Inilah Kaca Elektrokromik yang Bikin Jendela Pesawat Tak Perlu Tirai

Seiring perkembangan teknologi, sempat tercetus di masa lalu bahwa kelak pesawat tak akan membutuhkan tirai untuk menghalau sinar matahari. Meski sempat diragukan, kini gagasan tersebut pun jadi kenyataan berkat teknologi kaca elektrokromik. Apa itu?

Baca juga: Wow, Kaca Film Sekarang Bisa untuk Jendela Pesawat

Disarikan dari Forbes dan USA Today, teknologi elektrokromik (electrochromic glass window) sendiri merupakan sebuah jendela yang mampu menghalau masuknya sinar (bisa dari matahari atau sumber cahaya lainnya) dengan membuat kaca menjadi redup. Hal itu (kaca redup) disebabkan oleh adanya arus listrik ke sebuah panel yang diapit atau berada di antara dua kaca.

Dalam prosesnya, cara kerja kaca elektrokronik dengan dibantu berbagai lapisan kaca lainnya, mulai dari lapisan luar hingga lapisan dalam. Lapisan terluar merupakan lapisan kacanya sendiri (bisa juga terbuat dari bahan plastik), yang berfungsi sebagai pelindung lapisan-lapisan di dalamnya.

Lapisan kedua yang tepat di bawah lapisan kaca tersebut merupakan lapisan oksida yang transparan (bening) dan bersifat konduktor. Lapisan ketiga ini merupakan lapisan bahan yang bersifat elektrokromik, umumnya yang digunakan adalah oksida tungsten (WO3).

Lapisan keempat merupakan bahan elektrolit (bahan konduktor ion), dan lapisan kelima merupakan lapisan yang merupakan tempat berkumpulnya ion-ion. Lapisan-lapisan ini kemudian ditutup lagi oleh lapisan oksida dan lapisan kaca yang sama dengan lapisan kedua dan pertama tadi sehingga bentuk susunan lapisan-lapisannya seperti roti isi (sandwich). Seluruh tujuh lapisan ini dapat melewatkan gelombang cahaya tampak (transparan) saat tidak diberi tegangan.

Adanya beda potensial yang rendah (adanya aliran elektron dari kutub negatif sumber tegangan menuju kutub positifnya) antara kedua lapisan oksida yang membungkus tiga lapisan dalam menyebabkan terjadinya transfer ion yang bermuatan positif atau anion (A+) menuju lapisan elektrokromik. Ion positif ini bisa merupakan anion hidrogen atau litium.

Anion didorong melalui lapisan elektrolit sehingga bisa sampai ke lapisan elektrokromik. Adanya anion di lapisan elektrokromik ini menyebabkan terjadinya perubahan karakteristik optis dan sifat termal bahan sehingga dapat menyerap gelombang cahaya tampak.

Panas matahari yang menyertai gelombang cahaya tampak juga diserap oleh bahan elektrokromik ini. Karena gelombang cahayanya diserap, kaca jendela menjadi terlihat gelap (opaque). Sewaktu aliran listrik dihentikan, anion yang ada di lapisan elektrokromik tadi terdorong lagi keluar melalui elektrolit dan kembali ke tempat penyimpan ion (tempatnya semula). Karena lapisan elektrokromik tidak lagi mengandung anion, karakteristik optisnya kembali ke semula sehingga kaca kembali menjadi transparan.

Meskipun sudah terlihat sempurna, beberapa perusahaan pengembang kaca elektrokromik (dimmable windows) dikabarkan masih terus melakukan pengembangan, terutama pada tingkat kemampuan kaca dalam menyaring lebih banyak cahaya hingga 10 kali lipat dan kemampuan meredupkan kaca dua atau bahkan empat kali lebih cepat dari yang ada saat ini.

Di dunia, bebeberapa pesawat sudah dilengkapi dengan kaca elektrokromik, seperti Boeing 787 Dreamliner, Boeing 777X, dan Airbus A350. Jadi, jika traveller sekalian suatu hari ikut dalam penerbangan internasional dan tak mendapati tirai di jendela, jangan dulu panik, cukup tekan tombol yang ada di sekitar jendela dan seketika kaca akan meredup.

Baca juga: Pernah Dengar Seberapa Tebal Kaca Pesawat? Simak Di Sini Jika Belum

Di beberapa pesawat, penumpang bisa memilih tingkat keredupan untuk mengakomodir penumpang yang tak ingin terlalu redup agar tetap bisa melihat pemandangan di luar namun juga intensitas cahaya yang masuk tak terlalu besar.

Sebetulnya, teknologi kaca elektrokromik sudah diaplikasikan di banyak tempat, termasuk toilet di Jepang. Toilet yang berada di pinggir pedesterian tersebut bahkan menjadi perbincangan warganet di dunia karena transparan; tentu sebelum teknologi elektrokromik bekerja.

