Seorang pria dengan membawa senjata api membajak sebuah bus umum di Texas pada Minggu (19/4/2020) dan membuat pihak kepolisian selama satu jam mengejarnya ke beberapa kota. Dalam pengejaran tersebut tiga orang petugas terluka dan pelaku ditembak mati.
Baca juga: Bus Dibajak, Lima Orang Pejalan Kaki Tewas TertabrakKabarPenumpang.com melansir laman kimt.com (19/4/2020), pria tersebut bernama Ramon Thomas Villagomez. Dia saat itu naik bus Dallas Area Rapid Transit di Jalan Buckingham sekitar pukul 11 pagi waktu setempat. Di dalam bus ternyata sudah ada satu penumpang yang naik di Richardson, Texas.
Setelah dirinya naik, Villagomez melepaskan tembakan dan menghancurkan beberapa jendela dan menuntut agar pengemudi terus melajukan bus tersebut tanpa menyebutkan arah yang jelas. Saat Villagomez tak memerhatikan, pengemudi bus memberitahu polisi transit.
Dalam aksi pengejaran tersebut, bus melalui beberapa kota di Willayah Dallas-Fort Worth yakni Richardson, Garland, Rowlett dan Rockwall atau total jarak tempuh sekitar 30 mil atau 48,2 km. Juru bicara agen transit, Gordon Shattles mengatakan, pengejaran tersebut dilakukan oleh beberapa departemen kepolisian yang menanggapi hal tersebut dan kemudian baku tembak pun terjadi.
Dua orang petugas dari departemen Transit Cepat Area Dalls dan satu dari departemen kepolisian Garland tertembak. Untungnya luka ketiga polisi tersebut tidak mengancam jiwa mereka.
Pengejaran bus berakhir sekitar setengah hari saat bus melewati paku di jalan raya Rowlett, Texas. Villagomez keluar dari bus dan beradu tembakan dengan pihak kepolisian. Kemudian polisi Garland mengatakan Villagomez dibawa ke rumah sakit dan dinyatakan meninggal karena luka tembakan.
“Pengemudi bus dan seorang penumpang lainnya tidak terluka,” kata Shattles.
Diketahui, awal pengejaran tersebut karena Villagomez merupakan tersangka dari kasus pembunuhan kekasihnya di San Antonio. Selain itu, juga melakukan serangan yang diperparah dengan tuduhan senjata mematikan di Kabupaten Brazoria setelah dituduh menyerang seorang kerabat.
Baca juga: Prank Positif Covid-19 di Dalam Bus, Mahasiswa Ph.D Hampir Dipidanakan
Saat insiden Dallas County saat ini berada di bawah perintah tetap di rumah karena pandemi virus corona, yang berarti penumpang pada rute ini jauh lebih rendah dari biasanya.
“Fakta bahwa ini terjadi pada saat ini, bisa jadi jauh, jauh lebih buruk,” kata Shattles.
Transporatasi udara menjadi salah satu sektor yang paling terpukul akibat wabah virus Cina. Menurut data dari Airport Council Internasional, lalu lintas penumpang pada 2019 meningkat menjadi 8,8 miliar dibanding tahun lalu dengan persentase peningkatan sebesar 6,4 persen. Sementara pengiriman kargo udara meningkat 3,4 persen.
Baca juga: Nasib Malang Airbus A380, Tak Dilirik Jadi Angkutan Kargo Gegara Empat Alasan Ini
Pada tahun 2020, sebelum Covid-19 mewabah, Airport Council International (ACI) World memperkirakan akan ada sekitar 9,5 miliar perjalanan udara di seluruh dunia. Namun, belakangan, lembaga yang berbasis di Montreal, Kanada itu memprediksi terjadinya penurunan sekitar 3,6 miliar perjalanan. Menariknya lagi, ACI juga memprediksi bahwa dibutuhkan setidaknya 18 bulan untuk kembali ke kondisi normal layaknya sebelum pandemi Covid-19 menyerang. Tentu menjadi sinyal negatif bagi maskapai di seluruh dunia bila prediksi tersebut benar adanya.
Akan tetapi, terlepas dari semua keadaan dan prediksi buruk di atas, sebetulnya, selalu ada hikmah dibalik suatu kejadian. Selalu ada hal baik di balik hal buruk (musibah), tak terkecuali di industri penerbangan dalam menyikapi pandemi virus Cina. Dikutip dari futuretravelexperience.com (FTE), pandemi corona setidaknya telah mengubah enam hal, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Berikut ulasannya.
1. Physical Distancing
Selama wabah corona berlangsung, perjalanan udara terus menurun. Penyebabnya sebagian besar diakibatkan oleh kebijakan lockdown atau pembatasan perjalanan di hampir seluruh negara, ekonomi anjlok, dan ketakutan penumpang terhadap corona itu sendiri. Ketakutan penumpang inilah yang diprediksi akan terus dikelola oleh maskapai.
Salah satu caranya tentu saja memperpanjang kebijakan physical distancing di dalam kabin selama penerbangan sampai keadaan benar-benar kembali normal dan psikologi penumpang dapat ter-manage dengan baik. Hal ini mungkin akan berdampak dengan pengalaman end-to-end penumpang.
