Qatar Airways Luncurkan Pesawat Ke-100 dengan Super WiFi, Tawarkan Satu Jam Gratis Akses

Qatar Airways, salah satu maskapai paling tajir di dunia, merayakan peluncuran pesawat ke-100 miliknya yang memiliki konektivitas ‘Super WiFi’ berkecepatan tinggi (in-flight broadband) yang membuat para penumpang dapat tetap terhubung dengan keluarga, kerabat, dan rekan kerja mereka ketika sedang berada di pesawat.

Baca juga: Gara-gara Hotspot WiFi ‘Nyala’ di Kabin, Dua Penumpang Diturunkan dari Pesawat!

Pesawat ke-100 dengan koneksi Super WiFi tersebut adalah Airbus A350-900 dengan nomer registrasi A7-ALC. Bertindak sebagai provider akses internet adalah perusahaan komunikasi satelit seluler global, Inmarsat. Mengutip dari siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com (14/9/2020), disebutkan layanan ini hadir di seluruh armada maskapai sejak peluncurannya pada 2018

Para penumpang Qatar Airways yang berada pada penerbangan dengan GX Aviation dapat menerima hingga satu jam akses gratis ke layanan Super WiFi, dengan pilihan untuk membeli akses penuh selama penerbangan, jika membutuhkan lebih banyak waktu untuk online.

“Karena pada masa yang sulit ini, terhubung dengan orang-orang terkasih dan teman-teman menjadi lebih penting dari sebelumnya, kami sangat bangga untuk bekerja sama dengan Inmarsat dan teknologi GX Aviation untuk menghadirkan broadband Super WiFi berkecepatan tinggi,” ujar Kepala Eksekutif Grup Qatar Airways, Akbar Al Baker.

Baca juga: Sering Bepergian Naik Pesawat, Pasti Tahu Aplikasi Pembobol WiFi Bandara Ini, Kan?

Sebagai bentuk penghargaan terhadap loyalitas penumpang dari Indonesia, Qatar Airways menawarkan hingga dua voucher Super WiFi gratis untuk anggota Privelege Club yang melakukan pemesanan tiket hingga 1 Oktober 2020. Voucher Super WiFi tersebut dapat digunakan untuk perjalanan hingga 10 September 2021.

Traveller Serbu Penerbangan Tiga Jam ‘Tanpa Tujuan’ Royal Brunei Airlines

Demam “flights to nowhere” atau penerbangan tanpa tujuan masih terus terjadi. Usai Singapore Airlines dikabarkan bakal melaunching penerbangan tanpa tujuan pada Oktober mendatang, kini giliran Royal Brunei Airlines. Dengan harga tiket mulai dari US$106 atau sekitar Rp1,5 juta (kurs Rp15.000), traveller akan diajak jalan-jalan keliling negeri bahkan sampai ke negara tetangga. Tak ayal, tawaran terbang tanpa tujuan Royal Brunei Airlines pun diserbu traveller.

Baca juga: Singapore Airlines Tawarkan Traveller Terbang Tiga Jam ‘Tanpa Tujuan’

Lewat program “Dine & Fly”, maskapai penerbangan nasional Brunei Darussalam ini akan mengerahkan salah satu dari tujuh Airbus A320neo dalam penerbangan tanpa tujuan, mengelilingi Brunei Darussalam dan beberapa destinasi negara tetangga Malaysia, seperti Kota Kinabalu dan Labuan selama hampir tiga jam.

Selain itu, sebelum mendarat di Bandara Internasional Brunei (BWN), traveller juga akan diajak mengelilingi Jembatan Sultan Haji Omar Ali Saifuddien sepanjang 30 kilometer (19 mil) yang notabene merupakan ikon Brunei. Jembatan ini dibuka pada 17 Maret 2020 lalu, menelan biaya B$1,2 miliar atau sekitar Rp13 triliun (kurs Rp11.000) dan sekarang menjadi jembatan terpanjang di Asia Tenggara.

Layaknya penerbangan pada umumnya, penumpang juga akan disuguhkan hidangan khas Brunei Darussalam saat on board, seperti nasi lemak (sejenis nasi uduk atau nasi kuning) dengan ayam goreng atau ayam masak kunyit kedayan, gula sago melaka, dan aneka buah-buahan.

Atas ide bisnis tersebut, Menteri Keuangan dan Ekonomi Brunei, Dato Seri Setia, sangat mengapresiasi langkah maskapai. Menurutnya, di masa pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, maskapai harus pandai mencari cara agar tetap berpenghasilan.

“Selama pandemi Covid-19, semua bisnis harus kreatif untuk menarik pendapatan. Untuk Royal Brunei, pesawat tidak terbang ke tujuan seperti biasanya. Konsep baru ini akan memberikan kesempatan bagi pilot untuk terus terbang dan juga bagi masyarakat yang kangen terbang agar bisa berpartisipasi,” jelasnya kepada media lokal Star, sebagaimana dikutip KabarPenumpang.com dari Simple Flying.

