Unik, Stasiun Metro di Moskow Terhubung dengan Tujuh Apartemen Peninggalan Uni Soviet

Stasiun pada jaringan kereta bawah tanah Metro di Moskow (Moscow Metro) sudah lama terkenal dengan keindahan arsitekturnya. Namun, keindahan bukanlah satu-satunya yang unik dan menarik dari Metro Rusia, melainkan desain penataan kota yang futuristik dan visioner sejak masa Uni Soviet dahulu; khususnya Metro di Kota Moskow.

Dibangun pertama kali dibuka pada 1935 -tak lebih tua dibanding Metro Inggris (1890), Budapest (1896), Paris (1900), Berlin (1902), dan Madrid (1919)- Metro Moskow langsung memikat masyarakat untuk menggunakan sistem transportasi bawah tanah yang hanya memiliki 13 stasiun dan panjang 11 kilometer ini.

Baca juga: ‘Macet’ Jadi Alasan Mengapa Kereta di Rusia Jadi yang Terlamban di Dunia

Bukan karena menjadi salah satu moda transportasi tercanggih di zamannya, Metro Moskow juga diminati masyarakat karena terhubung langsung dengan banyak pusat pemukiman warga (apartemen). Penasaran? Dikutip dari rbth.com, berikut redaksi KabarPenumpang.com rangkum tujuh apartemen di Kota Moskow yang terhubung dengan statsiun kereta bawah tanah.

1. Stasiun Okhotny Ryad

Stasiun Metro Moksow Okhotny Ryad. Foto: rbth.com

Okhotny Ryad merupakan stasiun pertama di Metro Moskow. Tatkala arsitek melihat wilayah sekitar, ide untuk membangun stasiun dengan memanfaatkan lantai dasar salah satu bangunan tua abad ke-19 kemudian tercetus, mengingat, itu adalah pilihan terbaik ketimbang menutup salah satu jalan tersibuk di Kota Moskow ini atau merobohkan bangunan bersejarah.

2. Krasnye Vorota Square

Stasiun Metro Krasnye Vorota Square. Foto: rbth.com

Gedung yang termasuk ke dalam salah satu dari “Seven Sisters” atau bangunan tertinggi di Moskow ini dibangun dari tahun 1947-1957. Gedung bergaya Kerajaan Stalinis di Sadovoye Koltso ini awalnya memang menjadi target pertama sang arsitek, Alexey Dushkin, untuk menjadikan seluruh gedung pencakar langit sebagai stasiun Metro Moskow di bagian lantai dasar.

Namun, pada akhirnya, hanya gedung pencakar langit ini saja yang terwujud. Meski demikian, gedung perkantoran sekaligus apartemen yang dihuni oleh puluhan ribu orang ini terbukti sangat memudahkan masyarakat dalam memanfaatkan Metro Moskow dalam kehidupan sehari-hari.

3. Apartemen di Prospekt Mira

Stasiun Metro The Prospekt Mira. Foto: rbth.com

Stasiun Prospekt Mira resmi beroperasi pada 1952 dengan menempatkan pintu keluar dan masuk stasiun di salah satu apartemen di sini. Apartemen dengan tiga tower setinggi 13 lantai dan dua lainnya delapan lantai ini awalnya dibangun untuk menjadi tempat peristirahatan sementara para pekerja konstruksi. Namun, kini apartemen tersebut dihuni oleh masyarakat sekaligus pengguna aktif Metro Moskow.

4. Apartemen Avtozavodskaya

Stasiun Metro Avtozavodskaya. Foto: rbth.com

Pintu keluar masuk Stasiun Metro Avtozavodskaya awalnya hendak dibangun di seberang gedung, atau tepat berada di jalur pedesterian pada 1943, seperti di stasiun Metro di dunia. Namun, setelah melalui berbagai pertimbangan, akses keluar masuk stasiun akhirnya ditempatkan di dalam gedung yang menjadi rumah bagi puluhan ribu warga Moskow itu. Meskipun dekat dengan pemukiman, penghuni apartemen tak merasa kebisingan sedikitpun.

5. Apartemen di Arbatsko-Pokrovskaya

Stasiun Metro Kurskaya. Foto: rbth.com

Stasiun Metro Kurskaya di Jalur Arbatsko-Pokrovskaya dibuka pada tahun 1938. Salah satu pintu keluar masuk stasiun ditempatkan di blok pemukiman yang telah didirikan untuk pekerja kereta api pada tahun 1932 tersebut.

Baca juga: Prank Virus Corona di Kereta Bawah Tanah Rusia, Karomatullo Dzhaborov Didakwa 5 Tahun Penjara

6. Apartemen Smolensky Boulevard

Smolensky Boulevard. Foto: rbth.com

Pada tahun 1950-an, Smolensky Boulevard dibangun untuk jadi hunian para elite Uni Soviet. Apartemen karya arsitek Ivan Zholtovsky ini kemudian dilengkapi dengan pintu keluar masuk stasiun Metro Moskow untuk memudahkan mobilitas para elite. Pintu keluar masuk stasiun Metro Moskow sendiri ditandai dengan logo “M” berwarna merah di bagian atas pintu sehingga mudah dikenali.

