PT KAI Akan Gandeng GoJek, Bayar KA Lokal Bisa Pakai Go-Pay?

Generasi masa kini sudah dipermudah dengan berbagai teknologi baru salah satunya dengan dompet virtual. Selain memudahkan, dengan adanya dompet virtual ini, pengguna tidak lagi repot membawa uang cash yang banyak atau kartu ATM, karena sekarang sudah banyak ritel atau toko lainnya yang dimudahkan dengan cara pembayaran seperti itu.

Baca juga: MRT Jakarta Gandeng GoJek Kembangkan Bisnis dan Mobile Payment via Aplikasi

Seperti PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang akan menggunakan Go-Pay dalam pembayaran tiket kereta api lokalnya. Selain untuk memudahkan pelanggan di era millenial, juga untuk penghematan penggunaan kertas untuk boarding pass.

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber dimana Manager Marketing Komunikasi PT KAI Otnial Eko Pamiarso mengatakan, mekanisme pembayaran dengan Go-Pay belum diluncurkan. Dia menjelaskan, PT KAI akan menjalin kerja sama dengan Go-Jek dalam hal ini adalah penggunaan Go-Pay.

“Belum resmi diluncurkan, detailnya akan diumumkan kemudian,” kata Otnial.

Nantinya, pembayaran secara virtual ini akan mulai dengan rute kereta jarak dekat seperti Pasar Senen-Cikampek, Cikampek-Purwakarta. Pemilihan kereta lokal karena tarifnya yang murah di kisaran Rp4 ribu hingga Rp8 ribu untuk sekali jalan.

“Untuk kereta lokal, nanti tiketnya pakai Go-Pay. Jadi scan saja tidak usah pakai tiket lagi,” jelasnya.

Otnial mengatakan, kawasan Bandung dan sekitarnya akan menjadi pilot project metode pembayaran dengan dompet virtual tersebut. Pihaknya akan mencoba dari Badung-Cimahi dan sebaliknya.

Baca juga: Punya KAI Access? Ini Cara Mudah Tukar Jadwal Keberangkatan Kereta

Dia memperkirakan sistem pembayaran melalui dompet virtual Go-Pay akan mulai digunakan paling lambat Februari 2019 mendatang. Inovasi baru tersebut nantinya akan melengkapi sistem tiket online dengan membeli melalui aplikasi KAI Access.

Sehingga saat pengguna tiba di stasiun hanya tinggal menscan barcode yang tertera jelas di e-ticket yang dikeluarkan oleh KAI Access. Sehubungan dengan ini, pihak Go-Jek Indonesia belum ada jawaban yang pasti.

“Kami belum bisa berkomentar lebih detail terkait hal ini. Bila ada update lebih lanjut akan kami informasikan,” kata Winny Triswandhani, Head of Corporate Affairs Go-Pay yang dihubungi KabarPenumpang.com, Selasa (4/12/2018).

Penutup Mesin Terlepas, Airbus A320 Frontier Flight 260 Terpaksa Return to Base

Bagi sebagian orang, duduk di samping kaca selama penerbangan merupakan hal yang menyenangkan – dimana mereka bisa melihat pemandangan spektakuler dari atas pesawat. Tapi tidak melulu duduk di samping kaca itu menyenangkan, pasalnya belum lama ini muncul sejumlah foto yang menunjukkan mesin jet Airbus A320 milik maskapai Frontier tercabik dan tersebar luas di dunia maya.

Baca Juga: [Video] Announcer Frontier Airlines Bawakan Panduan Keselamatan dengan Balutan Komedi

Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman thesun.ie (1/12/2018), kejadian ini sendiri terjadi pada Jumat (30/11/2018) kemarin pada penerbangan Frontier dari Las Vegas menuju Tampa. Ketika pesawat bertolak dari Bandara Internasional McCarran di Las Vegas, penerbangan tersebut masih tidak mengalami kendala, namun situasi 180 derajat terjadi manakala pesawat baru mengudara selama 10 menit.

