Berhati-hatilah dalam bertutur kata, karena salah sedikit saja, mungkin sesuatu yang buruk siap untuk menimpa Anda. Seperti halnya penumpang British Airways yang satu ini, dimana pria yang disinyalir bernama Peter Nelson ini tengah berada di dalam penerbangan langsung jarak jauh yang diperkirakan memakan waktu perjalanan 12 jam lamanya. Ketika ia dibangunkan untuk sarapan oleh awak kabin, bukannya terima kasih yang dilontarkan melainkan umpatan yang kabarnya membuat pria ini dikeluarkan secara tidak hormat dari pekerjaannya. Duh!
Baca Juga: Ada 9 Hal dari Penumpang Yang Tak Disukai Oleh Awak Kabin
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman viewfromthewing.com (7/9), seorang penumpang yang berprofesi sebagai konsultan IT tengah berada di dalam penerbangan British Airways rute London Heathrow menuju Rio de Janeiro (Brasil) pada Juni tahun 2018 lalu terpaksa menanggung denda ribuan dollar Amerika karena mengungkapkan kalimat makian berbau rasisme terhadap awak kabin yang membangunkannya – Sima Patel-Pryke.
Kala itu, Peter yang tengah dalam lawatan bisnisnya menuju Brasil dengan membawa bendera GlaxoSmithKline – tempatnya bekerja. Perjalanan 12 jam agaknya membuat Peter bosan dan memutuskan untuk beristirahat. Ketika Sima membangunkan Peter untuk sarapan, pria yang diduga menenggak minuman keras sebelumnya ini malah berteriak dan memaki.
“Anda pikir orang Asia seperti Anda itu lebih baik dari kami? Saya tidak ingin banyak dilayani oleh Anda. Saya telah membayar upah Anda selama lebih dari 20 tahun terakhir!”
Sima yang kaget langsung berjalan mundur dari First Class – kelas diduduki oleh Peter dan awak kabin lain yang mendengar makian tersebut langsung mengambil ancang-ancang untuk mengamankan Peter dengan menggunakan kabel ties – walaupun pada akhirnya itu tidak terlalu perlu.
Dari umpatannya tersebut, Peter sudah dengan sangat jelas ingin dilayani oleh ‘gadis berkulit putih’ dan tidak ingin melihat Sima lagi.
Singkat cerita, kasus ujaran berbau rasisme ini berbuntut panjang hingga sampai ke meja hijau. Hingga pada minggu pertama bulan September ini, hakim memutuskan keputusan yang bulat dan mendakwa Peter dengan tuduhan pelecehan yang semakin diperparah dengan penyertaan rasisme.
Baca Juga: Inilah yang Diharapkan Seorang Awak Kabin dari Penumpang!
Sebenarnya, hukuman yang diterima Peter bisa dibilang tidak terlalu berat – hanya membayar denda sejumlah £2.000 atau yang berkisar Rp34,4 juta dengan rincian: £1.500 untuk biaya persidangan dan £500 sisanya sebagai kompensasi terhadap Sima. Namun satu yang membuat napas Peter seolah disekap oleh bantal adalah: ia kehilangan pekerjaannya.
Pasca kasus ini mengeluarkan putusan, Peter dan keluarganya mempertimbangkan untuk meninggalkan Inggris dan kembali ke Selandia Baru – kampung halamannya.
Seorang ayah yang juga penumpang maskapai EasyJet baru-baru ini menawarkan diri untuk menerbangkan pesawat maskapai itu menuju ke Alicante di Spanyol dari Manchester di Inggris. Pria bernama Michael Bradley tengah melakukan perjalanan bersama keluarga kecilnya ketika pesawat yang ditumpangi mengalami delay atau terlambat selama dua jam karena ternyata tidak ada pilot yang akan menerbangkan.