7. Apartemen di Jalan Novokuznetskaya.

Stasiun Metro Paveletskaya. Foto: rbth.com

Stasiun Metro Paveletskaya pertama kali dibangun pada tahun 1950-an. Sebagaimana stasiun lainnya, pintu keluar masuk kereta bawah tanah Moskow juga ditempatkan di dalam lobby gedung.

Bikin Heboh, Penumpang Bus Kota Gunakan Ular Hidup Sebagai Masker

Era normal baru mengharuskan semua orang menggunakan masker ketika bepergian keluar rumah. Baik itu berjalan kaki maupun menggunakan angkutan umum. Penggunaan ini untuk membantu mencegah penyebaran virus corona yang tengah menjadi pandemi di seluruh dunia saat ini.

Baca juga: Dorong Warga Pakai Masker, Jerman Larang Penggunaan Deodoran di Transportasi Umum

Namum, meski sudah ada aturan menggunakan masker, tetap saja beberapa orang atau penumpang angkutan umum masih membandel tidak menggunakannya atau sengaja melepas. Seperti baru-baru ini yang dilakukan seorang penumpang bus di Manchaster, Inggris. Penumpang ini bukan menggunakan masker melainkan seekor ular hidup untuk menutupi mulutnya.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman cnn.com, penumpang pria ini melilitkan ularnya ke leher untuk menutupi mulutnya. Penumpang tersebut terlihat dalam bus dari Swinton menuju ke Manchester pada Senin kemarin.

Penumpang lain yang menyaksikan hal tersebut mengatakan, ini adalah topeng yang sangat funky sampai ular merayap ke sekitar pergelangan tangan. Penumpang itu juga mengatakan, ini sangat lucu dan tidak mengganggu penumpang lainnya.

“Itu benar-benar menghibur. Tidak ada yang menutup kelopak mata,” katanya.

Foto-foto pria menggunakan masker dari ular hidup yang melilit leher dan mulutnya terpublikasi di dunia maya. Karena hal ini, pejabat transportasi Inggris telah memperingatkan penumpang untuk tidak menggunakan ular hidup sebagai penutup wajah yang valid.

Hingga saat ini, menggunakan masker wajah di transportasi umum adalah hal yang wajib di Inggris kecuali mereka yang dibebaskan karena alasan usia, kesehatan dan anak dibawah usia 11 tahun serta disabilitas. Juru bicara Transport for Greater Manchester mengatakan bahwa penumpang diharapkan mengikuti panduan pemerintah tentang mengenakan penutup wajah di transportasi umum selama pandemi virus corona.

Baca juga: Tak Perlu Beli, Yuk Bikin Face Shield Sendiri

“Ini tidak perlu masker bedah … penumpang dapat membuat sendiri atau memakai sesuatu yang sesuai, seperti syal atau bandana,” kata perwakilan tersebut dalam sebuah pernyataan.

Penerbangan ‘Tanpa Tujuan’ Qantas Diserbu Traveller, 10 Menit Ludes Terjual

Kerinduan masyarakat mencicipi penerbangan semakin tak terbendung. Hal itu setidaknya bisa dilihat dari fenomena “flight to nowhere” atau penerbangan tanpa tujuan yang masih terus terjadi. Setelah EVA Air, China Airlines, All Nippon Airways (ANA), Singapore Airlines, dan Royal Brunei Airlines, kini giliran Qantas. Bahkan, tiket penerbangan tanpa tujuan maskapai nasional Australia itu habis terjual dalam tempo 10 menit.

Baca juga: Traveller Serbu Penerbangan Tiga Jam ‘Tanpa Tujuan’ Royal Brunei Airlines

“Ini mungkin penerbangan dan penjualan tercepat dalam sejarah Qantas,” kata CEO maskapai, Alan Joyce, dalam sebuah pernyataan.

CNN International melaporkan, berbeda dengan konsep penerbangan tak kemana-mana maskapai di atas, penerbangan tanpa tujuan Qantas sendiri merupakan penerbangan mengelilingi Australia, dimana keberangkatan pertama akan dimulai pada 10 Oktober. Qantas menawarkan 134 kursi dengan harga yang variasi, mulai dari US$566 atau Rp 8 juta hingga US$ 2.734 atau Rp 40,3 juta (kurs 14.735), mengikuti kelas yang dipilih, first class ataupun economy class.

Penerbangan Qantas keliling Australia sendiri meliputi berbagai ikon di Negeri Kanguru, seperti melihat Great Barrier Reef, pedalaman Australia, mengitari Sydney Harbour, dan Outback dari ketinggian 30 ribu kaki serta melakukan penerbangan rendah di atas Uluru dan Pantai Bondi selama kurang lebih tujuh jam. Penerbangan tersebut nantinya akan berangkat dari Bandara Internasional Sydney dan mendarat di bandara yang sama.

Dalam penerbangan tanpa tujuan ini, Qantas akan mengerahkan armada Boeing 787 Dreamliner. Hal ini tentu spesial mengingat dalam kondisi normal, pesawat tersebut hanya digunakan pada penerbangan jarak jauh.

Selain itu, penggunaan pesawat tersebut dalam flights nowhere Qantas terasa spesial berkat jendela besar pesawat untuk mendukung visibilitas penumpang dari dalam kabin selama penerbangan tersebut berlangsung. Semua itu juga bakal dilengkapi dengan hiburan spesial dari musisi papan atas serta dipandu oleh salah satu host ternama Australia; di samping hidangan spesial onboard khas maskapai.

