Maskapai Indonesia Tatap Penerbangan Tanpa Tujuan, Traveller Siap-siap

Setelah Bandara Soekarno-Hatta menyatakan siap mendukung “flight to nowhere” atau terbang tanpa tujuan, publik, dalam hal ini traveller, mulai menanti-nanti langkah maskapai dalam negeri, terutama Garuda Indonesia dan Lion Group sebagai pemegang market share terbesar, untuk memanfaatkan peluang tersebut.

Baca juga: Load Factor Maskapai Masih Melempem, Kemenhub: “Sangat Sangat Tidak Mudah”

Seperti masyhur terdengar sebelumnya, berbagai maskapai di dunia satu per satu mulai menjalankan program terbang tanpa tujuan dengan berbagai konsep. Maskapai EVA Air, China Airlines, dan All Nippon Airways (ANA) merupakan tiga maskapai awal yang meluncurkan penerbangan mirip joy flight tersebut.

Konsep yang ditawarkan tentu berbeda-beda. EVA Air menawarkan “flight to nowhere” dengan tetap memiliki negara tujuan, yakni ke Jepang. Hanya saja, maskapai tersebut tidak mendarat di Negeri Sakura dan kembali ke Taiwan untuk mendarat di bandara yang semula.

Berbeda dengan EVA Air, maskapai Taiwan lainnya, China Airlines lebih ke ranah wisata edukasi. Konsep “flight to nowhere” salah satu maskapai terbesar di Taiwan itu mengajak penumpang masuk ke kabin pesawat tanpa terbang ke suatu destinasi.

Di sini penumpang dapat mengenang pelayanan pramugari dan rasanya duduk di kursi pesawat. Selain itu, maskapai ini juga menawarkan pelajaran menjadi pramugari untuk anak-anak.

Selain dapat belajar menjadi pramugari, melalui kegiatan ini para penumpang juga berakting seolah mereka akan liburan ke negara lain. Setiap penumpang tetap harus melakukan check-in, melakukan pemeriksaan paspor, dan bahkan ada petugas keamanan yang siap mengarahkan penumpang menuju pesawat.

Adapun All Nippon Airways (ANA), konsep terbang ‘tanpa tujuan’ maskapai tersebut sedikit banyaknya hampir mirip dengan konsep yang akan ditawarkan Singapore Airlines, yakni terbang keliling langit sekitar bandara dan kemudian mendarat di bandara yang sama. Sedangkan penerbangan tanpa tujuan Royal Brunei Airlines bisa dibilang mirip dengan Qantas, terbang keliling negeri, mengunjungi beberapa ikon dan wisata andalan dalam negeri.

Garuda Indonesia dan Lion Group sendiri saat ini masih malu-malu mengadopsi penerbangan tanpa tujuan. Corporate Communications Strategic of Lion Air Group, Danang Mandala Prihantoro, mengatakan bahwa pihaknya masih menganalisis segalanya. “Kami masih analysis dan mempertimbangkan inisiatif,” terangnya kepada KabarPenumpang.com melalui pesan singkat, Rabu, (30/9).

Senada dengan Lion Group, Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra, mengungkapkan bahwa pihaknya mengaku belum tertarik ke arah sana. “Belum. Lagi review yang pas,” singkatnya kepada KabarPenumpang.com.

Baca juga: Lion Air Digugat 9 Leasing Pesawat Rp189 Miliar, Pengamat: Tak Ada Iktikad Baik Bayar Utang

Sebelumnya, Executive General Manager (EGM) Bandara Soekarno-Hatta, Agus Hariyadi, mengatakan bahwa pihaknya siap memberikan fasilitas bagi maskapai yang mungkin membuka perjalan wisata terbang tanpa tujuan. “Pasti kami support, bagi Bandara paling tidak program ini bisa menumbuhkan keyakinan publik untuk terbang lagi,” kata dia saat dihubungi Kompas.com melalui pesan singkat, Senin (28/9).

Namun, lanjut Agus, hingga saat ini masih belum ada maskapai yang membuka program perjalanan wisata naik pesawat tanpa tujuan tersebut. “Sejauh ini belum ada yang mengajukan atau berencana,” katanya.

ART Indonesia Diputus Tak Bersalah Setelah Tuduhan Pencurian, Kepala Bandara Changi Terpaksa Mundur

Kepala Bandara Changi yang bernama Liew Mun Leong menuduh Parti Liyani mencuri pada tahun 2016. Sehingga membuat wanita asal Nganjuk, Indonesia ini dijatuhi hukuman dua tahun lebih setelah dinyatakan atas empat tuduhan pencurian dari mantan majikannya tersebut.

