Wali Kota Surabaya: Penumpang yang Turun di Bandara Juanda Harus Mandi dan Ganti Baju

Berniat mengunjungi Surabaya dalam waktu dekat dan di masa pandemi virus corona atau Covid-19? Bila Anda berniat mengunjungi kota berlambang Hiu dan Buaya ini menggunakan pesawat dan tiba di Bandara Internasional Juanda nantinya diharuskan mandi dan mengganti baju sebelum meninggalkan bandara. Baca juga: Emirates Jadi Maskapai Pertama Lakukan Rapid Tes Corona ke Seluruh Penumpang Hal ini tertulis dalam surat yang dikeluarkan oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini pada 7 April 2020 kemarin. Dalam surat tersebut yang ditujukan kepada Kepala Kantor Otoritas Bandara dan Direktur Utama PT Angkasa Pura I (AP I), Risma menuliskan bahwa dalam upaya pencegahan pandemi Covid-19 di Kota Surabaya, meminta bantuan untuk mengarahkan penumpang yang turun dari pesawat agar membersihkan diri. Dalam surat tersebut, dia menuliskan bahwa penumpang harus membersihkan diri dengan mandi dan berganti baju sebelum keluar dari area Bandara Internasional Juanda. Menanggapi hal ini, pihak AP I yang dihubungi KabarPenumpang.com mengatakan manajemen Bandara Internasional Juanda masih melakukan koordinasi dengan Wali Kota Surabaya dan Otoritas Bandara Wilayah III. “Kita lakukan koordinasi dengan Wali Kota Surabaya dan Otoritas Bandara Wilayah III mengenai implementasi permintaan bantuan dari Wali Kota Surabaya kepada pihak pengelola dan otoritas bandara untuk mengarahkan penumpang yang baru mendarat agar mandi dan mengganti baju sebelum keluar area bandara,” ujar Corporate Communication Senior Manager AP I Awaluddin. Dia menambahkan karena permintaan tersebut cukup berpengaruh terhadap operasional bandara, maka perlu didiskusikan lebih lanjut atau alternatif kegiatan. Awaluddin menyebutkan, pihaknya akan menyampaikan lebih rinci nantinya mengenai implementasi permintaan tersebut. Dengan adanya surat ini, bagaimana dengan warga tanggapan warga apakah ada yang keberatan atau setuju dengan adanya ini? KabarPenumpang.com mencoba menanyakan kepada warga Surabaya terkait surat tersebut jika kebijakan itu jadi diterapkan di Bandara Internasional Juanda. “Kasihan untuk yang tidak bawa ganti baju seperti saya,” ujar seorang warga Surabaya yang enggan disebutkan namanya. Baca juga: Pasca Pandemi Corona, Haruskah Seluruh Bandara Tetap Lakukan Pemeriksaan Suhu Tubuh? Sedangkan warga yang lain mengatakan tak masalah bila kebijakan tersebut dilakukan. “Kalau bisa sebelum ke kota atau kemana pun tujuannya naik pesawat, baiknya cek dan ricek dulu aturan di sana selama Covid-19 ini. Kalau harus mandi dan ganti baju di bandara ya dilakuin. Jadi baiknya cari informasi sebelum ke kota tujuan,” kata Wulansyabelle.

Ambil Foto dan Video di Toilet Umum, Awak Kabin Scoot Dipenjara dan Kena Denda

Seorang awak kabin maskapai Scoot Airlines dipenjara 12 minggu dan dikenakan denda sebesar S$3 ribu pada 16 Desember 2019 lalu. Awak kabin bernama Alton Keh Guan Qing dipenjara dan membayar denda akibat ulahnya sendiri yang mengambil video serta foto dari lebih sepuluh orang pria di toilet umum. Baca juga: Seperempat Awak Kabin Qantas Pernah Alami Pelecehan Seksual, Segelap Itukah Balik Layar The Flying Kangaroo? Dilansir KabarPenumpang.com dari channelnewsasia.com, pria 27 tahun tersebut mengambil klip pria-pria itu di toilet selama dua bulan di beberapa tempat seperti Chinatown Point dan Mall City Square. Sedangkan satu video lainnya yang menunjukkan dua pria terlibat aktivitas sosial tidak diketahui lokasinya. Dalam Pengadilan, Keh mengaku bersalah atas 14 dakwaan dimana sebagain besar karena membuat film cabul dan 28 dakwaan lainnya tengah dipertimbangkan hakim. Keh yang bekerja sebagai awak kabin maskapai berbiaya hemat ini ditangkap pada 5 Mei 2019 lalu. Saat itu dia yang berada di toilet pria tengah menunggu korbannya dan seorang pria berusia sekitar 35 tahun masuk ke toilet bawah tanah Mall Chinatown Point karena sakit perut. Asisten Jaksa Penuntut Umum Lydia Goh mengatakan, setelah selesai, pria tersebut mendengar suara dan melihat ke atas dan ada lensa kamera dari ponsel yang mengarah ke dirinya. Korban kemudian keluar dari bilik toilet dan menghampiri bilik disebelahnya dan mengambil ponsel dari Keh. Dia melihat di galeri tidak ada fotonya tetapi tidak menemukan video atau foto dirinya. Namun saat itu, ternyata dia menemukan ada video dan foto pria lain yang menggunakan toilet. Kemudian pria tersebut memanggil pihak kepolisian dan Keh ditangkap serta dibawa ke kantor polisi untuk penyelidikan. Keh mengakui pada petugas investigasi dia pergi ke toilet dan mengambil foto korban yang tengah buang air besar. Ketika dirinya sadar telah diperhatikan, dia menghapus foto korbannya. Karena hal tersebut ponselnya disita dan dikirim untuk pemeriksaan forensik. Foto dan video cabul itu memperlihatkan pria dalam berbagai momen pribadi saat menggunakan toilet. Lydia Goh meminta hukuman penjara 16 minggu dan denda, menunjukkan banyaknya tuduhan dalam kasus ini. Keh, yang memiliki kelainan voyeurisme, meminta hakim untuk berbelaskasih dalam menjatuhkan hukuman, mengatakan bahwa ia berharap mendapat kesempatan untuk memulai kembali dari awal. Dia menulis dalam permohonan mitigasi bahwa dia benar-benar menyesal dan tidak memiliki catatan kriminal sebelumnya. “Selama setahun terakhir, saya secara teratur menghadiri sesi psikoterapi di IMH dan sesi konseling profesional. Sesi ini sangat bermanfaat untuk mencapai akar masalah saya sehingga saya tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi,” katanya. Baca juga: Duh! Pesan Berbau Pelecehan Seksual Diterima Penumpang Lewat In-Flight Entertainment Dia menambahkan bahwa keluarganya menyadari situasi dan sangat mendukungnya. Scoot mengatakan bahwa tidak ada laporan tentang insiden serupa selama masa kerja Keh. Untuk setiap tuduhan membuat film cabul, ia bisa dipenjara hingga dua tahun, didenda maksimal S$40 ribu, atau keduanya. Untuk melakukan gangguan publik, ia bisa didenda hingga S$1000.

