Jembatannya Runtuh Saat Lalu Lintas di Bawah Ramai, Begini Sejarah MRT Meksiko

Jembatan layang yang memuat lintasan MRT di kota Mexico City, Meksiko, runtuh pada Senin, (3/5/2021) malam waktu setempat, saat lalu lintas di bawahnya tengah ramai dilalui kendaraan. Sedikitnya, insiden itu menewaskan 23 orang dan melukai sedikitnya 70 orang. Angka tersebut bukan tak mungkin akan bertambah mengingat proses evakuasi masih berlangsung.

Baca juga: Inilah 10 Stasiun Bawah Tanah Terpadat di Dunia

Dalam video yang beredar, ada sekitar enam mobil yang berada tepat di titik runtuhnya jembatan. Beberapa mobil lainnya juga terlihat sedang melaju dalam kecepatan sedang di belakang titik reruntuhan jembatan.

Terlepas dari kecelakaan itu, seperti dikutip dari railway-technology.com, sebetulnya, Mexico City Metro atau MRT Meksiko merupakan sistem metro tersibuk kedelapan di dunia serta terbesar kedua di Amerika Utara setelah New York City dengan 195 stasiun yang memiliki jalur sepanjang 140 mil atau 225 km dengan total 12 line. Line ke-12, yang kemarin runtuh, diketahui baru rampung pada Oktober 2012 lalu.

Jumlah penumpang harian rata-rata MRT Meksiko adalah 3,86 juta penumpang. Pada 2010, MRT Meksiko bahkan melayani sekitar 1,41 miliar penumpang.

Kendati terbesar kedua di Amerika Utara dan tersibuk ke-8 di dunia, dilirik dari umurnya, jaringan MRT Meksiko bukan yang tertua dan baru mulai dibangun pada dekade 60an, tepatnya pada tahun 1967.

Sebagaimana MRT Jakarta, MRT Meksiko juga dibangun beberapa fase atau tahap. Tahap pertama pembangunan jalur 1, 2, dan 3 terjadi antara tahun 1967 dan 1972. Tahap kedua pembangunan jalur 4 dan 5, termasuk penambangan panjang line-3 MRT, menyusul pada 1977 dan 1982.

Tahap ketiga pembangunan jalur 6 dan 7 berlanjut pada tahun 1983 sampai 1985. Pada tahap ini, line 1, 2, dan 3 juga diperpanjang. Sayangnya, pembangunan fase ketiga sempat terganggu akibat gempa bumi besar di Meksiko pada tahun 1985.

Kendati demikian, fase keempat pembangunan line 9 MRT Meksiko berlanjut pada tahun 1986 sampai 1987. Ini termasuk perpanjangan jalur 6 dan 7. Tak lama setelah, fase kelima digenjot pada tahun 1988 sampai 1994 untuk pembangunan jalur A atau jalur 10 dan jalur 8.

Pembangunan MRT Meksiko kemudian berlanjut pada tahun 1993 sampai 2000 untuk membuat jalur B atau jalur 11. Tahap akhir atau tahap tujuh pembangunan baru berlanjut pada 2008 sampai 2012 dengan total 12 line atau jalur.

Seluruh fase pembangunan MRT Meksiko menelan total biaya US$1,8 miliar dengan rincian US$0,5 miliar didanai oleh pemerintah federal dan US$0,42 miliar didapat dari investor lokal.

Baca juga: Strategi Jendela Retak, Andalan Baru Cegah Vandalisme Di Kereta Bawah Tanah New York

Dari total 12 line, line 12 adalah yang terpajang dengan total 24 km, diikuti jalur 2 dengan 23,43 km, jalur 3 23,6 km, jalur 7 18,78 km, dan seterusnya, ditutup oleh jalur 4 dengan 10,74 km. Tetapi, panjang jalur tak berarti banyak stasiun. Dilihat dari jumlah stasiun, jalur 2 dengan 24 stasiun, diikuti jalur 3 dengan 21 stasiun, jalur 1 20 stasiun, dan seterusnya, diakhiri oleh jalur 10 diurutan paling buncit dengan delapan stasiun.

Tarif MRT Meksiko juga tergolong murah, hanya sekitar US$0.27 atau jauh di bawah tarif MRT Jakarta sebesar Rp 14 ribu.

Lion Air Group Tetap Terbang Sampai 15 Mei Walau Mudik dan Moda Transportasi Dilarang Beroperasi

Larangan mudik resmi berlaku pada hari ini sampai tanggal 17 Mei mendatang. Meski demikian, sejumlah moda transportasi, darat, laut, dan udara, masih terus beroperasi pada rentang waktu tersebut. Pada moda transportasi udara, Lion Air Group adalah salah satunya.

Baca juga: Ngeri, Begini Dampak Buruk Akibat Pemerintah Stop Seluruh Moda Transportasi 6-17 Mei

Lewat siaran pers resmi perusahaan yang diterima KabarPenumpang.com, seluruh maskapai di bawah Lion Air Group, Lion Air, Wings Air, dan Batik Air, disebut masih melayani penerbangan niaga penumpang berjadwal dalam negeri, dengan catatan jika secara perhitungan ekonomi terpenuhi.

