Taksi Konsep Swakemudi Menangkan “Ford New Norm Mobility Award”

Jarak sosial yang diberlakukan di masa pandemi Covid-19 menjadi sebuah tantangan baru untuk mobilitas masyarakat yang memengaruhi angkutan umum dan arus lalu lintas saat ini. Hal tersebut membuat lulusan desain transportasi dari Staffordshire University di Inggris mengembangkan solusi baru yang cukup unik.

Baca juga: Penggunaan Partisi dalam Taksi Rusia Masih Kontroversi

Dia membuat solusi yang dapat membantu orang-orang yang memiliki mobilitas terbatas untuk berjalan dengan aman dan terlindungi sambil tetap menjaga jarak sosial. Dilansir KabarPenumpang.com dari taxi-point.co.uk (19/9/2020), Marius Lochner mengembangkan konsep “muvone” dan memenangkan Ford “New Norm Mobility Award”.

Lochner menantang untuk mengembangkan konsep, ide dan solusi mobilitas yang menangani skenario baru yang dibuat karena pandemi. Sebagai salah satu taksi swakemudi atau mengemudi sendiri, konsep “muvone” mengutamakan kemanan mobilitas individu, memungkinkan orang untuk bepergian ke mana pun dan kapan pun mereka mau dengan nyaman.

“Krisis Covid-19 telah sangat memengaruhi kehidupan kita, mengubah cara orang dan barang bergerak, dan menciptakan ‘normal baru’ bagi semua orang. Ini membutuhkan ide-ide baru untuk aplikasi, fitur, desain dan mobilitas, pada saat kendaraan adalah ruang pribadi pilihan dan kesehatan pribadi menjadi lebih penting daripada sebelumnya,” kata Chris Hamilton, kepala desainer, Ford Eropa.

Konsep “muvone” menampilkan interior minimalis dengan permukaan datar dan bahan yang mudah dibersihkan sehingga kendaraan dapat didisinfeksi di sela-sela perjalanan. Ini dirancang untuk memungkinkan inklusi sosial yang lebih besar pada saat penyandang disabilitas sangat membutuhkannya, kemudahan aksesibilitas membuat “muvone” sangat cocok untuk warga lanjut usia dan orang dengan mobilitas terbatas.

Penghargaan ini merupakan bagian dari “Penghargaan Desainer Baru” yakni pertunjukan lulusan desain terbesar di Inggris Raya dan terbuka untuk mahasiswa lulusan desain. Tahun ini, pertunjukan digelar secara virtual dan untuk konsep kemenangannya, Lochner menerima £1000 (€1.120), ditambah satu semester pendampingan dari kepala desainer Ford Eropa Ernst Reim dan Sonja Vandenberk, yang merupakan bagian dari panel juri bersama dengan Hamilton dan Amko Leenarts, direktur Desain Eropa Ford.

Penghargaan ini dijalankan dalam kemitraan dengan Majalah Top Gear. Charlie Turner, direktur editorial Top Gear, adalah bagian dari panel juri dan memberikan umpan balik mendetail pada semua proposal desain.

“Luasnya dan kreativitas yang ditunjukkan dalam entri untuk tantangan ini sangat mengesankan dan mengartikulasikan kedalaman sebenarnya dari bakat generasi mendatang yang datang melalui sistem pendidikan. Namun, itu tidak membuat memilih pemenang sama sekali tidak mudah,” kata Turner.

Baca juga: Dulu Taksi Kondang dengan Cat Warna Kuning, Inilah Asal Muasalnya

Sebagai kendaraan cerdas untuk dunia cerdas yang menempatkan fokus pada privasi dan keamanan individu, “muvone” sangat erat dengan pendekatan desain Ford yang berpusat pada manusia. Bahasa desain konsep yang ramah, pencitraan merek yang cermat, dan kesesuaian untuk digunakan dengan infrastruktur perkotaan saat ini membantu mengangkatnya di atas entri lainnya.

Inggris Pasang “Orang-orangan Sawah” untuk Hindari Burung yang Ganggu Perjalanan Kereta Api

Sejak Desember tahun lalu, Avanti West Coast, perusahaan layanan kereta di Inggris, telah mengalami total 20 insiden di seluruh barat laut yang berkaitan dengan burung di saluran udara atau tertabrak kereta api. Salah satunya yakni sejumlah besar burung telah menyebabkan kerusakan pada pantograf kereta listrik Pendolino Avanti West Coast dan peralatan saluran udara yang memberi mereka tenaga di depot Alstom di Longsight, Manchester.

Baca juga: West Coast Avanti, Kereta Spesial di Inggris dengan Awak LGBT

Ini kemudian membuat Network Rail dan Avanti West Coast memasang perangkat baru yang bisa menakuti burung sambil melindungi mereka dari kemungkinan sengatan listrik. KabarPenumpang.com melansir dari railtechnologymagazine.com (1/9/2020), peralatan ini senilai £2000 dan telah diuji coba secara efektif dan dipasang oleh tim unit Pengiriman Pemeliharaan Manchester Network Rail.

