Jadi Klaster Baru Corona, 9 Ribu Pekerja Bandara Changi Bakal Dites Covid-19

Otoritas Penerbangan Sipil Singapura (CAAS) dan Changi Airport Group (CAG) bergerak cepat usai ditemukan klaster baru di Bandara Changi. Sedikitnya, 9.000 pekerja bandara di Terminal 1, (Terminal 2 tidak beroperasi), Terminal 3, dan Jewel Changi Airport akan dites Covid-19. Itu dilakukan guna memutus penyebaran virus Corona.

Baca juga: Bandara Changi Geger, Petugas Kebersihan di Terminal 3 Positif Covid-19

Kendati sekitar 92 persen pekerja yang dites Covid-19 sudah divaksinasi sampai dosis kedua, namun, tes tetap dilakukan karena mereka tetap rentan tertular virus Corona.

Tak hanya itu, kebijakan tes Covid-19 juga berubah. Semula, seluruh pekerja sektor bandara dites Corona setiap 28 hari. Setelah klaster baru Corona muncul di bandara, para pekerja bandara akan dites setiap 14 hari.

Dilansir Channel News Asia, dalam keterangan pers bersama CAAS dan CAG selaku operator Bandara Changi, dalam 10 hari terakhir ada sekitar delapan kasus aktif virus Corona di bandara. Ini sebetulnya sudah lampu kuning bagi Singapura untuk meninjau kembali operasional bandara.

Akan tetapi, menurut Menteri Transportasi Ong Ye Kung, banyak konsekuensi jika bandara, termasuk juga pelabuhan, ditutup. Alhasil, karena Bandara Changi tetap beroperasi, maka tak ada pilihan lain kecuali menjaga garda terdepan untuk memastikan kelangsungan operasional bandara ke depan.

“Banyak yang dipertaruhkan jika pelabuhan dan bandara kami tidak dapat berfungsi. Satu implikasi yang jelas adalah jalur pasokan kami, dan kelangsungan hidup Bandara Changi di masa depan. Kami perlu melindungi garis depan kami untuk melindungi seluruh Singapura,” tulisnya, dalam sebuah postingan di Facebook.

“Lebih dari 95 persen (43.100) pekerja berisiko tinggi telah menerima vaksinasi. Ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa individu yang divaksinasi cenderung tidak terinfeksi, dan mengalami gejala yang parah,” lanjutnya.

“Tetapi infeksi baru-baru ini menunjukkan bahwa pekerja non-garis depan juga dapat berisiko. Jadi kami akan mendorong untuk memvaksinasi pekerja lain yang memenuhi syarat secara medis,” tutupnya.

Klaster virus Corona di Bandara Changi diketahui terjadi di beberapa titik, salah satunya Terminal 3. Di sini, setidaknya ada empat dari delapan kasus aktif klaster bandara. Karenanya, selain bakal di tes Covid-19, seluruh pekerja di terminal itu akan diliburkan terlebih dahulu selama 14 hari.

Tak hanya itu, saking antisipatifnya otoritas Singapura, basement 2 Terminal 3 juga ditutup sementara selama 14 hari untuk memberikan Kementerian Kesehatan melakukan investigasi epidemiologi. Itu karena, telah terjadi beberapa kontak antara petugas yang positif Covid-19 dengan pengunjung bandara.

Baca juga: Kalau ke Bandara Changi Jangan Lupa Coba Glamour Camping

Bila tak bergerak cepat untuk melacak siapa saja pengunjung tersebut, dikhawatirkan terjadi klaster baru Corona yang bersumber dari klaster bandara.

Tak hanya itu, seluruh karyawan gerai ritel di sekitar basement 2 Terminal 3 juga diwajibkan memiliki hasil negatif tes swab untuk bisa memulai kembali bekerja. Sudah begitu, ritel-ritel di sana hanya diizinkan melayani take away.

Punya Bunker, Inilah Kisah Balai Besar Bandung yang Menjadi Kantor Pusat PT KAI

Ketika menyusuri Jalan Perintis Kemerdekaan di Bandung, Anda akan melihat bangunan dengan pekarangan yang cukup luas. Bahkan di malam hari, lampu yang menyinari bangunan maupun sekitarnya tampak sangat elok dan membuat yang melihatnya berdecak kagum.

Baca juga: Daop 2 Bandung Batasi 50 Persen Okupansi Kereta Lokal dan Jarak Jauh

Ya, inilah Balai Besar Bandung atau yang kini dikenal dengan Kantor Pusat PT Kereta Api Indonesia (KAI). Penasaran dengan sejarah Balai Besar PT KAI ini? KabarPenumpang.com mencoba menelusurinya dan mendapatkan beberapa hal yakni, lokasi tersebut sebelum menjadi kantor pusat PT KAI adalah sebuah penginapan bernama Villa Maria.

