Hindari Tatap Muka, Bandara Incheon Korsel Kerahkan Robot Canggih Pengukur Suhu dengan Sederet Kemampuan

Main gateway Bandara Internasional Incheon Korea Selatan (Korsel) belum lama ini mulai dilengkapi robot pengecek suhu otomatis. Hal itu dilakukan untuk meminimalisir kemungkinan tatap muka saat proses pengecekan suhu tubuh di terminal keberangkatan untuk mengurangi risiko infeksi Covid-19.

Baca juga: Antisipasi Peningkatan Trafik, Bandara Incheon Bangun Landas Pacu Keempat

Incheon International Airport Corporation selaku pengelola bandara mengatakan layanan pengecekan suhu tubuh tanpa sentuh ini sudah di tempatkan di Terminal 1 dan 2 bandara. Meski masih dalam proses uji coba, hampir dapat dipastikan robot tersebut bakal tetap dipatenkan dalam upaya mencegah penularan virus Corona sampai beberapa waktu mendatang, melengkapi thermal scanner untuk mengecek suhu secara makro.

Dilansir bangkokpost.com, pengelola bandara sejauh ini baru menempatkan tiga robot pengecek suhu tubuh otomatis tanpa sentuhan di Terminal 1 keberangkatan, tak jauh dari kiosk self check in. Adapun robot lainnya ditempatkan di Terminal 2 bandara dengan jumlah dan tata letak serupa (dengan di T1).

Dalam prosesnya, robot tersebut mengukur suhu tubuh para pengunjung dengan menggunakan kamera thermal. Apabila penumpang terindikasi tidak sehat, ditandai dengan suhu tubuh tinggi sekitar 40 °C, maka robot akan segera menghubungkan pihak maskapai secara otomatis untuk dilakukan prosedur lanjutan, entah diswab, rapid, ataupun dilarang terbang.

Sebaliknya, bila proses pengecekan berjalan normal, maka penumpang dapat melanjutkan aktivitas di bandara usai disemprotkan cairan hand sanitizer di tangan oleh robot tersebut secara otomatis, tanpa adanya kontak apapun.

Selain robot tersebut, pengelola bandara juga mengerahkan beberapa kios pengecekan suhu tubuh dengan fungsi nyaris serupa dengan robot pengukur suhu tubuh. Bedanya, kios pengecekan bukan menghubungi maskapai bila penumpang terindikasi mengalami hipertermia, sebagaimana robot satunya lagi, melainkan bakal mengeluarkan suara peringatan sebelum akhirnya didatangi oleh petugas on duty.

Dalam waktu dekat, pengelola Bandara Internasional Incheon Korsel juga bakal mengerahkan robot self-driving. Robot tersebut nantinya bakal keliling bandara untuk mengecek kepatuhan penumpang mengenakan masker. Hanya saja, tak disebutkan dengan jelas bagaimana teknisnya.

Bandara Internasional Incheon memang sejak awal pandemi virus Corona sudah terkenal dengan inovasi dan kesungguhan pengelola, berkolaborasi dengan pemerintah, dalam mencegah penyebaran Covid-19. Upaya luar biasa bandara tersebut juga memancing datangnya pujian setinggi langit. Salah satunya datang dari Amerika Serikat (AS) melalui Dutabesar AS untuk Korea Selatan, Harry Harris.

Baca juga: Bandara Seattle-Tacoma Kerahkan Robot Pembersih Lantai dan Teknologi Canggih Lawan Corona

Harry Harris tak kuasa melontarkan pujian ketika mengunjungi Terminal 2 Bandara Internasional Incheon untuk mengamati bagaimana petugas bandara mengukur suhu badan penumpang pesawat Korean Air yang akan terbang ke Atlanta, AS, dan serangkaian proses pengecekan lainnya.

Melalui akun twitternya, Harry menyebut, “Kunjungan hebat ke Bandara Incheon untuk melihat langkah-langkah ROK (Republic of Korea) untuk memerangi Covid-19 pelancong ke Amerika Serikat. Terkesan dengan upaya respons yang kuat dan komprehensif ROK untuk membatasi penyebaran virus. Terima kasih untuk semua atas kerja kerasnya,” cuitnya. Bahkan ia tak ragu untuk menyebut Bandara Incheon sebagai contoh baik penanganan corona di bandara.

Jepang Larang Penggunaan Ponsel Bagi Pejalan Kaki

Berjalan sembari menggunakan ponsel adalah hal yang cukup berbahaya karena pengguna tidak melihat jalanan di depannya dengan jelas. Bahkan ini bisa menyebabkan kecelakaan yang mengakibatkan kematian karena pejalan kaki lebih fokus pada ponsel mereka dibandingkan jalanan yang mereka lintasi.

