Gelar Rapid Test, Bandara Vancouver dan WestJet Airlines Jadi Contoh Penanganan Covid-19 di Kanada

Sejak pertama kali merebak pada 11 Maret lalu, wabah virus corona di Kanada belum ada tanda-tanda akan berakhir. Berbagai himbauan serta upaya medis dilakukan di seluruh sudut negara tersebut, termasuk di bandara. Belum lama ini, Bandara Internasional Vancouver, bekerjasama dengan WestJet Airlines dilaporkan bakal menggelar rapid test Covid-19 sebelum penumpang memulai penerbangan.

Baca juga: Air Canada Sebut Proses Recovery Akibat Corona Butuh Tiga Tahun

Dalam sebuah pernyataan bersama, CEO Otoritas Bandara Vancouver, Tamara Vrooman dan CEO Maskapai WestJet Airlines, Ed Sims, menyebut langkah tersebut ditempuh untuk menumbuhkan kepercayaan masyarakat dalam menggunakan transportasi udara. Upaya tersebut perlu diperkuat mengingat saat ini tren penerbangan di Negeri Pecahan Es itu masih belum bisa sepenuhnya pulih.

Menurut Badan Layanan Perbatasan Kanada (CBSA), perjalanan udara ke negara itu, pekan lalu, turun 91 persen, dibandingkan dengan waktu yang sama di 2019.

“Kami bekerja dengan pemerintah dan otoritas kesehatan untuk memastikan data yang kami kumpulkan berguna untuk tujuan mereka dan kami akan bermitra dengan akademisi untuk menggabungkan keahlian kami dalam pergerakan penumpang dengan sains,” salah satu bunyi pernyataan itu, seperti dilaporkan cowichanvalleycitizen.com.

“Tim kami akan meneliti dengan cermat hasil tes untuk mempelajari bagaimana kami dapat lebih meningkatkan proses perjalanan dan mengembangkan langkah-langkah keamanan kami sesuai kebutuhan,” bunyi pernyataan lainnya.

Selain untuk menumbuhkan kepercayaan masyarakat dalam menggunakan transportasi udara, rapid test untuk penumpang WestJet Airlines di Bandara Internasional Vancouver juga merupakan bagian dari proyek percontohan yang diluncurkan pemerintah beberapa waktu lalu.

Saat ini, menurut Kementerian Kesehatan Kanda, Health Canada, belum ada rumah sakit, klinik, atau sejenisnya yang diizinkan melayani rapid test. Hal itu terjadi usai alat rapid test dari Spartan Biosciences, tiba-tiba ditarik dari pasaran, sebulan pasca digunakan. Setelah itu, Kanada sangat selektif mengizinkan alat rapid test yang beredar, termasuk alat rapid test dari 14 perusahaan yang saat ini tengah dikaji.

Baca juga: Bandara Vancouver Adopsi Teknologi LED Sebagai Sistem Pencahayaan di Apron

Kasus virus corona di Kanada cukup unik. Menurut otoritas kesehatan Kanada, berbeda dengan di negara lain, mayoritas kasus baru Covid-19 di negara ini berasal dari warga yang berusia di bawah 39 tahun. Oleh karenanya, mereka memperingatkan bahwa kelompok dewasa muda tidak “tahan banting” terhadap penyakit ini.

“Data pengawasan nasional baru-baru ini menunjukkan bahwa orang dewasa muda berusia 20 hingga 39 tahun menjadi sumber kasus baru tertinggi di semua usia di Kanada,” kata kepala petugas kesehatan masyarakat Kanada, Theresa Tam dalam sebuah pernyataan.

Bandara Ali Sadikin, Akankah Jadi Bandara Internasional Ketiga di Jakarta?

Sebagai ibu kota negara, keberadaan bandara di DKI Jakarta rupanya masih kalah banyak dibanding Provinsi Sumatera Utara yang memiliki 10 bandara. Saat ini, Jakarta hanya mempunyai satu bandara internasional, yakni Bandara Internasional Halim Perdanakusuma. Adapun satu bandara internasional lainnya bukan terletak di Jakarta, melainkan di Tangerang, Banten; sekalipun jarak tempuh dari keduanya tergolong singkat.

Baca juga: Mengenal Bandar Udara Kemayoran, Bandara Internasional Pertama di Indonesia

Seiring meningkatnya frekuensi penerbangan dan pertambahan jumlah penumpang di setiap tahun, wacana mendirikan bandara baru, yang diusulkan bernama Bandara Ali Sadikin, pun menyeruak. Kala itu, proyek usulan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, terutama Wakil Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) ini rencananya akan dibangun di Marunda, Jakarta Utara atau di bibir muara Banjir Kanal Timur (BKT).

