Seorang bocah laki-laki berusia 8 tahun tewas setelah didorong oleh seorang pria berusia 40 tahun ketika kereta cepat melintas di stasiun. Tak hanya sang bocah, ibunya pun sempat di dorong dan untungnya selamat dari insiden itu.
Baca juga: Terpleset diantara Peron dan Kereta Api, Kaki Seorang Wanita Harus Diamputasi
Polisi setempat mengatakan, tewasnya bocah ini terjadi di Stasiun Frankfurt di Jerman. Pihak kepolisian mengatakan, dari laporan saksi mata di tempat kejadian, seorang laki-laki 40 tahun mendorong bocah itu dan ibunya ke lintasan tepat ketika ICE (InterCity Express) atau kereta kecepatan tinggi tiba di stasiun tersebut.
“Sang ibu bersyukur dirinya bisa selamat dari insiden itu. Tetapi bocah 8 tahun tersebut tertabrak ICE dan menderita cedera fatal dan dinyatakan tewas saat dalam perjalanan ke rumah sakit,” ujar juru bicara kepolisian Isabell Neumann yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman japantimes.co.jp (30/7/2019).
Dia mengatakan, pelaku melarikan diri setelah melakukan kejahatannya, namun ditahan oleh penumpang lain yang melihatnya dekat stasiun. Neumann menambahkan, tersangka kemudian diperiksa dan ibu bocah laki-laki tersebut di bawa ke rumah sakit untuk mendapat perawatan.
“Tersangka adalah warga negara Eritrea,” tulis polisi Frankfurt di akun Twitter mereka.
Menteri Dalam Negeri Horst Seehofer sangat mengutuk “tindakan mengerikan” dan memperingatkan agar tidak mengambil kesimpulan apa pun karena polisi masih menyelidiki. Seehofer mengatakan dia akan memotong liburannya untuk membahas situasi keamanan dengan para pejabat senior pada hari Selasa dan menginformasikan kepada publik sesudahnya.
Ya, terkait banyaknya kecelakaan penumpang pada peron apakah screen door dibutuhkan? Ternyata penggunaan screen door di peron kereta sangat dibutuhkan untuk keamanan penumpang. Karena bisa mengamankan penumpang baik saat bercanda dengan teman ketika berada dekat peron, menghalangi penumpang mabuk jatuh ke jalur.
Baca juga: Merusak Screen Door di Stasiun Orchard, Pria Muda Didakwa Pengadilan Singapura
Bahkan seringkali ada penumpang yang terpeleset di peron hingga membuatnya jatuh ke jalur kereta. Seperti baru-baru ini, seorang penumpang tergelincir dan jatuh diantara peron dan kereta Bandara gatwick, Inggris. Akibat insiden itu, kaki perempuan tersebut harus diamputasi karena insiden tersebut. Namun sayangnya hinga kini pun belum banyak stasiun di dunia yang memasang screen door di stasiun.
Tuntutan imateril unik kembali dilayangkan seorang pelanggan pada maskapai Garuda Indonesia. Maskapai milik Indonesia ini dituntut harus memberi ganti rugi sebesar Rp100. Tuntutan tersebut dilayangkan oleh Ketua Komunitas Konsumen Indonesia (KKI) David Tobing.
Baca juga: Soal Kompensasi Akibat Delay, Garuda Indonesia dan David Tobing Sepakat Berdamai
Pasalnya pada Kamis (25/7/2019) kemarin, dirinya sebagai penumpang Garuda Indonesia rute Pontianak menuju ke Jakarta merasa dirugikan akibat monitor di kursi tempat duduknya tidak bisa dinyalakan. Gugatan tersebut disampaikan David melalui pengacaranya Muhamad Ali Hasan SH di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dengan No.433/PDT.G/2019/PN.JKT.
Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, menurutnya ini sebagai maskapai dengan pelayanan full service pihak Garuda tidak boleh menjual tiket untuk bangku yang monitornya tidak bisa dihidupkan atau rusak. Hal ini melanggar ketentuan Pasal 30 ayat (1) Permenhub 185 Tahun 2015 yang mewajibkan maskapai dengan pelayanan full services untuk menyediakan fasilitas diantaranya berupa media hiburan.
