Berharap Jadi Poros Maritim Dunia, Indonesia Terapkan Berbagai Strategi Salah Satunya Tol Laut

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah. Bahkan kekayaan laut dengan beragam biota sehingga menampilkan pemandangan yang cukup diminati oleh para pelancong internasional.

Baca juga: Sistem Monitoring Jadi Hambatan Terbesar Implementasi Tol Laut

Hal ini bahkan diperlengkap karena berada di antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Kemudian, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia sebagai langkah yang tepat.

Sebab bisa dikatakan, sektor maritim di Indonesia cukup lama tak digarap dengan serius dan maksimal. Sehingga belum benar-benar membantu Indonesia baik dalam industri pariwisata atau pangan yang dihasilkan dari laut.

Karena Jokowi ingin Indonesia menjadi Poros Maritim Dunia, berbagai strategi digunakan untuk hal ini baik untuk menjaga keamanan maupun kemajuan pengembangan industri kelautan. Untuk keamanan diperlukan pembangunan sistem sensor dasar laut menggunakan eknologi coastal acoustic tomography (CAT) dengan konsep operasi seabed sonar atau sonar tanam.

Hal ini penting karena beberapa perairan Indonesia sangat rawan terhadap perlintasan kapal selam asing. Sedangkan untuk kemajuan maritim nasional, adanya pembanguan jalur pelayaran tol laut.

Tol laut sendiri merupakan jalur pelayaran yang bebas hambatan dengan menghubungkan pelabuhan-pelabuhan di seluruh Indonesia. Sayangnya pembangunannya tak mudah terealisasi karena banyak kendala yang mana salah satunya adalah anggaran pengembangan atau pertahanan laut yang tak lebih dari satu persen.

Tak hanya itu, banyak juga pelabuhan di Indonesia yang belum siap atau belum memungkinkan untuk menjadi rute tol laut. Meski begitu beberapa pelabuhan besar sudah siap untuk menjadi sandaran tol laut Indonesia.

Salah satu rute tol laut yang sudah mulai berjalan adalah dari Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta menuju ke Pelabuhan Panjang di Lampung. Rute tol laut yang satu ini sudah beroperasi sejak 22 Juni 2016 lalu.

Baca juga: Rute Tol laut Tanjung Priok-Panjang, Akankah Berdampak Pada Lintasan Merak-Bakauheni?

Tol laut ini juga menarik perhatian masyarakat dan disambut dengan baik. tol laut juga nantinya diharapkan membantu pengiriman barang dari satu pulau ke pulau lainnya, sehingga tidak terjadi kelangkaan bahan-bahan pokok baik itu sembako, BBM hingga semen. Nantinya, dengan adanya tol laut ini diharapkan, harga barang bisa lebih murah dari pengiriman menggunakan moda transportasi lainnya.

Hadirkan Kendaraan Listrik untuk Ride Hailing, Didi Bermitra dengan BYD

Didi Chuxing, raksasa ride hailing di Negeri Tirai Bambu mulai melebarkan sayapnya dan bermitra dengan BYD. Kerja sama ini untuk membuat electric vehicle (EV) atau kendaraan listrik khusus untuk bisnis transportasi.

Baca juga: Platform Didi Turunkan Usia Penumpang Taksinya Menjadi 16 Tahun

Orang-orang yang mengetahui masalah tersebut mengatakan dua perusahaan ini telah memproduksi batch untuk uji coba kendaraan listrik yang disesuaikan tersebut. Mereka mengatakan, jumlah kendaraan yang diproduksi masih harus ditentukan saat menjalani uji coba.

KabarPenumpang.com melansir dari laman bloomberg.com (21/9/2020), sayangnya beredaranya kabar baik ini tidak ada jawaban apa pun dari perwakilan Didi dan BYD. Didi sendiri menandai niatnya untuk bekerja sama dengan produsen mobil dalam memproduksi EV di awal 2018 kemarin.

Kendaraan listrik ini disesuaikan untuk layanan ride hailing yang mendominasi di Cina dan menganggap Uber Technologies Inc. sebagai investor. Untuk diketahui saat ini lebih dari 969 ribu kendaraan listrik telah terdaftar dengan layanan transportasi penumpang.

Jumlah ini sendiri mewakili sekitar sepertiga dari total pemilik kendaraan listrik di seluruh Cina. Jumlah tersebut didapat dari buku putih yang diterbitkan oleh perusahaan pada bulan April lalu.

Didi sendiri berencana untuk merilis batch pertama kendaraan listrik yang disesuaikan dengan mitra armada secara nasional pada akhir tahun 2020. Dengan membuat dan menggunakan mobil sendiri, Didi dapat mengatur kualitas kendaraan yang ditawarkannya dengan lebih baik.

Itu juga akan memberinya kendali yang lebih besar atas armada pengemudinya. Saat ini, masyarakat bisa menyewa mobil dari perusahaan leasing pihak ketiga dan kemudian menggunakan mobil tersebut untuk mengantar Didi.

