Jadi Simbol Konflik Israel-Palestina, Inilah Sejarah Panjang Bandara Ben Gurion di Tel Aviv

Sebagai bandara internasional satu-satunya di Israel yang melayani keluar masuk pelancong ke Negeri Yahudi, maka Bandara Ben Gurion di Tel Aviv tak pelak menjadi target favorit pada setiap serangan yang dilancarkan lawan-lawan Israel. Sebagai lanjutan dari serangan akbar milisi Hamas pada 7 Oktober lalu, maka hari Senin (9/10/2023), Ben Gurion diwartakan mendapatkan serangan roket dari Hamas.

Baca juga: Roket Hamas Serang Ben Gurion, Bandara Utama Israel dengan Pengamanan Paling Ketat di Dunia

Terlepas dari sepak terjang dan status Ben Gurion, yang juga dikenal sebagai bandara dengan pengamanan paling kekat di dunia, maka menarik untuk mengintip sejarah bandara yang menjadi markas maskapai El Al ini.

Bandara Ben Gurion (kode IATA: TLV, ICAO: LLBG), pertama kali dibuka pada tahun 1936 di sebuah lokasi yang berdekatan dengan kota Tel Aviv dengan nama Bandara Sde Dov. Namun, saat Perang Arab-Israel pada tahun 1948, bandara tersebut ditutup karena kekhawatiran akan serangan militer.

Pada tahun 1948, bandara dipindahkan ke lokasi yang sekarang dikenal sebagai Bandara Internasional Ben Gurion, terletak di antara Tel Aviv dan kota Lod (Lod adalah bentuk Ibrani dari Lydda, nama sebelumnya untuk kota tersebut). Bandara Ben Gurion mengalami pembangunan dan pengembangan berkelanjutan selama bertahun-tahun. Fasilitas ini ditingkatkan dan diperluas untuk mengakomodasi pertumbuhan trafik udara dan kebutuhan pengguna bandara.

Pada tahun 1973, bandara ini diubah namanya menjadi Bandara Internasional Ben Gurion, untuk menghormati David Ben Gurion, salah satu pendiri negara Israel dan Perdana Menteri pertama Israel. Ben Gurion memiliki peran strategis dalam konektivitas internasional dan adalah pintu gerbang utama bagi wisatawan yang datang ke Israel. Bandara ini juga memiliki peran penting dalam keamanan dan pemantauan terhadap semua penerbangan yang masuk dan keluar dari negara tersebut.

Selama bertahun-tahun, Bandara Ben Gurion juga menjadi target beberapa serangan teroris. Karena itu, Israel telah mengembangkan salah satu sistem keamanan bandara yang paling ketat di dunia. Hal ini tak bisa dikesampingkan bahwa Bandara Ben Gurion telah menjadi simbol dalam konflik Israel-Palestina dan perang-perang di Timur Tengah.

Fasilitas Terminal
Bandara Ben Gurion memiliki dua terminal penumpang utama:
Terminal 3 (T3) sebagai terminal utama untuk penerbangan internasional. Ini adalah terminal yang modern dan dilengkapi dengan fasilitas modern, termasuk toko-toko, restoran, dan fasilitas kenyamanan lainnya. T3 adalah tempat kedatangan dan keberangkatan untuk banyak penerbangan internasional.

Terminal 1 (T1) sebagian besar digunakan untuk penerbangan domestik dan beberapa penerbangan internasional ke tujuan regional. Ini adalah terminal yang lebih kecil dan lebih tua dibandingkan dengan T3.

Baca juga: Ikuti Langkah di Tepi Barat, Israel Siap Perluas Bandara Ben Gurion

Bandara Ben Gurion memiliki dua landasan pacu utama, yakni landasan pacu 08/26 dengan panjang 3.660 meter dan landasan pacu 12/30 dengan panjang 4.000 meter. Ben Gurion dimiliki dan dioperasikan oleh Otoritas Bandara Israel (Israel Airports Authority), yang mengelola dan mengoperasikan bandara-bandara utama di Israel.

Roket Hamas Serang Ben Gurion, Bandara Utama Israel dengan Pengamanan Paling Ketat di Dunia

Buntut dari serangan roket besar-besaran Hamas ke wilayah Israel pada 7 Oktober lalu terus berlanjut. Serangan balasan dari Israel ke wilayah Palestina, pada Senin pagi ini direspon milis Hamas dengan melakukan penembakan roket lanjutan ke Israel. Namun, ada klaim dari Hamas yang menyatakan serangan terbarunya telah menyasar ke Bandara Internasional Ben Gurion, yang terkenal sebagai bandara sipil dengan pengamanan paling kekat di dunia.

Baca juga: Ben Gurion, Bandara Paling Aman dengan Standar Keamanan Tertinggi di Dunia

Dikutip dari Kantor Berita Turki Anadolu Agency – aa.com.tr (9/10/2023), sayap militer Hamas, Brigade Izzeddin al-Qassam, mengaku bertanggung jawab pada Senin pagi atas serangan roket di Bandara Internasional Ben Gurion Israel di Tel Aviv. Brigade Al-Qassam mengumumkan di Telegram bahwa mereka melancarkan serangan roket ke bandara tersebut sebagai tanggapan atas serangan Israel yang sedang berlangsung terhadap warga sipil di Gaza.

