Mendarat di Cengkareng Saat Dirgahayu RI, Mengapa Airbus A380 Tidak Beroperasi di Indonesia?

Bagi anda yang penasaran dengan wujud dari Superjumbo Jet, Airbus A380, sempatkanlah diri Anda untuk mengunjungi Bandara Internasional Soekarno Hatta pada tanggal 17 Agustus 2019 mendatang, karena pesawat penumpang terbesar di dunia tersebut bakal turut memeriahkan pengoperasian perdana runway ketiga dari bandara berkode CGK tersebut. Adapun varian A380 yang bakal mendarat di bandara yang terletak di Cengkareng, Tangerang ini dioperasikan oleh maskapai asal Timur Tengah, Emirates. Baca Juga: Misterius! Qantas Terbangkan Airbus A380 Ke Orlando Pada Januari 2020, Terbangkan Siapa? Isu ini beredar setelah salah satu pengguna jejaring sosial Twitter yang bernama Fery Utameyasa (@fery_utameyasa) mengunggah foto pertemuan atau meeting untuk mempersiapkan pendaratan Airbus A380 milik Emirates di Cengkareng. “Preparation meeting for showing off flight A380 Emirates to @CGK_AP2 #airport #jakarta in #Independence Day of #Indonesia,” tulis Fery dalam sosial media Twitter miliknya, Jumat (9/8). Dikutip KabarPenumpang.com dari laman aviatren.com (9/8), besar kemungkinan A380 ini akan menggunakan runway ketiga Bandara Internasional Soekarno-Hatta, karena dari kabar yang beredar sebelumnya menyebutkan bahwa runway ketiga itu akan dioperasikan mulai tanggal 17 Agustus 2019. Emirates sendiri memiliki dua jadwal penerbangan dari Dubai ke Jakarta (CGK) setiap harinya, penerbangan EK356 dan EK358. Mengingat EK358 mendarat pada pukul 22.00 WIB, besar kemungkinannya EK356-lah yang akan menggunakan armada A380, mendarat di Soekarno-Hatta pada pukul 15.40 waktu setempat. Terlepas dari semua pemberitaan di atas, muncul satu pertanyaan, “Mengapa Airbus A380 tidak beroperasi di atau menuju Indonesia?” Jika dianalisis, Bandara Internasional Soekarno-Hatta bukan tidak mungkin untuk menampung pesawat jenis ini, mengingat pada 4 Mei 2012 silam, Airbus A380 milik Singapore Airlines (SQ232) sempat mendarat di landas pacu utara bandara tersebut karena alasan darurat. Dengan menggunakan runway lama saja, sebenarnya CGK bisa menampung varian A380. Pun dengan masalah pada garbarata yang sama-sama sudah memenuhi standar internasional, jadi pengoperasian dua garbarata sekaligus untuk ‘mengevakuasi’ penumpang A380 sebenarnya tidak menjadi satu masalah yang serius. Begitu pula halnya dengan bagian imigrasi dan infrastruktur lain yang ada di CGK, semuanya seharusnya sudah bisa dimaksimalkan untuk bisa menampung A380. Efisiensi Pengoperasian Rute ‘Gemuk’ Jika masalah teknis, CGK bisa menampung A380, maka masalah non-teknis lah yang mencuat untuk didalami. Dapat dibayangkan apabila ada makskapai Airbus A380 yang mengoperasikan rute ‘gemuk’, otomatis pihak maskapai akan mengurangi frekuensi penerbangannya dan lebih memaksimalkan kapasitas dari A380. Dengan begitu, efisiensi pengoperasian akan tercapai. Baca Juga: A380 ‘Terancam Punah,’ Benarkah Airbus Salah Langkah Hadapi Kedigdayaan Boeing? CGK Bukan Hub Lalu faktor lainnya adalah CGK bukanlah hub selayaknya bandara-bandara seperti Changi, Dubai, dan lain-lain, dimana roda ekonomi di CGK tidaklah berjalan selancar di bandara-bandara tersebut, kendati CGK sudah punya Terminal 3 Ultimate yang sangat megah dan mewah. Biaya Parkir Faktor terakhir adalah biaya ‘parkir’ dari A380 yang masuk ke kocek Angkasa Pura II selaku operator dari CGK. Pesawat sebesar A380 akan memakan tempat ‘parkir’ yang lebih besar ketimbang varian-varian lain. Kembali ke poin awal, ketika ada maskapai yang memangkas jumlah armadanya dan mengganti dengan A380, maka secara otomatis pendapatan Angkasa Pura II akan serta merta menurun – walaupun ongkos parkir dari A380 lebih mahal ketimbang pesawat narrow-body lain.