Sementara itu, Direktur Keuangan Royal Brunei Airlines, Nurbahriah Eliza Binti Abdullah, menyebut penerbangan tersebut tetap menjalankan protokol kesehatan ketat baik pra maupun saat dalam penerbangan. Untuk di dalam penerbangan, maskapai memberlakukan pengosongan kursi tengah.

Baca juga: Kabin Airbus A320 Royal Brunei Dipenuhi Asap Tipis, Pihak Maskapai Sebut “Insiden Power Bank”

“Kami memiliki langkah physical distancing dimana kursi tengah dibiarkan kosong. Pesawat kami juga dilengkapi dengan filter High-Efficiency Particulate Air (HEPA) yang bekerja dengan baik untuk membasmi patogen berbahaya. Brunei saat ini masih mengalami adanya kasus positif Covid-19 sehingga kami tidak bisa mendarat di negara lain,” ujarnya.

Menurut Star, sekira 300 orang saat ini sudah mendaftar untuk ambil bagian dalam penerbangan “Dine & Fly” pada 20 September 2020 mendatang. Penerbangan tanpa tujuan Royal Brunei Airlines, untuk kelas ekonomi, dibanderol dengan harga $106 atau sekitar Rp1,5 juta (kurs Rp15.000) dan kelas bisnis seharga $145 atau sekitar Rp2,1 juta (kurs Rp15.000).

Bandara Pondok Cabe, Ternyata Pernah Jadi Basis Pertahanan Penting Sekutu di Era Perang Dunia II

Bandara Pondok Cabe di Tangerang Selatan sempat diperbincangkan banyak kalangan saat digadang-gadang bakal menjadi bandara komersial. Bandara yang berada di Kecamatan Pamulang, Tangerang Selatan ini disebut akan mendukung operasional Bandara Halim Perdanakusuma dan Bandara Soekarno-Hatta yang kala itu sudah kewalahan menghadapi lonjakan penumpang. Di situ, Bandara Pondok Cabe seolah memainkan peran penting dalam mengurai kepadatan lalu lintas udara Jakarta.

Baca juga: Mengenal Bandar Udara Kemayoran, Bandara Internasional Pertama di Indonesia

Setelah beberapa lama, akhirnya, wacana tersebut dimentahkan Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi. Kala itu, dihadapan wartawan, ia menyebut bandara itu berada satu garis lurus dengan Bandara Halim Perdanakusuma. Singkatnya, bila dioperasikan secara komersial, Bandara Pondok Cabe akan mengurangi slot Bandara Halim. Walhasil, impian untuk menempatkan Bandara Pondok Cabe di posisi penting pun kandas.

Akan tetapi, terlepas dari gonjang-ganjing wacana bandara tersebut menjadi penting dengan dijadikan bandara komersial, sebetulnya, sejak era Perang Dunia II, bandara yang memiliki runway berukuran 45 meter x 2.500 meter ini sudah menempati posisi penting bagi pasukan sekutu dalam menahan laju invasi Jepang di Indonesia.

Bukti pentingnya posisi Bandara Pondok Cabe kala itu setidaknya tercermin dari penempatan pesawat tempur sekutu. Tak tanggung-tanggung, jet tempur taktis sekutu, seperti Hawker Hurricane milik Angkatan Udara Kerajaan Inggris (Royal Air Force/RAF), Vickers Vildebeest, dan bomber torpedo Fairey Albacore, ditempatkan di sini dalam jumlah besar di bawah Skuadron 36 dan Skuadron 100 RAF.

PC Boer dalam bukunya, The Loss of Java (National University of Singapore, 2011), sebagaimana ditukip dari Harian Kompas, menuliskan, Lapangan Terbang atau Bandara Pondok Cabe dulunya pangkalan militer di era Perang Pasifik.

Menurut Boer, untuk menghadapi invasi pasukan Jepang ke Jawa pada 1942, pasukan Sekutu yang tergabung dalam ABDA (America, British, Dutch, Australia) menyiapkan rencana pertahanan udara. Dalam rencana itu disiapkan sejumlah lapangan terbang di bagian barat Jawa, yakni Pondok Tjabe (Pondok Cabe), Tjisaoek (Cisauk), Andir (kini Lanud Husein Sastranegara) di Bandung, dan Tasikmalaya. Masing-masing akan diberi 32 pesawat tempur.

Pondok Tjabe dan Tjisaoek dinilai cocok sebagai tempat perlindungan karena keberadaannya tersamar kerimbunan lingkungan sekitar yang masih rimbun. Pondok Tjabe secara khusus direncanakan menerima dua skuadron pesawat tempur Hawker Hurricane milik Angkatan Udara Kerajaan Inggris (Royal Air Force/RAF).

Baca juga: Ada Lima Bandara Pionir di Indonesia, Semuanya Buatan Belanda Lho!

