Terdampak Cuaca Buruk, Ryanair Terlantarkan Penumpang di Polandia

Lagi-lagi kasus penumpang terlantar di sektor aviasi global kembali menjadi topik hangat perbincangan, tepatnya setelah penumpang maskapai berbiaya rendah asal Irlandia, Ryanair terdampar di Bandara Krakow, Polandia pada hari Jumat (1/11) kemarin lantaran cuaca yang buruk. Namun , bukan permasalahan terlantar ini saja yang menjadi sorotan, lebihnya lagi karena penumpang harus mengeluarkan biaya ekstra untuk bertahan hidup di lokasi. Duh, kok bisa sampai seperti ini, ya? Baca Juga: Dua Hari Tanpa Akomodasi dan Makanan, 200 Penumpang British Airways Terlantar di Bandara Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman thesun.co.uk (4/11), ada banyak pelancong yang mengklaim bahwa pihak maskapai telah gagal melayani penumpang ketika tengah menghadapi cuaca buruk di Polandia. Bahkan tidak sedikit dari mereka juga yang tidak mendapatkan bangku di penerbangan enam hari selanjutnya (Kamis, 7 November 2019). Berdasarkan data dari Dublin Live, sebanyak 15 penerbangan dari Bandara Krakow dibatalkan pada Jumat (1/11). Menyoal aksi dari pihak maskapai yang terbilang tidak becus dalam menangani kasus semacam ini, seorang guru asal Dublin, Róisín Ní Dhonnabhain mengatakan bahwa dirinya sampai-sampai harus mengeluarkan dana senilai € 1.000 untuk penerbangan baru – dana tersebut belum termasuk biaya menginap di hotel dan untuk makan sehari-hari. “Kurang lebih saya mengeluarkan dana sebesar € 1.200 ketika terlantar di Krakow,” ujar Róisín. “Ini merupakan nominal yang sangat besar – hampir setara dengan upah setengah bulan, dimana itu dikeluarkan hanya untuk pulang ke Dublin,” sambungnya. Tidak hanya Róisín saja, pun dengan penumpang dari jurusan lain yang juga terdampak dan mendapatkan perlakuan sama seperti Róisín – tidak mendapatkan kompensasi yang setara dengan kerugian yang mereka alami. Kendati terkendala cuaca buruk, namun beberapa penerbangan Ryanair masih ‘nekat’ dijalankan. Dengan begitu, penumpang yang terlantar dan harus menunggu selama enam hari akan memilih untuk terbang ke destinasi lain, lalu melanjutkan perjalanan sesuai tujuan asli mereka. Hal inilah yang menyebabkan penerbangan Ryanair pada akhir pekan lalu di Bandara Krakow menjadi sangat penuh – hampir tidak menyisakan satu bangku kosong. Baca Juga: Inilah Fakta Ryanair, Maskapai Penerbangan Berbiaya Murah yang Penuh Kontroversi Namun apa yang diungkapkan pihak Ryanair malah berbanding terbalik. Mereka menuturkan bahwa sudah memberikan sejumlah opsi via SMS kepada penumpang yang terdampak cuaca buruk ini. “Kami dari manajemen Ryanair meminta maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi. Sesungguhnya kondisi cuaca buruk di luar sana berada di luar kendali kami,” ujar salah satu perwakilan dari Ryanair.

