Mengapa Kursi Pesawat Tidak Memiliki Dua Sandaran Tangan di antara Kursinya?

Soal sandaran tangan yang hanya ada satu di antara kursi pesawat kerap menjadi bahan diskusi. Terlebih pada penerbangan perorangan di kelas ekonomi yang antar penumpang tidak saling kenal, tentang sandaran kursi kerap menjadi ‘rebutan,’ tentang siapa di antara mereka yang paling berhak menggunakan sandaran tangan tersebut.

Baca juga: Sah, Dua Sandaran Tangan ‘Milik’ Penumpang yang Duduk di Kursi Tengah

Sebuah studi yang pernah kami bahas di artikel terdahulu pernah mengungkapkan, bahwa penumpang yang duduk di kursi tengah, adalah menjadi yang lebih berhak menggunakan sandaran tangan tersebut. Lantas, menjadi pertanyaan, mengapa pesawat hanya memiliki satu sandaran tangan di antara kursi, kenapa tidak ada dibuat dua saja?

Kebanyakan pesawat komersial memang tidak memiliki dua sandaran tangan di antara kursi penumpangnya karena pertimbangan desain, keselamatan, dan kenyamanan. Berikut beberapa alasan detailnya:

1. Ruangan yang Terbatas
Ruang di dalam pesawat sangat berharga, dan desain kabin pesawat didasarkan pada maksimisasi jumlah kursi yang dapat diakomodasi untuk memaksimalkan pendapatan per penerbangan. Memasang dua sandaran tangan di antara setiap kursi akan mengurangi lebar kursi, yang akan mengurangi jumlah kursi yang dapat dimuat dalam kabin.

2. Kenyamanan Penumpang
Meskipun dua sandaran tangan mungkin meningkatkan kenyamanan dalam beberapa situasi, seperti dalam pertimbangan penumpang dengan mobilitas terbatas, hal itu juga dapat mengurangi ruang gerak dan kenyamanan bagi penumpang lain. Kabin pesawat sudah cukup padat, dan setiap tambahan penghalang dapat membuat ruang terasa lebih sempit.

3. Akses Ke Aisle
Dalam keadaan darurat atau ketika penumpang ingin bergerak keluar dari kursinya, memiliki satu sandaran tangan di antara kursi memberikan akses yang lebih mudah ke lorong pesawat. Dengan dua sandaran tangan, penumpang mungkin harus lebih berjuang untuk keluar dari tempat duduk mereka.

4. Evakuasi Darurat
Dalam situasi darurat, seperti evakuasi cepat pesawat, penting untuk memiliki akses yang cepat dan tidak terhalang ke pintu darurat atau lorong. Dengan hanya satu sandaran tangan di antara kursi, evakuasi dapat dilakukan dengan lebih lancar dan cepat.

5. Biaya dan Perawatan
Memasang dua sandaran tangan di antara setiap kursi akan meningkatkan biaya pembuatan, pemasangan, dan perawatan pesawat. Perusahaan penerbangan cenderung berusaha untuk mengoptimalkan biaya operasional mereka.

Baca juga: Jangan Lupa, Ada Aturannya Saat Turunkan Sandaran Kursi Pesawat

Dalam beberapa pesawat kelas bisnis atau kelas satu, mungkin ada desain yang lebih luas dan lebih mewah yang memungkinkan untuk dua sandaran tangan atau lebih. Namun, ini biasanya merupakan pengecualian daripada aturan umum.

Finalisasi GAPEKA, KAI Informasikan Pembaruan Pemesanan Tiket KA di Awal Februari 2025

KAI menginformasikan terkait belum dapat dilayaninya pemesanan tiket kereta api untuk perjalanan Februari 2025. Hal ini terjadi karena KAI bersama Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kemenhub tengah melakukan finalisasi Grafik Perjalanan Kereta Api (GAPEKA) 2025.

Vice President Public Relations KAI Anne Purba menyampaikan bahwa dalam proses finalisasi GAPEKA 2025 terdapat beberapa penyesuaian perjalanan dan jadwal kereta api yang memerlukan perhatian khusus.

