Unik! Qamdo Bangda Airport Punya Runway Terpanjang di Dunia dengan Cuaca Ekstrem Hampir Sepanjang Tahun

Pegunungan identik dengan pemandangan indah. Namun, di Cina, tepatnya di Desa Bamda (Bangda) Prairie, Prefektur Qamdo, Tibet, pegunungan justru identik dengan bandara. Sebab, bandara tersebut bukan bandara biasa, melainkan bandara yang memiliki runway terpanjang di dunia. Bandara tersebut adalah Qamdo Bamda Airport. Baca juga: Panjang Bak Macet di Ibukota, Ini Dia Deretan Runway Terpanjang di Dunia! Selain meraih gelar sebagai bandara dengan runway terpanjang di dunia, mencapai 5.500 meter, bandara yang terletak di Pegunungan Hengduan tersebut sebelumnya juga sempat meraih predikat sebagai bandara tertinggi di dunia, dengan berada di ketinggian 4.334 meter di atas permukaan laut (mdpl), sebelum akhirnya digeser pada 2013 lalu oleh bandara lainnya di Cina, Bandara Daocheng Yading di Provinsi Sichuan, yang berada di ketinggian 4.411mdpl. Akan tetapi, jangan berburuk sangka dahulu. Dibuatnya runway sepanjang itu bukan untuk mengejar rekor, apalagi untuk unjuk gigi. Terdapat alasan teknis dibalik semua itu. Ketinggian yang ekstrem ternyata mempengaruhi kinerja mesin pesawat. Pada ketinggian ektrem, biasanya, udara menjadi sangat tipis sehingga putaran mesin menjadi lebih lambat dari biasanya, sehingga diperlukan runway panjang untuk ‘mengobati’ masalah kinerja tersebut. Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai laman, Bandara Qamdo Bangda mulai dibangun pada tanggal 2 Desember 1992. Kemudian, pada 2007 lalu, bandara ini melakukan rekonstruksi dan pengembangan dengan memperbaiki runway dan membangun terminal baru seluas 5.018 meter persegi. Selama 22 Juni hingga 15 Juli 2013 silam, bandara Qamdo Bangda juga sempat ditutup untuk memudahkan proses pemeliharaan runway. Sepanjang tahun, bandara yang terletak bersebelahan dengan Pegunungan Himalaya tersebut bisa dikatakan selalu diselimuti cuaca ekstrem. Bayangkan saja, setidaknya sembilan bulan penuh cuaca di sekitaran memiliki suhu rata-rata di bawah titik beku, mencapai minus 20 derajat celcius. Adapun tiga bulan sisanya, seiring perubahan iklim global, terkadang cuaca ekstrem juga kerap terjadi. Memang tidak lebih dingin dibanding Antartika atau Tomsk, Rusia, yang memiliki titik beku sampai minus 50 derajat. Namun, bagi dunia penerbangan, suhu tersebut tentu sudah sangat menyulitkan. Hal itu belum termasuk berbagai gangguan lainnya yang mungkin bisa sangat membahaykan dunia penerbangan, seperti kecepatan angin hingga 30 meter per detik, serta level oksigen yang hanya dikisaran 50 persen dari permukaan laut. Tak cukup sampai di situ, berada di wilayah pegunungan juga membut cuaca di sekitaran bandara kerap berubah dalam hitungan menit atau jam, khususnya di musim dingin dan semi. Dengan berbagai kerumitan tersebut, tak heran bila bandara dengan kode BPX untuk IATA dan ZUBD untuk ICAO tersebut tak banyak melayani penerbangan. Hingga saat ini, Bandara Qamdo Bangda hanya membuka lima rute penerbangan ke beberapa kota di Cina. Akibatnya, tiket pesawat dari dan ke Qamdo pada musim-musim liburan, khususnya puncak liburan musim dingin mulai November hingga Februari, sangat sulit didapat. Kota-kota terkenal seperti Chengdu, Chongqing, Lhasa biasanya memiliki satu penerbangan langsung setiap hari ke Qamdo. Di luar ketiganya, penerbangan tak berjadwal dari Tianjin dan Anhui Fuyang terkadang juga ditawarkan, terutama pada puncak musim dingin atau hari tertentu lainnya. Baca juga: Courchevel, Bandara Ekstrem di Adegan James Bond “Tomorrow Never Dies” Di antara ketiga kota yang melayani penerbangan langsung berjadwal tersebut, Chengdu dan Chongqing adalah hub paling populer ke Qamdo. Alasannya, selain waktu tempuh hanya kurang lebih dua jam, kedua bandara tersebut juga memiliki jaringan rute domestik dan internasional yang lebih sering dibanding Lhasa. Namun demikian, sekalipun hub favorit ke Qamdo menawarkan waktu tempuh rata-rata dua jam, tetap saja, dengan berbagai ‘keunikan’ bandara tersebut, harga tiket pergi ke sini jauh lebih tinggi dibanding bandara lain di Tibet. Jangan menunggu momen diskon besar-besaran ke wilayah ini karena hampir tidak ada diskon sepanjang tahun. Alasannya simpel, jarangnya penerbangan, kondisi medan yang sulit, dan besarnya biaya fasilitas di bandara tersebut rasanya sangat relevan dengan mahalnya tiket.