Seorang penumpang yang duduk di dekat jendela melihat katup penutup mesin jet maskapai tersebut terbuka dan kepanikan di dalam kabin mulai terjadi tepat setelah si penumpang tersebut histeris melihat pemandangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

“Saya sedang tidur dan terbangun karena ada banyak teriakan dari para penumpang,” ujar salah satu penumpang maskapai Frontier bernama Stella Ponce.

“Para penumpang tersebut berteriak agar pilot segera memberhentikan pesawat,” tandasnya.

Alhasil, maskapai Frontier Flight 260 tersebut terpaksa return to base menuju Bandara Internasional McCarran pada pukul 07.27 waktu setempat – hanya berselang 15 menit setelah pesawat tersebut mengudara. Beruntung, sebanyak 171 penumpang dan 6 awak kabin dalam penerbangan tersebut dinyatakan selamat tanpa mengalami luka-luka.

Menanggapi insiden ini, pihak Frontier Airlines menegaskan bahwa pilot telah mengikuti prosedur yang berlaku, “dan segera mengambil keputusan untuk return to base,” ujar pihak Frontier dalam keterangan tertulis.

Baca Juga: Duh, Gara-Gara Satu Penumpang, Frontier Airlines Flight 87 Dibatalkan!

Selain itu, sebagai bentuk tanggung jawab terhadap para penumpangnya, pihak maskapai berbiaya rendah asal Negeri Paman Sam ini diketahui mengembalikan setiap tiket para penumpang (refund) dan memberikan kompensasi berupa voucher sebesar US$500 atau yang setara dengan Rp7,1 juta untuk pembelian tiket Frontier di masa yang akan datang.

Dibalik Keanggunan, Ternyata 15 Pramugari Emirates Tergabung ke Dalam Tim Rugby

Tentu Anda semua sudah mengenal maskapai asal Timur Tengah yang hanya mengoperasikan dua jenis armada saja – Airbus A380 dan Boeing 777. Sebagai maskapai kelas 1, Emirates tidak hanya menjamin keselamatan penumpang, pun dengan kenyamanannya dan pelayanan yang diberikan oleh awak kabinnya. Di balik anggunnya awak kabin Emirates ini, tahukah Anda bahwa beberapa dari mereka tergabung di dalam sebuah klub olahraga rugby? Mungkin sebagian dari Anda akan langsung mengernyitkan dahi, namun memang seperti itulah faktanya!

Baca Juga: Ternyata, Emirates Hanya Menggunakan Dua Jenis Pesawat!

Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, sebanyak 15 pramugari Emirates terpilih yang tergabung didalam klub berlabel EK Firebirds ini siap memperebutkan titel juara dalam perhelatan Emirates Airline Dubai Rugby Sevens yang diadakan pada awal Desember mendatang. Untuk diketahui, tim EK Firebirds ini telah menghabiskan waktu selama enam bulan ke belakang untuk berlatih dan mempersiapkan mental mereka.

Adapun ke-15 awak kabin Emirates tersebut berasal dari berbagai negara yang berbeda – mulai dari Inggris, Afrika Selatan, Selandia Baru, Filipina, Republik Ceko, hingga Namibia. Entah bagaimana caranya, para awak kabin ini me-manage waktu terbang mereka dengan jadwal latihan yang digelar di Stadion Sevens di Zabeel Park, Dubai.

Jika dilihat dari sejarahnya, tim EK Firebirds sendiri terbentuk pada tahun 2012 silam dan hanya beranggotakan empat orang awak kabin saja. Namun seiring berjalannya waktu, tim EK Firebirds berkembang menjadi sebuah tim rugby utuh dan mulai unjuk di sejumlah kompetisi. Menjelang perhelatan Emirates Airline Dubai Rugby Sevens tersebut, tim EK Firebirds bertemu dengan tim Rugby wanita asal Amerika, Eagles dalam sesi latihan pada Selasa (27/11/2018).

Baca Juga: Intip Mewahnya Airbus A380 Emirates yang Digunakan Klub Bola Real Madrid

Diketahui, ajang Emirates Airline Dubai Rugby Sevens ini merupakan yang ke-49 kali digelar. Digadang-gadang, ajang yang dimulai pada Jumat (30/11/2018) ini bakaljadi yang paling besar dan meriah ketimbang ajang-ajang yang sama sebelumnya. Rencananya, tim yang berisikan awak kabin Emirates ini akan mengusung slogan “Come Fly with Me” sebagai ajang kampanye untuk menarik pasar – khususnya anak muda.