Baca juga: Bantu Petugas dan Penumpang, Bandara Changi Operasikan 47 Unit Robot

Meski begitu, Parti Liyani tak berputus asa sehingga akhirnya dibebaskan oleh Pengadilan Tinggi Singapura dari semua tuduhan pencurian, lantaran penuntut gagal membuktikan kasusnya. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Parti Liyani awalnya mengalami petaka ini ketika majikannya yang merupakan bos di Bandara Changi tersebut meminta untuk bekerja di rumah Karl Liew, anak dari Liew Mun Leong.

Sayangnya Parti Liyani menolak karena dirinya terdaftar secara resmi hanya bekerja untuk Liew Mun Leong, bukan anaknya. Kemudian pada 28 Oktober 2016 dia dipecat karena tidak mengikuti perintah majikannya. Dia mengemas barang miliknya dan kembali ke Indonesia.

Ketika membereskan barang miliknya, dia dibantu dua pekerja lain dan ketika pulang ke Indonesia tidak membawa barangnya itu. Kemudian dia meminta untuk majikannya mengirimkan barang miliknya ke Indonesia tetapi pada 29 Oktober 2016, keluarga petinggi Bandara Changi tersebut menuduh Parti Liyani mengemas narkotika dan bom sehingga mereka membukanya.

Karena hal itu, keluarga Liew membuka kotak dan menemukan sejumlah barang milik mereka. Lalu, pada 30 Oktober 2016, Parti Liyani dilaporkan ke polisi oleh Liew Mun Leong. Dia dituduh mencuri barang milik keluarga Liew seperti dua unit ponsel, jam tangan bekas, pakaian wanita, selimut, dan barang lainnya dengan total nilai mencapai Rp340 juta.

Kotak itu tidak pernah dikirim ke Indonesia dan dijadikan barang bukti dalam kasus yang menjerat Parti Liyani. Pada 2 Desember 2016, Parti Liyani kembali ke Singapura guna mencari pekerjaan baru. Namun, dia langsung ditangkap saat tiba di Bandara Changi, Singapura.

Kemudian, dia divonis 2,5 tahun penjara atas kasus tuduhan pencurian itu. Namun Parti Liyani tak bergeming, dia kemudian mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Singapura. Selama proses hukum itu, Parti Liyani tinggal di tempat perlindungan dari yayasan HOME lantaran dia dilarang kembali ke Indonesia.

Setelah Parti Liyani diputuskan tidak bersalah dan dibebaskan oleh Pengadilan Tinggi Singapura, kemudian Liew Mun Leong mundur dari jabatannya sebagai kepala Bandara Changi.

Baca juga: Departemen Perhubungan Naikkan Permintaan Pajak Layanan, Maskapai Justru Lepas Tangan

Selain itu Tenaga Kerja Wanita ini meminta izin pengadilan untuk mengajukan gugatan disipliner pada dua jaksa yang menuntutnya bersalah dalam kasus pencurian. Melalui kuasa hukumnya, Anil Balchandani, Parti mengajukan gugatan terhadap dua jaksa yang bernama Tan Wee Hao dan Tan Yanying.

Jika Hyperloop Hadir di Bangalore, Kemacetan Parah Bisa Dikurangi

Baru-baru ini, Bangalore International Airport Limited (BIAL) dan Virgin Hyperloop menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) untuk studi kelayakan dalam menghubungkan Bandara Internasional Kempegodwa (KIA) dengan kota melalui transportasi hyperloop berkecepatan super tinggi. Nantinya jika proyek ini berjalan dan berhasil, akan menjadi sistem transportasi hyperloop pertama di India.

Baca juga: Wow, Paris-Amsterdam Hanya 90 Menit dengan Hyperloop

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman newindianexpress.com (28/9/2020), transportasi hyperloop sendiri akan menggunakan penggerak listrik dan levitasi elektromagnetik dalam kondisi hampir vakum. Transportasi hypreloop ini akan melaju hingga kecepatan 1080 km per jam dan mampu mengangkut ribuan penumpang per jamnya dari bandara ke kota atau sebaliknya dalam waktu kurang dari sepuluh menit.

Selain itu, pelancong juga bisa mempersingkat perjalanan multimoda dengan check in yang mulus dan keamanan untuk hyperloop serta perjalanan udara di portal hyperloop yang berada di pusat. Kehadiran hyperloop di India juga akan membantu mengatasi kemacetan lalu lintas. Berdasarkan MoU tersebut, prastudi kelayakan yang fokus pada teknis, ekonomi dan perencanaan rute diharapkan selesai dalam dua tahap yang mana masing-masing tahap menghabiskan enam bulan.

