Pelabuhan Benoa Berbenah, Kapal Pesiar Ukuran Besar Akan Bisa Bersandar
Menjadi salah satu incaran pelancong domestik dan mancanegara, Bali seolah tak habis akal untuk memperbaiki dan mempercantik pulaunya. Hal ini terlihat di mana Pemerintah Provinsi Bali dan Pelindo III yang melakukan kerja sama dalam pembangunan Pelabuhan Benoa dan Bali agar bisa disinggahi oleh kapal pesiar.
Baca juga: Tahun 2020, Roller Coaster Hadir di Kapal Pesiar Untuk Jelajahi Laut
KabarPenumpang.com merangkum berbagai laman sumber, adanya pengembangan ini sudah disetujui oleh Gubernur Bali Wayan Koster yang melihat desain baru penataan Pelabuhan Benoa itu. Pada Oktober lalu, Pelabuhan Benoa bahkan sudah disinggahi oleh kapal pesiar sepanjang 268 meter dengan lebar 37 meter dan memiliki 12 lantai.
Kapal pesiar tersebut mengangkut dua ribu penumpang yang masuk ke dermaga Pelabuhan Benoa. Adanya pengembangan ini sendiri dengan memperpanjang dermaga pelabuhan, membuat rute perjalanan Pelabuhan Benoa ke objek wisata, transportasi dan pembangunan pusat UMKM.
Pengembangan ini dilakukan untuk memuaskan pelancong yang transit di Bali, sebab biasanya kapal pesiar akan bersandar dengan waktu yang cukup lama yakni enam hingga delapan jam.
“Maka ke depan ada cruise datang yang lebih mewah. Kita sudah tata supaya ke depan dibuat rute perjalanan, nanti penumpang yang ribuan akan dibagi, ada yang berkunjung ke Denpasar, Gianyar, Karangasem, Badung, meninjau pusat kerajinan rakyat destinasi wisata, transportasinya nanti akan disiapkan supaya keluar dari kapal penumpang, bisa lihat alam dan budaya Bali serta kerajinan rakyat,” kata Koster yang dikutip dari kumparan.com, Sabtu (2/11/2019).
Tak hanya itu Koster menambahkan, akan menyiapkan bisnis logistik agar kapal pesiar yang bersandar bisa menggunakan produk dari Bali seperti kebutuhan konsumsi yakni ikan, telur, daging, buah-buahan yang dihasilkan oleh peternak dan petani Bali untuk sumber makanan pelancong. Bahan bakar juga disediakan agar kapal bisa memenuhi kebutuhannya.
Sementara itu, Dirut PT Pelindo III Doso Agung menambahkan, sebelum diperpanjang kapal pesiar tidak bisa bersandar dan para pelancong diangkut dengan kapal lebih kecil. Bahkan karena ini banyak pelancong yang enggan untuk turun dan menikmati keindahan Pulau Dewata tersebut.
“Kami harus membangun kapasitas dermaga kami di tahun 2020. Tahun 2019 kami mulai kontruksi dan harapannya tahun 2020 selesai. Sehingga kapal masuk ke Benoa tidak terkendala kapal enggak bisa sandar. Kalau enggak bisa sandar pasti jumlah turis yang kan turun terbatas karena harus ditransfer lagi dari kapal kecil, orang akan malas, tapi kalau bisa bersandar orang-orang akan turun dan ini baik untuk perkembangan ekonomi di Bali,” ujar Doso.
Baca juga: Pelabuhan Benoa Berbeda dengan Tanjung Benoa di Bali
Dia mengatakan, Pelabuhan Benoa akan diperpanjang dermaganya sekitar 160 meter agar kapal pesiar bisa bersandar. Dikabarkan, perusahan kapal Genting Dream tengah membangun sebuah kapal dengan kapasitas empat ribu penumpang. Rencananya, kapal ini akan beroperasi tahun 2021 dari Amerika, Filipina dan Bali.
Kualitas Udara Anjlok dan Jarak Pandang Minim, 32 Penerbangan di Bandara Delhi Terdampak
Mungkin masih lekang dalam ingatan bagaimana serangan kabut asap yang disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di beberapa wilayah Sumatera dan Kalimantan yang juga berdampak pada sektor aviasi nasional, ternyata bukan hanya Indonesia yang pernah mengalami kejadian seperti ini. Belakangan, kondisi cuaca di India juga menuai sorotan, mengingat kabut asap beracun yang menyelimuti kota Delhi dan beberapa daerah lain menyeret kualitas udara di sana menjadi yang terburuk sepanjang sejarah.