Kereta Api Inggris Masih Buang Limbah Toilet ke Rel

Limbah toilet kereta api yang di buang ke rel ketika kereta sedang mengular ternyata tak hanya terjadi di Indonesia. Untungnya saat ini di Indonesia sudah menggunakan penampung sebelum akhirnya dibuang ke tempat semestinya. Namun ternyata beberapa negara lain masih ada yang melakukan praktik menjijikan tersebut. Baca juga: Manakah yang Bakal Jadi Solusi Toilet di Stasiun Kereta India: Bio-Toilet Atau Toilet Hibrida? Bahkan beberapa operator kereta tersebut sempat berjanji untuk tidak membuang limbah toilet ke jalur kereta api tapi tak bisa ditepati. KabarPenumpang.com merangkum laman theguardian.com (3/11/2019), salah satunya Inggris dan Wales yang menjanjikan untuk menghentikan pembuangan limbah toilet ke jalur kereta tahun ini. Namun ternyata tidak bisa dipenuhi, hal ini diakui oleh Network Rail dan perusahaan kereta api lainnya. Mantan kepala eksekutif Network Rail, Mark Carne mengatakan, tahun 2017 lalu, dia telah mendapat persetujuan pemerintah untuk menghentikan pembuangan limbah toilet ke jalur kereta api tahun 2019 ini. Tapi ternyata beberapa perusahaan masih terus menggunakan kereta api yang toiletnya langsung menbuang limbah ke rel. Tahun 2017 Departemen Transportasi mengatakan bahwa semua waralaba akan memaksa perusahaan untuk memastikan setiap kereta memiliki toilet modern. Tapi hal ini pun bahkan masih ada beberapa operator yang mengajukan pengecualian. Padahal para pekerja di lintasan kereta api terus mengalami kondisi tidak sehat karena masalah ini. East Midlands Railway yang memberikan kontraknya pada Abellio tahun ini mungkin tidak akan menghentikan sejumlah rolling stock yang masih melakukan pembuangan limbah toilet ke jalur kereta hingga 2023 mendatang. Hal ini karena ada izin untuk terus membuang limbah toilet di jalur dari kereta cepat yang berjalan antara London St Pancras ke kota-kota lain seperti Nottingham dan Sheffield. “Kami sepenuhnya mendukung perjalanan dengan Network Rail untuk menghapus semua kereta tanpa toilet limbah terkendali pada akhir 2023 dan sudah bekerja untuk memiliki semua kereta kami beroperasi dengan tank pada akhir 2020,” ujar seorang juru bicara. Tetapi beberapa masih mengoperasikan kereta yang melakukan pembuangan limbah di jalur termasuk Northern, West Midlands, ScotRail dan Transport for Wales. Seorang juru bicara West Midlands mengatakan, bahwa toilet yang tidak sesuai dengan gerbong tua akan di hentikan dan tidak digunakan lagi pada akhir tahun 2019 ini. ScotRail mengatakan sedang menyesuaikan tangki retensi ke kereta InterCity berkecepatan tinggi selama program perbaikan “sesegera mungkin”. Transport for Wales mengatakan sedang berinvestasi di kereta baru, menghapus rolling stock terakhir pada tahun 2023. Sekretaris transportasi bayangan Andy McDonald berjanji untuk mencari jaminan dari menteri untuk mengakhiri hal tersebut. “Baik operator kereta api dan pemerintah berjanji dua tahun lalu bahwa praktik beracun dari kereta api yang membuang limbah mentah ke kereta api akan berakhir pada tahun ini. Bisnis kotor ini berbau busuk dan merupakan janji lain yang dilanggar dari para menteri dan melatih bos perusahaan yang telah berkali-kali membuktikan bahwa mereka tidak dapat merencanakan peluncuran infrastruktur kereta api baru dan kereta api dalam bentuk koordinasi apa pun,” ujar Andy. Network Rail mengatakan bahwa alternatif untuk mengeluarkan pengecualian adalah menghapus kereta tertentu dari penggunaan, yang berarti kemungkinan pembatalan. Baca juga: Megaproyek Kereta Peluru India, Dilengkapi Nursery Room dan Toilet Terpisah “Kami berkomitmen untuk mengakhiri kereta mengosongkan sampah ke rel dan kami bekerja dengan semua operator untuk mewujudkan hal ini. Ada beberapa perusahaan kereta api yang telah diberi sedikit waktu lebih banyak untuk sejumlah kecil kereta mereka dan kami sedang melacak rencana aksi mereka dengan cermat untuk memastikan mereka patuh,” tambah juru bicara Network Rail.

Seperempat Awak Kabin Qantas Pernah Alami Pelecehan Seksual, Segelap Itukah Balik Layar The Flying Kangaroo?