“Pelaksanaan studi kelayakan untuk konektivitas hyperloop dari KIA merupakan langkah besar lainnya untuk membangun infrastruktur yang diperlukan untuk menentukan mobilitas di masa depan, memungkinkan pergerakan orang yang efisien,” kata Sekretaris Utama Karnataka T M Vijay Bhaskar.

Sultan bin Sulayem, Chairman Virgin Hyperloop dan Group Chairman dan CEO DP World, mengatakan, pihaknya tengah mencari cara agar hyperloop dapat menjadi bagian dari solusi untuk mengatasi kemacetan dan mendukung pertumbuhan ekonomi di Bengaluru. Selain transit penumpang, bandara merupakan saluran penting untuk barang, terutama pengiriman yang sensitif terhadap waktu.

Bandara yang terhubung dengan hyperloop akan secara dramatis meningkatkan pengiriman kargo dan menciptakan rantai pasokan yang sangat efisien. MoU tersebut dipertukarkan secara virtual antara Sultan bin Sulayem dan Vijay Bhaskar yang juga merupakan Ketua Dewan Direksi BIAL, di hadapan Kapil Mohan, Sekretaris Utama, Departemen Pembangunan Infrastruktur, Karnataka.

“Inovasi teknologi adalah kunci untuk membangun dan mempertahankan pusat transportasi kelas dunia, dan studi (kelayakan) ini merupakan langkah maju yang penting,” kata Hari Marar, MD dan CEO, BIAL.

Baca juga: Inilah Penerapan “The New Normal” di Bandara Bengaluru Pasca Lockdown

Jay Walder, CEO Virgin Hyperloop mengatkan, bandara yang mendukung hyperloop tidak hanya akan memungkinkan perjalanan yang lebih cepat, tetapi juga akan menciptakan pengalaman penumpang abad ke-21 dan memperluas kapasitas bandara. KIA, pusat transit utama di selatan, akan terhubung dengan jalur kereta pinggiran kota dalam beberapa minggu dan akan memiliki konektivitas Metro dalam empat tahun.

Load Factor Maskapai Masih Melempem, Kemenhub: “Sangat Sangat Tidak Mudah”

Maskapai penerbangan seluruh dunia, termasuk maskapai dalam negeri, sangat terpukul akibat pandemi virus Corona. Hal itu setidaknya terlihat dari load factor maskapai yang terus-menerus berada di bawah level sebelum pandemi menerjang.

Baca juga: Pengamat Aviasi di Dunia Sebut Penerbangan Jarak Jauh Sulit Pulih Cepat Tanpa Hal Ini

Menanggapi hal itu, Direktur Jenderal (Dirjen) Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Novie Riyanto, mengaku tak mudah untuk mengembalikan load factor maskapai ke titik semula. Ada begitu banyak faktor, salah satunya kepercayaan penumpang.

“Untuk kembali seperti semula sangat-sangat tidak mudah,” terangnya, dalam webinar bertajuk Covid-19 and Aircraft Financing Industry yang diinisiasi oleh Masyarakat Hukum Udara, Selasa, (29/9).

“Tidak mudah kembalikan load factor karena kuncinya adalah kepercayaan penumpang,” lanjutnya.

Dari data yang disajikan dalam pemaparannya, diketahui rata-rata penurunan load factor selama pandemi virus Corona berlangsung sebesar 22,9 persen dibandingkan tahun lalu. Di tahun 2019, 12 maskapai nasional berhasil mencatat load factor mencapai 74,47 persen.

Sejalan dengan itu, jumlah penumpang domestik juga tercatat turun drastis. Penurunan terpantau mulai terjadi pada bulan Februari, dimana penumpang hanya mencapai 6,2 juta, turun sekitar 600 ribu pax dibandingkan bulan sebelumnya.

Di bulan berikutnya, penurunan meningkat menjadi sekitar 800 ribu pax. Setelah kasus virus Corona pertama di Indonesia dikonfirmasi, jumlah penumpang domestik pun anjlok tajam dengan jumlah kehilangan mencapai 4 juta pax, dari semula 5 juta penumpang di bulan Maret menjadi kurang dari 1 juta penumpang di bulan April.

Puncaknya terjadi di bulan Mei, dimana hanya ada kurang dari 80 ribu penumpang domestik sepanjang bulan tersebut. Padahal, penumpang domestik di Indonesia mencapai 80 persen.

Sekalipun di bulan Juni, Juli, dan Agustus jumlah penumpang pesawat udara mulai kembali meningkat, namun, jumlahnya tak cukup signifikan. Bahkan, lonjakan dari bulan Agustus ke September bisa dibilang cenderung stagnan berkisar di angka 2,3 juta penumpang. Jumlah pergerakan pesawat di bandara, dalam catatan Novie, juga masih rendah.

