Operasi Intelijen, Airbus A340 Tujuan Filipina Justru Didaratkan di Iran dengan Mematikan Transponder

Meski industri penerbangan komersial Iran relatif mampu bertahan terhadap sanksi yang dikenakan oleh Amerika Serikat dan Eropa Barat, namun, tetap saja pasokan pesawat dari luar negeri terutama dari Airbus dan Boeing masih sangat dibutuhkan, dan untuk itu Iran kerap menjalankam operasi intelijen untuk mendapatkan pesawat yang diinginkan. Seperti belum lama ini, pihak tidak dikenal berhasil membawa kabur dua pesawat komersial Airbus A340 milik perusahaan leasing Macka Invest yang berbasis di Gambia.

Baca juga: Lawan Hegemoni Barat, Iran Gandeng Rusia, Cina, dan India Bentuk Konsorsium Perawatan Pesawat

Airbus A340 adalah pesawat widebody bermesin empat untuk melayani penerbangan jarak jauh. Laporan media Lithuania menuyebutkan kedua pesawat diterbangkan dari Lithuania ke Iran. Masih dari sumber yang sama, menunjukkan bahwa salah satu pesawat Airbus A340 mendarat di Bandara Mehrabad sementara yang lainnya mendarat di Bandara Konarak, Charbahar di Iran selatan.

“Dengan ini, maskapai penerbangan Iran, Mahan Air, telah berhasil mengakuisisi dua pesawat komersial, menghindari sanksi ekonomi yang dikenakan pada negara tersebut karena program nuklirnya,” kata laporan itu.

Kedua pesawat dilaporkan mematikan transpondernya segera setelah memasuki wilayah udara Iran untuk mencegah pelacakan posisi akhir mereka. Airbus A340 lainnya, juga milik Macka Invest dan awalnya ditujukan ke Filipina, tetap berada di Lithuania.

Pesawat tersebut dilarang terbang ke tujuan yang dimaksudkan karena membawa berbagai suku cadang pesawat, menurut Aurelija Kuezada, direktur Bandara Siauliai di Lithuania, berbicara kepada media lokal.

“Pesawat itu seharusnya terbang ke Filipina, tapi kami mengantisipasi pesawat itu juga bisa mendarat di Iran, dan kami tidak berdaya untuk mencegahnya. Itu sebabnya kami tidak mengizinkannya berangkat ketika kami mengetahui pesawat komersial pertama telah mendarat di Iran,” katanya.

Pihak berwenang Lithiania telah menyatakan bahwa penerbangan kedua Airbus A340 di luar wilayah udara Lithuania tidak menimbulkan kekhawatiran apa pun dan dianggap sebagai tanggung jawab otoritas nasional lainnya.

Insiden ini mengulangi kejadian serupa pada tahun 2022 ketika empat pesawat komersial Airbus A340 lepas landas dari Johannesburg menuju Uzbekistan tetapi, mendekati wilayah udara Iran, mematikan transpondernya dan dilaporkan mendarat di Iran.

Karena sanksi ekonomi yang berasal dari pengembangan nuklirnya, maskapai penerbangan komersial Iran dilarang membeli pesawat komersial baru dan suku cadangnya. Sanksi ini telah menyebabkan krisis dalam industri penerbangan komersial, dengan lebih dari 500 pesawat dilarang terbang dan tidak dapat terbang karena kurangnya suku cadang.

Pakar industri telah mengindikasikan bahwa Iran membutuhkan 400 pesawat komersial baru, namun sanksi ekonomi menghalangi pembelian pesawat baru dan juga menghalangi pekerjaan peningkatan dan pemeliharaan pada pesawat yang sudah ada.

Di Tengah Sanksi Barat, Iran Akuisisi Empat Unit Airbus A340 dengan Cara yang Aneh

Kadang Bikin Ketar-ketir, Inilah Pertanyaan ‘Killer’ Petugas Imigrasi di Luar Negeri

Petugas imigrasi yang memeriksa dokumen (paspor) pelancong saat tiba di bandara atau pelabuhan, kadang membuat kita ketar-ketir. Pasalnya, petugas imigrasi dengan wewenangnya, dapat menanyakan apa saja yang terkait dokumen dan ketibaan Anda di suatu negara. Lebih bikin cemas, bila Anda masuk ke negara sosialis, boleh jadi akan makan waktu lama untuk mendapatkan cap (stempel) masuk di paspor.

Baca juga: Bikin Bete, Inilah Sebab Antrean Pengecekan Imigrasi Sampai Mengular

Meski petugas imigrasi bisa menanyakan banyak hal kepada Anda, tapi petugas imigrasi di bandara biasanya mengajukan beberapa pertanyaan standar kepada setiap calon penumpang untuk memverifikasi identitas, tujuan perjalanan, dan status imigrasi mereka. Beberapa pertanyaan yang paling sering diajukan oleh petugas imigrasi adalah

1. Apa tujuan Anda datang ke [nama negara tujuan]?
Ini adalah pertanyaan standar yang bertujuan untuk memahami alasan perjalanan Anda.

