Transportasi massal saat ini menjadi salah satu yang paling dihindari oleh banyak orang untuk bepergian. Banyak dari orang-orang memilih menggunakan kendaraan pribadi dari pada mengambil risiko besar terinfeksi di dalam angkutan umum.
Baca juga: Masih Belum Berminat? Sepeda Listrik Xiaomi Ini Bisa Dilipat Seukuran Ransel!
Hal ini kemudian membuat masyarakat di Amerika Serikat beberapa diantaranya memilih menggunakan sepeda. Seorang senimana bernama John Donohue yang tinggal di Brooklyn mengatakan dirinya lebih memilih sepeda saat ini dan belum yakin kapan akan nyaman dengan transportasi massal lagi.
“Saya berusia 51 tahun dan sehat. Tetapi saya tidak ingin naik kereta bawah tanah, karena tidak memiliki mobil maka saya menggunakan sepeda,” ujar Donohue.
KabarPenumpang.com merangkum reuters.com, pandemi virus corona yang juga meluas di AS telah memicu lonjakan penjualan sepeda. Produsen utama dan para pengecer mengatakan hal tersebut. Mereka membeli sebagian untuk berolahraga dan lainnya memiliki alasan yang sama dengan Donohue untuk menghindari risiko penularan di bus atau kereta bawah tanah.
Dia berencana untuk menggunakan hibrida 24-gear barunya untuk perjalanan seperti kunjungan rutin ke sebuah percetakan di kota yang biasanya ia kunjungi dengan kereta bawah tanah.
Sekitar 870 ribu orang Amerika, rata-rata, pergi-pulang bekerja dengan sepeda dalam lima tahun terakhir, atau sekitar 0,6 persen dari semua pekerja, menurut Biro Sensus AS.
Angka ini lebih tinggi di daerah perkotaan, sekitar 1,1 persen, dan sekitar 20 kota dengan setidaknya 60 ribu penduduk memiliki tingkat sekitar lima persen atau lebih. Namun, survei yang lebih baru menunjukkan persentase pekerja AS yang lebih tinggi menggunakan sepeda untuk bekerja.
Survei perusahaan riset swasta Statista Inc. pada tahun 2019 menunjukkan lima persen mengendarai sepeda mereka sendiri, sementara satu persen lainnya menggunakan layanan berbagi sepeda, pilihan yang semakin umum di kota-kota besar.
Pemerintah telah menyatakan sepeda sebagai wahana transportasi yang penting, sehingga banyak toko sepeda tetap buka meskipun bisnisnya tutup. Menurut Asosiasi Dealer Sepeda Nasional, sekitar tiga perempat dari penjualan sepeda AS melalui toko besar. Sementara banyak gerai rantai barang olahraga khusus tutup, pedagang umum seperti WalMart Stores Inc (WMT.N), penjual sepeda terbesar, tetap buka.
Kent International Inc., yang mengimpor sepeda dari Cina dan juga membuatnya di pabrik di Carolina Selatan, mengatakan penjualan sepeda dengan harga murah telah melonjak selama sebulan terakhir. Kent sudah kehabisan stok pada lima dari 20 model topnya dan berharap itu akan meningkat menjadi sepuluh pada akhir bulan, kata kepala eksekutif dan ketua Arnold Kamler.
Dia mencatat pasokan mengalir dari Cina, yang telah membuka kembali banyak basis manufakturnya selama sebulan terakhir. Kamler mengatakan penjualan di sebagian besar pengecer besar yang dia suplai naik 30 persen bulan lalu dan naik lebih dari 50 persen hingga bulan April, dengan lonjakan permintaan memaksanya untuk mengubah pengaturan pengiriman.
Baca juga: Keren, Kemenhub Dorong Penjual Kopi Keliling Pakai Sepeda Listrik
Kamler biasanya mengimpor sepeda ke pelabuhan di Pantai Timur dan Barat. Tetapi dengan banyak pengecer meminta lebih banyak sepeda, dia sekarang mengarahkan semua pengiriman ke pelabuhan-pelabuhan Pantai Barat, lalu mengangkutnya ke seluruh negeri.
“Itu menambah biaya pengiriman, tetapi dapat memotong minggu waktu pengiriman,” ujar Kamler.
Hampir seluruh negara di Eropa melakukan lockdown atau penguncian wilayah masing-masing dalam menghadapi virus corona. Namun ternyata ada satu negara yang hampir berdiri sendiran dalam membiarkan kehidupan berjalan normal di tengah pandemi ini.
Baca juga: Kapal Penumpang di Swedia Dikonversi jadi Rumah Sakit
Ya, Swedia menjadi salah satu negara Eropa yang tidak melakukan penguncian. Bahkan setelah musim dingin yang panjang dan udara saat ini mulai menghangat,di ibu kota Swedia yakni Stockholm, orang-orang mulai memanfaatkannya sebaik mungkin. Terlihat keluarga-keluarga yang mulai keluar dari rumah untuk makan es krim di bawah patung raksasa Dewa Viking Thor di alun-alun Maratorget.
Para pemuda pun menikmati happy hour mereka dengan duduk di trotoar di ujung jalan. Dilansir KabarPenumpang.com dari bbc.com (29/3/2020), negara ini sudah membuka klub malam pada beberapa minggu lalu meski pertemuan dibatasi lebih dari 50 orang dilarang. Hal ini lebih banyak jika dibandingkan dengan Denmark yang membatasi pertemuan lebih dari sepuluh orang dan Inggris yang benar-benar melarang bertemu dengan tetangga.
warga Swedia berkumpul di kursi taman (bbc.com)
Jalan-jalan di Swedia terlihat lebih tenang dari biasanya. Namun perusahaan angkutan umum Stockholm SL mengatakan, bahwa pihaknya melihat jumlah penumpang turun 50 persen di kereta bawah tanah dan kereta penumpang. Hal ini karena hampir setengah warga Stockholm bekerja jarak jauh alias dari rumah masing-masing.