Baca juga: Lion Air Digugat 9 Leasing Pesawat Rp189 Miliar, Pengamat: Tak Ada Iktikad Baik Bayar Utang

Penurunan tersebut memang dirasa cukup relevan dengan adanya pembelakuan SE 25 Tahun 2020 Tentang Pembatasan Mudik dan Pengendalian transportasi, disusul dengan Surat Edaran 04 Tahun 2020 tentang pembatasan orang dan barang. Namun semua itu berakhir per tanggal 21 Mei 2020 dan dilanjutkan dengan Surat Edaran (SE) Permenhub 41 tahun 2020.

Secara aturan, SE tersebut sebetulnya tetap membatasi penumpang pesawat udara maksimal 70 persen dari kapasitas. Namun, ketidakjelasan SE tersebut pada akhirnya dengan mudah dilanggar maskapai. Terbukti, beberapa kali Lion Air menerbangkan pesawat penuh sesak saat SE tersebut masih berlaku. Sayangnya, sekalipun sudah dipayungi dengan SE abu-abu, faktanya penerbangan domestik masih tak kunjung melesat seperti sediakala.

Oktober 2020, Kereta Bawah Tanah Tercepat di Dunia Mengular di Guangzhou

Kereta bawah tanah melaju dengan kecepatan tinggi? Ya, ini sudah berhasil dilakukan oleh Cina. Di mana Negeri Tirai Bambu itersebut sudah memiliki kereta metro bawah tanah tercepat yang mampu melaju hingga 160 km per jam.

Baca juga: Ulang Tahun Ke-9, Inilah Cerita Kereta Api Berkecepatan Tinggi Beijing-Shanghai

Kereta bawah tanah tersebut bakal melayani penumpang di jalur metro nomor 18 dan 22 di Guangzhou Metro yang berada di Provinsi Guangdong, Cina Selatan. Kereta metro bawah tanah ini akan mulai mengangkut penumpang pada Oktober mendatang.

KabarPenumpang.com melansir dari laman metrorailnews.in (27/9/2020), beroperasinya kereta bawah tanah di dua jalur ini, akan memudahakn penumpang dari Kawasan Perdangan Bebas di Nansha yang menuju ke Stasiun Guangzhou Selatan. Perjalanan ini hanya membutuhkan waktu sekitar 25 menit. Sedangkan perjalanan dari Kawasan Perdagangan Bebas di Nansha menuju ke Stasiun Guangzhou Timur ditempuh dengan waktu sekitar 30 menit.

Kedua jalur ini akan diperpanjang hingga ke Zhongshan, Dongguan dan Zhuhai yang berbatasan langsung dengan Makau. Kereta metro bawah tanah tersebut merupakan buatan CRRC Zhuzhou Locomotive Co LTD dan merupakan yang pertama dengan kecepatan 160 km per jam di kawasan Guangdong-Hong Kong-Makau.

Untuk diketahui, kereta tersebut menggunakan teknologi tercanggih dan inovatif karena bisa dioperasikan melalui sistem kendali berbasis Artificial intelligence atau AI. Tak hanya itu, perawatannya pun berbasis maha data dan sistem cloud atau yang biasa disebut komputasi awan.

Saat ini otoritas perkeretaapian Guangzhou telah memesan 40 rangkaian kereta metro bawah tanah tersebut untuk beroperasi di jalur 18 dan 22. Hingga saat ini, belum ada kereta metro bawah tanah dengan kecepatan 160 km per jam.

Baca juga: Punya 2 Ekstensi Baru, Metro Beijing Kukuhkan Jadi Jaringan Kereta Bawah Tanah Terpanjang

Sebab beberapa kota di Cina yang mengoperasikan kereta bawah tanah rata-rata hanya berkecepatan 80 sampai 100 km per jam. Di Cina yang memiliki jalur kereta bawah tanah terbanyak adalah Beijing yakni 20 jalur termasuk jalur khusus Bandara Internasional Ibukota Beijing atau BCIA dan Bandara Internasional Daxing.

Intip Kemampuan Truk Offroad Kelas Dunia Milik TNI AL, Tatrapan 6×6

Korps Marinir TNI AL bisa dibilang memiliki tugas berat dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), mengingat luasnya wilayah perairan negara. Karenanya, dibutuhkan berbagai alutsista memadai, termasuk kendaraan taktis (rantis) yang tangguh di segala medan. Salah satunya seperti Tatrapan 6×6.