Pernyataan itu juga menekankan bahwa sebagai bagian dari Operasi Banjir Al-Aqsa, 100 roket ditembakkan ke kota Ashkelon di Israel selatan.

Sementara itu, militer Israel mengumumkan bahwa sirene telah dibunyikan di wilayah tengah negara itu, termasuk Greater Tel Aviv. Channel 12 Israel mengkonfirmasi bahwa banyak roket telah ditembakkan dari Gaza menuju Ashkelon.

Sejauh ini, pihak Israel belum mengkonfirmasi serangan terhadap Bandara Ben Gurion atau apakah ada roket yang berdampak pada kerusakan atau korban jiwa.

Ben Gurion yang terletak di kota Tel Aviv adalah satu-satunya bandara internasional di Israel, tanpa Ben Gurion maka jalur transportasi udara dari dan ke Israel bakal terputus. Karena intensitas konflik yang tinggi dengan negara-negara lain di Timur Tengah, maka wajar jika bandara ini tak disasar untuk kenyamanan wisatawan.

Baca juga: Lucu! Ada Keledai Nyasar ke Bandara Internasional Ben Gurion

Alih-alih menawarkan pelayanan dan kenyamanan, otoritas Ben Gurion justru menerapkan sisem dan prosedur keamanan plus plus, tak hanya bagi calon penumpang, prosedur keluar masuk barang dan kargo pun harus melewati sterilisasi bertingkat. Bahkan yang menyebut pengamanan tertutup (intelijen) jauh lebih besar ketimbang pengamana terbuka di bandara ini.

Pernah Dengar Cara Kerja Radar Cuaca di Pesawat? Simak Di Sini Jika Belum

Seiring perkembangan teknologi, pesawat nyaris bisa terbang mandiri tanpa terlalu bergantung pada kru di darat. Sebab, berbagai teknologi yang dahulu hanya ada di darat, kini sudah tersedia di pesawat. Salah satunya radar cuaca.

Baca juga: Pernah Dengar Seberapa Tebal Kaca Pesawat? Simak Di Sini Jika Belum

Dilansir whyfiles.org, radar merupakan singkatan dari Radio Detection And Ranging. Radar pertama kali ditemukan pada masa Perang Dunia II untuk mendeteksi pesawat. Saat ini, radar sudah menjadi barang wajib di pesawat, bukan pesawat sipil, melainkan pada pesawat tempur untuk menemukan pesawat musuh. Adapun di pesawat sipil, hanya terpasang radar untuk mendeteksi cuaca (weather radar). Dengan adanya radar ini, pilot dapat melihat cuaca yang ada di depan pesawat secara aktual.

Cara kerja radar sebetulnya cukup simpel, memancarkan gelombang melalui transmitter dan menerima kembali pancaran yang dipantulkan objek melalui receiver; mirip seseorang yang berteriak di dalam gua. Suara keluar dari mulut, lalu gelombang dipantulkan dinding gua dan diterima kembali oleh telinga. Secara umum, kinerja radar didukung oleh lima komponen, mulai dari antena radar, antena drive, radar transceiver, radar control panel, dan layar display.

Dikutip dari skybrary.aero, antena radar berfungsi untuk memancarkan dan menangkap gelombang elektromagnetik (gelombang radio). Antena radar di pesawat berbentuk piringan datar (flat plate). Gerakan antena, dikontrol oleh antena drive. Dengan begitu, radar bisa digerakkan sesuai kebutuhan, baik secara horizontal atau kanan-kiri maupun vertikal atau atas-bawah sampai ke daratan sekalipun. Agar lebih jelas, jangkauan gerakannya bisa dilihat dari ilustrasi pada gambar di bawah.

Ilustrasi jangkauan gelombang elektromagnetik radar cuaca. Foto: Google Sites

Menggerakkan antena terkadang penting dilakukan untuk mengukur seberapa kuat dan tinggi cakupan hujan, badai, awan cumulonimbus yang mengandung petir dan hawa dingin serta kristal es. Antena dan antena drive umumnya terletak di nose radome atau di hidung pesawat. Oleh sebab itu radome dibuat dari bahan komposit yang dapat ditembus gelombang radio.

Transceiver adalah komponen yang berfungsi untuk memproduksi gelombang elektromagnetik yang akan dipancarkan oleh antena (transmitter). Gelombang yang dipancarkan transmitter mampu menjangkau sejauh 592 km dengan beamwidth mencapai 8 ribu kaki.

Selain itu, transceiver juga berfungsi untuk menerima dan mengolah gelombang elektromagnetik yang dipantulkan oleh objek (receiver). Transceiver merupakan otak dari sistem radar di pesawat terbang. Transceiver terhubung dengan control panel dan perangkat display di pesawat.

Sistem radar di pesawat terhubung dengan sistem display di kokpit pesawat. Kondisi cuaca yang ditangkap oleh radar akan ditampilkan di navigation display. Kondisi cuaca ditampilkan dalam empat warna yang berbeda; hijau, kuning, merah, dan magenta. Tiap warna menggambarkan kondisi cuaca yang berbeda. Hijau untuk kondisi cuaca yang ringan, kuning untuk sedang, merah untuk berat, dan magenta untuk turbulensi.