Stockholm Business Region, sebuah perusahaan yang didanai negara yang mendukung komunitas bisnis global kota itu, memperkirakan bahwa naik setidaknya 90 persen di perusahaan-perusahaan terbesar di ibukota, berkat tenaga kerja yang mengerti teknologi dan budaya bisnis yang telah lama mempromosikan kerja yang fleksibel dan jarak jauh.
“Setiap perusahaan yang memiliki kemungkinan untuk melakukan ini, mereka melakukannya, dan itu bekerja,” kata CEO-nya Staffan Ingvarsson.
Pihak Otoritas kesehatan publik dan politisi masih berharap untuk memperlambat penyebaran virus tanpa perlu tindakan kejam. Ada lebih banyak pedoman daripada aturan ketat, dengan fokus untuk tinggal di rumah jika Anda sakit atau lanjut usia, mencuci tangan, dan menghindari perjalanan yang tidak penting, serta bekerja dari rumah.
“Kita yang dewasa harus persis seperti itu: orang dewasa. Tidak menyebarkan kepanikan atau rumor. Tidak ada yang sendirian dalam krisis ini, tetapi setiap orang memiliki tanggung jawab yang berat,” kata Perdana Menteri Stefan Löfven.
Sementara itu, ada tingkat kepercayaan yang tinggi pada otoritas publik di Swedia, yang diyakini banyak orang mendorong penduduk setempat untuk mematuhi pedoman sukarela. Demografi juga dapat menjadi faktor yang relevan dalam pendekatan negara. Berbeda dengan rumah multi-generasi di negara-negara Mediterania, lebih dari setengah rumah tangga Swedia terdiri dari satu orang, yang mengurangi risiko penyebaran virus dalam keluarga.
Sementara itu, orang Swedia menyukai alam bebas dan para pejabat mengatakan bahwa menjaga orang sehat secara fisik dan mental adalah alasan lain mereka ingin menghindari aturan yang akan membuat orang terkurung di rumah.
“Kita harus menggabungkan upaya meminimalkan dampak kesehatan dari wabah virus dan dampak ekonomi dari krisis kesehatan ini. Komunitas bisnis di sini benar-benar berpikir bahwa pemerintah Swedia dan pendekatan Swedia lebih masuk akal daripada di banyak negara lain,” kata Andreas Hatzigeorgiou, CEO di Kamar Dagang Stockholm.
Namun, ketika orang-orang Swedia menyaksikan seluruh Eropa terhenti, yang lain mulai mempertanyakan pendekatan unik negara mereka.
“Saya pikir orang cenderung mendengarkan rekomendasi, tetapi dalam situasi kritis seperti ini, saya tidak yakin itu cukup,” kata Dr Emma Frans, seorang ahli epidemiologi yang berbasis di universitas medis Swedia The Karolinska Institute.
Dia menyerukan “instruksi yang lebih jelas” untuk orang-orang tentang bagaimana mereka harus berinteraksi di tempat-tempat umum seperti toko-toko dan pusat kebugaran, sementara bisnis sedang berjalan untuk beberapa orang, yang lain sedang berjuang.
“Istri saya juga memiliki perusahaan sendiri, jadi kami sangat bergantung pada diri kami sendiri. Bisnis buruk. Saya masih harus membayar tagihan. Kami harus menghubungi bank,” kata pemilik Al Mocika.
Baca juga: Maskapai Swedia dan Inggris Dorong Awak Kabin Jadi Relawan Rumah Sakit Selama Pandemi
Dia menaruh uangnya pada Swedia untuk mengubah taktik dan memaksakan penguncian, sesuatu yang tidak dikesampingkan oleh pejabat di masa depan. Dr Emma Frans mengatakan sejarah akan menjadi hakim yang politisi dan ilmuwan di seluruh Eropa telah membuat panggilan terbaik sejauh ini.
“Tidak ada yang benar-benar tahu pengukuran apa yang akan paling efektif. Aku cukup senang bahwa aku bukan orang yang membuat keputusan ini,” kata dia.
Perusahaan start up asal Belanda, Hardt Hyperloop, belum lama ini mengumumkan hasil penelitian bersama otoritas di Provinsi Belanda Utara terkait eksperimen moda transportasi super cepat hyperloop. Hasilnya, waktu tempuh Paris-Amsterdam sejauh 507,5 km dapat ditempuh hanya 90 menit perjalanan.
Baca juga: Akhirnya, Hyperloop Transportation Technology Luncurkan Pod Penumpang Perdana
Dikutip dari CNN International, 90 menit perjalanan dari Paris-Amsterdam sudah barang tentu jauh lebih cepat dibanding menggunakan mobil (membutuhkan waktu hampir 6 jam), kereta (hampir 3 jam), bahkan nyaris menyamai waktu tempuh dengan menggunakan pesawat direct. Tak hanya Paris-Amsterdam, hasil penelitian juga mengungkap Hyperloop mampu mempersingkat waktu hampir setengah dari perjalanan dengan menggunakan kereta antara Amsterdam-Brussel atau kurang lebih 1 jam perjalanan.
Selain itu, dalam laporan hasil penelitian tersebut juga ditemukan, bila nantinya jaringan hyperloop seluruh Eropa sudah tersedia maka aka nada lebih banyak interaksi antar kota-kota di Eropa. Interaksi tersebut bisa dimaknai banyak hal, seperti traveling, bisnis, budaya, dan manfaat ekonomi lainnya yang luar biasa.
Hyperloop besutan perusahaan asal Belanda itu ditaksir mampu mengangkut 200 ribu penumpang per jam dalam satu relasi perjalanan satu arah dan tentu saja mampu melaju dengan kecepatan hingga 100 kilometer per jam, jauh lebih cepat dibanding kereta cepat Perancis (TGV).
Dengan adanya fakta-fakta penelitian tersebut, setidaknya membuktikan bahwa pencanganan pembangunan jaringan Hyperloop di masa mendatang bukanlah isapan jempol belaka dan progresif. Bahkan, progres yang ditempuh tergolong cepat, setelah Juni tahun lalu memulai langkah besar dengan mendirikan fasilitas pengujian.