Baca juga: Orang Tuanya Dalam Pesawat yang Diterbangkan, Pilot Jetstar Menyapa Spesial dari KokpitKabarPenumpang.com melansir laman foxnews.com (6/9/2019), awal mengajukan diri untuk menerbangkan pesawat EasyJet dikarenakan melihat penumpang lain yang frustasi akibat keterlambatan tersebut. Bradley sendiri seorang pilot yang sedang tidak bertugas untuk menikmati liburannya.
Dia menghubungi pihak EasyJet dan menawarkan bantuan untuk menerbangkan pesawat tersebut ke Alicante dan mengatakan memiliki lisensi penerbangan dan kartu identitas. Pihak EasyJet yang mendapat tawaran tersebut tidak langsung menjawab dan mengatakan akan menelpon Bradley kembali.
“Tiga puluh delapan detik kemudian pihak EasyJet menghubungi saya dan berkata tolong untuk menerbangkan pesawat tersebut ke Alicante,” ujar Bradley.
Dia kemudian memberi pengumuman pada seluruh penumpang jika dirinyalah yang akan menerbangkan pesawat tersebut. Para penumpang bersorak atas tawaran Bradley dan mengabadikan momen tersebut.
Demi menerbangakan pesawat tersebut, Bradley harus berpisah sejenak dengan anak dan istrinya yang duduk di kursi 15. Adanya pengumuman yang disampaikan Bradley tersebut membuat salah satu penumpang mengatakan dirinya beruntung karena satu dari mereka seorang pilot.
Sebab jika tidak, maka penerbangan tersebut akan dibatalkan. Adanya bantuan dari Bradley, membuat maskapai EasyJet mengucapkan terima kasih karena penerbangan ke Alicante dapat berangkat.
“Kami berterima kasih kepada pilot yang sedang melakukan liburan dari Manchester ke Alicante pada 2 September bersama keluarganya dan mengajukan diri untuk mengoperasikan penerbangan,” ujar Juru bicara EasyJet.
Baca juga: Bruce Dickinson, Pentolan Iron Maiden yang Menyandang Lisensi Pilot Pesawat Komersial
Juru bicara tersebut juga mengatakan bahwa penerbangan ini sudah sesuai dengan peraturan, sebab EasyJet tidak akan sembarangan dalam menentukan siapa yang akan menerbangkan pesawat.
“Ini seluruhnya sesuai dengan peraturan karena dia memiliki lisensi dan ID. Keselamatan penumpang selalu menjadi prioritas kami,” tambahnya.
Kendati RUU Esktradisi yang selama ini menjadi ‘biang kerok’ dari demonstrasi besar-besaran yang terjadi di Hong Kong dalam kurun waktu beberapa bulan ke belakang ini sudah dicabut, namun kabar terakhir menyebutkan bahwa demo masih saja terjadi di bagian terluar dari Negeri Tirai Bambu ini. Terlepas dari demo yang masih berlangsung hingga minggu kedua bulan September ini, nama Cathay Pacific sebagai flag carrier Hong Kong masih menjadi sorotan berbagai media – terlebih karena sahamnya yang terus merosot.
Baca Juga: Bantu Cathay Pacific Lewati “Turbulensi,” Qatar Siap Tingkatkan Kepemilikan Saham
Pada pemberitaan sebelumnya, disebutkan bahwa salah satu stakeholders dari saham Cathay Pacific, Qatar Airways siap untuk menambah saham mereka di tubuh flag carrier tersebut – dengan dalih untuk membantu Cathay Pacific keluar dari ‘turbulensi’. Dari pernyataan Qatar yang akan menambah porsi sahamnya, Air China menunjukkan gelagat yang agaknya tidak terlalu senang dengan ide tersebut. Tidak hanya Air China, Swire Pacific yang juga memiliki saham di Cathay ini juga menunjukkan sikap serupa.
Terindikasi ‘sirik’ dengan Qatar, pihak Air China pun melontarkan pernyataan bahwa mereka tidak memiliki rencana untuk mengambil alih kepemilikan dari Cathay Pacific. Pernyataan tersebut dilontarkan oleh direktur non-eksekutif Air China, Stanley Hui.