Singapore Airlines Rilis Tarif Baru WiFi Onboard

Ketersediaan akses internet di atas pesawat (WiFi onboard) tak bisa ditawar lagi, bahkan fitur ini sudah menjadi fasilitas standar untuk pesawat di rute internasional. Dan salah satu kendala penggunaan WiFi onboard umumnya pada masalah pengenaan tarif. Karena layanan bersifat premium, maka untuk menjaga kualitas sajian koneksi harus berbayar. Seperti baru-baru ini Singapore Airlines merilis tarif WiFi onboard yang baru. Baca juga: Manjakan Penumpang, Garuda Indonesia Group Pasang WiFi Onboard di 30 Armada KabarPenumpang.com melansir laman onemileattime.com (8/8/2019), Singapore Airlines (SIA) baru saja meningkatkan kemampuan WiFi omboard pada penumpang yang bepergian di kelas suite, kelas satu dan bisnisnya. Di kelas suite dan kelas satu, WiFi yang awalnya berkapasitas 100MB ditingkatkan menjadi tidak terbatas alias unlimited. Penumpang kelas bisnis juga mendapatkan kenaikan kuota yang tadinya 30MB menjadi 100MB. Tak hanya itu, ternyata ada perubahan lain yang dibuat oleh SIA dalam penawaran WiFi onboard mereka. Beberapa maskapai menetapkan harga WiFi berdasarkan waktu penumpang menggunakan akses (time based), sedangkan pesawat lainnya menggunakan penetapan harga WiFi dari banyaknya data yang digunakan penumpang (volume based). Selain itu Singapore Airlines  memperkenalkan tarif yang konsisten di semua armada mereka yang dilengkapi WiFi onboard seperti A350, 787, 777-300 dan A380. Beberapa varian harga yakni US$3,99 dalam paket obrolan untuk 30MB, US$9,99 untuk paket pro 100MB. Paket premium US$15,99 untuk 200MB dan setiap pass berlaku hanya untuk satu penerbangan meski penumpang bisa beralih ke perangkat lain. Bisa dikatakan harga tersebut cukup masuk akal dan tidak lagi membuat bingung, bahkan harga ini pun lebih baik dari yang sebelumnya. Baca juga: Akibat Temuan BPK Paksa Garuda Indonesia Group Hentikan Layanan WiFi Gratis Sebelumnya harga paket data SIA A350-900ULR dari Singapura ke Newark yakni US$6 untuk 20MB dan US$16 untuk 80MB. Sedangkan US$28 untuk 200MB.

Melawan Lupa! Jalan Raya Pos “Anyer – Panarukan” Terinspirasi dari Napoleon Bonaparte