Sebuah fakta mencengangkan datang dari maskapai asal Australia, Qantas – dimana sebuah email internal perusahaan dikabarkan bocor dan isinya sangatlah mencengangkan. Dalam email tersebut, terpapar fakta bahwa seperempat dari awak kabin The Flying Kangaroo pernah mengalami pelecehan seksual oleh rekan mereka sendiri dalam kurun waktu 12 bulan terakhir. Namun dari sekian banyak awak kabin yang pernah mengalami pelecehan seksual, hanya tiga persen saja yang sempat dilaporkan kepada bos Qantas. Wow, sekelam itukah balik layar dari Qantas? Baca Juga: Joanna Chiu: Kepala Biro Surat Kabar yang Sukses Hentikan Pelecehan Seksual di kabin Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman paddleyourownkanoo.com (4/11), sebuah survei pernah dilakukan terhadap 1.650 awak kabin dan 750 pilot guna membuktikan kebenaran dari isi email tersebut, dan menemukan bahwa satu dari empat awak kabin pernah dilecehkan oleh kolega mereka sendiri, dan 15 persen diantaranya mengalami pelecehan seksual dari penumpang Qantas dalam kurun waktu 12 bulan ke belakang. Selain itu, survei juga membuktikan bahwa pilot wanita tiga kali lebih rentan mendapatkan pelecehan seksual dari rekan prianya. “Kami sama sekali tidak memiliki toleransi terhadap segala sesuatuyang berkenaan dengan penyalahgunaan atau diskriminasi dari atau terhadap semua karyawan yang bernaung di bawah Qantas Group,” ujar Chief Operating Officer Qantas, Rachel Yangoyan. “Jika Anda mengalami atau melihat kejadian seperti ini (pelecehan seksual), kami harap Anda dapat melaporkannya kepada kami,” sambung Rachel. Sekitar sepertiga dari awak kabin yang pernah mengalami pelecehan seksual lebih memilih untuk tidak repot-repot melaporkan kejadian terkait karena mereka bisa menyelesaikannya sendiri – namun tidak dengan sisanya, karena mereka takut dikucilkan atau akan merusak karir mereka di Qantas. Menanggapi hal ini, Australian Transport Workers Union mengecam pihak maskapai karena rendahnya laporan tentang pelecehan seksual yang terjadi di tubuh maskapai mengindikasikan bahwa mereka enggan menuntaskan kasus ini. Namun pihak Qantas menyanggah pernyataan tersebut, dimana mereka sejatinya sudah dan akan terus meningkatkan fasilitas layanan pengaduan – terutama bagi mereka yang akan melaporkan tentang pelecehan seksual. Pihak maskapai juga menambahkan bahwasanya mereka akan membentuk layanan hotline konseling rahasia dan independen baru untuk menangani kasus-kasus semacam ini. Baca Juga: Ternyata, Qantas Airways Itu Merupakan Singkatan dari… Belum reda perdebatan tentang pihak Qantas dan Australian Transport Workers Union terkait pelecehan seksual di tubuh The Flying Kangaroo ini, muncul Flight Attendant Association of Australia (FAAA) yang menyebutkan bahwa sebanyak 97,5 persen awak kabin di Australia pernah mengalamai pelecehan dari penumpang selama rentang tahun 2018 silam. Sangat besarnya angka tersebut mengindikasikan bahwa betapa penumpang agaknya sangat sulit untuk bisa menjaga sikap – terlebih kepada awak kabin ketika tengah mengudara.

Mabuk dan Jatuh ke Peron, Pria Ini Nyaris Tewas Tertabrak Kereta

Mabuk bisa menyebabkan hal fatal seperti kematian ketika salah melangkah di peron sebuah stasiun. Hal ini baru saja terjadi di Stasiun Coliseum di California di mana seorang penumpang mabuk melangkah tanpa sadar dan jatuh ke jalur ketika kereta akan tiba di stasiun tersebut. Baca juga: Merusak Screen Door di Stasiun Orchard, Pria Muda Didakwa Pengadilan Singapura Dilansir KabarPenumpang.com dari laman dailymail.co.uk (4/11/2019), untungnya penumpang mabuk tersebut diselamatkan oleh seorang petugas Bay Area Rapid Transit (BART). Petugas yang bernama John O’Connor tersebut menarik pria mabuk ke atas peron dengan lengannya. Tak lama setelah John menolong pria itu, kereta tiba di peron. Seorang penumpang bernama Tony Badill menulis di akun Titternya, “Pekerja #BART ini baru saja menyelamatkan orang tersebut saat jatuh dari rel ketika kereta mendekat! Luar biasa!!” Kejadian ini direkam oleh seorang penumpang yang memperlihatkan bahwa John dengan bergegas menyelamatkan pria itu dan menariknya dengan sekuat tenaga ke tempat aman untuk menyelamatkan hidupnya ketika kereta berkecapatan 30 mph tiba di jalur. “Saya pikir kereta akan memotongnya menjadi dua. Jujur saya tidak ingin melihat orang ini mati. Saya hanya melakukan apa yang saya lakukan dan bersyukur kepada Tuhan saya ada di sana,” ujar John. Dia menambahkan, saat itu dirinya berada di garis kuing dan memperingatkan penumpang lain untuk tetap berada di belakang garis kuning. “Saya melihat dia jatuh hampir seperti akan naik tangga dan berakhir di jalur kereta. Semua orang berteriak dan memberitahukannya untuk keluar dari rel karena ada kereta yang medekat,” tambahnya. Dalam sebuah pernyataan BART yang tidak menyebutkan nama pria tersebut mengatakan, dia terjatuh tidak sengaja tetapi dikatakan pria itu mabuk dan dibawa untuk penanganan medis setelah insiden tersebut. Pihak BART juga berterimakasih kepada John yang telah bertindak menolong penumpang tesebut. “Dia telah menyelamatkan hidup malam ini. John terimakasih tunjukkan padanya beberapa cinta,” tulis BART dalam akun Twitter. Baca juga: Didorong dari Peron, Bocah 8 Tahun Tewas Tergilas Kerera Cepat di Frankfurt Seorang juru bicara menambahkan, John saat itu ada di peron dan memastikan semua orang untuk menjauh dari pgarus kuning. “John melihat ini bersama pengendara lain dan berteriak pada pria itu untuk kembali ke peron. Laki-laki itu tidak bergerak cukup cepat sehingga John meraihnya di pundak dan menariknya dengan menggulingkannya ke tubuh agar aman. Mereka berdiri dan berpelukan,” kata juru bicara itu.