“Sejauh apa yang saya tahu, itu (mengambil alih Cathay) tidak ada di dalam agenda, tidak mungkin,” tutur Stanley.
Diwartakan KabarPenumpang.com dari Reuters (9/9), Air China merupakan pemegang saham terbesar kedua setelah Swire Pacific Ltd. yang bercokol di angka 45 persen. Air China sendiri memiliki saham sebesar 30 persen di tubuh Cathay Pacific, diikuti oleh Qatar Airways di angka 10 persen.
Padahal, menurut para analis, bukan tidak mungkin rupanya jika Air China mengambil alih sisa saham Cathay Pacific di masa yang akan datang – mengingat saham dari flag carrier Hong Kong ini sendiri tengah jatuh-jatuhnya pasca demonstrasi besar-besaran RUU Ekstradisi.
Menanggapi pernyataan analis ini, pihak Air China menolak untuk berkomentar.
Baca Juga: Diterjang Badai “RUU Ekstradisi,” Sampai Kapan Cathay Pacific dapat Bertahan?
Sebelumnya, saham Cathay Airways turun lebih dari empat persen per tanggal 12 Agustus 2019. Angka tersebut mendekati saham terendah perusahaan dalam kurun waktu satu dekade terakhir. Saham Cathay Pacific anjlok ke level 9,82 dollar Hong Kong pada sesi awal perdagangan. Ini merupakan level terendah sejak Oktober 2018 dan hampir mencapai level terburuk sejak krisis keuangan global pada 2009.
Ketika tengah berupaya bangkit dari jurang keterpurukan’737 MAX’, produsen kedirgantaraan terkemuka asal Negeri Paman Sam, Boeing nyatanya harus kembali menelan pil pahit setelah pihak manufaktur pesawat menangguhkan uji final load dari varian 777X yang dijadwalkan pada Jumat (6/9) kemarin.
Baca Juga: Gunakan Sayap Lipat nan Unik, Akankah Boeing 777X Jadi Pesawat Paling Efisien?
Uji final load ini merupakan bagian dari proses sertifikasi pesawat yang diawasi oleh inspektur dari Federal Aviation Administration (FAA). Tujuan dari uji ini adalah untuk “memuat pesawat dan mengudara melampaui beban operasional normal,” ujar salah seorang juru bicara dari Boeing. Dan sialnya, karena atu dan lain hal, Boeing terpaksa harus menangguhkan uji penerbangan itu.
“Selama pengujian statik final load Boeing777X, tim menghadapi masalah yang mengharuskan tes ditangguhkan,” tandasnya, dikutip KabarPenumpang.com dari laman channelnewasia.com (8/9).
“Kondisi pengujian jauh melampaui beban yang diharapkan dalam layanan komersial. Pengujian ini sedang ditinjau dan tim bekerja untuk memahami akar permasalahan.” lanjut pihak Boeing.
Menurut salah satu sumber yang indentitasnya tidak ingin dibongkar mengatakan pintu pesawat ‘meledak’ ketika pengujian tengah berlangsung. Ia melanjutkan bahwa kejadian semacam ini sangat jarang terjadi ketika uji final load.
Akibat dari insiden ini, Boeing 777X yang seharusnya lepas landas untuk pengujian penerbangan perdananya pada musim panas tahun 2019 ini, harus ditunda hingga sekiranya awal tahun 2020 mendatang. Hal ini lantaran pihak Boeing juga menemukan masalah pada mesin General Electric (GE) yang digunakannya.
Ketika dikonfirmasi, pihak Boeing masih enggan memberikan komentar apakah akan ada kemunduran dalam proses uji coba pra penerbangan komersial ini.