Baca juga: Tingkat Kecelakaan Trem Meningkat, Praha Gelar Kampanye Keselamatan di Jalan

Karena hal ini pemerintah kota Yamato di Jepang mengambil inisiatif yakni larangan pejalan kaki menggunakan ponsel ketika berjalan. KabarPenumpang.com merangkum bbc.com (19/9/2020), pemerintah kota Yamato sebelum mengambil inisiatif ini sudah melakukan penelitian pada Januari di dua lokasi dan menemukan 12 persen dari 6000 pejalan kaki yang tercatat di kota itu menggunakan ponsel saat berjalan.

“Ini sangat berbahaya,” kata Walikota Satoru Ohki, tokoh di balik kebijakan tersebut.

Ohki awalnya melontarkan idenya dengan anggota parlemen lokal dan, setelah menjalankan konsultasi publik, menemukan bahwa delapan dari sepuluh orang mendukung gagasan tersebut, jadi pada bulan Juni larangan menggunakan ponsel cerdas saat berjalan diberlakukan melalui peraturan kota. Selama beberapa hari pertama pelarangan, kota mempekerjakan segelintir pekerja dengan rompi visibilitas tinggi untuk memegang tanda di depan Stasiun Yamato sebagai pesan terekam yang menjelaskan peraturan baru yang diputar dari CD.

Karena Covid-19, Ohki mengatakan dia ragu-ragu untuk memiliki penegak hukum tambahan yang berpatroli di jalan untuk saat ini, jadi beberapa tanda kain di pintu keluar stasiun sekarang menjadi satu-satunya indikator perubahan yang jelas.

“Saya yakin kami bisa mempercayai masyarakat Yamato untuk melakukan hal yang benar,” jelasnya.

Dalam inisiatif yang di ambil pemerintah kota Yamato, tidak ada sanksi bagi pelanggar aturan, tetapi pihak berwenang berharap lebih banyak perubahan organik dalam perilaku. Apalagi Jepang sering digambarkan sebagai budaya kolektivitis di mana konsep harmoni dalam suatu kelompok dipandang lebih penting daripada ungkapan pendapat individu.

Itu sebabnya, selama pandemi global, tidak ada yang terlihat di luar tanpa masker meskipun itu tidak wajib. Juga jelas bahwa warga Jepang sangat menyadari bahaya penggunaan ponsel cerdas bagi diri mereka sendiri dan orang lain saat berjalan.

Dalam survei tahun 2019 terhadap 562 pengguna smartphone di Jepang, 96,6 persen responden menyatakan sadar akan bahayanya, 13,2 persen pernah mengalami tabrakan secara langsung, sementara 9,5 persen mengatakan mereka terluka akibat arukisumaho. Ohki percaya bahwa larangan tersebut akan membantu warga melihat perilaku ‘zombie smartphone’ sebagai meiwaku, atau menyebabkan masalah bagi orang lain, dan menyesuaikan tindakan mereka sesuai dengan norma sosial yang berkembang.

Baca juga: Gunakan Ponsel Saat Bertugas, Masinis di Jepang Diganjar Sanksi

Untuk diketahui, ini bukan pertama kalinya suatu negara mengambil tindakan untuk mencegah cedera semacam itu. Ilsan, sebuah kota di Korea Selatan, memasang lampu dan sinar laser yang berkedip-kedip di persimpangan jalan untuk memperingatkan pejalan kaki yang menggulir telepon, sementara pihak berwenang di kota Chongqing di Cina membuka “jalur telepon seluler” sepanjang 30 meter di jalur bagi pejalan kaki yang sibuk menggunakan ponsel mereka.

Negara-negara di Barat juga mengambil langkah seperti di Honolulu, Hawaii, “Hukum Berjalan Terganggu” dapat membuat Anda didenda karena mengirim pesan teks saat berjalan di penyeberangan.

Dear ‘FA Wannabe,’ Thai Airways Bantu Wujudkan Mimpi Jadi Pramugari dengan Mahar Rp1,3 Jutaan

Thai Airways terus berinovasi untuk tetap bisa mencetak pendapatan. Setelah membuka restoran dengan menghidangkan menu-menu khas penerbangan (in flight meals) dan bisnis flight simulator melalui program THAI FlyEx, kini maskapai tersebut dikabarkan tengah memulai program unik khusus untuk para flight attendant (FA) wannabe dengan harga miring sebesar US$91 atau sekitar Rp1,3 jutaan (kurs Rp14.834).

Baca juga: Dear Pilot, Usai Bangkrut Thai Airways Jajaki Bisnis Flight Simulator! Segini Harganya

Dilansir dari sea.mashable.com, kocek sebesar itu nantinya akan digunakan maskapai untuk membantu mewujudkan mimpi siapapun menjadi pramugari selama sehari di pusat pelatihan dan penerbangan Thai Airways di Bangkok.

Dalam tempo empat jam, FA wannabe akan diberi berbagai materi tentang kepramugarian, seperti dijelaskan soal prosedur keselamatan, mengenakan seragam resmi pramugari Thai Airways, standar make up pramugari, hingga pelatihan etiket.

Salah seorang peserta training program Thai Flight Training Academy tampak menikmati pose saat momen safety induction. Foto: Thai Aiways

Di samping itu, para FA wannabe program Thai Flight Training Academy juga diberikan kesempatan untuk mengabadikan momen menjadi pramugari dadakan selama empat jam tersebut.