Kehadirannya untuk mencegah burung menjauh dari depot yang berarti kereta jarak jauh yang akan berhenti tidak akan terganggu dan rusak tiba-tiba serta membuat mereka keluar dari layanan dan tertunda untuk perbaikan. Dengan adanya peralatan ini, membuat perjalanan penumpang jauh lebih baik bagi pelancong yang ingin berlibur atau pebisnis di masa mendatang.

Untuk diketahui, burung-burung ini diperkirakan bertengger di atas peralatan saluran udara dan kereta api yang tengah berhenti untuk mengangkut penumpang.

“Saat kami mulai menyambut kembali penumpang yang kembali ke jalur kereta North West, mereka ingin tahu bahwa layanan mereka dapat diandalkan dan tepat waktu. Burung di gudang Alstom telah menjadi gangguan nyata, tetapi solusi ini sama-sama menguntungkan, melindungi satwa liar dan kereta api dari bahaya,” kata Phil James, Direktur Rute North West Network Rail.

“Orang-orangan sawah elektronik adalah salah satu dari banyak metode yang kami terapkan di seluruh Barat Laut untuk membuat infrastruktur kami lebih andal, sehingga kami dapat memberikan layanan kereta tepat waktu yang dapat dibanggakan oleh orang-orang di Barat Laut,” tambah Phil.

Nick Westcott, Direktur Operasi di Avanti West Coast, mengatakan, pihaknya selalu menjajaki inisiatif aru untuk membuat rute mereka tahan terhadap berbagai skenario dan perjalanan pelanggan dapat lebih diandalkan.

Baca juga: Gegara Semprotan Tabir Surya, Kereta Cepat Cina Harus Berhenti Mendadak

“Burung dapat menunda kereta kami atau menyebabkan kerusakan pada mereka dan kabel di atasnya, jadi bekerja dengan Network Rail untuk memasang orang-orangan sawah elektronik akan membantu mencegah burung keluar dari rel kereta dan meningkatkan keandalan perjalanan pelanggan kami antara Manchester dan London,” kata Nick.

Kapten Kapal Selamat, Naskah Langka William Shakespeare Hilang di SS Arctic yang Tenggelam

Pada 27 September 1854, kapal SS Arctic yang dalam perjalanan dari Liverpool ke New York bertabrakan dengan SS Vesta di 50 mil atau 80 km di lepas pantai Newfoundland. Tabrakan ini karena adanya kabut tebal yang datang secara tiba-tiba dan dari sekitar 400 orang di kapal Artic hanya sekitar 80 orang yang selamat.

Baca juga: 1 September 1985, Bangkai Kapal Titanic Ditemukan, Banyak Barang Masih Utuh

Korban yang meninggal terbanyak yakni wanita dan anak-anak karena sekoci yang diturunkan dalam suasana panik dan kekacauan serta prinsip wanita dan anak-anak lebih dahulu diabaikan. Pada kecelakaan ini, pikiran pertama dari kapten James F. Luce adalah memberikan bantuan kepada SS Vesta yang terancam tenggelam.

Namun setelah diberitahu bahwa kapalnya sendiri mulai tenggelam dan air sudah mulai masuk, Luce memutuskan kabur ke daratan terdekat. Sayangnya upaya yang dilakukannya gagal, lambung SS Arctic terus terisi air laut.

Bahkan mesin berhenti ketika kapal masih cukup jauh dari daratan. Kapasitas sekoci SS Arctic sendiri pun hanya cukup untuk setengah penumpang. Karena masalah ini, Luce langsung memerintahkan agar sekoci diluncurkan tapi karena lupa aturan justru sekoci penuh dengan awak kapal dan penumpang yang lainnya.

Sisa penumpang justru ditinggalkan dengan rakit darurat dan yang lainnya tidak bisa meninggalkan kapal serta tenggelam bersama SS Arctic empat jam setelah tabrakan. Kapten Luce pun ikut tenggelam dengan kapalnya, tak sama seperti awak kapalnya yang melarikan diri dengan sekoci, namun dia berhasil selamat.

Dalam insiden ini dua dari enam sekoci yang meninggalkan SS Arctic selamat sampai pantai Newfoundland, satu diangkut kapal uap yang lewat dan menyelamatkan beberapa orang dari rakit buatan serta kapten Luce setelah berhasil menempel di reruntuhan kotak roda dayung selama dua hari, sedangkan tiga lainnya menghilang tanpa jejak.

Dari antara yang menghilang adalah istri Edward Collins dan dua anaknya, korban lain termasuk beberapa anggota keluarga Brown, yang merupakan pemilik Brown Brothers, telah membantu membiayai Collins Line. Frederick Catherwood, arsitek dan pelukis Inggris yang namanya secara misterius dihapus dari daftar korban resmi selama berminggu-minggu sampai upaya bersama oleh teman dan koleganya menghasilkan inklusi yang terlambat oleh pihak berwenang dan surat kabar.

Selain hilangnya nyawa manusia secara tragis, salinan langka William Shakespeare First Folio yang dibeli dan dikirim oleh pengacara New York dan kolektor Shakespeare Aldon W. Griswold dari Liverpool, hilang. Di antara yang terhilang juga terdapat Hari Mahlon, penerbit buku anak-anak dan publikasi bisnis terkemuka di New York, bersama istri dan putrinya.