Dilansir dari berbagai laman sumber, Bandara Internasional Ali Sadikin ini nantinya akan terkoneksi dengan wilayah Tanggul ‘Garuda Raksasa’, dan 17 pulau baru hasil reklamasi. Selain bandara, proyek besar ini juga akan dilengkapi pelabuhan.

Padahal, bila dirunut ke belakang, Jakarta rupanya pernah mempunyai satu bandara selain Halim Perdanakusuma. Bandara tersebut ialah Bandara Internasional Kemayoran. Runway bandara ini dibangun pada tahun 1934 dan secara resmi dibuka pada tanggal 8 Juli 1940.

Bandara ini pertama kali didarati pesawat jenis DC-3 Dakota milik perusahaan penerbangan Hindia-Belanda, KNILM (Koningkelije Nederlands Indische Luchtvaart Maatschapij) dua hari sebelum diresmikan. Tercatat pesawat KNILM beroperasi di Kemayoran sampai akhir beroperasi.

Bandara yang dahulu terkenal dengan nama Kemajoran ini perlahan mulai berhenti beroperasi pada tanggal 1 Januari 1983. Bandara ini resmi ditutup pada tanggal 31 Maret 1985. Selanjutnya seluruh penerbangan lokal dan internasional dipindahkan ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Dilihat dari letak geografis, sebetulnya Bandara Kemayoran dengan calon lokasi Bandara Ali Sadikin tidak terpaut cukup jauh, hanya berjarak sekitar lima menit ke arah Utara. Mengingat bandara tersebut sudah tidak lagi dioperasikan, opsi untuk mengaktifkan kembali bandara tersebut ketimbang membuat bandara baru dinilai lebih masuk akal.

Akan tetapi, bila pun Bandara Ali Sadikin tetap ingin dibangun, paling tidak ada dua dampak yang akan ditimbulkan, satu dampak buruk dan satu lainnya baik. Dampak positif bila Bandara Ali Sadikin dibangun tentu bakal meningkatkan perekonomian masyarakat di sekitar bandara. Selain itu, keberadaan Bandara Ali Sadikin juga akan mengurai kepadatan yang terjadi di Bandara Soekarno-Hatta.

Akan tetapi, keberadaan Ali Sadikin tentu bakal membuat wilayah sekitar radius beberapa klimoter tak diperbolehkan adanya bangunan tinggi. Hal itu tentu tidak mudah mengingat harus melalui proses panjang dan berkaitan dengan banyak instansi terkait.

Baca juga: Ada Lima Bandara Pionir di Indonesia, Semuanya Buatan Belanda Lho!

Sayangnya, di akhir tahun 2014 lalu, Pemprov DKI sudah memastikan bahwa Bandara Ali Sadikin batal di bangun karena kepadatan yang terjadi di Bandara Soekarno-Hatta dan Halim Perdanakusuma. Sebagai gantinya, Karawang pun dibidik untuk bisa dibangun bandara baru.

Ali Sadikin sendiri ialah Gubernur Jakarta periode 1966 -1977. Terlepas dari berbagai kontroversi yang mewarnai kepemimpiannya, seperti melokalisasi pekerja seks, program keluarga berencana, penerapan pajak judi, pelarangan becak, sampai menutup Jakarta dari pendatang baru, Gubernur yang punya gagasan masterplan pembangunan 1965-1985 untuk membuka pintu bagi investasi swasta ini dinilai sebagai sosok yang tulus memikirkan warga miskin. Setidaknya, itulah pandangan sejarawan JJ Rizal.

Punya Peran Vital, Inilah Empat Jenis dan Fungsi Flap pada Sayap

Bagi Anda yang kerap bepergian dengan pesawat, terlebih jika duduk di dekat jendela, pasti pernah melihat beberapa bagian sayap bergerak turun saat hendak lepas landas. Beberapa dari Anda, mungkin akan mengira bahwa bagian dari pesawat yang disebut flap ini tak begitu penting dalam membantu operasi pesawat.

Baca juga: Ternyata, Flap Boeing 747 Garuda Indonesia Pernah Lepas di Udara

Padahal, sekalipun flap hanya melakukan gerakan kecil, dampak yang ditimbulkan cukup vital dalam membantu memaksimalkan gaya angkat (lift) dan gaya ke belakang (drag) pesawat. Sebagaimana yang umum diketahui, pesawat bisa terbang disebabkan oleh adanya empat gaya. Gaya thrust (gaya dorong), lift (gaya angkat), weight (gaya berat), dan drag (gaya ke belakang atau menarik mundur).

Dilihat dari jenisnya, flap terbagi menjadi empat. Fungsi dari keempat flap pesawat pun berbeda-beda, bergantung pada perubahan sayap hasil dari gerakan flap. Untuk lebih jelasnya, dikutip dari boldmethod.com, berikut KabarPenumpang.com rangkum empat jenis flap berserta fungsinya.