De Grote Postweg atau yang dikenal sebagai Jalan Raya Pos, sebagaimana yang sudah diketahui bersama, merupakan jalan yang menghubungkan antara Anyer yang ada di Banten dan Panarukan yang ada di Jawa Timur. Dewasa ini, jalan antar propinsi yang menghubungkan dua ujung Pulau Jawa memang memegang peranan penting dalam mobilisasi rakyat, hingga komoditas – dimana fungsi dari jalan ini masih dipertahankan sejak awal pembangunannya di awal tahun 1800-an. Baca Juga: Anyer – Panarukan, Sengsara Dulu Membawa Nikmat Sekarang Ketika Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-36, Herman Willem Daendels tiba di Batavia (sekarang Jakarta) pada 5 Januari 1808, ia diperintahkan untuk menjaga Tanah Jawa dari serangan pasukan Inggris. Kendati begitu, proyek utama di masa kepemimpinannya ini adalah membangun Jalan Raya Pos tersebut – dimana salah satu manfaat dari dibangunnya jalan sepanjang kurang lebih 1.000 km ini adalah untuk mempercepat mobilisasi tentara kala itu. Sebenarnya, Daendels tidaklah membangun Jalan Raya Pos sepenuhnya, melainkan ia hanya menghubungkan jalan-jalan yang sebelumnya sudah ada dan menerapkan standarisasi terhadap jalan-jalan tersebut. Tak ayal, guna menghubungkan semua jalan-jalan yang sudah ada sebelumnya ini menjadi satu kesatuan, Daendels pun harus turut membangun sejumlah jalan baru. Adapun jalan baru yang dibangun oleh Daendels adalah dari Buitenzorg (sekarang menjadi Bogor), menuju Cisarua yang diteruskan hingga ke Bandung, Sumedang, hingga ke Cirebon. Namun di balik sengkarut kontroversi yang menyelimuti pembangunan Jalan Raya Pos ini, ada satu fakta yang unik dimana seorang sejarawan, Djoko Marihandono mengatakan bahwa gagasan pembangunan jalan yang terletak di Utara Jawa ini bukanlah gagasan murni dari Sang Gubernur Jenderal Hindia Belanda.
Dalam salah satu program Metro TV bertajuk “Melawan Lupa – Sejarah dan Mitos Jalan Daendels”, Djoko menyebutkan bahwa, “Karena sejak tahun 1805, Napoleon Bonaparte sudah menghubungkan Paris dengan 32 kota yang ada di Eropa dan diberi nama Jalan Pos,” “Dan ketika ia (Daendels) mau pamit dari Den Haag (salah satu kota di Belanda) menuju Paris, ia melalui Jalan Pos itu,” tandas Djoko. Baca Juga: Ternyata, Kebiasaan Meludah di Angkutan Umum Sudah Ada Sejak Masa Kolonial Belanda Jika dikaitkan, Napoleon Bonaparte memang pernah mencapai masa kejayaannya ketika dirinya hampir menguasai daratan Eropa – baik melalui jalur diplomasi maupun peperangan. Maka tidak aneh rasanya jika Napoleon akan menghubungkan kota-kota ‘jajahannya’ tersebut dengan Paris, Perancis. Lalu, benarkah Jalan Raya Pos yang membentang dari Anyer hingga Panarukan ini terinspirasi dari Jalan Pos yang menghubungkan Paris dengan 32 kota di Eropa?

Pemkot Berlin Luncurkan Layanan Transportasi Umum Gratis untuk Pelajar

Untuk pengenaan pajak penghasilan, Jerman dikenal sebagai yang kedua terbesar persentasenya di Eropa setelah Belgia. Pajak penghasilan di Jerman sampai saat ini dikenakan secara bertingkat mulai dari 14 persen, 42 persen sampai 45 persen. Meski persentase pajak besar, apa yang dinikmati warganya dinilai sangat baik, mulai dari pendidikan gratis sampai jaminan kesehatan yang terjamin. Bahkan belum lama ini ada tambahan manfaat bagi pelajar yang berdomisi di Berlin. Baca juga: Beli Sepatu Adidas Dapat Tiket Gratis Naik Transportasi Umum di Berlin Mengutip sumber dari iamexpat.de (2/8/2019), disebutkan ada kabar baik untuk pelajar di Berlin mulai 1 Agustus 2019 dan seterusnya, yaitu pelajar mendapatkan fasilitas untuk menggunakan semua moda transportasi secara gratis. Bukan hanya pelajar yang berdomisi di Berlin, sampai pelajar yang bersekolah di Brandenburg juga berhak mendafat fasilitas ini. Untuk bisa menikmati fasilitas gratis ini ada syaratnya, yaitu perlu buat permohonan untuk mendapatkan free student travel card pada Asosiasi Transportasi Kota – Berliner Verkehrsbetriebe (BVG). Siswa yang sudah memiliki kartu perjalanan pelajar tidak perlu mengajukan yang baru, karena kartu mereka akan secara otomatis dikonversi. Mereka yang belum memiliki kartu perjalanan pelajar dapat dengan mudah mengajukan permohonan izin lewat online. Pelajar hanya perlu menunjukkan kartu ID pelajar yang valid dari wilayah Berlin dan mengunggah foto terbaru. Pemkot Berlin mengalokasikan 360 ribu kartu untuk transportasi gratis bagi pelajar. Namun sampai saat ini baru sekitar 140 ribu permohonan yang disetujui. bagi mereka yang sudah memesan kartu perjalanan pelajar, tetapi belum tiba? Pihak BVG telah memperkenalkan perjanjian sementara yang memungkinkan siswa melakukan perjalanan gratis dengan bentuk ID siswa yang valid hingga akhir November mendatang. Selain penyediaan transportasi gratis untuk pelajar, Pemerintah Kota Berlin juga meluncurkan paket tarif transportasi murah untuk pekerja magang dan siswa dalam masa pelatihan kerja. Tarif yang dijual dalam bentuk tiket seharga 365 euro, setara dengan satu euro per hari dan dapat digunakan untuk semua moda transportasi di Berlin. Baca juga: Berlin-Munich Kini Hanya Empat Jam dengan Intercity-Express Sprinter Kedua inisiatif angkutan umum di atas diluncurkan guna membantu keluarga dan orang dewasa muda menghemat uang untuk biaya perjalanan sambil mempromosikan perjalanan yang berkelanjutan.