Baca Juga: Ini Alasan Kenapa Pesawat Dihimbau Tak Mengudara Saat Turun Kabut
Semakin memburuknya kualitas udara di Delhi sana pada Minggu (3/11) kemarin berdampak pada pengoperasian penerbangan dan memaksa sekolah-sekolah yang ada di Noida dan Ghaziabad untuk ditutup sementara waktu, setidaknya sampai kondisi mulai membaik. Pendeknya jarak pandang juga memaksa 32 penerbangan di Indira Gandhi International Airport dibatalkan.
KabarPenumpang.com mengutip dari laman timesofindia.com (3/11), jarak pandang di bandara ini pada hari Minggu kemarin dikabarkan menurun ke angka 300 meter saja. Dalam sebuah pernyataan resmi, pihak berwenang mengatakan bahwa semua pilot yang memenuhi persyaratan CAT-II (sudah terlatih dan berpengalaman) dapat beroperasi menuju Delhi, hanya saja pengoperasian penerbangan di Bandara Delhi memiliki visibilitas yang rendah.
Pihak berwenang juga mengingatkan kepada para penumpang untuk menghubungi masing-masing maskapai guna mendapatkan informasi lebih lanjut terkait penerbangan mereka apakah dibatalkan, di reschedule, atau tetap berjalan seperti jadwal.
“Sebagai dampak dari kondisi cuaca yang buruk, pengoperasian penerbangan terdampak sejak Minggu pukul 09.00 (waktu setempat) di Terminal 3 Bandara Delhi. Kurang lebih sebanyak 32 penerbangan tedampak jarak pandang yang pendek ini,” ujar pihak bandara dalam sebuah keterangan resmi.
Baca Juga: Saat Bencana Alam Tiba, Bukan Berarti Perjalanan Batal, Ikuti Tips Ini!
Untuk pertama kali dalam sejarah, Air Quality Index (AQI) tercatat berada di angka 625 pada hari Minggu (3/11) pukul 10.00 waktu setempat – kendati sempat ada hujan gerimis kala itu. Di Dhipur, AQI tercatat bertengger di angka 509, sedangkan di sekitaran wilayah Delhi University AQI berada di level 591 – sementara di Lodhi mencapai angka 537.
Sebagai perbandingan, AQI yang ada di Jakarta per Senin (4/11) secara keseluruhan hanya bertengger di angka 124 US AQI. Jadi, dapatkah Anda membayangkan bagaimana gelapnya di Delhi sana?
Desainer Ferrari Rancang Halte Bus Canggih dengan Konsep Alami
Jika selama ini kita melihat halte bus hanya berupa sebuah ruang beratap yang dilengkapi dengan beberapa buah tempat duduk – atau mungkin belakangan ini sudah dilengkapi dengan stasiun pengisian daya, maka Anda akan sedikit kebingungan ketika mendengar sebuah halte bus yang dibuat oleh sebuah firma yang mendesain mobil berlogo kuda jingkrak, Ferrari. Tentu pikiran Anda langsung mengarahkan pada sebuah halte yang modern nan futuristik, dan memang seperti itulah konsepnya.
Baca Juga: Nunggu Bus di Halte ini Bisa Bikin Tambah Pintar, Lho!
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman miamiherald.com (29/8/2018), adalah Pininfarina, sebuah perusahaan mobil asal kota Turin, Italia yang telah mendeklarasikan niatnya untuk membangun sebuah halte bus di daerah Miami Beach dalam beberapa waktu ke depan. Wajar rasanya jika gambaran tentang pemberhentian bus buatan Pininfarina ini akan melebihi ekspektasi Anda – dengan segala teknologi yang tersemat di dalamnya.
Dengan mengedepankan konsep “Yesterday, Today, and Tomorrow”, Paolo Trevisan selaku kepala desain dari Pininfarina of America mengatakan bahwa tampilan dari halte ini akan sangat alami, namun tetap futuristik pada bagian dalamnya. “Tampilannya akan sangat alami, yang kami gabungkan dengan teknologi terkemuka yang akan menampilkan kesan modern – percampuran alami dan teknologi,” tutur Paolo.