Otoritas Rusia Rilis Video Kecelakaan Sukhoi SSJ100 yang Tewaskan 41 Penumpang

Otoritas Rusia akhirnya merilis video rekaman CCTV detik-detik terjadinya kecelakaan fatal pesawat Sukhoi SSJ100 milik Aeroflot pada 5 Mei 2019 silam. Dalam rekaman tersebut, terlihat pesawat tersebut melakukan hard landing (rough landing) atau pendaratan keras, memantul dua kali, sebelum akhirnya terbakar. Baca juga: Hard Landing Vs Soft Landing, Mana Lebih Baik? Dilhat KabarPenumpang.com dari rekaman yang beredar, hard landing yang dilakukan pilot membuat pantulan layaknya ikan lumba-lumba yang timbul dan tenggelam di lautan. Pada saat pendaratan pantulan kedua itulah bagian belakang pesawat bersinggungan langsung dengan aspal akibat landing gear pesawat tak berfungsi. Gesekan antara lambung pesawat dengan aspal, ditambah pesawat masih dalam keadaan cukup cepat dan membawa muatan penuh bahan bakar, membuat percikan api tak terhindarkan hingga akhirnya melahap hampir separuh lebih pesawat. https://www.facebook.com/RTnews/videos/2517858248544042/?t=4 Atas kejadian itu, setidaknya, ada 41 korban meninggal dari total 78 penumpang yang turut dalam penerbangan nahas ini. Proses yang begitu cepat, disinyalir membuat penumpang di bagian belakang pesawat tak memiliki cukup waktu untuk menyelamtkan diri. Terlebih, pesawat sudah mulai terbakar saat masih dalam proses pengereman (autobrake). Artinya, tak ada waktu dan ruang untuk penumpang di bagian belakang pesawat. Sebab, di bagian depan hingga tengah, otomatis sudah penuh sesak oleh penumpang lainnya yang panik. Dikutip dari abc.net.au, pesawat dengan nomor penerbangan SU1492 awalnya mengudara dari Bandara Sheremetyevo sekira pukul 18.03 waktu setempat. Namun tak lama berselang – sekitar delapan menit mengudara, pilot pesawat tersebut melaporkan adanya kegagalan salah satu sistem (radio failure) akibat tersambar petir. Kondisi semakin parah ketika pada pukul 18.25 waktu setempat, sang pilot menyatakan kondisi darurat dan meminta akses untuk melakukan Return to Base. Tak lama berselang, ATC bandara mengaku loss contact dengan pesawat nahas tersebut. Menteri Transportasi Rusia, Yevgeny Dietrich menyebutkan bahwa petugas darurat di lapangan yang membantu proses evakuasi menemukan 41 jenazah dari dalam tubuh pesawat – dimana kebanyakan dari jenazah ini berada dalam kondisi mengenaskan akibat terbakar. Di antara sejumlah jenazah yang ada, Yevgeny menyebutkan bahwa salah satunya adalah seorang awak kabin yang bernama Maxim Moiseev.
Maxim Moiseev sendiri ditemukan di bagian belakang pesawat dan tetap memilih berada di dalamnya bahkan ketika si jago merah melalap bagian belakang pesawat. Menurut salah satu narasumber yang menjadi saksi dari kejadian nahas ini mengatakan bahwa Maxim tampak berusaha untuk membuka pintu darurat ketika akses menuju bagian depan tersendat – guna mempercepat proses evakuasi. Baca juga: Sukhoi SJ100 Aeroflot Jatuh di Moskow, Akankah Pengaruhi Rencana Akuisisi Merpati Airlines? Dari hasil penyelidikan, tim penyidik menemukan, sang pilot, Denis Evdokimov, dinyatakan bersalah hingga menyebabkan hilangnya nyawa. Pilot bersalah karena dianggap lalai yakni mendaratkan pesawat dengan sangat keras. Namun, tidak disebutkan berapa besaran hard landing saat itu. Seharusnya, tim penyidik dapat melihat hal tersebut di Flight Data Recorder (FDR) pesawat untuk memastikan besaran hard landing saat landing gear menghantam runway. Adapun untuk pesawat seukuran Sukhoi SSJ100, kemungkinan besar, batasan hard landing hanya dikisaran 2.0G. Mendengar dirinya dituding menjadi pihak yang paling bertanggungjawab, Evdokimov pun buka suara. Ia mengaku telah mengikuti prosedur pendaratan dalam kondisi tangki bahan bakar penuh. Namun, ia tak mengelak bahwa tidak ada bahan bakar yang dibuang untuk meringankan pesawat sebelum benar-benar mendarat. Di sinilah letak kesalahan sang pilot. Dalam penerbangan, prosedur membuang bahan bakar sebelum landing sangat umum ditemui.

