PBB Beri Peringatan Keras Ke Korea Utara atas Jamming GPS di dekat Bandara Incheon

Otoritas penerbangan PBB (UN aviation authority) telah mengirimkan peringatan kepada Korea Utara atas gangguan sinyal GPS di dekat perbatasan antar-Korea tahun ini, setelah Seoul menuduh pemerintah Korea Utara membahayakan ratusan pesawat sipil. Organisasi Penerbangan Sipil Internasional atau International Civil Aviation Organization (ICAO) minggu lalu mengeluarkan resolusi yang mengutuk gangguan (jamming) GPS oleh Korea Utara antara tanggal 29 Mei dan 2 Juni 2024.

Baca juga: Otoritas Penerbangan Sipil Perancis Tuduh Rusia Ganggu Sistem Navigasi Berbasis Satelit

Dikutip NK News yang merujuk siaran pers Kementerian Luar Negeri Korea Selatan, menyebut bahwa “Ini menandai pertama kalinya ICAO secara eksplisit mengidentifikasi Korea Utara sebagai pelaku gangguan sinyal GPS,” kata kementerian tersebut, seraya mencatat bahwa ICAO sebelumnya menangani gangguan tersebut pada tahun 2012 dan 2016, namun tidak secara eksplisit menyebutkan nama Korea Utara pada saat itu.

Berdasarkan resolusi tersebut, ICAO setuju untuk memberi tahu Pyongyang tentang keputusannya yang mendesak dilakukannya tindakan untuk mencegah terulangnya kembali kasus tersebut. Korea Utara memblokir sinyal GPS di dekat perbatasan maritim antar-Korea di Laut Kuning selama beberapa hari sejak akhir Mei.

Bandara terbesar Korea Selatan, Bandara Internasional Incheon, terletak tidak jauh dari perbatasan yang berada ddi sebuah pulau di Laut Kuning, dan siaran pers kementerian luar negeri menyatakan bahwa gangguan sinyal yang dilakukan Korea Utara mempengaruhi 500 pesawat sipil dari 20 negara.

Pensiunan pilot komersial dan konsultan penerbangan Ed Condit mengatakan kepada NK News bahwa gangguan GPS tidak hanya mempengaruhi navigasi pesawat, tetapi juga dapat menyebabkan masalah bagi pilot yang menerbangkan pesawat di sekitar Semenanjung Korea.

Jika pesawat tidak memiliki sistem navigasi alternatif, gangguan yang disebabkan oleh sinyal GPS dapat menjadi hal yang kritis ketika beroperasi di dekat wilayah udara sensitif, seperti wilayah udara yang memisahkan Korea Selatan dan Korea Utara.

Dalam kasus seperti ini, kru yang menggunakan GPS akan terpaksa “meninggalkan pendekatan mereka atau mengalihkan perhatian jika pilihan non-GPS tidak tersedia,” katanya. Namun, sebagian besar pesawat modern memiliki sistem navigasi alternatif, kata pakar tersebut, meskipun sistem tersebut “kurang tepat.”

Ketika pesawat mengalami kesulitan akibat gangguan jamming oleh Korea Utara, Condit mengatakan menara pengawas lalu lintas udara di Bandara Incheon kemungkinan akan “segera mengidentifikasi pesawat mana pun yang keluar jalur.”

Dalam kasus seperti ini, awak pesawat harus “memberi tahu pengawas lalu lintas udara mengenai masalah ini dan melaporkan bahwa mereka sedang melakukan navigasi cadangan.” Pasukan AS dan Korea Selatan mengadakan latihan operasi ruang angkasa gabungan pada bulan April di mana mereka berlatih untuk melakukan serangan sebagai respons terhadap serangan gangguan GPS Korea Utara.

Waspada Spoofing GPS di Sekitar Teheran, Jalur Favorit Penerbangan Internasional di Timur Tengah

Digital Air Traffic Solutions, Saatnya Menara ATC Dikendalikan Secara Remote

Salah satu aktivitas pengatur lalu lintas udara (Air Traffic Controller/ATC) berada di menara untuk fungsi Aerodrome Control Tower. Dari ketinggian menara, sang pengatur lalu lintas udara dapat melihat secara langsung pergerakan pesawat 360 derajat, mulai dari apron sampai landas pacu (runway).

Baca juga: Begini Cara ATC Atur Kedatangan dan Keberangkatan Pesawat di Bandara

Di tangan petugas inilah suatu pesawat bisa mendapat izin terbang “Clear for take-off” dan mendarat “Clear to land.” Dengan identifikasi visual yang tepat, petugas harus menguasai semua tipe dan ukuran pesawat.

Karena bekerja dengan basis kemampuan pengamatan visual, mendorong pengembangan fungsi Aerodome Control Tower untuk digeser menjadi bentuk pengamatan secara digital lewat remote system. Adalah Saab AB dari Swedia, manukfaktur yang kondang sebagai pemasok sistem senjata mutakhir ini merilis solusi yang diberi label Digital Air Traffic Solutions. Lewat solusi ini indra penglihatan sang pengatur lalu lintas ‘diperpanjang’ dengan perangkat kamera yang terpasang pada tower. Dengan teknologi ini, maka tidak ada lagi aktivitas petugas ATC yang mengawasi seluruh pergerakan di sekitaran bandara dari atas menara. Petugas pengatur lalu lintas pun tak harus berada dekat atau di dalam area bandara.