Nantinya, Paolo beserta jajarannya akan mendesain halte bus ini seperti sebuah batang pohon palem, “namun di sisi lainnya halte bus ini sangat terkontrol,” tandas Paolo. Berbekal pengalaman di sektor otomotif, maka sudah seyogyanya jika Pininfarina memperhatikan setiap detail yang akan disematkan di halte bus futuristik ini. “Kami memperhatikan setiap detail – bahkan yang terkecil sekalipun, karena kami berpatokan bahwa apa yang kami ciptakan ini bukanlah hanya sebuah produk, melainkan satu keseluruhan sistem yang saling terintegrasi,” lanjutnya.
Baca Juga: Perbaiki Halte Bus, Pramuka Ini Diganjar Gold Award!
Selain futuristik, halte bus ini juga hemat energi karena menggunakan panel surya yang tersimpan di bagian atap guna memenuhi kebutuhan elektrikal di dalamnya, seperti menyalakan lampu dan papan penunjuk informasi. Ketika siang hari, bayangan kaleidoskop akan tampak pada bagian lantai halte bus ini – hasil pembiasan dari cahaya matahari yang masuk. Terdapat juga ruang khusus bagi para pengiklan yang ditujukan sebagai pemasukan tambahan bagi produsen.
Enggan merinci lebih jauh soal halte bus ini, namun Paolo berpendapat bahwa pembangunan halte bus ini merupakan sebuah awalan dari perkembangan sebuah kota yang modern. “Bagi saya, ini hanyalah permulaan. Masih banyak yang bisa kita lakukan – masih banyak potensi.” Tutup Paolo.
Wujudkan Kota Pintar, Penang Kini Punya Smart Bus Shelter yang Serba Canggih
Jika di Indonesia keberadaan halte (shelter) bus seolah tersingkirkan dan banyak diantaranya yang sudah terbengkalai dan dibiarkan rusak begitu saja, maka lain halnya dengan yang ada di Malaysia – dimana salah satu perusahaan yang menekuni konektivitas berkelanjutan masa depan, EDOTCO Malaysia Sdn Bhd pada Mei 2019 kemarin meluncurkan Smart Bus Shelter. Dari namanya saja, tentu Anda sudah bisa mengira kelebihan dari halte bus ini, persisnya halte ini dilengkapi dengan solusi telekomunikasi – sejalan dengan tujuan digitalisasi yang tengah dikembangkan oleh Malaysia.
Baca Juga: Nunggu Bus di Halte ini Bisa Bikin Tambah Pintar, Lho!
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman digitalnewsasia.com (14/5), adapun Smart Bus Shelter ini sendiri terletak di Lengkok Tenggiri, Seberang Perai, dimana di dalamnya Anda bisa menemukan fasilitas untuk mengisi ulang daya gadget, kamera CCTV, hingga panic button untuk lebih meningkatkan keamanan para penggunanya. Seperti yang sudah disebutkan di atas, solusi telekomunikasi yang ada di Smart Bus Shelter ini juga merupakan testbed untuk Penang yang terhubung dalam persiapan untuk implementasi konektivitas 5G.
Proyek ini sendiri merupakan dukungan nyata bagi Penang Vision 2030, yang antara lain menguraikan investasi untuk memperkuat mobilitas, konektivitas dan infrastruktur digital, dan mengintegrasikan layanan kota dengan teknologi pintar. Energi yang ada di Smart Bus Shelter ini dihasilkan oleh panel surya yang berada di atap halte. Penggunaan energi terbarukan ini juga merupakan bagian dari Penang Vision 2030 yang bertumpu pada penggunaan energi terbarukan.
“Proyek percontohan Smart Bus Shelter ini dilakukan sebagai bagian dari upaya untuk mengubah Penang menjadi kota pintar, yang menjadi fokus kami di tahun 2019,” tutur Ketua komite Pemerintah Daerah, Perumahan, dan Perencanaan Kota Penang, Jagdeep Singh Deo.
“Keberhasilan pembuktian konsep ini membuka jalan bagi Penang untuk menjadi salah satu negara terkemuka yang siap untuk mengadopsi konektivitas 5G,” tandasnya.