 

Ekinaka, Booth Working Space untuk Pekerja Mobile di Stasiun Kereta Jepang

Ruang kerja atau working space di pra sarana transportasi rasanya sudah jamak, namun yang jadi tantangan bukan soal kualitas koneksi internet, melainkan kenyamanan yang acap kali dipertanyakan, khususnya suara bising imbas aktivitas yang tinggi di lokasi tempat bertemunya banyak orang seperti di bandara dan stasiun kereta.

Baca juga: Merasakan Nostalgia Satu Abad Lalu di Stasiun Mojiko Jepang

Berangkat dari kondisi di atas, beberapa stasiun di Jepang menggelar fasilitas booth working space yang cukup unik. Booth khusus ini diberi label Ekinaka, dan dapat ditemui di area komersial stasiun. Booth Ekinaka berbentuk seperti bilik telepon, persisnya baru dipasang pada Rabu lalu (28/11) di Stasiun JR Shinagawa yang dioperasikan perusahaan kereta East Japan Railway Co. (JR East) dalam status uji coba.

Di dalam setiap booth tersebut sudah dilengkapi meja kerja, sofa, stop kontak, koneksi WiFi, dan karena sedang cuaca dingin, di dalam booth dilengkapi dengan pemanas ruangan. Dan yang paling penting, booth ini dirancang kedap suara, jadi pengguna mobile office dapat menikmati suasa tenang meski di tengah hiruk pikuk stasiun.

Ekinaka dapat dipesan lewat web, dan untuk tahap uji coba, waktu yang disediakan untuk menggunakan working space ini adalah 30 menit. Seperti diketahui, daerah di sekitar Stasiun JR Shinagawa termasuk distrik yang padat. Kebanyakan di area tersebut, orang-orang bekerja di luar ruangan, termasuk duduk di bangku kafe.

Dikutip KabarPenumpang.com dari the-japan-news.com (30/11), Yuto Katsubayashi, 23 tahun, karyawan perusahaan konsultan menyebutkan, bahwa dirinya merasa nyaman menggunakan Ekinaka. “Saya dapat bekerja fokus tanpa harus menarik perhatian, dan ini sangat efektif sembari menunggu jadwak keberangkatan kereta,” ujar Yuto.

JR East kini telah mendirikan empat booth masing-masing di stasiun Tokyo dan Shinjuku. Pengguna dapat mengguakan fasilitas ini bebas biaya selama periode percobaan. Sampai saat ini, sekitar 3.000 orang telah mendaftar untuk menjajal Ekinaka.

Juru bicara JR East mengatakan, “Tidak perlu kembali ke kantor jika ingin menggunakan booth kerja ini setelah kembali dari perjalanan bisnis. Kami ingin mendukung cara kerja yang lebih fleksibel.” Kedepannya, JR East akan memperkenalkan booth serupa tapi dalam format kerja kelompok (grup).

Baca juga: Stasiun Tokyo, Merangkap Jadi Museum dan Saksi Bisu Pembunuhan Dua PM Jepang

Juga masih dalam masa uji coba, Tokyo Metro Co. telah mulai memasang booth sejenis pada bulan Juni di stasiun Tameike-Sanno, Kasai dan Kita-Senju – tempat-tempat yang diketahui memiliki banyak pekerja kantoran.

Direktorat Penerbangan India, Longgarkan Standar BMI untuk Awak Kabin Wanita

Sebagai seorang awak kabin baik wanita atau pria memiliki kriteria khusus, selain pintar, mempesona dan tubuh yang proporsional. Biasanya untuk mengukur proporsional tubuh seseorang menggunakan, Body Mass Index (BMI) atau Indeks Massa Tubuh, sehingga bisa diketahui apakah orang itu memiliki proposional tubuh yang pas, kurang atau obesitas alias kelebihan berat badan.