Alur sistem kerja remote ATC. Foto: Saab
Alur sistem kerja remote ATC. Foto: Saab

Untuk mewujudkan solusi tersebut, Saab tentu tak sendiri, manufaktur yang terkenal sebagai pembuat jet tempur Gripen ini bekerjasama dengan penyedia layanan udara Swedia (LFV) untuk memasang menara digital di bandara Örnsköldsvik di utara Swedia. Tak itu saja, Saab juga bekerjasama dengan NATS sebagai penyedia teknologi ATC di Swanwick Control Centre, Inggris untuk menjajal perangkat ATC digital ini di beberapa bandara kecil.

Digital Air Traffic Solutions menyuguhkan layar 360 derajat kepada petugas pengatur lalu lintas, prinsipnya mirip sebuah simulator. Dengan kamera bersolusi tinggi yang terpasang di bandara, petugas dipastikan akan mendapatkan kualitas visual gambar video real time. Dengan basis kamera canggih, petugas malah dapat mendeteksi keberadaan benda-benda yang mencurigakan di area lintasan pesawat, termasuk ketajaman visual pada malam hari. Bila ada obyek yang kurang jelas dilihat, petugas pun tinggal melakukan digital zooming.

Teknologi ini digadang ongkos investasi yang amat murah. Sebab, operator bandara tidak perlu lagi membangun sebuah menara pengawas khusus. Bila suatu waktu ada pengembangan area di bandara, maka penyedia layanan tinggal menambah menara pengawas di lokasi yang ditentukan. Melihat alur operasi dari Digital Air Traffic Solutions, rasanya solusi ini sangat ideal untuk diimplementasi di Indonesia.

Mengenal ACARS, Sistem Komunikasi yang Hubungkan Antara Pesawat, ATC dan Pusat Kendali Maskapai

Priiit..! Dilarang Selfie di Tempat-Tempat Berikut Ini

Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Itulah peribahasa yang tepat untuk menggambarkan situasi hukum di suatu negara. Tidak semua peraturan yang berlaku di Indonesia, juga berlaku di Malaysia atau Singapura contohnya. Jika peraturan merokok di jalan belum sepenuhnya diterapkan di Indonesia, maka berbeda dengan di kedua negara tetangga tersebut, dimana setiap orang yang merokok tidak pada tempatnya akan dikenakan denda atau sanksi tegas.

Baca juga: Miris! Selfie Berujung Maut Pada Moda Transportasi

Sama halnya dengan swafoto atau yang lebih dikenal dengan selfie. Ada beberapa negara yang tidak mengijinkan warganya untuk selfie, baik menggunakan tongkat narsis (tongsis) atau tidak, bahkan peraturan tersebut juga berlaku bagi para pelancong. Wah, kira-kira di negara mana saja ya yang mengeluarkan peraturan seperti itu? Berikut KabarPenumpang.com sarikan beberapa negara yang melarang penduduknya untuk melakukan selfie, dilansir dari laman bravotv.com.

Milan, Italia
Larangan tentang selfie ini baru saja dikeluarkan, bersamaan dengan larangan membeli minuman  kaleng, minuman dalam botol kaca, hingga mengadakan warung makan berkonsep food truck. Khusus untuk selfie, laman berita The Local menyebutkan larangan tersebut dimaksudkan untuk menindak perilaku anti-sosial yang kian mencuat di sana.

Disney Parks
Memang terdengar cukup aneh ketika taman bermain seperti Disney Park melarang pengunjungnya untuk melakukan selfie. Namun, pihak Disney sendiri memiliki pembelaannya tersendiri. “Tongkat Selfie (tongsis) telah menjadi perhatian keselamatan yang berkembang, baik untuk tamu dan petugas kami,” ungkap salah satu juru bicara Disney. Larangan ini berlaku di seluruh Disney Parks di dunia, termasuk di Paris dan Hong Kong.

Vatikan
Lain halnya dengan salah satu kota suci umat Katolik ini, dimana kota ini melarang Anda untuk selfie dengan alasan keamanan.

Colosseum dan Palace of Versailles
Tersebar rumor bahwa pemerintah setempat melarang pengunjung untuk selfie setelah mereka mendapati dua pelancong yang menuliskan nama mereka di salah satu tembok Colosseum dan mengabadikannya dengan cara selfie menggunakan tongkat. Begitu pun dengan Palace of Versailles yang melarang pengunjung untuk selfie dengan alasan keamanan. Kalau di Indonesia, menuliskan nama di dinding seperti sudah menjadi ‘tradisi’ anak muda, ya?