Di mana dari peta yang dikeluarkan Biro Topografi Hindia Belanda tahun 1905, Villa Maria hanya berupa satu bangunan utama yang menghadap gerbang masuk atau kini adalah kantor Direktur Utama PT KAI. Kemudian, secara bertahap dimulai tahun 1916 perusahaan kereta api dan term Negara, Staatsspoor en Tramwegen (SS en Tr) mulai menempati bekas Villa Maria.

Kemudian, karena membutuhkan ruangan administrasi baru, bekas taman penginapan di bangun gedung tambahan sebagai kantor unit SS en TR tahun 1918. Setelah selesai semuanya Hoofdinspecteur (direktur utama) mulai pindah pada Agustus 1923 dan proses kepindahan selesai seluruhnya pada tahun 1924.

Pada kantor pusat PT KAI ternyata tak hanya bangunan untuk ruang administrasi, melainkan juga ada bunker bawah tanah. Bunker ini sendiri gunanya untuk tempat penyimpanan dokumen serta aset-aset perusahaan. Selain bunker, di Balai Besar ini juga ada Lokomotif TD01 dan Monumen Kenangan Hormat atau Monumen Pahlawan Kereta Api.

Monumen tersebut sebagai bentuk prasasti untuk mengenang para pekerja dan pahlawan yang telah gugur dalam menunaikan tugas dan dharma bakti terhadap nusa dan bangsa selama revolusi fisik (1945-1950). Pada 17 Agustus 1945 setelah Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, beberapa aset vital mulai di ambil alih, salah satunya adalah perkeretaapian.

Setelah sukses mengambil alih perkeretaapian di Jakarta, ribuan pekerja kereta api memenuhi Balai Besar Bandung sejak pagi hari tanggal 28 September 1945. Bersama dengan perwakilan dari Jakarta, beberapa pemuda yang ditunjuk massa di luar langsung masuk ke dalam ruangan pimpinan jawatan.

Pada 30 September 1945 bertempat di kantor pusat Bandung diadakan rapat pimpinan. Dalam rapat permusyawaratan antar perwakilan kantor daerah kereta api dari Jakarta, Semarang, dan Surabaya itu para perwakilan menyepakati membuat manajemen baru untuk menggantikan yang lama.

Baca juga: Hari ini, 52 Tahun Lalu, Kecelakaan Kereta di Ratu Jaya Depok Tewaskan 116 Penumpang

Dalam sebuah rapat paska pengambilalihan, di bangunan utama ini Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI) dibentuk oleh segenap karyawan kereta api pada 30 September 1945. Selain

Pertama di Dunia, Bandara Delhi Catat 1.000 Pergerakan TaxiBot! Hemat 214 Ribu Liter Avtur

Bandara Internasional Indira Gandhi (Delhi) mengoperasikan 1.000 TaxiBot atau towbarless tug semi-robotic, menjadikannya sebagai yang pertama di dunia. Tak seperti pushback traktor yang hanya mendorong mundur pesawat, Taxibot juga berfungsi untuk menarik pesawat dari apron menuju runway untuk lepas landas. Dengan begitu, pesawat tidak perlu menyalakan mesin untuk taxiing.

Baca juga: Lima Evolusi Wahana ‘Penderek’ Pesawat, Dari Mulai Tangan Kosong Sampai Teknologi Canggih

Kendati sepele, namun, penggunaan TaxiBot ini berhasil membawa dampak lingkungan yang cukup besar. Tercatat, 1.000 pergerakan TaxiBot sejak dua tahun lalu sampai saat ini berhasil mengurangi penggunaan bahan bakar jet atau Avtur hingga lebih dari 214 ribu liter, mengurangi lebih dari 532 ton emisi karbon dioksida.

Dilansir businessworld.in, sejak dua tahun lalu, Bandara Delhi memang sudah berkomitmen tinggi untuk mencari solusi hijau di industri penerbangan. Lewat program yang dinamakan green taxiing solution pada 2019, Delhi International Airport (DIAL) terus berkontribusi untuk mengurangi emisi karbon sektor transportasi udara dan terus berupaya untuk meningkatkannya, menuju zero emission atau bebas emisi pada 2030 mendatang.

“Penggunaan TaxiBot telah membantu mengurangi sekitar 532 ton karbon dioksida serta menghemat sekitar 214.000 liter Avtur, yang seharusnya dibakar oleh pesawat saat taxiing,” kata Videh Kumar Jaipuriar, CEO Bandara Delhi.

“Ini merupakan tonggak penting tidak hanya untuk DIAL tetapi juga untuk sektor penerbangan secara global, dalam hal mempromosikan dan mengadopsi solusi taksi alternatif dan ramah lingkungan,” lanjutnya.

