Boeing 757 Eks Singapore Airlines, Hanya Empat Tahun di Singapura dan Lanjut Keliling Dunia
Penggemar maskapai kenegaraan asal Singapura, Singapore Airlines mungkin ingat masa dimana pihak maskapai mengoperasikan pesawat berbada kecil, Boeing 757. Namun momen tersebebut agaknya berlalu begitu cepat. Ya, varian Boeing 757 pertama datang ke Singapura pada tahun 1984 dan hanya membutuhkan waktu sekira empat tahun saja untuk bisa ‘menghilangkan’ armada ini sepenuhnya dari tubuh maskapai. Lalu sebenarnya, apa yang terjadi pada varian Boeing 757 ini?
Baca Juga: Terima Airbus A350-900ULR, Singapore Airlines Siap Terbang ke New Jersey Non-Stop
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com (29/7), banyak orang-orang di luar sana yang bertanya-tanya mengenai usia pesawat yang hanya seumur jagung saja. Pada era 1984-an, Singapore Airlines mengoperasikan empat pesawat Boeing 757: 9V-SGK, 9V-SGL (datang pada bulan November 1984), 9V-SGM dan 9V-SGN (datang pada bulan Desember 1984).
Sepanjang tahun 1985 dan 1986, Singapore Airlines mengoperasikan Boeing 757 di rute-rute Asia saja – Jakarta, Bandar Sri Begawan, Kuala Lumpur, Kuantan, dan Penang. Namun karena Singapore Airlines ingin memperluas sayap bisnisnya – dimana mereka membutuhkan pesawat yang mampu mengangkut penumpang yang lebih besar dengan jarak tempuh yang lebih jauh, maka perusahaan mau tidak mau melepas keempat pesawat Boeing 757 dan menggantinya dengan armada baru.
Boeing 757 ini lalu dilepas kepada maskapai American Trans Air (ATA) pada rentang waktu November 1989 hingga Juni 1990. ATA merupakan maskapai berbiaya rendah yang berbasis di Indianapolis. Namun pada tahun 2008, maskapai ini mengalami kebangkrutan dan sertifikat serta aset dari ATA diambil alih oleh Southwest.
Sebelum bangkrut, tepatnya pada 1996, ATA harus melepaskan empat armada Boeing 757 ini ke pihak Delta karena satu dan lain hal. Ketika mengabdi bersama Delta Airlines, Boeing 757 beroperasi selama kurang lebih 20 tahun lamanya, sebelum pada tahun 2016 silam, pihak Delta memutuskan untuk berhenti mengoperasikan empat pesawat yang sudah melang-lang buana di angkasa luas ini.
Baca Juga: Singapore Airlines Terbangkan Perdana A350-900 ULR ke New York
Ya, itulah perjalanan panjang dari empat pesawat Boeing 757 yang mampu mengangkut hingga 295 penumpang dan mengarungi angkasa hingga 7.590 km ini. Sebagai informasi tambahan, varian ini diproduksi pada rentang tahun 1981 hingga 2004. Pertama kali mengudara pada 19 Februari 1982 dan pertama kali mengoperasikan penerbangan komersial bersama Eastern Air Lines di tanggal 1 Januari 1983.
Ada “Thomas & Friends” dalam Gerbong Khusus Keluarga di Kereta Bawah Tanah Tokyo
Ruang untuk lansia dan penyandang disabilitas sudah jamak ada di moda transportasi massal masa kini. Di Indonesia baik MRT, kereta rel listrik (KRL) hingga TransJakarta sudah melengkapi bagian khusus ini. Namun bagaimana dengan ruang khusus orang tua yang membawa anak-anak?
Baca juga: MRT Jakarta: Pemberlakuan Gerbong Khusus Wanita Hanya di Jam Tertentu
Pasalnya anak-anak cukup berisik dan tidak bisa diam alias duduk dengan tenang ketika menggunakan transportasi massal. Sebab naluri anak-anak mereka yang memiliki keingintahuan cukup besar hingga mondar-mandir dan bertanya kepada orang tuanya tentang segala hal yang mereka lihat dalam perjalanan.
Karena hal ini, kemudian kereta bawah tanah di Tokyo akhirnya menyediakan ruang khusus yang ramah anak. Gerbong kereta bawah tanah Tokyo ini dihiasi dengan karakter animasi asal Inggris yang populer yaitu Thomas & Friends.