Baca juga: Pernah Dengar PBE? Inilah Andalan Pilot dan Pramugari Saat Terjadi Kebakaran di Pesawat

Tampilan radar cuaca untuk kebanyakan sistem adalah dalam dua dimensi. Hanya tampilan dalam sumbu horizontal saja. Namun sekarang juga sudah dikembangkan radar cuaca yang dapat memberikan kondisi cuaca dalam tiga dimensi, yaitu dalam sumbu horizontal dan sumbu vertikal.

Selain itu, radar doppler yang saat ini digunakan pesawat kebanyakan juga mampu mendeteksi pola hujan melalui tetesan dengan lebih baik. Beberapa radar cuaca pesawat juga mampu memprediksi arah pergeseran angin untuk menjadi warning terjadinya hujan.

Kereta Api di Indonesia Masih Suka Telat, Ini Penyebabnya!

Siapa sih yang mau jika naik transportasi perjalanannya sering telat termasuk kereta api? Padahal sudah bersiap – siap lebih awal berangkat dari rumah untuk menjalankan aktifitas dan mengatur waktu agar tidak terlambat diperjalanan. Tapi ternyata diluar dugaan, tetap saja terjebak dan akhirnya terlambat. Keterlambatan yang terjadi biasanya terdapat hal yang tidak diduga. Seperti adanya perbaikan jalan, kecelakaan, mogok pada kendaraan, cuaca buruk dan lain sebagainya.

Baca juga: Kembali Terjadi di Jepang, Kereta Berangkat Lebih Cepat dari Jadwal

Jika dilihat, transportasi kereta api di Indonesia ternyata masih ada saja keterlambatan. Di negara lain bahkan yang maju sekalipun keterlambatan khususnya kereta api juga masih terjadi walaupun tidak sering yang dibayangkan. Di beberapa negara maju penerapan SOP dari perusahaan kereta api yang diutamakan adalah disiplin. Baik itu disiplin kerja maupun disiplin waktu. Jika melanggar, sanksi ringan sampai berat diberikan. Sama halnya perusahaan kereta api di Indonesia juga menerapkan SOP yang sama tentang kedisiplinan. Lantas, mengapa keterlambatan pada perjalanan kereta api masih saja terjadi?

Faktor Keterlambatan Kereta Api yang Masih Terjadi
PT Kereta Api Indonesia (Persero) terus meningkatkan pelayanan terhadap penggunanya agar lebih terasa nyaman saat di perjalanan. Ketepatan waktu adalah hal utama yang harus dilakukan demi pelayanan terbaik. Namun, ada beberapa hal yang setidaknya diluar dugaan dari perjalanan kereta api, yang semestinya tepat waktu menjadi terlambat. Faktor tersebut meliputi perbaikan jalur kereta yang harus segera selesai dikerjakan membuat kecepatan menjadi terbatas, gangguan pada rangkaian kereta ataupun lokomotif sehingga harus menunggu perbaikan dan kejadian seperti cuaca ekstrem yang membuat kereta api tidak bisa melintas karena adanya jalur rawan bencana (longsor).

Tak hanya PT KAI yang terkadang mendapati hal yang tak terduga terjadi pada perjalanan kereta jarak jauhnya, namun kereta api lokal seperti PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) pun juga mengalami keterlambatan. Seperti adanya gangguan di perlintasan yaitu bencana banjir, kebakaran di sekitaran bantaran rel kereta api, kecelakaan di perlintasan sebidang, gangguan sarana KRL, serta adanya kereta inspeksi yang mengharuskan KRL mengalah untuk menunggu disusul. Hal yang tak diduga pasti saja terjadi sehingga keterlambatan juga kerap kali dirasakan penumpang.

Pihak PT KAI maupun PT KCI pastinya sudah berupaya semaksimal mungkin mencegah hal yang tidak diduga terjadi. Walaupun mengalami kejadian tersebut tim penolong segera cepat datang dan berupaya sesegera mungkin dapat teratasi agar penumpang kereta api terhindar dari keterlambatan parah.

Sesuai dengan jadwal kereta api yang tertera di aplikasi maupun di stasiun, perjalanan kereta api sudah dibuat sistem tepat waktu. Khususnya untuk perjalanan KRL, aplikasi yang bisa dilihat melalui ponsel membuat masyarakat bisa mengetahui posisi, datang dan tiba KRL yang akan mereka naiki. Namun, ada saja yang tidak akurat jadwalnya bahkan bisa keterlambatan pun terjadi.

Mengapa Sistem Kereta MRT Selalu Tepat Waktu?
Jika berkunjung ke stasiun Kereta MRT auranya sangatlah berbeda jika menggunakan KRL Jabodetabek. Ini karena MRT menggunakan sistem perjalanan yang sesuai dengan ketepatan waktu. Sama halnya yang diberlakukan PT KAI dan PT KCI, namun untuk PT MRT Jakarta jalur keretanya diperuntukan hanya untuk perjalanan Kereta MRT itu sendiri. Dan hingga saat ini, sedikit kemungkinan MRT mengalami kejadian seperti gangguan pada kereta.

