Swiss Uji Coba Gerbong Kereta dengan Kursi Lipat untuk Parkir Sepeda

Meski mengakomodasi penumpang sepeda sangatlah penting, tempat parkir sepeda di kereta tidak dapat menampung non-pengendara sepeda saat tidak digunakan. Namun, pengaturan eksperimental yang saat ini sedang diujicobakan di Swiss mungkin akan segera mengubah hal tersebut.

Baca juga: Scot Rail Tawarkan Desain Gerbong Baru Khusus untuk Pesepeda

Area tempat duduk yang dapat diubah saat ini sedang diuji pada gerbong penumpang Stadler FLIRT (Fast Light Intercity and Regional Train) yang dioperasikan oleh jalur kereta Schweizerische Südostbahn (SOB) di Swiss.

Dikutip New Atlas, pada hari-hari biasa umumnya hanya ada sedikit penumpang sepeda yang naik kereta, maka keempat kursi dikonfigurasikan seperti yang ada di kereta lainnya, lengkap dengan sandaran kepala dan sandaran punggung yang berkontur. Hal ini memungkinkan kursi mobile tersebut digunakan oleh penumpang yang seharusnya harus berdiri jika sisa kursi.

Di lain waktu, ketika ada pengendara sepeda yang harus diantisipasi, pegawai jalur kereta api dapat dengan cepat dan mudah melipat keempat kursi sehingga mereka duduk bersandar pada dinding. Dengan melakukan hal tersebut, simbol sepeda akan terlihat di lantai, sehingga semua orang mengetahui tujuan area tersebut. Area tempat duduk serupa di seberang lorong menyediakan ruang penyimpanan bagasi saat kursinya dilipat.

Yang penting, meskipun kursinya sendiri istimewa, kursi tersebut dapat dipasang pada titik pemasangan mobil FLIRT yang sudah ada. Artinya, tidak ada modifikasi yang perlu dilakukan pada kereta api yang menggunakan sistem ini, sehingga menghemat biaya dan memudahkan penerapannya.

Pengguna Sepeda Non Lipat Bisa Bawa Masuk Sepeda ke Kereta di Fukuoka

Penyiapan ini merupakan bagian dari proyek percontohan Innovative Flächenbewirtschaftung im Zug yang didanai pemerintah federal selama satu tahun, yang dimulai bulan lalu dan berlangsung hingga Desember ini.

Anda dapat melihat bagaimana area tempat duduk dikonfigurasi ulang dalam animasi di bawah ini.

 

Mengapa Airbus A330 Sangat Diminati di Asia-Pasifik? Inilah Alasannya

A330 memang bukanlah pesawat Airbus paling mentereng di angkasa. Pamor dan kemampuannya tentu masih kalah jauh dibanding saudara kandungnya, Airbus A350. Tetapi, sejak pertama kali beroperasi pada 1990-an, pesawat ini mendapat begitu banyak peminat di seluruh dunia, utamanya di Asia-Pasifik, dimana 42 persen total pesawat A330 dioperasikan oleh maskapai-maskapai besar di sana. Mengapa demikian?

Baca juga: Hari Ini, 28 Tahun Lalu, Airbus A330 Sang Penantang Boeing 767 Terbang Perdana

Airbus A330 disebut sebagai pesawat twin engine andal, besar, nyaman, dan dapat memuat banyak penumpang dalam sekali angkut. Selain itu, pesawat juga disebut hemat bahan bakar. Tak ayal, dengan efisiensi dan efektivitas, Airbus A330 begitu diandalkan maskapai Asia-Pasifik (dan juga maskapai lainnya) dalam berbagai situasi, baik itu rute jarak pendek ataupun jarak jauh lintas benua.

Per 30 November 2020 lalu, Airbus telah mengirimkan 1.506 A330 ke maskapai di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut, 604 unit atau 42 persennya dimiliki oleh maskapai penerbangan yang berbasis di kawasan Asia-Pasifik. Sisanya, 359 unit atau 25 persen dikirim ke maskapai penerbangan berbasis di Eropa dan 100 unit lainnya atau 6,6 persen dari total produksi dioperasikan oleh maskapai Amerika Utara.