Sampai di sini, tak disebutkan dengan spesifik berapa perhitungan ekonomi yang dimaksud. Entah itu break even load factor minimum 70 persen atau seperti apa tidak ada kejelasan lebih lanjut.

Sesuai Surat Edaran Satgas Penanganan Covid-19 Nomor 13 Tahun 2021 serta Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 13 Tahun 2021 tentang Pengendalian Transportasi Masa Idulfitri 1442H, ada kriteria khusus yang masih diperbolehkan melakukan perjalanan.

Beberapa jenis perjalanan yang dikecualikan di antaranya adalah perjalanan terkait dengan pelayanan publik, keamanan, bantuan kesehatan, juga untuk kepentingan penugasan maupun kedinasan, kunjungan keluarga sakit, kunjungan kedukaan anggota keluarga meninggal, kebutuhan perjalanan persalinan Ibu hamil beserta pendamping, hingga kebutuhan pelayanan kesehatan.

Selain itu, pada tanggal tersebut Lion Air Group juga menawarkan layanan lain seperti penerbangan sewa atau penumpang tidak berjadwal (passanger charter) dan penerbangan sewa angkut kargo (cargo charter). Layanan ini tetap dioperasikan setelah mendapatkan izin dari regulator dan otoritas setempat.

Penyataan resmi dari Lion Group tentu berlawanan dengan Permenhub 13 Tahun 2021 yang diumumkan pada April lalu. Ketika itu, Kemenhub secara gamblang melarang seluruh moda transprtasi beroperasi pada tanggal diberlakukannya larangan mudik 2021, mulai tanggal 6-17 Mei.

Baca juga: ASDP Tutup Sementara Angkutan Lebaran Penumpang, Pengamat: Jasa Logistik Jadi Tumpuan

Dalam Permenhub tersebut, moda transportasi memang masih diperbolehkan beroperasi. Tetapi, bukan untuk layanan penumpang berjadwal maupun charter atau sewaan, melainkan hanya transportasi barang dan logistik yang diperbolehkan.

“Pengendalian transportasi tersebut dilakukan melalui larangan penggunaan atau pengoperasian sarana transportasi penumpang untuk semua moda transportasi yaitu: moda darat, laut, udara dan perkeretapian, dimulai dari tanggal 6 Mei hingga 17 Mei 2021. Adapun untuk transportasi barang dan logistik tetap berjalan seperti biasa,” kata Juru Bicara Kemenhub, Adita, dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (8/4).

“Kapten Arjun,” Robot yang Bantu Polsuska Intensifkan Penyaringan Penumpang Kereta Api

The Railway Protection Force – Pasukan Perlindungan Kereta Api (RPF) di Pune, India, meluncurkan sebuah robot yang diberi nama Kapten Arjun, Robot ini hadir untuk membantu para personel RPF atau di Indonesia disebut Polisi Khusus KA (Polsuska) dalam mengintensifkan penyaringan dan pengawasan penumpang.

Baca juga: Wuih, Ada Robot Desinfektan Beroperasi di Stasiun Takanawa Gateway

“Kapten Robot Arjun akan melindungi penumpang dan staf dari kemungkinan infeksi dan pengawasannya akan meningkatkan keamanan,” kata Sanjeev Mittal, manajer umum, Central Railway.

KabarPenumpang.com melansir punemirror.indiatimes.com (12/6/2020), Kapten Arjun dilengkapi dengan sensor gerak, satu kamera PTZ (pan, tilt, zoom camera) dan satu kamera dome. Kamera ini menggunakan kecerdasan buatan atau AI dan algoritme untuk melacak aktivitas yang mencurigakan dan antisosial..

Robot ini juga dilengkapi dengan sirene internal, prosesor H-264 lampu sorot yang diaktifkan dengan gerakan dan penyimpanan internal untuk merekam jika ada kegagalan jaringan. Robot yang satu ini melakukan penyaringan termal dan mencatat suhu di panel tampilan digital dengan waktu respon 0,5 detik dan jika suhu lebih tinggi dari kisaran referensi, alarm otomatis akan berbunyi tidak normal.

Kapten Arjun, mengadopsi mode komunikasi dua arah, suara dan video serta juga berbicara dalam bahasa lokal. Robot tersebut memiliki pembicara untuk menyebarkan pesan kesadaran tentang Covid-19. Kapten Arjun juga memiliki pembersih berbasis sensor dan masker dispenser yang dapat bergerak. Robot tersebut memiliki fasilitas sanitasi lantai dengan baterai cadangan. Ini memiliki roda kasar yang mendukung semua jenis permukaan.