Namun, karena Jepang sudah menyerang Sumatera, rencana berubah cepat. Pondok Tjabe menerima 25 unit Hawker Hurricane RAF yang sebagian besar belum siap beroperasi. RAF dan AU Australia (RAAF) juga mereorganisasi skuadron pesawat pengebom mereka setelah mundur dari Malaya dan Singapura. Di masa ini, RAAF menerjunkan CAC Wirraway sebagai pelengkap Hawker Hurricane, Vickers Vildebeest, dan bomber torpedo Fairey Albacore.

Pada akhirnya, Jepang menyerah dan Bandara Pondok Cabe jatuh kembali ke tangan Belanda sampai Agresi Militer Sekutu berakhir pada 1950. Setelah itu, bandara-bandara di Indonesia di nasionalisasi TNI AU, termasuk Bandara Pondok Cabe; yang pada akhirnya membentuk segitiga emas bersama Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Budiarto Curug.

Saat ini, Bandara Pondok Cabe dikenal sebagai home base dari maskapai Pelita Air Service, anak perusahaan PT Pertamina tersebut juga bertindak selaku pemilik dan pengelola bandara. Lain dari itu, Bandara Pondok Cabe juga menjadi pangkalan udara untuk Puspenerbal (Pusat Penerbangan Angkatan Laut), Puspenerbad (Pusat Penerbangan Angkatan Darat) dan Ditpolairud (Direktorat Polisi Air dan Udara)

 

Bus Party Bikin Happy, Tapi Bisa Gagalkan Upaya Singapura Cegah Penularan Covid-19

Bus party atau bus pesta di Singapura telah disita oleh pihak berwenang selama dua bulan terakhir. Ini karena bus didapati melakukan pelanggaran termasuk modifikasi ilegal dan meminta orang tanpa lisensi sah untuk mengemudikan bus tersebut.

Baca juga: The Party Bus KL hadirkan Layanan Pesta di Dalam Bus dengan Tamu Hanya 12 Orang

Enam bus yang disita ini dihiasi lampu strobo dan melayani orang yang sering mengunjungi tempat hiburan malam populer di Negeri Singa tersebut seperti di area Boat Quay and Clarke Quay. KabarPenumpang.com melansir dari laman straitstimes.com (10/9/2020), Otoritas Transportasi Darat (LTA) Singapura mengatakan dilaman Facebooknya bahwa ketika fase dua pembukaan kembali Singapura, disitanya bus tersebut karena memodifikasi kursi dan menghilangkan batasan keamanan yang tepat.

Salah satunya adalah sabuk pengaman untuk keselamatan penumpang dihilangkan dan ini termasuk pelanggaran hukum. Tak hanya itu, kehadiran bus menjadi salah satu potensi menggagalkan upaya Singapura untuk mencegah penularan Covid-19.

Sebab penumpang di dalam bus ada kemungkinan mengabaikan langkah-langkah jarak aman yang tidak terlihat dari luar. LTA mengatakan, bagi siapa saja yang menemukan bus dan sudah dimodifikasi secara ilegal dapat memberitahu situs web One Monitoring (www.OneMotoring.com.sg).

“Kami melakukan beberapa operasi selama dua bulan terakhir terhadap penyedia layanan yang tidak bertanggung jawab ini dan menyita bus enam pihak. Selain modifikasi ilegal, kami juga mendeteksi pelanggaran lain seperti mengemudi tanpa izin kejuruan pengemudi bus yang valid, perlindungan asuransi, dan pajak jalan. Investigasi atas pelanggaran ini sedang berlangsung,” kata LTA di akun Facebook mereka.

Peringatan LTA sendiri datang satu hari setelah Kementerian Kesehatan Singapura pada Rabu (8/9/2020) yang mengatakan sangat prihatin terkait kurangnya jarak yang aman di gerai makanan dan minuman. Saat ini, Singapura memberikan perhatian khusus mereka pada tempat hiburan malam yang populer di mana sering terlihat kelompok-kelompok yang kerap kali minum alkohol di depan umum setelah pukul 22.30 waktu setempat.

Baca juga: Royale VIP Bus, Pindahkan Nuansa Klub Malam ke Dalam Bus

Ini terlepas dari larangan minum di depan umum mulai pukul 22.30 hingga 07.00 sejak 2015, dengan toko-toko ritel tidak diizinkan menjual alkohol yang dibawa pulang selama periode tersebut.

Hari Ini, 46 Tahun Lalu, Air Vietnam Flight 706 Dibajak Tentara yang Kesal Gegara Pangkat Diturunkan

Pada hari ini, 46 tahun lalu, bertepatan dengan 15 September 1974, seorang prajurit tentara Vietnam Selatan, Le Duc Tan, yang kesal karena pangkatnya diturunkan dari kapten menjadi letnan, nekat membajak pesawat Air Vietnam flight 706. Dari tiga versi, salah satunya menyebut, pembajakan akhirnya berakhir nahas setelah dua granat yang dibawa Tan meledak, diikuti jatuhnya pesawat dan menewaskan 75 orang (penumpang dan awak).

