Salah satu hub utama di Asia, Bandara Hong Kong, mengaku telah kehilangan sekitar 91 persen selama bulan Maret bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu (YoY). Otoritas bandara mengaku, musibah tersebut nyaris setara dengan musibah yang terjadi saat puncak wabah SARS pada 2003 silam.
Baca juga: Imbas Penumpang Turun Drastis, Bandara Hong Kong Satukan Pelayanan di Terminal Utama
Seperti dikutip dari traveldailymedia.com, selama bulan Maret, Bandara Hong Kong hanya melayani sekitar 576.000 orang, dimana 350.000 adalah kedatangan dan 226.000 keberangkatan. Angka tersebut tentu sangat jauh bila dibandingkan periode yang sama di tahun lalu, saat 6,39 juta pelancong memandati bandara tersebut, tepat beberapa bulan sebelum terjadinya gelombang demonstrasi rakyat Hong Kong terkait isu RUU Ekstradisi yang nyaris mematikan pariwisata negara tersebut.
Akan tetapi, angka itu (576.000 orang) sejauh ini masih bukanlah yang terendah. Bila dibandingkan dengan puncak SARS pada 2003 silam, angkanya masih berkisar 12 ribu lebih sedikit.
Sejalan dengan penurunan frekuensi penumpang, jumlah pergerakan pesawat di bandara yang mulai dibuka pada tahun 1998 juga turun drastis. Bila dibandingkan periode yang sama di tahun lalu, angkanya turun hampir dua pertiga menjadi 12.115 pesawat.
Baik jumlah pergerakan pesawat maupun jumlah penumpang, keduanya diperkirakan masih akan terus bergerak turun, mengingat pandemi Corona di Hong Kong masih terus mengancam. Maka dari itu, pekan lalu, otoritas Hong Kong memutuskan untuk melanjutkan perpanjangan penutupan akses bagi traveler asing hingga batas yang tak ditentukan, seiring meningkatnya kasus Covid-19 impor.
Sama halnya dengan perpanjangan penutupan bandara, pemerintah setempat juga tetap akan memberlakukan pengetatan pembatasan terkait travel yang dimulai sejak dua minggu lalu. Mereka yang baru kembali dari luar negeri harus mengisolasi diri di rumah selama 14 hari, sedangkan semua orang dari China daratan, Makau, dan Taiwan akan dikarantina di hotel atau di rumah, termasuk warga Hong Kong.
Orang-orang dari tiga lokasi tersebut yang sekaligus punya catatan perjalanan dari luar negeri dalam 14 hari terakhir tidak akan diizinkan masuk, kecuali memiliki izin tinggal di Hong Kong. Semua layanan transit akan dibekukan sementara dan aturan itu akan berlaku sampai ada pemberitahuan lebih lanjut.
Selama masa karantina mandiri, otoritas Hong Kong juga menyertakan teknologi terkini untu memastikan proses karantina berjalan dengan baik, yakni dengan menggunakan gelang elektronik canggih. Nantinya, gelang tersebut akan diberikan kepada turis maupun masyarakat yang baru pulang bepergian dari luar negeri untuk memantau mereka selama fase karantina mandiri. Guna mendukung kesuksesan kebijakan tersebut, pemerintah Hong Kong mengklaim pihaknya telah memiliki lebih dari 60.000 gelang siap guna.
Teknisnya, mula-mula seluruh pengguna, harus terlebih dahulu berjalan di sudut-sudut rumah, hotel, apartemen, atau tempat manapun yang telah dipilih, untuk memastikan teknologinya dapat dengan tepat melacak koordinat selama masa karantina. Namun, sebelum itu, pengguna terlebih dahulu harus terlebih dahulu mendownload aplikasi tertentu agar gelang tersebut dapat terhubung ke smartphone.
Berdasarkan koordinat tersebut, pemerintah akan membuat pemodelan ruang lingkup pengguna. Jadi, bila selangkah saja pengguna keluar dari rumah, maka pemerintah akan segera mengetahuinya. Oleh karena itu, selama karantina, praktis, pengguna tak punya pilihan lain untuk memenuhi isi perutnya kecuali menggunakan aplikasi berbasins daring untuk memesan makanan dan bahan makanan.
Bahkan, sebelum mulai menjalani masa karantina, setiap penumpang yang datang ke Bandara Internasional Hong Kong bukan hanya melewati pemeriksaan suhu tubuh, melainkan juga harus melewati pemeriksaan virus Corona atau rapid test. Dengan begitu, secara resmi, hal ini menjadikan Bandara Hong Kong menjadi yang pertama di dunia dalam pemeriksaan virus Corona bagi penumpang.
Baca juga: Hong Kong ‘Lockdown’ Warganya dengan Gelang Canggih
Selain peningkatan kasus impor, infeksi lokal juga mengundang perhatian serius. Dr. Ho Pak-leung, profesor rekan mikrobiologi dari University of Hong Kong, meminta pemerintah mewajibkan seluruh penduduk memakai makser.
“Menggunakan masker itu efektif,” katanya dalam sebuah program radio. “Itu bisa membantu menghambat penyebaran virus oleh orang-orang yang tidak menunjukkan gejala.”