2. Berapa lama Anda berencana tinggal di [nama negara tujuan]?
Petugas ingin tahu berapa lama Anda akan tinggal di negara tersebut untuk memastikan Anda memenuhi persyaratan visa atau izin masuk yang sesuai.

3. Di mana Anda akan tinggal selama Anda berada di [nama negara tujuan]?
Ini adalah pertanyaan tentang akomodasi Anda di negara tersebut.

4. Apakah Anda memiliki pekerjaan di [nama negara asal] atau [nama negara tujuan]?
Pertanyaan ini bertujuan untuk memahami status pekerjaan Anda dan apakah Anda memiliki niat untuk bekerja di negara tersebut.

5. Apakah Anda memiliki keluarga atau teman yang tinggal di [nama negara tujuan]?
Petugas ingin tahu apakah Anda memiliki kontak di negara tersebut.

6. Apakah Anda membawa barang yang harus dideklarasikan atau dikenakan bea cukai?
Ini adalah pertanyaan tentang barang bawaan Anda, termasuk barang yang mungkin dikenakan bea cukai.

7. Apakah Anda memiliki riwayat perjalanan ke [nama negara tujuan] sebelumnya?
Ini adalah pertanyaan tentang riwayat perjalanan Anda ke negara tersebut.

8. Apakah Anda memiliki rencana perjalanan ke negara lain selama Anda berada di [nama negara tujuan]?
Petugas ingin tahu jika Anda memiliki rencana perjalanan ke negara lain selama Anda berada di negara tersebut.

Baca juga: Bikin Cemas dan Panik, Ini Beberapa Sebab Pemeriksaan Paspor di Bandara Bisa Berlangsung Lama

Penting untuk menjawab pertanyaan ini dengan jujur ​​dan akurat, karena informasi ini digunakan untuk menentukan izin masuk Anda ke negara tersebut. Selain pertanyaan standar ini, petugas imigrasi juga dapat mengajukan pertanyaan tambahan berdasarkan subyektivitas petugas dan peraturan imigrasi yang berlaku di negara tujuan.

Fehmarnbelt, Jadi Terowongan Terdalam dan Terpanjang di Dunia, Hubungkan Jerman dan Denmark

Pekerjaan terowongan bawah laut terpanjang di dunia akhirnya dimulai setelah lebih dari satu dekade perencanaan. Terowongan ini akan berada lebih dari 40 meter di bawah Laut Baltik. Terowongan tersebut bernama Terowongan Fehmarnbelt akan menghubungkan Denmark dan Jerman.

Baca juga: Cina Bakal Punya Terowongan Kereta Cepat Pertama di Bawah Laut

Kehadirannya akan memangkas waktu perjalanan dari dua negara ketika akan dibuka pada 2029 mendatang. Terowongan ini akan memiliki panjang 18 km dan menjadi salah satu proyek terbesar di Eropa dengan biaya konstruksi lebih dari 7 miliar euro.

“Hari ini, jika Anda melakukan perjalanan kereta api dari Kopenhagen ke Hamburg, itu akan memakan waktu sekitar empat setengah jam. Saat terowongan itu selesai, perjalanan yang sama akan memakan waktu dua setengah jam,” kata Jens Ole Kaslund, direktur teknis di Femern A / S.

Sehingga bagi mereka yang menempuh perjalanan antara dua kota dengan mobil, perjalanan akan menjadi sekitar satu jam lebih singkat. Sedangkan saat naik ferry melintasi selat memakan waktu sekitar 45 menit sekarang. Ketika terowongan dibangun, perjalanan akan memakan waktu tujuh menit dengan kereta api (perjalanan sekitar 125 mil per jam) dan sepuluh menit dengan mobil (perjalanan sekitar 70 mil per jam).

“Saat ini banyak orang yang terbang di antara dua kota tersebut, tapi ke depan lebih baik naik kereta saja,” tambahnya.

Perjalanan yang sama dengan mobil akan menjadi sekitar satu jam lebih cepat daripada hari ini, dengan memperhitungkan waktu yang dihemat dengan tidak mengantri ke kapal ferry. Kaslund mengatakan, selain bermanfaat bagi kereta dan mobil penumpang, terowongan tersebut akan berdampak positif pada truk dan kereta barang karena menciptakan jalur darat antara Swedia dan Eropa Tengah yang akan lebih pendek 160 km dari sekarang.

Saat ini, lalu lintas antara semenanjung Skandinavia dan Jerman melalui Denmark dapat menggunakan ferry melintasi Fehmarnbelt atau rute yang lebih panjang melalui jembatan antara pulau Zealand, Funen, dan semenanjung Jutlandia. Proyek ini dimulai pada tahun 2008, ketika Jerman dan Denmark menandatangani perjanjian untuk membangun terowongan.