Adapun posenya disesuaikan dengan keinginan peserta program. Tentu tetap dalam koridor di seputaran kabin, entah itu saat sedang memasukkan bagasi di kabin, mengantar hidangan on board ke para penumpang kelas bisnis, hingga momen menjelaskan safety induction di mockup kabin pesawat superjumbo Airbus A380. Berbagai dokumentasi selama proses tersebut nantinya bakal diberikan ke peserta program sebagai kenang-kenangan ataupun untuk diposting di media sosial.

Selain program tersebut, Thai Airways juga masih mempunyai tiga program lainnya di Thai Flight Training Academy, mulai dari kursus pilot training simulator, kursus emergency simulator training, dan pelatihan selama satu hari menjadi koki Thai Aiways.

https://www.facebook.com/thaiflighttrainingacademy/posts/3567171460008770

Awal Juni lalu, Thai Airways tengah berjuang menghindari kebangkrutan melalui prosedur ‘anti bangkrut’ di Pengadilan Kepailitan Pusat Thailand. Sampai saat ini, prosesnya masih terus berjalan. Diperkirakan bakal menghabiskan 3-5 bulan ke depan.

Sebetulnya, prosedur kebangkrutan lewat pengadilan di Thailand memungkinkan perusahaan terus beroperasi, di bawah pengawasan pengadilan atau orang yang ditugaskan pengadilan. Namun, perusahaan memilih untuk menunda operasi sampai seluruh proses selesai.

Perdana Menteri Thailand Prayut Chan-o-cha mengatakan kabinetnya menimbang beberapa opsi untuk maskapai Thai Airways yang terdampak covid-19, termasuk melakukan likuidasi. Namun, Prayut mengungkapkan pilihan itu tidak jadi diambil karena lebih dari 20 ribu pegawai akan kehilangan pekerjaan. Mengacu data akhir tahun lalu, maskapai Thai Airways memiliki 21 ribu karyawan.

Baca juga: Usai Bangkrut, Thai Airways Kini Bisnis Restoran Khas Hidangan Pesawat! Pelayannya ‘Pramugari’

“Thailand dan seluruh dunia sedang menghadapi krisis. Penghasilan setiap orang menurun karena efek covid-19. Kita harus memprioritaskan anggaran untuk membantu orang-orang di masa depan,” kata Prayut.

Sebenarnya, keuangan Thai Airways sudah berantakan sebelum pandemi virus Corona muncul pertama kali di Cina pada akhir 2019. Mengacu laporan tahun lalu, maskapai pelat merah ini mengalami kesulitan karena ekonomi global yang melambat, fluktuasi harga minyak, dan persaingan maskapai penerbangan berbiaya rendah yang kian ketat.

Lion Air Dukung Wacana Peningkatan Kapasitas Penumpang 100 Persen

Sesuai dengan protokol kesehatan yang ditetapkan, maskapai telah membatasi kuota penumpang per perjalanan maksimal 70 persen dari total kursi yang tersedia. Namun baru-baru ini maskapai penerbangan berbiaya hemat Lion Air mendukung wacana peningkatan kapasitas pesawat menjadi seratus persen di masa pandemi.

Baca juga: Lion Air Digugat 9 Leasing Pesawat Rp189 Miliar, Pengamat: Tak Ada Iktikad Baik Bayar Utang

Direktur Operasi Layanan Kebandarudaraan Lion Air Group Wisnu Wijayanto mengatakan, pihaknya siap bila diminta berkolaborasi dengan Badan Litbang Kementerian Perhubungan dan Kementerian Kesehatan jika harus ada penelitian yang menggunakan fasilitas yang dimiliki Lion Air terhadap kapasitas seratus persen. Usulan peninjauan kapasitas penumpang pesawat pertama kali dilontarkan oleh pakar penerbangan di Air Power Center Indonesi Chappy Hakim.

Dia meminta kepada regulator untuk mengevaluasi kembali pembatasan muatan penumpang pesawat tanpa mengabaikan protokol kesehatan yang berlaku. Pendapat ini juga mengacu pada penggunaan teknologi filter high efficiency particular air atau HEPA dalam pesawat. Di mana teknologi tersebut diyakini mampu menyaring partikel hingga 99 persen dan menciptakan udara yang bersih.

“Mengacu pada hasil survei Kementerian Pergubungan terhadap angkutan udara, 66 responden menyatakan enggan membayar lebih untuk kursi yang kosong akibat adanya pembatasan kapasitas,” jelas Wisnu yang dikutip KabarPenumpang.com dari tempo.co (23/9/2020).

Wisnu menilai masyarakat sangat sensitif terhadap tarif yang dikeluarkan di masa pandemi. Dia mengatakan, selama ada cara untuk menekan biaya operasional, perusahaan akan menurunkan harga tiket pesawat sebagai bentuk stimulus bagi calon penumpang.