Baca juga: Tas Besar Berisi Uang Iringi Penemuan Bangkai Kapal Pere Marquette 18 Setelah 110 Tahun

SS Arctic adalah kapal uap berbobot 2.856 ton, salah satu dari Collins Line , yang mengoperasikan layanan kapal uap penumpang dan pos transatlantik selama tahun 1850-an. Dia adalah yang terbesar dari empat armada, dibangun dengan bantuan subsidi pemerintah AS untuk menantang supremasi transatlantik Jalur Cunard yang didukung Inggris. Selama masa pelayanan empat tahun, kapal ini terkenal baik karena kecepatannya maupun kemewahan akomodasinya.

14 Tahun Jadi Pramugari Singapore Airlines, Kini Alih Profesi Menjadi Perawat Medis

Memiliki cita-cita sebagai seorang perawat tapi harus memulainya dari menjadi seorang pramugari? Sepertinya tak masalah dan ini terjadi pada seorang pramugari Singapore Airlines yang memiliki cita-cita sebagai seorang perawat.

Baca juga: 30 Awak Kabin Singapore Airlines Jadi Duta Perawat di Rumah Sakit

Kini setelah 14 tahun terbang dan melayani penumpang Singapore Airlines, Zabrina Kng memutuskan untuk berubah profesi. Ya, profesi ini menjadi sebuah perawat yang mana ini adalah minatnya seumur hidup menjadi perawat kesehatan.

Bagi Zabrina, menjadi seorang perawat kesehatan membuatnya memiliki lebih banyak waktu yang bisa dihabiskan bersama orang tuanya yang sudah lanjut usia. KabarPenumpang.com melansir straitstimes.com (22/9/2020), Zabrina belajar tentang Program Konversi Profesional atau PCP Tenaga Kerja Singapura untuk perawat terdaftar pada 2017 dan mengarahkan pandangannya untuk melamar program dua tahun tersebut.

Namun, setelah mengetahui bahwa dirinya terlewat program tersebut, Zabrina terus bekerja sebagai pramugari selama satu tahun lagi. Dengan keterlambatannya bisa dikatakan, dia mampu menabung untuk mendaftar program dua tahun tersebut.

Zabrina mengatakan, saat kontrak dengan Singapore Airlines berakhir pada 2018 lalu, dia telah mengemat $12 ribu, yang dia gunakan untuk menambah tunjangan bulanan sekitar $2000 yang dia terima dari PCP dua tahun.

“Awalnya ketika saya pertama kali mulai, saya benar-benar harus menyesuaikan gaya hidup saya. Saya berkata pada diri saya sendiri bahwa sejak saya beralih ke perawatan, saya harus tekun,” tambahnya.

Selain itu, Zabrina memiliki tantangan lainnnya di mana dirinya harus kembali belajar di sekolah pada usia 30. Dia mengatakan ijazah akselerasi biasanya membutuhkan waktu tiga tahun untuk menyelesaikannya.

“Jadi kurva belajarnya sangat curam bagi saya,” katanya.

Dia lulus dari program tersebut pada bulan April dan mulai bekerja untuk Woodlands Health Campus, meskipun dia ditempatkan sementara di Rumah Sakit Tan Tock Seng. Zabrina yakin pengalamannya sebagai bagian dari awak kabin sangat membantu dalam peran barunya.

Baca juga: 90 Tahun Lalu, Pramugari Pertama AS Bekerja Nyambi Jadi ‘Perawat’ di Pesawat

“Ada banyak kesamaan antara menjadi awak kabin dan perawat, seperti keterampilan komunikasi, empati, dan mampu bekerja dengan baik di bawah tekanan. Ini semua adalah soft skill yang saya peroleh selama bertahun-tahun sebagai awak kabin, dan saya pikir merupakan poin plus ketika Anda menghadapi seseorang yang baru lulus,” tutur Zabrina.

Akibat Anak Tak Gunakan Masker, Satu Keluarga dan Penumpang Disebelah Dipaksa Keluar Pesawat

Kebijakan maskapai di setiap negara terhadap penggunaan masker pada anak-anak berbeda satu dengan lainnya. Ada yang menyebutkan anak dibawah lima tahun tidak diwajibkan menggunakan masker, ada pula yang mengatakan dibawah dua tahun tidak perlu menggunakan masker.

Baca juga: Siap Lepas Landas, Delta Airlines Kembali ke Gerbang Lantaran Ada Penumpang Tak Mau Pakai Masker

Namun karena perbedaan kebijakan ini membuat berbagai masalah timbul pada keluarga yang membawa anak kecil bersama mereka. Seperti yang terjadi pada Rachel Starr Davis yang tengah dalam perjalan pulang ke New Hampshire dari Florida bersama ibu dan anaknya yang berusia dua tahun.

Mereka dikeluarkan dari penerbangan oleh maskapai American Airlines pada 17 September kemarin karena putranya tidak memakai masker wajah. Bahkan dalam penerbangan tersebut, Davis tetap memaksa sang anak untuk mengenakannya.