Baca Juga: Wow! Mesin Boeing 777X Lebih Besar dari Body 737
Menurut FAA, selama pengujian ini, pesawat akan ditempatkan di bawah tekanan ekstrim untuk memverifikasi kekuatan strukturalnya. Korelasinya dengan operasi komesial adalah pihak Boeing ingin memastikan bahwa varian 777X ini mampu beroperasi secara aman bahkan ketika pihak maskapai penggunanya melanggar apa yang sudah dibataskan oleh Boeing – semisal dari segi beban angkut dan lain-lain.
“Kini FAA tengah menganalisis masalah yang muncul selama pengujian struktural pesawat ini,” ujar pihak FAA dalam sebuah keterangan.
Jepang kembali diterjang bencana alam yang berdampak pada kehidupan warga di sana. Badai Faxai yang kembali ‘menyambangi’ Negeri Sakura ini dikabarkan menjadi yang paling kuat dalam enam dekade terakhir. Salah satu kota yang paling terdampak dari Badai Faxai ini adalah Tokyo, dimana angin berkecepatan 216 km per jam menghantam 290.000 rumah di sana dan mengacaukan jaringan transportasi di sana. Tidak hanya itu, sekitar 5.000 orang yang tinggal di Chiba dan prefektur Kanagawa dihimbau untuk mengungsi.
Baca Juga: Hadapi Petir, Es dan Angin Kencang, Pesawat Sejatinya Telah Dirancang Untuk Kondisi Ekstrim
Pada Senin (9/9) dini hari, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan oleh otoritas setempat terkait Badai Faxai ini, tapi sekitar 864.000 rumah kehilangan daya listriknya – termasuk yang ada di kota Kamogawa, sebelah Timur Tokyo. Lalu, jika tadi disinggung tentang jaringan transportasi yang terdampak badai ini, bagaimana kondisi di Bandara Haneda dan Narita yang masing-masing berada di Tokyo dan Chiba?
Sebelumnya, sedikit sejarah tentang badai ini adalah Faxai digunakan untuk menamai empat siklus badai yang terjadi di sebelah barat laut Samudera Pasifik. Faxai sendiri merupakan nama depan seorang wanita Laos. Namun sayang, identitas dari Faxai ini tidak bisa digali lebih dalam.
Dikutip KabarPenumpang.com dari laman straitstimes.com (8/9), dua penerbangan Singapore Airlines (SIA), SQ630 dari Singapura menuju Tokyo Haneda dan SQ639 dari Tokyo Haneda menuju Singapura terpaksa di-reschedule. Dikabarkan, SQ630 yang dijadwalkan berangkat pada pukul 17.05 waktu setempat diundur keberangkatannya jadi 01.05 keesokan harinya. Sementara untuk SQ639 yang dijadwalkan bertolak pada pukul 02.25 waktu setempat harus mengalami delay hingga pukul 11.03 dan dijadwalkan tiba di Singapura pada pukul 16.37 di hari yang sama.
“Selain dua penerbangan tersebut, semua penerbangan SIA yang menuju ke Haneda dan Narita beroperasi seusai jadwal,” ujar pihak maskapai.
“Karena situasinya yang masih tidak pasti, Singapore Airlines memantau situasi dengan seksama dan pelanggan juga dapat memeriksa situs web dan platform media sosial kami secara teratur untuk mendapatkan pembaruan,” tandas SIA.
Baca Juga: Ini Dia! Alasan Kenapa Pesawat Harus Terbang Tinggi!
Mengutip dari bbc.com (9/9), Badai Faxai ini juga telah membuat 100 penerbangan di Tokyo dibatalkan.
Jika dilihat dari laman FlightStats dan OAG, tampak dua penerbangan Garuda Indonesia dari Jepang (Haneda dan Narita) menuju Jakarta mengalami keterlambatan. GA9353 yang dijadwalkan berangkat dari Tokyo Haneda (HND) menuju Jakarta (CGK) pada pukul 10.15 waktu setempat dijadwal-ulang untuk bertolak pada pukul 13.10. Sedangkan GA9153 yang dijadwalkan bertolak dari Narita (NRT) menuju Jakarta (CGK) pada pukul 11.05 waktu setempat molor menjadi pukul 11.25 waktu setempat.