Trayek Tak Tutup, Pengusaha Transportasi di Bandara Kertajati Hanya Merugi

Sepi penumpang ke Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, pengusaha bus banyak yang mengeluh dan menutup trayek mereka. Namun pihak manajemen BIJB mengaku tidak ada perusahaan bus yang menutup trayek mereka. Baca juga: Mulai 8 Juni 2018, Damri Operasikan Bus ke Bandara Kertajati dari Empat Kota Corporate Secretary BIJB Arief Budiman mengaku, tidak ada perusahaan yang tutup melainkan perusahaan transportasi merugi karena bersaing dengan bus Damri yang digratiskan pemerintah. Hal ini kemudian membuat penumpang lebih memilih menggunakan bus Damri dibandingkan bus lain yang berbayar. KabarPenumpang.com mengutip lama detik.com (4/11/2019), Arief mengatakan, tidak ada perusahaan antarmoda di Kertajati yang gulung tikar. Kebenarannya adalah belum menguntukan karena bus Damri yang gratis dan tidak ada yang menutup trayeknya sama sekali. “Moda yang beroperasi di sini masih melakukan layanan,” kata Arief. Sebelumnya, Kementerian Perhubungan menyatakan bahwa tidak ada perusahaan yang menutup trayek. Pasalnya cuma ada Damri dan Blue Bird yang mengoperasikan trayek Kertajati. Arief mengatakan, ada sebanyak 12 operator bus yang membuka trayek ke Kertajati termasuk Damri. Adapun operator moda transportasi lainnya yakni CTU Shuttle, MyTrans, ECA Shuttle, P. Trans, Baraya, Mekarsari, Arnes, Budiman, Bhineka Shuttle, Sobat Trans, Urban Travel. Selain ada operator taksi Blue Bird dan taksi online milik grab yang juga melayani jasa antar ke Kertajati. Bahkan para pengusaha modatransportasi memberikan harga promo untuk penumpang dengan tarif mulai Rp15 ribu hingga Rp100 ribu tergantung jarak tempuh. Operator transportasi lain ini membuka rute ke berbagai daerah seperti Cirebon, Bandung, Tasikmalaya, Indramayu, Kuningan, Jatinangor, Sumedang, Majalengka, Maja, Kadipaten, Tonjong, Cikijing, Purwakarta, dan Rajagaluh. Baca juga: Tiga Rute Citilink Tutup Sementara, Ada Apalagi dengan Bandara Kertajati? Diketahui, beberapa angkutan umum di Cirebon terpaksa menutup trayeknya ke Kertajati karena sepi penumpang. Tak hanya itu bahkan sebelumnya ada 15 shuttle yang membuka trayek ke BIJB tapi kini tersisa hanya 12 saja. “Sekarang BIJB kan sepi, senyap kembali. Sekarang memang sudah pada tutup. Ya rata-rata lah, di Cirebon itu ada sekitar 15 pengusaha angkutan yang sempat membuka shuttle arah BIJB,” kata Sekretaris DPC Organda Kota Cirebon Karsono.

Regulasi Sudah Disahkan Sejak 2008, Ternyata Masih Banyak Penumpang Korean Air yang Nekat Merokok di Ketinggian 36.000 Kaki!