Kabin penumpang disulap menjadi kargo belakangan ramai terjadi di berbagai penerbangan di seluruh dunia. Namun, tentu saja perubahan tersebut perlu dilakukan dengan cermat. Bila tidak, bukan tak mungkin suatu hal buruk akan terjadi. Pasalnya, Fire Suppression System untuk mencegah kebakaran yang terdapat di kompartemen kargo tidak tersedia di kabin penumpang.
Baca juga: Tujuh Penerbangan Ini Tak Lazim Akibat Corona, Nomor 6 Paling Aneh!
Dilansir dari forbes.com, dengan kondisi tersebut, berbagai regulator pun mengharuskan agar pengamat penerbangan atau pramugari (awak kabin) harus disertakan dalam setiap penerbangan tersebut (kargo di dalam kabin penumpang). Tak terkecuali dengan Otoritas Penerbangan Sipil Singapura, CAAS.
“Otoritas Penerbangan Sipil Singapura telah memberikan persetujuan kepada Singapore Airlines dan Scoot Tigerair untuk mengangkut kargo di kabin penumpang pesawat mereka ketika pesawat ini digunakan untuk penerbangan kargo,” kata Direktur Standar Penerbangan CAAS, Alan Foo.
“Awak kabin juga harus berada di atas penerbangan ini untuk mengelola setiap keadaan darurat dalam penerbangan,” lanjutnya.
Dengan adanya fenomena tersebut, praktis, fungsi pramugari kini telah bergeser, dari semula melayani para pelanggan dengan penuh keramahan, menjadi petugas pemadam kebakaran di dalam kabin penumpang yang siap siaga di segala kondisi.
Namun demikian, nampaknya, kecil kemungkinan pramugari benar-benar berjibaku layaknya petugas kebakaran sungguhan. Sebab, sebelum benar-benar terbang memuat kargo di dalam kabin penumpang, berbagai mekanisme terlebih dahulu harus dipenuhi. Seperti klasifikasi barang yang tidak boleh mudah terbakar, tidak boleh menghalangi pintu darurat, hingga suhu di dalam kabin tidak boleh terlalu panas.
Selain itu, berbagai masukan dari pihak terkait, seperti produsen pesawat, dalam hal ini Airbus dan Boeing, regulator seperti EASA dan FAA, Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA), juga semakin memperketat mekanisme kargo di dalam kabin penumpang. Masing-masing dari mereka mempunyai poin-poin penting tersendiri.
Airbus, dengan berbagai catatan, masih memperkenankan maskapai global memaksimalkan ruang di dalam kabin penumpang dengan mencopot kursi. Sebaliknya, Boeing bersama FAA justru kompak menyuarakan agar masing-masing maskapai mengkomunikasikan segala perubahan, termasuk kargo di dalam kabin penumpang dengan regulator.
Poinnya adalah, Boeing dan FAA tidak mengharapkan adanya perubahan konfigurasi. Maskapai bisa tetap memaksimalkan kabin dengan meletakkan kargo di atas kursi yang dilapisi pelindung, meletakkan di bawah kursi, atau di bagian lainnya selama tidak mengganggu jalur evakuasi.
EASA lebih ketat lagi. Selain wajib ‘dijaga’ oleh awak kabin atau pengamat penerbangan, pengecekan ketat sebelum penerbangan dimulai, seperti bobot total kargo di dalam kabin agar tak melebihi kemampuan struktur pesawat, barang-barang yang dibawa, tata letak kargo karena berpengaruh dengan keseimbangan pesawat, bahkan wajib mensertifikasi ulang bersama pihak terkait jika terjadi perombakan besar-besaran di dalam kabin penumpang.
Baca juga: Italia ‘Ekspor’ Pasien Corona ke Jerman Pakai Pesawat Militer Airbus A310
Hal itu dilakukan bukan hanya untuk membuat penerbangan tersebut aman, namun sekaligus menjadi sebuah sinyal bahwa kargo di dalam kabin penumpang jelas merupakan hal yang tak dibenarkan dan tak boleh berlarut, terlebih dalam keadaan normal.
Sejauh ini, EASA masih memberikan kemudahan untuk penerbangan tersebut selama dalam kurun delapan bulan ke depan atau selama masa krisis bila mana dalam delapan bulan ke depan pandemi corona masih tak kunjung usai. Di luar itu, EASA menyarankan agar dibuat regulasi yang jelas dan terperinci, dengan didasari riset untuk meminimalisir kecelakaan.
Perancis menjadi salah satu episenter virus corona terbesar di dunia, bersama Italia dan Amerika Serikat. Bahkan, negara yang dipimpin Presiden Emmanuel Macron sempat begitu mencekam dengan jumlah kematian akibat virus Cina mencapai hampir 1.000 orang per hari. Tak heran, bila beberapa wilayah di Perancis sangat kewalahan, khususnya di bagian Timur Perancis.