Baca juga: Seperti di Film James Bond “Golden Eye,” Rusia Kembali ‘Hidupkan’ Kereta Lapis Baja dengan Peluncur Rudal Balistik

Disarikan dari Indomiliter.com, kendaraan taktis besutan VYVOJ Martin ini mempunyai kemampuan melahap medan terjal berkat sasis truk offroad kelas dunia warisan pendahulunya, Tatra T815. Disebut kelas dunia, sebab, sasis tersebut berhasil mengantarkan sang empunya untuk meraih tahta tertinggi di kejuaraan Reli Dakar yang saat ini sudah memasuki tahun ke-42.

Sekalipun rantis TNI AL yang baru bergabung pada pertengahan 2016 lalu ini memiliki enam roda serta bobot seberat 24 ton lebih, namun medan terjal mudah baginya berkat kepemilikan one central differential and 3 lockable differentials, independen sprung, dan poros gardan yang berayun. Tak hanya itu, backbone frame pada Tatrapan juga dilengkapi tabung pendukung dengan excellent tensional rigidity dan inflasi ban yang terpusat.

Struktur rangka bagian bawah kendaraan juga sudah mengedepankan model V-shaped, layaknya kendaraan mewah di dunia, sehingga bila terjadi benturan keras ataupun terkena ledakan ranjau darat efek ledakan dapat diredam untuk keselamatan awaknya.

Selain bisa lazim digunakan sebagai kendaraan militer, truk Tatrapan 6×6 VYVOJ Martin juga terbuka untuk pemanfaatan secara luas di sektor sipil. Sebab, desain rantis ini memiliki dua bagian otonom, seperti halnya truk pada umumnya yang sering dijumpai di jalanan; di samping kemampuan offroadnya yang sangat memudahkan bila beroperasi sebagai kendaraan sipil.

Kompartemen pertama Tatrapan 6×6 tentu adalah bagain kepala truk, berisi sistem kemudi dan space untuk penumpang. Adapun kompartemen kedua merupakan superstruktur kendaraan bagian belakang yang dapat dimodifikasi untuk beragam aplikasi sesuai kebutuhan.

Dengan struktur bagian belakang yang dapat dikustomisasi, maka Tatrapan 6×6 dapat disulap untuk berbagai misi, seperti armoured personnel carrier, ambulance, command post, dan patrol vehicle. Varian dasarnya adalah Tatrapan T1 ZASA yang merupakan jenis APC yang bisa membawa 10 pasukan. Dengan kapasitas ruang interior yang besar, penambahan perangkat seperti radio electric combat, fire control system dan medical equipment masih dimungkinkan.

Baca juga: Bandara Internasional Moskow Gunakan Tank untuk Menderek Pesawat

Berbagai kemampuan taktis Tatrapan 6×6 juga diikuti oleh torsi besar di dapur pacu. Rantis yang secara teori mampu mengubah konfigurasi dari model umum ke model khusus ini dibekali dengan mesin Tatra T3-930-51 turbocharged air cooled diesel engine yang dapat menghasilkan 355 tenaga kuda.

Pilihan lainnya Tatrapan bisa juga menggunakan mesin diesel lansiran Deutz, yakni dari jenis KHD Deutz 6 silinder water cooled engine. Mesin ini mengadopsi transmisi otomatis TD 611175 (six forward and one reverse gear). Mesin ini punya tenaga yang lebih besar 450 tenaga kuda. Dengan bahan bakar penuh, Tatrapan dapat melaju sejauh 1.000 km dengan kecepatan maksimum di jalan raya hingga 80 km per jam.

Pengamat Aviasi di Dunia Sebut Penerbangan Jarak Jauh Sulit Pulih Cepat Tanpa Hal Ini

Beberapa pengamat dunia berpendapat bahwa penerbangan jarak jauh tergolong lama untuk pulih kembali. Hal itu disebabkan sulitnya meraih kembali kepercayaan penumpang, baik penumpang tujuan bisnis maupun penumpang liburan (traveller).

Baca juga: Emirates Luncurkan Penerbangan Terpanjang di Dunia Pasca Lockdown

“Perhatian utama tetap pada kepercayaan penumpang dalam melakukan perjalanan,” kata Joanna Lu, analis di Cirium, dalam webinar eGlobal Travel Media pekan lalu, seperti dikutip dari Simple Flying. “Ini adalah masalah bagi semua maskapai, khususnya bagi maskapai penerbangan kenamaan dunia,” tambahnya.

Selain itu, berbagai panelis lain juga berpendapat bahwa kunci untuk mendapatkan kembali kepercayaan penumpang dengan cara menunjukkan hal-hal baik kepada mereka, mulai dari prosedur disinfeksi ketat dibalut teknologi mutakhir, baik sesudah maupun sebelum pesawat beroperasi, membuktikan pesawat bebas Covid-19 berkat filter HEPA, serta berbagai kebijakan lainnya, pra penerbangan, saat on board, maupun pasca penerbangan.