Upaya ini diyakini dapat meningkatkan minat penumpang untuk mendongkrak okupansi. Sehingga, hal ini bakal berefek mempercepat pemulihan perekonomian. Wisnu mengatakan pemulihan industri penerbangan sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi secara nasional. Selain itu, dia juga meminta pemerintah segera mengambil kebijakan untuk mendukung keberlangsungan dunia penerbangan. Salah satunya lewat pemberian stimulus.

Baca juga: Inilah Tiga Konsep Pesawat Bertenaga Hidrogen Airbus, Beroperasi Penuh Mulai 2035

“Kami juga berharap pemberian insentif dapat diwujudkan terkait biaya navigasi penerbangan dan potongan-potongan yang pernah dibahas bersama,” kata Wisnu.

Sebelumnya diketahui, maskapai Batik Air dari Lion Air Group yang mengangkut penumpang dengan kapasitas hampir seratus persen. Corporate Communications Strategic of Lion Air Group Danang Mandala mengatakan, terkait dengan kapasitas angkut penumpang pesawat udara Batik Air yang diberikan batasan dalam jumlah yang diangkut, penumpang tertentu akan ada duduk berdampingan bersebelahan dan tidak ada jarak.

Bandara Helsinki Gunakan Anjing untuk Deteksi Penumpang Terinfeksi Covid-19

Anjing digunakan dalam mendeteksi virus corona atau Covid-19? Ya, ini sudah dilakukan oleh Bandara Helsinki (HEL), Finlandia, di mana mereka menurunkan sebanyak 16 ekor anjing untuk mengidentifikasi penumpang yang terinfeksi virus itu.

Baca juga: Bandara Itami Buka Toilet Eksklusif Untuk Anjing

Anjing-anjing ini memiliki hidung sensitif yang dapat mempercepat proses identifikasi mereka yang terinfeksi Covid-19. Bisa dikatakan Kota Vantaa di mana Bandara Helsinki ini ada percaya bahwa anjing menjadi salah satu metode yang efisien untuk memastikan kesehatan dan keselamatan bandara.

“Rencana ini akan dimulai pada 22 September 2020 dan pertama di dunia. Tidak ada bandara lain yang mencoba menggunakan deteksi bau anjing dalam skala besar terhadap Covid-19. Kami senang dengan inisiatif kota Vantaa. Ini mungkin merupakan langkah maju tambahan untuk mengalahkan COVID-19,” kata Direktur Bandara Helsinki Ulla Lettijeff yang dikutip KabarPenumpang.com dari internationalairportreview.com (21/9/2020).

Namun apakah penggunaan penciuman anjing untuk mendeteksi virus ini efektif? Menurut tes yang dilakukan oleh kelompok peneliti di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Helsinki, anjing dapat mencium virus dengan hampir seratus persen kepastian.

Bahkan anjing juga dapat mengidentifikasi virus beberapa hari sebelum gejalanya dimulai. Di mana ini adalah sesuatu yang gagal dilakukan oleh tes laboratorium. Anjing juga ternyata dapat mengidentifikasi Covid-19 dari sampel yang jauh lebih kecil daripada tes PCR yang digunakan oleh profesional kesehatan.

Perbedaannya sangat besar, karena seekor anjing hanya membutuhkan 10-100 molekul untuk mengidentifikasi virus, sedangkan peralatan uji membutuhkan 18 juta. Anjing Helsinki Airport Covid-19 dilatih oleh Wise Nose. Nose Academy, perusahaan startup grup riset, menjalankan operasi di bandara.

Di masa depan, anjing bea cukai mungkin menggantikan operator saat ini. Pengujian Covid-19 resmi dengan anjing terlatih hanya dapat dimulai setelah amandemen legislatif yang sesuai telah disahkan. Melakukan tes anjing Covid-19 di Bandara Helsinki tidak termasuk kontak langsung dengan anjing tersebut.

Sebaliknya, anjing akan melakukan tugasnya di bilik terpisah. Mereka yang mengikuti tes akan mengusap kulit mereka dengan tes lap dan menjatuhkannya ke dalam cangkir, yang kemudian diberikan kepada anjing. Ini juga melindungi pawang anjing dari infeksi.

Semua tes diproses secara anonim dan jika hasil tes positif, penumpang akan diarahkan ke titik informasi kesehatan yang dikelola oleh kota Vantaa yang terletak di bandara. Ke depan, empat anjing akan bekerja di bandara selama shift dan durasi setiap shift tergantung pada anjingnya.

Baca juga: Swiss Uji Coba Aplikasi Pendeteksi Covid-19

Hampir semua anjing pernah melakukan deteksi bau. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk belajar mengidentifikasi Covid-19 bergantung pada latar belakang anjing tersebut. Salah satu anjing yang akan segera bekerja di Bandara Helsinki adalah anjing greyhound berusia delapan tahun bernama Kössi, yang belajar mengenali baunya hanya dalam tujuh menit.