Kemudian membutuhkan waktu lebih dari satu dekade untuk undang-undang yang diperlukan untuk disahkan oleh kedua negara dan untuk studi dampak geoteknik dan lingkungan yang akan dilakukan. Sementara prosesnya selesai di pihak Denmark dan di Jerman sejumlah organisasi termasuk perusahaan ferry, kelompok lingkungan dan pemerintah kota setempat telah mengajukan banding atas persetujuan proyek atas klaim persaingan tidak sehat atau masalah lingkungan dan kebisingan.

Keputusan awal diharapkan sebelum akhir tahun meskipun tidak akan dapat menghentikan atau mengubah proyek secara signifikan, itu dapat mengamanatkan studi dampak lebih lanjut sebelum konstruksi dapat dimulai di Jerman. Sementara itu, di tengah tindakan pencegahan untuk menjaga keselamatan pekerja dari Covid-19, pekerjaan konstruksi dimulai pada musim panas di sisi Denmark.

“Proyeknya diatur sedemikian rupa sehingga kami harus bekerja selama beberapa tahun di Denmark sebelum kami dapat memasuki wilayah Jerman,” kata Kaslund.

Sebuah pelabuhan baru sedang dibangun di Rødbyhavn, di Lolland, dan pada awal 2021 sebuah pabrik akan dibangun di belakangnya, dengan enam jalur produksi untuk merakit 89 bagian beton besar yang akan membentuk terowongan. Setiap bagian akan memiliki panjang 217 meter (kira-kira setengah panjang kapal kontainer terbesar di dunia), lebar 42 meter, dan tinggi sembilan meter. Dengan berat masing-masing 73 ribu metrik ton, mereka akan seberat lebih dari 13 ribu gajah.

Ruas-ruas tersebut akan ditempatkan tepat di bawah dasar laut, sekitar 40 meter di bawah permukaan laut pada titik terdalam, dan dipindahkan ke tempatnya dengan tongkang dan derek. Sebanyak 2.500 orang akan bekerja langsung pada proyek konstruksi, yang diharapkan akan beralih ke tahap produksi aktual dari ruas terowongan pada tahun 2023.

Penempatan ruas tersebut akan memakan waktu sekitar tiga tahun. Michael Svane dari Confederation of Danish Industry, salah satu organisasi bisnis terbesar Denmark, yakin terowongan itu akan bermanfaat bagi bisnis di luar Denmark itu sendiri.

Baca juga: ARJ Holding, Investor Eksternal Pertama Untuk Proyek Terowongan Kereta Bawah Laut Terpanjang di Dunia

“Terowongan Fehmarnbelt akan menciptakan koridor strategis antara Skandinavia dan Eropa Tengah. Perpindahan kereta api yang ditingkatkan berarti lebih banyak barang yang bergerak dari jalan raya ke kereta api, mendukung sarana transportasi yang ramah iklim. Kami menganggap koneksi lintas batas sebagai alat untuk menciptakan pertumbuhan dan lapangan kerja tidak hanya secara lokal, tetapi juga secara nasional,” katanya.

 

 

 

Inggris Geger, Kamera Tersembunyi dengan Teknologi AI Tanpa Izin Menganalisa Emosi dan Demografi Ribuan Penumpang Kereta

Ribuan penumpang kereta komuter di Inggris yang emosi dan demografinya direkam oleh sistem kamera AI (Artificial Intelligence) tersembunyi di stasiun-stasiun besar, sebuah laporan baru mengungkapkan. Berita tersebut, yang menimbulkan kekhawatiran privasi yang serius, muncul setelah permintaan kebebasan informasi oleh Big Brother Watch.

Baca juga: National Rail (Inggris) Hadirkan Peringatan Penumpang via Aplikasi Jika Kereta dan Stasiun Penuh

Selama lebih dari dua tahun, Network Rail, perusahaan yang mengawasi infrastruktur kereta api Inggris, melakukan program uji coba rahasia di stasiun-stasiun utama seperti Waterloo dan Euston di London, Manchester Piccadilly, dan lainnya di seluruh negeri.

Kamera dengan teknologi kecerdasan buatan yang ditempatkan secara strategis di penghalang tiket, menangkap wajah penumpang dan memasukkannya ke dalam layanan Amazon’s Rekognition, sebuah alat AI canggih yang menganalisis gambar untuk menentukan emosi seperti kebahagiaan, kesedihan, dan kemarahan. Selain itu, sistem memperkirakan usia dan jenis kelamin penumpang.

Network Rail membela program tersebut, mengklaim bahwa program tersebut bertujuan untuk meningkatkan kepuasan pelanggan dan berpotensi menghasilkan pendapatan iklan tambahan dengan memahami demografi penumpang dan keadaan emosional. Namun, para pendukung privasi mengecam keras kurangnya transparansi seputar persidangan tersebut dan meragukan keakuratan dan kegunaan teknologi pendeteksi emosi, khususnya dalam lingkungan yang dinamis.