“Kami memahami bahwa pelanggan membutuhkan kepastian jadwal perjalanan, finalisasi GAPEKA ini bertujuan untuk  meningkatkan pelayanan operasional sesuai kebutuhan masyarakat kedepannya,” ujar Anne Purba.

Saat ini, proses penyesuaian jadwal perjalanan untuk Februari 2025 masih berlangsung. Pemesanan tiket kereta api untuk perjalanan bulan Februari kemungkinan akan mulai dilayani minggu pertama Januari atau H-30 sebelum keberangkatan.  Hal ini disebabkan oleh rencana pemberlakuan GAPEKA baru yang akan efektif mulai 1 Februari 2025. Perlu dicatat, tidak semua jadwal perjalanan kereta api akan langsung tersedia pada hari pertama pembukaan pemesanan tiket.

Sebagai catatan, GAPEKA singkatan dari Grafik Perjalanan Kereta Api ialah pedoman pengaturan pelaksanaan perjalanan kereta api yang digunakan untuk mewakili pergerakan kereta api beserta waktu terhadap posisi masing-masing alat transportasi.

Disusun Pertama Kali Tahun 1840-an di Perancis, Inilah Gapeka 2021 dari PT KAI

Hari ini 67 Tahun Lalu, Boeing 707 Pelopor Desain Legendaris Terbang Perdana

Hari ini, 67 tahun lalu yang bertepatan dengan 20 Desember 1957, menjadi momen besar dalam jejak langkah penerbangan global. Dimana saat itu, telah terbang perdana Boeing 707 yang kala itu dalam status akan diserahkan ke maskapai Pan American World Airways (Pan Am). Penerbangan komersial perdana Pan Am dengan Boeing 707 berlangsung satu tahun kemudian, yakni pada 26 Oktober 1958.

Baca juga: Ternyata Air India Jadi Maskapai Asia Pertama yang Operasikan Pesawat Jet Boeing 707

Dalam dunia dirgantara, debut Boeing 707 bisa dibilang tak akan pudar, meski saat ini nyaris tidak ada lagi Boeing 707 yang terbang atau serviceable, namun rancangan dasar yanh diwariskan Boein 707 masin akan awet untuk beberapa waktu mendatang. Dari sejarahnya, prototipe Boeing 707 disebut sebagai Boeing 367-80 dan telah diterbangkan oleh Boeing Commercial Airplanes pada tahun 1954.

Bersama dengan Douglas DC-8 yang juga bermesin empat, Boeing 707 di dekade 60/70-an menjadi jawara pesawat narrrow body untuk rute jarak jauh. Dari spesifikasi, Boeing 707 yang diawaki 3 orang (pilot, kopilot dan navigator). Boeing 707 punya panjang badan 46,61 meter, panjang rentang sayap 44,42 meter dan tinggi 12,93 meter yang digerakkan oleh 4 mesin EA Pratt & Whitney JT 3D-7 yang mampu melakukan terbang non-stop selama 12,5 jam dengan kecepatan maksimum 890 km per jam.

Hingga 1979, produksi Boeing 707 telah menembus angka 1.010 unit. Meski pamornya sebagai pesawat komersial sudah surut, tapi cita rasa pesawat ini terus lestari hingga kini, tercatat platform Boeing 707 hadir pada versi VIP C-137 Stratoliner untuk USAF, versi VC-137 untuk kepresidenan AS Air Force One. Bahkan juga di wujudkan dalam varian tanker KC-135 Stratotanker dan E-3 Sentry AWACS.

Boeing juga pernah merilis varian jarak dekat dari Boeing 707, yang dikenal dengan label Boeing 720 (717). Boeing 720 awalnya tak begitu diharapkan ketika permintaan akan pesawat dengan kemampuan mendarat di bandara yang lebih kecil mengalir deras dari maskapai seluruh dunia, tak lama pasca Boeing 707 terbang perdana pada 20 Desember 1957. Sebab, di tahun yang sama dengan penerbangan perdana Boeing 720, proses pengembangan Boeing 727 -yang pada akhirnya menggantikan 720- sedang dilakukan.