Dalam daftar 10 maskapai terbesar yang mengoperasikan A330, tujuh di antaranya didominasi oleh maskapai-maskapai di Asia-Pasifik; mulai dari China Southern Airlines, Qantas, Cathay Pacific, China Eastern Airlines, Air China, Korean Air, dan Hainan Airlines. Lebih luas lagi, dari 20 maskapai teratas di seluruh dunia yang mengoperasikan A330, 12 di antaranya berbasis di Asia; termasuk Turkish Airlines, Air Asia, dan maskapai-maskapai Indonesia, seperti Citilink, Garuda Indonesia, dan Lion Air Group.

Laporan Simple Flying, popularitas A330 di Asia-Pasifik hampir dipastikan tak terlepas dari pengaruh Boeing 787 Dreamliner. Dengan berbagai isu permasalahan pada mesin dan sistem oksigen darurat pada pesawat itu, praktis, penumpang jadi khawatir untuk terbang bersamanya dan maskapai mau tak mau mencari pesawat lain yang bisa membuat penumpang nyaman dan merasa aman; dalam hal ini pesawat yang serupa dengan 787 Dreamliner.

Baca juga: Usai Raih 63.900 Jam, Airbus A330-300 Pertama di Dunia Pensiun

Hal ini tentu menjadi keuntungan tersendiri bagi Airbus, mengingat Asia-Pasifik merupakan pasar besar yang sangat berpengaruh untuk kesuksesan perusahaan. Sebab, pangsa pasar Amerika Utara sudah pasti tak bisa berbuat banyak, dimana isu nasionalisme mendorong maskapai di sana menggunakan pesawat-pesawat Boeing.

Selain memiliki populasi besar, mencapai 60 persen dari total populasi di dunia atau sekitar empat miliar orang, pertumbuhan pasar penerbangan di sini juga tergolong cepat, baik rute regional antar negara di Asia maupun lintas benua ke Eropa dan Benua Amerika. Sudah begitu, Asia, secara umum, juga dinilai akan menjadi pusat peradaban masa depan Barat. Menarik ditunggu, akankah di masa mendatang keluarga Airbus A330 terus menjadi pilihan favorit maskapai Asia-Pasifik?

Ferrovia Vaticana – Jalur Kereta Bersejarah 1 Km di Dalam Kota Vatikan

Terletak di bagian barat Roma, Vatikan hanya punya luas wilayah 44 hektar. Namun tahukah Anda, bahwa di dalam kota Vatikan terdapat jalur kereta, memang bukan jalur kereta umum, namun Ferrovia Vaticana, atau jalur kereta di dalam wilayah Vatikan punya sejarah panjang yang menarik untuk diketahui.

Baca juga: Selain Keterbatasan Wilayah, Inilah Alasan Mengapa Vatikan Tidak Memiliki Bandara

Dari sejarahnya, Ferrovia Vaticana didirikan pada tahun 1934 oleh Paus Pius XI untuk mendukung konstruksi Basilika Santo Petrus. Saat itu, pembangunan basilika membutuhkan transportasi material konstruksi ke situs pembangunan. Jalur ini berfungsi sebagai sarana transportasi untuk memindahkan bahan bangunan, batu, dan material konstruksi dari stasiun kereta di luar Vatikan ke lokasi pembangunan Basilika Santo Petrus di dalam Vatikan.

Ferrovia Vaticana memiliki rute sekitar 1,19 km dan berjalan dari stasiun kereta di luar Vatikan menuju ke lokasi pembangunan basilika di dalam Vatikan. Meskipun lintasan ini relatif singkat, pada saat pembangunan Basilika Santo Petrus, jalur ini sangat penting untuk mengangkut material konstruksi dan bahan bangunan dari stasiun kereta di luar wilayah Vatikan ke lokasi pembangunan di dalam Vatikan.