Peneliti Jepang sedang mempelajari desain baru untuk helikopter majemuk yang mampu mengudara pada kecepatan tinggi – kabarnya hingga mencapai 500 km per jam. Konsep yang tengah dikembangkan oleh Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) ini juga menyantumkan sepasang baling-baling kecil pada bagian ujung sayap dengan posisi yang agak miring ke bawah. Fungsinya, adalah untuk menambah kecepatan dari helikopter itu sendiri.
Baca Juga: Helikopter Kursi Tunggal Ini Dibandrol Hanya US$20 Ribu
“Berbeda dengan baling-baling helikopter lain seperti yang ada pada Airbus Helicopters Racer, baling-baling yang bertenaga listrik yang kami gunakan ini akan memberikan kontrol anti-torsi dan lebih terarah,” ujar pihak JAXA, dikutip KabarPenumpang.com dari laman flightglobal.com.
Nantinya desain akhir dari helikopter kembangan JAXA ini akan tampak berbeda dengan kebanyakan helikopter, dimana Anda akan melihat lebih banyak baling-baling yang berfungsi untuk meningkatkan kecepatan dari moda ini. Dalam blueprint, JAXA menggambagkan helikopter akan dilengkapi dengan empat baling-baling – atas, kiri dan kanan, serta belakang.
Namun baling-baling yang berada di belakanglah (ditenagai oleh turboshaft engine konvensional) yang akan memegang porsi besar untuk meningkatkan kecepatan dari helikopter ini.
“Target kami adalah untuk menguji coba prototipe dari moda ini dan menembus kecepatan maksimum 270 knots (500 km per jam)– kecepatan yang dua kali lipat lebih cepat ketimbang helikopter biasa, dan tentu saja dengan mesin yang dua kali lipat lebih banyak,” ungkap pihak JAXA.
“Secara umum, jika Anda ingin mencapai kecepatan yang dua kali lebih cepat, Anda akan membutuhkan delapan kali daya dorong jika drag co-efficiency pesawat tetap sama,” lanjutnya.
Selain masalah kecepatan, JAXA juga diketahui tengah mempelajari tentang “low drag” termasuk penggunaan baling-baling utama yang berada di tengah atas pesawat. Jadi kelak, helikopter ini tidak hanya bisa terbang dengan kecepatan yang fantastis, melainkan juga dapat terbang rendah. Keren, ya!
Baca Juga: Mengenal Jasa Penerbangan Charter di Indonesia
Menurut pihak JAXA, helikopter ini akan memasuki masa uji coba pada tiga tahun mendatang dengan model skala – tidak dengan prototipe.
“Kebahagiaan kami akan tercapai ketika kami dapat melayani masyarakat dengan optimal,” tutup pihak JAXA.
Penerbangan penumpang internasional terjadwal pertama berangkat pada 25 Agustus 1919 atau sudah terjadi sejak seratus tahun lalu. Layanan udara penumpang internasional reguler perdana ini menghubungkan London dan Paris.
Baca juga: 50 Tahun Sejak Terbang Perdana, Inilah ‘Jejak’ Supersonik Concorde yang Selalu Dikenang
Pada saat itu, penerbangan internasional dianggap masih baru dan dioperasikan oleh Air Transport & Travel Ltd (AT&T) yang merupakan cikal bakal British Airways (BA). Pesawat lepas landas dari Hounslow Heat yang kini menjadi Bandara Heathrow di Inggris.
Selama seratus tahun, penerbangan internasional telah banyak berubah dan jika dirunut dari 1919 ternyata tahun itu merupakan penuh aksi untuk tonggak penerbangan. KabarPenumpang.com merangkum cnn.com (26/8/2019), tepatnya pada 15 Juli 1919 penerbang asal Inggris John Alcock dn Arthur Brown menyelesaikan penerbangan translatik nonstop pertama mereka.