1. Plain flaps

Plain flap. Foto: boldmethod.com

Di antara empat jenis flap pesawat, plain flap bisa dibilang jadi yang paling sederhana. Plain flap berfungsi untuk membantu pesawat dalam proses take off dengan bergerak ke arah bawah.

Ilustrasi cara kerja plain flaps. Foto: boldmethod.com

Oleh karenanya, udara yang mengalir di sayap akan terpisah atau terpendar dan hambatan dari plain flap akan membuat udara di bagian bawah sayap mendorong pesawat ke atas dan mendapatkan gaya angkat. Umumnya flap ini digunakan pada pesawat besar, baik narrowbody maupun widebody.

2. Split flaps

Split flap. Foto: boldmethod.com

Sama seperti plain flap, split flap juga berfungsi menghasilkan gaya angkat pesawat. Hanya saja, gaya angkat yang dihasilkan split flap lebih besar sejalan dengan hambatan yang dihasilkan. Dari empat jenis flap, split flap sama sekali tidak mengubah desain sayap, berbeda dengan tiga lainnya yang mengubah bentuk sayap. Umumnya flap jenis ini ada di pesawat kecil.

Ilustrasi cara kerja split flaps. Foto: boldmethod.com

Baca juga: Laksana Cahaya Bintang, Inilah Arti Kelap-Kelip Lampu di Ujung Sayap Pesawat

3. Slotted flaps

Slotted flap. Foto: boldmethod.com

Slotted flaps atau flap berlubang, digunakan oleh pesawat kecil maupun besar. Hal itu karena flap jenis ini mempunyai dua fungsi, meningkatkan camber sayap dan membuka celah antar sayap. Dengan adanya aliran sayap dari arah bawah dan menerobos ke bagian atas sayap lewat celah tersebut, gaya lift pesawat yang dihasilkan cukup besar tanpa mengurangi drag pesawat secara berlebihan, seperti dua flap di atas.

Ilustrasi cara kerja slotted flaps. Foto: boldmethod.com
  1. 4. Fowler flaps
Fowler flap. Foto: boldmethod.com

Fowler flaps berbeda dengan tiga jenis flap sebelumnya. Flap jenis ini dalam prosesnya menambah luas sayap pesawat sehingga menciptakan gaya angkat yang cukup besar, dibantu dengan aliran udara dari bawah ke sela-sela flap layaknya slotted flap. Maka dari itu, tak jarang, flap ini juga kerap disebut fowler flap. Bedanya, fowler flap memiliki dua sela-sela antar sayap, sebagaimana gambar di bawah, sedangkan slotted flap hanya satu. Umumnya flap jenis ini ada pada pesawat jet berbadan lebar.

Ilustrasi cara kerja fowler flaps. Foto: boldmethod.com

Pramugari American Airlines Dituduh Malas Gegara Covid-19 oleh Penumpang First Class

Lika-liku pramugari saat melayani penumpang cukup beragam. Ada yang dilecehkan, dituduh tidak profesional, sampai dituduh bermalas-malasan akibat satu dan lain hal; tak terkecuali apa yang menimpa pramugari American Airlines belum lama ini.

Baca juga: Gara-Gara Diet Keto, Awak Kabin American Airlines Dipecat Setelah Tes Breathalyzer Alkohol

Seperti dilansir onemileatatime.com, seorang pramugari salah satu maskapai terbesar di Amerika Serikat (AS) itu dituduh asik bermalas-malasan gegara pandemi Covid-19 oleh seorang penumpang first class.

Insiden tuduhan tak mengenakkan penumpang ke pramugari itu bermula saat penumpang yang tak diungkap identitasnya ini meminta sampanye saat penerbangan singkat, dari Tampa ke Dallas, AS, dimulai.

Saat sudah habis satu dua botol, penumpang tersebut kembali meminta diberikan sampanye. Melihat penumpang itu masih terjaga, pramugari pun dengan rendah hati memberikannya. Namun, saat botol ketiga dan keempat ludes, pramugari mulai menahan penumpang agar tak melanjutkan minum. Terlebih, pesawat sudah lima menit sampai di bandara, di samping penumpang itu juga keliatan sudah mulai mabuk.

Akan tetapi, penumpang tersebut terus merongrong pramugari agar diberikan sampanye. Entah apa yang terjadi, pramugari ini akhirnya memberikan sampanye Jack Daniels dan Diet Coke ke penumpang itu.