Kapal Penumpang di Swedia Dikonversi jadi Rumah Sakit

Setelah India yang mengkonversi gerbong kereta mereka untuk bangsal rumah sakit dalam membantu kekurangan kamar untuk pasien terinfeksi virus corona atau Covid-19. Saat ini Stena Roro yang berkantor pusat di Gothenburg, Swedia juga sudah menyiapkan desain untuk konversi kendaraan besar seperti kapal penumpang Stena Saga menjadi kapal rumah sakit. Baca juga: Pertama Kalinya Jaringan Kereta India Berhenti Operasi Dalam 167 Tahun Nantinya kapal ini bisa membuat bangsal yang bisa menampung 520 pasien. Konversi kapal ini sendiri dikatakan Stena Roro akan selesai dalam beberapa minggu. KabarPenumpang.com melansir laman marinelog.com (14/4/2020), pengkonversian kapal Stena Saga ini karena layanan penumpang dari Oslo menuju ke Fredrikshamn ditutup karena wabah Covid-19. Selain itu juga karena ada pembatasan perjalanan yang diberlakukan oleh beberapa negara. Hal inilah yang kemudian membuat Stena Line memindahkan kapal Stena Saga ke perusahaan saudarinya yakni Stena Roro yang memiliki spesialis dalam mengubah dan mengadaptasi kapal agar sesuai persyaratan dan kebutuhan. Selain itu, Stena Roro juga ternyata memiliki pengalaman yang cukup dalam membangun sebuah kapal rumah sakit. “Di galangan kapal di Cina, saat ini kami sedang membangun kapal rumah sakit sipil terbesar di dunia, Global Mercy, atas nama badan amal internasional Mercy Ships. Manajer proyek kami untuk Global Mercy kembali di Swedia dan akan memimpin kemungkinan konversi Stena Saga,” kata Per Westling, CEO untuk Stena RoRo. Stena Saga sendiri memiliki lebih dari 590 kabin penumpang dan menurut desain yang disiapkan akan ada ruang untuk 520 pasien. Manajer proyek Stena Roro, Rikard Olsson mengatakan, untuk memenuhi persyaratan perawatan medis, pihaknya perlu membangun kembali sistem ventilasi, memasang alarm dan sistem komunikasi. “Kami juga mengubah perabotan interior. Selain itu, pasien dan kru harus dapat dipisahkan. Kita bisa melakukan apa yang perlu dilakukan dalam dua hingga tiga minggu,” kata Olsson. Namun kapal yang dikonversi ini tidak akan dilengkapi untuk perawatan insentif. Westling mengatakan, idenya adalah untuk memberikan perawatan bagi pasien covid-19 yang membutuhkan perawatan di rumah sakit yang tidak insentif. “Mungkin juga ada kebutuhan tempat tidur untuk pasien yang meninggalkan perawatan intensif tetapi masih memerlukan perawatan medis lebih lama. Mungkin ini terutama masalah bisa meringankan beban di rumah sakit konvensional,” tambah Westilng. Baca juga: Selain Punya “Lifeline Express,” Indian Railways Sulap Gerbong Kereta Jadi Ruang Isolasi Pasien Covid-19 Stena Saga sekarang berada di pelabuhan Uddevalla dan Stena RoRo sedang menyelidiki minat dalam kapasitas perawatan yang dapat disediakan oleh kapal penumpang. Selain Swedia, di mana kontak telah dibuat dengan Badan Kontinjensi Sipil Swedia, kontak juga diprioritaskan dengan pihak berwenang di Norwegia, Denmark dan Jerman.