Baca juga: Ketepatan Waktu Kereta India Mengalami Penurunan Akibat Faktor Keterlambatan

Ini membuktikan kenapa MRT selalu tepat waktu sesuai dengan jadwal perjalanan yang tersedia tiap stasiun. Sedangkan untuk kereta api selain MRT, jalur yang digunakan menjadi satu. Dalam satu jalur yang dilewati kereta api haruslah berganti. KRL, lokomotif, KRD, kereta mekanik, sampai lori inspeksi turut melewati jalur yang sama. Dan semuanya bergantian. Maka dari itu, pihak pegawai yang bertugas selalu menyusun jadwal perjalanan kereta api agar tidak bentrok dan menghindari keterlambatan agar tidak terjadi penumpukan penumpang khususnya di jalur komuter. (PRAS – Cinta Kereta Api)

Pernah Berpikir untuk Membuka Pintu Pesawat Saat di Udara? Mustahil!

Belum lama ini, seorang penumpang bikin heboh seisi pesawat Wings Air rute Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan, Balikpapan, Kalimantan Timur (BPN) – Bandara Robert Atty Bessing, di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara (LNU), setelah dirinya membuka pintu darurat pesawat.

Baca juga: Kaca di Kokpit Mendadak Pecah, Kopilot Sichuan Airlines Nyaris Terkena Dekompresi

Terlepas dari apapun motifnya, peristiwa tersebut terjadi (pasti) saat pesawat belum berada di ketinggian maksimal. Faktanya memang seperti itu. Dalam kejadian Wings Air dengan nomor penerbangan IW-1478 tersebut, penumpang dengan inisial PMP (30) membuka pintu darurat sesaat sebelum pesawat lepas landas. Lantas, bagaimana bila PMP (bila berandai-andai) kala itu membuka pesawat Wings Air tersebut saat pesawat berada di udara? Jawabannya, menurut ilmu fisika, hal tersebut mustahil terjadi.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman businessinsider.com, Kamis, (13/2), sebuah pesawat saat mengudara, pada umumnya berada di ketinggian sekitar 3.600 – 1.0000 meter di atas permukaan laut (mdpl). Banyak faktor yang mendasari mengapa pesawat berada di ketinggian tersebut, seperti menghindari kawanan burung (jenis tertentu bisa terbang maksimal di ketinggian 4.500 meter) hingga mengejar efisiensi bahan bakar. Pasalnya, semakin tinggi pesawat, semakin rendah tekanan udara di luar sehingga pesawat tak memerlukan tenaga ekstra untuk meluncur di airways.

Terkait konteks membuka pintu darurat atau pintu utama, pada ketinggian tersebut (3.600 – 1.0000 mdpl), pesawat mendapatkan tekanan besar dari luar, sekitar 10,8 ton. Sebaliknya, bila seseorang ingin membuka pintu pesawat saat di udara, baik secara sengaja maupun tidak, orang tersebut harus mempunyai kemampuan untuk mengangkat beban setara 10,8 ton tadi, barulah kemungkinan pintu pesawat dibuka saat di udara menjadi lebih besar.

Akan tetapi, bila pintu pesawat tersebut benar-benar bisa dibuka, maka, sudah pasti, orang yang membuka tersebut akan tertarik dan terlempar keluar dalam hitungan sepersekian detik sejak pintu dibuka. Hal tersebut diakibatkan adanya perbedaan tekanan udara di dalam dan di luar pesawat sehingga menciptakan ruang hampa di antaranya atau biasa disebut dekompresi eksplosif.

Saat hal tersebut terjadi, dekompresi eksplosif akan terus berlangsung dan menyedot apapun dengan kuat dan cepat hingga tekanan udara pesawat dan luar pesawat cocok. Selama masa pencocokan tersebut, secara teori, pesawat masih dapat terus mengudara hingga 15 menit. Selebihnya, pesawat akan kehilangan ketinggian dan menukik tajam dari ketinggian dengan kecepatan hingga 600 kilometer per jam.

Baca juga: Berakibat Fatal, Pintu Pesawat Terbuka (Lepas) Saat Mengudara

Gambaran seperti itu sebetulnya pernah terjadi di dunia penerbangan komersil, tepatnya pada tahun 1988. Kala itu, maskapai Aloha Airlines yang menggunakan pesawat Boeing 737 N73711 mendarat darurat setelah lepasnya sepertiga atap di bagian belakang kokpit pesawat. Akibatnya, pesawat mengalami dekompresi eksplosif dan membuat pesawat kehilangan gaya angkat.

Di samping itu, dekompresi eksplosif juga membuat seorang pramugari tersedot keluar pesawat dengan cepat dan terlempar entah kemana. Hingga saat ini jasadnya belum juga ditemukan sekalipun diduga kuat berada di lautan Pasifik dekat Hawaii. Adapun penumpang lainnya selamat atau tidak terlempar keluar karena menggunakan safety belt.

Kenapa Ujung Sayap Pesawat Boeing 787 Dreamliner Tidak Menekuk? Ini Jawabannya

Terlepas dari fitur kelenturan sayapnya yang canggih, Boeing 787 Dreamliner memiliki wingtip atau ujung sayap yang tak seperti kebanyakan pesawat modern lain berupa winglet, baik itu winglet bercabang atau split-tip winglet seperti Boeing 737 MAX atau blended winglet seperti Airbus A350. Kenapa demikian?