Baca juga: Italia ‘Ekspor’ Pasien Corona ke Jerman Pakai Pesawat Militer Airbus A310
Dikutip dari laman npr.org, hampir seluruh rumah sakit di wilayah Timur Perancis dilaporkan tak lagi mampu menampung pasien corona. Di saat yang bersamaan, rumah sakit lainnya di bagian Barat cukup lengang dan juga memiliki peralatan medis yang tak kalah dengan di wilayah Timur. Oleh karenanya, otoritas setempat memutuskan untuk mengirim pasien ke wilayah-wilayah minim kasus corona dengan kereta cepat atau Train à Grande Vitesse (TGV) untuk membantu proses perpindahan pasien corona.
Kereta berkecepatan tinggi yang melewati situs-situs bersejarah Perang Dunia I, melalui Loire Valley hingga mengakhiri perjalanan di Angers, sekitar 200 mil Barat Daya Paris itu mengangkut 20 pasien COVID-19 yang kritis. Pasien-pasien tersebut dipindahkan dari wilayah Strasbourg, tak jauh dari perbatasan Perancis-Jerman, atau berjarak sekitar 5 jam perjalanan atau 500 mil.
Sekalipun melaju dengan kecepatan tinggi, mencapai 185 mil per jam, TGV diklaim tetap nyaman untuk mengangkut pasien kritis. Bahkan, dari sisi kenyamanan, TGV masih lebih baik dibanding helikopter. Oleh karenya, bila diperlukan, tim medis dapat melakukan perawatan darurat dengan tenang tanpa diganggu oleh guncangan.
Namun, tak seperti di India yang menyulap kereta menjadi fasilitas karantina bagi masyarakat yang terpapar corona, secara teknis, kabin di dalam gerbong tidak banyak berubah. Sebanyak 20 pasien corona hanya diletakan di atas tandu sederhana yang menjulang di antara dua kursi TGV. Agar tidak bergeser, tandu tersebut diikat ke kursi.
Kemudian, karena mayoritas pasien corona yang dipindahkan adalah pasien dengan kategori berat, TGV juga diawasi oleh enam petugas medis dan dibekali dengan ruang gawat darurat, lengkap dengan ventilator dan oksigen, bila selama dalam perjalanan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Baca juga: Dari Kode QR Hingga Media Sosial, Inilah Empat Cara Cina Lacak Covid-19
“Wilayah Timur sekarang berada di puncak gelombang. Setiap daerah akan mengalami hal ini dalam beberapa minggu mendatang, tetapi pada waktu yang berbeda. Saat ini, idenya adalah untuk memanfaatkan waktu jeda antar daerah dan untuk memindahkan pasien dari daerah yang sangat parah ke daerah yang kurang terdampak,” kata Dr. Lionel Lamhaut, penanggungjawab misi pemindahan pasien tersebut.
Akan tetapi, selain TGV, berbagai moda transportasi lainnya juga dikerahkan Perancis, seperti kereta api, helikopter, jet, dan bahkan kapal perang nasional Perancis juga dikerahkan untuk meringankan beban rumah sakit yang padat dengan ratusan pasien dan tenaga medis keluar masuk hotspot virus Corona.
Dua kejadian bodoh yang membahayakan nyawa baru-baru ini terjadi di rel kereta Inggris. Di mana ada dua kejadian yakni gulungan spanduk sepanjang sepuluh meter dan sebuah lempengan besi skuter dilempar ke atas rel kereta api. Insiden ini kemudian dilaporkan ke Polisi Transportasi Inggris.
Baca juga: Teror di Stasiun Adelaide, Dua Pria Dorong Mobil ke Lintasan Kereta
Diketahui, gulungan spanduk sepanjang sepuluh meter dan lempengan besi skuter tersebut ditemukan di atas rel Stoke-on-Trent. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman stokesentinel.co.uk (13/4/2020), postingan sebuah foto di media sosial menunjukkan gulungan spanduk biru bergaris menutupi jalur menuju ke timur dekat dengan jembatan Smithpool Road di Fenton antara Stasiun Stoke dengan Stasiun Longton pada 12 April 2020 kemarin.
Selain itu gambar lainnya yang diposting menunjukkan sebuah lempengan besi skuter anak-anak terletak 100 meter lebih jauh di jalur barat dekat dengan Lido. Kedua insiden yang diduga terkait tersebut untungnya langsung dilaporkan kepada pihak Polisi Transportasi Inggris.
Adanya hal tersebut, membuat warganet mengutuk ‘para idiot’ yang bertanggung jawab atas hal itu meskipun keduanya tidak mungkin menggagalkan kereta. Seorang wanita mengatakan, dirinya tidak percaya betapa bodohnya pelaku yang melemparkan dua barang itu.
“Seseorang telah melempar lempengan besi skuter tepat di jalure kerta. Saya hanya berharap ketika kereta berikutnya melintas, maka lempengan besi itu terdorong keluar,” kata wanita itu.
“Sepertinya telah sengaja ditempatkan di sana,” ujar warganet lainnya.
Tak hanya itu, warganet lain mengatakn, mereka mungkin melakukan ini karena tipsny sudah ditutup. “Benar-benar idiot.”