Selain menuntut ganti rugi imateril, David dalam gugatannya juga menuntut diberi ganti rugi materil kepada penggugat berupa satu tiket pesawat kelas ekonomi untuk rute penerbangan dari Pontianak menuju ke Jakarta dan dilengkapai media hiburan yang berfungsi dengan baik. Adanya gugatan ini, apakah pihak Garuda Indonesia menanggapinya?
Ternyata PT Garuda Indonesia mengaku sudah membaca isi laporan yang disampaikan oleh penggugat tetapi belum menerima panggilan pengadilan terkait isi dari gugatan itu. VP Corporate Secretary Garuda Indonesia Ikhsan Rosan mengatakan, Garuda Indonesia sendiri siap memenuhi panggilan apabila dilayangkan surat resmi dari pengadilan.
“Jadi terkait dengan laporan itu kita baca. Terus panggilan mungkin belum kita terima tidak tau apakah senin ini atau kapan keluarnya. Kami akan ikuti semua proses di dalam pengadilan termasuk ganti rugi yang diberikan oleh pihak penggugat,” kata Ikhsan yang dikutip dari merdeka.com (27/7/2019).
Atas ketidaknyamanan tersebut, pihak Garuda Indonesia juga tengah meminta maaf kepada pihak penggugat. Ke depan, Garuda ke depan berjanji akan melakukan perbaikan apabila ada hal-hal yang dirasa kurang terkait dengan pelayanan maskapai.
Baca juga: Dalam Wujud Gelang Pintar, Garuda Indonesia dan Indosat Luncurkan “Hajj Tracker”
“Kita mohon maaf atas ketidaknyamanan yang dialami,” tuturnya.
Sebelumnya David Tobing juga pernah menuntut Garuda Indonesia karena tidak memberikan snack saat keterlambatan dari Jakarta menuju ke Batam selama 60 menit atau satu jam.
Kereta di Indonesia masih menjadi pilihan moda transportasi yang digunakan oleh masyarakat baik untuk pergi dan pulang kerja ataupun keluar kota. Tapi tahukah Anda bahwa kereta dan isinya memiliki rahasia yang tak diketahui para penumpangnya.
Baca juga: [Tips] Kehabisan Tiket Kereta Lebaran? Jangan Keburu Loyo
Berikut ini ada beberapa rahasia yang mungkin belum diketahui penumpang yang dirangkum KabarPenumpang.com dari thetravel.com (24/7/2019).
1. Masinis tak bisa ubah kecepatan seenaknya
Bila satu dan lain hal yang membuat kereta terlambat maka penumpang kurang beruntung. Karena hal ini, masinis tidak bisa mengganti waktu yang hilang tersebut dan berjalan mengikuti waktu selanjutnya dengan kecepatan kereta yang sudah ditentukan. Perubahan kecepatan laju kereta akan berdampak pada rangkaian kereta lainnya dan dapat beresiko pada keselamatan perjalanan, seperti tabrakan misalnya.
2. Punya istilah khusus
Di kabin pesawat, setiap awak kabin dan pilot punya istilah khusus. Ini juga ada di dalam gerbong kereta. Biasanya untuk mempersingkat perintah dan bila ada penumpang yang mendengar percakapan tersebut tidak akan mengerti dan mungkin bingung.
3. Masinis menutupi sesuatu agar penumpang tenang
Bila ada sebuah kecelakaan atau sesuatu yang tidak beres di jalur atau kereta, masinis tidak akan secara blak-blakan memberitahunya. Mereka akan memberitahukan apa yang terjadi secara singkat. Ini untuk membuat penumpang tenang dan tidak panik.
4. Jangan tarik rem darurat bila lihat penumpang sakit
Tak perlu terburu-buru untuk menarik rem atau memencet tombol darurat di kereta saat melihat penumpang yang sakit. Beritahu petugas keamanan yang ada di dalam kereta agar ada penanganan pertama. Bahkan kalau bisa, tunggu tiba di stasiun selanjutnya agar penumpang sakit tersebut bisa mendapatkan perawatan atau dibawa ke rumah sakit terdekat.
5. Masinis banyak melihat kecelakaan
Sebagai yang mengemudikan kereta, masinis akan menjadi orang pertama di gerbong yang melihat kecelakaan. Mungkin bukan sekali atau dua kali masinis tersebut melihat kecelakaan yang menyebabkan kematian.