Yang Unik dari Turki, Kolonya Digunakan Sebagai Hand Sanitizer

Kepanikan karena virus corona (Covid-19) menyebar di berbagai belahan dunia, membuat hansanitizer atau pembersih tangan habis diborong dan membuatnya menjadi langka serta mahal. Ketika kelangkaan penjualan pembersih tangan ini terjadi di Amerika Serikat dan Eropa, orang-orang di Turki beralih ke aromatik tradisional yakni colonge atau kolonya untuk pembersih tangan. Baca juga: Lawan Covid-19, Samsung Luncurkan Jasa Pembersihan Smartphone Kolonya ini telah menjadi sombol keramahtamahan dan kesehatan Turki sejak kekaisaran Ottoman dan sering disebut sebagai aroma nasional Turki. Secara tradisional, kolonya ini beraroma manis dan dibuat dari bunga-bunga ara, melati, mawar atau jeruk yang di tuangkan di tangan para tamu ketika memasuki rumah, hotel dan rumah sakit.
Kolonya Turki (BBC)
Bahkan setelah selesai makan di restoran atau ketika berkumpul untuk perayaan agama. Tetapi tidak seperti aroma alami lainnya, kandungan alkohol tinggi ramuan berbasis etanol ini dapat membunuh lebih dari 80 persen kuman dan bertindak sebagai desinfektan tangan yang efektif. KabarPenumpang.com merangkum bbc.com (8/4/2020), Menteri Kesehatan Turki bahkan memperjuangkan kapasitas kolonya untuk melawan Covid-19. Ini karena kekuatan kolonya yang anti Covid-19 tersebut disebarkan oleh media nasional sehingga membuat antrian sepanjang 100 meter di apotek dan seluruh toko di Turki. “Sejak kasus virus korona pertama di Turki yang dikonfirmasi pada pertengahan Maret, penjualan kolonya telah meningkat sedikitnya lima kali lipat. Colonge efektif melindungi terhadap virus korona karena ketika mengandung setidaknya 60 persen alkohol, itu menghancurkan cangkang keras virus,” kata Dr Hatira Topaklı, seorang dokter keluarga di Istanbul. Topaklı juga mencatat bahwa disinfektan komersial tidak umum di Turki seperti di negara lain. Dia mengatkan, kolonya juga efektif karena merupakan sesuatu yang sudah dimiliki banyak orang dan merupakan bagian dari rutinitas sehari-hari mereka. Mereka tidak perlu belajar cara baru untuk melindungi diri dari virus ini. Untuk memenuhi permintaan aroma yang melonjak, pada 13 Maret pemerintah Turki berhenti membutuhkan etanol dalam bensin untuk meningkatkan produksi colonge dan desinfektan rumah tangga lainnya, khususnya untuk memerangi Covid-19. Menurut Kerim Müderrisoğlu, CEO Rebul Holding, yang memiliki Atelier Rebul, salah satu merek kolonya komersial tertua dan paling terkenal di Turki mengatakan produksi kolonya agak sederhana. Pertama, etanol murni dibuat dari fermentasi gandum, anggur, molase atau kentang dan dicampur dengan air suling. Kemudian, aroma alami seperti magnolia, lemon atau rosemary ditambahkan, dan dibiarkan duduk selama periode pematangan tiga minggu sebelum dibotolkan. Jauh sebelum kolonya, ada air mawar. Pada abad ke-19, eau de cologne berjalan di sepanjang rute perdagangan dari Cologne, Jerman, ke Kekaisaran Ottoman. Ketika Ottoman Sultan Abdülhamit II pertama kali menjumpainya, ia mengadaptasinya dengan memadukan tradisi air mawar dengan kebaruan wewangian berbasis alkohol asing untuk membuat kolonya. Dari segi bijak, tidak ada banyak perbedaan antara eau de cologne dan kolonya Turki. Keduanya menggunakan rasio etanol-terhadap-minyak-esensial yang hampir sama dan sering kali memasukkan minyak jeruk seperti jeruk dan lemon.
Toko kolonya di Turki pada masa Kekasisaran Ottoman (BBC)
Tetapi apa yang membuat kolonya begitu unik adalah bagaimana itu digunakan, baik secara budaya maupun praktis. Saat ini, Atelier Rebul masih menjual Rebul Lavanda, yang awalnya dibuat menggunakan lavender yang ditanam di kebun Reboul, dan Kerim memperkirakan bahwa penjualan kolonya meningkat delapan kali lipat sejak pandemi dimulai. “Ini adalah antiseptik dengan manfaat tambahan dari aroma kecantikan,” jelas Kerim. Mirip dengan berapa banyak kilang anggur yang dinamai sesuai dengan nama keluarga pemilik, kolonya juga memperlihatkan suasana kekeluargaan, dengan merek-merek paling mewah yang dinamai menurut pendiri. Menurut Kurumlu, merek kolonya keluarga menjadi sumber kebanggaan dan simbol status. Untuk mencerminkan hal ini, botol kolonya sering dirancang khusus dalam bentuk hiasan di pabrik kaca di Istanbul. Bahkan, beberapa botol dekoratif telah menjadi barang koleksi, dengan botol langka era Ottoman dijual sebanyak 5000 lira Turki (sekitar £600) di lelang. Di Istanbul, koleksi botol-botol yang didambakan ini dipajang melalui Koleksi dan Arsip Orlando Carlo Calumeno di Galeri Birzamanlar. Pada pertengahan abad ke-20, kolonya diproduksi pada skala industri untuk membuatnya dapat diakses dan terjangkau bagi massa. Hari ini ditemukan di hampir setiap rumah di Turki. “Memiliki kolonya di rumah Anda menjadi hal biasa seperti memiliki makanan di dalam lemari es. Biasanya orang menyimpan botol di kamar tidur, kamar mandi, dan ruang tamu, jadi tidak pernah di luar jangkauan. Itu juga menjadi alat penting untuk mengajarkan keramahtamahan di usia dini. Ketika saya masih kecil, itu adalah tugas saya untuk menyambut tamu dan memastikan mereka memiliki tiga barang tradisional Turki: kolonya, permen, dan rokok,” kata Elizabet Kurumlu, seorang pemandu wisata yang berbasis di Istanbul. Selain kualitas higienisnya, kolonya juga dipercaya memiliki manfaat kesehatan lainnya. Memercikkan beberapa tetes ke dalam kubus gula dikatakan membantu pencernaan, dan menggosoknya ke pelipis Anda bisa meredakan sakit kepala. “Setiap kali kami mengunjungi pasien di rumah sakit, kami akan membawa mereka kolonya atau sekantong jeruk,” kata Kurumlu. Baca juga: Marak Virus Corona, Wanita di Australia ini Timbun Tisu Toilet untuk Stok 12 Tahun! Bahkan sebelum Covid-19, industri kolonya masih terus berkembang. Secara tradisional, wewangian tersebut telah dijual di apotek, toko kelontong dan toko-toko, tetapi dalam dekade terakhir, merek-merek top Turki mulai membuka butik bata-dan-mortir mereka sendiri. Menurut Kerim, mereka berencana untuk membuka pabrik baru untuk memenuhi peningkatan permintaan yang disebabkan oleh Covid-19.