Museum Van Gogh, Belanda
Jika kasus di Colosseum didasari oleh keisengan pengunjung, maka yang terjadi di Museum Van Gogh merupakan kebalikannya. Dimana seorang pengunjung tidak sengaja merusak salah satu koleksi museum saat sedang selfie. Sejak saat itu, beberapa museum serempak mengeluarkan peraturan pelarangan selfie.

Lollapalooza dan Coachella, Amerika Serikat
Lollapalooza merupakan salah satu ajang musik besar yang pertama kali menelurkan peraturan tentang pelarangan penggunaan tongsis untuk selfie. Majalah musik kenamaan dunia, The Rolliing Stones menyebutkan bahwa keberadaan tongsis tidak hanya mengganggu penonton lain, tapi juga pelarangan ini merupakan bentuk usaha untuk meminimalisir penonton yang merekam konser tersebut secara ilegal.

Baca Juga: Duh! Orang-orang ini Tewas Karena Selfie di Rel Kereta

Korea Selatan
Menurut laman CN Traveller, teknologi Bluetooth yang digunakan oleh beberapa tongkat selfie merupakan celah yang dapat dimanfaatkan oleh para hacker untuk mengulik data pribadi orang yang bersangkutan.

Mekkah
Kota suci umat Muslim di dunia ini melarang para pengunjung untuk melakukan selfie, karena tujuan mereka datang ke tempat tersebut adalah murni untuk beribadah. Alih-alih mengabadikan momen dengan selfie menggunakan tongsis, ada baiknya waktu tersebut kita manfaatkan buat beribadah bukan?

Duh! Orang-orang ini Tewas Karena Selfie di Rel Kereta

Tidak hanya di luar negeri, trend selfie ternyata juga menjamur di dalam negeri. Kenarsisan masyarakat jaman sekarang benar-benar sudah tidak memandang umur, dari anak muda hingga orang tua turut ramai melakukan swafoto ini. Pilihan tempat juga menjadi salah satu faktor maraknya trend selfie di masyarakat. Sebut saja lokasi wisata, pusat perbelanjaan, hingga tempat-tempat tidak wajar lainnya turut dijadikan latar belakang swafoto mereka, seperti gedung-gedung tua yang angker hingga prasarana transportasi.

Baca juga: Tengah Ambil Foto Sesi dengan Senior, Remaja 17 Tahun Tewas Tertabrak Kereta

Dengan berbagai macam alasan, banyak orang melakukan selfie tanpa mempertimbangkan resiko yang akan mereka hadapi. Demi mendompleng popularitas mereka di media sosial, orang-orang semacam ini terbilang cukup nekat untuk melakukan selfie di tempat yang tidak wajar, seperti di rel kereta api. Dengan mengunggah hasil selfie mereka ke media sosial, pikir mereka, khalayak ramai dapat melihat hasil foto tersebut dan akan mendapat banyak pujian karena dibilang berani dan lain sebagainya. Namun, tidak semua hasil foto yang mereka ambil berujung manis, ada beberapa kasus selfie yang mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang, seolah mereka mengabadikan momen terakhir mereka di Dunia. Berikut, KabarPenumpang.com merangkum beberapa kasus selfie berujung maut dari dalam negeri, tentu saja mereka semua tidak mengindahkan peraturan transportasi yang berlaku yang mengakibatkan nyawa mereka melayang sia-sia.

Pelajar asal Madiun tersambar kereta

Sumber: tribunnews.com
Sumber: tribunnews.com

Tomi Luki Saputra, seorang pelajar asal Madiun tewas secara mengenaskan di pinggir rel kelurahan Winongo, Mangunharjo, Madiun pada Jumat (20/2/2015) silam. Ia bersama 4 rekannya sedang asyik selfie di pinggir rel tersebut, dan tanpa sepengetahuan mereka, maut sedang mengincar salah satu dari muda-mudi tersebut. Tomi yang menggunakan baju merah tidak sempat menghindar setelah Ia dan teman-temannya melakukan selfie, alhasil tubuhnya terpental dan nyawanya tidak terselamatkan sementara 4 lainnya berhasil menyelamatkan diri. Dalam foto yang diunggah ke sosial media Facebook, terlihat kereta maut tersebut sudah muncul di frame menandakan posisi kereta yang sudah sangat dekat.

Siswi SMP di Serang tersambar kereta

Sumber: Liputan6.com
Sumber: Liputan6.com

Malang benar nasib Sri Wahyuni, warga Kampung Kembang, Kecamatan Curug, Kota Serang yang masih duduk di bangku SMP ini harus meregang nyawa setelah tubuh mungilnya tersambar kereta di perlintasan Kampung Batu Belah, Desa Sukajadi, Kecamatan Kragilan, Kabupaten Serang, Rabu (8/2/2017). Bocah 13 tahun ini lalu terpental ke dalam selokan dengan kondisi yang amat mengenaskan. Warga yang berada di lokasi kejadian sempat menghimbau agar Sri segera menghindar karena ada kereta yang hendak lewat, namun siswi malang tersebut tidak menghiraukannya sehingga kejadian tragis situ tidak dapat dihindarkan.

