumber ABC Radio Australia untuk menceritakan kronologi dan detik-detik ia melihat Apollo 11 kembali ke atmosfer bumi. Selain mendapat kehormatan sebagai narasumber, pengakuannya ketika melihat Apollo 11 kembali pun juga dijadikan dasar atau konfirmasi visual pertama.

Tiga Bandara di Inggris Wajibkan Pelancong Gunakan Masker dan Sarung Tangan

Bandara menjadi salah satu pintu masuk pelancong baik lokal maupun internasional. Apalagi saat ini virus corona sudah menjadi pandemi di seluruh dunia dan membuat bandara-bandara dunia mengambil tindakan tegas bagi para pelancong. Seperti tiga bandara di Inggris yang sedang mengimplementasikan rencana untuk mewajibkan penumpang menggunakan sarung tangan serta masker ketika bepergian melalui bandara. Baca juga: Serikat Pekerja Awak Kabin di AS Minta Semua Orang Gunakan Masker di Bandara dan Kabin Pesawat Tiga bandara di Inggris itu yakni Bandara Manchester, East Midlands dan Stansted yang akan menerapkan peraturan tersebut pada minggu ini. Hal tersebut dilakukan karena pemerintah Inggris dituduh lamban untuk bertindak dalam perjalanan udara pascar virus corona. KabarPenumpang.com melansir laman simpleflying.com (3/5/2020), tiga bandara ini mengharuskan pelancong menggunakan masker dan sarung tangan mereka sendiri. Meski begitu bandara juga menyiapkannya untuk berjaga-jaga bila ada pelancong yang tidak membawa atau menggunakannya. Ketiga bandara tersebut juga berencana menguji pemeriksaan suhu kepada semua penumpang yang masuk ke terminal. mereka juga akan membuat persyaratan bagi penumpang untuk membuat deklarasi kesehatan. Bisa dikatakan ini merupakan aksi pertama bandara Inggris dan dilakukan setelah CEO Bandara London Heathtrow, John Holland-Kaye mengatakan bahwa jarak sosial di bandara secara fisik tidak mungkin. John menegaskan bahwa solusi yang lebih baik adalah pemakaian masker dan pemeriksaan kesehatan. “MAG dapat mengkonfirmasi bahwa mereka akan melakukan uji coba berbagai langkah-langkah keamanan baru di bandara akhir pekan ini. Mereka dirancang untuk membantu sejumlah kecil penumpang yang saat ini melakukan perjalanan penting melalui bandara kami merasa lebih aman dan lebih percaya diri tentang penerbangan saat ini. Kami akan memberikan konfirmasi panduan yang tepat untuk penumpang, agar mereka dapat sepenuhnya mempersiapkan perjalanan mereka, sebelum langkah-langkah diberlakukan,” kata manajer Kantor Group Press, Louis Blake. Dia juga mengatakan bahwa mereka kemungkinan akan menerima tidak hanya masker, tetapi juga penutup wajah, seperti syal. Diketahui, lebih dari 60 juta orang bergabung melewati bandara Manchester, East Midlands, dan Stansted setiap tahun. Rencana ketiga fasilitas ini sedang dilaksanakan karena pemerintah dituduh tidak bekerja dengan bandara tentang “bagaimana perjalanan udara akan berfungsi ketika penguncian virus corona dibuka.” Recovery and Restart Group adalah gugus tugas yang dibentuk oleh Departemen Transportasi beberapa minggu lalu untuk mempertimbangkan rencana keselamatan bandara ketika perjalanan udara Inggris dilanjutkan. Namun, bandara belum berkonsultasi dengan gugus tugas tentang perlindungan yang akan diperlukan untuk melindungi pelancong. Kepala Eksekutif Grup Bandara Manchester, Charlie Cornish, telah mengatakan bahwa sangat penting pemerintah dan industri penerbangan bekerja bersama untuk membuat serangkaian proposal yang jelas dan dapat diterapkan sehingga mereka dapat memimpin pembicaraan dengan negara lain. “Jelas bahwa jarak sosial tidak bekerja pada segala bentuk transportasi umum. Kami sekarang membutuhkan pemerintah untuk bekerja secara mendesak dengan bandara dan maskapai penerbangan untuk menyetujui bagaimana kami beroperasi di masa depan,” kata Charlie. Perlunya tindakan mendesak datang di tengah meningkatnya harapan bahwa mungkin ada terburu-buru untuk perjalanan udara karena pembatasan kuncian dicabut di Inggris dan di seluruh Eropa. Keluarga yang telah menyerah harapan liburan musim panas di luar negeri mungkin belum menuju pantai Eropa saat mereka menemukan kembali kebebasan baru mereka. Baca juga: JetBlue Jadi Maskapai Besar AS Pertama yang Wajibkan Penumpang Pakai Masker Namun, jika semua penumpang pesawat diwajibkan mengenakan masker, ada kekhawatiran bahwa lonjakan permintaan dapat menyebabkan meluasnya panik membeli APD serta eksploitasi publik oleh penjual yang tidak bermoral. Ini juga bisa berarti kekurangan pasokan untuk pekerja garis depan. Mungkin pemerintah Inggris dapat mengikuti jejak Spanyol, di mana aturan telah ditetapkan bahwa publik hanya dapat membeli satu masker masing-masing dengan harga maksimum €0,98 per masker. Vendor yang tidak mengikuti peraturan akan menghadapi hukuman berat.