Namun, bukan apresiasi yang didapat terhadap layanan yang diberikan, pramugari tersebut justru mendapat kata-kata yang tak menyenangkan dalam sebuah tisu. Tisu tersebut diberikan ke pramugari sesaat sebelum penumpang meninggalkan pesawat, dengan bertuliskan “You use Covid to justify being lazy. At a time when you should do the opposite,” atau bisa diartikan “Anda menggunakan Covid untuk membenarkan kemalasan. Di saat bersamaan seharusnya Anda melakukan sebaliknya.”

Baca juga: Awak Kabin American Airlines Meninggal di Pesawat, Gegara Corona?

Kejadian tersebut tentu berbanding terbalik dengan apa yang dialami oleh pramugara American Airlines. Belum lama ini, seorang pramugara mendapat pujian setinggi langit usai memberikan catatan Black Lives Matter kepada penumpang di salah satu penerbangannya.

Kejadian bermula saat, Kellee Edwards, jurnalis travel di sebuah media mainstream di AS, sedang menikmati penerbangan first class bersama maskapai yang bermarkas di Texas itu. Tiba-tiba, ia didatangi oleh seorang pramugara, John McCullough, dan memberikan secarik kertas bertuliskan “I see you. You matter. Black lives matter.” Kellee Edwards pun membagikan cerita perjalannya itu ke media sosial dan mendapat banyak tanggapan berupa pujian untuk pramugara tersebut.

Tas Besar Berisi Uang Iringi Penemuan Bangkai Kapal Pere Marquette 18 Setelah 110 Tahun

Sejak kapal L.R. Doty yang tenggelam di Danau Michigan (Lake Michigan) pada bulan Oktober 1898 ditemukan Juni 2010 lalu, para pemburu bangkai kapal, termasuk juga para arkeolog bawah laut, cukup giat mencari bangkai kapal lainnya di The Great Lakes (danau-danau besar di perbatasan Amerika Serikat-Kanada). Dari 500-an bangkai kapal di danau tersebut, kapal Pere Marquette 18 jadi yang paling menarik dicari oleh para pemburu.

Baca juga: 1 September 1985, Bangkai Kapal Titanic Ditemukan, Banyak Barang Masih Utuh

Kapal Pere Marquette 18 diketahui karam dan tenggelam pada 9 September 1910 silam di Lake Michigan, saat menuju Milwaukee, Wiscounsin, dari Ludington, Michigan. Kapal tersebut diketahui tenggelam beserta 29 gerbong kereta api dan 62 orang di dalamnya, termasuk penumpang, awak kapal, dan beberapa penumpang gelap.

Kapal tersebut diburu karena ramai diberitakan menyimpan banyak uang dalam jumlah besar. Saat itu, salah satu penumpang tajir disebut tengah membawa uang sekitar beberapa kantong besar dan sempat dibagi-bagikan sebelum tenggelam. Lama kelamaan, diketahui, orang tersebut ialah seorang petugas yang membawa uang untuk pembelian sebuah kapal pesiar. Selama ratusan tahun, keberadaan harta karun tersebut menjadi daya tarik utama pencarian kapal Pere Marquette 18.

Bangkai kapal Pere Marquette 18. Foto: Jerry Eliason & Ken Merryman

Setelah menunggu hampir 110 tahun, misteri kapal dengan panjang 103 meter ini akhirnya terkuak. Merryman dan Eliason, adalah orang yang mengungkap misteri tersebut setelah berhasil menemukan bangkai Kapal Pere Marquette 18 ini, di kedalaman sekitar 152 meter, 40 km dari garis pantai Sheboygan, Wisconsin, Amerika Serikat (AS).

Seperti dilansir mlive.com, penemuan bangkai kapal Pere Marquette 18 itu bermula dari laporan Life Saving Service (sejenis penjaga pantai di AS) terkait lokasi terakhir kapal tersebut. Dengan bantuan tim peneliti silsilah Ancestry Sisters di Chicago, Eliason dan Merryman akhirnya berhasil mendeteksi sonar dari kapal Pere Marquette 18.

Setelah titik awal ditemukan, butuh waktu setidaknya sebulan untuk mengirim kamera video canggih guna mengkonfirmasi bangkai kapal di bawah. Benar saja, dari rekaman video jauh di dasar danau, kapal Pere Marquette 18 yang sudah ratusan tahun tenggelam dipenuhi dengan kerang quagga invasif, dikelilingi puing-puing bagian kapal.

Sebagaimana penjelasan di atas, hal pertama yang dicari saat kapal ditemukan adalah keberadaan tas besar berisi uang. Sayangnya, kamera tersebut tak menemukan tas yang dimaksud. Kendati demikian, setidaknya, temuan kapal itu sudah mampu menjawab keberadaan misterius tas yang selama ini kerap disebut-sebut oleh media lokal dan mendorong banyak peneliti untuk menjadi yang pertama menemukan harta karun Kapal Pere Marquette 18.