Transportasi Jepang Gunakan Bahan Bakar Hidrogen di Tahun 2025

Jepang menyelesaikan pembangunan 2500 meter kubik terminal gas hidrogen cair di Kobe pada bulan April yang lalu. Negara ini juga akan mengkomersialkan wahana transportasi yang menggunakan bahan bakar hidrogen pada tahun 2025. Eiichi Harada, pejabat eksekutif, wakil manajer umum divisi teknologi perusahaan, Kawasaki Heavy Industries Ltd mengatakan, uji coba dengan bahan bakar hidrogen telah berhasil dilakukan.

Baca juga: Zeppelin, Riwayat Balon Udara dengan Bahan Bakar Hidrogen

Sebelumnya pada 2014 lalu, Jepang menandatangani proyek pertama semacam ini dengan Australia untuk tujuan mendemonstrasikan kelangsungan hidup gasifikasi batubara coklat di Lembah Latrobe di Australia. Proyek ini untuk menghasilkan hidrogen dan mengangkutnya melalui laut ke Pelabuhan Kobe di Jepang dan menggunakannya di pabrik kogenerasi untuk mengasilkan listrik dan panas.

KabarPenumpang.com merangkum laman downtoearth.org.in (10/9/2020), karbon dioksida yang dihasilkan dari proses ini ditangkap dan disimpan di bawah tanah untuk kembali di proses menjadi netral karbon. Meski tak jadi di demonstrasikan pada Olimpiade Jepang, tetapi ini telah beroperasi dengan sukses. Batubara coklat atau batubara muda memiliki kadar air setinggi 50-60 persen.

Ini mudah terbakar saat dikeringkan dan berisiko tinggi untuk ditangani sehingga sumber daya ini belum banyak dieksploitasi. Karena biaya rendah, menjadikan batubara coklat ini salat satu produksi energi paling terjangkau sehingga Jepang memanfaatkannya. Untuk diketahui, lembah Latrobe di Australia, di mana Jepang telah memperoleh hak penambangan, memiliki cadangan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik negara itu selama 240 tahun.

Batubara coklat tersedia pada kedalaman yang sangat rendah yaitu 250 meter sedangkan lapisan batubara India berada pada kedalaman hingga 600 meter. Namun hanya volume besar gas alam cair yang diangkut dengan kapal ke jarak yang jauh. Teknologi pencairan dan penyimpanan hidrogen telah terbukti praktis di industri, terutama untuk pengangkutan bahan bakar roket hidrogen.

“Transportasi jangka panjang dalam jumlah besar, penyimpanan energi serta integrasi sektor dimungkinkan dengan hidrogen. Menggunakan energi hidrogen sebagai bagian dari campuran energi akan berkontribusi pada ketahanan,” menurut Harada.

Kota Kobe di Jepang menggunakan energi dari bahan bakar hidrogen dalam skala percontohan. Untuk menghasilkan daya 1,5 megawatt, dibutuhkan 2.215 meter kubus normal per jam gas hidrogen, menurut demonstrasi uji. Modifikasi untuk mengangkut hidrogen cair dalam volume yang lebih besar dimulai pada bulan Maret di Carrier Suiso Frontier Cargo Tank di KHI Harima Works, Jepang. Hidrogen cair yang diangkut secara internasional hanya akan memiliki variasi marjinal dalam emisi karbon dioksida dibandingkan dengan pembangkitannya menggunakan sumber terbarukan lainnya, menurut penilaian siklus hidup oleh para peneliti Institut Penelitian dan Informasi Mizuho.

Baca juga: Dukung Operasional Kereta Hidrogen, Jerman Bangun Stasiun Pengisian Khusus di 2021

“Tidak ada limbah yang dihasilkan dari gasifikasi brown coal, sehingga berpotensi menimbulkan dampak lingkungan yang tidak sedikit. Menjelajahi teknologi berbasis terbarukan memang diperlukan, tetapi harganya mahal. Jadi, mengeksploitasi batubara coklat untuk beberapa waktu bisa menjadi awal yang baik. Kami dapat melompat ke teknologi bersih lainnya saat teknologi tersebut matang dan menjadi hemat biaya,” tambah Harada.

‘Macet’ Jadi Alasan Mengapa Kereta di Rusia Jadi yang Terlamban di Dunia

Daftar kereta tercepat di dunia sudah pasti masyhur diketahui publik. Namun, kereta dengan kecepatan operasional terlamban di dunia, bisa dibilang tabu. Hal itu bukan karena kecepatan maksimum kereta yang pada dasarnya lamban, melainkan karena ‘kemacetan’ kereta yang terjadi; seperti apa yang menimpa kereta-kereta di Rusia.