6. Berada di tengah
Pilih bagian tengah kereta baik untuk duduk atau berdiri. Bila berdiri selain tidak menggangu penumpang yang akan naik dan turun dari pintu, di bagian rasanya lebih aman. Karena banyak penumpang yang memaksa berdiri di dekat pintu dan ketika terbuka terjatuh hingga membuat cedera.
Baca juga: Perkenalkan Oshiya, “Tukang Dorong” Penumpang Kereta Komuter di Jepang7. Banyak kuman
Tak hanya pesawat yang memiliki kuman atau bakteri, kereta pun sama, seperti tiang pegangan ataupun kursinya. Meski di bersihkan tetapi untuk menjaga kesehatan, penumpang baiknya membawa handsanitizer ataupun tisu basah untuk meminimalisir kuman yang terpegang ketika memegang tiang.
Evolusi yang terjadi pada sektor transportasi memang tidak akan pernah berhenti. Mungkin Anda ssemua masih ingat tentang pemberdayaan autonomous land vehicle seperti mobil dan bus listrik, ada juga kereta api nirawak yang sudah mulai beroperasi di berbagai penjuru dunia. Namun dari sejumlah moda transportasi tersebut, muncul pesawat yang hingga kini masih saja dikemudikan oleh dua orang (pilot dan kopilot).
Baca Juga: Serba Otomatis dan Komputerisasi Turunkan ‘Kemampuan’ Pilot Ketika Mengudara
Kendati berbagai perusahaan dirgantara di luar sana tengah mengembangkan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau yang biasa disebut drone untuk mengangkut penumpang, mungkinkah peran kopilot yang ada di pesawat ditiadakan? Setidaknya, jalan pemikiran ini merupakan ‘jembatan’ menuju pengoperasian pesawat tanpa awak, maklum tekanan dunia akan efisiensi biaya operasional tengah mengemuka di segala sektor transportasi.
Dan dari sekian banyak evolusi yang sudah terjadi pada sektor transportasi, tampaknya nilai utama dari evolusi ini adalah pengurangan pengoperasian kendaraan oleh manusia. Dan apabila nilai tersebut diadopsi pada moda udara, jawabannya adalah tidak mungkin – setidaknya dalam waktu dekat ini. Air Line Pilots Association (ALPA) menyebutkan bahwa teknologi otomatisasi yang ada saat ini belum mampu mengalahkan kinerja manusia – dalam hal ini adalah seorang pilot atau kopilot.
“Sampai teknologi otomatis dapat memberikan tingkat kesadaran situasional, komunikasi, dan penilaian yang sama dengan manusia, dua pilot di dalam kokpit akan tetap menjadi kebutuhan utama dalam dunia penerbangan untuk mencapat keselamatan yang maksimal,” tulis ALPA, dikutip KabarPenumpang.com dari laman thepointsguy.co.uk (21/7).
Namun jika lebih peka lagi terhadap pemberitaan terkait sektor aviasi, keberadaan dua pilot ini bisa dibilang sudah paling ideal untuk mengoperasikan jalur udara – mengingat tugas ko-pilot yang didaulat sebagai ‘cadangan’ ketika sang pilot mengalami kesulitan atau kejadian di luar dugaan (sakit, hilang kesadaran, dll).
Itu baru dari segi teknis, belum lagi dari segi kenyamanan penumpang yang mungkin akan sedikit was-was ketika mendengar pesawat yang ditumpanginya itu hanya dioperasikan oleh satu pilot saja. Bukan tidak mungkin apabila stigma, “Nanti kalau pilotnya mengalami kendala, siapa yang akan mengendalikan pesawat?” seperti ini akan muncul di benak masing-masing penumpang.
Baca Juga: Kembangkan Teknologi Autopilot, Boeing Tawarkan Self Flying Plane
Maka dati itu, peran teknologi otomatisasi memang benar-benar harus dipatenkan agar dapat menghasilkan trust di setiap lini – baik dari pihak maskapai yang tidak perlu ragu lagi untuk mengoperasikan pesawat dengan satu pilot, hingga penumpang yang akan merasa nyaman ketika pesawat yang ditumpanginya dioperasikan hanya oleh satu orang saja.
Mungkin saja pesawat dengan kemudi satu orang beroperasi, namun dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mengembangkan sistem otomatis yang lebih andal dari seorang ko-pilot.