Bohra, yang membuat konsep penggunaan robot semacam itu di stasiun kereta api, berkata, “Tingkat infeksi yang tinggi di antara berbagai segmen orang di seluruh dunia telah menghambat upaya untuk menangani Covid-19, yang mendorong kami untuk mempertimbangkan skrining robotik. Kapten Arjun dapat digunakan untuk berbagai kegunaan dan itu adalah elemen yang efektif dalam kontrol akses stasiun dan akan meningkatkan rencana keamanan stasiun.”

Baca juga: Robot Hidrogen Peroksida Vapourised Bantu Bersihkan Kereta dan Stasiun MTR Hong Kong

Keberhasilan robot berkemampuan AI ini akan memberikan perlindungan yang cukup bagi penumpang saat menjalani pemeriksaan tanpa pertemuan manual. Para pejabat mengatakan, pada saat yang sama, fitur pengawasannya diharapkan dapat mencegah kejadian yang tidak biasa dan akan memastikan keamanan di tempat kereta api.

Untuk diketahui, Shivaji Sutar CPRO, CR mengatakan, mereka juga akan memperkenalkan sistem dengan jenis yang serupa di kota Mumbai.

Australia Ikut Kembangkan Pesawat Supersonik, Terbang Mulai 2025

Perusahaan patungan Ukraina-Australia, Cosmovision Global Corporation, ikut meramaikan perlombaan untuk menyediakan penerbangan pesawat supersonik. Guna memuluskan hal itu, perusahaan menggandeng perancang mesin, SE Ivchenko-Progress, dan produsen mesin jet, JSC Motor Sich, yang keduanya berasal dari Ukraina.

Baca juga: Keren, Tesla Akan Buat Pesawat Supersonik Pengganti Concorde Bertenaga Listrik

Saat ini, proyek pesawat supersonik Australia itu sedang dalam tahap mengumpulkan dana investor. Bila segalanya berjalan sesuai rencana, penerbangan supersonik trans-Pasifik berkapasistas 100 kursi dari Sydney ke Los Angeles dan sebaliknya, mulai tersedia pada 2025 mendatang.

Sayangnya, Cosmovision Global Corporation, selaku pimpinan proyek, belum berbicara lebih banyak tentang pengembangan pesawat supersonik ini. Utamanya, terkait keputusan perusahaan menggandeng SE Ivchenko-Progress dan JSC Motor Sich. Tetapi, banyak yang menyebut itu erat kaitannya dengan CEO Cosmovision juga berasal dari Ukraina.

“Ini proyek unik dan inovatif yang memungkinkan perjalanan cepat dari bawah ke belahan bumi utara negara dan benua dalam waktu yang belum pernah dicapai sebelumnya oleh pesawat jet penumpang,” kata Ilya Osadchuk kepada Australian Aviation.

SE Ivchenko-Progress dan JSC Motor Sich sendiri bukan pemain baru di bidang desain dan produksi mesin. Di laman resminya, SE Ivchenko-Progress tertulis bergerak dalam bisnis perancangan dan pengembangan mesin untuk sipil maupun militer. Saat ini, perusahaan tersebut menjalankan lebih dari 66 jenis pesawat dan modifikasinya di lebih dari 100 negara.

Sedangkan Motor Sich mengaku sebagai salah satu produsen instalasi turbin gas industri dan mesin pesawat serta helikopter terkemuka di dunia.

Secara portofolio, tentu kedua perusahaan tersebut tidak bisa dianggap remeh dan bisa dibilang layak untuk turut andil dalam perlombaan pengembangan pesawat supersonik.

Tetapi, banyak kalangan menilai bahwa pengembangan pesawat supersonik saat ini tidak ada yang bisa melampaui pendaaan dan kemampuan teknologi perusahaan-perusahaan yang berbasis di AS. Tercatat, setidaknya, ada sekitar sembilan perusahaan berbasis di AS yang saat ini berlomba mengembangkan pesawat supersonik; Boom Supersonic, Spike, Aerion, Tesla, Virgin Galactic, NASA, Lockheed Martin, Boeing, dan Exosonic.

Baca juga: Japan Airlines Gelontorkan US$10 Juta Untuk Proyek Pesawat Supersonik

Di antara mereka, dua perusahaan, Aerion dan Boom Supersonic, diketahui sudah melangkah lebih jauh. Oktober 2020 lalu, Prototipe pesawat supersonik komersial Boom, XB-1, akhirnya resmi dirilis. Momen tersebut merupakan untuk pertama kalinya pesawat supersonik yang disebut bakal mulai melakukan first maiden atau uji terbang perdana pada 2021 mendatang itu dipamerkan ke publik.

Sedangkan untuk Aerion, pengembangan pesawat supersoniknya sudah mencapai tahap melewati uji terowongan angin atau wind tunnel testing. Dengan begitu, desain pesawat futuristik dengan bahan bakar ramah lingkungan ini dinyatakan aman dan bisa melanjutkan ke tahap pembuatan komponen pada 2022 dan proses perakitan pada 2023 untuk membuatnya jadi nyata.