Bocah SD tersambar kereta

Sumber: netralnews.com
Sumber: netralnews.com

3 hari sebelum kejadian Sri Wahyuni yang tewas akibat terseret kereta di Serang, bocah kelas 6 sekolah dasar di Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, Batam juga tewas akibat tersambar si ular besi. Kejadian nahas ini terjadi pada Minggu (5/2/2017) pagi, ketika 3 bocah SD tengah berselfie ria dengan latar belakang kereta yang sedang bergerak. Ketika menyadari ada kereta yang sudah mendekat, 2 anak segera menghindar dan mencoba untuk memberitahu korban untuk segera menghindar, namun seolah sudah mengetahui ajalnya sudah dekat, bocah malang tersebut tidak mendengar peringatan dari temannya lalu kejadian tragis tersebut terjadi. Kejadian tersebut terjadi sekitar pukul 07.00 WIB.

Kereta barang di Cirebon renggut nyawa 2 anak SD

Sumber: elshinta.com
Sumber: elshinta.com

Adalah Lilik (12) dan Dede (12), siswa SDN 1 Karangasem, Kecamatan Karangsembung, Cirebon menjadi korban selanjutnya dari rentetan selfie berujung maut di Indonesia. Lilik, Dede, dan 3 teman sejawatnya sedang asik bermain di sekitaran rel KM 239+3 yang menghubungkan stasiun Sindanglaut-Ciledug. Ketika mereka semua sedang mengambil beberapa momen menggunakan hp android milik salah 1 dari kelima anak tersebut, kereta barang BH 881 melintas dari arah Arjawinangun menuju Solo. 2 anak lainnya selamat, karena bermain tidak terlalu dekat dengan rel, sedangkan Lilik dan Dede ikut tersapu oleh badan kereta barang ini. Lain halnya dengan Alia, yang merupakan salah satu dari kelima anak tersebut, ia mengalami patah tulang tangan kiri karena terkena hembusan dari kereta. Lilik dan Dede tewas seketika, salah satunya terseret sejauh 1,5 km, sedangkan yang lainnya tewas dengan anggota tubuh yang sudah tidak utuh.

KA Bogowonto menabrak Siswi SMA

Sumber: radarpekalongan.com
Sumber: radarpekalongan.com

Nama Tri Wahyuni (16) dan Iqbal Ramadhan (16) turut menjadi korban dari rentetan kejadian selfie maut. Berlokasi di km 362 antara Kebasen dan Notog, peristiwa nahas tersebut terjadi. Tri dan Iqbal yang tengah selfie di sekitaran terowongan desa Gambarsari tersambar oleh kereta Bogowonto yang tengah melaju kencang di jalur tersebut. Kejadian yang terjadi pada Minggu (16/10/2016) ini langsung menghempaskan kedua korban dan petugas lalu membawanya ke Rumah Sakit Umum Margono Soekardjo. “Keduanya dalam kondisi kritis saat dibawa ke rumah sakit,” tutur Ixfan Hendriwintoko, Manajer Humas PT KAI Daop 5 Purwokerto, seperti yang dilansir dari laman kbknews.id. Namun sayang, nyawa dari Tri tidak dapat terselamatkan akibat luka parah yang dialaminya.

Rentetan kejadian tersebut patut menjadi sebuah pelajaran bagi kita semua, dimana kita harus tetap berhati-hati dalam melakukan selfie, terlebih apabila kita melakukan selfie di pra-sarana transportasi yang dapat menimbulkan resiko besar dan mempertaruhkan nyawa.

Sebaiknya Anda Tahu, Tujuh Negara ini Dikenal Paling Sulit Mengeluarkan Visa untuk Pelancong

Ada 195 negara di seluruh dunia dan ada saja mimpi untuk mengunjungi ratusan negara tersebut. Namun, persyaratan visa seringkali membatasi mimpi itu, sekalipun Anda punya uang banyak sekalipun. Meskipun beberapa negara memiliki kebijakan visa yang lunak, namun ada juga yang tidak mudah dalam prosesnya.

Baca juga: Sebaiknya Anda Tahu, 10 Negara ini Jarang Tolak Pengajuan Visa Schengen

Beberapa faktor membuat kunjungan ke beberapa negara-negara hampir tidak mungkin dilakukan, seperti proses pengajuan visa yang rumit, beberapa negara tidak mengeluarkan visa turis karena alasan keamanan dan politik, sementara beberapa negara berada di bawah rezim totaliter, dan terputus dari dunia luar. Jika ini membuat Anda penasaran, berikut ini tujuh negara versi Times Travel yang dikenal paling sulit untuk mengeluarkan visa.

Rusia
Salah satu tantangan utama dalam memperoleh visa Rusia adalah formulir permohonan yang ekstensif. Aplikasi tersebut memerlukan informasi rinci tentang setiap perjalanan yang dilakukan dalam sepuluh tahun terakhir, termasuk tujuan, tanggal, dan lama tinggal. Hal ini dapat menjadi hal yang menakutkan bagi mereka yang sering bepergian. Namun, dengan mengisi formulir secara akurat dan memberikan semua informasi yang diperlukan, Anda bisa mendapatkan visa untuk mengunjungi Rusia.