Baca juga: Hari Ini, 46 Tahun Lalu, TWA Flight 841 Dibom Pemuda Palestina Gegara Intel Israel

Laporan The New York Times, mengutip siaran dari radio lokal Governmentrun, peristiwa bermula saat Air Vietnam dengan nomor penerbangan 706 berangkat dari Bandara Da Nang pada pukul 10:05 pagi menuju Bandara Tân Sơn Nhất, Saigon, Vietnam Selatan.

Selang 36 menit kemudian, Tan, yang mengenakan seragam penerjun payung, dilaporkan coba mendobrak paksa pintu kokpit. Ketika itu, berdasarkan sebuah versi, Tan dikabarkan berhasil masuk ke kokpit dan memaksa pilot menurutinya. Hanya saja, sang pilot, Kolonel Nguyen Thanh Lich, meminta agar pesawat terlebih dahulu mengisi bahan bakar di Phan Rang sebelum terbang ke Hanoi, Vietnam Utara.

Menurut sumber lain, pilot membelot dan menerbangkan pesawat ke Phang Rang. Air Vietnam flight 706 kemudian mulai terbang rendah sebelum mencapai landasan, namun tiba-tiba berbelok ke kiri dan hilang kendali. Tak lama setelah itu, pesawat jatuh dari ketinggian 300 meter dan menewaskan semua orang yang ada di dalamnya.

Berdasarkan informasi dari sebuah sumber, pesawat Boeing 727 Air Vietnam dengan nomor penerbangan 706 tiba-tiba oleng ke kiri sebelum akhirnya jatuh akibat dua granat yang dibawa Tan -si pembajak anti komunis- meledak. Granat itu diledakkan Tan di dalam pesawat lantaran pilot tak mengikuti perintah Tan. Kabar lain yang beredar Tan menolak pendaratan tersebut, dan meminta pilot untuk terbang kembali. Namun pesawat sulit dikendalikan dan malah meluncur turun menghempas ke daratan.

Tan diduga berhasil lolos pemeriksaan di bandara dengan mengajak ngobrol petugas. Di samping itu, teknologi pemeriksaan di bandara juga belum secanggih saat ini, sehingga Tan dengan dua granatnya bisa lolos dengan mudah.

Sejauh ini penyebab pasti insiden itu masih belum jelas. Spekulasi kecelakaan muncul akibat aksi pembajakan oleh oknum prajurit yang kecewa lantaran pangkatnya diturunkan itu. Spekulasi terkait permintaan Tan agar diterbangkan menuju Hanoi, Vietnam Utara, juga masih menjadi pertanyaan.

Baca juga: Timeline Teknologi Body Scanner di Bandara, dari Isu Gender Hingga Cegah Corona

Ada yang menyebut bahwa Tan ingin pesawat dijadikan rudal atau drone Kamikaze untuk ditabrakkan ke basis pertahanan musuh yang kala itu dikuasai oleh rezim Vietnam pro komunis di bawah dukungan Uni Soviet. Sebagai informasi, saat kecelakaan terjadi, Vietnam memang tengah menjalani perang panjang atau yang sekarang dikenal sebagai Perang Vietnam, mulai 1 November 1955 – 30 April 1975.

Pembajakan Air Vietnam Flight 706 oleh oknum tentara Le Duc Tan bukanlah yang pertama kalinya terjadi di Vietnam. Sebelumnya, pada 20 Februari di tahun yang sama, seorang warga Vietnam berusia 19 tahun, tercatat pernah melakukan percobaan pembajakan DC-4 Air Vietnam dari Da Lat. Pembajak itu akhirnya tewas bunuh diri setelah membunuh dua tentara. Pada tahun 1972, seorang aktivis anti perang Vietnam Selatan, Nguyen Thai Binh, ditembak mati dalam percobaan pembajakan pesawat jumbo Boeing 747 Pan American setelah mendarat di Tan Son Nhut.

Dear Pilot, Usai Bangkrut Thai Airways Jajaki Bisnis Flight Simulator! Segini Harganya

Awal Juni lalu, Thai Airways tengah berjuang menghindari kebangkrutan melalui prosedur ‘anti bangkrut’ di Pengadilan Kepailitan Pusat Thailand. Sampai saat ini, prosesnya masih terus berjalan. Sebetulnya, prosedur kebangkrutan lewat pengadilan di Thailand memungkinkan perusahaan terus beroperasi, di bawah pengawasan pengadilan atau orang yang ditugaskan pengadilan. Namun, perusahaan memilih untuk menunda operasi sampai seluruh proses selesai.