Hua Hin, Stasiun Tertua di Thailand dan Punya Bangunan Unik

Thailand menjadi salah satu negara yang diminati pelancong mancanegara. Hal ini karena Thailand memiliki kota-kota dengan destinasi menarik dari pasar yang buka setiap Sabtu dan Minggu seperti Chatucak, Pantai hingga wisata malamnya yang digemari oleh pelancong. Baca juga: “Tanggung,” Stasiun Kedua Tertua di Indonesia, Masih Beroperasi dan Jadi Cagar Budaya Negeri Gajah Putih ini juga memudahkan para pelancong dengan moda transportasi yang beragam. Salah satu transportasi yang bisa digunakan adalah kereta api. Nah, ternyata di Thailand juga ada stasiun dengan bangunan unik dan juga yang tertua.
Tampak depan Stasiun Hua Hin
KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, stasiun unik dan tertua di Thailand tersebut bernama Hua Hin. Stasiun ini terletak di Kecamatan Hua Hin, Distrik Hua Hin, Provinsi Prachuap Khiri Khan. Stasiun ini memiliki jarak 212,99 km dari Stasiun Thon Buri dan 850 meter dari Pantai Hua Hin di Jalan Kasam. Stasiun Hua Hin sendiri merupakan stasiun kereta api kelas satu di jalur selatan. Ternyata tak hanya tempat naik turun penumpang, di Stasiun Hua Hin ada 305 lokomotif uap Baldwin yang terpajang. Menjadi salah satu stasiun terindah di stasiun, tempat ini populer sebagai landmark dan tempat berfoto para pelancong. Selain indah dan unik, stasiun ini menjadi yang tertua karena dibangun pada masa pemerintahan Raja Rama VI dan tidak jauh dari pisat kota.
Peron Stasiun Hua Hin
Bahkan stasiun ini dan ruang tunggu kerajaan jaraknya berdekatan, sehingga dianggap sangat menarik. Bangunannya yang terbuat dari kayu dicat dengan warna cerah dan konsep dan desain Thailand yang memiliki nuansa Victoria saat ini. Stasiun Hua Hin sendiri berada di jalur selatan dan dibuka pada November 1911 silam dan merupakan tahap ketiga yang dibuat antara Stasiun Cha-am ke Hua Hin. Kemudian berlanjut ke Stasiun Wang Phong pada Januari 1914. Bangunan asli Stasiun Hua Hin ternyata dibuat tahun 1910 dan kemudian dibangun kembali tahun 1926 oleh Pangeran Purachatra Jayakara hingga saat ini. Desain stasiunnya sendiri diambil dari Siam Rat Museum Expo yang direncanakan yang tadinya dimaksudkan pada tahun 1925 di Taman Lumphini, tetapi tidak pernah dibangun karena kematian Rja Vajiravudh dan pembatalan pameran oleh Raja Prajadhipok. Kemudian tahun 1967 Kolonel Saeng Chulacharit (mantan menteri Kereta Api Negara Thailand) mengoordinasikan relokasi Paviliun Kereta Api Istana Sanam Chandra dari Istana Sanam Chandra, ke Hua Hin dan namanya diubah menjadi “Paviliun Phra Mongkut Klao”. Saat ini, itu adalah salah satu daya tarik utama di stasiun. Nyatanya, Hua Hin menjadi salah satu destinasi populer di Thailand dan banyak kereta berangkat serta tiba ke Stasiun Hua Hin setiap hari. Baca juga: The Causey Arch, Jembatan Kereta Tertua yang Kini Masih Bisa Dilihat Keberadaanya Bahkan dari Bangkok sendiri, ada lebih dari 10 keberangkatan setiap hari untuk mengakomodasi tingginya permintaan dari para penumpang. Platform kereta di Stasiun Kereta Hua Hin cukup luas, sehingga pelancong akan menemukan banyak kursi di platform kereta untuk kenyamanan para penumpang yang menunggu keberangkatan kereta mereka. Perjalanan dari Bangkok ke Hua Hin memakan waktu sekitar empat jam

Akibat Penerbangan Sepi dan Parkiran Penuh, Sejumlah Pesawat Rusak Gegara ‘Bersenggolan’

Frekuensi penerbangan terus menurun selama beberapa bulan terakhir. Penyebabnya, apalagi kalau bukan wabah virus Cina. Menurut OAG, kapasitas maskapai di seluruh dunia, secara keseluruhan, turun lebih dari seperempat. Laporan terbaru untuk minggu ini menunjukkan penurunan di seluruh dunia sebesar 28,7 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Bahkan, beberapa negara lainnya, seperti Italia dan Hong Kong, penurunannya cukup drastis, mencapai lebih dari 80 persen. Baca juga: Penerbangan Masih Lesu, Bandara Hong Kong Kehilangan 91 Persen Pengunjung Selain itu, Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) belum lama ini juga telah merilis analisis terbaru. Analisis tersebut menunjukkan, lesunya penerbangan akibat pandemi corona akan menyebabkan maskapai kehilangan sekitar US$314 miliar pada tahun 2020, atau turun hingga 55 persen jika dibandingkan dengan tahun 2019. Diperkirakan, dampak terburuk baru akan terasa pada kuartal II 2020, yakni pada April-Juni mendatang. Terbukti, pada awal April kemarin, frekuensi penerbangan secara global turun hingga 80 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2019. Sebagian besar karena pembatasan perjalanan yang ketat yang diberlakukan oleh pemerintah dunia untuk membatasi penyebaran virus. Dalam keadaan tersebut, praktis, maskapai tak punya pilihan lain kecuali meng-grounded armada mereka di bandara. Namun, belakangan, banyaknya pesawat yang parkir di bandara bukan hanya membuat overload dan muncul opsi untuk parkir di gurun, melainkan memicu terjadinya sebuah insiden. Menurut Travel Radar, sebagaimana dikutip dari samchui.com, belum lama ini, dua pesawat milik Cathay Pacific, A350 AND B777 dilaporkan bersenggolan di Bandara Hong Kong. Belum jelas waktu persis kejadian tersebut, entah kemarin atau lusa. Namun, petugas ground control bandara mengaku, pihaknya menerima informasi adanya insiden senggolan dua pesawat pada pukul 12:30 (waktu setempat) di Taxiway J. Taxiway J belakangan memang terungkap sudah dimanfaatkan otoritas bandara untuk memarkirkan pesawat karena space yang ada sudah tak lagi menampung. Akibat dari insiden tersebut, baik Airbus A350 ataupun Boeing 777 keduanya mengalami sedikit kerusakan. Airbus A350 mengalami kerusakan pada winglet sebelah kanan sedangkan Boeing 777 rusak pada stabilizer horizontal sebelah kiri. Senggolan antar dua pesawat Cathay Pacific pun seperti mengulang insiden serupa. Pesawat terbaru A350-1000 milik British Airways dilaporkan bersenggolan dengan pesawat Boeing 777-300ER milik Emirates di Bandara Internasional Dubai, Uni Emirat Arab, pada Selasa (14/4). Baca juga: Emirates Jadi Maskapai Pertama Lakukan Rapid Tes Corona ke Seluruh Penumpang Dari gambar yang beredar di media sosial terlihat, komponen trailing edge pada sayap sebelah kiri A350 British Airways rusak akibat bersenggolan dengan elevator sebelah kiri 777-300ER Emirates. Kedua pesawat sama-sama mengalami kerusakan. Belum ada penjelasan resmi mengenai insiden yang terjadi. Namun dalam twitternya, akun JACDEC @JacdecNew mengatakan bahwa saat itu A350-1000 Flight BA 106 sedang melaksanakan push-back untuk melaksanakanan penerbangan balik ke London.