Sejak Dahulu, Jaringan Kereta di Arab Mudahkan Mobilisasi Jemaah Haji

Musim Haji 2019 ini diwarnai oleh serangkaian peristiwa yang patut dikenang, mulai dari berpulangnya kiai kharismatik, KH Maimun Zubair atau yang akrab disapa Mbah Moen ketika tengah menjalani serangkaian ibadah haji pada Selasa (6/8) minggu lalu hingga hujan yang sempat membasahi Padang Arafah pada saat puncak haji Sabtu (10/8) sore kemarin. Ya, selalu ada cerita di balik Ibadah tahunan umat Muslim dari seluruh dunia ini. Baca Juga: Kereta Cepat Nan Mewah Siap Layani Jamaah Haji dan Umroh di Rute Jeddah – Makkah Membludaknya kapasitas Tamu Allah setiap tahun membuat pemerintah di Arab Saudi untuk terus mengembangkan Mekkah, Madinah, dan beberapa spot lain yang menjadi bagian dari rangkaian ibadah, salah satunya adalah Kereta Cepat Haramain Express yang menghubungkan Jeddah dan Mekkah. Jalur kereta sepanjang 450 km ini mampu menghubungkan dua kota vital ini hanya dalam waktu satu setengah jam saja – tentu dengan fasilitas serba mewah dan teknologi mutakhir. Dibuka pada tahun 2018 lalu, jaringan kereta yang merupakan hasil kerja konsorsium gabungan Saudi, Cina, dan Spanyol menggunakan sejumlah teknologi mutakhir yang dapat membuat kereta mengular di daerah gurun dengan kecepatan maksimum yang menyentuh angka 320 km per jam. Tapi, Haramain Express bukanlah satu-satunya jaringan kereta yang disediakan untuk mengangkut jemaah haji. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman jalopnik.com, ada pula Metro Al Mashaaer Al Mugaddassah, jaringan MRT unik yang mampu mengangkut hingga 72.000 jemaah haji per jam yang terbukti ampuh ‘mendistribusikan’ Tamu Allah menuju sejumlah destinasi penting di sana, seperti Mekkah, Mina, Gunung Arafat, hingga Muzdalifah. Baca Juga: Al Mashaaer Al Mugaddassah Metro, MRT Unik di Kota Suci Makkah Dibuka pada 13 November 2010 silam, Metro Al Mashaaer Al Mugaddassah ini memiliki panjang 18,1 km dan hanya beroperasi tujuh hari dalam setahun. Ini dihadirkan untuk mereduksi kemacetan yang ditimbulkan akibat ledakan populasi tahunan pada puncak musim haji.
Hejaz Railway. (Foto: Istimewa)
Sebelumnya, ada juga Hejaz Railway yang menghubungkan Damascus dengan Madinah. Beroperasi sejak 1908 dan terpaksa berhenti pada 1920, jaringan kereta ini rencananya akkan dibuka kembali pada tahun 2020 mendatang dan berganti nama menjadi Hejaz-Istanbul Railway.