Karena hal ini, juru bicara kepolisian Transportasi Inggris mengatakan, siapa pun yang bertanggung jawab atas tindakan bodoh dan berbahaya ini, membahayakan nyawa para penumpang dan staf kereta api.
Baca juga: Video Viral Resepsi Pernikahan di Tengah Rel Kereta Balai Yasa Yogyakarta
“Kami mendesak mereka yang berpikir bahwa melemparkan benda ke kereta api atau ke jalur kereta api itu menyenangkan, atau cara yang baik untuk membuang barang-barang rumah tangga mereka, untuk memikirkan konsekuensi dari tindakan mereka, yang dapat mengakibatkan cedera serius atau seseorang terbunuh,” ujar juru bicar kepolisian Transportasi Inggris.
Bir bermerek Corona seketika booming saat virus corona menjadi pandemi di seluruh dunia. Hal ini karena banyak meme yang beredar tentang bir tersebut dan di sandingkan dengan virus yang menyebabkan penyakit pernapasan tersebut.
Baca juga: Badai Corona Hantam Sektor Industri Otomotif dan Suku Cadang
Namun meski sempat menjadi terkenal, pabrik yang memproduksi bir corona harus berhenti sementara. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman cnn.com (3/4/2020), Grupo Modelo perusahaan pembuat bir salah satunya bir corona mengumumkan di Twitter bahwa mereka menghentikan produksi dan pemasaran birnya karena Pemerintah Meksiko telah menutup bisnis yang tidak penting.
Perusahaan milik Anheuser-Busch Inbev, selain membuat bir Corona juga membuat bir Modelo dan Pacifico. Diketahui, pemerintah Meksiko mengumumkan penangguhan kegiatan yang tidak penting di sektor publik dan swasta hingga 30 April dalam upaya untuk mengekang penyebaran virus.
Meski menutup sementara produksi dan pemasarannya, Grupo Modelo siap untuk membuat rencana dan menjamin pasokan birnya tetap ada jika pemerintah Meksiko memutuskan untuk memasukkan pabrik sebagai hal yang penting. Constellation Brands (STZ) yang menangani distribusi dan impor bir Grupo Modelo di Amerika Serikat.
CEO Constellation Brands Bill Newlands mengatakan dalam panggilan pendapatan merek memiliki pasokan yang cukup untuk memenuhi permintaan konsumen dan tidak mengharapkan kekurangan dalam waktu dekat. Bill mengatakan, adanya kebetulan persamaan nama Corona dengan virus pandemi saat ini justru tidak merusak penjualan.
Bahkan mereka menyebutkan penjualan merek bir itu tumbuh 8,9 persen untuk tiga bulan pertama tahun ini dengan Modelo dan Corona yang menjadi top dalam penjualan mereka. Pihak Constellation mengatakan, penjualan mereka meningkat dalam tiga minggu pertama di bulan Maret dengan bir tumbuh 24 persen dibandingkan tahun lalu.
Corona Hard Seltzer, yang diluncurkan pada awal Maret, juga menuju “awal yang kuat,” menurut rilis pendapatan perusahaan. Bir dan alkohol lainnya meningkat dalam penjualan bulan ini karena orang Amerika dipaksa untuk berjongkok mengingat coronavirus.
Baca juga: Peneliti: Virus Corona Bisa Bertahan Selama 7 Hari di Masker Bedah
Diketahui, angka penjualan dari Nielsen (NLSN) menunjukkan penjualan bir naik 34 persen dari tahun ke tahun untuk minggu yang berakhir pada 21 Maret. Selain Grupo Modelo adakah perusahaan bir lainnya yang menghentikan operasionalnya?
Sebagai negara yang mengekor Indonesia dalam industri ride hailing, Vietnam rupanya malah lebih dulu dalam program penghentian layanan angkut penumpang akibat wabah covid-19, khususnya ini telah dilakukan oleh Grab Vietnam.
Baca juga: PSBB Berlaku di Jakarta, Inilah Kebijakan GoJek dan Grab untuk Mudahkan Mitra Pengemudi
Dilansir KabarPenumpang.com dari laman thestar.com.my (3/4/2020), Grab di Vietnam menangguhkan sementara layanan GrabBike mereka di ibukota Hanoi. Penangguhan layanan GrabBike sendiri dilakukan sejak tanggal 3 April lalu hingga 15 April 2020 besok. Grab mengatakan, langkah ini diambil dalam upaya untuk membatasi penyebaran virus corona (Covid-19).
“Keputusan ini kami ambil untuk memastikan keamanan pelanggan dan pengemudi selama pandemi. Sedangkan layanan GrabExpress dan GrabFood masih tersedia di banyak bagian lain Vietnam,” ujar Grab Vietnam dalam sebuah pernyataan.
Ternyata tak hanya layanan GrabBike yang ditangguhkan, sebab pada awal bulan April 2020 ini, Grab bahkan sudah menangguhkan layanan mobilnya hingga 15 April 2020. Sehingga GrabCar, GrabCar Plus, GrabCar Business, GrabTaxi, GrabRent dan JustGrab secara nasional tidak lagi beroperasi sementara waktu.