Perlombaan untuk menghadirkan moda transportasi darat super cepat tersebut memang belakangan telah terjadi di seluruh dunia. Sejak pertama kali muncul pada 2014 lalu, Hyperloop seolah menjadi ajang unjuk gigi negara-negara dengan reputasi tinggi di bidang teknologi, seperti Jerman, Amerika, Cina, dan negara lainnya. Berbagai negara pun juga tak sabar untuk memulai proyek Hyperloop di negara mereka.
Tahun 2017 lalu tepatnya pada bulan September, Hyperloop Transportation Technologies (HTT) melakukan penandatanganan nota kesepakatan kerja sama dengan negara bagian Andhara Pradesh, India, untuk menghadirkan moda berkecepatan super tersebut untuk menghubungkan dua kota besarnya, Amaravati dan Vijayawada.
Adapun waktu tempuh antara dua kota tersebut kurang lebih sekitar satu jam menggunakan mobil, dan hanya memakan waktu enam menit saja jika menggunakan Hyperloop. Pihak HTT akan memulai studi kelayakan selama enam bulan terhitung sejak Oktober mendatang. Tidak hanya studi kelayakan, HTT juga sembari menentukan jalur pemasangan tabung yang cocok di antara dua kota tersebut. Jika tidak menemukan hambatan, pihak HTT mengaku siap untuk memulai pembangunan.
Di Timur Tengah, Virgin Hyperloop One, salah satu perusahaan Hyperloop asal Amerika, juga telah menandatangani kontrak kerja sama dengan beberapa pihak terkait pengadaan Hyperloop yang menghubungkan Dubai dan Abu Dhabi. Tidak hanya itu, Virgin Hyperloop One juga memaparkan gambaran jaringan yang menghubungkan kota-kota di hampir seluruh wilayah Timur Tengah, termasuk Kuwait City di Kuwait, Jeddah di Arab Saudi dan Muscat di Oman.
Di Australia, Perdana Menteri Australia, Scott Morrison mengajukan rencana untuk pembangunan jaringan kereta cepat di negara berjuluk Negeri Kangguru tersebut. Pengadaan jaringan kereta cepat ini, menurut Scott, merupakan satu dari serangkaian rencananya untuk mengentaskan kemacetan di Australia.
Selain itu, visi strategis lain dari pengadaan kereta cepat ini adalah untuk memangkas waktu perjalanan antar negara, dimana diperkirakan para komuter bisa pergi dari Sydney menuju Brisbane (maupun sebaliknya) hanya dalam waktu setengah jam saja.
Baca juga: Setelah Dubai, Giliran Cina Hadirkan Moda Maglev dari Hyperloop Transportation Technology
Di Cina, salah satu perusahaan pengusung ide transportasi ini, Hyperloop Transportation Technology (HTT) telah menandatangani kontrak kerja sama dengan Tongren Transport, Tourism and Investment Group milik Pemerintah Cina untuk membangun lintasan Hyperloop yang menghubungkan pusat kota dengan Tongren Fenghuang Airport, Guizhou, Cina. Adapun kontrak kerja sama ini bernilai $295 juta atau yang setara dengan Rp 4,3 tiliun.
Hyperloop sendiri adalah pod yang mampu melaju dengan kecepatan tinggi dalam terowongan. Hyperloop, yang pertama kali dibayangkan oleh Elon Musk, pendiri Tesla, pada 2013, digambarkan mampu memindahkan manusia maupun kargo dengan kecepatan 1.000 kilometer per jam, menggunakan tabung bertekanan rendah yang hampir tidak bergesekan dengan lintasan. Chris Dulake, konsultan Mott MacDonald, sebuah perusahaan yang bekerja di Terminal 5 Bandara Bawah Tanah London dan Bandara Heathrow memperkirakan, Hyperloop pertama baru mulai mendapatkan sertifikasi pada 2030 mendatang.
Virus corona telah mengubah wajah penerbangan dunia. Betapa tidak, bila selama ini kabin penumpang lazimnya mengangkut manusia, gara-gara corona, kabin penumpang pun terpaksa dimuat kargo tanpa satupun penumpang, semata untuk memaksimalkan utilitas dalam setiap penerbangan.
Baca juga: Tujuh Penerbangan Ini Tak Lazim Akibat Corona, Nomor 6 Paling Aneh!
Skema untuk memaksimalkan langkah tersebut pun beragam, mulai dari mencopot seluruh kursi dan diisi kargo, mencopot sebagian kursi, atau tidak mencopot kursi sama sekali namun kargo tetap dimuat di dalam kabin penumpang dengan diletakkan di atas kursi yang sebelumnya telah dilapisi pelindung agar kursi tak rusak.
Kabin penumpang Boeing 777-200 milik Austrian Airlines disulap menjadi kargo untuk memaksimalkan kapasitas angkut dalam sekali jalan. Foto: Austrian Airlines
Namun, bila diamati secara detail, sebetulnya skema di atas belum sepenuhnya aman dan memudahkan operator penerbangan atau maskapai. Sebab, pada dasarnya, kabin penumpang tidak dirancang untuk memuat kargo, sehingga fasilitas pendukungnya pun juga terbatas. Misalnya,tidak tersedianya tali pengikat untuk memastikan kargo tak bergeser sejengkal pun selama penerbangan demi alasan keselamatan. Sebab, bila bergeser sedikit saja, mungkin bisa mempengaruhi keseimbangan pesawat.
Mensiasati celah keamanan dan potensi bisnis di sektor tersebut, belum lama ini, sebuah perusahaan perancang kursi dan produk interior pesawat, HAECO Cabin Solutions, merilis konsep penyimpanan baru yang memungkinkan maskapai penerbangan untuk menggabungkan penumpang dan kargo di kabin utama.