Iran
Mendapatkan visa ke Iran merupakan tantangan terutama karena kode verifikasi diperlukan sebelum mengajukan permohonan. Kode ini dikeluarkan oleh Kementerian Luar Negeri Iran dan harus diperoleh melalui agen perjalanan resmi Iran. Meskipun sistem eVisa mempermudah prosesnya, hal ini tidak menguntungkan semua orang. Warga negara dari AS, Inggris, India, Nepal, Pakistan, dan beberapa negara lainnya tidak dapat memperoleh visa pada saat kedatangan, terutama jika mereka telah mengunjungi Israel dalam enam bulan terakhir.

Turkmenistan
Kebijakan visa Turkmenistan yang ketat menjadikannya salah satu negara yang paling jarang dikunjungi. Hampir semua orang memerlukan visa, kecuali pengunjung dari wilayah tertentu di Kazakhstan atau Uzbekistan dan mereka yang memiliki paspor diplomatik. Proses permohonan visa melibatkan penyerahan tiga salinan formulir yang telah diisi dan surat undangan (LOI) dari Layanan Migrasi Negara Turkmenistan. Sponsor di Turkmenistan harus mendapatkan LOI ini, yang prosesnya bisa memakan waktu hingga 20 hari.

Chad
Hanya 14 negara yang menikmati akses bebas visa ke Chad; semua orang lainnya harus mengajukan permohonan visa, yang mungkin cukup menantang. Salah satu aspek yang paling rumit adalah mendapatkan surat undangan yang membutuhkan sponsor atau hotel di ibu kota, N’Djamena. Untuk mengamankan surat ini, pelancong harus memesan kamar hotel yang tidak dapat dikembalikan. Jika permohonan visa ditolak, pembayaran kamar hilang.

Arab Saudi
Meskipun pada masa lalu memperoleh visa ke Arab Saudi sangat sulit, terutama bagi perempuan tanpa pendamping, penerapan eVisa bagi wisatawan telah membuatnya lebih mudah diakses. Meski begitu, wisatawan harus mematuhi aturan ketat, seperti non-Muslim dilarang memasuki Mekah atau Madinah. Kebijakan visa yang ketat juga dipengaruhi oleh masuknya jamaah Muslim untuk menunaikan ibadah haji setiap tahunnya, sehingga membatasi jumlah visa turis yang dikeluarkan untuk menghindari kepadatan yang berlebihan.

Korea Utara
Korea Utara mungkin adalah negara yang paling menantang untuk dikunjungi sebagai turis. Visa harus diperoleh melalui agen wisata yang disetujui negara, dan warga negara Amerika dan Korea Selatan tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan visa. Wisatawan yang menerima visa menghadapi pembatasan yang ketat: mereka tidak boleh berinteraksi dengan penduduk setempat, mengkritik pemimpin Korea Utara, bebas berkeliaran, atau meninggalkan hotel setelah tur selesai.

Afghanistan
Memasuki Afghanistan sangatlah sulit, terutama karena kekacauan politik yang terjadi baru-baru ini. Sebagian besar pemerintah sangat menyarankan warganya untuk tidak bepergian ke sana. Memperoleh visa adalah hal yang wajib untuk masuk, kecuali bagi pemegang paspor diplomatik dari negara-negara seperti India, india, Turki, Tiongkok, Iran, dan Tajikistan, yang dikecualikan dari persyaratan visa.

Khusus ke Pulau Jeju, Bertandang ke Korea Selatan Memang Tak Perlu Visa

Layanan Kereta Komuter di Prefektur Chiba Gunakan Teknologi Face Recogntion

Teknologi pengenalan wajah atau face recogntion sudah diterapkan oleh PT KAI, yakni pada gate boarding layanan kereta jarak jauh. Namun, face recogntion belum diijajal untuk layanana kereta komuter. Nah, salah satu kota di Jepang kini telah menggelar akses via face recogntion pada layanan kereta komuter.

Baca juga: Terapkan Face Recognition, Boarding KA Jarak Jauh Kini Cukup Pindai Wajah

Seperti dilansir The Japan Times (16/6/2024), teknologi pengenalan wajah untuk penumpang kereta api komuter di kota Sakura, Prefektur Chiba. Teknologi pengenalan wajah diperkenalkan di Jalur Yamaman Yukarigaoka. Menurut Yamaman, operator jalur tersebut, ini adalah pertama kalinya sistem manajemen boarding berbasis pengenalan wajah untuk penumpang komuter diterapkan secara praktis pada sistem transportasi umum di negara tersebut.

Setelah mendaftarkan data foto wajah dan informasi kartu kredit terlebih dahulu di situs khusus, penumpang dapat naik kereta, tanpa membeli tiket, melalui kamera yang dipasang di gerbang tiket di stasiun yang mengenali wajah mereka. Penumpang dengan tiket komuter juga dapat menggunakan sistem ini.