Saat ini, Bandara Internasional Indira Gandhi masih mengoperasikan dua TaxiBot untuk tiga maskapai besar India. Ke depan atau sekitar empat tahun mendatang, diharapkan sekitar ada sekitar 15 TaxiBot yang beroperasi, untuk mencapai pengurangan konsumsi bahan bakar yang lebih tinggi.

Selain berdampak pada pengurangan bahan bakar, penggunaan TaxiBot juga diklaim telah membantu secara signifikan mengurangi risiko kerusakan benda asing (FOD) pada mesin pesawat selama taxiing dan kebisingan di bandara.

Bagi ATC, TaxiBot membantu mengurangi traffic di apron dan pergerakan pesawat, baik untuk lepas landas maupun setelah mendarat dan menuju apron.

Baca juga: Mengenal WheelTug, Roda Pendaratan yang Bikin Maskapai Untung dan Pilot Senang

Bagi pilot, penggunaan TaxiBot juga membantu mengurangi beban kinerja mereka walau hanya sejenak.

TaxiBot atau towbarless tug, seluruh proses pushback pesawat dimungkinkan untuk mendapat kontrol penuh tunggal oleh traktor, tak seperti sebelumnya dimana pilot masih harus mengendari pesawat ke arah tertentu. Sebab, roda pesawat bertengger di atas traktor. Tak lama setelah kemunculan inovasi tersebut, seluruh bandara-bandara di dunia pun akhirnya mulai menggunakan towbarless tug.

Dassault Aviation Luncurkan Falcon 10X, Jet Bisnis Ultra Jarak Jauh dengan Sentuhan Jet Tempur Rafale

Tak puas usai meluncurkan jet bisnis dengan kabin terluas dan tertinggi di dunia, Falcon 6X, Dassault Aviation mengaku bakal meluncurkan jet bisnis terbarunya, Falcon 10X pada 2025 mendatang. Jet bisnis tersebut bukan pesawat sipil biasanya, melainkan akan disematkan berbagai fitur jet tempur Rafale.

Baca juga: Dassault Aviation Luncurkan Falcon 6X, Pesawat dengan Kabin Terluas dan Tertinggi di Dunia

Jet bisnis ultra jarak jauh itu nantinya akan bersaing dengan Global 7500 Bombardier yang sudah hadir sejak 2018 silam dan Gulfstream G700, meluncur pada 2022 mendatang. Kendati masih kalah cepat dibanding kompetitor, namun, Dassault percaya, inovasi akan membuat Falcon 10X lebih unggul dan pada akhirnya diburu oleh pelanggan.

Di samping itu, keputusan Dassault membuat varian ultra long range pada seri Falcon juga bukan karena keinginan sendiri, melainkan dorongan dari klien.

“Kami sudah memiliki dua pesaing (di segmen ini) dan mereka adalah pesaing yang bagus. Yang ingin kami lakukan adalah tidak melakukan hal yang sama, dan memberikan nilai tambah dibandingkan dengan yang lain,” kata Carlos Brana, wakil presiden eksekutif pesawat sipil Dassault, seperti dikutip dari FlightGlobal.

Kabin Falcon 10XFoto: Dassault Aviation

Tak seperti Falcon 6X menggunakan mesin Pratt & Whitney Canada PW812D, Falcon 10X dibekali mesin Rolls-Royce Pearl 10X dengan kemampuan melesat maksimum nyaris Mach 1. Pesawat juga dibekali fitur yang sudah ada di seri Falcon sebelumnya; perform safe approaches, yang memungkinkan pesawat mendarat di bandara-bandara kecil, terpencil, dan runway pendek.

Tetapi, hal spesial dari Falcon 10X tentu bukan kecepatan dan mampu mendarat di runway pendek, melainkan jangkauan terbangnya yang mencapai 13.900km atau 15 jam perjalanan dalam sekali isi bahan bakar, unggul sedikit dari Gulfstream G700 namun sebaliknya, kalah sedikit dibanding Global 7500 Bombardier.

Dengan kabin sepanjang 16m, lebar 2,77m, tinggi 2,03m, Falcon 10X mampu mengangkut hingga delapan penumpang dan empat kru.

Sadar perjalanan 15 jam tidaklah sebentar, Dassault Aviation berpikir keras untuk menghadirkan inovasi-inovasi unggulan, semata agar penumpang tidak bosan. Harapannya, penumpang eksekutif Falcon 10X, ketika keluar pesawat, seperti tidak merasa habis dari perjalanan jauh dan bisa langsung melanjutkan aktivitas bisnis mereka.

Kokpit Falcon 10X yang dilengkapi dengan fitur bawaan jet tempur Rafale. Foto: Dassault Aviation

Kabin Dassault Falcon 10X dibagi menjadi empat zona dengan dimensi yang sama dan tanpa sekat. Masing-masing zona bisa dibuat berbagai ruangan, seperti ruang tidur dengan kasur tipe queen, kamar mandi utama dengan shower, dan lain sebagainya.