Diketahui, Vietnam sendiri melakukan lockdown dinegaranya sejak 1 April hingga 15 April 2020. Pemerintah Vietnam menyebut kebijakan ini sebagai gerakan restriksi sehingga menutup bisnis dan membatasi kegiatan masyarakat.
Dari sekitar 245 orang yang positif Covid-19 di Vietnam belum ada korban meninggal. Namun, Vietnam telah melakukan lebih dari 73 ribu tes virus cvorona dan 72.942 orang saat ini dalam masa karantina untuk mencegah penyebaran lebih luas.
Diketahui, di Indonesia GoJek dan Grab mengambil beberapa langkah meski angkutan penumpang ditiadakan dan hanya angkutan barang. Head of Public Affairs Grab Indonesia, Tri Sukma Anreianno mengatakan, sejak awal penyebaran virus Covid-19, Grab telah memantau kondisi dan menyiapkan semua pemangku kepentingan terkait respons mereka terhadap Covid-19 termasuk para mitra pengemudi.
Baca juga: Dirlantas Polda Metro Jaya: Patuhi Instruksi Luhut, Ojol Boleh Angkut Penumpang Saat PSBB Jakarta
“Selain itu kami juga secara aktif mengimbau semua mitra pengemudi dan pengiriman untuk mengutamakan kesehatan mereka dan untuk mengambil tindakan pencegahan secara menyeluruh termasuk mengenakan masker setiap saat. Mendesinfeksi kendaraan dan tas pengiriman mereka secara teratur, sering mencuci dan membersihkan tangan mereka serta menjaga jarak aman melalui prosedur contactless delivery bagi mitra pengiriman GrabFood dan GrabExpress,” kata Tri.
Maskapai penerbangan banyak yang mendaratkan pesawat mereka dan merumahkan sebagain besar staf dari awak kabin hingga staf darat karena pandemi virus corona (Covid-19). Namun meski begitu banyak perusahaan penerbangan seperti di Swedia dan Inggris mendorong awak kabin untuk berlatih membantu rumah sakit di tengah pandemi saat ini.
Baca juga: 30 Awak Kabin Singapore Airlines Jadi Duta Perawat di Rumah Sakit
SAS Scandinavian Airlines membantu awak kabin menggunakan pelatihan darurat medis yang ada untuk belajar bagaimana cara terbaik merawat pasien untuk membantu meringankan para medis yang sudah bekerja keras saat ini. Maskapai ini mengatakan, satu awak kabin tengah menjalani pelatihan di Rumah Sakit Sophiahemmet di Stockholm, Swedia.
Awak kabin yang berlatih menjadi perawat rumah sakit (AFP)KabarPenumpang.com melansir cnn.com (11/4/2020), saat ini awak kabin lain di Norwegia juga bersiap untuk membantu. Di Inggris beberapa awak kabin EasyJet dan Virgin Atlantic bahkan secara sukarela membantu di Rumah Sakit National Health Service (NHS) yang baru yang didirikan khusus untuk pasien virus corona.
Para awak kabin yang mendaftar ini akan membantu melakukan peran dukungan klinis di rumah sakit lapangan NHS Dightingale yang tengah dibangun di London, Brimingham dan Manchester. Staf maskapai yang mendaftar akan diberikan pelatihan untuk belajar mengganti tempat tidur dan membantu membuat pasien Covid-19 nyaman.
“Banyak dari mereka telah dilatih dalam pertolongan pertama, memiliki kualifikasi medis lainnya dan telah menjalani pemeriksaan keamanan, yang menempatkan mereka dengan baik untuk memberikan dukungan yang diperlukan kepada NHS,” kata EasyJet dalam sebuah pernyataan.
Virgin Atlantic mengatakan krunya juga akan melakukan peran dukungan klinis, para staf dan relawan yang bekerja di rumah sakit baru akan ditawari akomodasi dan makan gratis.
“Kami sangat bangga dengan orang-orang kami yang sangat terampil di Virgin Atlantic dan sejak Skema Retensi Pekerjaan Coronavirus Pemerintah diumumkan, kami telah dibanjiri oleh karyawan kami yang ingin membantu organisasi lain pada saat krisis ini,” kata Chief Customer Officer Virgin Atlantic, Corneel Koster, dalam sebuah pernyataan.
EasyJet telah bekerja dengan NHS untuk memungkinkan karyawannya menjadi sukarelawan untuk secara langsung mendukung layanan klinis di rumah sakit. Salah satu anggota awak kabin EasyJet mengatakan dia bekerja untuk NHS Trust sebelum bergabung dengan industri penerbangan dan memahami tekanan yang dialami pekerja NHS saat ini.
Ashley Brown mengatakan dia mengambil langkah ini pada kesempatan untuk menjadi sukarelawan karena dia berterima kasih kepada para pekerja NHS untuk semua yang mereka lakukan untuk pasien Covid-19.