“Sampai-sampai saya menangis begitu keras, saya histeris, bahkan tidak bisa menarik napas dalam-dalam karena topeng saya terus-menerus menghisap ke dalam mulut saya. Dan kemudian saya gemetar memegang selembar kain ini ke wajah anak saya sehingga kami bisa lepas landas dan mereka (awak pesawat) berdiri di dekat saya di lorong sambil mengatakan mereka harus melihat saya berulang kali mengenakan topeng padanya,” ungkap Davis yang dikutip KabarPenumpang.com dari cnn.com (23/9/2020)

Pihak maskapai mengatakan, masker diperlukan bagi anak berusia dua tahun ke atas. Ketika dia menuju ke kursinya di bagaian belakang pesawat, seorang awak kabin bertanya apakah dia memiliki tiket untuk puteranya dan mengatakan harus menggunakan masker.

Davis mengaku, dirinya tidak mengetahui kebijakan American Airlines yang mengharuskan puteranya menggunakan masker wajah saat di pesawat. Dia mengatakan, pada penerbangan sebelumnya, awak kabin tidak meminta putranya menggunakan masker.

Dalam penerbangan itu, Davis mencoba agar putranya menggunakan masker dengan memberikannya berbagai macam gamabr berbeda, tetapi sang putra tidak memilih satupun. Hingga seorang pria yang duduk disebelah mereka mencoba anak berusia dua tahun tersebut untuk menggunakan tetapi tetap saja tidak mau.

“Saya sangat ingin pulang, saya kelelahan. Ibuku dan aku tidak banyak tidur dan kami hanya perlu pulang, dan mereka memberitahuku jika kau tidak membuatnya menurut, kami akan membawamu turun dari pesawat,” jelasnya.

Karena insiden itu, semua orang disuruh turun dari pesawat, Davis, ibu dan putranya tidak diizinkan kembali serta pria yang berusaha menolong mereka. Davis mengatakan, mereka dianggap maskapai tidak menaati peraturan kebijakan masker wajah.

Menurut Davis, sebuah video beredar di media sosial yang menunjukkan adu mulut antara dia dan seorang manajer gerbang American Airlines membahas kebijakan masker dan diberi tahu bahwa maskapai akan memesannya pada penerbangan selanjutnya. Davis, ibu, dan putranya akan naik penerbangan American Airlines pada hari itu juga. Davis mengatakan putranya tidak diminta oleh awak pesawat untuk memakai masker selama perjalanan itu.

“Untuk memastikan keselamatan pelanggan dan tim kami, American Airlines mewajibkan semua orang yang berusia 2 tahun ke atas untuk mengenakan penutup wajah yang sesuai sepanjang perjalanan mereka,” kata American Airlines dalam sebuah pernyataan.

Baca juga: Pakai Masker Bisa Jadi Masalah Bagi Penderita Asma Kronis, Namun Awak Maskapai ini Tak Paham

“Kebijakan ditegakkan dan penutup wajah yang disetujui tersedia di poin-poin penting selama perjalanan pelanggan. Kami telah menghubungi keluarga tersebut untuk mempelajari lebih lanjut tentang pengalaman perjalanan terbaru mereka dan untuk mengatasi masalah mereka.”

Menipu Kematian, Begini Kisah Horror Penumpang Selamat dari Dua Kecelakaan Pesawat Terburuk

Senin, 25 September 1978, kecelakaan pesawat Pacific Southwest Airlines (PSA) flight 182 vs Cessna 172 Skyhawk terjadi akibat pilot kedua pesawat dan Air Traffic Controller (ATC) Bandara Internasional San Diego ceroboh. Padahal, saat itu cuaca sangat cerah dengan visibilitas mencapai 16 km.

Baca juga: Hari ini, 42 Tahun Lalu, Tabrakan PSA Flight 182 Vs Cessna 172 Terjadi Akibat Pilot dan ATC Ceroboh 

Akibat kejadian itu, sedikitnya 153 orang tewas; terdiri dari 128 penumpang dan 7 kru PSA, 2 kru Cessna, dan tujuh orang di darat. Di antara korban pesawat rute Sacramento-San Diego via Los Angeles itu, seharusnya, E. Jack Ridout jadi salah satunya. Namun, ia lagi-lagi menipu kematian untuk kesekian kalinya; termasuk dua udara kecelakaan terburuk di dunia.

Dilansir independent.co.uk, dalam kecelakaan pesawat terburuk di AS itu (tabrakan PSA flight 182 vs Cessna 172 Skyhawk), Jack Ridout adalah salah satu daftar penumpang tersebut untuk rute Los Angeles-San Diego. Hanya saja, tiket untuk flight 182 ia batalkan berhubung AC rumah tempatnya bermukim rusak dan membuat tak nyaman di tengah terjangan gelombang panas.

Oleh karenanya, ia memutuskan untuk pulang lebih awal sehari sebelumnya. Alhasil, ia pun selamat. Begitu juga dengan 102 penumpang yang transit di Los Angeles.