Baca juga: Heboh Fitur Folding Wingtip di Boeing 777X, Apa Sih Bedanya Winglet dan Wingtip?

Jawaban atas pertanyaan itu tentu tidak mudah. Tetapi, tidak pula terlalu sulit sehingga tidak bisa dijawab.

Dilansir dari berbagai sumber, Boeing 787 Dreamliner memang memiliki wingtip yang rata. Tetapi, perlu dicatat bahwa sayap pesawat tersebut saat dalam keadaan netral alias tidak terbang lurus tanpa tertekuk. Namun saat di udara, mulai dari nacelle sampai ke wingtip menekuk sampai 10 kaki. Saat cruising di udara, sayap kembali menekuk maksimal sampai 20 kaki dari posisi normal.

Saat dalam keadaan tertekuk 10 – 20 kaki dari posisi normal, sebetulnya, efek putaran udara (vortex) pada bagian ujung sayap yang dihasilkan Boeing 787 Dreamliner nyaris sama dengan winglet pesawat lain. Bahkan lebih efektif dalam melawan hambatan udara dan membuat kinerja pesawat menjadi lebih ringan dan bahan bakar lebih irit.

Sebagaimana yang umum diketahui, pesawat bisa terbang disebabkan oleh adanya empat gaya. Gaya thrus (gaya dorong), lift (gaya angkat), weight (gaya berat), dan drag (gaya ke belakang atau menarik mundur). Namun, semua gaya untuk membuat sebuah pesawat dapat terbang akan sia-sia bila tida ada sayap. Sebab, komponen utama pesawat terbang yang menghasilkan gaya angkat adalah sayap.

Prinsip kerja sayap sendiri adalah udara yang mengalir di bawah sayap lebih lambat daripada di bagian atasnya dikarenakan jalur yang dilewati udara di atas sayap lebih jauh, perbedaan kecepatan tersebut menghasilkan perbedaan tekanan yaitu tekanan di bawah sayap lebih tinggi dari pada tekanan di atas sayap, yang mana mengakibatkan pesawat terangkat ke atas.

Tentu saja kita telah sama-sama ketahui bahwa udara mengalir dari tekanan rendah ke tekananan tinggi, misalkan balon yang kita tiup akan menyemburkan udaranya keluar ketika kita lepaskan karena tekanan di dalam balon lebih tinggi dari tekanan luar balon.

Hal tersebut juga terjadi pada perbedaan tekanan antara bagian bawah dan atas sayap, tepatnya terjadi pada ujung sayap. Aliran udara dari bawah ke atas sayap pada ujung sayap menghasilkan aliran udara yang berputar dengan cepat pada ujung sayap yang disebut juga dengan tip vortex. Aliran ini dapat meningkatkan drag pada sayap, menurunkan gaya angkat dan mengganggu aliran udara.

Guna menghindari terjadinya hal tersebut, ujung sayap dibuat berbelok ke atas dan mengecil atau disebut juga dengan winglet.

Winglet berfungsi untuk meredam putaran udara (vortex) pada bagian ujung sayap yang disebabkan pertemuan udara bagian bawah sayap yang bertekanan tinggi dengan udara bagian atas sayap yang bertekanan rendah yang menyebabkan terjadinya turbulensi.

Putaran udara ini juga menyebabkan pesawat membutuhkan energi yang lebih besar agar dapat stabil di udara, sehingga akan boros bahan bakar. Dengan adanya winglet, bahan bakar pesawat bisa diirit hingga 7 persen, jumlah yang cukup besar untuk pesawat yang melakukan perjalanan long distance.

Ketika mereka mendesain Boeing 787 Dreamliner, Boeing memunculkan desain ujung sayap yang melengkung. Bentuk ini mirip dengan winglet dan meningkatkan rasio aspek sayap yang bisa menghentikan pusaran di ujung sayap.

Desain ujung sayap yang melengkung juga memungkinkan Boeing 787 Dreamliner menggunakan landasan pacu lebih pendek saat lepas landas. Pesawat ini juga mampu mendaki lebih curam.

Baca juga: Gunakan Scimitar Winglet, Boeing Maksimalkan Efisiensi Bahan Bakar

Sementara ujung sayap standar dapat mengurangi hambatan sebanyak 4,5 persen, desain clean sheet dapat menguranginya hingga 5,5 persen.

Meski peningkatannya cuma satu persen, ujung sayap clean sheet hanya berfungsi maksimal pada pesawat yang besar dan jauh lebih ekonomis pada pesawat yang lebih kecil seperti Boeing 737 atau Airbus A320.

British Airways Luncurkan Seragam Baru untuk Pilot, Awak Kabin, dan Staf Bandara, Terbuat dari Bahan 90% Ramah Lingkungan

Penumpang maskapai plat merah asal Inggris, British Airways (BA) kini dapat mengamati staf maskapai yang berhadapan langsung dengan pelanggan, termasuk awak kabin, pilot, dan tim bandara, dengan mengenakan koleksi seragam baru yang segar dan ikonik.