Saat ini penerbangan internasional di Australia belum dibuka karena pembatasan perjalanan. Menurut Departemen Kesehatan Pemerintah, perbatasan Australia masih tertutup untuk negara lain. Meski tak ada tiket perjalanan jarak jauh, kini penerbangan tak kemana-mana banyak diminati untuk menghilangkan dahaga traveller mencicipi penerbangan.

Sebelum Qantas, maskapai EVA Air, China Airlines, dan All Nippon Airways (ANA) sudah lebih dahulu meluncurkan “flights to nowhere” atau terbang tanpa tujuan. Hanya saja, konsep yang ditawarkan berbeda. EVA Air menawarkan “flight to nowhere” dengan tetap memiliki negara tujuan, yakni ke Jepang. Hanya saja, maskapai tersebut tidak mendarat di Negeri Sakura dan kembali ke Taiwan untuk mendarat di bandara yang semula.

Berbeda dengan EVA Air, maskapai Taiwan lainnya, China Airlines lebih ke ranah wisata edukasi. Konsep “flight to nowhere” salah satu maskapai terbesar di Taiwan itu mengajak penumpang masuk ke kabin pesawat tanpa terbang ke suatu destinasi.

Di sini penumpang dapat mengenang pelayanan pramugari dan rasanya duduk di kursi pesawat. Selain itu, maskapai ini juga menawarkan pelajaran menjadi pramugari untuk anak-anak.

Baca juga: Singapore Airlines Tawarkan Traveller Terbang Tiga Jam ‘Tanpa Tujuan’

Selain dapat belajar menjadi pramugari, melalui kegiatan ini para penumpang juga berakting seolah mereka akan liburan ke negara lain. Setiap penumpang tetap harus melakukan check-in, melakukan pemeriksaan paspor, dan bahkan ada petugas keamanan yang siap mengarahkan penumpang menuju pesawat.

Adapun All Nippon Airways (ANA), konsep terbang ‘tanpa tujuan’ maskapai tersebut sedikit banyaknya hampir mirip dengan konsep yang akan ditawarkan Singapore Airlines, yakni terbang keliling langit sekitar bandara dan kemudian mendarat di bandara yang sama. Sedangkan penerbangan tanpa tujuan Royal Brunei Airlines bisa dibilang mirip dengan Qantas.

Bisa Dilipat Seperti Origami, Kayak CLR Tak Makan Tempat

Kayak merupakan perahu dayung yang biasanya digunakan satu orang atau pun dua orang. Ini adalah perahu yang menggunakan tenaga manusia sebagai penggeraknya dengan menggunakan dayung kepala tunggal atau ganda. Biasanya bentuk kayak ini bagian depan dan belakang tertutup sehingga menyisakan lubang untuk satu awak atau di desain khusus untuk dua orang.

Baca juga: Day Limo, Perahu Amfibi Keluaran Iguana Yacht, Oke di Darat dan Lautan

Kayak dibuat dari kayu dengan penutup berupa kulit hewan. Ketika seseorang akan membawa kayak milik pribadi harus diangkut dengan kendaraan baik di letakkan di atas mobil atau kendaraan terbuka. Namun bagaimana bila kayak ini bisa di lipat sehingga tidak perlu tempat luas untuk membawanya ke tepian pantai atau sungai?

KabarPenumpang.com melansir dari laman newatlas.com (9/9/2020), di Jerman ada sebuah kayak yang bisa dikatakan sebagai “Kayak Origami” dan hanya seberat enam kilogram serta dapat dilipat dan tidak memakan waktu banyak atau hanya beberapa menit dalam merakitnya. Kayak origami ini adalah desain Daniel Schult yang bisa dilipat dan dibawa seperti tas punggung.

Kayak CLR menurut Daniel, memiliki bobot lebih ringan, bisa dilipat lebih kecil dan dipasang lebih cepat dibandingkan kayak buatan pabrikan Amerika yakni Oru. Daniel mengatakan, bahwa kayak yang didesain tersebut siap dalam satu hingga dua menit tergantung berapa kali pengguna telah melakukan proses sebelumnya.

Dalam konfigurasi siap dayung, CLR berukuran panjang 340 cm dengan lebar 65 cm, dan dapat membawa beban hingga 118 kg. Pengguna duduk di kursi busa terintegrasi dengan sandaran. Setelah dilipat, kayak berukuran 70x50x6 cm, dan dapat dibawa menggunakan satu set tali pengikat yang disertakan.

Semuanya berbobot enam kilogram yang diklaim dan sebaliknya, kapal Oru yang paling ringan memiliki berat sembilan kilogram meskipun mungkin saja kapal itu juga lebih kuat. Kayak CLR saat ini menjadi subjek kampanye Kickstarter. Harga untuk kayak CLR sekitar €529 atau Rp9,3 juta.

Jika Anda menyukai ide kayak plastik lipat, Anda mungkin juga ingin melihat perahu Hypar dan Tucktec yang berhasil didanai oleh crowdfunding. Untuk diketahui, kayak sendiri semula banyak digunakan oleh suku Ainu, Inuit, Aleut dan Eskimo untuk berburu, memancing dan alat transportasi.