Akan tetapi, itu bukan kali pertama momen Jack Ridout menipu kematian (red: selamat dari kecelakaan). Sekitar 18 bulan sebelumnya, bertepatan dengan Minggu 27 Maret 1977, ia juga berhasil menipu kematian atau lolos dari maut dalam tabrakan dua pesawat Boeing 747 Pan Am Flight 1736 vs KLM Flight 4805 di Tenerife, Kepulauan Canaria (Canary Islands), Spanyol.

Seperti diberitakan surat kabar harian AS, The Evening Tribune terbitan 14 April 1977, sebelum kecelakaan udara terburuk sepanjang masa dengan korban tewas sedikitnya 583 orang itu terjadi, seseorang meminta bertukar tempat sehingga ia berada di kursi 4B kelas bisnis di dek atas pesawat bersama rekannya, Joan Devereau Holt (Joan Holt).

Tak lama berselang, dua pesawat bertabrakan dan orang tersebut tewas mengenaskan bersama pacarnya yang juga seorang mantan pramugari. Sedangkan Edgar Jack Ridout bersama rekannya itu berhasil selamat sekalipun menderita cedera cukup parah.

Tak hanya selamat, dalam insiden tersebut Edgar Jack Ridout juga membantu penumpang lain, sekitar 17 orang, untuk keluar dari puing-puing pesawat dengan cara ekstrem, melompat dari dek atas di ketinggian sekitar 5 meter dalam kondisi luka parah. Sebelumnya lagi, ia juga nyaris dijemput maut untuk membela AS perang melawan Vietnam. Namun, ia tak jadi ikut wajib militer usai mengalami kecelakaan mobil.

Cerita penumpang menipu kematian (korban selamat dari kecelakaan pesawat) juga pernah terjadi di Indonesia. Erwin Giasi, diketahui menjadi salah satu penumpang selamat dalam kecelakaan pesawat Casa 212-200 Merpati Nusantara Airlines (MNA) dengan nomor registrasi PK-NYC terjadi pada Rabu, 30 Januari 1991.

Baca juga: Lima Kecelakaan Penerbangan Akibat ‘Bird Strike’ Terburuk di Dunia

Menariknya, usai selamat dari kecelakaan, ia bersama beberapa korban selamat lainnya tidak lantas mendapat pertolongan dari tim SAR ataupun warga sekitar, mengingat pesawat jatuh di hutan perbatasan antara Atinggola dan Bolangmongondow, Kabupaten Bolmut, Gorontalo, Sulawesi Utara.

Saat itu, teknologi informasi dan komunikasi pun belum secanggih sekarang. Lagi pula, sulitnya medan juga memperlambat proses evakuasi. Selagi menunggu tim SAR tiba, para penumpang selamat seperti sedang berpacu dengan maut. Setelah enam hari menunggu tanpa makanan, ia bersama yang lainnya pun akhirnya bisa benar-benar selamat setelah tim SAR berhasil mengjangkau lokasi.

Cegah Corona, Panasonic Avionics Luncurkan In-Flight Entertainment Tanpa Sentuhan

Panasonic Avionics telah meluncurkan berbagai solusi yang dirancang untuk mendukung maskapai penerbangan selama fase pemulihan pasca pandemi Covid-19. Berbagai produk berteknologi canggih dengan sebutan ‘Welcome Aboard’ Collection ini merupakan jawaban atas sejumlah masalah di kabin, seperti In Flight Entertainment (IFE), bau tak sedap, sederet hal lainnya yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan maskapai.

Baca juga: Resmi Dapat Paten, Tongkat Ultraviolet Anti Corona Boeing Siap Diproduksi Massal

Dilansir dari Simple Flying, hal itu dilakukan dalam upaya membangkitkan lagi kepercayaan penumpang terhadap transportasi udara di tengah atau pasca pandemi Covid-19. Untuk mencapai itu, Panasonic Avionics mengeluarkan beragam produk dengan konektivitas, elemen hiburan, dan beragam keamanan dan keselamatan penerbangan di dalam kabin sebagai ruhnya.

Ken Sain, Chief Executive Officer Panasonic Avionics Corporation, dalam sebuah pernyataan mengungkapkan, “Ini adalah masa-masa yang penuh tantangan bagi industri penerbangan, dan kami telah memanfaatkan rekam jejak kami yang telah terbukti dalam inovasi digital di kabin pesawat untuk memberikan solusi yang dapat membantu membuat perjalanan menjadi pengalaman yang lebih aman bagi penumpang dan awak kabin.”

‘Welcome Aboard’ Collection atau Koleksi Welcome Aboard Panasonic Avionics bila diperas hanya ada dua fokus utama, touching less (tanpa sentuhan) dan menujukkan ke penumpang serta karyawan bahwa maskapai peduli semua hal tentang mereka di masa atau pasca pandemi, utamanya terkait kesehatan.

Wellness application membantu penumpang agar tak jetlag. Foto: Panasonic Avionics

Ada empat turunan dari touching less Panasonic Avionics, mulai dari mendigitalisasi publikasi, onboard reader, companion application, dan zerotouch. Mendigitalisasi publikasi berarti maskapai akan menghilangkan majalah dan bahan bacaan lainnya selama dalam penerbangan dan menggantinya dengan solusi onboard reader dimana majalah dihadirkan dalam bentuk digital. Tak hanya itu, majalah yang ditawarkan pun jadi lebih banyak dan variatif.