Baca juga: Mau Jadi Awak Kabin? Standar Tinggi Badan Masih Jadi Syarat Utama!

KabarPenumpang.com melansir dari laman economictimes.indiatimes.com (29/11/2018), regulator penerbangan Directorate General of Civil Aviation (DGCA) India berencana untuk melonggarkan norma-norma kebugaran tubuh yang ketat untuk awak kabin wanita. Hal ini untuk memastikan peraturan yang sama terhadap seragam yang akan digunakan nantinya.

Seorang pejabat DGCA mengatakan, regulator ingin tidak ada persyaratan yang berbeda antara awak kabin pria maupun wanita. Sebab selama ini dia mengatakan, untuk awak kabin wanita persyaratan BMI lebih ketat dibandingkan pria.

Hal ini juga dilakukan DGCA untuk memastikan paritas gender atau kesetaraan gender dan perubahan telah disusun serta diusulkan untuk Persyaratan Penerbangan Sipil atau Civil Aviation Requirement (CAR) yang terkait dengan kebugaran medis awak kabin. Menurut peraturan yang dikeluarkan DGCA pada tahun 2014 lalu, BMI normal untuk awak kabin pria adalah 18-25 sedangkan untuk wanita 18-22.

Ini terlihat sangat jauh dan untuk BMI 25-29,9 untuk awak kabin pria kelebihan berat badan dan 30 ke atas adalah obesitas. Sedangkan untuk wanita BMI 22-27 kelebihan berat badan dan 27 ke atas adalah obesitas sesuai aturannya.

Baca juga: Tipping Layakkah Diberikan Pada Awak Kabin?

BMI dianggap metode yang lebih baik untuk menentukan apakah seseorang kelebihan berat badan atau obesitas. Sesuai regulator, BMI adalah indikator yang andal dari pengukuran lemak tubuh dengan cara berat badan dibagi (tinggi (meter)x 2) dan hasilnya adalah BMI.

Meski begitu, BMI tidak mengukur lemak tubuh secara langsung, tetapi menghubungkannya dengan pengukuran langsung lemak tubuh. Di masa lalu, ada beberapa perusahaan penerbangan tertentu yang memutuskan untuk merumahkan beberapa awak kabin mereka karena kegemukan atau kelebihan berat badan.

Korean Air, Setiap Hari Layani Penerbangan Langsung Cengkareng-Incheon

Terkenal sebagai negara dengan industri K-Popnya, Korea memiliki daya tarik tersendiri baik bagi para pecinta artis oplasan atau hanya sekedar traveler biasa saja. Tidak hanya sekedar industri K-Pop atau destinasi wisatanya saja yang menarik untuk dibahas, pun dengan flag carrier negara berjuluk Negeri Ginseng ini. Ya, Korean Air!

Baca Juga: Ternyata, Boeing dan United Airlines Dulu Adalah Satu Perusahaan, Lho!

Maskapai yang didirikan pada tahun 1962 ini menyandang predikat sebagai maskapai terbesar di Korea Selatan berdasarkan pada jumlah armadanya. Pada mulanya, maskapai ini merupakan kepemilikan Pemerintah dan masih menggunakan nama Korean National Airlines pada tahun 1948. Namun pada tahun 1962, perusahaan Hanjin Group mengambil alih kuasa dan mengganti namanya menjadi Korean Air.

Hanya membutuhkan waktu sekira 3 tahun bagi Korean Air untuk langsung melakukan penerbangan internasionalnya. Tepat pada tanggal 26 April 1971, Korean Air melakukan penerbangan kargo perdananya. Setahun berselang, tepatnya pada 19 April 1972, Korean Air melakukan penerbangan internasional penumpang perdananya dari Seoul menuju Los Angeles.

Maskapai yang mengusung jargon “Excellence in Flight” ini juga pernah menyabet predikat sebagai Asia’s Best Airlines versi Business Traveler pada tahun 2012 silam, mengalahkan nama-nama maskapai besar lain yang tersebar di seluruh daratan Asia.