Agaknya bagi semua yang pernah atau belum pernah naik pesawat sekalipun, tentu sudah mengetahui bahwa semua penumpang dan awak penerbang dilarang untuk merokok selama penerbangan berlangsung, baik itu rokok tradisional atau rokok elektrik yang sempat naik daun beberapa waktu ke belakang. Selain dapat mengganggu kenyamanan penumpang lain (terutama bagi mereka yang benci dengan asap rokok), tapi seperti yang sudah kita ketahui bersama, baterai yang terkandung di dalam rokok elektrik ini dapat memicu ledakan atau kebakaran. Menyeramkan, bukan? Baca Juga: Tiga Kali Hisap Rokok di Toilet, Penumpang Batik Air Tujuan Padang Digelandang Keamanan Bandara Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman forbes.com (28/10), memang, di beberapa maskapai di luar sana tidak memasang tanda dilarang merokok di dalam penerbangan mereka – dengan asumsi penumpang sudah memahami tentang peraturan ini sebelum mereka mengudara. Namun bagi sebagian maskapai, termasuk yang ada di dalam negeri, masih tetap memperingatkan kepada penumpang bahwa penerbangan yang sedang mereka lakoni tersebut bebas dari asap rokok. Bagi orang-orang yang sudah sadar akan pentingnya kenyamanan penumpang lain di dalam sebuah penerbangan, tentu mereka tidak akan pernah coba-coba untuk menyalakan rokok di ketinggian 36 ribu kaki. Tapi tidak bagi mereka yang seolah tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Ya, kasus ini nyatanya pernah terjadi di maskapai Korean Air, dimana ada atau bahkan bisa dikatakan banyak penumpang yang nekat menyalakan rokok elektrik mereka di tengah perjalanan. “Kasus penumpang merokok rokok elektrik di dalam kabin sudah menjadi sesuatu yang lumrah sekarang,” ujar pihak Korean Air dalam sebuah pernyataan. Pernyataan pihak maskapai ini bukan tanpa data. Korean Air mencatat bahwa sebanyak 34 persen penumpang yang membawa dan menggunakan rokok elektrik mereka di dalam penerbangan pada tahun 2018 silam. Angka ini meningkat ke level 59 persen di tahun 2019 ini – tercatat sejak bulan September kemarin. Tentu saja ini merupakan peningkatan yang sangat signifikan. Meningkatnya angka pengguna rokok eletkrik di atas ternyata berbanding terbalik dengan menurunnya angka penumpang yang nekat menyalakan rokok tradisional di dalam penerbangan Korean Air. Di tahun 2016 silam, pihak maskapai mencatat ada 266 kasus penumpang yang nekat merokok rokok tradisional di dalam penerbangan. Namun angka tersebut turun hingga bulan September 2019, dimana hanya ada 120 insiden saja. Baca Juga: Nekad Merokok di Kabin Sebelum Mengudara, Ini Tanggapan Pihak Citilink Indonesia Banyak dari pengguna rokok elektrik yang berdalih bahwa mereka belum mengetahui tentang pemberlakuan regulasi terkait ini. Padahal, di Korea Selatan, Pemerintah sudah menetapkan rokok elektrik sebagai bagian dari produk rokok tradisional yang menggunakan tembakau sejak tahun 2008 silam – walaupun pada kenyataannya rokok elektrik tidak menggunakan tembakau. Jadi, para penumpang yang masih nekat merokok di dalam pesawat ini memang benar-benar tidak mengetahui tentang regulasi dilarang merokok, atau hanya berpura-pura tidak tahu saja?

Berhubungan Badan dan Mengeluarkan Suara Keras, Pasangan Asal Jerman Diturunkan dari Kapal Pesiar