Ada Jalur Penerbangan Palsu ke Pulau Jawa Sebelum MH370 Hilang di Samudera Hindia

Pulau Jawa, Sabang, Pantai Sumatra, Banda Aceh, dan Lhokseumawe tercatut dalam sebuah penelitian terbaru terkait misteri hilangnya pesawat Boeing 777-200ER Malaysia Airlines MH370 pada 8 Maret 2014. Kelimanya diduga dilibatkan secara tidak langsung oleh pilot Zaharie Ahmad Shah untuk membuat jalur palsu, sebelum mengarah ke Selatan setelah dirasa aman.

Baca juga: Update Misteri Hilangnya MH370, Ahli Sebut Pesawat Jatuh Gegara Kehabisan Bahan Bakar!

Belum lama ini, seorang insinyur penerbangan, Richard Godfrey, yang juga salah satu anggota Kelompok Ilmuwan Independen, mengungkapkan fakta-fakta terbaru atas hilangnya MH370. Temuan tersebut didasarkan pada terknologi terbaru untuk melacak pergerakan pesawat.

Teknologi itu didasari pada data pencarian jejak pesawat secara global dengan menggunakan sinyal radio lemah yang ada di seluruh bumi, dikenal dengan istilah WSPR, yang dikembangkan oleh Pemenang Nobel Fisika, Prof. Joe Taylor pada tahun 2008 lalu. Godfrey mengembangkan software khusus yang disebut GDTAAA (Deteksi Global dan Melacak Pesawat di Mana Saja Kapan Saja) untuk membaca data dari WSPR.

Dia mengatakan pesawat apapun – baik itu komersial, militer atau pribadi – akan mengaktifkan apa yang disebut ‘gelombang elektronik perjalanan’ ketika pesawat itu melintas gelombang tersebut. Data dari gelombang tersebut kemudian bisa digunakan untuk melacak keberadaan pesawat.

Dalam makalah terbaru Richard Godfrey yang dimuat airlineratings.com, disebutkan, pilot pesawat MH370 coba menghindari jalur resmi dengan beberapa kali mengubah kecepatan dan jalur penerbangan. Pilot juga diduga mengetahui jam-jam operasional radar di Sabang dan Lhokseumawe sehingga berhasil melenggang bebas di udara tanpa terdeteksi.

Sekalipun terdeteksi, pilot kemungkinan akan mengelabui petugas dengan jalur penerbangan palsu ke sejumlah tujuan, seperti Kepulauan Andaman, Afrika Selatan, dan Pulau Jawa (Jakarta), Kolombo, Melbourne, dan Kepulauan Cocos.

“Pilot MH370 pada umumnya mencoba menghindari jalur resmi mulai jam 18:00, dan menggunakan jalur tidak resmi di Selat Malaka, di sekitar Sumatra dan melintas Lautan India. Jalur ini mengikuti pesisir pantai Sumatra dan terbang dekat dengan Bandara Banda Aceh,” tulis Godfrey.

“Pilot tampaknya memiliki pengetahuan mengenai jam beroperasinya radar di Sabang dan Lhokseumawe dan di malam di akhir pekan, dimana situasi internasional tidak genting sama sekali, radar tidak akan berfungsi sama sekali,” lanjutnya.

Setelah berhasil melewati radar, mengelabui petugas, dan membuat beberapa jalur penerbangan palsu, pilot pesawat MH370, yang hampir dipastikan dalam keadaan sadar dan aktif, dilihat dari perubahan jalur dan kecepatan, pesawat akhirnya diterbangkan menuju Selatan.

Sayangnya, pilot hanya mempedulikan manuver pesawat untuk menghindari deteksi radar dan membuat jalur penerbangan palsu serta perubahan kecepatan ketimbang fokus pada kemampuan bahan bakar. Karenanya, pesawat diduga kehabisan bahan bakar dan jatuh ke laut di Samudera Hindia.

Baca juga: Wartawan Klaim MH370 Jatuh Ditembak Senjata Laser! AS Terlibat

Tetapi, analisis lebih rinci untuk menentukan posisi penerbangan terakhir akan segera dilakukan. Ada tiga cara untuk menetukannya, termasuk data satelit, analisis serpihan MH370, dan analisis data WSPR.

Bila ketiganya menyajikan data yang sama atau tak jauh berbeda, besar kemungkinan akan menuntun pada kesimpulan yang sama. Celakanya, proses pencarian bawah air selama ini oleh banyak pihak, seperti Fugro dan Ocean Infinity tidak didasarkan hal itu.

Kejar Efisiensi, Seluruh Pesawat Lufthansa Bakal Dibalut Kulit Ikan Hiu

Seluruh pesawat Boeing 777F Lufthansa Cargo ke depan bakal dilapisi dengan teknologi kulit hiu. Itu dilakukan untuk membuat pesawat lebih irit bahan bakar. Guna memuluskan hajat itu, Lufthansa Cargo akan menggandeng entitas bisnis Lufthansa lainnya; Lufthansa Technik.

Baca juga: Bye-bye Bau Tak Sedap, Teknologi Ini Bikin Kabin Pesawat Bebas Bau Tak Sedap!