Sistem filtrasi juga bakal meningkatkan pengalaman penumpang di kabin selama di ketinggian sekitar 41 ribu kaki. Pencahayaan juga oke dengan total 38 jendela dan 50 persen lebih besar dari jendela Falcon 8X. Menariknya, berbagai sistem hardware kabin bisa dikontrol melalui aplikasi di ponsel, seperti mengatur pencahayaan, dan lain sebagainya.

Baca juga: Dassault Falcon 20 – Sosok Jet Pribadi Unik di Halaman Depan Kantor GMF AeroAsia

Tak hanya itu, kokpit pesawat juga tak ketinggalan disematkan fitur. Kendati Falcon 10X memakai dua mesin, tapi dengan satu tuas Smart Throttle, itu mampu mengontrol dua mesin sekaligus untuk reverse thrust dan airbrake controls. Dengan begitu, beban kerja pilot jadi lebih minim.

Fitur baru sistem kontrol penerbangan digital (DFCS) yang diadopsi dari jet tempur Rafale, dikombinasikan dengan sidesticks fly-by-wire, juga bakal menambah pengalaman terbang pilot. Sistem digital checklist ala Rafale juga hadir di kokpit Falcon 10X. Panel overhead, head-up display-based FalconEye, layar sentuh, upgrade autothrottle dan autopilot dan berbagai fitur lainnya juga melengkapi sederet fitur baru di kokpit Falcon 10X.

Akhirnya Malaysia Airlines Pensiunkan Armada Airbus A380

Malaysia Airlines dalam waktu dekat bakal mempensiunkan enam armada pesawat komersial superjumbonya, Airbus A380. Saat ini, maskapai tengah memikirkan hal terbaik untuk pesawat, entah dijual atau dikirim ke kuburan pesawat begitu saja. Bila opsi kedua yang diambil, tentu itu bukan pilihan terbaik mengingat maskapai butuh lebih banyak suntikan dana, bukan sekedar mengurangi cost maintenance pesawat saja.

Baca juga: Khawatir Pilot Grogi, Malaysia Airlines Intensifkan Latihan Simulator dengan Kacamata 3D

Disarikan dari Reuters dan Simple Flying, sejak insiden kecelakaan MH370 pada 8 Maret 2014 silam, ditambah terjangan virus Corona yang menghancurkan industri penerbangan, bisnis Malaysia Airlines memang kian tak jelas.

Bahkan, sebelum pandemi Covid-19 mewabah di seluruh dunia, Perdana Menteri Malaysia, Tun Dr. Mahathir Mohamad di sela acara KTT Asia Pasifik ke-33, sudah menyatakan keinginannya untuk menjual maskapai nasional Malaysia tersebut. Jadi, secara keuangan, Malaysia Airlines memang sudah tidak sehat sejak lama.

Karenanya, tak heran bila maskapai akhirnya mempensiunkan pesawat tersebut. Jangankan Malaysia Airlines yang sudah terang keuangannya sedang tidak sehat, maskapai besar dan kaya raya sekalipun juga tak sanggup mengoperasikan A380 dengan pasar yang seperti ini.

“Kami menyadari tantangan untuk menjual pesawat ini, tetapi kami masih mencari cara dan sarana untuk membuang A380 armada kami. Saat ini, manajemen yakin bahwa 380 tidak sesuai dengan rencana masa depan,” kata Group Chief Executive Captain, Izham Ismail.

Malaysia Airlines diketahui memiliki enam armada A380. Seluruhnya direncakan untuk pensiun di bulan-bulan mendatang. Masalahnya hanya soal mau dikemanakan pesawat jumbo tersebut. Pasar pesawat dan suku cadang bekas untuk pesawat tersebut nyatanya memang tak terlalu laris.

Di Teruel, Spanyol, misalnya, sudah ada banyak pesawat Airbus A380 milik British Airways, Lufthansa, Air France, dan Etihad. Namun, hanya tiga yang sudah dibongkar untuk diambil komponen berharganya.

Sebetulnya, bisnis pesawat purna tugas lama-kelamaan semakin diminati. Sebab, 6.000 pesawat dalam 20 tahun mendatang akan mencapai akhir jam terbangnya. Lantas pesawat tua dibuang ke mana? Sebagian mungkin bakal dibuang ke kuburan pesawat di Gurun Mojave, sebagian lagi didaur ulang dan dibuat jadi barang berharga.

Baca juga: Sebelum A380 Lahir, Ternyata Airbus Sempat Mau Bikin Pesawat Ini untuk Lawan Boeing 747

Hal itu dikarenakan pesawat dibuat dari 60 persen alumunium, 15 persen baja, 10 persen logam berharga mahal seperti titanium. Jadi, terlalu sayang untuk dibuang begitu saja, selain untuk menyelamatkan lingkungan.