“Awak kabin berada dalam posisi yang baik untuk membantu karena pelatihan pertolongan pertama yang kami terima untuk pekerjaan kami bersama dengan pemeriksaan keamanan yang kami alami. Jadi saya yakin saya akan bergabung dengan banyak kru saya di EasyJet dan saya senang kami dapat membantu,” kata Brown.
Baca juga:Jay Robert: “Pekerjaan Awak Kabin Telah Berubah Drastis dalam Sebulan Terakhir”
Saat ini, diketahui, perusahaan-perusahaan penerbangan di seluruh dunia harus menganggur kru dan staf lain karena pandemi Covid-19. Dengan sebagian besar operasinya ditahan sejak 16 Maret karena minimnya permintaan untuk perjalanan udara, SAS untuk sementara memberhentikan 90 persen dari total tenaga kerjanya.
Awak kabin menjadi perawat rumah sakit? Sepertinya tak ada masalah, apalagi jika mereka memiliki dasar untuk melayani orang seperti yang dilakukan dalam penerbangan. Singapore Airlines (SIA) sebanyak 30 orang awak kabinnya akan merawat pasien di Rumah Sakit Khoo Teck Puat (KTPH) alih-alih melayani penumpang pesawat.
Baca juga: Singapore Airlines Akan Dapatkan Pesawat ke-1000 Boeing 787 Dreamliner
Sebanyak 30 orang awak kabin itu sepuluh diantarnya awak kabin pria dan 20 lainnya awak kabin wanita yang dirumahkan sementara karena banyak penerbangan dibatalkan yang disebabkan pandemi virus corona (Covid-19). Dilansir KabarPenumpang.com dari straitstimes.com (8/4/2020), para awak kabin ini akan dipindah tugaskan sebagai duta besar peduli di rumah sakit umum di Yishun.
Para awak kabin akan ditugaskan di bangsal berisiko rendah dan mendukung tim perawat rumah sakit dengan melakukan pemberian perawatan dasar, perawatan gizi dan manajemen layanan pasien. Pasien yang akan mereka rawat antara lain penyakit kronis seperti gangguan jantung dan kondisi bedah akut.
Sebanyak 30 orang awak kabin ini menjadi duta perawat pertama dan sudah menjalani pemeriksaan medis, vaksinasi dan orientasi rumah sakit. Mereka juga menyaksikan demonstrasi melayani makanan untuk pasien dan akan bertugas selama tiga bulan di rumah sakit.
Selain itu, mereka juga memiliki pilihan untuk diperpanjang tiga bulan berikutnya. Para awak kabin ini akan menjalani kursus pelatihan selama lima hari dan diajarkan terminologi medis dasar, pemantauan tanda-tanda vital, pemberian makan oral serta penetuan posisi, pembalikan dan ambulasi pasien.
Mereka juga akan dilatih dalam langkah-langkah pengendalian keamanan dan infeksi serta akan diminta untuk memakai masker, seperti halnya perawat dan dokter, meskipun mereka tidak akan memiliki kontak langsung dengan pasien Covid-19. Para awak kabin yang bertugas di rumah sakit akan berkerja selama sembilan jam siang dan malam selama lima hari dalam semiggu.
SIA Group telah berkomitmen untuk menyediakan setidaknya 300 duta besar perawatan ke berbagai rumah sakit, tergantung pada kebutuhan masing-masing rumah sakit. Mereka akan dibayar gaji bulanan, dengan 75 persen dari remunerasi ditanggung oleh Pemerintah di bawah Skema Dukungan Pekerjaan. Rumah sakit masing-masing akan menanggung 25 persen sisanya.
“Ini juga merupakan kesempatan yang baik bagi perawat kami untuk bertukar pengetahuan dan keterampilan dalam pelayanan dengan kru SIA, yang merupakan profesional tingkat tinggi. Kami berharap ini akan menjadi pengalaman yang berarti bagi mereka,” kata Shirley Heng, kepala perawat di KTPH
Dia menambahkan bahwa kolaborasi dengan SIA akan membantu meningkatkan kebutuhan tenaga kerja, karena lebih banyak staf layanan kesehatan telah ditugaskan untuk merawat pasien terkait Covid-19. Pramugari terkemuka SIA Fabien Sieh, 32, yang termasuk dalam kelompok pertama, mengatakan ia menganggap itu sebagai “berkah” untuk dapat memberikan kembali kepada masyarakat selama wabah.
Baca juga: Selamatkan Singapore Airlines, Temasek Suntikan Dana Rp218 Triliun
“Saya ingin pengalaman bekerja di lingkungan di mana orang membantu menyelamatkan nyawa. Saya berharap untuk belajar dari petugas kesehatan dan memperoleh keterampilan yang dapat membuat perbedaan bagi kehidupan dan masa depan saya dan orang-orang di sekitar saya,” tambahnya.
Contact tracing menjadi salah satu agenda penting berbagai pemerintah dunia dalam memutus rantai penyebaran Covid-19. Berbagai cara pun dilakukan, salah satunya dengan teknologi. Google dan Apple, dikabarkan telah menjalin komunikasi untuk membangun sistem contact tracing dengan memanfaatkan bluetooth.