Mayoritas Pilot dan Awak Kabin Dukung Aksi Protes, Cathay Pacific Tujuan Cina Daratan Terancam Lumpuh

Aksi protes dan demonstrasi atas Rancangan Undang-Undang (RUU) Ekstradisi di Hong Kong tak juga surut. Sebagai imbasnya, sektor transportasi di wilayah bekas jajahah Inggris ini mulai kelimpungan. Setelah stasiun MTR dan Bandara Internasional Hong Kong yang ‘dipenuhi’ demonstran, kini ada kabar bahwa aksi tersebut juga didukung oleh sebagian besar awak dan pilot Cathay Pacific. Baca juga: Dampak Kerusuhan RUU Ekstradisi, Bandara Hong Kong Batalkan Lebih dari 200 Penerbangan Dikutip KabarPenumpang.com dari simpleflying.com (12/8/2019), manajemen Cathay Pacific menyebutkan bahwa awak kabin dan pilot yang mendukung aksi demonstrasi dibebaskan dari tugas terbang ke wilayah Cina Daratan efektif mulai 10 Agustus 2019 lalu. Sebelumnya Pemerintah Cina melakukan filterisasi ketat yang mengharuskan Cathay Pacific menyerahkan identifikasi dan rincian semua awak dan pilot yang akan terbang dari Hong Kong ke Cina Daratan. Karyawan Cathay Pacific yang terbukti ikut dalam protes massal dilarang untuk mendarat di Cina. Keputusan dari Beijing tersebut telah dipatuhi CEO Cathay Pacific, Rupert Hogg yang telah mengeluarkan memo kepada seluruh karyawan. Diperkirakan lebih dari 2.300 karyawan Cathay Pacific telah bergabung dalam aksi protes, diantaranya 1.200 orang merupakan pilot dan awak kabin. Jumlah yang cukup besar dari keterlibatan karyawan, pilot dan awak kabin secara langsung berdampak buruk pada layanan penerbangan dari dan ke Cina Daratan. Cathay Pacific sampai saat ini melayani penerbangan ke 24 kota di Cina Daratan, dimana itu merupakan seperlima dari semua penerbangan yang dilayani Cathay Pacific. South China Morning Post melaporkan bahwa jalur Cina dan Hong Kong menghasilkan lebih dari setengah pendapatan Cathay Pacific pada 2018 – yaitu HK$57 miliar dari total pendapatan keseluruhan Cathay Pacific yang mencapai HK$111 miliar. Baca juga: Dampak Krisis Politik, Sektor Pariwisata Hong Kong Kondusif Meski Ada Pelemahan Meski dibuat pusing akibat aksi pilot dan awak kabinnya, secara manajemen Cathay Pacific terpaksa patuh kepada keputusan Pemerintah Cina, pasalnya sebagian besar saham Cathay Pacific dikukasai Pemerintah Cina lewat penyertaan saham maskapai Air China.