Big Brother Watch telah menyatakan keprihatinannya yang mendalam. “Sangat mengkhawatirkan bahwa badan publik seperti Network Rail akan melakukan uji coba pengawasan AI buatan Amazon dalam skala besar tanpa memberi tahu publik,” kata Jake Hurfurt, kepala penelitian dan investigasi kelompok tersebut. “Menggabungkan teknologi keselamatan dengan alat-alat yang memiliki manfaat ilmiah yang dipertanyakan dan menyarankan agar data tersebut digunakan untuk periklanan adalah perkembangan yang mengkhawatirkan.” Big Brother Watch telah mengajukan keluhan ke Kantor Komisaris Informasi (ICO), pengawas privasi data Inggris.

Para ahli di bidang teknologi dan hukum pun menyuarakan keprihatinannya. Profesor Lilian Edwards dari Universitas Newcastle menyebut aspek pengenalan emosi dalam program ini “tidak etis dan mungkin ilegal,” menyoroti sifat teknologi yang belum terbukti dan kurangnya transparansi.

Profesor Sandra Wachter dari Universitas Oxford menambahkan kritik tersebut, dengan menekankan potensi bias teknologi berdasarkan gender dan etnis, serta ketidakandalan yang melekat pada teknologi tersebut. “AI tidak bisa membaca emosi secara akurat,” tegasnya. “Pengawasan seperti ini tidak hanya melanggar privasi tetapi juga menormalkan asumsi bahwa setiap orang berpotensi menjadi penjahat, dan hal ini tidak benar.”

Network Rail membela tindakannya dengan menekankan komitmennya terhadap keamanan. Mereka menyatakan bahwa mereka memanfaatkan berbagai teknologi canggih untuk melindungi penumpang, staf, dan infrastruktur kereta api dari kejahatan dan ancaman lainnya. Perusahaan juga mengklaim bahwa mereka mematuhi undang-undang perlindungan data dan berkolaborasi dengan lembaga penegak hukum untuk memastikan metode mereka proporsional dan legal.

Stasiun dan Kereta Api Bisa Jadi Pilihan Untuk Upacara dan Resepsi Pernikahan

Bandara Charles de Gaulle Paris Kekurangan Garbarata Jelang Olimpiade Musim Panas 2024

Paris sebentar lagi akan menjadi kota yang sangat sibuk, pasalnya pada 26 Juli mendatang akan dibuka secara resmi Olimpiade Musim Panas 2024, yang akan berlangsung sampai 11 Agustus 2024. Lantaran bakal dibanjiri oleh tamu dan wisatawan manca negara, maka sektor penerbangan di Perancis harus menyiapkan diri. Namun, rupanya ada masalah yang masih mengganjal pada kesiapan pelayanan di Bandara Internasional Charles de Gaulle (CDG).

Baca juga: Antara Bandara Soekarno-Hatta dan Charles de Gaulle, Dirancang oleh Arsitek yang Sama

Pangkal sebabnya adalah rasa frustasi yang diungkapkan CEO Air France-KLM yang mengeluhkan keterbatasan Jetbridge (garbarata) di bandara utama di Perancis tersebut. Bandara ini sedang menghadapi minggu-minggu sibuk ke depan karena pertandingan Olimpiade dan kesibukan perjalanan musim panas.

CEO Air France-KLM telah menyatakan keprihatinannya atas kekurangan garbarata di Bandara CDG Paris dan beberapa kekurangan infrastruktur lainnya serta dampaknya terhadap biaya maskapai penerbangan. Hal ini terjadi menjelang Olimpiade Paris, saat kota ini bersiap menyambut masuknya wisatawan dan atlet dari seluruh dunia untuk berpartisipasi dalam acara tersebut.

Seperti dikutip Simple Flying, Ben Smith, CEO grup Air France-KLM, baru-baru ini berbicara dengan wartawan saat ulang tahun ke-20 grup tersebut dan membahas, antara lain, perlunya peningkatan infrastruktur di Bandara Charles de Gaulle.

Smith merasa frustrasi dengan kurangnya garbarata di bandara dan sebagai akibatnya maskapai ini kesulitan mendapatkan tempat parkir yang memadai setiap hari. Ia menjelaskan bahwa keadaan menjadi sangat rumit pada jam-jam sibuk pagi hari ketika banyak pesawat tidak memiliki jalur jet atau gerbang “kontak”. Hal ini juga menyebabkan ketidaknyamanan dalam mengangkut penumpang dengan bus.

Smith lebih lanjut menambahkan bahwa karena masalah ini, Air France harus melakukan negosiasi dengan Aeroports de Paris, yang mengoperasikan Bandara Charles de Gaulle, “tergantung pada apa yang dimiliki maskapai lain, untuk mencoba menemukan posisi parkir untuk armada kami.” Menurut juru bicara perusahaan, Air France terpaksa memarkir 10% penerbangan jarak menengah dan 5% penerbangan jarak jauh di tempat terpencil.

Menurut Smith, salah satu hal yang perlu diperbaiki di CDG adalah jarak yang jauh ke hanggar pemeliharaan yang membuat pesawat sibuk lebih lama karena adanya waktu penarik ekstra. Ia bahkan mencontohkan bandara global lain yang jauh lebih efisien dalam mengantarkan pesawatnya ke fasilitas pemeliharaan lebih cepat.