Bilapun tak ingin dibongkar dan tetap ingin dikaryakan untuk penerbangan lain di luar penumpang, nyatanya itu sangat sulit. A380 tegas ditolak untuk menjadi pesawat kargo oleh sejumlah pihak. Meski demikian, maskapai charter asal Portugal, Hi Fly, nekad menjadikan A380 sebagai pesawat kargo, sekalipun muatannya tidak maksimal. Sedangkan untuk dijadikan jet pribadi, A380 juga dinilai terlalu besar. Praktis, tak ada pilihan lain kecuali membongkar pesawat atau membiarkannya mangkrak.

Tolak Pakai Masker dan Serang Pramugari, Penumpang Pesawat Dibayangi Denda Nyaris Rp1 Milyar

Empat penumpang pesawat yang menolak memakai masker, mengamuk, menghina, dan menyerang pramugari tengah dalam masalah besar. Keempatnya memang tidak terancam pidana, tetapi dibayangi perdata dengan denda maksimal sampai Rp 1 miliar. Luar biasa, bukan?

Baca juga: Kucing Ngamuk dan Serang Pilot, Pesawat Ini Mendarat Darurat

Insiden penumpang serang pramugari terjadi pada 7 Februari lalu dalam penerbangan JetBlue dari Republik Dominika ke New York.

Dalam tuntutan pemerintah federal, penumpang tersebut dituduh tidak memakai masker, melempar botol kosong bekas minuman beralkohol dan makanan ke arah pramugari, dan berteriak histeris tanpa kontrol.

Tak cukup sampai di situ, mereka juga dituding menyakiti pramugari dengan menarik lengan secara paksa dan menyebabkan nyeri serta rasa sakit berlebih. Mereka juga sempat memukul dan mencakar tangan beberapa pramugari lainnya.

Sadar keadaan sudah di luar kendali, pilot kemudian membawa pesawat kembali ke Republik Dominika alih-alih meneruskan perjalanan menuju New York. Kendati demikian, keempatnya tetap akan dikenai hukum Amerika Serikat, dengan dibayangi denda maksimal US$32.750 atau sekitar Rp470 juta (kurs 14.287).

Insiden serupa juga sempat terjadi dalam rentang waktu Desember sampai Februari lalu dengan melibatkan beberapa maskapai, mulai dari Southwest Airlines, Delta Airlines, dan lain sebagainya.

Menurut Regulator Penerbangan Sipil Amerika Serikat (FAA), umumnya penumpang tidak pakai masker atau tidak taat protokol kesehatan (prokes) pada saat pesawat taxiing. Sejurus kemudian, tentu saja pramugari mengingatkan. Sampai di sini, penumpang ada yang menerima diingatkan dan ada pula yang malah ngeyel dan balik mengingatkan dan memarahi pramugari tanpa alasan.

“Penumpang tidak memakai masker saat pesawat meninggalkan gate, dan pramugari mengingatkannya pada kebijakan maskapai. Pramugari berulang kali memintanya untuk memakai masker saat pesawat meluncur ke landasan pacu,” kata FAA, seperti dilansir miamiherald.com.

Baca juga: Enam Pramugari Curhat Delapan Hal Soal Lika-Liku Kerja Saat Covid-19, Nomor Lima Bikin Naik Darah!

Total, saat ini ada beberapa penumpang yang sedang diproses hukum atau denda oleh FAA karena menolak memakai masker, menyerang pramugari, dan membuat kegaduhan di pesawat dengan total ancaman denda mencapai nyari Rp 1 miliar. Pelakunya juga beragam, ada yang warga negara AS dan ada pula yang berkewarganegaraan asing. Namun, tetap akan dikenai hukum Amerika.

Insiden penyerangan terhadap pramugari sudah sering terjadi. Bahkan, di luar masalah masker sekalipun. Januari 2020 lalu, seorang penumpang didakwa telah menyerang kokpit, pramugari, dan polisi dalam penerbangan United Express yang dioperasikan oleh Commut Air dari Bandara Internasional Dulles, Virginia, ke New Jersey, AS.

Bernard Ziegler, Pelopor Teknologi Fly by Wire di Pesawat Sipil Meninggal Dunia

Kabar duka menyelimuti dunia aviasi global. Belum lama ini, Airbus mengumungkan wafatnya Bernard Ziegler, teknisi yang mempelopori penggunaan teknologi fly-by-wire pada pesawat komersial, di usia 88 tahun.

Baca juga: Ketika Fly by Wire Dianggap Usang, Teknologi Fiber Optic “Fly by Light” Siap Gantikan Sistem Kendali Pesawat

Dilansir FlightGlobal, putra dari bos Airbus Industrie, Henri Ziegler, ini diketahui mulai berkarir di Airbus pada tahun 1972 sebagai pilot uji, termasuk melakukan penerbangan perdana A300 di tahun tersebut. Selain menimba ilmu di sipil, ia juga turut berkarir di militer sebagai pilot pesawat tempur, pilot uji, serta mengasa kemampuan di bidang teknik penerbangan.