Emirates Jadi Maskapai Pertama Lakukan Rapid Test Corona ke Seluruh Penumpang

Emirates Airlines mengklaim pihaknya menjadi maskapai pertama di dunia yang melakukan rapid tes corona ke seluruh penumpang. Kepastian tersebut didapat setelah sebelumnya seluruh traveler yang terbang dari Bandara Internasional Dubai (DXB) menuju Tunisia pada, Rabu (15/4), mengikuti rapid tes yang bekerjasama dengan Otoritas Kesehatan Dubai (DHA), di terminal tiga DXB. Baca juga: Emirates Lakukan Tes Covid-19 Pada Seluruh Awak Kabin Seperti dikutip dari traveller.com.au, tak perlu menunggu lama, penumpang akan langsung diberitahu hasilnya sekitar 10 menit setelah tes dilakukan. Hasil tersebut kemudian akan menjadi dasar Emirates untuk memperbolehkan penumpang melanjutkan perjalanan atau tidak. Selain rapid tes, Emirates juga mewajibkan seluruh penumpang untuk memakai masker sebelum keberangkatan dan selama di pesawat. Penumpang yang dinyatakan negatif virus corona dan boleh melanjutkan perjalanan nantinya akan mendapatkan sertifikat sehat yang menyatakan bebas virus corona untuk dipergunakan saat masuk ke negara yang dikunjungi. Sebab, beberapa negara kini telah memberlakukan kebijakan baru perihal pandemi virus corona, di mana traveler harus menunjukkan sertifikat yang menyatakan dirinya bebas virus corona. Pada penerbangan Rabu lalu, Emirates tidak mengungkap berapa penumpang yang melakukan rapid tes corona dan bagaimana hasilnya. Namun, yang jelas, sejauh ini belum terdapat laporan penumpang yang batal berangkat bersama Emirates dalam penerbangan dengan menggunakan Boeing 777 tersebut. Itu berarti, besar kemungkinan, hasil rapid tes corona seluruh penumpang dinyatakan negatif. Mengingat pentingnya rapid tes corona, maskapai yang masuk dalam salah satu The Three Mega Carrier Timur Tengah tersebut, bersama Qatar Airways dan Etihad Airways, saat ini mengaku tengah mempertimbangkan untuk memperluas rapid tes. Bila kemarin hanya terbatas pada penerbangan ke Tunisia saja, ke depannya Emirates ingin melakukan hal serupa ke penerbangan lainnya. Tak hanya itu, melalui kepala operasionalnya, Adel Al Redha, Emirates juga tengah mempersiapkan diri untuk meningkatkan akurasi rapid tes corona. Pasalnya, saat ini, rapid tes yang dilakukan, berupa pengambilan sampel darah, hanya untuk memeriksa antibodi dan memantiknya agar bekerja sebelum virus Cina menyerang dan bukan menjadi indikator yang dapat diandalkan untuk memvonis penumpang positif atau negatif. “Kami sedang mengerjakan rencana untuk meningkatkan kemampuan pengujian di masa depan dan memperluasnya ke penerbangan lain. Kesehatan dan keselamatan staf dan penumpang di bandara tetap sangat penting,” ujar Adel Al Redha. Sementara itu, Direktur Jenderal Dubai Health Authority (DHA), HE Humaid Al Qutami, mengatakan untuk menangani COVID-19, pihaknya secara proaktif bekerja sama dengan berbagai organisasi pemerintah dan sektor kesehatan swasta. “Kami senang bekerja sama dengan Emirates untuk menyukseskan implementasi dari rapid tes COVID-19 di bandara untuk keberangkatan wisatawan,” kata Humaid Al Qutami. Baca juga: IATA: Maskapai Kehilangan Revenue dari Penumpang Sebesar 55 Persen Pihaknya juga telah menerapkan semua langkah yang diperlukan, mulai dari perlindungan kesehatan masyarakat hingga penyediaan layanan kesehatan berkualitas tinggi, sesuai dengan pedoman internasional terbaru. Sebagai informasi, selain maskapai, salah satu hub internasional utama di Asia Timur, Bandara Hong Kong, juga telah melakukan rapid tes corona ke seluruh penumpang yang baru tiba mulai 9 April lalu. Sama halnya seperti Emirates, secara resmi, hal itu menjadikan Bandara Hong Kong menjadi yang pertama di dunia dalam pemeriksaan virus Corona bagi penumpang.