Bandara Schipol Jadi Satu-satunya di Dunia yang Masih Operasikan Garbarata Ganda

Perkenalkan Oshiya, “Tukang Dorong” Penumpang Kereta Komuter di Jepang

Mengular di pagi atau sore hari bersama para komuter lain memang merupakan aktifitas rutin yang dilakukan oleh para pekerja yang tinggal di pinggiran Ibukota. Berdesak-desakan hingga tidak ada ruang untuk bergerak merupakan pemandangan yang sudah lazim ketika menggunakan commuter line Jabodetabek – apalagi di jam-jam sibuk. Jika Anda merasa kondisi ini sudah tidak manusiawi, mungkin Anda harus melihat ke Jepang, dimana ada petugas yang dikhususkan untuk mendorong para komuter untuk masuk ke dalam rangkaian kereta, lho! Penasaran?

Baca Juga: Jingle di Stasiun Kereta Jepang, Bangkitkan Semangat Penumpang

Adalah Oshiya, sebuah job desk yang ditujukan kepada seseorang dimana ia harus memastikan semua penumpang masuk ke dalam kereta dan tidak terjepit di pintu kereta. Kendati tujuannya mulia, namun tetap saja pekerjaan semacam ini terdengar menyeramkan di sejumlah komuter. Bagaimana tidak, kondisi kereta yang sudah penuh akan didorong oleh oshiya agar penumpang yang berada di ujung pintu tidak terjepit ketika hendak menutup. Jika yang diujung didorong, maka secara otomatis yang berada di tengah akan semakin terhimpit, bukan?

KabarPenumpang.com mengutip dari lamman wikipedia.com, istilah oshiya sendiri berasal dari kata “osu” yang berarti mendorong, dan akhiran “-ya” yang berarti sebuah pekerjaan. Jadi jika digabungkan, maka sudah jelas bahwa tugas dari seorang oshiya adalah untuk mendorong penumpang masuk ke dalam rangkaian kereta.

Ketika pertama kali beroperasi di Stasiun Shinjuku, seorang oshiya masih menggunakan julukan ryokaku seiri gakari (passenger arrangement staff) atau petugas pengatur penumpang. Kebanyakan dari para ryokaku seiri gakari adalah seorang pelajar yang mengambil pekerjaan part-time. Namun seiring berkembangnya jaman, kini para oshiya ini – baik pekerja tetap atau pekerja sampingan akan bersiap menjaga di setiap jalur kereta, terutama di kala peak hours.

Jika Anda ingin tahu presentase penumpang yang mengular ketika jam sibuk, di tahun 1975 saja, seorang oshiya bisa memasukkan penumpang hingga 221 persen di atas kapasitas aslinya. Bisa Anda bayangkan bagaimana penuhnya kereta komuter di Jepang di kala jam sibuk?

Baca Juga: Kembali Terjadi di Jepang, Kereta Berangkat Lebih Cepat dari Jadwal

Salah satu ciri khas dari seorang petugas oshiya adalah ia menggunakan seragam rapi, dan mengenakan sarung tangan berwarna putih. Mungkin penggunaan sarung tangan ini dapat diasumsikan sebagai instrumen untuk mencegah penularan kuman atau kotoran lain ketika tengah mendorong penumpang.

 

Duh, Ahli Komputer Temukan Masalah Keamanan di WiFi Onboard!

Kehadiran WiFi onboard memang menguntungkan bagi sebagian penggunanya, terutama bagi mereka yang melakukan perjalanan langsung jarak jauh. Mereka bisa tetap mengerjakan pekerjaan kantor, atau sekedar mencari hiburan untuk melepas penat selama perjalanan. Tapi jangan salah, kehadirannya selama penerbangan ternyata dapat menimbulkan suatu masalah serius, terutama bagi setiap orang yang menyimpan data penting. Seorang peneliti keamanan komputer secara tidak sengaja menemukan salah satu kelemahan di sistem keamanan utama jaringan internet di pesawat tersebut.

Baca Juga: Takut Data Pribadi Anda Diretas, Ini Dia Fakta dan Tips Untuk Mencegahnya!

Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (17/10/2017), Mathy Vanhoef, peneliti tersebut, mengatakan bahwa setiap perangkat yang menggunakan keamanan WiFi WPA2 rentan untuk dimata-matai. Lebih parahnya lagi, ia berpendapat bahwa dengan mengubah kata sandi saja tidak cukup untuk memproteksi perangkat yang Anda sambungkan ke jaringan WiFi ini.

Ketika menganalisis cara kerja dari protokol WPA2, Mathy menemukan bahwa protokol WPA2 tersebut menghasilkan kunci enkripsi saat klien baru bergabung dengan sebuah jaringan. Ia menemukan bahwa proses ini dapat dibajak dengan menggunakan teknik yang disebut sebagai key reinstallation attack (KRACK). Uniknya, kelemahan ini ia temukan ketika ia tengah mengerjakan proyek yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kasus yang ia temukan tersebut.