Baca juga: Usai Bangkrut, Thai Airways Kini Bisnis Restoran Khas Hidangan Pesawat! Pelayannya ‘Pramugari’

Akan tetapi, manajemen Thai Airways tak lantas berpangku tangan dan menanti prosedur ‘anti bangkrut’ bekerja menyelamatkan perusahaan. Setelah membuat terobosan dengan memulai bisnis restoran yang menyajikan makanan khas penerbangan (in flight meals), kini Thai Airways dilaporkan telah memulai bisnis flight simulator melalui program THAI FlyEx.

Seperti dilaporkan asiaone.com, maskapai penerbangan nasional Thailand itu menawarkan tiga paket flight simulator, yakni untuk kategori basic, deluxe, dan ultimate. Pesawat yang ditawarkan flight simulator Thai Airways juga cukup beragam, seperti Boeing B734, B777ER, B744, dan Airbus A380.

Harga yang ditawarkan pun juga bisa dibilang terjangkau. Untuk kelas basic Boeing 734 dan Boeing 744 double seater, pengguna dipatok harga ฿12 ribu atau sekitar Rp5,7 juta (kurs Rp475) selama 30 menit. Adapun kategori deluxe, flight simulator pesawat yang sama dipatok seharga ฿16 ribu atau sekitar Rp7,6 juta (kurs Rp475) dengan durasi 60 menit. Sedangkan kategori ultimate dengan triple seater, pengguna dipatok harga ฿24 ribu atau sekitar Rp11,4 juta (kurs Rp475) selama 90 menit.

https://www.facebook.com/ThaiFlyEx/posts/123483766147227

Sedangkan untuk flight simulator Thai Airways Airbus A380 dan Boeing 777ER, kategori basic double seater dipatok harga sebesar ฿13,5 ribu atau sekitar Rp6,4 juta (kurs Rp475) selama 30 menit. Kategori deluxe double seater dikenai tarif sebesar ฿17,5 ribu atau sekira 8,3 juta (kurs Rp475) selama 60 menit dan kategori yang terakhir, ultimate, dengan triple seater, pengguna dikenai biaya ฿25,5 ribu atau sekitar Rp12,1 juta (kurs Rp475) selama 90 menit.

Harga di berbagai kategori tersebut, baik flight simulator Boeing maupun Airbus, sudah termasuk pilot brief and operate, take off, air work, auto pilot, ILS approach, auto landing, manual landing, serta berbagai benefit lainnya.

Baca juga: Tak Hanya Diserbu Pilot, Microsoft Flight Simulator 2020 Juga Diserbu Traveller yang Kangen Liburan

Pemimpin skuadron yang juga wakil presiden eksekutif operasional Thai Airways, Soradech Namruangsri, mengatakan dimulainya bisnis jasa flight simulator dilakukan agar perusahaan tetap menghasilkan uang sambil menunggu maskapai tersebut kembali mengudara. Biasanya, flight simulator tersebut digunakan oleh para pilot Thai Airways. Karenanya, flight simulator yang meraka tawarkan sudah berstandar internasional dan jadi flight simulator paling realistis di Thailand.

Selain membuka pintu selebar-lebarnya bagi para penerbang untuk mengasah kemampuan mereka di tengah sedikitnya jam terbang, flight simulator Thai Airways juga ditawarkan untuk para pengguna non-pilot yang sekedar ingin melihat keindahan dunia dari ruang kokpit.

Jumlah Penumpang Turun, JR East Kirim Produk Hasil Laut dari Miyagi ke Tokyo dengan Kereta Shinkansen

Jumlah penumpang kereta peluru shinkansen selama pandemi virus corona baru atau Covid-19 ini telah turun secara signifikan. Salah satunya adalah penumpang di Tohoku Shinkansen yang turun drastis jumlahnya. Hal ini kemudian membuat East Japan Railway (JR East) memulai eksperimen di mana kereta shinkansen sebagai kendaraan pengangkut makanan laut segar dari prefektur Miyagi ke Tokyo.

Baca juga: Kereta Shinkansen Jepang Hadirkan Tiket Kereta Elektronik

Pada hari Rabu (26/8//2020), JR East mengangkut produk laut khas lokal Miyagi ini menggunakan kursi kosong kereta shinkansen. Produk laut khas tersebut yakni cumi dan tiram yang berangkat dengan kereta Tohoku shinkansen dari Stasiun Sendai pukul 10.41 waktu setempat. KabarPenumpang.com melansir laman nhk.or.jp (26/8//2020), pada gerbong pertama yang digunakan untuk transportasi, dua baris kursi yang saling berhadapan diletakkan box khusus tempat seafood disimpan.

Karena menggunakan kereta shinkansen, produk seafood ini tiba di Stasiun Tokyo sekitar dua jam setelah keberangkatan atau sekitar pukul 12.48 waktu setempat. Kemudian seafood segar ini disajikan sebagai makanan sashimi yang dilengkapi cuka di restoran seafood di tempat itu setelah jam dua siang. Menurut para nelayan yang ikut serta dalam inisatif tersebut, dalam hal transportasi kereta shinkansen menjadi yang tecepat karena bila menggunakan truk makanan seringkali seafood ini sampai ke Tokyo esok harinya.