Pertama Kalinya Jaringan Kereta India Berhenti Operasi Dalam 167 Tahun

Jaringan kereta api India untuk pertama kalinya dalam 167 tahun harus ditangguhkan. Hal ini dilakukan ketika Perdana Menteri Narendra Modi memberlakukan Lockdown sejak 25 Maret 2020 untuk mencegah meluasnya penyebaran virus corona (Covid-19). Kemudian Indian Railways mengambil langkah yang belum pernah terjadi sebelumnnya untuk menagguhkan kereta penumpang dan hanya menjalankan kereta barang. Baca juga: Selain Punya “Lifeline Express,” Indian Railways Sulap Gerbong Kereta Jadi Ruang Isolasi Pasien Covid-19 “Sekarang, kereta api akan menawarkan lingkungan yang bersih, bersih dan higienis bagi pasien untuk pulih dengan nyaman,” kata Piyush Goyal, Menteri Perkeretaapian dalam tweet-nya.
Bangsal isolasi gerbong kereta India (CNN)
Dirangkum KabarPenumpang.com dari cnn.com (6/4/2020), sebanyak 20 ribu gerbong kereta tua menjadi ruang isolasi untuk digunakan oleh pasien Covid-19. Bahkan bos kereta api telah menginstruksikan masing-masing dari 16 zona rel kereta api India untuk mengidentifikasi gerbong non-AC yang tidak lagi beroperasi pada rute penumpang untuk diubah menjadi rumah sakit dan siap digunakan dalam keadaan darurat. Rajesh Dutt Bajpai, direktur eksekutif informasi dan publisitas di Dewan Kereta Api mengatakan, sebanyak lima ribu bangsal isolasi pertama akan siap dalam dua mingu dan jika diperlukan, maka lebih banyak gerbong dapat dikonversi dalam 48 jam. Setiap gerbong yang disanitasi akan menampung hingga 16 pasien dan gerbong lainnya untuk para perawat, kabin dokter dan ruang untuk persediaan dan peralatan medis. Setelah selesai dikonversi menjadi bangsal rumah sakit, kereta ini akan dikirim ke lokasi yang kekurangan tempat tidur rumah sakit karena potensi lonjakan dalam kasus positif. Kehadiran bangsal isolasi di dalam kereta membuat Otoritas Kesehatan setempat akan menugaskan dokter, perawat dan sukarelawan pemerintah ke kereta. Pemerintah India juga menginstruksikan pabrik kereta api untuk menilai kelayakan pembuatan tempat tidur rumah sakit, tandu, troli medis, masker, pembersih, apron, dan peralatan medis seperti ventilator untuk digunakan di rumah sakit kereta api dan rumah sakit pemerintah lainnya. Sebenarnya kehadiran bangsal rumah sakit di dalam kereta bisa membantu india yang kekurangan tempat tidur di rumah sakit. Menurut OECD, India memiliki 0,5 tempat tidur rumah sakit yang tersedia untuk setiap 1.000 orang. Sebagian besar dari ini berkerumun di daerah perkotaan, dan ketersediaannya sangat berbeda antar negara. Di negara bagian Bihar timur, misalnya, ada 0,11 tempat tidur per 1.000 orang, sedangkan Benggala Barat memiliki 2,5 tempat tidur per seribu orang.
Pekerja merenovasi kereta jadi bangsal isolasi (CNN)
Cina memiliki rata-rata nasional empat tempat tidur rumah sakit per 1.000 orang – dan itu sebelum membangun rumah sakit 1.000 tempat tidur dalam 10 hari di provinsi Hubei, pusat penyebarannya. “Kami telah melihat apa yang telah dilalui Cina. Sangat penting untuk meningkatkan kepadatan ini, dengan cara apa pun dalam jangka pendek, dan lebih sistematis dalam jangka panjang, setelah wabah ini berakhir,” kata Shahid Jameel, seorang virolog dan CEO India. Dengan jumlah kasus positif Covid-19 meningkat, para ahli mengatakan kurangnya perawatan kesehatan masyarakat yang kuat tetap menjadi tantangan terbesar India. Baca juga: Perancis Kirim Pasien Corona Antar Kota dengan Kereta Cepat “Itu (bangsal isolasi di gerbong kereta) adalah inisiatif yang baik. Kereta Api dan Pemerintah harus dipuji karenanya. Tapi, ini hanya solusi jangka pendek. Ketika ini selesai (dan akan terjadi), biarkan ini menjadi peringatan untuk berinvestasi lebih banyak guna meningkatkan infrastruktur dan penelitian kesehatan,” kata Jameel, ahli virologi India.