Dikutip KabarPenumpang.com dari laman japantoday.com (31/7/2019), gerbong ini sendiri diperlihatkan ke media pada Selasa (30/7/2019) atau satu hari sebelum mulai di uji coba yang tujuannya untuk akses yang memudahkan keluarga dengan membawa anak-anak. Ada enam gerbong di jalur Oedo Toei Subway yang menawarkan ruang dukungan pengasuhan anak atau penitipan anak ini yang dihiasi oleh karakter Inggris yang menggambarkan tokoh kereta tersebut.
Stiker-stiker tersebut tidak hanya dipasang di bagian luar gerbong untuk menandai ruang khusus, tetapi juga di bagian dalam gerbong. Ini agar penumpang yang membawa kereta bayi serta keluarga dengan anak-anak lebih merasa nyaman saat menggunakan kereta.
Tokyo sebagai pusat kota sebenarnya terkenal dengan kereta api yang penuh sesak di jam-jam sibuk. Penumpang dengan membawa anak-anak sering dianggap mengganggu dan tidak dianjurkan menggunakan layanan transportasi umum seperti kereta api.
“Lucu sekali,” kata Gubernur Tokyo Yuriko Koike ketika memasuki gerbong khusus tersebut.
Dia memeriksa ruang karena pemerintah metropolitan mengoperasikan layanan kereta bawah tanah.
Baca juga: Tujuan Hello Kitty Land, Kereta di Tokyo Dibalut Livery dan Interior Hello Kitty
“Ruang ini mengirimkan pesan bahwa tidak apa-apa ditemani oleh anak-anak. Aku ingin menjadikan Tokyo tempat yang nyaman untuk hidup bagi semua orang,” kata Koike.
Jadwal operasi kereta ramah anak akan dirilis di situs web Biro Transportasi pemerintah Tokyo setiap pagi. Pemerintah kota mengatakan akan mempelajari apakah akan memperluas layanan setelah mendengar pendapat pengguna.
Keren! Airbus A350 Bisa di “Restart” Guna Hindari Bug Pada Sistem Perangkat Lunak
Sudah bukan menjadi sebuah rahasia lagi apabila gadget yang Anda gunakan mengalami error, maka Anda akan memuat ulang gadget tersebut agar bisa kembali digunakan secara normal. Aksi ini kerap menjadi solusi bagi banyak orang di luar sana yang mengalami kendala pada gadgetnya. Namun apa jadinya jika fitur serupa diterapkan pada moda transportasi? Mungkinkah sebuah moda transportasi di restart ulang untuk mengembalikan performanya?
Baca Juga: Japan Airlines Terima Airbus A350-900, Tapi Justru Layani Penerbangan Domestik
Jawabannya adalah mungkin! Fitur semacam ini diterapkan oleh manufaktur aviasi asal Eropa, Airbus yang menyebutkan bahwa apabila pilot mengalami kendala sistem (bug) pada varian A350, mereka cukup mematikan ulang pesawat secara keseluruhan dan menghidupkannya kembali. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman mic.com (31/7), pihak Airbus mengatakan bahwa restart semacam ini juga dianjutkan untuk dilakukan pilot jika pesawat sudah mengudara selama 149 jam. Ini ditujukan untuk menghindari komplikasi pada sistem pesawat A350.
Fitur ini diterapkan Airbus sejak mendapatkan peringatan dari European Union Aviation Safety Agency (EUASA) pada tahun 2017 silam, yang menyebutkan bahwa usia maskapai yang lebih tua akan berpengaruh pada munculnya bug pada sistem perangkat lunaknya – dan ini akan berdampak pada pengoperasian pesawat terkait.
“Jika tidak lekas diperbaiki, maka dikhawatirkan penerbangan berada dalam kondisi yang tidak aman,” tutur pihak EUASA.
Tidak mau mengambil risiko dan terpuruk seperti rivalnya, Boeing, akhirnya pihak Airbus menambahkan fitur restart pada varian A350nya untuk terhindar dari masalah keselamatan ketika beroperasi. Untuk memastikan perangkat lunak terus beroperasi seperti yang diharapkan, pihak Airbus menyarankan kepada setiap maskapai untuk melakukan restart setiap 149 jam sekali (pada dasarnya sekitar enam hari sekali).