Setelah selesainya proyek konstruksi, Ferrovia Vaticana tidak lagi digunakan secara intensif. Meskipun masih ada di tempat, jalur ini tidak berfungsi untuk keperluan umum atau transportasi publik. Saat ini, sebagian besar jalur tersebut mungkin telah menjadi benda sejarah atau mendukung fungsi internal Vatikan yang tidak diketahui secara terbuka.

Baca juga: Fisker Kembangkan Mobil Listrik Khusus Paus Fransiskus di Vatikan

Ferrovia Vaticana mewakili bagian dari sejarah pembangunan Basilika Santo Petrus dan memberikan gambaran tentang usaha dan logistik yang diperlukan untuk membangun struktur sebesar itu pada masanya.

All_Aboard – Aplikasi Pemandu Tunanetra ke Halte Bus dengan Teknologi Bip “Sonar”

Meski sudah ada aplikasi yang memandu pengguna tunanetra ke perkiraan koordinat GPS halte bus, namun tunanetra mungkin tanpa sadar berdiri terlalu jauh dari halte sebenarnya. Nah, sebuah aplikasi baru mengatasi kekurangan itu, dengan membiarkan kamera ponsel pintar mengambil tindakan.

Baca juga: Kombinasi Teknologi Ponsel Pintar dan Kode QR Bantu Penyandang Tunanetra di Stasiun

Dikenal sebagai All_Aboard, aplikasi berbasis kecerdasan buatan (Artificial intelligencet/AI) ini dikembangkan oleh tim ilmuwan di pusat penelitian dan perawatan Mata dan Telinga Massachusetts yang berafiliasi dengan Universitas Harvard. Aplikasi ini dibuat untuk digunakan bersama dengan aplikasi navigasi berbasis GPS pihak ketiga seperti Google Maps.

Pengguna memulai dengan memanfaatkan aplikasi lain untuk mencapai perkiraan lokasi halte bus. Mereka kemudian membuka All_Aboard dan mengangkat ponsel cerdasnya agar kamera belakangnya dapat “melihat” jalan di sekitarnya.

Dengan memanfaatkan jaringan saraf pembelajaran mendalam yang dilatih pada sekitar 10.000 gambar halte bus di kota tersebut, aplikasi ini dilaporkan mampu mengidentifikasi secara visual tanda perhentian target jika berada dalam jarak hingga 50 kaki (15 meter) jauhnya. Setelah tanda tersebut terlihat, aplikasi akan memandu pengguna melalui bunyi bip seperti sonar yang mengubah nada dan kecepatan saat orang tersebut semakin dekat ke halte bus.

Dikutip New Atlas, Dalam uji lapangan, 24 relawan tuna netra menggunakan Google Maps dan All_Aboard untuk menemukan total 20 halte bus – 10 di lingkungan perkotaan (Boston) dan 10 di lingkungan pinggiran kota (Newton, Massachusetts).

Mudahkan Tunanetra, Ransel ini Dibekali “Kecerdasan Buatan” untuk Bantu Navigasi

Dalam hal mendekati perhentian tersebut, Google Maps sendiri memiliki tingkat keberhasilan hanya 52%, sedangkan All_Aboard meningkatkan angka tersebut menjadi 93%. Selain itu, meskipun jarak rata-rata antara titik akhir peta dan halte bus sebenarnya adalah 6,62 meter (21,7 kaki) dengan Google Maps, jaraknya hanya 1,54 m (5 kaki) dengan All_Aboard.

All_Aboard sejauh ini telah tersedia untuk melayani di 10 kota besar di seluruh dunia, dan tersedia untuk digunakan di iPhone melalui App Store.

Garuda Indonesa Beli Sertiikat Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca, Apakah Itu?

Garuda Indonesia memperkuat komitmennya dalam mendukung upaya pengurangan emisi gas rumah kaca. Komitmen tersebut yang salah satunya dilakukan melalui pembelian Sertifikat Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (SPE-GRK) di Bursa Karbon di IDX (Bursa Efek Indonesia) yang sekaligus menjadi pembelian perdana sertikat pengurangan emisi yang dilaksanakan Garuda Indonesia.