Kesal Berada di Bawah Pengaruh Cina, China Airlines Ingin Ganti Nama Jadi Taiwan Airlines?

Maskapai penerbangan nasional pada umumnya sering membawa nama negara yang mereka wakili. Misalnya, Air India, Air Canada, Air France, Aeromexico, Singapore Airlines, Qatar Airways, dan banyak lagi. Namun, lain halnya dengan Taiwan, flag carrier negara tersebut justru membawa nama Cina, China Airlines. Baca juga: Beredar Kabar China Airlines Lakoni Rute Domestik Jakarta–Makassar, Ini Penjelasannya! Bila merunut sejarah, tentu saat pertama kali didirkan oleh mantan perwira Angkatan Udara Republik Tiongkok (nama resmi Taiwan) pada 16 Desember 1959, memilih nama China Airlines bukanlah suatu hal yang aneh. Selain Cina belum menjelma menjadi kekuatan besar, jarangnya ketegangan antar kedua negara dan belum adanya momentum yang membuat kesalahpahaman dunia terkait konotasi China Airlines dengan Cina daratan, juga menjadi alasan Taiwan belum memandang nama maskapai nasional mereka sebagai sebuah masalah. Akan tetapi, wabah virus Cina pun merubah mindset masyarakat Taiwan. Puncaknya terjadi pada Februari lalu. Berbagai organisasi kemasyarakatan Taiwan mengajukan petisi untuk mengubah nama China Airlines. Tujuannya agar tak terjadi kesalahpahaman, baik ataupun buruk. Petisi tersebut belakangan mendapat respon positif dari Kementerian Transportasi dan Komunikasi (MOTC). Dikutip dari Simple Flying, Menteri Perhubungan dan Komunikasi Taiwan, Lin Chia-lung, melalui sebuah postingan di media sosial Facebook mengaku, pihaknya terbuka dengan opsi tersebut. Namun, Ia menekankan, bila pun langkah itu harus ditempuh, mungkin prosesnya tak semudah membalikkan telapak tangan. “Selama Covid-19 di Wuhan, ada banyak desakan dari masyarakat agar China Airlines dapat mengubah namanya. Kami terbuka untuk ini. Namun, perubahan nama maskapai adalah masalah besar, yang melibatkan hak dan rute udara, dan China Airlines adalah perusahaan yang terdaftar. Oleh sebab itu, masyarakat harus benar-benar bersatu untuk mendapatkan konsensus,” ujar Lin Chia-lung, dalam sebuah tulisan. Di Taiwan sendiri, sebetulnya, bukan hanya masyarakat yang mengharapkan adanya perubahan nama pada maskapai China Airlines. Di kalangan elite politik pun, selama pandemi corona, polemik juga sempat terjadi. Penyebabnya, ambiguitas nama China Airlines yang identik dengan Cina daratan dan pada akhirnya membuat elite tersebut kesal bukan main. “Ketika China Airlines mengirimkan barang, seluruh dunia berterima kasih kepada Taiwan,” kata Perdana Menteri Su Tseng-chang, beberapa waktu lalu. “Tetapi, karena China Airlines menuliskan kata ‘China’ di dalam pesawatnya, beberapa negara, orang, dan gambar secara keliru berpikir bahwa Cina telah mengirimi mereka masker. Itu membuat kami kecewa,” tambahnya. Partai kecil New Power Party, yang berbagi dukungan dengan Partai Progresif Demokratik, yang berkuasa untuk kemerdekaan formal Taiwan, meminta parlemen untuk menghapus atau membuat lebih kecil kata “China” dari badan maskapai dan menambahkan kata “Taiwan”. “Bahkan demokrasi dan kebebasan Taiwan dapat disalahtafsirkan oleh komunitas internasional sebagai berasal dari China karena kata ‘CHINA,'” kata Su Tseng-chang. Baca juga: Romantis Berujung Pahit, Pramugari China Eastern Airlines Justru Dipecat Setelah Dilamar di Udara Su, bagaimanapun, mengisyaratkan bahwa perubahan nama tidak segera terjadi. Sebab, saat ini, fokus China Airlines adalah untuk menempatkan “lebih banyak simbol Taiwan” di pesawatnya. Andaikan Taiwan bersikukuh untuk mengganti nama China Airlines, sebetulnya, langkah tersebut bukan barang baru di dunia penerbangan. Tercatat, beberapa maskapai pernah merubah nama dengan berbagai latar belakang, seperti Midwest Airlines dari sebelumnya Midwest Express, Air Canada dari sebelumnya Trans-Canada Air Lines, dan United Airlines dari semula Varney Air Lines. Menarik ditunggu, akankah China Airlines berubah menjadi Taiwan Airlines? Bagaimanapun juga, Cina, sebagai pihak yang ‘sedikit’ diuntungkan atas penamaan tersebut, dengan hegemoninya sekarang ini, tentu tidak akan tinggal diam.