Industri penerbangan, sebagaimana industri lainnya, memang selalu mencari inovasi terbaru dengan mengambil alam sebagai sumber inspirasinya.

Pada September tahun lalu, Airbus bertekad untuk segera merealisasikan program ‘fello’fly’ atau penerbangan formasi, yang terinspirasi dari angsa, untuk mencapai konsumsi bahan bakar pesawat yang lebih rendah sekaligus mengurangi polusi, setelah sukses mengujicobanya ada tahun 2016 dan 2019.

Selain terinspirasi dari mahkluk hidup yang bisa terbang, seperti burung dan angsa, inovasi teknologi di industri penerbangan juga banyak terinspirasi dari mahkluk hidup di luar itu. Salah satunya makhluk laut, dalah hal ini, hiu.

Mulai tahun depan, Lufthansa Cargo dan Lufthansa Technik akan berkolaborasi untuk menyelimuti armada Boeing 777F mereka dengan teknologi kulit ikan hiu. Kulit ikan hiu dinilai dapat mengurangi gesekan saat pesawat di udara.

Secara sederhana, berkurangnya gesekan sudah pasti akan membuat kinerja mesin menjadi lebih mudah dan pada akhirnya menghemat bahan bakar.

Teknisnya sendiri, badan pesawat akan dilapisi dengan sejenis kaca film menyerupai kulit ikan hiu berukuran sekitar 50 mikrometer buatan AeroSHARK. Jadi, ini tidak menggunakan kulit ikan hiu asli, mengingat ikan hiu adalah predator tertinggi dalam rantai makanan di laut yang memegang peranan penting dan penjaga keseimbangan ekosistem laut.

Dengan teknologi laser, kaca film kulit ikan hiu ini akan menyatu dengan badan pesawat dan membuat permukaan lebih halus.

Bila sudah direalisasikan, teknologi tersebut mampu membuat pesawat menghemat bahan bakar hingga satu persen. Tak terlalu besar memang. Namun, bila itu terjadi di seluruh armada Boeing 777F Lufthansa Cargo, itu sama dengan menghemat sekitar 3.700 ton bahan bakar jet setiap tahun.

Tak cukup sampai di situ, bahan bakar lebih hemat satu persen juga berarti mengurangi emisi CO2 sekitar 11.700 ton, sebanding dengan pembatalan 48 penerbangan barang dari Frankfurt ke Shanghai. Luar biasa, bukan?

Baca juga: Mengapa Ada Batasan Ketinggian Terbang untuk Pesawat? Ini Jawabannya

“Kami selalu memainkan peran utama dalam memperkenalkan teknologi ramah lingkungan. Teknologi kulit hiu yang baru untuk pesawat menunjukkan apa yang dapat dicapai oleh mitra besar dan sangat inovatif secara kolektif untuk lingkungan. Ini akan membantu kami mencapai tujuan netralitas iklim pada tahun 2050,” kata Anggota Dewan Eksekutif Deutsche Lufthansa AG, Christina Foerster.

Teknologi kulit ikan hiu tentu bukan satu-satunya upaya Lufthansa Cargo dalam mengurangi polusi dan dampaknya terhadap lingkungan. Bulan lalu, maskapai tersebut mengoperasikan penerbangan mingguan Frankfurt ke Shanghai menggunakan Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan (SAF). Inisiatif itu diperkirakan berhasil mengurangi emisi CO2 sebesar 20.250 ton dan menghemat sekitar 174 ton bahan bakar setiap pekannya.

Jumlah Penumpang Anjlok 97 Persen, Swedia Tutup Bandara Ketiga Terbesar yang Berlokasi Dekat Stockholm

Bagi kebanyakan orang, hanya mengenal Arlanda sebagai bandara yang ada di kota Stockholm, Swedia. Tentu itu wajar adanya, mengingat Arlanda adalah bandara terbesar di Swedia, dan menjadi pintu gerbang keluar masuknya pelancong dan pebisnis di Negara Skandinavia tersebut. Namun, seperti halnya Jakarta, Stockholm juga dikelilingi oleh beberapa bandara. Meski secara internasional kurang dikenal, tapi Stockholm juga memiliki bandara yang lebih kecil, seperti Bandara Vasteras, Bandara Skavsta dan Bandara Bromma.

Baca juga: Melesat 200 Km Per Jam, Arlanda Express Kereta Bandara Tercepat

Di antara empat bandara yang ada disekitaran Stockholm, yang lokasinya berada paling dekat dengan pusat kota adalah Bromma, yaitu hanya berjarak 7 km dari pusat kota Stockhom. Bandara ini merupakan bandara yang tergolong tua, pasalnya sudah dibuka sejak tahun 1936. Namun, ada kabar yang kurang menyenangkan, lantaran Bromma akan ditutup secara permanen.