Baca juga: Upaya Kurangi Emisi Karbon, Garuda Indonesia Gelar Program Carbon Offsetting

Sertifikat Penurunan Emisi (SPE) merupakan bagian dari mekanisme pengelolaan penurunan emisi yang terdokumentasikan dalam surat bentuk bukti pengurangan emisi oleh usaha dan/atau kegiatan yang telah melalui Pengukuran, Pelaporan, dan Verifikasi, atau Measurement, Reporting, and Verification serta tercatat dalam Sistem Registrasi Nasional Pengendalian Perubahan Iklim dalam bentuk nomor dan/atau kode registrasi.

Pembelian sertifikat penurunan emisi tersebut merupakan bagian dari rangkaian program “Carbon Neutral Flight” di Garuda Indonesia yang merupakan wujud komitmen jangka panjang Perusahaan dalam mendukung langkah dekarbonisasi melalui konversi emisi karbon yang ditimbulkan pada operasional penerbangan. Program tersebut yang salah satunya turut dilakukan melalui metode “Carbon Offset” melalui pembelian sertifikasi penurunan emisi milik Pertamina Patra Niaga.

Adapun nantinya pelaksanaan Program Carbon Neutral Flight ini tidak hanya akan dilaksanakan melalui pembelian sertifikat penurunan emisi (SPE) yang tersedia di Bursa Karbon nasional, melainkan juga sertifikat penurunan emisi berskala global sesuai standar ICAO CORSIA (Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation). Tahap awal Program Carbon Neutral Flight tersebut juga telah diimplementasikan pada penerbangan Joy Flight HUT GA ke-75 yang sebelumnya dilaksanakan pada hari Selasa (23/1) yang lalu dan akan dilaksanakan secara berkesinambungan pada berbagai penerbangan lainnya.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra mengatakan bahwa program ini merupakan bagian dari rangkaian HUT ke-75 Garuda Indonesia serta menjadi wujud implementasi komitmen Perusahaan untuk mendukung pencapaian target Net Zero Emission 2060 yang telah diterapkan oleh Pemerintah. Komitmen ini yang kedepannya akan terus kami perkuat melalui kebijakan korporasi yang mengedepankan fokus sustainabilibity dalam seluruh aspek operasional perusahaan.

Empat Langkah Kurangi-Bebas Emisi Karbon Pesawat, Apa Saja?

“Pelaksanaan program ini juga sejalan dengan tema HUT Garuda Indonesia yang ke-75 “Celebrating Unity for The Greater Future” dimana langkah ini merupakan bentuk aktif partisipasi Garuda Indonesia sebagai national flag carrier untuk berkontribusi menjadi garda terdepan dalam mendukung upaya pengurangan emisi karbon yang salah satunya dilaksanakan melalui penerbangan netral karbon. Melalui program Carbon Neutral Flight tersebut, Garuda Indonesia menerapkan perhitungan offset atas carbon footprint yang dihasilkan oleh penerbangan joy flight,” jelas Irfan.

Penumpang Meningkat, LRT Jabodebek Tetap Beroperasi Sampai Pukul 23.03 WIB Selama Februari

KAI memperpanjang penerapan penambahan waktu layanan LRT Jabodebek hingga bulan Februari. Dengan perpanjangan penambahan waktu layanan ini, selama bulan Februari LRT Jabodebek akan tetap melayani pengguna hingga pukul 23.03 WIB.

Baca juga: Penumpang Meningkat, LRT Jabodebek Tambah Jadwal Perjalanan, Berikut Jadwal Lengkap Keberangkatannya

Manager Public Relations LRT Jabodebek, Mahendro Trang Bawono mengatakan perpanjangan penambahan waktu layanan ini sebagai respon terhadap antusiasme yang luar biasa dan tingginya minat masyarakat menggunakan LRT Jabodebek.