Baca juga: Hari Ini, 62 Tahun Lalu, Boeing 720 (717) Sang Petarung Jarak Pendek Empat Mesin Terbang Perdana 

Sebagaimana permintaan pasar, Boeing 720 didesain khusus untuk rute jarak pendek hingga menengah dan memiliki kemampuan beroperasi di landasan pacu yang lebih pendek

Jembatan Tumangang – Jembatan Kereta Penghubung Antara Rusia dan Korea Utara

Dikenal sebagai negara yang paling tertutup di dunia, serba-serbi tentang Korea Utara menjadi menarik untuk dicermati. Meski akses penerbangan komersial yang sangat terbatas, akses keluar dan masuk Korea Utara masih ditopang oleh jalur kereta api, yang ironisnya juga terbatas ke dua negara, yakni Rusia dan Cina.

Bila jalur kereta antara Korea Utara dan Cina terhubung lewat sebuah jembatan, yang disebut Jembatan Persabatan Sino-Korea, atau dikenal sebagai Jembatan Sungai Yalu, maka jalur kereta antara Korea Utara dan Rusia, juga terhubung lewat sebuah jembatan persahatan, yang disebut Jembatan Tumangang.

Setelah Empat Tahun Terhenti, Jalur Kereta Rusia dan Korea Utara Dibuka Kembali

Jembatan Persahabatan Korea–Rusia ini disebut Chosŏn–Rossiya Ujŏngŭi Dali, adalah jembatan kereta yang berdiri di atas Sungai Tumen. Jembatan ini diresmikan pada 9 Agustus 1959, yang saat itu sebagai pengganti jembatan kayu sementara.

Terletak tepat di hilir dari tripoint Cina–Korea Utara–Rusia, jembatan ini adalah satu-satunya titik penyeberangan di perbatasan Korea Utara–Rusia sepanjang 17 km. Jalur khusus diletakkan di antara rel yang memungkinkan penyeberangan kendaraan jalan raya dengan pengaturan tertentu, tetapi utamanya ini merupakan jembatan rel.

Jembatan Tumangang panjangnya mencapai 623 meter, terdapat dua rel ganda dengan ukuran lebar rel Rusia, yakni 1.520 mm. Sementara lebar jaringan rel di Korea Utara 1.435 mm. Jembatan ini dilayani oleh stasiun kereta api Khasan di wilayah Rusia dan Stasiun Tumangang di sisi sungai Korea Utara.

Baca juga: Jembatan Sungai Yalu – Jembatan Kereta Penghubung Cina dan Korea Utara

Pada bulan Oktober 2017, kabel serat optik yang melintasi jembatan memberi Korea Utara koneksi tambahan ke Internet global melalui penyedia TransTelekom Rusia, anak perusahaan dari operator kereta api nasional Rusia, Russian Railways.

Setelah Empat Tahun Terhenti, Jalur Kereta Rusia dan Korea Utara Dibuka Kembali

Rusia dan Korea Utara telah memulihkan layanan kereta api penumpang reguler antara kedua negara, menandai berakhirnya penangguhan selama empat tahun yang dimulai dengan dimulainya pandemi Covis-19 pada tahun 2020.

Kantor berita milik pemerintah Rusia, RIA Novosti melaporkan perkembangan tersebut, mengutip seorang pejabat bea cukai regional. Kereta pertama berangkat pada tanggal 16 Desember dari Khasan, sebuah kota di wilayah Primorsky Timur Jauh Rusia, dan menyeberang ke Tumangang, Korea Utara.

Jembatan Tumangang – Jembatan Kereta Penghubung Antara Rusia dan Korea Utara

Perjalanan yang hanya berlangsung selama 17 menit ini menghubungkan kedua kota yang dipisahkan oleh Sungai Tumen melalui Jembatan Persahabatan Korea-Rusia.

Kereta akan beroperasi tiga hari seminggu—pada hari Senin, Rabu, dan Jumat—sebagai bagian dari upaya berkelanjutan untuk meningkatkan konektivitas antara kedua negara tetangga.