IATA: Maskapai Kehilangan Revenue dari Penumpang Sebesar 55 Persen

Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) belum lama ini telah merilis analisis terbaru. Analisis tersebut menunjukkan, lesunya penerbangan akibat pandemi corona akan menyebabkan maskapai kehilangan sekitar US$314 miliar pada tahun 2020, atau turun hingga 55 persen jika dibandingkan dengan tahun 2019. Baca juga: IATA: Penumpang di Eropa Turun 38 Persen dan Maskapai Bakal Kehilangan US$76 Miliar Seperti diberitakan internationalairportreview.com, angka tersebut merupakan sebuah revisi dari perkiraan sebelumnya, dimana IATA memperkirakan akan adanya profit loss $252 miliar atau 44 persen (bila dibandingkan tahun lalu) imbas virus Cina. IATA mengatakan, bahwa pihaknya telah senantiasa mengikuti perkembangan terkini terkait pembatasan perjalanan yang diberlakukan di banyak negara selama tiga bulan belakangan. Selain itu, menurut IATA, munculnya angka penurunan hingga 55 persen juga disumbang dari perkembangan ekonomi global. Dalam amatannya, PDB dunia diperkirakan akan menyusut hingga enam persen. Padahal, PDB selama ini kerap menjadi acuan. Singkatnya, pergerakan penumpang sangat tergantung dari pergerakan PDB. Bila turun, maka pergerakan penumpang juga akan ikut turun, begitupun juga sebaliknya. Saat ini, dunia memang sedang menuju jurang resesi terburuk sejak hampir 90 tahun yang lalu dan salah satunya juga disebabkan dengan maraknya pembatasan perjalanan di seluruh dunia. Diperkirakan, dampak terburuk baru akan terasa pada kuartal II 2020, yakni pada April-Juni mendatang. Terbukti, pada awal April kemarin, frekuensi penerbangan secara global turun hingga 80 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2019. Sebagian besar karena pembatasan perjalanan yang ketat yang diberlakukan oleh pemerintah dunia untuk membatasi penyebaran virus. “Prospek industri semakin gelap dari hari ke hari. Skala krisis membuat pemulihan berbentuk V yang tajam hampir tidak mungkin. Secara realistis, ini akan menjadi pemulihan berbentuk U dengan perjalanan domestik kembali lebih cepat daripada pasar internasional. Kita bisa melihat lebih dari setengah pendapatan dari penumpang hilang mencapai $314 miliar,” kata CEO IATA, Alexandre de Juniac. Baca juga: Selamatkan Industri Penerbangan, APEX Serukan Pemerintahan Global Kucurkan ‘Bantuan’ Rp3.805 Triliun! “Beberapa pemerintah di dunia sebetulnya telah memberikan paket stimulus ekonomi ke maskapai di negara masing-masing, namun hal itu belum cukup untuk mengeluarkan maskapai dari jurang krisis. Maskapai penerbangan pada umumnya hanya bisa bertahan dengan cadangan kas perusahaan hingga akhir kuartal II atau Juni. Hal itu menyebabkan sekitar 25 juta pekerja terancam PHK. Bila tak ada langkah konkret, maskapai akan bangkrut,” lanjutnya. Oleh karenanya, IATA mengusulkan beberapa langkah untuk melindungi maskapai-maskapai di dunia, mulai dari kompensasi berupa potongan pajak dengan segera oleh pemerintah global atas pajak industri penerbangan, akses pinjaman jangka menengah dan jangka panjang tanpa bunga untuk menyediakan likuiditas atau kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban (utang) jangka menengah dan panjang, hingga tuntutan kepada bank dunia dan bank sentral agar menyediakan likuiditas yang dibutuhkan dalam bentuk dana pendamping dan pinjaman yang cukup untuk pemerintah yang membutuhkan.