Pasca penerapan penambahan waktu layanan mulai 16 Januari lalu, minat masyarakat untuk menggunakan LRT Jabodebek semakin tinggi, hal ini dilihat dari meningkatnya jumlah pengguna LRT Jabodebek.

Pada periode 16-29 Januari 2024 LRT Jabodebek melayani sebanyak 552.903 pengguna, jumlah ini naik 16 persen dibandingkan pada periode yang sama pada bulan Desember 2023 yakni sebanyak 478.256 pengguna.

Penambahan waktu layanan ini juga berdampak pada jumlah perjalanan LRT Jabodebek yang bertambah hingga 264 perjalanan pada hari kerja (weekday) dan 240 perjalanan pada akhir pekan (weekend) serta hari libur nasional.

Mahendro menyampaikan, pengguna LRT Jabodebek dapat menikmati kenyamanan jadwal operasional yang diperpanjang, sehingga memberikan fleksibilitas dalam rutinitas perjalanan sehari-hari.

Baca juga: Catat! di Luar Peak Hour Jam 10.00-15.00, Headway LRT Jabodebek per 1 Jam

Perpanjangan waktu layanan ini bertujuan untuk mengakomodasi beragam kebutuhan pengguna serta memastikan bahwa LRT Jabodebek tetap menjadi pilihan dalam mendorong aksesibilitas dan konektivitas di wilayah Jabodebek dan sekitarnya.

“Kami berharap dengan perpanjangan penambahan waktu layanan ini dapat mengakomodir kebutuhan pengguna dan memenuhi permintaan masyarakat yang terus meningkat,” tutup Mahendro.

Inilah Fungsi Threshold, Zebra Cross di Ujung Landas Pacu

Dari sekian banyak tanda pada runway (landas pacu), terdapat tanda yang mirip dengan zebra cross di jalan raya. Tentu saja zebra cross di runway tidak ada untuk memfasilitasi jalur penyeberan orang. Tanda mirip zebra cross pada runway disebut threshold.

Baca juga: Ada 15 Makna Lampu Warna-warni di Runway Bandara, Sudah Tahu?

Fungsi threshold alias zebra cross pada runway yaitu memberikan petunjuk visual kepada pilot pesawat terbang. Nah, selengkapnya, ada beberapa fungsi tanda threshold pada runway:

Batas Akhir Landasan Pacu
Tanda threshold menandai batas akhir landasan pacu. Ini memberikan petunjuk jelas kepada pilot tentang di mana landasan pacu berakhir, membantu dalam proses lepas landas dan pendaratan.

Petunjuk untuk Pilot
Tanda threshold memberikan petunjuk visual kepada pilot untuk membantu mereka mengidentifikasi posisi yang tepat pada landasan pacu, terutama ketika melakukan prosedur lepas landas atau pendaratan. Hal ini membantu pilot memastikan bahwa pesawat berada pada posisi yang aman dan sesuai dengan prosedur operasi.

Referensi Visual untuk Pendekatan
Selama fase pendaratan, pilot dapat menggunakan tanda threshold sebagai referensi visual untuk mengevaluasi ketinggian pesawat dan memastikan bahwa pendaratan dilakukan pada titik yang diinginkan pada landasan pacu.

Keamanan Operasional
Tanda threshold juga berkontribusi pada keamanan operasional. Dengan memberikan petunjuk yang jelas tentang lokasi akhir landasan pacu, tanda ini membantu mencegah pesawat dari melebihi batas landasan pacu yang seharusnya.

Penyesuaian Penerbangan
Pilot dapat menggunakan tanda threshold sebagai referensi visual untuk menyesuaikan penerbangan mereka selama fase lepas landas atau pendaratan. Ini membantu mereka memantau dan mengelola penerbangan pesawat dengan lebih akurat.

Disebut Bisa Bikin Pesawat Tergelincir di Runway, Apa Itu Hydroplaning?

Tanda threshold biasanya memiliki pola warna kontras yang menonjol dengan warna putih atau kuning yang umum digunakan. Selain itu, seringkali terdapat lampu pendaratan yang terpasang di sekitar tanda threshold untuk memberikan petunjuk visual tambahan, terutama selama kondisi cahaya rendah atau malam hari.