Rindu Santapan ala Kabin, Maskapai ini Tawarkan Sensasi In-Flight Meals untuk Korban Lockdown

Ural Airlines, maskapai asal Rusia ini meluncurkan layanan baru berupa jasa pengiriman in-flight meals ke rumah. Hal tersebut dilakukan Ural Airlines bagi mereka yang sudah bosan dan lelah dengan semua makanan yang dimasak di rumah karena harus tinggal di rumah, setelah Rusia mengambil tindakan lockdown atau penguncian. Baca juga: Mesin Dihantam Bird Strike, Airbus A321 Ural Airlines Hard Landing di Ladang Jagung Dilansir KabarPenumpang.com dari themoscowtimes.com (30/4/2020), warga kota Moskow, St. Petersburg dan kota asal Ural Airlines di Yekaterinburg akan dapat menikmati cita rasa dari santapan penerbangan maskapai ini yang langsung diantar ke rumah pelanggan masing-masing. “Semuanya makanan yang diantar sama seperti di pesawat. Hanya tidak ada tampilan jendela pesawat,” kata Ural Airlines. Layanan antar makanan secara online ini menawarkan makanan pesawat yang otentik dengan pilihan menu daging sapi, ayam, dan ikan, baik untuk kelas bisnis maupun ekonomi. Bahkan pilihan jus juga tersedia sesuai dengan pesanan pelanggan. Harga makanan yang dijual oleh Ural Airlines sekitar 550 rubbel atau Rp111 ribu hingga 1700 rubbel atau Rp343 ribu. Situs web Ural Airlines menuliskan bahwa makanan yang disiapkan menggunakan bahan-bahan segar sesuai dengan prosedur katering di pesawat segera sebelum pengiriman. “Lima persen dari setiap pembelian akan dikreditkan ke kartu loyalitas maskapai pembeli,” ujar maskapai tersebut. Ural Airlines, yang baru-baru ini dimasukkan dalam daftar perusahaan “tulang punggung” pemerintah selama krisis virus corona, telah terpukul keras oleh pandemi ini. Maskapai tersebut melaporkan penurunan 25 persen lalu lintas penumpang bila dibandingkan antara Maret 2019 lalu dengan Maret 2020 saat ini. Penutupan perbatasan global dan pembatasan perjalanan yang ditujukan untuk memperlambat penyebaran virus corona telah memaksa maskapai penerbangan Rusia mendaratkan armada internasional mereka. Selain itu hanya sejumlah kecil penerbangan yang memungkinkan Rusia di negara lain untuk pulang. Krisis ini juga menghantam lalu lintas udara domestik, dengan banyak warga Rusia yang tinggal di rumah dan menunda rencana perjalanan karena pesanan tinggal di rumah secara nasional. Menurut Badan Transportasi Udara Federal, Rosaviatsiya, hampir setiap hub udara utama di seluruh Rusia telah mengalami penurunan lalu lintas penumpang yang signifikan selama sebulan terakhir. Baca juga: Cegah Virus Corona di Kabin, Inilah Sejumlah Langkah yang Dilakukan Maskapai Penerbangan “Perusahaan penerbangan Rusia dapat kehilangan lebih dari 100 miliar rubel (US$1,3 miliar) pada akhir tahun jika situasinya tidak membaik,” kata Rosaviatsiya.  