Baca juga: Deretan Teknologi ini Berhasil Digunakan Cina untuk Melawan Virus Corona
Akan tetapi, dua raksasa teknologi tersebut tidak sendirian. Cina, sebagai negara sumber virus corona berasal, juga menerapkan hal serupa. Hanya saja, otoritas Beijing mengambil jalan lain, dengan memanfaatkan nomor KTP dan telepon warga.
Hal itu mudah bagi Cina. Sebab, hampir setiap aktivitas di masyarakat, seperti berbelanja, membeli handphone, dan banyak hal lainnya warga harus menyertakan KTP. Namun, sistem contact tracing bukan satu-satunya upaya otoritas Cina melawan corona, setidaknya ada tiga hal lain yang juga tak kalah penting yang dilakukan pemerintah. Dikutip dari abacusnews.com, berikut empat cara Cina untuk melakukan contact tracing.
1. Kode QR di Moda Transportasi Massal
Selama pandemi corona, kode QR menjadi umum ditemukan di Cina. Sebab, pemerintah memang melakukan upaya contact tracing melalui kode QR di moda transporatasi massal seantero negeri. Shanghai Metro, misalnya, kode QR berjajar rapi di seluruh jendela jaringan kereta bawah tanah tersebut.
Setiap penumpang dianjurkan untuk men-scan kode QR itu. Nantinya, bila terdapat kasus positif corona, siapapun yang pernah melakukan kontak dengan kasus yang terkonfirmasi, entah pernah berada dalam baris yang sama atau bahkan gerbong yang sama, akan menerima pesan berantai berisi peringatan kemungkinan terpapar Covid-19.
Namun, karena bersifat dianjurkan, belum jelas sejauh mana efektivitas sistem kode QR tersebut. Begitu pun juga dengan jaringan moda transportasi massal di darat, semua penumpang hanya diimbau untuk menscan kode QR tersebut.
2. Informasi Kesehatan Pribadi Berwarna Merah, Kuning, dan Hijau
WeChat dan Alipay dari Tecent merilis sebuah sistem contact tracing yang disebut kode kesehatan pribadi atau Alipay Health Code. Kode kesehatan tersebut berisi informasi kesehatan warga dengan beberapa indikator, merah tanda bahaya, kuning mungkin berisiko terpapar, dan hijau aman.
Sistem contact tracing tersebut terbangun dengan memanfaatkan big data dari nomor KTP dan handphone warga. Sama seperti kode QR yang tersebar di seluruh jaringan moda transportasi massal di Cina, Alipay Health Code juga nantinya akan memberikan informasi ke warga jika mereka pernah berada di area yang terdapat kasus positif corona. Jika seseorang berada dekat sekali dengan area tersebut, maka kode QR akan pada aplikasi tersebut akan berubah menjadi warna merah. Sebaliknya, jika berada agak jauh dan sangat jauh, maka kode QR akan menunjukka warga kuning dan hijau.
Alipay Health Code sudah diterapkan secara lokal di Kota Hangzhou timur. Setelah berhasil, sistem tersebut kemudian sedang disiapkan untuk diterapkan secara nasional.
3. Close Contact Detector
Pada bulan Februari, salah satu perusahaan BUMN, China Electronics Technology Group Corporation (CETC) meluncurkan program yang disebut “Close Contact Detector.” Seperti Alipay Health Code, program tersebut juga tersedia melalui aplikasi populer WeChat dan Alipay dengan memindai kode QR.
Program ini dikembangkan bersama dengan Dewan Negara dan Komisi Kesehatan Nasional Cina serta menghimpun data dari otoritas kesehatan dan transportasi Cina. Tak hanya itu, program tersebut juga terhubung dengan sistem dari Kementerian Keamanan Publik. Tetapi program ini masih terbatas karena tidak termasuk close contact detector di tempat-tempat seperti supermarket dan pusat perbelanjaan. Bila corona usai, sistem tersebut tetap akan digunakan untuk kebutuhan di masa depan.
Baca juga: Gunakan Aplikasi di Ponsel, Warga Cina Hindari Lingkungan Terinfeksi Virus Corona4. Propaganda di Media Sosial
Cina menjadi salah satu negara dengan sistem keamanan dan privasi yang cukup terjaga di dunia. Sebab, mayoritas media sosial di sana adalah buatan sendiri dan servernya juga berada di dalam negeri. Oleh karenanya, dengan memanfaatkan media sosial secara luas dan juga big datanya, propaganda dari mulut-ke-mulut menjadi salah satu agenda penting Cina selain teknologi untuk memutus mata rantai penyebaran corona.
Seluruh warga diimbau untuk memposting kapan mereka berangkat, di wilayah mana, dan plat nomor bus untuk memudakan contact tracing. Sistem ini sedikit banyaknya terbukti ampuh. Kantor berita nasional Cina, CCTV melaporkan, di Shanxi, setidaknya pemerintah butuh waktu hanya lima jam untuk menemukan 12 penumpang yang berada di bus ketika kasus positif corona terjadi.
Beberapa hari yang lalu warganet ramai membicarakan di media sosial soal dentuman misterius di malam hari. Pada umumnya, masing-masing dari mereka membagikan pengalamannya mendengar suara dentuman misterius tersebut dari berbagai wilayah di Indonesia.