Ternyata Ada yang Beda di Indikator Lampu Lokomotif Kereta Amerika Serikat

Anda masih ingat dengan artikel tentang fungsi lampu yang ada di bagian depan dan belakang MRT Jakarta? Ya, MRT Jakarta yang sejatinya sudah mengadopsi standar luar negeri dalam pengoperasiannya ini menggunakan dua lampu (merah dan putih) yang memiliki penandanya masing-masing. Ketika lampu menyala merah, itu menandakan bagian ekor kereta – begitu pun sebaliknya, ketika lampu menyala putih, itu menandakan bagian depan kereta. Baca Juga: Bingung Bedakan Bagian Muka dan Ekor MRT Jakarta? Ini Dia Caranya! Entah lampu kereta yang ada di MRT Jakartaini sama dengan yang ada di Amerika atau tidak, namun satu yang pasti, perkeretaapian di Negeri Paman Sam ini juga menggunakan lampu pada bagian lokomotifnya – hanya saja dengan komposisi yang sedikit lebih banyak. Ambil contoh yang ada di Dakota dan Minnesota. Perkeretaapian yang ada di kedua daerah tersebut menggunakan tiga buah lampu beda warna yang memiliki penandanya masin-masing. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman trn.trains.com, warna-warna lampu yang digunakan adalah merah, putih, dan hijau. Jika Anda menemukan kereta dengan lampu putih yang menyala, maka kereta tersebut merupakan kereta tambahan atau yang tidak ada di dalam jadwal normal. Untuk sebagian besar operator kereta api di dunia, mereka memberlakukan jadwal tertulis yang ditujukan untuk memudahkan para penumpangnya. Apabila ada kereta yang menyalakan lampu indikator putih di bagian lokomotifnya, maka dapat dipastikan itu merupakan kereta tambahan yang tidak tertera di jadwal. Lanjut ke lampu yang berwarna hijau, dimana ini mengindikasikan bahwa kereta tersebut merupakan kereta layanan reguler. Lampu ini akan berlaku pada seluruh kereta yang beroperasi di jalur-jalur tertentu. Sedangkan untuk lampu yang terakhir, warna merah, mengindikasikan bagian belakang atau ekor kereta – sama seperti MRT Jakarta. Agar supaya petugas tidak bingung, pihak operator akan menyalakan lampu merah untuk menandakan bagian belakang kereta, baik itu kereta single engine, maupun kereta yang menggunakan lebih dari satu engine. Baca Juga: Deutsche Bahn Adopsi Lampu LED ‘Luminous’ di Peron, Mudahkan Akses Penumpang Turun dari Kereta Wah, ternyata di sini dapat kita temukan irisan, dimana baik MRT jakarta maupun perkeretaapian di Amerika sana sama-sama menggunakan lampu merah untuk menandakan bagian belakang kereta. Apakah MRT Jakarta terinspirasi dari kereta Amerika? Atau memang MRT Jakarta mengikuti prosedur standar kereta luar negeri?  

Laksana Cahaya Bintang, Inilah Arti Kelap-Kelip Lampu di Ujung Sayap Pesawat

Suatu waktu bila Anda melihat pesawat ketika tengah mengudara dari kejauhan, maka bakal terlihat pendaran cahaya berbinar hijau – merah pada kedua sayap, laksana cahaya kecil bintang di pekatnya malam. Tapi, pernahkah Anda berpikiran bahwa dua lampu tersebut memiliki kegunaannya masing-masing? Bisakah Anda menebak fungsi dari lampu-lampu tersebut? Baca Juga: Ini Alasan Lampu Kabin Pesawat Dimatikan Saat Lepas Landas dan Mendarat Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman skybrary.aero, ada tiga jenis lampu yang terpasang di body luar pesawat – yaitu navigation lights, beacon lights, dan strobe lights. Dari ketiga jenis lampu ini, masih ada anakannya masing-masing dan tentu saja, memiliki fungsi yang berbeda pula. Navigation Lights
Sumber: Scandinavian Travel
Dari namanya saja, Anda semua tentu sudah bisa menebak kegunaan dari lampu ini. Ya, untuk membantu navigasi kru darat. Selain itu, kegunaan lain dari navigation lights adalah untuk mencegah terjadinya kecelakaan – terutama ketika malam hari. Penggunaan lampu ini akan memudahkan pesawat untuk mengetahui posisi dari pesawat lainnya ketika berada di udara. Navigation lights sendiri terdiri dari tiga warna lampu – merah pada bagian wing tip kiri, hijau pada bagian wing tip kanan, dan putih pada bagian ekor pesawat. Nah jika Anda memperhatikan pesawat pada malam hari dan melihat ada cahaya hijau dan merah yang berkedip, maka itu berasal dari navigation lights! Beacon Lights
Beacon Lights.Sumber: istimewa
Beacon lights merupakan lampu berwarna merah yang terpasang pada bagian atas dan bawah lambung pesawat. Lampu ini sendiri akan dinyalakan sebelum pesawat dinyalakan dan akan dimatikan sebelum pesawat dimatikan. Mungkin bisa dibilang bahwa lampu ini merupakan penanda bahwa suatu pesawat tengah berada dalam waktu operasi. Baca Juga: Berakibat Buruk Saat Penerbangan,14 Poin Ini Kerap Dianggap Sepele Strobe Lights
Sumber: furaffinity.net
Terakhir ada strobe lights, lampu berwarna putih ini terpasang pada ujung belakang sayap atau berseberangan dengan navigation lights. Strobe lights merupakan lampu dengan intensitas tinggi yang menyala secara berkala. Lampu ini sendiri biasanya dinyalakan ketika pesawat sudah mendekati landasan untuk landing dan dimatikan setelah lepas landas. Pada kebanyakan kasus, strobe lights digunakan untuk menambah visibilitas pesawat ketika tengah berada di darat.