Aneh, Meski ‘Berdarah-darah’, Airbus Tak Butuh Bantuan Pemerintah Perancis

CEO Airbus, Guillaume Faury belum lama ini memperingatkan karyawannya bahwa keuangan perusahaan tengah ‘berdarah-darah’. Namun, belakangan tersiar kabar bahwa produsen pesawat asal Eropa tersebut justru tak membutuhkan bantuan pemerintah Perancis. Baca juga: Airbus Rugi Rp7,7 Triliun di Kuartal I 2020, CEO: Ini Masih Permulaan “Tidak perlu adanya intervensi negara saat ini. Jika ada kesulitan, kami akan berada di sana untuk membantu Airbus,” kata Menteri Anggaran Perancis, Gerald Darmanin kepada Radio J Sunday, sebagaimana dikutip KabarPenumpang.com dari Bloomberg. Darmanin mengatakan bahwa saat ini Airbus disebut memiliki uang tunai yang cukup. Kepastian itu didapat setelah pemerintah Perancis dan Belanda menyuntikkan dana sebesar 7 miliar euro atau Rp 116 triliun (kurs 16,284) kepada Air France-KLM. Secara tak langsung, suntikan dana tersebut akan berdampak ke Airbus. Belum jelas bagaimana dampak secara tidak langsung tersebut dapat berjalan, namun, sebagian pihak menduga bahwa Air France-KLM mempunyai sejumlah tagihan atas backlog pesawat. Lalu, indikator dalam menilai Airbus masih memiliki uang yang cukup juga masih simpang siur. Entah di atas Rp 1.000 triliun atau kurang dari itu. Sebelumnya Airbus melaporkan hanya membukukan pendapatan sebesar 10,6 miliar euro pada kuartal I 2020. Bila dibandingkan dengan periode yang sama di tahun lalu, pendapatan raksasa produsen pesawat dunia tersebut terkoreksi sebesar 15 persen atau telah merugi sebesar US$515 juta (Rp7,7 triliun – kurs 15,239). Hal itu pun memaksa perusahaan setidaknya telah mem-PHK sebanyak 3.000 karyawan di Perancis, 3.200 karyawan lainnya di UK dipaksa cuti tanpa dibayar, dan ribuan karyawan lainnya di Jerman menanti giliran untuk di-PHK atau dipaksa cuti tanpa dibayar, serta mencari pinjaman miliaran euro. Celakanya, menurut CEO Airbus, Guillaume Faury, bencana yang belum pernah dialami sebelumnya ini bukanlah akhir, melainkan baru permulaan. Melihat situasi yang berkembang saat ini, Faury juga menduga, kuartal II 2020 tampaknya tak akan jauh berbeda. Sama- sama suram. Itu berarti, akan ada beberapa langkah efisiensi berkelanjutan yang sudah mulai dilakoni, seperti pengurangan gaji, pengurangan karyawan, memangkas produksi hingga sepertiga, membatalkan rencana menambah jalur perakitan untuk A321 di Toulouse, dan memperlambat proses pengembangan jet terbaru A220. Tak lupa, tentu saja Airbus juga harus mencari pinjaman lain dalam jumlah besar untuk keberlangsungan bisnis. Bila Airbus benar tidak butuh bantuan dari pemerintah Perancis karena masih memiliki uang tunai yang cukup (bukan hanya sebuah propaganda semata agar perusahaan terlihat dalam keadaan baik-baik saja), maka, hampir dipastikan Airbus mempunyai uang tunai lebih dari Rp300 triliun. Asumsi tersebut setidaknya dapat ditarik dari keuangan kompetitor mereka, Boeing. Pada akhir Maret lalu, Dave Calhoun, pernah mengatakan kepada CNBC Internasional, bahwa perusahaan yang dipimpinnya, saat itu memiliki uang tunai sekitar US$15 miliar dolar atau sekitar Rp244 triliun (kurs Rp 16.457). Tetapi, dengan stok uang tunai sebesar itu, Boeing mengaku tetap membutuhkan suntikan modal untuk membayar para pekerja dan mengamankan rantai pasokan agar tetap stabil. Baca juga: Airbus ‘Berdarah-darah,’ Karyawan Diminta Bersiap Kemungkinan Terburuk Selain itu, suntikan modal juga dibutuhkan Boeing untuk mengamankan pasar produsen pesawat global hingga persiapan untuk ‘berlari kencang’ ketika Covid-19 benar-benar telah berakhir. Dengan berbagai kebutuhan tersebut, CEO Boeing, Dave Calhoun, menyebut setidaknya perusahaan membutuhkan bantuan sebesar US$60 miliar atau Rp978 triliun. Bila Boeing saja, dengan stok uang tunai sebesar itu masih membutuhkan suntikan hampir Rp1.000 triliun, bisa dibayangkan, bagaimana kondisi keuangan Airbus saat ini tatkala perusahaan disebut tak butuh bantuan pemerintah Perancis.

Apa yang Dilakukan Pilot Ketika Salah Satu Mesin Pesawat Mati?