Dikutip dari airlinegeeks.com (3/5/2021), disebutkan bandara yang mempunyai kode BMA itu terpaksa akan ditutup selamanya, pangkal musababnya adalah dampak pandemi Covid-19. Dilaporkan jumlah penumpang anjlok menjadi kurang dari 500.000 pada tahun 2020 karena pandemi Covid-19. Padahal bandara yang melayani rute domestik ini pada tahun 2019 melayani 2,5 juta penumpang, dan dinobatkan sebagai bandara ketiga terbesar di Swedia. Lalu lintas di Bromma semakin merosot pada tahun 2021. Selama bulan Maret lalu, hanya 6.000 penumpang yang melewati terminalnya, penurunan 97 persen dibandingkan tahun 2019.

Sebagian besar lalu lintas udara komersial masuk dan keluar Stockholm saat ini ditangani oleh Bandara Arlanda, padahal jarak Arlanda 37 kilometer dari pusat kota Stockholm. Arlanda menangani lebih dari 25 juta penumpang pada 2019, dengan lalu lintas turun menjadi lebih dari 6,5 juta pada 2020.

Keputusan penutupan Bandara Bromma mendapat reaksi kontras dari berbagai partai politik di Swedia. Otoritas setempat khawatir penutupan bandara akan merusak bisnis di daerah tersebut karena Arlanda berjarak lebih dari 30 menit berkendara. Sebagai informasi, Bandara Vasteras dan Bandara Skavsta, jaraknya sekitar 100 kilometer dari pusat kota Stockholm.

Rencana awal adalah mempertahankan operasional Bromma hingga tahun 2038, yaitu saat Arlanda diharapkan memiliki landasan pacu keempat yang dibangun dan dapat dengan mudah menyerap semua lalu lintas yang saat ini ditangani oleh Bromma.

Namun penilaian dampak yang dilakukan pada tahun 2020 oleh Swedavia, perusahaan milik negara yang memiliki dan mengoperasikan bandara utama di Swedia, menetapkan bahwa mempertahankan bromma tidak dapat dibenarkan secara ekonomi. Di sisi lain, kelompok lingkungan mendukung inisiatif ini karena mereka melihat penerbangan komersial sebagai ancaman potensial terhadap target ambisius mereka untuk menjadikan Swedia netral karbon pada tahun 2045.

Baca juga: Jumbo Hostel Boeing 747, Penginapan Premium di Lingkungan Bandara Arlanda

Pemerintah Swedia kabarnya ingin membangun 400 hektar lahan yang saat ini ditempati oleh Bandara Bromma menjadi perumahan real estate premium dekat yang dengan pusat bisnis di Stockholm.

Sejarah Merger Boeing dengan McDonnell Douglas, Sempat Ditentang Eropa sampai Presiden AS Turun Tangan

Sebelum Airbus lahir, Douglas yang di kemudian hari berubah menjadi McDonnell Douglas lebih dahulu bersaing ketat dengan Boeing. Bahkan, mereka berhasil mengalahkan produsen pesawat terbesar dunia itu di pasar pesawat propeller.

Baca juga: Kompetisi Industri Dirgantara Inggris vs AS, Jadi Latar Belakang Lahirnya Boeing 707

Tak hanya itu, pabrikan juga sempat menjadi kompetitor terkuat Boeing di pasar narrowbody dan widebody dengan DC-8, DC-9, DC-10 dan MD-80. Namun, McDonnell Douglas mulai melemah bersama MD-11 dan akhirnya stop produksi setelah MD-90. Beberapa tahun kemudian, pabrikan dicaplok (merger) Boeing dengan mahar sebesar US$13,3 miliar di akhir abad ke-21, tepatnya pada tahun 1997.

Dikutip dari Simple Flying, pembahasan merger Boeing dengan McDonnell Douglas sebetulnya sudah dimulai sejak tahun 1990-an, tetapi mengalami kebuntuan, salah satunya akibat pertentangan dari Komisi Eropa terkait antipakat atau antitrust.

Merger keduanya dinilai telah mencederai harmonisasi progresif dari aturan Masyarakat Ekonomi Eropa (EEC) dan kebijakan ekonomi yang dirancang untuk pembentukan “pasar bersama” sejati. Kebuntuan terus berlanjut hingga akhir 1996, bersamaan dengan menumpuknya backlog atau pesanan pesawat Boeing selama periode ini.

Sebaliknya, McDonnell Douglas justru mulai melempem. Padahal, pabrikan tersebut mempunyai fasilitas produksi pesawat cukup besar. Dari sini, Boeing melihat sejumlah peluang untuk mengejar backlog pesawat dengan memanfaatkan fasilitas tersebut.

CEO Boeing kala itu, Philip Condit, menyebut merger Boeing-McDonnell Douglas merupakan momen bersejarah dalam industri penerbangan dan dunia kedirgantaraan. Kekhawatiran publik akan adanya tumpang tindih jobdesk pasca merger juga dengan sigap dibantah. Menurutnya, kemungkinan tersebut sangat kecil.

Justru sebaliknya, menurut CEO McDonnell Douglas, Harry Stonecipher, yang kemudian menjadi presiden dan Chief Operationg Officer Boeing (pasca merger), merger bakal menjadi win-win solution buat kedua belah pihak. Di bidang militer dan antariksa, misalnya, kedua belah pihak bisa saling melengkapi atau sharing teknologi mengingat banyaknya pesaing dalam industri tersebut.