2. Otomasi Makin Gencar
Mayoritas maskapai dan bandara sudah merencanakan proyek transformasi digital sebelum pandemi Covid-19 melanda. Rencana-rencana tersebut sebagian dipercepat untuk mengurangi interaksi antar manusia melalui media robot, mesin otomatis, hingga teknologi biometrik yang salah satu fungsinya memungkinkan dihilangkannya proses kepabean atau imigrasi. Sebagian lainnya diprediksi akan makin digencarkan ketika pandemi berakhir.
3. Kebersihan Kabin Jadi Sorotan
Kebersihan menjadi salah satu syarat mutlak untuk membebaskan kabin dari paparan virus Cina. Oleh karenanya, maskapai dunia pun ramai-ramai ‘memamerkan’ prosedur kebersihan mereka untuk mencapai itu. Beberapa di antaranya bahkan tak sungkan menggunakan teknologi terkini, seperti robot GermFalcon (yang diklaim mampu membunuh 99 persen virus dengan teknologi sinar UV). Muara dari propaganda tersebut tentu saja semata agar penumpang percaya kepada maskapai untuk menjadikannya andalan ketika bepergian selama wabah berlangsung.
4. Tren Online
Pembatasan perjalanan telah mendorong masyarakat semakin memasifkan tren belanja berbasis daring atau online. Setidaknya, hal itu dapat terlihat dari kekayaan CEO Amazon yang terus meningkat di tengah melorotnya ekonomi. Selain itu, Amazon juga mengaku membutuhkan banyak karyawan untuk mendukung lonjakan bisnisnya.
Namun, apa hubungannya dengan maskapai penerbangan? Bagi sebagian orang, belanja mungkin tak kenal waktu dan tempat. Sebab, lewat digital semuanya sudah dalam genggaman. Karenanya, fenomena tersebut mungkin akan coba difasilitasi oleh maskapai sekalipun dalam perjalanan di atas udara. Dengan dukungan WiFi onboard, penumpang dimungkinkan untuk tetap berbelanja.
Baca juga: Tujuh Penerbangan Ini Tak Lazim Akibat Corona, Nomor 6 Paling Aneh!5. Kolaborasi Jangka Panjang
Diakui atau tidak, persaingan bisnis dan kepentingan antar maskapai, aliansi maskapai, dan lembaga penerbangan internasional membuat arus pertukaran informasi demi kelangsungan bisnis penerbangan yang lebih baik macet. Dengan adanya pandemi virus corona, disadari atau tidak, semua sekat-sekat tersebut hilang, semata untuk menyatukan kekuatan melawan wabah Covid-19. Contoh nyata dapat dilihat dari Airbus dan Boeing yang memutuskan merger, demi kelangsungan bisnis jangka pendek dan panjang.
6. Perhatian Besar Garda Terdepan
Selama ini mungkin garda terdepan, seperti petugas counter check-in dan awak kabin satu dengan yang lainnya atau hubungan mereka dengan manajemen terdapat gap cukup jauh. Namun, adanya pandemi, membuat maskapai mau tak mau memusatkan perhatian ke mereka sebagai bagian dari menarik kepercayaan penumpang.
Kementerian Perhubungan resmi menyetop transportasi udara mulai 24 April. Namun masyarakat kerap menerima informasi tidak utuh. Padahal, tidak semua penerbangan dilarang dan per hari ini, 24 April, maskapai pun masih diizinkan untuk mengangkut penumpang.
Baca juga: Penerbangan Komersial Dilarang Beroperasi, Maskapai Penerbangan Indonesia ‘Dihantui’ Tuntutan Lessor
Dalam Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 25 Tahun 2020 Tentang Pengendalian Transportasi Selama Masa Mudik Idul Fitri Tahun 14441 Hijriah Covid-19, Kementerian Perhubungan menyatakan bahwa penerbangan penumpang domestik masih diizinkan beroperasi sampai dengan hari ini, Jumat (24/4), untuk melaksanakan kewajiban operator penerbangan melayani penumpang dengan reservasi lama, dan mulai hari ini tidak ada lagi reservasi baru.
“Mengingat karasteristik moda udara yang spesifik, kepada operator penerbangan diberikan kesempatan untuk melaksanakan kewajibannya kepada penumpang sampai dengan hari ini dengan reservasi lama dengan tetap menerapkan protokol kesehatan selama pandemi Covid-19. Mulai hari ini tidak ada reservasi baru,” kata Juru Bicara Kementerian Perhubungan, Adita Irawati, sebagaimana rilis yang diterima redaksi KabarPenumpang.com
“Adapun setelah dilakukan evaluasi maka berlakunya peraturan akan sama untuk semua moda transportasi yaitu pada 24 April 2020 hingga 31 Mei 2020 dan akan diperpanjang jika diperlukan,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan, untuk penerbangan internasional tetap akan beroperasi khususnya untuk melayani warga negara asing yang akan kembali ke negaranya, dan warga negara Indonesia yang akan kembali ke Indonesia. Kemudian, penerbangan untuk pimpinan lembaga tinggi negara dan atau wakil internasional, operasional kargo, penegakan hukum dan pelayanan darurat petugas penerbangan, serta mobilitas pengangkutan kebutuhan medis, sanitasi, dan logistik juga masih diperbolehkan. Tentu saja, semua penerbangan tersebut tetap harus mengikuti protokol kesehatan selama pandemi Covid-19.
Selain itu, Adita juga menegaskan bahwa larangan penggunaan transportasi untuk mudik ini berlaku untuk keluar masuk di wilayah-wilayah PSBB, Zona Merah Penyebaran Covid-19 dan aglomerasi yang sudah ditetapkan sebagai PSBB. Adapun sisanya, masih berjalan seperti biasa dengan kewajiban menjalankan protokol kesehatan pemerintah.