Menapaki sejarah transportasi dunia sepertinya tak akan habis. Sebab di dunia banyak transportasi yang bisa digunakan secara umum dengan mengangkut penumpang yang banyak atau massa. Kali ini yang akan dibahas adalah sejarah transportasi bus umum dunia.
Baca juga: Screecher, Moda Kayuh Roda Empat yang Unik nan FleksibelKabarPenumpang.com merangkum dari laman gogocharters.com, sejak 1820-an ternyata moda transportasi umum sudah hadir di seluruh dunia. Selain memberi dampak dalam perjalanan tetapi juga pada penataan kota secara umum.
(Gail Thornton)
Saat layanan bus pada awalnya mulai bermunculan di seluruh dunia, pengangkutan dari satu titik ke titik lainnya menjadi lebih mudah. Ini juga menyamakan kesenjangan antara pusat kota dengan daerah pinggiran.
Kali ini yang akan dibahas adalah Omnibus. Apasih itu? Ini adalah sebuah bus yang ditarik dengan kuda dan menjadi papan iklan berjalan karena di pasangi spanduk bagian atasnya. Omnibus hadir tahun 1826 silam dengan sebuah gerbong penumpang yang bisa ditarik oleh satu hingga tiga ekor kuda sekaligus tergantung ukurannya.
Omnibus terbesar yang pernah ada yakni mampu mengangkut 42 orang penumpang dan membutuhkan tiga ekor kuda untuk menariknya. Bahkan ada beberapa yang bisa ditumpangi hingga ke bagian atapnya atau istilah kerennya bus tingkat.
Awal adanya Omnibus sendiri di Perancis yang menguji konsep angkutan umum ini. Dimana para royalti dan rakyat jelata bisa naik berkeliling kota. Sayangnya gagasan ini tersendat dan pada tahun 1828, New York menetapkan Omnibusnya sendiri dan di ikuti oleh kota di Amerika Serikat lainnya serta Eropa.
Sementara seluruh ide “transportasi umum” secara umum dianggap sebagai hal yang positif, Omnibus menawarkan perjalanan yang sangat tidak nyaman. Sebab Omnibus hadir dengan kursi tanpa bantalan, dan penumpang bisa merasakan goyangan dan benturan di jalan berbatu yang tidak rata sehingga membuat pengalaman yang tidak menyenangkan.
Baca juga: Pownis, Mobil Kayu Berbahan Bakar Solar dan Bensin
Belum lagi, dengan harga 12 sen per perjalanan terlalu mahal bagi sebagian besar warga kota. Namun, pada akhirnya, Omnibus menemukan audiensnya di kelas menengah reguler dimana mereka menganggap terlalu mahal ketika bepergian dengan kereta kuda pribadi. Omnibus ini bertahan cukup lama bila dilihat dari banyaknya peningkatan di tahun-tahun berikut.
Jelang operasional bus kampus baru untuk Universitas Indonesia (UI) pada 1 Agustus 2019, pihak penyelenggara angkutan, yaitu PT TransJakarta telah merilis dua desain bus kampus khas UI – Bis Kuning (Bikun). Sebagai platform kendaraan tetap memgandalkan bus lower deck dari MetroTrans. Nantinya Bikun Next Generation ini akan melayani lebih dari 40 ribu mahasiswa UI.
Baca juga:Mulai Agustus 2019, MetroTrans Gantikan “Bikun” di Kampus UI Depok
Dikutip dari keterangan Humas PT TransJakarta, dua pilihan desain bis kuning dibuat khusus oleh TransJakarta agar tidak menghilangkan identitas ikon bus kuning legendaris yang sebelumnya telah melayani keseharian mahasiswa berpindah dari satu fakultas ke fakultas lain sejak UI didirikan.
Bus Kuning UI yang dilansir oleh TransJakarta nantinya akan menggunakan jenis MetroTrans yang memiliki karakteristik pijakan Rendah dan ramah disabilitas. Kapasitas satu bus terdiri dari 34 tempat duduk dan mampu menampung 20 orang tambahan pada posisi berdiri.
TransJakarta mengeluarkan dua opsi desain, opsi pertama adalah bus berwarna kuning di keseluruhan badannya dan disamping kiri kanan terdapat logo TransJakarta disertai simbol tanda contreng khas bermakna Lebih baik dan Logo Universitas Indonesia. Desain ini menggambarkan kerjasama kedua belah pihak dengan tidak menghilangkan ciri khas dari masing-masing instansi.