Baca Juga: Singapore AirShow 2018: Airbus Perkenalkan A350-1000 Untuk Pasar Trans-Pasifik
Ya, hadirnya fitur semacam ini pada sektor aviasi global seolah menjadi jawaban dari masalah kekurangan armada ketika salah satu dari mereka keluar dari layanan untuk perbaikan dan pemeliharaan – setidaknya armada Airbus A350 hanya akan memakan waktu yang lebih pendek untuk maintenance dan perbaikan karena sistem perangkat lunak sudah bisa di restart sendiri.
Pertanyaannya adalah, akankah teknologi semacam ini tersemat pada pesawat-pesawat jenis lain yang ada di luar sana?
Garuda Indonesia Rekrut 2 Pilot Perempuan Pertama asal Papua
Selain diramaikan dengan kabar seputar layanan, Garuda Indonesia hari ini (31/7) mewartakan telah merekrut 2 (dua) pilot perempuan pertama yang merupakan puteri daerah asal Papua. Rekrutmen tersebut menjadikan kedua pilot sebagai angkatan pertama rekrutmen pilot asal Papua yang bergabung dengan Garuda Indonesia Group.
Baca juga: Ellen Church, Pramugari Pertama di Dunia yang Juga Punya Lisensi Pilot
Adapun kedua pilot tersebut adalah Sdri Vanda Astri Korisano dan Sdri Martha Itaar dimana keduanya merupakan lulusan Nelson Aviation College, New Zealand. Dengan sebelumnya mengambil standarisasi Indonesia DGCA Licence atau Surat Ijin terbang dari Direktorat Jendral Perhubungan Udara di Ganesa Flight Academy, Jakarta.
Direktur Utama Garuda Indonesia Ari Askhara dalam pesan tertulis mengungkapkan, “Rekrutmen pilot yang merupakan putra daerah asal Papua ini merupakan wujud komitmen Garuda Indonesia dalam memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada putera daerah yang berprestasi dan berdaya unggul untuk dapat berkontribusi dan mengembangkan karir bersama Garuda Indonesia Group”
Ari mengungkapkan rasa bangganya dapat merekrut putri papua terbaik. Hal ini membuktikan bahwa siapapun bisa menjadi pilot asal berprestasi dan mampu. Ari berharap langkah yang dibuat Vanda dan Marta dapat menjadi lokomotif penarik putera/puteri Papua lainnya di Garuda Indonesia.
Adapun Martha nantinya akan menempuh pendidikan pilot untuk ditempatkan di Citilink Indonesia sedangkan Vanda akan menempuh pelatihan untuk kemudian ditempatkan di Garuda Indonesia Untuk selanjutnya, Vanda akan mengikuti pendidikan pilot di Garuda Indonesia Training Center (GITC) pada awal Agustus 2019 mendatang yang rencananya akan mengambil rating tipe pesawat Boeing 737-800 NG.
Pendidikan pilot yang akan dijalani oleh mereka kurang lebih selama 6 bulan, kemudian di lanjutkan dengan Flight Training. Sedangkan untuk Martha akan mengikuti proses training lebih lanjut di Citilink Indonesia.
Baca juga: Lakukan Go Around, Pilot Garuda Indonesia GA425 Selamatkan Penerbangan dari Petaka
Sejalan dengan komitmen pemberdayaan putera puteri daerah yang diinisiasikan perusahaan, Garuda Indonesia secara berkelanjutan memastikan pihaknya akan terus membuka kesempatan bagi putera puteri daerah berprestasi untuk bergabung menjadi bagian dari keluarga Garuda Indonesia Group tidak hanya sebagai pilot, melainkan awak kabin, hingga pegawai darat.
Dampak Krisis Politik, Sektor Pariwisata Hong Kong Kondusif Meski Ada Pelemahan
Krisis politik hebat yang terjadi di Hong Kong dalam rentang waktu beberapa hari ke belakang ternyata menarik perhatian banyak kalangan. Tidak hanya itu, kondisi yang dilatarbelakangi oleh rencana pemberlakuan Rancangan Undang-Undang (RUU) Ekstradisi ini juga dampaknya semakin meluas dan sejumlah pihak mengkhawatirkan soal industri parisiwata yang menjadi salah satu daya tarik Hong Kong selama ini.
Baca Juga: Alipay Siap Ganti Sistem Pembayaran MTR Hong Kong dengan Scan QR Code
Kerusuhan yang ditimbulkan oleh lebih dari satu juta penduduk demonstran ini mulai merambat ke berbagai fasilitas publik – salah satunya adalah bandara. Sebagaimana dikutip KabarPenumpang.com dari laman cnn.com (26/7), pengunjuk rasa berkumpul di terminal kedatangan Hong Kong International Airport untuk menginformasikan kepada wisatawan mancanegara yang datang terkait krisis politik yang tengah terjadi di sana.