Setelahnya, tak disebutkan dengan jelas bagaimana kronologi Bernard Ziegler sampai dilabeli pelopor penggunaan teknologi fly-by-wire pada pesawat komersial.

Yang pasti, pesawat A300B2 yang terbang perdana pada 28 Oktober 1972 sudah mulai diuji coba Airbus untuk proyek teknologi fly-by-wire. Ketika itu, ini menjadi sangat revolusioner dan berbeda dengan pesaing Amerika-nya, yaitu Boeing, Lockheed, dan McDonnell Douglas.

Di tahun tersebut, Ziegler baru saja bergabung dengan Airbus. Bersamaan dengan tercetusnya ide Two-Men Cockpit Wiweko Soepono, Airbus mulai mengembangkan teknologi fly-by-wire pada pesawat narrowbody twin jetnya, Airbus A320. Pesawat itu berhasil memasuki tahun layanan pada tahun 1988.

Setelahnya, Ziegler terus mengawal pengembangan fly-by-wire pada pesawat-pesawat lain Airbus, salah satunya A340. Ia diketahui sampai ikut dalam penerbangan uji A340-200, dari Paris Le Bourget ke Aucland, Selandia Baru, selama 48 jam 22 menit pada tahun 1993.

Ziegler akhirnya pensiun dari Airbus dengan jabatan terakhirnya sebagai wakil presiden senior bidang teknik pada akhir 1997. Selama meniti karir di dunia aviasi, ini dianugerahi banyak penghargaan dan begitu banyak untuk disebutkan satu persatu.

Meski Ziegler sudah tiada, namun, warisannya abadi atau setidaknya sampai saat ini dan mungkin sampai di masa mendatang, bukan hanya pada seluruh pesawat-pesawat Airbus, seperti A350, A330neo dan A330-700L – pesawat kargo jumbo yang dikenal sebagai BelugaXL, melainkan juga diadopsi oleh pesawat komersial dari pabrikan lain, seperti Bombardier CSeries, sekarang Airbus A220, Irkut MC-21, dan Comac C919.

Sebagai informasi, fly by wire merupakan sistem kendali yang menggunakan sinyal elektronik dalam memberikan perintah, tetapi hal ini tidak berarti hanya sebatas mengganti peran manual manusia dalam mengontrol arah dan pergerakkan pesawat.

Baca juga: Kerap Jadi Bahan Pertanyaan, Apa Perbedaan Antara Fly by Wire dan Hydraulic System di Pesawat?

Kendati sistem fly by wire juga mempunyai komputer untuk mengolah data yang dipasok dari berbagai sensor di badan pesawat, namun kadang kadang kinerja system fly by wire secara detail tidak sinkron dengan keinginan operator – dalam hal ini adalah seorang pilot.

Tidak sinkron di sini maksudnya semisal pilot ingin membelokkan pesawat dengan memasukkan sejumlah kode, bisa jadi sistem fly by wire tersebut mengabaikan sejumlah kode yang dimasukkan oleh pilot tadi, dengan tujuan pesawat bisa belok dengan lebih mulus atau tidak membahayakan struktur pesawat.

Eleanor Roosevelt, Kapal Ferry Express Pertama di Dunia Pakai Mesin Berbahan Bakar LNG

Perlombaan penggunaan bahan bakar berbasis gas alam cair atau Liquefied Natural Gas (LNG) pada kapal laut akhirnya tuntas. Pemenangnya adalah Eleanor Roosevelt, yang resmi menyandang sebagai kapal ferry express dengan mesin berbahan bakar LNG pertama di dunia. Kapal tersebut dioperasikan oleh operator feri Spanyol, Baleària.

Baca juga: “Penguin Tenaga,” Jadi Kapal Bertenaga Hibrida Pertama di Singapura

“Kami ingin mempromosikan Kepulauan Balearic, tujuan yang selalu kami libatkan dan kepada warganya yang berkomitmen kuat, dengan menghadirkan kapal kami yang paling revolusioner, hijau, dan cerdas,” kata Adolfo Utor, president Baleària, seperti dikutip dari marinelog.com.

“Jumlah kursi penumpang (kapal ferry) berkecepatan tinggi pada rute ini akan bertambah 60 persen dan jumlah tempat penampungan penumpang akan menjadi dua kali lipat dari kapasitas saat ini karena kapal tersebut mampu menampung 1.200 penumpang dan 450 kendaraan,” tambahnya.