Bangkai kapal Pere Marquette 18. Foto: Jerry Eliason & Ken Merryman

Penyebab tenggelamnya kapal Pere Marquette 18 sejauh ini masih simpang siur. Dari berbagai versi, kuat diduga kapal tenggelam akibat kebocoran pada lambungnya. Saat air mulai memenuhi kapal, awak kapal dibantu penumpang coba mengurangi beban kapal dengan mendorong gerbong seberat satu ton, namun semuanya sia-sia.

Baca juga: Setelah Lebih dari Satu Abad, Gunung Es yang Bikin Kapal Titanic Tenggelam Akhirnya Terungkap!

“Bayangkan keputusasaan orang-orang itu, mendorong gerbong kereta seberat satu ton dari belakang kapal dengan tangan – karena tahu itu mungkin satu-satunya cara mereka tidak hanya bisa menyelamatkan kapal, tapi juga nyawa mereka,” kata sejarawan maritim Marquette yang juga penulis buku Steel on the Bottom, Fred Stonehouse.

Selanjutnya, ia juga mengapresiasi temuan kapal tersebut dengan menyebut temuan yang luar biasa, mengingat Danau Michigan menyimpan begitu banyak misteri sampai bisa menenggelamkan ratusan kapal.

Bandara Internasional Hamad Punya Ruang Tunggu Non-Tradisional

Konsep tidur dan ruang pribadi baru akan tersedia untuk penumpang yang bepergian melalui Bandara Internasional Hamad (HIA) di Doha, Qatar. Ini hadir setelah Airport Dimension meluncurkan ruang tunggu non-tradisional pertamanya di bandara bintang lima Qatar.

Baca juga: Lounge Kembali Buka, Qantas Hilangkan Prasmanan, Pemanggang Roti dan Pembuat Pancake

Airport Dimensions merupakan penyedia global lounge premium yang baru-baru ini mengakuisisi sleep ‘n fly perintis lounge tidur, yang akan menyediakan pod dan kabin di ruang baru di HIA. Ruang tunggu ini terletak di area transit HIA dengan lounge seluas 225 meter persegi menawarkan akomodasi yang mampu menampung hingga 50 tamu.

Lounge ini memiliki 13 “Kabin Tidur” yang memiliki empat tidur ganda dan tempat tidur tarik opsional untuk anak dengan tinggi hingga 115 cm. Di mana kamar ini berisi maksimum dua orang dewasa dan satu anak. Adapula sembilan kabin tempat tidur susun.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman runwaygirlnetwork.com (15/9/2020), kabin ini kedap suara dan dilengkapi pendingin udara lampu utama, ambien dan baca, jam alarm, gantungan baju, cermin serta meja baki. Tak hanya itu, da juga 24 “Pod FlexiSuite”, tempat tidur bersandar 180 derajat di tempat tidur datar di ruang kedap suara.

Pod Flexisuite ini juga dilengkapi fitur pencahayaan ambien yang dapat diredupkan, lampu baca, AC, layar 32 inci untuk terhubung ke ponsel, tablet atau laptop para pelancong, meja baki lipat, tempat cangkir, tempat sampah kecil, penyimpanan bagasi dan kompartemen untuk menyimpan mantel, sepatu dan laptop. Airport Dimensions mengatakan semua pod tidur dan kabin didesinfeksi secara menyeluruh setelah setiap tamu check out, dan setiap titik kontak publik seperti konter resepsionis dan terminal pembayaran didesinfeksi setelah digunakan.

Lounge tidur di HIA terbuka untuk tamu korporat dan pelancong yang menunggu penerbangan, pra-pemesanan online, anggota Priority Pass dan pengguna LoungeKey. Pengunjung dapat membayar per jam untuk menginap di salah satu unit.

“Dengan fasilitas mutakhir dan layanan bintang lima, Hamad International adalah tempat yang tepat untuk meluncurkan konsep ruang tidur dan pribadi baru kami dan, memang, konsep ruang tunggu pertama kami di Timur Tengah,” kata direktur Dimensi Bandara Errol McGlothan dalam sebuah pernyataan.

Baca juga: Dongkrak Pengalaman Penumpang, Singapore Airlines Siap “Rombak” Lounge di Changi

“Pod dan kabin tidur menyediakan ruang yang nyaman, premium, dan aman bagi wisatawan yang ingin mengisi ulang tenaga selama singgah yang lama atau menikmati tidur sebentar sebelum penerbangan pagi. Kami berharap dapat bekerja sama dengan bandara untuk lebih meningkatkan pengalaman perjalanan bagi penumpang,” tambahnya.