Tidak terkecuali rakyat Indonesia yang ada di Hong Kong sana, dimana Konsulat Jenderal RI (KJRI) menghimbau, “untuk menghindari penggunaan baju/kaos berawarna hitam atau pun putih serta payung kuning,” tulis pihak KJRI di laman Facebook-nya.
Terkait demonstrasi besar-besaran yang terjadi, ternyata sektor pariwisata di Hong Kong benar-benar mengalami pelemahan – kendati tidak signifikan. CEO Langham Hospitality Group., Stefan Leser mengatakan bahwa terjadi pelemahan pada sisi perhotelan yang ada di Hong Kong.
“Segmen-segmen tertentu di hotel-hotel Hong Kong kami telah mengalami penurunan,” tuturnya.
“Kendati begitu, menurut pantauan kami, perjalanan liburan tetap stabil,” tandasnya.
Ya, ternyata krisis politik yang terjadi di Hong Kong tidak terlalu berdampak signifikan terhadap perkembangan sektor pariwisata di sana – walaupun ada beberapa wisatawan yang lebih memilih untuk membatalkan semua rencana mereka untuk berlibur atau mengembangkan bisnis di Hong Kong.
Namun kondisi pariwisata yang sudah dijabarkan di atas hanyalah bersifat temporer, dimana situasi bisa berubah drastis tergantung pada tindakan yang dilakukan oleh para demonstran. Apabila mereka semakin ‘menggila’ menolak RUU ekstradisi ini, maka bukan tidka mungkin apabila sektor pariwisata di Hong Kong akan mengalami penurunan dari segi kuantitas.
Begitu juga kebalikannya, apabila kondisinya berangsur kondusif, maka sektor pariwisata di sana juga bisa kembali normal seperti sedia kala.
Baca Juga: Di Tengah Lesunya Pasar, Mulai Juni Citilink Buka Penerbangan Langsung ke Phnom Penh
Dilansir dari laman skift.com (29/7), kondisi Hong Kong saat ini tidaklah seperti yang Anda bayangkan. Ledakan demonstran hanya terjadi di beberapa titik saja, dan kiranya bagi para pelancong untuk menghindari titik-titik tersebut.
“Tidak ada alasan untuk tidak mengunjungi Hong Kong, di sini masih aman,” ujar Direktur Eksekutif dari Abercrombie & Kent Luxury Travel, Gerald Hatherly.
Sementara itu, flag carrier Garuda Indonesia yang juga membuka rute penerbangan menuju Hong Kong mengaku tidak terpengaruh apapun terkait krisis politik tersebut.
“Semua (penerbangan menuju Hong Kong) tetap berjalan normal,” ujar Humas Garuda Indonesia, Dicky Irchamsyah.
Operasional Bus Listrik di Jakarta Masih Menanti Regulasi
Udara ibukota Jakarta semakin hari semakin buruk kualitasnya. Salah satu penyebabnya adalah polusi yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor yakni emisi atau gas pembuangannya. Karena masalah ini, beberapa perusahaan transportasi kemudian memikirkan hal baru untuk armada mereka seperti bus listrik.
Baca juga: Adopsi Bus Listrik, Antara Harapan dan Tantangan yang Menghadang
Namun, bagaimana regulasi untuk bus listrik ini sendiri? Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, ada beberapa perusahaan yang sudah mulai ekspansi dari bus berbahan bakar minyak ke listrik. Bahkan perusahaan bus ini pun menyetujui adanya tren pergeseran ke bus listrik.
PT Ekasari Lorena Transport Tbk yang diwakili Managing Directornya yakni Dwi Ryanta Soerbakti mengatakan dirinya akan menjadi pendukung utama dari pihak swasta untuk mencoba alternatif lain seperti bus listrik. Adapun syarat yang perlu untuk mendukung infrastruktur menurutnya yakni tempat pengisian baterai, peizinan dari pemerintah hingga PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk mendorong program ini.
Bahkan Perum Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia (DAMRI) saat ini masih menantikan pengesahan beleid terkait kendaraan listrik dan kesiapan mitra untuk memulai investasi. Sebab secara prinsip DAMRI siap mendukung dan menjadi pionir dalam penggunaan bus listrik di Indonesia. Alasannya, DAMRI tidak mempersoalkan penggunaan bus listrik tetapi lebih ke waktu permulaan, kata Pelaksana Tugas Khusus Program Bus Listrik Perum Damri Dipo Wirawan.