Di India Ada Stasiun Kereta Tanpa Nama

Jaringan kereta api India merupakan yang terbesar keempat di dunia dalam panjang rutenya. Bahkan Indian Railways yang merupakan operator kereta api di India juga menjadi salah satu yang terbesar di dunia. Sekitar 50 persen rute dilistriki dengan 25 kV 50 Hz AC traksi listrik sementara 33 persen di antaranya adalah ganda atau multi-tracked. Baca juga: Sajikan Hidangan Hangat dan Bersih, Stasiun Central Mumbai Hadirkan Mesin Penjual Makanan Otomatis Nah, biasanya setiap stasiun di India atau di dunia memiliki nama, baik yang di ambil dari nama kota, sungai atau yang lainnya. Di negeri yang terkenal dengan Bollywood-nya, ternyata ada satu stasiun yang tidak memiliki nama dari hampir sekitar 8000 stasiun. Padahal banyak stasiun di India yang cukup terkenal. Penasaran kenapa stasiun ini tak memiliki nama? KabarPenumpang.com dari laman orissapost.com (21/2/2020), mungkin Anda akan terkejut akan alasan tidak adanya identitas dari stasiun itu. Stasiun tanpa identitas tersebut letaknya berada sekitar 35 km dari Bardhaman di Benggala Barat. terletak di jalur Bankura dan Massagram, stasiun ini terletak di antara dua desa yakni Raina dan Rainagarh. Awalnya stasiun ini memiliki nama dan dikenal dengan Rainagarh. Namun penduduk desa Raina tidak suka dengan ini karena mereka mengatakan, stasiun tersebut dibangun di atas tanah desa Raina. Penduduk desa Raina percaya bahwa stasiun ini harus dinamai Raina bukannya Rianagarh. Karena masalah ini, kemudian terjadi pertengkaran di antara dua penduduk desa. Adanya perselisihan nama stasiun tersebut terdengar hingga ke operator kereta api. Setelah perselisihan, Indian Railways kemudian menghapus nama stasiun dari semua papan tanda yang di pasang di sana. Hal ini kemudian membuat banyak penumpang bingung dan bermasalah. Baca juga: Stasiun di India Punya Ruang Tunggu Megah yang Mampu Tampung 500 Penumpang Namun meski tak lagi tanpa nama, penumpang dibuat sedikit tak khawatir untuk turun di daerah tersebut. Sebab Indian Railways masih mengeluarkan tiket untuk stasiun tanpa nama tersebut dengan nama lamanya yakni Rainagarh. Nah, kalau di Indonesia ada yang seperti ini, Anda akan bagaimana ya?

Pasca Pandemi Corona, Haruskah Seluruh Bandara Tetap Lakukan Pemeriksaan Suhu Tubuh?

Pandemi corona telah benar-benar mendorong teknologi untuk hadir di berbagai lini, tak terkecuali bandara. Tak lama setelah Corona menyebar luas di Cina dan Timur Tengah, hampir seluruh bandara-bandara di kedua wilayah tersebut dan bandara lainnya di seluruh dunia berlomba-lomba untuk melengkapi ‘gerbang’ masuknya wisatawan dari seluruh dunia dengan thermal screening (thermal scanner). Baca juga: Timeline Teknologi Body Scanner di Bandara, dari Isu Gender Hingga Cegah Corona Akan tetapi, selama masa pandemi virus Cina, thermal screening memang kerap menuai pro-kontra. Banyak kalangan yang kemudian mempertanyakan kemampuan teknologi yang dikembangkan mulai tahun 2017-an tersebut. Pasalnya, di beberapa kasus, penumpang yang jelas-jelas mengalami demam, kemudian mengkonsumsi obat demam sebelum melewati thermal scanner, dapat dengan mudah melalui titik-titik pemeriksaan tanpa sedikit pun halangan. Terlebih, sekalipun penumpang yang mengidap demam tidak mengkonsumsi obat untuk melewati titik pemeriksaan thermal scanner, di banyak kasus, pasien positif corona justru ditemukan tanpa ada gejala apapun, seperti batuk, demam, atau bahkan sesak pernapasan. Sekilas, 100 persen terlihat sangat sehat. Namun, setelah dites, baik tes pertama maupun tes konfirmasi atau confirmation test, pasien tersebut dinyatakan mengidap corona. Oleh sebab itu, dalam penggunaannya (thermal scanner) terhadap Covid-19, kemampuan teknologi tersebut untuk menangkal corona mungkin membutuhkan pengembangan lanjutan agar benar-benar bisa menangkal jauh lebih baik dari apa yang sudah dilakukan selama masa pandemi corona belakangan ini. Bebagai persoalan itulah yang kemudian, sedikit banyaknya, mendasari Bandara Heathrow, London, Inggris, dan bandara lainnya di Negeri Ratu Elizabeth tersebut untuk tidak menyediakan thermal scanner. Seperti dikutip dari Simple Flying, dalam sebuah wawancara di The Times, CEO Bandara Heathrow, John Holland-Kaye coba menjelaskan mengapa pihaknya tidak memasang thermal scanner. Namun, sebelum itu, secara prinsip, ia sebetulnya dapat memahami keraguan penumpang yang mungkin berpikir mereka berangkat dengan melewati thermal scanner dan tiba di bandara tujuan (Bandara Heathrow) tanpa melaluinya kembali. Menurut John, sebetulnya, penggunaan thermal scanner di bandara-bandara di seluruh dunia hanya membantu untuk memberikan kepastian (keamanan terhadap virus corona) yang pada akhirnya memberikan keyakinan lebih hingga berujung pada rasa nyaman selama dalam penerbangan. Tetapi, dalam kaitannya dengan pencegahan, hal tersebut tidak sepenuhnya terjadi. Baca juga: Cegah Virus Cacar Monyet di Indonesia, Beberapa Bandara Siapkan Thermal Detector Guna membuktikan hal itu (thermal scanner tak sepenuhnya dapat menangkal corona), baru-baru ini sebuah tes dilakukan pada sekelompok orang yang terinfeksi di Islandia. Hasilnya, para peneliti menemukan bahwa 50 persen dari mereka yang diuji tidak menunjukkan gejala apapun. Otomatis, begitu mendekati thermal scanner, mereka akan melaluinya dengan mudah. Maka dari itu, dengan berbagai kekurangan tersebut, serta berkaca pada pengalaman, dimana virus cacar monyet pada 28 April 2019 lalu sempat membuat banyak otoritas bandara memperketat pengawasan dengan thermal scanner dan tak dilanjutkan ketika wabah tersebut sirna, besar kemungkinan teknologi tersebut tidak akan menjadi salah satu mekanisme baru yang wajib dilakukan pasca corona usai.