CDC dan WHO: Pelindung Leher (Masker Buff) Tidak Bisa Mencegah Penyebaran Virus Corona

Terkenal fleksibel, lantaran bisa diubah-ubah fungsinya, dari mulai pelindung leher, masker setengah wajah (half mask), headband sampai pelindung kepala (sahariane), adalah keunggulan dari Buff, atau yang kondang disebut sebagai masker Buff. Selain masif digunakan oleh pemotor, tak sedikit Buff dipakai oleh penumpang kereta komuter.

Baca juga: Profesional Medis Gunakan Masker Scuba dan Snorkeling untuk Gantikan Masker Bedah

Namun, karena disebut hanya menggunakan satu lapis kain saja, masker Buff dipandang tak aman untuk mencegah penularan Covid-19. Kementerian Kesehatan (Kemendes) RI misalnya, telah mengeluarkan himbauan bagi warga untuk tak lagi menggunakan Buff. Malahahan sebelumnya, operator KRL Jabodetabek, PT KCI telah melarang penumpang yang memakai Buff untuk menggunakan jasa kereta komuter.

Selain punya keunggulan fleksibel dalam penggunaan, masker Buff juga mudah diperoleh dan punya harga yang terbilang murah, biasanya masker dengan bahan kain stocking ini dilego pedagang kaki lima seharga Rp15.000 untuk dua piece.

Namun, perlu diketahui, Buff sejatinya adalah sebuah merek produk pelindung leher yang dipegang oleh Original Buff, SA, perusahaan asal Spanyol. Dan masker Buff yang kebanyakan di jual di kaki lima, jelas merupakan barang palsu dengan kualitas di bawah standar kesehatan.

Namun perlu dipahami, bahwa pelindung leher ini tidak akan menawarkan perlindungan yang sama seperti respirator N95. Di mana masker N95 bisa melindungi dengan tingkatan yang lebih tinggi. Sebab pelindung leher dirancang untuk olahraga musim dingin atau pelindung dari matahari.

Nah, menanggapi pelarangan dan pembatsan penggunaan masker Buff, bagaimana tanggapan dari pihak prinsipal? Begini petikan pihak Buff dalam situs resminya, “Pelindung leher kami melindungi dari banyak elemen alam. Namun meskipun produk aksesori kepala multi fungsi kami menutupi seluruh bagian depan wajah seperti hidung, mulut, dagu dan leher, tetapi secara ilmiah dan dibuktikan oleh Center for Disease Control (CDC) dan Orgasnisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahwa tidak untuk mencegah Anda dari tertular virus atau pun penyakit. Kemudian tidak bisa menjamin Anda untuk tidak menularkan virus atau penyakit ke orang lain,” tulis Buff.

CDC sendiri merekomendasikan untuk mengenakan penutup wajah dari kain di tempat umum di mana jika protokol kesehatan seperti jarak sosial sulit dipertahankan. “Kami mendorong pengguna untuk tidak menghindari protokol keamanan yang tepat dari jarak sosial, karantina dan lainnya,” kata CDC.

Baca juga: Bikin Heboh, Penumpang Bus Kota Gunakan Ular Hidup Sebagai Masker

CDC menambahkan, setiap orang baiknya tetap ikuti protokol kesehatan seperti menjaga jarak fisik yang aman setidaknya enam kaki atau sekitar dua meter. Selain itu jika berekreasi di pegunungan baiknya tidak menumpang mobil atau memberi tumpangan pada orang yang bukan tinggal satu rumah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Resmi Dapat Paten, Tongkat Ultraviolet Anti Corona Boeing Siap Diproduksi Massal

Setelah melakukan pengembangan selama enam bulan, Boeing akhirnya berhasil menemukan alat disinfeksi baru yang dinilai jauh lebih efektif dan efisien berupa tongkat sanitasi portabel ultraviolet (UV).

Baca juga: Inilah GermFalcon, Robot Pembasmi Virus Corona di Kabin Pesawat dengan Teknologi UV

Rencananya, alat yang sudah mendapat lisensi atau hak paten itu akan diproduksi secara massal oleh Boeing dengan menggandeng Healthe Inc , perusahaan pengembang produk sanitasi UV berteknologi tinggi, untuk penggunaan lebih luas di masyarakat, seperti sekolah, rumah sakit, gedung perkantoran, dan lain sebagainya.

“Tongkat pembersih dengan teknologi UV dirancang agar lebih efektif daripada perangkat serupa. Alat ini dengan cepat mendisinfeksi permukaan pesawat dan selanjutnya memperkuat lapisan perlindungan lain bagi penumpang dan awak,” kata Mike Delaney, kepala program Confident Travel Initiative (CTI) Boeing, sebagaimana dikutip dari Simple Flying.

“Boeing menghabiskan enam bulan untuk mengubah ide tongkat ajaib menjadi mode kerja, dan Healthe sekarang akan mengambil prototipe itu dan membuatnya tersedia untuk dunia luas,” tambahnya.

Sebagaimana namanya, tongkat UV Boeing menggunakan sinar UVC dengan panjang gelombang 222 nanometer (Far-UVC). Hasil penelitian menunjukkan, 222 nanometer UVC mampu menonaktifkan patogen secara efektif.