Sehingga dengan memiliki dan mengelola mobil itu sendiri, Didi juga dapat mengawasi pengemudi dengan lebih baik Langkah ini juga dapat mempersiapkan Didi untuk beralih ke kendaraan yang bisa mengemudi sendiri di beberapa titik di jalan, ketika kemungkinan besar perlu mengambil kendali penuh atas armadanya.

Baca juga: Lampaui AS, Cina Mulai Operasikan Taksi Otonom Level Tertinggi, Apollo RoboTaxi

BYD, adalah salah satu pemain EV terbesar dan paling mapan di Cina, telah menjual 451 ribu mobil tahun lalu. Warren Buffett’s Berkshire Hathaway Inc. adalah pemegang saham terbesar di saham yang diperdagangkan di Hong Kong, dengan 24,6 persen saham. Investor miliarder itu mengambil taruhan pada BYD dua tahun sebelum Tesla Inc. terdaftar di New York.

Lion Air Digugat 9 Leasing Pesawat Rp189 Miliar, Pengamat: Tak Ada Iktikad Baik Bayar Utang

Kabar mengejutkan datang dari Lion Air. Maskapai dengan market share terbesar di Indonesia ini digugat leasing pesawat, Goshawak Aviation Ltd di Pengadilan London. Gugatan dimaksudkan untuk menagih biaya sewa tujuh unit pesawat Boeing 737 senilai €10 juta atau setara Rp189 miliar (kurs Rp17.270) yang dilanggar oleh Lion Air.

Baca juga: Penerbangan Komersial Dilarang Beroperasi, Maskapai Penerbangan Indonesia ‘Dihantui’ Tuntutan Lessor

Menanggapi hal itu, praktisi hukum leasing dan keuangan pesawat, Hendra Ong, menyebut ada beberapa kemungkinan mengapa Lion Air bisa sampai digugat miliaran rupiah oleh perusahaan penyewaan pesawat.

Menurutnya, kejadian tersebut bisa saja buntut dari kebuntuan negosiasi restrukturisasi utang. Poinnya, kedua belah pihak sudah berusaha membicarakan perkara pembayaran kewajiban utang dan tak menemukan jalan tengah. Kemungkinan lain, Lion Air bisa saja sudah diingatkan untuk membayar kewajiban utang secara baik-baik. Namun, perusahaan tak bergeming -jika tak ingin dibilang mangkir- akibat kesulitan keuangan.

“Untuk menunjukkan iktikad baik, harusnya maskapai mau bernegosiasi. Mau duduk bersama, kemudian melakukan negosiasi, oke, bisa tidak Anda bayar 100 ribu dulu. Biasanya, kalau ada iktikad baik untuk melakukan pembayaran cicilan, biasanya bisa diterima (tak perlu menempuh jalur hukum),” jelas Hendra saat dihubungi KabarPenumpang.com, Rabu (23/9).

Berhubung sudah kadung digugat, Hendra mengungkapkan biasanya perusahaan leasing pesawat sudah mengeluarkan notice of default and grounding. Artinya, tujuh pesawat Boeing 737 yang pembayaran sewanya macet sementara waktu tak lagi boleh dioperasikan oleh Lion Air. Para penggugat sudah memiliki hak untuk menyita pesawat.

Hanya saja, hal itu bergantung pada kesepakatan masing-masing. Bilapun tetap dioperasikan, lessor mungkin saja akan memberi lampu hijau, sebab lease rental akan tetap berjalan selagi belum determinate.

Akan tetapi, ia menggarisbawahi, seandainya Goshawak Aviation Ltd di Pengadilan London memenangi gugatan tersebut, putusan pengadilan tak serta merta dapat diadopsi di Indonesia.

Singkatnya, Lion Air bisa saja mangkir dari putusan tersebut dan tetap melenggang dari kewajiban pembayaran utang. Namun, lain cerita bila lessor memenangi gugatan di arbitrase internasional. Putusan tersebut bisa saja diadopsi di Indonesia dan menyita asset maskapai, mengingat Indonesia merupakan peserta dari New York Convention.

Baca juga: Praktisi Hukum Leasing Pesawat: Maskapai Dalam Negeri Sudah ‘Macet’ Bayar Tagihan Sejak Maret 2020

Sebelumnya, sebagaimana diberitakan Law360, maskapai Lion Air digugat perusahaan penyewaan pesawat, Goshawak Aviation Ltd di Pengadilan London. Gugatan dimasukkan untuk menagih biaya sewa tujuh unit pesawat Boeing 737 senilai USD12,8 juta (10 juta euro) atau setara Rp189 miliar yang dilanggar oleh Lion Air. perjanjian sewa tujuh pesawat Boeing 737 dilakukan secara terpisah dalam rentang tahun 2015 hingga 2020. Saat perjanjian, Lion Air membayar deposit setara 5,5 juta euro.

Goshwaks dan delapan perusahaan terafiliasi mengaku Lion Air memiliki tunggakan pembayaran berkisar USD1,76 juta – 2,5 juta euro per perusahaan. Para penggugat berharap bisa memenangkan gugatan dan memperoleh kompensasi akibat kontrak yang dilanggar oleh Lion Air sekitar 10 juta euro.