Menurut perwakilan dari Far Eastern Railway Rusia, dua warga negara Rusia berada di dalam kereta pertama, yang berangkat dari stasiun Khasan pada pukul 8:30 pagi waktu Moskow.

Layanan ini sebelumnya telah beroperasi sebagai uji coba awal tahun ini, di mana 1.200 orang melakukan perjalanan antara kedua negara.

Kedua negara melihat koneksi yang dipulihkan sebagai peluang untuk meningkatkan pariwisata. Konsulat Rusia di Chongjin melaporkan pada bulan Oktober bahwa lebih dari 1.000 wisatawan Rusia telah mengunjungi Korea Utara pada tahun 2024, yang mencerminkan meningkatnya minat dalam perjalanan lintas batas.

Dalam perkembangan terkait, layanan kereta api penumpang antara Rusia dan Cina juga dilanjutkan pada tanggal 15 Desember setelah jeda selama empat tahun. Rute harian ini menghubungkan Suifenhe di Tiongkok dengan Grodekovo di Rusia, dengan kereta berangkat dari Suifenhe pada pukul 9:52 pagi dan Grodekovo pada pukul 3:43 sore, menurut operator kereta api Cina.

Media pemerintah Cina menyoroti potensi hubungan ini untuk meningkatkan perdagangan dan pariwisata regional. Hampir 1 juta wisatawan Rusia mengunjungi Cina pada tahun 2023, sementara lebih dari 477.000 wisatawan Cina pergi ke Rusia.

Perkuat Kapasitas Peak Season Nataru 2024/2025, Garuda Indonesia Tambah Unit Boeing 737-800NG dari Yordania

Garuda Indonesia terus memperkuat kapasitas produksi dan revitalisasi armada pesawatnya dengan mendatangkan kembali 1 (satu) armada tambahan Boeing 737-800NG dari Yordania. Pesawat tersebut merupakan armada pertama dari 4 (empat) armada tambahan yang rencananya didatangkan Garuda Indonesia hingga awal tahun 2025.

Pesawat dengan kode registrasi PK-GUF tersebut tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada tanggal 30 November 2024 lalu, dan selanjutnya menjalani prosedur persiapan armada guna mendukung operasional penerbangan pada periode peak season libur akhir tahun ini.

Pada kesempatan tinjauan operasional kesiapan operasional Garuda Indonesia Group pada periode peak season Natal & Tahun Baru 2024/2025 yang dilaksanakan pada 18 Desember 2024 di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta hari ini, Direktur Utama Garuda Indonesia, Wamildan Tsani Panjaitan beserta Komisaris Utama Garuda Indonesia Fadjar Prasetyo beserta jajaran direksi Garuda Indonesia Group, turut melakukan pengecekan kesiapan operasional armada tambahan tersebut yang mulai beroperasi pada Rabu (18/12).

737-800NG, Didapuk Jadi Varian Paling Laris di Keluarga Boeing 737

Tambahan armada tersebut secara resmi beroperasi dengan desain livery khusus ‘Aku Cinta Indonesia’ pada penerbangan GA-512 rute Jakarta-Pontianak yang diterbangkan dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta pukul 11.20 WIB dan tiba di Bandara Supadio pukul 13.00 WIB.

Direktur Utama Garuda Indonesia Wamildan Tsani Panjaitan mengungkapkan, beroperasinya armada PK-GUF merupakan bagian dari implementasi rencana penambahan armada yang terus dioptimalkan di tengah upaya peningkatan kapasitas produksi Garuda Indonesia. “Penambahan armada ini juga merupakan upaya kami sebagai national flag carrier untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan aksesibilitas udara yang aman dan nyaman yang semakin meningkat, khususnya pada periode libur Natal dan Tahun Baru 2024/2025,” tambah Wamildan.