Baca juga: Tahun 2026, Rusia Akan Punya Kereta dengan Kecepatan 400 Km Per Jam

Di Rusia, masyarakat umumnya mengeluh karena kereta-kereta di sana beroperasi cukup lamban, bahkan jadi yang terlamban di Eropa atau mungkin dunia; sekalipun butuh studi lebih lanjut terkait hal ini.

Umumnya, kereta jarak jauh di Rusia melesat dengan kecepatan 100-120 km per jam, setara dengan kecepatan jelajah atau operasional kereta api di Indonesia. Bandingkan dengan kereta jarak jauh di Jerman, Spanyol, Perancis, Turki, dan berbagai negara lainnya yang biasa melesat sampai 320 km per jam.

Di Rusia memang ada kereta dengan kecepatan operasional tercepat, yakni kereta Sapsan Siemens Velaro yang menghubungkan Moskow-St. Petersburg-Nizhny Novgorod. Kecepatan operasional kereta tersebut maksimum mencapai 250 km per jam.

Kendatipun bisa melaju di atas 200 km per jam, namun, tetap saja tak menghilangkan stigma lambannya kereta-kereta di Rusia. Apalagi bila berkaca pada kereta barang (KA barang), yang biasa melaju dengan kecepatan rata-rata 18 kilometer per hari atau 0,75 km per jam.

Kereta barang di Rusia. Foto: Vladimir Smirnov/TASS

“Lebih mudah membawa ransel di bahu Anda dan berjalan kaki ke Vladivostok (sebuah wilayah di Timur Jauh Rusia) daripada pergi ke sana dengan kereta barang, kecepatan rata-rata hanya 18 kilometer per hari (0,75 km per jam),” kata Wakil Perdana Menteri Rusia, Arkady Dvorkovich, untuk menggabarkan betapa lambannya kereta di sana pada tahun 2014 lalu, sebagaimana dikutip dari rbth.com.

Usut punya usut, rumitnya sistem perkeretaapian di Negeri Beruang Merah itu jadi sebab akut mengapa kereta-kereta di sana melaju dengan sangat lamban. Di Rusia, kereta barang, yang notabene hanya melaju 0,75 km per jam, masih harus berbagi jalur dengan kereta penumpang. Celakanya, 20 persen kereta penumpang melewati hampir 80 persen kereta barang. Jadi, mau tak mau, kereta penumpang harus menyesuaikan kecepatan kereta barang.

Hal lain yang menyebabkan kereta-kereta di Rusia melaju cukup lamban yakni kemacetan akibat kapasitas rel yang rendah; berlawanan dengan mobilitas kereta di Rusia yang cukup tinggi, menghubungkan Eropa dengan Timur Jauh Rusia dan Asia. Dengan begitu, kereta-kereta di sana umumnya menghabiskan waktu lebih banyak untuk menunggu giliran masuk. Sebagian besar kemacetan tersebut terletak di sepanjang jalur kereta Trans-Siberia, jalur transportasi utama Rusia.

Baca juga: Demi Bantu Cucu dan Nenek Ini, Operator Kereta Rusia Berlakukan Pemberhentian Khusus

Secara teoritis, mempercepat KA barang sebetulnya bukan tak mungkin. Tetapi, hal ini membutuhkan banyak investasi untuk infrastruktur baru yang kemungkinan besar akan mengakibatkan lonjakan harga barang yang diangkut; misalnya seperti batu bara.

Lambannya pergerakan kereta barang dan kereta penumpang pada akhirnya membuat efisiensi pertukaran barang dan orang di Rusia cukup rendah, sekalipun kereta di sana amat jarang datang terlambat dari jadwal yang semula.

Prototipe Kedua Pesawat Listrik-Hybrid Terbesar di Dunia Ampaire Electric EEL Sukses Mengudara

Produsen pesawat listrik asal Amerika Serikat (AS), Ampaire, belum lama ini sukses menerbangkan prototipe kedua pesawat bertenaga hybrid-listrik, setelah yang pertama juga dikabarkan sukses mengudara sepekan sebelumnya.

Baca juga: Gantikan Lithium Ion, Baterai Lithium-Sulfur Bikin Era Pesawat Listrik Semakin Dekat

Berbeda dengan prototipe pertama ataupun pesawat demonstrasi yang pertama kali terbang perdana pada Juni 2019, prototipe kedua pesawat listrik hybrid Electric EEL atau biasa juga disebut Ampaire Electric EEL ini mengalami beberapa perubahan.

Perubahan Ampaire Electric EEL Cessna 337 Skymaster terletak pada paket baterai, dari semula terletak di dalam kabin menjadi di bawah pesawat; menggunakan unit daya listrik (EPU) yang lebih ringan dan lebih efisien serta meningkatkan instrumentasi kokpit dan power controls.