Dalam setahun, kapal yang mulai dibangun pada 2018 silam dengan empat mesin Wärtsilä 16V31DF itu diperkirakan mampu mengurangi emisi karbon setara dengan menghilangkan lebih dari 8.900 mobil penumpang dari jalan atau menanam hampir 27.000 pohon.

Memastikan hal itu, konsumsi bahan bakar dan efisiensi mesin kapal buatan Astilleros Armon di galangan kapal Gijon, Spanyol, ini akan terus dipantau melalui peralatan pengukur dan sensor yang terpasang di beberapa titik, sebagai bagian dari proyek pimpinan Komisi Eropa.

Penggunaan bahan bakar LNG pada kapal laut memang tengah marak di seluruh penjuru dunia. Selain lebih ramah lingkungan dibanding solar, gas alam cair pun dapat menghemat pengeluaran hingga 30 persen, di samping mudah didapat.

Di Indonesia sendiri, regulator dan pelaku industri kapal laut juga sedang bersiap untuk memasifkan penggunaan LNG pada kapal ferry.

Secara hitungan, penggunaan LNG juga lebih hemat dibandingkan solar untuk kapal. Ia menjelaskan LNG dipatok Rp 7.000 – Rp 8.000 per liter. Sedangkan solar untuk kapal dipatok sebesar Rp 10 ribu – Rp 11 ribu per liter.

Baca juga: Star Ferry Hong Kong Disulap Jadi Kapal Pesiar Mewah Oleh Penggemar Berat

Direktur Strategi dan Pengembangan PT Perusahaan Gas Negara (PGN), Syahrial Mukhtar, mengungkapkan pihaknya melihat peluang ini dan menilai bahwa LNG bisa menjadi opsi dari pilihan bahan bakar ramah lingkungan. Untuk bisa menyasar pasar kapal laut ini, PGN mempersiapkan infrastruktur untuk bisa memenuhi kebutuhan LNG kapal laut.

“Ke depan kita juga sedang siapkan juga fasilitas di Arun untuk LNG. Yang jadi target kita adalah kapal-kapal yang melintasi Selat Malaka, yang kapal-kapal di jalur internasional. Kita akan isi LNG untuk mereka dari LNG yang memang kita punya fasilitas di Arun, Lhokseumauwe, Aceh,” jelasnya.

Melancong ke Hong Kong? Jangan Lupa Octopus Card

Melancong ke suatu negara, tak lupa dengan segala hal yang bisa memudahkan saat berada di sana. Salah satunya adalah menjadi lebih hemat dengan menggukan kartu yang bisa digunakan dimana dan kapan saja terlebih untuk transportasi.

Baca juga: Eksistensi Peak Tram Hong Kong, Dulu dan Sekarang!

Hong Kong, salah satu destinasi pilihan pelancong ini memiliki sistem transportasi yang cukup lengkap dan mumpuni. Sebab ada berbagai moda transportasi tersedia seperti Mass Transit Railways atau MTR, bus, ferry, trem, minibus, taksi dan lainnya.

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber bahwa setiap moda transportasi ini memiliki rute dan tarif masing-masing. Terkadang tarifnya pun tidak bulat dan membuat Anda susah dengan mencari yang receh yang pas setiap kali naik bus atau trem di sana.

Nah, untuk menghindari hal itu Hong Kong membuat pelancong mudah dengan sebuah kartu bernama Octopus. Kartu ini menjadi wajib dimiliki pelancong yang akan berkeliling Hong Kong tanpa perlu repot membawa uang receh.

Sebenarnya kartu ini juga bisa digunakan selain moda transportasi yakni toko, restoran, supermarket, toko roti, mesin penjual otomatis atau vending machine dan masih banyak lagi. Cara menggunakannya juga cukup mudah yakni hanya dengan men-tap kartu tersebut di media pembaca kartu di tempat yang sudah disediakan.

Untungnya sensor kartu dan media pembacanya juga sensitif sebab dengan hanya mendekatkan tas atau dompet, kartu Octopus tersebut bisa dibaca mesin. Dengan kartu ini, terkadang ada harga lebih murah atau potongan harga dibandingkan dengan membayar menggunkan uang tunai.

Jangan lupa meski bisa digunakan dibanyak tempat, Octopus card tidak bisa digunakan pada taksi. Sebagai pelancong yang akan berkeliling Hong Kong, kartu ini cukup mudah didapatkan yakni di Bandara Internasional Hong Kong tepatnya di couter Airport Express baik di dalam maupun luar bandara.

Salah satu counter ini ada di Terminal1 HK Airport setelah keluar dari imigrasi hall A dan B. Octopus card juga bukan hanya satu jenis tetapi ada berbagai jenis tergantung usia pengguna karena setiap moda transportasi Hong Kong memberikan tarif berbeda.