Menikmati perjalanan dengan kapal pesiar adalah salah satu cara untuk menikmati keindahan laut. Namun bagaimana kalau ketika menikmati perjalanan kapal pesiar bersama dengan pasangan tetapi harus diturunkan karena melakukan hal yang mengganggu penumpang lain? Baca juga: Pelabuhan Benoa Berbenah, Kapal Pesiar Ukuran Besar Akan Bisa Bersandar Dilansir KabarPenumpang.com dari dailymirror (2/11/2019),  sepasang suami istri asal Jerman diusir dan diturunkan dari kapal pesiar yang tengah mereka tumpangi ketika liburan. Kala itu mereka dalam perjalanan selama dua minggu ke Kepulauan Karibia. Renate F dan sang suami Volker dilaporkan membiarkan pintu balkon mereka terbuka ketika tengah berhubungan badan. Kapal pesiar itu sedang berlabuh di Barbados dan keduanya mengaku mengeluarkan suara terlampau keras saat berhubungan badan dan lupa menutup pintu balkon mereka. Setelah berhubungan badan Renate menuturkan dirinya dan sang suami sempat bertengkar dan tidak membuat kerusakan. Sayangnya kejadian itu membuat manajer kapal pesiar yang di dampingi keamanan datang dan memberitahu kapten untuk menyuruh keduanya keluar. Setelah diusir dan diturunkan di Barbados, keduanya mengaku terdampar, dan harus membayar banyak uang untuk membeli tiket pesawat ke Paris, Perancis, sebelum pulang ke Jerman. Pasangan itu lalu mengambil jalur hukum dan menuntut perusahaan kapal pesiar tersebut untuk membayar ganti rugi, termasuk kompensasi “rasa sakit” dan uang mereka dikembalikan. “Karena insiden keamanan, kami menggunakan hak kami agar tamu meninggalkan kapal,” ujar TUI operator kapal pesiar. Perusahaan mengaku sudah berkorespondensi dengan Renate untuk menjelaskan terkait kebijakan mereka, utamanya soal ganti rugi. Dalam kebijakan mereka, penumpang yang membuat keributan maupun membahayakan penumpang lain bisa diusir tanpa mendapat pengembalian uang. Terlepas dari kejadian tersebut, dilihat dari sisi medis umumnya berhubungan badan memang akan mengeluarkan suara, terlebih pada wanita. Sebab berhubungan badan yang terlalu sepi membuat sesi bercinta tersebut menjadi kurang menyenangkan. Baca juga: Berdiri di Tepi Luar Balkon Kapal Pesiar, Wanita ini Dilarang Naik Kapal Pesiar Selamanya Sebuah penelitian dari University of Leeds, Inggris bahkan menyebutkan adanya kaitan yang kuat antara ekspresi kepuasan dan peningkatan gairah. Renate dan Volker mengungkapkan, awalnya mereka memesan paket liburan bersama Mein Schiff 5, yang memulai pelayaran sejak 1 April lalu.

Dianggap Mengancam, Dua Penumpang Easyjet Digeruduk Keluar dari Pesawat

Singgungan antar penumpang ketika tengah melakukan boarding di pesawat agaknya menjadi hal yang lumrah adanya. Namun apabila singgungan ini berbuntut pada pembatalan penerbangan, wah, bisa repot juga! Tapi sejatinya, kejadian seperti ini memang kerap terjadi di penerbangan di luar negeri sana – entah apa yang melatarbelakangi para penumpang ini menjadi sangat agresif. Baca Juga: Inilah Beberapa Tipe Penumpang Pesawat, Anda Masuk Kategori Yang Mana? Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman mirror.co.uk (2/11), maskapai berbiaya rendah asal Inggris, Easyjet dengan nomor penerbangan EZY1837 terpaksa mengeluarkan dua penumpang dari penerbangannya karena dinilai telah bersikap kasar dan mengancam penumpang lain. Kejadian ini sendiri terjadi pada Jumat (1/11) kemarin, dimana pesawat ini sejatinya akan melakukan perjalanan dari Manchester menuju Amsterdam. Mulanya proses boarding berjalan dengan lancar, hingga pada saatnya pesawat melakukan taxi menuju landas pacu, keributan pun terjadi. Saking parahnya, pilot sampai-sampai memutuskan untuk mengurungkan take-off dan kembali menuju gedung terminal. Setibanya di gedung terminal, kedua penumpang berjenis kelamin pria ini langsung diungsikan dari dalam pesawat guna mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut dari petugas keamanan. Dalam beberapa foto yang sempat diabadikan oleh orang-orang di dalam pesawat, tampak salah satu dari dua pria yang diusir dari dalam penerbangan ini memiliki postur tubuh yang cukup besar dan mengenakan kaos berwarna merah. Tidak hanya dua penumpang anonim ini saja yang ternyata harus meninggalkan pesawat, melainkan semua penumpang yang ada di dalam penerbangan Easyjet EZY1837 juga harus kembali menuju gedung terminal. Sejatinya, penerbangan berjadwal ini take-off pada pukul 11.35 waktu setempat, namun karena insiden ini, maka penerbangannya terlambat dua setengah jam. “Awak kabin kami sudah terlatih untuk mengatasi penumpang semacam ini, sehingga keselamatan penumpang tetap menjadi yang utama di Easyjet,” ujar salah satu juru bicara Easyjet sembari membenarkan apa yang terjadi pada maskapai tersebut. Baca Juga: Pergerakan Penumpang Pesawat, Bisa Jadi Faktor Penyebaran Infeksi Pernafasan “Meskipun insiden seperti ini jarang terjadi, kami akan menanggapinya dengan sangat serius, tidak mentolerir perilaku kasar atau mengancam di atas pesawat,” sambungnya. Walhasil, keterlambatan pemberangkatan dari Easyjet EZY1837 menuju Amsterdam membuat pesawat ini baru mendarat pada pukul 16.24 waktu setempat – seharusnya pesawat tiba sekitar pukul 14.00 waktu setempat.