Empat Keunggulan Bandara Terapung, Nomor Tiga Sangat Menggiurkan

Keterbatasan lahan jadi tantangan pelaku industri penerbangan global dalam menambah jumlah bandara, mengingat, di masa mendatang penerbangan akan semakin diminati warga. Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) telah memprediksi bahwa jumlah penumpang yang bepergian melalui udara akan mencapai 8,2 miliar pada tahun 2037.

Baca juga: Konsep Bandara Terapung, Mungkinkah Terlaksana?

Sejalan dengan itu, jumlah penerbangan juga akan meningkat sekitar 3,5 persen per tahun. Bila saat ini saja ada 40,3 juta penerbangan, akan ada berapa banyak penerbangan pada tahun 2037 serta tahun-tahun selanjutnya? Saat hal itu terjadi, tentu bandara yang ada tak lagi mampu menampung lalu lintas pesawat.

Oleh karenanya, dibutuhkan inovasi untuk membangun bandara baru di tengah keterbatasan lahan. Pada tahun 1995, Asosiasi Riset Teknologi Jepang coba menjawab tantangan tersebut dengan merilis konsep Mega Float, sebuah bandara terapung pertama di dunia. Bandara apung tersebut pun akhirnya benar-benar terealisasi dengan panjang runway mencapai 1.000 meter serta lebar 60 meter. Namun, karena satu dan lain hal, akhirnya operasional bandara terapung pertama di dunia itu harus dihentikan.

Saat ini, setidaknya ada lima bandara terapung di dunia, mulai dari Bandara Internasional Kai Tak di Hong Kong, Bandara Osaka-Kansai, Bandara Nagoya-Centrair, Bandara terapung Khyusu, dan Bandara Apung Kobe di Jepang, Bandara Apung London Brittania Airport di Inggris, dan Bandara Ahmad Yani, Semarang, yang juga jadi bandara terapung pertama di Indonesia.

Selain menjadi jawaban atas keterbatasan lahan, bandara apung juga memiliki banyak keunggulan. Agar lebih jelas, berikut KabarPenumpang.com rangkum dari laman wonderfulengineering.com empat keunggulan bandara apung.

1. Pusat penelitian
Selain menjadi pusat kegiatan ekonomi, bandara terapung dinilai bakal menjadi pusat penelitian energi terbarukan serta akuakultur (pusat penangkaran hewan laut). Tak hanya itu, bandara apung juga mendorong penggunaan kapal pesiar dan pesawat amfibi lebih banyak dari biasanya.

2. Pusat penelitian oseanografi
Oseanografi (biasa juga disebut oseanologi atau ilmu kelautan) adalah cabang ilmu bumi yang mempelajari samudera atau lautan. Bandara terapung dinilai bakal jadi wadah yang cocok untuk menjadi pusat penelitian terkait hal itu.

Baca juga: Bandara Terapung, Dari Sebuah Konsep Hingga Terwujud di Jepang dan Hong Kong

3. Pilihan energi alternatif lengkap
Di daratan, energi alternatif besar kemungkinan hanya datang dari panas matahari. Namun, di bandara apung, pilhan energi alternatif untuk mendukung operasional bandara lebih beragam, mulai dari energi gelombang, energi matahari, serta koversi energi panas laut (yakni listrik yang dihasilkan dengan memanfaatkan perbedaan suhu antara kedalaman air) di bandara terapung ini.

4. Multiguna
Bandara apung dinilai bisa juga berfungsi sebagai pelabuhan, tentu dengan didukung infrastruktur tambahan. Selain itu, bandara apung juga hampir dapat dipastikan bakal menjadi salah satu tujuan rekreasi baru. Tak hanya itu, bila proses pembuatan bandara apung dilakukan secara disiplin, potensi masalah lingkungan, masalah keamanan, dan biaya juga dapat lebih efisien.

Emirates Luncurkan Penerbangan Terpanjang di Dunia Pasca Lockdown

Maskapai Emirates dikabarkan akan segera membuka kembali rute Dubai-Auckland, salah satu dari daftar 10 penerbangan terpanjang (bisa juga disebut terlama) di dunia, pada Januari 2021 mendatang. Rute tersebut sebetulnya hanya menempati posisi ke-delapan dalam deretan 10 penerbangan terpanjang di dunia. Namun, pasca lockdown (pembatasan perjalanan) rute itu jadi yang terpanjang di dunia.

Baca juga: Inilah 10 Penerbangan “Direct Flight” dengan Waktu Terlama di Dunia

Dikutip dari Simple Flying, alih-alih menggunakan pesawat andalan mereka, Airbus A380, maskapai yang berbasis di Dubai, Uni Emirat Arab, itu justru menggunakan pesawat 777-300ER. Tak ayal, menurut salah satu situs penerbangan terkemuka di dunia, Live And Lets Fly, penerbangan yang rencananya akan tersedia empat hari dalam sepekan itu berpeluang besar mencetak rekor penerbangan penumpang berjadwal reguler Boeing 777-300ER terpanjang di dunia.