Biasanya tarif transportasi umum Hong Kong untuk anak-anak dan lansia atau lanjut usia adalah setengah dari tarif dewasa. Untuk pembeliannya harga Octopus card dewasa HKD150 dengan deposito HKD50 dan saldo HKD100, anak-anak dan lansia HKD70 dengan deposito yang sama dengan kartu dewasa dan saldo kartu HKD20.

Tenang saja untuk mengisi alias top up nya pun mudah, pelancong bisa mendatangi customers service atau value machine (mesin isi ulang) di stasiun-stasiun MTR terdekat. Selain itu juga bisa mengisi Octopus card tersebut di minimarket atau supermarket, bahkan juga bisa di isi di restoran fast food.

Baca juga: Disneyland Resort Line Hong Kong, Kereta Khusus dengan Nuansa Mickey Mouse

Untuk wisatawan yang hanya singgah beberapa hari di Hongkong dan tidak ingin menyimpan kartu ini, juga bisa mengembalikannya di pusat layanan stasiun MTR atau di bandara. Sisa nilai yang ada di kartu (termasuk deposit) bisa di tarik kembali.

Bisa dikatakan kalau di Indonesia kartu ini semacam Brizzi, E-Money ataupun Flazz yang bisa digunakan di beberapa moda transportasi bahkan untuk pembayaran gerbang tol.

Star Ferry Hong Kong Disulap Jadi Kapal Pesiar Mewah Oleh Penggemar Berat

Star Ferry bukan sekedar kapal penyeberangan biasa. Bisa dibilang, itu sudah menjadi salah satu ikon Hong Kong mengingat keberadaannya sudah sejak tahun 1888. Legend! Tak heran, kehadirannya yang sudah satu abad lebih menaruh banyak kenangan di sana.

Baca juga: Kapal Ferry Jadi Rumah Tinggal Mewah? Cek Disini Biar Tak Penasaran 

Bahkan, saking banyaknya kenangan, salah satu warga asli Hong Kong yang identitasnya disembunyikan sampai membeli Star Ferry dan memodifikasinya menjadi kapal pesiar mewah. Semata agar bisa terus bernostalgia dengan kapal ferry ikonik tersebut.

Setiap tahun, baik wisatawan domestik maupun internasional, seluruhnya antusias menjajal kapal tersebut.

Penampakan baru Star Ferry usai dimodifikasi. Foto: CNN

Sekalipun daratan Hong Kong yang dibelah perairan kini sudah terhubung dengan setidaknya tiga jembatan layang dan terowongan bawah laut, baik kereta api maupun kendaraan bermotor, membuat perjalanan Star Ferry hanya mencapai beberapa menit untuk sampai di Kowloon/ Harbour City/Tsim Sha Tsui menuju Hongkong Island dan sebaliknya, namun, Star Ferry tetap mempunyai tempat tersediri di hati warga dan wisatawan.

Pesona Star Ferry akan semakin terasa saat malam hari. Sambil menikmati semilir angin bercampur butir air Selat Victoria, pengunjung disuguhkan pemandangan gedung-gedung tinggi menjulang bermandikan cahaya. Amazing. Inilah momen yang paling diharapkan wisawatan dan warga Hong Kong. Hal ini pula yang belum tentu didapat di tempat lain di seluruh dunia.

Ruang bioskop Star Ferry usai disulap menjadi kapal pesiar pribadi nan mewah. Foto: CNN

Star Ferry sendiri memiliki 12 armada yang digunakan untuk mengangkut penumpang. Ke-12 kapal Star Ferry identik dengan nama-namanya yang berakhiran ‘Star’, seperti Morning Star, Solar Star, Twinkling Star, Golden Star, dan lainnya.

Ruang bersantai dengan pemandangan langsung ke Selat Victoria, pusat peradaban Hong Kong bermula. Foto: CNN

Sejak tahun 2011 lalu, seperti dilansir CNN International, Star Ferry Golden Star yang melayani rute Hung Hom dan Wan Chai berhenti beroperasi dan kapalnya dijual. Tak butuh lama, kapal itu pun dibeli oleh warga asli Hong Kong, yang mengaku memiliki banyak kenangan dengan Star Ferry, dengan harga US$2,7 juta atau sekitar Rp38 miliar (kurs 14.400) melalui Ocean Independence.

Baca juga: Kenali 10 Rute Kapal Ferry Terindah di Dunia

Sejak saat itu, Star Ferry dimodifikasi menjadi kapal pesiar mewah. Itu termasuk empat kamar tidur, kantor, bioskop on-board, ruang makan formal, rooftop untuk berjemur, dan ruang tamu yang kabarnya disematkan sofa tunggal terbesar di Hong Kong, pohon natal setinggi hampir empat meter, kamar mandi, dan tentu saja AC.

Kapal pesiar mewah ini juga menggunakan panel surya untuk mendukung bahan bakar bekerlanjutan, selain sistem airnya menggunakan daur ulang air atau water recycle.