Bersamaan, Yamaman juga memperkenalkan sistem tersebut ke layanan busnya. Perusahaan memperkirakan akan terjadi peningkatan jumlah pengguna sistem pengenalan wajah karena penumpang komuter terlihat memilih sistem tersebut ketika mereka memperbarui tiket mereka.

Seorang pejabat Yamaman, yang juga menjalankan bisnis real estate, mengatakan bahwa perusahaan ingin memperkenalkan sistem tersebut kepada seluruh masyarakat. Sistem pengenalan wajah, termasuk gerbang tiket kereta api, sedang diuji di banyak wilayah di negara ini.

Osaka Metro, yang menawarkan layanan kereta bawah tanah terutama di kota Osaka, telah memperkenalkan sistem pengenalan wajah untuk karyawannya dalam tahap uji coba. Mereka berencana untuk mulai menggunakannya untuk penumpang pada akhir tahun fiskal 2024.

Tidak Melulu di Bandara, Osaka Metro Hadirkan Teknologi Face Recognition di Stasiun Bawah Tanah

Layanan Imigrasi di Bandara Changi Sabet Peringkat Terbaik di Dunia

Meski petugas imigrasinya tidak murah senyum kepada para pelancong, namun, pelayanan imigrasi di Bandara Internasional Changi justru meraih peringkat tertinggi di seluruh dunia, atau menyabet gelar sebagai bandara dengan pelayanan imigrasi terbaik di dunia.

Baca juga: Proses Imigrasi Makin Cepat, Kini Total Ada 69 Unit Autogate di Bandara Soekarno-Hatta

Changi mendapatkan gelar Layanan Imigrasi Bandara Terbaik Dunia melalui survei kepuasan penumpang yang dilakukan oleh organisasi pemeringkat transportasi udara Inggris Skytrax. Survei ini dilakukan sejak Agustus 2023 hingga Maret 2024.

Melansir VNexpress, penumpang yang hendak melancong di Singapura mengaku puas dengan layanan yang diberikan kantor imigrasi Bandara Changi. Hal tersebut dinilai berdasarkan waktu tunggu, sistem antrean, jalur prioritas, sistem dan efisiensi e-gate, serta efisiensi dan kesopanan staf imigrasi.

Bandara Changi mempunyai fasilitas layanan imigrasi yang canggih, mulai dari check-in dan registrasi masuk otomatis, sistem autentika biometrik, dan kecerdasan buatan untuk mengangkut bagasi. Seluruh fasilitas tersebut memberi kemudahan bagi penumpang yang akan berlibur maupun sekadar menjadikan Bandara Changi sebagai transit.

Sementara itu, posisi kedua ditempati oleh Bandara Zurich di Swiss yang memiliki fasilitas dan layanan hampir sama seperti Bandara Changi. Kemudian, di tempat ketiga disinggahi Bandara Internasional Bahrain, dan tempat keempat diisi oleh Bandara Seoul Incheon di Korea Selatan.

Untuk Kunjungan Singkat di Singapura, Bandara Changi Siapkan Fasilitas Khusus Pelancong Bisnis

Bandara Changi Singapura merupakan bandara terbaik di dunia selama bertahun-tahun karena layanan, hutan hujan indoor, dan air terjun indoor tertinggi di dunia. Namun, mereka harus mengalah dengan Bandara Internasional Hamad di Qatar yang tahun ini dinobatkan sebagai yang terbaik.

Untuk bandara di Indonesia, saat ini belum masuk dalam daftar bandara terbaik maupun layanan imigrasi terbaik. Namun, pemerintah terus berupaya meningkatkan pelayanan di sejumlah bandara internasional dan memperbaiki kinerja layanan imigrasi.

Berikut daftar bandara dengan layanan imigrasi terbaik di dunia:
1. Bandara Changi
2. Bandara Zurich
3. Bandara Bahrain
4. Bandara Incheon
5. Bandara Taoyuan
6. Bandara Helsinki
7. Bandara Hamad
8. Bandara Hong Kong
9. Bandara Muscat
10. Bandara Roma-Fiumicino

Sering Disebut Pelancong, Ternyata Sejarah Visa Schengen Berasal dari Sebuah Desa di Luksemburg

Destinasi Eropa selalu menjadi idaman bagi para pelancong, selain keindahan alam dan ikon wisata yang menarik perhatian, kunjungan berlibur ke Benua Biru juga identik dengan kemudahan akses berupa “Visa Schengen.” Dan tak pelak Visa Schengen selalu menjadi topik pembicaraan bagi para pelancong yang akan bepergian ke Eropa. Nah, karena sering disebut, tapi tahukan Anda tentang sejarah Visa Schengen?

Baca juga: Pria Ini Rayakan Saat Meraih Visa Schengen, Setelah Ditolak Enam Kali Beruturut-turut

Sebagai catatan, Visa Schengen adalah visa khusus yang memungkinkan pemegangnya untuk bepergian ke sejumlah negara di Area Schengen tanpa perlu mendapatkan visa tambahan untuk setiap negara yang dikunjungi.