Dengan pengoperasian armada tambahan ini dan 1 (satu) armada B737-800NG lainnya yang akan tiba di Jakarta pada akhir Desember 2024 mendatang, Garuda Indonesia hingga akhir tahun ini akan mengoperasikan sekitar 73 armada, yang terdiri dari 43 armada narrow body Boeing 737-800NG, 22 armada wide body Airbus A330 Series, dan 8 armada wide body Boeing 777-300ER.

“Kami berharap inisiatif yang kami laksanakan melalui program penguatan kapasitas produksi dapat menjadi katalisator pengembangan jaringan penerbangan yang terus kami laksanakan secara berkelanjutan dalam merespon pertumbuhan perjalanan udara yang semakin meningkat dan diprediksi akan terus bertumbuh,” ungkap Wamildan.

Garuda Indonesia Group terus memperkuat kesiapan operasional penerbangan jelang periode peak season Natal dan Tahun Baru 2024/2025, khususnya dalam memastikan kesiapan armada serta berbagai fasilitas penunjang penerbangan. Pada periode peak season kali ini, Garuda Indonesia Group menyiapkan sedikitnya 1,4 juta kursi pesawat yang terdiri dari 741.514 kursi penerbangan Garuda Indonesia dan 717.560 kursi penerbangan Citilink.

Selama periode peak season tahun ini, Garuda Indonesia Group mengoperasikan sedikitnya 8.199 frekuensi penerbangan dengan kesiapan armada sebanyak 94 unit armada, terdiri dari 58 armada dari Garuda Indonesia dan 35 armada dari Citilink.

Sementara itu, terdapat 316 extra flight yang disiapkan untuk memenuhi rute penerbangan Denpasar, Lombok, Medan (Kualanamu), Surabaya, Semarang, dan Singapura. Adapun Citilink menambah 210 penerbangan tambahan diantaranya untuk sejumlah destinasi unggulan seperti Denpasar, Medan (Kualanamu), Lombok, dan Solo.

Garuda Indonesia Kedatangan Boeing 737-800NG PK-GUA, Sebelumnya Milik Oman Air

Mengenal Sapsan – ‘Nasib’ Kereta Cepat Rusia Produksi Siemens Jerman

Sebagai negara dengan daratan terluas di dunia, sudah barang tentu Rusia punya sejarah panjang dalam layanan perkeretaapian. Namun, agak jarang terdengar tentang kereta cepat di Rusia, padahal di Rusia ada kereta berkecepatan tinggi yang disebut Sapsan.

Kereta cepat Sapsan (yang berarti falcon peregrine dalam bahasa Rusia) adalah proyek modernisasi transportasi rel di Rusia yang mulai diinisiasi pada awal 2000-an.

Sapsan adalah kereta api berkecepatan tinggi di Rusia yang menghubungkan Moskow dan St. Petersburg, dengan kecepatan hingga 250 km/jam. Perjalanan antara kedua kota ini memakan waktu kurang dari 4 jam, dengan lebih dari 10 keberangkatan setiap hari. Kereta ini mulai beroperasi pada tahun 2009 dan diproduksi oleh Siemens.

Awal pengembangannya yakni Pada 1990-an, ketika Rusia menghadapi infrastruktur kereta api yang sudah tua, khususnya jalur antara Moskow dan St. Petersburg yang merupakan jalur tersibuk di negara tersebut. Kebutuhan transportasi cepat dan modern menjadi penting, terutama untuk menghubungkan dua kota besar ini dalam waktu singkat.

Pada tahun 2006, Rusia menandatangani kontrak dengan perusahaan Siemens dari Jerman untuk pengadaan kereta api berkecepatan tinggi. Siemens menawarkan teknologi dari seri Velaro, yang juga digunakan di kereta cepat seperti ICE (Jerman) dan AVE (Spanyol).

Model yang dipesan oleh Rusia adalah Velaro RUS atau Sapsan, yang dimodifikasi untuk beroperasi di iklim ekstrem Rusia, termasuk suhu sangat dingin. Sapsan memiliki kecepatan operasi hingga 250 km/jam, dengan kapasitas angkut sekitar 550 penumpang.