Hewan buruan yang biasanya mereka dapatkan dengan mengayuh kayak antara lain adalah karibu, anjing laut, paus, dan mamalia laut lainnya. Kayak menjadi alat perburuan yang tepat karena berukuran kecil, lincah, mudah dikendalikan, dan cepat. Selain itu, kayak kuno juga berfungsi sebagai pengintai yang dapat digunakan untuk menyelinap di sekitar binatang yang berada di dalam air atau pun di garis pantai.

Suku-suku tersebut saat ini sudah jarang menggunakan kayak untuk berburu, mereka umumnya telah beralih ke perahu motor. Namun demikian, kayak telah menjadi bagian penting dari sejarah dan peradaban mereka.

Baca juga: Perahu Getek, Riwayatmu Kini

Sekarang ini, kayak telah digunakan secara luas oleh masyarakat dan material yang digunakan pun semakin beragam disesuaikan dengan kegunaannya yang semakin bervariasi. Masyarakat modern menggunakan kayak untuk banyak keperluan, termasuk berolahraga dan kendaraan militer.

Inilah “BB200,” Lokomotif Diesel Listrik Pada Kecelakaan di Ratu Jaya Depok

Lokomotif BB200 merupakan salah satu lokomotif diesel elektrik milik PT Kereta Api Indonesia (KAI). Lokomotif ini besutan pabrik General Motors Electro-Motive Division yang berbasis di Amerika Serikat dengan transmisi daya DC-DC yang pernah beroperasi di Indonesia sejak 1957 atau 63 tahun silam.

Baca juga: Lokomotif Uap D1410, Kembali Beroperasi Jadi Kereta Wisata di Solo

BB200 sendiri adalah lokomotif diesel elektrik model kedua setelah GC200 dan merupakan kakak dari lokomotif BB201 yang diproduksi oleh pabrikan sama. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, lokomotif tersebut memiliki daya mesin sebesar 950 HP dengan susunan gandar (A1A)(A1A) yakni dengan dua bogie dan memiliki tiga gandar.

Tetapi masing-masing hanya ada dua gandar yang digerakkan oleh motor traksi. Sebab agar tekanan setiap gandarnya rendah dan tidak melampaui daya dukung jaringan rel kereta ketika lokomotif melintas jaringan rel.

Nomor seri BB200 merupakan lokomotif bermodel EMD G8U6yang dibeli oleh Djawatan Kereta Api Republik Indonesia pada tahun 1957. Dari kontrak pembelian yang tertanggal 6 April 1956 ada sebanyak 35 unit lokomotif BB200 yang beroperasi di lintas Jawa.

Di mana ke 35 lokomotif ini dibagi diantaranya 27 unit di antaranya dialokasikan di dipo Semarang Poncol, empat unit di dipo Kertapati, satu unit di dipo Tanjung Karang, serta tiga sisanya (BB200-10, BB200-11 dan BB200-18) adalah produk afkir. Dari semua lokomotif ini satu persatu kemudian dilengkapi dengan abar angin atau rem udara tekan secara bertahap untuk melengkapi rem vakum.

Secara teknis long hood (hidung panjang) merupakan bagian depan dari lokomotif tersebut, bukan hidung pendeknya yang dengan kata lain, kabin masinisnya ada di belakang seperti halnya lokomotif uap. BB200 pun hanya memiliki satu meja layanan masinis dan ini menjadikannya berbeda dengan lokomotif sebelumnya yakni CC200.

Di mana CC200 memiliki dua meja layanan masinis (dan dua kabin masinis) di tiap ujungnya. Sehingga bisa dikatakan masinis akan lebih ergonomis jika mengoperasikan BB200 ke arah long hood. Uniknya lokomotif yang satu ini memiliki plat nomor yang terletak di sisi kiri dan kanan lampu utama di tiap ujungnya.

Memiliki fisik yang sama dengan lokomotif EMD G8 lain di seluruh dunia, anehnya negara pembuatnya yakni Amerika Serikat tidak memiliki lokomotif ini. Hal tersebut karena dayanya kurang besar yang mana di Negeri Paman Sam tersebut daya rata-rata minimum lokomotif yang diproduksi GM-EMD adalah 2000 hp sedangkan EMD G8 hanya 875 hp.

Meski daya relatif kecil, lokomotif ini bisa melaju dengan kecepatan hingga 110 km per jam. Di Indonesia, lokomotif BB200 pernah menarik kereta Bima, Mutiara Utara, Pandanaran, Senja Utama dan Purbaya, serta untuk pengangkutan barang.

Bahkan tahun 1968, lokomotif ini pernah mengalami kecelakaan dengan KA Bumel di Ratu Jaya, Depok yang memakan korban sebanyak 116 jiwa. Pada tahun 1984, diadakan rehabilitasi untuk memperpanjang masa pakai lokomotif BB 200. Ini menyebabkan sampai dengan awal dekade 2000-an, sejumlah BB200 masih bisa beroperasi, walaupun dinasannya tidak sebanyak dulu.

Sayangnya GM-EMD serta penerusnya, Electro-Motive Diesel tidak memproduksi suku cadang untuk lokomotif ini, maka lokomotif ini mulai terlupakan dan kebanyakan rusak termakan usia dengan pasokan suku cadang yang tidak mencukupi, ditambah lagi dengan kebijakan standarisasi armada yang diterapkan oleh PT KAI menjadi Lokomotif Diesel Elektrik dengan model yang lebih seragam seperti CC201, CC203 dan CC204.