Ini penerbangan yang membuka jalan bagi rute populer London ke New York. Penerbangan pada seratus tahun lalu menjadi momen besar bagi para petualang yang pemberani dan penerbangan berpengalaman. Apalagi penerbangan kala itu juga untuk mendukung angkutan surat dan paket yang mana mewakili era baru dalam penerbangan komersial.
Dalam era ini poster pemasaran AT&T yang menggambarkan landmark terkenal di kota masing-masing yakni Katedral St Paul di London dan Menara Eiffel di Paris. Ini merupakan iklan glamor yang menekankan frekuensi layanan baru sebab berangkat setiap hari dan tampak agak luar biasa kala itu.
Paul Jarvis seorang kurator lama di BA Heritage Collection berbicara tentang bukunya “British Airways: 100 Years of Aviation Posters” pada tahun 2018, mengatakan pemasaran layanan udara penumpang pertama adalah penting. “Pada momen tersebut adalah penting untuk membujuk orang untuk terbang. Ada cukup banyak orang yang mengira terbang hanyalah iseng saja,” kata Jarvis.
Layanan penerbangan komersial London-Paris kala itu menggunakan pesawat De Havilland DH4A H-EAJC yang dibuat untuk pada fase Perang Dunia Pertama dan ditata kembali menjadi pesawat sipil yang terbang melintas Selat Inggris dalam waktu dua jam 30 menit. Pesawat ini didukung oleh mesin piston Rolls Royce Eagle tunggal.
Pesawat kecil tersebut tak bisa memuat banyak orang, yakni hanya 14 penumpang dan kargo yang diangkat terbatas. Penerbangan perdana dipiloti oleh Veteran RAF Lt EH Bill Lawford, penerbangan perdana saat itu hanya dengan satu penumpang yakni George Stevenson-Reece, seorang jurnalis juga mengangkut bahan kulit, dua belibis dan beberapa botol krim Devonshire.
Kala itu tiket perjalanan 20 guinea atau £21 dan bila dihitung pada masa kini sekitar £1000. Tahun 1920, maskapai penerbangan Belanda KLM mulai melayani rute London-Amsterdam yang memicu bangkitnya penerbangan komersial di Eropa dalam dekade 20-an
Baca juga: Hari Ini 80 Tahun Lalu, Boeing 314 Pan Am Lakukan Penerbangan Berjadwal Perdana Trans-Atlantik
Sejarahwan Rolls Royce, Petter Collins mengatakan bahwa ada perubahan pola pikir yang menyebabkan orang-orang menggunakan penerbangan sebagai moda transportasi umum. “Meskipun ada penerbangan terjadwal dan penerbangan terus berkembang, namun saat itu penggunanya hanya sebatas orang kaya,” Kata Peter.
Jika tepat sasaran, maka di akhir bulan September ini Cina bakal punya satu bandara baru yang kelak akan menjadi ‘gerbang baru’ pelancong yang hendak berkunjung atau meninggalkan salah satu negara dengan populasi terbesar di dunia ini. Guna melancarkan pengoperasiannya kelak, Pemerintah kota Beijing bersama dengan Otoritas Penerbangan Sipil Cina mengumpulkan sekira 9.000 penumpang pada akhir pekan lalu guna menjalankan uji stress di Beijing Daxing International Airport yang dilengkapi dengan empat landas pacu ini.
Baca Juga: Di 2019, Cina Siap Operasikan Bandara Internasional Terbesar di Dunia!
Menurut kantor berita setempat, Xinhua, terdapat kurang lebih 8.868 sukarelawan yang membawa sekitar 5.600 tas dan koper – dimana pihak pemerintah Beijing dan otoritas bandara berupaya untuk memetakan potensi masalah yang sekiranya akan terjadi ketika ada 140 penerbangan harian (datang dan berangkat) beroperasi secara komersial kelak. Selain itu, para pemangku kepentingan tersebut juga berupaya untuk mempersiapkan lonjakan penumpang yang melulu terjadi ketika Tahun Baru Imlek terjadi.