Prototipe pertama diuji coba pada tahun 2008 di jalur Eropa dan Rusia. Pengujian ini mencakup evaluasi performa di kondisi iklim yang bervariasi. Pada Desember 2009, Sapsan resmi diluncurkan untuk melayani jalur Moskow-St. Petersburg. Rute ini dapat ditempuh dalam waktu kurang dari 4 jam, jauh lebih cepat dibandingkan kereta biasa yang memakan waktu 8 jam atau lebih.

Setelah sukses di jalur Moskow-St. Petersburg, Sapsan mulai melayani rute tambahan, termasuk Moskow ke Nizhny Novgorod. Layanan kereta ini tak pelak menjadi simbol modernisasi sistem transportasi Rusia.

Pasca Invasi Rusia ke Ukraina
Setelah invasi Rusia ke Ukraina, Siemens mengumumkan menghentikan operasinya di Rusia. Penghentian operasi Siemens di Rusia jelas dapat mempengaruhi dukungan teknis, pemeliharaan, dan pasokan suku cadang untuk kereta Sapsan di masa depan.

Situasi ini dapat menimbulkan tantangan bagi operasional jangka panjang Sapsan, terutama terkait dengan kebutuhan perawatan dan perbaikan yang memerlukan keahlian dan komponen dari Siemens.

Untuk mengatasi potensi masalah ini, Rusia perlu mencari alternatif, seperti mengembangkan kemampuan domestik untuk pemeliharaan atau mencari pemasok lain yang dapat menyediakan suku cadang dan layanan yang diperlukan.

Namun, hingga saat ini, belum ada informasi resmi mengenai dampak langsung penghentian operasi Siemens terhadap layanan Sapsan.

Pada tahun 2024, Rusia menandatangani kontrak untuk pengembangan kereta berkecepatan tinggi baru, yang dikenal sebagai ‘Bely Krechet’ (elang girfalcon putih), dengan kecepatan desain hingga 400 km/jam dan kecepatan operasional maksimum 360 km/jam.

Tahun 2026, Rusia Akan Punya Kereta dengan Kecepatan 400 Km Per Jam

‘Tanpa Izin’ dari Prinsipal, Iran Mampu Memproduksi Suku Cadang untuk Pesawat Airbus dan Boeing

Hujan sanksi dan embargo yang dikenakan kepada Iran, salah satunya juga berdampak pada sektor layanan penerbangan komersial. Namun, faktanya maskapai Iran kebanyakan masih dapat beroperasi, termasuk melayani rute internasional, bahkan dengan pesawat widebody produksi Boeing (Amerika Serikat) dan Airbus (Eropa Barat).

Tentu agar mampu beroperasi secara optimal, maka dukungan komponen dan suku cadang mutlak tersedia. Pasalnya dua elemen tersebut termasuk yang dikenakan embargo kepada Iran, Tapi Iran bukan bangsa yang lemah dan mudah menyerah.

Tanpa Lintasi Ruang Udara Iran, Banyak Maskapai Penerbangan Internasional Bakal Merugi

Meski tidak mendapat restu dari pihak pabrikan (prinsipal), industri dirgantara Iran yang belajar banyak dari kemampuan adaptasi pada sektor pertahanan, ternyata mampu memproduksi suku cadang untuk pesawat Boeing dan Airbus secara mandiri.

Seperti dikutip presstv.ir (17/12/2024), Hossein Pourfarzaneh, Kepala penerbangan sipil Iran mengatakan negara itu telah menguasai teknologi yang dibutuhkan untuk memproduksi suku cadang mesin jet Boeing dan Airbus. Ia mengatakan pada hari Selasa bahwa Iran telah melaksanakan rencana sembilan tahun untuk melokalisasi produksi suku cadang mesin dari kedua model pesawat tersebut.

Pourfarzaneh menambahkan, perusahaan teknik Iran Mapna telah berkontribusi pada program yang disponsori pemerintah untuk memproduksi suku cadang mesin jet. Ia mengklaim program tersebut terutama merupakan hasil dari upaya untuk mengimbangi dampak sanksi asing terhadap sektor penerbangan sipil Iran.