Prototipe kedua pesawat listrik-hybrid Cessna 337 Skymaster Ampaire didesain untuk melaju dengan kecepatan 222 km per jam -didukung mesin Continental IO-550 berkekuatan 310 tenaga kuda di bagian ekor dan motor listrik berkekuatan 200kW di bagian depan- dengan kemampuan terbang selama 1 jam 15 menit plus baterai cadangan 30 menit.

Usai keberhasilan ini, Ampaire berencana menerjunkan prototipe tersebut untuk melakukan serangkaian uji coba penerbangan kembali di Hawaii akhir tahun ini, bekerjasama dengan Mokulele Airlines dan perusahaan solusi perubahan iklim, Elemental Excelerator.

“Sejak menerbangkan Electric EEL pertama kami tahun lalu, kami telah melakukan peningkatan substansial pada power train untuk efisiensi, peningkatan performa, keandalan, dan keselamatan,” kata CEO Ampaire, Kevin Noertker, seperti dikutip dari avweb.com.

“Teknologi ini dapat dimanfaatkan dengan cakupan yang luas untuk layanan penumpang dan kargo terjadwal, serta layanan charter. Penerbangan kami dengan Mokulele Airlines akan menjadi kesempatan untuk menguji pesawat dan infrastruktur yang diperlukan untuk memajukan penerbangan listrik dan akses transportasi di Hawaii,” tambahnya.

Diharapkan pesawat listrik-hybrid Ampaire bisa mendapatkan sertifikasi FAA pada 2021 agar memungkinkannya masuk ke tahun layanan komersial secara penuh. Electric EEL Ampaire hasil modifikasi dari Cessna 337 Skymaster ini memiliki enam kursi dan tercatat sebagai pesawat listrik-hybrid terbesar di dunia.

Modifikasi pesawat Cessna 337 adalah langkah pertama sebelum ditenagai listrik sepenuhnya. Sebetulnya, pesawat yang ingin digarap merupakan pesawat wisawa berkapasitas hingga 19 penumpang. Namun, saat ini belum ada kekuatan baterai dan mesin listrik yang matang. Maka, konsep pesawat zero karbon yang mampu menampung sembilan penumpang merupakan fokus utama yang paling realistis sejauh ini.

Dalam persaingan global memproduksi pesawat hybrid pertama di dunia, Ampaire tentu bukan satu-satunya. Pada Mei lalu, perusahaan penerbangan asal Perancis, VoltAero, memamerkan desain Cassio2, pesawat hybrid berkapasitas sembilan kursi dengan kecepatan jelajah 230 mph. Tahun ini, Electric Aviation Group (EAG) meluncurkan desain baru untuk Pesawat Regional Listrik Hybrid (HERA).

Baca juga: Retrofit Cessna Catat Sejarah Sebagai Pesawat Listrik Terbesar di Dunia

Bila tak ada kendala berarti, pesawat penumpang bertenaga hybrid dengan kapasitas 70 seat pertama di dunia itu akan mulai beroperasi pada 2028 mendatang, mengalahkan pesawat hybrid-listrik terbesar di dunia Ampaire Electric EEL Cessna 337 Skymaster.

Cessna 337 Skymaster sendiri adalah pesawat dengan enam tempat duduk yang telah beroperasi sejak awal 1960-an. Di masanya, pesawat tersebut menjadi salah satu pesawat terlaris untuk kebutuhan penerbangan regional jarak pendek.

Warsawa Hadirkan Halte Bus Ramah Lingkungan dengan Atap Berumput

Halte di setiap negara memiliki banyak keunikan dan keuntungan masing-masing bagi penumpangnya. Bahkan di desain semenarik dan senyaman mungkin agar penumpang betah menunggu bus atau angkutan lainnya serta bisa berteduh dari terik matahari ataupun hujan.

Baca juga: Percantik Kota dan Menyenangkan Anak-anak, Halte Bus di Ontario Tampil dengan Corak Pastel

Di Warsawa, Polandia sebuah halte bus dibuat ramah lingkungan yang dilengkapi dengan atap berumput. Selain itu kaca yang dibuat juga khusus anti burung. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman thefirstnews.com (9/8/2020), halte Popiełuszki 05 di Żoliborz dipilih menjadi yang pertama untuk desain halte hijau ini di ibukota.

Kemudian setelah ini akan ada 20 halte bus lagi yang akan diresmikan pada akhir tahun sebagai bagian dari rencana yang dapat merevolusi dunia terkait desain halte bus yang keras dan praktis. Halte bus ramah burung dan penumpang ini memiliki halaman rumput di bagian atapnya dan mencegah burung menabrak kaca sehingga melukai tubuhnya tersebut.