Baca juga: British Airways Terbitkan Pedoman Bermedia Sosial, Pilot dan Awak Kabin Dilarang Buat Konten Saat Berseragam

Koleksi ini dibuat dengan cermat oleh Ozwald Boateng OBE, seorang perancang busana dan penjahit ulung berkebangsaan Inggris-Ghana, dengan keterlibatan aktif lebih dari 1.500 kolega dari berbagai aspek bisnis. Keterlibatan ini mencakup seluruh proses, meliputi lokakarya desain, penilaian prototipe, dan uji coba pemakai.

Koleksi Boateng memadukan gaya dan fungsionalitas, terdiri dari 96 pakaian berbeda yang mengesankan, menandai pilihan terlengkap yang pernah ditawarkan maskapai ini kepada personelnya.

Untuk awak kabin wanita dan staf bandara, pilihan mencakup seperti gaun, rok, setelan celana panjang, dan, di maskapai penerbangan pertama, jumpsuit yang anggun. Sementara itu, untuk awak kabin pria menampilkan setelan jas tiga potong yang ramping dengan pilihan celana panjang slim atau regular

British Airways telah memproduksi 850.000 item seragam dalam prestasi luar biasa untuk mengakomodasi lebih dari 30.000 karyawannya.

Calum Laming, Chief Customer Officer British Airways, mengungkapkan antusiasmenya terhadap tahap akhir peluncuran seragam baru yang dirancang untuk lebih dari 30.000 rekan kerja. Ia mencatat bahwa koleksi penuh gaya dan kontemporer ini menawarkan lebih banyak pilihan kepada karyawan, memungkinkan mereka mengekspresikan kepribadian unik mereka saat bekerja. Laming menekankan peran penting staf British Airways dalam mewakili merek dan kepedulian terhadap pelanggan, menjadikan peluncuran ini sebagai perayaan dedikasi mereka.

Seragam maskapai penerbangan ini menampilkan bahan dan pola khusus di seluruh ansambelnya. Khususnya, setelan tersebut, yang merupakan komponen utama dari pakaian yang menghadap pelanggan, dibuat dari kain jacquard yang menampilkan penghormatan halus terhadap warisan maskapai penerbangan, dengan pola yang mengingatkan pada merek speed marque yang ikonik.

Selain itu, syal dan dasi menggunakan desain gelombang udara yang terinspirasi oleh aliran udara di atas sayap pesawat, yang berfungsi sebagai elemen khas dari seragam tersebut.

Keberlanjutan telah memainkan peran penting dalam pengembangan seragam baru British Airways, selaras dengan komitmen maskapai ini terhadap “BA Better World.” Lebih dari 90% pakaian dibuat dari bahan ramah lingkungan, termasuk campuran poliester daur ulang.

Baca juga: Keren, Seragam Baru Pramugari EasyJet Dibuat dari Botol Plastik Daur Ulang

Selain itu, kapas yang digunakan dalam seragam baru ini bersumber dari ‘Better Cotton Initiative’, yang merupakan program keberlanjutan kapas terkemuka di dunia. Inisiatif ini bertujuan untuk mendukung komunitas kapas, mempromosikan perlindungan lingkungan, dan mendorong keberlanjutan dalam produksi kapas.

Hari Ini, 92 Tahun Lalu, Penerbangan Non-Stop Trans-Pasifik Pertama di Dunia Terjadi

Pada hari ini, 92 tahun lalu, bertepatan dengan 5 Oktober 1931, penerbangan Trans-Pasifik pertama di dunia terjadi. Ketika itu, Clyde Pangborn dan Hugh Herndon Jr. terbang dari Jepang menuju Amerika Serikat (AS). Setelah 41 jam lebih di udara, pesawat yang ditumpangi keduanya mendarat dengan selamat di dekat Wenatchee, Washington, AS.

Baca juga: Terbang Solo Keliling Dunia, Gadis Remaja 19 Tahun Berharap Pecahkan Rekor

Dikutip dari Wired.com, penerbangan Trans-Pasifik ini didasari setidaknya dua hal, bukan semata kecintaan Clyde Pangborn dan Hugh Herndon Jr. di dunia dirgantara.

Disebutkan, di awal atau pertengahan tahun 1931, sebuah surat kabar Jepang menjanjikan hadiah sebesar US$25.000 (senilai sekitar US$360.000 jika dihitung hari ini) atau sekitar Rp 5 miliar lebih (kurs 14.267).

Ketika itu, banyak aviator di seluruh dunia yang tertarik memperebutkannya. Tetapi, tak banyak yang sampai menjajal tantangan tersebut. Salah satu yang mencobanya ialah pasangan Clyde Pangborn dan Hugh Herndon Jr.

Clyde Pangborn, yang kondang dikenal sebagai instruktur penerbangan AS selama Perang Dunia I, sebetulnya sama sekali tak berniat untuk melakukan penerbangan trans-pasifik pertama. Sebab, itu cukup berisiko. Terlebih, di dekade 20-an, ia sudah nyaman berkarir sebagai motivator dan keliling berbagai negara.

Namun, di penghujung dekade 20-an, terjadi perubahan arah pasar. Alhasil, posisinya sebagai motivator tak lagi menjanjikan. Terlebih, bisnisnya di bidang aviasi juga hancur karenanya.

Sempat bingung menata hidup, ia pun akhirnya bertemu dengan Hugh Herndon Jr, pilot sekaligus seorang pengusaha.