Pada bulan Juni 2006, komunitas rail fans Indonesia, Indonesian Railways Preservation Society (IRPS), mengajukan proposal kepada KAI untuk mempreservasi lokomotif BB200 dipo induk Semarang Poncol. Sehingga di September 2006, lokomotif dengan nomor BB200-29 sudah bisa beroperasi lagi.

Kemudian menyusul pada bulan Agustus 2007, lokomotif dengan nomor BB200-21 berhasil diperbaiki. Kedua lokomotif tersebut akhirnya beroperasi berkat komponen dari lokomotif BB200 lainnya yang afkir. Lokomotif BB200 yang terakhir beroperasi adalah BB200-07, BB200-14, BB200-21 dan BB200-29. BB200-07 dan BB200-14 berada di Sumatra Selatan.

Sementara itu, BB200-06 tanpa mesin dan sebuah kereta penumpang dipajang di Akpol untuk sarana pendidikan dan latihan antiterorisme. Salah satu seri lokomotif ini, BB200-08, telah direstorasi di Balai Yasa Yogyakarta untuk dipindah ke Museum Kereta Api Ambarawa.

Baca juga: Lokomotif Diesel Hidraulik D301 22 Kini Jadi Koleksi Stasiun Tugu Yogyakarta

Satu-satunya BB200 yang masih hidup di Indonesia adalah BB200-07 yang saat ini ditugaskan sebagai loko pelangsir di Balai Yasa Lahat. Untuk diketahui, lokomotif ini sepanjang masa kedinasannya pernah berdinas di Pulau Jawa dan Sumatera Selatan.

Wah Ternyata Ada Loh Hari Bahasa Bajak Laut Internasional

Hari Kasih Sayang atau Valentine, Hari Ibu, atau hari-hari lainnya sering kali diperingati dengan jelas. Bahkan peringatan ini sendiri sering dilambangkan dengan berbagai macam benda yang diberikan seperti cokelat, bunga dan lainnya.

Baca juga: 10 Kapal Misterius Ini Ditemukan Tanpa Awak

Namun, tahukah Anda bahwa ada Hari Bahasa Bajak Laut Internasional? Mungkin di Indonesia tidak akan tahu dan ternyata ini ada, serta dirayakan setiap tanggal 19 September setiap tahunnya.

Hari Bahasa Bajak Laut Internasional atau International Talk Like a Pirate Day merupakan hari libur parodi yang dibuat tahun 1995 silam oleh John Baur (Ol’ Chumbucket) dan Mark Summers (Cap’n Slappy), dari Albany, Oregon. Mereka memproklamirkan setiap tanggal 19 September dan semua orang di dunia harus berbicara layaknya seorang bajak laut.

Di mana setiap orang yang merayakan hari ini akan memberi sapaan kepada temannya bukan dengan “Halo, semuanya!” tapi dengan “Ahoy, maties!”

Penasaran kenapa bisa ada Hari Bahasa Bajak Laut Internasional? Setelah KabarPenumpang.com melakukan penyelidikan di berbagai laman sumber, ternyata menurut Summer, ini adalah satu-satunya hari libur yang diketahui terjadi akibat cedera olahraga. Selama pertandingan bola raket antara Summers dan Baur, salah satunya terkena pukulan dan bereaksi akibat kesakitan dan berteriak “Aaarrr!”, sehingga ide tersebut lahir.

Mereka melakukan permainan tersebut pada 6 Juni 1995, tetapi untuk menghormati pendaratan Normandia keduanya memilih ulang tanggal yakni ulang tahun dari istri Summer sehingga mudah untuk mengingatnya. Awalnya bisa dikatakan ini hanya candaan antar dua orang sahabat dan mereka mengirimi surat tentang liburan yang mereka ciptakan kepada kolumnis atau jurnalis humor Amerika Dave Barry tahun 2002.

Ternyata ide ini disukai Barry dan mempromosikan hari itu serta memunculkan cameo dalam video “Drunken Sailor” Sing Along A-Go-Go mereka. Karena antusiasme, maka acara ini dirayakan secara internasional bahkan sebagian dari keberhasilan penyebaran liburan internasional telah dikaitkan dengan non pembatasan ide atau non merek dagang yang pada dasarnya membuka liburan untuk kreativitas dan pertumbuhan viral.

Asosiasi bajak laut dengan pasak, burung beo dan peta harta karun, yang dipopulerkan dalam novel Treasure Island karya Robert Louis Stevenson (1883), memiliki pengaruh yang signifikan terhadap budaya parodi bajak laut. Talk Likea Pirate Day dirayakan dengan fitur telur paskah tersembunyi di banyak game dan situs web, dengan Facebook memperkenalkan versi terjemahan bajak laut dari situsnya di Talk Likea Pirate Day 2008.

Baca juga: Yuk Kenali “Ganasnya” Laut Dengan Level Sea State

Bahkan seorang aktor Inggris yakni Robert Newton dikatakan sebagai “santo pelindung” Talk Likea Pirate Day. Hal tersebut karena dirinya memerankan bajak laut dalam beberapa film terutama Long John Silver dalam film Disney tahun 1950 Treasure Island dan film Australia tahun 1954 Long John Silver dan karakter judul dalam film di tahun 1952 Blackbeard the Pirate .