Akan tetapi, di antara beberapa panelis, salah satunya menekankan, berbagai prosedur penerbangan ketat di masa pandemi virus Corona mungkin akan membuat penerbangan jarak pendek atau rute-rute regional lebih muda pulih dibanding penerbangan jarak jauh. Penerbangan tersebut (jarak jauh) baru akan pulih bila mana vaksin sudah tersedia. Tak ada pilihan lain.

Selama periode tersebut (tersedianya vaksin di pasaran) belum datang, praktis, maskapai hanya bisa menerapkan prosedur ketat pra hingga pasca penerbangan. Meski demikian, tak ada satupun orang yang mampu meyakinkan orang lainnya untuk berani terbang sekalipun vaksin sudah tersedia. Selain itu, regulasi baru oleh pemerintah pasca ketersediaan vaksin juga memegang peran penting.

“Satu hal yang saya yakini akan memberi kepercayaan konsumen untuk kembali terbang adalah vaksin. Sekali lagi, itu juga dipertanyakan. Itu tergantung pada berapa banyak orang yang menerima vaksin, dan apakah pemerintah akan mengeluarkan semacam paspor untuk mengatakan, ‘Saya telah divaksinasi, saya dapat bepergian dengan aman’?” jelas Joe Cusmano, salah satu travel blogger kenamaan dunia lewat laman straynomad.com miliknya.

Penerbangan jarak jauh tanpa adanya vaksin disebut hanya akan membuat kebanyakan penumpang khawatir bakal tertular virus Corona. Terlebih, bukti atas itu sudah ada di depan mata.

Belum lama ini, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat (AS) menerbitkan hasil studi mencengangkan. Dari analisis data penerbangan rute Hanoi-London pada bulan Maret lalu, ditemukan setidaknya 12 penumpang tertular Covid-19 dari seorang penumpang first class.

Baca juga: Mengenang DC-10: Pelopor Penerbangan Jarak Jauh Modern Sekaligus Berlabel Jebakan Maut

Singkatnya, penerbangan regional hampir dipastikan jauh lebih aman dibanding penerbangan jarak jauh. Sekalipun penerbangan jarak jauh harus ditempuh, umumnya penumpang lebih nyaman dengan penerbangan transit.

Selama ini, penerbangan jarak jauh lebih bergantung pada perjalanan bisnis dibandingkan pelancong. Celakanya, penumpang perjalanan bisnis, kata CEO Air Canada, Calin Rovinescu, saat ini dan ke depan diprediksi akan lebih nyaman dengan the new era atau the new normal, meeting secara daring. Berbagai fakta tersebut pada akhirnya menjadi analisa tak terbantahkan dan masuk akal untuk menyimpulkan lambannya penerbangan jarak jauh untuk pulih kembali.

Rayakan HUT Ke-75, PT KAI Berganti Logo yang Terinspirasi dari Rel Kereta

Menjadi salah satu yang terpenting bagi identitas perusahaan, logo kerap kali berubah yang menandakan adanya perubahan baru. Seperti yang dilakukan PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang mengubah logonya dengan tujuan untuk mempercepat integrasi bisnis dan menambah fleksibilitas ekspansi bisnis kedepannya.

Baca juga: Ternyata Kereta Api Indonesia Sudah Berganti Logo 3 Kali

Pada Hari Ulang Tahun ke-75 tahun pada 28 September 2020 kemarin, Direktur Utama Didiek Hartantyo mengatakan, perubahan logo ini sebagai langkah transformasi sebuah brand architecture yang efektif. Sehingga hal ini akan menciptakan keterpaduan di dalam KAI Group.

Didiek menyebutkan, logo KAI yang baru ini terinspirasi dari bentuk rel kereta yang digambarkan dengan garis menyambung ke atas pada huruf A. KAI diharapkan terus maju dan menjadi solusi ekosistem transportasi terbaik yang terintegrasi, terpercaya, bersinergi dan kelak dapat menghubungkan Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

“Di samping itu, pergantian logo KAI diharapkan dapat semakin meningkatkan proses komunikasi terhadap semua stakeholders, serta dapat mengefisienkan anggaran. Perubahan logo ini dalam rangka menjawab tantangan yang ada dan selaras dengan visi KAI yang baru yaitu Menjadi Solusi Ekosistem transportasi terbaik untuk Indonesia,” kata Didiek yang dikutip KabarPenumpang.com dari kai.id.