Pernahkah Anda membayangkan pesawat yang Anda tumpangi terpaksa melakukan pendaratan darurat dikarenakan ada masalah pada salah satu mesinnya? Wah, ketika mendengar pengumuman semacam ini di dalam pesawat, tentu jantung Anda akan otomatis berpacu kencang dan jalan pikiran akan menggiring pada suatu hal yang terburuk – kecelakaan. Namun jangan dulu berpikiran yang macam-macam, mengingat pesawat tidaklah diciptakan dengan fitur keselamatan yang ecek-ecek. Baca juga: ETOPS – Sertifikasi Darurat Pesawat Twin Engine Agar Layak Mengudara dengan Satu Mesin Beragam skema kecelakaan yang mungkin dihasilkan oleh kegagalan fungsi mesin sudah memiliki ‘penawarnya’ masing-masing. Namun yang jadi pertanyaan di sini adalah, “Bagaimana seorang pilot menangani kegagalan fungsi mesin di tengah penerbangan? Mengingat ia merupakan orang pertama yang akan menyadari kondisi darurat ini.” Guna menjawab pertanyaan ini, KabarPenumpang.com mengutip dari laman thepointsguy.co.uk, biasanya, pesawat akan mengalami kendala pada bagian mesin ketika si burung besi ini belum melakukan ‘pemanasan’. Layaknya seorang atlet, mereka akan lebih rentan terkena cidera ketika belum melakukan pemanasan sebelum bertanding – sama halnya seperti pesawat. Maka dari itu, di jagad dirgantara dikenal dengan yang namanya five-minute ‘warm up’ period, dimana pesawat bisa melakukan pemanasan terlebih dahulu sebelum bertugas. Salah satu gejala awal yang akan diterima oleh pilot ketika salah satu mesin mengalami kendala adalah alarm peringatan dari Master Caution System yang muncul pada layar Engine Indicating and Crew Alerting System (EICAS). Di layar ini, pilot bisa mengidentifikasi mesin mana yang mengalami masalah dan harus mulai mempertimbangkan langkah selanjutnya – apakah pesawat bisa melanjutkan penerbangan dengan hanya menggunakan satu mesin, atau mesti melakukan pendaratan darurat. Walaupun pada kebanyakan kasus, pilot akan lebih memilih untuk melakukan pendaratan darurat dengan menimbang keselamatan penumpang dan awak. Tidak hanya pilot yang berperan dalam mengendalikan sebuah pesawat yang ‘tengah cidera’ ini, melainkan sistem di dalam pesawat juga akan menampilkan beberapa skenario kegagalan mesin – dimana sistem akan menampilkan di ketinggian berapakah pesawat akan dapat mempertahankan kecepatan udara yang dinilai aman. Penggambaran skenario ini akan bersanding dengan keterampilan pilot untuk mengendalikan pesawat yang hanya dioperasikan oleh satu mesin. Ya, mereka sudah terlatih untuk menghadapi kondisi semacam ini. Tidak lupa, komunikasi dengan menara pengawas lalu lintas udara juga harus terus terjalin agar dapat memberikan opsi kepada pilot untuk melakukan pendaratan darurat semisal dibutuhkan.
Sumber: thepointguy.co.uk
Sejatinya, pesawat sudah memiliki jalurnya masing-masing dalam melakukan sebuah penerbangan, dan semuanya tertata rapi guna menghindari collision di udara. Jika kasus mati mesin seperti ini muncul, maka seorang pilot biasanya akan keluar dari jalur yang sudah direncanakan sebelumnya dan bergabung dengan jalur lain yang akan menggiringnya ke bandara terdekat. Hanya saja, pilot akan berada kurang lebih 5 nautical miles atau sekira 9,3 km dari jalur menuju bandara yang dituju agar terhindar dari tabrakan di udara. Baca Juga: Mengenal Ditching, Pendaratan Darurat Pesawat di Atas Permukaan Air Jika sudah pada tahap seperti ini, biasanya pilot akan berputar-putar dulu di udara sebelum melakukan pendaratan guna membuang bahan bakar yang ada pada sayap. Ya, sebuah pesawat tidak mungkin melakukan pendaratan dengan kondisi tangki bahan bakar masih terisi penuh. Jadi, sudah terbayangkah oleh Anda tentang skema yang akan dilakukan seorang pilot jika salah satu mesinnya mengalami masalah dan terpaksa harus melakukan pendaratan darurat?