Dari sejarahnya, inisiatif tentang Visa Schengen berasal dari Perjanjian Schengen, yang ditandatangani pada tanggal 14 Juni 1985, di desa Schengen, Luksemburg, oleh lima negara anggota Uni Eropa (UE) pada saat itu: Belgia, Prancis, Jerman Barat, Luksemburg, dan Belanda.

Perjanjian Schengen ditandatangani oleh lima negara awal pada tahun 1985. Tujuan utamanya adalah untuk menghilangkan kontrol perbatasan internal di antara negara-negara anggota dan memberikan kebebasan bergerak kepada warga mereka di dalam area tersebut. Pada tahun 1990, Perjanjian Schengen mulai diimplementasikan secara penuh dalam tahap pertama. Pada tahap ini, kontrol perbatasan internal dihapuskan di antara negara-negara anggota.

Area Schengen secara bertahap diperluas dengan bergabungnya negara-negara baru. Austria, Italia, Spanyol, Portugal, dan Yunani bergabung pada tahun 1995, diikuti oleh negara-negara lain dalam beberapa tahun berikutnya. Pada tahun 2011, Bulgaria, Rumania, dan Cyprus masih belum menjadi bagian dari Area Schengen.

Pada tahun 1995, kontrol perbatasan internal dihilangkan di seluruh Area Schengen, menciptakan zona bebas perjalanan di antara negara-negara anggota. Sejak 2007, beberapa negara, termasuk negara-negara Eropa Timur seperti Estonia, Latvia, Lithuania, dan Polandia, telah bergabung dengan Area Schengen.

Visa Schengen pertama kali diperkenalkan pada tahun 1995. Visa ini memungkinkan pemegangnya untuk bepergian ke seluruh wilayah Schengen tanpa perlu mendapatkan visa tambahan.

Guna menunjang akses data kemudian diciptakan Schengen Information System (SIS), yakni sistem informasi terpadu yang memfasilitasi pertukaran informasi keamanan antara negara-negara anggota, yang kemudian diimplementasikan untuk mendukung pelaksanaan Perjanjian Schengen.

Saat ini Visa Schengen menjadi simbol kebebasan bergerak di Eropa dan telah memudahkan perjalanan bagi jutaan orang setiap tahun. Meskipun ada beberapa kendala dan penyesuaian selama bertahun-tahun, konsep ini tetap menjadi tonggak penting dalam integrasi Eropa.

Baca juga: Sebelum ‘Mimpi’ Keliling Eropa, Pahami Dulu Ketentuan Pembuatan Visa Schengen

Area Schengen saat ini terdiri dari Austria, Belgia, Republik Ceko, Denmark, Estonia, Finlandia, Perancis, Jerman, Yunani, Hongaria, Islandia, Italia, Latvia, Liechtenstein, Lithuania, Luksemburg, Malta, Belanda, Norwegia, Polandia, Portugal, Slowakia, Slovenia, Spanyol, Swedia dan Swiss.

Sebaiknya Anda Tahu, 10 Negara ini Jarang Tolak Pengajuan Visa Schengen

Visa Schengen adalah kunci Anda untuk menjelahi Benua Biru, dan untuk mendapatkan visa Schengen ibarat ‘gampang-gampang susah,’ pasalnya masin-masing negara anggota Schengen punya kebijakan tersendiri tentang pemberian visa Schengen. Dan melihat laporan Statistik Visa Schengen, Anda akan menemukan perbedaan tingkat penolakan visa di berbagai negara. Melamar ke negara-negara dengan tingkat penolakan yang lebih rendah dapat meningkatkan peluang keberhasilan untuk mendapatkan visa.

Baca juga: Setelah Kroasia, Kini Kosovo Bergabung di Zona Schengen Bebas Visa Eropa 

Seperti dikutip Times of India (22/6/2024), guna meningkatkan kemungkinan permohonan berhasil, disarankan untuk mengajukan permohonan visa di pusat visa di negara-negara dengan tingkat penolakan yang lebih rendah. Setelah diberikan, visa Schengen mengizinkan perjalanan melintasi negara-negara anggota Schengen, asalkan negara yang menerbitkan visa adalah tujuan utama.

Pelamar yang ingin mendapatkan visa Schengen musim panas ini harus menyadari tingkat penolakan yang lebih tinggi di negara-negara tertentu. Semisal Malta, dengan tingkat penolakan visa sebesar 37,6% pada tahun 2023, berada di puncak daftar negara dengan tingkat penolakan visa yang tinggi. Menyusul kemudian adalah Estonia dengan tingkat penolakan sebesar 33,1% dan Belgia sebesar 26,5%.

Swedia dan Kroasia juga memiliki tingkat penolakan yang relatif tinggi, masing-masing sebesar 23,1% dan 20%. Tingkat penolakan rata-rata di seluruh negara anggota pada tahun 2023 mencapai 54,2%.

Sesuai data, Jerman tetap menjadi pilihan terbaik Anda untuk mendapatkan visa Schengen multiple-entry pada tahun 2024. Pengenalan langkah-langkah migrasi baru oleh Jerman akan memungkinkan aksesi penuh Rumania ke wilayah Schengen.