Baca juga: McDonnell Douglas MD-12 – Calon Rival Queen of the Skies yang Tidak Laku di Pasar

Setelah menjadi batu sandungan, Komisi Eropa akhirnya menyetujui merger Boeing-McDonnell Douglas. Tentu dengan intrik politik lintas negara, dalam hal ini setelah Presiden Bill Clinton turun tangan untuk menekan Uni Eropa. Komisi Eropa sendiri -pasca ditekan- menyebut bahwa itu dapat membuat Boeing menguat di pangsa pasar pesawat jet.

“Komisi (Eropa) menganggap bahwa penguatan ini muncul dari potensi kompetitif MDC sendiri dalam pesawat jet komersial besar, dari peningkatan peluang bagi Boeing untuk mengadakan kesepakatan pasokan eksklusif jangka panjang dengan maskapai penerbangan (sudah dicontohkan oleh maskapai Amerika, Continental dan Delta), dan dari akuisisi aktivitas pertahanan dan luar angkasa MDC, yang kemudian memberikan keuntungan di sektor pesawat komersial melalui efek ‘spill-over’ dalam bentuk manfaat R&D dan transfer teknologi,” kata juru bicara Komisi Eropa.

Baidu Luncurkan Apollo RoboTaxi, Taksi Otonom Berbayar Pertama di Cina

Raksasa teknologi asal Cina, Baidu, mulai mengoperasikan Apollo RoboTaxi, taksi otonom dengan level tertinggi atau level 5, secara komersial pertama di Negeri Panda. Itu dilakukan di sekitar Taman Shougang Beijing, seperti pusat olahraga, perbelanjaan, kantor, cafe, dan hotel, yang kelak menjadi lokasi gelaran Olimpiade Musim Dingin 2022.

Baca juga: Lampaui AS, Cina Mulai Operasikan Taksi Otonom Level Tertinggi, Apollo RoboTaxi

Pengoperasian Apollo RoboTaxi di Beijing bukan dilakukan dengan tergesa-gesa. Sejak September tahun lalu, kelompok pertama dari 45 taksi otonom secara resmi memulai operasi uji coba di jalan-jalan perkotaan. Itu juga kelompok armada taksi otonom pertama di Cina yang dikelola oleh sistem Baidu’s Vehicle to Everything (V2X).

Diharapkan, kota-kota lainnya di seluruh Cina bisa segera mendapat layanan serupa, dimulai dengan uji coba secara massif.

Dilansir New Atlas, sejak uji coba tahun lalu, Apollo RoboTaxi, yang beroperasi tanpa “petugas keamanan” atau sopir cadangan, yang siap untuk mengambil alih kendali manual jika terjadi keadaan darurat, sesuai dengan peraturan lalu lintas saat ini, telah melahap uji coba sejauh 10 juta km.

Bagi penumpang, cara memesan layanan apa yang disebut sebagai 5G Remote Driving Service besutan Baidu ini juga mudah. Calon pengguna atau penumpang mengunduh aplikasi Apollo Go, memindai kode QR untuk verifikasi data, dan membuka pintu Apollo RoboTaxi. Jangan coba-coba membukanya tanpa memindai kode QR via aplikasi yang sudah ditunjuk. Sebab, sudah pasti gagal.

Aplikasi Apollo Go untuk memesan RoboTaxi Baidu. Foto: Baidu via New Atlas

Setelah masuk ke dalam Apollo RoboTaxi, penumpang cukup menekan tombol “jalan” pada aplikasi, dengan catatan, pintu sudah kembali ditutup dan sudah mengenakan seatbelt. Mobil tidak akan memulai perjalanan saat pintu masih terbuka atau belum tertutup sempurna dan penumpang belum menggunakan seatbelt.

Kendati tidak ada driver atau sopir cadangan yang siap mengambil kendali, RoboTaxi tetap bisa dikendalikan oleh petugas di pusat kontrol saat terjadi keadaan darurat.

Uji coba untuk kendaraan otonom tersedia di lebih dari 20 provinsi dan kota di Cina, dan enam kota – Beijing, Shanghai, Guangzhou, Changsha, Wuhan dan Cangzhou – telah memungkinkan tes pengangkutan penumpang pada kendaraan otonom. Itu karena, wilayah-wilayah tersebut telah didukung berbagai hal yang diperlukan untuk memulai taksi otonom level 5, utamanya marka jalan, kamera, dan instalasi 5G.

Selain taksi otonom Apollo RoboTaxi by Baidu, Cina juga punya raksasa ride-sharing, DiDi Chuxing, perusahaan lain yang juga sudah mulai mengoperasikan taksi otonom listrik. Meskipun uji coba baru dimulai pada Juni lalu, warga kota sudah sangat antusias mencoba layanan ini. Antrean panjang pun tak terelakkan.