Opsi kedua berwarna kuning khas Universitas Indonesia dengan Aksen daun dan Contreng khas Transjakarta, daun yang ada pada desain tersebut menggambarkan kepedulian terhadap lingkungan hidup seperti yang sudah ada pada desain bus kuning UI sebelumnya, sedangkan contreng disamping logo transjakarta menggambarkan upaya pelayanan dan jangkauan semakin baik untuk seluruh kalangan warga DKI dan sekitarnya.
Desain yang sudah disiapkan oleh PT TransJakarta kini sedang dimusyawarahkan di dalam lingkungan Universitas Indonesia untuk dapat dipilih satu desain yang akan direalisasikan.
Keseluruhan Bus yang akan dipakai sudah dilengkapi dengan OBU (On Board Unit) suatu alat yang berfungsi untuk menginformasikan titik lokasi bus dan keadaan sekitar bus yang kemudian dikoordinasikan ke Ruang Control Command Center Transjakarta sehingga kedatangan dan jarak tempuh bus dapat diketahui dari ruang pusat kendali transjakarta. Alat ini juga memberikan informasi kepada pelanggan melalui PIS (Passanger Information Sistem) dan Aplikasi Resmi Transjakarta ‘TijeKu’.
Baca juga: “Bikun,” Bus Kampus Yang Kadung Jadi Legend
TransJakarta kini sedang melakukan ujicoba rute selama 7 (tujuh) hari guna mempelajari ritme perjalanan sebagai bahan evaluasi untuk Memastikan keseluruhan rute dapat dilayani dengan baik.
Kemacetan banyak dialami oleh kota-kota besar di Indonesia, karena hal ini membuat pemerintah mencari moda transportasi yang tepat untuk mengatasinya. Bahkan, belakangan nama O-Bahn sering disebut pihak pemerintah untuk membantu mengatasi masalah kemacetan khususnya di Jakarta padahal sudah ada TransJakarta, MRT dan LRT.
Baca juga: Skybridge MRT Jakarta Hubungkan Poins Square dan Halte TransJakarta
Namun, apasih O-Bahn yang tengah direncakan oleh pemerintah tersebut? O-Bahn, merupakan moda transportasi yang menggabungkan elemen-elemen dari sistem bus dan kereta api ini memiliki jalur yang dibangun secara khusus. Tak hanya melalui jalur khusus, O-Bahn juga bisa melaju di jalur biasa.
Kendaraan percampuran antara BRT dan LRT ini mampu mengangkut 20 persen lebih banyak dibandingkan TransJakarta. Kecepatan melaju O-Bahn pun bisa lebih tinggi karena memiliki jalur sendiri.
Sayangnya harga penyediaan O-Bhan ini lebih mahal dibandingkan BRT tetapi lebih murah daripada membangun LRT. Meski daya angkutnya sama dengan BRT O-Bahn yang melaju di jalan biasa atau rel bisa menempuh waktu lebih cepat. Sehinga dalam periode yang sama, bisa mengangkut penumpang lebih banyak.
Bus ini memiliki roda pandu yang berada di samping ban depan bus. Roda pandu ini menyatu dengan batang kemudi roda depan, sehingga ketika bus memasuki jalur O-Bahn, supir tak perlu lagi mengendalikan arah bus karena roda pandu akan mengarahkan bus sesuai dengan arah rel pandu serta mencegah bus terperosok ke celah yang ada di jalur.
Biasanya O-Bahn menggunakan bus gandeng dan bisa membantu mengurangi jeda antar bus yang bermanfaat di jam-jam sibuk. Dari sisi kecepatan tempuh, O-bahn bisa melesat lebih cepat ketimbang BRT. Bahkan sampai di atas 80 km per jam pada jalur khusus. Sedangkan kecepatan BRT rata-rata hanya 60 km per jam.
Sistem ini sendiri pertama kali digunakan di Kota Essen, Jerman dan tahun 1986 diperkenalkan di Adelaide untuk melayani pinggiran kota timur laut yang berkembang pesat menggantikan rencana sebelumnya untuk perluasan jalur trem. Selain itu juga sudah diterapkan di Nagoya, Jepang.