Rumput yang ditanam di atap halte adalah tanaman sedum. Tanaman ini sendiri mampu hidup di tempat kering dan tidak memerlukan perawatan yang berlebihan. Untuk pengairannya, air hujan lebih dari cukup untuk menghidupi tanaman sedum itu.

Namun jika hujan tak ada, tanaman sedum di atap halte ini tetap dipantau dan AMS yang adalah perusahaan pembuatnya akan bertanggung jawab atas itu dan bisa melakukan intervensi jika diperlukan.

“Tanaman sedum bisa tahan terhadap kekeringan, tanah tandus dan penurunan suhu. Mereka adalah tanaman yang sempurna untuk taman batu dan atap hijau. Tempat penampungan ramah lingkungan dapat menyimpan hingga 90 liter air hujan,” kata Łukasz Porębski, seorang anggota dewan distrik Żoliborz.

Łukasz menambahkan, tanaman ini bisa mengurangi debu di udara sekitar tempat penampungan antara 15 hingga 20 persen serta mampu menyerap 7,3 kilogram CO2 per tahun dan pada hari-hari yang panas tempat penampungan dapat menurunkan suhu di bawah atap tempat penampungan antara tiga sampai lima derajat Celcius.

Selain itu, halte memiliki tanda khusus untuk melindungi burung dari benturan dengan kaca. Mereka yang memiliki kekhawatiran tentang alergi tidak perlu khawatir karena hal ini tidak akan meningkatkan risiko penderita demam.

Baca juga: Tangkal Penyebaran Covid-19, Seoul Hadirkan Halte Bus dengan Teknologi Sinar Ultraviolet

Anggota Dewan Porębski memimpin perjuangan untuk memperkenalkan halte bus hijau di Warsawa dan dia mengatakan bahwa pada akhir bulan akan ada pertemuan untuk memutuskan di mana perhentian hijau berikutnya akan berlokasi, dan pada akhir tahun tujuannya adalah untuk menambahkan 20 perhentian hijau lagi.

Folding Airline Seats, Paten Airbus Paling Berguna di Masa Pandemi Corona!

Airbus jadi salah satu perusahaan pendaftar paten atas berbagai temuan unik dan inovatif terbesar di dunia. Dari ratusan paten yang diajukan produsen pesawat asal Eropa ini setiap tahun, salah satu yang paling berpengaruh dan relevan dengan kondisi saat ini ialah folding airline seats atau bisa dibilang kursi lipat di pesawat.

Baca juga: “Re-Configurable Passenger Bench Seat,” Inovasi Airbus untuk Penumpang Obesitas

Seperti yang sudah umum diketahui, sejak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan Covid-19 sebagai pandemi global Maret lalu, industri penerbangan jatuh ke titik terdalam sepanjang sejarah. Dimana-mana maskapai penerbangan mengeluh sepi dan beberapa di antaranya terpaksa bangkrut.

Kendatipun penerbangan penumpang sepi, tingginya kebutuhan peralatan dan perlengkapan medis di seluruh dunia membuat maskapai merombak total beberapa pesawat untuk melayani penerbangan hanya kargo. Namun, di beberapa kasus, kursi-kursi penumpang di kabin utama tak sampai ditanggalkan karena perubahan konfigurasi dari penumpang menjadi kargo ataupun sebaliknya. Hal itu dilakukan sebagai langkah antisipatif bila sewaktu-waktu penerbangan penumpang dibutuhkan.

Padahal, bila maskapai mengadopsi desain inovatif (Airbus folding airline seats) mereka tak perlu khawatir tentang hal itu. Sebab, desain kursi lipat yang ditemukan Airbus pada 2015 lalu dapat memudahkan konfigurasi dari penumpang ke kargo hanya dalam hitungan menit.

Kursi pesawat cukup dilipat dan didorong ke bagian belakang ataupun depan dengan mudah berkat bantuan guide tracks. Dengan begitu, efektivitas dan efisiensi kabin utama untuk memuat kargo jauh lebih tinggi di samping tetap bisa melindungi kemungkinan kursi rusak akibat gesekan (dengan kargo).

Maskapai juga tak perlu pusing mencari tempat untuk menyimpan kursi karena cukup diletakkan di bagian belakang atau depan kabin utama, sekalipun konsekuensinya membuat kapasitas sedikit berkurang.

Antara tempat penyimpanan kursi dengan kabin utama yang ingin dimuati kargo juga terdapat sekat partisi. Dengan begitu, maskapai tetap bisa dengan mudah menyisakan beberapa kursi -jika mereka menginginkannya- atau dalam penerbangan istilah tersebut dikenal sebagai Passenger-to-FlexCombi, seperti gambar di atas.