“Berdasarkan (program) ini dan melalui kerja sama dengan Mapna, proses rekayasa balik (reverse engineering) dan lokalisasi (pembuatan) suku cadang mesin pesawat Boeing dan Airbus mulai dioperasikan di dalam negeri,” kata pejabat itu seperti dikutip oleh kantor berita Tasnim.

“Sebagai hasilnya, Iran telah memperoleh teknologi untuk memproduksi suku cadang penting dari industri penerbangan,” tambahnya.

Iran berada di bawah rezim sanksi Amerika yang inklusif pada tahun 2018 setelah Washington secara sepihak menarik diri dari kesepakatan internasional mengenai program nuklir Iran.

Namun, para ahli mengatakan sanksi AS telah gagal mencapai tujuan utamanya untuk memaksa Iran melakukan konsesi politik dan militer. Mereka bersikeras larangan tersebut bahkan telah menciptakan peluang bagi Iran untuk mendiversifikasi ekonominya dan lebih mengandalkan sumber daya domestiknya.

Bisa Tenangkan Bayi, Honda Produksi Boneka Bersuara ‘Mobil Balap’

Anak kecil memang sangat menggemaskan. Selain kerap kali melakukan tingkah laku yang mengundang gelak tawa orang dewasa yang melihatnya, cara mereka untuk melafalkan sesuatu pun merupakan satu terkadang membuat setiap pendengarnya tersenyum geli karena lucu. Tapi kalau anak kecil sudah menangis, kita sebagai orang dewasa harus memikirkan banyak cara untuk membuatnya kembali tenang – entah itu memberikannya makanan, minuman, atau mainan.

Baca Juga: Ini Dia! Jurus Jitu Plesir Menyenangkan Bareng Keluarga

Memang, perilaku anak kecil yang satu ini memang memerlukan ketelatenan orang dewasa untuk menenangkannya. Tapi kini Anda tidak perlu khawatir lagi, karena salah satu raksasa otomotif asal Jepang, Honda baru-baru ini melakukan penelitian bahwa 11 dari 12 anak kecil yang tengah rewel akan menjadi tenang setelah mendengar ‘raungan’ dari mobil bermerek Honda. Ya, pasti beberapa dari Anda masih kebingungan dengan penelitian ini, namun boneka yang diberinama Sound’Sitter Honda ini memang terbukti menenangkan si kecil yang lagi rewel.

Sebagaimana yang dirangkum KabarPenumpang.com dari laman engadget.com (21/12/2018), Sound’Sitter Honda adalah sebuah mainan berbentuk boneka mobil yang bisa mengeluarkan suara. Mainan ini sendiri terintegrasi dengan aplikasi yang ada di gadget Anda. Sebelumnya, pihak Honda telah melakukan uji coba terhadap 37 suara mesin mobil, termasuk model Civic, Accords, dan Integra.

Namun setelah beragam uji tersebut, pihak Honda menemukan bahwa suara dari mesin Honda NSX-lah yang paling disenangi oleh para anak kecil ini. Adapun target dari uji coba orang-orang di Honda ini adalah bayi yang baru berusia enam bulan hingga 1,5 tahun. Tidak hanya 11 dari 12 anak saja yang langsung tenang ketika mendengarkan suara mesin NSX, tapi tujuh di antaranya juga menunjukkan penurunan denyut jantung.

Dalam laman resminya, pihak Honda memaparkan bahwa kenyamanan yang diinduksi melalui Sound’Sitter ini mungkin karena frekuensi rendah dari suara mesin yang sebanding dengan apa yang bayi dengar ketika mereka berada di dalam rahim.

Baca Juga: Nasehat Baik Saat Bawa Anak Jalan-Jalan dengan Pesawat

Honda sendiri lalu mengemas suara NSX tersebut ke dalam sebuah mainan berbentuk boneka. Walaupun pihak Honda tidak memiliki rencana untuk memproduksi mainan ini secara massal, namun pihak perusahaan telah membuat tiga varian mainan dengan suara yang berbeda satu sama lain dan bisa Anda secara online – NSX, Integra Type R, dan Honda S2000.