Secara keseluruhan, perusahaan asal Amerika tersebut menawarkan empat solusi yang berbeda, masing-masing dengan batas beban maksimum yang bervariasi mulai dari 454 kg hingga yang terkecil 108 kg. Media penyimpanannya pun juga bervariasi, mulai dari palet hingga penyimpanan yang disebut sebagai “seat and floor” yang memungkinkan maskapai untuk meletakkan kargo di kursi pesawat atau di lantai, tepat di depan kursi, lengkap dengan tali pengaitnya agar kargo tak bergeser saat terjadi guncangan.
Konfigurasi kabin penumpang campuran yang memuat kargo dan penumpang. Foto: HAECO
“Opsi-opsi ini (empat varian produk) memberikan keleluasaan lebih kepada maskapai untuk memuat barang-barang yang lebih besar di kabin jika lambung pesawat (kargo) sudah tak lagi mampu menampung, kecuali untuk bahan-bahan berbahaya dan mudah terbakar,” kata HAECO dalam sebuah pernyataan, sebagaimana dikutip dari flightglobal.com.
Selain itu, inovasi konsep penyimpanan tersebut juga memungkin maskapai untuk memiliki konfigurasi kargo dan penumpang sekaligus di dalam kabin utama. Tentu saja dengan tetap memperhitungkan tata letak agar keseimbangan di dalam kabin utama tetap tercapai. Bila demikian, mungkin inovasi tersebut akan sangat cocok diterapkan di tengah kondisi penerbangan seperti sekarang ini, dimana hampir tidak ada satupun penerbangan berjadwal dipadati penumpang. Artinya, banyak ruang kosong di kabin yang bisa dimanfaatkan maskapai untuk kelangsungan bisnis mereka.
Baca juga: 1001 Inovasi di Ajang Crystal Cabin Award Berikan Kenyaman dan Keamanan Penumpang
Saat ini, HAECO menyebut pihaknya tengah mengajukan sertifikasi atas inovasi tersebut untuk dapat diaplikasikan di berbagai jenis pesawat, baik pesawat berbadan sempit atau narrowbody maupun berbadan lebar atau widebody. Diperkirakan, prosesnya akan memakan waktu sekitar 4-6 pekan ke depan.
Meskipun proses sertifikasi masih berlangsung, namun, perusahaan yang berbasis di California, Amerika Serikat tersebut mengkalim bahwa beberapa klien telah menyampaikan minatnya atas produk mereka. Namun, HAECO belum mau menyebutkan pihak mana saja yang dimaksud.
Konglomerat asal Inggris yang juga pemililk maskapai Virgin Atlantic dan Virgin Australia, Richard Branson, mengaku akan menawarkan pulau pribadi miliknya di Necker Island, Karibia kepada Pemerintah Inggris dan Australia sebagai jaminan. Hal itu dilakukan semata agar dua maskapai miliknya bisa segera mendapatkan suntikan modal demi kelangsungan hidup perusahaan di tengah ketidakpastian bisnis penerbangan akibat pandemi virus Cina.
Baca juga: Richard Branson – Sosok Pengidap Disleksia di Balik Nama Besar Virgin Ltd
“Kelangsungan hidup Virgin Atlantic dan Virgin Australia penting untuk memberikan kompetisi yang sangat dibutuhkan kepada British Airways, anak perusahaan IAG (ICAGY), dan Qantas (QABSY). Jika Virgin Australia menghilang (bangkrut), Qantas akan secara efektif memonopoli langit Australia,” katanya, sebagaimana dikutip dari CNN Internasional.
Mengingat begitu krusialnya posisi Virgin Atlantic dan Virgin Australia dalam ekosistem bisnis penerbangan di Inggris dan Australia, Branson tanpa berpikir panjang menawarkan pulau pribadi miliknya sebagai jaminan. Asalkan, dengan itu, suntikan dana sebanyak-banyaknya bisa mengalir deras. Sejauh ini, ia sudah menggelontorkan sekitar $250 juta atau Rp 3,8 triliun (kurs Rp15,403) ke Virgin Group. Tentu saja angka yang cukup kecil bila dibandingkan suntikan modal lainnya yang didapat sebuah perusahaan penerbangan.
Singapore Airlines (SIA), misalnya, melalui Temasek International, pemilik saham mayoritas (55 persen) Singapore Airlines (SIA), dan beberapa perusahaan lainnya dikabarkan akan mendapatkan dana talangan sebesar 19 miliar dolar Singapura atau Rp218 triliun (kurs Rp11.292) ke maskapai flag carrier Singapura tersebut. Bila terwujud, hal itu digadang-gadang akan menjadi langkah penyelamatan terbesar terhadap sebuah maskapai di tengah wabah virus corona.
Demikian juga dengan EasyJet, maskapai asal Inggris yang juga telah mendapatkan suntikan modal sebesar $746,6 juta atau Rp11,4 triliun (kurs Rp15.403) dari pemerintah Inggris melalui Covid Corporate Financing Facility atau maskapai-maskapai di Amerika Serikat (AS) yang masing-masing akan mendapatkan bailout sebesar puluhan miliar dolar.
“Realitas krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya ini membuat banyak maskapai penerbangan di seluruh dunia membutuhkan dukungan pemerintah dan banyak yang telah menerimanya. Tanpa itu tidak akan ada kompetisi yang tersisa dan ratusan ribu pekerjaan akan hilang,” ujar Branson.
Akan tetapi, langkah Branson untuk mendapatkan suntikan modal dari pemerintah Inggris justru mendapat cibiran dari masyarakat. Penyebabnya, Branson dituding menghindar dari kewajiban pajak di Inggris dengan tinggal di Necker Island, Karibia. Padahal, Inggris menjadi salah satu ladang bisnis pengusaha yang mempekerjakan 70.000 orang di 35 negara tersebut.
Meski demikian, ia bersama perusahaannya pun, dalam hal ini Virgin Atlantic, tetap terus berikhtiar mendapatkan dana talangan dari pemerintah Inggris. Bahkan, kantor berita kenamaan di Inggris yang baru diakuisisi media massa terbesar di Jepang, Financial Times, melaporkan bahwa Virgin sebetulnya sudah hamper mendapatkan suntikan modal, namun saying proposal pinjamannya ditolak.