Sumber: menafm.com
Masih lekang dalam ingatan dimana pada perayaan Tahun Baru Imlek tahun 2018 silam, ratusan juta penduduk Cina yang biasa mudik ke kampung halaman memenuhi semua akses transportasi – mulai dari angkutan darat, kereta, hingga udara. Berupaya untuk memecah konsentrasi publik, wajar adanya jika otoritas Cina daratan berupaya untuk mempercepat pembangunan dari bandara yang berdiri di atas lahan seluas lebih dari satu juta meter persegi ini.
Dikutip KabarPenumpang.com dari laman asiatimes.com (4/9), uji coba kelancaran operasi ini melibatkan tidak hanya ribuan penumpang saja, melainkan juga 200 difabel, 208 check-in counter, 31 security check channel, 42 konveyor belt untuk bagasi, 51 gerbang keberangkatan, dan lebih dari empat maskapai kenamaan asal Negeri Tirai Bambu – China Southern Airlines, China Eastern Airlines, Xiamen Air, China United Airlines, dan beberapa lainnya.
Sumber: menafm.com
Beragam teknologi mutakhir juga turut diuji coba pada kesempatan tersebut, mulai dari facial recognition hingga teknologi pelacak bagasi penumpang secara real-time yang menggunakan frekuensi radio. Penyematan teknologi ini tidak lepas dari target otoritas bandara yang akan menjadikan Beijing Daxing International Airport sebagai smart airport dan roda penggerak vital penerbangan di kawasan Asia dan global.
Baca Juga: Perayaan Imlek di Cina, Ratusan Juta Orang Mudik Padati Berbagai Moda Transportasi
Ketika sudah beroperasi kelak, nantinya Beijing Daxing International Airport akan bersanding dengan Beijing Capital International Airport yang belakangan ini santer dikabarkan sudah menjadi bandara tersibuk kedua di dunia, menyusul Hartsfield–Jackson Atlanta International Airport yang bercokol di posisi pertama.
Apa jadinya jika salah satu bandara tersibuk di dunia, Newark Liberty International Airport dihebohkan dengan isu teror? Wah, tentu saja suasana di bandara akan menjadi sangat kacau, ya! Nah, pada hari Senin (2/9) kemarin, ilustrasi di atas benar-benar terjadi – bukanlah latihan evakuasi atau yang lainnya, dimana seorang awak kabin Alaska Airlines secara tiba-tiba meminta semua penumpang untuk melarikan diri karena ada situasi bahaya. Saking seriusnya, si awak kabin ini sampai-sampai menarik tuas darurat untuk menandakan bahwa apa yang ia lontarkan tersebut benar adanya.
Baca Juga: Inilah Alasan Perlunya Dua Kali Skrining Keamanan di Bandara
Sebagaimana yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbadgai laman sumber, insiden ini terjadi pada pukul 20.30 waktu setempat, dimana bandara tengah sibuk-sibuknya. Tepatnya, insiden yang menyulut ketakutan para calon penumpang ini terjadi di Terminal A Newark Liberty International Airport.
“Evakuasi!” teriak salah satu awak kabin dari Alaska Airlines tersebut.
Sontak para calon penumpang yang ada di Terminal A lari pontang-panting tanpa tahu juntrungan – ada yang berlari keluar, ada yang bersembunyi di kolong bangku, dan lain-lain. Rata-rata, para penumpang meninggalkan barang bawaannya begitu saja dan lebih mementingkan keselamatan diri mereka.
“Saya bersembunyi di bawah bangku bandara, karena saya pikir itu adalah teroris bersenjata yang siap menembak kapan saja,” ujar salah satu penumpang yang ada di Terminal A Newark Liberty International Airport.
“Kala itu, kami semua beranggapan bahwa Terminal A sudah dikuasai oleh teroris bersenjata,” lanjutnya.