Baca juga: AutoX Luncurkan Taksi Tanpa Pengemudi di Shenzhen

Namun demikian, taksi otonom DiDi Chuxing masih belum bisa berjalan dengan mulus. Di beberapa kondisi, driver AI melakukan pengereman dengan kasar dan membuat penumpang sampai terhuyung ke depan.

Meskipun dua perusahaan, ditambah beberapa perusahaan lain seperti SAIC Motor, DeepBlue Technology, dan AutoX by Alibaba, sudah mulai mengoperasikan taksi otonom, beberapa pendapat menyebut, untuk memulai pengoperasian secara massif di Cina, setidaknya butuh dua sampai tiga tahun untuk menyesuaikan taksi otonom dengan teknologi yang lebih mapan.

Sebelum A380 Lahir, Ternyata Airbus Sempat Mau Bikin Pesawat Ini untuk Lawan Boeing 747

Airbus tak tinggal diam dengan dominasi kuat Boeing di pasar widebody quadjet atau empat mesin lewat 747. Meski pada akhirnya meluncurkan Airbus A380 dan sempat sukses menggeser atau paling tidak merusak hegemoni Queen of the Skies, sebetulnya Airbus sempat ingin membuat pesawat widebody lain, sekalipun pada akhirnya itu tidak terwujud.

Baca juga: Inilah Aurora D8, Wujud Desain Pesawat Masa Depan Besutan NASA, Beroperasi 2030

Meski demikian, konsep gagasan Airbus itu tidak mati melainkan tanpa sengaja diteruskan oleh Aurora Flight Science, MIT, dan Pratt & Whitney serta didukung NASA.

Dilansir Simple Flying, alih-alih melawan Boeing 747 dengan proyek A3XX yang pada akhirnya dikenal sebagai Airbus A380, sebuah pesawat komersial terbesar di dunia, menurut buku Airbus A380: Superjumbo of the 21st Century oleh Guy Norris dan Mark Wagner, Airbus sempat ingin mengembangkan pesawat widebody P500 dengan konsep horizontal double bubble (HDB).

Kita tahu, Boeing 747 dan A380 memiliki dua tingkat ke atas. Nah, untuk pesawat P500 Double-Bubble, kabin dibuat seolah-olah memiliki dua tingkat. Tetapi, bukan ke atas, melainkan ke samping. Sesuai namanya, pesawat ini memiliki kapasitas 500 kursi dengan kabin tiga lorong.

Sebelum tahun 2000, Airbus terus mengalami pergolakan internal dan penuh dengan kebimbangan untuk memilih lanjutkan proyek A380 atau P500. Di tahun 2000, Airbus akhirnya memilih A380 dan berhasil terbang perdana pada 27 April 2005.

Pesawat kemudian memasuki tahun layanan untuk kali pertama bersama Singapore Airlines pada Oktober 2007 silam, sebelum akhirnya Airbus resmi stop produksi A380 pada Februari 2019.

Menurut banyak kalangan, kegagalan A380 disebabkan oleh beberapa hal. John Leahy, sales terbaik Airbus atau mungkin sales pesawat terbaik di dunia, menganggap mesin menjadi biang kerok kenapa Airbus tak mampu bertahan lebih lama di pasar widebody.

Ketika itu, Airbus merasa dibohongi oleh produsen mesin kenamaan, Rolls-Royce. Produsen mesin asal Inggris itu mengklaim, mesin pesawat yang digunakan A380 adalah mesin terbaik dan butuh 10 tahun lagi untuk pabrikan lain membuat mesin pesawat yang lebih baik dari itu.

Tak lama kemudian, Boeing 787 Dreamliner hadir di penghujung tahun 2009 dengan mesin Rolls-Royce Trent 1000 dan mesin General Electric GEnx 1B-12 yang inovatif dan lebih efisien 10-15 persen dari generasi sebelumnya.

Sekalipun A380 sudah tak lagi sanggup melawan dan 747 kembali berjaya, namun, jangan remehkan konsep pesawat P500 warisan Airbus yang digarap NASA dkk.

Disebutkan, Aurora Double-Bubble D8 diklaim akan membuat konsumsi bahan bakar lebih hemat 37 persen atau menurunkan emisi karbon dioksida hingga 87 persen serta lebih senyap atau minim polusi suara dibanding pesawat jet pada umumnya.

Baca juga: Sedih! Airbus A380 Digadang Bisa Jadi Jet Pribadi, Tapi Malah Ditolak Mentah-mentah

Kemudian, teknologi terbaru di bagian sayap Aurora D8 disebut mampu mengurangi hambatan pada badan pesawat sehingga membuat penerbangan jadi lebih efisien hingga 70 persen.

Selain itu, sayap terbaru itu juga membuat pesawat melaju lebih kencang mencapai kecepatan sekitar 936 km per jam atau Mach 0,74, didukung oleh mesin terbaru yang lebih kecil dan ringan dari Pratt & Whitney serta United Technologies. Pesawat juga disebut lebih senyap dari pesawat pada umumnya.