“Sektor transportasi publik mempunyai peran yang besar untuk mengurangi emisi gas buang kendaraan. Rasionya, jika satu bus diesel diubah menjadi bus listrik, sama dengan meng-elektrifikasi 30 mobil pribadi,” ujarnya.
Terkait mitra, dia siap mendukung rencana penggunaan bus listrik oleh PT Transportasi Jakarta. Dia mengklaim terus berkoordinasi dengan TransJakarta untuk memformulasikan model bisnis yang saling menguntungkan.
“Mengingat biaya investasi bus listrik yang cukup tinggi bisa mencapai 2-3 kali lipat bus diesel, maka perencanaan yang dilakukan harus benar-benar matang,” katanya.
Diketahui, DAMRI tengah bekerja sama dengan Asian Development Bank (ADB) dalam menyusun kajian terhadap kelayakan investasi bus listrik serta mitigasi risiko yang dibutuhkan.
“Selain dengan TransJakarta, DAMRI pun siap jika seandainya beberapa layanan di kawasan Bandara Soekarno Hatta secara bertahap harus menggunakan Bus Listrik seiring dengan kebijakan PT Angkasa Pura II terkait sustainable atau green airport,” tegasnya.
Sedangkan TransJakarta kini sudah selesai menguji coba bus listrik yang mereka miliki. Salah satu diantaranya adalah buatan PT Mobil Anak Bangsa (MAB) yang sudah mendapat sertifika uji tipe (SUP) dari Kementerian Perhubungan.
Direktur Utama PT TRansportasi Jakarta Agung Wicaksono mengatakan, sedangkan yang dua lainnya dri BYD tengah menjalani sertifikasi dan nantinya jika semuanya lulus akan ada proses dari kepolisian untuk mengeluarkan STNK, nilai jual kendaraan bermotor dan lainnya.
“Untuk peraturan terkait bus listrik masih proses lintas kementrian. Kalau bisa ada Perpres atau ada peraturan di tingkat pusat yang akan membuat berbagai kementerian ini bisa saling sinergi atau lebih konfidence izin-izin yang dibutuhkan,” ujarnya.
Agung juga mengatakan, saat ini peraturan masih dibahas dengan Pemprov DKI untuk peraturan gubernur dan tingkat nasional masih menunggu peraturan presiden. Saat ini juga diketahui, PT MAB sudah digandeng oleh Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPJT) dalam pengadaan bus listrik yang akan digunakan sebagai armadanya.
Baca juga: Kontroversi MetroTrans Melaju di Jalur ‘Sempit,’ Inilah Tanggapan PT TransJakarta
BPTJ sendiri menargetkan memiliki seribu armada bus listrik tahun 2020 mendatang.Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 55 Tahun 2018 tentang Rencana Induk Transportasi Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi Tahun 2018-2029, dalam jangka menengah sudah harus tersedia 5.000 kendaraan angkutan massal bertenaga listrik.
Tiga Rute Citilink Tutup Sementara, Ada Apalagi dengan Bandara Kertajati?
Tiga rute penerbangan Citilink dihentikan sementara dari Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB), Kertajati sejak 26 Juli 2019. Penghentian sementara operasi tiga rute itu dikarenakan tingkat keterisian atau load factor dalam penerbangan relatif rendah.
Baca juga: Mulai Hari Ini, Penerbangan Domestik dari Bandara Husein Sastranegara Pindah ke Kertajati
Corporate Communications Citilink Fariza Astriny, menyebutkan tiga rute yang ditutup sementara adalah Kertajati-Medan, Kertajati-Denpasar, dan Kertajati-Palembang. “Itu karena load seat factor yang rendah dan memang sedang low season, sehingga untuk commercial reason kita berhentikan dahulu,” ujarnya.
Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Fariza mengatakan jumlah load factor Kertajati tidak sampai 50 persen dan ini menguras biaya operasional serta margin pendapatan pun jauh dari yang ditargetkan. Fariza juga mengaku belum mengetahui kapan ketiga rute tersebut akan kembali dibuka.
Selain hengkang sementara, ada beberapa rute Citilink yang sampai saat ini belum terlaksana. Saat itu Garuda Indonesia mengatakan akan membuka layanan penerbangan Umroh mereka dari Bandara Kertajati, tetapi hingga kini pun belum terealisasikan dengan baik.