Secara umum, tanda threshold pada runway adalah elemen penting dalam infrastruktur bandara untuk memastikan operasi pesawat terbang berjalan dengan aman dan sesuai prosedur.

Kala Kolaborasi Boeing 707 dan American Airlines Ubah Peta Penerbangan AS 62 Tahun Silam

Pada hari ini, 65 tahun lalu, bertepatan dengan Kamis, 29 Januari 1959, perlahan tapi pasti peta industri penerbangan dalam negeri Amerika Serikat (AS) berubah usai American Airlines memulai layanan jet komersial domestik pertama. Alih-alih mengoperasikan Douglas DC-8, American Airlines justru terbang dengan Boeing 707 yang ternyata berhasil membawa perubahan dan menggeser dominasi United Airlines serta Trans World Airlines (TWA).

Baca juga: Kompetisi Industri Dirgantara Inggris vs AS, Jadi Latar Belakang Lahirnya Boeing 707

Disarikan dari berbagai sumber, sejak pertama berdiri pada 15 April 1926, American Airlines sebetulnya sudah mempunyai kans besar untuk memulai layanan komersial. Hanya saja, terbatasnya pilihan pesawat membuat maskapai itu mengoperasikan pesawat untuk mengantar surat dari St. Louis, Missouri, ke Chicago, Illinois.

Setelah delapan tahun, barulah layanan komersial penumpang pertama dilakoni dari New York ke Chicago dengan menggunakan DC-3.

Akan tetapi, maskapai ini, dan berbagai maskapai lainnya di dunia, mulai meredup seiring kemunculan maskapai nasional Inggris British Overseas Airways Corporation (BOAC) mengoperasikan layanan jet komersial pertama di dunia pada 2 Mei 1952. Saat itu, BOAC didukung oleh De Havilland Comet, pesawat jet komersial pertama dunia.

Sayangnya, pesawat fenomenal ini kurang berhasil lantaran berbagai kecelakaan akibat kegagalan desain hingga menyebabkan fatig logam pada jendela pesawat. Alhasil, Comet pun perlahan ditinggalkan. Bersamaan dengan itu, tentu saja BOAC, yang amat mengandalkan pesawat tersebut, kehilangan tajinya untuk menarik banyak penumpang. Di sinilah era emas maskapai AS dimulai.

Pada tahun 1953, American Airlines menjadi pioneer layanan lintas benua non-stop dari seluruh AS menggunakan Douglas DC-7 bermesin piston. Belum juga sempat menguasai pasar penerbangan lintas benua, Pan American Airlines sudah lebih dahulu menyalip dan merajai pasar tersebut bersamaan dengan turunnya pamor BOAC.

Sadar pasar penerbangan lintas benua sudah didominasi Pan Am dan sulit ditembus, American Airlines bergeser ke pasar domestik dan berhasil memulai layanan jet komersial domestik pertama di AS pada 25 Januari 1959, dari New York ke Los Angeles, menggunakan pesawat Boeing 707. Layanan coast-to-coast atau ujung ke ujung ini rupanya banyak diminati penumpang dan perlahan menempatkan American Airlines merajai layanan domestik saat itu.

Baca juga: Hari Ini, 79 Tahun Lalu, Pan Am Jadi Maskapai Pertama Keliling Dunia dengan Pesawat Komersial

Dominasi American Airlines di pasar domestik pasca peluncuran rute coast-to-coast bukan hanya disebabkan oleh efektivitas dan efisiensi Boeing 707, melainkan juga karena faktor non-teknis kompetitor. Disebutkan, kompetitor utama American Airlines, yaitu Delta Airlines dan United Airlines, tak mau ikut-ikutan menggunakan Boeing 707 dan lebih memilih tetap menunggu peluncuran Douglas DC-8.