Baca juga: Tak Ingin Meratapi Nasib, Hi Fly Ubah Airbus A380 Jadi ‘Varian’ Kargo Pertama di Dunia

Salah satu maskapai yang mengadopsi folding airline seats atau kursi lipat pesawat temuan Airbus, Ethiopian Airlines, seperti dikutip dari Simple Flying, mengaku sangat terbantu dengan konsep tersebut. Maskapai tak perlu khawatir bila sewaktu-waktu salah satu dari penerbangan kargo ataupun penumpang sepi dan lainnya tinggi. Mereka dapat mengubah konfigurasi dengan mudah untuk mengantar kargo dan penumpang ke seluruh dunia dengan lebih ekonomis.

Sebagai informasi, sejak diajukan paten oleh Airbus pada 2015 lalu, desain folding airline seats belum banyak dilirik. Sebab, keadaan belum menuntut maskapai mengadopsi desain tersebut. Namun, dengan rendahnya frekuensi penerbangan penumpang -yang diperkirakan bakal terus berlangsung hingga satu-dua tahun mendatang- folding airline seats akan sangat dibutuhkan maskapai.

Babak Baru Kecelakaan Boeing 737 MAX: Insinyur Senior Tak Tahu Desain Akhir yang Digunakan

Dua insinyur senior Boeing yang mengawasi desain 737 MAX mengaku tak tahu desain akhir yang dipilih untuk pesawat tersebut. Hal ini terungkap tatkala insinyur senior yang juga menjabat sebagai wakil presiden teknik pengembangan 737 MAX ini diberondong pertanyaan oleh penyelidik Komite DPR Amerika Serikat (AS) untuk Transportasi dan Infrastruktur, belum lama ini.

Baca juga: Setelah Jalani Total Terbang 10 Jam, Proses Sertifikasi Ulang Boeing 737 MAX Dihentikan

Dilaporkan Bloomberg, Keith Leverkuhn dan Michael Teal juga mengaku bahwa desain final yang saat ini beredar, termasuk Boeing 737 MAX Lion Air dan Ethiopian Airlines, merupakan keputusan dari karyawan dengan skill serta pengalaman minim. Pengakuan keduanya tentu mengingatkan pada mantan insinyur Boeing, Mark Rabin, yang menyebut Boeing merekrut insinyur outsourcing untuk mengembangkan software spesifik yang diminta perusahaan.

“Para pemimpin teknik yang berada jauh di bawah level saya yang membahas detail desain Boeing 737 MAX,” jelas Teal, terkait fitur Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS) yang jadi penyebab kecelakaan.

Pernyataan Teal kemudian juga didukung Boeing, “Mengingat luasnya tanggung jawab mereka, Tn. Leverkuhn dan Tn. Teal tidak, dan tidak mungkin, terlibat dalam setiap keputusan desain dan perlu mengandalkan spesialis teknik untuk melakukan pekerjaan desain dan sertifikasi terperinci yang terkait dengan sistem individu.”

Pengakuan Keith Leverkuhn dan Michael Teal tentu berlawanan dengan pernyataan perusahaan pada pertengahan Mei tahun lalu. Kala itu, dua Insinyur Boeing disebutkan telah mengidentifikasi kesalahan dalam sistem peringatan pilot pesawat 737 MAX pada 2017, setahun sebelum kecelakaan Lion Air JT 610 terjadi.

“Pada 2017, dalam beberapa bulan setelah memulai pengiriman 737 MAX, para insinyur di Boeing mengidentifikasi bahwa tampilan (display) perangkat lunak sistem 737 MAX tidak memenuhi persyaratan untuk indikator AOA Disagree,” bunyi keterangan pers Boeing.

Menurut Boeing, peralatan yang seharusnya menjadi standar keselamatan, yang berfungsi memberitahu pilot tentang kondisi indikator angle of attack (AOA), sebenarnya tidak aktif di pesawat, kecuali indikator opsional tambahan ini dibeli oleh maskapai.

Baca juga: NTSB Rekomendasikan Latihan Khusus Pilot Sebelum Menerbangkan Boeing 737 MAX

Indikator AOA adalah alat yang berfungsi untuk mengukur sudut pesawat terhadap arah udara, untuk mencegah keadaan macet (stall). Celakanya, Lion Air dan Ethiopian Airlines tidak membeli fitur itu sehingga pesawat mereka tidak dilengkapi indikator keamanan. Kekeliruan informasi itulah yang pada akhirnya mendorong terjadinya kecelakaan akibat pesawat stall.

Selain insiden stall, penyidik DPR AS juga memfokuskan diri pada ditiadakannya pelatihan pilot Boeing 737 MAX. Keith Leverkuhn dan Michael Teal mengaku sama sekali tak terlibat dengan keputusan bahwa pilot Boeing 737 Next Generation (NG) tidak perlu sertifikasi ulang untuk menerbangkan 737 MAX. Pilot NG kala itu cukup dengan dibekali pengantar singkat tentang fitur baru MAX. Diharapkan, hasil wawancara dengan keduanya bisa segera dirilis.