Percaya atau Tidak, Rusia Pernah Membuat Helikopter Berkapasitas 196 Penumpang

Helikopter pada umumnya maksimal bisa mengangkut belasan atau mungkin puluhan penumpang. Helikopter Boeing CH-47 Chinook dengan dua baling-baling, misalnya, hanya bisa mengakut sekitar 20 penumpang (beserta perlengkapannya).

Baca juga: Hari Ini, 38 Tahun Lalu, Helikopter Pertama yang Berhasil Keliling Dunia Berangkat! Butuh Waktu Hampir Sebulan

Bahkan, helikopter yang digadang-gadang jadi yang terbesar di dunia sekalipun, Mi-26, daya angkutnya juga terbatas. Helikopter terbesar di dunia buatan Uni Soviet ini hanya mampu hampir 90 penerjun payung atau 60 tentara terluka yang terbaring. Intinya, masih di bawah 100 orang. Di luar penumpang, helikopter dengan panjang 40 meter ini mampu mengangkut truk, tank, helikopter lain, pesawat besar sekalipun, dengan kapasitas hingga 20 ton kargo.

Akan tetapi, sebetulnya, adakah helikopter yang mampu mengangkut hingga 200 orang sekaligus layaknya jet narrowbody? Meskipun sulit dipercaya, helikopter dengan daya angkut sebanyak itu rupanya pernah ada di dunia.

Dikutip dari Simple Flying, dunia pernah dikejutkan dengan rencana pembuatan helikopter terbesar di dunia oleh Uni Soviet (Rusia), Mil V-12, pada dekade 60-an. Kala itu, belum pernah ada rancangan yang menyerupai helikopter dengan kapasitas kargo mencapai 40 ton itu.

Meskipun sempat dilaporkan gagal terbang pada 1967, proses pembuatan Mil V-12 tetap dilanjutkan sekalipun menuai banyak keraguan dari beberapa elite Uni Soviet. Usai menempuh proses panjang, dua prototipe helikopter dengan panjang 37 meter, tinggi hampir 13 meter, dan bentang sayap (baling-baling) mencapai 67 meter ini -melebihi bentang sayap pesawat jet jumbo Boeing 747-400- akhirnya berhasil tercipta.

Helikopter dengan empat mesin turboshaft Soloviev D-25VF berkekuatan 6.500 tenaga kuda tersebut mampu melesat dengan kecepatan mencapai 260 km per jam. Selain itu, Biro Desain Mil juga membekali V-12 dengan kecepatan jelajah 241 km per jam, jangkauan terbang sejauh 998 km, dan ketinggian terbang 3.505 m.

Berbekal kemampuan maha dahsyat, Mil V-12 didapuk untuk menjalankan tugas berat, seperti mengangkut tentara, peralatan, dan persediaan, termasuk misi khusus mengangkut rudal balistik antarbenua Soviet (ICBM) ke wilayah-wilayah terpencil agar bila waktunya tiba ICBM bisa ditembakkan ke Amerika Serikat (AS) yang kala itu sedang berseteru hebat degan Soviet dalam balutan perang dingin.

Sayangnya, Mil V-12, yang diberi kode sandi oleh NATO dengan nama Homer ini, tak sampai diproduksi secara massal. Harapan produksi massal juga terkubur bersamaan dengan harapan digunakannya helikopter itu sebagai angkutan komersial.

Baca juga: Seorang Penumpang Truk Tewas Terkena Sebilah Rotor Helikopter yang Lepas

Helikopter yang ruang kargonya dirancang agar sesuai dengan yang dimiliki oleh pesawat kargo strategis Antonov An-22 ini akhirnya digantikan dengan Mil Mi-26 (Halo).

Meski demikian, helikopter yang mulai diperkenalkan pada tahun 1983 tersebut tetap berhasil melanjutkan status sebagai helikopter terbesar di dunia yang disandang Mil V-12 Homer sampai detik ini, jauh lebih besar dari Sikorsky CH-53E Super Stallion yang mampu memuat hingga 55 orang ataupun Helikopter MH-53E Sea Dragon yang disebut menjadi helikopter terbesar buatan Amerika.

Iklan Sebut Pengemudi UberEats Bisa Hasilkan Rp1,4 Miliar Setahun, Tapi Kenyataan Berbeda

Sebuah video yang menampilkan seorang pengemudi UberEast mendapatkan US$100 ribu (sekitar Rp1,4 miliar) setahun menjadi viral dan video tersebut dipersembahkan oleh Grow yang merupakan mitra konten bersponsor. Namun apakah kenyataannya setiap pengemudi bisa mendapatkan US$100rb setahun?

Baca juga: Gunakan Aplikasi Cheetah, Pemilik Restoran Independen di AS Kembali Bergeliat

Sam Lyon kemudian membuat Uber Eats Challenge di TikTok untuk menampilkan berapa banyak yang bisa dihasilkannya pada bulan Juni lalu. Dilansir KabarPenumpang.com dari vice.com (15/9/2020), tantangan yang dibuatnya cukup sederhana di mana Uber Eats memungkinkan pengemudi online bekerja selama maksimal 12 jam dan Lyon melakukan hal itu selama seminggu hingga satu bulan penuh atau 30 hari.