Direktur Jenderal Perkeretaapian Zulfikri mengatakan, ide ini datang dari daerah-daerah yang tidak terakses angkutan kereta. Mengenai kota yang tepat untuk diterapkan angkutan moda anyar itu, Zulfikri berujar perlu kajian mendalam. Karena itu, ia pun belum bisa memastikan kapan O-Bahn bisa diterapkan di Indonesia.
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan gagasan itu muncul sebagai jawaban dari permintaan Presiden Joko Widodo untuk mengatasi kemacetan di sejumlah kota besar di Indonesia. Kota yang disebut Budi antara lain Surabaya, Bandung, Makassar, Medan, Palembang, hingga Yogyakarta.
Baca juga: Dilengkapi 17 Stasiun, LRT Jabodebek Siap Mengular di 2021
Munculnya O-Bahn, kata Budi, bisa merevolusi transportasi umum di Indonesia dan bisa membuat perjalanan masyarakat lebih mudah.
“Dengan mengedepankan smart city. Kemenhub sedang melakukan kajian tentang transportasi ini untuk diterapkan di Indonesia,” kata Budi yang dikutip KabarPenumpang.com dari tempo.co (24/6/2019)
Mulai 15 Agustus mendatang, maskapai berbiaya hemat (LCC) Citilink Indonesia untuk sementara waktu akan memindahkan seluruh operasional penerbangan rute domestiknya di Bandara Internasioanl Soekarno-Hatta ke Terminal 2 Domestik, dimana saat ini pelayanan Citilink rute domesktik ada di Terminal 1C. Perpindahan ini dilakukan menyusul dengan adanya revitalisasi Terminal 1C yang dilakukan oleh Angkasa Pura II (AP II).
Baca juga: Citilink Jadikan Banyuwangi Mini Hub, Agustus 2019 Buka Rute dari Denpasar
Direktur Utama Citilink Indonesia Juliandra mengatakan bahwa perpindahan sementara operasional penerbangan domestik ke Terminal 2 ini merupakan upaya Citilink Indonesia untuk meningkatkan kenyamanan penumpang.
“Dengan fasilitas dan infrastruktur memadai di terminal 2 Domestik, maka diharapkan mampu meningkatkan pre- maupun post-flight experience penumpang Citilink Indonesia yang melakukan perjalanan dari dan menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta” katanya di Cengkareng, yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers, Minggu (28/7/2019).
Adapun penumpang yang akan melakukan perjalanan dalam negeri dengan Citilink Indonesia dapat menuju ke Terminal 2 Domestik Bandara Soetta dan masuk ke check in konter melalui gate 3. Meski begitu untuk jadwal penerbangan Citilink tidak mengalami perubahan.
Namun demikian, penumpang diimbau untuk tiba di bandara tiga jam lebih awal sebelum jadwal keberangkatan serta melakukan check-in melalui aplikasi ataupun web di www.citilink.co.id. Citilink juga akan melakukan sosialisasi perpindahan terminal di Bandara Soetta ini baik melalui website, SMS, Call Center, ataupun media sosial sehingga calon penumpang terinformasikan dengan baik.
Juliandra menambahkan, bahwa Citilink akan kembali mengoperasikan seluruh penerbangan domestiknya di Terminal 1C Bandara Soetta setelah revitalisasi selesai dilakukan.
“Setelah revitalisasi dilakukan seluruh penerbangan domestik Citilink akan kembali beroperasi di Terminal 1C, dimana rencananya Terminal 1C juga akan menjadi dedicated terminal untuk penerbangan domestik Citilink,” ujarnya.
Senior Manager Of Branch Communication and Legal, Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Febri Toga Simpatupang menjelaskan, AP II telah memastikan kesiapannya dalam rencana perpindahan layanan operasional penerbangan rute domestik Citilink.
Perpindahan ini dilakukan menyusul dengan adanya revitalisasi Terminal 1C yang dilakukan oleh PT Angkasa Pura II (Persero) selaku pengelola Bandara Soetta. Meski begitu, adanya perpindahan operasional tentunya tak akan menurunkan pelayanan.
Baca juga: Citilink dan BIJB Kertajati Klarifikasi Video Viral Penumpang Seorang Diri di Penerbangan Surbaya
“Revitalisasi Terminal 1 dimaksudkan agar daya tampung terminal bertambah dan kami memang terus berinovasi untuk memenuhi kebutuhan seluruh pengguna jasa. Kedepan-nya kami dapat kembali menghadirkan inovasi baru layanan digital yang dapat dinikmati dan diterima dengan baik sebagai wujud komitmen pelayanan kami,” tutur Febri.