Niat Hati Mau Ngumpet di Ban Pesawat, Wisatawan Gelap Asal Rusia Dibekuk Petugas Bandara Taiwan

Apa yang akan Anda lakukan ketika pesawat hendak take-off? Tentu saja duduk nyaman di pesawat sembari mendengarkan musik atau hanya sekedar menikmati sensasi lepas landas dari si burung besi. Namun apa jadinya jika ada seseorang yang lebih memilih untuk menikmati sensasi take-off dari roda depan pesawat? Wah, sudah barang tentu ia akan menjadi pusat perhatian para petugas keamanan, ya! Tapi kejadian ini benar-benar terjadi, lho! Baca Juga: Tertidur Sepanjang Perjalanan, Penumpang Air Canada Terbangun dalam Kabin Gelap dan Kosong Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman newsinflight.com (2/11), seorang yang diduga berkebangsaan Rusia nekat merangsek masuk ke area tarmak dan berlari menuju pesawat China Airlines CI028 sebelum akhirnya memeluk erat tiang penyangga ban pesawat bagian depan. Kejadian ini sendiri terjadi di Bandara Internasional Taoyuan Taiwan pada Sabtu (2/11) kemarin, sekitar pukul 14.00 waktu setempat. Beruntung, ketika kejadian ini berlangsung, seorang pilot Asiana Airlines melihat aksi si pria anonim ini, dan langsung menghubungi pihak bandara untuk menindaklanjutinya. Benar saja, seketika petugas menara ATC menerima laporan dari pilot Asiana Airlines ini, mereka langsung berkoordinasi dengan petugas keamanan dan langsung menangkapnya. Dari beberapa gambar yagn berhasil diabadikan oleh orang-orang di seputar lokasi kejadian, pria berambut pirang ini tampak mengenakan jaket berwarna gelap, mengenakan topi dan masker, serta membawa ransel yang mungkin berisi baju-bajunya selama berkelana di Negeri Tirai Bambu.
Sumber: newsinflight.com
Ketika sudah berhasil dibekuk petugas, ternyata pria ini tidka membawa identitas sama sekali dan tampak tidak kooperatif dalam menanggapi pertanyaan para petugas. Dari sini, petugas sudah mencurigai bahwa orang ini merupakan salah satu penumpang gelap yang hendak melarikan diri dari Tiongkok. Baca Juga: Jadi “Penumpang Gelap,” Burung Myna Masuk Kabin A380 Singapore Airlines dan Ikut Terbang 12 Jam Ternyata benar saja, ketika petugas melakukan pemeriksaan sidik jari dan pemindaian iris, pria ini tidak memiliki catatan masuk dan keluar dari Taiwan. Hingga berita ini diturunkan, petugas keamanan Bandara Internasional Taoyuan Taiwan yang berkoordinasi dengan pihak kepolisian masih memeriksa lebih lanjut tentang ‘calon penumpang gelap’ ini.