Airbus Dorong Penerbangan “Fello’Fly” Guna Capai Efisiensi Bahan Bakar Hingga 15 Persen

Usai mengujicoba program ‘fello’fly’, yang terinspirasi dari angsa untuk mencapai konsumsi bahan bakar pesawat yang lebih rendah sekaligus mengurangi polusi tahun 2016 dan 2019 lalu, Airbus bertekad untuk mempercepat diterapkannya fello fly atau penerbangan formasi di tahun-tahun mendatang. Langkah itu akan dimulai kembali dengan uji coba lanjutan penerbangan fello fly bersama sejumlah pihak, seperti Frenchbee, SAS, Direktorat Jenderal Penerbangan Sipil Perancis, NATS, dan Eurocontrol.

Baca juga: Airbus Tiru Formasi Angsa dalam Uji Coba “Fello’Fly” untuk Menghemat Bahan Bakar

Dilansir CNN International, fello’ fly merupakan terobosan dalam sebuah penerbangan dimana dua pesawat atau lebih terbang secara bersamaan dan berdekatan untuk membentuk formasi “V” dalam penerbangan jarak jauh, layaknya angsa yang bermigrasi. Program ini sebetulnya pernah ditargetkan bakal terlaksana di dunia pada pertangahan tahun ini, namun, wabah Covid-19 memaksa peneliti Airbus UpNext menundanya.

Fello’ fly atau penerbangan bersama dengan membentuk formasi V dalam pelaksanannya tak selalu bisa benar-benar terbang bersamaan dalam jumlah banyak seperti migrasi angsa. Sebab, hal itu cukup rumit dan butuh kerjasama dari ATC, maskapai, dan regulator seluruh dunia.

Proragm fello’ fly umumnya ditargetkan bakal terlaksana pada penerbangan jarak jauh. Tak harus lepas landas dalam waktu yang bersamaan, pesawat yang sudah berada di udara nantinya akan diatur sedemikian rupa oleh ATC untuk bertemu di sebuah waypoint untuk kemudian menerapkan formasi fello’ fly. Bergantung pada rute dan jam, dalam satu airways usai bertemu di waypoint, fello’ fly bisa saja melibatkan banyak pesawat.

Selama menjalankan fello’ fly, pada skema dua pesawat (detail skema fello’ fly lebih dari dua pesawat masih butuh uji coba lanjutan), antar mereka akan dibatasi jarak masksimal 3km (1.5nm) dan pesawat yang berada di belakang akan memposisikan di bawah leader (pesawat yang ada di depan) di ketinggian 304 meter (1.000 kaki). Dalam perjalanan menuju bandara tujuan, leader yang akan memimpin komunikasi dengan ATC.

Nantinya, pesawat yang berada di belakang akan menikmati updraft atau hentakan ke atas (biasa juga disebut vertical draft) efek dari wingtip vortex yang dihasilkan pesawat yang berada di depan. Sehingga, pesawat tak perlu mengeluarkan tenaga ekstra dan pada akhirnya membuat penerbangan jadi jauh lebih hemat bahan bakar.

Fello’ fly AIrbus. Foto: Airbus via CNN

Selama fello’ fly, untuk mendapati hasil yang lebih maksimal dan aman, pesawat perlu didukung oleh teknologi autopilot yang ajeg untuk mempertahankan posisi, baik ketinggian maupun jarak antar pesawat, serta menghindari efek wake energy retrieval yang berlebihan.

Pada prinsipnya, fello’ fly akan membuat penerbangan jarak jauh lebih efisien hingga 5-15 persen. Namun, dengan memperpendek jarak antar pesawat menjadi 1.5 nm (Nautical Miles), jauh lebih kecil dari batas 5nm atau sembilan kilometer yang ditetapkan oleh FAA saat ini, ruang udara yang bisa dijajaki pesawat jadi lebih luas.

Baca juga: Pesawat Punya Kecepatan Jelajah dan Kecepatan Maksimum, Apa Bedanya?

Hal itu tentu bagus mengingat IATA telah memprediksi bahwa jumlah penumpang yang bepergian melalui udara akan mencapai 8,2 miliar pada tahun 2037 atau terjadi peningkatan sekitar 3,5 persen per tahun hingga 2037.

Bila saat ini saja 40,3 juta penerbangan dan mengalami lonjakan sekitar 3,5 persen per tahun, bisa dibayangkan, berapa banyak penerbangan yang akan terjadi di tahun 2037 dan di tahun-tahun selanjutnya? Luas langit tentu sudah paten, namun, jarak aman antar pesawat, termasuk jarak saat lepas landas, taxing, dan lain sebagainya antara satu pesawat dengan pesawat lainnya masih bisa diubah untuk mendukung banyaknya perjalanan udara di masa mendatang.