Sebagai informasi, Permenhub nomor 25 Tahun 2020 sendiri telah ditetapkan pada tanggal 23 April 2020 sebagai tindak lanjut dari kebijakan Pemerintah untuk melarang mudik pada tahun ini dalam rangka mencegah penyebaran Covid-19.
“Untuk sektor transportasi udara, pertama adalah larangan melakukan perjalanan di dalam negeri maupun ke luar negeri, baik menggunakan transportasi udara berjadwal maupun transportasi udara carter,” ucap Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Novie Riyanto dalam teleconference bersama wartawan, Kamis (23/4)
Novie mengatakan meski ada pelarangan penerbangan bagi penumpang, Kemenhub tetap membuka layanan navigasi udara. Sama halnya dengan bandara.
“Di mana mereka wajib melayani pesawat yang lepas landas, mendarat, dan melintasi bandara tersebut,” ucap Novie.
Baca juga: Derita Traveler Asia Saat Corona, Terjebak Setelah 10 Bulan Melancong Hingga Diselamatkan Gereja
Mengenai dampaknya pada konsumen, Novie mengatakan kalau maskapai tetap memberikan refund. Hanya saja bentuknya tak wajib dengan uang tunai, tetapi bisa berupa voucher seharga 100 persen tiket yang dibatalkan.
Penguncian yang banyak dilakukan oleh negara-negara dunia juga membuat maskapai penerbangan banyak yang mendaratkan pesawat mereka saat masa pandemi ini. Namun belakangan beberapa negara mulai membuka kuncian mereka dan maskapai memeriksa seperti apa bentuk penerbangan saat pembatasan perjalanan mulai nyaman kembali.
Baca juga: Virus Corona, Petaka Buat Maskapai, Bisa Jadi Berkah Buat Perusahaan Leasing
Operator saat ini sudah mulai mengeluarkan uangnya dan sangat penting bagi mereka untuk mendapatkan pesawat kembali ke udara. Kepercayaan penumpang juga menjadi satu rintangan yang harus di atasi karena banyak yang khawatir menjaga jarak wajar dari sesama pelancong.
Dilansir KabarPenumpang.com dari bbc.com (23/4/2020), hal ini kemudian membuat maskapai memutar otak dan mencari ide untuk membuat kusri tengah kosong. Ini dilakukan untuk menghindari penumpang duduk bersisian satu sama lain. Maskapi jarak pendek Eropa yakni EasyJet menjadi maskapai terbaru yang akan melakukan hal tersebut.
Maskapai lainnya yang tengah membahas hal ini adalah Alaskan Airlines dan Wizz Air. Bisa dikatakan menghilangkan opsi kursi tengah yang jarang diinginkan penumpang membuat pelancong bisa sedikit bersorak ketika bepergian. Kemudian dengan gagasan ini, apakah mengosongkan kursi tengah bisa membantu menjaga jarak sosial yang tepat? Bila iya, sampai kapan maskapa harus melakukannya dan apakah ini pilihan realistis di luar jangka pendek?
“Saat ini, kami membutuhkannya, karena tidak melakukan hal itu akan bertentangan dengan instruksi dari otoritas dan akal sehat. Kebutuhan mendesak untuk memperlambat tingkat infeksi diutamakan secara keseluruhan, bahkan jika solusinya tidak sempurna. Namun, jangka panjang tidak berkelanjutan secara ekonomi. Setelah debu mereda, kita semua akan kembali mengharapkan mobilitas global yang terjangkau lagi. Untuk mengaktifkan tarif untuk itu, terutama jika kapasitas total telah dikurangi, maskapai penerbangan akan membutuhkan gelandangan di semua kursi, ”jelas Daniel Baron, direktur pelaksana LIFT Aero Design yang berbasis di Tokyo, yang membantu maskapai penerbangan merancang kabin dan pengalaman pelanggan
Bila mengikuti terori dua meter, maka empat orang penumpang akan membutuhkan jarak hingga 26 kursi. Meski begitu, pesawat sangat tidak diatur untuk jarak sosal sepenuhnya atau sebaliknya. Apalagi saat ini pada pesawat modern sepertinya jarak dua meter tidak memungkinkan. Di mana kursi dengan lebar sekita 45 cm atau 17-18 inci hanya membuat penumpang satu dengan yang lain hanya berjarak 45 cm saja.
Anda harus terpisah lebih dari empat kursi untuk menjaga jarak dua meter atau dengan kata lain, sekitar sejauh dua kursi jendela di deretan enam kursi yang dipisahkan oleh lorong tunggal. Ini adalah dari sisi ke sisi, namun kika jarak kursi depan dan belakang, maskapai memiliki jarak sekitar 75-80 cm atau 29-32 inci.
Jadi jika maskapai ingin membuat orang terpisah setidaknya dua meter, berarti membiarkan dua baris penuh kosong diantara setiap penumpang sehingga untuk empat penumpang berjarak 26 kursi. Pada dasarnya, maskapai perlu beroperasi setidaknya pada titik impas.
Pada dasarnya, persentase kursi di pesawat yang ditempati oleh penumpang yang menentukan apakah penerbangan impas dan layak dioperasikan. Pada load factor tertentu, penerbangan menjadi menguntungkan, dan perbedaan antara membuat kerugian atau tidak pada rute hanya menyalakan beberapa penumpang.