Dengan menggunakan typeface italic yang dinamis dan modifikasi pada huruf A menggambarkan karakter KAI yaitu progresif, berpikiran terbuka, dan terpercaya. Grafik yang tegas namun ramah dengan perbedaan warna pada huruf diharapkan dapat mencerminkan hubungan yang harmonis dan kompeten antara KAI dan seluruh pemangku kepentingan.

Sementara perpaduan antara warna biru tua yang menunjukkan stabilitas, profesionalisme, amanah, dan kepercayaan diri, yang ditambah dengan aksen warna oranye yang menunjukkan antusiasme, kreativitas, tekad, kesuksesan, dan kebahagiaan.

“Semoga dengan logo baru ini memberikan spirit baru bagi KAI untuk mewujudkan visi berlandaskan pada nilai-nilai utama yang baru yaitu AKHLAK: Amanah, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif,” kata Didiek.

Baca juga: GoJek Punya Logo Baru, Ungkap Bentuk Universal dari Beragam Solusi

Untuk diketahui, hingga saat ini dengan logo baru, PT KAI sudah mengganti logo sebanyak empat kali di mana yang pertama tahun 1953 hingga 1988, kedua tahun 1988 hingga 1990. Logo ketiga diganti pada 28 September 2011 tepat pada perayaan HUT KAI ke-66 tahun.

Pramugari dan Pilot Korean Air Bahu-Membahu Gagalkan Pembajakan Pesawat

Pramugari dan pilot Korean Air belum lama ini dikabarkan berhasil meredam salah satu penumpang dengan postur tinggi kekar saat melahap rute Seoul-Seattle. Meski tak bersenjata, warga negara Korea Selatan (penumpang) yang tinggal di Colorado, Amerika Serikat (AS) itu tetap saja mengancam keselamatan dan keamanan penerbangan dengan mencoba menguasai pesawat.

Baca juga: Mengenang Korean Air 007, Korban Perang Dingin Soviet-AS yang Dirudal Gegara Insiden “Mata-mata”

Dilansir nypost.com, insiden tersebut bermula saat empat-lima pramugari sedang menjalankan tugas-tugas on board seperti sedia kala. Tiba-tiba, seorang penumpang meronta-ronta, bangkit dari kursi dan menuju pintu kokpit sambil berkata bahwa ia ingin pesawat diterbangkan ke Vancouver, Kanada. Alasannya, ia belum pernah berkunjung ke sana. Saat itu, para pramugari yang kalah postur tak bisa berbuat banyak.

Saat penumpang yang diketahui bernama Gyeong Jei Lee itu semakin menjadi-jadi dan mengganggu kenyamanan seisi pesawat, barulah seorang pramugari meminta tolong ke salah seorang penumpang kelas bisnis, Gene Parente, untuk membantu mereka menghentikan pengacau tersebut.

Gene Parente tak serta mereta langsung membantu pramugari. Sebab, di matanya, Lee begitu kacau. Di samping itu, postur mereka juga bisa dibilang sebanding, sama-sama memiliki tinggi sekitar 2 meter dengan tubuh kekar. “Itu adalah ketakutan terburuk saya pasca 11/9. Saya langsung panik,” kata Parente usai dimintai tolong oleh salah seorang pramugari.

Tak punya pilihan lain, Parente kemudian bangkit dan menatap tajam Lee. Keduanya kemudian terlibat baku hantam hingga terseret ke bagian tengah kabin utama. Tak lama kemudian, pilot dan co-pilot keluar dari kokpit untuk menghentikan kekacauan tersebut.

Baik Lee maupun Parente pun akhirnya berhenti saling pukul dan kembali ke kursi masing-masing. Keduanya sama-sama di kelas bisnis. Tak lama kemudian, Lee kembali menyerang Parente dan baku hantam kembali terjadi. Nampaknya Lee sudah tak mempedulikan tujuannya untuk mengambil alih pesawat dan lebih memilih fokus ke Parente. “Dia seperti binatang buas,” jelas Parente.

Di posisi inilah, para pramugari bertindak heroik. Mereka bahu-membahu mengambil tali untuk menghentikan Lee dan mengikatnya di kursi. Tentu saja dengan dibantu Parente dan kedua pilot. Setelah itu, penerbangan kembali dilanjutkan dengan lebih kondusif, sekalipun Lee terus meronta-ronta.

Baca juga: Mabuk dan Ngamuk Gegara Diputusin Pacar, Wanita ini Pukul Jendela Pesawat Sampai Retak

Setelah tiba di bandara, sekitar 30-an petugas, terdiri dari polisi bandara, bea cukai, petugas keamanan dan negeri serta tentu saja FBI, menjemput Lee dari pesawat dan langsung diamankan ke kantor polisi terdekat. Ia pun didakwa telah menggangu awak dan melakukan penyerangan di pesawat.