Singkat cerita, pihak kepolisian dan pasukan bersenjata khusus Amerika Serikat, SWAT tiba di lokasi untuk mengindentifikasi apa yang sebenarnya telah terjadi. Atas insiden yang masih dalam penyelidikan ini, pihak kepolisian mengamankan dua orang yang dinilai mencurigakan dan seorang awak kabin yang melontarkan seruan evakuasi tersebut.
Setelah melewati penyidikan, otoritas keamanan yang menangani kasus ini mengambil kesimpulan bahwa awak kabin Alaska Airlines tersebut mengidap bipolar dan mereka masih mendalami kasus ini.
Baca Juga: Bandara di AS Kian Ketat, TSA Wajibkan Pemeriksaan Terpisah Pada Perangkat Elektronik
Sementara itu, otoritas bandara dan pihak Alaska Airlines menyebutkan ada sekira 200 penumpang yang terdampak akibat insiden ini dan meminta maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi.
“Kami meminta maaf atas pengalaman tidak menyenangkan yang terjadi pada penumpang di Terminal A Newark Liberty International Airport. Di Alaska Airlines, penumpang merupakan prioritas tertinggi dan hingga saat ini kami bekerja sama dengan pihak kepolisian masih mendalami kasus ini,” tulis pihak Alaska Airlines dalam sebuah pernyataan tertulis.
Dua pesawat wide-body beda perusahaan, Airbus A330 dan Boeing 777-300ER dikabarkan mengalami tabrakan ketika tengah melakukan taxi di Moskow, pada Selasa (3/9) kemarin. Pesawat Airbus A330 yang dioperasikan oleh maskapai Aeroflot ‘disenggol’ oleh Boeing 777-300ER yang dioperatori oleh Royal Flight. Beruntung, tidak ada korban jiwa maupun cidera akibat insiden ini – hanya saja kedua pesawat mengalami kerusakan yang cukup parah pada bagian sayapnya.
Baca Juga: Tak Hanya Tabrak Tiang, Pesawat Juga Saling Bertabrakan di Apron dan Landas Pacu
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman samchui.com (5/9), Airbus A330 dengan nomor registrasi VQ-BMY yang dioperatori oleh Aeroflot SU202 dijadwalkan untuk melakukan penerbangan Moscow Sheremetyevo menuju Beijing tanpa sengaja ditabrak oleh Royal Flight dengan nomor registrasi pesawat VP-BKG. Menurut laman Flight Global, pesawat Boeing 777 milik Royal Flight tengah melakukan towing sebelum menabrak Aeroflot.
Pasca tertabrak, tampak bagian sayap sebelah kiri dari pesawat ini mengalami kerusakan. Hal ini tampak dari video yang berhasil diabadikan penumpang dari dalam pesawat yang menunjukkan flap sebelah kiri dari pesawat Aeroflot beberapa menit setelah kejadian.
🇷🇺 Un Airbus A330-300 d’Aeroflot en partance pour Pékin a été sérieusement endommagé lors d’une collision au sol à Moscou-Sheremetyev.
Un Boeing 777-300 de Royal Flight a percuté l’Airbus lors de son push-back.
Dalam video berdurasi 21 detik yang diunggah ke media sosial Twitter tersebut, tampak bagian flap dari Aeroflot rusak. Sementara itu rivalnya, Royal Flight, tampak tidak mengalami kerusakan yang berarti.
Baca Juga: Pilot Salah Pilih Landasan, Tabrakan Maut Nyaris Terjadi di Bandara JFK, New York
Menurut pihak Aeroflot, kala itu pesawat tengah mengangkut 229 penumpang dan dikabarkan tidak ada yang mengalami cidera. Pasca kejadian, penumpang dievakuasi keluar dari pesawat dan diterbangkan kembali dengan menggunakan pesawat lainnya.
Jika sudah seperti ini, siapa yang patut disalahkan?