Meski dalam Tekanan Ekonomi, Iran Sukses Luncurkan Lokomotif Berbahan Bakar Ganda Pertama

Meski mendapat tekanan berat akibat sanksi ekonomi yang dilancarkan Amerika Serikat dan sekutunya, namun Iran terbukti tangguh dalam melakukan reverse engineering, terbukti Negeri Para Mullah secara teknologi tidak tertinggal dari negara-negara seterunya di Timur Tengah. Dan belum lama ini, Iran Heavy Diesel Manufacturing Company (DESA) telah meluncurkan lokomotif diesel dengan bahan bakar ganda pertama yang mempunyai kekuatan 4 ribu tenaga kuda.

Baca juga: Setelah Ditangguhkan, Kereta dari Turki ke Iran Kembali Beroperasi

Peluncuran pada hari Minggu lalu dihadiri oleh Kepala Kereta Api Republik Islam Iran yang dikenal sebagai RAI, Saeed Rasouli. Dia mengatakan, beberapa tahun terakhir pembangunan perkeretaapian negara secara kuantitatif dan kualitatif semakin intensif dan beberapa provinsi termasuk Kermanshah, Hamedan, Urmia dan Gilan telah terhubung dengan jaringan kereta api negara.

“Kami telah mampu memberikan peluang untuk melakukan investasi di industri kereta api dengan menawarkan paket dukungan. Langkah tersebut telah mendorong banyak permintaan dari sektor swasta untuk melakukan investasi di industri ini, beberapa di antaranya sedang dalam proses dan beberapa sedang dalam tahap penandatanganan perjanjian dan kontrak,” kata Saeed.

Dia mengatakan, jika dana yang dibutuhkan akan disediakan dan RAI akan mampu mengoperasikan seribu kilometer perkeretaapian baru pada akhir masa jabatan pemerintah saat ini. Pejabat ini menekankan bahwa pembuatan mesin tersebut merupakan kesuksesan yang signifikan bagi industri kereta api negara dan akan memainkan peran penting dalam mengurangi ketergantungan industri pada sumber asing.

KabarPenumpang.com melansir dari laman tehrantimes.com (14/9/2020), pembangunan infrastruktur kereta api sangat penting untuk pembangunan berkelanjutan dan pertumbuhan ekonomi di negara manapun. Iran saat ini pun tengah fokus pada perluasan infrastruktur kereta api.

Baca juga: Perang Siber Iran Vs Israel! Kereta Bawah Tanah Israel Jadi Korban, Iran: Ini Baru Permulaan

Sebagai informasi, saat ini Iran memiliki lebih dari 13 ribu kilometer jalur kereta api dan berdasarkan Rencana Pembangunan Lima Tahun Nasional Keenam (2016-2021), jaringan kereta api akan diperluas hingga lebih dari 16.400 kilometer.

Siap Lepas Landas, Delta Airlines Kembali ke Gerbang Lantaran Ada Penumpang Tak Mau Pakai Masker

Seorang awak kabin Delta Airlines membuat pesawat tersebut kembali ke gerbang setelah bersiap meluncur ke landasan. Hal ini terjadi karena seorang penumpang yang menolak untuk menggunakan masker selama penerbangan.

Baca juga: Menolak Pakai Masker, Penumpang Kerera Cepat di Perancis Diusir dari Kereta

Penumpang wanita yang tidak diketahui namanya tersebut naik pesawat milik Delta dengan rute Detroit menuju ke Los Angeles pada Sabtu (11/9/2020) dengan menggunakan masker. Kemudian dia melepasnya ketika duduk di kursinya dan saat itu ketika diminta menggunakan maskernya kembali wanita tersebut menolak.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman metro.co.uk (14/9/2020), insiden ini di-videokan secara singkat oleh seorang ibu mantan jurnalis Alexis Wiley, Pamela. Ibu tersebut mengirimkan video drama yang kemudian diunggah Pamela ke akun Twitter miliknya.

Dia menulis caption, ‘Penerbangan @Delta ibuku dari Detroit ke LA baru saja berbalik dan kembali ke gerbang karena seorang penumpang menolak untuk memakai masker. Pramugari mengumumkan bahwa masker tidak bisa ditawar! Terima kasih @Delta karena mengutamakan keselamatan penumpang!’

Menurut Pamela, tanda-tanda masalah pertama adalah suara keributan yang datang dari bagian belakang pesawat saat wanita itu berhadapan dengan awak kabin karena tidak memakai masker. Dia mengatakan, awak kabin meminta dengan sopan dan bersikeras agar wanita tersebut menggunakan masker.