Usai berdiskusi, keduanya memutuskan untuk terbang keliling dunia dan memecahkan rekor keliling dunia yang saat itu dipegang oleh Zeppelin Jerman. Motivasinya dalam memecahkan rekor makin memuncak ketika Wiley Post, pilot pertama yang terbang solo keliling dunia, berhasil menyita perhatian berkat keberhasilannya.

Puncak motiviasi Clyde Pangborn dan Hugh Herndon Jr. terbang non-stop keliling dunia terjadi setelah adaya sebuah surat kabar di Jepang yang menjanjikan hadiah besar bagi siapapun yang berhasil terbang melintasi pasifik non-stop. Setelah persiapan selesai, penerbangan pun dimulai.

Pada 4 Oktober waktu Jepang, pesawat Bellanca Skyrocket lepas landas dari Misawa, Utara Tokyo. Pesawat kecil single engine yang banyak dimodifikasi ini dibekali dengan bahan bakar sebanyak 930 galon. Ini diperkirakan cukup andai cuacanya normal. Sebaliknya, bila terjadi cuaca buruk terlampau sering, bahan bakar segitu diperkirakan tak akan cukup.

Untuk itu, keduanya memutuskan melepas landing gear saat dalam perjalanan. Dengan cara ini, pesawat diharapkan lebih ringan, lebih aerodinamis, 15 mil lebih cepat, dan memiliki jangkauan 600 mil lebih jauh dibanding menggunakan landing gear.

Sepanjang perjalanan, memang terdapat beberapa kendala, tetapi itu tak terlalu membuat keduanya kesulitan.

Setelah 40 jam terbang, Clyde Pangborn dan Hugh Herndon Jr. berhasil melintasi pantai barat AS. Sampai di sini, mereka sebetulnya sudah berhasil melakukan penerbangan trans-pasifik non-stop pertama di dunia.

Baca juga: Inilah Rutan Model 76 Voyager, Pesawat Pertama yang Keliling Dunia Tanpa Mengisi Bahan Bakar

Tak puas, keduanya memutuskan untuk terus terbang ke arah timur sampai ke negara bagian Idaho. Sayangnya, kabut menghadang dan pesawat dibawa putar balik menuju pantai barat. Setelah berpikir mencari tempat pendaratan belly landing yang pas, diputuskan pesawat mendarat di Wenatchee, Washington.

Tepat pukul 7 pagi pada tanggal 5 Oktober, pesawat yang juga disebut Miss Vendol ini berhasil mendarat dengan selamat dan resmi memecahkan rekor dunia untuk kategori penerbangan trans-pasifik non-stop pertama di dunia.

 

Vietjet Umumkan Lima Rute Baru Penerbangan Internasional, dari Australia Hingga Taiwan

Vietjet, maskapai penerbangan swasta terbesar di Vietnam secara resmi mengumumkan peluncuran 5 layanan penerbangan internasional terbaru dari Vietnam menuju ke Australia, Korea Selatan, Hong Kong, dan Taiwan, sebagai bagian dari upaya untuk memperluas jaringan globalnya.

Baca juga: Vietjet dan Boeing Sepakati Pengiriman 12 Unit 737 Max Mulai Tahun 2024

Peluncuran lima rute baru ini merupakan bagian dari langkah strategis Vietjet dalam memperluas jaringan global, khususnya pada berbagai destinasi wisata unggulan internasional. Dengan dibukanya kelima rute penerbangan internasional tersebut diharapkan dapat memberikan lebih banyak beragam pilihan destinasi bagi para wisatawan dengan biaya yang lebih terjangkau.

Rute penerbangan Hanoi – Hong Kong akan dibuka pada 22 Desember 2023, dengan frekuensi penerbangan harian. Kini, para wisatawan dari Hong Kong akan dengan mudah terhubung ke berbagai destinasi utama di wilayah Vietnam Utara, Tengah, Selatan, seperti Hanoi, Da Nang, Ho Chi Minh City, dan Phu Quoc.

Phu Quoc, destinasi yang kini semakin populer dalam industri pariwisata Vietnam, juga menyambut kehadiran dua rute terbaru dari Vietjet: Phu Quoc – Busan dan Phu Quoc – Taipei. Vietjet akan mengoperasikan rute Phu Quoc – Busan setiap harinya yang dimulai dari tanggal 10 Desember 2023 mendatang. Sedangkan, untuk layanan penerbangan langsung antara Phu Quoc – Taipei akan tersedia mulai 17 Januari 2024, dengan empat kali penerbangan setiap minggunya, yaitu pada hari Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu.

Baca juga: Vietjet Tawarkan Tiket Mulai Rp900.000 dan Gratis Asurasi Perjalanan untuk Penerbangan dari Indonesia

Dalam langkah terbarunya, Vietjet juga memperluas jaringan penerbangan antara Vietnam dan Australia dengan memperkenalkan dua rute penerbangan baru dari Ho Chi Minh City ke Perth dan Adelaide yang akan beroperasi lima kali setiap minggu mulai 21 November 2023. Penambahan rute–rute baru ini menjadikan Vietjet sebagai maskapai penerbangan pertama dari Vietnam yang terhubung ke lima kota terbesar di Australia, yaitu Melbourne, Sydney, Brisbane, Perth, dan Adelaide.