Hengky Heriandono yang saat itu menjabat sebagai VP Corporate Secretary Garuda Indonesia mengatakan, penerbangan Haji tersebut terbang ke Bandara Internasional Soerkarno-Hatta dari Kertajati untuk faktor teknis seperti pengisian bahan bakar. Dia mengatakan akan ada lima kloter Haji yang akan berangkat dari Kertajati dan mengambil slot milik Saudi Airlines.
Kemudian belum lama ini seorang penumpang yang berangkat dari Kertajati menuju ke Juanda dengan pesawat Citilink merekam dirinya menjadi satu-satunya penumpang dalam penerbangan tersebut. Video pria tersebut sempat viral dan pada 1 Juli 2019 penerbangan maskapai berbiaya hemat tersebut hanya mengangkut sepuluh penumpang menuju ke Surabaya yang sebelumnya sempat akan dibatalkan.
Diketahui, selain Citilink ada empat maskapai lainnya yang diminta regulator untuk memindahkan penerbangan mereka dari Bandara Husein Sastranegara ke Bandara Kertajati yakni Garuda Indonesia, Lion Air, AiraAsia Indonesia dan Xpress Air. Tantangan lain pun menjadi cerita tersendiri bagi Perum Damri yang mengoperasikan armadanya menuju ke Bandara Kertajati.
Dari Terminal Harjamukti bus Damri tujuan ke Kertajati awalnya hanya mengangkut 3-5 orang dan kemudian beranjak sehari rata-rata 15 orang. Mereka juga mengaku memberangkatkan bus meski dalam kondisi kosong tak berpenumpang.
Baca juga: Citilink dan BIJB Kertajati Klarifikasi Video Viral Penumpang Seorang Diri di Penerbangan Surbaya
Menurut pihak Damri, sedikitnya penumpang dikarenakan banyak yang menaiki kendaraan pribadi ataupun shuttle, tetapi bila dari Bandara Kertajati sendiri lebih banyak karena yang menggunakan armada tersebut tidak hanya dari wilayah Cirebon tetapi dari Kuningan, Brebes dan Tegal.
Lain dari itu, faktor sepinya Bandara Kertajati bisa juga dikarenakan jarak tempuh dari Bandung yang cukup jauh, yakni 179,4 km, dibandingkan dari Bandung ke Bandara Halim Perdanakusuma yang hanya 143,5 km.
Kedapatan Bawa Peluncur Rudal, Penumpang Veteran Bikin Geger Bandara Baltimore
Petugas Transport Security Administration (TSA) di Baltimore/Washington International Thurgood Marshall Airport mengamankan seorang penumpang yang kedapatan membawa missile launcher (peluncur rudal) di dalam tas yang dibawanya. Kejadian ini terjadi pada Senin (29/7) kemarin dan penumpang ini langsung ditahan oleh otoritas keamanan bandara guna mendapatkan pemeriksaan lanjutan dan mengetahui motif di balik pembawaan missile launcher tersebut.
Baca Juga: Bandara di AS Kian Ketat, TSA Wajibkan Pemeriksaan Terpisah Pada Perangkat Elektronik
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, petugas keamanan bandara langsung memberhentikan penumpang terkait ketika melihat ada sesuatu yang aneh dari barang yang di bawanya di dalam tas. Di dalam keterangan yang diberikan petugas, pria yang tidak disebutkan namanya tersebut merupakan seorang veteran militer yang membawa pulang missile launcher tersebut sebagai souvenir.
Kala itu, pria ini tengah berada di dalam perjalannya dari Kuwait menuju Texas. Kendati missile launcher tersebut sudah tidak aktif, namun petugas tetap menyita barang tersebut dan menyerahkannya kepada petugas pemadam kebakaran negara untuk kemudian dimusnahkan.
“Untuk kepentingan apapun, senjata militer tidak bisa masuk ke dalam bagasi atau bagasi kabin,” ujar petugas TSA.
Setelah diintegorasi dan mendapatkan kepastian tentang missile launcher yang dibawanya ini, penumpang yang diidentifikasi berasal dari Jacksonville, Texas ini lalu diperbolehkan untuk mengejar penerbangannya kembali.