Baca Juga: 10 Halte Bus Ini Jelas Tidak Biasa
Tingkat akses terhadap jaringan internet via smartphone di Malaysia sana sudah mengalami pertumbuhan nilai yang cukup signifikan. Malaysian Communications and Multimedia Commission (MCMC) mencatat, pengguna internet via smartphone pada tahun 2014 silam masih berada di angka 74,3 persen – sedangkan di tahun 2018 kemarin angkanya sudah meningkat drastis ke level 93,1 persen. MCMC memproyeksikan bahwa di tahun 2022 mendatang, konsumsi data per pengguna mencapai angka 1GB per hari.
Tangani Masalah Penumpang Saat Connecting Flight, United Airlines Punya “Connection Saver”
Istilah connecting flight di sektor kedirgantaraan global memang sudah tidak asing lagi terdengar. Bagi Anda yang belum mengetahuinya, connecting flight merupakan suatu kondisi dimana Anda akan berganti pesawat di titik transit untuk tiba di satu destinasi. Karena pesawat yang akan Anda tumpangi berbeda, maka nomor penerbangannya pun akan berbeda pula.
Baca Juga: Klasik, Ini Dia Rentetan Alasan Delay di Dunia Penerbangan
Nah, kendati sudah terjadwal, namun connecting flight ini tetap saja memiliki beberapa masalah, satu yang paling mengundang keringat dingin penumpang adalah ketika pesawat keberangkatan menuju titik transit mengalami keterlambatan atau delay. Jamaknya, jeda waktu antara penerbangan satu dan penerbangan lainnya di connecting flight adalah berkisar 30 hingga 60 menit – bisa saja lebih, tergantung jadwal penerbangan masing-masing maskapai. Lalu, bagaimana jadinya jika penerbangan sebelumnya mengalami keterlambatan? Apakah pesawat selanjutnya akan menunggu Anda datang?
Jawabannya tentu saja tidak, karena mereka harus tetap menjalankan penerbangannya secara normal. KabarPenumpang.com mengutip dari laman vox.com, di Amerika Serikat, jika Anda mengalami kejadian seperti ini, maka yang harus Anda lakukan adalah melakukan booking ulang terhadap penerbangan Anda. Tidak jarang juga pihak maskapai yang akan memberikan kompensasi lebih kepada Anda yang ketinggalan connecting flight, seperti menginap di hotel atau berupa makanan.
Namun guna memangkas kejadian dimana penumpang harus mem-booking ulang tiket penerbangannya, maskapai United Airlines menggunakan sebuah teknologi yang dinamakan sebagai Connection Saver.
Teknologi ini menjalankan fungsi penghitungan alogaritma beberapa kemungkinan dimana hasilnya akan memberikan opsi kepada pihak maskapai, apakah akan tetap meninggalkan penumpang yang terlambat ini atau menunggunya. CEO dari United Airlines, Oscar Munoz mengatakan bahwa sejak aplikasi ini diluncurkan pada bulan Januari silam, aplikasi ini terbukti sudah ‘menyelamatkan’ lebih dari 50.000 penumpang yang mengalami keterlambatan di penerbangan pertama mereka.
Baca Juga: Duh! Dokter ini Diseret di Lorong Kabin Pesawat, Kenapa ya?
Dengan melihat begitu banyaknya penumpang yang ‘diselamatkan’ oleh United, maka bisa dibilang bahwa pihak maskapai lebih memprioritaskan penumpang, kendati pihak maskapai harus mengalami penurunan rating dari segi on-time performance.
Namun jika dilihat lagi ke belakang, nama United muncul sebagai salah satu maskapai paling kontroversial di dunia – terlebih ketika kasus perlakukan tidak sepantasnya menimpa seorang dokter pada tahun April 2017 silam. Apakah pengaplikasian teknologi Connection Saver ini merupakan upaya pihak maskapai untuk merebut kembali hati penumpang?
Lawan GoJek dan Grab, “Bonceng” Tawarkan Tarif Ojol Berdasarkan Cluster
Lagi-lagi GoJek dan Grab punya saingan baru dalam persaingan transportasi online ibukota saat ini. Ya, nama pesaing baru itu adalah “Bonceng.” Bonceng merupakan aplikasi yang sebenarnya sudah muncul sejak November 2018 lalu.