Selama masa pandemi Corona sendiri, Emirates sebetulnya sudah menggunakan pesawat tersebut untuk melahap rute Dubai-Auckland. Hanya saja, penerbangan itu khusus kargo, dengan menempuh perjalanan sejauh 14.201 km non-stop; sedikit di bawah jangkauan maksimum pesawat diangka 14.490 km.

Oleh karenanya, tak mengherankan bila Emirates cukup percaya diri untuk menerbangkan Boeing 777-300ER untuk layanan penumpang berjadwal, sekalipun tingkat keterisian kursi ataupun kombinasi beban kargo dan penumpang harus dibatasi.

Akan tetapi, rute yang mulai diluncurkan Emirates pada 2016 lalu itu sebetulnya disebut masih terbuka opsi transit di Australia untuk mengisi bahan bakar sebelum melanjutkan ke Auckland, Selandia Baru. Hal tersebut bukan tak mungkin mengingat bila kursi penumpang penuh dan kargo tak bisa dibatasi, maskapai tak punya pilihan lain kecuali mendaratkan pesawat di Australia.

Baca juga: Terbang Lintas Benua! Inilah 10 Rute Terpanjang Penerbangan Non Stop Komersial

Dari kacamata bisnis, mungkin maskapai akan kehilangan penumpang yang menginginkan penerbangan langsung, tetapi, hal itu bisa terbalas dengan banyaknya penumpang yang ingin berkunjung ke Australia ataupun Dubai serta tipe pengunjung yang di masa pandemi lebih menginginkan penerbangan transit untuk melepas lelah. Lagi pula, penerbangan transit di masa pandemi lebih aman dari kemungkinan tertular virus Corona.

Belum lama ini, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat (AS) menerbitkan hasil studi mencengangkan. Dari analisis data penerbangan rute Hanoi-London pada bulan Maret lalu, ditemukan setidaknya 12 penumpang tertular Covid-19 dari seorang penumpang first class. Lewat data tersebut, CDC menduga bahwa penerbangan jarak jauh lebih berpotensi menularkan virus Corona melalui airborne, mengingat jarak antar kursi tak terlalu jauh.

Profesional Medis Gunakan Masker Scuba dan Snorkeling untuk Gantikan Masker Bedah

Peralatan scuba dan snorkeling digunakan oleh profesional medis sebagai pilihan lain pertahanan di masa pandemi Covid-19? Sepertinya ini menjadi pilihan yang cukup bisa diterima. Sebab bisnis lokal dan bioteknologi Universitas Stanford telah menemukan cara untuk menggunakan kembali masker scuba dan snorkeling.

Baca juga: Bikin Heboh, Penumpang Bus Kota Gunakan Ular Hidup Sebagai Masker

Bahkan masker ini akan segera dikirim ke rumah sakit di seluruh Bay Area dan Amerika Serikat tanpa biaya. Manu Prakash, seorang ahli biologi mengatakan, dia tengah menangani jenis masalah ini karena ada krisis kesehatan di seluruh dunia apapun yang terjadi dan Covid-19 hanya sebagian dari masalah yang telah ada.

KabarPenumpang.com melansir abc7news.com (19/9/2020), Prakash pada bulan Maret lalu kembali dari perjalanan pekerjaan di Prancis dan mengkarantina dirinya sendiri di ruangan dengan perlengkapan snorkelingnya. Dia kemudian memikirkan cara untuk mengubah masker sluruh wajahnya menjadi opsi yang dapat digunakan kembali tanpa mengorbankan visibilitas.

“Anda melepas snorkel di atasnya dan Anda meletakkan alat perangkai ini, lalu Anda memasang filter virus yang sudah menjadi perangkat medis yang telah disetujui sebelumnya yang memblokir virus,” jelasnya.

Dalam hal ini, Prakash berkolaborasi dengan para muridnya untuk meneliti keefektifan dari apa yang saat ini dikenal sebagai Pneumask. Fokus pertama adalah dia memastikan tim bisa membuktikan secara klinis sesuatu seperti ini berhasil.

“Jika Anda pergi ke rumah sakit dan melihat berapa kali orang membuang APD, Anda sadar bahwa ini akan menjadi kekurangan yang besar,” jelasnya.

Bahkan dalam situs web proyek Pneumask ini ada misi di baliknya yang berbunyi

“Misi kami untuk Pneumask adalah memberikan validasi klinis sebanyak mungkin pada solusi APD alternatif ini. Kami telah menguji sejumlah prototipe bersama dengan kolaborator kami dan telah membagikan hasil tersebut sebagai dokumen terbuka, sehingga orang lain yang menerapkan solusi serupa juga dapat memanfaatkan dari temuan tersebut. Kami juga bekerja dengan FDA untuk mendapatkan Pneumask yang sepenuhnya disetujui sebagai APD yang setara dengan N95. Tujuan kami untuk proyek ini adalah melibatkan koalisi mitra untuk membawa 50 ribu Pneumask ke petugas perawatan kesehatan garis depan dengan cara yang adil.”