Kejadian ini lalu menjadi ramai diperbincangkan setelah juru bicara TSA, Lisa Farbstein mencuitkan perihal temuan rekan kerjanya tersebut di jejaring sosial Twitter. “Petugas @TSA yang ada di @BWI_Airport mendeteksi missile launcher ini yang ada pada sebuah tas penumpang pagi tadi. Penumpang pria ini mengatakan bahwa missile launcher tersebut merupakan souvenir dari Kuwait. Mungkin ada baiknya jika ia membawa gantungan kunci saja!” Baca Juga: Bisa Dibuka Langsung Oleh Petugas Keamanan Bandara, Inilah Gembok Koper TSA Tentu saja, semua petugas keamanan di bandara harus menyisir setiap barang bawaan penumpang yang hendak naik ke dalam pesawat. Hal ini ditujukan agar menjaga kenyamanan dan keamanan penumpang lain yang ada di dalam penerbangan yang sama. Dapatkah Anda membayangkan apabila penumpang lain di dalam penerbangan Anda membawa missile launcher? Mungkin sepanjang perjalanan tersebut, Anda akan komat-kamit baca doa agar kejadian yang tidak diinginkan tidak terjadi, ya!.@TSA officers at @BWI_Airport detected this missile launcher in a checked bag early this morning. Man said he was bringing it back from Kuwait as a souvenir. Perhaps he should have picked up a keychain instead! pic.twitter.com/AQ4VBPtViG
— Lisa Farbstein, TSA Spokesperson (@TSA_Northeast) July 29, 2019
Masih Bingung Bedakan Boeing 737 dan Airbus A320? Simak Ini
Boleh dikata saat ini tumpuan layanan penerbangan domestik dan regional di banyak negara, termasuk Indonesia akan mengerucut pada dua keluarga pesawat kelas narrow body, tak lain Boeing 737 dan Airbus A320. Mungkinsebagian orang tak peduli dengan apa beda diantara kedua jenis pesawat tersebut, tapi sebagian lain cukup antusias untuk mengenali jenis pesawat yang ingin ditumpangi.
Baca juga: Ada di Jepang, Kamar Hotel dengan Simulator Kokpit Boeing 737-800!
Beberapa yang belum paham akan karakter pesawat, dapat melihat tipe pesawat yang mereka tumpangi melalui label tulisan di bodi pesawat. Namun yang lainnya dan sudah paham tentang perbedaan pesawat tahu dari berbagai bentuk luar dan dalamnya.
Kali ini KabarPenumpang.com yang merangkum dari laman simpleflying.com (27/7/2019), akan menjelaskan perbedaan antara Boeing 737 dengan Airbus A320. Nah, apa saja sih perbedaannya?
Kapasitas penumpang
Airbus A320 memiliki kapasitas 135-236 penumpang sekali angkut tergantung modelnya. Sedangkan Boeing 737 mampu menampung dan mengangkut dengan kapasitas 108-177 penumpang.
Bentuk hidung
Menarik ketika membahas tentang hidung, seperti manusia memiliki hidung mancung atau pesek, ternyata Airbus A320 dan Boeing 737 juga bisa dibedakan melalui hidung mereka. Airbus A320 berbentuk bulat dan Boeing 737 berbentuk runcing.
Jendela kokpit
Jendela pada kokpit Boeing 737 lebih sudut dengan potongan ke bawah tepat setelah hidung. Sedangkan Airbus A320 lebih membulat.
Melihat dari gerbang keberangkatan
Penumpang yang berada di gerbang keberangkatan biasanya melihat setiap pesawat bentuk bodi dan hidungnya terlihat mirip bahkan sulit untuk dibedakan. Jika Anda penumpang yang memiliki mata tajam, Airbus A320 memiliki ground clearance dan mesin bulat yang lebih tinggi. Sedangkan Boeing 737 mesin lebih rendah dan tidak bulat sempurna bentuknya.
Di dalam kabin
Di kelas ekonomi, kedua pesawat dilengkapi dalam konfigurasi 3-3. Kecuali Anda memeriksa dengan cermat kartu pengaman atau mencari penanda Boeing Sky Interior, tidaklah mudah untuk mengetahui pesawat mana yang Anda gunakan dengan konfigurasi tempat duduk. Ketika datang ke kelas bisnis, konfigurasi tergantung pada maskapai. Sebagian besar operator di luar Eropa mengoperasikan kelas bisnis sebagai kabin terpisah dengan kursi berbeda. Ini biasanya dalam konfigurasi 2-2. Namun, di Eropa, konfigurasi 3-3 tetap dipertahankan tetapi kursi tengah diblokir untuk tujuan kenyamanan.