Pergantian logo sebuah perusahaan bukanlah hal yang aneh, melainkan ada semangat dan nuasa baru yang akan diperlihatkan. Seperti GoJek yang baru saja resmi mengubah logonya pada 22 Juli 2019 kemarin.
Baca juga: Sebelum Dijual, PCX Electric Milik Astra Akan Diuji Coba Mitra GoJek Jemput Penumpang
Logo awal GoJek adalah pengemudi motor bersinyal dan kini berganti menjadi sebuah cincin lingkaran bundar yang disebut Solv. Ternyata pergantian logo ini sudah dilakukan GoJek untuk yang ketiga kalinya. Bahkan Solv ini adalah logo GoJek yang dibuat semakin sederhana dari yang lalu.
Warna sub kategori dalam aplikasi GoJek
Dirangkum KabarPenumpang.com dari laman website GoJek, logo baru ini mengungkapkan bentuk universal dari beragam solusi. Upaya rebranding GoJek dilakukan untuk merefleksikan perjalanan mereka dari yang awalnya layanan transportasi roda dua hingga menjadi pengelola super-app Indonesia yang menyediakan 22 layanan.
Rebranding ini juga dibuat setelah mencatat pertumbuhan transaksi hingga 1100 persen selama tiga tahun terakhir. Pemilihan logo baru perusahaan memiliki alasan fleksibilitas dimana dengan logo GoJek terbaru ini lebih mudah dikenali meski di pasang dalam berbagai ukuran baik besar maupun kecil.
“Karakter logo lama yang didesain salah satu founder GoJek disebut-sebut mewakili sisi unik dari pembuatan sebuah logo. Namun, keberadaan logo lama itu justru memiliki kendala implementasi tersendiri di lapangan. Logo kami sulit dilihat pada ukuran kecil. Itu tidak cukup fleksibel, dan bentuknya yang rumit membuatnya sulit dibuat ulang pada bahan berbeda. Hasilnya, jadi sangat mudah menimbulkan kekeliruan,” tulis UX Lead GoJek, Fatema Raja pada blog engineering GoJek.
Tak hanya memudahkan penerapan dalam berbagai bahandan ukuran, logo terbaru GoJek juga membuka celah baru untuk mereka dalam merapikan layanan sesuai skema kategori warna yang telah ditentukan.
“Kami memiliki lebih dari dua puluh produk dan layanan. Begitu banyak, sehingga kami benar-benar kehabisan warna untuk dikaitkan dengan produk baru. Warna kami jelas membutuhkan pemikiran ulang,” tulis Raja.
Nadiem Makarim selaku CEO GoJek Indonesia, mengatakan bahwa perubahan logo melambangkan satu logo untuk semua. Lingkaran dalam logo baru Gojek mewakili ekosistem Gojek yang semakin solid memberikan manfaat untuk semua.
“Logo ini mewakili semangat kami untuk selalu menawarkan cara pintar dalam mengatasi tantangan yang dihadapi para pengguna untuk hidup yang lebih mudah bagi konsumen. Untuk akses pendapatan tambahan yang lebih luas dari mitra, untuk peluang pertumbuhan bisnis yang pesat bagi para merchant, dan masih banyak lagi. Dengan Gojek #PastiAdaJalan. Itu intinya,” jelas Nadiem.
Dalam rebranding ini, ada enam palet warna yang mewakili identitas dari enam sub kategori layanan yakni hijau untuk logistik dan transportasi. Merah untuk makanan, biru untuk layanan finansial dan pembayaran, merah muda untuk hiburan, oranye untuk belanja kebutuhan dan yang terakhir ungu gelap untuk bisnis.
Raja menambahkan, logo baru ini memiliki kemiripan dengan tombol daya yang menyiratkan pesan pemberdayaan. Selain itu, logo GoJek juga dimaknai lain sebagai ikon pencarian (search), pin pemetaan digital, roda di bagian logo pertama GoJek, dan lain-lain.