Untuk menghindari penolakan visa karena masalah asuransi perjalanan, penting untuk memilih polis asuransi perjalanan Schengen yang tepat. Beberapa kesalahan umum yang dilakukan wisatawan selama proses permohonan visa harus dihindari untuk mencegah penolakan.

Pria Ini Rayakan Saat Meraih Visa Schengen, Setelah Ditolak Enam Kali Beruturut-turut

Pada pertengahan tahun 2025, sekitar 1,4 miliar orang harus mengajukan ETIAS (European Travel Information and Authorisation System) sebelum melakukan perjalanan ke Uni Eropa (UE). UE juga sedang mengerjakan aplikasi seluler ETIAS untuk menyederhanakan proses permohonan, yang diperkirakan akan diluncurkan pada pertengahan tahun 2025.

Untuk memastikan Anda mendapatkan visa Schengen dengan mudah, berikut adalah daftar 10 negara dengan tingkat persetujuan visa Schengen tertinggi, yang akan memberikan wawasan berguna bagi calon pelamar.

1. Islandia: tingkat penolakan 2,2%.
2. Swiss: 10,7%
3. Latvia: 11,7%
4. Italia: 12%
5. Luksemburg: 12,7%
6. Lithuania: 12,8%
7. Slowakia: 12,9%
8. Jerman: 14,3%
9 Austria: 14,3%
10. Yunani: 14,7%

Nyaris Terlupakan, Lockheed “Connie” Constellation Pernah Beroperasi di Langit Indonesia

Nyaris terlupakan sejarah, ternyata pesawat propeller jarak jauh Lockheed Constellation pernah beroperasi di Indonesia. Memang tidak dioperasikan oleh maskapai komersial seperti Garuda Indonesia, melainkan pada dekade 60/70-an pernah dioperasikan TNI AU (d/h AURI). Lockheed Constellation adalah pesawat penumpang legendaris, pasalnya pesawat bermesim empat ini dikenal sebagai pembuka jalan bagi penerbangan nyaman.

Baca juga: Kisah Lockheed L-1049 Super Constellation, Pesawat Pembuka Jalan Penerbangan Nyaman

Lockheed Constellation yang dioperasikan oleh AURI bukan berasal dari pembelian baru, melainkan hasil dari barter hibah dari Pakistan. Di era 60-an, Indonesia menghibahkan hampir semua armada jet tempur MiG-19 Farmer buatan Uni Soviet ke Pakistan. Pakistan yang saat itu sedang berperang dengan India membutuhkan pesawat tempur apa saja, yang salah satunya menerima hibah MiG-19 dari Indonesia.

Sementara Pakistan memberikan Lockheed Super/Constellation ke Indonesia pada tahun 1969. Di tengah keterbatasan anggaran dan kebutuhan mendapatkan pesawat angkut jarak jauh khususnya untuk lahyanan VVIP, tawaran pemerintah Pakistan untuk menukar tiga unit Lockheed Constellation kebas PIA (Pakistan International Airlines) dengan lima unit jet tempur MiG-19 telah disetujui oleh Indonesia.

Lockheed Constellation, sering disebut “Connie,” adalah pesawat terbang propeller-driven yang diproduksi oleh Lockheed Corporation antara tahun 1943 dan 1958. Pesawat ini terkenal karena desainnya yang elegan dengan ekor tiga sirip vertikal dan badan pesawat yang melengkung, serta menjadi salah satu ikon dalam penerbangan komersial dan militer selama era setelah Perang Dunia II.

Pengembangan Lockheed Constellation dimulai pada akhir 1930-an. Howard Hughes, pemilik TWA (Trans World Airlines), sangat terlibat dalam pengembangan pesawat ini. Mereka menginginkan pesawat yang lebih cepat dan memiliki jangkauan yang lebih panjang dibandingkan dengan pesawat lain yang ada pada saat itu.

Clarence “Kelly” Johnson dan timnya di Lockheed adalah yang bertanggung jawab atas desain Constellation. Pesawat ini memiliki ciri khas bentuk badan pesawat yang ramping, sayap dengan insiden trapesium, dan ekor tiga sirip vertikal yang membuatnya mudah dikenali.

Varian pertama, L-049 Constellation, melakukan penerbangan perdananya pada 9 Januari 1943. Varian ini memiliki kecepatan jelajah sekitar 300 mph (483 km/h) dan bisa terbang sejauh 3.500 mil (5.600 km). Setelah perang, Constellation menjadi tulang punggung maskapai penerbangan komersial. TWA dan Pan American World Airways adalah dua dari operator utama pesawat ini.

Namun sayang, setelah kemunculan Boeing 707 dan Douglas DC-8 dengan mesin jetnya, Lockheed Super Constellation, termasuk varian L-1049 Super Constellation dan lainnya, harus berakhir. L-1049 Super Constellation melakukan penerbangan terakhir bersama Eastern Airlines, maskapai pertama yang mengoperasikannya, pada tahun 1993.

Boeing 707 dan Douglas DC-8 – Dua Pesawat Legendaris Ikon Penerbangan Jarak Jauh Era 60/70-an