Karyawan Airbus Banting Setir Jadi Relawan Medis Selama Pandemi Corona

Wabah corona telah mengubah banyak hal. Tak terkecuali dengan Mike Wright. Bila biasanya ia bergelut dengan komponen-komponen pesawat di fasilitas perakitan Airbus di Broughton, Wales Utara, kini ia bersama rekan-rekannya dari komunitas Merseyside and Cheshire Blood Bikes (MCBB) lebih disibukkan dengan aktivitas sosial. Baca juga: Kargo di Kabin Penumpang Bikin Pramugari Beralih Fungsi Jadi ‘Petugas’ Pemadam Kebakaran Dikutip dari deeside.com, sebetulnya Mike sudah bergabung dengan komunitas tersebut sejak 18 bulan lalu. Namun, keinginannya untuk terus aktif terkadang sempat terhalang dengan pekerjaan, khususnya sebelum wabah corona menyerang akhir Desember lalu. Saat itu (sebelum wabah corona merebak), Airbus memang tengah mengalami lonjakan pesanan pesawat baru yang cuku tinggi. Tak heran bila Mike dibuat sibuk karenanya. Akan tetapi, sejak Eropa menjadi titik episenter baru virus Cina, ditambah adanya kasus Corona yang menjangkiti karyawan Airbus, produsen pesawat tersebut pun perlahan mulai menghentikan sementara proses produksi. Otomatis, karyawan diliburkan untuk sementara waktu. Kesempatan itulah yang kemudian coba dimanfaatkan Mike untuk lebih aktif menjadi sukarelawan, dalam hal ini memberikan pasokan medis ke The National Health Service (NHS) di Inggris. “Saya telah menjadi pendonor darah selama 40 tahun dan saya mendekati sumbangan ke-108 saya pekan depan. Teman-teman MCBB sudah jauh lebih dari itu. Awalnya, saya hanya coba berbincang dengan sukarelawan dari komunitas MCBB di rumah sakit setempat dan dari sanalah awal mula saya bergabung. Saya suka sepeda motor. Saya sudah mulai mengendarainya sejak usia 13 tahun,” ujar Mike “Biasanya, contact person dari MCBB menerima telepon dari rumah sakit dan meminta kami untuk mengumpulkan suplai emergency. Bisa berupa apa saja, mulai dari darah, ASI, peralatan medis, atau medical notes. Contact person MCBB kemudian menghubungi anggota, termasuk saya untuk memberi arahan apa yang harus diambil dan ke mana harus mengambilnya,” lanjut Mike. Selama pandemi corona, Mike mengaku berjibaku hampir sepanjang hari, tak kenal siang ataupun malam. Sebetulnya, sekitar 100 anggota MCBB bebas memilih waktu untuk berkotribusi, pagi, siang, ataupun malam, dalam rentang durasi 3-40 jam. Adapun Mike, selagi mampu dan sempat, ia tak mau menyianyiakan momen ini untuk mengambil durasi maksimal semata untuk membantu kebutuhan pasokan medis NHS. Jauh sebelum benar-benar terjun ke lapangan, berjibaku sepanjang hari hingga 40 jam kerja, para anggota sudah lebih dahulu menjalani serangkaian tes, mulai dari ketahanan fisik, kemahiran dalam berkendara, hingga safety riding. Tak heran, bila pria lansia seperti Mike mampu menjalani tugas berat sebagai sukarelawan karena mereka adalah orang-orang pilihan. Mike mengaku, apa yang ia lakukan sudah mendapat restu dari Airbus, selaku perusahaan tempatnya bekerja. Bahkan, Airbus sangat mendukung aktivitasnya tersebut dan rutin mengadakan kegiatan donor darah secara reguler di Broughton, untuk kemudian di salurkan ke NHS. Baca juga: Maskapai Swedia dan Inggris Dorong Awak Kabin Jadi Relawan Rumah Sakit Selama Pandemi Meskipun ia sudah cukup uzur untuk terus berjuang seperti sekarang ini, berjibaku sepanjang hari mencapai 40 jam atau dua hari non stop, ia mengaku senang atas apa yang ia kerjakan. Telebih ketika ia mendapatkan kabar gembira dari NHS bahwa banyak pasien tertolong berkat kerjasama dengan dirinya dan MCBB. “Tapi saya suka membantu orang. Itu ditanamkan dalam diri saya ketika saya berada di Angkatan Bersenjata meskipun sebagai cadangan. Perasaan bangga, haru, dan tak bisa dijelaskan dengan kata-kata kerap saya rasakan ketika pihak rumah sakit memberitahu bahwa saya bisa membuat perbedaan besar bagi kehidupan seseorang,” tutup Mike.