Food and Drug Administration (FDA) atau Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat telah menyetujui Pneumask sebagai pelindung wajah atau masker bedah tetapi bukan sebagai respirator. Sebab penelitian yang dipublikasikan di Google Doc terbuka dan gratis untuk dilihat dunia dan mengatakan hal ini menciptakan keterlibatan dari berbagai komunitas di seluruh dunia.

“Solusinya melibatkan penggunaan masker snorkel. Komponen penting lainnya adalah memiliki kapasitas untuk menghubungkan filter virus yang telah disetujui FDA- yang sudah digunakan dalam mesin anestesi. Kami mengembangkan penggandeng yang memungkinkan kami menghubungkan ini ke scuba topeng,” katanya.

Prakash juga menjangkau peneliti Prancis dan kolaborator serta mitra lainnya untuk memberikan pertahanan dengan kualitas tertinggi. Dia mengatakan, ini adalah waktu yang sangat istimewa dalam hal melakukan sains sekarang, bahwa orang-orang berkumpul dengan cara yang sangat terbuka.

“Jika Anda benar-benar ingin merancang sesuatu yang akan melindungi petugas kesehatan, yang merupakan garis pertahanan pertama, kualitas suku cadang harus berkualitas tertinggi,” kata Prakash.

Dia mengatakan langkah selanjutnya melibatkan persiapan untuk menyebarkan masker di area yang membutuhkan, dengan mengingat distribusi yang adil dari sumber daya yang terbatas ini. Prakash mengatakan 1600 telah disalurkan ke komunitas di seluruh Amerika Serikat, tetapi lebih banyak dana dibutuhkan agar unit tambahan dapat dikerahkan. Prakash mengatakan penyebaran masker tergantung pada dokter yang telah menghubungi tim tersebut.

“Berdasarkan kebutuhan yang telah diwakili oleh orang-orang kepada kami, kami mulai membagikannya secara luas,” Prakash.

Setiap topeng harganya sekitar $40 untuk membuatnya dan dalam rincian biaya oleh Prakash, dia menjelaskan harga eceran masker wajah penuh snorkeling adalah antara $30 hingga $35. Dia mengatakan bahwa harga perangkai antara $0,50 hingga $1, dan biaya filter antara $3 hingga $4.

Upaya terpisah dengan toko ritel berperahu dan memancing, West Marine, sudah membuat gelombang di Bay Area. Yang mana perusahaan baru-baru ini menyumbangkan 200 masker scuba dengan adaptor filter yang sangat dibutuhkan ke Alta Bates Summit Medical Center di Oakland.

“Kami tahu kami memiliki banyak produk yang digabungkan dengan keamanan. Jadi, coba sampaikan itu ke komunitas di mana mereka benar-benar bisa digunakan,” kata Lorene Frank dari West Marine.

Dia menjelaskan Ocean Reef adalah pabrikan yang membuat adaptor yang dipasang di topeng, untuk digunakan sebagai filter. Kedua kelompok berharap dapat menjangkau petugas kesehatan yang membutuhkan alat pelindung diri di seluruh AS.

Baca juga: Pesawat Pakai Masker Kini Jadi Kenyataan!

“Beberapa filter, misalnya, bisa digunakan untuk beberapa hari. Yang lain bahkan bisa digunakan selama 15-20 hari mereka sudah digunakan pada pasien untuk waktu yang lama,” kata Prakash.

Pemakaian ulang masker bawah air merupakan terobosan penting bagi pekerja paling esensial.

Keliling Bandara dan Pesawat Lebih Mudah dengan Virtual Reality Ocean3D

Virtual reality (VR) lambat laun makin populer di dunia penerbangan. Sebab, VR dinilai sangat memudahkan calon penumpang yang memiliki berbagai kekhawatiran karena satu dan lain hal saat berkunjung ke sebuah bandara. Studi menunjukkan, satu dari empat orang di Inggris berpeluang mengidap cacat, baik fisik maupun mental, yang membuatnya khawatir menemui berbagai hal sulit saat di bandara. Karenanya, VR hadir untuk memberikan gambaran sebelum mereka berkunjung.

Baca juga: Selain Manjakan Penumpang, Layanan Virtual Reality Buka Peluang Peningkatan Laba Maskapai

Ocean3D, salah satu startup pengembang teknologi VR yang sudah berpengalaman membuat VR Kementerian Kesehatan Inggris (NHS), stasiun, hotel, dan real estate, menyebut selain sangat bermanfaat bagi penumpang, layanan teknologi VR bandara dan pesawat juga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan lainnya, seperti city tour virtual bandara, hingga training karyawan.

Perusahaan yang belum lama ini memenangkan kompetisi Innovation Gateway dalam acara New Civil Engineer Future of Airports ini, memanfaatkan digital twin technology (teknologi digital twin) sebagai salah satu instrumen utama VR. Teknologi tersebut membuat VR lebih realistis, entah itu di ruang pribadi maupun di ruang publik, yang dapat diakses di semua jenis perangkat elektronik kapan dan di manapun.