Pada tahun 2019, Asosiasi Transportasi Udara Internasional mengutip faktor muatan global rata-rata 84 persen, secara regional berkisar dari 89 persen di Amerika Utara hingga 71 persen di Afrika. Daniel menunjukkan bahwa ada sejumlah langkah lain yang dapat digunakan maskapai untuk mencoba dan membuat perjalanan lebih aman.
“Jangan lupa bahwa sirkulasi udara kabin setara dengan ruang operasi. Kombinasi penyaringan pra-penerbangan, sanitasi kabin menyeluruh, penugasan kursi pintar, dan masker kemungkinan akan menjadi langkah maju dalam jangka pendek hingga menengah,” katanya.
Gagasan lain akan muncul dari Delta Airlines telah mengubah cara naik pesawat, dan sekarang menaiki mereka dengan ketat dari belakang ke depan, sehingga penumpang yang duduk di belakang tidak harus melewati yang duduk di depan. Maskapai ini juga menaiki lebih sedikit orang sekaligus untuk meningkatkan jarak fisik penumpang.
Banyak maskapai penerbangan juga membatalkan atau mengurangi layanan makanan dan minuman dalam pesawat untuk mengurangi interaksi di dalam kabin. Southwest melayani kaleng air individu daripada minuman penuh seperti biasanya, misalnya. Beberapa maskapai penerbangan menawarkan tas untuk bepergian di area gerbang saja.
Baca juga: Cegah Virus Corona di Kabin, Inilah Sejumlah Langkah yang Dilakukan Maskapai Penerbangan
Covid-19 telah mengubah dunia kita dalam berbagai cara, dan akan terus melakukannya saat kita menerapkan kecerdikan manusia yang terbaik untuk melawannya. Bagi kita yang perlu melakukan perjalanan saat kita melakukannya, dan bagi kita yang cukup beruntung untuk melakukan perjalanan sesudahnya, cara kita melakukannya juga akan berubah.
Kementerian Perhubungan melarang maskapai yang membawa penumpang untuk beroperasi. Sisanya, seperti angkutan kargo, penerbangan pimpinan lembaga tinggi negara atau wakil kewarganegaraan, dan pesawat yang membawa tenaga medis masih diperbolehkan untuk terbang dan mendarat.
Baca juga: Mengapa Perusahaan Leasing ‘Diburu’ Maskapai dan Mengapa Maskapai Menyewa Pesawat? Ini Jawabannya
Dalam teleconfrence, Kamis (23/4), Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Novie Riyanto mengatakan, pelarangan operasional maskapai untuk beroperasi beralaku mulai 24 April hingga 1 Juni 2020 mendatang. Larangan operasional ini berlaku untuk rute luar negeri maupun dalam negeri.
Kondisi tersebut tentu akan semakin menyulitkan maskapai yang sebelumnya juga sudah sangat terpukul dengan sepinya penerbangan. Belum lagi nilai tukar rupiah terhadap dolar yang terus anjlok, lengkap sudah penderitaan maskapai.
Namun, kesulitan-kesulitan yang dialami maskapai, mungkin tak menjadi sebuah excuse bagi lessor. Pasalnya, praktik pasar dari sewa pesawat adalah sewa bersih dengan klausul “hell or high water” yang mengharuskan penyewa membayar sewa dan melakukan semua kewajiban lainnya berdasarkan sewa tersebut secara absolut dan tanpa syarat.
Sebagai informasi, pada umumnya, maskapai di dunia lebih memilih menyewa pesawat untuk mendukung bisnis mereka ketimbang membeli pesawat cash ke produsen. Alasan atas fakta tersebut memang tidak sederhana untuk dijabarkan. Namun, pada intinya, mengeluarkan uang cash dalam jumlah besar akan mengurangi likuiditas maskapai untuk memenuhi operasional.
Garuda Indonesia, misalnya, 2018, misalnya, dari total 202 unit pesawat, yang dimiliki Garuda hanya 22 unit pesawat dan sisanya sebesar 180 unit pesawat adalah rental, ke perusahaan-perusahaan leasing (pembiayaan) pesawat. Dengan mangkraknya penerbangan yang berakibat pada turunnya revenue, serta dihadapi utang jatuh tempo, tentu maskapai pelat merah itu akan terus ‘dihantui’ lessor.
Mengutip pernyataan Hendra Ong, partner dari Dentons HPRP, bila situasi di atas benar terjadi, kemungkinan ada tiga skenario yang bisa ditempuh maskapai. Pertama, maskapai penerbangan akan mendapatkan bantuan dari lessor untuk mengatasi masalah keuangan mereka, seperti mengubah suku bunga tetap, periode bunga, perpanjangan sewa, atau pengiriman kembali pesawat ke lessor lebih awal, dan skenario lainnya.
Kedua, maskapai penerbangan dianggap lalai terkait pembayaran setelah kegagalan mereka untuk mengamankan bantuan dari lessor. Ketiga, maskapai penerbangan memasuki periode kebangkrutan, suka atau tidak suka.
Khusus untuk skenario kedua dan ketiga, bila hal itu terjadi, maka pesawat otomatis harus kembali ke tangan lessor. Secara umum, lessor dapat mengambil kembali fleet dari tangan maskapai dalam rentang waktu 10 hari. Namun, bila maskapai tidak kooperatif serta menolak untuk menyerahkan pesawat dan atau dokumen pesawat ke lessor maka bila lessor ingin menempuh jalur hukum, prosesnya mungkin bisa memakan waktu tiga tahun.