Penolakan proposal pinjaman Virgin oleh pemerintah Inggris tersebut bukan karena pemerintah tak memiliki cukup modal, melainkan angkanya terlalu kecil. Oleh karenanya, mereka (Virgin Atlantic) pun diminta untuk merevisi nilai pinjaman menjadi sebesar $622,2 juta Rp9,6 triliun.
Baca juga: IATA: Maskapai Kehilangan Revenue dari Penumpang Sebesar 55 Persen
Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) sendiri, belum lama ini telah merilis analisis terbaru yang menunjukkan lesunya penerbangan akibat pandemi corona. Jumlahnya tak main-main, maskapai dinilai akan kehilangan sekitar US$314 miliar atau Rp4.895 triliun pada tahun 2020, atau turun hingga 55 persen jika dibandingkan dengan tahun 2019.
Nyaris sebulan sebelum IATA merilis analisa terbarunya, Airline Passenger Experience Association (APEX) telah lebih dahulu menyerukan pemerintah global untuk membantu upaya penyelamatan industri penerbangan di tengah wabah virus corona atau COVID-19. Menurut asosiasi yang berdiri sejak 1979 tersebut, upaya penyelamatan maskapai dapat dicapai lewat kucuran dana senilai Rp3.805 triliun.
Beberapa negara saat ini melakukan lockdown atau penguncian untuk mencegah meluasnya pandemi virus corona atau Covid-19. Hal ini kemudian membuat moda transportasi juga berhenti beroperasi karena sepinya penumpang bahkan nyaris tidak ada.
Baca juga: Yang Unik dari Turki, Kolonya Digunakan Sebagai Hand Sanitizer
Namun uniknya di beberapa negara, satwa liar pun memasuki ruang publik selama lockdown. Seperti yang terjadi di Turki di mana beruang berkunjung ke moda transportasi. Dalam sebuah rekaman video, seekor beruang cokelat terlihat mengunjungi stasiun layang trem di Provinsi Bursa Turki untuk mencari makan.
Kedatangan beruang tersebut ke stasiun setelah Turki memberlakukan jam malam 48 jam di kota-kota besarnya. KabarPenumpang.com melansir dari laman thenational.ae (12/4/2020), video tersebut diambil oleh petugas keamanan yang tengah menjaga stasiun dan bersembunyi di balik meja yang tertutup layar kaca.
Terlihat dalam video, beruang mondar-mandir kemudian berdiri melongok ke sebuah meja kosong tanpa apa-apa. Kemudian beruang itu mencium di sekitaran mesin penjual otomatis.
Karena tidak menemukan apapun beruang cokelat tersebut keluar dengan memanjat pagar besi stasiun. Namun ternyata bukan hanya di turki yang satwa liar berkeliaran dengan bebas. Di India ratusan monyet telah mengambil alih jalan-jalan sekitaran istana kepresidenan India di New Delhi.
Kemudian di ibukota keuangan yakni di Mumbai, burung-burung merak terlihat bertengger di atas mobil-mobil yang terparkir memperlihatkan keanggunan mereka. Tak hanya itu, di Wales utara, kawanan kambing berkeliaran di kota Llandudno ketika penduduk tetap pada peraturan lockdown. Bahkan video dan foto yang menunjukkan makhluk-makhluk tengah mengunyah dedaunan di taman dan tempat parkir hotel.
Diketahui, penerapan jam malam 48 jam untuk 31 provinsi di Turki berlangsung sejak akhir pekan lalu yang berdampak pada tiga perempat populasi di Turki. Lockdown mendadak ini menyebabkan kekacauan karena jam malam diumumkan hanya dua jam sebelum diberlakukan yang menyebabkan kepanikan belanja di beberapa daerah ketika orang berbondong-bondong ke toko kelontong dan toko roti yang lupa memperhatikan jarak
Baca juga: Setelah Ditangguhkan, Kereta dari Turki ke Iran Kembali Beroperasi
Saat ini jumlah total kasus Covid-19 di Turki mencapai 90.980 kasus. Meningkatnya kasus positif ini dipengaruhi tingginya tes Covid-19 yang diselenggarakn negara tersebut. Meski begitu pasien yang sembuh di Turki dilaporkan sebanyak 13.430 orang.
Menjadi salah satu orang yang positif virus corona atau Covid-19 bukanlah hal yang enak dan mudah dalam menjalani kehidupannya. Mereka banyak yang dijauhi bahkan dianggap menjadi pembawa pandemi kepada keluarganya. Padahal mereka yang terinfeksi tidak ingin virus itu ada di tubuh mereka, tapi apa daya, nyatanya saat ini banyak orang tanpa gejala (OTG) yang bisa menularkannya ke orang lain.
Baca juga: Imbas Lockdown, Singapura Sediakan Kamar Hotel untuk Pengemudi dan Teknisi Bus Asal Malaysia
Hal ini pun terjadi pada seorang pengemudi bus di Jamaika yang tidak tahu salah seorang penumpang yang diangkutnya terinfeksi virus ini. KabarPenumpang.com melansir jamaicaobserver.com (19/4/2020), pria bernama Kimar Service kemudian menceritakan bagaimana dirinya terinfeksi Covid-19 di media sosialnya.
Dia bahkan tidak menyalahkan penumpang wanita yang menularkan virus tersebut kepada dirinya. Dia menyebutkan dalam video bahwa dirinya saat ini berada di ranjang yang bersebelahan di Rumah Sakit Regional Cornwall di St James, Jamaika. Hal ini yang membuat Kimar memiliki kesempatan untuk mengatakan bahwa dirinya tidak marah kepada wanita tersebut.
“Dia bertanya kepada saya, tetapi dia tidak tahu kalau dirinya terinfeksi saat naik bus,” kata Kimar.