Sering Lihat Pesawat Mengeluarkan Asap Putih? Ini Dia Penjelasannya

Beberapa dari Anda pasti pernah melihat garis putih panjang di angkasa yang secara kasat mata bentuknya hampir menyerupai awan. Tidak sedikit juga orang jaman dulu menyangkut pautkan fenomena ini dengan nilai keagamaan. Dewasa ini, sebagian dari kita mungkin acuh dengan garis putih tersebut, namun tahukah Anda apa itu sebenarnya? Baca Juga: 11 Kasus Misterius Dalam Dunia Penerbangan Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, secara garis besar ada dua teori yang mendefinisikan fenomena yang ditimbulkan oleh pesawat tersebut. Pertama adalah condensation trail (contrail), yaitu efek alami dari kondensasi udara dingin yang secara tiba-tiba menjadi hangat akibat pembakaran mesin lalu mengandung uap air dan terbentuklah gumpalan awan. Jika disederhanakan, suhu panas di mesin pesawat bertabrakan langsung dengan udara di luar pesawat yang super dingin, dan terbentuklah contrail. Jejak uap air terkondensasi ini dapat terlihat dalam waktu beberapa detik atau menit, atau bahkan berjam-jam, tergantung pada kondisi atmosfer. Patut digaris bawah, contrail ini sendiri merupakan efek alami dari kondensasi udara yang tidak berbahaya dan hanya mengandung uap air. Fenomena contrail sendiri terjadi saat pesawat berada di ketinggian 16.500 kaki atau kurang lebih setara dengan 5.000 meter. Lalu fenomena contrail ini bertolak belakang dengan chemical trail (chemtrail). Sesuai dengan namanya, chemtrail merupakan bahan kimia atau biologis yang sengaja disebar pada ketinggian tertentu oleh beberapa oknum dengan tujuan tertentu. Chemtrail ini erat kaitannya dengan teori konspirasi yang dilakukan oleh pemerintah Amerika Serikat untuk membatasi laju pertumbuhan penduduk. Tidak sedikit juga yang beranggapan bahwa penyebaran chemtrail ini merupakan proyek rahasia pemerintah. Pada awalnya, Teori konspirasi chemtrail mulai beredar setelah United States Air Force (USAF) menerbitkan sebuah laporan pada tahun 1996 tentang modifikasi cuaca. Setelah laporan tersebut terbit, di akhir 1990an, USAF dituduh “telah menyemprotkan populasi AS dengan zat misterius” dari pesawat terbang yang menghasilkan pola contrail yang tidak biasa. Sejak saat itulah teori konspirasi chemtrail mulai marak diperbincangkan. Salah satu kasus yang belum lama terjadi adalah militer Amerika menyemprotkan chemtrail pada bulan April 2016 silam. Namun pihak NASA mengakui bahwa zat kimia yang disemprotkan di lapisan ionosfer bumi itu merupakan zat lithium yang dapat membantu mengobati orang-orang yang mengidap kelainan bipolar. Baca Juga: Kenapa Mayoritas Badan Pesawat Berwarna Putih? Ini Dia Alasan Ilmiahnya! Namun pernyataan NASA tersebut tidak sejalan dengan pemerintah yang tidak pernah mengakui adanya proyek terselubung tersebut. Jim Marss, penulis buku Above Top Secret yang juga mengupas tentang teori chemtrail ini pun mengamini statemen di atas, dimana pemerintah tidak pernah mengakui tentang keberadaan proyek chemtrail. “Tak ada satu pun pejabat yang punya otoritas mau mengakui keberadaan proyek ini, juga apa tujuannya,” tulis Jim, dikutip dari laman seekers.com. Tidak dilandasi hipotesa semata, Jim membeberkan bukti bahwa Amerika pernah disemprotkan chemtrail. Pada 2007, reporter stasiun televisi di Lousiana menguji kandungan yang ada pada chemtrail yang ditinggalkan oleh sebuah pesawat. “Hasilnya, ada 6,8 part per million (ppm) barium,” tukas Jim. Ia mengklaim, kadar barium di udara ini tiga kali lebih tinggi dari standar yang diperkenankan oleh Environmental Protection Agency (EPA).

Mau Makan di Restoran dengan Sensasi Bandara dan Pesawat? Yuk ke Jogja Airport Resto

Ketika berada di sebuah restoran, Anda biasanya akan langsung bertemu dengan pelayan yang akan mengantarkan ke tempat duduk sesuai jumlah pelanggan. Kemudian Anda dengan rombongan akan diberi buku menu dan memesan makanan serta minuman yang ada. Baca juga: Lima Restoran ini Gunakan Body Pesawat Sebagai Lapak Jualannya Namun bagaimana kalau mau makan direstoran tapi Anda harus melewati pemeriksaan keamanan hingga ke menunggu di ruang tunggu? Kalau dipikir, ini mau makan di restoran atau mau masuk ke bandara dan naik pesawat untuk berlibur ya.
lorong kaca menuju restoran pesawat (wisatakaka.com)
Tapi, ini akan Anda rasakan ketika mengunjungi sebuah restoran di Kadirojo I kecamatan Kalasan Kabupaten Sleman di Daerah Istimewa Yogyakarta atau tepatnya sepuluh kilometer dari Tugu Yogyakarta. Ya, Jogja Airport Resto, ini adalah restoran pesawat yang memiliki kelengkapan layaknya sebuah sebuah bandara dan buka pukul 10.00-22.00 WIB. Restoran ini memiliki dua pesawat yang diparkir dibelakang ruang tunggu di mana pelanggan akan menunggu setelah melewati proses keamanan dan check in. Di ruang tunggu ini pun Anda juga bisa makan bila memang tidak ingin makan dalam kabin pesawat. Kemudian saat tiba boarding atau ke pesawat untuk makan, Anda akan dilayani pramugari dengan menu dan pengantaran makanannya. Para pramugari ini mengantar makanan dengan troli seperti ketika pramugari menawarkan makanan dan minuman di pesawat. Tiket masuk ke lokasi ini gratis, tetapi jika ingin menikmati semua fasilitasnya, Anda wajib merogoh kocek hingga Rp160 ribu yang sudah termasuk dengan makanan khas Indonesia untuk empat orang. Ya, ini cukup terbilang murah bila di hitung per orang hanya membayar sekitar Rp40 ribu.
Berbagai layanan di Jogja Airport Resto
Nah, Anda juga bisa memesan makanan atau minuman tambahan berkisar Rp7 ribu hingga Rp75 ribu. Tak hanya itu, para pramugari ini juga akan memperagakan prosedur keselamatan di pesawat setiap jam 11.00 dan 13.30 WIB. Benar-benar seperti di pesawat, resto ini juga membagi kelas ekonomi dan bisnis yang mana perbedaannya di jumlah dan fasilitas kursi serta harga paket makanannya. Di awal, KabarPenumpang.com sudah menjelaskan, restoran ini memiliki dua buah pesawat. Keduanya disatukan oleh lorong kaca dan membuatnya seperti pesawat yang tengah parkir di bandara. Tapi bila tak puas hanya makan dan berfoto seadanya, Anda bisa membeli tiket di konter check in dengan harga Rp20 ribu per orang. Baca juga: Restoran dengan Model Replika Airbus A320 Dibangun di Bengaluru Anda bisa berfoto di kokpit dan menyewa baju pilot yang disediakan agar mirip dengan pilot aslinya. Selain itu juga bisa foto di berbagai tempat yang ada di sudut restoran lainnya seperti kabin atau lorong kaca.