Karena tidak mau, wanita itu dikeluarkan dari penerbangan dan setelah dipindahkan dari penerbangan tersebut, pesawat kembali lepas landas. Namun karena masalah ini, penerbangan tersebut tiba di Los Angeles terlambat 28 menit dari yang seharusnya.

Delta Airlines mewajibkan semua penumpang yang berusia di atas dua tahun untuk menggunakan masker saat check in, di lounge, boarding dan selama penerbangan serta mengecualikan penggunaan ketika makan ataupun minum. Delta Airlines seperti semua maskapai lain di seluruh Amerika Serikat yang memperkenalkan kebijakan masker wajib dalam upaya melindungi penumpang dari penyebaran Covid-19.

Baca juga: Pakai Masker Bisa Jadi Masalah Bagi Penderita Asma Kronis, Namun Awak Maskapai ini Tak Paham

Delta dan para maskapai lainnya mengirim peringatan berulang kali kepada penumpang tentang kebijakannya setelah mereka memesan penerbangan. Covid-19 sejauh ini telah menginfeksi lebih dari 6,5 juta orang Amerika, dan lebih dari 194 ribu orang meninggal.

 

Manchester Liverpool Road, Stasiun Tertua di Dunia yang Masih Berdiri dan Kini Menjadi Museum

Tahukah Anda stasiun kereta api tertua di dunia ternyata ada di kota Manchester, Inggris, di mana semua layanan diangkut oleh lokomotif uap terjadwal. Stasiun ini bernama Manchester Liverpool Road yang masih ada sampai saat ini.

Baca juga: Stasiun Da Lat dengan Desain Antik Perancis, Andalan Wisata Kereta Vietnam

Stasiun ini merupakan stasiun kereta api di Liverpool dan Manchester Railways di Manchester, Inggris yang dibuka pada 15 September 1830. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, stasiun ini ditutup untuk layanan penumpang pada 4 Mei 1844 ketika jalur kereta diperpanjang untuk brgabung dengan Kereta Api Manchester dan Leeds di Hunt’s Bank.

Setelah penutupan sementara tersebut, pra sarana ini kemudian menjadi stasiun barang dan menghentikan operasi pengangkutan penumpang untuk seterusnya. Meski begitu, untuk mengangkut penumpang digantikan sementara oleh stasiun kereta api ManchesterVictoria untuk mengangkut pnumpang.

Meski tak lagi beroperasi, kini Stasiun Mancherster Liverpool Road menjadi bagian dari Museum Sains dan Industri di Manchester. Hal ini membuat para pelancong yang ingin melihat stasiun tertua tersebut bisa langsung masuk ke museum.

Pada masa pengangkutan penumpang, kereta memiliki kelas satu dan dua di mana setiap kelas memiliki ruang pemesanan dan ruang tunggu sendiri. Dikarenakan stasiun cukup jauh dari pusat kota Manchester, penumpang banyak yang membeli tiket tulisan tangan dari agen di penginapan atau hotel.

Nanti, seorang petugas di aula pemesanan menukar tiket dengan counterfoil yang mirip dengan boarding pas maskapai modern. Tak hanya itu bisa membuat waybill dari informasi tiket untuk penjaga kereta. Sebelum penutupan pada 4 Mei 1844, bangunan stasiun diperpanjang pada tahun 1831 dengan pembangunan gerbong kereta dua jalan sederhana di atas berbagai rangan di sepanjang jalan Liverpool.

Untuk diketahui ketika pelancong datang di tanggal tertentu bisa naik kereta yang ada di dasar museum. Kereta yang digunakan adalah kereta lokomotif uap yang masih bisa beroperasi. Ketika masuk lebih dalam ke museum, pengunjung bisa melihat ‘Planet’ yang merupakan replika kereta lokomotif yang dibuat pada 1992, sedangkan lokomotif yang asli dibuat pada tahun 1830, dan menjadi kereta yang mengantarkan penumpang dari Liverpool dan Manchester.

Selain itu, pengunjung juga bisa melihat Agecroft No 1. Ini adalah tanki 0-4-0 (saddle tank) yang dibuat pada tahun 1948. Agecroft No 1 digunakan di Power Station Agecroft dan kemudian kembali digunakan pada tahun 2011. Museum Sains dan Industri ini buka setiap hari mulai pukul 10.00-17.00 waktu setempat.

Baca juga:

Namun, museum ini tutup pada tanggal 24-26 Desember dan 1 Januari. Untuk masuk ke museum ini, tidak dipungut biaya bagi setiap pelancong yang datang. Namun, Anda diharapkan mau menyumbang sebesar tiga Poundsterling atau sekitar Rp57 ribu per orang.