Usai Pandemi, Rencanakan Berlibur di Flotel Yuk

Hotel terapung atau biasa disebut flotel banyak terdapat di berbagai negara. Salah satunya adalah Kepulauan Maladewa atau orang sering mengenalnya dengan Maldive Island. Selama masa karantina untuk mencegah penyebaran lebih luas pandemi virus corona atau Covid-19 ini, Anda bisa merencanakan berlibur setelah semuanya ini selesai. Meski tak bisa langsung menikmatinya, setidaknya Anda bisa mencari lokasi flotel yang akan dikunjungi. Baca juga: Spektakuler! Inilah 5 Pesiar Sungai Terindah di Dunia KabarPenumpang.com merangkum laman asiaone.com (14/4/2020), ada beberapa flotel yang bisa dikunjungi ketika nantinya pandemi ini berakhir. Berikut beberapa diantaranya yang bisa dipilih untuk melepaskan kepenatan usai pandemi.
Berbagai macam flotel (Asia One)
Apartemen Cantamara (Novi Sad, Serbia) Apartemen ini merupakan rumah di atas sungai dan masing-masing unit tak hanya kamar tidur tetapi ada salon, kamar mandi dan aula dengan ruang penyimpanan. Setiap apartemen bisa menampung dua hingga empat orang bahkan ada platform pantai untuk akses air. Aqua Mekong (Kamboja, Vietnam) Pada dasarnyqa kapal pesiar sungai dengan fasilitas kamar tidur. Kapal ini menawarkan 20 suite ber-AC yang luas dengan jendela ukuuran penuh dan menawarkan pemandangan saat Anda berlayar menyusuri Sungai Mekong dari kamboja ke Vietnam. Off (Seine, Paris) Ini merupakan hotel dan bar pertama di atas air di Paris yang menawarkan 54 kamar, empa suite, bar, kolam renang kecil dan marina di antara fasilitas lainnya. Hotel ini bahkan memiliki pemandangan tepi kiri dan kanan Paris yang memperlihatkan kehidupan di sebelah Seine dan Stasiu Gare d’Austerlitz yang bersejarah. The Manta Resort, Tanzania Pada pandangan pertama, sebuah kamar di The Manta Resort terlihat hampir seperti kelong yang sangat mendasar. Namun keajaiban adalah apa yang ada di bawah permukaan, dengan kamar tidur bawah laut yang menawarkan pemandangan laut yang indah. The FloatHouse River Kwai (Kanchanaburi, Thailand) Hotel terapung di sepanjang Sungai Kwai yang ikonis di Thailand ini terlihat seperti tempat peristirahatan yang sangat indah di provinsi Kanchanaburi, dikelilingi oleh hutan hijau yang lebat. Hotel terapung ini dilengkapi dengan fasilitas makan dan spa sendiri, sebuah butik yang mewah dengan akses langsung ke sungai ini terinspirasi oleh pengalaman hidup lokal.
Macam-macam flotel di dunia (Asia One)
Telunas Private Island dan Telunas Beach Resort (Indonesia) Ternyata di Indonesia juga ada flotel ini di mana Anda bisa menikmati pengalaman resort pulau pribadi di atas air tepatnya di Telunas Private Island atau Telunas Beach resort hanya 50 km selatan Singapura (atau sekitar tiga jam perjalanan jauhnya). Untuk sampai di pulau ini, pelancong bisa naik kapall ferry ke Batam diikuti dengan naik perahu 1,5 jam ke pulau. Vila-vila dan bungalow yang berada di atas air menawarkan pemandangan laut yang menakjubkan, dengan pantai-pantai pribadi dan kegiatan unik di pulau itu. Arctic Bath Hotel (Swedia) Kabin di atas air terlalu konvensional? Bagaimana dengan hotel di atas es? Retret Nordic yang tenang di tengah-tengah lanskap bersalju yang indah ini terdiri dari berbagai akomodasi mewah, termasuk apartemen loteng kayu, suite kabin, dan kamar ganda reguler. Resor ini tidak hanya membanggakan beragam sauna dan fasilitas mewah, tetapi juga memiliki salah satu pemandangan terbaik dari Cahaya Utara di seluruh Swedia. Baca juga: Garap Wisata Bahari, Pelni Canangkan Layanan Kapal Pesiar Guntû (Tokyo, Jepang) Merupakan hotel terapung dalam arti sebenarnya, oasis eksklusif dengan 19 kamar ini mengapung di Laut Pedalaman Seto. Dilengkapi dengan onsens, ruang perawatan, dan ruang makan termasuk meja dan bar sushi.