Teknologi sinar UV untuk mendisfeksi permukaan dinilai jauh lebih efektif, efisien, dan aman dibanding cairan disinfektan yang biasa digunakan saat ini mengingat hal itu dapat merusak peralatan elektronik semisal panel kontrol di kokpit. Foto: Boeing via Simple Flying

Konsep alat disinfeksi portabel Boeing juga ada yang menyerupai koper jinjing. Dengan begitu, kru cukup membawa alat tersebut berjalan di lorong ataupun sudut lain pesawat. Otomatis, seluruh permukaan yang mampu dijangkau sinar UV akan membunuh patogen berbahaya sejenis Corona (Covid-19) dengan cepat. Tak hanya itu, sinar UV juga mampu membentuk lapisan perlindungan selama 30 hari. Tongkat UV sangat efektif di ruang yang padat dan membersihkan kabin utama dan kokpit dalam waktu kurang dari 15 menit.

Dengan efektivitas dan efisiensi tinggi, tongkat UV portabel Boeing tersebut dipercaya bakal memperkecil penggunaan alkohol atau disinfektan lain untuk mendisinfeksi pesawat (maupun non pesawat) yang notabene dapat merusak peralatan elektronik yang sensitif.

Saat ini, sudah ada sekitar 13 maskapai yang mengujicoba alat tersebut bersama Boeing. Dari jumlah tersebut, Etihad Airways merupakan maskapai pertama yang menjalani uji coba, sebagai bagian dari program ecoDemonstrator dalam kemitraan bersama Boeing. Oleh keduanya, alat tersebut didemonstrasikan di pesawat ecoDemonstrator Etihad 787-10 akhir bulan lalu.

Baca juga: “Confident Travel Initiative” Jadi Strategi Boeing Pastikan Penumpang Terbang Tanpa Ragu Selama dan Pasca Corona

Tongkat UV anti Corona Boeing sendiri merupakan bagian dari program Confident Travel Initiative perusahaan. Program tersebut merupakan sebuah inisiatif yang dipimpin langsung oleh wakil presiden Boeing bidang Transformasi Digital, Mike Delaney.

Nantinya, inisiatif tersebut akan menawarkan solusi baru untuk membantu meminimalkan risiko kesehatan di setiap perjalanan udara selama wabah Covid-19. Tak hanya itu, strategi tersebut juga akan mendorong kesadaran penumpang terhadap berbagai perlindungan kesehatan yang sudah ada, di samping perlindungan penumpang dengan penggunaan teknologi canggih semisal tongkat ultraviolet anti corona ini.

Futurebus, Desain Bus Dimasa Pandemi yang Memenangkan Kontes

Berbagai macam desain kendaraan kini hadir untuk membantu orang di masa pandemi dan mencegah penularan Covid-19. Salah satunya adalah dari pelajar Singapura berusia 23 tahun. Dia merupakan bagian dari tim beranggotakan empat orang yang telah memenangkan kompetisi desain internasional dengan bus anti pandemi.

Baca juga: Arsitek Asal Milan Buat Desain Trem yang ‘Friendly’ di Masa Pandemi

Ryan Teo bersama dengan tiga mahasiswa asing lain yang baru ditemu di Zoom menciptakan apa yang disebut Futurebus dalam waktu 24 jam. Adapun fitur bus tersebut yakni pintu geser yang didesain sepanjang bus, teknologi pembayaran jarak jauh untuk menggantikan pembaca kartu fisik dan pegangan tangan berputar yang disterilkan oleh strip UV.

desain yang memenangkan lomba (straitstimes.com)

Dilansir KabarPenumpang.com dari straitstimes.com (22/9/2020), Teo mengatakan, desain ini dapat membuat transportasi umum lebih aman tanpa menurunkan kapasitas bus karena jarak sosial yang harus dilakukan di masa pandemi. Teo bekerja bersama Yang Shunli dari Universitas Politeknik Hong Kong, William Ma dari Universitas Harvard dan Li Xin dari Universitas Shanghai Jiao Tong.

“Saya selalu merasa jelas bahwa Singapura memiliki salah satu sistem transportasi umum terbaik di dunia. Meski begitu, tidak ada sistem di dunia yang cocok untuk situasi pandemi,” kata mahasiswa tahun terakhir di Northwestern University di Amerika Serikat itu.

“Konsep Futurebus kami dirancang dengan pemikiran ini saat kami bertanya pada diri sendiri, bagaimana kami bisa menjaga transportasi umum tetap aman tanpa menurunkan kapasitas kendaraan?” tambah pria muda itu.

Tantangan FourC ini sendiri dilakukan pada bulan Juni tersebut diselenggarakan oleh Shanghai Jiao Tong University yang diikuti oleh lebih dari 200 mahasiswa dari 52 universitas bersaing dalam “sprint desain” 24 jam. Setiap tim ini dibentuk secara acak oleh penyelenggara dan kolaborasi berlangsung dari jarak jauh.