Kimar berharap orang lain akan sepaham dengan dirinya, sehingga ketika nantinya pulih, dirinya masih bisa mencari nafkah sebagai pengemudi bus. Dia mengaku sejak tersebar bahwa dirinya dinyatakan positif, sangat sulit untuk keluarganya, dan ia disalahkan karena membawa virus ke komunitasnya di Springfield, St james.
“Ibarat aku bawa ya sudah, aku mau apa lagi, jadi yang aku rasakan saja,” katanya.
Kimar sendiri adalah pencari nafkah tunggal untuk keluarganya meski punya saudara laki-laki namun kakinya patah. Ibunya yang berusia 61 tahun yang juga penederita hipertensi dan diabetes serta masalah ginjal. Selain itu anak dan istrinya juga masih menjadi tanggungannya.
Namun mereka semua harus dikarantina sembari menunggu hasil tes. Kimar melalui video di WhatsApp mengkonfirmasi bahwa dirinya memiliki virus menyusul desas desus yang terus menerus mengatakan bahwa keluarganya terinfeksi setelah dirinya mengambil penumpang positif Covid-19 di bandara.
“Saya ingin masyarakat tahu itu tidak benar. Pada tanggal 6 April saya sedang melakukan pekerjaan rutin, rutin, sehari-hari dari Kota Maroon ke Teluk Montego. Saya mengambil penumpang. Saya tidak tahu dia memilikinya,” katanya.
“Dia duduk di depan, tepat di sampingku. Empat hari kemudian, saya mendapat telepon yang mengatakan bahwa saya telah melakukan kontak dengan seseorang yang memiliki virus sehingga saya harus diuji. Empat hari kemudian, tes kembali positif,” tambahnya.
Kimar mengatakan dia mengisolasi dirinya segera setelah mendapat telepon bahwa dia telah melakukan kontak dengan orang yang terinfeksi, dan pejabat kesehatan yang berbicara dengannya setelah dia melakukan tes menyuruhnya untuk mengisolasi diri. Pada hari-hari setelah tes, pejabat kesehatan akan menelepon untuk memastikan dia tinggal di rumah, serta memintanya untuk mengambil dan melaporkan suhunya menggunakan termometer yang mereka berikan. Dia juga diminta untuk mencatat gejala Covid-19.
Tetapi selama empat hari sebelum itu, ia menjalani kehidupannya tanpa menyadari bahwa ia berpotensi menyebarkan penyakit mematikan, yang telah menewaskan ribuan orang di seluruh dunia, kepada keluarga dan penumpangnya. Dia tidak pernah mengenakan topeng atau sarung tangan saat bekerja, dan ingat bahwa pada hari dia terinfeksi dia naik ke atas, seperti biasa, untuk mengobrol dengan ibunya.
Otoritas kesehatan telah berulang kali menekankan bahwa orang berusia di atas 60 tahun dan dengan kondisi kesehatan yang mendasarinya seperti hipertensi sangat rentan terhadap penyakit. Ketika ditanya berapa banyak penumpang yang telah diangkut selama empat hari sebelum dia tahu dia terkena virus, Kimar berkata dengan suara berat, “Banyak.”
Baca juga: Derita Traveler Asia Saat Corona, Terjebak Setelah 10 Bulan Melancong Hingga Diselamatkan Gereja
Dia tidak memiliki gejala selama empat hari itu, katanya, dan dia masih belum mengalaminya, bahkan dengan tes positifnya. Dari tempat tidur rumah sakit pada hari Sabtu ia menawarkan saran kepada publik, “Sederhana saja, pakai masker dan sanitasi.
Ketika pandemi masih berlangsung orang-orang mulai memasak makanan mereka sendiri di rumah. Selain karena banyak restoran yang tutup, seperti restoran cepat saji yang hanya menerima pesanan drive-thru ataupun take away alias dibawa pulang.
Baca juga: Akibat Virus Corona, Tiada Lagi Handuk, Makanan Panas, Selimut, Bantal, dan Majalah dalam Penerbangan
Namun banyak pertanyaan kemudian muncul, apakah ketika pandemi ini makan makanan dari restoran cepat saji baik untuk tubuh? KabarPenumpang.com melansir laman msn.com (26/3/2020), terkait hal ini, para ahli makanan baik gizi maupun keamanan makanan kemudian menjawabnya.
Para ahli mengatakan mereka tidak memiliki bukti bahwa makanan atau kemasan makanan adalah faktor dari risiko penyakit Covid-19. Benjamin Chapman, Profesor dan spesialis keamanan makanan di North Carolina State University mengatakan, berdasarkan epidemiologi dari Cina dan Korea Selatan, makanan kemungkinan bukanlah rute penularan.
“Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit melaporkan bahwa virus corona dapat tetap bertahan selama berjam-jam pada permukaan yang terbuat dari berbagai bahan,” kata Samantha Heller, MS, RD, pembawa acara Nutrisi dan ahli gizi klinis senior SiriusXM di NYU Langone Health.
Mengingat hal ini, mungkin bukan ide yang buruk untuk membersihkan apa pun yang disentuh oleh orang lain. Ini juga termasuk media transaksi untuk membayar makanan tersebut. Lynette Charity, MD, ahli anestesi bersertifikat mengatakan, Covid-19 dapat bertahan dipermukaan uang. Karena hal tersebut, yang paling penting adalah membersihkan tangan sebelum Anda makan apapun.
“Dari pengalaman menggunakan drive-thru dan take away baru-baru ini. Langkah paling efektif yang dapat saya ambil untuk mengurangi risiko penularan adalah mencuci tangan. Cuci tanganmu setelah memegang benda yang disentuh orang, dan tentu saja cuci tanganmu sebelum makan,” kata Chapman.
Menurut Centers for Disease Control adn Prevention (CDC), Anda harus mencuci tangan dengan sabun, menyabuni punggung tangan Anda, di antara jari-jari Anda, dan di bawah kuku Anda, selama 20 detik. Jika Anda berada di dalam mobil dan tidak mungkin menunggu, pastikan untuk menggunakan pembersih tangan (yang mengandung alkohol setidaknya 60 persen).