Baca juga: GoJek ‘Disuntik’ Visa, Grab Jalin Kerja Sama dengan Mastercard
Pengartian logo yang bermacam-macam ini dianggap sebagai poin tersendiri bagi branding terbaru GoJek. Namun di antara sekian alasan yang sudah dijelaskan sebelumnya, salah satu faktor utama yang mendorong upaya rebranding ini adalah penegasan visi GoJek untuk fokus ke dalam layanan super-app, konsep bisnis agnostic yang belakangan dibidik sejumlah pelaku perusahaan teknologi besar di Indonesia seperti Traveloka, Tokopedia, dan Bukalapak.
Jika membicarakan zaman kolonial belanda, tentu agak sulit untuk tidak menyinggung soal moda transportasi yang dikembangkann, pasalnya Belanda membawa pengaruh besar pada perkembangan jaringan kereta api di Indonesia. Walaupun berjasa terhadap hadirnya jaringan kereta api di Indonesia, namun kala itu Belanda menerapkan sejumlah peraturan baik tertulis maupun tidak yang unik kepada penumpang pribumi.
Baca Juga: Tak Terasa Sudah 150 Tahun Sistem Perkeretaapian Belanda di Indonesia
Sebagai pembukaan, yang namanya masa kolonialisme Belanda di Indonesia memang dipenuhi dengan ‘kecurangan’ yang merugikan Bangsa Indonesia – termasuk dengan peraturan-peraturan yang berlaku ketika warga pribumi menaiki angkutan umum (kereta api). Selain ketika menaiki kereta api, ‘kecurangan’ yang dilakukan Belanda ini bahkan sudah terlihat ketika ia memberlakukan sistem tanam paksa hingga pembangunan Jalan Raya Pos yang membentang dari Anyer hingga Panarukan.
Pemisahan Gerbong
Kembali ke poin peraturan yang diterapkan pihak Belanda kepada pribumi adalah mereka memisahkan pintu masuk antara penumpang berkebangsaan Belanda dan warga pribumi. Tidak hanya pintu masuknya saja yang dipisahkan oleh pihak Belanda, pun dengan penggunaan gerbongnya juga turut dipisah.
Dari pemisahan ini saja sudah tampak jelas bahwa Belanda tidak mau berada satu gerbong dengan orang Indonesia, dan bukan tidak mungkin apabila gerbong yang digunakannya pun berbeda – dimana gerbong yang digunakan oleh pihak Belanda jauh lebih bagus ketimbang yang digunakan oleh orang Indonesia sendiri.
Dilarang Meludah!
Mungkin bagi Anda yang menggunakan sarana transportasi massal seperti TransJakarta atau KRL Jabodetabek, budaya jorok seperti meludah di moda transportasi sudah tidak akan Anda temui lagi. Namun apa budaya ini berlaku di jaman dahulu kala? Kapan budaya ini mulai berkembang?
Jawaban untuk pertanyaan pertama, budaya jorok seperti meludah ini seolah sudah menjelma menjadi suatu ‘bumbu’ yang akan Anda lihat ketika menggunakan moda transportasi umum seperti Kopaja, MetroMini atau bahkan KRL jaman dulu. Namun seiring perkembangan jaman, budaya jorok seperti benar-benar sudah diminimalisir.
Baca Juga: Menapaki Sentuhan Belanda di 10 Stasiun Tua di Indonesia
Sedangkan untuk jawaban kedua, budaya jorok ini bahkan sudah berkembang sejak jaman masa kolonial Belanda, tidak percaya? Bisa Anda lihat pada headline artikel ini yang menunjukkan sebuah foto larangan meludah yang sempat dipasang di gerbong-gerbong kereta jaman dulu.
Sumber: mp-produktie.nl
Gambar yang dikutip dari laman mp-produktie.nl ini menujukkan bahwa perilaku jorok penumpang di moda transportasi berbasis massal memang sudah berkembang sejak jaman kolonial Belanda. Dalam gambar tersebut, dapat Anda lihat larangan ini ditulis dalam empat bahasa: Belanda, Indonesia (ejaan lama), Jawa, dan Cina.
Ini menujukkan bahwa pihak Belanda tidak suka dengan budaya jorok yang berkembang di Tanah Indonesia – budaya Eropa memang terkenal bersih, berbanding terbalik dengan kebiasaan jorok yang berkembang di Indonesia, tidak terkecuali orang-orang Cina yang tinggal di Indonesia.