Dalam prosesnya, platform VR Ocean3D juga memanfaatkan teknologi Matterport -sistem kamera dan layer yang mampu memindai sebuah area- untuk membuat model virtual reality dari sebuah lokasi. Proses ini umumnya bisa menyita waktu cukup singkat atau sebaliknya, tergantung dari luas area yang ingin dipindai atau discan.

“Ini (VR Ocean3D) mirip dengan Google Earth tetapi pada tingkat yang lebih cepat. Itulah yang diinginkan traveller awam. Semua orang ingin tahu ke mana mereka akan pergi, berapa lama mereka akan sampai di sana dan seperti apa jadinya sebelum mereka benar-benar melakukannya,” jelas direktur Ocean3D, Chris Wood, seperti dikutip dari airport-technology.com.

Setelah tayang, peta virtual Ocean3D dapat dimodifikasi dengan beberapa update terbaru dan disematkan beberapa tools seperti informasi lengkap berdasarkan lantai, video, menu, dan fitur chatting, yang pada dasarnya membuat panduan digital lengkap bandara. Tak hanya itu, untuk alasan keamanan, pengguna juga dapat mematikan kamera yang menampilkan dirinya.

Baca juga: First Airlines, “Maskapai” Jepang dengan Penerbangan Virtual Reality Pertama

Dengan berbagai kemudahan yang diberikan VR bandara dan pesawat, Ocean3D berharap penumpang jadi lebih antusias untuk bepergian, baik trip pertama maupun trip kesekian kalinya. Apalagi dalam situasi di tengah pandemi Covid-19 seperti sekarang ini. Sebab, keraguan yang selama ini dialami sudah bisa tertangani dengan baik melalui VR; terlebih bagi penumpang berkebutuhan khusus, baik fisik maupun mental.

“Satu dari empat orang di Inggris akan memiliki beberapa bentuk kecacatan, apakah itu fisik atau mental dan kita perlu memperhatikan orang-orang itu, yang lebih dari 80 persen di antaranya akan memiliki kecacatan tak tampak (mental),” pungkas Wood.

Lockheed L-1011 TriStar, Pesawat dengan Kecanggihan Selangit yang Bikin Lockheed Nyaris Bangkrut

Pesawat trijet pernah mengalami masa kejayaan di dunia penerbangan global berkat aturan Extended-range Twin-engine Operational Performance Standards (ETOPS) pada dekade 60-an. Berbagai pesawat trijet pun sempat mencicipi manisnya masa kejayaan, seperti Boeing 727, Hawker Siddeley HS-121 Trident, dan Douglas DC-10. Namun, di balik ketiga pemain besar itu, jangan dulu lupakan Lockheed L-1011 TriStar saat membicarakan pesawat trijet.

Baca juga: Mengenang DC-10: Pelopor Penerbangan Jarak Jauh Modern Sekaligus Berlabel Jebakan Maut

Dilansir aerotime.aero, Lockheed L-1011 TriStar sebetulnya bisa dibilang bintang dari pesawat trijet. Hal itu tercermin dari berbagai teknologi canggih yang disematkan, sebagai jurang pemisah dengan pesawat trijet lainnya, terutama Douglas DC-10. Saking canggihnya, bahkan, Lockheed L-1011 TriStar disebut terlalu canggih untuk digunakan di zaman itu.

Lockheed L-1011 TriStar pertama kali terbang perdana pada 16 November 1970. Pesawat dengan kecepatan maksimal mencapai 973 km per jam dan jarak tempuh sejauh 7.410 km ini bisa mengangkut lebih banyak penumpang, sekitar 400 penumpang (20 lebih banyak dari DC-10), namun jauh lebih efisien dari pesaing utamanya itu. Hal itu berkat fitur S-duct yang menyuplai udara lebih banyak ke mesin Rolls-Royce RB211.

Namun, mesin tersebut pada prosesnya mengalami berbagai kegagalan mesin dan mempengaruhi desain pesawat secara keseluruhan. Dengan begitu, Lockheed mau tak mau harus mengeluarkan dana berlebih untuk pengembangan mesin, mengingat, Rolls-Royce kala itu sempat dinyatakan bangkrut sebelum diselamatkan oleh Pemerintah Inggris.

Selain lebih efisien dan menampung penumpang lebih banyak, pesawat dengan panjang 54 meter ini juga memiliki sistem avionik canggih di zamannya. Kala itu, AFCS (Avionic Flight Control system) dari Lockheed L-1011 TriStar sudah mencakup autopilot, kontrol kecepatan, sistem kontrol penerbangan, sistem navigasi, sistem stabilitas, dan direct lift control system.

Yang paling spesial dari AFCS pesawat itu tentu sistem CAT-IIIB Autoland. Salah satu fitur penjualan utama Lockheed ini diklaim mampu mendaratkan pesawat secara otomatis, bahkan dalam kondisi cuaca buruk sekalipun. Cukup canggih, bukan?