Ternyata yang dihasilkan hanya US$8.357 di bulan itu dan ketika bekerja lima hari dalam seminggu ditotal dalam setahun hanya US$72.540. Penghasilan ini belum termasuk dengan beberapa pengeluaran seperti bensin, ganti oli, pulsa dan pajak tahunan, bahkan diperkirakan pengemudi hanya mendapat US$5.396 dengan biaya tambahan $653.

Di sebagian besar negara bagian di AS, pengemudi komersial jenis lain dilarang mengemudi lebih dari 10-11 jam sehari atau 60 jam seminggu karena itu akan membuat pengemudi kelelahan. Berbagai penelitian dan pakar telah menyatakan bahwa mengemudi secara penuh waktu untuk perusahaan ride hailing memiliki dampak serius pada kesehatan dan mental pengemudi.

Di New York City, kondisi kerja yang buruk menyebabkan serangkaian kasus bunuh diri pengemudi berbasis aplikasi dan terkait dengan serangkaian kasus bunuh diri lainnya di industri taksi yang dihancurkan oleh perusahaan angkutan udara. Faktanya bahwa pengemudi ride hailing dan kurir pengiriman makanan seperti Lyon salah diklasifikasikan sebagai pengemudi independen, terlepas dari adanya hubungan pemilik-karyawan, dan dibiarkan membayar tagihan untuk tunjangan yang dinikmati karyawan seperti asuransi kesehatan dan cuti berbayar.

Tapi apa yang membuat video ini semakin tidak masuk akal adalah setelah benar-benar menghitung pengeluaran dan pajak, Lyon nyaris tidak menghasilkan US$40 ribu setahun meskipun bekerja 12 jam sehari, setiap hari. Sehingga bisa diktakan video tersebut gagal menggambarkan penghasilan atau pengeluarannya secara akurat.

Dalam video buatan Lyon sendiri, dia mengatakan bahwa US$2.988 dari uangnya berasal dari tip yang adalah sekitar sepertiga dari pendapatannya, jadi Uber sebenarnya hanya membayarnya US$5.369. Lyon melaju sejauh 4.844 mil, tetapi tidak jelas berapa biaya yang sebenarnya akan dia keluarkan jika terus seperti ini selama setahun.

Baca juga: Yakin, Uber Mau Rajai Operasional Bus Inggris?

Lyon juga menetapkan 30 persen lagi dari pendapatannya untuk pajak yang membayar pendapatan bersih mereka, bukan pendapatan kotor seperti yang disarankan video tersebut. Setelah pajak, Lyon akan mendapatkan US$3.360 sebulan itu kira-kira US$9,33 per jam atau US$40.320 setahun untuk mengemudi 84 jam seminggu, setiap minggu, selama satu tahun penuh pun, ini jauh dari US$100 ribu seperti yang diiklankan dalam setahun.

 

 

Imbas Pandemi Bisnis Turun 100 Persen, Jeeny Tata Ulang Model Bisnis Ride Hailing di Arab Saudi

Aplikasi ride hailing di seluruh dunia kini tengah melakukan berbagai penataan bisnis dan manajemen, pangkal musababnya apalagi jika bukan karena pandemi Covid-19 yang merontokkan sendi-sendi bisnis. Seperti di Arab Saudi, Jeeny yang dikenal sebagai aplikasi ride hailing nomer satu di Negeri kaya Minyak tersebut perlu melakukan penataan ulang pada bisnisnya.

Baca juga: Masa Pandemi, Bisnis Ride Hailing di Rusia Pertumbuhannya Terus Naik

KabarPenumpang.com melansir arabianbusiness.com (13/9/2020), CO-CEO Jeeny dipaksa sepenuhnya menemukan kembali model untuk membantu mempertahankan tenaga kerjanya dan melakukan operasi pengiriman jarak jauh sambil menjaga kesehatan terbaik serta langkah-langkah keamanan. Eugen Brikcius selaku CO-CEO Jeeny mengatakan, bisnis ride hailing mereka turun seratus persen saat dalam lockdown yang diterapkan di Arab Saudi dan Yordania.

Brikcius mengatakan, perusahaan tengah berusaha menata ulang aplikasinya dan menjalin kemitraan pengiriman skala besar dengan perusahaan yang mewajibkan pengiriman darurat hingga jam malam dicabut.

“Kami bekerja sama dengan pemerintah Saudi dalam menyediakan armada pengemudi yang dilengkapi dengan pelatihan kesehatan dan keselamatan terbaik serta perlengkapan kebersihan. Bagi kami, sebagai bisnis yang utamanya berputar di sekitar transportasi, kebiasaan baru kami adalah menerapkan langkah-langkah keamanan dan sanitasi yang ekstrem pada pengemudi dan mobil mereka,” kata Brikcius.

Sebagai permulaan, Jeeny bermitra dengan Helpling, sebuah usaha layanan pembersihan berdasarkan permintaan yang berbasis di Dubai untuk menyediakan sanitasi profesional berkelanjutan bagi pengemudi yang mengunjungi kantor layanan Jeeny di kota-kota utama. Brikcius menambahkan, mereka juga mengimpor kaca plastik sebagai isolator dalam kabin dan memasangkanya di mobil pengemudi.

Terlepas dari masalah pandemi, Brikcius tetap mempertahankan salah satu tujuan utama perusahaan yakni untuk menghadirkan transportasi dengan tarif terjangkau  di Arab Saudi dan Yordania terjangkau.