Baca juga: X-59 QueSST, Pesawat Supersonik Rancangan NASA, Siap Unjuk Gigi Pada 2021
Menariknya, dentuman tersebut terjadi nyaris bersamaan dengan erupsi Gunung Anak Krakatau di Provinsi Lampung. Oleh karenanya, banyak dari warganet yang menduga bahwa dentuman misterius tersebut berasal dari erupsi Gunung Anak Krakatau.
Akan tetapi, pihak-pihak terkait kemudian buka suara yang pada intinya menegaskan bahwa dentuman tersebut bukan berasal dari gunung yang pernah menyebabkan Tsunami di Selat Sunda itu. Pernyataan tersebut mirip sekali sebuah lembaga geologi di Amerika dalam mengklarifikasi terkait fenomena serupa, dimana banyak warga di Amerika mendengar dentuman misterius atau yang biasa dikenal skyquake tersebut.
Seperti dikutip dari magicvalley.com, kala itu, ketika banyak warga Amerika mendengar skyquake, sekitar penghujung tahun 2017, USGS atau United States Geological Survey (semacam LIPI di Indonesia) banyak dihubungi masyarakat terkait fenomena tersebut. Namun, database mereka sama sekali tidak mencatat aktivitas seismik di daratan Amerika (AS). Sejak saat itu, berbagai sebutan untuk mewakili dentuman misterius skyquake pun bermunculan di Negeri Paman Sam, mulai dari Moodus Noises, Mysterious Booms, hingga “Seneca Guns”. Khusus untuk “Seneca Guns”, sebutan ini rupanya mempunyai nilai historis.
Sebelum skyquake terdengar dan membuat banyak warga AS heran, penduduk sekitar Danau Seneca di Pegunungan Catskill, New York, telah lama mendengar “Seneca guns”, yakni sebuah fenomena yang digambarkan oleh penulis James Fenimore Cooper pada 1851 sebagai suara yang menyerupai ledakan sepotong artileri berat, yang tidak dapat dijelaskan oleh hukum alam hingga kini.
Seperti yang dirangkum Science How Stuff Work, skyquake sering disebut-sebut sebagai dentuman yang berasal dari langit, maupun meteor jatuh. Suaranya mirip seperti meriam dan ledakan besar lainnya yang jatuh ke tanah.
Suara skyquake pernah beberapa kali terdengar di wilayah AS, Belgia, Bangladesh, Iran, Filipina, dan India di mana kota-kota yang berada di tepi laut Digha dan Mandarmani terdengar ledakan yang sangat keras sehingga menghancurkan jendela hotel. Begitupun dengan Jepang dan Australia di masa lampau.
Menurut Ilmuwan United States Geological Survey (USGS), Emeritus David Hill mengungkapkan ledakan misterius sudah terdengar selama bertahun-tahun di berbagai belahan dunia. Di Belgia, skyquake dikenal sebagai ‘pembohong’ sedangkan orang Italia menyebut mereka ‘brontidi.’
Suara dentuman juga bisa terjadi karena gempa bumi dangkal yang dapat menghasilkan suara yang dapat didengar tanpa guncangan. Ledakan gas metana yang dilepaskan dari metana hidrat juga bisa menjadi faktor dentuman teesebut. Atau meteor yang jatuh dari langit.
Seperti yang ditulis Hill, meteor yang menembus atmosfer dapat menciptakan gelombang sonik yang tidak akan mencapai permukaan Bumi sampai setelah meteor itu lenyap, sehingga hubungan antara keduanya tidak terlihat dengan mata telanjang.
“Memang benar bahwa mungkin ada beberapa penjelasan yang masuk akal untuk setiap kejadian tertentu dari suara ledakan misterius, dan bahwa lingkungan di mana suara itu terdengar akan menentukan mana dari penjelasan yang mungkin yang paling masuk akal. Suara yang terdengar di tengah padang pasir, misalnya, tidak mungkin disebabkan oleh ombak yang pecah,” kata Hill.
Baca juga: China Southern Jadi Maskapai Satu-satunya di Dunia yang Masih Terbangkan Airbus A380
Hill menambahkan bahwa sebagian besar suara dentuman terdengar dalam rentang yang terbatas, sehingga laporan kumpulan suara dentuman yang dipisahkan oleh jarak jauh kemungkinan besar berasal dari berbagai sumber. Mungkin saja termasuk suara dari meteorit yang meledak di atmosfer tinggi di atas Bumi atau pesawat terbang dengan kecepatan supersonik dalam jarak yang lebih jauh.
Akan tetapi, semua penjelasan tersebut tidak ada satupun yang mengklaim akurasinya secara jelas. Aritnya, ilmuan pun masih dibuat bingung terkait fenomena tersebut. Maka dari itu, tak heran bila warganet di seluruh dunia mengaitkannya dengan berbagai hal, mulai dari keluarnya dajjal, tanda-tanda kiamat, hingga keterlibatan makhluk luar angkasa atau alien.