Kemenangan yang dibuat oleh Teo dan tim mendapatkan hadiah utama S$10 ribu atau sekitar 50 ribu yuan. Bahkan kemenangannya ini menarik perhatian media yang tidak terduga dari berbagai negara termasuk Amerika, Cina dan Spanyol.

Teo mengatakan, idenya inventif dan diadaptasi dari teknologi yang ada. Meski ini lebih merupakan eksperimen dari pikiran, tetapi keempatnya mencoba memastikan Futurebus menjadi proposal yang layak baik dari segi biaya dan terlihat lebih masuk akal.

Untuk diketahui, pengadopsian pegangan berputar, mereka terinspirasi dari dudukan toilet yang terdapat di Bandara O’Hare Chicago yang mana penutupnya berputar setelah digunakan. Sehingga nantinya pegangan Futurebus juga akan berputar 360 derajat setiap bus berhenti di halte dan dibersihkan agar penumpang tak perlu menyesuaikan pegangan mereka.

Sedangkan sistem pembayaran jarak jauh tersebut sudah lama ada dan Teo terinspirasi dari sisem yang dikembangkan oleh ST Engineering, di mana penumpang hanya membawa gelang Identifikasi Frekuensi Radio jarak jauh, kartu atau tag kunci. Mereka kemudian dapat berjalan melalui bingkai bebas penghalang dan tarif mereka secara otomatis dipotong tanpa harus mengetuk kartu atau menunggu gerbang dibuka.

Baca juga: Mobil Otonom May Mobility Mengular dengan Proteksi Anti Covid-19

Bersama dengan pintu geser Futurebus yang panjang, penumpang tidak lagi harus berkerumun di sekitar pintu sempit tempat pembaca kartu berada di bus saat ini.

“Kami mendesain ulang denah lantai bus untuk meminimalkan penyeberangan jalur penumpang. Dengan cara ini, penumpang bisa langsung turun dari bus daripada harus berjalan melalui bus untuk sampai ke pintu keluar,” kata dia.

Inilah Tiga Konsep Pesawat Bertenaga Hidrogen Airbus, Beroperasi Penuh Mulai 2035

Tiga konsep pesawat hidrogen akhirnya resmi dirilis Airbus. Hal tersebut merupakan bagian dari komitmen produsen pesawat asal Eropa itu untuk memproduksi pesawat komersial ramah lingkungan (bebas emisi) bertenaga hidrogen pertama di dunia pada 2035 mendatang.

Baca juga: Kejar Target Produksi Pesawat Tanpa Emisi di 2035, Airbus Pertimbangkan Penggunaan Hidrogen

Dalam laman Twitter resmi perusahaan, ketiga konsep – semua diberi kode nama ZEROe – tersebut antara lain, pertama, desain turboprop (kapasitas hingga 100 penumpang) menggunakan mesin turboprop sebagai pengganti turbofan, dan juga didukung oleh pembakaran hidrogen dalam mesin turbin gas yang telah dimodifikasi dan mampu melakukan perjalanan lebih dari 1.852 km lebih. Hal ini menjadikannya pilihan untuk penerbangan jarak pendek.

Konsep kedua pesawat hidrogen Airbus ialah turbofan (kapasitas 120-200 penumpang) dengan jangkauan 3.704 km lebih, mampu beroperasi lintas benua dan didukung oleh mesin turbin gas yang telah dimodifikasi dan mendapatkan energi dari pembakaran tenaga hidrogen, bukan bahan bakar jet. Hidrogen cair akan disimpan dan didistribusikan melalui tangki yang terletak di bagian ekor pesawat.

Adapun konsep pesawat Airbus bertenaga hidrogen yang terakhir yakni desain sayap-lebur atau blended-wing body (kapasitas hingga 100 penumpang), dengan jarak tempuh yang mirip dengan konsep turbofan. Badan pesawat yang sangat lebar memberikan banyak opsi untuk penyimpanan dan distribusi gas hidrogen, serta untuk tata letak kabin.

CEO Airbus Guillaume Faury berujar masing-masing konsep tersebut mewakili pendekatan yang berbeda menuju penerbangan bebas emisi, mengeksplorasi berbagai jalur teknologi, dan konfigurasi aerodinamis untuk mendukung ambisi Airbus dalam memimpin dekarbonisasi industri penerbangan secara menyeluruh.

“Semua konsep ini mengandalkan hidrogen sebagai sumber tenaga utama – opsi yang menurut Airbus menjanjikan sebagai bahan bakar penerbangan yang bersih. Hidrogen kemungkinan akan menjadi solusi untuk industri kedirgantaraan dan juga industri lainnya dalam mencapai target emisi netral,” kata Faury, seperti dikutip dari Euronews.

“Ini adalah momen bersejarah bagi sektor penerbangan komersial secara keseluruhan dan kami bermaksud untuk memainkan peran utama dalam transisi terpenting di industri ini yang pernah ada,” lanjut Faury.