“Kami sekarang berencana untuk tumbuh secara vertikal lebih kuat dari sebelumnya, dengan menjadi pilihan teraman untuk bergerak di dalam pasar, sambil tetap memegang posisi kami sebagai aplikasi ekonomis,” kata dia.

Jeeny memiliki kantor di Riyadh, Jeddah, Madinah, Dammam, Khobar, Amman, Lahore, dan Karachi, sementara Brikcius menambahkan bahwa mereka saat ini sedang mengevaluasi peluang ekspansi dan mengamati perkembangan di pasar lain.

Baca juga: Layanan Ride Hailing di Amerika Serikat Sumbang 69 Persen Emisi Karbon

Selama pandemi, publik menghadapi banyak tekanan karena masalah ekonomi dan pengangguran. Jeeny menangani pandemi ini dengan menciptakan lingkungan yang aman bagi tenaga kerjanya. Keberhasilan organisasi dalam berjuang untuk mengatasi pandemi ini dan mengambil langkah-langkah kesehatan dan keselamatan yang diperlukan dapat menginspirasi perusahaan startup dan teknologi lainnya dalam menerapkan “disrupt and pivot” dan menjaga aset inti mereka, karyawan, sebagai metode untuk mengatasi force majeure, tidak hanya sebagai alat pertumbuhan.

Intip Paten Airbus untuk Konsep Donat Terbang, Pesawat Andalan di Masa Depan?

Airbus jadi salah satu perusahaan pendaftar paten atas berbagai temuan unik dan inovatif terbesar di dunia. Setidaknya, setiap tahun, Airbus menghabiskan tak kurang dari €3,5 miliar atau sekitar Rp61 triliun (kurs 17.565) untuk penelitian dan pengembangan. Dari 37 ribu paten yang telah diajukan produsen pesawat asal Eropa ini, salah satu yang paling unik adalah paten atas desain konsep pesawat inovatif dan futuristik Donat Terbang (Flying Donut).

Baca juga: Folding Airline Seats, Paten Airbus Paling Berguna di Masa Pandemi Corona!

Dilansir Simple Flying, disebut Donat Terbang, sebab, paten konsep pesawat Airbus meletakkan kursi penumpang (kurang lebih sebanyak 118 kursi) membentuk lingkaran di bagian tengah pesawat, dengan lubang di tengah sebagai akses keluar masuk penumpang. Lubang di bagian tengah ini nantinya akan menggunakan eskalator untuk memudahkan proses naik turun penumpang. Tetapi, di gambar lain, Airbus bahkan mengajukan penggunaan lift (elevator), bukan eskalator.

Dalam konsep Donat Terbang, pantry awak kabin berada di antara kokpit pilot dan kabin utama penumpang, berbeda dengan desain pantry pesawat pada umumnya yang berada di bagian belakang setelah kokpit dan kabin utama.

Konsep Donat Terbang Airbus. Foto: Airbus via Simple Flying

Paten Donat Terbang Airbus yang sudah diajukan ke Kantor Paten Eropa dan AS pada tahun 2014 ini dinilai sangat out of the box oleh banyak kalangan. Hal itu mengingat secara desain, pesawat sangat berbeda jauh dengan pesawat jet yang ada. Namun, Donat Terbang Airbus diragukan mampu terbang dengan jarak jauh dengan desain tersebut.

Akan tetapi, keraguan tersebut segera terjawab dengan penjelasan Airbus dalam paten yang diajukan. Produsen pesawat asal Eropa ini mengklaim bahwa konsep Flying Donut jauh lebih efektif, efisen, dan aman dari desain pesawat saat ini. Sebab, konsep tersebut lebih tahan terhadap tekanan besar dari luar pesawat dengan menghilangkan konsep kabin penumpang longitudinal. Selain itu, desain sayap sederhana juga membuat pesawat lebih efisien.

Selama bertahun-tahun, konsep Donat Terbang Airbus terus dipelajari para perangcang papan atas dunia untuk mewujudkannya menjadi sebuah pesawat terbang. Sejauh ini, pesawat konsep model skala Flying-V besutan KLM-TU Delft dan Airbus MAVERIC (Model Aircraft for Validation and Experimentation of Robust Innovative Controls) sebagai prototipe teknologi model “Blended Wing Body” menjadi jawaban atas desain konsep Donat Terbang; khususnya terkait desain sayap sederhana.

Baca juga: Airbus Dorong Penerbangan “Fello’Fly” Guna Capai Efisiensi Bahan Bakar Hingga 15 Persen

Hanya saja, perubahan besar desain pesawat perlu diikuti oleh perubahan desain bandara dalam menangani pesawat. Langkah tersebut tentu tidak mudah. Itulah sebabnya, saat ini, Airbus belum terlalu menaruh perhatian besar ke konsep pesawat Donat Terbang dalam beberapa tahun mendatang. “Ini (konsep Donat Terbang) bukanlah sesuatu yang sedang dalam pengembangan aktif,” jelas juru bicara Airbus kepada Financial Times.

Kendati demikian, konsep Donat Terbang cukup menarik ditunggu, apakah akan digabungkan dengan konsep bahan bakar masa depan seperti hidrogen, hybrid, dan listrik, atau akan tetap menggunakan bahan bakar fosil namun tetap mempertahankan desain seperti yang sudah diajukan paten pada 2014 ini?