Cathay Pacific Tawarkan Perubahan Jadwal Penerbangan Tanpa Batas dan Biaya Tambahan

Cathay Pacific dan maskapai regionalnya Cathay Dragon pada bulan lalu mengatakan akan mengurangi kapasitas penerbangan mereka hingga 97 persen untuk bulan April. Ini dilakukan karena adanya penurunan permintaan perjalanan ditengah pandemi virus corona atau Covid-19 yang sedang berlangsung sekarang. Baca juga: Pertahankan Layanan Kargo, Cathay Pacific Pangkas 96 Persen Kapasitas Penerbangan Namun, baru-baru ini maskapai yang berbasis di Hong Kong tersebut memungkinkan pelanggannya untuk membuat perubahan tak terbatas pada tiket baru. Nantinya tidak akan ada biaya tambahan untuk semua tiket baru yang dibeli sebelum 30 Juni tahun ini. Cathay Pacific juga mengatakan, untuk penumpang yang memesan sebelum 9 Maret 2020, juga bisa melakukan perubahan tanpa batas tetapi biaya mungkin berlaku. Cathay Pacific menambahkan, bahwa pelanggan akan mendapatkan perubahan gratis dan tidak terbatas hingga satu tahun setelah tiket dibeli. “Itu berarti Anda dapat memesan dan mengetahui bahwa Anda dapat menukar kembali tanggal perjalanan Anda atau memilih tujuan yang baru sebanyak yang Anda suka,” kata Cathay Pacific yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman businesstraveller.com (15/4/2020). Cathay Pacific juga mengatakan, pelanggan dapat menyesuaikan pemesanan mereka menggunakan alat kelola pesan di situs web maskapai hingga 30 Juni 2020. Setelah itu, maskapai menyebutkan bahwa penumpang juga harus menghubungi kantor reservasi lokal mereka untuk melakukan perubahan lebih lanjut hingga tanggal keberangkatan yang dipilih. Maskapai ini mejelaskan, perjalanan tersebut harus diselesaikan dalam waktu satu tahun dari tanggal penerbitan tiket yang asli. Diketahui, meski mengurangi kapasitas terbang mereka, Cathay Pacific masih mengoperasikan penerbangan jarak jauh dan regional, sedangkan Cathay Dragon juga masih menerbangkan pesawat mereka. Untuk rute jarak jauh, Cathay Pacific mengoperasikan dua penerbangan per minggu ke empat tujuan, yakni London (Heathrow), Los Angeles, Vancouver dan Sydney. Selain itu maskapai tersebut juga terbang tiga kali seminggu ke delapan tujuan regional seperti Tokyo (Narita), Taipei, New Delhi, Bangkok, Jakarta, Manila, Kota Ho Chi Minh dan Singapura. Baca juga: Dampak Krisis Corona, Cathay Pacific Group ‘Parkirkan’ Setengah dari Jumlah Armada Maskapai regional Cathay Dragon sendiri akan mengoperasikan sebanyak tiga penerbangan per minggu ke tiga tujuan seperti Beijing, Shanghai (Pudong) dan Kuala Lumpur. Untuk diketahui, maskapai ini juga masih mengoperasikan kapasitas pesawat kargo secara normal.