“Karena virus corona dapat bertahan hidup di permukaan, Anda mungkin ingin menghindari makan makanan langsung dari kemasan. Sebelum makan, atau bahkan mengambil sedikit kentang goreng, cuci tangan Anda dengan sabun dan air atau gunakan pembersih tangan. Jika memungkinkan, keluarkan makanan dari kemasan dan gunakan piring dan peralatan,” kata Cordialis Msora- Kasago, MA, RDN, ahli gizi ahli gizi terdaftar dan juru bicara untuk Akademi Nutrisi dan Diet.
Jika Anda sendiri sakit, sebaiknya jauhi drive-thru. Sebab, mengingat persyaratan jarak sosial pada saat ini, siapa pun yang sakit harus benar-benar menghindari melalui drive-thru. Mereka harus tinggal di rumah untuk mengurangi risiko menginfeksi pekerja layanan makanan yang berinteraksi dengan puluhan orang setiap harinya.
“Bayar makanan secara online, termasuk tip, jadi tidak perlu menyerahkan uang tunai dan menerima uang kembalian. Covid-19 dapat bertahan hidup di permukaan uang. Jangan buk pintu ketika makanan tiba, dan tunggu sampai pengirimnya pergi,” kata Charity.
Champman mengatakan, drive-thru adalah opsi yang relatif aman, tetapi Anda harus tetap berhati-hati. Ini semua tentang mengurangi jumlah interaksi yang kita miliki dengan orang lain. Ini bukan tentang makanan atau kemasan makanan. Semakin sedikit orang di sekitar Anda, semakin aman Anda.
Baca juga: Derita Traveler Asia Saat Corona, Terjebak Setelah 10 Bulan Melancong Hingga Diselamatkan Gereja
“Kita semua perlu istirahat dari menyiapkan makanan sendiri. Makan makanan kesukaan Anda memberi Anda kenyamanan di masa-masa sulit ini. Lakukan, tapi lindungi diri Anda,” tambah Charity.
Asosiasi Tur dan Agen Perjalanan Malaysia (Matta) mengingatkan Pemerintah Malaysia agar segera mencari solusi untuk mendukung kelangsungan hidup maskapai penerbangan di Malaysia saat wabah virus Cina tak kunjung mereda.
Baca juga: Kata Konsultan Penerbangan: Sebagian Besar Maskapai Global Akan Bangkrut Akhir Mei!
Presiden Matta, Datuk Tan Kok Liang, mengatakan industri penerbangan merupakan inti dari seluruh ekosistem pariwisata. Konektivitas udara sangat penting untuk pariwisata dan pemulihan ekonomi negara penganut sistem Kerajaan tersebut.
“Tanpa maskapai penerbangan untuk mendatangkan jutaan wisatawan masuk dan keluar dari Malaysia, tidak akan ada industri pariwisata yang layak,” katanya, sebagaimana dikutip KabarPenumpang.com dari laman thestar.com.my.
“Mereka adalah garda terdepan dari rangkaian garis panjang rantai pasokan di industri pariwisata yang mencakup bandara, transportasi, jalan dan kereta api, akomodasi, makanan dan minuman, hiburan dan belanja serta bisnis, layanan pendidikan dan kesehatan,” lanjutnya.
Kemudian, Tan, yang menanggapi laporan kemungkinan merger antara Malaysia Airlines dan Grup AirAsia, mengatakan maskapai nasional itu membutuhkan dana talangan besar-besaran. Menurutnya, dana talangan tidak hanya akan mengatasi tantangan likuiditas keuangan jangka pendek tetapi juga akan membantu mendorong pertumbuhan yang jauh lebih baik dibanding pelambatan ekonomi akibat pandemi Covid-19 itu sendiri.
“Namun, langkah-langkah perlu diambil untuk membuat perjalanan udara yang lebih nyaman dan aman bagi masyarakat. Hal itu mungkin bisa ditempuh dengan melibatkan banyak pihak dan menerapkan aturan keamanan serta keselamatan baru, seperti berkenaan dengan fasilitas penerbangan, checkpoint kesehatan penumpang, dan melakukan rapid test corona kepada seluruh penumpang, “ujar Tan.
Desakan Tan terkait stimulus keuangan dari pemerintah mungkin bukan isapan jempol belaka. Saat ini, banyak negara di dunia telah melakukan langkah konkret dengan memberikan kucuran dana segar untuk maskapai nasional atau flag carrier mereka. Pemerintah Singapura, misalnya, telah menganggarkan lebih dari 19 miliar dolar Singapura (RM58.59 billion) untuk mendukung kelangsungan bisnis Singapore Airlines (SIA) dalam mengarungi masa krisis akibat corona. Demikian juga dengan Hong Kong yang dalam catatannya telah menyediakan paket bantuan sebesar HK $2 miliar (RM1,13 billion) untuk mengurangi tekanan likuiditas maskapai dan operator bandara.
Tan menambahkan, selain banyaknya negara yang melakukan langkah penyelamatan ke maskapai nasional mereka, Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) secara terpisah sebetulnya juga telah menyerukan kepada pemerintah di seluruh dunia untuk memberikan paket stimulus kepada maskapai.
“Diperkirakan bahwa Covid-19 akan menyebabkan kerugian bagi maskapai global sebesar US$314 miliar (RM 1,36 triliun), 25 persen lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya,” jelasnya.
Saat ini, masih menurut Tan, bandara di Malaysia telah mencatat penurunan sebesar 27,6 persen atau setara 18,4 juta pergerakan penumpang. Rinciannya, pergerakan penumpang internasional dan domestik menurun masing-masing sebesar 32,4 persen dan 22,4 persen.