“Karena shinkansen kuat dalam kecepatan dan ketepatan waktu, kami ingin berkontribusi kepada masyarakat dengan membawa produk lokal,” kata Tsuyoshi Hamada dari proyek manajemen rantai pasokan JR East.

Penumpang Tohoku Shinkansen telah turun secara signifikan di mana jumlah penumpang di bulan Mei ketika keadaan darurat di umumkan turun menjadi sepuluh persen dari periode yang sama di tahun lalu. Namun, keadaan penumpang berangsur pulih, tetapi di minggu sebelumnya penurunan hingga 30 persen dari periode yang sama tahun lalu.

Bahkan situasi ini diperkirakan akan berlanjut untuk waktu yang lama. Inilah yang kemudian menjadi alasan JR East dengan mempertimbangkan langkah-langkah untuk mengkompensasi penurunan pendapatan dari bisnis kereta api, dan sebagai salah satunya, telah memulai eksperimen untuk mengangkut produk-produk khas lokal ke Tokyo dengan Shinkansen. JR akan terus memverifikasi waktu yang dibutuhkan untuk transportasi dari area produksi dan bertujuan untuk menerapkannya secara praktis sambil juga mengamati reaksi penumpang di kereta.

“Karena kesegaran adalah kunci produk kelautan, saya pikir ini adalah hal yang membuat zaman yang akan merevolusi logistik,” kata Hiromitsu Ito, presiden industri perikanan Kaiyu.

Baca juga: Tahan Gempa, Ini Kereta Berkecepatan Tinggi yang Baru di Jepang

Untuk diketahui, ini bukan kasus pertama bahan makanan yang diangkut oleh jaringan rel kecepatan tinggi, karena ikan segar, buah, dan sayuran telah dipindahkan dengan kereta Joetsu shinkansen antara Niigata dan Tokyo sejak 17 Januari. Kereta berangkat dari Niigata pukul 10.17 setiap hari Jumat, dengan membawa ikan mencapai toko Hoodison di stasiun Shinjuku sekitar pukul 14.30. Layanan ini tidak menggunakan akomodasi penumpang, tidak seperti program uji coba terbaru JR East di mana gerbong Nomor 1 ditutup untuk penumpang sehingga joknya dapat digunakan untuk mengangkut kontainer ikan.

Legenda Pembalap Motor “Tercepat” Ralph Hudson Meninggal di Usia 69 Tahun

Seorang pengendara motor legendaris, Ralph Hudson menghembuskan nafas terakhirnya pada 6 September kemarin. Meninggalnya legenda pembalap berusia 69 tahun tersebut karena pada 14 Agustus 2020 lalu kehilangan kendali atas sepeda motor yang dikendarainnya dan terjatuh di Utah saat mencatatkan kecepatan 252 mph atau 405 km per jam.

Baca juga: Misteri Kecelakaan Air India Tahun 1966 yang Tewaskan Tokoh Penting Mulai Terkuak, Ada Campur Tangan CIA

Dilansir KabarPenumpang.com dari newatlas.com (11/9/2020), pada insiden tiga minggu lalu itu saat balapan di Bonneville Salt Flats di Wendover Hudson terluka parah. Di mana saat itu keadaan lintasan pendek dan hembusan angin menerpa sepeda motornya sehingga membuat goyang yang kemudian akhirnya terjatuh dalam kecepatan tinggi.

Hudson langsung dibawa ke ICU Rumah Sakit Intermountain Medical Center di Salt Lake City dan mendapat perawatan selama sekitar tiga minggu namun akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya pada 6 September lalu. Hudson meninggalkan seorang putra yakni David serta reputasi sebagai pembalap yang tak kenal takut, mekanik yang teliti dan anggota komunitas balap kecepatan darat yang rendah hati, ramah serta murah hati.

“Dengan hati yang hancur saya harus memberi tahu komunitas balap kami bahwa Ralph Hudson meninggal tadi malam karena cedera yang dideritanya di Bonneville pada 14 Agustus,” SCTA mengumumkan di media sosial.

“Dia dikelilingi oleh putranya David, saya dan sahabatnya selama 30 tahun, Linda. Informasi tentang perayaan kehidupan dan beasiswa peringatan atas nama Hudson akan menyusul jika tersedia. Kami dengan tulus berterima kasih kepada semua orang atas kata-kata, doa, dan dukungan mereka yang baik selama masa yang sangat sulit ini,” tambah SCTA.

Pada 2017, Hudson memecahkan rekor dengan mencatatkan kecepatan rata-rata 284 mph atau 457 km per jam dalam tiga kali melaju lebih dari satu mil. Hudson bahkan berhasil mencapai 300 mph atau 482 km per jam selama berlari di dataran garam terbesar di dunia di Bolivia.