Kereta Semi Cepat Kerala, Reduksi Polusi Udara dan Ketergantungan Minyak Impor

Proyek kereta api semi tinggi atau Semi-High Speed Rail Project (SHSR) yang akan menyambungkan distrik paling selatan dan utara di negara bagain Kerala, India, baru saja disetujui oleh pihak pemerintah. SHSR ini akan diperkirakan mulai mengular 2024 mendatang dengan panjang jalur 532 km antara Kasaragod ke Thiruvananthapuram. Baca juga: Indian Railways Canagkan Pembangunan Koridor Atas Kereta Api di Kerala Dirangkum KabarPenumpang.com dari laman railway-technology.com (8/8/2019), kereta semi cepat adalah proyek hijau 100 persen dimana akan membantu mengurangi kemacetan dan polusi udara serta meningkatkan keamanan dan mengurangi ketergantungan pada minyak impor. Selain menjadi proyek hijau dalam mengurangi emisi karbon, kereta semi cepat ini juga akan mengurangi waktu tempuh dari Thiruvananthapuram-Kasaragod yang biasanya 12 jam menjadi hanya empat jam perjalanan. Sedangkan dari Thiruvananthapuram-Kochi hanya memakan waktu 90 menit. Dalam pembangunan proyek ini, Kerala Rail Development Corporation Limited (KRDCL) harus mengakuisisi sekitar 1200 hektar lahan. Kereta semi cepat ini akan melintas dengan kecepatan maksimum 200 km per jam. Awalnya akan ada sembilan gerbong dan akan ditingkatkan kemudian menjadi 12 gerbong. Direktur Pelaksana KRDCL V Ajith Kumar mengatakan biaya perjalanan diproyeksi menjadi Rs2,75 per km dan akan ada kenaikan tahunan sebesar 7,5 persen. Jalur kereta ini nantinya akan melewati 11 dari 14 distrik negara bagian dengan berhenti di sepuluh stasiun. Adapaun kesepuluh stasiun tersebut yakni Kollam, Chengannur, Kottayam, Ernakulam, Thrissur, Tirur, Kozhikode, dan Kannur sebelum mencapai Kasaragod. KRDCL mengharapkan dengan adanya jalur dan kereta semi cepat penumpang per hari sebanyak 67.740 orang dan membawa 1330 pelancong dalam satu perjalanan di jam sibuk. Jumlah rata-rata pengguna per hari adalah 82.266 pada tahun 2028, 116.681 pada tahun 2040 dan 147.120 pada tahun 2051. Proyek ini akan menghasilkan 50 ribu pekerja dalam pembangunan koridor dan 11 ribu pekerja setelah selesai dan mulai di operasikan untuk masyarakat. Proyek SHSR sendiri membutuhkan biaya US$9,3 miliar atau Rs660,79 miliar. Nantinya dalam pembangunan tersebut pemerintas pusat dan negara bagian masing-masing akan menumbang Rs77,2 miliar atau (US$1,08 miliar). Setengah biaya lainnya akan diperoleh melalui pinjaman yakni sebesar Rs334,54 miliar atau (US$4,8 miliar). Baca juga: Halau Gajah dari Lintasan Rel, Indian Railways Gunakan Suara Dengungan Lebah Pembebasan lahan dan hal-hal terkait lainnya akan membebani pemerintah negara bagian sekitar Rs86,56 miliar ($1,2milyar). Serikat pekerja dan pemerintah negara bagian akan memenuhi sisa pengeluaran melalui pinjaman yang berbeda.