Lion Air Resmi Tunda “Exemption Flight”

Lion Air resmi resmi menunda operasional exemption flight hingga pemberitahuan selanjutnya (until further notice/ UFN). Penundaan terjadi karena dibutuhkan persiapan-persiapan yang lebih komprehensif, agar maksud dan tujuan pelaksanaan penerbangan tetap berjalan sesuai ketentuan berlaku serta memenuhi unsur-unsur keamanan dan keselamatan penerbangan, termasuk tidak menyebabkan penyebaran corona virus disease (Covid-19). Baca juga: Lion Air Layani “Exemption Flight” untuk Pebisnis Exemption flight sedianya akan dimulai pada Minggu (3/5/2020) pada rute domestik. Danang Mandala Prihantoro, Corporate Communications Strategic Lion Air Group dalam pesan tertulis menyebut, Lion Air Group selalu berkoordinasi bersama regulator serta berbagai pihak terkait, dengan harapan apabila penerbangan akan dilaksanakan dapat beroperasi lancar, sehingga bisa memenuhi kebutuhan transportasi udara sesuai Peraturan Menteri Perhubungan Rebulik Indonesia Nomor PM 25 Tahun 2020 tentang Pengendalian Transportasi selama masa angkutan udara Idul Fitri periode 1441 Hijriah dalam rangka pencegahan penyebaran Covid-19. Lion Air Group menegaskan, tujuan utama operasional perizinan khusus (exemption flight) adalah bagian wujud kesungguhan dalam membantu kemudahan mobilisasi guna melayani pebisnis bukan untuk “mudik”, serta tujuan penerbangan yang mencakup: 1. Pimpinan lembaga tinggi Negara Republik Indonesia dan tamu kenegaraan; 2. Operasional kedutaan besar, konsulat jenderal, dan konsulat asing serta perwakilan organisasi internasional di Indonesia; 3. Operasional penerbangan khusus repatriasi (repatriasi) yang melakukan pemulangan warga negara Indonesia (WNI) maupun warga negara asing (WNA); 4. Operasional penegakan hukum, ketertiban, dan pelayanan darurat; 5. Operasional angkutan kargo; dan 6. Operasional lainnya berdasarkan izin Direktur Jenderal Perhubungan Udara.