Baca juga: Archer Kembangkan Taksi Udara eVTOL dengan Baling-baling ‘Tersembunyi’

Dari tahun 1971 hingga 1976, Hudson berkompetisi dalam balap motor di Bonneville, tetapi berhenti selama tiga dekade untuk menghidupi keluarganya. Namun, setelah putranya lulus kuliah pada tahun 2006, ia kembali ke dunia balap.

Kisah Douglas A-20 Havoc, Petarung Malam Terbaik Amerika Sekaligus Pesawat Pertama yang Berhasil Tembus Badai

Pesawat tempur tercanggih di era Perang Dunia II bisa dibilang ada pada Jerman dengan Focke-Wulf FW-190 dan Inggris lewat Supermarine MKs 24 Spitfire. Namun, keduanya tak memiliki kemampuan khusus untuk pertempuran malam hari, sebaik pesawat legendaris Amerika Serikat (AS), Douglas A-20 Havoc.

Baca juga: Hari ini, 76 Tahun Lalu, Tiga Kru Douglas A-20 Havoc Berhasil Tembus Badai untuk Pertama Kalinya di Dunia

Disebut legendaris, sebab, bersama tiga orang kru pesawat tersebut jadi penerbangan pertama yang berhasil menembus badai dengan hembusan angin mencapai 230 km per jam, terbesar di zamannya. Bukan hanya itu, keberhasilan tersebut juga dilengkapi dengan sejumlah data-data ilmiah untuk modal pengembangan pesawat selajutnya.

Terlepas dari misi penelitian, kesuksesan Douglas A-20 Havoc melewati Badai Atlantik juga menunjukkan ketangguhan pesawat. Saking tangguhnya, pesawat yang juga disebut sebagai DB-7 ini ditugaskan untuk berbagai tugas penting selama masa Perang Dunia II, mulai misi pemboman, pesawat serang, penyusup malam, pesawat tempur malam, dan pesawat pengintai.

Douglas A-20 Havoc. Foto: Pinterest

Dilansir militaryfactory.com, pesawat ini pertama kali dikembangkan pada Maret 1936. Pesawat yang dirancang untuk untuk memenuhi kebutuhan perang AS (khususnya untuk misi pemboman dan pertempuran malam hari) ini dibekali dengan sepasang mesin radial Pratt & Whitney R-985 Wasp Junior bertenaga 450 tenaga kuda.

Namun, kemampuan tersebut dirasa masih kurang. Karenanya, Douglas merilis DB-7B, versi pengembangan dari jenis sebelumnya, atas permintaan dari Korps Udara Angkatan Darat Amerika Serikat (USAAC) pada tahun 1937.

Pesawat DB-7B dibekali juga dengan mesin Pratt & Whitney R-1830-S3C3-G, namun dengan kemampuan 2x lipat mencapai 1.100 tenaga kuda. Kemampun terbang cepat kemudian juga didukung dengan kapasitas bom yang mampu diangkut sebesar 910 kg, cukup untuk menghancurkan satu markas musuh.

Pesawat yang mampu terbang sejauh 1,521 km di kecepatan 450 km per jam ini kemudian disempurnakan dengan keberadaan senapan mesin tunggal 7,5 mm MAC di punggung pesawat, serta enam senapan serupa di bagian depan. Belum lagi kemampuan terbang tinggi mencapai 3,000 m – 7,200 m (cukup tinggi untuk ukuran kala itu) serta kapasitas bahan bakar mencapai 2,560 liter, makin menambah keperkasaan pesawat dengan panjang 14 m serta tinggi 5 m dengan tiga kru ini.

Senapan mesin Douglas A-20 Havoc. Foto: World War Wings

Dengan sederet keistimewaan, Douglas A-20 Havoc juga dimanfaatkan oleh berbagai negara sekutu, termasuk Inggris, Uni Soviet, Perancis, Belanda, Australia, Kanda, dan Brazil. Banyaknya negara yang memakai jasa pesawat itu juga mendorong pengembangan demi pengembangan.

Hingga dinyatakan pensiun pada 1949, Douglas A-20 Havoc mempunyai setidaknya 23 varian, dengan masing-masing varian terdapat sedikit perubahan pada mesin, bentang sayap, senapan, bom, daya jelajah, kecepatan jelajah dan kecepatan maksimum, serta kemampuan mengangkut bom dan kapasitas bahan bakar yang lebih besar.

Baca juga: Hari Ini, 81 Tahun Lalu, Heinkel He 178 Nazi Jerman Pelopori Era Penerbangan Turbojet di Dunia

Dalam sebuah laporan kepada British Airplane and Armament Experimental Establishment (AAEE) di RAF Boscombe Down (fasilitas pengujian militer Inggris), pilot uji mengambil kesimpulan bahwa Douglas A-20 Havoc, “Tidak memiliki kelemahan dan sangat mudah lepas landas serta mendarat. Pesawat mewakili keunggulan yang pasti dalam desain kontrol terbang. Sangat menyenangkan untuk terbang dan bermanuver dengan pesawat ini.”