Semua hal di atas juga bakal terhubung dengan smartphone melalui companion application atau aplikasi pendukung maskapai yang dapat diunduh secara gratis di apple store maupun playstore. Dengan begitu, seluruh penumpang dapat memanfaatkan IFE selama penerbangan tanpa sentuhan ke perangkat tersebut. Sehingga kemungkinan penularan virus Corona di pesawat dapat ditekan.

Terakhir, zerotouch, maskapai dimungkinkan untuk melakukan pergerakan data dan informasi jarak jauh, dari dan ke pesawat, tanpa adanya sentuhan ataupun tatap muka. Software, media, dan konten apapun bisa dikirim dari jauh dengan cepat dan memungkinkan maskapai untuk memperbarui kesemua itu kapan pun mereka mau.

Berbagai elemen di atas kemudian dilengkapi dengan elemen digital wellness solutions. Sebagaimana namanya, digital wellness termasuk menyatukan fitur-fitur kesehatan, seperti konten yang dikurasi untuk relaksasi dan mencegah jetlag.

Baca juga: Kabar Baik! Inilah Invisibel AirShield, Inovasi Terbaru Cegah Corona di Kabin Pesawat

Di samping itu, fitur active surfaces di kursi juga memudahkan penumpang untuk mengatur posisi senyaman mungkin. Sekalipun tetap ada sentuhan, setidaknya, area sentuhan tersebut tak sebesar biasanya. Setelah penerbangan selesai, petugas cukup memfokuskan area kebersihan pada bagian active surfaces saja, tentu tanpa melupakan bagian lain.

Tak lupa, Panasonic Avionics juga menyisipkan fitur Nanoe Air Cleanser untuk meningkatkan kualitas udara dan menghambat pertumbuhan bakteri, virus, dan bau tak sedap. Bila penumpang masih tak cukup puas, fitur feedback atau kotak saran penumpang tersedia di masing-masing device untuk menyaring berbagai masukan solutif dari kacamata pengguna.

Harrison “Indiana Jones” Ford Akhirnya Lolos dari Hukuman FAA, Begini Kronologinya

Setelah dilakukan penyelidikan terbuka oleh Regulator Penerbangan Sipil Amerika Serikat (FAA), aktor kenamaan Hollywood, Harrison Ford, akhirnya dinyatakan bebas dari hukuman. Pemeran pilot Han Solo di seri film Star Wars dan arkeolog Indiana Jones di Raiders of the Lost Ark dan sekuelnya ini lolos dari jerat FAA setelah menyelesaikan remedial kursus pelatihan runway incursion.

Baca juga: Naik Kelas, Vokalis Iron Maiden Didapuk Jadi Kapten di AU Kerajaan Inggris

Dilansir TMZ, aktor kawakan yang juga aktivis lingkungan ini dikabarkan menyelesaikan pelatihan tersebut dengan baik dan cukup memuaskan. Setelah menimbang, FAA memutuskan menutup buku atas kasus tersebut.

Harrison Ford diketahui terlibat dalam insiden berbahaya di Bandara Hawthorne, Los Angeles pada April lalu. Saat itu, pesawat Cessna N28S-c/n 855 yang ia kemudikan hendak menuju hanggar dengan melintasi runway.

Namun, dari rekaman percakapan, ATC sebetulnya sudah memintanya untuk menunggu sejenak di taxiway mengingat ada pesawat lain yang hendak melakukan touch-and-go landing berjarak 3.500 kaki. Tetapi, entah apa yang merasukinya, ia tetap melintasi runway dan mengancam keselamatan penerbangan. Beruntung, hal buruk tak sampai terjadi.

Ilustrasi insiden yang melibatkan Harrison Ford. Foto: TMZ Composite

Setelah diselidiki, aktor yang pernah berkunjung ke Indonesia dalam rangka pembuatan seri film mengenai perubahan iklim global yang berjudul “Years of Living Dangerously” (Tahun-tahun Hidup Berbahaya) ini mengaku salah mendengar instruksi ATC.

“FAA tengah menyelidiki sebuah insiden pilot dari Aviat Husky meluncur di landasan. ketika pesawat lainnya tengah bersiap melakukan touch-and-go landing,” kata FAA dalam pernyataannya kepada AFP.

“Maafkan saya pak, saya kira sebaliknya. Saya sungguh minta maaf,” kata Harrison Ford dalam rekaman suara.

Aktor kondang yang namanya sempat mentereng di Indonesia akibat tudingan memarahi Menteri Perhutanan, Zulkifli Hasan, pada 2013 lalu terkait pembalakan liar di Tesso Nilo (taman nasional di Sumatera) bukan kali pertama berbuat ‘onar’ di bandara.

Harrison Ford saat sedang menerbangkan pesawat. Foto: Backgrid

Pada 2017, Harrison Ford terhindar dari hukuman atas insiden penerbangan yang nyaris terjadi di Bandara California Selatan.