Pesawat Listrik NASA X-57 Maxwell Segera Terbang Perdana

Belum tuntas pengembangan pesawat supersonik X-59 QueSST hasil kolaborasi dengan perusahaan kedirgantaraan Amerika Serikat, Lockheed Martin, NASA dikabarkan juga tengah mengembangkan pesawat varian ‘X’ lainnya, yakni X-57 Maxwell. Pesawat itu digadang-gadang bukan hanya akan menjadi pioneer pesawat listrik di masa mendatang, melainkan juga menjadi pijakan kuat NASA dalam bisnis pesawat listrik komersial. Baca juga: X-59 QueSST, Pesawat Supersonik Rancangan NASA, Siap Unjuk Gigi Pada 2021 Varian ‘X’ sendiri, sejak 1951, dalam dunia kedirgantaraan di Amerika Serikat (AS) sering sebetulnya dianggap sebagai lambang kecepatan dan kemampuan pesawat dalam bermanuver. X-1 dan X-15, misalnya, digunakan untuk mempelajari penerbangan pada ketinggian dan kecepatan ekstrem. Pada kasus pesawat listrik X-57 Maxwell, lambang kecepatan dan kemampuan bermanuver di udara mungkin jauh dari kenyataan. Justru sebaliknya, pesawat hanya diproyeksikan dalam jarak dekat, dengan kecepatan tak lebih baik dari pesawat dengan mesin turbofan modern, dan eksotisme desain yang tak terlalu nyentrik. Meski demikian, karena tetap menyandang kode ‘X’ pesawat listrik X-57 Maxwell wajib memiliki sesuatu yang menonjol. Dikutip dari hackaday.com,dari segi desain, pesawat listrik yang mulai diperkenalkan NASA pada 2015 lalu tersebut, secara keseluruhan, desainnya diadaptasi dari pesawat baling-baling bermesin ganda Tecnam P2006T buatan Italia. Jadi, desain mungkin bukan hal yang dibanggakan dalam pesawat tersebut. Namun, dengan sejumlah modifikasi dan pengembangan pada sistem teknologi listrik pada pesawat itu sendiri, mencakup baling-baling, baterai ion lithium, 14 motor listrik, dan sistem propulsi, pesawat listrik X-57 Maxwell dinilai masih layak menyandang status ‘X’. Dari sekian banyak lini yang dimodifikasi dan dikembangkan, tantangan paling berat terletak pada teknologi baterai. Prinsipnya, bagaimana caranya para peneliti bisa mengembangkan baterai dengan ukuran yang sama, seperti baterai yang ada pada saat ini, tetapi memiliki kapasitas yang jauh lebih besar. Selain itu, teknologi charge-nya pun juga harus jauh lebih cepat dari yang sudah ada. Bila teknologi tersebut, fast charging, belum juga ditemukan dalam waktu yang sudah ditentukan, opsi lainnya, tim ditantang untuk membuat baterai mudah dibongkar pasang. Tujuannya, ketika pesawat mendarat, petugas ground handling bisa langsung mengganti baterai dalam waktu sekejap dengan baterai yang baru dan beberapa saat kemudian pesawat bisa kembali melanjutkan perjalanan. Mesin juga tak luput dari amatan NASA. Mesin asli Tecnam P2006T dan sayap sudah diganti dengan teknologi sistem “Distributed Electric Propulsion”. Sistem tersebut memungkinkan terdistribusinya daya dengan berimbang dan proporsional, sesuai kebutuhan motor listrik saat di udara. Sebab, tidak semua motor listrik beroperasi penuh. Ketika lepas landas dan mendarat, seluruh motor listrik memang beroperasi. Namun ketika di udara, sejauh ini diproyeksikan hanya dua yang beroperasi. Adapun 12 lainnya dalam posisi standby. Dua motor listrik yang beroperasi itu tentu tidak sendirian, mereka akan didukung oleh desain sayap mutakhir yang mampu membawa pesawat pada posisi mengambang. Hal itu terjadi berkat memaksimalkan putaran udara atau vortex di sayap yang pada akhirnya menambah daya angkat pesaway. Dengan begitu, target efisiensi lima kali lipat dapat tercapai. Baca juga: Gandeng Boeing, NASA Siap Luncurkan Penerbangan Orbital Nirawak Perdana Saat ini, pesawat listrik NASA X-57 Maxwell dikabarkan sudah memasuki tahap kedua dari setidaknya empat tahap yang harus dilalui. Tahap kedua itu mencakup uji motor listrik dan struktur sayap secara terpisah. Setelah keduanya berhasil, tahap ketiga akan mulai menyatukan seluruh komponen dalam satu kesatuan pesawat. Barulah pada tahap terakhir seluruh komponen diuji kinerjanya, apakah sesuai dengan target efisiensi, kebisingan, dan lain sebagainya. Pada 2015 lalu, NASA berujar akan mulai mengujicoba X-57 Maxwell. Namun, karena kendala di sana sini, proyek pun harus molor. Target berikutnya, pesawat dijadwalkan mulai melakukan penerbangan perdana sebelum akhir tahun 2020 mendatang. Menarik di tunggu, akankah sesuai rencana atau kembali molor karena berbagai kendala?