Bangkitkan Kebersamaan Antar BUMN, Makna dari Hari Perhubungan Nasional

Hari Perhubungan Nasional yang diperingati setiap tanggal 17 September ditetapkan untuk memperingati hari bakti dari setiap Badan Usaha Milik Negara atau BUMN yang bergerak di sektor perhubungan. Ini pertama kali ditetapkan pada tahun 1971 melalui keputusan Menteri Perhubungan Nomor SK.274/G/1971.

Baca juga: PT KAI Minta Gubernur DKI Jakarta Hapus SIKM untuk KA Relasi dari Bandung

Surat Keputusan yang diterbitkan pada tanggal 26 Agustus 1971 ini mengatur mengenai peringatan hari perhubungan nasional. Tujuan adanya Hari Perhubungan Nasional ini tiga yang utama yakni yang pertama untuk meningkatkan rasa kebersamaan dan jiwa korsa warga perhubungan serta dengan mitra kerja jasa perhubungan pada umumnya.

Dengan meningkatkan rasa kebersamaan ini ada harapan agar hubungan antara warga perhubungan dengan mitra kerja mampu meningkatkan pelayanan mereka. Tujuan kedua yakni meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab untuk selalu ikut membudayakan pelayanan yang lebih baik. Sehingga lebih banyak lagi pengguna yang beralih untuk memilih menggunakan jasa dari BUMN.

Ketiga adalah meningkatkan penghayatan dan pengamalan lima citra manusia perhubungan yang menjadi dasar sikap dari setiap insan perhubungan. Lima citra itu yakni taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; Tanggap terhadap kebutuhan masyarakat akan pelayanan jasa yang tertib, teratur, tepat waktu dan nyaman; Tangguh menghadapi tantangan; Terampil dan berperilaku gesit, ramah, sopan serta lugas; dan Tanggung jawab terhadap keselamatan dan keamanan jasa perhubungan.

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, ditetapkannya Hari Perhubungan Nasional bisa membuat BUMN yang bergerak dalam sektor perhubungan diharapkan dapat kembali memaknai peringatan ini sebagai hari bakti insan perhubungan kepada bangsa dan negara Indonesia. Bahkan pemaknaan tersebut dibuktikan dengan terus meningkatkan layanan pada masyarakat dengan seluruh pengabdian yang tulus ikhlas agar terwujud jasa transportasi yang handal, selamat dan nyaman.

Harapan lainnya, BUMN yang bergerak di bidang perhubungan juga mampu untuk menyediakan layanan yang lebih baik sehingga pengguna transportasi kembali menggunakan jasa angkutan BUMN dibandingkan kendaraan pribadi agar kemacetan berkurang. Selain itu juga bisa membuktikan bahwa sistem transportasi sangat penting untuk menunjang kegiatan ekonomi.

Baca juga: Hentikan Sementara Penjualan Tiket Penumpang, ASDP Hanya Layani Logistik

Untuk diketahui, sebelum ditetapkannya hari perhubungan nasional, setiap BUMN yang bergerak di sektor perhubungan merayakan hari jadi atau hari bakti mereka masing-masing di tanggal yang berbeda dan berdekatan. Mempertimbangkan waktu dan biaya, perayaan yang berdekatan untuk merayakan hal yang nyaris sama dianggap tidak efisien.

Berkat Check-in Tanpa Sentuhan, Changi Dinobatkan Jadi Bandara Teraman di Dunia

Bandara di masa pandemi bagaimana nasibnya? Yang jelas hampir semua bandara di seluruh dunia mengalami penurunan penumpang akibat pandemi Covid-19. Meski begitu, keamanan dan kenyamanan penumpang di masa pandemi ini tetap terjaga baik dari pintu masuk hingga ruang tunggu serta kedatangan.

Baca juga: Yang Pertama, Bandara Leonardo da Vinci-Fiumicino Raih Peringkat “Bintang Lima Covid-19” dari Skytrax

Meski ikut mengalami penurunan jumlah penumpang, ternyata Bandara Changi Singapura menduduki tempat teratas daftar Safe Travel Barometer untuk bandara teraman di dunia. Di mana Safe Travel Barometer menilai lebih dari 200 bandara dengan penerapan protokol kesehatan dan keselamatan Covid-19.

KabarPenumpang.com melansir laman ttgasia.com (15/9/2020), Bandara Changi mendapatkan Skor Perjalanan Aman 4,7 dari 5. Hasil ini didapatkan karena tindakan keamanan yang diambil oleh bandara termasuk penerapan inisiatif tanpa sentuhan untuk pengalaman penumpang diseluruh area sisi darat dan udara.