“Dalam key reinstallation attack, mata-mata ini akan meniru korban untuk menginstal ulang kunci yang telah digunakan. Hal ini dicapai dengan memanipulasi dan memutar ulang cryptographic handshake messages,” ungkap Mathy dalam sebuah pernyataan tertulis. “Ketika korban mengembalikan kunci, parameter yang terkait seperti nomor paket transmisi tambahan dan menerima nomor paket, akan diatur ulang ke nilai awalnya,” imbuhnya.

Pada dasarnya, untuk menjamin keamanan, kunci hanya boleh dipasang dan digunakan satu kali. Sayangnya, Mathy menemukan bahwa hal seperti ini tidak dijamin oleh protokol WPA2. “Cryptographic handshake messages, kita bisa menyalahgunakan kelemahan ini dalam praktiknya,” tambah Mathy.Tidak hanya WPA2, Mathy mengatakan bahwa kerentanan juga hadir  dalam protokol WPA1 dan banyak smartphone Android yang sangat rentan terhadap kelemahan keamanan seperti ini.

Berdasarkan temuan Mathy tersebut, aliansi WiFi telah mengeluarkan pembaruan keamanan yang menunjukkan bahwa kerentanan ini dapat diselesaikan dengan melakukan upgrade software yang mudah untuk dikerjakan. Tidak hanya aliansi WiFi, Microsoft dan Google pun lantas mengeluarkan patch yang hampir serupa untuk menangkal serangan mata-mata tersebut.

Baca Juga: 23 Tahun Mengangkasa, Boeing 747-400 Garuda Indonesia Akhiri Masa Tugas

Untuk menambahkan perlindungan ekstra, Anda bisa menggunakan Virtual Private Network (VPN) yang akan menghindari Anda dari serangan siber tersebut. Mungkin si mata-mata tidak akan bisa menembus perangkat Anda jika operator maskapai penyedia layanan WiFi tersebut menggunakan sistem yang diterapkan oleh maskapai plat merah dalam negeri, Garuda Indonesia.

Garuda Indonesia diketahui menggunakan password yang berbeda untuk setiap penumpang first class di armada Boeing 777-nya. Password tersebut tertera di tiket yang Anda dapatkan di counter check in. Bisa dibilang, ini merupakan siasat Garuda Indonesia untuk meningkatkan pelayanan sekaligus memberikan keamanan bagi para pengguna layanan WiFi onboard.

Inilah Kavach, Teknologi Asli India Cegah Dua Kereta Tabrakan

Kolaborasi sebagai negara kaya insinyur dan ilmuan komputer dengan jaringan kereta kereta api terbesar keempat di dunia sepanjang sekitar 65.000 km melahirkan teknologi mutakhir di bidang perkeretaapian. Memperingati National Safety Day atau Hari Keselamatan Nasional, India meluncurkan Teknologi Kavach pada 4 Maret lalu. Teknologi ini terbukti sukses mencegah terjadinya tabrakan dua kereta.

Baca juga: Komitmen Nol Emisi di 2030, India Kaji Infrastruktur Pengisian Kendaraan Listrik di Stasiun Kereta Api

Dilansir Indian Express, Kavach sebetulnya bukanlah nama teknologi, melainkan nama perusahaan teknologi asal India.

Dalam kemitraan strategis dengan Kementerian Perkeretaapian India, keduanya meluncurkan teknologi Train Collision Avoidance System (TCAS). Namun, kementerian menyebut ini sebagai teknologi Kavach yang berati ‘baju besi’ dalam bahasa Hindi.

Kavach didukung oleh setidaknya lima elemen teknologi, mulai dari relay based, UHF radio, RFID, GSM, dan GPS.

Disebutkan, relay based berfungsi sebagai interface antara stasiun kavach dan interlocking. UHF radio berfungsi mengkomunikasikan informasi pensinyalan fixed ke lokomotif dan posisi lokomotif ke stasiun. RFID berfungsi memberikan lokasi dari rel ke lokomotif, GSM untuk radio security, dan GPS sinkronisasi waktu.

Gabungan dari fungsi-fungsi di atas menghasilkan cara kerjanya yang cukup sederhana. Rel saling ‘berbicara’ alias memberikan informasi terkait adanya kereta yang lewat di atas mereka melalui UHF radio. Ini kemudian disinkronisasi dengan GPS.

Baca juga: Helpline Bantu Penumpang Kereta India Temukan Solusi Saat Ada Masalah di Stasiun atau Kereta

Di saat yang bersamaan, rel akan memberitahu ke lokomotif terkait adanya potensi kecelakaan karena berada di jalur yang sama dan mengintervensi atau melakukan pengereman otomatis sambil tetap memberitahu ke masinis terkait potensi bahaya itu. Ini disebut sebagai Signal Passed at Danger (SPAD).