Dikutip KabarPenumpang.com dari laman bms.co.in, Korean Air merupakan salah satu pendiri dari aliansi penerbangan Sky Team, dimana di dalamnya tergabung sejumlah maskapai ternama, seperti Garuda Indonesia, Delta Airlines, China Eastern Airlines, China Southern Airlines, hingga Saudia.

Hingga saat ini, Korean Air melayani penerbangan menuju 129 destinasi yang tersebar di seluruh dunia – salah satunya adalah Jakarta. Ya, Bandara Internasioal Soekarno Hatta menjadi penghubung antara Indonesia dengan Bandara Internasional Incheon di Korea Selatan. Korean Air melakukan penerbangan terjadwal setiap hari dari Bandara Internasional Soekarno Hatta menuju Bandara Internasional Incheon. Waktu tempuh penerbangan langsung Cengkareng-Incheon adalah 7 jam.

Baca Juga: Serba-Serbi Soal Virgin Atlantic, Merek Dagang Milik Sir Richard Branson yang Mendunia!

Layaknya Garuda Indonesia dengan Citilink, Korean Air pun punya maskapai Low Cost Carrier tersendiri yang bernama Jin Air. Sama seperti induk perusahaannya, Jin Air pun tergabung di aliansi penerbangan Sky Team.

 

Sokong Sektor Pariwisata, Cina Siap Hadirkan Kereta Peluru dengan Terowongan Bawah Laut

Kendati menghadapi sejumlah masalah, ambisi Cina untuk menyaingi Jepang dalam urusan kereta cepat sama sekali tidak mengalami perlambatan, bahkan, baru-baru ini, pihak Beijing baru saja ‘menyalakan’ proyek kereta peluru bawah laut pertama yang akan dimiliki oleh Cina. Adapun kereta peluru ini akan menghubungkan Ningbo, sebuah kota pelabuhan di sebelat Selatan Shanghai, ke Zhoushan, sebuah kepulauan di lepas pantai Timur.

Baca Juga: Kereta Peluru Fuxing Akhirnya Kembali Merajai Dunia Kereta Api Cina

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman wtvr.com (28/11/2018), sebuah terowongan bawah laut menjadi bagian dari proyek kereta peluru ini – dengan panjang kurang lebih 16,2 km. Adapun tujuan utama dari pembangunan proyek ambisius ini adalah untuk meningkatkan sektor pariwisata dan membuat zona dua jam perjalanan di antara Provinsi Zhejiang. Adapun jarak total dari jalur kereta cepat ini adalah 77 km.

Pertama kali rencana ini diutarakan dalam rencana transportasi pemerintah pada tahun 2005 silam, dan studi kelayakan rencana Kereta Api Ningbo – Zhoushan disetujui oleh Beijing pada bulan November 2018 kemarin. Dari total panjang lintasan 77 km, sepanjang 70,92 km merupakan jalur baru. Kelak ketika rampung, kereta ini mampu melesat dengan kecepatan maksimum 250 km per jam. Dengan begitu, estimasi perjalanan dari Hangzhou – Ningbo – Zhoushan hanya 80 menit saja.

Tercatat, perjalanan dengan menggunakan bus dari Hangzhou menuju Zhoushan bisa mencapai 4,5 jam dan 2,5 jam dengan menggunakan kendaraan pribadi. Direncanakan akan ada tujuh stasiun untuk rute ini, termasuk empat stasiun baru dan tiga stasiun yang dikembangkan kembali. Selain terowongan bawah laut, akan ada juga jembatan-jembatan yang menghubungkan kepulauan tersebut.

Baca Juga: Gegara Semprotan Tabir Surya, Kereta Cepat Cina Harus Berhenti Mendadak

Menurut laman sumber, proyek ini sendiri menelan dana sekira USD$3,6 miliar atau yang setara dengan Rp51,4 triliun dan dijadwalkan akan mulai pengerjaan pada awal tahun 2019 mendatang. Estimasi pengerjaan proyek ini mencapai lima tahun. Kepulauan Zhoushan sendiri masih belum banyak terjamah oleh wisatawan asing, maka tidak heran jika Pemerintah Cina dan seluruh pemangku kepentingan terkait ingin lebih mengembangkan kepulauan yang baru saja mendapatkan predikat sebagai National Scenic Asia di Cina.