Dalam prakteknya, lessor hanya memiliki tiga pilihan, menempuh jalur hukum lewat pengadilan asing, arbitrase internasional, atau pengadilan tempat dimana lessee atau debitur berada, dalam hal ini Indonesia. Di antara ketiga pilihan tersebut, biasanya lessor lebih senang menempuh jalur hukum melalui arbitrase internasional.
Beruntung, Undang-Undang Kebangkrutan Indonesia mengatur untuk menengahi perseteruan antara lessor dan lessee. Disebutkan, seorang debitur (dalam bentuk perusahaan yang didirikan atau bertempat tinggal di Indonesia) yang memiliki dua kreditur atau lebih dan gagal membayar setidaknya satu hutang yang telah jatuh tempo dan harus dibayarkan akan dinyatakan bangkrut melalui keputusan pengadilan, baik atas permintaannya sendiri atau atas permintaan satu atau lebih krediturnya.
Baca juga: Virus Corona, Petaka Buat Maskapai, Bisa Jadi Berkah Buat Perusahaan Leasing
Dengan begitu, secara hukum, debitur kehilangan haknya untuk mengendalikan dan mengelola asetnya termasuk dalam kebangkrutannya pada tanggal di mana deklarasi kebangkrutan diucapkan asalkan jika perusahaan masih memenuhi fungsi itu. Kemudian, biaya yang dapat menyebabkan pengurangan aset kebangkrutan akan menjadi di bawah wewenang kurator atau penerima (kreditur).
Menarik ditunggu, akankah ada maskapai Indonesia yang berurusan dengan lessor akibat kegagalan membayar utang yang jatuh tempo? Yang jelas, kini maskapai dalam negeri tengah memasuki periode terburuk, tagihan membengkak, minim pemasukan, dan tak mendapat paket stimulus keuangan dari pemerintah, sebagaimana maskapai-maskapai lainnya di dunia yang mendapat stimulus dalam jumlah besar.
Airbus dikabarkan telah mengembangkan sebuah removable cover atau penutup yang bisa dilepas dan dipasang untuk melindungi panel-panel kontrol di kokpit dari tumpahan kopi, teh, atau cairan lainnya. Langkah tersebut merupakan sebuah respon atas beberapa insiden sebelumnya yang menyebabkan engine shutdown.
Baca juga: Setelah Dua Insiden, EASA Keluarkan Aturan Bebas Cairan di Dalam Kokpit Airbus A350
Dikutip dari Flight Global, sesuai arahan dari Badan Keamanan Penerbangan Eropa (EASA), removable cover itu akan menutupi tuas utama mesin, thumbwheels, dan rotary knobs selama di udara. Namun, pada fase-fase penting, seperti take-off, approach, dan landing, removable cover tersebut harus dibuka untuk memudahkan pilot.
Tumpahan minuman ke panel kontrol centre pedestal di kokpit Delta Air Lines A350 pada Januari dan Asiana A350 November lalu, masing-masing memang telah membuat engine shutdown atau mesin mati. Tak lama setelah dua insiden tersebut, Airbus pun merevisi aircraft flight manual, sejenis buku panduan pilot dan co-pilot, yang pada intinya memperketat aturan zona larangan adanya minuman di kokpit.
Dengan adanya inovasi berupa removable cover di kokpit serta adanya zona larangan adanya minuman di kokpit, diharapkan dua kejadian yang melibatkan Delta Air Lines dan Asian Airlines atau kejadian lainnya yang melibatkan A330 Condor Airlines tidak terulang lagi. Namun demikian, karena removable cover tidak statis, artinya masih ada kemungkinan hilang, atau mungkin pula rusak. Bila salah satu dari dua keadaan tersebut terjadi, tidak ada cara lain kecuali memperketat aturan zona larangan cairan, selain tentu saja mendorong kesadaran pilot untuk patuh pada aturan tersebut.
Akan tetapi, dari beberapa kasus di atas dan adanya kelemahan dari removable cover, yang notabene bisa hilang atau rusak, pertanyaan pun muncul, mengapa tidak dibuat instrumen anti cairan atau instrumen anti tumpahan saja? Menurut seorang captain pilot Airbus A330-A350 Qatar Airways, sebetulnya, tanpa ada embel-embel alasan apapun, bisa saja dibuat instrument anti tumpahan. Namun, bila melihat beberapa pertimbangan, seperti bobot, biaya, dan komplikasi, hal itu masih sulit diterapkan.
Kemudian, ia juga menyoroti bahwa sebetulnya dengan aturan main yang ada seharusnya sudah bisa menghindari terjadinya insiden itu. Hanya saja, karena aturan dilanggar, seperti tidak boleh ada minuman di atas atau di dekat center pedestal, entah sengaja atau tidak, insiden pun terjadi.
Padahal, dalam catatannya, dari database ASRS dan safety reporting NASA, insiden seperti itu rupanya sudah lumrah terjadi dan tidak hanya menimpa Airbus A350 dan kedua maskapai di atas. Meski demikian, lagi-lagi, ketidakdisiplinan kru kokpit ataupun kru kabin membuat insiden tersebut terus beulang hingga kini.
Sebetulnya, dahulu, saat sistem kontrol masih berupa mekanik atau manual, tumpahan apapun tak akan membuat masalah. Saat ini, pada sistem terkomputerisasi pada pesawat, tumpahan sekecil apapun memang akan menjadi masalah.