Baca juga: Saingan GoJek dan Grab, “Anterin” Bisa Pilih Pengemudi Suka-Suka
Aplikasi ini berasal asli dari Indonesia yang namanya pun diambil agar tidak membebani dengan istilah barat. Bahkan cinta tanah airnya pun bisa terlihat dari warna jaket dan helm yang seperti bendera merah dan putih.
Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Tak hanya Bonceng sepeda motor (ojol), aplikasi buatan anak bangsa ini juga punya layanan seperti Grab dan GoJek yakni Bonceng Mobil, Bingkis yang merupakan layanan paket, Bungkus layanan antar makanan dan Bonceng Pasar di mana penumpang bisa berbelanja kebutuhan di pasar tradisional.
Bonceng sendiri sudah tersebar di Jakarta, Bogor, Bekasi dan beberapa daerah lainnya seperti Labuan Bajo. Founder dan CEO Bonceng, Faiz Noufal mengatakan, kini sudah ada 50 ribu pengemudi terdaftar dan baru lima ribu yang aktif.
Sedangkan untuk pengguna sudah ada 75 ribu dan belum jelas berapa yang sudah aktif menggunakan aplikasi Bonceng ini. Bonceng sendiri merupakan aplikasi besutan perusahaan developer PT Swa Nusa Multimedia.
Karena besutan anak bangsa, untuk pembayaran non-tunainya Bonceng menggunakan LinkAja dan berbeda dari GoJek yang menggunakan GoPay dan Grab yang menggunakan OVO. Tarif Bonceng sendiri menawarkan harga cluster bukan per kilometer yang artinya beberapa jarak perjalanan dikelompokkan pada beberapa harga yang bulat.
Tarifnya sendiri mulai dari Rp5 ribu, Rp10 ribu dan seterusnya. Bahkan uniknya, penumpang yang melakukan pemesanan diperbolehkan memesan layanan Bonceng hingga tujuh hari kedepan. Bonceng kini sudah bisa diunduh melalui App Store ataupun Play Store.
Baca juga: Aplikasi Ride Hailing Kedatangan Pemain Baru, Anterin dan BitCar
Untuk mendaftar jadi mitra driver ojek online Bonceng, kamu harus mengunjungi situs bonceng.id. Calon driver diwajibkan untuk mengisi data pribadi mulai dari nama lengkap, alamat hingga informasi kendaraan.
Kalau Jakarta Punya MRT, Bangkok Punya BTS Skytrain yang Telah Mengular 20 Tahun
Kini hampir setiap belahan negara menyediakan transportasi massal yang memudahkan perjalanan baik bagi masyarakatnya maupun pelancong yang bertandang ke negara tersebut. Kalau di Jakarta punya CommuterLine, Moda Raya Terpadu (MRT) dan Lintas Rel Terpadu (LRT), Bangkok juga punya transportasi massal berupa MRT dan Bangkok Mass Transit System (BTS) Skytrain.
Baca juga: Warna Warni Taksi di Bangkok Ternyata Merupakan ‘Kode’
BTS ini dioperasikan oleh BTS PCL di bawah konsesi Administrasi Metropolitan Bangkok (BMA). BTS dibangun sejak 20 tahun silam dan memiliki 44 stasiun yang terdiri dari dua jalur yakni Jalur Sukhumvit dengan rute ke arah utara dan ke arah timur berakhir di Mo Chit dan Samrong serta jalur Silom yang melintas Jalan Silom dan Sathorn.
Kemudian melalui kawasan pusat bisnis di Bangkok dan berakhir di Stadion Nasional dan Bang Wa. BTS ini kemudian dikenal secara resmi sebagai kereta api melayang dalam rangka memperingati Ulang tahun Raja ke-6.
Stasiun BTS Skytrain ternyata terhubung dengan kereta Bandara Suvarnabhumi sehingga memudahkan pelancong yang akan berwisata ke kota Bangkok. Untuk tarifnya, berkisar antara 15-50 Baht atau sekitar Rp7 ribu-Rp25 ribu tergantung jarak dan tujuan yang mana pelancong biasanya menggunakan tiket sekali jalan.
Pembelian tiketnya pun bisa melalui vending machine ataupun langsung di loket dengan petugas. Tenang, bagi yang tak bisa bahasa Thailand, pada tiket terdapat bahasa Inggris sehingga memudahkan pelancong mengetahui tujuan mereka.