Untuk mewujudkan target pesawat hidrogen Airbus mengudara tahun 2035, Faury melanjutkan, dibutuhkan dukungan dari pemerintah, perusahaan terkait, serta ekosistem industri penerbangan seluruh dunia. Aliansi Hidrogen Bersih Eropa (ECHA) sendiri dikabarkan bakal menggelontorkan dana sebesar €430 miliar atau setara Rp7.451 triliun (kurs 17.270) untuk membantu meningkatkan rantai pasokan hidrogen di seluruh dunia.

Baca juga: Intip Paten Airbus untuk Konsep Donat Terbang, Pesawat Andalan di Masa Depan?

Bila tak ada aral melintang, target Airbus tersebut 15 tahun lebih cepat dari prediksi Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO), dimana industri penerbangan global baru bisa mewujudkan 100 persen penerbangan ramah lingkungan pada 2050 mendatang. Bila hal itu terjadi, emisi yang dihasilkan transportasi udara bakal turun sebesar 63 persen.

Saat ini, perjalanan udara disinyalir menyumbang antara 2-3 persen dari emisi karbon dunia, tetapi persentase untuk itu setara dengan 4,5 miliar perjalanan penumpang, pergerakan 64 juta metrik ton kargo dan sepertiga dari perdagangan global dunia. Di samping itu, penerbangan juga menopang 65 juta pekerjaan.

Alat Tes Corona Supercepat Buatan Israel Jadi Senjata Baru Bandara Eropa Cegah Covid-19

Bandara-bandara di Eropa dilaporkan bakal menggelar tes corona supercepat buatan Israel. Alat tes virus Corona (Covid-19) dengan memakai sampel air liur dipastikan bakal menjadi andalan baru bandara setelah ICTS Europe, raksasa keamanan bandara yang memegang kendali di 120 bandara di 23 negara.

Baca juga: Canggih! Italia Jadi yang Pertama Gunakan Helm Thermal Scanning di Bandara

Dilansir timesofisrael.com, untuk tahap awal, alat tes Corona supercepat dari Israel dengan memakai sampel air liur ini bakal diujicoba di dua bandara Eropa -tak disebutkan dengan jelas bandara mana saja- sebagai proyek percontohan selama beberapa hari atau pekan.

Dalam proses uji coba, setiap penumpang diharuskan untuk berkumur 10 ml dengan obat khusus dan meludah ke dalam vial (benda penampung cairan, bubuk, atau tablet farmasi). Hasilnya kemudian diperiksa dengan perangkat spektral kecil yang secara sederhana, menyinari spesimen dan menganalisis reaksinya untuk melihat apakah konsisten dengan virus Corona Covid-19. Hanya dalam tempo satu detik, hasil tes sudah bisa didapat.

Dalam proses uji coba alat tes Corona supercepat Israel, bila hasilnya positif penumpang akan menjalankan tes swab.

(kiri ke kanan) Eli Assoolin, CEO of Newsight, Professor Eli Schwartz of Sheba Medical Center, dan Eyal Yatskan, co-founder of Newsight, saat sedang berpose dengan alat tes supercepat Israel, SpectraLIT. Foto: Timesofisrael

Alat tes corona yang dikembangkan bersama Assoolin Newsight dengan Sheba Medical Center lewat perusahaan patungan Virusight Diagnostic ini, diklaim menunjukkan tingkat keberhasilan 95 persen, jauh lebih akurat dibanding alat rapid test buatan Cina yang hanya diangka 30-an persen. Hal itu dimungkinkan mengingat alat deteksi virus corona bernama SpectraLIT ini diciptakan berbasis kecerdasan buatan atau AI.

Menariknya, berbeda dengan tes swab atau PCR yang membutuhkan waktu agak lama dan melibatkan profesional medis, alat tes corona supercepat Israel tak membutuhkan itu (keterlibatan profesional medis).

Sebab, teknologi AI sudah otomatis mendeteksi keberadaan virus Corona dari air liur tadi melalui sebuah sensor. Dengan begitu, siapapun dapat mengoperasikan alat tes ini. Selain itu, harga per satu alat tes Corona buatan Israel itu juga terbilang murah, mencapai di bawah Rp4.000. Adapun keseluruhan perangkat peralatan ditaksir kurang dari US$200 atau sekitar Rp2.968.000.

Baca juga: Berkat Check-in Tanpa Sentuhan, Changi Dinobatkan Jadi Bandara Teraman di Dunia

Oren Sapir, presiden sekaligus CEO ICTS Europe, mengatakan, “Karena pembatasan perjalanan secara bertahap dicabut, inovasi dan teknologi akan terus menjadi pusat pemulihan industri, dan karenanya kami bangga dan sangat senang dapat bekerja sama dengan Virusight untuk memaksimalkan SpectraLIT.”

Sementara itu, ketua tim pengembangan alat tes corona supercepat SpectraLIT, Eli Assoolin, optimis dalam beberapa bulan ke depan alat tes Covid-19 bakal digunakan oleh banyak orang. “Kami pikir solusi kami akan menjadi solusi de facto untuk perjalanan udara,” jelasnya.