Baca juga: Perang Dunia I Dorong Ilmuan Inggris Kembangkan Telepon Nirkabel di Kokpit
Sebetulnya, tanpa adanya larangan dari EASA pun, secara teknis, pilot dan co-pilot sudah dilatih untuk tidak makan dan minum di dekat center pedestal. Hal itu untuk menghindari insiden tumpahan apapun ke center pedestal karena akan berakibat fatal. Sebagai gantinya, makan dan minum di kokpit sedikit diberi kelonggaran jika dilakukan di dekat jendela.
Selain itu, di beberapa maskapai, untuk menghindari adanya tumpahan, mekanisme membuat minuman pun sampai diatur, tidak lebih dari ½ ataupun 3/4. Saat mengantarkan ke dalam kokpit pun, pramugari tidak boleh meletakan langsung ke dekat center pedestal, melainkan harus menyusuri sisi kokpit dan meletakannya di dekat jendela.
Raksasa produsen pesawat asal Amerika Serikat, Boeing, dilaporkan resmi menggandeng salah satu penyedia seals terkemuka di dunia, Trelleborg, untuk memasok komponen alat pelindung wajah. Nantinya, komponen tersebut akan digabungkan dengan kaca atau visor pelindung wajah cetak 3D buatan Boeing untuk didistribusikan ke petugas medis, sebagai garda terdepan dalam perang melawan Covid-19.
Baca juga: Akibat Corona, Boeing dan Airbus Bahas Merger untuk Selamatkan Bisnis
Dikutip dari tss.trelleborg.com, Boeing disebut sudah mulai merayu Trelleborg untuk bergabung dalam proyek alat pelindung wajah ini sejak akhir Maret lalu. Dalam proyek tersebut, Trelleborg diplot untuk mensupport tali elastomer untuk mengaitkan alat pelindung wajah di kepala.
Guna mempercepat proses produksi, Trelleborg Sealing Solutions telah mendedikasikan fasilitas aerospacenya di Northborough, Massachusetts, untuk disulap dalam kurun waktu dua hari menjadi fasilitas produksi komponen tersebut. Fasilitas produksi itu ditargetkan bakal memproduksi hingga 5.000 seals atau tali per pekan.
Tali elastomer buatan Trelleborg. Foto: Twitter @TrelleborgSeals
“Dalam masa yang belum pernah terjadi sebelumnya ini, sangat penting setiap orang memainkan peran yang mungkin tidak sejalan dengan yang biasa mereka lakukan. Kami beruntung menerima kepercayaan dari Boeing untuk mendukung upaya ini (produksi alat pelindung wajah) dan memanfaatkan keahlian Trelleborg untuk mempercepat terwujudnya kebutuhan tersebut,” kata Quinn Collett, manajer air frame Trelleborg Sealing Solutions Aerospace.
Boeing sendiri berencana untuk memproduksi pelindung wajah tersebut dengan menggunakan additive manufacturing machines (mesin cetak 3D) di berbagai lokasi di seluruh AS. Dalam pelaksanaannya, Boeing juga telah bekerja sama dengan Badan Manajemen Darurat Federal (FEMA). Nantinya, FEMA akan menentukan wilayah mana saja yang paling membutuhkan pelindung wajah untuk bisa segera didistribusikan.
Serupa dengan Boeing, Airbus sudah lebih dahulu merambah pasar tersebut. Melalui fasilitas pencetakan 3D di Spanyol, kompetitor terberat Boeing itu mulai memproduksi visor pelindung (APD) pada awal April lalu untuk berbagai rumah sakit sebagai respons terhadap pandemi virus corona. Juru bicara Airbus mengatakan, saat ini, fasilitas pencetakan tersebut sudah menghasilkan ratusan visor dengan menggunakan lebih dari dua puluh printer 3D. Peralatan tersebut umumnya didistribusikan ke rumah sakit di dekat fasilitas perakitan Airbus di Spanyol.
Baca juga: Tanggap Wabah Corona, Airbus Produksi Visor APD dengan Printer 3D
“Semalam, kami telah beralih dari membuat konsep ruang angkasa menjadi peralatan medis. Ini benar-benar membuat perbedaan dalam perang melawan pandemi Covid-19 dan saya tidak bisa berbangga diri melihat tim kami yang bekerja siang dan malam di proyek Airbus ini,” ungkap kepala Airbus Protospace, Alvaro Jara, seperti dikutip dari avweb.com.
Akan tetapi, visor bukanlah satu-satunya kontribusi Airbus dalam membantu Eropa memerangi penyebaran virus corona. Sebelumnya, perusahaan patungan antara Jerman, Perancis, dan Spanyol tersebut juga telah berkomitmen untuk memproduksi ventilator. Ventilator tersebut nantinya akan diserahkan ke berbagai rumah sakit di Inggris. Lewat sebuah konsorsium yang dikomandoinya, bersama perusahaan teknologi ternama di Negeri Ratu Elizabeth tersebut, Dyson, Airbus dilaporkan akan segera memproduksi 30 ribu ventilator.
Pesawat komersial terbesar di dunia, Airbus A380 di atas kertas sebetulnya mempunyai semua prasyarat untuk dialihfungsikan menjadi angkutan kargo. Namun, pesawat ini dinilai terlalu berat dan mahal untuk dioperasikan dibanding dengan konversi pesawat kargo lainnya.