Tak cukup sampai di situ, pada Mei 1972, Lockheed L-1011 TriStar juga dikabarkan berhasil menyelesaikan penerbangan yang sepenuhnya otomatis, teknologi yang bahkan masih cukup canggih bila diaplikasikan pada pesawat di zaman ini.

Akan tetapi, tetap saja, maskapai tak terlalu butuh semua itu, sekalipun sebetulnya berbagai keunggulan tersebut sangat menguntungkan maskapai. Namun, maskapai pada umumnya sudah kadung jatuh cinta dengan Douglas DC-10 yang notabene lahir setahun lebih dahulu, di samping harganya juga lebih murah.

Baca juga: Ternyata Boeing 777 Sempat Dirancang dengan Konsep “Trijet”

Pada akhirnya, dari target 500 penjualan, Lockheed L-1011 TriStar hanya mampu terjual sekitar setengahnya. Sedangkan kompetitor sejati mereka, DC-10, berhasil terjual sekitar 400 unit.

Nama besar Lockheed di produk-produk militer rupanya tak cukup mampu melambungkan L-1011 TriStar. Bahkan, layaknya pesawat sipil terdahulu mereka, L-188 Electra, L-1011 TriStar menyebabkan perusahaan mengalami kerugian besar akibat harga mahal pengembangan pesawat hanya dibalas dengan penjualan tak sampai 50 persen. Akibatnya, Lockheed diberitakan nyaris bangkrut karenanya, sebelum diselamatkan oleh pemerintah AS.

Ngeri! Inilah Video Detik-detik Boeing 767 Atlas Air Terbakar Saat di Udara

Sebuah penerbangan charter Atlas Air belum lama ini dikabarkan terbakar saat di udara. Dalam video yang beredar, sumber api diketahui berasal dari mesin sebelah kanan dan membuat kabin yang gelap gulita menjadi berwarna merah menyala akibat kobaran api.

Baca juga: Tragis! Black Box Ungkap Pilot dan Penumpang Pesawat Ukraina Tewas Setelah Tembakan Rudal Kedua

Dari laporan 6abc.com, pihak maskapai sendiri mengakui adanya kejadian tersebut. Melalui sebuah penyataan, salah satu raksasa kargo dan charter di dunia ini menyebut api berkobar akibat kerusakan di salah satu mesin pesawat.

“Penerbangan penumpang Atlas Air mendarat dengan selamat di Bandara Internasional Daniel K. Inouye di Honolulu menyusul masalah mekanis dengan satu mesin. Di Atlas, keselamatan selalu menjadi prioritas utama kami dan kami akan melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk menentukan penyebabnya,” bunyi penyataan maskapai.

Insiden mesin terbakar bermula saat pesawat Boeing 767 milik maskapai penerbangan Atlas Air lepas landas dari Pangkalan Angkatan Udara Hickman, Honolulu, Hawaii, menuju ke Guam, Barat Samudera Pasifik, Amerika Serikat(AS). Beberapa menit berselang, mesin pesawat widebody dengan lebar terkecil di dunia yang memuat anggota militer ini terbakar dan pesawat terpaksa melakukan pendaratan darurat di Honolulu. Beruntung, tak ada korban tewas atas insiden tersebut.

https://www.youtube.com/watch?v=Ao1-NbJTC_g

Peristiwa menegangkan ini terekam dalam video yang diambil salah satu dari 212 penumpang. Dalam rekaman video tersebut terlihat api yang menyala di bagian sayap kanan pesawat. Sementara suasana di dalam kabin sangat gelap gulita.

Sementara itu, dalam video lain yang diambil oleh seseorang dari sebuah gedung bertingkat di Honolulu, menunjukkan nyala api dari pesawat Atlas Air sangat terang ketika terbang di langit sekitar Bandara Internasional Daniel K. Inouye.

” Ya Tuhan, apakah itu akan jatuh? Apakah kamu baru saja melihat api yang keluar darinya?” ungkap perekam itu panik.

Beberapa saksi mata mengatakan bahwa mereka mendengar ledakan keras dan melihat kilatan cahaya yang mungkin merupakan api di langit.

“Suaranya (ledakan) cukup keras,” Kevin Tynan. “ Saya cukup yakin saya mendengar tetangga saya di bawah membicarakannya,” ujar yang lain.

“Saya gugup karena saat pertama kali melihatnya, jaraknya cukup dekat. Saya tak mampu berkat-kata banyak,” kata Kevin.

Baca juga: Baru 13 Bulan Beroperasi, Airbus A321 Milik Maskapai Terbesar di Rusia Terbakar

Berkaca pada kasus mesin pesawat Atlas Air yang terbakar di udara dan berhasil mendarat darurat, sebetulnya pesawat memang didesain untuk mampu terbang dengan satu mesin. Standar penerbangan pesawat dengan satu mesin itu dikenal sebagai Extended-range Twin-engine Operational Performance Standards atau yang biasa disingkat ETOPS setelah diterbitkan oleh Federal Aviation Association (FAA).