Bosan di Rumah? Yuk Edit Foto dan Video Jalan-Jalan

Ingin liburan dan menghilangkan bosan serta kepenatan, saat ini pastinya terjadi hampir pada semua orang. Pasalnya selama pandemi Covid-19 menjangkiti orang-orang di berbagai belahan dunia, setiap negara kini banyak yang melockdown atau mengunci diri dari pelancong asing. Baca juga: Terpecahkan! Beginilah Proses Pengambilan Gambar Ketika Pesawat Tengah Mengudara Nah untuk mengatasi hal ini, Anda bisa mengedit foto atau video liburan yang lalu. Berikut ini KabarPenumpang.com merangkum beberapa aplikasi edit video Android yang bisa Anda gunakan mengisi waktu luang ditengah pandemi ini. #1 VivaVideo Aplikasi ini dirancang untuk membantu membuat video Anda tampak profesional dan salah satu aplikasi yang terbaik untuk Android. VivaVideo menyediakan ratusan efek dari stiker dan filter hingga klip dan subjudul animasi. Tak hanya itu, aplikasi ini juga menyediakan fitur slow motion dan Anda bisa langsung memotong serta menggabungkan klip tertentu. #2 PowerDirectort Video Editor Aplikasi yang satu ini mempunyai fitur edit dengan konsep timeline, sehingga Anda bisa mengatur urutan foto atau video yang akan tampil. Dalam aplikasi ini juga bisa menambahkan fitur efek stiker bahkan latar musik dengan dua timeline audio sekaligus. #3 Movie Maker Filmmaker Aplikasi ini 100 persen gratis dengan alat pengeditan video yang intuitif dan mudah. Fitur-fiturnya pun mencakup efek video langsung, animasi teks, musik slideshow dan lainnya. #4 Quik Dengan Quik, Anda bisa membuat video pendek dengan cepat dari foto dan video. Foto dan video yang ditambahkan bisa sampai sebanyak 50. #5 Adobe Premier Clip Ini merupakan aplikasi versi Android dari Adobe Premier yang memang dikenal sejak lama sebagai aplikasi editing video terbaik. Kemampuan edit video traveling tentu tidak diragukan lagi. #6 FilmoraGo FilmoraGo sendiri banyak digunakan, karena setelah video selesai diedit, bisa langsung diunggah ke media sosial apapun atau bisa langsung disimpan di galeri ponsel. Fitur-fiturnya meliputi pemangkasan, pemotongan, penambahan tema, musik, dll. Opsi yang tersedia juga beragam, mulai dari rasio 1:1, rasio 16:9, video terbalik, penambahan transisi, slow motion, penambahan teks dan lainnya. #7 KineMaster KineMaster merupakan aplikasi edit video untuk android yang gratis. Jadi cocok banget buat Anda yang baru mulai belajar membuat video traveling ala selebgram dan YouTuber. Baca juga: Minat Bikin Aplikasi Mobile, Ini 7 Hal yang Mesti Diperhatikan #8 Videoshow Hasil edit video dari Videoshow mungkin tidak sebagus aplikasi edit video lainnya seperti PowerDirector atau Adobe Premiere Clip. Namun Videoshow menjadi salah satu aplikasi edit video yang paling banyak diunduh. Nah, kalau Anda biasa pakai aplikasi yang mana untuk edit video?