Baca juga: Airbus Umumkan Produksi A380Ultra, Pesawat Mewah Tiga Lantai
Oleh karena itu, di tengah sepinya penumpang dan ketidakmampuan A380 merambah pangsa pasar kargo, praktis tak ada pilihan lain bagi maskapai kecuali ‘mengubur’ pesawat fenomenal abad 21 tersebut. Padahal, bila A380 mampu bersaing dengan pesawat lainnya, mungkin maskapai dapat sedikit terbantu.
Simple Flying belum lama ini membahas terkait kenaikan penerbangan hanya kargo dan bagaimana maskapai penerbangan global mengubah pesawat penumpang yang ada menjadi angkutan kargo guna memenuhi tingginya permintaan. Bahkan, tingginya permintaan penerbangan khusus kargo di kuartal I dan II 2020 ini tercatat menjadi yang pertama kalinya sejak beberapa dekade terakhir.
Secara matematis, dimensi lebar A380 harusnya mampu membuat muatan kargo jauh lebih fantastis. Belum lagi bila kabin penumpang dimuat kargo, sebagaimana tren penerbangan akhir-akhir ini, saking tingginya permintaan lalu lintas kargo pesawat. Namun, kalkulasi konversi A380 menjadi angkutan hanya kargo tidak semudah pesawat lainnya. Setidaknya ada beberapa hal yang membuatnya menjadi rumit.
Pertama, bobot pesawat bahkan dalam keadaan kosong sekalipun. Bobot kosong A380 masih lebih tinggi dibanding angkutan kargo besutan Boeing, 747-8F yang dinilai jauh lebih kompetitif. Dalam setiap penerbangan, setidaknya A380 butuh suntikan sebesar Rp464 juta lebih per jam. Bisa dibayangkan berapa cost dalam sekali terbang.
Kedua, sekalipun dimensi A380 jauh lebih besar bukan berarti pesawat itu dapat mengangkut lebih banyak kargo ketika dikonversi menjadi angkutan kargo. Pasalnya, A380 akan mencapai bobot maksimum sebelum seluruh sudut pesawat terisi dan menyisakan banyak ruang kosong. Dengan mahalnya operasional, ditambah banyaknya ruang kosong yang tak bisa dimanfaatkan, sudah barang tentu maskapai akan mengalami kerugian.
Ketiga, dunia tentu tahu bahwa A380 adalah pesawat komersial terbesar di dunia dengan double decker. Bila dikonversi menjadi angkutan hanya kargo, justru konsep itulah yang menjadi penghalang. Dek bawah tentu masih dimungkinkan untuk memuat bobot maksimal. Namun, tidak demikian dengan dek kedua, dimana secara matematis, hanya mampu mengangkut setengah dari bobot atau untuk material ringan saja. Lagi-lagi, A380 menyisakan ruang yang tidak pernah bisa dimaksimalkan maskapai.
Baca juga: HAECO Luncurkan Inovasi Mudahkan Kargo di Kabin PenumpangKeempat, efektivitas. Lokasi kokpit yang berada di dek bawah membuat proses bongkar muat kargo harus dilakukan perlahan-lahan ke sisi pesawat. Hal ini membuat efektivitas A380 dinilai buruk dan tak lebih baik dibanding angkutan kargo 747 yang bagian depannya dapat terbuka lebar.
Sebelum berbagai analisa terkait berbagai kekurangan angkutan kargo A380 diungkap, beberapa raksasa kargo dunia, seperti UPS dan Fed Ex Express awalnya sempat berminat untuk memakai jasa pesawat super jumbo itu. Ketika masalah demi masalah muncul selama proses konstruksi dan bermuara pada temuan beberapa kelemahan yang cukup signifikan sebagai angkutan kargo, UPS dan Fed Ex Express pun mundur dan beralih ke Boeing.
Akhirnya Pemerintah resmi mengeluarkan larangan untuk mudik Lebaran 2020. Hal ini dilakukan untuk mencegah meluasnya penyebaran pandemi virus corona atau Covid-19 di daerah lainnya. Karena hal ini, banyak juga moda transportasi yang mulai mengehentikan operasional angkutan penumpang, salah satunya adalah PT kereta Api Indonesia (KAI).
Baca juga: Larangan Mudik Berlaku, PT KAI Hentikan Operasional KA Jarak Jauh dan Lokal
Namun bagaimana dengan moda transportasi lainnya seperti bus, pesawat dan kapal ferry untuk penyeberangan ke Pulau Sumatera? Apalagi saat ini diketahui, pihak kepolisian sudah mengeluarkan peta penyekatan larangan mudik di beberapa titik.
KabarPenumpang.com mencoba menghubungi pihak PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Indonesia Ferry terkait adanya larangan mudik ini, lantaran tol dalam kota yang menuju ke Pelabuhan Merak akan ditutup dan arus lalu lintas dari tol dalam kota yang menuju ke Merak dialihkan ke Tol Pluit dan Tomang.
Selain itu kendaraan yang mengarah ke Merak dari arah Kembangan juga akan dikembalikan ke Jakarta. Adanya hal ini Corporate Secretary PT ASDP Indonesia Ferry, Imelda Alini mengatakan pihaknya masih merapatkan terus terkait adanya larangan mudik ini. Dia menegaskan, intinya PT ASDP Indonesia Ferry pasti akan mengikuti kebijakan pemerintah.