 

Edi Sukmoro: PT KAI Tetapkan Masa Angkutan Natal dan Tahun Baru 18 Hari

PT Kereta Api Indonesia (KAI) tengah bersiap untuk menyambut masa angkutan Natal dan Tahub Baru (Nataru) 2018/2019. Tahun ini masa angkutan Nataru ditetapkan selama 18 hari yang dimulai pada 20 Desember 2018 hingga 6 Januari 2019 mendatang.

Baca juga: Habiskan Cuti, PT KAI Hadirkan ’13 Lucky Days’

Direktur PT KAI Edi Kusmoro mengatakan, pada masa angkutan Nataru saat ini, pihaknya sudah menyiapkan total 394 perjalanan dibandingkan tahun lalu 375. Jumlah tersebut meningkat lima persen dibandingkan perjalanan kereta api tahun lalu.

“Per hari ini, kursi yang terjual 38 persen dan masih sisa 62 persen. Jumlah ini sendiri akan berubah setiap harinya,” ujar Edi saat ditemui di JRC, Senin (3/12/2018).

Edi mengatakan, jumlah tersebut adalah total dari kereta reguler maupun kereta tambahan di Pulau Jawa. Sedangkan untuk pulau Sumatera tidak ada penambahan. Edi mengatakan, jalur kereta api Sumatera ditambah atau tidak sama saja.

“Kereta tambahan hanya di Pulau Jawa, Sumatera tidak ada penambahan karena saat tidak masa seperti ini pun penumpangnya tidak seperti Pulau Jawa,” ujar Edi kepada KabarPenumpang.com.

Pada masa Nataru, pihaknya juga melakukan inspeksi jalur sebelum beroperasi untuk mengetahui titik-titik rawan dan perlintasan sebidang.

“Untuk pulau Jawa sendiri ada 269 titik dari Daop 1 hingga Daop 9. Sedangkan untuk Divre I hingga IV ada 41 titik, sehingga bila di total ada 310 titik rawan,” tambah Edi.

Dia mengatakan volume penumpang selama 18 hari masa Nataru diprediksi meningkat empat persen atau 5.317.358 penumpang dibanding tahun lalu sebanyak 5.112.884. Adapaun ini merupakan totalan dari kereta jarak jauh dan lokal yang ada di setiap kota.

Pada punak masa angkutan Nataru, tidak ada tambahan untuk kereta sleeper dan prioritas. Harga tiketnya pun ada yang mengikuti tarif batas atas dan untuk tarif subsidi sendiri merupakan tiket yang paling banyak dicari penumpang.

Baca juga: Punya KAI Access? Ini Cara Mudah Tukar Jadwal Keberangkatan Kereta

“Untuk kereta yang digunakan, semua kereta. Kereta baru yang sudah ada juga dioperasikan,” tambah Edi.

Tak hanya itu, Direktur PT KCI, Wiwik Widayanti menambahkan, untuk masa Nataru, pihakya menyiapkan 938 loop perjalanan. Pada akhir tahun untuk merayakan pergantian tahun, pihak KCI menambah perjalan kereta.

“Kita tambah 20-24 perjalanan dari jam 23.00 hingga 02.00 dini hari,” ujar Wiwik.

Per 2 Desember, Garuda Indonesia Layani Penerbangan Bandung-Singapura 4x Seminggu

Mulai hari Minggu, 2 Desember 2018, Garuda Indonesia resmi melayani rute penerbangan Singapura-Bandung-Singapura dengan frekuensi penerbangan sebanyak 4 kali seminggu (Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu). Rute penerbangan tersebut dilayani dengan menggunakan armada Boeing 737-800NG dengan kapasitas 150 kursi economy class dan 12 kursi business class.

Baca juga: Jadi Kebanggaan Kota Bandung, AP II Resmi Operasikan Terminal Baru Bandara Husein Sastranegara

Direktur Niaga Garuda Indonesia Pikri Ilham Kurniansyah mengungkapkan bahwa, “Dibukanya layanan penerbangan Bandung-Singapura pp tersebut merupakan bagian dari komitmen Garuda Indonesia dalam mendukung pengembangan perekonomian kota Bandung, khususnya dalam menggerakkan sektor pariwisata, perdagangan dan investasi”.