India Akan Terapkan Aturan Ketat di Bandara Usai Lockdown

India dilaporkan tengah berencana untuk menerapkan aturan baru di bandara. Hal itu dilakukan demi menghindari penumpukan penumpang dan membatasi penyebaran Covid-19. Saat ini payung hukum serta aturan mainnya tengah digodok dan akan segera ditetapkan ketika pemberlakuan lockdown di negara tersebut usai pada 3 Mei mendatang. Baca juga: Emirates Jadi Maskapai Pertama Lakukan Rapid Tes Corona ke Seluruh Penumpang Kantor berita Asian News International (ANI), sebagaimana dikutip dari airport-technology.com, melaporkan bahwa aturan tersebut sedikit banyaknya sudah bocor ke publik. Pasukan Keamanan Industri Sentral (CISF), yang bertanggung jawab atas keamanan di bandara, nantinya diberi mandat untuk mengecek kondisi kesehatan penumpang, termasuk dari dari mana mereka berasal dan update terkini corona di sekitar pemukiman mereka, dua jam sebelum keberangkatan. Tak hanya itu, seluruh penumpang juga diminta untuk memakai alat pelindung diri, seperti masker dan sarung tangan. Adapun pihak bandara akan menyediakan hand sanitizer di seluruh pintu masuk dan keluar. Selain itu, physical distancing, sebagai salah satu upaya terpenting untuk memutus mata rantai penyebaran virus Cina juga tak luput dari perhatian. Otoritas India berencana akan menerapkan physical distancing di dalam kabin pesawat. Mekanisnya kurang lebih sama dengan yang sudah diberlakukan terlebih dahulu di negara lain, yakni membiarkan satu bangku kosong di antara dua kursi. CISF sendiri mengaku proposal dari semua peraturan di atas prosesnya sudah sampai di meja Kementerian Penerbangan Sipil (MoCA) dan masih terus dipelajari dampak serta efektivitasnya saat mulai diberlakukan. “Kami telah mengusulkan rencana baru yang mengatur tindakan pencegahan yang diperlukan mengingat ancaman yang ada saat ini akibat Covid-19. Proposal terkait rencana tersebut telah dikirim ke Kementerian Penerbangan Sipil (MoCA) untuk dipertimbangkan,” kata Direktur Khusus CISF, GA Ganapathy. Lebih lanjut, CISF juga akan betul-betul menyaring seluruh penumpang yang tiba di bandara, khususnya bagi mereka yang habis bepergian dari wilayah-wilayah episentrum virus Cina, seperti Eropa, Amerika, dan Cina. Untuk memuluskan aturan tersebut, CISF akan menyiapkan petugas di beberapa titik untuk pemeriksaan wisawatan dengan kategori tersebut. Sebelumnya, Perdana Menteri India Narendra Modi mengumumkan untuk memperpanjang penguncian wilayah atau lockdown nasional hingga 3 Mei mendatang. Keputusan tersebut dilakukan untuk menekan penyebaran virus corona yang hingga kini masih terjadi. Dalam pidatonya, Modi mengatakan jika keputusan tersebut sangat penting dilakukan untuk mencegah penularan Covid-19. Baca juga: Terjebak Lockdown di India, Ibu dan Anak Asal Inggris Bisa Pulang Berkat Bantuan Kedubes Jerman “Sampai 3 Mei, kita semua harus tetap lockdown. Selama waktu itu, kita harus mengikuti disiplin yang sama seperti yang telah kita lakukan,” ujar Modi dalam pidatonya seperti mengutip AFP. Mengutip data yang dirilis John Hopkins University, hingga kini setidaknya ada 11.487 kasus Covid-19 dengan 393 orang dinyatakan meninggal di India.

Anda Rindu Disneyland? Ikuti Perjalanan Virtual Melalui “It’s a Small World”

Hampir semua taman hiburan di seluruh dunia harus ditutup, bahkan di Indonesia yang memiliki Ancol dengan taman bermainnya Dunia Fantasi (Dufan) pun bernasib sama. Taman-taman hiburan ditutup untuk mencegah penularan pandemi Covid-19. Baca juga: Disney Bicara dengan Brightline Seputar Rencana Kereta Berkecepatan Tinggi di Properti Ternyata taman hiburan Disneyland yang ada di seluruh dunia pun telah ditutup tanpa batas waktu yang ditentukan. Namun, Anda masih bisa merasakan fasilitas di Disneyland dan Disney World secara virtual.
Bianglala dan beberapa permainan di Disneyland
Dilansir KabarPenumpang.com dari laman cnbc.com (11/4/2020), di situs Web Disney Magic Moments, pengguna dapat merasakan wahana populer, melihat taman, mencoba resep makanan yang dihadirkan di restoran atau kafe Disneyland. Selain itu, Anda juga bisa mengunduh latar belakang panggilan video bertema Pixar. Saat ini, Anda memang akan melewatkan pengalaman Disneyland secara langsung, tetapi bisa diganti dengan melakukan perjalanan virtual melalui “It’s a Small World” yang menjadi populer karena pandemi. Pengalaman tersebut bisa dirasakan dari Disneyland Paris hingga ke Hong Kong dengan bidikan berbeda dari perjalanan melalui “It’s a Small World” tersebut secara virtual. Bahkan uniknya, untuk merasakan ini seperti nyata, Disney mengingatkan pengguna untuk menjaga tangan, lengan, kaki dan anggota badan lainnya di dalam kapal dengan cara yang khas. “Dan pergilah ke penjuru dunia di setiap benua sambil bernyanyi bersama anak-anak.” Melalui perjalanan virtual ini, Disneyland memposting tontonan parade “Magic Happens” milik mereka yang difilmkan di Taman Disneyland di California. Dari situs Disney Magic Moment, ada parade sembilan kendaraan hias yang dinaki oleh karakter Cinderella, Sleeping Beauty, Frozen 2 dan Moana. Disney juga memposting video Magic Kingdom Park di Orlando, Florida, dan gambar lain dari Walt Disney World Resort. Sebagai tambahan, Disney telah membagikan resep taman untuk camilan populer, termasuk Dole Whip dan Churro Bites yang terkenal. Baca juga: Disneyland Resort Line Hong Kong, Kereta Khusus dengan Nuansa Mickey Mouse Jika Anda mencari wahana virtual lainnya, seperti roller coaster Space Mountain yang terkenal, banyak pengunjung yang telah memposting video wahana mereka sendiri di YouTube. Kalau taman hiburan lain seperti Universal Studio juga menampilkan parade virtual bagaimana menurut Anda?