“Intinya memang pasti akan mengikuti kebijakan pemerintah. Jadi hanya melayani angkutan logistik saja untuk menjaga pasokan di daerah,” ujar Imelda.
Meski banyak yang mengatakan pelarangan mudik Lebaran 2020 dianggap terlambat, tetapi hal ini ternyata bertujuan untuk menghindari dampak sosiologis di lapangan. Apalagi saat mengeluarkan larangan mudik ini, ternyata banyak aspek yang harus dipersiapkan untuk merealisasikannya, salah satunya agar tidak ada kerusuhan dan kekacauan di masyarakat.
Baca juga: PSBB Berlaku di Jakarta, Inilah Kebijakan GoJek dan Grab untuk Mudahkan Mitra Pengemudi
Larangan mudik ini sendiri juga kerja sama dengan semua provinsi dengan mengimbau warganya tidak pulang kampung. Adanya larangan mudik ini berlaku untuk seluruh masyarakat yang berasal dari zona merah.
Pemerintah resmi melarang mudik mulai Jumat (24/4/2020) dan PT Kereta Api Indonesia (KAI) di Daerah Operasional (Daop) 1 Jakarta tidak akan mengoperasikan kereta api penumpang baik itu kereta jarak jauh maupun lokal. Daop 1 nantinya selama pelarangan mudik ini hanya akan mengoperasikan kereta angkutan barang.
Baca juga: Tangkal Corona, PT KAI Kerahkan Rail Clinic dan Kereta Inspeksi di Jalur Utara-Selatan Jawa
“Seluruh keberangkatan dan kedatangan perjalanan kereta api jarak jauh dan lokal tidak akan beroperasi mulai 24 April 2020. Untuk KA jarak jauh yang tidak beroperasi adalah keberangkatan KA dari Stasiun Gambir, Stasiun Pasar Senen, Stasiun Jakarta Kota dengan tujuan akhir Cirebon, Tegal, Semarang, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Malang dan berbagai kota di wilayah lainnya,” ujar Eva Chairunisa Kepala Humas Daop 1 Jakarta yang dikutip melalui siaran pers, Kamis 923/4/2020).
Eva menyebutkan bila ditotal secara keseluruhan ada 70 perjalanan KA jarak jauh di area Daop 1 Jakarta yang dibatalkan. Dia mengatakan dari 70 KA tersebut, 67 KA diantaranya adalah KA reguler dan tiga lainnya merupakan kereta tambahan yang dioperasikan pada saat hari kerja serta hari libur.
Eva menjelaskan untuk perjalanan KA lokal di Daop 1 jakarta yang dibatalkan seluruhnya ada 31 perjalanan dengan rincian enam KA Pangrango dengan relasi Bogor ke Sukabumi PP, 12 KA lokal Merak relasi Rangkasbitung – Merak PP. Enam KA Walahar relasi Tanjung Priok – Purwakarta PP, empat KA Jatiluhur relasi Tanjung Priok – Cikampek dan tiga KA Siliwangi relasi Sukabumi ke Cirajang.
Selain Daop 1, VP Public Relation PT KAI Joni Martin menyebutkan bahwa Daop 2 Bandung juga menghentikan operasional KA jarak jauh dan lokal mereka dari dan ke Bandung serta hanya mengoperasikan angkutan barang. Joni menyebutkan untuk calon penumpang yang sudah memiliki tiket bisa membatalkannya dan PT KAI akan mengembalikan biaya pembelian penuh dengan menghubungi contac center KAI 121 untuk mendapat panduan lebih lanjut. Selain itu calon penumpang juga dapat membatalkan tiket mereka melalui aplikasi KAI Access atau datang langsung ke loket stasiun yang sudah ditunjuk.
Pembatalan tiket melalui aplikasi dapat dilakukan hingga maksimal tiga jam sebelum jadwal keberangkatan dan uang akan ditransfer paling lambat 45 hari kemudian. Adapun untuk pembatalan di loket stasiun dapat dilakukan di semua stasiun keberangkatan KA Jarak Jauh dan Lokal hingga maksimal 30 hari setelah jadwal keberangkatan dengan menunjukkan kode booking, dan uang akan langsung diganti secara tunai atau melalui transfer.
Pembatalan ini untuk sementara ditetapkan hingga 30 April 2020, sambil dilakukan evaluasi mengikuti perkembangan. Jika terdapat perpanjangan waktu maka akan diinformasikan kembali secara resmi. PT KAI Daop 1 Jakarta memohon maaf kepada penumpang yang perjalanannya tertunda. Langkah ini dilakukan guna menekan penyebaran Covid-19 pada masa angkutan Lebaran 2020.
Baca juga: Suhu Tubuh Tinggi Saat Dicek Masuk Stasiun? PT KAI Siap Kembalikan Tiket Anda
Berikut Stasiun di Daop 1 Yang Melayani Pembatalan tiket yang buka setiap hari (Senin-Minggu) Pukul 08.00 WIB sampai dengan 16.00 WIB
1. Stasiun Gambir
2. Stasiun Pasar Senen
3. Stasiun Jakarta Kota
4. Stasiun Bogor Paledang
5. Stasiun Cikampek
6. Stasiun Rangkasbitung
7. Stasiun Serang
8. Stasiun Bekasi
Sebagai informasi guna mendukung pasokan logistik dan bahan pangan, Daop 1 Jakarta tetap menjalankan KA Angkutan Barang secara normal untuk pengangkutan.