FlixBus Uji Coba Bus Listrik Terjauh di Amerika Serikat

Bus listrik ternyata tak digunakan hanya untuk dalam kota saja, tetapi di Amerika Serikat baru-baru ini diuji coba untuk perjalanan jarak jauh. Tepatnya Senin (28/10/2019), bus listrik berwarna hijau cerah melaju sepanjang 85 mil atau sekitar 136 km dari San Francisco ke Sacramento. Baca juga: Kurangi Emisi, Pemerintah Sydney Bakal Ganti 8000 Bus Diesel Menjadi Bus Listrik Pada uji coba tersebut, bus terisi penuh dan kemudian kembali lagi ke San Francisco dari Sacramento. Dilansir KabarPenumpang.com dari fastcompany.com (29/10/2019), uji coba ini dijalankan oleh FlixBus dan produsen bus MCI dan menjadi yang pertama dari rute bus listrik jarak jauh di Amerika Serikat. FlixBus, yang berbasis di Jerman, diluncurkan pada 2013 untuk membantu agar pengemudi kendaraan pribadi tidak lagi menggunakan mobilnya untuk perjalanan jarak jauh dengan membuat bus lebih menarik bagi orang-orang yang mungkin tidak menganggapnya sebagai pilihan di masa lalu. “Salah satu prinsip utama dari visi kami adalah bahwa mobil tidak sesuai dengan dunia modern kita. Situasi saat ini di mana Anda memiliki 90-92 persen perjalanan jarak jauh yang diambil dengan mobil tidak berkelanjutan. Bahkan jika semua orang bepergian dengan mobil listrik, katanya, akan ada terlalu banyak lalu lintas,” kata Pierre Gourdain, direktur pengelola perusahaan di AS. Perusahaan menggunakan bus modern yang dilengkapi WiFi dan soket listrik serta memiliki aplikasi yang memungkinkan pengendara melacak bus yang mendekat seperti Uber, dan menawarkan tarif rendah. “Mari kita temukan kembali cara pengirimannya, mari kita temukan kembali cara penjualannya dan cara mereknya untuk membuat bus menjadi dingin kembali dan membawa orang keluar dari mobil mereka,” kata Gourdain. Sekarang menawarkan beberapa rute di Eropa dan AS, bermitra dengan operator bus yang memiliki dan menjalankan bus karena menangani pemasaran. Langkah alami berikutnya,  adalah pindah ke bus listrik. FlixBus pertama kali meluncurkan rute bus listrik di Perancis dan Jerman pada tahun 2018. “Mereka masih dijalankan hari ini dengan bus listrik yang sama, jadi kami telah melihat bukti dan bukti jarak jauh dan kemampuan jangka panjang dari brankas dan Opsi listrik yang dapat diandalkan di luar negeri, ”kata Michael Kahn, kepala pengembangan bisnis di FlixBus USA. MCI, pabrikan bus yang akan digunakan perusahaan di AS, kini menggunakan uji coba pilot untuk membuat perubahan akhir dari desain sebelum manufaktur dimulai dan bus-bus menghantam jalan, kemungkinan pada akhir 2020 atau awal 2021. Beberapa rute pertama akan mencakup San Francisco ke Sacramento, LA ke San Diego, dan Portland ke Seattle. Bus-bus tersebut memiliki jangkauan proyeksi 158 mil. Perusahaan induk FlixBus, Flixmobility, memiliki tujuan untuk perjalanan bebas CO2 100 persen pada tahun 2030, juga mulai menjalankan kereta api yang mengandalkan energi hijau di Eropa, dan sedang menguji teknologi lain, termasuk bus yang beroperasi pada sel bahan bakar, membuat rute jarak yang lebih jauh mungkin. Rute yang lebih panjang ini juga dapat membantu mengganti perjalanan pesawat. Gourdain mengatakan bahwa perusahaannya telah melihat peningkatan penjualan tiket bus di beberapa negara Eropa di mana perjalanan pesawat menurun karena kekhawatiran tentang perubahan iklim. Itu kemungkinan akan tumbuh seiring perusahaan terus beralih ke teknologi bersih. “LA ke Vegas adalah contoh yang bagus dari rute yang saat ini tepat di luar jangkauan apa yang dapat dilakukan oleh model bus listrik saat ini, tetapi merupakan kandidat yang hebat, seiring dengan meningkatnya teknologi, untuk menggantikan banyak orang yang bepergian dengan pesawat. Terutama ketika kamu harus berurusan dengan LAX, kamu benar-benar tidak menghemat banyak waktu dengan pergi ke bandara dan terbang. Dan tentu saja, emisi yang Anda berkontribusi terhadap tiket pesawat jauh lebih banyak,” kata Kahn. Tiket untuk rute listrik jarak jauh pertama di AS akan mulai dari $10 hingga $15. Gourdian mengatakan, kebanyakan orang tidak pernah naik dan mungkin tidak akan naik mobil listrik untuk waktu yang lama karena mereka masih sedikit di luar kisaran harga-bijaksana untuk sebagian besar penduduk. Baca juga: Operasikan 400.000 Unit, Populasi Bus Listrik Terbesar Masih di Cina “Dan kami berpikir bahwa bagi banyak orang, pengalaman pertama mereka dalam perjalanan bersih adalah dengan bus listrik. Di satu sisi, itu benar-benar alat transportasi listrik untuk 99 persen,” jelasnya.