Hal ini termasuk kios check in yang menggunakan sensor dan sistem imigrasi berbasis biometrik untuk menghilangkan pemindaian sidik jari. Skor Perjalanan Aman merupakan inisiatif peringkat pertama di industri berdasarkan audit independen di lebih dari 200 bandara dan 20 langkah kesehatan dan keselamatan pelancong yang diumumkan oleh bandara.

Di bawah Bandara Changi, ada Bandara Frankfurt, Bandara Internasional Shuangliu Chengdu dan Bandara Internasional Indira Gandhi Delhi yang memiliki Skor Perjalanan Aman 4,6 dari 5. Sedangkan Bandara Internasional Abu Dhabi UEA dan Bandara Internasional Dubai memiliki skor 4,5.

Bandara lain yang berhasil masuk dalam sepuluh besar dunia dan memiliki skor 4,3 dari 5 adalah Bandara Internasional Bengaluru Kempegowda, Bandara Internasional Hong Kong, Bandara Internasional Ibukota Beijing dan London Heathrow. Sedangkan bandara di Amerika Utara tidak ada satu pun yang masuk dalam sepuluh besar dunia karena lambat pelaksanaannya.

Sebelumnya bahkan Skytrax menjadikan Bandara Leonardo da Vinci-Fiumicino di Roma sebagai yang pertama di dunia menerima peringkat Bandara Bintang 5 Covid-19. Skytrax melakukan audit selama tiga hari pada awal bulan September ini.

Baca juga: Bandara Seattle-Tacoma Kerahkan Robot Pembersih Lantai dan Teknologi Canggih Lawan Corona

Otoritas bandara ini memberikan kejelasan terkait protokol Covid-19 melalui papan pengumuman dan sistem informasi yang efektif dengan kejelasan sangat baik. Di area dengan pergerakan tinggi di terminal, bandara memiliki Tim Bio-Safety internal yang terdiri dari 40 staf yang memfasilitasi jarak sosial dan memastikan kepatuhan terhadap penggunaan masker wajah.

GoJek Luncurkan “GoGreener Carbon Offset” Guna Bantu Pelanggan Imbangi Emisi Perjalanan

GoJek menjadi perusahaan ride hailing pertama di Indonesia yang meluncurkan penggantian kerugian karbon dan memunggkinkan pelanggan bisa mengimbangi emisi dalam perjalanan mereka. Untuk mewujudkan ini, GoJek berkolaborasi dengan Jejak.in untuk  meluncurkan fitur baru yakni GoGreener Carbon Offset.

Baca juga: Dukung Proses Pemesanan Bagi UMKM, GoJek Luncurkan Aplikasi Selly

Fitur tersebut memungkinkan pelanggan untuk mengimbangi karbon yang mereka hasilkan dalam perjalanan dengan menanam pohon. Fitur ini akan tersedia melalui shuffle car GoGreener Carbon Offset pada aplikasi GoJek. Untuk menggunakan layanan ini, pelanggan menghitung jejak karbon mereka menggunakan rata-rata penggunaan transportasi harian dan mengimbangi dengan melakukan pembayaran melalui aplikasi.

KabarPenumpang.com melansir eco-business.com (15/9/2020), pembayaran tersebut untuk skema penanaman pohon di Jakarta, Jawa Tengah dan Kalimantan Timur yang dijalankan oleh kelompok konservasi Indonesia LindungiHutan. Perjalanan satu kilometer dengan sepeda motor di Jakarta membutuhkan sekitar 0,05 pohon untuk mengimbangi karbon, dengan biaya Rp3500 (US$0,20).

Sedangkan perjalanan satu kilometer dengan mobil di Jakarta membutuhkan 0,15 pohon untuk mengimbangi, dengan biaya Rp10.500 (US$0,70). Biaya lebih rendah untuk pohon yang ditanam di luar Jakarta. Pengguna dapat memeriksa kemajuan skema penanaman pohon melalui dasbor pemantaian dan mereka bisa melihat laporan pertumbuhan pohon masing-masing.

Hingga saat ini, GoJek memiliki sekitar 190 juta pengguna di Asia Tenggara tetapi layanan penggantian kerugian baru akan tersedia di Indonesia. Untuk menjalankan inisiatif ini, perusahaan akan menggandakan jumlah pohon yang ditanam, oleh pengguna selama enam bulan pertama sejak peluncuran sebelum platform memperluas ke lokasi lain.

Baca juga: GoTransit, Fitur Integrasi Multimoda di Aplikasi GoJek

Sebuah studi yang dirilis pada Februari lalu menemukan bahwa perjalanan naik kendaraan di AS menghasilkan rata-rata 69 persen lebih banyak polusi iklim daripada perjalanan yang mereka gantikan. Belum ada penelitian yang dilakukan tentang dampak layanan ride hailing terhadap jalan raya di Indonesia, yang konon disebut sebagai yang paling padat di dunia.