Meskipun Parente dinilai sebagai sosok penting di balik keberhasilan pramugari dan pilot dalam meredam permasalahan itu, ia justru mengalamatkan pujian tersebut ke mereka. “Para pramugari dan dua kapten Korean Air juga bertindak heroik,” pungkasnya.

14 Tahun Sudah Bandara Suvarnabhumi Layani Penerbangan Internasional

Bila Indonesia punya Soekarno-Hatta, maka Thailand punya Suvarnabhumi, yang notabene inilah bandara internasional utama yang berlokasi di Bangkok, Suvarnabhumi menggantikan posisi Bandara Don Mueang yang kini hanya melayani penerbangan regional untuk penerbangan berbiaya murah (LCC).

Dan tepat 14 tahun lalu, Suvarnabhumi resmi dibuka pada tahun 2006 untuk penerbangan terbatasnya pada 15 September 2006 dan membuka secara keseluruhan untuk rute domestik dan internasional pada 28 September 2006.

Baca juga: ‘Raja Garbarata’ Indonesia Menangkan Tender Pengadaan di Bandara Don Mueang Thailand

Suvarnabhumi terletak di Racha Thewa di distrik Bang Phli, Samut Parakan sekitar 25 km timur Bangkok. Nama Suvarnabhumi sendiri dipilih oleh Raja Bhumibol Adulyajed yang berarti tanah emas. Di desain oleh Helmut Jahn dari Murphy/Jan Architecs, bandara ini sudah berdiri selama 14 tahun dan memiliki menara kontrol (ATC) tertnggi di dunia yakni 132,2 meter.

Luas Bandara Suvarnabhumi 563 ribu meter persegi dan menjadikannya bandara dengan luas terminal tunggal kedua di dunia setelah Bandara Internasional Hong Kong. Bahkan juga menjadi bandara tersibuk keempat di Asia setelah Bandara Internasional Haneda, Bandara Internasional Beijing dan Bandara Internasional Hong Kong.

Dirangkum KabarPenumpang.com, bandara yang didesain oleh Helmut Jahn ini terlihat memiliki struktur dan imaji modernitas. Hal tersebut terlihat dengan warna metalik yang menjadi mayoritas dengan kerangka dan penyangga yang terbuka.

Selain itu warna siluet biru menghiasi kerangka logam dan nyalanya membuat pendar-pendar indah. Kaca menjadi struktur utama yang sangat berperan dalam menunjukkan gaya arsitekturnya. Tak hanya itu, kaca menjadi struktur utama yang sangat berperan dalam menunjukkan gaya arsitetur Bandara Suvarnabhumi.

Dalam mengimbangi ini, Bandara Suvarnabhumi menambahkan instalasi seni yang bergaya Thailand seperti di area keberangkatan yang akan segera terlihat setelah melalui imigrasi serta patung besar di area kedatangan. Menjadi bandara internasional di Thailand, Bandara Suvarnabhumi dilengkapi dengan fasilitas yang membuat pelancong cukup nyaman berada di sini.

Penasaran dengan fasilitasnya? Bandara Internasional Suvarnabhumi dilengkapi berbagai restoran siap saji dari berbagai negara baik makanan Asia, Thailand maupun lainnya dan buka 24 jam di area keberangkatan. Area ruang tunggu bahkan menyediakan lebih banyak pilihan lagi selain melimpahnya toko bebas pajak menjual berbagai produk bermerek internasional.

Telepon umum berbayar kartu kredit juga melimpah di area keberangkatan di lantai empat dan beberapa di lantai lainnya. Bagi pelancong muslim jangan khawatir untuk mendapat makanan halal karena ada beberapa toko yang khusus menjualnya (ada tiga atau empat) di keberangkatan dan tak perlu khawatir karena ada musholla yang sangat representatif di lantai tiga.

Baca juga: Nok Air, Terkenal dengan Logo Paruh Burung, Inilah LCC Khas Thailand

Bandara ini merupakan hub bagi maskapai penerbangan Thailand seperti Asia Atlantic Airlines, Bangkok Airways, Business Air, Jet Asia Airways, Orient Thai Airlines, Thai Airways International, dan Thai Smile. Apabila Anda bertolak dari Jakarta, Anda dapat mengakses bandara ini dengan memilih di antara beberapa maskapai di antaranya Bangkok Airways, Cathay Pacific, Garuda Indonesia, Malaysia Airlines, Qatar Airways, Singapore Airlines, dan TigerAIr.