Di setiap gate tap in, akan ada petugas yang siap membantu penumpang bila kesulitan mentap tiket mereka dan membantu memeriksa barang bawaan. Stasiun BTS Skytrain dihiasi dengan berbagai iklan baik dinding maupun tiang-tiangnya.
Bangku di dalam kereta BTS sendiri berwarna kuning dan sangat empuk. Petunjuk jalan dan peta terpampang jelas di atas pintu untuk memudahkan penumpang melihat tujuan mereka. Apalagi ketika stasiun yang dilewati peta tersebut tandanya akan berubah menjadi merah dan stasiun yang belum dilewati akan berwarna hijau.
Baca juga: Kumuh di Luar, Ciamik di Dalam. Inilah Stasiun MRT Caojiawan
Bagian tengah kereta ada yang dikosongkan dan satu sisi tidak terdapat bangku untuk memudahkan penyandang disabilitas dengan kursi roda. Waktu tunggu keretapun tak jauh berbeda dengan MRT yakni 10-15 menit
Fase II MRT Jakarta Diprediksi Selesai Tahun 2024
Proyek Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta fase II diperkirakan akan selesai tahun 2024 dan mulai beroperasi 2025 mendatang. Namun banyak pertanyaan muncul, bagaimana saat ini progres pengerjaan MRT Jakarta fase II tersebut?
Baca juga: MRT Jakarta Segera Luncurkan QR Code untuk Tiket, Provider Uang Elektronik Mulai Bersaing
Ternyata saat ini proyek MRT fase II dari Bundaran Hotel Indonesia (HI) menuju Kota terus berjalan. Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar mengatakan nantinya ketika beroperasi perjalanan dari Lebak Bulus menuju Kota dengan headway lima menit maka kereta tiba hanya membutuhkan waktu 45 menit.
Sabandar mengatakan, estimasi pada 2025 mendatang, MRT Jakarta bisa mengangkut penumpang sebanayk 551.200 penumpang per harinya. Hal ini berdasarkan desain Basic Engineering Design fase II.
“Jalurnya dibuat sedalam 17-36 meter di bawah tanah. Dengan rel R54 yang memiliki lebar jalur 1067 mm. Jarak antar stasiun dibuat sekitar 0,6-1 km,” jelas Sabandar.
Dia menyebutkan untuk dana MRT fase II sebesar Rp22,5 triliun yang dibantu oleh Japan International Cooperation Agency (JICA).
“Nanti tinggal kita cari siapa yang mau bantu pembiayaan, mungkin JICA. Kita maunya sih JICA biar satu line sekalian,” kata Sabandar.
Dia menambahkan, untuk pembangunan fase II ini banyak yang unik dari pengerjaan proyeknya yakni adanya jalur bertingkat di bawah tanah. Untuk Stasiun BHI sampai dengan Harmoni akan sejajar sedangkan dari Stasiun Harmoni sampai Glodok akan bertingkat, Stasiun Sawah Besar dan Mangga Besar bahkan berada empat lantai dibawah tanah.
“Ini karena menyempit disekitar Harmoni, jadinya jalur kita tidak kanan kiri tapi bertingkat di bawah tanah. Masuk Sawah Besar sampai Kota balik lagi sejajar kana kiri,” kata Sabandar.
Dari 5,8 km jalur yang dibuat akan melewati tujuh stasiun mulai dari Sarinah, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok dan Kota. Sabandar menambahkan, terkait depo yang akan berlanjut ke Ancol Barat dari Kota saat ini masih dalam tahap desain.
Desain tersebut akan selesai pada November dan perencanaan anggaran yang dibutuhkan juga sudah ada. Sementara itu untuk lelang paket proyek, dari lima paket ada satu paket sudah selesai pembangunannya, yaitu CP 200 alias pembangunan gardu dan transmisi kelistrikan bawah tanah MRT sudah selesai semua pembangunannya.
Baca juga: Depo di Ancol Barat, MRT Jakarta Fase II Punya Tujuh Stasiun
“CP200 kita udah 100 persen, masih on going 2024 selesai sampai Kota. Paket lainnya masih jalan proses lelang,” jelas William.
Pelelangan yang dilakukan termasuk pada proyek CP201, hingga CP203 yang membangun jalur Bundaran HI ke Stasiun Kota. Dia menegaskan bulan April tahun depan ketiga proyek ini sudah berjalan.