Kala itu, Ford secara tak sengaja ‘salah parkir’. Dia mendaratkan pesawat dengan model yang sama di taxiway alih-alih di runway, melewati Boeing 737 dengan 110 penumpang dan enam kru di dalamnya. Usai kejadian ini, ia pun menyebut dirinya sebagai ‘schmuck’ atau orang bodoh karena landing di taxiway.

Baca juga: Kenapa Mikrofon Pilot Tidak Terdengar Jelas Dibanding Awak Kabin? Ini Dia Jawabannya

Dua tahun sebelumnya lagi, Ford melakukan pendaratan darurat setelah pesawat peninggalan Perang Dunia II yang ia kemudikan mengalami kerusakan mesin. Ia menabrak pohon dan lapangan golf, juga di California. Dalam insiden tersebut, Ford mengalami sejumlah cedera, termasuk patah pergelangan dan rongga panggul.

Harrison Ford pertama kali mengambil kursus penerbangan saat duduk di bangku kuliah, lalu berhenti karena masalah keuangan. Ia kemudian melanjutkan kembali kala sudah menjadi bintang besar. Kini dengan izin terbang bertahun-tahun yang telah ia kantongi, Ford memiliki sejumlah pesawat terbang, dari pesawat dengan dua bangku hingga corporate jet.

Samakan Brand di Semua Negara, GoJek Ubah Nama Get di Thailand

GoJek, Decacorn Indonesia ini mulai mengganti nama aplikasi Get di Thailand pada Kamis (17/9/2020). Penyedia layanan ride hailing ini menggunakan nama GoJek sebagai penggantinya dan menandakan integrasi satu merek antara aplikasi di Indonesia maupun Thailand.

Baca juga: GoJek Luncurkan “GoGreener Carbon Offset” Guna Bantu Pelanggan Imbangi Emisi Perjalanan

Penggantian nama ini dilakukan sekitar sepuluh minggu setelah GoJek mengumumkan rencana untuk menyatukan merek di Thailand dan Vietnam. Di mana pada Juli 2020 kemarin, Get juga mengatakan akan menyatukan aplikasi dan mereknya di bawah GoJek sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk membuat dampak positif dan mendorong inovasi bagi pelanggan di pasar Thailand.

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, penyatuan merek ini membawa mereka ke dalam satu platform teknologi untuk menantang Grab yang sudah beroperasi lebih luas di wilayah tersebut. Selain itu, dengan penyatuan merek ini, pada aplikasi baru akan membantu pengguna mengakses pengiriman makanan, ojek motor, kurir dan e-wallet.

“Setelah kami menjajal pasar dengan menggunakan merek lokal Get selama 18 bulan, inilah saatnya mengubah merek dan meluncurkan Gojek di bawah merek aplikasi tunggal,” kata General Manager Gojek Thailand, Pinya Nittayakasetwat.

Tak hanya itu, Pinya mengatakan, penyatuan merek menghadirkan tampilan baru dengan beberapa peningkatan fitur dan memberi pengalaman pelanggan yang lebih baik serta keamanan yang ditingkatkan.

“Strategi penyatuan merek akan meningkatkan pengalaman pengguna dan berusaha untuk membuat langkah besar dalam investasi dan ekspansi yang cepat,” ujarnya.

GoJek menawarkan kupon diskon senilai 2500 baht ($80) kepada pengguna baru hingga akhir bulan ini untuk memperluas basis pelanggannya. GoJek sendiri beroperasi di Singapura, Filipina, Vietnam dan Thailand.

GoJek memiliki lebih dari 50 ribu pengemudi dan 30 ribu pedagang makanan yang bekerja sama di Thailand, di mana pengiriman makanan sedang booming karena pandemi virus Corona. Tetapi persaingan di antara para pemain termasuk Grab, Line, dan Foodpanda juga semakin ketat.

Pakar e-commerce Pawoot Pongvitayapanu mengatakan bersatunya brand di bawah Gojek di Thailand akan memudahkan investor melihat pertumbuhan semua pengguna Gojek.
Hal ini dapat meningkatkan kepercayaan investor untuk berinvestasi di putaran pendanaan berikutnya.

Baca juga: Dukung Proses Pemesanan Bagi UMKM, GoJek Luncurkan Aplikasi Selly

“Merek lokal mungkin terlalu lemah untuk menjadi menarik,seraya menambahkan bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan gerakan seperti itu, karena pengguna dan restoran sudah terbiasa dengan layanan pesan-antar makanan setelah pandemi,” ujar Pawoot.

Hari ini, 42 Tahun Lalu, Tabrakan PSA Flight 182 Vs Cessna 172 Terjadi Akibat Pilot dan ATC Ceroboh

Hari ini, 42 tahun lalu, bertepatan dengan Senin, 25 September 1978, kecelakaan pesawat Pacific Southwest Airlines (PSA) flight 182 vs Cessna 172 Skyhawk terjadi akibat pilot kedua pesawat dan Air Traffic Controller (ATC) Bandara Internasional San Diego ceroboh.