Keputusan itu ternyata malah mendorong American Airlines untuk merajai pasar domestik. Di saat yang bersamaan, banyak maskapai besar di seluruh dunia juga menggunakan Boeing 707. Pada posisi ini, bisa dibilang, maskapai yang mengoperasikan Boeing 707 akan ketiban berkah dan sebaliknya, maskapai yang tidak mengoperasikan pesawat itu cenderung tertinggal.

Akibat Petugas Sinyal Tak Sabar, 189 Nyawa Melayang Pada Kecelakaan Kereta 81 Tahun Lalu di Jalur Sakurajima

Sebanyak 189 orang tewas dan 69 lainnya luka berat serta ringan akibat kecelakaan kereta yang terjadi di Stasiun Ajikawaguchi. Kecelakaan ini terjadi pada 29 Januari 1940 karena adanya kesalahan pengoperasian titik peralihan sinyal.

Baca juga: Tragedi Bintaro I – Jadi Kecelakaan Kereta Terburuk dan Paling Tragis di Indonesia

Insiden ini terjadi karena operasi ilegal switching dari staf stasiun yang membuat adanya jalur berubah saat kereta lewat. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, jalur ini adalah jalur yang menghubungkan Stasiun Osaka dan daerah pesisir, dan merupakan jalur yang sepi hingga awal periode Showa.

Tetapi setelah Perang Cina-Jepang, industri amunisi berkembang, banyak pabrik dibangun di sepanjang jalur tersebut dan jumlah penumpang komuter meningkat drastis. Pada saat kecelakaan, bensin dikendalikan sebagai bahan strategis dan batu bara didorong untuk dihemat.

Pada pagi hari tanggal 29 Januari 1940, saat kecelakaan terjadi, kereta bawah Nishikujo Jalur 1611 yang berangkat dari Stasiun Osaka adalah kereta Nishikujo Setelah berangkat, ditetapkan bahwa kereta harus meluncur dari Jembatan Sungai Rokkenya ke Stasiun Ajikawaguchi untuk menghemat bensin. Kereta 1611 tiba di Stasiun Ajikawaguchi pada pukul 06.55, tiga menit terlambat dari jadwal.

Karena Jalur Sakurajima adalah jalur tunggal, maka kereta sementara 6001 yang telah datang ke Stasiun Nishikujo, yang berada tepat sebelum Stasiun Ajikawaguchi, tidak dapat berangkat dan ditunda. Kereta penumpang juga mengalami keterlambatan karena tidak bisa berangkat dari stasiun.

Ketika kereta ditunda, itu menghabiskan lebih banyak batu bara, sehingga petugas sinyal yang tidak sabar mencoba membersihkan jalur lebih awal dan mengabaikan konfirmasi yang cukup, dan kereta 1611 mengganti jumlah pemilih sebelum selesai melewati pemungutan suara di halaman stasiun.

Akibat pelanggaran serius terhadap peraturan pengoperasian ini, gerbong terakhir kereta api tahun 1611 berjalan di atas dua pasang rel, kemudian tergelincir dan bertabrakan dengan tiang listrik di dekat perlintasan rel di halaman stasiun. Selain itu, bensin bocor dari tangki bahan bakar pada saat terbalik, dan percikan api diduga dihasilkan oleh gesekan antara bodi mobil dan pemberat atau korsleting pada kabel listrik memicu bahan bakar yang bocor dan badan mobil terbakar.

Penyebab kerusakan tangki bahan bakar bukan karena terguling, tetapi karena sambungan poros baling-baling yang menyalurkan tenaga ke roda saat roda berjalan di atas batu paving saat keluar jalur bersentuhan dengan tangki bahan bakar. Badan mobil kendaraan kecelakaan itu tenggelam karena beban penumpang yang berdesakan, sehingga persendiannya mudah bersentuhan.

Selain itu, kota ini juga terkena hembusan angin barat yang kuat dari Teluk Osaka , dan dalam sekejap api menjadi lebih kuat dan kendaraan terbakar. Dipastikan pada saat penanganan kecelakaan, 181 orang tewas terbakar dan delapan orang termasuk kondektur tewas di Rutan, yang mengakibatkan total 189 orang tewas dan 69 luka berat dan ringan.