Baca juga: Makin Strong! Batik Air Terima Kedatangan Airbus A320-200CEO Ke-44
Keseluruhan
Saat Anda memesan penerbangan, jenis pesawat biasanya ditunjukkan saat pemesanan. Meskipun pertukaran pesawat menit terakhir dapat terjadi, Anda lebih cenderung tidak tetap berada di pesawat yang sama seperti yang ditunjukkan selama pemesanan. Selain itu, tidak semua maskapai mengoperasikan keluarga pesawat Boeing 737 dan Airbus A320.
Setelah 2 Tahun Berlalu, Bagaimana Nasib Pembangunan Bandara Bali Utara?
Ketika berbicara Singaraja di Bali, yang terpikir pertama adalah terkait pembangunan Bandara Bali Utara. Gaung pertamanya dua tahun lalu dan Agustus 2017 akan ada peletakan batu pertama. Namun kabar ini tiba-tiba saja menghilang dan tak jelas apakah akan berlanjut atau berhenti.
Baca juga: 28 Agustus 2017, Jadwal Ground Breaking Bandara Internasional Bali Utara
Jika tidak berlanjut sepertinya sangat disayangkan, pasalnya daerah Bali Utara juga terkenal dengan tempat-tempat wisatanya meski jarang terjamah wisatawan. Tetapi bila berlanjut, daerah Bali Utara juga bisa sama terkenalnya dengan Bali Selatan seperti Denpasar.
Ternyata dilansir KabarPenumpang.com dari airport-technology.com (29/7/2019), Bandara internasional ini akan dibangun di desa utara Kubutambahan. Usulan rencanya adalah akan mengakomodasi semua maskapai berbiaya hemat (LCC).
Selain itu, kehadiran bandara ini juga untuk mengurangi beban Bandar Internasional I Gusti Ngurah Rai di Denpasar yang penumpangnya semakin melonjak dari hari ke hari. Tak hanya itu, kehadiran bandara baru di Bali Utara juga memangkas jalan dari Denpasar ke Singaraja yang memakan waktu dua setengah jam menjadi satu setengah jam.
Adapun konstruksi pembangunan dijadwalkan mulai tahun depan. Berdasarkan rencana tersebut, hampir 70 persen penerbangan yang dioperasikan oleh maskapai berbiaya rendah Jetstar, Air Asia, dan Lion Air akan mendarat di Bali utara.
Untuk menenangkan wisatawan, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi juga telah menyarankan kemungkinan membangun kereta api pertama di Bali untuk mengangkut penumpang ke selatan secara gratis.
Seperti diberitakan sebelumnya, pembangunan bandara di wilayah Buleleng nampaknya belum dapat diwujudkan dalam kurun lima tahun ke depan. Pemerintah Pusat tak kunjung mengeluarkan izin penetapan lokasi (penlok), sebab Pemerintah Provinsi Bali dinilai harus mengembangkan infrastruktur jalan menuju ke Buleleng terlebih dahulu.
Budi Karya mengatakan, pihaknya sudah membahas dalam rapat koordinasi terkait prosedur pembangunan tergantung infrastruktur akses dari dan menuju ke Bali Utara. Akses itu bisa berupa jalan tol, kereta api atau highway.
“Tidak mungkin kita membangun Bandara Bali Utara tanpa ada infrastruktur akses jalan. Karena untuk membangun satu bandara kan maksimal tiga tahun baru selesai, dan lokasi tidak berubah tetap di sana nanti,” kata Budi Karya.
Gubernur Bali, Wayan Koster menyebutkan, terkait pembangunan bandara di wilayah Bali Utara hanya masalah waktu. Pembangunan shortcut atau jalan baru batas kota Singaraja-Mengwitani dinilai Koster belum cukup.
Baca juga: Moda Transportasi di Bandara Ngurah Rai dan Hasanuddin, Antara Fakta dan Harapan
Untuk itu pihaknya telah menyiapkan beberapa alternatif berupa membangun rel kereta api, atau bypass berkombinasi dengan tol. Kedua alternatif itu diakui Koster, masih dalam tahap kajian.
“Kereta api atau bypass kombinasi dengan tol itu akan dilakukan studi lebih dulu. Makanya penlok belum turun. Jangan sampai seperti Bandara di Kertajati (Jawa Barat). Bandaranya ada, tapi aksesnya belum cukup. Akhirnya lumutan Bandaranya,” kata Koster.