Baca juga: Tiga Aliansi Maskapai Global Desak Pemerintah di Seluruh Dunia Cari Cara Agar Maskapai Tak Bangkrut
Sementara itu, pergerakan pesawat tercatat menurun sebesar 11,9 persen pada kuartal I 2020 dibanding periode yang sama di tahun 2019. Adapun rinciannya, pergerakan pesawat internasional dan domestik menurun masing-masing sebesar 17,5 persen dan 8,2 persen dibandingkan kuratal 1 2019.
Akan tetapi, menurutnya, penurunan tersebut belum memasuki fase puncak. Diperkirakan, pada kuartal II, kondisinya akan lebih buruk karena hampir seluruh dunia telah menerapkan kebijakan lockdown dan membuat maskapai lebih sulit bergerak kecuali mengandalkan rute domestik.
Menurut data dari Airport Council Internasional, lalu lintas penumpang pada 2019 lalu meningkat menjadi 8,8 miliar dibanding tahun lalu dengan persentase peningkatan sebesar 6,4 persen. Sementara pengiriman kargo udara meningkat 3,4 persen. Kala itu, diperkirakan tahun 2020 peningkatan masih akan terus terjadi seiring pertumbuhan di industri penerbangan global.
Baca juga: Bak Kuburan, Inilah 8 Penampakan Sepinya Bandara di Dunia Akibat Virus Corona
Namun, apa daya, corona menerjang dan semua prediksi pun meleset. Menurut Cirium, sebuah perusahaan riset terkait industri penerbangan dunia, saat ini tercatat lebih dari 16 ribu pesawat nganggur di seluruh dunia atau yang terendah sejak 26 tahun. Kebijakan lockdown pun membuat suasana semakin tak karuan. Salah satunya seperti di Inggris.
Bandara tersibuk di Eropa yang berada di negara tersebut, Heathrow International Airport, pada bulan April ini, tercatat mengalami penurunan traffic lebih dari 90 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Mengingat kebijakan lockdown yang masih terus diperpanjang serta belum adanya tanda-tanda virus corona bakal terkendali di Negeri Ratu Elizabeth tersebut, diperkirakan tren penurunan masih akan terus terjadi.
Dengan kondisi tersebut, tak heran, bandara tersibuk ke tujuh di dunia Airport Council Internasional, dengan pergerakan penumpang tahun lalu mencapai 80,1 juta penumpang, kini tak lebih layaknya kota hantu. Bahkan, di beberapa sudut, sepinya bandara terlihat bak kuburan. Dilansir mylondon.news, berikut lima pemandangan sepinya Bandara Heathrow.
1. Armada British Airways Penuhi ParkiranArmada milik British Airways nganggur di Bandara Heathrow. Foto: BEN STANSALL/AFP via Getty Images
Menurut OAG, kapasitas maskapai di seluruh dunia, secara keseluruhan, turun lebih dari seperempat. Laporan terbaru untuk minggu ini menunjukkan penurunan di seluruh dunia sebesar 28,7 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Dalam kondisi tersebut, praktis, maskapai tak punya pilihan lain kecuali menggrounded armadanya. Akibatnya, grounded pesawat dalam waktu yang hampir bersamaan membuat bandara tak mampu lagi menampung pesawat. Tak heran, bila beberapa maskapai harus mengungsikan pesawat di negara lain, tak terkecuali dengan British Airways yang memarkir beberapa armadanya di Bandara Chateauroux, Perancis, sebelah selatan Kota Paris.
2. Check-in Counter dan Bag Drop SepiTerminal 5 keberangkatan biasanya selalui dipadai traveler dari seluruh penjuru dunia. Kini, situasi telah berubah. Foto: Richard Heathcote / Getty Images
Manajemen Bandara Heathrow mengatakan, jumlah penumpang telah turun 52 persen pada Maret 2020 dibanding periode sama tahun lalu. Diperkirakan, jumlah tersebut akan meningkat pada bulan April mencapai lebih dari 90 persen.
Sisa 10 persen penumpang atau sekitar 680.000 orang yang masih mengunjungi Heathrow bulan ini didominasi oleh orang Inggris yang berhasil pulang dari luar negeri atau warga negara asing yang datang sebagai ahli kesehatan untuk membantu menghadapi krisis kesehatan. Oleh karenanya, jangan heran bila check-in counter sepi.
3. Imbauan Physical DistancingHampir di seluruh sudut bandara, physical distancing sudah menjadi himbauan umum, tak terkecuali kursi-kursi di terminal 5. Foto: Richard Heathcote/Getty Images
Hingga 19 April lalu, Inggris telah mengkonfirmasi sekitar 124,743 orang positif corona dan 16,509 lainnya tewas. Diperkirakan, angka tersebut masih akan terus meningkat. Physical distancing yang belum maksimalkan diterapkan warga disebut menjadi salah satu penyebab utama tingginya penyebaran corona di sana. Oleh karenanya, hampir di seluruh sudut Inggris, tak terkecuali di bandara, pemerintah tak bosan mengkampanyekan physical distancing.
Baca juga: Akibat Penerbangan Sepi dan Parkiran Penuh, Sejumlah Pesawat Rusak Gegara ‘Bersenggolan’4. Terminal 5 Bandara SepiSepinya bandara juga membuat tenant di sana tak punya pilihan lain kecuali menutup toko. Foto: Richard Heathcote/Getty Images
Inggris akhirnya membelakukan perpanjangan lockdown, yang semestinya berakhir pada 13 April lalu, hingga 7 Mei mendatang. Tak heran, dengan keputusan tersebut, tren penurunan jumlah penumpang Bandara Heathrow diperkirakan masih akan berlanjut hingga kondisi benar-benar aman terkendali, disusul dengan dicabutnya kebijakan lockdown.
5. Penumpang TransitSeorang penumpang tengah menunggu kereta transit di Heathrow. Foto: Richard Heathcote/Getty Images
Meski lockdown, jaringan kereta di Bandara Heathrow tidak sampai dibekukan. Sebab, penerbangan masih terus berjalan. Hal itu demi memudahkan penumpang yang hendak transit menuju bagian lain Inggris dengan kereta.