Namun, andai masinis tidak menghiraukan potensi itu karena jarak pandang terbatas dan faktor lainnya, sekalipun ditandai dengan sirine kencang pertanda bahaya di dalam kabin masinis, kereta tetap akan berhenti otomatis 200 meter sebelum kedua kereta tabrakan sesuai program.

Teknologi TCAS atau Kavach ini terinspirasi dari berbagai teknologi yang sudah ada, seperti European Train Protection and Warning System dan Anti Collison Device. Selain itu, Kavach juga akan melengkapi kereta-kereta di India dengan fitur European Train Control System Level-2.

Baca juga: Indian Railways Gunakan Gerbong Aluminium untuk Kereta Ekspres Vande Bharat

Sejauh ini, teknologi Kavach telah dipasang di lebih dari 1.098 km dan 65 lokomotif di South Central Railway. Ke depan, teknologi Kavach dalam mencegah terjadinya tabrakan dua kereta akan dipasang sejauh 3000 km jalur Delhi-Mumbai dan Delhi-Howrah demi menunjang peningkatan kecepatan perjalanan kereta menjadi 160 km per jam.

Kemudian, secara bertahap, teknologi Kavach akan terus dipasang di 6.000 km sampai akhirnya seluruh jaringan perkeretaapian India dilengkapi dengan teknologi ini.

“Thar Express” – Kereta Api Lintas Perbatasan India dan Pakistan, Penumpang Harus Punya Visa!

Meski India dan Pakistan kerap dilanda konflik di seputaran perbatasan, namun, kedua negara serumpun tersebut masih bisa disatukan lewat layanan kereta api. Inilah kereta api diesel Thar Express yang punya pemberhentian khusus di Stasiun Munabao. Walau layanan kereta ini kerap terhenti (bila terjadi konflik), tapi Thar Express masih beroperasi dan nampaknya masih terus dipertahankan untuk menjalin hubungan kedua negara yang sejatinya bersaudara.

Baca juga: Munabao – Stasiun Kereta dengan Pengamanan Terketat di Dunia, ada di Perbatasan India-Pakistan

Dari sejarahnya, Thar Express pertama kali mulai beroperasi pada 18 Februari 2006, setelah lebih dari 40 tahun tidak aktif. Layanan ini merupakan bagian dari upaya untuk memperbaiki hubungan diplomatik antara India dan Pakistan. Jalur kereta api ini sebelumnya aktif tetapi dihentikan pada tahun 1965 setelah pecahnya Perang India-Pakistan. Layanan kemudian dipulihkan kembali sebagai simbol niat baik dan usaha meningkatkan hubungan bilateral.

Di India, Thar Express beroperasi dari Stasiun Kereta Api Bhagat Ki Kothi di Jodhpur, Rajasthan. Sementara di Pakistan, kereta ini berakhir di Stasiun Kereta Api Karachi Cantt melalui Stasiun Kereta Api Khokhrapar di Sindh. Munabao di India dan Zero Point di Pakistan adalah stasiun perbatasan di mana penumpang harus melalui pemeriksaan imigrasi dan bea cukai sebelum melanjutkan perjalanan mereka.

Thar Express berfungsi sebagai salah satu jalur komunikasi dan transportasi penting antara India dan Pakistan, membantu dalam meningkatkan hubungan diplomatik antara kedua negara. Layanan ini sangat penting bagi banyak keluarga yang terpisah oleh perbatasan India-Pakistan, memungkinkan mereka untuk mengunjungi kerabat mereka dengan lebih mudah.

Layanan Thar Express sering kali dipengaruhi oleh ketegangan politik antara India dan Pakistan. Selama masa-masa konflik atau meningkatnya ketegangan, layanan ini dapat ditangguhkan atau dihentikan sementara. Mengingat sensitivitas hubungan antara kedua negara, keamanan menjadi perhatian utama. Prosedur pemeriksaan keamanan dan imigrasi di perbatasan sangat ketat.

Rute Thar Express memiliki total jarak sekitar 709 kilometer yang menghubungkan India dan Pakistan. Jarak dari Stasiun Kereta Api Bhagat Ki Kothi di Jodhpur, Rajasthan, ke Munabao (stasiun perbatasan India) adalah sekitar 325 kilometer. Dari Stasiun Khokhrapar (stasiun perbatasan Pakistan) ke Karachi Cantt (stasiun akhir di Karachi) jaraknya sekitar 384 kilometer.

Saat melintasi perbatasan India dan Pakistan, penumpang Thar Express tidak perlu berganti kereta. Namun, mereka harus melalui pemeriksaan imigrasi dan bea cukai di stasiun perbatasan kedua negara. Proses ini dapat memakan waktu, tetapi mereka tetap berada di kereta yang sama selama seluruh perjalanan.

Perjalanan Thar Express dari Bhagat Ki Kothi di Jodhpur, India, ke Karachi Cantt di Karachi, Pakistan, biasanya memakan waktu sekitar 12 hingga 15 jam. Durasi ini bisa bervariasi tergantung pada faktor-faktor seperti pemeriksaan imigrasi dan bea cukai di perbatasan, serta kondisi operasional lainnya.