Industri Penerbangan Global Bingung, Maju Kena Mundur Babak Belur

Perjalanan udara disinyalir menyumbang antara 2-3 persen dari emisi karbon dunia, tetapi persentase untuk itu setara dengan 4,5 miliar perjalanan penumpang, pergerakan 64 juta metrik ton kargo dan sepertiga dari perdagangan global dunia. Di samping itu, sektor penerbangan juga menopang 65 juta pekerjaan. Baca juga: Bagaimana Load Factor Pengaruhi Profit Maskapai? Berikut Penjelasannya Namun sekarang sebagian besar jaringan penerbangan global telah ditutup sebagai bagian dari upaya mencegah penyebaran virus corona yang lebih luas. Jumlah penerbangan harian tercatat telah turun 80 persen sejak awal tahun ini, dan di beberapa wilayah hampir semua lalu lintas penerbangan telah ditangguhkan. Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) juga telah mengingatkan, bahwa maskapai penerbangan pada umumnya hanya bisa bertahan dengan cadangan kas perusahaan hingga akhir kuartal II atau Juni. Hal itu menyebabkan sekitar 25 juta pekerja terancam PHK. Bila tak ada langkah konkret, maskapai akan bangkrut. Belum juga sampai di bulan Juni, ancaman PHK nyata adanya. Airbus dikabarkan telah mem-PHK sebanyak 3.000 karyawan. Sedangkan Boeing, belakangan santer dikabarkan akan mem-PHK sebanyak 7.000 karyawan. British Airways, lebih gila lagi, lebih dari 12 ribu posisi dipangkas. Easyjet merumahkan sekitar 4 ribu awak kabin selama dua bulan, Qantas 20 ribu karyawan dipaksa cuti tanpa dibayar, dan American Airlines telah menegosiasikan pensiun dini untuk 700 pilot. Masih banyak lagi gelombang PHK di industri penerbangan global yang tak mungkin disebutkan seluruhnya. Saat ini, menurut Cirium, diperkirakan ada sekitar 17.000 pesawat yang di-grounded di bandara di seluruh dunia. Angka tersebut mewakili sekitar dua pertiga dari armada global. Sisanya, bukan masih terus eksis melayani penumpang, melainkan dikonversi menjadi angkutan kargo untuk mengangkut peralatan medis dari dan ke seluruh dunia tanpa satupun penumpang. Dikutip dari BBC Internasional, Direktur Jendral IATA, Alexandre de Juniac, mengatakan bahwa tantangan industri penerbangan global saat ini adalah bagaimana membuat kepastian kapan negara-negara di dunia mengakhiri kebijakan pembatasan perjalanan. Jika itu bisa terjawab, mungkin ke depannya keadaan tidak akan memburuk. Namun, ia percaya, bahwa kebijakan lockdown atau pembatasan perjalanan sebagian negara akan berakhir pada pertengahan tahun dan sebagian lainnya akan terus berlaku sampai akhir tahun 2020. Ketika situasi itu terjadi, lanjutnya, mungkin perlahan tapi pasti penerbangan domestik akan mulai bergairah lebih dulu, diikuti penerbangan internasional jarak pendek, dan jarak jauh atau antar benua menyusul kemudian. Namun, ketika penerbangan mulai bergairah, tantangan belum berarti usai. Selama wabah corona berlangsung, perjalanan udara memang terus menurun. Penyebabnya sebagian besar diakibatkan oleh kebijakan lockdown atau pembatasan perjalanan di hampir seluruh negara, ekonomi anjlok, dan ketakutan penumpang terhadap corona itu sendiri. Ketakutan penumpang inilah yang diprediksi akan terus dikelola oleh maskapai. Salah satu caranya tentu saja memperpanjang kebijakan physical distancing di dalam kabin selama penerbangan sampai keadaan benar-benar kembali normal dan psikologi penumpang dapat ter-manage dengan baik. Hal ini mungkin akan berdampak dengan pengalaman end-to-end penumpang. Menurut sebagian ahli, menerapkan kebijakan physical distancing di setiap penerbangan, dalam jangka pendek dan sebagai bagian dari memulihkan psikologi penumpang akan ketakutan berlebih terhadap corona, mungkin itu tak menjadi masalah. Namun, untuk jangka panjang, mungkin akan menjadi masalah baru bagi maskapai. Baca juga: Walau Nganggur, Pesawat Tetap ‘Merepotkan’ Petugas, Loh Celakanya, maskapai tak punya pilihan lain. Menggrounded pesawat tanpa ada penerbangan akan membuat mereka tercekik habis. Pasalnya, pesawat tetap harus mendapat perawatan, selain ongkos parkir yang cukup besar. Menurut Mark Martin, pendiri Martin Consulting LLC yang berbasis di Dubai, biaya parkir bisa mencapai $1.000 per hari untuk pesawat besar. Bayangkan jika maskapai harus menggrounded berbulan-bulan dan tanpa dibarengi pemasukan. Artinya, cadangan uang maskapai akan terus tergerus. Tetapi, bila pun terbang dengan menerapkan kebijakan physical distancing atau 65 persen dalam posisi penuh, mungkin cukup menjadi beban buat maskapai, terlebih untuk maskapai LCC atau berbiaya hemat yang biasanya mengangkut 90persen dari kapasitas. Inilah yang pada akhirnya membuat industri penerbangan dalam posisi dilema. Tak terbang merana, terbang pun belum tentu terhindar dari celaka.