Sambut MotoGP Mandalika 2023, Garuda Indonesia Group Tambah 6.200 Kursi Penerbangan ke Lombok

Garuda Indonesia bersama anak usahanya Citilink terus mengoptimalkan dukungannya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional khususnya pada sektor pariwisata yang salah satunya dilaksanakan dengan memastikan kesiapan transportasi udara jelang gelaran MotoGP Mandalika 2023 yang akan berlangsung pada tanggal 13-15 Oktober 2023 mendatang.

Baca juga: Pelabuhan Lembar, Pintu Masuk Utama Pelancong di Lombok Barat

Melalui optimalisasi kapasitas produksi dimana pada periode 12-17 Oktober 2023 Garuda Indonesia akan mengoperasikan sedikitnya 3.400 kursi tambahan pada penerbangan Jakarta – Lombok pp dan Citilink akan mengoperasikan sedikitnya 1.440 kursi tambahan pada penerbangan Jakarta – Lombok pp dan 1.360 kursi tambahan untuk penerbangan Denpasar – Lombok pp.

Adapun pengoperasian 6.200 kursi tambahan tersebut salah satunya akan dilaksanakan melalui pengoperasian 41 penerbangan tambahan dimana Garuda Indonesia Group akan menambah 2 penerbangan Jakarta – Lombok – Jakarta dan 4 penerbangan Denpasar – Lombok – Denpasar pada Kamis (12/10), 4 penerbangan Jakarta – Lombok- Jakarta dan 5 penerbangan Denpasar – Lombok – Denpasar pada Jumat (13/10), 4 penerbangan Jakarta – Lombok – Jakarta dan 5 penerbangan Denpasar – Lombok – Denpasar pada Sabtu (14/10), 4 penerbangan Denpasar – Lombok – Denpasar pada Minggu (15/10), 6 penerbangan Jakarta – Lombok – Jakarta dan 5 penerbangan Denpasar – Lombok – Denpasar pada Senin (16/10) dan 2 penerbangan pada hari Selasa (17/10).

Penerbangan tambahan tersebut sebagian besar akan dilayani menggunakan armada Garuda Indonesia Boeing 737-800 NG yang memiliki kapasitas total 162 penumpang dengan konfigurasi 12 kelas bisnis dan 150 kelas ekonomi dan Airbus A330-300 yang memiliki kapasitas sebanyak 286 penumpang dengan konfigurasi 23 kursi pada kelas bisnis dan 263 kursi ekonomi, sementara penerbangan Citilink akan dilayani dengan armada Airbus A320 yang memiliki kapasitas sebanyak 180 penumpang dan ATR 72-600 yang memiliki kapasitas sebanyak 70 penumpang.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra menyampaikan bahwa upaya optimalisasi kapasitas produksi dalam gelaran internasional kali ini merupakan wujud sinergi seluruh pihak serta menjadi bagian dari Garuda Indonesia Group sebagai maskapai pembawa bendera bangsa untuk turut mendukung kesuksesan Indonesia sebagai tuan rumah untuk kali kedua bagi ajang balap motor internasional ini.

“Kami memahami tingginya animo masyarakat atas gelaran internasional yang dilaksanakan di Indonesia, salah satunya penyelenggaraan MotoGP Mandalika ini. Karena itu, menjadi komitmen kami untuk memastikan kebutuhan akan kemudahan dan kelancaran mobilitas dari dan menuju Lombok dapat terpenuhi secara optimal, sehingga kami berharap langkah yang dilakukan ini secara tidak langsung membawa dampak berkelanjutan untuk kembalinya wisatawan mancanegara menuju Indonesia terutama Lombok yang menjadi satu dari lima Destinasi Pariwisata Prioritas (DPSP),” kata Irfan.

Selain dioperasikannya extra flight selama periode gelaran MotoGP Mandalika, Garuda Indonesia turut menyiapkan 4 (empat) pesawat berbadan lebar menggunakan armada Airbus A330-300 dan A330-900neo yang akan hadir pada Kamis (12/10), Jumat (13/10), Sabtu (14/10), dan Senin (16/10). Dengan berbagai upaya optimalisasi kapasitas produksi tersebut, selama periode 12-17 Oktober 2023 Garuda Indonesia menyiapkan sedikitnya 8.300 kursi penerbangan.

Irfan menambahkan bahwa mengingat tingginya minat masyarakat atas pelaksanaan gelaran tingkat dunia ini, Garuda Indonesia akan terus memantau pergerakan demand penumpang dan menyesuaikan dengan operasional penerbangan untuk memastikan kebutuhan akan aksesibilitas udara yang aman dan nyaman dapat terselenggara dengan optimal.

Baca juga: Lombok Akan Jadi Hub Ke-5 AirAsia di Indonesia

Saat ini Garuda Indonesia melayani penerbangan dari dan menuju Lombok melalui Jakarta yang dilayani 12 kali setiap minggunya dan Citilink melayani penerbangan dari dan menuju Lombok melalui Jakarta yang dilayani 12 kali setiap minggunya, melalui Denpasar yang dilayani 23 kali setiap minggunya dan melalui Surabaya yang dilayani 4 kali setiap minggunya.