Baca juga: Hari Ini, 46 Tahun Lalu, Turkish Airlines Flight 452 Jatuh Gegara Pilot Mengira Jalan Raya Sebagai Runway

Dilansir independent.co.uk, insiden bermula saat Boeing 727-200 PSA dengan nomor registrasi N533PS terbang dari Sacramento ke San Diego via Los Angeles, Amerika Serikat (AS). Cuaca sangat cerah saat itu, dengan visibilitas 16 km.

Dalam perjalanan ke San Diego, kru kokpit PSA, yang terdiri dari flight engineer, Martin Wahne dengan 10.800 jam terbang, co-pilot, Robert E. Fox dengan 10.000 jam terbang, James E. McFeron dengan 14.000 jam terbang, dan off-duty captain, Spencer Nelson dengan 28.000 jam terbang, diberitahu oleh approach controller ATC Lindbergh Field (nama lain Bandara San Diego) terkait keberadaan Cessna 172 Skyhawk di dekatnya.

Kala itu, Cessna 172 Skyhawk dengan nomor registrasi N7711G yang diawaki oleh instruktur, Martin Kazy Jr (32 tahun) dengan 5.137 jam terbang dan sersan Korps Marinir AS, David Boswell (35 tahun) yang tengah berlatih Instrument Landing System (ILS) dengan 400 jam terbang, terbang kembali setelah menyelesaikan ILS approach kedua menuju 070 Northeast, Minneapolis, Minnesota, AS, di bawah ketinggian 3.500 kaki dan jalur approach akhir vektor.

Dari data cockpit voicer recorder (CVR), pilot PSA mengaku sempat melihat Cessna beberapa saat setelah diberitahu oleh ATC. Sayangnya, tak lama berselang, pilot kehilangan pesawat tersebut. Namun demikian, ATC sudah menginformasikan adanya traffic arah jam 12, tiga mil dari 1700. Sebelum mengakhiri kontak, ATC mengingatkan agar pilot me-maintain visual separation terhadap Skyhawk.

40 detik sebelum terjadinya tabrakan, keempat orang yang berada di kokpit pun terlibat percakapan santai. Di antara percakapan itu, pilot menyebut kemungkinan posisi Skyhawk berada di belakang PSA flight 182. Padahal, saat itu, pesawat tersebut tepat berada di depan. Pesawat terus melaju dan landing gear dalam posisi on setelah ATC memberi clearance untuk mendarat di runway 27 Bandara San Diego.

Tak lama berselang, tabrakan pesawat PSA flight 182 vs Cessna 172 Skyhawk N7711G terjadi. Boeing 727-200 PSA berusia 10 tahun itu menghantam Skyhawk dengan sayap sebelah kanan pada pukul 09:01, beberapa saat setelah pilot berasumsi Cessna berada di belakang PSA. Pesawat kemudian oleng ke kanan dan jatuh di pemukiman warga. Akibat kejadian itu, 153 orang tewas; terdiri dari 128 penumpang dan 7 kru PSA, 2 kru Cessna, dan tujuh orang di darat.

Pasca investigasi dilakukan, Dewan Keselamatan Transportasi Nasional AS (NTSB) menyimpulkan, pilot kedua pesawat dan ATC masing-masing ikut andil dalam kecelakaan tersebut. NTSB berpendapat bahwa kru PSA gagal mengikuti arahan ATC dengan baik, khususnya pada bagian me-maintain visual separation atau menjaga jarak visual terhadap Skyhawk. Sudah begitu, kru tak memberi info ke ATC bahwa mereka kehilang visual Skyhawk.

ATC juga salah akibat penggunaan visual separation procedure saat radar clearances tersedia. Kru Cessna 172 Skyhawk pun demikian. Kru tanpa alasan jelas tidak patuh mempertahankan pos timur-timur laut 070 setelah latihan ILS approach. Selain itu, kru Cessna juga tak memberitahu ATC soal perubahan jalur penerbangan mereka.

Baca juga: Hari Ini, 15 Tahun Lalu, Mandala Airlines Flight 091 Jatuh dan Menimpa Pemukiman Warga di Medan

Sebuah studi visibilitas yang dikutip dalam laporan NTSB menyimpulkan bahwa Cessna seharusnya dapat terlihat oleh kru PSA dari 170 hingga 90 detik sebelum tabrakan. Studi tersebut juga mengatakan bahwa pilot Cessna akan melihat sekitar 10 detik Boeing dari jendela pintu kiri sekitar 90 detik sebelum tabrakan. Namun, banyak faktor mengapa hal itu tak terjadi, salah satunya ukuran dan warna Cessna yang menyerupai atap rumah di sekitar kejadian.

Setelah sederet kecelakaan, termasuk kecelakaan ini, Traffic Collision Alert and Avoidance System (TCAS) akhirnya dipasang di semua pesawat penumpang dan sebagian pesawat kargo. TCAS berfungsi untuk memberikan peringatan visual dan suara kepada kru kokpit ketika dua pesawat saling mendekati satu sama lain dan mengarahkan kru untuk turun atau naik guna menghindari terjadinya tabrakan.