Baca juga: Hari ini 31 Tahun Lalu, Terjadi Kecelakaan Kereta Terbesar di India, Tewaskan 140 Orang!

Insiden ini merupakan kecelakaan dengan jumlah korban jiwa terparah dalam sejarah kecelakaan kereta api di Jepang yang tercatat secara akurat hingga saat ini. Karena Jalur ini adalah jalur penting militer, pekerjaan restorasi setelah kecelakaan berlangsung dengan cepat, dan tidak hanya staf Kementerian Perkeretaapian tetapi juga pekerja pabrik di sekitar stasiun dimobilisasi pada siang hari pada hari terjadinya kecelakaan.

Hari ini, 138 Tahun Lalu, Carl Benz Patenkan Mobil Berbahan Bakar Bensin yang Jadi Cikal Bakal Mobil Modern

Siapa yang tak kenal dengan Carl Benz? Dia adalah seorang pendiri mobil mewah saat ini yakni Mercedes-Benz. Ternyata, Carl Benz juga merupakan orang yang mematenkan mobil berbahan bakar bensin pertama. Mobil berbahan bakan bensin ini dipatenkan pada 29 Januari 1886 atau 138 tahun silam.

Baca juga: 123 Tahun Lalu, Rusia Pertama Kali Pamerkan Mobil Produksi Perdana ke Publik

Carl Benz mendapatkan hak paten tersebut setelah mengajukan permohonan dan hak paten yang bisa dikatakan sebagai akte atau tanda kelahiran mobil saat ini. Benz-Patent Motorwagen merupakan mobil dengan tiga roda dan dapat mengangkut dua orang termasuk pengemudinya. KabarPenumpang.com menghimpun berbagai laman sumber, mobil ini menggunakan mesin 4 tak yang diletakkan di antara roda belakang.

Carl Benz pemilik hak paten mobil berbahan bakar bensin pertama

Di mana daya disalurkan menggunakan dua rantai rol pada poros belakang. Carl Benz diketahui menyelesaikan Benz-Patent Motorwagen pada 1885. Motorwagen pertama ini menggunakan mesin berkubikasi 954 cc dengan pengapian koil. Mesinnya menghasilkan daya 2/3 hp pada 250 rpm, tetapi saat dites Universitas Mannheim, dayanya bisa mencapai 0,9 hp pada 400 rpm.

Pada saat itu, mesinnya dapat dikatakan sangat ringan karena hanya berbobot 110 kg. Sebuah flywheel horizontal digunakan untuk menstabilkan keluaran daya dari mesin. Sementara itu, sebuah karburator dikendalikan oleh sleeve valve untuk mengatur daya dan kecepatan mesin.

Mobil ini memiliki desain bak mesin terbuka, katup intake yang dapat digeser katup pembuangan yang dioperasikan oleh cakram cam, pelatuk klep dan pushrod, serta menggunakan sistem pelumasan tetes. Dalam segi penggerak, Motorwagen menggunakan roda yang berukuran sangat besar.

Roda yang digunakan berjumlah tiga buah dengan kedua roda belakang terpasang secara horizontal pada sasis. Hal ini bertujuan untuk mencegah efek girospik dari pemasangan secara vertikal yang nantinya akan mengganggu kemudi dan stabilitas kendaraan. Namun, masalah utama Motorwagen adalah kapasitas bahan bakar yang menjadi kekurangan dari mobil ini.

Baca juga: Hari ini, 80 Tahun Lalu, Henry Ford Meluncurkan Mobil dengan Panel Plastik

Sebab untuk setiap 200 km perjalanan dibutuhkan sepuluh liter bensin agar mobil ini tetap melaju. Untuk diketahui, kehadiran Benz-Patent Motorwagen pada awalnya tidak mendapat sambutan besar dan sempat ditertawakan saat uji coba karena menabrak tembok. Bahkan sangat sulit untuk dikendalikan.