Revolusi KAI Jaman Jonan, Ampuh ‘Sapu’ Penumpang yang Kerap Tidur di Lantai dan Bordes

Menghabiskan waktu ketika perjalanan dengan menggunakan kereta api jarak jauh memang dapat dilakukan dengan berbagai cara – mulai dari mendengarkan musik, menonton film, bermain game, hingga tidur. Seiring revolusi yang terus terjadi di tubuh Badan Usaha Milik Negara ini, perlahan demi perlahan kenyamanan penumpang semakin terjamin. Ketika kenyamanan sudah terjamin, maka saatnya ucapkan selamat tinggal pada kebiasaan lama yang kerap mengganggu kenyamanan penumpang lain! Baca Juga: Tidak Lagi Gunakan Toilet “Bolong,” PT KAI Ganti Dengan Septic Tank Mungkin Anda masih ingat dengan kondisi perkeretaapian Indonesia pada era 90-an hingga 2000-an, dimana peraturan di dalamnya masih tergolong sangat longgar – tidur di bordes atau di lorong gerbong merupakan suatu pemandangan yang lumrah adanya kala itu. Belum lagi penumpang yang tidur selonjoran di bangku bak tidur di kasur, sangat tidak elok dilihat dan mengganggu penumpang lain. Sang Pencetus Revolusi PT KAI Revolusi kereta api ini mulai terjadi ketika Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral yang dulu sempat menjabat sebagai Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (PT KAI), Ignasius Jonan merombak semua struktur sistem yang ada di tubuh PT KAI.
Penumpang yang tidur di bordes. Sumber: istimewa
Dilantik pada 25 Februari 2009, tiga bulan pertama Menteri Jonan memperhatikan dan mempelajari keseluruhan sistem yang ada di kereta api. Di bawah tangan dinginnya, Menteri Jonan berhasil menciptakan suasana kereta api yang menjadi sangat baik seperti yang dapat Anda rasakan saat ini. Tentu saja proses revolusi ini berjalan secara bertahap, tidak serta merta semuanya langsung berubah. Revolusi ke Arah yang Lebih Baik Tidak ada lagi penumpang yang tidur di bordes atau selonjoran di lorong gerbong. Munculnya gerbong-gerbong anyar yang dilengkapi dengan hand rest seolah menjadi pertanda bahwa penumpang sudah dilarang lagi untuk tidur selonjoran di bangku. Sekarang penumpang sudah bisa dengan tenang tidur di bangkunya masing-masing – yang juga jelas lebih empuk ketimbang generasi sebelum-sebelumnya.
Penumpang yang tidur di bangku. Sumber: istimewa
Tidak hanya itu, jika dulu Anda menemukan banyak keluhan tentang perjalanan dengan menggunakan kereta api seperti penumpang yang merokok di bordes, bangku yang keras, toilet yang kotor, hingga tiket tanpa nomor bangku, kini problematika tersebut sudah tidak akan Anda temui. Baca Juga: Sembunyi dari Kondektur Tiket Kereta, Masih Bisakah? Namun jika diperhatikan, gaya tidur penumpang di kereta jarak jauh ini terkadang mengundang gelak tawa. Ada yang mukanya ditutupi dengan jaket sampai yang tidurnya menganga karena kelelahan. Belum lagi mereka yang rela geletakan di lantai gerbong beralaskan kertas koran hanya untuk sekedar meluruskan kaki yang pegal.
Ganjar Pranowo yang tertidur pulas di lantai kereta.Sumber: istimewa
Tapi, ngomong-ngomong soal tidur selonjoran di gerbong, tahukah Anda bahwa Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo pernah tertangkap kamera tengah tidur selonjoran di lantai gerbong kereta? Ya, kejadian yang cukup unik ini terjadi pada saat Ganjar selesai menghadiri suatu acara di Jakarta pada Kamis (10/11/2016) silam. Ganjar yang terlalu capek akhirnya ia memutuskan untuk tidur di lantai gerbong setelah mendapatkan ijin dari kondektur yang kala itu bertugas. Wah, Bapak ini ada-ada saja ya!