ETOPS sendiri memiliki beberapa kelas, mulai dari ETOPS 75, 90, 120/138, 180/207, hingga 370. Angka yang tertera di akhir merupakan durasi yang diijinkan untuk pesawat mengudara hanya dengan satu mesin. Itu berarti, pesawat maksimal diizinkan terbang dengan satu mesin selama enam jam 10 menit.

Gegara 737 MAX, Regulator Penerbangan Sipil Cina Mulai Rusak Hegemoni FAA

Insiden kecelakaan Boeing 737 MAX yang menimpa Lion Air dan Ethiopian Airlines sudah pasti bakal merusak hegemoni Boeing dalam persaingan menjadi produsen pesawat nomor satu di dunia. Terbukti, kecelakaan yang diikuti grounded berkepanjangan 737 MAX membuat Airbus berhasil menyalip pesanan pesawat di tahun ini.

Baca juga: Hacker Cina Manfaatkan Airbus Guna Dapatkan Dokumen Beberapa Perusahaan Dirgantara

Akan tetapi, bila ditelusuri lebih dalam, insiden Boeing 737 MAX rupanya bukan hanya merusak hegemoni Boeing, melainkan juga merusak hegemoni regulator penerbangan sipil Amerika Serikat (FAA) dari segi pengaruh di tataran global. Selama ini, mengakui atau tidak, FAA merupakan kiblat regulator penerbangan sipil negara-negara di dunia dalam mengambil keputusan ataupun membuat kebijakan.

Seperti diberitakan South China Morning Post, Regulator Penerbangan Sipil Cina (CAAC) memimpin grounded Boeing 737 MAX dan dengan cepat diikuti oleh banyak negara, mulai dari Ethiopia, Indonesia, Mongolia, Maroko, Singapura, flag carrier negara-negara Amerika Latin, dan Korea Selatan; termasuk Badan Keselamatan Penerbangan Eropa (EASA).

Padahal, saat CAAC mulai melarang 737 MAX beredar di langit Negeri Tirai Bambu, FAA belum memutuskan apapun dan sebaliknya, malah mendukung kelaikan pesawat tersebut. Hal itu pun menjadi indikasi kuat melemahnya -bila tak ingin disebut rusak- pengaruh FAA di kancah industri penerbangan global.

Tak hanya itu, dari pidato Deputi Direktur CAAC, Li Jian, indikasi bahwa Beijing sudah tak sabar ingin segera merengkuh posisi FAA di kancah penerbangan global jelas terlihat. Dihadapan wartawan, Li menjelaskan “Mereka (Boeing) mengalami kesulitan membuat keputusan, jadi kami yang memimpin.”

CAAC sendiri mempunyai dasar kuat mengapa mereka memimpin dunia untuk melarang peredaran Boeing 737 MAX. Mereka berdalih, pilot-pilot maskapai Cina yang selama ini menerbangkan 737 MAX sudah mengendus adanya masalah pada fitur Sistem Augmentasi Karakteristik Manuver (MCAS) dan sensor angle-of-attack (AoA). Celakanya, masalah tersebut bukan sekali atau dua kali melainkan sudah cukup sering dialami.

Permasalah tersebut (masalah pada MCAS dan AoA) membuat pesawat stall dan kemudian menukik tajam tanpa bisa dihentikan oleh pilot karena sistem salah membaca ketinggian dan kecepatan pesawat. Pada akhirnya, dalil yang dijadikan dasar CAAC memblokade Boeing 737 MAX terbukti dan sama persis dengan hasil penyelidikan FAA.

Namun, di balik pernyataan logis CAAC, tetap saja, patut diduga bahwa Cina memang tengah berupaya melampaui AS dalam berbagai hal; termasuk pengaruh kebijakan pesawat sipil di dunia yang selama ini dikuasai FAA.

Intinya, ada faktor politik -terlebih tensi AS-Cina memang tengah memanas akibat kebijakan perang dagang- dibalik keputusan CAAC memimpin blokade global Boeing 737 MAX. Setidaknya itulah yang dikatakan Neil Hansford, seorang konsultan penerbangan di Strategic Aviation Solutions, Sydney, Australia.

Baca juga: Mengekor FAA, Qantas dan Virgin Australia Larang MacBook Pro 15-inch Masuk Kargo

Ia juga mengungkap, FAA sebetulnya bisa saja bersikap tegas terhadap kasus serupa bila melibatkan produsen asal Eropa, Airbus. “Tidak sulit berada di depan FAA. Jika ini adalah pesawat Airbus, FAA akan mengatasinya,” jelasnya.

Kendati demikian, Li menegaskan, bahwa perang dagang Amerika Serikat dan Cina merupakan hal lain serta tidak berkenaan langsung dengan keputusan CAAC. Jika sudah demikian, akankah Cina berhasil menggantikan peran FAA dikancah penerbangan sipil global? Menarik ditunggu.