Dengan dibukanya penerbangan baru ini, Garuda Indonesia sudah melayani empat rute penerbangan dari dan ke Bandung, yakni Bandung-Surabaya pp, Bandung-Denpasar pp, Bandung-Bandar Lampung-Palembang pp, dan Bandung-Surabaya pp.

Baca juga: Pesawat Secanggih Boeing 737 Max 8, Mungkinkah Mengalami Stall?

Rute penerbangan Bandung – Singapura akan diberangkatan dari Bandara Internasional Husein Sastranegara setiap hari Senin, Rabu Jumat dan Minggu melalui penerbangan GA 844 pada pukul 12.50 Local Time dan akan tiba di Singapura pada pukul 15.55 Local Time. Adapun penerbangan Singapura – Bandung akan berangkat dari Bandara Internasional Changi Singapura melalui penerbangan GA 845 pada pukul 11.00 dan akan tiba di Bandung pada pukul 12.00 Local Time.

Perluas Jangkauan, LRT dan Trans Musi Terapkan Tiket Terusan

Light Rail Transit (LRT) Palembang yang sudah beroperasi sejak Asian Games 2018 kemarin, dalam waktu dekat akan menerapkan tiket terusan. Tiket terusan ini bersama dengan Bus Rapid Transit (BRT) sehingga penumpang yang naik Trans Musi kemudian menyambung LRT atau sebaliknya hanya akan membayar sekali tiket saja.

Baca juga: Tambah Trainset, Kemenhub: Dua Pekan Evaluasi LRT Palembang

Dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Direktur Operasional PT SP2J Anthoni Rais mengatakan, pihaknya tengah melakukan rapat untuk pembahasan kapan akan mulai menerapkan tiket terusan Trans Musi dan LRT Palembang. Dia menyebutkan tiket terusan tersebut nantinya untuk mendukung kedua moda transportasi  sebagai feeder dan mendukung satu dengan yang lainnya.

Tiket terusan ini akan dibedakan antara pelajar dan umum dimana para pelajar yang menggunakan Trans Musi dan menuju stasiun LRT terdekat akan dkenakan biaya Rp5 ribu dan saat naik LRT tidak akan membayar lagi. Sedangkan untuk masyarakat umum tiket terusan adalah Rp7 ribu rupiah.

Bagi mahasiswa yang menuju ke Indralaya akan dikenakan tarif Rp12 ribu. Anthoni mangatakan, dengan diterapkannya tiket terusan, maka, penumpang di seluruh kawasan Palembang bisa terlayani.

“Saya misalkan ada penumpang dari Plaju mau ke Indralaya maka terlebih dulu menaiki trans musi menuju stasiun Polresta kemudian dari sana akan diantar menggunakan LRT menuju OPI kemudian dari OPI baru diantar ke Indralaya,” ujarnya.

Antoni menambahkan, dalam mendukung kebijakan itu, pihaknya sudah mendapatkan bantuan sebanyak 15 bus Trans Musi dari Kementerian Perhubungan dengan kapasitas 22 penumpang. Bus tersebut akan ditempatkan di rute baru yakni dari Kenten Laut menuju Asrama Haji kemudian disambung dengan menaiki LRT.

“Mobilnya sudah kami terima, kami masih urus surat menyurat untuk mulai beroperasi, ” kata dia.

Baca juga: Berbalut Kostum Power Ranger, Baim Wong Kejutkan Penumpang LRT Palembang

Menurut dia, saat ini ada 107 unit trans musi yang beroparasi di dalam kota Palembang. Jumlah armada ini bisa melayani penumpang yang transit menggunakan LRT.

“Tahun depan kita ajukan bantuan lagi ke pusat, mudah mudahan kembali bisa dibantu, ” kata dia.

Sedangkan untuk masalah pembagian hasilnya, Anthoni menjelaskan, “Nanti penghasilan penjualan tiket akan kami bagi antara bus trans musi dan LRT.”