Di samping itu, pesawat juga digambarkan sebagai “Armada favorit para pilot karena kemampuan menjatuhkan bom dalam jumlah besar, pertempuran malam, serta tangguh di segala medan.”

Usai Bangkrut, Thai Airways Kini Bisnis Restoran Khas Hidangan Pesawat! Pelayannya ‘Pramugari’

Sambil menunggu sidang kebangkrutan atau pailit, Thai Airways dikabarkan tengah fokus berbisnis restoran dengan menghidangkan menu-menu khas penerbangan (in flight meals). Maskapai nasional Thailand itu mengaku, bisnis restoran yang dijajaki merupakan upaya untuk membantu para staf agar tetap bisa berpenghasilan sekalipun hanya sebagian kecil dari jumlah karyawan yang ada. Mengacu data akhir tahun lalu, maskapai Thai Airways memiliki 21 ribu karyawan.

Baca juga: Proses ‘Anti Bangkrut’ Masih Berjalan, Thai Airways Tunda Refund

Dilansir metro.co.uk, restoran Thai Airways benar-benar coba untuk mengambil ceruk pasar masyarakat yang kangen terbang; termasuk sajian di dalam penerbangan itu sendiri. Untuk sampai ke restoran yang dahulu merupakan kantin kantor pusat Thai Aiways itu, para pengunjung terlebih dahulu melewati airstair (tangga untuk naik ke pesawat) yang dibuat semirip mungkin dengan airstair yang ada di bandara.

Setelah masuk ke restoran, boarding pass pengunjung yang sudah didapat setelah melakukan reservasi online, akan discan oleh pramusaji yang berbusana mirip pramugari. Namun, pramusaji ini tak disebutkan dengan detail apakah pramugari sungguhan atau bukan.

Airstair Thai Airways. Foto: Getty Images

Usai di-scan, pramusaji berlagak pramugari tadi akan mengantarkan pengunjung ke masing-masing tempat duduk yang sudah ditentukan, untuk kemudian menyantap hidangan khas penerbangan.

Restoran buka mulai pukul 7 pagi waktu setempat. Sebelum pukul sembilan, pengunjung hanya bisa memesan berbagai hidangan roti khas penerbangan Thai Airways. Barulah setelah jam sembilan, pengunjung bisa mencicipi berbagai menu internasional yang biasa disuguhkan, seperti Caesar Salad, Japanese yakisoba, dan shwarma kebabs dengan harga cukup terjangkau mulai £2 atau Rp38 ribuan (kurs Rp 19.044).

Tak hanya menyuguhkan sajian khas penerbangan, restoran Thai Airways juga menghadirkan nuansa persis layaknya di pesawat, seperti kursi pesawat berwarna-warni khas Thai Aiways, meja yang dibuat dari suku cadang pesawat, hingga desain interior restoran itu sendiri. Menariknya, pengunjung juga dapat menikmati pilihan kursi first class ataupun economy class dengan berbagai layanan unggulan yang ditawarkan.

Sebelum memulai bisnis restoran dengan konsep seperti disebutkan di atas, Thai Aiways sebetulnya sudah mulai menjual sajian khas penerbangan. Hanya saja, layanan tersebut terbatas pada layanan take away, bukan untuk disajikan langsung di restoran seperti yang sekarang dihadirkan.

Suasana di dalam restoran. Foto: Allison Joyce

Untuk model seperti itu (menjual sajian khas pesawat khusus take away), Thai Aiways bukanlah satu-satunya. Di Israel, sebuah perusahaan katering maskapai, Tamam Kitchen, juga dikabarkan menjual berbagai sajian di pesawat (in flight meals). Bukan hanya rasa, perusahaan tersebut juga menggunakan wadah makanan yang menyerupai persis seperti sajian saat dalam penerbangan.

Baca juga: Tak Harus Terbang untuk Nikmati Sajian di Pesawat, Harga Mulai Puluhan Ribu! Tertarik Mencoba?

Ide bisnis tersebut tercatat mulai dijajaki perusahaan sejak 21 Juli lalu. Awalnya, perusahaan mengaku tak banyak mendapat pesanan. Tetapi kini, Taman Kitchen berhasil menjual setidaknya 100 menu penerbangan setiap hari tanpa harus membuat pembeli terbang terlebih dahulu untuk menikmatinya.

Menu yang ditawarkan juga cukup beragam dan tentu saja sesuai dengan sajian khas di penerbangan, mulai dari menu dengan irisan ikan dicampur saus tomat, kacang hijau, ubi, couscous , dan lentil hitam, hingga daging sapi dicampur saus tiram, nasi serta kacang hitam. Selain itu juga ada menu khusus anak-anak. Harganya juga tergolong murah, mulai dari $3 sampai yang paling mahal sekitar $70 per menu.