Thar Express menyediakan beberapa kelas untuk penumpang, meskipun pilihan kelas mungkin lebih terbatas dibandingkan dengan layanan kereta domestik. Secara umum, Thar Express menawarkan Sleeper Class (Kelas Tidur) dan AC 3-tier (Kelas AC 3-tingkat).

Harga tiket Thar Express dapat bervariasi tergantung pada kelas yang dipilih dan kebijakan tarif yang berlaku. Namun, secara umum, tiket untuk Thar Express biasanya cukup terjangkau untuk memfasilitasi perjalanan antara India dan Pakistan. Sleeper Class (Kelas Tidur): Tiket untuk kelas tidur biasanya berada dalam kisaran INR 500 hingga INR 1000 (sekitar USD 7 hingga USD 14) per penumpang. Dan tiket untuk kelas AC 3-tier biasanya berada dalam kisaran INR 2000 hingga INR 2500 (sekitar USD 28 hingga USD 35) per penumpang.

Untuk membeli tiket Thar Express, penumpang harus mematuhi prosedur khusus yang ditetapkan oleh kedua negara, termasuk persyaratan visa dan dokumentasi perjalanan. Penumpang dianjurkan untuk memeriksa persyaratan dan prosedur terbaru sebelum merencanakan perjalanan mereka.

Cegah Gajah Tertabrak Kereta, India Hadirkan Sensor Pengaktif Lampu di Sepanjang Rel

Mengapa Jarak Jendela Pesawat Berbeda dengan Posisi Kursi? Cek Alasannya Disini

Tak jarang kita mendapati kursi di kabin dengan posisi di jendela (window) pesawat yang kurang menyenangkan, yakni posisi kursi dan jendela punya jarak yang tidak sesuai, sehngga ada saja penumpang tidak dapat melihat pemandangan luar dengan jelas, karena terhalang dinding pesawat.

Baca juga: Berkat Lubang Kecil Ini, Jendela Pesawat Dipastikan Bebas Kabut

Nah, jarak antara jendela pesawat dan kursi penumpang dapat bervariasi tergantung pada desain pesawat dan jenis pesawat itu sendiri. Ada beberapa alasan mengapa jarak ini bisa berbeda:

1. Desain Pesawat
Setiap jenis pesawat memiliki desain interior yang berbeda. Desain ini dapat mempengaruhi letak jendela dan jaraknya dari kursi. Pesawat yang lebih besar dengan sayap lebar seperti Boeing 747 atau Airbus A380 mungkin memiliki lebih banyak ruang di antara jendela dan kursi dibandingkan dengan pesawat yang lebih kecil.

2. Konfigurasi Kursi
Konfigurasi kursi di dalam pesawat juga berperan. Pesawat komersial memiliki berbagai konfigurasi kursi, termasuk yang memiliki baris kursi yang lebih dekat dengan jendela dan yang lebih jauh dari jendela. Ini disesuaikan dengan preferensi maskapai dan jenis pesawat.

3. Ruangan Kabin: Ruangan kabin pesawat mungkin berbeda dalam hal lebar dan tinggi. Ini juga akan mempengaruhi jarak antara jendela dan kursi. Ruangan kabin yang lebih luas mungkin memiliki lebih banyak ruang antara jendela dan kursi.

4. Keberadaan Dinding dan Struktur Pesawat
Struktur pesawat, seperti dinding pesawat, bagian penyangga, dan bagian lainnya, dapat memengaruhi penempatan jendela dan jaraknya dari kursi. Beberapa kursi mungkin lebih dekat ke jendela daripada yang lain karena pembatasan struktural ini.

5. Kenyamanan Penumpang
Maskapai juga mempertimbangkan kenyamanan penumpang saat merancang konfigurasi kabin pesawat. Beberapa penumpang mungkin lebih suka memiliki lebih banyak ruang di antara kursi dan jendela, sementara yang lain mungkin lebih suka kursi yang lebih dekat ke jendela.

6. Fleksibilitas Konfigurasi
Beberapa pesawat memiliki konfigurasi kursi yang dapat diubah secara fleksibel, tergantung pada kebutuhan penerbangan tertentu. Ini dapat memungkinkan maskapai untuk mengatur kursi dengan jarak yang berbeda dari jendela sesuai dengan kebutuhan.

7. Lokasi dalam Pesawat:
Jarak dari jendela juga dapat bervariasi tergantung pada seberapa dekat kursi berada dengan pintu darurat atau area evakuasi lainnya. Kursi yang berdekatan dengan area evakuasi biasanya memiliki lebih banyak ruang di sekitar mereka.

Baca juga: Bedah Jendela Pesawat, Inilah Bagian-bagian Beserta Fungsinya

Dalam banyak kasus, maskapai berusaha untuk memberikan pilihan kursi yang berbeda kepada penumpang dengan preferensi yang beragam, termasuk yang suka duduk dekat jendela atau yang lebih suka kursi dengan lebih banyak ruang kaki.